Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Permasalahan lingkungan hidup telah menjadi bagian dalam kehidupan manusia,

bahkan saat ini masalah lingkungan telah menjadi isu global dan pennting untuk

dibicarakan karena menyangkut kepentingan manusia. Di tahun Sembilan puluhan

munculah kesadaran masyarakat akan perlunya suatu alat analisis yang obyektif

untuk menilai kinerja operasional perusahaan terhadap lingkungan.

Audit lingkungan merupakan upaya proaktif perusahaan untuk perlindungan

lingkungan yang akan membantu meningkatkan kinerja operasional perusahaan

terhadap lingkungan, dan pada akhirnya dapat meningkatkan citra positif perusahaan.

Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan yang melatar belakangi audit

lingkungan sebagai dasar evaluasi. Yaitu evaluasi kinerja perusahaan terhadap

lingkungan disekitarnya, dengan demikian perusahaan akan dinilai positif dari

lembaga yang bersangkutan.

Latar belakang audit lingkungan menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup

No. 42/ MENLH/11/1994 :

1. Setiap bidang usaha wajib memelihara kelestarian lingkungan.


2. Audit lingkungan suatu perangkat pengelolaan lingkungan.
3. Audit lingkungan dapat membantu menemukan penyelesaian masalah

lingkungan hidup.

1.2 Rumusan Masalah Audit Lingkungan


Audit lingkungan hidup mempunyai cakupan yang luas dalam

pembahasannya. Oleh karena itu kelompok kami sudah membatasi masalah yang

akan dibahas dengan rumusan masalah yaitu, “Apa pengertian, manfaat, cara kerja

dalam manajemen serta pengaplikasian dari audit lingkungan?”

1.2. Tujuan Audit Lingkungan

Dalam buku “The Environmental Audit and Bussiness Strategy, a Total Quality

Approach” (1992, hal 72 & 73), Grand Ledgerwood mengemukakan bahwa audit

lingkungan mempunyai 3 tujuan yang luas, yaitu :

1. Ketaatan terhadap peraturan,


2. Bantuan dalam akuisisi dan penjualan aktiva,
3. Pengembangan korporat terhadap misi penghijauan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi dan Sifat Audit Lingkungan
2.1.1 Definisi Audit Lingkungan

Menurut Kep. Men.LH 42/1994, Audit lingkungan adalah suatu alat manajemen

yang meliputi evaluasi secara sistematik, terdokumentasi, periodik dan obyektif

tentang bagaimana suatu kinerja organisasi sistem manajemen dan peralatan dengan

tujuan menfasilitasi kontrol manajemen terhadap pelaksanaan upaya pengendalian

dampak lingkungan dan pengkajian pemanfaatan kebijakan usaha atau kegiatan

terhadap peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan.

Berdasarkan Lee, (1996) Audit Lingkungan adalah: “ Proses verifikasi yang

sistemik dan terdo kumentasi dalam memperoleh dan mengevaluasi bukti audit

secara objektif untuk menentukan apakah aktivitas, peristiwa, kondisi-kondisi,

sistem manajemen atau informasi yang tentang hal ini sesuai dengan kriteria audit

dan mengkomunikan hasilnya kepada klien”

2.1.2 Sifat Audit Lingkungan


Apapun nama yang digunakan untuk mendeskripsikan suatu program audit

lingkungan “audit”, “review”, “surveillance”, “survey”, “assessment”, “evaluation”,

atau appraisal”- poin penting ialah program demikian mengaudit dan menelaah

status lingkungan dari fasilitas individual. Salah satu perbedaan utama antara audit

lingkungan dan tipe audit yang lain adalah eksistensi dan ketiadaan standar.

Terdapat sedikit standar untuk audit lingkungan. Audit keuangan mempunyai

standar yang disebarluaskan oleh badan standar akuntansi yang berwenang.

Perbedaan yang lain adalah jumlah sistem yang ada. Sistem akuntansi keuangan

yang rinci dan terkoordinasi yang berjalan dapat menjadi sasaran audit keuangan.
Namun, diluar hal-hal seperti data pengendalian polusi, persetujuan dan MOU

(Memorandum of Understanding), sacara tipikal terdapat sedikit informasi

lingkungan relative yang dapat diaudit.


2.2 Sebab dan Manfaat Audit Lingkungan
2.2.1 Sebab audit lingkungan
Adapun sebab dilakukannya audit lingkungan yaitu:
1. Keinginan dari dewan direksi untuk mendapatkan kepastian bahwa perusahaan

bertanggungjawab dan secara memadai menangani lingkungannya.


2. Adanya inisiatif dari manajemen tingkat bawah atau menengah untuk

memperbaiki aktivitas pengelolaan lingkungan dan mengejar apa yang

perusahaan lain lakukan.


3. Dimotivasi oleh kejadian dari masalah atau kecelakaan lingkungan.
2.2.2 Manfaat audit lingkungan
Manfaat yang dapat diperoleh suatu perusahaan dari kegiatan audit lingkungan

adalah (BAPEDAL,1999):
1. Mengidentifikasi risiko lingkungan.
2. Oleh adanya kegiatan audit lingkungan maka risiko lingkungan dapat

diketemukan dan dapat diprediksi untuk masa yang akan datang. Hal ini sangat

membantu pihak pengambil kebijakan untuk menyusun pengalokasian anggaran

dalam pengelolaan lingkungan.


3. Menjadi dasar bagi pelaksanaan kebijakan pengelolaan lingkungan atau upaya

penyempurnaan rencana yang ada.


4. Menghindari kerugian financial seperti penutupan suatu usaha atau kegiatan

atau pembatasan oleh pemerintah, atau publikasi yang merugikan akibat

pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tidak baik.


5. Mencegah tekanan sanksi hukum terhadap suatu usaha atau terhadap

pimpinannya berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.


6. Membuktikan pelaksanaan pengelolaan lingkungan apabila dibutuhkan dalam

proses pengadilan.
7. Meningkatkan kepedulian pimpinan/penanggungjawab dan staf suatu badan

usaha mengenai pelaksanaan kegiatannnya terhadap kebijakan dan tanggung

jawab lingkungan.
2.3 Karakteristik Audit Lingkungan
Audit lingkungan memiliki beberapa karakteristik yang sangat penting dalam

pengelolaan lingkungan, baik dalam lingkungan suatu proyek maupun untuk

lingkungan diluarnya. Beberapa karakteristik dari audit lingkungan yaitu:


1. Audit lingkungan menggunakan metodologi yang komprehensif
2. Audit lingkungan harus dilaksanakan dengan metodologi yang komprehensif,

dan prosedur yang telah ditentukan, untuk menjamin pengumpulan data-data

dan informasi yang dibutuhkan, serta dokumentasi dan pengujuan informasi

tersebut.
3. Audit lingkungan menggunakan konsep pembuktian dan pengujian terhadap

penyimpangan pengelolaan lingkungan merupakan hal yang pokok dalam

audit lingkungan. Tim audit harus mengkonfirmasikan semua data dan

informasi yang diperolehnya melalui pemeriksaan lapangan secara langsung.


4. Audit lingkungan menggunakan pengukuran dan prosedur yang standar.
5. Penetapan standard dan pengukuran terhadap kinerja lingkungan harus sesuai

dengan usaha atau kegiatan dan proses produksi yang diaudit, kemudian hasil

kinerja usaha atau kegiatan dapat dibandingkan dengan standar yang

digunakan.
6. Audit lingkungan merupakan dokumen tertulis sehingga pihak manapun dapat

melakukan check and recheck. Laporan tertulis harus memuat hasil

pengamatan dan fakta-fakta serta dokumentasi terhadap proses produksi.

Seluruh data dan hasil temuan harus disajikan secara jelas dan akurat, serta

dilandasi dengan bukti yang sahih dan terdokumentasi.


2.4 Auditing sebagai Komponen dari Manajemen Lingkungan

Suatu sistem Manajemen Lingkungan merupakan metode untuk menuntun suatu

organisasi untuk mencapai dan mempertahankan kinerja sesuai dengan tujuan yang

telah ditetapkan dan sebagai tanggapan terhadap peraturan yang secara konstan

berubah, sosial, keuangan, ekonomi dan tekanan kompetitif, dan resiko lingkungan.

Apabila beroperasi secara efektif, suatu sistem manajaemen lingkungan korporat

memberikan manajemen dan dewan direksi pengetahuan, yaitu:

1. Perusahaan menaati hukum dan peraturan lingkungan.


2. Kebijakan dan prosedur secara jelas didefinisikan dan diumumkan ke seluruh

organisasi.
3. Resiko korporat yang berasal dari resiko lingkungan dinyatakan dan berada

dibawah pengendalian.
4. Perusahaan mempunyai sumberdaya dan staff yang tepat untuk pekerjaan

lingkungan, menggunakan sumber daya tersebut, dan dapat mengendalikan masa

depan sumber daya tersebut.

Sistem manajemen lingkungan terdiri dari beberapa fungsi, yaitu:

Perencanaan-Menetapkan tujuan, menentukan kebijakan, mendefinisi prosedur,

dan menetapkan anggaran program.

1. Mengorganisasi

Menetapkan struktur organisasi, melukiskan peranan dan tanggung jawab,

menciptakan deskripsi posisi, menetapkan kualifikasi posisi dan melatih

staff.

2. Menuntun dan Mengarahkan


Mengkoordinasi, memotivasi, menetapkan prioritas, mengembangkan

standar kinerja, mendelegasi dan mengelola perubahan.

3. Mengkomunikasikan

Mengembangkan dan mengimplementasikan saluran komunikasi yang

efektif dalam korporat, dalam divisi, dan dengan kelompok eksternal,

termasuk pengatur apabila sesuai.

4. Mengendalikan dan Menelaah

Mengukur hasil, menyatakan kinerja, mendiagnosis masalah, mengambil

tindakan korektif dan secara sengaja mencari cara-cara untuk belajar dari

kesalahan masa lalu serta dengan demikian menciptakan perbaikan dalam

sistem.

2.3. Falsafah Manajemen Lingkungan Dasar

Menurut J. Ladd. Greno dan kawan-kawan, falsafah manajemen lingkungan dasar

dibedakan menjadi 3 hal seperti berikut,

1. Pemecahan Masalah
Fokus utamanya pada pemecahan masalah lingkungan yang segera dan paling

dikenal dan menghindari biaya yang tidak perlu, yang diakibatkan oleh staff yang

meningkat atau pengeluaran modal. Disini, sistem manajemen lingkungan

cenderung tidak formal, dan tanggung jawab untuk manajemen lingkungan

sebagian besar terletak pada pengacara, insinyur dan spesialis lain yang
cenderung memfokuskan pada masalah dan perhatian pabrik. Mereka cenderung

hanya menekankan hukum dan peraturan “yang perlu” yaitu apa yang tidak

mempunyai peluang untuk interprestasi dan resiko yang paling signifikan.

2. Mengelola ketaatan
Suatu perusahaan membangun suatu sistem yang lebih formal untuk mengelola

tingkat yang diinginkan atau tingkat ketaatan. Pergeseran ini dapat berasal dari

keinginan manajemen untuk mengelola dengan lebih baik mengenai apa yang

ditentukan oleh hukum atau kebijakan dan prosedur perusahaan. Fokus utama

dari sistem manajemen lingkungan, kesehatan, dan keamanan adalah mencapai

dan memelihara tingkat ketaatan yang diinginkan dengan berbagai persyaratan

peraturan. Disini program audit lingkungan cenderung memasukkan tidak hanya

penilaian masalah (dan mungkin praktik yang sehat), akan tetapi juga penentuan

dan/ atau verifikasi ketaatan yang dicapai.


3. Mengelola Kepastian Lingkungan
Falsafah manajemen dasar adalah bahwa resiko lingkungan yang potensial

terhadap perusahaan dan terhadap lingkungan harus dikelola. Tidak hanya resiko

yang berhubungan dengan ketaatan penting bagi perusahaan, akan tetapi juga

resiko lain yang belum dicakup oleh persyaratan peraturan atau standar eksternal

yang ada adalah penting. Fokus utamanya pada membangun sistem manajemen

lingkungan yang menekankan, melindungi sumber daya internal dan lingkungan

eksternal dari kerugian dengan mencari dan mengantisipasi resiko dan juga

mengelola resiko yang disebabkannya. Perusahaan pada program audit


lingkungan sering menilai kesesuian dari sistem manajemen lingkungan dan

memverifikasi efektifitasnya, selain menilai masalah dan memverifikasi ketaatan.

2.4. Auditing dalam Konteks Resiko Lingkungan


Salah satu pendekatan untuk membedakan tipe dari resiko lingkungan adalah

mengidentifikasi penyebab dari kondisi industri yang berisiko, yaitu :


1. Orang yang tidak secara penuh memahami peraturan dan prosedur.
2. Fasilitas fisik yang tidak secara memadai didesain.
3. Sistem manajemen yang terbatas dalam ruang lingkup dan tidak lentur/fleksibel.
4. Prosedur yang tidak memadai Kekuatan Eksternal Tekanan internal yang

bersaing.
2.5 Tipe Audit
Menurut Grant Ledgerwood (1992) tipe audit termasuk :
1. Audit korporat (Corporate audits), yang mempertimbangkan pekerjaan

dari korporasi secara keseluruhan.


2. Audit aktivitas (Activity audits), yang mempertimbangkan satu aktivitas

dari korporasi.
3. Audit ketaatan (compliance audits), yang menguji ketaatan industry

terhadap lingkungan yang relevan dan standar keamanan.


4. Audit resiko (risk audits), yang memepertimbangkan keamanan,

kesehatan, operasional, resiko terhadap karyawan dan public.


5. Audit produksi (production audits), yang menelusuri energy dan/atau

material dari masuknya material tersebut kedalam perusahaan sampai

keluar.
6. Audit akuisisi (acquisition atau divesture audits), yang menguji liabilitas

lingkungan yang dapat timbul dari aktivitas tersebut.


2.7 Auditor Lingkungan
Audit laporan keuangan dilaksanakan oleh akutan yang berkualifikasi dan

disupervisi dengan memadai. Audit lingkungan biasanya diluar kompetensi akuntan

dan diharapakan bahwa audit lingkungan dilaksanakan oleh tim kecil yang jumlahnya
sekitar 3 atau 4 orang. Tim tersebut akan terdiri dari orang yang secara teknis

berkualifikasidari dalam atau luar perusahaan dengan seorang pemimpin yang

independen dari perusahaan. Orang berkualifikasi yang siap dan dapat melaksanakan

audit lingkungan adalah yang sudah berada dalam usaha dan auditor lingkungan yang

telah terdaftar dan terakreditasi.


Pasal 51 Ayat (2) UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan

Pengelolaan Lingkungan Hidup dinyatakan bahwa auditor lingkungan hidup wajib

memiliki sertifikat kompetensi auditor lingkungan hidup yang berlaku mulai tanggal

3 Oktober 2010. Kriteria untuk memperoleh sertifikasi auditor lingkungan hidup

meliputi kemampuan:
a. Memahami prinsip, metodologi, dan tata laksana audit lingkungan hidup
b. Melakukan audit lingkungan hidup yang meliputi tahap perencanaan,

pelaksanaan, pengambilan kesimpulan dan pelaporan; Merumuskan rekomendasi

langkah perbaikan sebagai tindak lanjut audit lingkungan hidup.

2.8 Tahapan Pelaksanaan Audit Lingkungan


Tahapan pelaksanaan audit lingkungan adalah sebagai berikut :
1. Pendahuluan
Penerapan audit lingkungan akan tergantung kepada jenis audit yang

dilaksanakan, jenis usaha atau kegiatan dan pelaksanaan oleh tim auditor.
2. Aktivitas audit ditempat actual (actual on side audit/current audit)
Ada lima tahap dalam aktivitas ini, yaitu:
a. Pertemuan pendahuluan
Pada tahap ini tim audit dan pimpinan perusahaan mengadakan

pertemuan untuk mengkaji tujuan audit , tata laksana, dan jadwal

kegiatan audit.
b. Pemeriksaan lapangan
Pemeriksaan lapangan dilaksanakan agar tim audit mendapat gambaran

tentang kegiatan suatu usaha yang memerlukan perhatian khusus yang

belum teridentifikasi pada tahap perencanan.


c. Pengumpulan data
Tujuan pengumpulan data adalah sebagai dasar bagi pengujian temuan

audit lingkungan. Data dan informasi yang dikumpulkan pada tahap ini

mencakup tata laksana audit, dokumentasi yang diberikan perusahaan

atau kegiatan, dan catatan hasi pengamatan tim auditor.


d. Pengujian
Semua dokumen yang ditemukan auditor pada tahap pengumpulan data,

harus menunjang semua pernyataan, atau telah teruji melalui

pengamatan langsung oleh tim auditor. Tim auditor juga harus menjamin

bahwa dokumen yang dihasilkan merupakan dokumen yang asli dan

sah.
e. Evaluasi hasil temuan
Setiap hasil temuan audit dievaluasi sesuai dengan tujuan audit dan tata

laksana yang telah disetujui untuk menjamin bahwa semua isu/masalah

telah dikaji. Dokumentasi penunjang harus dikaji secara teliti, sehingga

semua hasil temuan telah ditunjang oleh data dan diuji secara tepat.

Terdapat dua jenis temuan audit, yaitu temuan positif dan temuan

negatif.
- Temuan positif adalah temuan bahwa implementasi suatu sistem

sudah dijalankan sesuai standar proses yang berlaku atau bahkan

lebih baik.
- Temuan negatif adalah temuan bahwa implementasi suatu sistem

masih memerlukan perbaikan dan hal ini harus diberitahukan


kepada auditee secara jelas sehingga dapat diambil tindakan

koreksi dan perbaikan yang tepat sesuai dengan permasalahan

yang dihadapi.
3. Pasca Audit
Pada tahap ini tim auditor menyusun laporan tertulis secara lengkap sebagai

hasil pelaksanaan audit lingkungan. Laporan tersebut juga mencakup

pemaparan tentang rencana tindak lanjut terhadap isu-isu yang teridentifikasi.


2.9 Bentuk-bentuk Audit Lingkungan
Bentuk-bentuk audit lingkungan menurut Meilani (2000) adalah sebagai berikut:
1. Compliance Audit
Audit ini untuk menilai apakah aktifitas perusahaan berada dalam batas yang

diperkenankan hukum dan peraturan atau tidak.


2. Environmental Management System Audit
Audit ini difokuskan pada keseluruhan Sistem Manajemen Lingkungan

perusahaan. Audit ini memberikan informasi dan keyakinan kepada manajemen

mengenai efektivitas sistem,pengendalian, prosedur untuk mengetahui kebijakan

lingkungan.
3. Transactional Audit
Merupakan alat manajemen untuk menilai resiko lingkungan perusahaan bagi

bank, kreditor, investor dan organisasi lain. Audit ini menentukan apakah tanah

mengandung bahan atau buangan beracun. Pihak-pihak eksternal perlu

memahami resiko lingkungan perusahaan.

4. Pollution Prevention Audit


Kegiatan penaksiran yang mengidentifikasikan setiap tindakan pencegahan yang

masih mungkin dilakukan untuk meminimalisasi pembuangan produk dan

mengeliminasi polusi yang ditimbulkan oleh kegiatan industri.


5. Product Audit
Audit atas proses produksi untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan

tidak menyimpang dari batasan kimiawi yang telah ditetapkan dan produk yang

dihasilkan dari proses produksi tersebut telah didaur ulang kembali setelah

produk tersebut tidak lagi digunakan


2.10 Aktivitas Pra dan Setelah Audit
2.10.1 Aktivitas Pra Audit
Proses audit lingkungan dimulai dengan sejumlah aktivitas sebelum audit

ditempat aktual terjadi. Aktivitas-aktivitas tersebut yaitu pemilihan fasilitas yang

diaudit, jadwal dari fasilitas yang diaudit, pemilihan tim audit, pengembangan dari

suatu rencana audit, mendefinisikan ruang lingkup audit, pemilihan topik yang

prioritas untuk dimasukkan, memodivikasi program audit dan mengalokasi sumber

daya tim audit.


Audit ditempat aktual secara tipikal terdapat 5 langkah dasar, yaitu:
1. Memahami sistem dan prosedur manajemen internal
Pemahaman auditor biasanya dikumpulkan dari berbagai sumber,

misalnya diskusi staff, kesioner, kunjungan pabrik dan dalam kasus

tertentu, suatu pengujian verifikasi terbatas dilakukan untuk membantu

mengkonfirmasikan pemahaman awal auditor. Auditor biasanya

mencatat pemahamannya dalam suatu bagan arus, uraian naratif atau

gabungan dari keduanya agar dapat mempunyai suatu deskripsi yang

tertulis. Tujuan dasar dalam langkah ini untuk memahami berbagai cara

memperhatikan lingkungan yang dikelola. Dalam kelanyakan organisasi,

banyak aspek dari sistem manajemen lingkungan internal tidak

didokumentasikan secara tertulis. Namun sistem manajemen yang


terpilih dapat didokumentasikan dalam detail yang cukup untuk

memberikan suatu pemahaman dan prosedur-prosedur dasar rencana.


2. Menilai kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan
Auditor mencari indikator- indikator seperti tanggungjawab yang secara

jelas didefinisikan, suatu sistem otorisasi yang memadai, kesadaran dan

kapabilitas personil, dokumentasi dan pencatatan, serta verifikasi

internal. Jika disain manajemen lingkungan internal dinilai sehat (yaitu

hasil yang diterima tercapai, apabila sistem berfungsi seperti yang

didisain), maka langkah audit berikutnya dapat memfokuskan pada

efektifitas yaitu disain diimplementasikan, dan sejauhmana system

dalam kenyataan telah dilaksanakan seperti yang dikehendaki. Namun,

apabila disain dari sistem intrenal tidak cukup sehat untuk memastikan

hasil yang dikehendaki, langkah audit berikutnya harus memfokuskan

pada hasil lingkungan daripada sistem manajemen internal.


3. Menyimpulkan bukti audit
Kelemahan-kelemahan yang dicurigai dalam sistem manajemen

dikonfirmasi dalam tahap ini, sistem yang tampak sehat diuji untuk

membuktikan bahwa sistem tersebut berfungsi sesuai dengan yang

direncanakan dan digunakan secara konsisten. Bukti audit dapat

dikumpulkan melalui penyelidikan (seperti kuesioner formal dan

kuesioner tidak formal), pengamatan dan pengujian (seperti menelusuri

kembali data, memverifikasi jejal kertas). Tim audit harus

mengidentifikasi dan kemudian memverifikasi aktivitas tersebut dalam

proses manajemen lingkungan yang dapat memberikan pandangan


secara mendalam mengenai fungsi sistem secara keseluruhan. Bukti

audit dapat berupa dalam bentuk fisik, dokumen atau keadaan.


4. Menilai temuan audit
Pengamatan audit dan temuan dinilai, tujuannya dapat dimengerti dan

mengintegrasikan temuan-temuan dan observasi dari setiap anggota tim,

kemudian menentukan disposisi akhir temuan dan observasi akan

dimasukkan ke dalam laporan audit yang formal atau hanya membawa

pada perhatian dari manajemen fasilitas. Temuan audit dan observasi

dapat diorganisasikan untuk menentuka temuan yang umum, dapat

mempunyai signifikasi yang lebih besar daripada bila dipandang secara

individual. Dalam menilai temuan audit, anggota tim khususnya

pemimpin tim, menentukan apakah bukti audit yang dimiliki cukup

untuk mendukung temuan audit.


5. Melaporkan temuan audit
Proses pelaporan audit lingkungan sering dimulai dengan diskusi yang

tidak formal antara auditor dan koordinator lingkungan fasilitas ketika

penyimpanan diketahui. Temuan lebih jauh akan diklarifikasi ketika

audit sedang berlangsung dan kemudian dilaporkan kepada manajemen

fasilitas selama penyelesaian audit atau konferensi penutupan. Selama

pertemuan, tim audit mengkomunikasikan semua temuan dan

pengamatan yang diketahui selama audit dan menunjukkan item-item

mana yang akan muncul dalam laporan audit yang formal. Tujuan

pengunaan laporan audit mencakup memberikan informasi kepada

manajemen, memprakarsai tindakan korektif, dan menyediakan


dokumentasi audit. Laporan audit memberikan kaitan yang cukup untuk

seluruh penelaahan yang dilakukan sehinggam kerangka kerja

manajemen yang ada dapat menentukan apa, apabila ada, tindakan-

tindakan yang diperlukan.


2.10.2 Aktivitas Setelah Audit (Post Audit Activities
Proses audit tidak hanya berakhir pada simpulan dari audit ditempat. Pemimpin

tim audit menyiapkan suatu laporan sementara mengenai temuan dan observasi dalam

dua minggu dari audit ditempat. Laporan sementara ini dapat ditelaah oleh

manajemen fasilitas, dan lain-lain sebelum suatu laporan akhir diterbitkan.


Ketika laporan akhir disiapkan, proses perencanaan tindakan biasanya dimulai.

Proses mencangkup menentukan lokasi yang potensial, menyiapkan rekomendasi,

memberikan tanggung jawab untuk tindakan korektif dan menetapkan jadwal.

Langkah terakhir dalam proses audit secara keseluruhan dimulai dengan tindak lanjut

terhadap rencana tindakan untuk memastikan bahwa seluruh kekurangan dalam

kenyataannya telah diperbaiki.


2.10.3 Audit Lingkungan di Indonesia
Sesuai dengan GBHN 1993, sistem yang dianut dalam pelaksanaan

pembangunan nasional adalah pembangunan yang berwawasan lingkungan.

“Pembangunan yang dilakukan untuk mengolah sumber daya alam, tetap

memperhatikan kelestarian lingkungan.”


Jenis audit lingkungan berdasarkan Peraturan Nasional, yaitu :
1. Audit Lingkungan Wajib
Audit lingkungan adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh

penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan berdasarkan perintah Menteri

Lingkungan Hidup dan ketidakpatuhan penganggungjawab usaha dan atau

kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan


lingkungan hidup yang terkait dengan kegiatan tersebut. (KEP-

30/MENLH/2001).
2. Audit Lingkungan Sukarela
Audit lingkungan adalah suatu alat manajemen yang meliputi evaluasi

secara sistematik, terdokumentasi, periodik dan obyektif tentang bagaimana

suatu kinerja organisasi sistem manajemen dan peralatan dengan tujuan

menfasilitasi kontrol manajemen terhadap pelaksanaan upaya pengendalian

dampak lingkungan dan pengkajian pentaatan kebijakan usaha atau kegiatan

terhadap peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan

hidup. (KEP-42/MENLH/111994).
Dasar hukum pelaksanaan audit lingkungan di Indonesia adalah UU RI

Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan KEPMEN

LH Nomor KEP-42 MENLH/11/1994 Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan

Audit Lingkungan ISO 14001 adalah standar lingkungan terhadap organisasi

yang dinilai. Ini menentukan persyaratan untuk EMS, yang menyediakan

kerangka kerja bagi suatu organisasi untuk mengendalikan dampak

lingkungan dari kegiatan, produk dan jasa. Standar lain untuk isu-isu

lingkungan hidup adalah ISO 1OOO.


Ketika melihat audit lingkungan, kadang terpikir ini adalah sebuah

ruang untuk menjaga tetap berkualitasnya kondisi lingkungan hidup. Dalam

pembelajaran, terlihat jelas bahwa audit lingkungan hanya merupakan sebuah

kesukarelaan. Bahkan yang dibelajarkan adalah audit lingkungan dalam ISO

14000, bukan pada audit lingkungan yang termaktub dalam perundang-

undangan negeri ini. Kementerian Lingkungan Hidup sendiri telah


mengeluarkan turunan UU mengenai audit lingkungan, yaitu KepMenLH No

30/2001 juga sebelumnya pada KepMenLH No 42/1994. Gaung Audit

Lingkungan mulai menggema ketika WALHI (Wahana Lingkungan Hidup

Indonesia) berpendapat bahwa sistem AMDAL yang ada sepatutnya

dilengkapi dengan audit lingkungan. Namun kenyataannya masih sangat sulit

melihat terjadinya proses audit lingkungan terhadap pelaku usaha. Hal ini juga

lebih dikarenakan tidak ada kewajiban pelaku usaha untuk melakukan audit

lingkungan, yang ada hanyalah kesukarelaan. Dalam Standar Nasional

Indonesia, pedoman audit lingkungan telah diabolisi (tidak dipergunakan

lagi). Diantaranya adalah SNI 19-14010-1997 tentang Pedoman audit

lingkungan – Prinsip umum, SNI 19-14011-1997 tentang Pedoman untuk

pengauditan lingkungan – Prosedur audit – Pengauditan sistem manajemen

lingkungan dan SNI 19-14012-1997 tentang Pedoman audit untuk lingkungan

Kriteria kualifikasi untuk auditor lingkungan. Melihat tidak pentingnya audit

lingkungan dalam tataran kebijakan, maka tidak salah bila telah terjadi

pengarahan negeri bencana ini ke arah ecosida, yang bisa jadi terjadi tidak

lebih dari 7 tahun lagi.


Audit lingkungan adalah proses jalan panjang yang harus dimulai dan

dikampayekan oleh semua pihak demi keselamatan umat manusia. Banyak

perusahaan di Indonesia yang telah melaksanakan aktivitas CSR (corporate

social responsibility/ pertanggungjawaban sosial perusahaan) di lapangan.

Akan tetapi belum banyak yang mengungkapkan aktivitas tersebut dalam


sebuah laporan. Hanya beberapa perusahaan yang telah mengungkapkan

informasi lingkungan dan tanggungjawab sosial di dalam laporan tahunan

perusahaan. Beberapa di antaranya membuat laporan CSR tersendiri, terpisah

dari laporan tahunan. Dibandingkan dengan negara lain, harus diakui bahwa

perkembangan praktik laporan keberlanjutan di Indonesia berjalan lambat.

Jika penyusunan laporan keuangan diwajibkan oleh Undang-undang

Perseroan Terbatas, sedangkan untuk laporan keberlanjutan belum ada

ketentuan perundang-undangan yang mewajibkan pembuatan laporan tersebut.

Khusus untuk mewajibkan penyusunan laporan keberlanjutan di Indonesia

nampaknya masih perlu waktu, terutama kesiapan dalam sistem pendukung

seperti adanya standar pelaporan yang bisa diterima secara umum dan

ketersediaan tenaga yang berkompeten untuk menyusun laporan tersebut,

termasuk tenaga yang melakukan fungsi assurance.

BAB III
KASUS DAN PEMBAHASAN

A. Kasus
Audit lingkungan merupakan suatu perangkat manajemen yang dilakukan secara

internal dan sadar oleh perusahaan sebagai tanggung jawab pengelolaan dan

pemantauan lingkungan, untuk mengidentifikasi permasalahan lingkungan yang akan

timbul, sehingga dapat dilakukan upaya-upaya pencegahan. Audit lingkungan juga

merupakan suatu dokumen yang dapat dijadikan sebagai early warning system dalam

pengelolaan lingkungan.
Berdasarkan contoh kasus audit lingkungan (Hermiyetti & Poetri, 2010) PT

Chevron Pacific Indonesia merpakan salah satu dari perusahaan eksplorasi dan

produksi minyak dan gas bumi yang selanjutnya disebut sebagai perusahaan

Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan BP MIGAS (Badan Pelaksana

Usaha Hulu Minyak dan Gas). Penjelasan audit lingkungan pada PT Chevron Pacific

Indonesia adalah sebagai berikut: PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) dilaksanakan

oleh internal auditor dan eksternal auditor. Internal audit bermula dari kantor pusat

(Home Office) yang menentukan program Operational Excellence (OE) audit

tahunan. Program audit tersebut mencakup tujuan audit dan sasaran aspek kesehatan

dan keselamatan kerja serta lingkungan yang akan diaudit


B. Pembahasan
Pelaksanaan internal audit terbagi ke dalam 3 tahap, yaitu:
a. Aktivitas Sebelum Audit (Pra-Audit) Aktivitas Pra-Audit PT Chevron Pacific

Indonesia dijabarkan dalam tahapan berikut ini:


- Tahap Persiapan Audit (audit team preparation) Pada tahap ini merupakan

perencanaan awal yang dilakukan auditor sebelum dilakukannya audit

lingkungan pada PT Chevron Pacific Indonesia yaitu memahami program

audit, lingkup audit dan kriteria auditor.


- Menentukan jadwal audit lingkungan Penentuan jadwal audit lingkungan

pada PT CPI ditentukan oleh pihak wakil manajemen lingkungan, yang

kemudian jadwal audit lingkungan tersebut dikonfirmasikan kepada

auditor dan kepala bagian unit yang dituju.


- Menetapkan tujuan dan ruang lingkup audit lingkungan Tujuan PT.

Chevron Pacific Indonesia melaksanakan audit lingkungan agar sesuai

dengan standar baku mutu lingkungan hidup yang ditetapkan pemerintah

yaitu Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.4 tahun 2007.


b. Aktivitas di lapangan (Actual on Site Audit)
Prosedur persiapan mengaudit, diawali dengan rapat pembuka yang dipimpin

oleh pimpinan (lead) auditor yang bertujuan untuk memaparkan rencana audit.

Setelah rencana audit diketahui dan dipahami semua pihak, auditor melakukan

proses audit di lapangan dan mencatat temuan-temuan selama audit. Temuan

audit tersebut dikonfirmasikan oleh auditor kepada pihak auditee atau

departemen proses. Dari hasil temuan audit tersebut, pimpinan auditor membuat

laporan hasil audit atau disebut dengan laporan tinjauan lapangan audit internal.
Dalam hal audit lingkungan metode audit yang dilakukan oleh auditor adalah

dengan melakukan wawancara kepada pihak manajemen perusahaan, obeservasi

lapangan (site observation), dan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen yang

diperlukan. Setelah itu dalam mengumpulkan bukti audit, auditor PT Chevron

Pacific Indonesia melakukan pengamatan atau pemeriksaan langsung ke bagian

pengolahan air terproduksi dengan didampingi oleh seorang analisis yang ahli

dalam bidang lingkungan dan bahan kimia. Setelah itu auditor menguji bukti-

bukti audit yang didapat di lapangan pada saat tinjauan lapangan. Hasil dari
pengujian ini berupa temuan audit yang menuntut adanya tindakan perbaikan.

Setiap temuan-temuan audit yang ditemukan oleh auditor dimasukkan ke dalam

daftar periksa audit (check list) sebagai berikut :


a. Temuan dan Rekomendasi Auditor
Terdapat temuan positif dan temuan negatif dalam pelaksanaan audit

lingkungan PT Chevron Pacific Indonesia.


1. Temuan negatif berisi ketidaktaatan terhadap ketentuan/peraturan,

pengeluaran uang yang tidak sepatutnya, ketidakhematan, ketidakefisienan,

dan ketidakefektifan yang dapat berakibat adanya kemungkinan

resiko/dampak yang merugikan perusahaan, yaitu:


- Hilang atau rusaknya aset (termasuk data/informasi yang dimiliki

perusahaan, tidak dipatuhinya prosedur kerja atau ketentuan atau

kebijakan perusahaaan sehingga terjadinya kekeliruan, kelalaian maupun

penyalahgunaan (fraud/kecurangan).
- Penanganan tanah terkontaminasi minyak bumi belum memadai, yang

disebabkan tidak terdapat kejelasan implementasi penanganan tanah

terkontaminasi minyak bumi khususnya kepada pihak luar di lapangan.


- Tempat penyimpanan sementara limbah B3 belum memadai, yang

disebabkan manajemen PT Chevron Pacific Indonesia belum memberikan

perhatian dan penanganan yang memadai terhadap penyimpanan B3.


- Upaya monitoring dan pemeliharaan pipa air panas dan HCT shipping

line belum optimal, yang disebabkan manajemen PT CPI tidak

memasukkan potensi pipa pecah sebagai salah satu risiko atau dampak

penting dalam AMDAL.


Dalam hal menyikapi temuan negatif, PT Chevron Pacific Indonesia segera

melakukan tindakan perbaikan, yaitu sebagai berikut:


- Melakukan perbaikan alat atau melakukan treatment khusus guna untuk

menekan resiko terjadinya kerusakan lingkungan.


- Mengajukan perizinan kepada Pemerintah Daerah setempat serta

melaporkan apabila terjadi tumpahan minyak dan akan segera dilaporkan

kepada BP MIGAS, selaku pengawas dan pengendali Kontraktor Kontrak

Kerja Sama (PT Chevron Pacific Indonesia).


- PT CPI akan terus meningkatkan usahanya untuk memperbaiki kinerja

proses pemisahan air terproduksi dan juga untuk mencapai Nihil Buangan

air terproduksi secara 100% dalam waktu yang tidak terlalu lama. Apabila

hal ini telah terjadi maka tidak diperlukan lagi perizinan.


2. Temuan positif auditor internal PT Chevron Pacific Indonesia ialah sebagai

berikut:
- Pekerjaan dan pencatatan sudah dilakukan sesuai dengan prosedur.
- Catatan dapat ditelusuri dengan baik melalui IndoAsia Business Unit

(IBU) Self Audit Tracking System yaitu sistem yang dapat digunakan

untuk mencatat hasilhasil audit dan menelusuri apakah hasil audit telah

ditindaklanjuti.
- Para karyawan telah melakukan pengolahan limbah dengan baik. Dalam

hal menyikapi temuan positif PT Chevron Pacific Indonesia, auditor akan

melakukan kompilasi laporan dan menyerahkannya pada Corporate atau

kantor pusat (IndoAsia Business Unit). Untuk melaporkan tidak hanya

terdapat temuan negatif saja, tetapi terdapat pula temuan positif yang

berarti harus dipertahankan atau lebih ditingkatkan lagi dan mendapatkan

penghargaan (achievement) atau apresiasi terhadap auditee.


b. Rekomendasi auditor
Hasil rekomendasi berupa pemulihan air yang dihasilkan harus sesuai dan

merupakan bagian dari manajemen air yang dihasilkan PT CPI, selain itu

perusahaan harus meninjau ulang kebijakan manajemen strategi mereka dalam

hal pengelolaan air terproduksi, dari seberapa besar biaya operasi, pemeliharan

alat-alat untuk mengolah air terproduksi tersebut agar dapat dibuang ke

lingkungan atau diinjeksikan ke dalam reservoir agar tidak mencemari

lingkungan.
c. Aktivitas Setelah Audit (Pasca Audit) Pada aktivitas setelah audit, pihak

bagian unit operasi melaksanakan tindakan perbaikan atau pencegahan

(corective and preventive action) dari ketidaksesuaian yang ditemukan oleh

tim audit pada audit lapangan atau tinjauan lapangan.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Secara ringkas Audit Lingkungan adalah sistim evaluasi yang dilakukan

secara sistematis dan obyektif terhadap pengelolaan dampak yang ada maupun

potensial dampak dari kegiatan suatu organisasi atas lingkungan yang juga

berpengaruh terhadap kinerja suatu organisasi. Apa yang dievaluasi biasanya

termasuk pengelolaan lingkungan dari organisasi itu, pentaatan terhadap

peraturan dalam pengelolaan lingkungan seperti emisi ke udara, pembuangan ke

air, pengelolaan limbahnya, sistim dokumentasi, pelaporan, indikator kinerja,

sistim tanggap darurat termasuk pula tanggung jawab manajemen, komunikasi

dan kursus-kursus yang diberikan kepada staffnya.


Manfaat yang dapat diperoleh suatu perusahaan dari kegiatan audit

lingkungan adalah (BAPEDAL, 1994) :


1. Mengidentifikasi resiko lingkungan
2. Menjadi dasar bagi pelaksanaan kebijakan pengelolaan lingkungan atau

upaya penyempurnaan rencana yang ada.


3. Menghindari kerugian finansial seperti penutupan/ pemberhentian suatu

usaha atau kegiatan atau pembatasan oleh pemerintah, atau publikasi yang

merugikan akibat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tidak baik.


4. Mencegah tekanan sanksi hukum terhadap suatu usaha atau kegiatan atau

terhadap pimpinannya berdasarkan pada peraturan perundangundaangan

yang berlaku.
5. Membuktikan pelaksanaan pengelolaan lingkungan apabila dibutuhkan

dalam proses pengadilan.


6. Meningkatkan kepedulian pimpinan/ penanggung jawab dan staf suatu

badan usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan kegiatannya terhadap

kebijakan dan tanggung jawab lingkungan.


7. Mengidentifikasi kemungkinan penghematan biaya melalui upaya

konservasi energi dan pengurangan, pemakaian ulang dan daur ulang limbah.
B. Saran
Agar audit lingkungan dapat berjalan dengan efektif, setidaknya ada lima

elemen penting yang harus diperhatikan. Pertama diperlukan komitmen dari

perusahaan itu agar mau terbuka dan jujur dalam memberikan data. Hal di atas

agak riskan mengingat pengusaha biasanya enggan untuk membuka ‘jati dirinya’

karena persaingan bisnis misalnya. Kedua, adanya Auditor yang mandiri yang

tidak mempunyai kepentingan apapun akan fasilitas yang sedang diaudit. Ini

penting untuk menjaga keobyektifan penilaian, kemandirian auditor harus pula

dijaga agar tidak terpengaruh oleh situasi atau tekanan lainnya ketika mereka

melakukan kunjungan lapangan. Verifikasi prosedur dan pengukuran kinerja,

merupakan dua hal berikutnya dari elemen Audit Lingkungan. Hal ini penting

dilakukan agar ada kepastian bahwa informasi yang didapat memang benar-benar

akurat. Terakhir, harus ada mekanisme tindak lanjut dari rekomendasi yang

didapat selama Audit Lingkungan. Jika tidak, maka usaha Audit Lingkungan yang

telah dilakukan menjadi sia-sia.


DAFTAR PUSTAKA

Hermiyetti, & Poetri, A. S. (2010). Analisa Pelaksanaan Audit Lingkungan Atas


Pengolahan Limbah Cair Pada PT. Chevron. Jurnal Investasi, 124-139.
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 42/ MENLH/11/1994."Tentang: Pedoman
umum Pelaksanaan Audit Lingkungan. Jakarta. (n.d.).
Lee, K. W. (1996). ISO 14001 Environmental Auditing, New Jearsey: Prentice Hall,
Inc.
Meilani, H. (2000). Audit Lingkungan Sebagai Urat Nadi Sistem Manajemen
Lingkungan. Jurnal Akuntansi dan Manajemen, 17-27.