Anda di halaman 1dari 8

AUDIT DAN ASURANS

SA 402 & 450

OLEH:

Kelompok 12

Ayu Putu Budi Astrawati (1907611010)

Anak Agung Ayu Mutya Armika (1907611018)

PROGRAM PROFESI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2019
1. Standar Audit (SA) 402: Pertimbangan Audit Terkait dengan Entitas yang
menggunakan Suatu Organisasi Jasa
Standar Audit (“SA”) ini mengatur tentang tanggung jawab auditor pengguna untuk
memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat ketika suatu entitas pengguna memanfaatkan
jasa dari satu atau lebih organisasi jasa. Secara spesifik, standar ini menjelaskan tentang
bagaimana auditor pengguna menerapkan SA 315:1 dan SA 330:2 dalam memperoleh
pemahaman tentang entitas pengguna, termasuk pengendalian internal yang relevan dengan
audit, yang cukup untuk mengidentifikasi dan menilai risiko adanya kesalahan penyajian
material dan dalam merancang dan melaksanakan prosedur audit lebih lanjut sebagai respons
terhadap risiko tersebut.

Tujuan
Tujuan auditor pengguna, ketika entitas pengguna menggunakan jasa dari suatu organisasi
jasa, adalah:
a. Untuk memperoleh pemahaman tentang sifat dan signifikansi jasa yang disediakan
oleh organisasi jasa dan dampaknya terhadap pengendalian internal entitas pengguna
yang relevan dengan audit, yang cukup untuk mengidentifikasi dan menilai risiko
kesalahan penyajian material.
b. Untuk merancang dan melaksanakan prosedur audit sebagai respons terhadap risiko
tersebut.

Ketentuan-ketentuan terkait SA 402


1. Pemerolehan Pemahaman tentang jasa yang disediakan oleh organisasi jasa, termasuk
pengendalian internal.
Pada waktu pemerolehan pemahaman tentang entitas pengguna berdasarkan SA
315,3 auditor pengguna harus memperoleh suatu pemahaman tentang bagaimana entitas
pengguna memanfaatkan jasa organisasi jasa dalam kegiatan operasi entitas pengguna.
2. Respons terhadap risiko yang telah dinilai atas kesalahan penyajian material
Dalam merespons risiko yang telah dinilai berdasarkan SA 330, auditor pengguna
harus melakukan hal-hal sebagai berikut:
a) Menentukan apakah kecukupan dan ketepatan bukti audit tentang asersi laporan
keuangan yang relevan tersedia dari catatan yang ada di tangan entitas pengguna;
dan, jika tidak
b) Melaksanakan prosedur audit lebih lanjut untuk memperoleh bukti audit yang
cukup dan tepat atau menggunakan auditor lain untuk melaksanakan prosedur
tersebut di organisasi jasa bagi kepentingan auditor pengguna.
3. Laporan tipe 1 dan tipe 2 yang tidak memasukkan jasa organisasi subjasa
Apabila auditor pengguna merencanakan untuk menggunakan laporan tipe 1 atau
tipe 2 yang tidak memasukkan jasa yang disediakan oleh organisasi subjasa dan jasa
tersebut relevan dengan audit atas laporan keuangan entitas pengguna, auditor pengguna
harus menerapkan ketentuan SA ini sesuai dengan jasa yang disediakan oleh organisasi
subjasa.
4. Kecurangan, ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan kesalahan
penyajian yang tidak dikoreksi berkaitan dengan aktivitas di organisasi jasa.
Auditor pengguna harus meminta keterangan kepada manajemen entitas pengguna
apakah organisasi jasa telah melaporkan kepada entitas pengguna, atau apakah entitas
pengguna menyadari adanya kecurangan, ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-
undangan, atau kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi yang memengaruhi laporan
keuangan entitas pengguna. Auditor pengguna harus mengevaluasi bagaimana hal-hal
tersebut memengaruhi sifat, saat, dan luas prosedur audit lebih lanjut, termasuk dampak
terhadap kesimpulan dan laporan auditor pengguna.
5. Pelaporan oleh Auditor pengguna
Auditor pengguna tidak boleh mengacu ke pekerjaan auditor jasa dalam laporan
auditor pengguna yang berisi opini tanpa modifikasian kecuali jika diwajibkan oleh
peraturan perundang-undangan. Jika pengacuan tersebut diwajibkan oleh peraturan
perundang-undangan, laporan auditor pengguna harus menunjukkan bahwa pengacuan
tersebut tidak mengurangi tanggung jawab auditor pengguna terhadap opini audit
tersebut.

Pemerolehan Pemahaman Tentang Jasa yang Disediakan oleh Organisasi Jasa,


Termasuk Pengendalian Internal
Sumber Informasi
Pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman auditor pengguna dengan organisasi
jasa, contohnya melalui pengalaman dalam perikatan audit lain, dapat juga bermanfaat dalam
memperoleh pemahaman tentang sifat jasa yang disediakan oleh organisasi jasa. Hal ini
secara khusus dapat bermanfaat jika jasa dan pengendalian pada organisasi jasa atas jasa
tersebut mempunyai standar yang tinggi.
Sifat Jasa yang Disediakan oleh Organisasi Jasa
Suatu entitas pengguna dapat menggunakan organisasi jasa seperti memproses
transaksi dan menjaga akuntabilitasnya, atau mencatat transaksi dan memproses data terkait.
Organisasi jasa yang menyediakan jasa seperti itu meliputi, sebagai contoh, trust department
bank yang menginvestasikan dan memberikan jasa aset untuk imbalan karyawan atau untuk
pihak lain; bankir yang memberikan jasa hipotik untuk pihak lain; dan penyedia jasa aplikasi
yang menyediakan paket aplikasi perangkat lunak dan sebuah lingkungan teknologi yang
membantu pelanggan untuk memproses transaksi operasi dan keuangan.

Pertimbangan Spesifik Khusus bagi Entitas yang Lebih Kecil


Entitas lebih kecil dapat menggunakan jasa pembukuan dari pihak luar, mulai dari
pemrosesan transaksi tertentu (misalnya, pembayaran pajak atas gaji) dan penyelenggaraan
catatan akuntansi sampai dengan penyusunan laporan keuangan. Penggunaan suatu organisasi
jasa tersebut untuk penyusunan laporan keuangan tidak membebaskan manajemen entitas
lebih kecil, dan jika berlaku, pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, dari tangggung
jawabnya terhadap laporan keuangan yang dihasilkan.

2. Standar Audit (SA) 450: Pengevaluasian atas Kesalahan Penyajian yang


Diidentifikasi selama Audit
Standar Audit ini berkaitan dengan tanggung jawab auditor untuk mengevaluasi
dampak kesalahan penyajian yang diidentifikasi dalam audit dan kesalahan penyajian yang
tidak dikoreksi, jika ada, terhadap laporan keuangan.

Tujuan
Tujuan auditor adalah untuk mengevaluasi:
a) Dampak kesalahan penyajian yang diidentifikasi atas audit.
b) Dampak kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi, jika ada, terhadap laporan
keuangan.

Ketentuan dalam SA 450


1. Akumulasi Kesalahan Penyajian yang Diidentifikasi
Auditor harus mengakumulasi kesalahan penyajian yang diidentifikasi selama
audit.
2. Pertimbangan atas Kesalahan Penyajian yang Diidentifikasi selama Audit
Berlangsung
Auditor harus menentukan apakah strategi audit dan rencana audit secara
keseluruhan perlu direvisi jika sifat kesalahan penyajian yang diidentifikasi dan
keadaan keterjadiannya menunjukkan bahwa kesalahan penyajian lain mungkin ada
dan jika diagregasikan dengan kesalahan penyajian yang telah diakumulasi selama
audit, dapat menjadi material.
Jika berdasarkan permintaan auditor, manajemen telah memeriksa suatu
golongan transaksi, saldo akun, ataupengungkapan dan mengoreksi kesalahan
penyajian yangtelah dideteksi, auditor harus melaksanakan prosedur audittambahan
untuk menentukan apakah kesalahan penyajiantersebut masih ada.
3. Komunikasi dan Koreksi atas Kesalahan Penyajian
Auditor harus mengomunikasikan secara tepat waktu semua kesalahan
penyajian yang diakumulasi selama audit dengantingkat manajemen yang tepat,
kecuali jika dilarang olehperaturan perundang-undangan. Namun jika manajemen
menolak untuk mengoreksi beberapa atau semua kesalahan penyajian yang
dikomunikasikan olehauditor, auditor harus memperoleh pemahaman tentangalasan
manajemen mengapa menolak membuat koreksi dan harus memperhitungkan
pemahaman tersebut pada waktumengevaluasi apakah laporan keuangan secara
keseluruhanbebas dari kesalahan penyajian material
4. Pengevaluasian Dampak Kesalahan Penyajian yang Tidak Dikoreksi
Auditor harus menentukan apakah kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi
adalah material, secara individual atausecara agregasi. Dalam membuat penentuan ini,
auditor harus mempertimbangkan:
a) Ukuran dan sifat kesalahan penyajian tersebut baik dalamhubungannya dengan
golongan transaksi, saldo akun,atau pengungkapan tertentu dan laporan
keuangansecara keseluruhan, dan kondisi tertentu tentangterjadinya kesalahan
penyajian tersebut.
b) Dampak kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi yangberkaitan dengan
periode lalu atas golongan transaksi,saldo akun, atau pengungkapan yang
relevan, sertalaporan keuangan secara keseluruhan.
5. Representasi Tertulis
Auditor harus meminta suatu representasi tertulis dari manajemen dan, jika
relevan, pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola apakah mereka yakin bahwa
dampakkesalahan penyajian yang tidak dikoreksi adalah tidakmaterial, secara
individual dan agregasi, terhadap laporankeuangan secara keseluruhan.
6. Dokumentasi
Auditor harus mencantumkan dalam dokumentasi audit :
a. batas dari jumlah kesalahan penyajian yang dipandang tidak penting
b. Semua kesalahan penyajian yang diakumulasi selama audit dan apakah kesalahan
penyajian tersebut telah dikoreksi
c. Kesimpulan auditor tentang apakah kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi tersebut
adalah material, secaraindividual atau agregasi, dan dasar kesimpulannya

Akumulasi Kesalahan Penyajian yang Diidentifikasi


Auditor dapat menentukan suatu jumlah yang kesalahan penyajian di bawah jumlah
tersebut secara jelas tidak penting dan tidak perlu untuk diakumulasi karena auditor
mengharapkan bahwa akumulasi jumlah tersebut secara jelas tidak akan berdampak material
terhadap laporan keuangan. “Secara jelas tidak penting” bukan merupakan pernyataan lain
untuk “tidak material.” Hal yang secara jelas tidak penting akan secara keseluruhan berbeda
(lebih kecil) ukurannya daripada materialitas yang ditentukan berdasarkan SA 320, dan akan
menjadi hal yang secara jelas tidak penting, apakah secara individual atau agregasi serta
apakah dipertimbangkan dengan kriteria ukuran, sifat, atau keadaan. Jika terdapat
ketidakpastian tentang apakah satu atau lebih unsur secara jelas tidak penting, hal tersebut
dipertimbangkan sebagai unsur yang bukan secara jelas tidak penting.
Untuk membantu auditor dalam mengevaluasi dampak kesalahan penyajian yang
diakumulasi selama audit dan dalam mengomunikasikan kesalahan penyajian tersebut kepada
manajemen dan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, akan berguna untuk
membedakan antara kesalahan penyajian faktual, kesalahan penyajian yang bersifat
pertimbangan, dan kesalahan penyajian proyeksian.
 Kesalahan penyajian faktual adalah kesalahan penyajian yang tidak diragukan lagi.
 Kesalahan penyajian yang bersifat pertimbangan adalah perbedaan yang timbul dari
pertimbangan manajemen tentang estimasi akuntansi yang menurut pertimbangan
auditor tidak masuk akal, atau pemilihan atau penerapan kebijakan akuntansi yang
menurut pertimbangan auditor tidak tepat.
 Kesalahan penyajian proyeksian adalah estimasi terbaik auditor tentang kesalahan
penyajian dalam populasi, yang melibatkan proyeksi kesalahan penyajian yang
diidentifikasi dalam sampel audit ke seluruh populasi yang terkait dengan sampel.
Panduan tentang penentuan kesalahan penyajian proyeksian dan pengevaluasian
hasilnya ditetapkan dalam SA 530.

Pertimbangan atas Kesalahan Penyajian yang Diidentifikasi Selama Audit Berlangsung


Suatu kesalahan penyajian mungkin bukan merupakan suatu kejadian yang terisolasi.
Bukti bahwa kesalahan penyajian yang lain mungkin ada mencakup, sebagai contoh, jika
auditor mengindentifikasi bahwa suatu kesalahan penyajian timbul dari tidak berfungsinya
pengendalian internal atau dari asumsi yang tidak tepat atau metode penilaian yang
diterapkan secara luas oleh entitas.
Jika agregasi kesalahan penyajian yang diakumulasi selama audit mendekati
materialitas yang ditentukan berdasarkan SA 320, ada kemungkinan terdapat risiko yang
lebih besar dari tingkat risiko rendah yang dapat diterima bahwa kesalahan penyajian yang
mungkin tidak terdeteksi, bila diperhitungkan dengan kesalahan penyajian agregasi selama
audit, dapat melebihi materialitas. Kesalahan penyajian yang tidak terdeteksi dapat terjadi
karena adanya risiko sampling dan risiko non-sampling.
Auditor dapat meminta manajemen untuk memeriksa golongan transaksi, saldo akun,
atau pengungkapan agar manajemen memahami penyebab suatu kesalahan penyajian yang
diidentifikasi oleh auditor, melaksanakan prosedur untuk menentukan jumlah kesalahan
penyajian aktual dalam golongan transaksi, saldo akun, atau pengungkapan, serta membuat
penyesuaian yang tepat terhadap laporan keuangan. Permintaan seperti itu dapat dibuat,
sebagai contoh, berdasarkan proyeksi auditor tentang kesalahan penyajian yang diidentifikasi
dalam suatu sampel audit keseluruh populasi yang terkait dengan sampel.
DAFTAR PUSTAKA

IAPI. Standar 402: Pertimbangan Audit Terkait dengan Entitas yang menggunakan Suatu
Organisasi Jasa pada http://www.iapi-lib.com/spap/1/files/SA%20200/SA%20402.pdf
diakses pada tanggal 5 Oktober 2019.

IAPI. Standar Audit Standar Audit 450: Pengevaluasian atas Kesalahan Penyajian yang
Diidentifikasi selama Audit, pada http://www.iapi-
lib.com/spap/1/files/SA%20200/SA%20450.pdf diakses pada tanggal 5 Oktober 2019.