Anda di halaman 1dari 22

STRUKTUR ATOM, SISTEM PERIODIK, DAN IKATAN KIMIA

1. Perkembangan Model Atom


a. Leukippos dan Democritos: pemberi nama atom
Atom adalah bagian terkecil dari suatu zat yang tidak dapat dibagi-bagi lagi.
b. John Dalton: penemu atom
Atom adalah bola pejal yang menyusun suatu unsur.
c. J. J. Thomson: penemu elektron melalui percobaan tetes minyak
Atom merupakan bola bermuatan positif dan elektron yang ada di permukaannya seperti "roti
kismis". Thomson menemukan elektron dengan menghitung perbandingan muatan terhadap
massa elekton.
d. Ernest Rutherford: penemu inti atom melalui penghamburan sinar alfa oleh lempeng logam
Atom terdiri dari inti yang di dalamnya terdapat proton yang bermuatan positif dan neutron
netral sedangkan di sekelilingnya terdapat elektron yang berputar mengelilingi inti.
e. Neils Bohr: penemu lintasan/kulit atom
Atom terdiri dari proton dan neutron pada inti yang bermuatan positif dan dikelilingi oleh
elektron yang bergerak pada lintasan dan tingkat energi/kulit tertentu. Elektron dapat berpindah
dari satu tingkat energi ke tingkat energi lainnya disertai menyerapan ataupun pelepasan energi.
Jumlah elektron maksimum pada kulit tertentu memenuhi:
Elektronmaks = 2n2 Di mana, n = kulit
Kulit dimulai dari kulit K, L, M, N, dst.
f. Teori Mekanika Kuantum oleh De-Broglie dan Heisenberg
Gerakan atom di sekitar inti merupakan suatu gerakan gelombang sehingga ada kebolehjadian
terbesar menemukan elektron pada jarak-jarak tertentu dari inti yang di sebut orbital.

s 1 orbital (menampung 2 elektron)

p 3 orbital (menampung 6 elektron)


Sub kulit
d 5 orbital (menampung 10 elektron)

f 7 orbital (menampung 14 elektron)

2. PARTIKEL-PARTIKEL ATOM
Proton
(Massa dan muatan +1)
Inti
Neutron
Atom (Massa dan tidak bermuatan)
Elektron*
Kulit
(tidak bermassa dan muatan -1)
*elektron sebenarnya memiliki massa, tetapi sangat kecil dibandingkan massa proton dan neutron
sehingga dianggap tidak bermassa.
Lambang Atom dapat dituliskan:
a c
bX
A adalah Massa Atom Relatif (Ar) : n+p
B adalah Nomor Atom : p
C adalah muatan : p+e
Untuk atom netral : e=p
Untuk ion positif : e < p (elektron sudah dilepas)
Untuk ion negatif : e > p (elektron sudah diterima)

Proton = b
Neutron = a – b
Elektron = b – c

ISTILAH-ISTILAH DALAM ATOM:


Iso = Sama
a. Isotop : p sama
b. Isoton : n sama
c. Isoelektron : elektrom sama
d. Isobar : Ar sama
e. Isomer : Mr sama
f. Isotonik : tekanan osmotik sama

3. KONFIGURASI ELEKTRON
Konfigurasi elektron digunakan untuk mengetahui posisi elektron dalam atom. Untuk mengetahui
konfigurasi elektron, perlu diketahui jumlah elektron dalam atom.

Satu kulit terdiri atas subkulit-subkulit


Satu subkulit terdiri atas orbital/kamar
Satu orbital menampung maksimum 2 elektron

elektron
3p5
sub kulit
kulit
Prinsip Aufbau:
Konfigurasi elektron dimulai dari tingkat energi yang rendah ke tingkat energi yang tinggi
Cara 1 : Menggunakan jembatan keledai
Saya Suka Pisang Susu Pisang Susu Dari Paman Saya Dari Pasar Senggol Full Dengan Pisang
Susu Full Dengan Pisang
S dimulai dari kulit 1, p mulai dari kulit 2, d mulai dari kulit 3, dan f mulai dari kulit 4.

1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d 4p 5s 4d 5p 6s 4f 5d 6p 7s 5f 6d 7p

Cara 2 : s (sp)2 (sdp)2 (sfdp)2


Aturan Hund:
Pada pengisian orbital, elekton tidak boleh berpasangan sebelum semua orbital terisi 1 elektron.
Berdasarkan susunannya, suatu atom stabil apabila orbital terisi elektron penuh atau setengah penuh.
Hal ini menyebabkan struktur d4 dan d9 tidak dimiliki atom-atom.
Nomor atom yang tidak stabil adalah: 24, 42, 29, 92.
2 2 6 2 6 2 4
24Cr = 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d (tidak stabil)
2 2 6 2 6 1 5
24Cr = 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d (stabil)

Larangan Pauli:
Tidak boleh ada elektron yang memiliki 4 bilangan kuantum yang sama.

Untuk konfigurasi elektron dalam bentuk ion, perlu diperhatikan bahwa elektron yang terlebih dahulu
dilepaskan adalah elektron pada kulit terluar
Contoh: 26Fe = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d6
3+ 2 2 6 2 6 5
26Fe = 1s 2s 2p 3s 3p 3d

4. BILANGAN KUANTUM
Bilangan kuantum menunjukkan kedudukan elektron dalam suatu atom yang diperoleh dari pengisian
konfigurasi elektron terakhir dari atom. Setiap elektron harus memiliki 4 bilangan kuantum:
- Bilangan kuantum utama (n) = menunjukkan kulit
n dimulai dari 1, 2, 3, …
- Bilangan kuantum azimuth (l) = menunjukkan sub kulit
l=n–1
l = 0 ……………. Untuk sub kulit s
l = 1 ……………. Untuk sub kulit p
l = 2 ……………. Untuk sub kulit d
l = 3 ……………. Untuk sub kulit f
- Bilangan kuantum magnetik (m) = menunjukkan orbital elektron terakhir
m = -l,…,+l
s memiliki 1 orbital dengan nilai 0
p memiliki 3 orbital dengan nilai -1, 0,+1
d memiliki 5 orbital dengan nilai -2, -1, 0, +1, +2
f memiliki 7 orbital dengan nilai -3, -2, -1, 0, +1, +2, +3
- Bilangan kuantum spin (s) = arah rotasi
Jika ↑ = +1/2 dan ↓ = -1/2

5. SISTEM PERIODIK
Unsur-unsur yang kulit terluarnya sama, terletak pada periode (baris) yang sama.

Periode = kulit terluar

Unsur-unsur yang struktur elektron terakhirnya sama, terletak pada golongan yang sama.
nsX Golongan XA
A
npx Golongan (X + 2)A
Golongan
ndx Golongan (X + 2)B
B
4f = Lantanida
nf
5f = Aktinida
SIFAT PERIODIK UNSUR (Gunakan kaidah tangan kanan)

1. Jari-jari atom
Jari-jari atom adalah jarak antara inti atom dan elektron pada kulit terluar. Unsur-unsur yang
segolongan, jari-jari atom makin ke bawah makin besar, sedangkan unsur-unsur yang seperiode, jari-
jari atom makin ke kanan makin kecil
2. Energi ionisasi/Potensial ionisasi
Energi ionisasi adalah energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron terluar suatu atom. Unsur-
unsur yang segolongan, energi ionisasinya makin ke bawah makin kecil, sedangkan unsur-unsur yang
seperiode makin ke kanan semakin kecil.
3. Afinitas elektron
Afinitas elektron adalah energi yang dibebaskan atom netral dalam pengikatan elektron untuk
membentuk ion negatif. Dalam satu golongan, afinitas elektron cenderung berkurang dari atas ke
bawah, sedangkan dalam satu periode, afinitas elektron cenderung bertambah dari kiri ke kanan.
Kecuali unsur alkali tanah dan gas mulia, semua unsur golongan utama mempunyai afinitas elektron
bertanda negatif. Afinitas elektron terbesar dimiliki oleh golongan halogen.
4. Elektronegativitas
Elektronegativitas adalah kemampuan atau kecenderungan suatu atom untuk menangkap atau
menarik elektron dari atom lain. Unsur-unsur yang segolongan, keelektronegatifan makin ke bawah
makin kecil, sedangkan unsur-unsur yang seperiode, keelektronegatifan makin ke kanan makin besar
5. Logaman
Kelogaman adalah sifat logam yang dimiliki oleh suatu unsur. Unsur logam terdapat di sebelah kiri
dalam SPU, sedangkan unsur nonlogam terdapat di sebelah kanan. Batas logam dan nonlogam
dinamakan unsur semilogam atau metaloid. Contoh unsur metaloid adalah B, Si, Ge, As, Sb, Te, Bi, dan
Po.
6. Asaman
Keasaman adalah sifat asam atau basa yang dimiliki oleh suatu unsur. Asam adalah unsur yang dalam
bentuk oksidanya jika ditambahkan air akan membentuk larutan asam. Basa adalah unsur yang dalam
bentuk oksidanya jika ditambahkan air akan membentuk larutan basa. Dalam satu periode (kiri ke
kanan), sifat asam semakin bertambah sedangkan sifat basa semakin berkurang. Dalam satu golongan
(atas ke bawah), pada golongan logam, sifat basa semakin bertambah dan pada golongan nonlogam,
sifat asam akan semakin bertambah.
7. Reaktifan
Kereaktifan adalah kemudahan suatu unsur dalam melakukan reaksi dengan unsur yang lain. Untuk
logam, reaktif menunjukkan kemudahan melepas elekton sedangkan untuk non logam, reaktif
menunjukkan kemudahan menarik elektron.
8. Titik didih dan titik leleh
1) Dalam satu periode, titik leleh dan titik didih naik dari kiri ke kanan sampai golongan IV A,
kemudian turun drastis. Titik leleh dan titik didih terendah dimiliki oleh unsur golongan VIII A
2) Dalam satu golongan, ternyata ada dua kecenderungan: unsur-unsur golongan I A – IV A, titik
leleh dan titik didih makin rendah dari atas ke bawah; unsur-unsur golongan V A – VIII A, titik leleh
dan titik didihnya makin tinggi
9. Oksidator
10. Reduktor

Konsonan >>
Vokal <<

IKATAN KIMIA

Atom dikatakan stabil apabila konfigurasi elektronnya sama dengan gas mulia (struktur duplet atau oktet).

Struktur duplet : mempunyai dua elektron di kulit terluar (sama dengan He)
Struktur oktet : mempunyai delapan elektron di kulit terluar

IA IIA Transisi IIIA IVA VA VIA VIIA VIIIA


Logam kecuali H Non Logam

Berikut ini adalah jenis-jenis ikatan kimia:


1. Ikatan Ion
Ikatan ion (ikatan elektrovalen atau heteropolar) terjadi karena adanya serah terima elektron antara
atom. Ikatan ini terbentuk antara:
 Logam dan non logam
 Ion positif dengan ion negatif (oleh gaya elektrostatis)
 Atom-atom berenergi potensial ionisasi kecil dengan atom-atom berelektronegatif besar
(golongan IA atau IIA dengan atom-atom unsur golongan VIA atau VIIA)
2. Ikatan Kovalen
Ikatan kovalen adalah ikatan yang terjadi akibat pemakaian pasangan elektron secara bersama-sama
oleh dua atom. Ikatan kovalen terbentuk di antara dua atom yang sama-sama ingin menangkap
elektron (sesama atau bukan logam)
Secara garis besarnya, ikatan kovalen dibagi atas:
 Ikatan kovalen polar
Ikatan kovalen polar terjadi pasangan elektron yang berikatan lebih kuat tertarik ke salah satu
atom
Ciri-ciri: * larut dalam pelarut polar seperti air
* larutannya dapat menghantarkan arus listrik
* ada pasangan elektron bebas pada atom pusat (atom yang jumlahnya lebih sedikit)
* senyawa tidak simetris
Contoh : HCl, K2O, HCN
 Ikatan kovalen non polar
Ikatan kovalen nonpolar terjadi jika pasangan elektron yang berikatan tertarik sama kuat ke
semua atom
Ciri-ciri: * bentuk molekulnya simetris
* tidak dapat menghantarkan arus listrik
* tidak ada pasangan elektron bebas pada atom pusat
* larut dalam pelarut non polar seperti minyak
3. Ikatan-Ikatan Lain
 Ikatan hidrogen yaitu ikatan antara atom H dengan atom-atom F, O, dan N yang memiliki
keelektronegatifan yang besar. Adanya ikatan hidrogen dapat meningkatkan titik didih.

Kata kunci H and F, O, N


Faktor-faktor yang mempengaruhi titik didih adalah:
- Mr
Makin tinggi Mr maka titik didih makin besar.
- Ikatan Hidrogen
Ikatan hidrogen dapat meningkatkan titik didih sehingga Titik didih HF (Mr = 18) > titik didih
HCl (Mr = 36,5)
- Percabangan pada senyawa organik
Adanya percabangan dapat melemahkan ikatan van der Waals sehingga titik didih n-butana
(Mr = 58) > titik didih 2-metilpropana (Mr = 58)
 Ikatan logam yaitu ikatan antara atom-atom unsur logam. Ikatan ini terjadi karena rapatnya
susunan atom-atom logam sehingga elektron pada kulit terluarnya dapat bergerak bebas
 Ikatan van der waals yaitu ikatan yang terjadi akibat adanya molekul-molekul gas. Ikatan ini
menyebabkan gas dapat dicairkan

Perbedaan antara senyawa ion, kovalen polar, dan kovalen nonpolar


Senyawa Ion Kovalen Polar Kovalen Non Polar
Larutan/leburannya dapat Larutannya dapat Tidak dapat menghantarkan
menghantarkan arus listrik menghantarkan arus listrik arus listrik
Memiliki titik didih & titik lebur Memiliki titik didih dan titik Memiliki titik didih dan titik
yang tinggi lebur yang rendah leleh yang rendah
Larut dalam pelarut polar (air) Larut dalam pelarut polar (air) Larut dalam pelarut non polar
(minyak)
Keras tetapi rapuh Mudah menguap Mudah menguap
Padatan berbentuk kristal Umumnya berbentuk cair Umumnya berbentuk gas

Untuk menentukan bentuk molekul, perlu diketahui PEI (pasangan elektron ikatan) dan PEB (pasangan
elektron bebas).
Golongan Atom Pusat − PEI
PEB =
2
Hibridisasi PEI PEB Bentuk geometris Contoh
sp 2 0 Linear BeCl2
3 0 Trigonal planar BF3
sp2
2 1 Bengkok SO2
4 0 Tetrahedral CCl4, [Pt(NH3)4]+2
sp3 3 1 Trigonal piramida NH3
2 2 Bengkok/”V” H2O
sp3d / dsp3 5 0 Trigonal bipiramidal PCl5, AsCl5
sp3d2 / d2sp3 6 0 Oktahedral SF6, SiF6-2
STOKIOMETRI

Gram/Mr

V/22,4 (STP) 0o C, 1 atm Volume (L)


Mr (g/mol)
Mol Tekanan (atm)
pV/RT
R = 0,082
Suhu (K)
M.Liter

Partikel/6,02 x 1023

Stoikiometri adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari hubungan kuntitatif antara reaktan dan
produk dalam reaksi kimia.

1. PERSAMAAN REAKSI
Persamaan reaksi yang benar adalah reaksi yang jumlah atom kanan = kiri dan muatan sebelah kanan =
kiri. Berdasarkan jumlah pereaksi yang ada, reaksi terdiri atas:
- Reaksi STOIKIOMETRIS, apabila jumlah zat yang bereaksi tidak ada yang bersisa
- Reaksi NONSTOIKIOMETRIS, apabila jumlah zat yang bereaksi ada yang bersisa. Reaksi
nonstoikiometri biasanya ditandai dengan diketahuinya jumlah reaktan yang berbeda.

