Anda di halaman 1dari 167

KELANGSUNGAN USAHA INDUSTRI GERABAH PASCA GEMPA

DI DESA PANJANGREJO KECAMATAN PUNDONG KABUPATEN


BANTUL PROVINSI D.I. YOGYAKARTA

Skripsi

Oleh
DIAN EQUANTI
00/139426/GE/04806

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAKULTAS GEOFRAFI
YOGYAKARTA
2009

1
KELANGSUNGAN USAHA INDUSTRI GERABAH PASCA GEMPA
DI DESA PANJANGREJO KECAMATAN PUNDONG
KABUPATEN BANTUL PROVINSI D.I. YOGYAKARTA

Oleh
Dian Equanti
00/139426/GE/04806

INTISARI

Gempa yang melanda Yogyakarta tahun 2006 telah menyebabkan lumpuhnya


kegiatan industri kecil khususnya di Kabupaten Bantul sebagai daerah dengan
kerusakan terparah. Salah satu industri kecil yang banyak menyerap tenaga kerja
yang juga turut menjadi korban adalah industri gerabah di Desa Panjangrejo,
Kecamatan Pundong. Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi industri
gerabah pasca gempa, mengetahui kelangsungan usaha industri gerabah pasca
gempa dan pendapatan usaha industri gerabah pasca gempa.

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Panjangrejo dengan metode survei.


Responden penelitian ini adalah pengusaha gerabah yang aktif menjalankan
produksi gerabah pasca gempa. Sampel yang diambil sebanyak 60 pengusaha
gerabah. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan tabulasi silang
untuk menjelaskan kondisi dan karakteristik industri gerabah. Metode skoring
dipakai untuk menilai kelangsungan usaha yang merupakan skor total nilai
produksi dan skor waktu bangkit pasca gempa. Kelangsungan usaha
dikategorikan menjadi tiga, yaitu “baik”, “sedang”, dan “buruk”.

Industri gerabah di Desa Panjangrejo terdiri dari produksi gerabah tradisional


dan keramik. Sebagian besar unit industri rusak berat atau roboh akibat gempa.
Lebih dari 90 persen unit usaha mampu bangkit kurang dari 1 tahun pasca gempa
dengan nilai produksi rata-rata sebesar Rp1.378.333 per bulan. Hasil penelitian
menunjukkan 21,7 persen unit usaha memiliki kelangsungan usaha baik, 60
persen unit usaha memiliki kelangsungan usaha sedang, dan 18,3 persen memiliki
kelangsungan usaha buruk pasca gempa. Sebanyak 32,4 persen unit usaha
mengalami penurunan nilai produksi sebesar 40 – 80 persen dibanding nilai
produksi sebelum gempa. Penyaluran kredit bagi usaha kecil cukup membantu
pengusaha dalam mempertahankan kelangsungan usahanya. Ini dibuktikan
dengan persentase kelangsungan usaha kategori baik yang lebih tinggi pada
pengusaha yang memiliki akses kredit modal usaha yaitu sebesar 30,4 persen
dibanding mereka yang tidak memiliki akses kredit modal usaha yaitu sebesar
16,2 persen. Rata-rata pendapatan bersih yang diperoleh industri gerabah adalah
Rp755.000 per bulan, dengan lebih dari sepertiga unit usaha memperoleh
pendapatan kurang dari Rp500.000 per bulan.

Kata kunci: gerabah, gempa, pendapatan bersih

2
BUSINESS SUSTAINABILITY OF POTTERY INDUSTRY
AFTER EARTHQUAKE IN PANJANGREJO VILLAGE,
PUNDONG DISTRICT, BANTUL REGENCY YOGYAKARTA
PROVINCE

By
Dian Equanti
00/149326/GE/04806

ABSTRACT

Earthquake that hit Yogyakarta in 2006 had stopped small industrial activity
especially those located in Bantul Regency as the worst destroyed area. One of
small industries which employ a lot of workers is pottery industry in Panjangrejo
village, Pundong District. Object of this study was to investigate pottery
industries condition after earthquake, describe how business sustainability of
pottery industries runs after earthquake and how much net income they get after
earthquake.

This study was conducted in Panjangrejo village using survey method.


Respondents of this research were pottery entrepreneurs who active in producing
pottery after earthquake. There are 60 pottery entrepreneurs taken as sample by
simple random sampling method. Data was analyzed in descriptive way using
cross tables to describe the condition and characteristics of pottery industries.
Then scoring of business sustainability was used to describe business
sustainability of pottery industry after earthquake which is come from total of
sales revenue score and recovery-time score after earthquake. The business
sustainability was categorized into tree groups; good, moderate and bad.

Pottery industries in Panjangrejo village consist of two groups which are


producing traditional pottery and ceramics. Though most of pottery industries
units were hard broke or collapsed due to earthquake, more than 90 percent units
were recovered before 1 year after earthquake and made Rp1.378.333 in sales per
month. The result of this study shows there are 21.7 percent units have good
business sustainability after earthquake, 60 percent units are moderate and 18.3
percent units are bad. There are 32.4 percent units have 40 percent to 80 percent
sales declining after earthquake. Capital loan for small enterprises could help
them to maintain their business run after disaster. It was shown by the higher
percentage of good business sustainability of those units that get access of capital
loan (30,4 percent) in comparing with those do not get access of capital loan
(16,2 percent). Monthly net income of pottery industry units after earthquake is
Rp755.000 in average, while more than 1 in 3 other units get below Rp500.000 in
average.

Key words: pottery, earthquake, net income

3
Kata Pengantar

Alhamdulilahirabbil’alamin. Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan segala karunia dan rahmat-Nya, sehingga penelitian Penelitian

berjudul “Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa Di Desa

Panjangrejo Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul Propinsi D.I. Yogyakarta”

dapat diselesaikan. Ucapan terima kasih dan penghormatan setinggi-tingginya

saya tujukan kepada :

1. Orang tua, Bapak Sumartoyo dan Ibu Hendra Retnaningsih, atas kesabaran,

doa, dukungan baik moril maupun materiil yang tak henti-hentinya diberikan

kepada penulis selama ini.

2. Prof. DR. H. Suratman M.Sc. selaku Dekan Fakultas Geografi Universitas

Gadjah Mada atas kesempatan menempuh studi di Fakultas Geografi.

3. Dr. Pramono Hadi, M.sc selaku Wakil Dekan I Bidang Akademik atas seluruh

kesempatan yang diberikan, terimakasih.

4. Drs. Kistini, M.S. selaku dosen pembimbing utama atas bimbingan, kesabaran

dan motivasi yang diberikan selama ini.

5. Agus Joko Pitoyo, S,Si. M.A. dosen pembimbing kedua atas bimbingan,

kesabaran dan motivasi yang diberikan selama ini.

6. Sudrajat, S.Si., M.P. selaku dosen penguji proposal dalam penulisan

penelitian awal naskah skripsi.

7. Dr. Agus Sutanto, M.Sc selaku dosen penguji atas saran dan kritik

membangun bagi penelitian ini.

4
8. Seluruh Dosen, staf pengajaran, dan karyawan Fakultas Geografi Universitas

Gadjah Mada, terimakasih atas ilmu, pendidikan, pengalaman, pelayanan,

keramahan dan bantuan yang diberikan.

9. Kepala Desa Panjangrejo, seluruh masyarakat Desa Panjangrejo, Ketua

gabungan pengusaha perajin gerabah Kabupaten Pundong atas keramahan,

kesediaan waktu dan informasi yang diberikan melaksanakan penelitian.

10. Tanti, terimakasih banyak petanya. Sukses selalu.

11. Dokter Hewan Surono dan keluarga untuk tempat yang nyaman selama berada

di Yogya.

12. Teman-teman kos mulwo 4: Eli, Fika, Nisa, Yuli, Mbak Lis atas

kebersamaannya selama ini.

13. Teman-teman semasa penulis menuntut ilmu di Fakultas Geografi.

14. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu atas segala

bantuannya dan dukungan yang diberikan.

Penulis menyadari kekurangan dalam penelitian ini. Kritik membangun

demi pengembangan penulisan selanjutnya sangat diharapkan. Semoga penelitian

ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak khususnya bagi studi industri kecil

pasca bencana.

Yogyakarta, 30 Januari 2009

Penulis

5
DAFTAR ISI

Halaman

INTISARI.... ...................................................................................................... ii
ABSTRACT ....................................................................................................... iii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iv
DAFTAR ISI ...................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................. x
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2. Perumusan Masalah.............................................................................. 7
1.3. Pertanyaan Penelitian................................................................ ............ 8
1.4. Tujuan Penelitian ...................................................................... ........... 8
1.5. Manfaat Penelitian................................................................. ............... 8
1.6. Tinjauan Pustaka ...................................................................... ............ 9
1.6.1. Peran Industri Kecil Dalam Pembangunan Ekonomi ............. 9
1.6.2. Pengembangan Industri Kecil ................................................. 16
1.6.3. Pemulihan Ekonomi Dalam Manajemen Bencana.................. 21
1.6.4. Tinjauan Empiris ..................................................................... 26
1.7. Kerangka Pemikiran .............................................................................. 28
1.8. Definisi Operasional.............................................................................. 31

BAB II METODE PENELITIAN


2.1. Metode Dasar Penelitian ....................................................................... 34
2.2. Penentuan Lokasi Penelitian ................................................................. 34
2.3. Populasi dan Sampel ............................................................................. 35
2.4. Data ....................................................................................................... 35
2.4.1. Sumber dan Jenis Data ............................................................ 35
2.4.2. Pengumpulan Data .................................................................. 36
2.5. Analisis Data ......................................................................................... 38
2.5.1. Editing ..................................................................................... 38
2.5.2. Koding ..................................................................................... 38
2.5.3. Tabulasi ................................................................................... 38
2.5.4. Klasifikasi ............................................................................... 39

BAB III DESKRIPSI WILAYAH


3.1. Kondisi Fisik Wilayah .......................................................................... 41
3.1.1. Letak, Luas dan Batas Daerah Penelitian ................................ 41
3.1.2. Iklim ........................................................................................ 43
3.1.3. Topografi ................................................................................. 43
3.1.4. Kondisi Tanah ......................................................................... 44

6
3.1.5. Penggunaan Lahan .................................................................. 45
3.1.6. Sarana Infrastruktur................................................................. 47
3.1.6.1. Sarana dan Prasarana Transportasi....................................... 48
3.1.6.2. Sarana Komunikasi .............................................................. 50
3.2. Kondisi Sosial Demografi ..................................................................... 52
3.2.1. Kependudukan......................................................................... 52
3.2.2. Jumlah, Kepadatan dan Pertumbuhan Penduduk .................... 52
3.2.3. Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin ....... 53
3.2.4. Rasio Beban Tanggungan ...................................................... 54
3.2.5. Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan ............... 55
3.2.6. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan ...................... 57
3.3. Sejarah Industri Gerabah ....................................................................... 59
3.4. Kerusakan Infrastruktur dan Tempat Tinggal Akibat Gempa............... 62

BAB IV KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PENGUSAHA


4.1. Karakteristik Demografi Pengusaha ..................................................... 64
4.1.1. Karakteristik Pengusaha Menurut Jenis Kelamin ................... 64
4.1.2. Karakteristik Pengusaha Menurut Umur ................................. 65
4.1.3. Jumlah Anggota Rumah Tangga ............................................. 66
4.2. Karakteristik Sosial Ekonomi Pengusaha .............................................. 69
4.2.1. Pendidikan ............................................................................... 69
4.2.2. Pendapatan dari Pekerjaan Lain .............................................. 70
4.2.3. Lama Usaha dan Asal Keterampilan ....................................... 71

BAB V KARAKTERISTIK UNIT USAHA INDUSTRI GERABAH


5.1. Kondisi Unit Usaha ................................................................................ 74
5.1.1. Jenis Produksi ......................................................................... 74
5.1.2. Kerusakan Tempat Usaha Akibat Gempa ............................... 78
5.1.3. Bangunan Tempat Usaha Pasca Gempa .................................. 79
5.1.4. Luas Tempat Usaha ................................................................. 80
5.2. Faktor-faktor Produksi ........................................................................... 81
5.2.1. Modal ...................................................................................... 82
5.2.1.1. Modal Pertama Kali Berproduksi ........................................ 82
5.2.1.2. Modal Produksi .................................................................... 84
5.2.1.3. Akses Kredit Modal Usaha .................................................. 86
5.2.2. Peralatan .................................................................................. 89
5.2.3. Bahan Baku ............................................................................. 91
5.2.4. Bahan Bakar ............................................................................ 92
5.2.5. Tenaga Kerja ........................................................................... 94
5.2.6. Pemasaran ............................................................................... 97
5.3. Bantuan Pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat ..................... 99

7
BAB VI KELANGSUNGAN USAHA INDUSTRI GERABAH PASCA
GEMPA
6.1. Kelangsungan Usaha .............................................................................. 102
6.1.1. Waktu Bangkit Unit Industri Gerabah Pasca Gempa .............. 103
6.1.2. Nilai Produksi ......................................................................... 104
6.1.3. Kategori Kelangsungan Usaha ................................................ 106
6.1.4. Tingkat Pemulihan .................................................................. 108
6.2. Kelangsungan Usaha Pasca Gempa Terhadap Karakter Pengusaha ...... 111
6.2.1. Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Menurut Umur
Pengusaha.......................................................................................... 111
6.2.2. Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Menurut Pendidikan
Pengusaha.......................................................................................... 112
6.3. Distribusi Kelangsungan Usaha Menurut Karakter Unit Usaha ............ 114
6.3.1. Kelangsungan Usaha Menurut Kondisi Unit Usaha ............... 114
6.3.1.1. Kelangsungan Usaha Menurut Jenis Produksi ............ 114
6.3.1.2. Kelangsungan Usaha Menurut Kerusakan Tempat Usaha
.................................................................................................. 117
6.3.1.3. Kelangsungan Usaha Menurut Luas Tempat Usaha ... 119
6.3.2. Kelangsungan Usaha Menurut Faktor-faktor Produksi .......... 120
6.3.2.1. Kelangsungan Usaha Menurut Biaya Produksi........... 120
6.3.2.2. Kelangsungan Usaha Menurut Akses Kredit Modal
Usaha ........................................................................................ 121
6.3.2.3. Usaha Kelangsungan Usaha Menurut Jumlah Tenaga
Kerja ......................................................................................... 123
6.4. Pendapatan Industri Gerabah Pasca Gempa ........................................... 125

KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................... 127


1. Kesimpulan ............................................................................................... 127
2. Saran .......................................................................................................... 128

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 129

LAMPIRAN

8
DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul halaman


1.1. Dampak Gempa Bumi Tahun 2006 Terhadap UKM di Yogyakarta 2
2.1. Distribusi Pengusaha Gerabah di Desa Panjangrejo........................... 34
2.2. Skor Waktu ........................................................................................ 39
2.3. Skor Nilai Produksi Pasca Gempa ...................................................... 39
2.4. Klasifikasi Kelangsungan Usaha ........................................................ 40
3.1. Penggunaan Lahan Di Desa Panjangrejo Tahun 2006 ....................... 46
3.2. Sarana Infrastruktur dan Transportasi Di Desa Panjangrejo .............. 49
3.3. Jenis Alat Komunikasi Di Desa Panjangrejo ...................................... 51
3.4. Klasifikasi Kepadatan Penduduk Desa Panjangrejo........................... 53
3.5. Komposisi Penduduk Desa Panjangrejo Menurut Kelompok Umur .. 54
3.6. Komposisi Penduduk Desa Panjangrejo Menurut Tingkat Pendidikan
............................................................................................................ 56
3.7. Komposisi Penduduk Menurut Matapencaharian .............................. 58
3.8. Kerusakan Fasilitas Umum Akibat Gempa Di Desa Panjangrejo ...... 62
3.9. Jumlah Kerusakan Rumah dan Realisasi Rekonstruksi Pasca Gempa
Di Desa Panjangrejo Kecamatan Pundong ......................................... 63
4.1. Komposisi Pengusaha Gerabah Menurut Jenis Kelamin.................... 64
4.2. Komposisi Pengusaha Menurut Umur................................................ 65
4.3. Jumlah Anggota Rumah Tangga Pengusaha ...................................... 68
4.4. Komposisi Pengusaha Industri Gerabah Menurut Tingkat Pendidikan
............................................................................................................ 69
4.5. Jenis Matapencaharian Selain Industri Gerabah ................................. 71
5.1. Perbedaan Proses Produksi Gerabah Tradisional dan Keramik ......... 76
5.2. Jenis Produksi Industri Gerabah ......................................................... 77
5.3. Tingkat Kerusakan Tempat Usaha ...................................................... 79
5.4. Luas Tempat Usaha Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca
Gempa ................................................................................................. 81
5.5. Modal Uang Untuk Memulai Produksi Gerabah Pasca Gempa Di Desa
Panjangrejo......................................................................................... 83
5.6. Modal Produksi Berupa Uang Pada Industri Gerabah Pasca Gempa . 85
5.7. Asal Pinjaman Modal Usaha Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo 88
5.8. Nilai Bahan Baku Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa
............................................................................................................ 91
5.9. Nilai Bahan Bakar Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa
............................................................................................................ 92
5.10. Penggunaan Jumlah Tenaga Kerja Di Industri Gerabah Pasca Gempa
............................................................................................................ 95
6.1. Waktu Bangkit Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa 103
6.2. Nilai Produksi Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa . 105
6.3. Kelangsungan Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa 106
6.5. Distribusi Kelangsungan Usaha Pasca Gempa Menurut Nilai Produksi
Di Desa Panjangrejo ........................................................................... 107

9
6.6. Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Menurut Kelompok Umur
Pengusaha........................................................................................... 111
6.7. Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Menurut Pendidikan Pengusaha
............................................................................................................ 113
6.8. Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa Menurut Jenis
Produksi .............................................................................................. 115
6.10. Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa Menurut
Kerusakan Tempat Usaha ................................................................... 117
6.11. Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa Menurut Luas
Tempat Usaha ..................................................................................... 119
6.12. Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa Menurut Biaya
Produksi .............................................................................................. 120
6.13. Kelangsungan Usaha Menurut Akses Kredit Modal Usaha .............. 121
6.14. Distribusi Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa ......
Menurut Jumlah Tenaga Kerja ........................................................... 124
6.15. Pendapatan Usaha Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa
.......................................................................................................... 125

10
DAFTAR GAMBAR

No Judul Gambar halaman


1. Kerangka Pemikiran 30
2. Peta Administrasi Desa Panjangrejo 42
3. Pemanfaatan Pinjaman Modal Usaha oleh Industri Gerabah 87
Di Desa Panjangrejo

11
DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran halaman


1. Kuesioner L–1
2. Daftar Responden L–8
3. Perhitungan Statistik L – 16
4. Gambar-gambar di Lapangan L – 29

12
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ilmu geografi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik

antara manusia dengan lingkungannya. Bintarto (1977) yang mendefinisikan

geografi sebagai ilmu yang mempelajari hubungan kausal gejala-gejala muka

bumi, baik yang menyangkut fisik maupun makhluk hidup beserta

permasalahannya melalui pendekatan keruangan, ekologi dan regional.

Studi geografi mengenai bencana tidak hanya dapat mengungkap interaksi

faktor geosfer penyebab terjadinya bencana, tapi juga akan menarik untuk melihat

dampak bencana bagi kehidupan masyarakat baik dari aspek sosial maupun

ekonomi. BAKORNAS PBP dalam Sutanto (2006) mendefinisikan bencana

sebagai peristiwa yang disebabkan oleh alam atau ulah manusia, yang dapat

terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-lahan, yang menyebabkan hilangnya jiwa

manusia, kerusakan harta benda dan lingkungan, serta melampaui kemampuan

sumber daya manusia untuk menangulanginya. Pendekatan geografi yang dipakai

penelitian industri pasca gempa ini adalah pendekatan ekologi dengan tema

human activity – environment analysis (Yunus, 2004). Gempa merupakan faktor

lingkungan yang mempengaruhi aktivitas ekonomi dalam hal ini industri gerabah

di lokasi penelitian yaitu Desa Panjangrejo Kecamatan Pundong Kabupaten

Bantul.

13
Salah satu peristiwa bencana alam yang banyak menyita perhatian adalah

gempa tektonik yang melanda DI. Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006. Badan

Meteorologi dan Geofisika (BMG) menyebutkan kekuatan gempa tersebut 5,9

pada skala Richter. Adapun posisi episenter menurut BMG terjadi di koordinat

110,31O LS dan 8,26O BT (sekitar 25 km selatan-barat daya Yogyakarta) pada

kedalaman 33 km

(http://www.id.wikipedia.org/wiki/Gempa_Bumi_Yogyakarta_Mei_2006 diakses

7 Juli 2007)

Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Propinsi D.I. Yogyakarta

mencatat sebanyak 172.526 rumah rusak berat atau roboh akibat gempa (Kompas,

27 Mei 2007). Gempa tidak hanya menimbulkan kerugian berupa rusaknya

bangunan pemukiman, infrastruktur daerah, kehilangan harta benda dan korban

jiwa, tapi juga berdampak serius pada usaha kecil dan menengah (UKM). Tabel

1.1 menunjukkan jumlah unit UKM yang menderita kerugian akibat gempa di

Yogyakarta tahun 2006 lalu.

Tabel 1.1 Dampak Bencana Gempa Bumi Tahun 2006 Terhadap UKM
Di Yogyakarta
Kabupaten yang Jumlah UKM Jumlah UKM yang Jumlah pekerja
terkena bencana sebelum bencana terkena dampak yang terimbas
(unit) bencana (persen) (orang)
Bantul 21.306 68.7 355.730
Kota Yogya 8.619 28.5 33.870
Sleman 18.558 12 43.452
Gunungkidul 21.659 5.6 24.982
Kulonprogo 22.418 5.5 25.779

Sumber: Perkiraan Tim Penilai Gabungan dalam laporan bersama BAPPENAS, Pemerintah
Provinsi D.I Yogyakarta, dan mitra internasional, Juli 2006

14
Tabel 1.1 di atas menunjukkan Kabupaten Bantul menderita kerugian

paling besar berdasarkan persentase unit usaha yang terkena dampak gempa serta

jumlah tenaga kerja yang terimbas akibat terhentinya kegiatan usaha. Di

Kabupaten ini, sebanyak 68,7 persen perusahaannya terkena dampak gempa. Data

Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi D.I. Yogyakarta tahun 2004

menyebutkan di D.I. Yogyakarta terdapat 283 sentra industri di cabang industri

pangan, sandang, kimia dan bahan bangunan, logam dan elektronika, serta

kerajinan yang menyerap 33.094 orang tenaga kerja yang tersebar dalam 9.702

unit usaha. Kabupaten Bantul sendiri terdapat 73 sentra industri yang menyerap

9.671 tenaga kerja pada 2.621 unit usaha (Deperindagkop D.I.Yogyakarta, 2004).

Artinya hampir sepertiga industri kecil di propinsi ini berada di Kabupaten Bantul.

Kejadian gempa bumi 27 Mei 2006 sangat memukul industri kecil di D.I.

Yogyakarta, karena sekitar sepertiga industri kecil dan menengah (IKM) yang

menderita kerusakan ringan, berat maupun roboh berada di Kabupaten Bantul

(Kompas, 30 Juni 2006). Disebutkan bahwa setidaknya terdapat 2.014 unit usaha

IKM rusak dan mengakibatkan 13.785 tenaga kerja di sektor ini kehilangan

pekerjaan. Gempa tektonik Mei 2006 tidak hanya memporakporandakan rumah,

namun juga tempat, pabrik, bahan baku, barang jadi, barang siap ekspor dan

peralatan usaha.

Pemulihan industri kecil dan menengah di D.I. Yogyakarta menjadi isu

penting mengingat perannya sebagai tulang punggung ekonomi daerah. Industri

kecil merupakan kegiatan ekonomi rakyat yang banyak menyerap tenaga kerja.

Bencana yang melanda Bantul sebagai kekuatan industri kecil menuntut dua

15
persoalan yang perlu segera diatasi, yaitu menyangkut akses permodalan dan

akses pasar. Penyediaan modal sangat penting untuk memulai usaha, sedangkan

akses pasar sangat diperlukan untuk kembali menambah modal

(http://www.peduli-ukm.com diakses tanggal 5 Maret 2007).

Kecamatan Pundong di Kabupaten Bantul merupakan salah satu daerah

yang menderita kerusakan parah akibat gempa. Berdasarkan data Jogja Media

Center (tanggal 4 Juni 2006) tercatat 1.100 rumah rusak berat. Hal ini turut

memberi dampak pada kegiatan industri kecil yang banyak dilakukan masyarakat

setempat, mengingat sebagian besar usaha merupakan industri kecil yang

dikerjakan di rumah-rumah penduduk. Pundong telah lama dikenal sebagai daerah

sentra industri kerajinan gerabah di Kabupaten Bantul selain Kasongan yang

banyak memberikan kontribusi bagi perekonomian masyarakat. Sentra industri

gerabah di Kecamatan Pundong terdapat di tiga desa yaitu Srihardono,

Panjangrejo dan Bambanglipuro, dan terpusat di Desa Panjangrejo. Berdasarkan

data daftar kerusakan akibat gempa Mei 2006 di sentra industri gerabah di

Kecamatan Pundong, tercatat 214 unit usaha di Kecamatan Pundong yang

mengalami kerugian akibat gempa, masing-masing berlokasi di Desa Srihardono

25 unit, Desa Panjangrejo 188 unit dan di Desa Bambanglipuro 1 unit usaha.

Industri gerabah telah menjadi mata pencaharian yang mampu

memberikan peningkatan pendapatan dan membuka kesempatan kerja di

pedesaan. Penyerapan produknya biasanya dilakukan melalui kerja sama dengan

sentra gerabah Kasongan yang menjadi salah satu tujuan pemasaran. Selain itu

pasar ekspor juga telah lama dibidik oleh para pengusaha gerabah khususnya yang

16
berskala menengah yang telah memiliki jaringan pasar ekspor ke mancanegara

(Soemardjito, 2006).

Kerugian ekonomi yang diderita akibat terhentinya kegiatan produksi

sebagian besar unit usaha tentu berdampak luas pada kondisi perekonomian

penduduk. Kehilangan harta benda akibat gempa ditambah berkurangnya sumber

pendapatan akan menambah buruk kondisi sosial ekonomi masyarakat, khususnya

bagi pengusaha dan perajin industri gerabah.

Pada beberapa saat setelah gempa, kegiatan industri terhenti disebabkan

antara lain berkurangnya input faktor-faktor produksi maupun terganggunya

kegiatan pemasaran. Kegiatan pemasaran di sentra kerajinan seperti pada

umumnya yang terdapat di Propinsi D.I. Yogyakarta sangat didukung oleh

kegiatan pariwisata selain melayani pesanan ekspor. Berkurangnya kunjungan

wisatawan berdampak pada menurunnya hasil penjualan, terlebih hal ini didukung

oleh penururan produktivitas perajin dan pengusaha dalam menghasilkan output

disebabkan kesulitan modal akibat gempa. Penurunan omzet usaha inilah yang

menjadi kekhawatiran khususnya bagi industri berskala kecil dan rumah tangga

dalam mempertahankan kelangsungan usahanya.

Pemasaran produk kerajinan D.I Yogyakarta biasanya ditopang oleh

kegiatan pariwisata dan pesanan khusus. Kejadian gempa berdampak pada

penurunan jumlah wisatawan luar negeri yang datang ke Yogyakarta. Data Badan

Pariwisata Daerah D.I Yogyakarta menunjukkan penurunan kunjungan wisatawan

luar negeri yang berkunjung ke Yogyakarta yaitu dari 103.488 orang pada tahun

2005 menjadi 78.145 orang pada tahun 2006 (Kompas, 27 Februari 2008).

17
Penurunan kedatangan wisatawan ke desa-desa wisata khususnya sentra kerajinan

seperti Pundong dan Kasongan disinyalir menyebabkan penururan omzet

pengusaha industri gerabah yang berasal dari penjualan langsung produk ke

wisatawan. Hal ini diungkapkan oleh beberapa pengusaha gerabah di sentra

gerabah Kasongan dan Pundong yang mengeluhkan bahwa memasuki semester

ke-2 pasca gempa, usaha mereka masih belum berjalan normal (Kompas, 30

November 2006). Berdasarkan wawancara singkat yang dilakukan di Desa

Panjangrejo (Juli 2007) pada salah satu pengusaha gerabah berskala menengah

menyebutkan bahwa penurunan omzet setahun pasca gempa mencapai lebih dari

60 persen. Kegiatan produksi hanya dilakukan sebatas memenuhi pesanan.

Meskipun diakui jumlah pesanan relatif stabil, sistem penjualan seperti ini

dianggap kurang efektif untuk mendongkrak peningkatan omzet yang akan

mempercepat proses pemulihan usaha.

Penurunan omzet yang terus berlanjut dapat mengancam kelangsungan

usaha. Berkurangnya hasil omzet usaha berarti terjadi penurunan pendapatan yang

menjadi sumber modal kegiatan produksi. Jika ini terus berlangsung maka

dikhawatirkan akan menyebabkan penurunan produktivitas usaha bukan tidak

mungkin suatu unit usaha akan berhenti menjalankan kegiatan produksinya.

Dampak berhentinya kegiatan industri gerabah ini tidak hanya dirasakan oleh

pengusaha yang kehilangan sumber pendapatan tapi juga oleh masyarakat sekitar

yang bekerja sebagai tenaga kerja di unit usaha tersebut, maupun kegiatan

ekonomi terkait lain seperti jasa transportasi, pengiriman barang dan pengadaan

bahan baku.

18
Kelangsungan usaha industri kecil di daerah sentra industri pasca gempa

menjadi isu penting karena menyangkut kemampuan ekonomi masyarakat untuk

bangkit kembali dari keterpurukan dan menuju taraf kehidupan seperti sebelum

bencana. Kelangsungan usaha industri gerabah di Pundong menjadi menarik

diteliti karena hampir semua unit usahanya merupakan usaha rumah tangga yang

biasanya mengalami permasalahan terbatasnya modal sehingga akan mengalami

kesulitan untuk bangkit kembali jika mengalami bencana yang menyebabkan

kerugian yang sangat besar. Kondisi ini menyulitkan unit usaha terutama yang

menjadi korban bencana untuk memulai usahanya serta kembali pada kondisi

sebelum gempa sehingga dapat mengganggu kelangsungan usaha.

1.2. Perumusan Masalah

Kerusakan unit usaha akibat gempa menyebabkan terhentinya kegiatan

produksi selama beberapa waktu. Terhentinya kegiatan produksi telah

menyebabkan hilangnya potensi pendapatan pengusaha dan dapat mengancam

kelangsungan usaha. Pemasaran produk gerabah di Desa Panjangrejo hampir

seluruhnya bergantung dari pesanan sentra gerabah Kasongan yang di saat

bersamaan sempat lumpuh akibat gempa dapat berdampak pada penurunaan

pendapatan usaha. Setelah lebih dari satu tahun pasca gempa, muncul pertanyaan

tentang bagaimana kelangsungan usaha industri gerabah di Desa Panjangrejo.

19
1.3 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas pertanyaan dalam penelitian ini

yaitu:

1. Bagaimana kondisi usaha industri gerabah di Desa Panjangrejo pasca

gempa?

2. Bagaimana kelangsungan usaha industri gerabah di Desa Panjangrejo?

3. Seberapa besar pendapatan bersih usaha industri gerabah pasca gempa di

Desa Panjangrejo?

1.4. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui kondisi usaha industri gerabah pasca gempa di Desa

Panjangrejo.

2. Mengetahui kelangsungan usaha industri gerabah pasca gempa di Desa

Panjangrejo.

3. Mengetahui seberapa besar pendapatan bersih usaha industri gerabah

pasca gempa di Desa Panjangrejo.

1.5. Manfaat Penelitian

1. Sebagai bahan untuk melengkapi syarat mencapai gelar Sarjana S-1 di

Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.

2. Sebagai suatu wacana bagi penelitian sejenis mengenai kelangsungan

usaha industri kecil pasca bencana.

20
3. Menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah, stakeholder dalam

mengambil kebijakan yang diperlukan dalam pemulihan industri kecil

pasca bencana.

1.6 Tinjauan Pustaka

1.6.1. Peran Industri Kecil Dalam Pembangunan Ekonomi

Secara geografis 69 persen Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Bali yang mayoritas berada di pedesaan dan

bergerak di sektor industri. Berdasarkan data Kementrian Negara Koperasi dan

UKM dan BPS tahun 2005, 99 persen unit usaha di Indonesia merupakan industri

kecil yang mampu menyerap sekitar 66 persen dari total tenaga kerja di sektor

industri. Industri kecil juga turut menyumbang sebesar 54 – 57 persen dari total

kontribusi sektor industri terhadap PDB selama tahun 2002 – 2005 (Kuncoro,

2007). Industri kerajinan merupakan industri kecil yang banyak dilakukan

masyarakat. Kinerja industri kerajinan dalam memperoleh devisa lewat ekspor

terus meningkat dari tahun ke tahun. Nilai ekspor Indonesia pada tahun 2005

mencapai US$461,1 juta, dengan pertumbuhan ekspor tahun 2004/2005 sebesar

18.75 persen.

Berkembangnya isu otonomi dalam pembangunan daerah menuntut tiap

daerah melakukan optimalisasi pemanfaatan potensi wilayah, kekayaan alam,

sumber daya manusia dan kondisi sosial ekonomi sesuai latar belakang budaya

yang dimiliki (Harini, dkk, 2005). Industri kecil dan menengah dalam hal ini

mempunyai peran penting bagi pembangunan ekonomi daerah karena sifat yang

21
dimiliki. Pertama jenis produk yang dihasilkan sangat terkait dengan budaya

setempat, kedua pemanfaatan sumber daya lokal, baik bahan baku maupun aspek

ketenagakerjaan dan keterampilan yang berasal dari budaya masyarakat setempat.

Bintarto (1977: 24) mengemukakan bahwa adanya sektor industri di

perdesaan seperti industri kerajinan selain dapat mengurangi pengangguran dapat

dikurangi dan menambah pendapatan masyarakat, juga dapat menimbulkan daya

kreasi di dalam menciptakan sebuah hasil produk dari industri tersebut. Dengan

demikian, kehadiran industri perdesaan dan kerajinan secara tidak langsung juga

berpengaruh pada kemampuan masyarakat untuk menciptakan kreativitas maupun

inovasi produk kerajinan sehingga mengasah keterampilan masyarakat.

Berdasar penggolongan skala usaha oleh BPS tahun 2002, industri kecil

dan rumah tangga adalah industri yang mempekerjakan tenaga kerja kurang dari

20 orang. Ciri industri kecil dan rumah tangga (IKRT) secara umum adalah masih

berskala kecil (terutama dilihat dari kapasitas produksinya), kurang maju dalam

teknologi dibanding industri modern, sangat tergantung pada sumber daya lokal,

jauh lebih padat tenaga kerja, didukung oleh pekerja yang masih mempunyai

hubungan keluarga yang tidak dibayar, dan hanya memiliki akses pada dana milik

sendiri atau lokal (Basri, 2002). Industri kecil memiliki karakteristik antara lain

sebagai berikut (Staley, 1965):

1. Pengelolaan/manajemen dengan spesifikasi relatif sempit.

Industri kecil dicirikan oleh manajemen perseorangan. Manajer dan beberapa

asistennya mengelola produksi, keuangan, tenaga kerja, penjualan dan segala

aspek bisnis pembelian lainnya. Tidak ada direktur utama untuk tugas spesifik

22
manajemen tertentu dan tidak ada persiapan untuk staf seperti pembedaan dari

fungsi lainnya.

2. Hubungan personal yang dekat atau akrab

Manajer secara pribadi menjalin komunikasi akrab dengan pelaksana

produksi, pelanggan, dan pemilik (pemilik bahkan identik dengan manajer).

Industri kecil memiliki kualitas hubungan antar personal yang erat serta

fleksibel dalam operasi atau aktivitas harian, misalnya dalam memenuhi

pesanan khusus dari pelanggan.

3. Keterbatasan dalam mengakses modal dan kredit.

Industri kecil akan menemui risiko yang lebih besar dan menemui kesulitan

untuk mendapatkan pinjaman atau kredit dari pihak perbankan maupun

institusi keuangan lain.

Propinsi D.I. Yogyakarta, industri kecil telah membuktikan perannya

dalam penyerapan tenaga kerja sekaligus menjadi sumber pendapatan masyarakat

khususnya di pedesaan. Laporan Tahunan Dinas Perindustrian Perdagangan dan

Koperasi Propinsi D.I. Yogyakarta Tahun 2004 menyebutkan bahwa terjadi

peningkatan jumlah unit usaha industri kecil dari 78.100 unit usaha pada tahun

2003 menjadi 78.609 unit usaha pada tahun 2004. Jumlah ini mencapai 97,93

persen dari keseluruhan unit usaha di sektor industri serta menyerap 66,4 persen

tenaga kerja sektor industri di propinsi ini (Dinas Perindustrian, Perdagangan dan

Koperasi Propinsi D.I. Yogyakarta, 2004). Mayoritas industri kecil di D.I.

Yogyakarta bergerak di bidang produksi bahan makanan, pengolahan tembakau,

23
tekstil, sandang, kulit, perabot rumah tangga, kerajinan tangan dan barang-barang

seni.

Peran penting yang dimainkan industri kecil bagi penyediaan lapangan

kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat mendapat perhatian pemerintah

melalui upaya pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), baik pusat

maupun daerah lewat pemberdayaan usaha kecil. RPJMN 2004 – 2009

menyebutkan bahwa salah satu program pemberdayaan usaha skala mikro

bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat yang bergerak di sektor

ekonomi informal berskala mikro, terutama yang berstatus keluarga miskin agar

memperoleh pendapatan tetap, melalui peningkatan kapasitas usaha sehingga

menjadi unit usaha yang lebih mandiri, berkelanjutan dan siap untuk tumbuh dan

bersaing. Perhatian pemerintah terhadap pembangunan di sektor industri tertuang

dalam kebijakan pembangunan industri dengan sasaran yang ditempuh melalui 2

tahapan yaitu tahapan jangka menengah (2004 – 2009) dan jangka panjang (2010-

2025). Salah satu strategi pokoknya adalah pengembangan industri kecil dan

menengah (IKM) (http://www.dprind.go.id.kebijakan10KIPN – Bab6.pdf. diakses

2 Maret 2008).

Keberadaan industri kecil dan menengah di negara berkembang

mempunyai peranan strategis dalam pembangunan ekonomi, yaitu untuk

mengeliminasi ketimpangan yang diakibatkan proses pembangunan yang tidak

merata, terutama karena terjadinya bias pembangunan perkotaan yang

menyebabkan daerah perdesaan menjadi jauh lebih tertinggal dibandingkan

daerah perkotaan (Sulistyawati, 2004). Industri perdesaan merupakan alternatif

24
bagi masyarakat desa untuk mengatasi masalah rendahnya pendapatan di sektor

pertanian. Industri perdesaan oleh masyarakat dikenal sebagai tambahan sumber

pendapatan keluarga yang dapat menunjang kegiatan pertanian sebagai mata

pencaharian pokok, sehingga industri perdesaan mempunyai arti penting dalam

mengurangi tingkat kemiskinan di perdesaan. Alasan industri perdesaan dipilih

sebagai salah satu solusi mengatasi kesulitan pemenuhan kebutuhan hidup adalah

karena pada umumnya industri perdesaan merupakan peluang kerja yang tidak

membutuhkan pengetahuan maupun tingkat pendidikan yang tinggi, selain modal

yang diperlukan relatif kecil dengan penggunaan teknologi yang cukup sederhana

(Sulistyawati, 2004). Industri kecil termasuk kerajinan yang sebagian besar

berlokasi di perdesaan menjadi alternatif solusi bagi penyediaan lapangan kerja

bagi tenaga kerja yang tidak terserap di sektor pertanian sehingga diharapkan

mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mengurangi angka pengangguran

(Rahardjo, 1984).

Verkoren dalam Karwur (1993:20) menyebutkan, kegiatan usaha di luar

sektor pertanian di daerah perdesaan dalam bentuk industrialisasi, termasuk di

dalamnya industri kecil dan rumah tangga, diarahkan untuk menjadi penggerak

pertumbuhan ekonomi dan perluasan kesempatan kerja. Pengembangan industri

perdesaan baik industri kecil maupun industri rumah tangga bertujuan untuk

menciptakan pekerjaan non pertanian bagi penduduk perdesaan yang menganggur

dan setengah menganggur, mengatasi arus migrasi ke pusat-pusat perkotaan dan

memperkuat landasan ekonomi perdesaan dan memanfaatkan sepenuhnya

keterampilan yang ada di daerah perdesaan. Alasan dikembangkannya industri

25
kecil di pedesaan dikemukakan oleh Prayitno (1987) yaitu: (1) karena letaknya di

daerah pedesaan maka tidak akan menambah laju urbanisasi; (2) sifatnya yang

padat karya sehingga memiliki kemampuan menyerap banyak tenaga kerja per

unit yang diinvestasikan, (3) penggunaan teknologi yang sederhana sehingga

mudah dipelajari dan dilaksanakan.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kegiatan industri lokal kurang

mempunyai nilai ekonomis, yang artinya hanya merupakan manifestasi tradisi

setempat dalam bentuk usaha kerajinan tangan yang membantu menambah

penghasilan selain kegiatan utama di sektor pertanian. Namun pada penelitian

yang dilakukan Yuarsi (1999) tentang industri pengecoran logam di Klaten

dikatakan para petani memperoleh pendapatan utama dari kegiatan pertanian dan

kerajinan. Pada awalnya usaha para petani di Klaten itu hanyalah usaha sambilan

yang dijalankan dengan menginvestasikan surplus hasil produksi pertanian.

Dalam perkembangannya usaha kerajinan itu semakin mampu menunjukkan

kekuatannya untuk bertahan secara permanen (retainability).

Usaha kecil dan menengah lebih mampu bertahan menghadapi perubahan

kondisi ekonomi. Pada masa krisis ekonomi tahun 1997 – 1998 menyebabkan

kebangkrutan banyak bisnis dan industri. Krisis moneter menciptakan

ketidakstabilan nilai tukar uang, meningkatkan inflasi, tingkat bunga, kelangkaan

bahan baku industri, penurunan daya beli dan konflik sosial. Selama krisis

ekonomi, hanya 4 persen dari UKM yang mengalami kehancuran atau berhenti

usahanya. Enampuluh empat persen lainnya selamat dan sisanya menyesuaikan

26
skala industrinya. Menurut Basri (2002), paling tidak ada 3 penyebab UKM dapat

bertahan hidup, yaitu:

 UKM menggunakan sedikit bahan baku impor

 UKM mempunyai kemampuan menjual produksinya dengan harga

bersaing ke pasar yang lebih luas

 Sebagian besar UKM menggunakan modal sendiri untuk memperkecil

ketergantungan pada perbankan.

Hal di atas senada dengan yang pernah dinyatakan oleh Direktur Institude for

Small Scale Industries dari Universitas Filipina, Leon V. Chico (1975 dalam

Verkoren,1991) mengemukakan bahwa industri kecil dan kerajinan memiliki

beberapa kelebihan dibanding industri besar, yaitu karena memiliki sejumlah

fleksibilitas dan kemampuan adaptasi yang sulit dilakukan industri besar, tidak

tergantung pada sumber dana perbankan. Karakterstik usaha kecil yang sangat

heterogen, struktur investasinya yang sangat bergantung kepada modal kerja,

strategi usaha pada umumnya jangka pendek membuat usaha kecil sangat lentur

menghadapi perubahan yang terjadi dalam lingkungan usahanya (Sadoko, dkk

1995). Dalam tesisnya Wahyuningsih (2000) menyatakan bahwa industri gerabah

Kasongan masih bisa tetap bertahan meskipun telah terjadi kesulitan ekonomi

secara umum di Indonesia. Pada sisi lain industri gerabah Kasongan justru

menyediakan lapangan kerja baru atau masih mampu menyerap tenaga kerja baru

dari sektor industri yang terkena dampak dari krisis moneter, sementara industri

menengah dan besar yang lain justru banyak melakukan pemutusan hubungan

kerja terhadap tenaga kerjanya.

27
Perkembangan UKM tidak lepas dari faktor-faktor penghambat.

Berdasarkan data BPS 2001, masalah utama yang dihadapi UKM adalah

permodalan, pemasaran dan bahan baku. Sedangkan menurut World Bank, dalam

Rural Investment Climate Survey Tahun 2006 menyatakan bahwa kendala utama

yang dikeluhkan IKM baik di desa maupun di kota adalah permintaan yang

melemah, akses kredit, akses jalan, biaya transportasi dan tingkat bunga.

1.6.2. Pengembangan Industri Kecil

Dalam usaha pengembangan industri skala kecil di perdesaan perlu

memperhatikan masalah-masalah modal serta bahan baku dan bahan tambahan,

pemasaran, teknologi produksi dan manajemen (Verkoren, 1991). Usaha

pengembangan industri kecil perlu didukung penguatan modal oleh pengusaha.

Masalah permodalan sangat penting bagi perkembangan industri kecil. Kesulitan

akses modal dari perbankan yang pada umumnya dialami pengusaha kecil

memerlukan solusi program kemitraan yang membantu penyediaan modal bagi

industri kecil. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa faktor modal menjadi

penghambat perkembangan industri kecil disebabkan keterbatasan modal pribadi

yang dimiliki untuk usaha. Pada unit usaha yang menjadi korban bencana

penyediaan modal sangat diperlukan terutama untuk memulai kembali usaha

mereka.

Smith (1981) mengatakan bahwa pemasaran adalah salah faktor produksi

penting sebagai persyaratan berkembangnya industri pada suatu wilayah, hal ini

sejalan dengan sasaran akhir suatu usaha adalah untuk memasarkan hasil atau

28
produk yang dihasilkan. Hal senada dikemukakan Endarto (2006) bahwa hal

terpenting dalam kelangsungan usaha adalah pasar atau konsumen. Meskipun

usaha didukung oleh permodalan yang memadai namun akan sia-sia jika barang

atau jasa yang dihasilkan tidak diserap pasar. Hal kedua yang penting adalah

spesifikasi produk yaitu keunggulan produk dibanding produk lain. Produsen

industri kerajinan dalam hal ini yang mempunyai produk unik dan berbeda

misalnya dalam hal desain, akan mempunyai segmen pasar yang berbeda dalam

arti saingan dalam memperoleh konsumen tidak sebanyak mereka yang memiliki

desain yang sudah banyak dibuat orang lain. Produsen yang sudah memiliki

kesadaran akan pentingnya keunikan produk biasanya akan berusaha melindungi

karya cipta mereka di antaranya dengan tidak sembarang memperlihatkan katalog

produk pada orang yang bukan konsumen.

Konsep pemasaran produk hasil industri kecil di perdesaan di sini harus

diupayakan sebagai pemasaran yang berorientasi kepada konsumen. Artinya

produk industri kecil termasuk kerajinan di perdesaan hendaknya menjadi produk

yang diminati oleh konsumen dengan mengikuti selera pasar. Pemasaran produk

industri kecil dan kerajinan harus didukung promosi dan sistem distribusi yang

mendorong peningkatan penjualan sehingga dapat meningkatkan pendapatan

pengusaha dan pengrajin. Upaya menghubungkan produsen industri kerajinan

kepada konsumen atau pembeli potensial salah satunya dengan mengkaitkan

industri kecil dengan industri menengah lewat pertemuan kedua belah pihak untuk

membantu pemasaran produk-produk industri perdesaan.

29
Untuk menghasilkan produk berkualitas yang mampu bersaing dan

diminati pasar, tidak terlepas dari peran teknologi produksi. Penggunaan teknologi

produksi yang tepat disamping berperan meningkatkan produktivitas karena

waktu yang diperlukan untuk menghasilkan produk menjadi lebih singkat dengan

jumlah yang lebih banyak, juga diharapkan meningkatkan kualitas produk yang

dihasilkan. Pada industri kerajinan perdesaan, upaya penggunaan teknologi

industri yang lebih modern dilakukan dengan mendorong pengusaha menemukan

sendiri perangkat sesuai kebutuhan usahanya, sehingga teknologi terapan yang

dihasilkan dapat mendukung peningkatan produktivitas.

Masalah penyediaan bahan baku dan bahan tambahan juga sering kali

menjadi kendala, terutama jika bahan-bahan tersebut tidak tersedia di sekitar

lokasi industri, atau harus membeli dari tempat atau daerah lain. Pengusaha

industri kecil biasanya menjalin kerjasama dengan pemasok bahan baku, sehingga

ketersediaan bahan baku terjamin.

Jalinan kerjasama antar sentra industri tidak hanya menyangkut

penyediaan bahan baku, tapi juga mencakup pemasaran. Pengusaha industri

gerabah di Desa Panjangrejo biasanya memproduksi produk pesanan khusus dari

Kasongan. Jalinan kerjasama antar pengusaha dalam suatu sentra industri maupun

antara sentra industri yang satu dengan sentra industri lain yang saling berkaitan

diterangkan dalam penelitian Kuncoro dan Supomo (2003) mengenai pola kluster

sentra gerabah Kasongan. Dalam penelitiannya disimpulkan bahwa kluster

Kasongan mengikuti sebagian pola Kluster Marshallian dan Hub and Spoke.

Salah satu variabel penciri Kluster Marshallian adalah adanya jalinan kerja sama

30
dengan pemasok yang relatif kuat, sedangkan variabel yang mengikuti pola

Kluster Hub and Spoke adalah jalinan kerja sama dengan perusahaan lain di luar

kluster juga relatif kuat. Jalinan kerjasama baik antar pengusaha di dalam kluster

atau antara pengusaha suatu kluster dengan pengusaha di luar kluster sangat

membantu perkembangan usaha. Dalam kasus kluster Kasongan, jalinan

kerjasama yang erat dengan pemasok bahan baku membuat ketersediaan pasokan

bahan baku lebih terjamin. Pada sentra kerajinan Pundong jalinan kerjasama di

luar kluster tampak pada jalinan kerjasama yang telah lama dilakukan dengan

sentra Kasongan sebagai tujuan pemasaran utama.

Manajemen usaha industri kecil sering kurang mendapat perhatian

misalnya masih banyak pengusaha yang mencampur adukkan antara pencatatan

keuangan pribadi dengan keuangan usaha, sehingga perkembangan usaha sulit

diamati. Selain itu manajemen usaha juga terkait dengan kewirausahaan

pengusaha dalam mencari peluang untuk pengembangan usahanya.

Pada umumnya suatu perusahaan atau unit usaha didirikan dengan tujuan

memperoleh keuntungan. Menurut Sune Carlson (dalam Bettie and Taylor, 1994)

ada empat kekuatan yang menentukan keuntungan perusahaan yaitu pengetahuan

teknis, permintaan produk, suplai faktor, dan suplai kapital atau modal uang.

Kesemua faktor produksi tersebut sangat berperan dalam meningkatkan

pendapatan yang diperoleh perusahaan yang pada akhirnya akan menambah

modal produksi.

Dalam kaitannya dengan lokasi suatu industri Renner (1957) menyatakan

bahwa industri-industri pengolahan akan lebih menguntungkan apabila lokasi

31
dekat dengan sumber bahan mentah (raw material oriented). Disamping itu

pemasaran dapat dilakukan secara langsung di lokasi tersebut. Penghematan

lokalisasi, yang berkaitan dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki aktivitas

yang berhubungan satu sama lain, telah memunculkan fenomena kluster industri.

Kluster didefinisikan sebagai kumpulan industri yang terkait satu sama lain

berdasarkan hubungan pembeli dan pemasok yang terspesialisasi, atau memiliki

keterkaitan dalam teknologi maupun keterampilan. Lebih lanjut Kuncoro (2002)

menguraikan bahwa kluster industri (industrial cluster) pada dasarnya merupakan

kelompok produksi yang amat terkonsentrasi secara spasial dan biasanya hanya

berspesialisasi pada satu atau dua jenis industri. Menurut Tambunan (1999)

industri di sentra-sentra dapat berkembang lebih pesat, lebih fleksibel dalam

menghadapi perubahan pasar, dan dapat meningkatkan produksinya daripada

industri kecil secara individu di luar sentra. Di pihak lain, saat terjadi bencana

dalam hal ini gempa yang melanda suatu sentra industri, maka dampak kerugian

yang dirasakan pun akan besar karena menimpa begitu banyak unit usaha yang

berdekatan dan saling terkait.

Penelitian tentang kelangsungan industri oleh Dwiyono (2001) mengenai

kelangsungan usaha pasca krisis pada industri batu bata di Kabupaten Blora yang

diukur dengan pencapaian efisiensi produksi di dua tempat yang berbeda

aksessibilitasnya. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa efisiensi produksi pada

unit usaha di lokasi aksessibilitas tinggi lebih baik tinggi dibanding industri di

lokasi dengan aksessibilitas rendah. Dengan kata lain, industri dengan

aksessibilitas tinggi akan memiliki kelangsungan usaha lebih baik karena mampu

32
melakukan efisiensi lebih tinggi dibandingkan industri di lokasi dengan

aksessibilitas rendah. Sedang penelitian mengenai hubungan karakteristik

pengusaha dengan produksi pada industri gerabah di Desa Panjangrejo Kab.

Sleman menunjukkan adanya korelasi positif antara tingkat pendidikan, riwayat

usaha (pengalaman kerja) dengan produksi. Penelitian serupa tentang

perkembangan usaha tatah sungging di Desa Wukirsari Kecamatan Imogiri,

Bantul menunjukkan tidak terdapat perbedaan pendapatan dan perkembangan

usaha berdasarkan tingkat aksessibilitas.

1.6.3. Pemulihan Ekonomi Dalam Manajemen Bencana

Menurut BAKORNAS PBP, bencana adalah peristiwa yang disebabkan

oleh alam atau ulah manusia, yang dapat terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-

lahan, yang menyebabkan hilangnya jiwa manusia, kerusakan harta benda dan

lingkungan, serta melampaui kemampuan dan sumberdaya manusia untuk

menanggulanginya. Bencana sering dianggap sebagai suatu ketidakpastian, sulit

direspon, dan dampaknya bisa sampai beberapa generasi. Sesuatu disebut bencana

bila yang mengalami masalah atau masyarakat lokal tidak mampu menanganinya.

Oleh karena itu perlu keterlibatan masyarakat secara regional atau nasional,

bahkan internasional. Bencana berkaitan dengan isu yang luas, bukan saja

masalah ekologi, tetapi masalah sosial, ekonomi, bahkan merambah ke wilayah

politik. Ketidakmampuan dalam menangani bencana bisa berakibat fatal terhadap

kepercayaan masyarakat kepada penguasa (http://www.lppm.ac.id diakses 26 Juni

2007).

33
Munculnya kesadaran akan keterbatasan manusia dalam memprediksi dan

menghadapi bencana, diperlukan upaya yang lebih terarah dalam penanggulangan

bencana lewat manajemen bencana. Sutanto (2006) mengatakan manajemen

bencana adalah proses terus-menerus yang melibatkan pemerintah, dunia usaha

dan masyarakat sipil dalam merencanakan dan mengurangi pengaruh bencana,

mengambil tindakan segera setelah bencana terjadi, dan mengambil langkah-

langkah untuk pemulihan. Manajemen bencana merupakan strategi dan kebijakan

dalam mencegah, memprediksi, dan mengantisipasi bencana sebatas kemampuan

yang dimiliki serta meminimalkan kerugian.

Permasalahan yang ditimbulkan akibat bencana gempa bumi dapat

dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu masalah yang timbul pada manusia

sebagai individu, masalah yang timbul pada manusia sebagai makhluk sosial yang

berinteraksi dengan lingkungan, dan masalah yang timbul pada pendukung

kehidupan manusia (Kedaulatan Rakyat, 18 April 2007). Masalah pada manusia

sebagai individu tak hanya terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar seperti

penyelamatan jiwa, pangan, sandang, tempat tinggal dan sumber pendapatan, tapi

juga mencakup pemulihan dampak psikologis yang timbul akibat bencana seperti

kondisi traumatis para korban. Dampak pada lingkungan berupa perubahan fungsi

lingkungan baik sebagai tempat manusia menjalani kehidupannya maupun sebagai

bagian dari sistem alam. Sedangkan yang dimaksud dengan masalah pada

pendukung kehidupan manusia di antaranya pada kehidupan sosial ekonomi

masyarakat, termasuk pada sarana dan prasarana fisik pendukungnya seperti

fasilitas pelayanan masyarakat, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur lain.

34
Melihat kompleksnya permasalahan yang muncul, penanganan bencana

memerlukan upaya secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai aspek

kehidupan manusia sehingga masyarakat korban bencana segera dapat menata dan

menjalani kehidupannya seperti sebelumnya. Upaya mengurangi dampak bencana

yang dilaksanakan lewat manajemen bencana terdiri dari beberapa tahapan.

Tahapan ini terdiri dari mitigasi, tanggapan (response) dan pemulihan (recovery)

(Sutanto, 2006). Proses mitigasi, kewaspadaan, tanggapan dan pemulihan ini

berlangsung terus menerus sehingga disebut siklus manajemen bencana.

Proses mitigasi melibatkan pencegahan bencana agar jangan sampai terjadi

dan pengurangan dampak buruk akibat bencana yang sudah terjadi, pada tahap

minimal terutama penyelamatan korban jiwa. Saat bencana telah terjadi dilakukan

upaya tanggap darurat (response) yaitu tindakan penyaluran bantuan dan

penyelamatan yang diperlukan. Langkah tanggap darurat bertujuan

menyelamatkan masyarakat yang masih hidup, mampu bertahan dan segera

terpenuhinya kebutuhan dasar yang paling minimal. Sasaran utama dari tahap

tanggap darurat adalah penyelamatan dan pertolongan manusia dengan prioritas

pada upaya menolong korban yang masih hidup, mengevakuasi jenazah dan

menguburkan, penyediaan makanan dan obat-obatan serta memperbaiki sarana

dan prasarana dasar agar berfungsi secara minimal. Selanjutnya pada tahap

terakhir dimulailah masa pemulihan, yaitu membangun kembali daerah atau

tempat yang terkena bencana sehingga keadaannya kembali seperti semula bahkan

lebih baik dibanding sebelum bencana.

35
Usaha pemulihan berkaitan dengan pembangunan dan penyediaan kembali

bangunan-bangunan dan aset-aset yang hancur atau hilang, terutama infrastruktur

yang vital. Termasuk di dalamnya adalah rekonstruksi bangunan-bangunan dan

fasilitas yang mengalami kerusakan dan rehabilitasi fungsi-fungsi sosial

kehidupan masyarakat. Rekonstruksi adalah pembangunan yang bersifat

permanen atau penggantian kerugian fasilitas fisik yang rusak, pemulihan secara

penuh pelayanan dan infrastruktur lokal dan revitalisasi ekonomi. Adapun

rehabilitasi lebih berfokus pada usaha-usaha meningkatkan kemampuan

masyarakat di wilayah yang terkena bencana untuk memulihkan pola hidup

normal seperti sebelum bencana. Tahap rehabilitasi bertujuan mengembalikan dan

memulihkan fungsi bangunan dan infrastruktur yang mendesak untuk

ditindaklanjuti. Sasaran utama dari tahap rehabilitasi adalah untuk memperbaiki

pelayanan publik hingga pada tahap yang memadai. Prioritas penanganan pada

tahap ini berkaitan dengan permasalahan pendidikan, kesehatan, perumahan,

fasilitas pelayanan umum, perekonomian, pemerintahan, perlindungan sosial dan

lingkungan hidup.

Pemulihan (recovery) di bidang ekonomi dilakukan melalui upaya

pemberdayaan masyarakat. Bentuk-bentuk program pemberdayaan terus

dilakukan oleh pemerintah Pusat, Daerah maupun LSM terkait. Salah satunya

melalui program kemitraan yang melibatkan petani, pengrajin, dan industri

perdesaan yang diiringi aksi sosial dari lembaga atau instansi pemberi bantuan

(Aristanti, 2007). Tahap selanjutnya adalah rekonstruksi yang mencakup

memulihkan kehidupan dan penghidupan masyarakat, memperbaiki infrastruktur

36
dan ekonomi dan jalannya pemerintahan lokal. Prioritas harus diletakkan pada

pemulihan mata pencarian dan struktur sosial masyarakat yang telah hancur,

termasuk perumahan dan tempat penampungan, mendorong kegiatan usaha,

menciptakan perdagangan dan pendapatan, membangun kembali mata

pencaharian desa dan menyediakan pelayanan publik.

Mayoritas orang yang terkena dampak terburuk dari bencana adalah

kelompok masyarakat miskin. Perekonomian masyarakat terhenti selama 10 hari.

Bagi orang miskin bencana berarti kehilangan harta, pekerjaan dan kesejahteraan

ekonomi. Ini dapat menimbulkan kemunduran ekonomi yang berarti. Oleh sebab

itu bantuan rekonstruksi harus dirancang untuk menyelamatkan perekonomian

masyarakat, yang dilakukan dengan menginjeksi modal ke dalam masyarakat,

menciptakan peluang kerja, serta mendukung dan memperkuat unit-unit ekonomi

yang ada. Upaya-upaya ini perlu dilakukan untuk menumbuhkan kembali

semangat masyarakat untuk segera memulai kembali kehidupan mereka, sehingga

setelah program pemberian bantuan selesai, mereka dapat menjalankan

kehidupannya seperti sebelum bencana, bahkan pada kondisi yang lebih baik.

Pemulihan industri kecil dan menengah di DI. Yogyakarta menjadi isu

penting mengingat perannya sebagai tulang punggung ekonomi daerah. Apalagi

industri kecil merupakan kegiatan ekonomi rakyat yang banyak menyerap tenaga

kerja. Bencana yang melanda Bantul sebagai kekuatan industri kecil menuntut dua

persoalan yang perlu segera diatasi, yaitu menyangkut akses permodalan dan

akses pasar. Penyediaan modal sangat penting untuk memulai usaha, sedangkan

37
akses pasar sangat diperlukan untuk kembali menambah modal (www.peduli-

ukm.com diakses tanggal 5 Maret 2007).

1.6.4. Tinjauan Empiris

Penelitian tentang industri gerabah di Desa Panjangrejo sebelumnya telah

dilakukan Kumalawati (2003) berjudul “Hubungan Antara Karakteristik

Pengusaha dengan Produksi Untuk Pengembangan Industri Kerajinan Gerabah Di

Desa Panjangrejo Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul”. Menurut Kumalawati

(2003) usaha industri gerabah di desa Panjangrejo Kecamatan Pundong didukung

oleh tersedianya faktor-faktor pendukung di wilayah tersebut, antara lain modal,

bahan baku, bahan bakar, tenaga kerja, transportasi dan aktivitas manusia.

Aktivitas manusia melibatkan penyediaan bahan baku, bahan bakar, bahan

tambahan atau penolong, dalam proses produksi sampai pemasaran. Permasalahan

yang dihadapi para pengusaha industri gerabah di Desa Panjangrejo adalah belum

tertatanya lokasi industri kerajinan gerabah serta belum masuknya sarana

transportasi umum dan telekomunikasi.

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara karakteristik

pengusaha dengan produksi industri gerabah, serta mempelajari hubungan antara

kebijakan pemerintah dengan produksi industri gerabah. Hasil yang diperoleh

adalah terdapat korelasi positif antara tingkat pendidikan dan tingkat produksi.

Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi tingkat produksi,

meskipun korelasi kedua variabel lemah. Kedua adalah adanya korelasi positif

yang lemah antara riwayat usaha dengan tingkat produksi. Di sini dimaksudkan

38
bahwa semakin lama pengusaha menekuni usahanya maka pengusaha tersebut

semakin menguasai serta lebih mampu mengembangkan usahanya sehingga

mempunyai tingkat produksi yang lebih tinggi. Korelasi signifikan diperoleh dari

analisis hubungan manajemen usaha dengan tingkat produksi. Pengusaha yang

memiliki manajemen usaha yang lebih baik akan mempunyai tingkat produksi

yang lebih tinggi. Pengusaha yang menguasai manajemen akan bisa menangani

usaha menjadi lebih produktif.

Perkembangan industri gerabah di Desa Panjangrejo juga tidak terlepas

dari peran pemerintah berupa kebijakan pemberian pelatihan atau penyuluhan,

pelayanan kredit atau modal, pelayanan pemasaran, pembinaan desain serta

penggunaan teknologi. Hasil penelitian Kumalawati (2003) menunjukkan adanya

korelasi positif antara kebijakan pemerintah terhadap tingkat produksi.

Pemanfaatan pelayanan penyuluhan, pelatihan, pembinaan desain dan pemasaran

oleh pengusaha akan mencapai pengembangan tingkat produksi yang tinggi.

Sebaliknya pengusaha yang tidak ikut aktif memanfaatkan kebijakan pemerintah

tidak akan dapat mencapai pengembangan tingkat produksi yang tinggi.

Beberapa penelitian mengemukakan faktor modal menjadi penghambat

industri kecil kerajinan untuk berkembang disebabkan keterbatasan modal pribadi

yang dimiliki untuk usaha. Penelitian Suhendratmo (2003) tentang industri

kerajinan mebel bambu (IKMB) di Desa Tirtodadi Kecamatan Mlati Sleman

mengemukakan memiliki keterbatasan disebabkan modal yang terbatas, sulitnya

membentuk jaringan pemasaran, terbatasnya tenaga terampil dan rendahnya

manajemen pembukuan. Lastari (2000) dalam penelitiannya tentang industri

39
kerajinan tanduk menyatakan bahwa pinjaman modal dari bank kurang diminati

oleh pengusaha disebabkan ketidakpastian keuntungan yang diperoleh sehingga

dikhawatirkan tidak sanggup membayar angsuran pinjaman. Pinjaman hanya

dilakukan oleh pengusaha yang cukup besar. Oleh karena itu pada umumnya

pengusaha kerajinan lebih banyak menggunakan modal sendiri. Alasan lemahnya

permodalan industri kecil diutarakan oleh Said (1991) yaitu:

1. Bentuk perusahaan yang pada umumnya perseorangan, sehingga modal

dasar relatif kecil dan hanya berasal dari kalangan sendiri atau pemilik.

2. Tidak mampu membuat perencanaan kebutuhan modal.

3. Kekurangan modal kerja.

4. Tidak adanya modal investasi untuk rehabilitasi dan penggantian mesin.

Keterbatasan modal ini menjadi salah satu alasan banyak usaha atau industri yang

ditekuni masyarakat pedesaan dilakukan di lingkup rumah atau pekarangan

masing-masing (Poerwanto, 2000).

1.7. Kerangka pemikiran

Sebagian besar unit usaha industri gerabah yang dijalankan di sentra

industri Pundong merupakan industri berskala kecil dan rumah tangga pada

umumnya dijalankan di rumah-rumah penduduk. Gempa mengakibatkan rusaknya

rumah-rumah pengusaha, yang berarti kehilangan tempat berusaha, akibatnya

banyak unit usaha yang berhenti menjalankan aktivitasnya. Namun demikian,

karena industri gerabah telah menjadi sumber pendapatan penduduk di Desa

Panjangrejo, industri ini kembali ditekuni oleh para pengusahanya, sehingga dapat

40
dikatakan hampir semua unit usaha kembali berlangsung. Hasil observasi

lapangan (Mei 2008) menunjukkan waktu yang dibutuhkan suatu unit usaha untuk

kembali menjalankan produksi setelah gempa berkisar antara 2 minggu sampai

satu setengah tahun, terhitung mulai sehari setelah gempa (27 Mei 2006).

Pada penelitian ini, untuk mengamati kelangsungan usaha industri

gerabah, unit industri dikelompokkan berdasarkan waktu atau jeda unit usaha

tersebut untuk kembali melakukan produksi kembali, yaitu kelompok bangkit

kurang dari 6 bulan, 6 – 12 bulan dan lebih dari 12 bulan pasca gempa. Untuk

menjawab pertanyaan kelangsungan usaha, dipakai kriteria yaitu: 1) lama waktu

suatu unit usaha untuk berproduksi kembali setelah gempa, 2) rata-rata nilai

produksi dalam sebulan. Tingkat pemulihan usaha menggambarkan perbandingan

perolehan nilai produksi pasca gempa dengan perolehan nilai produksi sebelum

gempa.

Dalam mengamati kelangsungan usaha industri gerabah, kondisi unit

usaha perlu diketahui untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai

keadaan industri pasca gempa. Kondisi unit usaha pasca gempa diterjemahkan

dalam beberapa poin, yaitu jenis produksi, kerusakan tempat usaha akibat gempa,

jenis bangunan pasca gempa dan luas tempat usaha. Hal ini dikarenakan gempa

yang menimpa unit usaha kemungkinan akan berdampak pada perubahan kondisi

unit usaha berkaitan dengan hal-hal tersebut. Pada akhirnya, kegiatan industri

memiliki tujuan untuk memperoleh pendapatan. Pengamatan tentang besar nilai

pendapatan bersih pengusaha gerabah dari kegiatan industrinya akan menjawab

tujuan no. 3 dalam penelitian ini.

41
Gempa 2006 Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo

Kerusakan Unit Usaha Akibat Gempa

Rusak ringan Rusak berat Roboh

Aktivitas industri

Berhenti < 6 bulan Berhenti 6 – 12 bulan Berhenti > 12 bulan

Karakteristik Usaha Kelangsungan Usaha: Karakteristik


- Kondisi unit usaha - Waktu bangkit Pengusaha:
- Faktor produksi: - Nilai produksi per - Jenis kelamin
• modal bulan pasca gempa - Umur
• bahan baku - Tingkat pemulihan - Jumlah anggota
• peralatan usaha
rumah tangga
• pemasaran
• tenaga kerja
- Pendidikan
- Mata pencaharian

Usaha Berlangsung Usaha Berlangsung Usaha Berlangsung


baik sedang buruk

Pendapatan Bersih

Gambar 1 Kerangka Pemikiran


1.8. Batasan Operasional

42
- Kegiatan produksi gerabah adalah seluruh kegiatan yang berhubungan dengan

pembuatan produk gerabah, mulai dari persiapan bahan baku hingga menjadi

gerabah yang siap untuk dijual (Statistik Industri, 2002).

- Kondisi usaha industri gerabah pasca gempa adalah keadaan unit industri

gerabah yang dijumpai saat penelitian dilakukan, meliputi :

1. Kerusakan bangunan tempat usaha akibat gempa

2. Luas bangunan tempat usaha

3. Jenis bangunan tempat produksi (permanen atau non permanen

berdasarkan jenis dinding)

4. Jenis barang yang diproduksi:

a. Gerabah tradisional: produk tanah liat yang dibakar berupa

barang-barang kebutuhan rumah tangga, misalnya tungku,

kuali, padasan, dan lain-lain.

b. Keramik: produk tanah liat yang dibakar berupa benda-

benda dekoratif, seperti pot bunga, sovenir, vas bunga, kap

lampu, dan lain-lain.

- Faktor produksi: faktor-faktor yang berperan dalam produksi gerabah, mulai

dari input sampai menghasilkan produk dan memperoleh pendapatan meliputi

modal, bahan baku, bahan bakar, peralatan, dan pemasaran.

- Kelangsungan industri adalah kemampuan unit usaha industri gerabah untuk

tetap melangsungkan kegiatan produksinya pasca gempa yang diamati dari

dua hal berikut.

43
1. Lama waktu henti suatu unit industri gerabah sebelum kembali

berproduksi setelah gempa, dibagi dalam 3 kelompok yaitu

kelompok berhenti < 6 bulan, kelompok berhenti 6 – 12 bulan, dan

kelompok yang berhenti > 12 bulan.

2. Nilai produksi, yaitu jumlah keseluruhan unit produk yang

dihasilkan dalam sebulan dikalikan harga jual tiap unit saat

penelitian dilakukan (Rupiah per bulan).

- Kerusakan unit usaha: kerusakan tempat dilakukannya proses produksi

industri gerabah, yang diwakili oleh kerusakan tempat tinggal pengusaha.

Jenis kerusakan terdiri dari kategori rusak ringan, rusak berat dan roboh

(Satgassos PB, 2006).

- Rusak ringan : tempat usaha mengalami kerusakan di beberapa tempat dan

masih bisa digunakan sebagai tempat produksi (Satgassos PB, 2006).

- Rusak berat: tempat usaha mengalami rusak yang cukup besar, namun masih berdiri

dan dapat dipakai sebagai tempat tinggal di beberapa bagian ruangan (Satgassos PB,

2006).

- Roboh: tempat usaha mengalami rusak sangat parah akibat gempa ditandai

dengan rusaknya dinding rumah, atap dan tiang utama penyangga rumah,

sehingga tidak bisa ditempati dan perlu dibangun kembali agar bisa digunakan

(Satgassos PB, 2006).

- Pasca gempa : sehari setelah gempa tanggal 27 Mei 2006 sampai saat

penelitian dilakukan (15 – 25 mei 2008).

44
- Industri rumah tangga : industri yang memiliki tenaga kerja 1 – 4 orang (BPS,

2002)

- Pengusaha industri gerabah: serorang yang memiliki usaha memproduksi

gerabah dengan mempekerjakan orang lain atau bekerja sendiri, mulai dari

mengusahakan pengadaan bahan baku, memproduksi gerabah hingga

memasarkan produk.

- Pendapatan bersih usaha pasca gempa: nilai rupiah yang dihasilkan dari

industri gerabah, yaitu nilai jual seluruh produk dalam sebulan dikurangi

ongkos produksi selama sebulan.

- Tingkat pemulihan usaha: pencapaian nilai produksi pasca gempa

dibandingkan nilai produksi sebelum gempa dalam persentase.

45
BAB II

METODE PENELITIAN

2.1. Metode Dasar Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode survei. Survei adalah penelitian yang

dilakukan dengan mengambil sampel dari suatu populasi menggunakan kuesioner

sebagai alat pengumpulan data yang pokok (Singarimbun, dkk, 1989).

2.2. Penentuan Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah Desa Panjangrejo Kecamatan Pundong Kabupaten

Bantul. Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan Desa Panjangrejo merupakan

tempat dengan jumlah industri gerabah terbanyak di Kecamatan Pundong. Di

Desa Panjangrejo, sentra industri gerabah tersebar di beberapa dusun sebagai

berikut:

Tabel 2.1. Distribusi Pengusaha Gerabah


Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa
No Dusun Jumlah pengusaha gerabah Persen
(orang) (%)
1. Boto 1 0,5
2. Gedong 4 2,1
3. Gunung Puyuh 3 1,6
4. Jetis 60 31,9
5. Krapyak 25 13,3
6. Nglembu 0 0,0
7. Semampir 59 31,4
8. Soronanggan 15 8,0
9. Watu 3 1,6
10. Nglorong 18 9,6
11 Kantongan 0 0,0
Jumlah 188 100
Sumber: Gabungan Kelompok Pengrajin Panjangrejo Pundong (GKP3), Desember

2007

46
Berdasarkan data di atas, selanjutnya secara purposif dipilih 2 dusun sebagai

lokasi pengambilan sampel yaitu Dusun Jetis dan Semampir dengan alasan

memiliki jumlah pengusaha industri gerabah paling banyak.

2.3. Populasi dan sampel

Responden penelitian adalah pengusaha gerabah aktif yaitu pengusaha

gerabah yang menjalankan aktivitas produksi gerabah pasca terjadinya gempa saat

penelitian dilakukan (Mei 2008). Berdasarkan data tabel di atas, jumlah populasi

adalah 188 pengusaha. Sampel yang diambil berjumlah 60 pengusaha aktif

dianggap cukup memberi gambaran kondisi industri gerabah pasca gempa di

lokasi penelitian.

2.4. Data

2.4.1. Sumber dan Jenis Data

• Data sekunder

Meliputi kondisi fisik daerah penelitian (letak, luas, batas administrasi,

iklim, temperatur udara dan curah hujan, tanah dan penggunaan lahan), dan

kondisi penduduk (jumlah, kepadatan, pertumbuhan penduduk, komposisi

penduduk, tingkat pendidikan dan mata pencaharian). Data diperoleh dari

catatan/dokumen yang tersedia di kantor desa setempat, dan instansi terkait.

Untuk membatasi unit administrasi daerah penelitian maka diperlukan peta yaitu

peta lokasi penelitian Dusun Jetis dan Semampir Desa Panjangrejo Kecamatan

Pundong Kabupaten Bantul (Kantor Desa Panjangrejo).

47
• Data primer

Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara observasi, wawancara

terstruktur menggunakan kuesioner bagi para pengusaha gerabah, dan wawancara

mendalam dengan informan kunci seperti Kepala Dusun, Ketua Paguyuban

Pengrajin dan Pengusaha industri gerabah.

2.4.2. Pengumpulan Data

Variabel-variabel utama yang akan diukur dari kuesioner adalah.

1. Karakteristik usaha di masing-masing sentra industri, meliputi: lama usaha,

jumlah tenaga kerja upahan dan tenaga kerja rumah tangga, omzet rata-rata

per bulan tahun 2008 (data primer), selang waktu beroperasinya kembali unit

usaha setelah gempa terjadi, tingkat kerusakan bangunan tempat tinggal

pengusaha akibat gempa, luas tempat usaha, nilai produksi, cara pemasaran,

pendapatan usaha;

2. Karakteristik pengusaha meliputi kondisi sosial yaitu pendidikan terakhir,

pekerjaan selain industri gerabah; dan kondisi demografis meliputi umur, jenis

kelamin, jumlah anggota keluarga, dan upaya yang dilakukan pengusaha

dalam mengatasi masalah yang dihadapi usahanya;

3. Bantuan yang diterima unit usaha baik dari pemerintah, pihak swasta maupun

Lembaga Swadaya Masyarakat/NGO dan instansi lain yang turut berperan

dalam mendukung kelangsungan industri gerabah mereka, mencakup bentuk

bantuan yang diterima, asal bantuan, alasan bagi yang tidak menerima

bantuan.

48
Untuk mengetahui pendapatan usaha (per bulan) industri gerabah pasca

gempa diperlukan data:

a. modal produksi per bulan terdiri dari:

- nilai bahan baku dan bahan penolong

- ongkos tenaga kerja

- biaya bahan bakar

- biaya lain (jika ada)

b. nilai produksi per bulan; adalah jumlah produk yang dihasilkan per bulan

dikalikan harga per unit produk.

c. pendapatan usaha per bulan; adalah nilai produksi per bulan dikurangi modal

produksi per bulan.

Untuk mengetahui kelangsungan usaha industri gerabah 2 tahun pasca

gempa dilakukan penjumlahlan skor pada variabel berikut.

1. Lama waktu unit usaha berproduksi kembali setelah gempa

2. Nilai produksi per bulan

Untuk mengetahui seberapa besar pemulihan unit usaha industri gerabah

pasca gempa, dilakukan pengukuran tingkat pemulihan usaha secara representatif

untuk masing-masing kategori kelangsungan usaha baik, sedang dan buruk.

Secara matematis dinyatakan sebagai berikut:

Nilai Pr oduksiPascaGempa
TingkatPemulihanUsaha = x100%
Nilai Pr oduksiSebelumGempa

Keterangan:

49
Nilai produksi sebelum gempa didapat berdasarkan data GKP3 tahun

2006.

2.4. Analisis data

2.4.1. Editing

Editing yaitu meneliti kembali data yang telah diperoleh dari kuesioner,

dengan cara menilai apakah data tersebut cukup baik dan relevan untuk diproses

lebih lanjut. Hal yang perlu dicermati adalah : kelengkapan pengisian kuesioner,

keterbacaan tulisan, relevansi jawaban dengan pertanyaan, dan keseragaman

satuan.

2.4.2. Koding

Data yang telah diedit kemudian diklasifikasi menurut macamnya.

Sebelum data diproses dengan program komputer, data tersebut harus diubah ke

dalam bentuk numerik/angka. Proses pengubahan data kualitatif menjadi data

angka atau numerik ini yang dinamakan koding (Santoso dan Tjiptono, 2004).

2.4.3. Tabulasi

Tabulasi merupakan proses penyederhanaan data agar mudah dibaca dan

diamati yaitu dengan cara membuat tabel-tabel frekuensi berisikan data sesuai

analisa yang dibutuhkan. Tujuannya adalah mengelompokkan data ke dalam tabel

frekuensi yaitu untuk memperoleh gambaran yang jelas dan sistematis mengenai

peristiwa yang dinyatakan dalam angka.

50
2.4.4. Klasifikasi

Indikator yang dipakai dalam kelangsungan usaha adalah:

1. Lama waktu yang dibutuhkan suatu unit industri gerabah untuk kembali

berproduksi setelah gempa. Skor waktu berhenti pasca gempa disajikan pada

tabel berikut.

Tabel 2.2. Skor Waktu


Waktu Bangkit Skor Waktu
(bulan)
>12 1
6 – 12 2
<6 3
Sumber: Diolah dari dari primer, 2008

2. Nilai produksi, yaitu jumlah keseluruhan unit produk dikalikan harga jual

tiap unit, dalam waktu 1 tahun (omzet dalam Rupiah per tahun, dibagi dalam

3 interval kelas, dengan bobot skor sebagai berikut:

Tabel 2.3. Skor Nilai Produksi Pasca Gempa


Nilai Produksi Skor Nilai Produksi
(rupiah per bulan)
<600.000 1
600.000 – 1.519.900 2
>1.519.900 3
Sumber: Diolah dari dari primer, 2008

Klasifikasi adalah mengelompokkan data ke dalam beberapa kategori atau

kelas-kelas interval yang sesuai dengan ruang lingkup penelitian. Kedudukan atau

hirarki data tersebut bersifat relatif karena dibandingkan hanya dengan data pada

kelompok tersebut. Dalam penelitian ini skor kelangsungan usaha dibagi dalam 3

51
kelas yaitu: tinggi, sedang dan rendah. Klasifikasi ditentukan dengan rumus

berikut (Muta’ali, 2003):

sd
Tinggi = jika nilai skala > X + ; maka
2
skor kelangsungan usaha tinggi = > (4,48 + 1,127/2)
=>5
sd sd
Sedang = jika nilai skala > X + dan X − ;
2 2
maka skor kelangsungan usaha sedang =4–5
sd
Rendah = jika nilai skala < X − ; maka
2
skor kelangsungan usaha rendah = <4

Dimana: X adalah rerata nilai skor kelangsungan usaha

sd adalah standar deviasi skala

Secara singkat hasil akhir klasifikasi tampak pada tabel 2.4. berikut:

Tabel 2.4. Klasifikasi Kelangsungan Usaha


Skor Kelangsungan Golongan Skor Kelangsungan usaha
Usaha (KU)
= (Skor Waktu) + (Skor • rendah (jika skor KU <4) • “Baik” jika Golongan
Nilai Produksi) • sedang (jika skor KU antara 4 – Skor “tinggi”
5) • “Sedang” jika
• tinggi (jika skor KU >5) Golongan Skor
“sedang”
• “Buruk” jika Golongan
Skor “rendah”
Sumber: Analisis data primer, 2008

52
BAB III

DESKRIPSI WILAYAH

Bab ini menguraikan deskripsi wilayah penelitian, yaitu Desa

Panjangrejo untuk mendapat gambaran secara menyeluruh mengenai kondisi

wilayah penelitian.

3.1. Kondisi Fisik Wilayah

Kondisi fisik wilayah merupakan kondisi yang dibentuk elemen-elemen

fisik pada daerah tersebut dan daerah sekitarnya. Elemen-elemen fisik yang ada

pada suatu daerah secara langsung akan mempengaruhi dinamika daerah tersebut

dan selanjutnya akan berpengaruh terhadap aktivitas penduduknya. Kondisi fisik

wilayah yang diutarakan di sini meliputi letak, luas dan batas daerah, iklim,

topografi dan kondisi tanah di daerah penelitian.

3.1.1. Letak, Luas dan Batas Daerah Penelitian

Secara administratif, Desa Panjangrejo termasuk dalam wilayah

Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, sedangkan secara geografis desa ini

terletak pada 750 56’ 52” – 750 59’ 00” LS dan 1100 21’ 14” BT (Gambar 2).

. Desa ini memiliki luas 528, 358 Ha. Jarak desa ini terhadap pusat

pemerintah kecamatan sejauh 1 km, atau 10 km dari ibukota Kabupaten Bantul,

sedangkan jarak terhadap ibukota Propinsi D.I. Yogyakarta yaitu 20 km. Batas-

batas administrasi Desa Panjangrejo terhadap daerah sekitarnya adalah sebagai

berikut :

53
Gambar 2. Peta Administrasi Desa Panjangrejo

54
• Sebelah Utara : Desa Srihardono, Kecamatan Pundong

• Sebelah Selatan : Sungai Opak

• Sebelah Barat : Desa Mulyodadi, Kecamatan Bambanglipuro

• Sebelah Timur : Desa Srihardono, Kecamatan Pundong

3.1.2. Iklim

Iklim didefinisikan sebagai rata-rata cuaca dalam waktu tertentu (DPMA,

1983). Unsur-unsur iklim adalah temperatur atau suhu udara, curah hujan, angin

dan kebasaan. Untuk mengetahui iklim suatu daerah dapat diketahui melalui

unsur-unsur iklim yang terpenting saja, yaitu curah hujan dan suhu udara rata-rata.

Iklim merupakan salah satu faktor lingkungan fisik yang dapat mempengaruhi

kehidupan manusia. Dalam kaitannya dengan industri gerabah di Desa

Panjangrejo, iklim sangat berpengaruh akan berpengaruh terhadap proses

pengeringan produk sebelum dibakar. Desa Panjangrejo memiliki iklim tropis,

dengan suhu harian rata-rata berkisar antara 220C – 320C. Banyaknya curah hujan

rata-rata dalam setahun adalah ± 3000 mm per tahun. Jumlah hari dengan curah

hujan terbanyak terbanyak adalah 104 hari (Desa Panjangrejo, 1986).

3.1.3. Topografi

Topografi di suatu daerah akan sangat mempengaruhi perilaku manusia

bertempat tinggal di daerah tersebut. Topografi adalah suatu keadaan tinggi

rendahnya suatu tempat terhadap permukaan laut. Desa Panjangrejo terletak pada

55
ketinggian ± 20 m dari permukaan laut dengan topografi 98 persen berupa

dataran rendah, dan 2 persen lainnya berupa perbukitan (BPN, Bantul 2001).

3.1.4. Kondisi Tanah

Pada dasarnya, kondisi tanah erat kaitannya dengan kehidupan dan mata

pencaharian penduduk, terutama bagi penduduk yang bekerja di sektor pertanian.

Dalam hal ini, tanah didefinisikan sebagai akumulasi tubuh alam bebas,

menduduki daratan, dapat menjadi lahan tempat tumbuhnya tanaman, dan

dipengaruhi iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk tertentu

selama jangka waktu tertentu.

Jenis tanah yang terdapat di Desa Panjangrejo adalah aluvial dan regosol.

Jenis tanah aluvial memiliki ciri warna kelabu hingga coklat, tekstur lempung

pasir 50 persen, struktur pejal, tidak memiliki batas horizon yang jelas, serta

konsistensi teguh saat lembab, plastis saat basah, dan keras saat kering. Sifat

kimia tanah aluvial yaitu tingkat kemasaman beraneka, kandungan bahan organik

rendah, kejenuhan basa sedang hingga tinggi, daya absorbsi tinggi, permeabilitas

rendah, dan memiliki kepekaan erosi tinggi. Meskipun memiliki kepekaan erosi

besar, namun karena sebagian besar Desa Panjangrejo berupa dataran, erosi yang

terjadi tingkatnya tidak sampai lanjut (BPN, Bantul 2001). Jenis tanah regosol

biasanya memiliki tingkat kesuburan yang tinggi, karena berasal dari bahan induk

abu vulkan yang memiliki kandungan mineral yang tinggi. Warna tanah kelabu,

teksur pasir hingga pasir bergeluh, struktur berbutir tunggal, permeabilitas cepat.

56
Tanah ini memiliki potensi yang sangat besar jika dimanfaatkan sebagai lahan

pertanian.

Tanah dalam pemanfaatannya sebagai bahan baku industri gerabah, para

pengusaha yang memproduksi alat-alat kebutuhan rumah tangga (produk gerabah

tradisional) memanfaatkan tanah-tanah liat dari persawahan, sedangkan

pengusaha yang memproduksi jenis gerabah untuk sovenir dan benda-benda

dekorasi rumah atau keramik memakai bahan baku tanah liat asal Godean.

Perbedaan asal tanah untuk produk yang berbeda selain disebabkan masing-

masing produk memerlukan kualitas tanah yang berbeda. Tanah dari daerah

setempat sangat baik untuk membuat peralatan rumah tangga, karena akan

menghasilkan produk berkualitas baik karena lebih tahan lama atau tidak mudah

retak saat dipakai untuk memasak. Berbeda dengan produk sovenir dan barang-

barang dekorasi membutuhkan tanah yang bertekstur lebih halus, tanah dari

Godean sangat sesuai untuk kebutuhan produk ini. Selain karena tanah regosol

dari Godean memiliki kandungan lempung mencapai 40 persen, warnanya juga

kelabu kekuningan akan membuat gerabah berwarna kemerahan setelah dibakar

sehingga lebih menarik, meskipun pada akhirnya produk-produk tersebut akan

mengalami proses pengecatan atau finishing oleh pihak pemesan.

3.1.5. Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan merupakan pemanfaatan atau pengolahan salah satu

bagian lingkungan oleh manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.

Penggunaan lahan dapat dikatakan sebagai bentuk campur tangan manusia

57
terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Bentuk penggunaan

lahan di suatu wilayah merupakan cerminan aktivitas manusia di wilayah tersebut.

Secara umum, pengunaan lahan dapat dikelompokkan berdasarkan peruntukan

agraris dan non agraris. Peruntukan lahan agraris adalah pemanfaatan lahan yang

sifatnya produktif sebagai lahan pertanian, seperti sawah dan tegalan. Peruntukan

lahan non agraris bersifat non produktif antara lain pemanfaatan lahan sebagai

permukiman, jalan, lapangan, sekolah, dan sebagainya (Suwarno, 1985 dalam

Alamsyah, 1995). Penggunaan lahan di Desa Panjangrejo dapat diamati melalui

tabel 3.1 di bawah ini.

Tabel 3.1 Penggunaan Lahan Di Desa Panjangrejo Tahun 2006


No. Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase (%)
1. Tanah Sawah 348,611 65,98
2. Tegalan 6,74 1,32
3. Permukiman / Tempat Tinggal 167,225 31,65
4. Jalan dan Kuburan 5,019 0,95
5. Tanah Wakaf 0,528 0,1
Jumlah 528,358 100
Sumber : Monografi Desa Panjangrejo, Tahun 2006

Pemanfaatan lahan untuk areal persawahan di Desa Panjangrejo

mencapai lebih dari separuh luas seluruh lahan, yaitu 65,98 persen. Ini

menunjukkan penduduk Desa Panjangrejo masih sangat menggantungkan

hidupnya dari aktivitas bercocok tanam. Sepertiga luas lahan dimanfaatkan

penduduk sebagai tempat tinggal atau pemukiman, yang di dalamnya termasuk

juga sekolah, kantor, PUSKESMAS, dan sebagainya. Urutan pemanfaatan lahan

dengan proporsi lebih kecil lainnya dipakai untuk tegalan, jalan serta tanah wakaf

yang biasanya dimanfaatkan untuk keperluan sarana umum seperti rumah ibadah.

58
Luas kepemilikan sawah oleh petani pada umumnya relatif sempit,

meskipun proporsi penggunaan lahan untuk areal persawahan di desa ini paling

besar. Hasil survei penelitian menunjukkan kepemilikan sawah kurang dari 0,5

hektar per kepala keluarga petani. Petani yang memiliki sawah seluas 1000 m2

(0,1 hektar) hanya memperoleh hasil panen padi sebanyak 3 – 4 kuintal gabah

kering per panen, dengan frekuensi panen 3 kali setahun. Hasil panen yang

demikian kecil hanya akan dapat memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga saja

(pertanian subsisten). Sebagian lainnya akan terkadang dijual untuk menambah

penghasilan sehingga bisa dibelanjakan untuk keperluan lainnya dengan harga jual

beras di tingkat petani Rp3.800 per kilo (Mei 2008). Perolehan pendapatan yang

kecil ini mendorong penduduk di pedesaan untuk mencari penghasilan di luar

sektor pertanian, salah satunya yaitu industri kecil dan rumah tangga. Lahan-lahan

pertanian, selain sawah milik para petani yang ditanami padi, diselingi kedelai dan

bawang merah, juga terdapat lahan yang disewa perkebunan swasta dan ditanami

tanaman tebu. Mereka memperkerjakan buruh tani setempat untuk menanam tebu

dan hasilnya akan disetor ke pabrik gula Madukismo.

3.1.6. Sarana Infrastruktur

Tingkat perkembangan suatu wilayah dapat diamati salah satunya dari

sarana infrastruktur yang tersedia. Sarana infrasruktur berfungsi sebagai sarana

penunjang yang akan mempermudah masyarakat dalam melakukan aktivitas

sehari-hari. Sarana infrastruktur yang baik akan memacu tumbuhnya aktivitas-

aktivitas sosial maupun ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, dalam perencanaan

59
pengembangan wilayah, keadaan sarana dan prasarana penunjang menjadi sangat

penting selain pertimbangan kondisi sumber daya alam dan sumber daya manusia.

3.1.6.1. Sarana dan Prasarana Transportasi

Perbedaan sumber daya antara suatu daerah dengan daerah lain akan

mendorong terjadinya interaksi antar wilayah berupa kegiatan tukar menukar atau

perdagangan. Pada tahap selanjutnya interaksi ini tidak hanya berupa perpindahan

barang dan jasa, tapi juga mobilitas penduduk antar daerah yang berbatasan.

Kelancaran arus barang dan jasa serta kemudahan mobilitas penduduk antar

wilayah pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pembangunan wilayah tersebut.

Untuk mendukung arus pergerakan barang dan jasa maupun mobilitas penduduk,

diperlukan prasarana dan sarana transportasi yang memadai.

Prasarana dan sarana transportasi terdiri dari jalan dan alat transportasi.

Untuk memudahkan aksessibilitas penduduk, keberadaan jaringan jalan sangat

penting. Keberadaan jalan sebagai penghubung antara suatu daerah dengan daerah

sekitarnya, merupakan hal pertama yang harus ada sebelum tersedia alat-alat

transportasi yang lain. Kondisi jalan yang baik akan memperlancar arus barang

dan jasa antar daerah.

Secara umum jalan-jalan penghubung antara Desa Panjangrejo dengan

desa-desa yang berdekatan sudah cukup baik, berupa jalan beraspal. Jalan antar

dusun juga cukup baik, sebagian besar telah beraspal atau diperkeras dengan batu.

Pada saat gempa, terjadi kerusakan sebagian badan jalan yang kemudian

diperbaiki dengan dasar batu-batu dan tanah lempung dari desa setempat. Bagian-

60
bagian inilah yang lama kelamaan menjadi tidak rata, karena sifat kembang-kerut

tanah lempung itu sendiri.

Sarana transportasi adalah alat yang mengantar manusia, barang maupun

jasa dari suatu daerah ke daerah lain, baik berupa sepeda motor, mobil, dan

sebagainya. Berikut disajikan sarana penghubung di Desa Panjangrejo, berupa

panjang jalan dan alat angkutan yang dipakai penduduk dalam melakukan

mobilitasnya.

Tabel 3.2 Sarana Infrastruktur dan Transportasi


Di Desa Panjangrejo
Jalan dan jembatan Alat Transportasi
(km) Jenis Jumlah Persentase
(unit) (%)
Jalan dusun 26.500 Sepeda 1.799 61,5
Gang 34.305 Sepeda motor 1.086 37,1
Jembatan 26 Bus 4 0,1
Mobil 6 0,2
Mobil Pick Up 18 0,6
Becak 13 0,4
Total 2.926 100
Sumber: Monografi Desa Panjangrejo Tahun 2006

Tabel 3.2 menggambarkan alat transportasi pribadi yang digunakan

masyarakat Desa Panjangrejo dalam melakukan mobilitas sehari-hari. Sedangkan

angkutan umum yang beroperasi di dalam Desa Panjangrejo sampai saat ini belum

ada. Trayek angkutan umum yang tersedia hanyalah angkutan dari Kota Yogya

dengan tujuan Parangtritis. Persentase masyarakat yang menggunakan sepeda

sangat besar yaitu mencapai 61,5 persen, disusul sepeda motor sebanyak 1.086

unit atau 37,1 persen. Kedua jenis kendaraan ini banyak dipakai karena lebih

murah dibanding kendaraan roda empat lainnya, baik dari segi perawatan maupun

bahan bakar. Kendaraan roda dua ini digunakan penduduk selain untuk bepergian

61
ke tempat-tempat sekitarnya, juga mendukung kegiatan usaha, misalnya

mengantar barang hasil industri ke desa-desa lain, atau ke Kota Yogya. Industri

yang dikerjakan penduduk sebagian besar adalah industri rumah tangga yang hasil

produksinya tidak terlalu banyak. Oleh karena itu penggunaan sepeda dan sepeda

motor akan lebih efisien dari segi ongkos angkutnya. Kendaraan roda empat

seperti mobil, bus dan mobil pick up berjumlah 37 unit, di antaranya terdapat bus

4 unit dan mobil bak terbuka (jenis pick up) 18 unit. Bus dan mobil bak terbuka

merupakan jenis kendaraan yang biasanya dipakai untuk usaha. Jenis kendaraan

lainnya adalah becak berjumlah 13 unit, juga digunakan untuk mencari

penghasilan pemiliknya, baik untuk mengangkut penumpang, barang hasil

pertanian dan lainnya dengan jarak angkut yang tidak terlalu jauh dalam desa.

3.1.6.2. Sarana Komunikasi

Perkembangan suatu wilayah selain dipengaruhi oleh sarana transportasi,

juga dipengaruhi oleh sarana komunikasi yang berperan memperlancar arus

informasi penduduk suatu daerah terhadap dunia luar. Hal ini berguna dalam

memperluas wawasan masyarakat terhadap pengetahuan, maupun peristiwa yang

sedang terjadi di tempat-tempat lain, disamping memudahkan penduduk untuk

saling berkomunikasi. Sarana komunikasi yang tersedia di Desa Panjangrejo

sebagai berikut.

62
Tabel 3.3 Jenis Alat Komunikasi
Di Desa Panjangrejo
No Alat Komunikasi Jumlah (unit)
.
1. Radio 1.154
2. Televisi 1.507
3. Telepon 76
4. Warung telekomunikasi 2

Jumlah 2.739
Sumber: Monografi Desa Panjangrejo Tahun 2006

Alat komunikasi yang paling banyak digunakan adalah radio dan

televisi. Saat ini kepemilikan televisi dan radio sudah bukan menjadi barang

mewah bagi sebagian besar masyarakat. Kepemilikan radio dan televisi yang

hampir merata di semua lapisan masyarakat akan mempermudah akses informasi

baru dan pengetahuan masyarakat akan perkembangan daerah lain. Jumlah

sambungan telepon rumah (fixed telephone) sebanyak 76 unit ditambah warung

telekomunikasi 2 unit. Kepemilikan telepon bergerak nirkabel (mobile phone)

sebenarnya telah banyak dimiliki masyarakat, tapi tidak terdata.

3.2. Kondisi Sosial Demografi

3.2.1. Kependudukan

Penduduk merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan,

karena penduduk sebagai sumberdaya manusia, merupakan subjek pelaksana

pembangunan sekaligus merupakan objek atau sasaran utama hasil pembangunan

itu sendiri. Kondisi kependudukan menguraikan aspek kependudukan Desa

Panjangrejo meliputi jumlah, pertumbuhan dan kepadatan penduduk, komposisi

penduduk menurut umur dan jenis kelamin, komposisi penduduk menurut tingkat

pendidikan, dan komposisi penduduk menurut jenis pekerjaan.

63
Karakteristik penduduk di suatu daerah dapat diketahui melalui

komposisi penduduk menurut umur, jenis kelamin dan rasio beban tanggungan.

Dalam perencanaan daerah khususnya di bidang kependudukan, data ini berguna

antara lain dalam menentukan jumlah kebutuhan fasilitas pendidikan dan

kesehatan, perumahan, atau penyediaan lapangan pekerjaan.

3.2.2. Jumlah, Kepadatan dan Pertumbuhan Penduduk

Berdasarkan data regristrasi penduduk Mei 2008, jumlah penduduk di

Desa Panjangrejo tercatat 11.232 jiwa. Menempati wilayah seluas 528,3 hektar,

kepadatan penduduk desa ini di Tahun 2008 adalah 2.119 jiwa per kilometer per

segi. Angka kepadatan ini tergolong sangat tinggi, khususnya bagi daerah

pedesaan Pertumbuhan penduduk di Desa Panjangrejo antara tahun 2006 – 2008

adalah 4,5 persen per tahun.

Klasifikasi yang dipakai dalam menentukan kelas kepadatan penduduk Desa

Panjangrejo ditampilkan pada tabel 3.4 berikut.

Tabel 3.4. Klasifikasi Kepadatan


Penduduk Desa Panjangrejo
No. Kelas Kepadatan Penduduk Jumlah Penduduk (jiwa/ km2)
1. Sangat tinggi sekali > 3000
2. Sangat tinggi 2001 – 3000
3. Tinggi 1001 – 2000
4. Sedang 501 – 1000
5. Rendah 101 – 500
6. Sangat rendah < 100
Sumber: Desa Panjangrejo, Tahun 2001

Angka pertumbuhan penduduk yang tinggi di pedesaan akan mengancam

semakin sempitnya luas lahan pertanian akibat konversi ke lahan pertanian ke

64
pemukiman, yang selanjutnya menambah angka pengangguran dari sektor

pertanian.

3.2.3. Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin

Informasi komposisi penduduk berguna dalam antara lain dalam

perencanaan kependudukan berkaitan dengan pembangunan sumberdaya manusia

di suatu daerah, misalnya jumlah fasilitas kesehatan maupun pendidikan yang

diperlukan di suatu daerah. Data penduduk Desa Panjangrejo Tahun 2006

(pencatatan setelah gempa) menyatakan jumlah penduduk sebesar 10.268 jiwa,

terdiri dari 4.849 jiwa penduduk laki-laki dan 5.419 jiwa berjenis kelamin

perempuan sehingga rasio jenis kelamin (sex ratio) antara penduduk laki-laki dan

perempuan adalah 89,5. Artinya dari seratus perempuan, terdapat 89 penduduk

laki-laki. Di masyarakat yang menganut budaya patriarki, seperti umumnya

masyarakat di Jawa, penduduk laki-laki biasanya berperan sebagai pencari nafkah

utama dalam keluarga, karena para wanita banyak menghabiskan waktunya di

sektor domestik. Karena itu semakin kecil proporsi pria, pencari nafkah akan

menanggung beban ekonomi yang semakin besar. Semakin besar proporsi

penduduk perempuan juga bisa diasumsikan bahwa pertumbuhan penduduk akibat

kelahiran juga akan semakin besar. Komposisi penduduk berdasarkan kelompok

umur dapat terlihat dari Tabel 3.5 berikut.

65
Tabel 3.5 Komposisi Penduduk Desa Panjangrejo
Menurut Kelompok Umur
Kelompok Umur (tahun) Jumlah (jiwa)
0–4 829
5–9 787
10 – 14 749
15 – 19 793
20 + 7110
Jumlah 10.268
Sumber: Monografi Desa Panjangrejo, Tahun 2006

Jumlah balita pada tahun 2006 adalah 829 orang, atau 7,8 persen penduduk.

Sedangkan penduduk usia sekolah dari tingkat sekolah dasar hingga tingkat

sekolah lanjutan atas berjumlah 2.329 orang atau 21, 9 persen penduduk.

3.2.4. Rasio Beban Tanggungan

Rasio beban tanggungan yaitu jumlah penduduk nonproduktif berusia 0 –

14 dan 65+ tahun yang ditanggung oleh setiap penduduk usia produktif (berusia

15 – 64 tahun). Angka beban tanggungan yang semakin tinggi merupakan

penghambat pembangunan, khususnya di bidang ekonomi. Ini disebabkan

sebagian penghasilan yang diperoleh penduduk usia produktif harus dipakai untuk

memenuhi kebutuhan penduduk nonproduktif lainnya. Di negara berkembang,

proporsi penduduk usia anak-anak biasanya cukup tinggi, sehingga rasio beban

tanggungan juga relatif tinggi.

Berdasarkan komposisi penduduk menurut umur, rasio beban

tanggungan penduduk Desa Panjangrejo adalah 53,4. Nilai 53,4 untuk rasio beban

tanggungan bermakna bahwa setiap 100 penduduk usia produktif akan

menanggung 53 orang penduduk usia non produktif. Secara singkat dipahami

bahwa satu orang usia produktif harus menanggung 1 sampai 2 orang

66
nonproduktif lainnya. Adapun jumlah penduduk usia kerja berusia di desa ini pada

tahun 2006 adalah 7.903 orang.

3.2.5. Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan merupakan faktor penting dalam pengembangan

sumber daya manusia. Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap kualitas

hidup penduduk, baik dalam cara berpikir, menyerap ilmu pengetahuan, maupun

dalam menerima dan menerapkan inovasi baru yang akan meningkatkan taraf

hidup mereka. Terdapat suatu kecenderungan semakin maju suatu daerah,

semakin tinggi tingkat pendidikan penduduknya. Selain menggambarkan

keberhasilan program pemerintah dalam melaksanakan program wajib belajar,

tingkat pendidikan secara tidak langsung juga mencerminkan kondisi

kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakatnya. Suatu daerah dikatakan maju

apabila kesadaran masyarakatnya untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke

tingkat yang lebih tinggi telah cukup baik. Pendidikan yang baik ini dapat

diwujudkan apabila masyarakat telah lebih dahulu terpenuhi kebutuhan pokok

lainnya seperti pangan dan papan.

Tabel 3.6 Komposisi Penduduk Desa Panjangrejo


Menurut Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan Jumlah penduduk (orang) Persentase
SD 3.045 43,3
SLTP 1.615 23.0
SLTA 2.064 29.3
Perguruan Tinggi 311 4.4
Jumlah Terdata 7.035 100
Sumber: Monografi Desa Panjangrejo, Tahun 2006

67
Data jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan di atas mencakup

68,5 persen dari jumlah penduduk tahun 2006. Angka ini tentu saja tidak

memasukkan penduduk yang belum memasuki usia sekolah seperti balita berusia

0 – 4 tahun, mereka yang mungkin belum menamatkan atau masih bersekolah di

tingkat pendidikan dasar (berusia 5 – 9 tahun dan 10 – 12 tahun), serta penduduk

yang tidak bersekolah sama sekali atau tidak menyelesaikan sekolah dasar. Angka

di atas menunjukkan bahwa hampir separuh (43,3 persen) penduduk hanya

mengenyam pendidikan setingkat Sekolah Dasar, sedangkan mereka yang

berpendidikan SLTA dan Perguruan Tinggi mencapai lebih dari 30 persen, atau 1

dari 3 orang penduduk Desa Panjangrejo telah berpendidikan relatif tinggi.

Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk

berusia 45 tahun ke atas hanya bersekolah setingkat sekolah dasar. Generasi lebih

muda yang berusia 30-an tahun rata-rata telah menempuh pendidikan setingkat

sekolah lanjutan pertama, sedangkan mereka yang berusia 15 tahun sampai 25

tahun sebagian besar sedang menempuh atau telah menamatkan pendidikan

setingkat sekolah lanjutan atas. Semakin membaiknya tingkat pendidikan

penduduk dari generasi ke generasi lebih dikarenakan semakin membaiknya

kondisi perekonomian penduduknya. Seperti diungkapkan beberapa orang

penduduk dari kelompok pertama bahwa keinginan melanjutkan sekolah

sebenarnya cukup tinggi, namun sekolah mereka terpaksa berhenti karena

ketiadaan biaya yang mengharuskan mereka segera bekerja di usia sekolah.

Keputusan bersekolah untuk memperoleh keterampilan sehingga dapat bekerja

setelah lulus juga tampak dari beberapa temuan murid setingkat SLTA yang lebih

68
memilih sekolah kejuruan atau SMK. Di sekolah-sekolah ini selain memperoleh

pelajaran dengan kurikulum yang diberikan di sekolah nonkejuruan, mereka juga

mendapat keterampilan sesuai jurusan yang diminati, seperti boga, permesinan

dan bahkan teknik industri keramik sehingga dapat mengembangkan industri

gerabah yang telah berkembang di Desa Panjangrejo.

3.2.6. Komposisi Penduduk Menurut Matapencaharian

Matapencaharian penduduk mencerminkan kondisi sosial ekonomi

masyarakat serta interaksi manusia terhadap sumber daya fisik dan nonfisik suatu

wilayah lewat usaha penduduk mencari penghasilan. Di daerah pedesaan,

karakteristik yang menonjol adalah budaya agrikultur masyarakatnya. Ciri ini

tercermin dalam pemanfaatan lahan sebagai lahan pertanian, seperti sawah dan

tegalan. Selain tanaman pangan dan hortikultura, bentuk kegiatan pertanian lain

dapat berupa perkebunan, perikanan dan peternakan. Seiring pesatnya

pertumbuhan penduduk, kebutuhan lahan pemukiman semakin meningkat, diikuti

semakin luasnya alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian dan

pemukiman. Ini menyebabkan produktivitas lahan pertanian berkurang dan

pendapatan dari bidang pertanian tidak lagi menjadi satu-satunya tumpuan hidup

bagi keluarga petani di pedesaan. Berbagai kesulitan yang dialami petani seperti

kesulitan pupuk, serangan hama pengganggu dan kegagalan panen membuat

masyarakat dengan budaya agraris ini semakin sulit bertahan hidup dengan hanya

mengandalkan hasil pertanian. Kondisi ini mendorong munculnya kegiatan-

kegiatan ekonomi pedesaan di luar bidang pertanian, yaitu industri kecil dan

69
rumah tangga. Industri-industri ini biasanya masih berkaitan dengan hasil

pertanian misalnya produk olahan hasil pertanian berupa makanan ringan yang

bahan bakunya berasal dari desa setempat. Industri kecil dan rumah tangga di

pedesaan juga dapat muncul dengan memproduksi benda-benda yang dibuat

melalui keterampilan yang telah menjadi budaya turun-temurun masyarakatnya.

Industri dikenal dengan industri kerajinan. Tabel 3.7 menunjukkan komposisi

penduduk Desa Panjangrejo menurut matapencaharian.

Tabel 3.7 Komposisi Penduduk Desa Panjangrejo


Menurut Matapencaharian
No. Matapencaharian Jumlah Persentase
(orang) (%)
1. Pegawai Negeri Sipil 633 10,7
2. TNI 94 1,6
3. POLRI 102 1,7
4. Pensiunan 315 5,3
5. Karyawan 1.527 25,9
6. Industri kecil dan rumah tangga 2.111 35,8
7. Petani 992 16,8
8. Peternak 105 1,8
9. Pedagang 24 0,4
Jumlah 5.903 100
Sumber: Monografi Desa Panjangrejo Tahun 2006

Matapencaharian terbesar penduduk Desa Panjangrejo adalah industri

kecil dan rumah tangga, sebanyak 35,8 persen. Proporsi terbesar kedua ditempati

oleh profesi karyawan. Penduduk yang mencari penghasilan dari hasil pertanian

dan peternakan masing-masing hanya sebesar 16,8 persen dan 1,8 persen. Terlihat

bahwa industri kecil lebih banyak ditekuni oleh penduduk dibanding pertanian. Ini

dapat disebabkan oleh kepemilikan lahan yang relatif sempit oleh petani, hanya

beberapa petani saja yang memiliki lahan cukup luas yang dapat menggantungkan

hidupnya dari hasil pertanian. Kepemilikan lahan yang sempit terjadi karena

budaya pembagian tanah warisan untuk setiap anak, sehingga tak heran, semakin

70
lama luas lahan yang dimiliki petani akan semakin sempit. Industri kecil dan

rumah tangga banyak ditekuni masyarakat selain sebagai alternatif pekerjaan bagi

mereka yang sebelumnya menekuni sektor pertanian, jenis industri ini biasanya

juga tidak memerlukan modal yang besar dan mudah dipelajari sehingga tidak

sulit dilakukan oleh penduduk pedesaan. Profesi karyawan banyak dipilih oleh

mereka yang berpendidikan minimal setingkat SLTP dan SLTA. Penduduk yang

bekerja sebagai karyawan umumnya memperoleh rasa aman akan penghasilan

tetap yang diperoleh tiap bulan, atau periode tertentu, berbeda dengan industri

atau usaha wirausaha lain yang penghasilannya tidak stabil.

3.3. Sejarah Industri Gerabah

Desa Panjangrejo merupakan salah satu desa di Kecamatan Pundong

yang berkembang sebagai sentra industri gerabah selain Desa Srihardono. Awal

mulanya industri gerabah ini berada di tiga dusun, yaitu Dusun Jetis, Dusun

Semampir, dan Dusun Nglorong. Jumlah industri gerabah di ketiga dusun ini

paling banyak dibanding dusun-dusun lain di Desa Panjangrejo, Kecamatan

Pundong. Produk yang dihasilkan oleh Desa Panjangrejo telah merambah pasar

luar negeri seperti Australia, Belanda, dan Amerika dengan sistem pemasaran

melalui broker atau eksportir. Aktivitas produksi gerabah di Desa Panjangrejo

diperkirakan telah ada sejak tahun 1970-an. Keterampilan membuat gerabah ini

diperoleh secara turun-temurun dari orang tua mereka yang kemudian

berkembang hingga sekarang. Pada awalnya produk gerabah yang dihasilkan

berupa alat-alat dapur seperti kendi, kemaron, tempat minum burung, keren, kuali

71
dan padasan. Pemasaran produknya saat itu masih sangat terbatas karena kondisi

sarana dan prasarana transportasi serta sarana komunikasi yang sangat terbatas.

Perhatian pemerintah desa kepada pengusaha gerabah mulai diberikan

sekitar tahun 1974 dengan memberikan pelatihan keterampilan membuat gerabah.

Tujuan pelatihan ini yaitu untuk mengembangkan kualitas gerabah sehingga

diharapkan industri ini mampu bertahan dan berkembang. Selanjutnya bantuan

dari pihak lain baik instansi maupun individu mulai berdatangan.

Industri gerabah di Desa Panjangrejo mulai mengalami perkembangan

sangat pesat sejak para pengusahanya memperoleh pelatihan membuat gerabah

yang berkualitas dan bernilai seni tinggi yang dipandu oleh Ibu Suliantoro

Sulaiman antara tahun 1974 – 1980. Kondisi ini mendorong inisiatif para

pengusaha untuk membentuk paguyuban dengan nama “Siti Kencono“ yang

masih bertahan hingga saat ini. Pada tahun 1988, Desa Panjangrejo ditetapkan

sebagai sentra industri gerabah binaan PKK Kabupaten Bantul, STTNAS,

AKSERI, dan ISI Yogyakarta. Pembinaan diarahkan pada peningkatan kualitas

dan kuantitas gerabah, termasuk dalam hal desain. Berbekal peningkatan keahlian

yang diperoleh, para pengusaha gerabah mulai memperkaya ragam produk.

Barang yang dihasilkan tidak lagi terbatas pada barang tradisional kebutuhan

rumah tangga di dapur, namun lebih jauh telah berkembang pada benda-benda

dekoratif bernilai seni, seperti vas bunga, guci, asbak, tempat lilin, dan

cinderamata.

Dalam pemasarannya, telah terjalin kerja sama dengan pengusaha

gerabah di Kasongan. Kerja sama ini berupa pemasaran gerabah dari Desa

72
Panjangrejo di Kasongan. Dalam perkembangannya, beberapa unit industri

gerabah di Kec. Pundong yang mempunyai akses langsung ke pasar ekspor

bahkan telah merambah pasar luar ekspor dengan negara tujuan Australia,

Amerika, dan Belanda meskipun masih dalam skala kecil (Joewono, 2006).

Dampak Bom Bali I (tahun 2002) dan II (tahun 2005) telah memukul

industri gerabah di Pundong. Pesanan dari luar negeri berkurang, disebabkan para

trader luar negeri khususnya yang berasal dari Eropa dan Australia khawatir

untuk berkunjung ke Indonesia. Terlebih lagi pemasaran produk gerabah Pundong

sangat bergantung pada pesanan setengah jadi ke daerah-daerah pengekspor

seperti Kasongan, Bali, Surabaya dan Jakarta. Berkurangnya wisatawan luar

negeri akan berdampak pada menurunnya pesanan ke desa ini. Setelah beberapa

tahun kemudian industri ini kembali bangkit, gempa yang terjadi tahun 2006

kembali memporakporandakan industri gerabah di Desa Panjangrejo. Saat ini

meskipun rumah-rumah penduduk dan tempat usaha telah selesai direkonstruksi

(Mei 2008), volume pemesanan belum beranjak meningkat. Beberapa pengusaha

mengatakan semenjak gempa banyak pelanggan khususnya dari luar negeri yang

putus jaringan pemasarannya. Kurangnya promosi guna mengabarkan kondisi

industri gerabah Pundong yang saat ini sudah mulai pulih merupakan salah satu

penyebab.

3.4. Kerusakan Infrastruktur dan Tempat Tinggal Akibat Gempa

Di Kecamatan Pundong terdapat 3 desa yang ketiganya menderita

kerugian cukup besar akibat gempa. Desa Panjangrejo merupakan satu dari tiga

73
desa di Kecamatan Pundong selain Srihardono dan Seloharjo dengan kerusakan

paling parah akibat gempa. Data yang diperoleh dari Kantor Kecamatan Pundong

disajikan pada Tabel 3.8.

Tabel 3.8 Kerusakan Fasilitas Umum Akibat Gempa Di Desa Panjangrejo


No. Nama Gedung Rusak Total (unit) Rusak Rusak Ringan
Berat (unit) (unit)
1. Kantor Pemerintah 0 1 1
2. PUSKESMAS 0 1 1
3. Masjid 26 2 0
4. Mushola 9 0 2
5. Gereja 2 0 0
6. Jalan Desa*(km) *2 0 0
7. Gedung Sekolah 23 0 0
8. Saluran irigasi *(km) *0 22 0
Jumlah *(tanpa jalan desa 62 26 4
dan saluran irigasi)
Sumber: Kantor Kecamatan Pundong, 2006

Kerusakan yang terjadi mencakup fasilitas umum dan rumah tinggal

serta sarana dan prasarana infrastruktur desa. Kerusakan terparah banyak terjadi

pada sarana-sarana ibadah. Kerusakan jalan desa sepanjang 2 kilometer

berdampak pada terganggunya kegiatan perekonomian masyarakat. Kerusakan

tempat tinggal menurut verifikasi Satuan Tugas Sosial Penanggulangan Bencana

(Satgassos PB) Pundong, Juli 2006 disajikan Tabel 3.9.

Tabel 3.9 Jumlah Kerusakan Rumah dan Realisasi Rekonstruksi


Pasca Gempa Di Desa Panjangrejo Kecamatan Pundong
Jenis Kerusakan Jumlah Jumlah Terbangun
Rumah (unit) (Unit)

Sumber Dana Jumlah (unit)


Rusak Total 2.270 APBN 2.293
Rusak Berat 433 JRF (Java Reconstruction Fund) 375
Rusak Ringan 78
Total 2.781 Total 2.668
Sumber: Diolah dari Laporan Koordinator Satgassos PB Pundong, Juli 2006

74
Data di atas menunjukkan sebagian besar rumah penduduk mengalami

kerusakan total atau roboh. Dua tahun pasca gempa, seiring dengan berakhirnya

tugas Tim Teknis Nasional Penanggulangan Bencana Gempa Yogyakarta pada

tanggal 3 Juli 2008, seluruh rencana rekonstruksi bangunan baik rumah tinggal

maupun fasilitas umum telah selesai dibangun (Kedaulatan Rakyat, 19 Juli 2008).

Sebagian besar dana rekonstruksi berasal dari APBN yang disalurkan melalui

kelompok masyarakat (POKMAS). Sebanyak 95.9 persen rumah yang mengalami

kerusakan akibat gempa direkonstruksi dengan biaya dari APBN atau LSM, dan

sisanya dibangun secara swadaya oleh masyarakat sendiri.

75
BAB IV

KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PENGUSAHA

Upaya yang dilakukan pengusaha dalam mempertahankan usaha mereka

tidak terlepas dari karakteristik pengusaha, baik karakteristik sosial maupun

demografis. Bab ini akan menguraikan kondisi sosial ekonomi pengusaha yang

ditinjau dari aspek demografis dan aspek sosial pengusaha.

4.1. Karakteristik Demografi Pengusaha

4.1.1 Karakteristik Pengusaha Menurut Jenis Kelamin

Komposisi pengusaha menurut jenis kelamin tidak menunjukkan

perbedaan berarti antara laki – laki dan perempuan, bahkan cukup berimbang

dengan perbandingan 56,7 persen laki-laki dan 43,3 persen perempuan.

Perimbangan proporsi pengusaha berdasarkan jenis kelamin ini menunjukkan

bahwa industri gerabah dapat dikerjakan baik oleh laki-laki atau perempuan.

Tabel 4.1 Komposisi Pengusaha Gerabah


Menurut Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah (orang) Persen (%)


Laki-laki 33 55,0
Perempuan 27 45,0
Jumlah Total 60 100,0
Sumber : Diolah dari Data Primer, 2008

Pada umumnya industri ini dikerjakan di rumah-rumah penduduk,

sehingga bagi kaum perempuan pekerjaan ini tidak mengganggu peran mereka di

sektor domestik karena dapat dilakukan tanpa harus meninggalkan rumah.

Sebagaimana umumnya industri rumah tangga, anggota keluarga biasanya ikut

76
dilibatkan dalam menjalankan usaha ini, baik sebagai pekerja dengan atau tanpa

dibayar. Anggota keluarga laki-laki bertugas mengangkut tanah dan menggiling

tanah, dan mengantarkan produk gerabah mereka ke pemesan, sedangkan

pekerjaan memproduksi gerabah hingga pembakaran biasanya dilakukan bersama-

sama anggota keluarga perempuan.

4.1.2 Karakteristik Pengusaha Menurut Umur

Informasi umur pengusaha berkaitan dengan produktivitas usaha, dengan

asumsi pengusaha berusia muda akan lebih mampu secara fisik untuk

memproduksi atau memasarkan produk lebih banyak. Umur pengusaha juga

berkaitan dengan pengalaman usaha, serta motivasi kerja. Komposisi umur

pengusaha ditunjukkan pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Komposisi Pengusaha Menurut Umur


Umur (tahun) Jumlah (orang) Persen
30 – 39 17 28,3
40 – 49 17 28,3
50 + 26 43,4
Jumlah total 60 100,0
Sumber: Diolah data primer, Tahun 2008

Dengan membagi pengusaha ke dalam kelompok umur kurang dari 40

tahun dan lebih dari 40 tahun, tampak bahwa pengusaha berusia 40 tahun ke atas

menempati proporsi paling besar. Jumlah pengusaha berusia kurang dari 40 tahun

berjumlah 17 orang dari total 60 pengusaha yang didata atau hanya 28,3 persen,

dan sisanya atau lebih dari 70 persen pengusaha berusia lebih dari 40 tahun.

Pengusaha berusia kurang dari 40 tahun pada umumnya memiliki rentang waktu

menjalankan usaha yang lebih singkat dari mereka yang berusia 40 tahun ke atas.

77
Demikian halnya dengan motivasi kerja. Pengusaha berusia kurang dari 40 tahun

saat ini berhadapan dengan kebutuhan memenuhi kebutuhan hidup keluarga serta

menanggung biaya anak-anak yang masih bersekolah. Hal yang berbeda

kemungkinan terjadi pada pengusaha berusia 50 tahun ke atas. Bagi mereka, usaha

membuat gerabah biasanya hanya menjadi usaha sampingan guna mendapatkan

tambahan penghasilan yang dipakai memenuhi kebutuhan hidup sendiri, selain

memperoleh bantuan dari anak-anak mereka yang telah bekerja. Rendahnya

persentase pengusaha industri gerabah berusia muda antara lain disebabkan

rendahnya penghasilan yang diperoleh dari industri ini dibandingkan dengan

pekerjaan sebagai pedagang, buruh konstruksi atau karyawan. Kecenderungan

penurunan minat di usaha ini juga tampak pada generasi muda berusia 20-an

tahun.Pengusaha gerabah usia 60 tahun ke atas telah banyak yang berhenti,

sehingga usaha industri gerabah diteruskan oleh anak-anak mereka. Bagi

pengusaha berusia lanjut tidak ada kewajiban lagi bagi mereka untuk tetap bekerja

karena biaya hidupnya telah ditanggung anggota keluarga yang lebih muda.

4.1.3 Jumlah Anggota Rumah Tangga

Salah satu karakteristik industri kecil dan rumah tangga adalah adanya

keterlibatan tenaga kerja yang berasal dari anggota rumah tangga. Dalam konteks

ini, anggota rumah tangga bagi pengusaha dapat dinilai sebagai beban tanggungan

sekaligus faktor produksi. Anggota rumah tangga dapat dianggap sebagai beban

tanggungan karena kebiasaan seluruh anggota rumah tangga makan dari satu

dapur, artinya penghasilan yang diperoleh kepala rumah tangga dan anggota lain

78
dipakai untuk memenuhi kebutuhan bersama. Di sisi lain anggota rumah tangga

merupakan faktor produksi karena anggota rumah tangga menyumbangkan tenaga

dan pikiran mereka dalam menjalankan kegiatan produksi dalam industri

kerajinan gerabah. Namun demikian, untuk meneliti peran anggota keluarga

sebagai faktor produksi perlu meninjau lebih jauh aspek usia anggota keluarga,

dan alokasi waktu terbanyak yang dihabiskan anggota keluarga tersebut. Dalam

penelitian ini, jumlah anggota keluarga lebih dianggap sebagai beban tanggungan

bagi rumah tangga pengusaha industri gerabah.

Keterlibatan anggota rumah tangga sebagai tenaga kerja sebagian besar

merupakan tenaga kerja tak dibayar. Penghasilan yang diperoleh dari industri

sepenuhnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup pengusaha dan

keluarganya. Hal ini didukung rasa kekeluargaan yang erat dengan pemahaman

bahwa tenaga yang diberikan pada industri milik keluarga merupakan kewajiban

setiap anggota keluarga untuk membantu ekonomi keluarga. Namun demikian,

penulis juga menemukan adanya penerapan sistem upah bagi pekerja rumah

tangga. Hal ini ditemukan pada beberapa unit usaha berskala kecil dengan

frekuensi pesanan yang relatif stabil setiap bulan yang memiliki nilai produksi

rata-rata di atas Rp2000.000 per bulan. Seiring dengan terjadinya penurunan

jumlah pesanan yang menurut sejumlah pengusaha mencapai 50 persen pasca

gempa, salah seorang pengusaha yang sebelumnya menerapkan sistem upah bagi

pekerja rumah tangga kini tak lagi membayar tenaga kerja rumah tangga. Adapun

jumlah para pengusaha gerabah terlihat pada Tabel di 4.3.

79
Tabel 4.3 Jumlah Anggota Rumah Tangga Pengusaha
Jumlah anggota rumah tangga Jumlah pengusaha Persentase (%)
(orang) (orang)
1–4 39 65,0
>4 21 35,0
Jumlah Total 60 100,0

Sumber : Diolah dari Data Primer 2008

Jumlah anggota rumah tangga pengusaha sebagian besar atau 65 persen

berkisar 1– 4 orang, 35 persen lainnya memiliki jumlah anggota keluarga lebih

dari 4 orang. Hanya ada satu pengusaha dengan anggota rumah tangga 7 orang.

Mereka yang memiliki anggota rumah tangga 3 – 4 orang adalah pengusaha yang

berasal dari golongan muda berusia kurang 40 tahun, dengan ciri keluarga muda

dengan anak-anak berusia sekolah dasar. Anggota rumah tangga 1 – 2 biasanya

dimiliki pengusaha berusia lanjut lebih dari 60 tahun. Pada pengusaha ini,

biasanya anak-anak mereka sudah cukup dewasa dan memilih untuk

meninggalkan desa ini guna mencari pekerjaan dengan penghasilan yang lebih

baik sebagai karyawan atau pedagang.

4.2. Karakteristik Sosial Ekonomi Pengusaha

4.2.1. Pendidikan

Pendidikan pengusaha mencerminkan kemampuan pengusaha dalam

menerima ilmu pengetahuan baru dan kemampuan berpikir dalam upaya

mengembangkan usahanya. Sikap mudah menerima hal baru ini tampak dari

kesediaan seseorang menerima saran, atau mengubah kebiasaan baik berkaitan

keseharian atau usaha mereka agar mencapai hasil yang ebih baik di kemudian

hari. Pendidikan secara tidak langsung juga meningkatkan kepercayaan diri

80
seseorang dalam pergaulan, yang dalam konteks usaha merupakan salah satu celah

memperluas jaringan pemasaran.

Tabel 4.4 Komposisi Pengusaha Industri Gerabah


Menurut Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase
(orang) (%)
Tidak sekolah 5 8,4
SD 33 55,0
SLTP 14 23,3
SLTA 8 13,3
Jumlah Total 60 100
Sumber : Diolah dari Data Primer 2008

Penelitian ini menunjukkan lebih dari 80 persen pengusaha gerabah

berpendidikan rendah, yaitu kurang dari SLTA, bahkan 55 persen di antaranya

hanya berpendidikan sekolah dasar. Mereka yang berpendidikan sekolah lanjutan

atas hanya 13 persen dari keseluruhan pengusaha. Rendahnya tingkat pendidikan

pengusaha ini tidak terlepas dari kondisi kemiskinan di masa lalu, mengingat

sebagian besar pengusaha berusia lebih dari 40 tahun seperti diuraikan

sebelumnya bahwa terlihat indikasi semakin membaiknya tingkat pendidikan

penduduk Desa Panjangrejo dari generasi ke generasi.

4.2.2. Pendapatan dari Pekerjaan Lain

Selain di industri gerabah, sebagian besar pengusaha industri gerabah laki-

laki bekerja sebagai buruh tani dengan upah Rp20.000 per hari atau buruh

bangunan dengan upah Rp35.000 per hari. Meskipun beberapa pengusaha

memiliki sawah sendiri, namun karena luasnya sangat kecil yang berarti pula hasil

panen juga sedikit, mereka masih bekerja sebagai buruh tani pada sawah milik

petani lain untuk menambah penghasilan. Pekerjaan sebagai buruh tani hanyalah

81
pekerjaan selingan di kala musim tanam dan panen padi yang berlangsung selama

kurang lebih 2 minggu. Pada masa itu pemilik sawah biasanya akan memerlukan

tenaga tambahan, sedangkan untuk masa perawatan para petani lebih memilih

melakukannya sendiri untuk menghemat biaya tenaga kerja. Di Desa Panjangrejo

padi dapat dipanen 3 kali setahun, yang artinya para buruh tani akan bekerja

dalam 3 kali masa tanam dan 3 kali masa panen dalam setahun. Pada saat

penelitian dilakukan (Mei tahun 2008), Desa Panjangrejo tengah memasuki

musim panen. Para perajin gerabah laki-laki yang juga buruh tani akan sibuk di

sawah saat pagi hari, sedang para istri membuat gerabah di rumah. Selain tanaman

padi, beberapa perajin yang juga petani menambah penghasilan dengan menanam

bawang merah dan kedelai seusai panen padi.

Dari sejumlah 60 responden yang didata, sebanyak 71,6 persen di

antaranya (43 orang) mengaku memiliki pekerjaan sampingan selain industri

gerabah. Jenis pekerjaan yang dilakukan pengusaha selain industri gerabah

tampak pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Jenis Matapencaharian Selain Industri Gerabah


Jenis pekerjaan Jumlah pengusaha Persentase
(orang) (%)
Petani (lahan milik sendiri) 14 23,3
Buruh tani 13 21,7
Buruh nonpertanian (bangunan, dan lain-lain) 9 15,0
Peternak 3 5,0
Penambang pasir/batu 2 3,3
Lainnya 2 3,3
Jumlah terdata 43 71,7
Jumlah hanya bekerja di industri gerabah 17 28,3
N total 60 100,0
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Ini mengindikasikan industri gerabah belum cukup mampu diandalkan untuk

memenuhi kebutuhan hidup keluarga pengusaha gerabah. Selain jenis bertani,

82
usaha pengusaha gerabah dalam memperoleh penghasilan tambahan adalah

dengan memelihara hewan ternak sapi dan menambang pasir di Kali Opak. Hasil

dari ternak sapi diperoleh dengan menjual anak sapi berusia 4 bulan, yang bisa

laku terjual dengan harga 2 – 4 juta rupiah per ekor, sedangkan dari menambang

pasir responden mengaku memperoleh penghasilan sebesar Rp100.000 per bulan.

4.2.3. Lama Usaha dan Asal Keterampilan

Usaha membuat kerajinan gerabah adalah tradisi turun-temurun yang

diwariskan dari generasi ke generasi di Desa Panjangrejo. Tak heran jika hampir

semua responden mengaku memperoleh keterampilan membuat gerabah dari

orang tua, tetangga atau pernah menjadi pekerja di usaha gerabah di

lingkungannya sebelum akhirnya membuka usaha sendiri. Penduduk berusia 40

tahun ke atas cenderung menjawab pekerjaan sebagai pengusaha gerabah telah

ditekuni selama lebih dari sepuluh tahun meneruskan usaha orang tua mereka

dahulu.

Menurut penduduk setempat, keterampilan ini relatif mudah dipelajari,

bahkan bagi penduduk pendatang, misalnya seorang di antaranya yaitu pengusaha

asal Nusa Tenggara Barat bernama R. Beliau menjadi penduduk desa ini setelah

menikah dengan penduduk setempat dan mulai menekuni usaha pembuatan

gerabah dekoratif atau keramik sejak tahun 2000, berupa pot, vas bunga dan

lainnya baik dengan metode cetak maupun putar. Beliau adalah salah satu

pengusaha yang relatif sukses bahkan jika dibanding kebanyakan penduduk asal

desa ini. Di lapangan, sebenarnya tidak dijumpai indikasi mencolok adanya

83
keterkaitan yang bisa diamati antara lama usaha dengan produksi, baik kualitas,

dan nilai produksi.

Salah seorang pengurus paguyuban pengusaha perajin, NA yang juga

pengusaha gerabah mengungkapkan kemauan untuk belajar, keaktifan pengusaha

dalam kegiatan yang diadakan kelompok pengrajin, saling bertukar pikiran

dengan pengusaha lain akan sangat membantu pengembangan usaha. Namun

sayangnya banyak pengusaha yang enggan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan

semacam pelatihan, pertemuan-pertemuan antar sesama pengusaha gerabah,

dengan alasan tidak ada hasil pendapatan yang bisa langsung diperoleh dari

pertemuan-pertemuan tersebut. Padahal partisipasi mereka dalam kegiatan-

kegiatan yang diadakan oleh perkumpulan pengusaha gerabah akan menambah

pengetahuan yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas industri

gerabah mereka.

84
BAB V

KARAKTERISTIK INDUSTRI GERABAH

Kelangsungan usaha suatu industri tidak terlepas dari karakter unit usaha

yang melatarbelakanginya. Karakter unit usaha yang berbeda akan memiliki nilai

produksi dan waktu bangkit pasca gempa yang berbeda pula. Karakter unit usaha

dalam penelitian ini meliputi kondisi unit usaha dan faktor-faktor produksi.

5.1. Kondisi Unit Usaha

Kerusakan unit usaha akibat gempa menyebabkan unit usaha mengalami

perubahan kondisi dibanding sebelum gempa. Adapun kondisi yang diamati pada

unit usaha pasca gempa meliputi jenis produksi, luas tempat usaha, dan jenis

bangunan tempat usaha.

5.1.1. Jenis Produksi

Berdasarkan produk yang dihasilkan, industri gerabah di Desa panjangrejo

dikelompokkan menjadi 2, yaitu industri gerabah tradisional dan industri modern.

Industri gerabah tradisional memproduksi barang-barang kebutuhan rumah tangga

seperti alat-alat dapur berupa kuali, tungku dan tempat air. Industri gerabah

modern menghasilkan produk untuk keperluan dekoratif berupa sovenir, vas

bunga, kap lampu dan sebagainya disebut ‘keramik’ oleh penduduk setempat.

Proses produksi gerabah secara umum adalah sebagai berikut:

85
I. Pengambilan tanah liat. Tanah liat yang baik berwarna merah coklat atau

putih kecoklatan.Tanah liat diambil dengan cara menggali secara langsung

ke dalam tanah, kemudian kemudian dikumpulkan pada suatu tempat.

II. Persiapan tanah liat. Tanah liat disiram air hingga basah merata kemudian

didiamkan selama satu hingga dua hari. Setelah itu, tanah liat digiling agar

lebih rekat dan liat. Penggilingan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu

secara manual dan mekanis. Penggilingan manual dilakukan dengan

menginjak-injak tanah liat hingga kalis dan halus. Secara mekanis dengan

menggunakan mesin giling. Hasil terbaik akan dihasilkan dengan

menggunakan proses giling manual.

III. Proses pembentukan. Setelah melewati proses penggilingan, tanah liat siap

dibentuk sesuai dengan keinginan. Jumlah tanah liat dan waktu

pembentukan yang diperlukan tergantung pada jumlah, bentuk dan disain

gerabah yang akan dihasilkan. Perajin gerabah menggunakan kedua tangan

untuk membentuk tanah liat kedua kaki untuk memutar alat pemutar

(perbot). Alat-alat yang digunakan yaitu alat pemutar (perbot), alat pemukul,

batu bulat, kain kecil. Air juga sangat diperlukan untuk membentuk gerabah

dengan baik.

IV. Penjemuran. Setelah bentuk akhir terbentuk, diteruskan dengan penjemuran.

Sebelum dijemur di bawah terik matahari, gerabah yang sudah agak

mengeras dihaluskan dengan air dan kain kecil lalu dibatik dengan batu api,

kemudian dijemur hingga benar-benar kering. Lamanya waktu penjemuran

disesuaikan dengan cuaca dan panas matahari.

86
V. Pembakaran. Gerabah yang keras dan benar-benar kering dikumpulkan

dalam suatu tempat atau tungku pembakaran, kemudian dibakar selama

beberapa jam hingga benar-benar keras dan tidak mudah pecah. Bahan

bakar yang digunakan untuk proses pembakaran adalah jerami kering, daun

kelapa kering ataupun kayu bakar.

VI. Penyempurnaan. Gerabah matang dapat dicat dengan cat khusus atau

diglasir sehingga terlihat indah dan menarik sehingga bernilai jual tinggi

(http://id.wikipedia.org/wiki/Gerabah).

Perbedaan proses produksi produk gerabah tradisional dan keramik di Desa

Panjangrejo seperti dalam Tabel 5.1.

Tabel 5.1 Perbedaan Proses Produksi Gerabah Tradisional dan Keramik


Jenis Gerabah Tradisional Keramik
Bahan baku Tanah sawah (lempung hitam) Tanah liat (berwarna
dan pasir dengan perbandingan merah) asal Godean tanpa
3 : 1 atau 3 : 2 pasir
Metode penggilingan Manual dengan tenaga manusia Mekanis dengan mesin
tanah penggiling (molen)
Metode Pencetakan Metode putar Metode putar dan cetakan
(mal dibuat dari bahan
gips)
Bahan Bakar Kayu bakar, dedaunan kering, Kayu bakar
sabut kelapa
Pembakaran ± 2 jam, suhu 100 – 6000C ± 5 jam, suhu 500 –
8000C
Bahan untuk mewarnai Tanah lempung merah Cat, pernis, metode
tamarin
Produk alat-alat rumah tangga dan bermacam sovernir
keperluan dapur, seperti ukuran kecil, cas bunga,
tungku, kuali, padasan, dll kap lampu, dll
Sumber: Observasi lapangan Mei 2008

Berkembangnya suatu jenis produk gerabah tertentu dibanding jenis

produk yang lain tidak terlepas dari tradisi yang ada di wilayah tersebut. Pada

87
penelitian ini peneliti mengamati bahwa dalam lingkup wilayah administrasi yang

relatif kecil yaitu dukuh sekalipun, kita dapat menjumpai perbedaan jenis produksi

gerabah yang banyak diproduksi penduduknya. Sebagian besar pengusaha gerabah

di Dukuh Jetis memproduksi gerabah keramik, sedangkan di Dukuh Semampir,

didominasi oleh pengusaha yang memproduksit gerabah jenis tradisional. Jumlah

unit usaha baik jenis produksi tradisional dan keramik yang terdapat di Desa

Panjangrejo cukup berimbang seperti ampak pada Tabel 5.2.

Tabel 5.2 Jenis Produksi Industri Gerabah


Jenis Jumlah unit Persen
produksi usaha %

Tradisional 33 55
Keramik 27 45
Total 60 100
Sumber: Data primer, Mei 2008

Selain dipengaruhi oleh tradisi jenis gerabah yang berkembang di

lingkungan tempat tinggal, preferensi pengusaha untuk memproduksi jenis

gerabah tertentu juga dipengaruhi oleh pertimbangan pribadi dan pertimbangan

ekonomi. Pertimbangan pribadi disini adalah keahlian dan kebiasaan. Seorang

pengusaha yang terbiasa memproduksi gerabah tradisional tidak akan mudah

beralih memproduksi gerabah modern atau keramik. Pertimbangan ekonomis

pengusaha antara lain kemudahan menjual produk sehingga cepat memperoleh

penghasilan. Peralihan produksi jenis gerabah modern ke gerabah tradisional

dijumpai pada beberapa pengusaha keramik dengan alasan kesulitan pemasaran

produk pasca gempa akibat berkurangnya pesanan, sehingga mereka memilih

memproduksi gerabah tradisional yang lebih mudah diterima pasar selain modal

yang dibutuhkan juga relatif kecil dibanding keramik.

88
Upaya pemerintah dalam mengembangkan industri gerabah agar

menghasilkan produk yang lebih berkualitas lewat pelatihan finishing

(penyempurnaan) sudah sering dilakukan. Namun para pengusaha tetap harus

tunduk pada pihak pemesan yang hanya bersedia membeli produk gerabah

“abangan” atau setengah jadi. Akibatnya produk gerabah dengan finishing kurang

berkembang. Hanya ada segelintir pengusaha yang berusaha mengembangkan

produknya dengan memproduksi gerabah modern sampai proses finishing atau

mencoba teknik cetak selain metode putar, sehingga produk yang dihasilkan lebih

beragam bentuknya dan lebih seragam jika diproduksi dalam jumlah besar. Hal ini

seperti dilakukan oleh NA pemilik industri gerabah di Dusun Semampir Desa

Panjangrejo bernama “Thoctil Art” yang mulai memproduksi gerabah dengan

metode perendaman dengan air asam (tamarin), serta J di Dusun Jetis yang sejak

pasca gempa mulai memakai teknis cetak untuk beragam sovenir yang diproduksi.

5.1.2. Kerusakan Tempat Usaha Akibat Gempa

Besarnya kerusakan yang dialami Desa Panjangrejo pada saat gempa

mengakibatkan rumah-rumah penduduk mengalami rusak berat atau roboh.

Kerusakan rumah tinggal bagi pengusaha gerabah berarti juga kerugian bagi usaha

industri gerabah, mengingat kegiatan industri dilakukan di rumah-rumah warga.

89
Tabel 5.3 Tingkat Kerusakan Tempat Usaha
Tingkat Kerusakan Tempat Usaha Jumlah Persentase
(unit) (%)
Ringan 1 1,7
Rusak Berat 11 18,3
Roboh 48 80,0
Jumlah 60 100,0
Sumber: Diolah dari data primer 2008

Di Desa Panjangrejo seluruh besar rumah penduduk roboh dan rusak berat akibat

gempa, termasuk rumah para pengusaha gerabah. Hanya ada 1,7 persen atau 1 dari

60 unit usaha yang mengalami rusak ringan akibat gempa.

5.1.3. Bangunan Tempat Usaha Pasca Gempa

Di daerah rawan gempa, kekuatan bangunan terhadap gempa sebaiknya

menjadi pertimbangan dalam membangun tempat tinggal. Ini bertujuan

meminimalkan kerusakan berat seperti yang dialami akibat gempa 2006 jika

daerah tersebut kembali mengalami bencana serupa. Bangunan-bangunan yang

dipakai menjadi tempat usaha pasca gempa berupa bangunan-bangunan semi

permanen berdinding bambu atau susunan batu bata, dengan lantai semen atau

tanah. Ditinjau dari kualitas bangunan, bangunan-bangunan yang ditempati

kemungkinan bukan bangunan yang tahan gempa. Hal ini karena sebagian besar

masyarakat kembali membangun tempat tinggal maupun usaha berdasar

kemampuan ekonomi tanpa memperhatikan unsur-unsur yang harus dipenuhi bagi

rumah di daerah rawan gempa, misalnya susunan tulang beton untuk rumah

tempat tinggal.

Di Desa Panjangrejo, sebagian besar unit usaha melakukan aktivitas

produksinya di pekarangan rumah, teras, dan tempat terbuka lain untuk proses

90
pembuatan, penjemuran dan pembakaran gerabah. Produk gerabah yang telah

dijemur akan disimpan di dalam rumah sambil menunggu jumlah yang dihasilkan

cukup banyak untuk dibakar sehingga dapat menghemat kayu bakar. Gerabah

yang telah dibakar dan siap dipasarkan akan disimpan di bangunan terpisah dari

rumah utama atau di dalam rumah pengusaha. Tungku pembakaran gerabah

biasanya dimiliki oleh setiap pengusaha, meskipun ada juga beberapa pengusaha

yang rumahnya bersebelahan dan memakai satu tungku secara bergantian karena

sempitnya lahan pekarangan.

5.1.2.3. Luas Tempat Usaha

Luas tempat usaha dikaitkan dengan kapasitas produksi suatu unit usaha.

Semakin luas tempat yang dipakai untuk melakukan produksi, kemungkinan

semakin besar jumlah produk yang diproduksi. Luas tempat produksi di sini

adalah luas pekarangan atau bagian rumah yang dijadikan tempat melakukan

aktivitas produksi, mencakup pembentukan tanah liat menjadi gerabah, tidak

termasuk luas area yang dipakai untuk tungku pembakaran dan tempat

penyimpanan produk siap jual. Luas tempat usaha industri gerabah di Desa

Panjangrejo seperti tersaji pada Tabel 5.4.

Tabel 5.4 Luas Tempat Usaha Industri Gerabah


Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa
Luas Tempat Jumlah Persen
Usaha (m2) (unit) (%)
< 15 19 31,7
15 – 25 20 33,3
≥ 26 21 35,0
Total 60 100,0
Sumber: diolah dari data primer, 2008.

91
Sebagian besar unit usaha memiliki luas kurang dari 50 meter per segi.

Industri gerabah di Desa Panjangrejo dilaksanakan di area pemukiman penduduk

yang relatif padat, sehingga tempat usaha yang tersedia tidak begitu luas. Bahkan

lebih dari separuh industri berskala rumah tangga hanya dilakukan di teras-teras

rumah penduduk dengan luas kurang dari 25 m2. Persentase unit usaha dengan

luas lebih dari 100 m2 hanya 10 persen dari seluruh pengusaha. Secara umum

tidak terjadi perubahan luas tempat usaha pasca gempa, karena para pengusaha

hanya membangun kembali rumah dan tempat usaha di lokasi semula. Luas

tempat usaha kurang dari 15 m2 lebih banyak dimiliki oleh industri gerabah

tradisional, sedangkan luas tempat usaha lebih dari 15 m2 dimiliki berimbang baik

oleh industri gerabah tradisional maupun keramik.

5.2. Faktor-faktor Produksi

Kegiatan produksi melewati tahapan pengerjaan mulai dari masukan

(input), proses (process) hingga menghasilkan barang (output) untuk kemudian

memperoleh pendapatan. Rangkaian kegiatan produksi dapat berjalan karena

adanya faktor-faktor produksi. Faktor-faktor produksi tersebut terdiri dari modal,

bahan baku dan tambahan, tenaga kerja, lahan tempat usaha dan pemasaran.

5.2.1. Modal

Modal industri terdiri dari modal tetap dan modal tidak tetap. Modal tetap

adalah modal yang harus selalu ada dalam proses produksi, sedangkan modal

tidak tetap adalah modal yang habis akibat pemakaian saat proses produksi.

92
Modal industri dapat berupa uang maupun barang, seperti peralatan usaha, lahan,

dan tempat usaha. Berkaitan dengan tema kegiatan industri pasca bencana, berikut

ini juga diperoleh informasi modal yang dipakai pengusaha saat pertama kali

menjalankan usahanya sesaat setelah gempa, selain modal tetap dan modal

produksi per bulan.

5.2.1.1. Modal Pertama Kali Berproduksi

Pada saat suatu bencana yang cukup besar melanda suatu daerah, para

korban bencana akan lebih berkonsentrasi pada pemenuhan kebutuhan dasar

terutama yang berasal dari bantuan kemanusiaan. Pemberian bantuan bersifat

sementara dan bertujuan agar segera setelah bencana mereda, para penduduk

korban bencana mampu kembali memulai aktivitas ekonominya. Pada kondisi

terkena bencana, para pengusaha akan berhadapan pada kondisi sulit untuk

memulai kembali usaha mereka karena ketiadaaan modal, ditambah lagi bencana

telah mengakibatkan kehilangan harta benda yang sangat besar. Oleh sebab itu

informasi jumlah modal yang diperlukan pengusaha gerabah untuk memulai

usahanya kembali menjadi menarik diamati. Modal untuk memulai usaha industri

gerabah pasca gempa yang dimaksud adalah besar modal berupa uang yang

dibutuhkan pengusaha untuk memulai kegiatan produksi gerabah setelah terjadi

gempa. Informasi ini tidak mudah diperoleh karena banyak pengusaha lupa besar

nilai modal yang pertama kali dipakai pasca gempa dua tahun lalu. Dari 60

responden, hanya 34 pengusaha yang menjawab pertanyaan modal pertama pasca

93
gempa ini. Tabel 5.5 menampilkan kisaran modal yang dibutuhkan pengusaha

gerabah untuk memulai produksi pasca gempa.

Tabel 5.5 Modal Uang Untuk Memulai Produksi Gerabah


Pasca Gempa Di Desa Panjangrejo
Modal Jumlah usaha Persentase
(rupiah) (unit) (%)
<180.000 11 18,3
180.000 – 499.000 5 8,3
500.000 + 18 30,1
Jumlah terdata 34 56,7
Tidak terdata 26 43,3
N total 60 100,0
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Tabel 5.5. menunjukkan sebagian besar responden yang menjawab

pertanyaan berapa modal awal yang dibutuhkan untuk memulai produksi gerabah

pasca gempa menyebutkan nilai Rp500.000. Sepertiga unit usaha lainnya memulai

produksi gerabah dengan modal kurang dari Rp180.000. Rata-rata modal yang

dibutuhkan pengusaha gerabah untuk memulai produksi pasca gempa adalah

Rp849.120. Modal minimal untuk memulai usaha adalah Rp20.000 sedangkan

nilai paling tinggi sebesar Rp5.000.000. Besar kecilnya modal usaha yang pertama

dikeluarkan pengusaha untuk memulai industri gerabah pasca gempa tergantung

pada kemampuan keuangan pengusaha, dan peralatan atau bahan tanah liat yang

masih dapat dipakai. Nilai yang modal yang relatif kecil bagi pengusaha saat

pertama kali membuka usaha didorong keinginan yang besar dari pengusaha

untuk segera mampu mencari penghasilan tanpa terus bergantung pada bantuan

yang diterima. Salah seorang pengusaha menyatakan bahwa ia memulai kembali

memproduksi gerabah saat masih berada di tenda pengungsian dengan bahan dan

alat seadanya.

94
Informasi yang juga menarik adalah bagaimana pengusaha memperoleh

modal untuk memulai kembali usaha mereka. Sebagian besar pengusaha

menyebutkan modal diperoleh dari dana milik sendiri. Sebagian lainnya bahkan

memanfaatkan dana bantuan kemanusiaan yang diberikan kepada korban gempa

berupa pemberian uang jatah hidup satu kali senilai Rp90.000 per orang. Uang ini

mereka pakai untuk modal usaha, sedangkan untuk hidup sehari-hari telah

tercukupi melalui bantuan kemanusiaan berupa bahan makanan atau uang baik

berasal dari sanak saudara, sumbangan para dermawan atau berbagai lembaga

sosial.

5.2.1.2. Modal Produksi

Perbedaan dalam proses produksi kedua jenis gerabah tradisional dan

keramik berdampak pada adanya perbedaan biaya produksi. Perbedaan jenis

produksi akan berdampak pada perbedaan rata-rata besaran modal yang

dikeluarkan para pengusaha untuk komponen bahan baku dan bahan bakar. Di sini

terlihat bahwa biaya produksi gerabah keramik lebih mahal daripada gerabah

tradisional. Gerabah tradisional yang tanahnya diambil dari tanah persawahan

setempat, hampir tidak memerlukan biaya bahan baku tanah liat. Hampir semua

pengusaha gerabah tradisional menyebutkan bahwa tanah diambil dari tanah

sawah miliknya, atau tanah sawah milik tetangga yang merelakan tanahnya

diambil, meskipun ada pemilik tanah yang menyatakan keberatan tanahnya

diambil terus-menerus untuk gerabah dengan alasan sawah menjadi terlalu dalam

(“ledok”) dan menyebabkan kesuburan tanah berkurang.

95
Lain halnya dengan pengusaha gerabah tradisional, pengusaha keramik

yang harus membeli tanah dari Godean. Para pengusaha yang mengerjakan

pesanan dalam jumlah yang relatif kecil (misalnya 500-1500 pesanan sovenir per

bulan berdiameter ± 10 cm) biasanya membeli tanah secara eceran seharga

Rp50.000 untuk 1 log tanah liat (satu pikulan seberat kira-kira 50 kg) yang telah

digiling dari seorang pengusaha lebih besar yang memiliki mesin penggiling tanah

atau molen. Penghematan lain yang dapat dilakukan pengusaha gerabah

tradisional adalah dengan mengganti kayu bakar dengan jenis bahan bakar lain

seperti dedaunan dan ranting kering dari pepohonan sekitar pantai di dekat desa

setempat, jerami sisa panen padi atau membeli sabut kelapa yang harganya lebih

murah. Besar modal produksi yang dihabiskan tiap bulan oleh pengusaha industri

gerabah ditampilkan pada Tabel 5.6.

Tabel 5.6. Modal Produksi Berupa Uang


Pada Industri Gerabah Pasca Gempa
Total
Modal produksi per bulan
(rupiah)
Jumlah usaha Persen
(unit) (%)
< 100.000 17 28,3
100.100 – 312.400 22 36,7
>312.500 21 35,0
Jumlah 60 100,0
Sumber : Diolah dari Data Primer, 2008
Rata-rata satu unit usaha memerlukan modal produksi sebesar Rp200.000.

Mayoritas usaha gerabah memerlukan modal produksi cukup rendah yaitu kurang

dari Rp312.500 per bulan. Nilai terkecil modal yang dipakai pengusaha gerabah

adalah Rp50.000 dan nilai modal tertinggi adalah Rp2.728.000. Modal yang

besar atau lebih dari Rp1.000.000 biasanya diperlukan bagi unit usaha berskala

kecil yang memperkerjakan orang selain pekerja rumah tangga.

96
Besar modal yang dipakai pengusaha bergantung pada jenis produksi dan

jumlah pesanan. Industri gerabah keramik akan memerlukan modal produksi yang

lebih besar daripada gerabah tradisional. Sebanyak 48,5 persen industri gerabah

tradisional menghabiskan modal produksi kurang dari Rp100.000 per bulan,

sedangkan pada industri keramik lebih dari separuh unit usaha atau 59,3 persen

memerlukan biaya produksi lebih dari Rp312.500 per bulan.

5.2.1.3. Akses Kredit Modal Usaha

Akses kredit usaha sangat membantu pengusaha dalam mempertahankan

dan mengembangkan usahanya, terlebih dalam keadaan kesulitan modal akibat

gempa. Beberapa saat pasca gempa, berbagai bentuk bantuan modal bagi korban

gempa baik oleh pemerintah maupun lembaga keuangan banyak bermunculan.

Salah satunya berupa penyaluran kredit usaha bagi para pengusaha kecil korban

gempa. Untuk memperoleh pinjaman modal dari perbankan, pengusaha harus

menunjukkan surat keterangan usaha yang disahkan kelurahan berupa Surat

Keterangan Usaha (SKU) dan surat agunan seperti sertifikat rumah atau surat

kepemilikan kendaraan bermotor. Para pengusaha biasanya mulai memanfaatkan

pinjaman tersebut beberapa bulan atau setahun setelah gempa.

Persentase pengusaha yang memanfaatkan kredit usaha yang disediakan

oleh lembaga keuangan dan perbankan sangat kecil jika dibandingkan dengan

jumlah pengusaha yang tidak melakukan pengajuan kredit usaha. Alasan tidak

memanfaatkan kredit usaha dari adalah adanya kekhawatiran pengusaha tidak

mampu membayar cicilan pinjaman karena pendapatan usaha yang tidak stabil

97
setiap bulan. Padahal di sisi lain, dengan meminjam modal dari pihak lain,

pengusaha akan termotivasi untuk meningkatkan produktivitas usahanya. Namun

pemahaman demikian tidak dimiliki oleh semua pengusaha. Gambar 3.

menunjukkan proporsi pengusaha yang memanfaatkan kredit usaha.

Ya
38%
Tidak
62%
Apakah Bapak/Ibu memiliki pinjaman modal usaha dari
lembaga keuangan, koperasi atau perbankan?
Gambar 3. Pemanfaatan pinjaman modal usaha oleh industri gerabah di Desa Panjangrejo

Persentase pengusaha yang memanfaatkan pinjaman kredit usaha hanya

38 persen, atau berjumlah 23 pengusaha dari 60 pengusaha yang diteliti,

sedangkan sisanya yaitu 62 persen tidak memanfaatkan pinjaman modal. Besar

nilai pinjaman modal oleh pengusaha gerabah berkisar antara Rp400.000 –

Rp9.000.000. Asal pinjaman beragam sebagai berikut:

Tabel 5.7 Asal Pinjaman Modal Usaha


Industri Gerabah Di Desa Panjangrejo
Asal pinjaman modal Jumlah usaha Persentase
(unit) (%)
Koperasi simpan pinjam 14 60,9
Bank 7 30,4
Bantuan pemerintah daerah 2 8,7
Total 23 100,0
Sumber: Diolah dari data primer, 2008
Sebanyak 60,9 persen pinjaman modal berasal dari koperasi desa, dan

hanya 30,4 persen yang berasal dari pihak perbankan. Para pengusaha lebih

menyukai meminjam modal dari koperasi desa atau lembaga keuangan simpan

98
pinjam yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat setempat, karena pinjaman

ini bersifat lunak dengan bunga yang sangat ringan dengan sistem pembayaran

mingguan atau bulanan. Besar pinjaman dari koperasi berkisar antara Rp400.000

– Rp5.000.000, sedangkan besar dana yang dipinjam dari perbankan berkisar

antara Rp4.000.000 – Rp9.000.000. Meskipun tawaran pinjaman lunak bagi para

pengusaha korban gempa cukup banyak, namun persentase pemanfaatan pinjaman

dari bank relatif kecil dibanding dari koperasi, disebabkan bunga bank yang lebih

tinggi mencapai 10 persen per tahun sehingga cukup memberatkan pengusaha.

Ketaatan pembayaran cicilan pinjaman oleh pengusaha kecil sangat tinggi.

Ini dibuktikan hampir semua pengusaha yang memiliki pinjaman menyatakan

selalu tepat waktu dalam membayar cicilan hutang mereka. Mereka khawatir jika

mereka terlambat membayar maka kelak akan mendapat kesulitan jika hendak

meminjam kembali akibat kurangnya kepercayaan pihak pemberi pinjaman.

Lancarnya pembayaran kredit usaha juga secara tidak langsung merefleksikan

kelangsungan usaha. Ini diamati dari asal uang yang diperoleh untuk membayar

hutang selama 3 periode pembayaran berturut-turut yang mayoritas berasal dari

pendapatan industri gerabah itu sendiri. Jumlah pengusaha yang menyatakan uang

yang dipergunakan untuk membayar hutang berasal dari menjual barang pribadi,

hutang pihak lain, atau penghasilan lain sangat sedikit. Ini menunjukkan bahwa

pinjaman modal cukup membantu pengusaha gerabah dalam mempertahankan

kelangsungan usaha mereka. Namun perlu juga dicermati melihat kenyataannya

bahwa pemanfaatan kredit usaha di lapangan tidak sepenuhnya dipakai untuk

pengembangan usaha gerabah. Kedisiplinan untuk benar-benar mengalokasikan

99
pinjaman modal usaha hanya untuk keperluan usaha masih perlu ditingkatkan.

Kondisi pasca gempa, dimana kebutuhan untuk pembangunan rumah meningkat,

sementara uang bantuan rekonstruksi dirasa amat tidak mencukupi oleh para

korban gempa, akhirnya menjadi celah pengajuan kredit usaha yang dimanfaatkan

pengusaha gerabah untuk membangun rumah.

5.2.2. Peralatan

Alat adalah alat bantu yang digunakan untuk mempermudah proses

produksi suatu barang. Nilai alat mencerminkan nilai investasi yang ditanamkan

pengusaha pada industrinya. Pada industri kerajinan gerabah, alat yang dipakai

berupa alat putar, tungku, dan penggiling tanah (molen). Sebagian besar

pengusaha gerabah di Desa Panjangrejo memproduksi gerabah merah (terracotta),

karena itu tidak memakai alat untuk keperluan glazuur.

Alat giling tanah bernilai Rp4.000.000 – Rp5.000.000 rupiah, hanya

dimiliki 2 pengusaha dari 60 pengusaha yang didata. Selebihnya para pengusaha

keramik membeli tanah siap pakai yang telah digiling. Untuk pengusaha gerabah

tradisional lebih memilih menggiling tanah secara manual. Pada pengusaha

industri gerabah berskala rumah tangga dengan 1 – 4 tenaga kerja, jumlah alat

putar yang dimiliki antara 1 – 2 buah, bernilai Rp250.000 – Rp350.000 per buah.

Pada usaha berskala kecil dengan jumlah tenaga kerja 5 – 10 orang, alat putar atau

perbot yang dimiliki berjumlah 2 – 4 buah. Beberapa pengusaha berskala kecil

juga tidak hanya mengandalkan produk dengan metode putar, tapi mulai mengenal

gerabah cetakan. Cetakan dibuat dari bahan gips yang dijadikan mal untuk

100
mencetak gerabah sesuai pesanan. Untuk membuat satu cetakan, nilai gips yang

dibutuhkan sekitar Rp10.000 per buah. Jumlah cetakan yang dibuat tergantung

banyaknya jumlah model baru yang dipesan pembeli. Setelah pesanan

diselesaikan, cetakan ini menjadi koleksi pengusaha yang bisa ditawarkan sebagai

alternatif model gerabah kepada pemesan berikutnya. Pembakaran gerabah yang

menggunakan tungku sederhana yang dibuat dari susunan batu bata, berukuran

luas 1,5 x 2 meter dan tinggi kurang lebih satu meter, dengan biaya pembuatannya

menghabiskan dana sekitar Rp4.000.000. Beberapa pengusaha ada yang membuat

tungku untuk dipakai bersama, meskipun jumlah yang melakukannya tidak

banyak. Sebagian besar pengusaha telah memiliki tungku sendiri meskipun

bentuknya jauh lebih sederhana.

5.2.3. Bahan Baku

Bahan baku utama dalam industri gerabah adalah tanah liat dan pasir.

Sebagian tanah liat ini berasal dari desa setempat, terutama bagi industri gerabah

tradisional, sedangkan bahan baku industri gerabah modern atau keramik berasal

dari Godean. Nilai tanah liat dalam industri gerabah di Desa Panjangrejo terlihat

dalam Tabel 5.8.

Tabel 5.8 Nilai Bahan Baku Industri Gerabah


Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa
Total
Nilai Tanah Liat per bulan
(rupiah)
N Persen
(unit) (%)
< 50.000 19 31,7
50.000 – 149.900 19 31,7
>150.000 22 36,6
Total 60 100,0
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

101
Nilai rata-rata pembelian bahan baku secara keseluruhan oleh industri

gerabah tradisional maupun keramik adalah Rp137.258 dengan nilai terendah

Rp12.500 dan nilai tertinggi Rp900.000. Lebih dari enam puluh persen unit usaha

mengeluarkan biaya bahan baku kurang Rp100.000. Nilai pembelian bahan baku

yang relatif kecil bahkan kurang dari Rp50.000 per bulan disebabkan pesanan

produk yang rendah, sehingga para pengusaha lebih memilih membeli bahan baku

secara eceran sesuai pesanan produk yang sedang dikerjakan.

Pada komponen bahan baku, modal yang diperlukan industri gerabah

keramik lebih tinggi dibanding gerabah tradisional. Lebih dari separuh pengusaha

gerabah tradisional (54,5 persen) membeli bahan baku kurang dari Rp50.000 per

bulan, sedangkan pada industri keramik terdapat 70,4 persen unit usaha yang

mengeluarkan biaya bahan baku lebih dari Rp150.000 per bulan. Perbedaan nilai

bahan baku antara kedua jenis industri gerabah di Desa Panjangrejo ini

disebabkan perbedaan asal bahan baku. Industri gerabah tradisional

memanfaatkan tanah liat dan pasir asal desa sekitar, sedangkan tanah liat untuk

gerabah keramik dibeli dari daerah Godean yang telah digiling terlebih dahulu

sehingga harganya pun menjadi lebih mahal.

5.2.4. Bahan Bakar

Metode pembakaran gerabah mentah dalam industri gerabah di desa ini

masih menggunakan cara tradisional dengan tungku kayu bakar, bukan oven

pengering. Komponen bahan bakar cukup besar dalam proporsi biaya produksi

102
industri gerabah. Biaya yang dihabiskan oleh unit usaha gerabah untuk bahan

bakar kayu ditampilkan pada Tabel 5.9.

Tabel 5.9 Nilai Bahan Bakar Industri Gerabah


Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa
Total
Nilai Bahan Bakar per bulan
(rupiah) N Persen
(unit) (%)
< 50.000 19 31,7
50.000 – 100.000 14 23,3
>100.000 27 45,0
Total 60 100
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Pembelian bahan bakar oleh industri gerabah di Desa Panjangrejo per

bulan rata-rata sebesar Rp128.642 dengan nilai paling kecil yaitu Rp15.000 dan

nilai tertinggi sebesar Rp960.000. Secara keseluruhan, lebih dari separuh unit

usaha mengeluarkan biaya bahan bakar kurang dari Rp100.000 per bulan. Namun

demikian unit usaha yang menghabiskan dana lebih dari Rp100.000 per bulan

untuk membeli bahan bakar juga cukup besar mencapai 45 persen unit usaha.

Nilai pembelian bahan bakar kurang dari Rp25.000 hanya dilakukan oleh

pengusaha gerabah tradisional, meskipun jumlahnya kecil yaitu hanya ada 5 dari

33 pengusaha gerabah tradisional (15,2 persen). Mayoritas unit usaha gerabah

tradisional atau 51,5 persen mengeluarkan biaya bahan bakar kurang dari

Rp50.000 per bulan, sedangkan pada industri keramik biaya bahan bakar yang

dikeluarkan pengusaha relatif lebih besar. Sebanyak 63 persen unit industri

keramik memerlukan biaya bahan bakar lebih dari Rp100.000 per bulan.

Berdasarkan observasi di lapangan tidak ada pengusaha keramik yang

mengganti bahan bakar kayu dengan alternatif yang lebih murah seperti

memanfaatkan ranting kayu dari hutan, jeramik, dedaunan untuk bahan bakar,

103
berbeda dengan pengusaha gerabah tradisional. Pengusaha keramik lebih memilih

kayu bakar karena pembakaran yang lebih stabil sehingga kematangan produk

lebih baik. Besarnya jumlah yang dikeluarkan oleh pengusaha untuk membeli

bahan bakar berupa kayu tergantung jumlah barang yang diproduksi.

Produktivitas industri gerabah yang masih sangat dipengaruhi oleh musim,

membuat frekuensi pembakaran akan lebih tinggi saat musim kemarau. Jika pada

musim kemarau, pembakaran gerabah dilakukan 3 – 4 kali sebulan, tapi di musim

hujan hanya satu kali bahkan 3 bulan sekali karena penjemuran yang tidak

sempurna, dan pembakaran tidak mungkin dilakukan pada saat hujan sering turun.

Ketiadaan alat pengering menjadi kendala cukup penting bagi kelangsungan usaha

gerabah agar dapat tetap berproduksi di musim hujan.

5.2.5. Tenaga Kerja

Sebagian besar industri kerajinan gerabah di Desa Panjangrejo berskala

rumah tangga yang memanfaatkan pekerja rumah tangga. Penambahan pekerja

selain pekerja rumah tangga dilakukan pengusaha hanya jika terdapat pesanan

dalam jumlah besar dan harus segera diselesaikan sehingga tidak dapat dikerjakan

oleh pengusaha dan keluarganya sendiri. Para pekerja di industri gerabah skala

rumah tangga pada umumnya tidak menerima upah layaknya pekerja yang bukan

anggota rumah tangga. Meskipun demikian, turut dijumpai sejumlah kecil usaha

yang dikelola bersama oleh beberapa keluarga yang masih terikat kekerabatan

yang telah menerapkan sistem upah.

104
Upah pekerja biasanya diberikan secara borongan setelah pekerja

menyelesaikan sejumlah produk yang dipesan. Upah per buah untuk ukuran kecil

atau souvenir berkisar antara Rp50 – Rp200 dengan jumlah total yang dapat

dikerjakan antara 100 – 300 buah per hari selama 6 hari kerja. Upah yang

diberikan untuk pengerjaan produk gerabah berukuran sedang (tinggi 20 – 45 cm)

berkisar antara Rp1.000 – Rp10.000 per buah tergantung tingkat kesulitan

pengerjaan. Dari 60 pengusaha yang menjadi sampel dalam penelitian ini, hanya

ada 6 pengusaha yang memakai tenaga kerja upahan dengan besar biaya upah

tenaga kerja yang dikeluarkan per bulan antara Rp225.000 – Rp1.824.000 yang

mencakup 24,8 - 66,9 persen dari seluruh biaya produksi. Adapun jumlah tenaga

kerja tanpa memperhatikan tenaga kerja rumah tangga maupun tenaga kerja

upahan di masing-masing unit usaha disajikan pada Tabel 5.10.

Tabel 5.10 Penggunaan Jumlah Tenaga Kerja


Industri Gerabah Pasca Gempa
Tenaga Kerja Frekuensi Persen (%)
(orang)
1–3 46 76,7
≥4 14 23,3
Total 60 100,0
Sumber: Data Primer, 2008

Lebih dari 80 persen unit usaha industri gerabah di Desa Panjangrejo

merupakan industri berskala rumah tangga dengan tenaga kerja kurang dari 5

orang, bahkan 76,7 persen dari keseluruhan unit usaha hanya memiliki tenaga

kerja 1 – 3 orang. Industri berskala kecil sebesar 13,3 persen. Besarnya persentase

unit usaha dengan pekerja hanya 1 – 3 orang disebabkan keengganan penduduk

untuk bekerja di bidang ini. Terbukti bahwa banyak unit usaha turun temurun

yang sudah tidak diminati oleh para kaum muda berusia kurang dari 30 tahun,

105
meskipun ayah dan ibu mereka mengerjakan industri gerabah sebagai mata

pencaharian utama. Kalaupun ada remaja dan kaum muda berusia kurang dari 30

tahun yang membantu mengerjakan produksi gerabah milik orang tua mereka,

tugas mereka hanya membantu pekerjaan yang ringan seperti penyempurnaan

gerabah (masyarakat setempat menyebutnya dengan “servis”). Hanya ada sedikit

dari mereka yang mampu mengerjakan proses produksi mulai dari pencetakan

dengan cara putar hingga pembakaran, sehingga keterampilan yang dimiliki pun

dikhawatirkan tidak lebih baik dari keterampilan orang tua mereka. Namun hal ini

akan sedikit terbantu jika ada upaya pengembangan produk gerabah di Pundong.

Munculnya industri-industri yang dikelola pengusaha berpendidikan SLTA dan

perguruan tinggi mulai menawarkan keunikan desain gerabah modern telah

menjadi tempat bekerja sekaligus belajar pemuda-pemuda yang masih ingin

meneruskan budaya masyarakatnya di industri ini. Dengan desain yang lebih

menarik diharapkan dapat meningkatkan nilai jual serta menarik minat pemuda

untuk menekuni usaha ini dengan lebih percaya diri untuk menjadikannya usaha

yang bernilai ekonomis tinggi.

Keengganan tetap bekerja di industri gerabah ternyata tidak hanya terjadi

pada para pemuda, tapi juga pada para perajin yang sebelumnya bekerja di

industri gerabah milik orang lain. Hal ini seperti diungkapkan salah satu pengurus

GKP3, NA:

“Setelah gempa, kami kekurangan banyak tenaga yang mau bertahan di industri
ini. Mereka lebih memilih bekerja sebagai pedagang atau tukang bangunan yang
penghasilannya lebih tinggi dibanding bekerja di industri gerabah”.

106
Sejumlah pengusaha yang sebelum gempa memiliki lebih dari 5 tenaga kerja, saat

ini hanya dibantu 1 – 2 orang tenaga kerja upahan. Lebih dari keengganan pekerja,

hal ini lebih dipengaruhi jumlah pesanan yang menurun drastis dibanding

beberapa tahun sebelum gempa terjadi. Menurunnya jumlah pesanan membuat

para pengusaha tidak lagi membutuhkan banyak pekerja upahan, karena

kemampuan membayar upah tenaga kerja juga menurun.

Sebagian besar industri gerabah tradisional atau 84,8 persen hanya

memiliki 1– 2 orang tenaga kerja, sedangkan pada industri keramik persentase

unit usaha dengan 1 – 2 orang tenaga kerja hanya sebesar 48,1 persen.

Penggunaan tenaga kerja yang lebih besar pada industri keramik juga teramati dari

persentase unit usaha dengan jumlah tenaga kerja tiga sampai empat orang yang

mencapai 29,6 persen dibanding industri gerabah tradisional yang hanya 9,1

persen.

5.2.6. Pemasaran

Hampir seluruh kegiatan pemasaran produk industri gerabah di Desa

Panjangrejo khususnya produk keramik ditujukan untuk memasok ke sentra

gerabah Kasongan. Produk gerabah tradisional biasanya langsung dipasarkan oleh

pengusaha yang menitipkan kuali, keren atau tungku tanah liat ke warung-warung

kecil di pasar yang terdapat di sekitar Desa Panjangrejo, pasar tradisional di Kota

Yogyakarta bahkan sampai Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul.

Beberapa pengusaha keramik mulai membuka jaringan pasar selain

Kasongan, misalnya ke kota Surabaya, Bali, atau ke pasar-pasar ekspor,

107
jumlahnya relatif sangat kecil. Unit usaha yang mampu menjual produknya ke

luar Kasongan biasanya memiliki ciri keunggulan antara lain desain produk yang

khas atau berbeda dengan usaha sejenis, serta mampu memenuhi standar pesanan

baik baik dari segi kualitas maupun nilai produksi. Misalnya produk dengan

dekorasi laminasi kulit telur, pasir, atau tamarin yang menghasilkan gerabah

berwarna hitam.

Upaya memperluas jaringan pemasaran lewat pameran dilakukan dengan

bantuan pihak sponsor, misalnya oleh Departemen Perindustrian atau pihak

swasta yang memberikan penawaran pameran di beberapa kota seperti Jakarta dan

Surabaya. Keikutsertaan industri usaha dalam pameran biasanya secara

berkelompok menggunakan satu sampai dua stan pameran. Hasil wawancara

terhadap beberapa pengusaha menyatakan tidak banyak diperoleh keuntungan dari

pameran-pameran yang diikuti. Pengusaha justru harus mengeluarkan biaya ekstra

untuk akomodasi karena tidak ditanggung oleh pihak sponsor, maupun untuk

keperluan pameran itu sendiri seperti mencetak kartu nama dan biaya produksi

sampel produk.

Setelah gempa, bantuan pemasaran melalui internet juga diperoleh

beberapa pengusaha dari kegiatan praktek kerja para mahasiswa salah satu

universitas swasta di Yogyakarta. Tidak hanya membangun situs internet, bantuan

ini juga mencakup pengelolaan situs internet yang dipakai untuk memasarkan

produk gerabah, maupun memberikan informasi jika ada pesanan barang yang

diterima. Diakui pengusaha, pemasaran lewat internet sangat membantu

meningkatkan nilai penjualan mereka. Dalam hal ini tentu diperlukan pelatihan

108
lebih lanjut tentang pemanfaatan internet agar pengelolaan situs pemasaran

gerabah dapat dilakukan secara mandiri oleh pengusaha sendiri.

Pemasaran langsung seperti yang banyak dilakukan di sentra Kasongan

terkendala masalah letak geografis sentra gerabah Pundong yang jauh dari pusat

kota. Sementara itu wacana pengembangan desa wisata masih jauh dari harapan,

mengingat kesiapan masyarakat dan infrastruktur yang menunjang kegiatan wisata

masih sangat kurang. Beberapa pengunjung yang datang hanya sekedar melihat-

lihat proses produksi tanpa membeli gerabah dalam jumlah yang cukup banyak

sehingga omzet yang diperoleh juga tidak besar.

Upaya pemerintah Kabupaten Bantul untuk membantu pengusaha

kerajinan agar dapat memasarkan produknya di daerahnya antara lain dengan

membangun Pasar Seni Gabusan. Pasar ini diharapkan menjadi tempat

bertemunya para pedagang dan pembeli yang dapat meningkatkan omzet

pengusaha. Namun kondisi pasar seni Gabusan saat ini masih sangat sepi dari

pembeli. Masalah ini mulai mendapat perhatian oleh pemkab Bantul dengan

membangun subterminal di samping area pasar seni Gabusan agar para pengguna

kendaraan umum yang berhenti di terminal tersebut dapat mampir dan tertarik

membeli produk yang diperdagangkan di PSG. Keluhan lain yang datang dari

salah seorang pengusaha yaitu karena pasar seni Gabusan belum menjadi tempat

bertemunya para pemborong besar dengan tujuan ekspor. Belum lagi persaingan

gerabah tradisional bertambah ketat dengan munculnya pengrajin dari daerah lain

yang membuat gerabah di saat Pundong terkena bencana seperti Klaten dan

109
sekitarnya juga mulai tergantinya alat-alat rumah tangga seperti padasan, kuali,

pot-pot bunga dengan barang-barang terbuat dari plastik.

5.3. Bantuan Pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat

Bantuan pemerintah pada korban gempa sangatlah berarti. Perhatian pada

penelitian ini adalah bantuan untuk kegiatan industri gerabah di Desa Panjangrejo.

Bantuan untuk kegiatan industri yang diberikan secara cuma-cuma berupa bahan

baku tanah liat dan peralatan seperti alat putar dan molen. Alat putar diberikan per

pengusaha sejumlah 1 – 3 buah per pengusaha berasal dari pemerintah dan LSM,

sedangkan molen diberikan per kelompok berjumlah 8 – 10 orang. Bantuan tanah

liat oleh PMI diberikan sebanyak 1 kol per pengusaha. Penemuan di lapangan

menunjukkan bantuan tanah ini tidak diberikan kepada seluruh pengusaha gerabah

di semua dusun. Dalam hal ini pengusaha gerabah di Dusun Jetis menerima

bantuan tanah, namun tidak demikian dengan pengusaha di Dusun Semampir.

Bantuan yang diterima dari lembaga swadaya masyarakat antara lain

pembangunan tempat tinggal sementara berupa bangunan semi permanen dengan

luas 4 x 6 meter per segi yang sekarang digunakan penduduk sebagai tempat

usaha, pembuatan tungku, dan perkakas alat bantu seperti rak, ember, tempat

untuk penjemuran gerabah dan lain-lain.

Manfaat bantuan ini tidak sepenuhnya dirasakan oleh para pengusaha

korban gempa di Desa Panjangrejo. Berdasarkan survei yang dilakukan, banyak

pengusaha yang mengeluhkan alat putar yang diberikan tidak dapat digunakan. Ini

karena alat putar pemberian pemerintah yang terlalu tinggi dibanding yang biasa

110
dipakai oleh pengusaha setempat, ataupun putarannya yang tidak stabil. Padahal

jumlah pemberian alat putar sebanyak 1 – 3 buah per pengusaha banyak

menghabiskan biaya. Jika harga satu alat putar (perbot) senilai Rp200.000 –

Rp350.000 maka nilai bantuan alat ini berkisar Rp400.000 sampai lebih dari

Rp1.050.000 per pengusaha. Sebaliknya alat putar bantuan salah satu LSM dibuat

oleh salah satu penduduk setempat yang mengerti model dan karakter alat putar

yang dipakai di desa ini, sehingga dapat dimanfaatkan dengan baik. Hal yang

sama terjadi dengan pemberian alat giling tanah atau molen. Beberapa alat ini

pada akhirnya hanya dianggurkan karena kebiasaan pengusaha gerabah membeli

tanah siap oleh yang sudah digiling dari salah salah seorang pengusaha pemilik

molen yang juga menjual tanah bahan baku gerabah. Selain memerlukan tenaga

manusia yang cukup kuat untuk menggiling tanah, penggunaan molen untuk

menggiling tanah dalam jumlah yang tidak banyak dinilai tidak ekonomis, karena

mesin ini memakai tenaga diesel yang membutuhkan solar sebagai bahan bakar.

Bantuan-bantuan berupa pelatihan manajemen, pencatatan buku keuangan,

teknik produksi seperti finishing dan desain juga diberikan oleh departemen

perindustrian ataupun berbagai universitas lewat kegiatan kemahasiswaan. Namun

setelah pelatihan tersebut usai, tidak semua pelatihan tersebut dilaksanakan oleh

pengusaha. Alasan yang dikemukakan kenapa tidak melakukan pencatatan

keuangan misalnya adalah pencatatan keuangan justru dirasakan merepotkan bagi

pengusaha, ditambah lagi hal ini justru membebani pikiran pengusaha seperti

komentar berikut:

”Pencatatan keuangan justru membuat stres, kami harus mencatat semua uang
yang masuk dan keluar padahal pendapatan kami tidak besar. Di buku cuma ada

111
tulisan angka-angka, tapi kenyataannya uang yang diperoleh langsung habis
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari”.

Demikian pula untuk produk finishing hanya ada beberapa pengusaha yang mulai

mencoba pembuatan gerabah sampai pada proses finishing. Ketergantungan

pemasaran pada sentra Kasongan membuat produk mereka dibatasi oleh pihak

pemesan yang hanya bersedia menerima produk setengah jadi. Hal ini

kemungkinan bertujuan mempertahankan penggunaan tenaga finishing yang

berasal dari Kasongan sendiri.

112
BAB VI

KELANGSUNGAN USAHA INDUSTRI GERABAH PASCA GEMPA

Bab ini merupakan pembahasan penelitian. Didalamnya akan dibahas

indikator kelangsungan usaha serta distribusinya secara deskriptif dengan

karakteristik pengusaha dan karakteristik unit usaha pasca gempa.

6.1. Kelangsungan Usaha

Kelangsungan usaha industri gerabah pasca gempa merupakan

kemampuan suatu kegiatan industri untuk tetap melakukan aktivitas produksi

pada kondisi tertentu. Kelangsungan usaha terwujud oleh berbagai faktor

pendukung, mulai dari ketersediaan faktor-faktor produksi, penyerapan produk

oleh konsumen, dan faktor eksternal di luar perusahaan seperti pajak, kebijakan

pemerintah, dan dukungan masyarakat di sekitar lokasi industri. Dalam hal ini

berlangsungnya kegiatan industri gerabah pasca gempa dipengaruhi beberapa

faktor yang mendorong aktivitas produksi tetap berjalan. Beberapa hal di

antaranya adalah ketersediaan bahan baku, adanya permintaan produk, lingkungan

dan kondisi pengusaha gerabah sendiri sebagai korban gempa yang

memungkinkan mereka menjalankan produktivitasnya.

Menimbang kelangsungan usaha pasca gempa terkait dengan hal yang

sangat kompleks, pembuatan indikator kelangsungan usaha menjadi tidak mudah

jika harus melibatkan berbagai aspek seperti terurai di atas. Pada penelitian ini

penulis memakai indikator output industri yaitu nilai produksi serta waktu yang

113
dibutuhkan untuk bangkit kembali setelah terjadi gempa. Hal ini bertujuan agar

indikator kelangsungan usaha pasca gempa lebih mudah dipahami dalam menilai

kemampuan industri tetap bertahan setelah tertimpa bencana.

6.1.1. Waktu Bangkit Unit Usaha Gerabah Pasca Gempa

Aktivitas unit usaha pasca gempa diamati berdasarkan waktu yang

diperlukan suatu unit usaha untuk kembali berproduksi terhitung sehari setelah

gempa terjadi. Dalam penelitian ini waktu henti menjadi salah satu indikator

seberapa besar daya tahan unit usaha dalam menghadapi masalah tak terduga

seperti bencana, dengan asumsi semakin cepat unit usaha bangkit setelah gempa

maka kelangsungan usaha industri tersebut juga semakin baik. Waktu bangkit unit

usaha pasca gempa ditampilkan pada Tabel 6.1.

Tabel 6.1 Waktu Bangkit Industri Gerabah


Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa
Waktu bangkit industri Jumlah usaha Persentase usaha
gerabah (unit) (%)
<6 bulan 30 50,0
6 – 12 bulan 25 41,67
> 12 bulan 5 8,33
Total 60 100

Sumber: Diolah dari data primer, 2008.

Data di atas menunjukkan bahwa kemampuan unit usaha gerabah untuk

bertahan pasca bencana gempa bumi cukup besar, ditandai dengan besarnya

persentase usaha yang berhenti kurang dari setahun pasca gempa. Unit usaha yang

berhenti lebih dari satu tahun hanya berjumlah 5 dari 60 usaha yang didata atau

8,33 persen. Informasi ini juga memberi gambaran bahwa pengusaha kerajinan

gerabah di Desa Panjangrejo mampu segera bangkit dengan memulai usaha

mereka. Selain didorong oleh keiinginan segera bekerja dan memperoleh

114
penghasilan, banyak pengusaha mengaku memanfaatkan momentum banyaknya

pesanan khususnya bagi gerabah tradisional. Beberapa saat setelah gempa,

permintaan akan peralatan dapur dan rumah tangga yang terbuat dari tanah liat

seperti tungku, kuali dan alat dapur lain meningkat. Meningkatnya permintaan

barang akan diikuti meningkatnya harga produk, bahkan sampai dua kali lipat

harga normal. Hal inilah yang mendorong para pengusaha gerabah tradisional

untuk memproduksi gerabah guna meraih nilai penjualan yang tinggi.

Angka pesanan yang relatif tinggi beberapa waktu saat setelah gempa

tidak hanya dialami oleh pengusaha gerabah tradisional, tapi juga menjadi berkah

dialami oleh para pengusaha gerabah modern. Pesanan gerabah dari Kasongan

juga meningkat. Peran media yang sampai setahun pasca gempa kerap kali

memberitakan perkembangan kondisi daerah korban gempa, termasuk industri

kerajinannya secara tidak langsung membantu mempromosikan produk industri

gerabah di Kabupaten Bantul yang kemudian dinikmati oleh sentra gerabah

Kasongan dan Pundong.

6.1.2. Nilai Produksi

Nilai produksi menunjukkan kemampuan suatu unit industri dalam

memproduksi sejumlah produk atau barang dalam waktu tertentu dinamakan juga

dengan omzet industri. Nilai produksi industri kerajinan gerabah di Desa

Panjangrejo tergantung pada banyaknya pesanan yang diterima pengusaha. Nilai

produksi industri gerabah di Desa Panjangrejo sebagai berikut:

115
Tabel 6.2 Nilai Produksi Industri Gerabah
Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa
Nilai produksi Jumlah usaha Persentase
(rupiah per bulan) (unit) (%)

<600.000 17 28,3
600.000 – 1.520.000 22 36,7
>1.520.000 21 35,0
Total 60 100,0
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Rata-rata nilai produksi industri gerabah di desa ini per bulan adalah

Rp1.387.333. Sekilas nilai produksi terlihat tinggi, namun jika dicermati nilai ini

memiliki kisaran cukup besar yaitu nilai produksi minimal Rp140.000 dan

tertinggi Rp10.160.000 per bulan. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan nilai

produksi yang sangat lebar antar unit usaha. Unit usaha yang memiliki nilai

produksi di atas Rp1.000.000 sebesar 48,3 persen. Artinya, terdapat lebih dari 50

persen unit usaha industri gerabah di Desa Panjangrejo yang meraih nilai produksi

kurang dari Rp1.000.000 per bulan dengan persentase unit usaha yang meraih

nilai produksi terendah kurang dari Rp600.000 mencapai 28,3 persen.

Nilai produksi gerabah tradisional cenderung lebih kecil dibandingkan

nilai produksi yang dicapai produk keramik. Hampir separuh unit usaha atau

sebesar 48,5 persen industri gerabah tradisional meraih nilai produksi kurang dari

Rp600.000 per bulan, sedangkan pada industri keramik terdapat 59,3 persen unit

usaha yang mencapai nilai produksi lebih dari Rp1.520.000 per bulan. Besarnya

nilai produksi produk keramik tidak terlepas dari jumlah pesanan yang terus

diterima pengusaha setiap bulannya.

116
6.1.3. Kategori Kelangsungan Usaha

Kategori kelangsungan usaha dibuat dengan sebagai hasil penjumlahan

antara skor waktu bangkit dan skor nilai produksi. Skor ini membentuk kategori

kelangsungan usaha menjadi “ Usaha berlangsung baik”; “ Usaha berlangsung

sedang” dan “usaha berlangsung buruk”. Distribusi unit usaha industri gerabah

berdasarkan kelangsungan usaha ditampilkan pada Tabel 6.3.

Tabel 6.3 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah


Di Desa Panjangrejo Pasca Gempa
Kelangsungan Usaha Jumlah Usaha Persentase
(unit) (%)
Buruk 11 18,3
Sedang 36 60,0
Baik 13 21,7
Total 60 100
Sumber: Diolah dari perhitungan data primer 2008
Sebanyak 60 persen unit usaha tergolong memiliki kelangsungan usaha

yang sedang, 18,3 persen tergolong buruk dan terdapat 21,7 persen unit usaha

yang berlangsung baik pasca gempa. Semakin cepat suatu unit usaha bangkit dan

semakin tinggi nilai produksinya, akan semakin tinggi nilai kelangsungan usaha

yang diperoleh. Nilai produksi unit usaha yang tergolong sangat baik dalam

penelitian ini adalah unit usaha dengan skor kelangsungan usaha 6, diperoleh dari

nilai maksimal skor waktu 3 dan nilai maksimal nilai produksi 3. Dengan

demikian kelangsungan usaha pasca gempa suatu unit usaha industri gerabah

disebut sangat baik jika mampu segera bangkit setelah gempa dalam waktu kurang

dari 6 bulan, dan meraih nilai produksi rata-rata lebih dari Rp1.520.000 per bulan.

Nilai produksi yang diraih oleh unit usaha dengan kategori memiliki

kelangsungan usaha baik rata-rata sebesar Rp2.666.083. Nilai produksi paling

rendah pada kategori baik adalah Rp1.020.000 per bulan, dan nilai tertinggi

117
mencapai Rp10.160.000 per bulan. Nilai produksi yang dicapai unit usaha dengan

kategori kelangsungan usaha sedang dan buruk bervariasi. Tabel 6.4 menampilkan

nilai produksi yang dicapai masing-masing kelompok unit industri berdasarkan

kelangsungan usahanya.

Tabel 6.4 Distribusi Kelangsungan Usaha Industri Gerabah


Pasca Gempa Menurut Nilai Produksi Di Desa Panjangrejo
Nilai Produksi Kelangsungan Usaha
(rupiah per bulan) Buruk Sedang Baik
N % N % N %
< 600.000 10 90,9 7 19,4 0 0,0
600.000 – 1.519.900 1 9,1 21 58,3 0 0,0
≥ 1.520.000 0 0,0 8 22,3 13 100,0
Jumlah total 11 100,0 36 100,0 13 100,0
(N= 60 )
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Tabel 6.4 terlihat bahwa seluruh unit usaha yang berlangsung baik pasca

gempa adalah unit usaha yang meraih nilai produksi lebih dari Rp1.520.000 per

bulan. Dengan demikian suatu unit usaha disebut berlangsung baik pasca gempa

jika memiliki nilai produksi lebih dari Rp1.520.000 per bulan dan bangkit dalam

waktu kurang dari 6 bulan pasca gempa. Hampir seluruh industri gerabah yang

berlangsung buruk pasca gempa meraih nilai produksi kurang dari Rp600.000 per

bulan. Pada industri gerabah dalam kategori berlangsung buruk pasca gempa

hanya terdapat 9,1 persen unit usaha yang mampu meraih nilai produksi lebih dari

Rp600.000 per bulan. Lebih dari lima puluh persen industri gerabah pada kategori

kelangsungan usaha sedang memperoleh nilai produksi berkisar antara Rp600.000

– 1.519.900 per bulan. Pada industri yang tergolong memiliki kelangsungan usaha

sedang pasca gempa, unit usaha yang mampu meraih nilai produksi lebih dari

Rp1.520.000 per bulan sebesar 22,3 persen. Hampir seluruh industri gerabah yang

118
berlangsung baik pasca gempa adalah industri yang memproduksi keramik, hanya

ada 2 dari 13 unit usaha dalam kategori berlangsung baik yang memproduksi

gerabah tradisional.

6.1.4. Tingkat Pemulihan Usaha

Tingkat pemulihan usaha menggambarkan seberapa jauh industri gerabah

di daerah terkena gempa mampu pulih seperti kondisi sebelum gempa.

Perbandingan kondisi sebelum dan sesudah gempa dapat dilakukan dengan

terlebih dahulu menentukan indikator apa yang akan dibandingkan pada kedua

titik waktu tersebut. Beberapa indikator tingkat pemulihan usaha pasca gempa

yang dapat dipakai misalnya jumlah tenaga kerja, metode dan jangkauan

pemasaran, teknologi industri, kapasitas produksi, nilai produksi dan pendapatan

usaha. Dengan mengukur tingkat pemulihan usaha pasca gempa, penelitian ini

diharapkan dapat memberi gambaran perbandingan kondisi unit usaha pasca

gempa secara relatif terhadap kondisi sebelum gempa.

Permasalahan pertama yang muncul dalam upaya mengukur tingkat

pemulihan usaha adalah ketersediaan data sebelum gempa yang sulit didapat. Pada

daerah sentra industri dengan pemantauan perkembangan industri yang rutin

dilakukan, akses data sebelum bencana mungkin diperoleh. Pada penelitian ini,

diperoleh rekaman kondisi unit usaha yang terdaftar dalam GKP3 sebelum gempa

meliputi nama pengusaha, alamat, luas tempat usaha, jenis bangunan tempat

usaha, jumlah tenaga kerja, omzet per bulan sebelum gempa serta alat yang rusak

dan nilai kerugian akibat gempa. Data unit industri tersebut diperoleh dari hasil

119
laporan para pengusaha atau pendataan dari para pengurus GKP3. Jika data ini

digunakan untuk membandingkan kondisi sebelum dan sesudah gempa, akan

muncul masalah ke-2 yaitu perbandingan yang kurang tepat akibat metode

pendataan, definisi data yang dapat saja berbeda, karena sumber dan kolektor data

yang berbeda. Upaya meminimalkan perbedaan ukuran data, adalah dengan

terlebih dahulu menyamakan persepsi ukuran data, sehingga pembandingan data

tersebut untuk titik waktu sebelum dan sesudah gempa dapat dilakukan.

Pemilihan indikator yang tepat menjadi penting agar maksud pengukuran

tingkat pemulihan usaha pasca gempa dapat tercapai. Pulihnya suatu usaha dapat

diukur dengan membandingkan output yang dihasilkan unit industri setelah

mengalami kondisi yang merugikan seperti terkena bencana dengan output yang

diraih sebelum mengalami bencana. Output suatu industri berupa nilai produksi

atau pendapatan utama dari penjualan produk. Indikator yang dipakai dalam

penelitian ini adalah pencapaian nilai produksi pasca gempa dibandingkan nilai

produksi sebelum gempa yang dinyatakan dalam persen. Secara matematis

dinyatakan sebagai berikut:

Nilai Pr oduksiPascaGempa
TingkatPemulihanUsaha = x100%
Nilai Pr oduksiSebelumGempa

Responden yang terekam dalam penelitian ini tidak semuanya tercantum

sebagai anggota GKP3. Dari 60 pengusaha gerabah aktif pasca gempa yang

menjadi responden, hanya 34 pengusaha atau 56,7 persen yang menjadi anggota

GKP3. Secara keseluruhan rata-rata tingkat pemulihan usaha mencapai 164,4

persen dan terdapat 32,4 persen unit usaha yang mengalami penurunan nilai

120
produksi. Penurunan nilai produksi berkisar antara 40 – 80 persen dibanding

sebelum gempa.

Tingkat pemulihan usaha industri gerabah pasca gempa dianalisis

berdasarkan kelangsungan usaha pasca gempa untuk tiap kategori buruk, sedang

dan baik. Dari 11 unit usaha dengan kelangsungan usaha buruk pasca gempa,

terdapat 6 unit usaha yang memiliki informasi nilai produksi sebelum gempa.

Pada kelompok dengan kelangsungan usaha buruk tingkat pemulihan usaha

berkisar antara 40 – 260 persen. Rata-rata tingkat pemulihan usaha mencapai

121,7 persen, 50 persen unit usaha di antaranya memiliki tingkat pemulihan usaha

kurang dari 100 persen, yaitu sebesar 20 – 50 persen. Artinya pada industri

gerabah yang tergolong memiliki kelangsungan usaha buruk pasca gempa,

terdapat separuh unit usaha yang mengalami penurunan nilai produksi sebesar 50

hingga 80 persen. Pada kelompok unit usaha industri gerabah yang tergolong

memiliki kelangsungan usaha sedang pasca gempa, rata-rata tingkat pemulihan

usaha mencapai 146,7 persen dengan kisaran tingkat pemulihan usaha antara 40 –

370 persen. Pada industri yang berlangsung sedang, terdapat 38,9 persen unit

usaha yang mengalami penurunan nilai produksi pasca gempa sebesar 40 – 60

persen. Pada kelompok unit usaha dengan kelangsungan usaha baik pasca gempa,

rata-rata tingkat pemulihan usaha mencapai 220 persen, dan hanya 10 persen unit

usaha yang mengalami penurunan nilai produksi dibanding sebelum gempa,

dengan besar penurunan nilai produksi sebesar 60 persen.

121
6.2. Kelangsungan Usaha Pasca Gempa Menurut Karakteristik Pengusaha

Langkah pengusaha dalam mengambil keputusan, mengatasi masalah yang

dihadapi usahanya sangat perlu dipertimbangkan dalam studi industri kecil.

Beberapa faktor-faktor karakter individu pengusaha yang dapat dikaitkan dengan

kelangsungan usaha, meliputi pendidikan, umur dan jumlah anggota rumah

tangga.

6.2.1 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Menurut Umur Pengusaha

Umur pengusaha berkaitan dengan lama pengalaman usaha, motivasi

berusaha dan kemampuan fisik yang dimiliki mengingat proses produksi gerabah

ini masih dilakukan secara manual sehingga membutuhkan banyak tenaga. Tabel

6.5 menunjukkan variasi kelangsungan usaha pada masing-masing kelompok

umur pengusaha.

Tabel 6.5 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah


Menurut Kelompok Umur Pengusaha
Umur Pengusaha Kelangsungan Usaha
(tahun) Buruk Sedang Baik

N % N % N %
30 – 39 1 9,1 14 38,8 2 15,4
40 – 49 0 0,0 11 30,6 6 46,2
≥ 50 10 90,9 11 30,6 5 38,4
Jumlah 11 100,0 36 100,0 13 100,0
(N = 60)
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Sebagian besar unit usaha yang berlangsung buruk pasca gempa dimiliki

oleh pengusaha berusia 50 tahun ke atas, sedangkan pada unit usaha yang

berlangsung sedang pasca gempa terdistribusi hampir merata pada semua

kelompok umur pengusaha. Terjadi peningkatan persentase kelangsungan usaha

122
yang tergolong baik pada pengusaha berumur 40 – 49 tahun dibanding pengusaha

berusia 30 – 39 tahun dari 15,4 persen menjadi 46,2 persen, namun menurun pada

kelompok umur 50 – 59 tahun menjadi 38,4 persen.

Semakin membaiknya kelangsungan usaha pada kelompok umur

pengusaha 40 – 49 tahun dibanding pengusaha berusia 30 – 39 tahun dapat

disebabkan pengalaman usaha yang dimiliki pengusaha berusia 40 – 49 tahun

lebih lama daripada pengusaha berusia 30 – 39 tahun. Tidak terdapat pengusaha

lebih dari 60 tahun yang tergolong memiliki kelangsungan usaha baik. Selain

disebabkan secara fisik tenaga yang dimiliki sudah berkurang sehingga jumlah

produk yang dihasilkan tidak sebanyak saat mereka berusia lebih muda, juga

dapat disebabkan menurunnya motivasi untuk memproduksi gerabah lebih banyak

karena pada usia ini mereka biasanya tidak lagi terlalu terbebani kewajiban

membiayai keluarga.

6.2.2 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah Menurut Pendidikan

Pengusaha

Pendidikan yang diraih seseorang berkaitan dengan cara pikir, terbukanya

wawasan dan kemudahan dalam menyerap ilmu pengetahuan dan informasi.

Dalam konteks kelangsungan usaha, pengusaha berpendidikan lebih tinggi

diharapkan mampu mengatasi permasalahan usaha yang muncul pasca gempa

dengan menemukan solusi yang lebih baik sehingga memiliki produktivitas usaha

yang lebih tinggi pula. Dengan semakin tinggi produktivitas usaha, diharapkan

nilai produksi yang dicapai pengusaha setiap bulannya juga meningkat, yang

123
artinya kelangsungan usaha juga semakin baik. Pengamatan kelangsungan usaha

berdasar tingkat pendidikan pengusaha dibantu oleh penyajian data pada Tabel

6.6.

Tabel 6.6 Kelangsungan Usaha Menurut Pendidikan Pengusaha


Kelangsungan Usaha Pendidikan Pengusaha
Tidak Sekolah SD SLTP SLTA+
N % N % N % N %
Buruk 3 60,0 7 21,2 1 7,1 0 0,0
Sedang 1 20,0 20 60,6 9 64,3 6 75,0
Baik 1 20,0 6 18,2 4 28,6 2 25,0
Jumlah 5 100,0 33 100,0 14 100,0 8 100,0
(N = 60)
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Pembacaan Tabel 6.6 menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan usaha

secara umum semakin baik dengan semakin tinggi tingkat pendidikan pengusaha.

Kelangsungan usaha dengan kategori baik meningkat pada pengusaha

berpendidikan sekolah menengah pertama (SLTP) sebanyak 8,6 – 10,4 persen

dibanding pengusaha yang tidak bersekolah dan menamatkan sekolah dasar.

Pernyataan di atas juga didukung menurunnya persentase industri gerabah dalam

kategori kelangsungan usaha buruk pasca gempa secara siginifikan dari 60 persen

pada pengusaha yang tidak bersekolah, menjadi 21,2 persen pada pengusaha

berpendidikan sekolah dasar, 7,1 persen pada pengusaha berpendidikan SLTP

hingga nol persen pada kelompok pengusaha berpendidikan SLTA.

6.3. Kelangsungan Usaha Menurut Karakter Unit Usaha

Kelangsungan usaha industri sangat terkait dengan karakter unit usaha.

Karakter Unit usaha yang dimaksud meliputi jenis produksi, kerusakan tempat

usaha. Dalam penelitian ini kerusakan tempat usaha diwakili oleh kerusakan

124
rumah tinggal pengusaha, mengingat hampir semua usaha industri gerabah di

Desa Panjangrejo dilaksanakan menyatu dengan rumah atau pekarangan tempat

tinggal) dan luas tempat produksi.

6.3.1. Kelangsungan Usaha Menurut Kondisi Unit Usaha

6.3.1.1. Kelangsungan Usaha Menurut Jenis Produksi

Produk gerabah tradisional dan gerabah keramik memiliki perbedaan

penggunaan, karena itu memiliki segmen pasar yang berbeda. Produk tradisional

berupa barang-barang kebutuhan rumah tangga seperti alat masak tradisional dan

kebutuhan dapur, banyak dipakai terutama oleh penduduk pedesaan atau untuk

keperluan khusus berkaitan tradisi seperti guci untuk keperluan penyucian pada

upacara keagamaan tertentu. Produk gerabah keramik yang dihasilkan di Desa

Panjangrejo sebagian besar berupa sovenir berukuran kecil yang menjadi

pelengkap pesta pernikahan dan acara lainnya, benda dekoratif penghias ruang

seperti pot bunga atau jambangan, atau benda dengan fungsi lain misalnya tempat

pensil, cangkir, asbak, dan lain-lain menjadikan segmen pasar produk jenis ini

lebih luas.

Perbedaan segmen pasar berdampak penyerapan produk oleh konsumen.

Produk yang memiliki segmen pasar yang lebih luas akan diserap oleh lebih

banyak konsumen daripada produk yang segmen pasarnya terbatas. Penyerapan

produk oleh konsumen akan mempengaruhi nilai produksi mengingat kedua jenis

produk kerajinan gerabah tersebut diproduksi oleh pengusahanya atas dasar

jumlah pesanan yang diterima.

125
Tabel 6.7 Kelangsungan Usaha
Industri Gerabah Pasca Gempa Menurut Jenis Produksi
Kelangsungan Usaha Jenis Produksi
Tradisional Keramik
N % N %
Buruk 10 30,3 1 3,7
Sedang 21 63,6 15 55,6
Baik 2 6,1 11 40,7
Jumlah 33 100,0 27 100,0
(N = 60)
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Kelangsungan usaha industri keramik dengan kategori baik mencapai 40,7

persen. Nilai ini lebih tinggi daripada persentse kelangsungan usaha industri

gerabah tradisional pada kategori baik yang hanya sebesar 6,1 persen. Untuk

kategori kelangsungan usaha sedang mencapai lebih dari 50 persen pada kedua

jenis produk, masing-masing sebesar 63,6 persen pada produk tradisional dan

55,6 persen pada produk keramik. Angka yang sangat menarik adalah bahwa

terjadi selisih sangat besar antara persentase kelangsungan usaha dengan kategori

buruk antara jenis produk tradisional dengan keramik. Pada jenis gerabah

tradisional, terdapat 30,3 persen unit usaha yang berada dalam kategori

kelangsungan usaha buruk pasca gempa. Sebaliknya produk keramik hanya

terdapat 1 dari 27 unit usaha atau 3,7 persen yang berkategori memiliki

kelangsungan usaha buruk. Secara singkat dapat dikatakan industri keramik

memiliki kelangsungan usaha lebih baik daripada industri gerabah tradisional.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, sebagian besar pengusaha

memproduksi gerabah-gerabah dengan bentuk yang hampir serupa. Tampak

sovenir dengan bentuk yang sama akan diproduksi oleh banyak pengusaha. Hal ini

menimbulkan persaingan harga di antara para pengusaha di Desa Panjangrejo,

meskipun kisaran persaingan harga tersebut nilainya relatif kecil yaitu sekitar Rp

126
50 – Rp1.500 per produk. Belum banyak pengusaha yang berani bereksplorasi

dengan produk-produk yang memiliki cita rasa seni yang tinggi, misalnya dengan

mencoba bentuk-bentuk baru yang belum ada di pasaran atau berbeda dengan

produk sejenis yang diproduksi di desa ini. Keluhan yang disampaikan salah

seorang pengusaha yang cukup sukses dengan 80 persen produk ditujukan untuk

pasar ekspor adalah kurangnya pengetahuan pengusaha mengenai tren produk

gerabah yang diminati di pasaran mancanegara. Selama ini para pengusaha hanya

memenuhi permintaan barang berdasar permintaan model yang diinginkan

pembeli. Kondisi demikian membuat kreativitas dalam menciptakan produk baru

juga terbatas. Padahal produk-produk yang seragam dan monoton dikhawatirkan

dapat berdampak pada lesunya pemasaran akibat ketidakmampuan pengusaha

menarik konsumen yang cenderung mencari alternatif produk yang lebih menarik.

Hal ini antara lain disebabkan kurangnya waktu yang tersedia dan rendahnya

wawasan guna menggali inspirasi dalam menciptakan produk dengan bentuk baru.

Untuk mengatasinya perlu dilakukan kerjasama dengan institusi pendidikan tinggi

khususnya di bidang seni rupa guna menumbuhkan ide-ide baru dalam

mengembangkan kreativitas pengusaha gerabah. Salah satu ide yang mungkin

diterapkan yaitu dengan memberikan sentuhan lukisan batik, atau motif tokoh-

tokoh pewayangan pada produk gerabah berglazuur, sebagai salah satu alternatif

baru dalam produk gerabah bercita rasa seni tinggi.

127
6.3.1.2. Kelangsungan Usaha Menurut Kerusakan Tempat Usaha

Tingkat kerusakan tempat usaha berdampak pada kelangsungan usaha

melalui waktu yang diperlukan unit usaha untuk bangkit pasca gempa. Para

pengusaha yang memiliki tempat usaha rusak berat dan ringan, cenderung lebih

segera membuat gerabah kembali pasca gempa. Pengusaha dengan tingkat

kerusakan tempat usaha sangat parah atau roboh, membutuhkan waktu lebih lama

untuk bangkit karena harus terlebih dahulu memenuhi kebutuhan hidup keluarga,

baru kemudian menata ulang keperluan produksi gerabah seperti bahan baku,

tempat dan peralatan usaha. Tabel 6.7 menggambarkan kelangsungan usaha pada

berbagai tingkat kerusakan tempat usaha.

Tabel 6.7 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah


Pasca Gempa Dan Kerusakan Tempat Usaha
Kelangsungan Kerusakan Tempat Usaha
Usaha Rusak Ringan Rusak Berat Roboh
N % N % N %
Buruk 0 0,0 1 9,0 10 20,8
Sedang 1 100,0 5 45,5 30 62,5
Baik 0 0 5 45,5 8 16,7
Jumlah 1 100,0 11 100,0 48 100,0
(N = 60)
Sumber: Data Primer, Mei 2008

Tabel 6.7 menunjukkan semakin ringan tingkat kerusakan tempat usaha,

semakin baik kelangsungan usaha. Hal ini teramati dengan membandingkan

kelompok unit usaha dengan kerusakan tempat usaha roboh dan rusak berat.

Pengusaha dengan tempat usaha roboh akibat gempa 16,7 persen di antaranya

memiliki kelangsungan usaha baik, sedangkan pada pengusaha dengan tempat

usaha rusak berat, kelangsungan usaha kategori baik meningkat lebih dari 2 kali

lipat menjadi 45,5 persen. Persentase kelangsungan usaha kategori buruk juga

128
memiliki selisih cukup besar antara unit usaha yang mengalami rusak berat dan

roboh masing-masing 9,1 persen pada unit usaha yang mengalami rusak berat dan

22,9 persen pada unit usaha yang roboh. Ini menunjukkan semakin parah tingkat

kerusakan tempat usaha akibat gempa, kemungkinan akan semakin buruk

kelangsungan usaha industri gerabah tersebut pasca gempa.

Pengamatan kelangsungan usaha pada pengusaha dengan tempat usaha

rusak ringan gagal dilakukan karena jumlah temuan yang sangat kecil dalam

penelitian ini, yaitu hanya 1 dari total 60 responden. Temuan pada salah satu

pengusaha lain yang sangat terkenal di Dusun Watu, menyatakan bahwa industri

gerabah miliknya hanya berhenti berproduksi selama 2 minggu pasca gempa

karena kerusakan tempat usaha yang dialami cukup ringan. Pernyataan

menunjukkan kerusakan tempat usaha yang ringan mendorong pengusaha untuk

segera bangkit untuk memulai usahanya.

6.3.1.3. Kelangsungan Usaha Menurut Luas Tempat Usaha

Luas tempat usaha berkaitan dengan kapasitas produksi suatu industri.

Semakin luas tempat usaha, maka kapasitas produksi atau jumlah produk yang

mampu dihasilkan akan semakin besar jumlahnya. Dalam konteks barang seni

seperti gerabah, luas tempat produksi berkaitan dengan jumlah barang yang

dihasilkan. Meskipun demikian, luas tempat usaha tidak dapat dihubungkan

dengan nilai produksi karena tiap produk yang dihasilkan memiliki nilai jual

berbeda tergantung pada nilai seni, kerumitan dan fungsi suatu barang.

129
Tabel 6.8 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah
Pasca Gempa Menurut Luas Tempat Usaha
Kelangsungan Luas Tempat Usaha (m2)
Usaha <15 15 – 25 ≥26
N % N % N %
Buruk 4 21,1 4 20,0 3 14,3
Sedang 14 73,6 11 55,0 11 52,4
Baik 1 5,3 5 25,0 7 33,3
Jumlah 19 100,0 20 100,0 21 100,0
(N = 60)
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Pada unit usaha dengan luas tempat usaha kurang dari 15 m2 terdapat 21,2

persen unit usaha yang memiliki kelangsungan usaha buruk. Semakin luas tempat

usaha, persentase unit usaha dengan kelangsungan usaha buruk menurun, berturut-

turut adalah 20 persen pada unit usaha dengan luas tempat usaha antara 15 – 25

m2 menjadi 14,3 persen pada unit usaha dengan luas tempat usaha lebih dari 26

m2. Kelangsungan usaha kategori baik meningkat dengan semakin luas tempat

usaha, mulai dari 5,3 persen pada luas tempat usaha kurang dari 15 m2, 25 persen

pada luas tempat usaha antara 15 – 25 m2 dan menjadi 33,3 persen pada industri

dengan luas tempat usaha lebih dari 26 m2. Tidak terdapat unit usaha dengan

kategori berlangsung buruk pada luas lebih dari 50m2.

6.3.2. Kelangsungan Usaha Menurut Faktor-faktor Produksi

6.3.2.1. Kelangsungan Usaha Menurut Biaya Produksi

Biaya produksi mewakili seberapa besar ongkos yang dikeluarkan

pengusaha untuk menjalankan usahanya setiap bulan. Usaha gerabah di Desa

Panjangrejo sangat menggantungkan penjualan produknya pada pesanan,

membuat munculnya prediksi bahwa besarnya biaya produksi sangat ditentukan

oleh besarnya jumlah pesanan yang diterima, sehingga nilai produksi diperkirakan

130
juga semakin besar seiring peningkatan jumlah pesanan produk. Nilai produksi

merupakan salah satu faktor yang dinilai dalam kelangsungan usaha, sehingga

prediksi selanjutnya yang muncul adalah besar biaya produksi memberi dampak

pada semakin baiknya kelangsungan usaha industri gerabah pasca gempa.

Interpretasi lebih lanjut dilakukan terhadap Tabel 6.9.

Tabel 6.9 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah


Pasca Gempa Menurut Biaya Produksi
Kelangsungan Usaha Biaya Produksi per unit usaha (rupiah per bulan)
< 100.000 100.000 – ≥312.500
312.400

N % N % N %
Buruk 3 17,6 7 31,8 1 4,8
Sedang 14 82,4 12 54,6 10 47,6
Baik 0 0,0 3 13,6 10 47,6
Total 17 100,0 22 100,0 21 100,0
(N = 60)
Sumber: diolah dari data primer, 2008

Tabel 6.9 memperlihatkan semakin meningkat biaya produksi diikuti

membaiknya kelangsungan usaha. Pernyataan ini didukung semakin

meningkatnya persentase kelangsungan usaha dalam kategori baik mulai dari nol

persen pada unit usaha yang menghabiskan biaya produksi kurang dari Rp100.000

menjadi 13,6 persen pada kelompok biaya produksi berkisar antara Rp100.000 –

Rp312.400 dan meningkat menjadi 47,6 persen pada unit usaha dengan biaya

produki minimal Rp312.500 per bulan.

6.3.2.2. Kelangsungan Usaha Menurut Akses Kredit Modal Usaha

Kredit modal usaha bagi industri di daerah korban gempa bertujuan

membantu para pengusaha yang mengalami kesulitan modal agar dapat

menggerakkan kembali kegiatan industrinya. Namun tidak semua pengusaha

131
korban gempa memperoleh akses kredit modal usaha. Alasan yang diutarakan

pengusaha tidak memenuhi persyaratan pengajuan kredit dan khawatir tidak dapat

mengembalikan hutang. Tabel 6.10 menampilkan kelangsungan usaha

berdasarkan akses kredit modal usaha.

Tabel 6.10 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah


Menurut Akses Kredit Modal Usaha

Kelangsungan Memiliki Pinjaman Kredit Modal Usaha


Usaha Ya Tidak
N % N %
Buruk 1 4,3 10 27,0
Sedang 15 65,3 21 56,8
Baik 7 30,4 6 16,2
Total 23 100,0 37 100,0
N = 60
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Secara singkat dapat dikatakan bahwa kredit modal usaha pasca gempa

bagi usaha kecil cukup membantu para pengusaha mempertahankan kelangsungan

usahanya. Hal ini ditandai dengan besar persentase unit usaha dengan akses kredit

modal usaha yang mampu memenuhi kategori kelangsungan usaha baik mencapai

30,4 persen dibandingkan unit usaha yang tidak memiliki akses kredit modal

usaha yang hanya sebesar 16,2 persen. Pernyataan ini didukung dengan persentase

kelangsungan usaha buruk yang jauh lebih kecil pada usaha dengan akses kredit

modal usaha sebesar 4,3 persen dibanding industri tanpa akses kredit modal usaha

yang mencapai 27,0 persen.

Berdasarkan besar nilai pinjaman, unit usaha yang memiliki kelangsungan

usaha baik pasca gempa memiliki pinjaman modal usaha sebesar Rp1.000.000 –

Rp9.000.000. Pada unit usaha yang memiliki kelangsungan usaha sedang, nilai

pinjaman modal berkisar antara Rp500.000 – Rp5.000.000. Nilai pinjaman satu

132
kasus unit usaha yang tergolong memiliki kelangsungan usaha buruk sebesar

Rp2.000.000. Sejauh mana kredit modal usaha bagi industri kecil yang dilanda

bencana membantu pengusaha mempertahankan usahanya masih perlu diteliti.

Keefektifan pemanfaatan kredit modal usaha guna pembiayaan produksi masih

perlu dipertanyakan karena penggunaannya masih sering bercampur dengan upaya

memulihkan kondisi rumah tangga pengusaha sebagai korban gempa, misalnya

mendanai perbaikan rumah.

6.3.2.3 Kelangsungan Usaha Menurut Jumlah Tenaga Kerja

Semakin banyak tenaga kerja yang terlibat dalam unit usaha, diharapkan

semakin besar kapasitas produksi unit usaha tersebut, sehingga nilai produksinya

juga semakin tinggi. Namun, ketergantungan pemasaran industri gerabah pada

pesanan yang diterima oleh pengusaha, membuat jumlah tenaga kerja kurang

memberi peran pada nilai produksi. Pada saat pesanan gerabah meningkat, maka

produktivitas para pekerja juga meningkat, dan sebaliknya pada saat pesanan

berkurang, jumlah unit barang yang dikerjakan para pekerja juga sedikit.

Nilai produk industri kerajinan sangat bergantung pada model, kualitas

produk, dan nilai seni yang terdapat di dalamnya. Semakin banyak dan semakin

rumit pengerjaan produk yang dipesan, maka nilai produksi industri gerabah

tersebut juga semakin tinggi. Jumlah pesanan yang tidak menentu setiap bulannya

membuat para pengusaha sangat fleksibel dalam merekrut pekerja. Saat pesanan

yang diterima banyak sehingga tidak dapat dikerjakan oleh pengusaha dan

anggota rumah tangganya sendiri, penambahan pekerja dibayar pun dilakukan.

133
Sebaliknya saat jumlah pesanan sedikit, jumlah pekerja yang dibayar pun

berkurang. Pada industri ini, sering dijumpai para pengusaha memilih tidak

mempekerjakan orang selain anggota rumah tangga atau bekerja sendiri. Tabel

6.11 menunjukkan distribusi kelangsungan usaha menurut jumlah tenaga kerja.

Tabel 6.11 Kelangsungan Usaha Industri Gerabah


Pasca Gempa Menurut Penggunaan Jumlah Tenaga Kerja
Kelangsungan Usaha Jumlah Tenaga Kerja (orang/unit usaha)
1-3 ≥4
N % N %
Buruk 9 19,6 2 14,3
Sedang 29 63,0 7 50,0
Baik 8 17,4 5 35,7
Jumlah 46 100,0 14 100,0
(N = 60)
Sumber: Diolah dari data primer, 2008

Pada unit usaha dengan tenaga kerja 1 – 3 orang, persentase unit usaha

dengan kelangsungan usaha baik sebesar 17,4 persen. Persentase unit usaha yang

memiliki kelangsungan usaha baik tampak meningkat dengan meningkatnya

jumlah tenaga kerja, menjadi 35,7 persen pada unit usaha yang mempunyai

minimal 4 orang tenaga kerja. Persentase unit usaha dengan kategori

kelangsungan usaha buruk turun tipis dari 19,6 persen pada unit usaha dengan

tenaga kerja 1 – 3 orang menjadi 14,3 persen pada unit usaha dengan minimal 4

orang tenaga kerja. Terdapat dua unit usaha dengan tenaga kerja lebih dari 4 orang

yang memiliki kelangsungan usaha buruk. Ini disebabkan nilai produksi kedua

unit usaha tersebut masing-masing hanya pada Rp508.000 dan Rp437.500

sehingga skor kelangsungan usaha kurang dari 4 yang berarti “buruk”. Rendahnya

nilai produksi pada unit usaha dengan tenaga kerja lebih dari 4 orang bisa

disebabkan pesanan yang diterima saat penelitian dilakukan rendah, sehingga

134
terdapat kemungkinan tenaga kerja yang ada tidak melakukan pekerjaan dengan

produktifitas yang sama saat pesanan banyak.

6.4. Pendapatan Industri Gerabah Pasca Gempa

Pendapatan usaha diperoleh dari nilai produksi dikurangi biaya produksi

dalam periode tertentu. Rata-rata pendapatan usaha industri gerabah di Desa

Panjangrejo pasca gempa adalah Rp755.000. Nilai pendapatan terendah dari

industri ini adalah Rp70.000 perbulan, sedangkan nilai pendapatan tertinggi

adalah Rp7.432.000. Tabel 6.12 menyajikan kelompok unit usaha berdasarkan

kelas pendapatan usaha.

Tabel 6.12 Pendapatan Usaha Industri Gerabah Pasca Gempa


Pendapatan Usaha Jumlah usaha Persentase
(rupiah per bulan) (unit) (%)
≤ 405.000 20 33,3
405.100 – 1.267.500 20 33,3
> 1.267.500 20 33,3
Total 60 100,0
Sumber : Diolah dari data primer, 2008

Pada kelompok unit usaha yang memperoleh pendapatan rendah ini

biasanya adalah unit usaha yang dijalankan sebagai usaha rumah tangga pengisi

waktu luang oleh pengusaha yang bekerja sendiri dengan satu atau 2 orang tenaga

kerja, atau oleh mereka yang berusia tua guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-

hari.

Distribusi pendapatan akan bervariasi berdasarkan jenis gerabah yang

diproduksi. Terlihat bahwa industri keramik memiliki potensi memperoleh

pendapatan usaha lebih besar dibandingkan industri gerabah tradisional.

Persentase unit usaha dengan pendapatan kurang dari Rp405.000 per bulan pada

135
industri gerabah tradisional mencapai 85,0 persen namun tidak dijumpai pada

industri keramik. Sebaliknya pada industri keramik terdapat 65 persen unit usaha

yang berhasil meraih pendapatan lebih dari Rp1.267.600 per bulan. Dengan

demikian terlihat bahwa dibanding industri gerabah tradisional, industri keramik

yang mampu meraih pendapatan yang lebih besar. Baik jenis gerabah tradisional

maupun keramik, memiliki persentase pendapatan cukup besar antara Rp405.100

– Rp1.267.500 masing-masing 45 persen untuk gerabah tradisional dan 55 persen

pada keramik.

Menurut pernyataan hampir sebagian besar pengusaha, terjadi penurunan

pendapatan dari usaha industri gerabah pasca gempa dibanding sebelum gempa.

Selain disebabkan kenaikan harga bahan baku, permintaan khususnya pasar

ekspor menurun tajam karena terputusnya kontak dengan para buyer luar negeri

setelah terjadinya gempa. Penurunan pendapatan yang dialami bisa mencapai 60

persen dibanding sebelum gempa tahun 2006. Meskipun permintaan cukup tinggi

3 bulan pertama pasca gempa sampai akhir tahun 2007 khususnya untuk

kebutuhan alat-alat dapur, pesanan yang diterima para pengusaha tahun 2008

masih relatif kecil dibanding tahun-tahun sebelum gempa. Terlebih lagi

pengusaha gerabah di Pundong mulai mendapat saingan dari Klaten, dan

Temanggung yang juga mulai memproduksi gerabah tradional serupa untuk

mengisi kekosongan produksi saat gempa terjadi.

136
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Gempa merupakan penyebab utama terhentinya kegiatan produksi gerabah

di Desa Panjangrejo. Meskipun sebagian besar unit usaha roboh dan rusak berat,

hampir semua pengusaha berusaha segera bangkit dengan mulai melakukan

kegiatan produksi kurang dari setahun pasca gempa. Dengan memanfaatkan

peralatan yang masih bisa dipakai, beberapa pengusaha bahkan memproduksi

gerabah selagi berada di tenda-tenda pengungsian. Selain didorong keinginan

untuk segera memperoleh penghasilan dan tidak bergantung pada bantuan

kemanusiaan, para pengusaha juga memanfaatkan momentum peningkatan jumlah

pesanan khususnya peralatan dapur yang diiringi peningkatan harga jual produk

beberapa saat hingga setahun pasca gempa. Bangkitnya kegiatan industri gerabah

juga didukung pemberian bantuan pemerintah dan LSM berupa peralatan industri

seperti alat putar, molen dan bahan baku.

Persentase unit usaha yang berlangsung baik pasca gempa relatif kecil

yaitu sebesar 21,7 persen dari total 60 unit usaha yang terdata. Mengingat

keberlangsungan usaha dinilai dari waktu yang dibutuhkan suatu unit usaha untuk

bangkit serta nilai produksi, maka dapat dipahami kecilnya persentase unit usaha

dalam kategori baik menjadi kecil karena cepatnya waktu bangkit suatu unit usaha

tidak selalu diiringi dengan besar nilai produksi yang mampu diraih. Penilaian

terhadap tingkat pemulihan usaha menunjukkan terdapat 32,4 persen unit usaha

yang mengalami penurunan nilai produksi sebesar 40 – 80 persen dibanding

137
sebelum gempa. Fakta ini menjadi indikasi semakin rendahnya pendapatan usaha

gerabah disebabkan menurunnya permintaan yang di sisi lain justru diikuti dengan

semakin meningkatnya harga bahan baku.

Upaya untuk meningkatkan nilai produksi selama ini dilakukan dengan

memberikan pelatihan penyempurnaan produk (finishing), manajemen keuangan

dan pemasaran. Di samping itu upaya penguatan modal pengusaha juga dilakukan

melalui penyaluran pinjaman lunak baik berasal dari dana pemerintah, perbankan

dan koperasi desa. Beberapa kendala berkaitan dengan upaya peningkatan nilai

produksi antara lain: (1) ketergantungan pemasaran gerabah Pundong pada satu

pasar utama yaitu sentra gerabah Kasongan, menyebabkan daya tawar pengusaha

terhadap nilai jual produk rendah; (2) pelatihan finishing tidak disertai perluasan

akses pasar yang bersedia membeli produk siap jual yang dihasilkan; (3)

rendahnya pemanfaatan kredit usaha disebabkan kurangnya pemahaman prosedur,

tidak memiliki agunan, dan kekhawatiran pengusaha tidak mampu

mengembalikan pinjaman.

2. Saran

Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan nilai produksi melalui

peningkatan nilai jual produk dengan mengembangkan produk-produk siap jual

dan memiliki cita rasa seni harus disertai perluasan jaringan pemasaran agar

industri gerabah Pundong mampu langsung memasarkan produknya ke pasaran

ekspor. Selain itu prosedur penyaluran kredit usaha lunak harus disederhanakan

agar semakin banyak pengusaha potensial mampu mengembangkan usaha mereka

di masa datang.

138
Daftar Pustaka

Anonim. Daftar Kerusakan Akibat Bencana Gempa Bumi Tanggal 27 Mei 2006
Di Sentra Gerabah Pundong, Bantul. Kantor Kecamatan Pundong
Kabupaten Bantul.

Aristanti, Wheny. 2007. Strategi Kelangsungan Hidup Rumah Tangga Korban


Gempa Di Desa Segarayasa Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul. Skripsi.
Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.

BAPPENAS, 2006. Penilaian Awal Kerusakan dan Kerugian Bencana Alam di


Yogyakarta dan Jawa Tengah. Laporan Bersama BAPPENAS, Pemerintah
Provinsi dan Daerah D.I. Yogyakarta, Pemerintah Provinsi dan Daerah Jawa
Tengah, dan mitra internasional, Juli 2006. Pertemuan ke-15 Grup
Konsultatif Untuk Indonesia, Jakarta, 14 Juni 2006.

Basri, Faisal. 2002. Perekonomian Indonesia. Tantangan dan Harapan Bagi


Kebangkitan Ekonomi Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Bettie, Bruce, R and Taylor, Robert,C. 1994. Ekonomi Produksi. Diterjemahkan


oleh Soeratno Josohardjono. Yogyakarta: GMU Press.

Bintarto. 1977. Pengantar Geografi. Yogyakarta: Fakultas Geografi, Universitas


Gadjah Mada.

Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi D.I. Yogyakarta. 2004.


Pendataan Potensi Industri Kecil dan Menengah Tahun 2004 Propinsi D.I.
Yogyakarta. Proyek Pemberdayaan Industri Kecil dan Menengah Tahun
Anggaran 2004.

DPMA, 1983. Petunjuk Klimatologi. Dirjen Pengairan, Departemen Pekerjaan


Umum.

Endarto, Eko.2006. Lokasi Bukan Alasan Untuk Sukses. Diakses tanggal 12 Maret
2007 dari http://www.perencanakeuangan.com/files/lokasibukanalasan.html.
.
Karwur, Hermon Maurits. 1993. Pengaruh Faktor-Faktor Produksi Terhadap
Produksi Mebel Di Desa Leilem Kecamatan Sonder Kabupaten Minahasa
Propinsi Sulawesi Utara. Tesis. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana
Universitas Gadjah Mada.

139
Kompas. (2006). Perekonomian. Sentra Industri, Ujung Tombak Mikroekonomi
yang Terkoyak”, Kompas. Diakses pada tanggal 7 Juli 2006, dari
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0606/30/jogja

Kumalawati, Rosalina. 2003. Hubungan Antara Karakteristik Pengusaha Dengan


Produksi Untuk Pengembangan Industri Kerajinan Gerabah Di Desa
Panjangrejo Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul. Skripsi. Yogyakarta:
Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada..

Kuncoro, Mudrajad. 2002. Analisis Spasial dan Regional. Studi Aglomerasi dan
Kluster Industri Indonesi. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.

Kuncoro, M. dan Supomo, Irwan A. 2003. Analisis Formasi Keterkaitan, Pola


Kluster dan Orientasi Pasar: Studi Kasus Sentra Industri Keramik di
Kasongan, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta. Jurnal Empirika. Volume
16, No. 1, Juni 2003. Diakses pada tanggal 6 Desember 2007 dari
http://www.mudrajad.com/upload/jurnal tanggal 14 September 2006

Kuncoro, Mudrajad, 2007. “Profil UKM dan Peluang Kerja Sama SME ASEAN”.
Disampaikan dalam Lokakarya Pemanfaatan Skema Kerja sama UKM
ASEAN bagi Peningkatan Ekspor Indonesia, Fakultas Ekonomi Universitas
Gadjah Mada, tanggal 15 Maret 2007 di Yogyakarta.

Lastari. (2000). Industri Kerajinan Tanduk. Kasus Di Desa Pucang Kecamatan


Secang, Kabupaten Magelang. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Geografi
Universitas Gadjah Mada.

Muta’ali, L. 2003. Analisis Keruangan dan Tata Ruang. Yogyakarta: Fakultas


Geografi Universitas Gadjah Mada.

Prayitno, Hadi. 1987. Pembangunan Ekonomi Pedesaan (Edisi Dua). Yogyakarta:


BPFE.

Pemerintah Kota Yogyakarta. Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan


Daerah Tahun 2006 (18 April 2007). Kedaulatan Rakyat, hal. 7.

Poerwanto, Hari. 2000. Kebudayaan dan Lingkungan Dalam Perspektif


Antropologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rahardjo, Dawam.1984.Transformasi Pertanian, Industrialisasi, dan Kesempatan
Kerja. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Renner, G.T, 1957. World Economic Geography. New York: Thomas Y. Crowell
Company.

140
Sadoko, I., Maspiyati, Haryadi, D., Schmit, L.Th. 1995. Kebijakan dan
Pengembangan Usaha Kecil Di Indonesia. Dalam Tanah, Buruh, dan Usaha
Kecil Dalam Proses Perubahan. Kumpulan Ringkasan Hasil Penelitian.
Jakarta: AKATIGA.

Santoso, S & Tjiptono, F. 2004. Riset Pemasaran: Konsep Aplikasi Dengan


SPSS. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Said, Nurmal. 1991. Pola Pembinaan Industri Kecil di Sumatera Barat. Dalam Industri
Kecil dan Kesejahteraan Kerja. Padang: Pusat Penelitian Universitas Andalas.

Smith, M.D. 1981. Industrial Location, An Economic Geographical Analysis. Second


Edition, John Wiley and Sons, New York.

Singarimbun, Masri dan Effendi, Sofian. 1989. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3S

Soemardjito, Joewono. (2006). Kajian Kualitas Hunian Untuk Mendukung Desa


Wisata Pada Daerah Sentra Industri Gerabah di Kecamatan Pundong
Kabupaten Bantul. Tesis. Yogyakarta: Program Studi Ilmu Lingkungan
Jurusan Antar Bidang. Sekolah Pasca Sarjana. UGM.

Suhendratmo.2003. Industri Kerajinan Mebel Bambu Pasca Krisis (Studi Kasus di


Desa Tirtoafi Kecamatan Mlati Kabupaten Sleman Propinsi Yogyakarta).
Tesis. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.

Sulistyawati, Dyah Ratih. 2004. Penyerapan Tenaga Kerja Usaha Kecil dan Menengah
Di Indonesia 1998 – 2001. Populasi: Buletin Penelitian Kebijakan Kependudukan
(Vol. 15: Nomor 2). Yogyakarta: Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan,
Universitas Gadjah Mada.

Sutanto, A.B., 2006, Disaster Management Di Negeri Rawan Bencana, Jakarta:


PT Aksara Grafika Pratama.

Staley, Eugene and Morse, Richard. 1965. Modern Small Industry for Developing
Countries. Stanford Research Institude. Mc Graw-Hill Book Company.

Tambunan, T. 1999. Perkembangan Industri Skala Kecil Di Indonesia. Jakarta:


PT. Mutiara Sumber Widya.

Verkoren, Otto. 1991.Industri Pedesaan dan Industrialisasi Pedesaan.


Diterjemahkan oleh Agus Sutanto. Yogyakarta: Fakultas Geografi
Universitas Gadjah Mada.

Wahyuningsih, Nurhayati. 2000. Aktivitas Industri Gerabah Kasongan Terhadap


Komponen Sosial Ekonomi dan Sosial Budaya Masyarakat Kasongan. Tesis.
Yogyakarta: Program Pasca Sarjana.UGM.

141
Wikipedia. 2006. Gempa Bumi Yogyakarta Mei 2006. Diakses pada tanggal 7 Juli
2007, dari http://www.id.wikipedia.org/wiki/Gempa_Bumi_Yogyakarta_Mei_2006

Wikipedia. 2006. Proses Pembuatan Gerabah. Diakses pada tanggal 20 Agustus


2008, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Gerabah.

Yuarsi, Susi, E. 1999. Dampak Krisis Ekonomi Bagi Pengusaha Industri Kecil :
Kasus Industri Pengecoran Logam Di Batur Klaten, dalam Seminar
Dampak Krisis Di Pedesaan, 24 April (PAD) Cabang D.I. Yogyakarta dan
PPK Universitas Gadjah Mada.

Yunus, Hadi, S. 2004. Pendekatan Utama Geografi. Acuan Khusus Pendekatan


Keruangan / Ekologis dan Komples Wilayah. Ceramah pada Studium
General, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri
Semarang pada tanggal 24 Maret 2004 di Semarang.

142
KUESIONER PENELITIAN

I. Karakteristik Unit Usaha


1. nama usaha:
2. alamat: (Dusun, Desa,
Kecamatan)
3. Lama usaha (sebutkan tahun)
4. Luas tempat usaha
5. Jenis kerusakan akibat gempa a. ringan b. berat/roboh
6. Jenis bangunan pasca gempa (dilihat dari jenis dinding)
a. Permanen (konblok, plester)
b. Non atau semi permanen (kayu, batu bata, bambu)
7. Usaha produksi dimulai lagi ...........bulan/minggu pasca gempa

II. Karakteristik Pengusaha


1. Nama pengusaha
2. Jenis kelamin
3. Umur
4. Pendidikan terakhir
5. Jumlah Anggota keluarga
6. Keterampilan membuat gerabah diperoleh dari
a. belajar sendiri b. Turun-temurun c. Belajar dari
tetangga/lingkungan
7. Pekerjaan selain industri gerabah
8. Pendapatan per bulan dari pekerjaan selain industri gerabah

III. Tentang akses modal


1. Bagaimana bapak/ibu memperoleh modal untuk kembali membangun
usaha setelah gempa? (jawaban diberi centang, boleh lebih dari satu)
a. meminjam dari bank/ koperasi/ lembaga keuangan lain

143
b. Jika meminjam dari bank/ koperasi/ lembaga keuangan/ pinjaman lain,
apakah pinjaman modal tersebut sudah lunas?
c. Meminjam dari sanak saudara
d. menjual aset kepemilikan pribadi (barang berharga seperti perhiasan,
tanah, bangunan, kendaraan bermotor, dll)
e. menggadaikan asset pribadi? Jika ya, apakah barang tersebut sudah
ditebus?
f. Berasal dari simpanan uang / dana pribadi
2. Bantuan pemulihan usaha kecil pasca gempa, berupa:
- pinjaman, sebesar
- pinjaman bergulir
- hibah, sebesar
3. Jika mendapat pinjaman modal, bagaimana cara pembayarannya?
- cicilan per bulan dengan bunga, sebutkan besar bunga
- cicilan per tahun dengan bunga, sebutkan besar bunga
- bagi hasil dari keuntungan (berapa persen dari keuntungan)
4. Apakah bapak/ibu selalu lancar membayar cicilan pinjaman tepat waktu?
a. Ya
b. tidak
Alasan:
5. Apakah ada sanksi jika terlambat membayar cicilan pinjaman?
a. ada, berupa:
- denda (berapa nilainya?)
- lainnya
b. tidak ada

144
6. Dari mana asal uang yang dipakai untuk membayar cicilan pinjaman
dalam 3 periode terakhir (misal 3 bulan terakhir).
(Beri centang pada tabel)
Asal Uang Waktu pembayaran
Periode 1 Periode 2 Periode 3
1. pendapatan usaha industri gerabah
2. pendapatan pekerjaan pekerjaan lainnya
3. menjual barang dari asset pribadi
4. simpanan pribadi (misalnya tabungan)
5. meminjam uang dari orang lain/saudara
6. lainnya

145
IV. Produksi
No. Faktor produksi Jumlah/uni Asal Nilai (Rupiah)
t
1. Modal (uang)
a. Awal berdiri a. ... a. ...
b. Pasca gempa b. ... b. ....
c. Untuk 1x proses c. .... c. ...
produksi
2.
Bahan baku/1x proses produksi a. ... a. ... a. ...
a. tanah liat b. ... b. ... b. ....
3. b. ... c. .... c. ... c. ....
c. ...... d. .... d. ... d. ...
d. .... e. .... e. ... e. ....
e. .... f.
4.
Bahan tambahan a. ... a. ... a. ...
a. cat b. ... b. ... b. ...
b. pernis c. ... c. ... c. ...
c. .... d. ... d. ... d. ...
d. ..... e. ... e. ... e. ...
e. ....
5.
Peralatan a. ... a. ... a. ...
a. .... b. ... b. ... b. ...
b. .... c. ... c. ... c. ...
c. ..... d. ... d. ... d. ...
d. ..... e. ... e. ... e. ...
e. ...... f. .... f. ... f. ...
f. ..... g. .... g. ... g. ...
g. ....
6. (6.d dan 7.
Biaya produksi diisi a. ...
a. bahan bakar berdasar b. ...
b. ongkos transportasi kuesioner c. ...
c. biaya kirim produk dan d. ....
d. upah tenaga kerja tenaga e. ....
e. perizinan kerja) f. ...
f. cicilan kredit g. ...
g. ..... h. ...
h. ..... i. ...
i. ..... ......................... (-)
7. j. total biaya produksi (diisi oleh .............................
8. Nilai produksi per bulan peneliti)
Pendapatan usaha per bulan

146
V. Tentang Ketenagakerjaan (Tanyakan kepada pengusaha)
1. Berapa jumlah tenaga kerja sebelum gempa?
2. Sebelum gempa, berapa jumlah anggota keluarga bapak/ibu yang bekerja di
industri gerabah ini?
3. Kondisi pasca gempa
1. Jumlah tenaga kerja:
a. upahan:
- laki-laki:
- perempuan
b. pekerja dari anggota rumah tangga:
- laki-laki
- perempuan
Catatan:
Untuk pekerja borongan, kolom (v) tanyakan berapa unit yang dikerjakan dalam 1 kali
borongan
2. Sistem pengupahan
Jenis pekerjaan Jumlah Sistem Nilai Jumlah unit Nilai upah Jumlah pekerja
pekerja pengupahan upah yang per bulan (jam kerja sehari
a. harian (Rp) per dikerjakan (diisi & jml hari kerja)
(ii) b. mingguan satuan per satuan sendiri)
c. borongan sistem sistem upah
d. lainnya upah (vii)
(i) …? (iii)
L P (iii) (iv) (v) (vi) …s/d day/
… week
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

Jumlah total

147
VI. Produk
1. Jenis dan nilai produk

Jenis produk Nilai jual Jumlah unit Nilai total Berapa Nilai omzet
per unit yang produk kali seluruh produk
produk diproduksi dalam 1 kali produksi dalam 1 bulan
dalam 1 x proses dilakukan (diisi peneliti)
proses produksi dalam 1
produksi bulan
(i) (ii) (iii) (iv)=(i)*(iii) (v) (vi) = (iv)*(v)
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

……..
Jumlah total ####### ########

2. Pemasaran
a. Cara pemasaran (i) memasarkan sendiri (ii) memenuhi
pesanan
b. Tujuan pemasaran
(i) dalam negeri (sebutkan nilainya)
- daerah tujuan
- nilai Rupiah

(ii) ekspor (sebutkan nilainya)


- negara tujuan
- nilai Rupiah

148
Wawancara Mendalam Ketenagakerjaan
• Bagi Pengusaha
Tentang regenerasi pengusaha / penerus usaha
- Apakah bapak/ibu mengajarkan keterampilan membuat gerabah kepada
anak dan anggota keluarga? 1. ya 2. tidak
- Apakah Bapak/ibu menginginkan usaha ini diteruskan oleh anak atau
anggota keluarga yang lain? 1. ya 2. tidak
Catatan:

• Bantuan yang diterima unit usaha pasca gempa


Dari pemerintah :
a. Peralatan
b. Modal
c. Pembinaan
d. Lainnya

Dari pihak swasta /LSM:


e. Peralatan (nilai dalam Rupiah)
f. Modal (sebutkan nilainya)
g. Pembinaan, berupa: (sebutkan berapa kali keikutsertaan
pengusaha)
- bantuan pemasaran

- inovasi produk

- manajemen usaha

- lainnya
Catatan:

• Bagi Pekerja
Tentang upah
- Adakah perbedaan upah sebelum dan sesudah gempa: “apakah upah
tenaga kerja di usaha bapak/ibu sekarang meningkat atau sama saja seperti
sebelum gempa?”

149
Tentang asal daerah
- Dari mana asal daerah sebagian besar tenaga kerja di usaha bapak/ibu?

Tentang minat terus bekerja di industri gerabah


- Selama industri gerabah berhenti pasca gempa, pekerjaan apa yang
bapak/ibu lakukan untuk mencari nafkah?

- Apa pekerjaan sebagian besar tenaga kerja selain di industri gerabah ini?

- Pekerjaan mana yang penghasilannya lebih banyak / menguntungkan?

- Jika pekerjaan selain industri gerabah lebih menguntungkan, apakah


Bapak/Ibu masih ingin terus bekerja di industri gerabah ini?

- Apa tujuan bapak/ibu bekerja di industri gerabah ini


a. sebagai pekerjaan utama
b. untuk menambah penghasilan dari pekerjaan utama
c. belajar sehingga dapat membuka usaha sendiri suatu saat

• Strategi Pengusaha

1. Apakah menghadapi masalah dengan permodalan? 1. ya 2. tidak


Jika ya, apa upaya yang Bapak/Ibu lakukan

2. Apakah menghadapi masalah dengan bahan baku? 1. ya 2. tidak


Jika ya, apa upaya yang Bapak/Ibu lakukan

3. Apakah menghadapi masalah dengan pemasaran? 1. ya 2. tidak


Jika ya, apa upaya yang Bapak/Ibu lakukan

4. Apakah menghadapi masalah dengan lainnya? 1. ya 2.tidak


Jika ya, apa upaya yang Bapak/Ibu lakukan

150
Lampiran 3: perhitungan statistik

Perhitungan Statistik

umur pengusaha (Banded)

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid <= 40 22 36.7 36.7 36.7
41 - 50 18 30.0 30.0 66.7
51+ 20 33.3 33.3 100.0
Total 60 100.0 100.0

Jenis Kelamin Pengusaha

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Lk 33 55.0 55.0 55.0
Pr 27 45.0 45.0 100.0
Total 60 100.0 100.0

pendidikan pengusaha

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid tidak
5 8.3 8.3 8.3
sekolah
SD 33 55.0 55.0 63.3
SMP 14 23.3 23.3 86.7
SLTA 8 13.3 13.3 100.0
Total 60 100.0 100.0

Jumlah Anggota Rumah Tangga

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1-4 39 65.0 65.0 65.0
>4 21 35.0 35.0 100.0
Total 60 100.0 100.0

151
Lanjutan lampiran 3 ....................

Jenis Produksi

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid tradisional 33 55.0 55.0 55.0
keramik 27 45.0 45.0 100.0
Total 60 100.0 100.0

Statistics

luas tempat us aha


N Valid 60
Missing 0
Mean 36,45
Median 18,00
Range 194
Minimum 6
Maximum 200

2
luas tempat usaha (m )

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid <50 48 80,0 80,0 80,0
50-100 6 10,0 10,0 90,0
>100 6 10,0 10,0 100,0
Total 60 100,0 100,0

kerusakan rumah
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
Valid rusak 11 18.3 18.3 18.3
berat
roboh 48 80.0 80.0 98.3
ringan 1 1.7 1.7 100.0
Total 60 100.0 100.0

152
Lanjutan lampiran 3 ....................
Statistics
modal untuk memulai kembali usaha setelah gempa (ribu rupiah)

N Valid 34
Missing 0
Mean 849.12
Median 500.00
Mode 500
Std. Deviation 1236.909
Range 4980
Minimum 20
Maximum 5000

modal untuk memulai kembali usaha setelah gempa (ribu rupiah) (Banded)

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid <180 11 6.3 32.4 32.4
180 - 499 5 2.9 14.7 47.1
500+ 18 10.3 52.9 100.0
Total 34 19.5 100.0
Missing System 26 80.5
Total 60 100.0

Statistics
modal produksi yang dibuthkan per bulan (ribu rupiah)
N Valid 60
Missing 0
Mean 342.667
Median 197.500
Mode 50.0
Std. Deviation 496.2305
Skewness 3.259
Std. Error of Skewness .309
Range 2678.0
Minimum 50.0
Maximum 2728.0
Percentiles 25 95.125
50 197.500
75 360.000

153
Lanjutan lampiran 3 ....................

modal produksi yang dibuthkan per bulan (ribu rupiah) (Banded)

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid <100.0 17 28.3 28.3 28.3
100.0 - 312.4 22 36.7 36.7 65.0
312.5+ 21 35.0 35.0 100.0
Total 60 100.0 100.0

modal produksi yang dibuthkan per bulan (ribu rupiah) (Banded) * jenis hasil produksi
Crosstabulation

jenis hasil produksi


tradisional keramik Total
modal produksi yang <100.0 Count 16 1 17
dibuthkan per bulan (ribu % within jenis
rupiah) (Banded) 48.5% 3.7% 28.3%
hasil produksi
100.0 - 312.4 Count 12 10 22
% within jenis
36.4% 37.0% 36.7%
hasil produksi
312.5+ Count 5 16 21
% within jenis
15.2% 59.3% 35.0%
hasil produksi
Total Count 33 27 60
% within jenis
100.0% 100.0% 100.0%
hasil produksi

jika meminjam modal, darimana pinjaman itu diperoleh?

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid koperasi simpan
14 60.9 60.9 60.9
pinjam
bank 7 30.4 30.4 91.3
bantuan pemda 2 8.7 8.7 100.0
Total 23 100.0 100.0

Tenaga Kerja

Frequenc Valid Cumulative


y Percent Percent Percent
Valid 1-3 46 76.7 76.7 76.7
4+ 14 23.3 23.3 100.0
Total 60 100.0 100.0
Missing System 0 .0
Total 60 100.0

154
Lanjutan lampiran 3 ....................

Statistics

nilai tanah liat


N Valid 60
Missing 0
Mean 137.258
Median 95.000
Mode 200.0
Minimum 12.5
Maximum 900.0

nilai tanah liat (Banded)

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid <50.0 19 31.7 31.7 31.7
50.0 - 149.9 19 31.7 31.7 63.3
150.0+ 22 36.7 36.7 100.0
Total 60 100.0 100.0

nilai tanah liat (Banded) * jenis hasil produksi Crosstabulation

jenis hasil produksi


tradisional keramik Total
nilai tanah <50.0 Count 18 1 19
liat (Banded) % within jenis
54.5% 3.7% 31.7%
hasil produksi
50.0 - 149.9 Count 12 7 19
% within jenis
36.4% 25.9% 31.7%
hasil produksi
150.0+ Count 3 19 22
% within jenis
9.1% 70.4% 36.7%
hasil produksi
Total Count 33 27 60
% within jenis
100.0% 100.0% 100.0%
hasil produksi

155
Lanjutan lampiran 3 ....................

Statistics

nilai bahan bakar


N Valid 60
Missing 0
Mean 128.642
Median 76.500
Mode 100.0
Minimum 15.0
Maximum 960.0

nilai bahan bakar (Banded)

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid <50.0 19 31.7 31.7 31.7
50.0 - 99.9 14 23.3 23.3 55.0
100.0+ 27 45.0 45.0 100.0
Total 60 100.0 100.0

nilai bahan bakar (Banded) * jenis hasil produksi Crosstabulation

jenis hasil produksi


tradisional keramik Total
nilai bahan <50.0 Count 17 2 19
bakar (Banded) % within jenis
51.5% 7.4% 31.7%
hasil produksi
50.0 - 99.9 Count 6 8 14
% within jenis
18.2% 29.6% 23.3%
hasil produksi
100.0+ Count 10 17 27
% within jenis
30.3% 63.0% 45.0%
hasil produksi
Total Count 33 27 60
% within jenis
100.0% 100.0% 100.0%
hasil produksi

156
Lanjutan Lampiran 3 ....................

Nilai produksi rata-rata per bulan tahun 2008 (ribu rupiah)


N Valid 60
Missing 0
Mean 1387.333
Median 923.750
Mode 600.0
Std. Deviation 1557.5512
Ange 10020.0
Minimum 140.0
Maximum 10160.0

Nilai produksi rata-rata per bulan (Banded)

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid <600.0 17 28.3 28.3 28.3
600.0 - 1519.9 22 36.7 36.7 65.0
1520.0+ 21 35.0 35.0 100.0
Total 60 100.0 100.0

Nilai produksi rata-rata per bulan (Banded) * jenis hasil produksi Crosstabulation

jenis hasil produksi


tradisional keramik Total
Nilai produksi rata-rata <600.0 Count 16 1 17
per bulan (Banded) % within jenis
48.5% 3.7% 28.3%
hasil produksi
600.0 - 1519.9 Count 12 10 22
% within jenis
36.4% 37.0% 36.7%
hasil produksi
1520.0+ Count 5 16 21
% within jenis
15.2% 59.3% 35.0%
hasil produksi
Total Count 33 27 60
% within jenis
100.0% 100.0% 100.0%
hasil produksi

157
Lanjutan Lampiran 3 ....................
kelangsungan usaha

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid buruk 11 18.3 18.3 18.3
sedang 36 60.0 60.0 78.3
baik 13 21.7 21.7 100.0
Total 60 100.0 100.0

Statistics

RECOVR
N Valid 34
Missing 0
Mean 164.41
Median 125.00
Mode 40a
Std. Deviation 140.372
Minimum 20
Maximum 680
Percentiles 25 60.00
50 125.00
75 202.50
a. Multiple modes exist. The smallest value is shown

158
pendidikan pengusaha * kelangsungan usaha Crosstabulation

kelangsungan usaha
buruk sedang baik Total
pendidikan tidak sekolah Count 3 1 1 5
pengusaha % within pendidikan
60.0% 20.0% 20.0% 100.0%
pengusaha
% within
27.3% 2.8% 7.7% 8.3%
kelangsungan usaha
SD Count 7 20 6 33
% within pendidikan
21.2% 60.6% 18.2% 100.0%
pengusaha
% within
63.6% 55.6% 46.2% 55.0%
kelangsungan usaha
SMP Count 1 9 4 14
% within pendidikan
7.1% 64.3% 28.6% 100.0%
pengusaha
% within
9.1% 25.0% 30.8% 23.3%
kelangsungan usaha
SLTA Count 0 6 2 8
% within pendidikan
.0% 75.0% 25.0% 100.0%
pengusaha
% within
.0% 16.7% 15.4% 13.3%
kelangsungan usaha
Total Count 11 36 13 60
% within pendidikan
18.3% 60.0% 21.7% 100.0%
pengusaha
% within
100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
kelangsungan usaha

159
kelangsungan usaha * umur pengusaha Crosstabulation

umur pengusaha
30 - 39 40 - 49 >=50 Total
kelangsungan buruk Count 1 0 10 11
usaha % within
9.1% .0% 90.9% 100.0%
kelangsungan usaha
% within umur
5.9% .0% 38.5% 18.3%
pengusaha
sedang Count 14 11 11 36
% within
38.9% 30.6% 30.6% 100.0%
kelangsungan usaha
% within umur
82.4% 64.7% 42.3% 60.0%
pengusaha
baik Count 2 6 5 13
% within
15.4% 46.2% 38.5% 100.0%
kelangsungan usaha
% within umur
11.8% 35.3% 19.2% 21.7%
pengusaha
Total Count 17 17 26 60
% within
28.3% 28.3% 43.3% 100.0%
kelangsungan usaha
% within umur
100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
pengusaha

jenis hasil produksi * kelangsungan usaha Crosstabulation

kelangsungan usaha
buruk sedang baik Total
jenis hasil tradisional Count 10 21 2 33
produksi % within jenis hasil
30.3% 63.6% 6.1% 100.0%
produksi
% within
90.9% 58.3% 15.4% 55.0%
kelangsungan usaha
keramik Count 1 15 11 27
% within jenis hasil
3.7% 55.6% 40.7% 100.0%
produksi
% within
9.1% 41.7% 84.6% 45.0%
kelangsungan usaha
Total Count 11 36 13 60
% within jenis hasil
18.3% 60.0% 21.7% 100.0%
produksi
% within
100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
kelangsungan usaha

160
Lanjutan Lampiran 3 ....................

kerusakan rumah * kelangsungan usaha Crosstabulation

kelangsungan usaha
buruk sedang baik Total
kerusakan rusak berat Count 1 5 5 11
rumah % within kerusakan
9.1% 45.5% 45.5% 100.0%
rumah
% within
9.1% 13.9% 38.5% 18.3%
kelangsungan usaha
roboh Count 10 30 8 48
% within kerusakan
20.8% 62.5% 16.7% 100.0%
rumah
% within
90.9% 83.3% 61.5% 80.0%
kelangsungan usaha
ringan Count 0 1 0 1
% within kerusakan
.0% 100.0% .0% 100.0%
rumah
% within
.0% 2.8% .0% 1.7%
kelangsungan usaha
Total Count 11 36 13 60
% within kerusakan
18.3% 60.0% 21.7% 100.0%
rumah
% within
100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
kelangsungan usaha

luas tempat usaha (Banded) * kelangsungan usaha Crosstabulation

kelangsungan usaha
buruk sedang baik Total
luas tempat <15 Count 4 14 1 19
usaha (Banded) % within luas tempat
21.1% 73.7% 5.3% 100.0%
usaha (Banded)
% within
36.4% 38.9% 7.7% 31.7%
kelangsungan usaha
15 - 25 Count 4 11 5 20
% within luas tempat
20.0% 55.0% 25.0% 100.0%
usaha (Banded)
% within
36.4% 30.6% 38.5% 33.3%
kelangsungan usaha
26+ Count 3 11 7 21
% within luas tempat
14.3% 52.4% 33.3% 100.0%
usaha (Banded)
% within
27.3% 30.6% 53.8% 35.0%
kelangsungan usaha
Total Count 11 36 13 60
% within luas tempat
18.3% 60.0% 21.7% 100.0%
usaha (Banded)
% within
100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
kelangsungan usaha

161
Lanjutan Lampiran 3 ....................

apakah bapak/ibu memiliki pinjaman modal? * kelangsungan usaha Crosstabulation

kelangsungan usaha
buruk sedang baik Total
apakah bapak/ibu ya Count 1 15 7 23
memiliki pinjaman % within apakah
modal? bapak/ibu memiliki 4.3% 65.2% 30.4% 100.0%
pinjaman modal?
% within
9.1% 41.7% 53.8% 38.3%
kelangsungan usaha
tidak Count 10 21 6 37
% within apakah
bapak/ibu memiliki 27.0% 56.8% 16.2% 100.0%
pinjaman modal?
% within
90.9% 58.3% 46.2% 61.7%
kelangsungan usaha
Total Count 11 36 13 60
% within apakah
bapak/ibu memiliki 18.3% 60.0% 21.7% 100.0%
pinjaman modal?
% within
100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
kelangsungan usaha

Tenaga Kerja * kelangsungan usaha Crosstabulation

kelangsungan usaha
buruk sedang baik Total
Tenaga 1-3 Count 9 29 8 46
Kerja % within Tenaga Kerja 19.6% 63.0% 17.4% 100.0%
% within
81.8% 80.6% 61.5% 76.7%
kelangsungan usaha
4+ Count 2 7 5 14
% within Tenaga Kerja 14.3% 50.0% 35.7% 100.0%
% within
18.2% 19.4% 38.5% 23.3%
kelangsungan usaha
Total Count 11 36 13 60
% within Tenaga Kerja 18.3% 60.0% 21.7% 100.0%
% within
100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
kelangsungan usaha

162
Lanjutan lampiran 3 ....................

kelangsungan usaha * Nilai produksi rata-rata per bulan (Banded) Crosstabulation

Nilai produksi rata-rata per bulan


(Banded)
600.0 -
<600.0 1519.9 1520.0+ Total
kelangsungan buruk Count 10 1 0 11
usaha % within
90.9% 9.1% .0% 100.0%
kelangsungan usaha
% within Nilai
produksi rata-rata per 58.8% 4.5% .0% 18.3%
bulan (Banded)
sedang Count 7 21 8 36
% within
19.4% 58.3% 22.2% 100.0%
kelangsungan usaha
% within Nilai
produksi rata-rata per 41.2% 95.5% 38.1% 60.0%
bulan (Banded)
baik Count 0 0 13 13
% within
.0% .0% 100.0% 100.0%
kelangsungan usaha
% within Nilai
produksi rata-rata per .0% .0% 61.9% 21.7%
bulan (Banded)
Total Count 17 22 21 60
% within
28.3% 36.7% 35.0% 100.0%
kelangsungan usaha
% within Nilai
produksi rata-rata per 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
bulan (Banded)

163
Lanjutan lampiran 3 ....................
Statistics

rata-rata pendapatan usaha gerabah


per bulan pada tahun 2008 (ribu rupiah)
N Valid 60
Missing 0
Mean 1078.142
Median 775.000
Range 7362.0
Minimum 70.0
Maximum 7432.0

rata-rata pendapatan usaha gerabah per bulan pada tahun 2008 (ribu rupiah)
(Banded)

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid <= 405.0 20 33.3 33.3 33.3
405.1 - 1267.5 20 33.3 33.3 66.7
1267.6+ 20 33.3 33.3 100.0
Total 60 100.0 100.0

164
Lampiran 4
Gambar-gambar di Lapangan

Gambar 1. Seorang penduduk menunjukkan mesin penggiling tanah atau molen


bantuan dari LSM yang jarang dipakai

Gambar 2. Tumpukan tungku gerabah siap jual di tempat penyimpanan menunggu


dibeli oleh para pedagang

165
Lanjutan lampiran 4………..

Gambar 3. Berbagai souvenir yang baru saja dicetak sedang dijemur sebelum
dibakar

Gambar 4. Bantuan rumah tinggal sementara pasca gempa dari PMI yang masih
dimanfaatkan penduduk sebagai tempat produksi dan menyimpan gerabah

166
167