Anda di halaman 1dari 6

Jakarta, 9 Desember 2025

Nomor : 002/JPU/VIII-2025
Hal : Permohonan Pembubaran Partai Politik [Partai Balon]

Yth. Ketua Mahkamah Konstitusi


Jalan Medan Merdeka Barat Nomor 6
di Jakarta Pusat

Dengan hormat,
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Dr. Halida W.J. Nathaniel Rajagukguk, S.H., M.H.
Pekerjaan : Jaksa Penuntut Umum
Warga Negara : Indonesia
Alamat : Jl. Ikan Terbang No. 17, Pondok Aren, Tangerang Selatan
Nomor telepon / HP : 081272648672
Nomor faksimili : 021 - 8610145
Alamat surel : didawjnrg@gmail.com

Selanjutnya disebut sebagai -------------------------------------------------- PEMOHON


terhadap
Partai Balon, yang berkedudukan di Jalan Wirajasa Raya No. 20 Makasar, Jakarta
Timur Selanjutnya disebut sebagai -------------------------------------- TERMOHON.

Dalam hal ini mengajukan Permohonan Pembubaran Partai Politik TERMOHON.


Dasar dan pertimbangan pengajuan permohonan pembubaran partai politik
TERMOHON, sebagai berikut:

I. Kewenangan Mahkamah Konstitusi


a. Bahwa Pasal 24 C ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945), Pasal 10 ayat (1) huruf c Undang-
Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2011
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi (UU MK), dan Pasal 29 ayat (1) huruf c Undang-
Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (UU
48/2009), yang menyatakan sebagai berikut :

Pasal 24 C ayat (1) UUD 1945:


“Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan
terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang
terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan
lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang
Dasar, memutus pembubaran partai politik dan memutus perselisihan
tentang hasil pemilihan umum.”

Pasal 10 ayat (1) huruf c UU MK:


“Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan
terakhir yang putusanya bersifat final untuk:
c. “... memutus pembubaran partai politik; ...”

Pasal 29 ayat (1) huruf c UU 48/2009:


“Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan
terakhir yang putusannya bersifat final untuk:
c. “... memutus pembubaran partai politik; ...”

b. Bahwa permohonan Pemohon a quo adalah permohonan pembubaran


Partai Politik bernama Partai Balon . Dengan demikian, Mahkamah
Konstitusi berwenang mengadili permohonan a quo.

II. Kedudukan Hukum (legal standing)


a. Bahwa berdasarkan Pasal 68 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2003 tentang Mahkamah Konstitusi serta Pasal 3 Peraturan Mahkamah
Konstitusi Nomor 12 Tahun 2008 pihak yang dapat mengajukan
permohonan mengenai Pembubaran Partai Politik adalah pemerintah
yang dapat diwakilkan oleh Jaksa Agung dan/atau Menteri yang
ditugaskan oleh Presiden untuk itu.

b. Bahwa Pemohon adalah Jaksa Agung yang merasa kedudukan Partai


Balon sebagai Partai Politik diduga memiliki keterkaitan dengan
Komunitas Internasional yang menginginkan perubahan ideologi yang
berlandaskan paham neo-liberalisme dan kolonialisme. Mengacu pada
syarat pengajuan permohonan diatas, dengan demikian Pemohon
memenuhi syarat kedudukan hukum (Legal Standing) untuk
mengajukan permohonan a quo.

III. Alasan Permohonan (posita)


Bahwa telah diselenggarakan Pemilihan Umum pada 17 April 2024 yang
lalu. Hasil Pemilihan Umum tersebut menetapkan bahwa Partai Balon
memperoleh suara terbanyak dengan lebih dari 40 persen sehingga dapat
dikatakan menjadi partai mayoritas di parlemen. Partai Balon juga berhasil
mengantarkan salah satu kadernya untuk memperoleh posisi Presiden RI
periode 2024 - 2029.

Di pertengahan tahun 2025, diketahui bahwasannya Partai Balon


merupakan salah satu anggota Bandersnatch, sebuah komunitas
internasional yang memiliki visi dan misi untuk menjadikan seluruh negara
di bawah aliansi Bandersnatch mengikuti paham neo-liberalisme dan
kolonialisme serta ingin membentuk sebuah tatanan dunia baru.

Dengan berkedok berasaskan Pancasila, paham tersebut kian terselip di


balik kegiatan-kegiatan Partai Balon, seperti orasi yang disampaikan Ketua
Umum Partai Balon, Abyan Hydra, di musyawarah Partai Balon baik di
tingkat nasional maupun regional. Hal tersebut memicu rasa
ketidaknyamanan sebagian besar masyarakat karena menganggap adanya
ancaman terhadap ideologi Pancasila dan keutuhan NKRI.

Oleh karena eksistensi dari Partai Balon itu sendiri berhasil meresahkan
sebagian besar masyarakat dengan adanya paham komunisme yang
berkembang di dalam Partai Balon itu sendiri sehingga hak Partai Balon
harus segera dibatasi dan juga perlu dibubarkan demi keutuhan NKRI.

Bahwa banyak bukti yang sah mengarahkan Partai Balon telah melakukan
penyebaran kegiatan untuk memajukan kolonialisme sebagai ideologi
pengganti Pancasila. Hal ini dibuktikan dengan salah satu kegiatannya yaitu
pada saat peresmian layanan pengaduan masyarakat yang diadakan pada
tanggal 2 Desember 2024 dan dihadiri oleh masyarakat luas. Dalam
sambutan yang disampaikan oleh salah satu perwakilan dari Partai Balon,
menyinggung bahwasanya negara harus mengorbankan masyarakat kelas
menengah kebawah demi kemakmuran masyarakat lainnya.

Perkataan dan dukungan terhadap ideologi tersebut dilontarkan dengan


sangat jelas dalam setiap sambutan yang disampaikan. Tidak hanya dalam
acara tersebut saja, tetapi pada kegiatan-kegiatan lainnya yang
diselenggarakan oleh Partai Balon, dalam sambutan yang disampaikan
selalu mengarah ke ideologi neo-liberalisme dan kolonialisme untuk
menjadikan negara berkembang dengan bebas tanpa mempedulikan
kesejahteraan masyarakat.

Bukti berkembangnya paham neo-liberalisme dalam Partai Balon pun kerap


ditunjukkan dalam kebijakan dan wacana yang diajukan oleh fraksi Partai
Balon di DPR. Kebijakan tersebut membatasi hak-hak kaum menengah ke
bawah dan cenderung memprioritaskan kalangan menengah ke atas yang
merugikan rakyat menengah ke bawah. Kebijakan tersebut antara lain
penghapusan subsidi bahan bakar dinaikkannya harga bahan pangan pokok.
Jika melihat Pasal 68 ayat 2 Undang-Undang Mahkamah Konstitusi,
terdapat beberapa alasan pembubaran partai politik yaitu ideologi, asas,
tujuan, program, dan kegiatan yang bertentangan dengan UUD 1945.
Bahwa jika melihat ideologi neo-liberalisme dan kolonialisme yang
disampaikan oleh Partai Balon tersebut sudah sangat jelas bahwa
bertentangan dengan UUD 1945 yaitu ideologi Pancasila.

Oleh karena itu, PEMOHON mengajukan permohonan kepada Mahkamah


Konstitusi untuk membubarkan partai politik TERMOHON dengan
prosedur yang telah ada dan diatur dalam Undang - Undang.

IV. Petitum
Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, Pemohon memohon kepada
Mahkamah Konstitusi untuk menjatuhkan sebagai berikut:
1. Mengabulkan permohonan Pemohon untuk seluruhnya;
2. Menyatakan bahwa Partai Politik Balon memenuhi syarat pembubaran
partai politik sebagaimana diatur dalam Pasal 68 ayat (2) Undang-
Undang Mahkamah Konstitusi;
3. Menyatakan bahwa Partai Politik Balon terbukti memiliki tujuan untuk
menjadikan seluruh negara menjadi satu dibawah paham neo-
liberalisme dan kolonialisme; dan
4. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik
Indonesia.
Apabila Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, mohon putusan yang
seadil-adilnya (ex aequo et bono)

Hormat kami,
Pemohon

Dr. Halida W.J. Nathaniel Rajagukguk, S.H. M.H.


NAMA ANGGOTA KELOMPOK:

1. Halida Damayanti (1706049125)


2. Dwitania Rizky Savira (1706977323)
3. Aurelia Fanniabelle (1706047510)
4. Rafi Naufal Ghifari (1706049226)
5. Bagas Yurisditya Angie Prabatha (1706047883)
6. Abyan Nagata Javier (1706047920)
7. Ivan Fauzaan Julisakti (1706048955)

Kelas HAMKA D Reguler