Untuk mengetahui jumlah pereaksi yang sisa, digunakan pereaksi pembatas yaitu peraksi yang habis
bereaksi. Cara menentukan pereaksi pembatas:

Pereaksi pembatas = mol/koefisien (dengan hasil yang kecil)

a. Reaksi yang perlu diketahui :

Senyawa organik + O2→ CO2 + H2O


Asam + basa → garam + H2O
Logam + asam → garam + H2

b. Koefisien reaksi menyatakan perbandingan mol zat

Dalam setiap reaksi kimia berlaku :

Mol 1 = Mol 2 (kali silang koefisien)

2. RUMUS KIMIA
Rumus kimia dapat dituliskan dalam bentuk:
 Rumus empiris : rumus yang menyatakan perbandingan terkecil yang menyusun senyawa
 Rumus molekul : rumus yang menyatakan jumlah atom unsur yang menyusun 1 molekul
Contoh : Glukosa dengan RM C6H12O6 dan RE CH2O
Cara menentukan rumus empiris senyawa :
a. Cari gram atau % unsur penyusun senyawa
b. Bagi dengan Ar masing-masing, sehingga diperoleh perbandingan mol terkecil
Untuk menentukan rumus molekul senyawa, harus diketahui :
a. Rumus empiris senyawa
b. Mr senyawa
(RE)n = RM
RM biasa dinyatakan dengan Mr

3. HUKUM DASAR KIMIA


a. Hukum Lavoiser
Massa sebelum dan sesudah reaksi adalah sama.
Contoh: jika dipanaskan 100 g CuSO4.xH2O, maka jumlah air yang menguap dapat dihitung dari
selisih antara massa mula-mula dengan massa akhir setelah pemanasan.
b. Hukum Perbandingan Tetap (Proust)
Perbandingan massa unsur-unsur dalam satu senyawa adalah tertentu dan tetap.
Maka untuk senyawa dengan rumus molekul AxBy dapat diketahui:
𝑥 x Ar A
Berat A = x berat senyawa
Mr senyawa
𝑥 x Ar A
%A= x 100%
Mr senyawa
c. Hukum Gay-Lussac
Pada suhu dan tekanan yang sama, volume gas-gas yang bereaksi dan volume gas-gas hasil reaksi
berbanding sebagai bilangan bulat dan sederhana. Jika hanya ada data volume, maka :

Perbandingan volume gas = koefisien = mol

d. Hukum Avogadro
Gas-gas yang mempunyai volume yang sama pada suhu dan tekanan yang sama mempunyai
jumlah molekul yang sama sehingga berlaku :
Vgas 1 molgas 1
=
Vgas 2 molgas 2
e. Hukum Dalton
Jika 2 unsur membentuk dua macam senyawa atau lebih, untuk massa salah satu unsur yang sama
banyaknya, massa unsur kedua dalam senyawa, maka senyawa akan berbanding sebagai bilangan
bulat dan sederhana.
TERMOKIMIA

REAKSI EKSOTERM DAN ENDOTERM

1. Reaksi Endoterm
Reaksi endoterm adalah reaksi yang menyerap kalor atau memerlukan energi dari lingkungan ke
sistem. Entalpi sistem bertambah (hasil reaksi memiliki entalpi lebih tinggi dari zat semula). Tanda
reaksi endoterm adalah ΔH = + (positif). Persamaan reaksi endoterm secara umum sebagai berikut

ΔH = HProduk – HPereaksi> 0

2. Reaksi Eksoterm
Reaksi eksoterm adalah reaksi yang melepas kalor dari sistem ke lingkungan. Entalpi sistem berkurang
(hasil reaksi memiliki entalpi lebih kecil dari zat semula). Tanda reaksi eksoterm adalah ΔH = -
(negatif). Persamaan reaksi eksoterm secara umum sebagai berikut

ΔH = HProduk – HPereaksi< 0

PERHITUNGAN ENTALPI
Perhitungan entalpi dapat ditentukan dengan menggunakan perubahan entalpi pembentukan,
hukum Hess, kalorimeter, dan energi ikatan rata-rata.

1. Berdasarkan data entalpi pembentukan (Hf)

ΔH =  ΔHfo produk – ΔHfo reaktan

2. Berdasarkan Hukum Hess


Reaksi yang disediakan disesuaikan dengan soal yang ditanyakan. Dengan ketentuan:
- Reaksi dibalik, ∆H = -.
- Reaksi dikali x, ∆H juga dikali x.
- Reaksi dijumlahkan, ∆H juga dijumlahkan.
3. Berdasarkan energi ikatan rata-rata
ΔH = Ikatan kiri – ikatan kanan

4. Berdasarkan kalorimeter

Q = m c ΔT dimana m = massa larutan,c = kalor jenis dan ΔT = perubahan suhu

𝐭𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐤𝐚𝐥𝐨𝐫 (𝐐)


𝚫𝐇 = −
𝐦𝐨𝐥 𝐩𝐞𝐫𝐞𝐚𝐤𝐬𝐢

LAJU REAKSI
LAJU REAKSI dapat dinyatakan sebagai berkurangnya jumlah (konsentrasi) pereaksi per satuan waktu atau
bertambahnya jumlah (konsentrasi) produk per satuan waktu.

Misalkan dalam suatu reaksi: P + Q → R


Dengan menggunakan definisi di atas maka dapat dijabarkan bahwa:

𝑽𝑷= − ∆ [𝑷] 𝑽𝑸= − ∆ [𝑸] 𝑽𝑹= + ∆ [𝑹]


∆𝒕 ∆𝒕 ∆𝒕

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU REAKSI


 Sifat zat yang bereaksi
Reaksi senyawa ion pada umumnya berlangsung lebih cepat daripada reaksi senyawa kovalen
 Luas permukaan zat
Makin luas permukaan suatu zat, maka makin cepat pula laju reaksinya
 Konsentrasi
Makin besar konsentrasi suatu larutan, makin besar pula kecepatan reaksinya
 Suhu
Makin tinggi suhu suatu reaksi, makin cepat pula laju reaksinya.
Jika dalam suatu percobaan setiap kenaikan ToC menyebabkan kecepatan reaksi menjadi n kali lipat,
maka dalam hal ini dapat digunakan rumus: 𝜟𝑻
𝑽𝟐 = (𝒏) 𝑻 𝑽𝟏

Karena kecepatan berbanding terbalik dengan waktu, maka: 𝜟𝑻


𝟏 𝑻
𝒕𝟐 = ( ) 𝒕𝟏
𝒏
 Katalis
Katalis adalah zat yang dapat mempercepat reaksi, katalisator dalam reaksi kimia tetap ikut bereaksi,
akan tetapi pada akhir reaksi diperoleh kembali dalam jumlah mol yang sama.
Fungsi katalis adalah untuk menurunkan energi aktivasi, sehingga energi minimum yang diperlukan
oleh suatu reaksi untuk bereaksi cepat dicapai.

PERSAMAAN LAJU REAKSI


PERSAMAAN LAJU REAKSI hanya dapat ditentukan dari hasil percobaan dan bukan dari persamaan
reaksinya. Misalkan dalam reaksi: P + Q → R, laju reaksi ditentukan oleh konsentrasi pereaksi, yaitu
konsentrasi P dan konsentrasi Q. Persamaan laju reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut:

𝑽 = 𝒌 [𝑷]𝒙 [𝑸]𝒚

Cara menentukan nilai x : dengan melihat data Q yang sama


Cara menentukan nilai y : dengan melihat data P yang sama
X + Y = orde reaksi total

KESETIMBANGAN (K)

Untuk reaksi aA(g) + bB(g)↔ cC(g) + dD(g)

[C]c [D]d Kc = Tetapan K berdasarkan konsentrasi


Kc = a b [ ] = konsentrasi (M = mol/L)
[A] [B]
(PC )c (PD )d Kp = Tetapan K berdasarkan tekanan
Kp = Px = Tekanan parsial gas X {Px = (mol x/mol total) . Ptotal}
(PA )a (PB )b
R = 0,082 atm.L.mol-1.K-1
n T = Suhu (K)
Kp = Kc. (RT)
n = Koefisien produk – reaktan yang berwujud gas
mol bereaksi  = Derajat dissosiasi
=
mol mula-mula

Perhitungan tetapan kesetimbangan ada 2 tipe soal:

1. Ada yang langsung menggunakan rumus


2. Ada yang menggunakan kondisi reaksi mula-mula, terurai, setimbang. Ciri-ciri soal seperti ini adalah
ada kata-kata mula-mula, dicampurkan, pada awal reaksi, atau diketahui derajat dissosiasi (α).
LARUTAN

m m1 m1 = massa zat terlarut


% = x 100% m2 = massa zat pelarut
m m1 + m2
v v1 v1 = volume zat terlarut
% = x 100% v2 = volume zat pelarut
v v1 + v2
M = molaritas (mol/L)
n g 1000
M = v = Mr x n = mol zat terlarut (mol)
mL
Konsentrasi v = volume larutan (L)
m = molalitas
n gt 1000
m= mp
= Mr x gp
n = mol zat terlarut (mol)
mp = massa zat pelarut (kg)
nA XA = fraksi mol zat A
XA = nA = mol zat A
ntotal
ntotal = jumlah mol dalam larutan
N = normalitas
N = M x valensi
M = molaritas

Pengenceran M1 = molaritas larutan sebelum diencerkan


M1 x V1 = M2 x V2 V1 = volume larutan sebelum diencerkan
M2 = molaritas larutan setelah diencerkan
V2 = volume larutan setelah diencerkan
Pencampuran M1 = molaritas larutan pertama
M1 x V1 + M2 x V2 V1 = volume larutan pertama
Mcampuran =
V1 + V2 M2 = molaritas larutan kedua
V2 = volume larutan kedua
SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

Adalah sifat larutan yang tidak dipengaruhi oleh jenis zat tersebut, melainkan dipengaruhi oleh
konsentrasi.
1. PENURUNAN TITIK BEKU (ΔTf)
ΔTf = Kf . m . i
∆Tf = TfP – TfL

2. KENAIKAN TITIK DIDIH (ΔTb)


ΔTb = Kb . m . i
∆Tb = TbL – TbP

π=M.R.T.i
3. TEKANAN OSMOSIS (π)

4. PENURUNAN TEKANAN UAP (ΔP)


ΔP = Xt . Pp
∆P = PP – PL

Sifat koligatif dipengaruhi oleh FAKTOR VAN’T HOFF yang diberi simbol i , dimana dirumuskan

i = 1 + (n-1) 

UNTUK LARUTAN NONELEKTROLIT, harga i = 1 karena nilai  = 0


UNTUK ELEKTROLIT, nilai n =  ion dalam senyawa

Larutan Elektrolit Kuat Larutan Elekrtolit Lemah Larutan Non Elektrolit


Banyak gelembung Sedikit gelembung Tidak ada gelembung
Nyala lampu terang Tidak nyala/redup Tidak nayala

ASAM BASA
Teori-teori Asam-Basa
1. Teori Arrhenius
- Asam adalah senyawa yang apabila dilarutkan dalam air akan menghasilkan ion H+.
- Basa adalah senyawa yang apabila dilarutkan dalam air akan menghasilkan ion OH-'
2. Teori Brownted-Lowry
- Asam adalah senyawa yang dapat memberikan (donor) proton atau H+.
- Basa adalah senyawa yang dapat menerima (akseptor) proton atau H+.
Dalam teori Brownted_lowry dikenal istilah pasangan asam-basa-konjugasi yaitu pasangan asam-basa
yang hanya berbeda 1 atom H+ seperti H2SO4 berpasangan dengan HSO4-.
3. Teori Lewis
- Asam adalah senyawa yang dapat menerima (akseptor) pasangan elektron bebas.
- Basa adalah senyawa yang dapat memberikan (donor) pasangan elektron bebas.

Larutan penyangga (buffer) yaitu larutan yang dapat mempertahankan pH dari penambahan sedikit asam,
sedikit basa, atau sedikit air.
Asam Kuat : H2SO4, HNO3, HClO4, HCl, HBr, HI
Asam Lemah (ada Ka) : HF, H2S,H3PO4, asam organik seperti CH3COOH, H2C2O4, HCOOH, HCN
Basa Kuat : NaOH, KOH, Ca(OH)2, Ba(OH)2, Sr(OH)2
Basa Lemah (ada Kb) : NH4OH atau NH3

Perbedaan Asam dan Basa


Pembeda Asam Basa
pH pH < 7 pH > 7
Ciri-ciri H…../…..COOH …..OH
Nilai konstanta kesetimbangan Ka untuk asam lemah Kb untuk basa lemah
Warna kertas lakmus Merah Biru
Perbedaan Buffer dan Hidrolisis
Pembeda Buffer Hidrolisis
Pembentuk Asam lemah + Garam konjugasinya Garam
Basa lemah + Garam konjugasinya
Jika direaksinya Mol lemah > mol kuat Mol asam = mol basa
antara asam dan
basa
Prinsip Lemah yang menang Kuat yang menang

Asam kuat [H+] = konsentrasi H+ (M)


[H+] = a x Ma
a = jumlah H+
Asam lemah
[H + ]= √K a x Ma Ma = konsentrasi asam (M)
Basa kuat Ka = konstanta asam lemah
[OH-] = b x Mb
Basa lemah [OH-] = konsentrasi OH- (M)
[OH - ]= √K b x Mb b = jumlah OH-
Titrasi
Mb = konsentrasi basa (M)
(M . V . a)asam = (M . V . b)basa

Larutan Penyangga dan Hidrolisis


Penyangga asam
[asam lemah]
[H + ]= K a x
[basa konyugasi]
Penyangga basa
[basa lemah]
[OH - ]= K b x
[asam konyugasi]
Hidrolisis asam kuat + basa lemah [H+] = konsentrasi H+ (M)
Kw Ka = konstanta asam lemah
[H + ]= √ x [basa konyugasi]
Kb
Hidrolisis asam lemah + basa kuat [OH-] = konsentrasi OH- (M)
Kw
[OH - ]= √ x [asam konyugasi] Kw = konstanta air (1 x 10-14)
Ka
Hidrolisis asam lemah + basa lemah
Kw
[H + ]= √ x Ka
Kb
Garam yang berasal dari asam kuat + basa kuat tidak
mengalami hidrolisis tetapi penetralan

Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan (Ksp)


Jika senyawa AxBy mengalami kesetimbangan seperti:
AxBy(aq)↔ xAy+(aq) + yBx-(aq)
Maka:
KspAxBy = [Ay+]x[Bx-]y
SISTEM KOLOID

Fase terdispersi Zat yang dispersikan


Sistem Koloid
Medium pendispersi Medium untuk mendispersikan

Berdasarkan pendispersi dan zat terdispersi, koloid terbagi atas:


Terdispersi Pendispersi Sistem Koloid
Padat ….. Sol …..
Cair ….. Emulsi …..
Gas ….. Busa …..
…… Gas Aerosol …..
Terdispersi adalah zat yang kelihatan oleh mata.

Sifat-Sifat Koloid dan penerapannya:


a. Gerak brown : gerak zig-zag partikel koloid yang hanya bisa diamati dengan mikroskop ultra
b. Efek Tyndal : sistem koloid menghamburkan sinar tampak dan akan tampak dalam pengamatan
 Penyebab langit berwarna biru
 Berkas cahaya matahari tampak jelas di sela-sela pohon yang sekitarnya berkabut
 Berkas cahaya proyektor tamapk jelas di gedung bioskop yang berasap
 Sorot cahaya mobil berkasnya tampak jelas pada daerah yang berkabut
c. Elektroforesis : pergerakan partikel koloid dalam medan listrik
 Identifikasi DNA
 Penyaringan debu pabrik
d. Adsorpsi : penyerapan pada permukaan
 Pemutihan gula tebu
 Norit, menyembuhan sakit perut yang disebabkan oleh bakteri.
 Penjernihan air dengan menambahkan tawas (Al(OH)3)
 Penggunaan tawas pada pewarnaan tekstil
 Aroma kurang sedap dalam air sumur dihilangkan dengan menggunakan arang
e. Dialisis : proses menghilangkan ion-ion pengganggu (pemurnian koloid)
 Proses cuci darah bagi penderita gagal ginjal
f. Koagulasi : pengumpalan sistem koloid
 Pembentukan delta di muara sungai
 Karet dalam lateks digumpalkan dengan menambahkan asam format
 Penggumpalan lumpur koloidal dalam air sungai dengan menambahkan tawas
 Asap atau debu dari pabrik/industri dapat digumpalkan dengan alat koagulasi listrik dari
cottrel
g. Koloid Pelindung : penstabilan koloid dengan menambahkan koloid yang lain
 Pembuatan es krim digunakan gelatin untuk mencegah pembentukan kristal besar es atau
gula
 Cat dan tinta bertahan lama karena menggunakan koloid pelindung
 Zat-zat pengemulsi, seperti sabun dan detergen
reaksi
hidrolisis

cara kimia reaksi redoks

cara reaksi
kondensasi pengenceran

cara fisika pendinginan


pembuatan
koloid
dispersi
mekanis

cara dispersi peptitasi

busur bredig

REDOKS dan ELEKTROKIMIA

Redoks dan Elektrokimia


 Reaksi oksidasi adalah kenaikan bilangan oksidasi
 Reaksi reduksi adalah penurunan bilangan oksidasi
 Oksidator adalah zat yang mengoksidasi, maka zat itu sendiri akan tereduksi
 Reduktor adalah zat yang mereduksi, maka zat itu sendiri akan teroksidasi

Reaksi redoks adalah reaksi yang mengandung peristiwa reduksi dan oksidasi.

Reaksi disproporsionasi (autoredoks) adalah reaksi dimana hanya satu jenis yang mengalami reduksi dan
oksidasi, atau hanya satu jenis atom yang bilangan oksidasinya berubah.

Pedoman penentuan bilangan oksidasi adalah sebagai berikut:

a. Bilangan oksidasi unsur bebas = 0 (nol)


b. Jumlah bilangan oksidasi senyawa netral adalah 0 (nol) dengan ketentuan
 Bilangan oksidasi H (hidrogen) dalam senyawanya adalah +1 kecuali senyawa hidrida (Hidrogen
berikatan dengan logam) = -1
 Bilangan oksidasi O (oksigen) dalam senyawanya adalah -2, kecuali:
 Senyawa peroksida (senyawa yang mempunyai kelebihan atom oksigen dari semestinya)
misalnya H2O2 biloks oksigen adalah -1
1
 Senyawa Superoksida biloks oksigen = − 2
 Senyawa F2O biloks oksigen = +2
 Bilangan oksidasi logam dalam senyawanya adalah sesuai dengan valensinya
c. Bilangan oksidasi ion adalah sesuai dengan jumlah muatan ion tersebut.
Reaksi redoks dapat disetarakan dengan menggunakan 2 macam metode, yaitu metode setengah reaksi
dan metode bilangan oksidasi

1. Metode setengah reaksi


Langkah-langkah dalam penyetaraan reaksi redoks adalah:
a. Tulis masing-masing setengah reaksi oksidasi dan reduksi
b. Setarakan jumlah atom yang mengalami perubahan bilangan oksidasi
c. Setarakan jumlah atom O dengan memperhitungkan kondisi lingkungannya (asam atau basa)
 Kondisi asam : kurang O ditambah H2O, kurang H ditambah H+
 Kondisi basa : kelebihan O ditambah H2O pada ruas yang kelebihan oksigen dan
setarakan H dengan menambah OH-
d. Setarakan muatannya dengan menambah elektron pada ruas yang lebih besar jumlah muatannya
e. Samakan jumlah elektron yang dilepas dan diterima
f. Jumlahkan kedua reaksi tersebut
2. Metode bilangan oksidasi
a. Tentukan unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi
b. Setarakan unsur tersebut dengan koefisien yang sesuai
c. Tentukan kenaikan dan penurunan bilangan oksidasi, jumlah perubahaan biloks adalah sama
dengan jumlah atom dikalikan perubahannya
d. Samakan elektron reduksi dan elektron oksidasi (biasanya dengan kali silang elektron)
e. Jika reaksinya dalam bentuk:
- Reaksi lengkap : samakan unsur yang lain dengan urutan Kation – Anion – Hidrogen – oksigen
- Reaksi ion : samakan muatan kiri dan kanan dengan mempertimbangkan kondisi asam (H+ dan
H2O) atau basa (OH- dan H2O)

Deret Volta
Disusun berdasarkan nilai Eo dengan makin ke kanan nilainya makin besar dengan ketentuan:
Eo makin >>>
Oksidasi Reduksi
Reduktor Oksidator

Notasi penulisan sel volta

A | AX+ || BY+ | B

Esel = Ered - Eoks Esel = potensial sel reaksi


Hukum Faraday I Ered = potensial sel yang mengalami reduksi
e.i. t Eoks = potensial sel yang mengalami oksidasi
w=
96500 w = massa yang terendapkan (g)
Hukum Faraday II e = berat ekivalen (Ar/valensi)
Mol1 . valensi1 = mol2 . valensi2 i = kuat arus (A)
t = waktu (s)
Proses Korosi:
Perkaratan melibatkan O2 dan H2O. Logam tidak berkarat dalam air yang tidak mengandung O2. Juga
logam tidak berkarat di udara yang mengandung O2 tetapi tidak mengandung uap air.
pH larutan, garam-garam, serta kontak logam tersebut dengan logam lain.
Korosi besi merupakan proses elektrokimia
Anode : Fe(s) → Fe2+(aq) E0 = + 0,44 V
Katode : O2(g) + 4e → 4OH-(aq) E0 = + 0,40 V

Cara Mencegah atau Memperlambat Korosi:


Pada pembuatan logam diusahakan agar zat-zat yang dicampurkan (impurites) tersebar secara
homogen dalam logam tersebut.
Mencegah kontak dengan oksigen dan air, misalnya dengan mengecat atau melumuri dengan
oli/minyak.
Perlindungan katode/pengorbanan anode, yaitu dihubungkan (dikopel) dengan logam yang lebih aktif
(dengan logam yang E0-nya lebih negatif), misalnya dengan Zn atau Mg.
Dibuat stainless steel.
Kaleng baja dilapisi dengan timah (Sn)

KIMIA ORGANIK

Tata Nama Senyawa Organik


Setiap senyawa organik memiliki gugus fungsi yang bersifat khusus. Berdasarkan gugus fungsinya,
senyawa organik diklasifikasi menjadi:

Isomer

Reaksi-reaksi Organik

Benzena

Turunan Benzena Manfaat


Natrium benzoat Bahan pengawet makanan
Metil salisilat Obat penahan rasa sakit/obat gosok
Fenol Pembasmi kuman/zat desinfektan, bahan anti
septik
Toluena Pelarut, bahan baku pembuatan bahan peledak
Nitrobenzena Bahan baku pembuatan zat warna diazo
Asam tereftalat Bahan baku serat sintetik poliester
Aspirin Bahan baku obat sakit kepala
Benzaldehida Zat pengawet, bahan baku pembuatan parfum
Asam benzen sulfonat Bahan dasar detergen
1. Reaksi Uji Protein
Uji Millon (Hg) menunjukkan adanya gugus fenol → (+) Merah
Uji Xantoproteat (HNO3) menunjukkan adanya gugus fenil atau inti benzena → (+) Jingga/Kuning
Uji Biuret (CuSO4) menunjukkan adanya ikatan peptida → (+) Ungu
Uji Belerang (Pb(CH3COO)2 menunjukkan adanya unsur belerang dalam protein → (+) Endapan
Hitam

2. Reaksi Uji Karbohidrat


Uji Mollisch (α-naftol + H2SO4) menunjukkan adanya karbohidrat secara umum → (+) cincin ungu
Uji Benedict (Cu2O) menunjukkan adanya gula pereduksi → (+) merah bata dan coklat
Uji Fehling (Cu2O) menunjukkan adanya gugus aldehida → (+) endapan merah bata
Uji Tollens (Ag2O) menunjukkan adanya gugus aldehida → (+) endapan cermin perak

3. Polimer
Monomer Polimer Jenis Kegunaan
Polimer
Etilena/Etena Polietilena Adisi Pelapis tangki dan panci anti lengket
Vinil klorida Polivinil Adisi Sebagai jas hujan, pipa pralon, selang, dll
klorida
Stirena/fenil Polistirena Adisi Pembungkus, insulator listrik, sol sepatu
etena
Tetra Teflon Adisi Sebagai pengganti logam, zat antilengket
fluoroetilena
Metil metakrilat Flexiglass Adisi Kaca jendela pesawat terbang
Isoprena Karet alam Adisi Karet sintetis
Kloroprena Neoprena Adisi Selang bensin, kemasan barang, insulator kabel
dan kawat
Sianoetena Akrilan Adisi Pengganti logam
Asam adipat +
1,6 Nylon Kondensasi Bahan pembuatan kain
diaminoheksana
Asam Tereftalat
Tetoron Kondensasi Bahan pembuatan kain
+ glikol
Metanol + Fenol Bakelit Kondensasi Alat-alat listrik
Asam amino Protein Kondensasi Polimer Kondensasi Lainnya :
Glukosa Amilum Kondensasi DNA (Asam nukleat), sutera, wol, dll
Glokasa Sellulosa Kondensasi
Fase Medium
Sistem Koloid Contoh
Terdispersi Pendispersi
Padat Sol Padat Perunggu, kuningan, intan hitam, permata, kaca, tanah
Padat
Cair Sol Cat, kanji, tinta, protoplasma, putih telur, lumpur
Padat Emulsi Padat Keju, mentega, mutiara, jeli, opal, semir padat, lem padat
Cair Minyak dalam air : susu, santan,
Cair Emulsi
Air dalam minyak : mayones, minyak bumi, minyak ikan
Padat Busa Padat Batu apung, karet busa, kapur barus, stirofoam
Gas
Cair Busa/Buih Buih sabun, ombak, krim kocok (whipped)
Padat Gas Aerosol Padat Asap (smoke), debu di udara
Gas Aerosol Cair Kabut (fog), awan, embun, pengeras rambut, parfum
Cair
semprot

Unsur Mineral Unsur Mineral


Bauksit, kriolit, kaolin, alniko, Natron, kriolit, sendawa chili, albit, boraks
Al Na
feldsfar, mika
Hematit, magnetit, pirit, siderit, Mg Dolomit, magnesit, kiserit, asbes, mika
Fe
smaltit, nikrom, alniko Cr Kromit, nikrom
Kalkopirit, kalkosit, monel, Kaporit, dolomit, asbes, pualam, gips
Cu Ca
malakhit
Sn Kasiterit Ni Monel, nikrom, alniko, paltinit dan invar
Mn Pirolusit Si Asbes, albit, mika, granit, basal

Unsur Pembuatan Penggunaan


Al Proses Hall-Herault Badan pesawat terbang, kabel listrik, kemasan makanan
Pompa Frasch, Vulkanisasi karet, pembuatan asam sulfat
S
Sisilia
Cr Proses Gold Schmidt Pelapis logam lain (stainless steel)
Mg Proses Down Pencegah korosi pada pipa besi, obat maag, bahan cat
Pembuatan uang logam, kabel listrik dan perhiasan rumah
Cu Cara elektrolisis
tangga
Dengan mereduksi Atap rumah, batu baterai
Zn
oksidanya
P4 Pembutaan korek api, serbuk gelas atau pasir, perekat
Proses Wohler
(Phosporus)
Fe Tanur tinggi Alat-alat industri dan konstruksi
Proses Bessemer dan Pipa, kawat, kerangka beton
Baja Proses Siemens- Pembuatan rel kereta api, senapan, tank
Martin
Bilik Timbal Pengisi accumulator (aki), pemurnian minyak bumi,
H2SO4
(Proses kontak) proses galvanisasi dan penyepuhan
Proses Downs & Industri logam, pupuk, pengisi batu baterai, zat
Cl (Klorin)
Gibbs desinfektan, bahan pembuat mercon dan korek api
Radioaktivitas
Lambang Partikel Lambang Partikel Lambang Partikel
1 Proton 4 Alfa 2 Deutron
1𝑝 = 𝐻 2𝛼 = 𝐻𝑒 1𝐷
0
−1𝑒 Elektron 0
−1
 Beta 3
1𝑇 Triton
1
0𝑛 Neutron 0
0
 Gamma

Dalam reaksi, berlaku: