Anda di halaman 1dari 10

LECTURE NOTES

Legal Aspect in Economic

Minggu 9
Sesi 13

Bankruptcy Law

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


LEARNING OUTCOMES

LO3 : Classify the legal aspects relating to economic under Indonesian laws including
property and waranty law, company law, contract law, intellectual property rights,
consumer protection, industrial relations, capital market, bankruptcy, and
alternative disputes resolutions.

LO 4 : Analyze the economic problem under the Indonesian laws.

OUTLINE MATERI (Sub-Topic):

 Definitions
 Terms for Bankruptcy
 Legal consequences of Bankruptcy

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


Hukum Kepailitan

I. Pengertian

Seringkali dalam dunia usaha terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam
melakukan usaha, pengusaha selalu membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk
mengembangkan usaha, untuk itu pengusaha seringkali mencari dana dengan melakukan
utang kepada kreditor. Dalam berjalannya usaha, resiko-resiko yang tidak terduga dapat
menyebabkan pengusaha (baik perorangan maupun perusahaan) gagal dalam membayar
hutang-hutangnya yang telah jatuh tempo.
Pengusaha atau debitor dapat merupakan usaha perorangan maupun usaha dengan
bentuk usaha seperti Persekutuan perdata, Firma, dan CV bahkan juga badan hukum
seperti Perseroan Terbatas (PT). Demikian juga dengan kreditor, dapat merupakan
kreditor perseorangan maupun yang berbentuk badan hukum. Dengan demikian, pihak-
pihak yang terkait dalam perkara kepailitan adalah debitor dan kreditor yang berkaitan
dengan masalah utang piutang. Dalam UUK disebutkan beberapa definis antara lain :
 Debitor adalah orang yang mempunyai utang karena perjanjian atau undang-undang
yang pelunasannya dapat ditagih di muka pengadilan (Pasal 1 angka 3 UUK).
 Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau Undang-
Undang yang dapat ditagih di muka pengadilan (Pasal 1 angka 2 UUK).
 Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang
baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung
maupun yang akan timbul di kemudian hari atau kontinjen, yang timbul karena
perjanjian atau undang-undang dan yang wajib dipenuhi oleh Debitor dan bila tidak
dipenuhi memberi hak kepada Kreditor untuk mendapat pemenuhannya dari harta
kekayaan Debitor (Pasal 1 angka 6 UUK).
Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaaan Kewajiban
Pembayaran Utang (UUK) menyebutkan latar belakang diundangkannya (dapat dilihat
pada bab menimbang jo. penjelasan umum UUK) diantaranya adalah :
 Perkembangan perekonomian dan perdagangan serta pengaruh globalisasi yang
melanda dunia usaha dan mengingat modal yang dimiliki oleh para pengusaha pada
umumnya

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


 Sebagian besar merupakan pinjaman yang berasal dari berbagai sumber, baik dari
bank, penanaman modal, penerbitan obligasi maupun cara lain yang diperbolehkan,
telah menimbulkan banyak permasalahan penyelesaian utang piutang dalam
masyarakat.
 Krisis moneter yang melanda negara Asia termasuk Indonesia sejak pertengahan
tahun 1997 telah menimbulkan kesulitan yang besar terhadap perekonomian dan
perdagangan nasional. Kemampuan dunia usaha dalam mengembangkan usahanya
sangat terganggu, bahkan untuk mempertahankan kelangsungan kegiatan usahanya
juga tidak mudah, hal tersebut sangat mempengaruhi kemampuan untuk memenuhi
kewajiban pembayaran utangnya. Keadaan tersebut berakibat timbulnya masalah-
masalah yang berantai, yang apabila tidak segera diselesaikan akan berdampak lebih
luas, antara lain : hilangnya lapangan kerja dan permasalahan sosial lainnya,

Dengan pertimbangan tersebut diketahui bahwa untuk menyelesaikan permasalahan


tentang kepailitan yang melanda pengusaha di Indonesia, Indonesia masih belum
memiliki perangkat hukum mengenai kepailitan yang cukup memadai.

II. Tujuan Kepailitan

Menurut Pasal 1 angka 1 UUK disebutkan bahwa Kepailitan adalah sita umum
atas semua kekayaan Debitor Pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh
Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas. Kepailitan berkaitan dengan adanya
keadaan tidak mampu bayar oleh debitor, sedangkan jumlah kreditor yang memberikan
utang pada kreditor bisa saja jumlahnya lebih dati satu kreditor, hal ini menyebabkan
perlu adanya pengaturan tentang keadaan tersebut dengan mengakomodasi kepentingan
para pihak. Oleh karena itu dapat disebutkan bahwa tujuan adanya putusan kepailitan
adalah :
 Tujuan utama kepailitan adalah melakukan pembagian antara para kreditur atas
kekayaan debitur oleh kurator.
 Menghindari terjadinya sitaan terpisah atau eksekusi terpisah oleh kreditur dan
menggantikannya dengan mengadakan sitaan bersama sehingga kekayaan debitur
dapat dibagikan kepada semua kreditur sesuai dengan hak masing-masing.

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


 Lembaga kepailitan pada dasarnya merupakan suatu lembaga yang memberikan suatu
solusi terhadap para pihak apabila debitur dalam keadaan berhenti membayar/tidak
mampu membayar.

Penjelasan UUK terdapat beberapa hal yang dapat dipahami tentang perlunya aturan
mengenai kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang, antara lain yaitu :
1. Menghindari perebutan harta debitor apabila dalam waktu yang sama terdapat
beberapa kreditor yang menagih utangnya pada debitor;
2. Menghindari adanya kreditor pemegang hak jaminan kebendaan yang menuntut
haknya dengan cara menjual barang milik debitor tanpa memperhatikan kepentingan
debitor atau kreditor lainnya;
3. Menghindari adanya kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh salah satu kreditor
atau bahkan debitor sendiri.
(Silondae dan Ilyas, 2011: 60)

III. Syarat dan Prosedur Kepailitan

Syarat kepailitan diatur dalam Pasal 2 UUK yang menyebutkan bahwa syarat
untuk dapat mengajukan permohonan pailit harus memenuhi hal berikut yaitu :
1. Debitor mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya
satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih
2. Putusan Pailit dilakukan atas permohonan Debitor atau atas permohonan satu atau
lebih Kreditornya
3. Permohonan dapat diajukan oleh KEJAKSAAN untuk kepentingan umum
4. Jika Debitor adalah Bank, maka permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan
oleh Bank Indonesia
5. Dalam hal Debitor adalah Perusahaan Efek, Bursa Efek, Lembaga Kliring dan
Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, permohonan pernyataan
pailit hanya dapat diajukan oleh Bapepam (sekarang sudah diambil alih perannya
oleh Otoritas Jasa Keuangan)
6. Dalam hal Debitor adalah Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi, Dana
Pensiun, atau BUMN yang bergerak di bidang kepentingan publik, permohonan
pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri Keuangan.

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


Prosedur Kepailitan
Kepailitan diajukan pada kepada Ketua Pengadilan, dimana menurut UUK yang
dimaksud dengan pengadilan untuk urusan kepailitan dan penundaan kewajiban
pembayaran utan adalah Pengadilan Niaga dalam lingkungan peradilan umum. Menurut
pasal 3 UUK Putusan atas permohonan pernyataan pailit diputuskan oleh Pengadilan
yang daerah hukumnya meliputi daerah tempat kedudukan hukum Debitor. Jika debitor
adalah pesero suatu firma, Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat
kedudukan hukum firma tersebut juga berwenang memutuskan. Jika debitor merupakan
badan hukum, maka diajukan di pengadilan tempat kedudukan hukumnya (domisili) dari
badan hukum tersebut sebagaimana disebutkan dalam anggaran dasarnya.
Pihak-pihak yang terkait dengan Pengurusan harta pailit :
• Hakim Pengawas.
• Kurator.
• Panitia Kreditor.

Ad. 1. Hakim Pengawas


• Hakim Pengawas adalah hakim yang ditunjuk oleh Pengadilan dalam putusan pailit
atau putusan penundaan kewajiban pembayaran utang;
• Hakim Pengawas bertugas mengawasi pengurusan dan pemberesan harta pailit yang
dilakukan kurator;
• Memberikan nasehat kepada pengadilan niaga
• Mendengar saksi-saksi atau memerintahkan para ahli untuk melakukan penyelidikan
• Menyampaikan surat panggilan kepada parak saksi untuk didengar keterangannya
• Hakim pengawas dapat/harus melimpahkan kewenangannya kepada pengadilan
niaga setempat apabila saksi-saksi tersebut berada di luar kewenangan yurisdiksinya
• Memberikan ijin kepada kurator untuk menghadap di muka pengadilan
• Memberikan persetujuan kepada kurator untuk memperoleh penjaman dari pihak
ketiga
• Menerima permohonan perlawanan.

Ad.2. Kurator
• Kurator adalah Balai Harta Peninggalan atau orang perseorangan yang diangkat oleh
Pengadilan untuk mengurus dan memberes kan harta Debitor Pailit di bawah
pengawasan Hakim Pengawas sesuai dengan Undang-Undang.

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


• Tugas Kurator :
- Melakukan pengurusan/pemberesan harta pailit
- Mengumumkan putusan hakim tentang pernyataan pailit dalam surat kabar
- Menyelamatkan harta pailit
- Menyegel harta benda pailit atas persetujuan hakim pengawas
- Menyusun inventaris harta pailit
- Kurator dapat melanjutkan usaha debitor yang dinyatakan pailit (atas persetujuan
kreditor)

Ad.3. Panitia Kreditor


• Dalam putusan pailit, pengadilan dapat membentuk panitia kreditur sementara yang
terdiri dari tiga orang yang dipilih dari kreditur dengan maksud memberikan nasihat
kepada kurator
• Setelah pencocokan utang selesai dilakukan, hakim pengawas wajib menawarkan
kepada kreditur untuk membentuk kreditur tetap

IV. Akibat Putusan Pailit

Sejak diputuskan pailit, maka sejak itu seluruh harta kekayaan debitor dimasukkan
dalam kategori “Harta Pailit”. Akibatnya adalah sejak adanya keputusan hakim bahwa
debitor telah pailit, maka harta kekayaan debitor berubah status menjadi harta pailit dan
dimasukkan ke dalam boedel kepailitan. Kepailitan meliputi seluruh kekayaan Debitor
pada saat putusan pernyataan pailit diucapkan serta segala sesuatu yang diperoleh selama
kepailitan (pasal 21 UUK). Konsekuensinya adalah demi hukum debitur kehilangan
segala hak untuk menguasai dan mengurus kekayaan benda/aset, baik menjual,
menjaminkan benda sejak diputus pailit. Utang-utang setelah pailit tidak bisa
mendapatkan jaminan dari kekayaan debitur. Semua perikatan Debitor yang terbit
sesudah putusan pernyataan pailit tidak lagi dapat dibayar dari harta pailit, kecuali
perikatan tersebut menguntungkan harta pailit
Perlakuan terhadap harta pailit :
Kemungkinan yang dilakukan oleh kurator adalah:
1. Menjual harta pailit (Psl. 56)
2. Melanjutkan usaha debitor (Psl. 104)

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


Ad. 1
Harta pailit yang dapat dijual oleh Kurator terbatas pada barang persediaan (Inventory)
dan atau benda bergerak (current assets), meskipun harta pailit tersebut dibebani dengan
hak agunan atas kebendaan. Dijual dengan mencari harga tertinggi
Ad. 2
Berdasarkan persetujuan panitia kreditor sementara, Kurator dapat melanjutkan usaha
Debitor yang dinyatakan pailit walaupun terhadap putusan pernyataan pailit tersebut
diajukan kasasi atau peninjauan kembali

V. Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)

Mulai pasal 222 UUK diatur mengenai Penundaan Kewajiban Pembayaran


Utang. Penundaan kewajiban pembayaran utang hanya dapat diajukan oleh Debitor yang
mempunyai lebih dari 1 (satu) Kreditor, atau dapat dilakukan oleh Kreditor. Artinya, jika
seorang debitor hendak melakukan pengajuan penundaan kewajiban pembayaran utang
kepada pengadilan, maka syaratnya ia harus mempunyai lebih dari satu kreditor.
Pengajuan ini dapat pula dilakukan oleh kreditor.
Debitor yang dapat mengajukan adalah Debitor yang tidak dapat atau
memperkirakan tidak akan dapat melanjutkan membayar utang-utangnya yang sudah
jatuh waktu dan dapat ditagih, dapat memohon penundaan kewajiban pembayaran utang,
dengan maksud untuk mengajukan rencana perdamaian yang meliputi tawaran
pembayaran sebagian atau seluruh utang kepada Kreditor. Sedangkan kreditor yang
dapat mengajukan adalah Kreditor yang memperkirakan bahwa Debitor tidak dapat
melanjutkan membayar utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih, dapat
memohon agar kepada Debitor diberi penundaan kewajiban pembayaran utang, untuk
memungkinkan Debitor mengajukan rencana perdamaian yang meliputi tawaran
pembayaran sebagian atau seluruh utang kepada Kreditornya.
Keuntungan PKPU
1. Harta kekayaan debitor terhindar dari tindakan likuidasi ataupun harta jaminan di jual
lelang guna memenuhi pelunasan utang.
2. Debitor atau perusahaannya masih mempunyai hak pengurusan harta dan
kelangsungan usaha tetap berjalan

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


SIMPULAN

Dalam melakukan usaha, pengusaha selalu membutuhkan dana yang tidak sedikit
untuk mengembangkan usaha, untuk itu pengusaha seringkali mencari dana dengan
melakukan utang kepada kreditor. Dalam berjalannya usaha, resiko-resiko yang tidak terduga
dapat menyebabkan pengusaha (baik perorangan maupun perusahaan) gagal dalam
membayar hutang-hutangnya yang telah jatuh tempo.

UUK memberikan sarana jalan keluar bagi debitor dan kreditor yang sedang terlibat
masalah utang piutang. Dalam undang-undang ini ditentukan syarat-syarat, prosedur dan
akibat hukum dari putusan pailit. Selain melalui pengajuan permohonan putusan pailit,
penyelesaian masalah utang piutang yang sudah jatuh tempo juga dapat dipakai alternatif lain
selain permohonan putusan pailit yaitu melalui penundaan kewajiban pembayaran utang.

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


DAFTAR PUSTAKA

Saliman, AR. (2005). Hukum Bisnis untuk Perusahaan, Teori dan Contoh Kasus. Cet ke-7.
Jakarta: Kencana.

Silondae, AA. & Ilyas, WB. (2011). Pokok-Pokok Hukum Bisnis. Jakarta: Salemba Empat.

Republik Indonesia. Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailtan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 131 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4443.
Zaeni Asyhadie. (2017). Hukum Bisnis: Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia. Jakarta:
Rajawali Pers

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic