Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Flu burung merupakan sejenis penyakit influenza. Mikroorganisme


penyebabnya adalah virus influenza A yang biasa mengenai unggas. Virus
influenza sendiri termasuk dalam family orthomyxoviruses yang terdiri dari 3
tipe yaitu: A, B, dan C. virus influenza tipe B dan C dapat menyebabkan
penyakit pada manusia dengan gejala yang ringan dan tidak fatal sehingga tidak
terlalu menjadi masalah. Virus influenza A dibedakan menjadi banyak subtype
berdasarkan petanda berupa tonjolan protein pada permukaan sel virus. Ada 2
protein petanda virus influenza A yaitu hematuglunin dilambangkan dengan H
dan protein neuramidase dilambangkan dengan N. (Pohan, 2014, p. 721)

Flu burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus
influenza yang menyerang burung / unggas dan manusia. Salah satu tipe yang
diwaspadai adalah yang disebabkan oleh influenza dengan kode genetic
H5N1 ( H: hematuglutinin, N: neuramidase). (Nurarif, 2015, p. 1)

1.2 Batasan Masalah


Pada pembahasan ini hanya memahami konsep dan melaksanakan Asuhan
keperawatan pada pasien dengan penyakit flu burung.

1.3 Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep penyakit flu burung?


2. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien flu burung ?

1.4 Tujuan Penulisan

1.4.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui, memahami, dan menambah pengetahuan/wawasan tentang


asuhan keperawatan pada pasien flu burung.

1.4.2 .Tujuan Khusus

1. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami definisi flu burung


2. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami penyebab atau etiologi dari flu
burung.
3. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami patofisiologi flu burung
4. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami manifestasi klinis flu burung
5. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami penatalaksanaan flu burung
6. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami pecegahan flu burung
BAB II

KONSEP DASAR PENYAKIT

A. Definisi Flu Burung


Flu burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza yang
menyerang burung/unggas dan manusia. Salah satu tipe yang diwaspadai adalah oleh
influenza dengan kode genetik H5N1 (H : Haemagglutinin, N : Neuramidase). (Nurarif,
2015, p. 1)

Influenza burung, atau avian influenza merupakan penyakit infeksi akibat virus influenza
tipe A yang biasa mengenai unggas. Virus influenza sendiri termasuk dalam family
orthomyxoviruses yang terdiri dari 3 tipe yaitu, A, B, dan C. (Setiati, 2014, p. 721)

Mutasi Gen Virus

1. Antigenic Drift : Perubahan susunan asam amino terjadi pada waktu gen
melakukan enconding antigen permukaan setiap kali virus bereplikasi
menghasilkan galur baru
2. Antigenic Shift : Terjadi apabila 2 virus yang berbeda dari 2 penjamu berbeda
menginfeksi penjamu lain. Akan menghasilkan virus baru kemungkinan mampu
untuk menginfeksi penjamu lain termasuk manusia , contoh babi yang terinfeksi
virus flu burung dan virus human.

Cara Penularan

Bahan Infeksius :

 Tinja
 Sekret Saluran Nafas
 Penularan melalui udara , kontak langsung
 Penularan dari unggas ke unggas , hewan lain dan manusia
 Unggas yang terinfeksi menular pada 2 minggu pertama dari ludah secret
hidung dan tinja.
 Dapat menular dari tinja yang terdapat pada alat dan pakaian
 Sesudah 4 minggu tak dapat di deteksi.
 Penularan dari manusia ke manusia belum terbukti.

Kelompok Resiko Tinggi

 Pekerja peternakan / pemprosesan unggas ( termasuk dokter hewan dll )


 Pekerja lab yang memproses sample pasien / hewan terjangkit
 Pengunjung peternakan / pemprosesan unggas dalam 1 minggu terakhir
 Kontak dengan penderita flu burung
B. Etiologi

 Virus influenza tipe A


 Termasuk dalam famili orthomyxoviruses dengan penyebaran melalui udara (
droplet infection )
 Dapat berubah –ubah bentuk
 Terdiri dari hemaglutinin ( H ) Neuromidase ( N).Kedua huruf digunakan sebagai
identifikasi kode sub tipe flu burung yang banyak jenisnya.
 Pada manusia hanya terdapat jenis H1N1, H3N3, H5N1, H9N2, H7N7, sedangkan
pada binatang H1N5 dan H1N9.
 Strain yang sangat virulen / ganas dan menyebabkan flu burung adalah dari sub
tipe A H5N1
 Virus tersebut dapat bertahan di air sampai 4 hari pada suhu 22ºC dan lebih dari
30 hari 0ºC.
 Virus akan mati pada pemanasan 60ºC selama 30menit / 56 ºC selama 3jam
dengan detergen, desinfektan missal formalin cairan yang mengandung iodine .

C. Patofisiologi

Flu burung bisa menulari manusia bila manusia bersinggungan langsung dengan
ayanm atau melalui tinja, yang kemudian mengering dan hancur menjadi semacam
bubuk. Bubuk inilah yang di hirup oleh manusia atau binatang lainnya. Menurut WHO ,
flu burung lebih mudah menular dari unggas ke manusia di banding dari manusia ke
manusia . Belum ada bukti penyebaran dari manusia ke manusia , dan juga belum terbukti
penularan pada manusia lewat daging yang dikomsumsi . Satu-satunya cara virus flu
unggas yang terinfeksi flu burung.Virus flu burung hidup di saluran pencernaan unggas.
Unggas yang terinfeksi dapat pula mengeluarkan virus ini burung dapat menyebar dengan
mudah dari manusia ke manusia adalah jika virus flu burung tersebut bermutasi dan
bercampur dengan virus flu manusia.
Virus ditularkan melalui saliva dan feses unggas . Penularan pada manusia karena
kontak langsung , misalnya karena menyentuh unggas secara langsung ,juga dapat terjadi
melalui kendaraan yang mengangkut binatang itu , di kandangnya dan alat-alat
peternakan (termasuk melalui pakan ternak ). Penularan dapat juga terjadi melalui
pakaian ,termasuk sepatu para peternak yang langsung menangani kasus unggas yang
sakit dan pada jual beli ayam hidup dipasar serta berbagai mekanisme lain. Kemampuan
virus flu burung adalah membangkitkan hampir keseluruh respon “ bunuh diri “ dalam
sistem imunitas tubuh manusia . Makin banyak virus itu tereplikasi , makin banyak pula
produksi sitokin protein dalam tubuh yang memicu peningkatan respon imunitas dan
berperan penting dalam peradangan . Sitokin yang membanjiri aliran darah karena virus
yang bertambah banyak , justru melukai jaringan tubuh (efek bunuh diri ).
Gejalanya yang ditunjukkan pada kasus seperti demam, batuk, sakit tenggorokan,
sakit kepala,nyeri otot dan sendi, sampai infeksi selaput mata ( conjungtivitis ). Bila
keadaan memburuk , dapat juga terjadi severe respiratory distress yang ditandai dengan
sesak nafas hebat , rendahnya kadar oksigen darah serta meningkatkan kadar CO.
Keadaan ini umumnya terjadi karena infeksi flu yang menyebar ke paru dan
menimbulkan pneumonia. Radang paru ( pneumonia ) ini dapat disebabkan oleh virus itu
sendiri atau juga oleh bakteri yang masuk dan menginfeksi paru yang memang sedang
sakit akibat flu burung ini.

D. Manifestasi Klinis

1. Pada Unggas
 Jengger berwarna biru
 Borok di kaki
 Ada cairan pada mata dan hidung sehingga terjadi gangguan pernafasan
 Keluar cairan jernih sampai ketal dari rongga mulut
 Diare
 Haus berlebihan dan cangkang telur lembek
 Kematian mendadak dalam waktu 2 hari,maksimal 1 minggu
2. Pada Manusia
 Demam ( suhu >38ºC )
 Batuk dan nyeri tenggorokan
 Radang saluran pernafasan atas
 Pneumonia
 Infeksi mata
 Nyeri otot

- Masa Inkubasi
1) Pada Unggas
- 1 minggu
2) Pada Manusia
- 1-3 hari
- Masa infeksi 1 hari sebelum sampai 3-5 hari sesudah timbul gejala
- Pada anak 21 hari
E. Pathway
F. Pemeriksaan Penunjang

 Pemeriksaan Kimia Darah

Albumin, globulin, SGOT, SGPT, Ureum, Kreatinin Kinase, Analisis gas darah.
Umumnya dijumpai penurunan albumin, peningkatan SGOT dan SGPT, peningkatan
ureum dan kreatinin, peningkatan kreatin kinase. Analisis Gas Darah dapat normal atau
abnormal. Kelainan laboratorium sesuai dengan perjalanan penyakit dan komplikasi yang
ditemukan.

 Pemeriksaan Hematologi

Hemoglobin, leukosit, trombosit, hitung jenis leukosit, limfosit total. Umumnya


ditemukan lekopeni, limfositopeni dan trombositopeni.

 Uji RT-PCR (Reverse transcription Polymerase Chain Reaction) untuk H5


 Biakan dan identifikasi virus influenza A suptipe H5N1
 Uji serologi
 Uji penapisan : rapid test mendeteksi influenza A, ELISA untuk mendeteksi H5N1
 Pemeriksaan Radiologik

Pemeriksaan foto toraks PA dan lateral harus dilakukan pada setiap tersangka flu
burung. Gambaran infiltrat di paru menunjukkan bahwa kasus ini adalah penumonia.
Pemeriksaan lain yang dianjurkan adalah pemeriksaan CTScan untuk kasus dengan
gejala klinik flu burung tetapi hasil foto toraks normal sebagai langkah diagnostik dini.

 Pemeriksaan Post Mortem

Pada pasien yang meninggal sebelum diagnosis flu burung tertegakkan, dianjurkan
untuk mengambil sediaan postmortem dengan jalan biopsi pada mayat (necropsi),
specimen dikirim untuk pemeriksaan patologi anatomi dan PCR.

G. Klasifikasi

Penderita Komfirm H5N1 dapat dibagi dalam 4 kategori sesuai beratnya penyakit (
MOPH Thailad,2005 )
Derajat 1 : Penderita tanpa pneumonia
Derajat II : Penderita dengan pneumonia derajat sedang
Derajat III : Penderita dengan pneumonia berat dan dengan gagal nafas
Derajat IV : Pasien dengan pneumonia berat dan Acute Respiratory Distress Syndrome
(ARDS ) atau dengan Multiple Organ Failure
H. Penatalaksaan

1. Fasilitas Pelayanan Kesehatan Non Rujukan


- Pasien suspek flu burung langsung diberikan oseltavimir 2 x 75 mg (jika anak,
sesuai dengan berat badan) lalu dirujuk ke RS flu burung.
- Untuk puskesmas terpencil pasien diberi pengobatan oseltavimir sesuai skoring
dibawah ini, sementara paa puskesmas yang tidak terpencil langsung dirujuk
ker RS rujukan. Kriteria pemberian oseltavimirdengan system skoring,
dimodifikasi dari hasil pertemuan workshop “case management” & dan
pengembangan laboratorium regional avian influenza, Bandung 20-23 april
2006

Skor/ gejala 1 2
Demam <38*C >_38*C
RR N >N
Ronki Tidak ada Ada
Leucopenia Tidak ada Ada
Kontak Tidak ada Ada
Jumlah Tidak ada Ada

Skor:

6-7 = evalusi ketat, apabila meningkat (>7) diberikan oseltamivir

>7 = diberi oseltamivir

Batasan frekuensi napas :

