Anda di halaman 1dari 36

RANCANGAN AKTUALISASI

NILAI-NILAI DASAR APARATUR SIPIL NEGARA

SMART LABEL SEBAGAI PENGENDALI


KADALUARSA OBAT TABLET
DI DEPO VIP RSUD DR. HARYOTO
KABUPATEN LUMAJANG

Disusun Oleh :
WINGGAR PALUPI, A.Md.Farm
Asisten Apoteker Terampil
NIP. 19940502 201903 2 019
NDH: 31

PELATIHAN DASAR CPNS


GOLONGAN II ANGKATAN XXXI
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
PROVINSI JAWA TIMUR
TAHUN 2019
LEMBAR PERSETUJUAN

RANCANGAN AKTUALISASI
NILAI-NILAI DASAR APARATUR SIPIL NEGARA

SMART LABEL SEBAGAI PENGENDALI


KADALUARSA OBAT TABLET
DI DEPO VIP RSUD DR. HARYOTO
KABUPATEN LUMAJANG

Disusun Oleh :
WINGGAR PALUPI, A.Md.Farm
Asisten Apoteker Terampil
NIP. 19940502 201903 2 019
NDH: 31

Telah diseminarkan pada Hari Senin, tanggal 14 Oktober 2019


di BPSDM Malang Provinsi Jawa Timur

Malang, 14 Oktober 2019


Menyetujui,
Coach Mentor

Dr. Arie Cahyono, S.STP,M.Si NS. Umi Sukowati, SH.,M.Kep.,Sp.Mat


NIP. 19780201 199612 1 001 NIP. 19631010 198803 2 013

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya penjatkan kepada Allah SWT atas Berkat dan
Rahmatnya, penulis dapat menyelesaikan rancangan aktualisasi yang
berjudul “Smart Label Sebagai Pengendali Kadaluarsa Obat di Depo
VIP RSUD dr Haryoto Kabupaten Lumajang “ dapat terselesaikan
dengan baik. Sholawat serta salam tak lupa saya haturkan kepada
junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita
semua ke jalan yang benar.
Penulis menyadari dalam melakukan Rancangan Aktualisasi tidak
lepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak. Dalam kesempatan ini,
penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Panitia Pelatihan Dasar CPNS sebagai Pihak Penyelenggara
2. Dr. Arie Cahyono,S.STP,M.Si selaku Coach yang selalu
memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan
Rancangan Aktualisasi.
3. NS.Umi Sukowati,SH., M.Kep.,Sp.Mat selaku Mentor yang dengan
penuh keikhlasan membimbing dan memberikan saran yang
terbaik.
4. Teman-teman Diklat Latsar CPNS Golongan II Tahun 2019
Akhir kata saya berharap allah SWT berkenan membalas segala
kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga Rancangan ini
dapat membawa kebaikan dan manfaat bagi kualitas pelayanan.

Malang, 14 Oktober 2019

Winggar Palupi, A.Md.Farm


NIP. 19940502 201903 2 019

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN .......................................................................... i


KATA PENGANTAR ................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ........................................................................................ iv
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1
1.2 Tujuan dan Manfaat ......................................................................... 4
1.3 Ruang Lingkup ................................................................................. 5
BAB II GAMBARAN LEMBAGA / INSTANSI .............................................. 6
2.1 Diskripsi Instansi .............................................................................. 6
2.2 Sejarah Singkat Instansi .................................................................. 7
2.3 Kedudukan ....................................................................................... 8
2.4 Visi ................................................................................................... 8
2.5 Misi................................................................................................... 8
2.7 Tugas ............................................................................................... 9
2.8 Nilai Dasar ....................................................................................... 9
2.9 Fungsi .............................................................................................. 9
2.10 Struktur / Susunan Organisasi ....................................................... 10
2.11 Uraian Tugas Asisten Apoteker...................................................... 11
BAB III RANCANGAN AKTUALISASI ...................................................... 15
3.1 Identifikasi Isu, Gagasan Pemecahan Isu ...................................... 15
3.2 Gagasan Pemecahan Isu ............................................................... 18
3.3 Diagram Alur Pemecahan Isu ........................................................ 20
3.4 Matriks Rencana Kegiatan Aktualisasi ........................................... 21
3.5 Jadwal Rencana Kegiatan Aktualisasi ........................................... 29
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 30

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Seleksi Isu dengan Metode AKPL ...................................... 16

Tabel 3.2 Seleksi Isu dengan Metode USG ........................................ 17

Tabel 3.3 Matrix Rencana Kegiatan Aktualisasi ................................... 22

Tabel 3.4 Jadwal Rencana Kegiatan Aktualisasi ................................. 29

iv
DAFTAR GAMBAR
`

Gambar 2.1 RSUD dr. Haryoto ........................................................... 6

Gambar 2.2 Struktur Organisasi RSUD dr. Haryoto ............................. 10

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut UUD 1945 pasal 28 H ayat (1) menyatakan bahwa


setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat
tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat
serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Pelayanan
kesehatan bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan masyarakat yang dilakukan di sarana kesehatan. Salah
satu wujud sarana tersebut adalah rumah sakit. Rumah sakit
dengan organisasi di dalamnya harus dikelola dengan sebaik-
baiknya, agar memberikan pelayanan kesehatan semaksimal
mungkin kepada masyarakat, sehingga tercapai tujuan derajat
kesehatan yang optimal.
Rumah Sakit Umum Daerah dr Haryoto Kabupaten Lumajang
merupakan rumah sakit tipe B non pendidikan. Dalam memberikan
upaya pelayanan kesehatan RSUD memiliki Instalasi Farmasi
Rumah Sakit (IFRS) yang merupakan salah unit pelayanan
terpenting, IFRS termasuk dalam unit penunjang medik yang
memberikan pelayanan obat serta bahan dan alat kesehatan habis
pakai dari kebutuhan rumah sakit. IFRS juga tergolong dalam unit
yang paling banyak menggunakan anggaran untuk pengadaan
obat. Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah salah satu unit di
rumah sakit yang bertugas dan bertanggung jawab sepenuhnya
pada pengelolaan semua aspek yang berkaitan dengan obat /
perbekalan kesehatan yang beredar dan digunakan di rumah sakit
(Siregar dan Amalia, 2003).

1
Pengelolaan obat merupakan salah satu segi manajemen
rumah sakit yang sangat penting dalam penyediaan pelayanan
kesehatan secara keseluruhan. Ketidakefisienan dan
ketidaklancaran pengelolaan obat akan memberi dampak negatif
terhadap rumah sakit, baik secara medik, sosial maupun secara
ekonomi. Salah satu pengolahan obat yang perlu diperhatikan
khusus adalah kadaluarsa (expired date) obat. Pengendalian obat
yang kurang optimal dalam penyimpanannya dapat meningkatkan jumlah
obat expired date (Ibrahim, Astuti. 2016).
Pengendalian kadaluarsa obat yang kurang efektif di depo farmasi
RSUD dr. Haryoto, dikhawatirkan dapat terdistribusi ke pasien. Bila hal ini
sampai terjadi akan sangat membahayakan kesehatan pasien.
Menggunakan obat yang sudah lewat kadaluarsanya berarti menggunakan
obat yang stabilitasnya tidak lagi terjamin bahkan menimbulkan berbagai
macam masalah kesehatan. Salah satunya bisa mengganggu sistem
ekskresi tubuh (gangguan fungsi ginjal), mengingat bahan aktif senyawa
tertentu bersifat refrotoksik atau racun bagi fungsi sistem ginjal. Tak hanya itu,
kepercayaan masyarakat akan pelayanan kesehatan juga berkurang dan
memberi citra buruk bagi instansi / RSUD (Priyambodo, 2016).
Berdasarkan pengamatan penulis selama 4 bulan bekerja di salah satu
depo Farmasi RSUD dr.Haryoto masih ditemui obat yang akan kadaluarsa
dalam kurun waktu yang cukup dekat. Untuk menciptakan efisiensi
pegendalian kadaluarsa obat maka perlu dilakukan berbagai upaya
peningkatan pengendalian pengelolahan obat di depo farmasi. Depo VIP
RSUD dr Haryoto adalah salah satu depo farmasi yang memiliki persedian
obat yang cukup komplek karena melayani ruang ranap yang cukup luas.
Untuk itu, pengendalian kadaluarsa (expired date) obat di depo tersebut perlu
ditingkatkan.
Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan Aparatur Sipil Negara
(ASN) yang memiliki peranan penting dalam mengelola
pemerintahan di Indonesia. Berdasarkan Undang-undang No. 5

2
Tahun 2014 pasal (10), fungsi dari ASN yaitu 1) Pelaksana
kebijakan publik 2) Pelayan publik 3) Perekat dan pemersatu
bangsa. Salah satu fungsi ASN yang sangat sering kita temui yaitu
sebagai Pelayan Publik. Sebagai pelayanan publik, ASN dituntut
memberikan pelayanan publik mencakup semua barang atau jasa
yang dibutuhkan masyarakat dan diselenggarakan negara. Salah
satu bentuk pelayanan publik tersebut berupa pelayanan farmasi
yang dilakukan oleh tenaga asisten apoteker. Asisten apoteker
membutuhkan berbagai proses pengelolahan obat agar dapat
menciptakan dan memberikan layanan prima pada masyarakat.
Asisten apoteker terampil selaku salah satu petugas kefarmasian di unit
Instalasi Farmasi perlu melakukan inovasi guna mengendalikan mutu
penyimpanan obat sehingga jumlah obat kadaluarsa dapat ditekan.
Diharapkan pengembangan inovasi ini dapat mempermudah pengendalian
jumlah kadaluarsa obat.
Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 disebutkan
bahwa Aparatur Sipil Negara sebagai profesi memiliki kewajiban
untuk mengelola dan menerapkan dirinya dan
mempertanggungjawabkan kinerjanya dalam pelaksanaan
manajemen Aparatur Sipil Negara. Dalam pendidikan dan pelatihan
dasar seorang Aparatur Sipil Negara dituntut untuk menerapkan
nilai-nilai dasar profesi Aparatur Sipil Negara kedalam aktifitas
pekerjaan sehari-harinya. Dalam peraturan pemerintahan tersebut
juga disebutkan bahwa pendidikan dan pelatihan dasar
dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan dalam rangka
pembentukan jiwa bela negara, wawasan kebangsaan, kepribadian
dan etika ASN, disamping pengetahuan dasar tentang sistem
penyelenggaraan pemerintah negara, bidang tugas, dan budaya
organisasinya agar mampu melaksanakan tugas dan perannya
sebagai pelayanan masyarakat. Salah satu contohnya adalah
berkomitmen dan berintegritas dalam menjalankan tugas profesi

3
sehingga pelayanan publik yang optimal dapat tercapai. Oleh
karena itu selain menjadi syarat wajib pengangkatan Calon
Aparatur Sipil Negara, Pendidikan dan Pelatihan dasar juga dapat
diartikan sebagai tonggak dibentuknya seorang Aparatur yang jujur,
bersih, berintegrasi dan kompetensi sesuai dengan tujuan dan
amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014.
Sehubungan dengan hal tersebut maka dibuatlah program
aktualisasi yang berjudul ” Smart Label Sebagai Pengendali
Kadaluarsa Obat di Depo VIP RSUD dr Haryoto Kabupaten
Lumajang”. Program aktualisasi ini dimaksudkan sebagai ujian
praktek bagi seorang siswa pendidikan dan pelatihan dasar dengan
menerapkan nilai-nilai dasar ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme,
Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi) yang dipadukan
dalam aktivitas kinerja seorang Aparatur dalam menjalankan
aktivitas kinerjanya dengan berpedoman pada nilai-nilai tersebut.
Smart label merupakan inovasi berupa pemberian label pada obat
tablet. Label tersebut memiliki warna yang berbeda sesuai
penggolongan waktu kadaluarsa obat. Smart label nantinya akan
berisi nama sediaan obat, kekuatan obat, jumlah obat yang akan
kadaluarsa, dan bulan/waktu kadaluarsa obat.

1.2 Tujuan dan Manfaat

1.1.1. Tujuan
1. Terciptanya pengendalian kadaluarsa (expired date) obat tablet di
depo VIP RSUD dr. Haryoto Kabuaten Lumajang yang efekif.
2. Terwujudnya penerapan nilai-nilai dasar ANEKA dalam aktualisasi
kegiatan sesuai TUPOKSI profesi di Instansi kerja.

4
1.1.2. Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari kegiatan aktualisasi ini adalah
a. Internal
1. Menciptakan pengendalian kadaluarsa (expired date) obat di
depo VIP lebih efisien dan lebih mudah.
2. Membantu ASN profesi Asisten Apoteker Terampil dalam
menerapkan nilai ANEKA di lingkungan kerja
3. Mendukung tercapainya misi Rumah Sakit
b. Eksternal
Meningkatkan kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap
Rumah Sakit.

1.3 Ruang Lingkup


Ruang lingkup dalam kegiatan aktualisasi ini meliputi
kegiatan pengelolahan penyimpanan obat tablet di depo VIP
Farmasi RSUD dr. Haryoto. Kegiatan tersebut berupa implementasi
dari nilai dasar ASN yaitu akuntabilitas, nasionalisme, etika public,
komitmen mutu, dan anti korupsi (ANEKA), Manajemen ASN,serta
Whole Of Government dan pelayanan public. Rangkaian kegiatan
aktualisasi yang dijalani, antara lain :
1. Melakukan konsultasi dengan kepala Instansi Farmasi.
2. Melakukan konsultasi dengan mentor.
3. Melakukan konsultasi dengan couch.
4. Membuat konsep mengenai smart label kadaluarsa obat.
5. Melakukan koordinasi dengan rekan kerja di unit kerja terkait
konsep smart label.
6. Melakukan konsultasi dengan mentor terkait konsep & rencana
pelaksanaan kegiatan.
7. Melakukan / mengimplementasikan kegiatan aktualisasi.
8. Melakukan evaluasi pengendalian obat dengan smart label.
9. Menyusun laporan kegiatan aktualisasi

5
BAB II
GAMBARAN LEMBAGA / INSTANSI

2.1 Diskripsi Instansi

Gambar 2.1 RSUD dr. Haryoto Lumajang

Sumber : dokumentasi pribadi

Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan Nomor


1391/Menkes/SK/IX/2015 tanggal 30 September 2015, Rumah
Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Haryoto Kabupaten Lumajang
merupakan rumah sakit kelas B non pendidikan. Menurut Peraturan
Daerah Lumajang Nomor 13 tahun 2013, RSUD dr. Haryoto juga
merupakan unsur pendukung PemDa yang menyelenggarakn
urusan pemerintah daerah dalam bidang pelayanan kesehatan.
RSUD dipimpin oleh seorangDirektur yang berada dibawah dan
bertanggung jawab pad Bupati melalui Sekretaris Daerah.

Status kepemilikan RSUD dr. Haryoto adalah Pemerintah


Kabupaten Lumajang dan telah memiliki status Badan Layanan
Umum Daerah (BLUD). Hal ini berkaitan dengan kredibilitas
pengelolaan pendapatan rumah sakit.Sebelum berstatus BLUD
pengelolaan pendapatan RSUD dr. Haryoto Lumajang dipegang

6
oleh Pemerintah Daerah (PemDa). Lokasi RSUD dr. Haryoto
Lumajang :

Alamat : Jl. Basuki Rahmat No. 5 Lumajang

Telepon : (0334)881666

Fax : (0334)887383

Email : rsdharyoto@yahoo.co.id

2.2 Sejarah Singkat Instansi


1. Rumah sakit umum daerah kabupaten Lumajang didirikan pada
tahun 1948, menjadi satu dengan kantor Dinas Kesehatan di Jl.
S.Parman No. 13 Lumajang.
2. Padatahun 1954, rumah sakit dipindahkan ke Jl. Basuki Rahmat
No. 5 Lumajang yang dulu bernama Jl. A. Yani No. 281, dan
mulai operasional pada 10 November 1955.
3. Padatahun 1991, rumah sakit diberi nama Rumah Sakit
Nararyya Kirana
4. 15 September 1997, rumah sakit Nararyya Kirana dikukuhkan
menjadi rumah sakit swadana oleh Bupati Lumajang atas dasar
SKB Tiga Menteri.
5. Pada bulan April 2001, nama rumah sakit Nararyya Kirana
berubah menjadi Rumah Sakit Daerah dr. Haryoto Lumajang
(Peraturan Daerah No. 02 tahun 2001).
6. Pada tanggal 30 September 2005, Rumah Sakit Umum Daerah
dr. Haryoto Lumajang mengalami peningkatan dari kelas C
menjadi Kelas B Non Pendidikan.
7. Pada tahun 2009 RSUD dr. Haryoto ditetapkan sebagai Badan
Layanan Umum Daerah (BLUD) dengan keputusan Bupati
Lumajang Nomor : 188.45/308/427.12/2009 tentang penetapan
status Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum
Daerah (PPK-BLUD).

7
2.3 Kedudukan
Dalam rangka meningkatkan kinerja dan mutu pelayanan
kepada masyarakat, maka di tahun 2009 RSUD dr. Haryoto
Lumajang mulai menerapkan pengelolaan yang lebih professional
dan bisnis (business like) sebagai suatu badan layanan umum yang
diharapkan dapat menjadi lebih responsive dan agresif dalam
menghadapi tuntutan masyarakat dengan memberikan pelayanan
prima yang efektif dan efisien namun tidak meningggalkan
fungsisosialnya. Penetapan RSUD dr. Haryoto sebagai badan
layanan umum daerah ditetapkan dengan keputusan Bupati
Lumajang Nomor : 188.45/308/427.12/2009 tentang penetapan
status Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah
(PPK-BLUD).

RSUD dr. Haryoto Lumajang adalah rumah sakit yang


terletak di Wilayah selatan propinsi Jawa Timur, memiliki luas lahan
± 29.234,25 m2, area lantai dasar bangunan seluas 20.772 m2.
RSUD dr. Haryoto Kabupaten Lumajang memiliki batas – batas
wilayah sebagai berikut :

 Utara : Kantor Dispendukcapil


 Selatan : Sawah
 Barat : Kampus Akademi Keperawatan Lumajang
 Timur : Jl. Raya BasukiRahmat

2.4 Visi
Menjadi rumah sakit pilihan utama masyarakat Lumajang dan
sekitarnya.

2.5 Misi
Meningkatkan pelayanan kesehatan dengan dukungan SDM,
sarana dan prasarana, pengelolaan manajemen sesuai
standart yang berorientasi pada kepuasan pelanggan.

8
2.7 Tugas
Melaksanakan upaya pelayanan kesehatan secara berdaya
guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya
penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan
terpadu dengan upaya peningkatan serta pencegahan dan
melaksankan upaya rujukan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang -undangan yang berlaku

2.8 Nilai Dasar


1. Kepedulian yaitu nilai kemanusian,sikap saling membantu dan
tulus tanpa pamrih dan penuh rasa tanggung jawab.
2. Disiplin yaitu disiplin dalam pelayanan, administrasi,dan
anggaran.
3. Kerja sama, yaitu sebuah usaha yang dilakukan oleh beberapa
orang atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
4. Etika yaitu berkaitan dengan pelayanan ramah, cepat, mudah,
penuh perhatian serta ketepatan pengobatan dan penyembuhan
penyakit.

2.9 Fungsi
1. Pelayanan medis
2. Pelayanan penunjang medis dan non medis
3. Pelayanan asuhan keperawatan
4. Pelayanan rujukan
5. Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan
6. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan
7. Pengelolaan administrasi dan keuangan

9
2.10 Struktur / Susunan Organisasi
DIREKTUR
Dr. Halimimaksum, MMRS DEWAN PENGAWAS

KOMITE- WADIR MEDIS & KEPERAWATAN WADIR UMUM & KEUANGAN SPI
KOMITE Dr. Djoni Subagio, M.Kes Drg. Saptadewi Erfi Herawati

BIDANG MEDIS BIDANG KEPERAWATAN BAGIAN UMUM BAGIAN KEUANGAN BAGIAN RENBANG
Dr. Rosalia Retno Ns.Umi Sukowati, M.Kep., Agus Wahyudi, Dra. Febi Udiana Abdul Munir, AMK., SPd.
Sp.Mat SKM.

SUB BAGIAN PENGELOLAAN


SUB BIDANG SUB BAGIAN TATA
PELAYANAN MEDIS SUB BIDANG PELAYANAN USAHA PENDAPATAN SUB BAGIAN PERENCANAAN
Drg. R. Nawang Yessi KEPERAWATAN Vitarini Kartika Dewi, M. Sholeh, SE &EVALUASI
Oktiviyanti Ns. Bambang Heri Kartono SKM Rahma Yulianti, SKM.

SUB BIDANG PELAYANAN SUB BAGIAN SUB BAGIAN AKUNTANSI


PENUNJANG RUMAH TANGGA SUB BAGIAN PENGOLAH
& VERIFIKASI
Silvia Laurasati Nailufar, SUB BIDANG MUTU Wiwin Winarsih, Indah Srie Winarni Arpani, DATA ELEKTRONIK
SKM
YANKEP AMKL SE Awan Sudibyo, AMK.
Sutikno, SH.
SUB BAGIAN
SUB BIDANG REKAM SUB BAGIAN
KEPEGAWAIAN SUB BAGIAN DIKLAT
MEDIS ANGGARAN &
Ahmad Kamidun, PERBENDAHARAAN &PENGEMBANGAN SDM
Nora Indrawati, S.Kep., Ns. Tri Yulianti, SKM. Ns. Rudiah Anggraeni
S.Kep., Ns.

INSTALASI KJF INSTALASI KJF

Gambar 2.2 Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum dr.Haryoto Lumajang


(sumber : Tata Usaha RSUD dr. Haryoto)

10
2.11 Uraian Tugas Asisten Apoteker

Tugas jabatan asisten apoteker dalam pengelolahan


perbekalan farmasi berdasarkan Peraturan Pemerintah RI nomor
51 tahun 2009 meliputi : perencanaan dan pengadaan,
penerimaan, penyimpanan, dan pendistribusian.
1. Perencanaan dan pengadaan sediaan farmasi
Tujuan perencanaan dalam farmasi adalah untuk menyusun
kebutuhan obat yang tepat dan sesuai kebutuhan untuk
mencegah terjadinya kekurangan atau kelebihan persediaan
farmasi serta meningkatkan penggunaan persediaan farmasi
secara efektif dan efisien. Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan untuk mencapai tujuan perencanaan obat, yaitu:
a) Mengenal dengan jelas rencana jangka panjang apakah
program dapat mencapai tujuan dan sasaran.
b) Persyaratan barang meliputi : kualitas barang, fungsi barang,
pemakaian satu merk, dan jenis obat narkotika harus
mengikuti peraturan yang berlaku.
c) Kecepatan dan jumlah peredaran barang.
d) Pertimbangan anggaran dan prioritas.
Tahap perencanaan kebutuhan obat meliputi :
a. Tahap Persiapan
Perencanaan dan pengadaan obat merupakan suatu kegiatan
dalam rangka menetapkan jenis dan jumlah obat sesuai dengan
pola penyakit serta kebutuhan pelayanan kesehatan, hal ini
dapat dilakukan dengan membentuk tim perencanaan
pengadaan obat yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan
efektifitas penggunaan dana obat melalui kerjasama antar
instansi yang terkait dengan masalah obat.

11
b. Tahap Perencanaan
Kegiatannya meliputi : pemilihan obat dan perhitungan
kebutuhan obat

Pengadaan obat merupakan proses penyediaan obat yang


dibutuhkan di Rumah Sakit dan untuk unit pelayanan kesehatan
lainnya yang diperoleh dari pemasok eksternal melalui pembelian
dari manufaktur, distributor, atau pedagang besar farmasi. Sistem
pengadaan perbekalan farmasi adalah penentu utama ketersediaan
obat dan biaya total kesehatan.

2. Penerimaan
Penerimaan bertujuan untuk mendapatkan perbekalan farmasi
yang berkualitas sesuai kebutuhan. Penerimaan harus disertai
dokumentasi penerimaan barang yang bisa berupa faktur.
3. Penyimpanan
Penyimpanan perbekalan farmasi bertujuan agar mutu obat
tetap terjamin, menjamn kemudahan perbekalan farmasi dan
mencegah kehilangan perbekalan. Penyimpanan dan
penyusunan obat yang sesuai dan tertata rapi akan
mempermudah farmasis dalam proses dispensing obat. Ada
berbagai metode yang bisa digunakan untuk penyimpanan obat
diantaranya adalah FIFO, FEFO dan LIFO.
a) First In First Out (FIFO) adalah penyimpanan obat
berdasarkan obat yang datang lebih dulu dan dikeluarkan
lebih dulu. Penyimpanan dengan cara FIFO dilakukan
dengan menempatkan obat pada rak paling depan, artinya
jika dalam 1 rak tersebut terdapat 5 obat dengan nama dan
sediaan yang sama maka obat yang datang lebih dahuu
ditempatkan paling terluar dari susunan dan obat yang baru

12
datang dari pembelian (distributor/pbf) ditempatkan pada
bagian terdalam susunan tersebut atau dengan kata lain
obat yang lebih dahulu datang dikeluarkan duluan. Namun
sistem FIFO saja tidak cukup mengingat kita ketahui obat
memiliki tanggal kadaluarsa / expired date (ED) yang mana
tanggal ED ini berbeda-beda setiap kemasan obat
tergantung tanggal manufacturing (MD) atau tanggal
produksi.
b) First Expired First Out (FEFO) adalah penyimpanan obat
berdasarkan obat yang memiliki tanggal kadaluarsa lebih
cepat maka dikeluarkan lebih dulu. Sistem FEFO memiliki
peran vital dimana obat yang memiliki tanggal ED lebih cepat
harus kita tempatkan disusunan paling depan supaya paling
cepat bisa dikeluarkan dan dapat mengantisipasi adanya
stok rusak akibat ED.
c) Last In First Out (LIFO) adalah penyimpanan obat
berdasarkan obat yang terakhir masuk dikeluarkan terlebih
dahulu.
4. Pendistribusian
Pendistribusian bertujuan untuk memberikan perbekalan
farmasi yang tepat dan aman pada waktu dibutuhkan oleh
pasien. Sistem distribusi obat di rumah sakit digolongkan
berdasarkan ada tidaknya satelit/depo farmasi dan pemberian
obat ke pasien rawat inap. Berdasarkan ada atau tidaknya
satelit farmasi, sistem distribusi obat dibagi menjadi dua
sistem, yaitu:
a) Sistem pelayanan terpusat (sentralisasi) merupakan sistem
pendistribusian perbekalan farmasi yang dipusatkan pada satu
tempat yaitu instalasi farmasi. Kebutuhan seluruh perbekalan
farmasi setiap unit baik untuk kebutuhan individu maupun
kebutuhan barang dasar ruangan disuplai langsung dari pusat

13
pelayanan farmasi tersebut. Resep orisinil dikirim ke IFRS oleh
perawat, kemudian resep itu diproses sesuai dengan kaidah
”cara dispensing yang baik”, lalu obat disiapkan untuk
didistribusikan kepada penderita tertentu.
b) Sistem pelayanan terbagi (desentralisasi), adalah sistem
pendistribusian perbekalan farmasi yang mempunyai cabang
di dekat unit perawatan/pelayanan. Cabang ini dikenal dengan
istilah depo farmasi/satelit farmasi. Pada desentralisasi,
penyimpanan dan pendistribusian perbekalan farmasi ruangan
tidak lagi dilayani oleh pusat pelayanan farmasi. Instalasi
farmasi dalam hal ini bertanggung jawab terhadap efektivitas
dan keamanan perbekalan farmasi yang ada di depo farmasi.

14
BAB III
RANCANGAN AKTUALISASI

3.1 Identifikasi Isu, Gagasan Pemecahan Isu


1. Unit Kerja
UPTD RSUD dr. Haryoto
2. Jabatan
Asisten Apoteker Terampil
3. Identifikasi Isu
Berdasarkan pengalaman penulis bekerja selama 4 bulan, ada
beberapa isu yang bisa diperbaiki / ditingkatkan, di unit pelayanan
farmasi dalam pelaksanaan tugas jabatan. Diantaranya :
a. Kurangnya kepatuhan pasien rawat inap ruang aster untuk
meminum obat oral.
b. Kurang optimalnya pelayanan farmasi ranap yang
menyebabkan terhambatnya penyiapan obat yang prima
kepada pasien.
c. Kurangnya pengendalian kadaluarsa (expired date) obat tablet
pada depo farmasi VIP.
d. Kurang optimalnya pengolahan dan penanganan limbah sisa
obat racikan di depo farmasi VIP.
e. Kurang optimalnya pelabelan LASA dan High Alert pada obat-
obatan di gudang IFRS dr Haryoto.

Isu-isu tersebut dianalisis menggunakan model AKPL untuk


mengetahui isu yang paling dominan. Berikut adalah tabel penilaian
kualitas identifikasi isu:

15
Tabel 3.1 Seleksi su Menggunakan Metode AKPL
No ISU A K P L Total

Kurangnya kepatuhan pasien rawat inap ruang


1 2 5 1 3 11
aster RSUD dr Haryoto untuk meminum obat oral.
Kurang optimalnya pelayanan farmasi ranap
RSUD dr Haryoto yang menyebabkan
2 3 1 5 4 13
terhambatnya penyiapan obat yang prima kepada
pasien.
Kurangnya pengendalian kadaluarsa (expired
3 date) obat tablet pada depo farmasi VIP RSUD dr 5 4 3 2 14
Haryoto.
Kurang optimalnya pengolahan dan penanganan
4 limbah sisa obat racikan di depo farmasi VIP 1 2 4 5 12
RSUD dr Haryoto.
Kurang optimalnya pelabelan LASA dan High
5 Alert pada obat-obatan di gudang IFRS dr 4 3 2 1 10
Haryoto.

(Sumber : data diolah oleh penulis)


Kriteria penetapan:
Aktual
1: Pernah benar-benar terjadi
2: Benar-benar sering terjadi
3: Benar-benar terjadi dan bukan menjadi pembicaraan
4: Benar-benar terjadi terkadang menjadi bahan pembicaran
5: Benar-benar terjadi dan sedang hangat dibicarakan
Khalaya
1: Tidak menyangkut hajat hidup orang banyak
2: Sedikit menyangkut hajat hidup orang banyak
3: Cukup menyangkut hajat hidup orang banyak
4: Menyangkut hajat hidup orang banyak

16
5: Sangat menyangkut hajat hidup orang banyak
Problematik
1: Masalah sederhana
2: Masalah kurang kompleks
3: Masalah cukup kompleks namun tidak perlu segera dicarikan
solusi
4: Masalah kompleks
5: Masalah sangat kompleks sehingga perlu dicarikan segera
solusinya
Kelayakan
1: Masuk akal.
2: Realistis.
3: Cukup masuk akal dan realistis.
4: Masuk akal dan realistis.
5: Masuk akal, realistis, dan relevan untuk dimunculkan inisiatif
pemecahan masalahnya.

Dari lima isu di atas, dikerucutkan menjadi tiga isu dengan


menggunakan metode Urgency (U), Seriousness (S) dan Growth (G).

Tabel 3.2 Seleksi Isu Menggunakan Metode USG

No ISU U S G Total

Kurang optimalnya pelayanan farmasi ranap


1. yang menyebabkan terhambatnya penyiapan 5 3 2 9
obat yang prima kepada pasien.

Kurangnya pengendalian expired date obat


2. 4 5 3 12
tablet pada depo farmasi VIP.

Kurang optimalnya pengolahan dan


3. penanganan limbah sisa obat racikan di depo 3 4 4 11
farmasi VIP.

(Sumber : data diolah oleh penulis)

17
Keterangan :
a. ‘’USG’’ yaitu : Tingkat Urgency (kegawatan), Seriousness
(mendesak), Growth (perkembangan).
b. Perhitungan menggunakan skala likert : 1 =sangat kecil/rendah
pengaruhnya, 2= kecil pengaruhnya, 3= sedang/cukup pengaruhnya,
4= besar/tinggi pengaruhnya, 5= sangat besar/tinggi pengaruhnya.

Berdasarkan isu yang di uji dengan menggunakan metode AKPL


dan USG, maka dapat diperoleh isu prioritas yang harus ditangani terlebih
dahulu, yaitu Kurangnya pengendalian kadaluarsa obat tablet pada depo
farmasi VIP. Pemilihan isu tersebut dilakukan dengan analisis dampak.
jika hal tersebut tidak ditangani maka akan berdampak pada hal-hal
berikut :
a. Kemungkinan terdistribusinya obat kadaluarsa yang tidak
terkendali ke pasien sehingga menghambat terlaksananya misi RS
untuk meningkatkan komitmen dan profesionalisme staf medis dan
non medis guna mewujudkan pelayanan yang berorientasi pada
patient safety
b. Bertambahnya jumlah obat expired date / kadaluarsa yang
merugikan RS.

3.2 Gagasan Pemecahan Isu


Merujuk pada permasalahan di atas, maka penulis mengusulkan
sebuah gagasan untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan
menggunakan media: “label” berwarna tertentu sebagai penanda
kadaluarsa obat tablet. Untuk mewujudkan gagasan di atas, maka
dibutuhkan beberapa rangkaian kegiatan dalam pelaksanaan
aktualisasi nilai-nilai dasar di tempat kerja. Rangkaian kegiatan
aktualisasi adalah sebagai berikut :
1. Melakukan konsultasi dengan kepala Instansi Farmasi.
2. Melakukan konsultasi dengan mentor.

18
3. Melakukan konsultasi dengan couch.
4. Membuat konsep mengenai smart label kadaluarsa obat.
5. Melakukan koordinasi dengan rekan kerja di unit kerja terkait
konsep smart label.
6. Melakukan konsultasi dengan mentor terkait konsep & rencana
pelaksanaan kegiatan.
7. Melakukan / mengimplementasikan kegiatan aktualisasi.
8. Melakukan evaluasi pengendalian obat dengan smart label.
9. Menyusun laporan kegiatan aktualisasi

19
3.3 Diagram Alur Pemecahan Isu

Melakukan konsultasi dengan kepala


Instalasi Farmasi.

Melakukan konsultasi dengan mentor.

Melakukan konsultasi dengan couch.

Membuat konsep mengenai smart label kadaluarsa obat.

Melakukan koordinasi dengan rekan kerja Menerima dan mengecek


di unit kerja terkait konsep smart label. perbekalan farmasi dari
Gudang Farmasi

Melakukan konsultasi dengan mentor terkait


konsep & rencana pelaksanaan kegiatan. Menyimpan perbekalan
farmasi sesuai sistem FEFO

Melakukan / Menarik dan menyusun data


mengimplementasikan kadaluarsa obat melalui
kegiatan aktualisasi. stok opname bulanan atau
three semester.

Melakukan evaluasi pengendalian Mencetak dan


obat dengan smart label. menempel smart label

dari Gudangpelabelan
Sosialisasi Farmasi

Menyusun laporan pada rekan kerja

kegiatan aktualisasi

20
3.4 Matriks Rencana Kegiatan Aktualisasi
Nama : Winggar Palupi, A.Md.Farm
Unit Kerja : RSUD dr. Haryoto Lumajang
Identifikasi isu :
1. Kurangnya kepatuhan pasien rawat inap ruang aster
untuk meminum obat oral
2. Kurang optimalnya pelayanan farmasi ranap yang
menyebabkan terhambatnya penyiapan obat yang
prima kepada pasien.
3. Kurangnya pengendalian kadaluarsa (expired date)
obat tablet pada depo farmasi VIP
4. Kurang optimalnya pengolahan dan penanganan
limbah sisa obat racikan di depo farmasi VIP.
5. Kurang optimalnya pelabelan LASA dan High Alert
pada obat-obatan di gudang IFRS dr Kurangnya
kepatuhan pasien rawat inap ruang aster untuk
meminum obat oral Haryoto.
Isu yang diangkat :Kurangnya pengendalian kadaluarsa obat
tablet pada depo farmasi VIP RSUD
dr.Haryoto
Gagasan pemecahan isu : Smart Label sebagai pengendali
kadaluarsa obat tablet di depo VIP RSUD Dr.
Haryoto

21
Tabel 3.3 Matriks Rencana Kegiatan Aktualisasi

Kontribusi
Output/ Hasil Penguatan nilai-
No Kegiatan Tahapan kegiatan Nilai-Nilai dasar terhadap visi
kegiatan nilai Organisasi
misi organisasi
1 2 3 4 5 6 7
Melakukan 1. Menghubungi atasan Tersusunnya Etika Publik Membantu Kerja sama,
konsultasi 2. Membuat jadwal temu Draft (Hormat, mengimplement mampu
dengan Ka. 3. Menyampaikan isu Rancangan komunikatif, jelas, asikan misi berdiskusi
Instansi Farmasi yang diangkat dan Aktualisasi & sopan santun ); organisasi : bersama atasan
terkait rancangn gagasan persetujuan Akuntabilitas “Meningkatkan untuk mencapai
kegitan pemecahannya. atas judul dan (tanggung jawab) pelayanan kata mufakat
aktualisasi. 4. Memaparkan rancangan Komitmen mutu kesehatan Etika,
1
rancangan kegiatan aktualisasi (professional) dengan menggunakan

aktualisasi yang sudah yang dibuat Whole of dukungan bahasa dan

dibuat Government SDM, sarana gesture yang

5. Meminta saran dan (Koordinasi) dan prasarana,” sopan kepada

masukan serta atasan dalam

persetujuan dari ka. menyampaikan

Instansi Farmasi pendapat

22
Kontribusi
Output/ Hasil Penguatan nilai-
No Kegiatan Tahapan kegiatan Nilai-Nilai dasar terhadap visi
kegiatan nilai Organisasi
misi organisasi
1 2 3 4 5 6 7
Melakukan 1. Menghubungi mentor Persetujuan Etika Publik Membantu Kerja saama ,
konsultasi 2. Membuat jadwal temu atas judul dan (Hormat, mengimplement bertujuan
dengan mentor 3. Menyampaikan isu rancangan komunikatif, jelas, asikan Misi mencapai kata
yang diangkat dan aktualisasi sopan santun ); organisasi : mufakat
gagasan yang dibuat Akuntabilitas “Meningkatkan Etika
pemecahannya. (tanggung jawab) pelayanan menggunakan
2
4. Memaparkan Komitmen mutu kesehatan bahasa dan

rancangan kegiatan (professional) dengan gesture yang

aktualisasi yang sudah Whole of dukungan sopan kepada

dibuat Government SDM, sarana mentor dalam

5. Meminta saran dan (Koordinasi) dan prasarana,” menyampaikan

masukan dari mentor pendapat

23
Melakukan 1) Memaparkan isu Persetujuan atas Etika Publik Membantu Kerja saama ,
konsultasi dan yang sudah disetujui judul dan (Hormat, mengimplementasi bertujuan
diskusi dengan oleh mentor rancangan komunikatif, kan Misi mencapai kata
Coach terkait sebelumnya aktualisasi yang jelas, sopan organisasi: mufakat
rancangan 2) Memaparkan judul dibuat santun ); “Meningkatkan Etika
aktualisasi dan rancangan Akuntabilitas pelayanan menggunakan
3 yang dibuat aktualisasi yang (tanggung jawab) kesehatan dengan bahasa dan
sudah direncanakan Komitmen mutu dukungan SDM, gestur yang
3) Meminta saran, (kompeten) sarana dan sopan kepada
masukan dai coach Whole of prasarana,” couch dalam
atau pembimbing Government menyampaikan
(Koordinasi) pendapat

Membuat 1) Mencari referensi Tersusunnya Akuntabilitas Mengimplementasi Kreatif dan


konsep design pelabelan Draft design (tanggung jawab) kan misi Inovatif
mengenai 2) Membuat design smart label Komitmen mutu organisasi, yaitu Dapat
4. smart label smart label (professional) Meningkatkan menciptakan
kadaluarsa pelayanan solusi
obat. kesehatan dengan pengendalian
dukungan SDM, kadaluarsa obat

24
sarana, yang belum ada
prasarana,” di unit kerja

Melakukan 1) Membuat jadwal design smart Akuntabilitas Mengimplementasi Kerja saama ,


koordinasi pertemuan dengan label (Tanggung kan misi bertujuan
dengan rekan rekan kerja jawab) organisasi, yaitu mencapai kata
kerja di unit 2) Memaparkan hasil Etika Publik Meningkatkan mufakat
kerja terkait konsep smart label (komunikatif, pelayanan Etika
5. konsep smart 3) Meminta saran dan sopan santun) kesehatan dengan menggunakan
label. masukan terkait Komitmen mutu dukungan SDM, bahasa yang
konsep smart label (professional) sarana, sopan kepada
yang telah dibuat Nasionalisme prasarana,”,” rekan erja dalam
(musyawarah) menyampaikan
pendapat
Melakukan 1) Membuat jadwal Persetujuan Etika Publik Mengimplementasi Disiplin,menjala
konsultasi pertemuan dengan design smart (Hormat, kan misi nkan seluruh
dengan mentor rekan kerja label dan komunikatif, organisasi, yaitu kegiatan sesuai
6.
terkait konsep 2) Memaparkan hasil persetujuan jelas, sopan Meningkatkan rencana kegiatan
& rencana konsep design label pelaksanaan santun ); pelayanan
pelaksanaan dan rencana kegiatan kesehatan dengan

25
kegiatan. pelaksanaan aktualisasi. Akuntabilitas dukungan SDM, Kerja sama
kegiatan. (tanggung jawab) sarana, bertujuan
3) Meminta saran dan Komitmen mutu prasarana,” mencapai kata
persetujuan terkait (professional) mufakat
konsep smart label Whole of Etika
dan rencana Government menggunakan
pelaksanaan (Koordinasi) bahasa yang
kegiatan yang telah sopan kepada
dibuat mentor dalam
menyampaikan
pendapat
Melakukan / 1.Menerima dan 1.Tersusunnya Akuntabilitas Misi organisasi : Disiplin,
mengimpleme mengecek standar (bertanggung “Meningkatkan menjalankan
ntasikan perbekalan farmasi penyimpanan jawab, pelayanan seluruh kegiatan
kegiatan dari Gudang obat sesuai konsisten); kesehatan dengan sesuai rencana
7. aktualisasi. Farmasi ketentuan dukungan SDM, kegiatan
2.Menyimpan obat 2.Tersusunya Etika Publik ( sarana dan
sesuai dengan Draft data sopan santun, prasarana,”
ketentuan secara waktu jujur, luwes);
alfabetis dan kadaluarsa

26
FEFO obat di depo Komitmen mutu Kerja sama
3.Menarik data VIP ( professional, Berkoordinasi
kadaluarsa obat 3. Terwujudnya komunikatif, bersama rekan
melalui stok Pengendalian efektif ) kerja untuk
opname bulanan waktu Whole of mencapai target
atau three kadaluarsa Government kinerja
semester. obat (Koordinasi/kerja Profesional
4.Mencetak dan sama) berkompeten
menempel smart menjalankan tiap
label pada kotak kegiatan
obat yang tersedia
ataupun pada dus Etika
karton obat tablet menggunakan
5.Sosialisasi bahasa yang
pelabelan obat sopan kepada
pada rekan kerja rekan kerja
dalam
menyampaikan
sosialisasi

27
Melakukan 1. Membuat video 1. Terciptanya Akuntabilitas Misi organisasi : Inovatif
evaluasi wawancara pengendalian (Tanggung “Meningkatkan (Melaksanakan
pengendalian testimoni dari kadaluarsa jawab) pelayanan ide baru)
obat dengan petugas farmasi di obat yang Etika Publik kesehatan dengan Akuntabel
smart label depo VIP efektif di depo (integritas tinggi) dukungan SDM, (Bertanggung
8.
VIP Komitmen Mutu sarana dan jawab, kinerja
(Efektivitas) prasarana,” tinggi)
Whole of Transparan
Government (terbuka, adil
(Koordinasi) dan jujur)
Menyusun 1. Mengumpulkan Tersusunnya Akuntabilitas Meningkatkan Displin
laporan hasil semua hasil laporan hasil (Tanggung kualitas (Bertanggung
kegiatan dokumentasi kegiatan jawab) manajemen secara jawab, kinerja
aktualisasi 2. Konsultasi dan aktualisasi Etika Publik berkesinambungan tinggi)
9.
melkukan revisi (Cepat, tanggap) Profesional
3. Mencetak laporan Komitmen mutu (kompeten)
rancangan Profesionalisme
aktualisasi

(Sumber : data pribadi)

28
3.5 Jadwal Rencana Kegiatan Aktualisasi

Tabel 3.4 Jadwal Rencana Kegiatan Aktualisasi

MINGGU HABITUASI KE
No Kegiatan Oktober November
3 4 1 2 3 4
1. Melakukan konsultasi dengan kepala Instansi Farmasi.

2. Melakukan konsultasi dengan mentor.

3. Melakukan konsultasi dengan couch.

4. Membuat konsep mengenai smart label kadaluarsa obat.

5. Melakukan koordinasi dengan rekan kerja di unit kerja terkait konsep smart label.

6. Melakukan konsultasi dengan mentor terkait rencana pelaksanaan kegiatan.

7. Melakukan / mengiplementasikan kegiatan aktualisasi.

8. Melakukan evaluasi pengendalian obat dengan smart label.

9. Menyusun laporan kegiatan aktualisasi


(Sumber: data pribadi)

29
DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim, Astuti, dkk. 2016. Evaluasi Penyimpanan dan


Pendistribusian Obat di Gudang Farmasi PSUP PROF.
DR. R.D. Kandao, Manado. Sulawesi Utara : Jurnal Ilmiah
Farmasi Pharmacon Vol. 5 No. 2 Mei 2016 ISSN 2302 -
2493

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1391 Tahun 2015


Tentang Tipe Rumah Sakit

Peraturan Daerah Pemerintah Kabupaten Lumajang Nomor 13


tahun 2013 Tentang Kedudukan RSUD dr. haryoto

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 tahun


2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian

Priyambodo, Bambang 2016. Lama Obat Yang Bisa Digunakan


Setelah Segel Dibuka. Yogyakarta : Koran Trbun Jogja

Purwanto, Erwan Agus, dkk. 2017. Modul Pelatihan Dasar


Calon PNS Pelayan Publik. Jakarta : Lembaga
Administrasi Negara Republik Indonesia

Siregar, C.J.P, 2003. Farmasi Rumah Sakit Teori & Penerapan.


Jakarta : EGC. Djaja I.M.,

Undang – Undang Dasar Tahun1945 pasal 28 (H) Tentang Hak


Warga Negara

Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014


Tentang Aparatur Sipil Negara

30