Anda di halaman 1dari 31

PENDIDIKAN DALAM KEPERAWATAN

TENTANG PENYAKIT TOKSEMIK


“TETANUS”

DISUSUN OLEH :

ITA SUSIANTI

NIM 210260210121.p.

Pembimbing :

Pahlanasion,S.Sos,M.Kes

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKES BHAKTI HUSADA BENGKULU
TAHUN 2011
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat, hidayah, serta
karunianya saya dapat menyelesaikan Makalah ini tentang penyakit toksemik
“Tetanus”.Kedua kalinya Sholawat serta salam semoga tetap terlimpah curahkan
kepada junjungan habiibbana wanabiyyana Muhammad saw, yang insya Allah akan
diberikan syafa’at kapada kita semua di Yaumil qiyamah nanti. Amiin
Makalah ini saya susun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan
dalam keperawatan.Dan dengan segenap kerendahan hati tidak lupa kami ucapkan
terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian
makalah ini, terutama kepada para dosen mata kuliah tersebut.Saya menyadari dengan
segenap hati bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu, saya
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna kesempurnaan makalah
saya yang akan datang. Demikian atas perhatianya kami ucapkan terima kasih, semoga
makalah ini dapat bermanfa’at bagi kita semua Amiin.

Wassalamu’alaikum wr.wb

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang…………………………………………..…………...……..1
1.2 Rumusan Masalah….……………………………………………………….2
1.3 Tujuan Penulisan ………………………………………………………...…2
1.4 Metode Penulisan………………………………………………...…………3
1.5 Sistematika Penulisan……………………………………………………….3
BAB II SATUAN ACARA PEMBELAJARAN
2.1 Tujuan Pembelajaran…………………………………….….……..…....…..4
2.2 Metode………………………………………………………….…....…......5
2.3 Kegiatan Belajar Mengajar………………………………….…..…….…….5
2.4 Evaluasi………………………………………………….….…...……….….8
BAB III TINJAUAN TEORI
3.1 Definisi tetanus……………………………………………………………..9
3.2 Etiologi…………………………………………………………………..….9
3.3 Patofisiologi…………………………………………………………….….10
3.4 Perubahan Akibat Toksin Tetanus………………………………...……….13
3.5 Manifestasi Klinis……………………………………………………...…..17
3.6 Diagnosis…………………………………………………………………..19
3.7 Diagnosis Banding…………………………………….……………..……20
3.8 Komplikasi……………………………………………………………..….20
3.9 Penatalaksanaan……………………………………………………..…….21
3.10 Prognosis……………………………………………………………..…..25
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan……………………………..………………………………….27
4.2 Saran……………………………………………………………………….27
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam pencapaian pembangunan harus berawal dari upaya kesehatan.Upaya


kesehatan adalah setiap usaha untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang
dilakukan oleh individu, kelompok masyarakat, lembaga pemerintahan atau swadaya
masyarakat. Upaya untuk mewujudkan kesehatan tersebut dilihat dari empat aspek
yaitu : upaya pemeliharaan kesehatan yang meliputi kreatif (pengobatan) dan
rehabilatif (pemeliharaan kesehatan setelah sembuh dari sakit) dan upaya meningkatkan
kesehatan berupa preventive (pencegahan penyakit) dan promotif (peningkatan
kesehatan itu sendiri) (Notoadmojo, 2005)

Sedangkan menurut Depkes RI (2006) upaya yang dilakukan oleh sektor


kesehatan akan lebih mengutamakan upaya preventif dan promotif tanpa meninggalkan
upaya kuratif dan rehabilitatif yang terdapat dalam paradigma sehat untuk mencapai
sehat 2015.

Upaya tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan serta dengan


pembinaan secara terus menerus dan dilaksanakan bukan oleh sektor kesehatan saja
tetapi juga dibutuhkan peran serta masyarakat itu sendiri.Diantaranya yang melibatkan
peran serta masyarakat dan individu dalam upaya pencegahan pencegahan
penularan.Upaya tersebut tujuannya adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat dan juga untuk mengurangi angka kejadian penyebaran penyakit.

Penyakit tetanus masih sering ditemui di seluruh dunia dan merupakan penyakit
endemik di 90 negara berkembang.Bentuk yang paling sering pada anak adalah tetanus
neonatorum yang menyebabkan kematian sekitar 500.000 bayi tiap tahun karena para
ibu tidak diimunisasi.Sedangkan tetanus pada anak yang lebih besar berhubungan
dengan luka, sering karena luka tusuk akibat objek yang kotor walaupun ada juga kasus
tanpa riwayat trauma tetapi sangat jarang, terutama pada tetanus dengan masa inkubasi
yang lama.Spora Clostridium tetani dapat ditemukan dalam tanah dan pada lingkungan
yang hangat, terutama di daerah rural dan penyakit ini menjadi masalah kesehatan
masyarakat yang utama di negara berkembang.
Angka kejadian dan kematian karena tetanus di Indonesia masih
tinggi.Indonesia merupakan negara ke-5 diantara 10 negara berkembang yang angka
kematian tetanus neonatorumnya tinggi. Pada tahun 1988 jumlah kematian neonatus
54633 dan pada tahun 1992 berjumlah 33264 sedangkan angka kematian tetanus
neonatorum pada tahun 1988 sebesar 10,9 ‰ dan tahun 1992 sebesar 7,3 ‰. Angka
tersebut cukup tinggi bila dibandingkan dengan negara tetangga yakni Vietnam dengan
jumlah kematian karena tetanus neonatorum tahun 1988 sebanyak 9598 dan tahun 1992
berjumlah 85550 dan angka kematian tahun 1988 dan 1992 adalah 4.8 ‰ dan 4,2 ‰
secara berurutan.

Prognosis tetanus ditentukan salah satunya adalah dengan penatalaksanaan yang tepat
dan dilakukan secara intensif. Penyakit tetanus pada neonatus mempunyai case fatality
rate yang tinggi (70-90%) sehingga bila tetanus dapat didiagnosis secara dini dan
ditangani dengan baik maka dapat lebih menurunkan angka kematian.

Penatalaksanaan yang baik ditentukan antara lain oleh pemahaman yang tepat
mengenai patofisiologi, manifestasi klinik, diagnosis, komplikasi, penatalaksanaan dan
prognosis dari penyakit tetanus.

1.2 Rumusan masalah

Dari uraian di atas, maka didapatkan rumusan masalahnya yaitu : Apakah yang
dimaksud dengan Tetanus serta hal-hal yang berhubungan dengan tetanus.

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan dari pembuatan makalah ini yaitu:
1. agar mahasiswa dapat mengetahui definisi dari tetanus
2. agar mahasiswa dapat mengetahui etiologi tetanus
3. agar mahasisiwa dapat mengetahui patofisiologi tetanus
4. agar mahasiswa dapat mengetahui perubahan akibat toxin tetanus
5. agar mahasiswa dapat mengetahui manifestasi klinik dari tetanus
6. agar mahasiswa dapat mengetahui diagnosis dan komplikasi tetanus
7. agar mahasiswa dapat mengetahui penatalaksanaan tetanus
1.4 Metode Penulisan

Dalam menyusun dan mengerjakan tugas ini penulis menggunakan metode studi
literatur, yaitu penulis mengumpulkan data berdasarkan literatur-literatur yang
berkaitan dengan Tetanus.

1.5 Sistematika penulisan

Pada makalah ini, penulis menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut.


Bab I pada makalah ini menguraikan tentang latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penulisan, cara memperoleh data, dan sistematika penulisan. Bab
II pada makalah ini menguraikan tentang Satuan Acara Pembelajaran (SAP)
tentang penyakit tetanus.Pada Bab III makalah ini menguraikan tentang tinjauan
teoritis tetanus, yaitu dari pengertian sampai penatalaksanaan tetanus.Bab IV
pada makalah ini menguraikan tentang kesimpulan dan saran.
BAB II
SATUAN ACARA PEMBELAJARAN
( SAP )

IDENTITAS MATA KULIAH


Mata kuliah : Pendidikan Dalam Keperawatan
SKS : 3 SKS
Program studi : Ilmu Keperawatan
Semester : IV (empat)
Pokok Bahasan : Penyakit Toksemik
Sub Pokok Bahasan :
1. Definisi Tetanus
2. Etiologi, Patofisiologi tetanus
3. Manifestasi klinis dan perubahan akibat toxin tetanus
4. Diagnosis serta diagnosis banding
5. Komplikasi tetanus
6. Penatalaksanaan tetanus

Waktu pertemuan : 30 menit


Pertemuan ke :1

2.1 TUJUAN PEMBELAJARAN


2.1.1 Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah menyelesaikan perkuliahan ini diharapkan mahasiswa mampu
menjelaskan tentang tetanus.
2.1.2 Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti perkuliahan ini diharapkan mahasiswa mampu :
a. Menjelaskan mengenai definisi tetanus
b. Mengidentifikasipenyebab dan patofisiologi tetanus
c. Menerangkan gejala yang timbul
d. Memahami diagnosis dan kompliasi yang timbul
e. Menjelaskan penatalaksanaan penyakit tetanus
2.2 METODE
1. Ceramah
2. Diskusi
3. Tanya Jawab

2.3 KEGIATAN BELAJAR – MENGAJAR

Tahap Kegiatan pengajar Kegiatan Media & Metode


mahasiswa alat
I 1. Memberikan salam Menjawab salam - Ceramah
5 menit pembuka dan dan
memperkenalkan diri Memperhatikan
2. Menginformasikan materi Memperhatikan - Ceramah
yang akan disampaikan
3. Menjelaskan tujuan yang Memperhatikan - Ceramah
ingin dicapai pada akhir
perkuliahan ini
4. Menjelaskan manfaat dan Memperhatikan - Ceramah
relevansi pokok bahasan ini
dengan profesi ilmu
keperawatan
5. Melakukan apersepsi Memberi - Ceramah
mengenai tetanus sumbang saran

II 6. Menerangkan tentang Memperhatikan - Ceramah


10 menit definisi tetanus
7. Menanyakan kepada Menjawab - Tanya
mahasiswa tentangdefinisi pertanyaan jawab
tetanus
a. Menuliskan jawaban
mahasiswa di papan Memberikan Whiteboard, -
tulis sumbang saran spidol
b. Mengklarifikasi
jawaban mahasiswa Memperhatikan - Ceramah
c. Menjelaskan kepada Memperhatikan Projector, Ceramah
mahasiswa dan mencatat Laptop
tentangdefinisi tetanus
8. Menjelaskan penyebab dan
mekanisme perjalanan
penyakit tetanus
a. Meminta mahasiswa Berdiskusi - Diskusi
untuk berdiskusi dengan dengan teman di
teman di sebelahnya sebelahnya
tentang penyebab dan
mekanisme perjalanan
penyakit tetanus
b. Meminta mahasiswa Memberi - Diskusi
untuk menyampaikan sumbang saran
hasil diskusinya
c. Menjelaskan tentang Memperhatikan Projector, Ceramah
penyebab dan dan mencatat Laptop
patofisiologi tetanus
9. Menjelaskan manifestasi
klinis (tanda dan gejala)
tetanus
a. Meminta mahasiswa Berdiskusi - Diskusi
untuk berdiskusi dengan dengan teman di
teman di sebelahnya sebelahnya
tentang tanda dan gejala
tetanus
b. Meminta mahasiswa Memberi - Diskusi
untuk menyampaikan sumbang saran
hasil diskusinya
c. Menjelaskan tentang Memperhatikan Projector, Ceramah
tanda dan gejala tetanus dan mencatat Laptop
10. Menjelaskan tentang
diagnosis dan komplikasi
yang timbul
a. Meminta mahasiswa Berdiskusi - Diskusi
untuk berdiskusi dengan dengan teman di
teman di sebelahnya sebelahnya
tentang diagnosis dan
komplikasi tetanus
b. Meminta mahasiswa Memberi - Diskusi
untuk menyampaikan sumbang saran
hasil diskusinya
c. Menjelaskan tentang Memperhatikan Projector, Ceramah
diagnosis dan dan mencatat Laptop
komplikasi tetanus

11. Menjelaskan tentang


penatalaksanaan tetanus
a. Meminta mahasiswa Berdiskusi - Diskusi
untuk berdiskusi dengan dengan teman di
teman di sebelahnya sebelahnya
tentang peatalaksanaan
tetanus
b. Meminta mahasiswa Memberi - Diskusi
untuk menyampaikan sumbang saran
hasil diskusinya
c. Menjelaskan tentang Memperhatikan Projector, Ceramah
penatalaksanaan tetanus dan mencatat Laptop

III 12. Memberi kesempatan pada Mengajukan Ceramah


-
10 menit mahasiswa untuk bertanya pertanyaan
tentang materi yang telah
disampaikan
13. Memberi kesempatan pada Menjawab - Tanya
mahasiswa lain untuk pertanyaan jawab
menjawab pertanyaan
14. Menjawab dan menjelaskan Memperhatikan Tanya
kembali tentang pertanyaan - jawab
mahasiswa
15. Mengajukan beberapa Memberikan - Ceramah
pertanyaan mengenai materi sumbang saran
yang telah diberikan untuk
mengevaluasi mahasiswa
16. Memberi kesempatan pada Memberi - Tanya
mahasiswa untuk menjawab jawaban jawab
pertanyaan

-
IV 17. Menyimpulkan materi yang Memperhatikan Ceramah
5 menit telah disampaikan
18. Memberikan gambaran Memperhatikan - Ceramah
tentang materi yang akan
datang
19. Memberikan tugas Memperhatikan - Ceramah
membaca.
20. Mengucapkan salam Menjawab salam - Ceramah
penutup

2.4 Evaluasi
1. Apakah yang dimaksud dengan Tetanus?
2. Jelaskan manifestasi klinis dan perubahan yang terjadi akibat toxin tetanus?
3. Jelaskan penatalaksanaan penyakit tetanus?
BAB III
TINJAUAN TEORITIS

3.1 Definisi Tetanus

Tetanus adalah penyakit yang mengenai sistem saraf yang disebabkan oleh
tetanospasmin yaitu neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani.Penyakit ini
ditandai oleh adanya trismus, disfagia, dan rigiditas otot lokal yang dekat dengan
tempat luka, sering progresif menjadi spasme otot umum yang berat serta diperberat
dengan kegagalan respirasi dan ketidakstabilan kardiovaskular.Gejala klinis tetanus
hampir selalu berhubungan dengan kerja toksin pada susunan saraf pusat dan sistem
saraf autonom dan tidak pada sistem saraf perifer atau otot.

3.2 Etiologi

Clostridium tetani merupakan organisme obligat anaerob, batang gram positif,


bergerak, ukurannya kurang lebih 0,4 x 6 μm. Mikroorganisme ini menghasilkan spora
pada salah satu ujungnya sehingga membentuk gambaran tongkat penabuh drum atau
raket tenis. Spora Clostridium tetani sangat tahan terhadap desinfektan kimia,
pemanasan dan pengeringan.Kuman ini terdapat dimana-mana, dalam tanah, debu jalan
dan pada kotoran hewan terutama kuda.Spora tumbuh menjadi bentuk vegetatif dalam
suasana anaerobik.Bentuk vegetatif ini menghasilkan dua jenis toksin, yaitu tetanolisin
dan tetanospasmin.Tetanolisin belum diketahui kepentingannya dalam patogenesis
tetanus dan menyebabkan hemolisis in vitro, sedangkan tetanospasmin bekerja pada
ujung saraf otot dan sistem saraf pusat yang menyebabkan spasme otot dan kejang.

Gambar Mikroskopik Clostridium tetani.


3.3 Patofisiologi

Clostridium tetani masuk ke dalam tubuh manusia biasanya melalui luka dalam bentuk
spora. Penyakit akan muncul bila spora tumbuh menjadi bentuk vegetatif yang
menghasilkan tetanospasmin pada keadaan tekanan oksigen rendah, nekrosis jaringan
atau berkurangnya potensi oksigen.

Masa inkubasi dan beratnya penyakit terutama ditentukan oleh kondisi luka.Beratnya
penyakit terutama berhubungan dengan jumlah dan kecepatan produksi toksin serta
jumlah toksin yang mencapai susunan saraf pusat.Faktor-faktor tersebut selain
ditentukan oleh kondisi luka, mungkin juga ditentukan oleh strain Clostridium
tetani.Pengetahuan tentang patofisiologi penyakit tetanus telah menarik perhatian para
ahli dalam 20 tahun terakhir ini, namun kebanyakan penelitian berdasarkan atas
percobaan pada hewan.

3.3.1 Penyebaran toksin

Toksin yang dikeluarkan oleh Clostridium tetani menyebar dengan berbagai cara,
sebagai berikut :

1.Masuk ke dalam otot


Toksin masuk ke dalam otot yang terletak dibawah atau sekitar luka, kemudian ke
otot-otot sekitarnya dan seterusnya secara ascenden melalui sinap ke dalam susunan
saraf pusat.
2.Penyebaran melalui sistem limfatik
Toksin yang berada dalam jaringan akan secara cepat masuk ke dalam nodus
limfatikus, selanjutnya melalui sistem limfatik masuk ke peredaran darah sistemik.
3.Penyebaran ke dalam pembuluh darah.
Toksin masuk ke dalam pembuluh darah terutama melalui sistem limfatik, namun
dapat pula melalui sistem kapiler di sekitar luka. Penyebaran melalui pembuluh
darah merupakan cara yang penting sekalipun tidak menentukan beratnya penyakit.
Pada manusia sebagian besar toksin diabsorbsi ke dalam pembuluh darah, sehingga
memungkinkan untuk dinetralisasi atau ditahan dengan pemberian antitoksin
dengan dosis optimal yang diberikan secara intravena.Toksin tidak masuk ke dalam
susunan saraf pusat melalui peredaran darah karena sulit untuk menembus sawar
otak. Sesuatu hal yang sangat penting adalah toksin bisa menyebar ke otot-otot lain
bahkan ke organ lain melalui peredaran darah, sehingga secara tidak langsung
meningkatkan transport toksin ke dalam susunan saraf pusat.
4.Toksin masuk ke susunan saraf pusat (SSP)
Toksin masuk kedalam SSP dengan penyebaran melalui serabut saraf, secara
retrograd toksin mencapai SSP melalui sistem saraf motorik, sensorik dan
autonom.Toksin yang mencapai kornu anterior medula spinalis atau nukleus
motorik batang otak kemudian bergabung dengan reseptor presinaptik dan saraf
inhibitor.

3.3.2 Hubungan antar bentuk manifestasi klinis dengan penyebaran toksin:

Tetanus lokal
Pada bentuk ini, penderita biasanya mempunyai antibosi terhadap toksin tetanus
yang masuk ke dalam darah, namun tidak cukup untuk menetralisir toksin yang
berada di sekitar luka.
Tetanus sefal
Merupakan bentuk tetanus lokal yang mengikuti trauma pada kepala.Otot-otot yang
terkena adalah otot-otot yang dipersarafi oleh nukleus motorik dari batang otak dan
medula spinalis servikalis.
Ascending Tetanus
Suatu bentuk penyakit tetanus yng pada awalnya berbentuk lokal biasanya
mengenai tungkai dan kemudian menyebar mengenai seluruh tubuh. Setelah terjadi
tetanus lokal, toksin disekitar luka masuk cukup banyak dengan cara asenderen
masuk ke dalam SSP.
Tetanus umum
Pada keadaan ini toksin melalui peredaran darah masuk ke dalam berbagai otot dan
kemudian masuk ke dalam SSP. Penyakit ini biasanya didahului trismus kemudian
mengenai otot muka, leher, badan dan terakhir ekstremitas. Hal ini disebabkan
panjang sistem persarafan setiap tempat berbeda-beda, yang paling pendek adalah
yang mengurus otot-otot rahang, kemudian secara berurutan mengenai daerah lain
sesuai urutan panjang saraf.

3.3.3 Mekanisme kerja toksin tetanus:


1.Jenis toksin

Clostridium tetani menghasilkan tetanolisin dan tetanospsmin.Tetanolisin


mempunyai efek hemolisin dan protease, pada dosis tinggi berefek kardiotoksik dan
neurotoksik.Sampai saat ini peran tetanolisin pada tetanus manusia belum diketahui
pasti.Tetanospasmin mempunyai efek neurotoksik, penelitian mengenai patogenesis
penyakit tetanus terutama dihubungkan dengan toksin tersebut.

2.Toksin tetanus dan reseptornya pada jaringan saraf

Toksin tetanus berkaitan dengan gangliosid ujung membran presinaptik, baik


pada neuromuskular junction, mupun pada susunan saraf pusat. Ikatan ini penting
untuk transport toksin melalui serabut saraf, namun hubungan antara pengikat dan
toksisitas belum diketahui secara jelas.Lazarovisi dkk (1984) berhasil
mengidentifikasikan 2 bentuk toksin tetanus yaitu toksin A yang kurang
mempunyai kemampuan untuk berikatan dengan sel saraf namun tetap mempunyai
efek antigenitas dan biotoksisitas, dan toksin B yang kuat berikatan dengan sel
saraf.

Normal:
Inhibitory interneuron  Glycine
 blocks excitation & acetylcholine release  muscle relaxation

Tetanus toxin:
Blocks glycine release
no inhibition at acetylcholine release  irreversible contraction  Spastic
paralysis

3.Kerja toksin tetanus pada neurotransmitter

Tempat kerja utama toksin adalah pada sinaps inhibisi dari susunan saraf pusat,
yaitu dengan jalan mencegah pelepasan neurotransmitter inhibisi seperti glisin,
Gamma Amino Butyric Acid (GABA), dopamin dan noradrenalin.GABA adalah
neuroinhibitor yang paling utama pada susunan saraf pusat, yang berfungsi
mencegah pelepasan impuls saraf yang eksesif. Toksin tetanus tidak mencegah
sintesis atau penyimpanan glisin maupun GABA, namun secara spesifik
menghambat pelepasan kedua neurotransmitter tersebut di daerah sinaps dangan
cara mempengaruhi sensitifitas terhadap kalsium dan proses eksositosis.

3.4 Perubahan akibat toksin tetanus:

1.Susunan saraf pusat

Efek terhadap inhibisi presinap menimbulkan keadaan terjadinya letupan listrik


yang terus-menerus yang disebut sebagai Generator of pathological enhance
excitation.Keadaan ini menimbulkan aliran impuls dengan frekuensi tinggi dari SSP
ke perifer, sehingga terjadi kekakuan otot dan kejang.Semakin banyak saraf inhibisi
yang terkena makin berat kejang yang terjadi. Stimulus seperti suara, emosi, raba
dan cahaya dapat menjadi pencetus kejang karena motorneuron di daerah medula
spinalis berhubungan dengan jaringan saraf lain seperti retikulospinalis. Kadang
kala ditemukan saat bebas kejang (interval), hal ini mungkin karena tidak semua
saraf inhibisi dipengaruhi toksin, ada beberapa yang resisten terhadap toksin.

Rasa sakit

Rasa sakit timbul dari adanya kekakuan otot dan kejang.Kadang kala ditemukan
neurotic pain yang berat pada tetanus lokal sekalipun pada saat tidak ada
kejang.Rasa sakit ini diduga karena pengaruh toksin terhadap sel saraf ganglion
posterior, sel-sel pada kornu posterior dan interneuron.

Fungsi Luhur

Kesadaran penderita pada umumnya baik.Pada mereka yang tidak sadar biasanya
brhubungan dengan seberapa besar efek toksin terhadap otak, seberapa jauh efek
hipoksia, gangguan metabolisme dan sedatif atau antikonvulsan yang diberikan.

2.Aktifitas neuromuskular perifer

Toksin tetanus menyebabkan penurunan pelepasan asetilkolin sehingga mempunyai


efek neuroparalitik, namun efek ini tertutup oleh efek inhibisi di susunan saraf
pusat. Neuroparalitik bisa terjadi bila efek toksin terhadap SSP tidak terjadi, namun
hal ini sulit karena toksin secara cepat menyebar ke SSP. Kadang-kadang efek
neuroparalitik terlihat pada tetanus sefal yaitu paralisis nervus fasialis, hal ini
mungkin n. fasialis lebih sensitif terhadap efek paralitik dari toksin atau karena
axonopathi.

Efek lain toksin tetanus terhadap aktivitas neuromuskular perifer berupa:

 Neuropati perifer.
 Kontraktur miostatik yang dapat berupa kekakuan otot, pergerakan otot yang
terbatas dan nyeri, yang dapat terjadi beberapa minggu sampai beberapa bulan
setelah sembuh.
 Denervasi parsial dari otot tertentu.

3. Perubahan pada sistem saraf autonom

Pada tetanus terjadi fluktuasi dari aktifitas sistem simpatis dan parasimpatis, hal ini
mungkin terjadi karena adanya ketidakseimbangan dari kedua sistem
tersebut.Mekanisme terjadinya disfungsi sistem autonom karena efek toksin yang
berasal dari otot (retrograd) maupun hasil penyebaran intraspinalis (dari kornu
anterior ke kornu lateralis medula spinalis torakal).Gangguan sistem autonom bisa
terjadi secara umum mengenai berbagai organ seperti kardiovaskular, saluran cerna,
kandung kemih, fungsi kendali suhu dan kendali otot bronkus, namun dapat pula
hanya mengenai salah satu organ tertentu.

4. Gangguan Sistem pernafasan

Gangguan sistem pernafasan dapat terjadi akibat :

a. Kekakuan dan hipertonus dari otot-otot interkostal, badan dan abdomen; otot
diafragma terkena paling akhir. Kekakuan dinding thorax apalagi bila kejang
yang terjadi sangat sering mengakibatkan keterbatasan pergerakan rongga dada
sehingga menganggu ventilasi. Tetanus berat sering mengakibatkan gagal nafas
yang ditandai dengan hipoksia dan hiperkapnia. Namun dapat terjadi takipnea
akibat aktifitas berlebihan dari saraf di pusat persarafan yang tidak terkena efek
toksin.
b. Ketidakmampuan untuk mengeluarkan sekret trakea dan bronkus karena adanya
spasme dan kekakuan otot faring dan ketidakmampuan untuk dapat batuk dan
menelan dengan baik. Sehingga terdapat resiko tinggi untuk terjadinya aspirasi
yang dapat menimbulkan pneumonia, bronkopneumonia dan atelektasis.
c. Kelainan paru akibat iatrogenik.

d.Gangguan mikrosirkulasi pulmonal

Kelainan pada paru bahkan dapat ditentukan pada masa inkubasi.Kelainan yang
terjadi bisa berupa kongesti pembuluh darah pulmonal, oedema hemorrhagic
pulmonal dan ARDS. ARDS dapat terjadi pula karena proses iatrogenik atau
infeksi sistemik seperti sepsis yang mengikuti penyakit tetanus.

e. Gangguan pusat pernafasan

Observaasi klinis dan percobaan binatang menunjukkan bahwa pusat pernafasan


dapat terkena oleh toksin tetanus.Paralisis pernafasan tanpa kekakuan otot dan
henti jantung dapat terjadi pada pemberian toksin dosis tinggi pada hewan
percobaan.Selain itu ditemukan bahwa penderita mengalami penurunan
resistensi terhadap asfiksia.

Observasi klinis yang menunjukkan kecurigaan keterlibatan pusat pernafasan


pada penderita tetanus adalah :

Adanya episode distres pernafasan akibat kesulitan bernafas yang berat tanpa
ditemukan adanya komplikasi pulmonal, bronkospasme dan peningkatan
sekret pada jalan nafas.Episode ini bervariasi dalam beberapa menit sampai
½-1 jam.

Adanya apnoeic spells, tanda ini biasanya berlanjut menjadi prolonged


respiratory arrest (henti nafas berkepanjangan) dan akhirnya meninggal.

Henti nafas akut dan mati mendadak.

Sekalipun demikian gangguan pusat pernafasan disebabkan oleh penyebab


sekunder seperti hipoksia rekuren/berkepanjangan, asfiksia kaena kejang lama
atau spasme laring, hipokapnia setelah serangan distres pernafasan, dan akibat
gangguan keseimbangan asam basa.

5. Gangguan hemodinamika

Ketidakstabilan sistem kardiovaskular ditemukan penderita tetanus dengan


gangguan sistem saraf autonom yang berat. Penelitian mengenai hemodinamika
pada tetanus berat masih sangat jarang dilakukan karena :

 Kendala etik.
 Perjalanan penyakit tetanus sering diperberat oleh komplikasi seperti sepsis,
infeksi paru, atelektasis, edema paru dan gangguan keseimbangan asam-
basa, yang kesemua ini mempengaruhi sistem kardio-respirasi
 Pemakaian obat sedatif dosis tinggi dan pemakaian obat inotropik
mempersulit penilaian dari hasil penelitian.

6. Gangguan metabolik

Metabolik rate pada tetanus secara bermakna meningkat dikarenakan adanya


kejang, peningkatan tonus otot, aktifitas berlebihan dari sistem saraf simpatik dan
perubahan hormonal.Konsumsi oksigen meningkat, hal ini pada kasus tertentu
dapat dikurangi dengan pemberian muscle relaxans.Berbagai percobaan
memperlihatkan adanya peningkatan ekskresi urea nitogen, katekolamin plasma dan
urin, serta penurunan serum protein terutama fraksi albumin.

Peninggian katekolamin meningkatkan metabolik rate, bila asupan oksigen tidak


dapat memenuhi kebutuhan tersebut, misalnya karena disertai masalah dalam sistem
pernafasan maka akan terjadi hipoksia dengan segala akibatnya. Katabolisme
protein yang berat, ketidakcukupan protein dan hipoksia akan menimbulkan
metabolisme anaerob dan mengurangi pembentukan ATP, keadaan ini akan
mengurangi kemampuan sistem imunitas dalam mengenali toksin sebagai antigen
sehingga mengakibatkan tidak cukupnya antibodi yang dibentuk. Fenomena ini
mungkin dapat menerangkan mengapa pada penderita tetanus yang sudah sembuh
tidak/kurang ditemukan kekebalan terhadap toksin.
7. Gangguan Hormonal

Gangguan terhadap hipotalamus atau jaras batang otak-hipotalamus dicurigai terjadi


pada penderita tetanus berat atas dasar ditemukannya episode hipertermia akut dan
adanya demam tanpa ditemukan adanya infeksi sekunder.Peningkatan alertness dan
awareness menimbulkan dugaan adanya aktifitas retikular dari batang otak yang
berlebihan.Aksis hipotalamus-hipofise mengandung serabut saraf khusus yang
merangsang sekresi hormon.Aktifitas sekresi oleh serabut saraf tersebut dimodulasi
monoamin neuron lokal. Adanya penurunan kadar prolaktin, TSH, LH dan FSH
yang diduga karena adanya hambatan terhadap mekanisme umpan balik hipofise-
kelenjar endokrin.

8. Gangguan pada sistem lain

Berbagai percobaan pada hewan percobaan ditemukan bahwa toksin secara


langsung dapat mengganggu hati, traktus gastro-intestinalis dan ginjal.Pengaruh
tersebut dapat berupa nefrotoksik terhadap nefron, inhibisi mitosis hepatosit dan
kongesti-pendarahan-ulserasi mukosa gaster.Namun secara klinis hal tersebut sulit
ditentukan apakah kelainan klinis seperti gangguan fungsi ginjal, fungsi hati dan
abnormalitas traktus gastrointestinal disebakan semata-mata karena efek toksin atau
oleh karena efek sekunder dari hipovolemia, shock, gangguan elektrolit dan
metabolik yang terganggu.

Secara teoritis ileus, distonia kolon, gangguan evakuasi usus besar dan retensi urin
dapat terjadi karena gangguan keseimbangan simpatis-parasimpatis karena efek
toksin baik di tingkat batang otak, hipotalamus maupun ditingkat saraf perifer
simpatis, parasimpatis.Disfungsi organ dapat pula terjadi sebagai akibat gangguan
mikrosirkulasi dan perubahan permeabilitas kapiler pada organ tertentu.

3.5 Manifestasi Klinis

Manifestsi klinis tetanus bervariasi dari kekakuan otot setempat, trismus sampai
kejang yang hebat.Masa timbulnya gejala awal tetanus sampai kejang disebut
awitan penyakit, yang berpengaruh terhadap prognostik.
Manifestasi klinis tetanus terdiri atas 4 macam yaitu:

a. Tetanus lokal

Tetanus lokal merupakan bentuk penyakit tetanus yang ringan dengan angka
kematian sekitar 1%.Gejalanya meliputi kekakuan dan spasme yang menetap
disertai rasa sakit pada otot disekitar atau proksimal luka.Tetanus lokal dapat
berkembang menjadi tetanus umum.

b. Tetanus sefal

Bentuk tetanus lokal yang mengenai wajah dengan masa inkubasi 1-2 hari, yang
disebabkan oleh luka pada daerah kepala atau otitis media kronis.Gejalanya
berupa trismus, disfagia, rhisus sardonikus dan disfungsi nervus kranial.Tetanus
sefal jarang terjadi, dapat berkembang menjadi tetanus umum dan prognosisnya
biasanya jelek.

c. Tetanus umum

Bentuk tetanus yang paling sering ditemukan. Gejala klinis dapat berupa berupa
trismus, iritable, kekakuan leher, susah menelan, kekakuan dada dan perut
(opisthotonus), fleksi-abduksi lengan serta ekstensi tungkai, rasa sakit dan
kecemasan yang hebat serta kejang umum yang dapat terjadi dengan rangsangan
ringan seperti sinar, suara dan sentuhan dengan kesadaran yang tetap baik.

d. Tetanus neonatorum

Tetanus yang terjadi pada bayi baru lahir, disebabkan adanya infeksi tali pusat,
umumnya karena tehnik pemotongan tali pusat yang aseptik dan ibu yang tidak
mendapat imunisasi yang adekuat.Gejala yang sering timbul adalah
ketidakmampuan untuk menetek, kelemahan, irritable diikuti oleh kekakuan dan
spasme. Posisi tubuh klasik : trismus, kekakuan pada otot punggung
menyebabkan opisthotonus yang berat dengan lordosis lumbal. Bayi
mempertahankan ekstremitas atas fleksi pada siku dengan tangan mendekap
dada, pergelangan tangan fleksi, jari mengepal, ekstremitas bawah hiperekstensi
dengan dorsofleksi pada pergelangan dan fleksi jari-jari kaki.Kematian biasanya
disebabkan henti nafas, hipoksia, pneumonia, kolaps sirkulasi dan kegagalan
jantung paru.

Derajat penyakit tetanus menurut modifikasi dari klasifikasi Ablett’s :

a. Derajat I (ringan)

Trismus ringan sampai sedang, kekakuan umum, spasme tidak ada, disfagia
tidak ada atau ringan, tidak ada gangguan respirasi.

b. Derajat II (sedang)

Trismus sedang dan kekakuan jelas, spasme hanya sebentar, takipneu dan
disfagia ringan

c. Derajat III (berat)

Trismus berat, otot spastis, spasme spontan, takipneu, apnoeic spell, disfagia
berat, takikardia dan peningkatan aktivitas sistem otonomi

d. Derajat IV (sangat berat)

Derajat III disertai gangguan otonomik yang berat meliputi sistem


kardiovaskuler, yaitu hipertensi berat dan takikardi atau hipotensi dan
bradikardi, hipertensi berat atau hipotensi berat.Hipotensi tidak berhubungan
dengan sepsis, hipovolemia atau penyebab iatrogenik.

Bila pembagian derajat tetanus terdiri dari ringan, sedang dan berat, maka derajat
tetanus berat meliputi derajat III dan IV.

3.6Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan temuan klinis dan riwayat imunisasi:

 Adanya riwayat luka yang terkontaminasi, namun 20% dapat tanpa riwayat
luka.
 Riwayat tidak diimunisasi atau imunisasi tidak lengkap
 Trismus, disfagia, rhisus sardonikus, kekakuan pada leher, punggung, dan
otot perut (opisthotonus), rasa sakit serta kecemasan.
 Pada tetanus neonatorum keluhan awal berupa tidak bisa menetek
 Kejang umum episodik dicetusklan dengan rangsang minimal maupun
spontan dimana kesadaran tetap baik.

Temuan laboratorium :

 Lekositosis ringan
 Trombosit sedikit meningkat
 Glukosa dan kalsium darah normal
 Cairan serebrospinal normal tetapi tekanan dapat meningkat
 Enzim otot serum mungkin meningkat
 EKG dan EEG biasanya normal
 Kultur anaerob dan pemeriksaan mikroskopis nanah yang diambil dari luka
dapat membantu, tetapi Clostridium tetani sulit tumbuh dan batang gram
positif berbentuk tongkat penabuh drum seringnya tidak ditemukan.
 Kreatinin fosfokinase dapat meningkat karena aktivitas kejang (> 3U/ml)

3.7Diagnosis banding

Penyakit-penyakit yang menyerupai gejala tetanus adalah

 Meningitis bakterialis – Rabies


 Poliomielitis – Epilepsi
 Ensefalitis – Tetani
 Keracunan striknin - Sindrom Shiffman
 Efek samping fenotiazin - Peritonsiler abses

2.8Komplikasi

Komplikasi tetanus yang sering terjadi adalah pneumonia, bronkopneumonia dan


sepsis. Komplikasi terjadi karena adanya gangguan pada sistem respirasi antara lain
spasme laring atau faring yang berbahaya karena dapat menyebabkan hipoksia dan
kerusakan otak. Spasme saluran nafas atas dapat menyebabkan aspirasi pneumonia
atau atelektasis.Komplikasi pada sistem kardiovaskuler berupa takikardi,
bradikardia, aritmia, gagal jantung, hipertensi, hipotensi, dan syok.Kejang dapat
menyebabkan fraktur vertebra atau kifosis.Komplikasi lain yang dapat terjadi
berupa tromboemboli, pendarahan saluran cerna, infeksi saluran kemih, gagal ginjal
akut, dehidrasi dan asidosis metabolik.

2.9 Penatalaksanaan

2.9.1 Penatalaksanaan Dasar

a. Memutuskan invasi toksin dengan antibiotik dan tindakan bedah.

1. Antibiotik

Penggunaan antibiotik ditujukan untuk memberantas kuman tetanus bentuk


vegetatif.Clostridium peka terhadap penisilin grup beta laktam termasuk
penisilin G, ampisilin, karbenisilin, tikarsilin, dan lain-lain.Kuman tersebut juga
peka terhadap klorampenikol, metronidazol, aminoglikosida dan sefalosporin
generasi ketiga.

Penisilin G dengan dosis 1 juta unit IV setiap 6 jam atau penisilin prokain 1,2
juta 1 kali sehari.

Penisilin G digunakan pada anak dengan dosis 100.000 unit/kgBB/hari IV


selama 10-14 hari.

Pemakaian ampisilin 150 mg/kg/hari dan kanamisin 15 mg/kgBB/hari


digunakan bila diagnosis tetanus belum ditegakkan, kemudian bila diagnosa
sudah ditegakkan diganti Penisilin G.

Rauscher (1995) menganjurkan pemberian metronidazole awal secara loading


dose 15 mg/kgBB dalam 1 jam dilanjutkan 7,5 mg/kgBB selama 1 jam perinfus
setiap 6 jam. Hal ini pemberian metronidazole secara bermakna menunjukkan
angka kematian yang rendah, perawatan di rumah sakit yang pendek dan respon
yang baik terhadap pengobatan tetanus sedang.
Pada penderita yang sensitif terhadap penisilin maka dapat digunakan tetrasiklin
dengan dosis 25-50 mg/kg/hari, dosis maksimal 2 gr/hari dibagi 4 dosis dan
diberikan secara peroral.

Bila terjadi pneumonia atau septikemia diberikan metisilin 200 mg/kgBB/hari


selama 10 hari atau metisilin dengan dosis yang sama ditambah gentamisin 5-
7,5 mg/kgBB/hari.

2. Perawatan luka

Luka dibersihkan atau dilakukan debridemen terhadap benda asing dan luka
dibiarkan terbuka.Sebaiknya dilakukan setelah penderita mendapat anti toksin
dan sedasi.Pada tetanus neonatorum tali pusat dibersihkan dengan betadine dan
hidrogen peroksida, bila perlu dapat dilakukan omphalektomi.

b. Netralisasi toksin

1. Anti tetanus serum

Dosis anti tetanus serum yang digunakan adalah 50.000-100.000 unit, setengah
dosis diberikan secara IM dan setengahnya lagi diberikan secara IV,
sebelumnya dilakukan tes hipersensitifitas terlebih dahulu.Pada tetanus
neonatorum diberikan 10.000 unit IV.

Udwadia (1994) mengemukakan sebaiknya anti tetanus serum tidak diberikan


secara intrathekal karena dapat menyebabkan meningitis yang berat karena
terjadi iritasi meningen.Namun ada beberapa pendapat juga untuk mengurangi
reaksi pada meningen dengan pemberian ATS intratekal dapat diberikan
kortikosteroid IV, adapun dosis ATS yang disarankan 250-500 IU.

2. Human Tetanus Immunuglobulin (HTIG)

Human tetanus imunoglobulin merupakan pengobatan utama pada tetanus


dengan dosis 3000-6000 unit secara IM, HTIG harus diberikan sesegera
mungkin.Kerr dan Spalding (1984) memberikan HTIG pada neonatus sebanyak
500 IU IV dan 800-2000 IU intrathekal. Pemberian intrathekal sangat efektif
bila diberikan dalam 24 jam pertama setelah timbul gejala.

Namun penelitian yang dilakukan oleh Abrutyn dan Berlin (1991) menyatakan
pemberian immunoglobulin tetanus intratekal tidak memberikan keuntungan
karena kandungan fenol pada HTIG dapat menyebabkan kejang bila diberikan
secara intrathekal. Pemberian HTIG 500IU IV atau IM mempunyai efektivitas
yang sama.

Dosis HTIG masih belum dibakukan, Miles (1993) mengemukakan dosis yang
dapat diberikan adalah 30-300IU/kgBB IM, sedangkan Kerr (1991)
mengemukakan HTIG sebaiknya diberikan 1000 IU IV dan 2000 IU IM untuk
meningkatkan kadar antitoksin darah sebelum debridemen luka.

c. Menekan efek toksin pada SSP

1. Benzodiazepin

Diazepam merupakan golongan benzodiazepin yang sering digunakan.Obat ini


mempunyai aktivitas sebagai penenang, anti kejang, dan pelemas otot yang
kuat.Pada tingkat supraspinal mempunyai efek sedasi, tidur, mengurangi
ketakutan dan ketegangan fisik serta penenang dan pada tingkat spinal
menginhibisi refleks polisinaps.Efek samping dapat berupa depresi pernafasan,
terutama terjadi bila diberikan dalam dosis besar. Dosis diazepam yang
diberikan pada neonatus adalah 0,3-0,5 mg/kgBB/kali pemberian. Udwadia
(1994), pemberian diazepam pada anak dan dewasa 5-20 mg 3 kali sehari, dan
pada neonatus diberikan 0,1-0,3 mg/kgBB/kali pemberian IV setiap 2-4 jam.
Pada tetanus ringan obat dapat diberikan per oral, sedangkan tetanus lain
sebaiknya diberikan drip IV lambat selama 24 jam.

2. Barbiturat

Fenobarbital (kerja lama) diberikan secara IM dengan dosis 30 mg untuk


neonatus dan 100 mg untuk anak-anak tiap 8-12 jam, bila dosis berlebihan dapat
menyebabkan hipoksisa dan keracunan. Fenobarbital intravena dapat diberikan
segera dengan dosis 5 mg/kgBB, kemudian 1 mg/kgBB yang diberikan tiap 10
menit sampai otot perut relaksasi dan spasme berkurang. Fenobarbital dapat
diberikan bersama-sama diazepam dengan dosis 10 mg/kgBB/hari dibagi 2-3
dosis melalui selang nasogastrik.

3. Fenotiazin

Klorpromazin diberikan dengan dosis 50 mg IM 4 kali sehari (dewasa), 25 mg


IM 4 kali sehari (anak), 12,5 mg IM 4 kali sehari untuk neonatus. Fenotiazin
tidak dibenarkan diberikan secara IV karena dapat menyebabkan syok terlebih
pada penderita dengan tekanan darah yang labil atau hipotensi.

3.9.2 PenatalaksanaanUmum

Penderita perlu dirawat dirumah sakit, diletakkan pada ruang yang tenang pada unit
perawatan intensif dengan stimulasi yang minimal.Pemberian cairan dan elektrolit
serta nutrisi harus diperhatikan. Pada tetanus neonatorum, letakkan penderita di
bawah penghangat dengan suhu 36,2-36,5oC (36-37oC), infus IV glukosa 10% dan
elektrolit 100-125 ml/kgBB/hari. Pemberian makanan dibatasi 50 ml/kgBB/hari
berupa ASI atau 120 kal/kgBB/hari dan dinaikkan bertahap.Aspirasi lambung harus
dilakukan untuk melihat tanda bahaya.Pemberian oksigen melalui kateter hidung
dan isap lendir dari hidung dan mulut harus dikerjakan.

Trakheostomi dilakukan bila saluran nafas atas mengalami obstruksi oleh spasme
atau sekret yang tidak dapat hilang oleh pengisapan.Trakheostomi dilakukan pada
bayi lebih dari 2 bulan.Pada tetanus neonatorum, sebaiknya dilakukan intubasi
endotrakhea.

Bantuan ventilator diberikan pada :

1. Semua penderita dengan tetanus derajat IV


2. Penderita dengan tetanus derajat III dimana spasme tidak terkendali dengan
terapi konservatif dan PaO2 <>
3. Terjadi komplikasi yang serius seperti atelektasis, pneumonia dan lain-lain.
3.9.3 Berdasarkan tingkat penyakit tetanus

a. Tetanus ringan

Penderita diberikan penaganan dasar dan umum, meliputi pemberian antibiotik,


HTIG/anti toksin, diazepam, membersihkan luka dan perawatan suportif seperti
diatas.

b. Tetanus sedang

Penanganan umum seperti diatas. Bila diperlukan dilakukan intubasi atau


trakeostomi dan pemasangan selang nasogastrik delam anestesia umum.
Pemberian cairan parenteral, bila perlu diberikan nutrisi secara parenteral.

c. Tetanus berat

Penanganan umum tetanus seperti diatas.Perawatan pada ruang perawatan


intensif, trakeostomi atau intubasi dan pemakaian ventilator sangat dibutuhkan
serta pemberikan cairan yang adekuat. Bila spasme sangat hebat dapat diberikan
pankuronium bromid 0,02 mg/kgBB IV diikuti 0,05 mg/kg/dosis diberikan
setiap 2-3 jam. Bila terjadi aktivitas simpatis yang berlebihan dapat diberikan
beta bloker seperti propanolo atau alfa dan beta bloker labetolol.

3.10 Prognosis

Tetanus neonatorum mempunyai angka kematian 66%, pada usia 10-19 tahun, angka
kematiannya antara 10-20% sedangkan penderita dengan usia > 50 tahun angka
kematiannya mencapai 70%. Penderita dengan undernutrisi mempunyai prognosis 2
kali lebih jelek dari yang mempunyai gizi baik.Tetanus lokal mempunyai prognosis
yang lebih baik dari tetanus umum.
Sistem Skoring

Skor 1 Skor 0

Masa inkubasi <> > 7 hari


Awitan penyakit <> >48 jam
Tempat masuk Tali pusat, uterus, fraktur Selain tempat tersebut
terbuka, postoperatif, bekas
suntikan IM
Spasme (+) (-)
Panas badan (per rektal) > 38,4 0C (> 40 0C) < 38,4 0C ( < 40 0C)
Takikardia dewasa > 120 x/menit <>
neonatus > 150 x/menit <>

Dikutip dari Habermann, 1978, Bleck, 1991

Tabel klasifikasi untuk prognosis Tetanus

Tingkat Skor Prognosis

Ringan 0-1 <>


Sedang 2-3 10 – 20
Berat 4 20 – 40
Sangat berat 5-6 > 50

Dikutip dari Bleck, 1991

Catatan : Tetanus sefalik selalu dinilai berat atau sangat berat

Tetanus neonatorum selalu dinilai sangat berat


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
1. Tetanus adalah penyakit yang mengenai sistem saraf yang disebabkan oleh
tetanospasmin yaitu neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani.
2. Penyebab Tetanus oleh Bakteri yang dikenal dengan nama Clostridium tetani,
hidup dan berkembang pada tanah, debu, kotoran hewan, dsb. Luka yang
terkontaminasi adalah mata rantai di mana bakteri tetanus berkembang biak.
Luka tusuk seperti yang disebabkan oleh paku, pecahan, atau gigitan serangga
adalah kasus klasik penyebab tetanus yang banyak menginfeksi. Bakteri juga
dapat tertular melalui luka bakar, luka injeksi, dll.
3. Manifestsi klinis tetanus bervariasi dari kekakuan otot setempat, trismus sampai
kejang yang hebat. Masa timbulnya gejala awal tetanus sampai kejang disebut
awitan penyakit, yang berpengaruh terhadap prognostik.
4. Penatalaksanaan tetanus dapat dibagi menjadi tiga yaitu penatalaksanaan dasar,
penatalaksanaan secara umum dan penatalaksanaan berdasarkan tingkat
penyakit tetanus.
4.2 Saran
1. Mencegah terjadinya luka.
2. Merawat luka secara adekuat.
3. Pemberian anti tetanus serum (ATS) dalam beberapa jam setelah luka akan
memberikan kekebalan pasif sehingga mencegah terjadinya tetanus akan
memperpanjang masa inkubasi. Umumnya diberikan dalam dosis 1500 U
intrarnuskular setelah dilakukan tes kulit.
4. Tetanus merupakan keadaan darurat, pengobatan dan perawatan harus segera
diberikan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Mantap. dr, Bandung, 2010, Makalah Referat Kedokteran,


http://referensikedokteran.blogspot.comdiakses tanggal 5 Juli 2011
2. Azhali MS, Herry Garna, Aleh Ch, Djatnika S. Penyakit Infeksi dan Tropis.
Dalam : Herry Garna, Heda Melinda, Sri Endah Rahayuningsih. Pedoman
Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak, edisi 3. FKUP/RSHS, Bandung,
2005 ; 209-213.
3. Rauscher LA. Tetanus. Dalam :Swash M, Oxbury J, penyunting. Clinical
Neurology. Edinburg : Churchill Livingstone, 1991 ; 865-871
4. Soedarmo, Sumarrno S.Poowo; Garna, Herry; Hadinegoro Sri Rejeki S, Buku
Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Infeksi & Penyakit Tropis, Edisi pertama, Ikatan
Dokter Anak Indonesia.