<2bl = >60x/menit

2bl – <12bl = >50x/menit

>1 th – <5th = >40x/menit

5 th – 12 th = >30x/menit

>13 = >20x/menit

Jika tidak terdapat fasilitas pemeriksaan leukosit maka pasien dianggap sebagai
leukopeni (skor=2)
2. Pelayanan di Rumah Sakit Rujukan
- Pasien suspek H5N1, probable, dan konfirmasi dirawat diruang isolasi.
- Petugas triase memakai APD, kemudian segera mengirim paien ke ruang
pemeriksaan.
- Petugas yang masuk keruangan pemeriksaan tetap menggunakan APD dan
melakukan kewaspadaaan standar.
- Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik.
- Setelah pemeriksaan awal, pemeriksaan rutin (hematologi dan kimia) diulang
setiap hari sedangkan HI diulang pada hari kelima dan pada waktu pasien
pulang.
- Pemeriksaan PCR dilakukan pada hari pertama kedua, dan ketiga perawatan
- Pemeriksaan serologi dilakukan dan diulang setiap lima hari.
- Penatalaksanaan diruang rawat inap

 Perhatikan : keadaan umum, kesadaran, tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, frekuensi
napas, dan suhu), bila fasilitas tersedia, pantau saturasi oksigen dengan alat pulse
oxymetry.
 Terapi suportif : oksigen, cairan, dll. (Nurarif, 2015, p. 3)

3. Profilaksis menggunakan oseltamivir

I. Pencegahan

Pengendalian adalah aspek yang sangat penting dalam pencegahan transmisi walaupun
belum ada bukti sahih adamya penularan dari manusia ke manusia yang berkelanjutan.
Pencegahan transmisi dilakukan dengan melakukan perawatan isolasi dan perawatan
pengendalian infeksi secara ketat menggunakan alat pelindung personal dan metode
kewaspadaan isolasi yang baik. Selain kewaspadaan standar ( cuci tangan,sarung tangan,
penggunaan bahan dekontaminan / desinfektan ) perlu dilakukan pula kewaspadaan
berdasar transmisi sesuai cara penularan ( kontak droplet dan airbone ). Penggunaan
limbah juga bagian yang sangat penting untuk pencegahan penularan .Adapun
pencegahannya baik pada hewan ataupun pada manusia :
a. Pada Unggas
1. Pemusnahan Unggas / burung yang terinfeksi flu burung
2. Vaksinasi pada unggas yang sehat
b. Pada Manusia
1. Kelompok beresiko tinggi ( pekerja peternakandan pedagang )
1) Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja
2) Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinfeksi
flu burung
3) Menggunakan alat pelindung diri ( contoh : masker dan pakaian
kerja)
4) Meninggalkan pakaian kerja ditempat kerja
5) Membersihkan kotoran unggas setiap hari
2. Masyarakat umum
1) Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi dan
istirahat cukup
2) Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu :
- Pilih unggas yang sehat ( tidak terdapat gejala-gejala
penyakit pada tubuhnya )
- Memasak daging ayam sampai dengan suhu ± 800 selama 1
menit dan pada telur sampai dengan suhu ± 64ºC selama 45
menit.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN FLU BURUNG

I. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian mencakup dan data yang dikumpulkan melalui wawancara, keluhan
utama, pengumpulan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang.
1. Identitas atau biodata klien
Meliputi nama lengkap, tempat tanggal lahir, asal suku bangsa, nama orang tua,
pekerjaan orang tua, dan penghasilan.
2. Keluhan Utama
Panas tinggi > 38ºC lebih dari 3 hari, pilek, batuk, sesak nafas, sakit kepala, nyeri
otot, sakit tenggorokan.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
a. Suhu badan meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada.
b. Infeksi paru
c. Batuk dan Pilek
d. Infeksi selaput mata
4. Pemeriksaan Fisik
a. Kulit: Tidak terjadi infeksi pada sistem integument
b. Mata : orang yang terkena flu burung sclera merah ,adanya nyeri takan,
infeksi selaput mata.
c. Mulut dan Lidah : Lidah kotor mulutnya kurang bersih, mukosa bibir kering.
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam menegakkan diagnose yang
tepat, sehingga dapat memberikan terapi yang tepat pula, pemerksaan yang perlu
dilakukan pada orang yang mengalami flu burung, yaitu pemeriksaan
laboratoriumdilakukan dengan pemeriksaan darah.

II. Diagnosa Keperawatan

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d penigkatan produksi sekret, sekresi


tertahan, tebal ,sekresi kental akibat influenza.
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan gangguan suplai oksigen ( obstruksi
jalan nafas oleh sekresi )
3. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispneu
dan anoreksia.

III. RencanaTindakan Keperawatan

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d penigkatan produksi sekret, sekresi


tertahan, tebal ,sekresi kental akibat influenza.
Tujuan : Setelah diberikan intervensi selama 1 x 24 jam jalan nafas kembali
efektif
Kriteria hasil :
a. Mempertahankan kepatenan jalan nafas dengan bunyi nafas bersih atau jelas
b. Mengeluarkan atau membersihkan secret
Intervensi :
a) Auskultasi bunyi nafas .Catat adanya bunyi nafas ,missal mengikrekels,ronki
Rasional : Berapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan
nafas dan dapat / tidak dimanifestasikan adanya bunyi nafas
adventisius,missal penyebaran ,krekels basah ( bronchitis ), bunyi nafas
redup dengan ekspirasi mengi ( emfisema ) atau tak adanyabunyi nafas (
asma berat )
b) Kaji frekuensi pernapasan. Catat rasio inspirasi/ ekspirasi
Rasional : takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan
pada penerimaan atau selama stress / adanya proses infeksi akut. Pernapasan
dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding insprasi.
c) Catat adanya derajat dispnea, misal keluhan “ lapar udara “, gelisah, ansietas,
distress pernapasan , penggunaan otot bantu.
Rasional : Disfungsi pernapasan adalah variable yang tergantung pada tahap
proses kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit
misal: infeksi,reaksi alergi.
d) Kaji pasien untuk posisi yang nyaman ,misal: peninggian kepala tempat
tidur,duduk pada sandaran tempat tidur.
Rasionalnya : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi
pernapasan dengan menggunakan grafitasi. Namun,pasien dengan distress
berat akan mencari posisi yang paling mudah untuk bernapas. Songkongan
tangan/kaki dengan meja ,bantal , dan lain-lain membantu menurunkan
kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada.
e) Pertahankan polusi lingkungan minimum mis.,debu, asap, dan bulu bantal
yang berhubungan dengan kondisi individu.
Rasionalnya : Pencetus tipe reaksi alergi pernapasan yang dapat mentriger
episode akut
f) Dorong / bantu latihan nafas abdomen atau bibir.
Rasionalnya : Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan
mengontrol dispnea dan menurunkan jebakan udara.

2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan gangguan suplai oksigen ( obstruksi
jalan napas oleh sekresi)
Tujuan : Setelah dilakukan intervansi selama 1x 24 jam pertukaran gas kembali
normal
Kriteria hasil :
a. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigeni jaringan dengan GDA dalam
rentang normal ( PCO2 : 35-45 mmHG, PO2 : 80-100 mmHG ) dan tak ada
gejala distress pernapasan.
b. Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigensi.
Intervensi :
a) Kaji frekuensi , kedalaman pernapasan. Catat penggunaan otot
aksesori,napas bibir, ketidakmampuan bicara /berbincang.
Rasional : berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan atau
kronisnya proses penyakit.
b) Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang
mudah untukbernapas. Dorong napas dalam perlahan atau napas bibir
sesuaikebutuhan /toleransi individu
Rasional :Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi
dan latihan napas untuk menurunkan kolaps jalan napas, dispnea,dan kerja
napas.
c) Kaji awal secara rutin kulit dan warna membrane mukosa .
Rasional : Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku )atau sentral (
terlihat sekitar bibir atau daun telinga ). Keabu-abuan dan dianosis sentral
mengindikasikan beratnya hiposekmia.
d) Doron mengeluarkan sputum ;penghisapan bila diindikasikan.
Rasional : Kental,tebal, dan banyaknya sekresi adalah sumber utama
gangguan pertukaran pada jalan napas kecil .Penghisapan dibutuhkan bila
batuk tidak efektif.
e) Palpasi fremitus
Rasional :Penurunan getaran vibrasi diduga ada pengumpulan cairan atau
udara terjebak.
f) Awasi tingkat kesadaran / status mental.Selidiki adanya perubahan.
Rasional : Gelisah dan ansietas adalah manifestasi umum pada hipoksia.
GDA memburuk disertai bingung/samnolen menunjukkan disfungsi
serebral yang berhubungan dengan hipoksemia.
g) Evaluasi tingkat toleransi aktivitas. Berikan lingkungan tenang dan
nyaman.Batasi aktifitas pasien atau dorong untuk tidur /istirahat dikursi
selama fase akut .Mungkinkan pasien melakukan aktivitas secara bertahap
dan tingkatkan sesuai toleransi individu.
Rasional ; Selama distress pernapasan berat/akut/refraktori pasien secara
total tak mampu melakukan aktivitas sehari-hari karena hipoksemia dan
dispnea. Istirahat diselingi aktivitas perawatan masih penting dari program
pengobatan.Namun, program latihan ditujukan untuk menungkatkan
ketahanan dan kekuatan tanpa menyebabkan dispnea berat,dan dapat
meningkatkan rasa sehat.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnea dan
anoreksia
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi selama 3x24 jam nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil:
a. Menunjukkan peningkatan nafsu makan.
b. Mempertahankan atau meningkatkan berat badan.
Intervensi :
a) Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Catat derajat kesulitan
makan. Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh
Rasional : pasien distress pernapasan akut serimg anoreksia karena
dispnea,produksi sputum,dan obat.
b) Auskultasi bunyi usus
Rasional: Penurunan/hipoaktif bising usus menunjukkan penurunan
motilitas gaster dan konstipasi (komplikasi umum ) yang berhubungan
dengan pembatasan pemasukan cairan ,pilihan makanan buruk ,penurunan
aktifitas dan hipoksemia.
c) Berikan perawatan oral sering, buang secret, berikan wadah khusus untuk
sekali pakai dan tisu
Rasional: Rasa tak enak, baud an penampilan adalah pencegahan utama
terhadap nafsu makan dandapat membuat mual dan muntah dengan
peningkatan kesulitan napas.
d) Dorong periode istirahat semalam 1 jam sebelum dan sesudah makan.
Berikan makan porsi kecil tapi sering.
Rasional : Membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan dan
memberikan kesempatan untuk meningkatkanmasukan kalori total.
e) Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.
Rasional : Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu
napas abdomen dan gerakan diafragma,dan dapat meningkatkan dispnea.
f) Hindari makanan yang sangat pedas atau sangat dingin.
Rasional : Suhu ekstrim dapat mencetuskan/meningkatkan spasme batuk.
g) Timbang berat badan sesuai indikasi
Rasional : Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori, menyusun
tujuan berat badan , dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. Catatan :
Penurunan berat badan dapat berlanjut ,meskipun masukan adekuat
sesuai teratasinya edema.

IV. Implementasi Keperawatan


Setelah rencana tindakan keperawatan disusun secara sistemik. Selanjutnya rencana
tindakan tersebut diterapkan dalam bentuk kegiatan yang nyata dan terpadu guna
memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan yang diharapkan.

V. Evaluasi
Akhir dari proses keperawatan adalah ketentuan hasil yang diharapkan terhadap
perilaku dan sejauh mana masalah klien teratasi. Disamping itu perawat juga
melakukan umpan balik atau pengkajian ulang jika ditetapkan belum berhasil atau
teratasi.
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes,M.E2008.Rencana Asuhan Keperawatan ,Pedoman untuk pencegahan dan


pendokumentasian perawatan pasien ,Jakarta; EGC

Muttaqin ,Arif,2008,Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Pernapasan


,Jakarta;Salemba Medika.

Hidayat,A,A.Azis.2006.Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia ; Aplikasi konsep & proses


keperawatan ,Jakarta: Salemba Medika

Nanda Internasional 2010.Diagnosa Keperawatan ;Definisi dan Klasifikasi 2009-2011//Jakarta


EGC

Wilkinson,judih M 2006,Buku saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan kriteria
hasil NOC,Ed 7alih bahasa Widyawati,Jakarta:EGC

Mansjoer,Arif,dkk (2000).Kapita selekta kedokteran,jilid 2,Jakarta : Media Aesculapius.

Nurarif,A.H.(2015).Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda


Nic-Noc.jogyakarta ;MediAction.