Anda di halaman 1dari 3

Penyebaran Organisasi Koperasi Modern di Dunia

Mulanya tumbuh di negara industri Eropa Barat. Muncul kolonialisme (negara di Asia,
Afrika, dan Amerika Selatan), koperasi tumbuh di negara-negara berkembang/miskin yang
menjadi daerah jajahan. Setelah negara-negara jajahan mengalami kemerdekaan, banyak
negara yang memanfaatkan koperasi sebagai salah satu alat pembangunan untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakatnya.

A. Koperasi Modern Akhir Abad ke-18 (Tahap Awal Revolusi Industri)

Disebabkan oleh:
Perkembangan ekonomi pasar dan berbagai persyaratan pokok untuk
berlangsungnya proses industrialisasi serta modernisasi perdagangan dan pertanian yang
cepat. Industri mula-mula bercorak padat karya menjadi padat modal dan produksi. Mula-
mula berdasarkan pesanan menjadi industri memproduksi untuk kebutuhan pasar (produksi
massal). Perubahan struktur ekonomi yang radikal berdampak pada buruh (masalah
pengangguran, tingkat upah yang rendah, hubungan perburuhan yang kurang baik, syarat-
syarat kerja yang jelek, dan tanpa jaminan sosial. Para pekerja dan pengrajin kecil kalah
bersaing dengan perusahaan industri berskala besar dan petani penghasilannya hanya cukup
untuk kebutuhan karena proses pengintegrasian ke dalam ekonomi pasar yang sedang
berkembang. (Hanel, 1988)

Hanel, Afred, 1988, “Organisasi Koperasi”, Universitas Padjadjaran, Bandung. Dari buku:
Hendar (2010). “Manajemen Koperasi. Erlangga: Jakarta. Hal: 3-5.

Terdesak oleh keinginan untuk memperbaiki diri, dengan mencari alternatif usaha yang
dapat membantu meningkatkan pendapatan dalam sejarah gerakan koperasi disebut sebagai
pionir atau pelopor organisasi koperasi modern.

Pelopor Organisasi Koperasi dari Rochdale (Inggris) Koperasi Konsumen. Prinsip-prinsip


Koperasi Rochdale dijadikan dasar kegiatan oleh berbagai koperasi di dunia.

1. Keanggotaan yang bersifat terbuka (open memberships and voluntary).


2. Pengawasan secara demokratis (democratic control).
3. Bunga yang terbatas atas modal (limited interest of capital).
4. Pembagian SHU yang sesuai dengan jasa anggota (proportional distribution of
surplus).

5. Penjualan dilakukan sesuai dengan harga pasar yang berlaku dan secara tunai
(trading in cash).
6. Tidak ada diskriminasi berdasarkan ras, suku, agama, dan politik (political,
rasial relligious netrality).
7. Barang-barang yang dijual harus merupakan barang-barang yang asli, tidak
rusak atau palsu (adulted goods forbiden to sell), dan
8. Pendidikan terhadap anggota secara berkesinambungan (promotion of
education).
Jerman, Herman Schulze-Delitzsch (1808-1883), Koperasi Kredit Perkotaan, menjadi sendi-
sendi dasar koperasi:

Prinsip menolong diri sendiri (self-help).


Prinsip pengurus/mengelola sendiri (self-management).
Mengawasi sendiri (self-control).

Prinsip pengelolaan diterapkan pada koperasi-koperasi pengadaan sarana produksi di kalangan


pengrajin, para pedagang kecil, & kelompok mata pencaharian yang lain.

Prinsip identitas pada koperasi (identity principles): anggota sebagai pemilik sekaligus
pelanggan utama koperasi (ciri khusus yang membedakan koperasi dengan organisasi lainnya).

Konsepsi Schulze-Delitzsch dikembangkan Raiffeisen (Mengembangkan koperasi kredit di


Jerman 1862/1863)

Pembentukan koperasi-koperasi kredit kecil yang diorganisasi secara sederhana atas dasar
kelompok-kelompok anggota yang jumlahnya kecil tapi saling membutuhkan dan hisup
di satu atau beberapa desa.
Pelaksanaan kegiatan koperasi dilaksanakan oleh tenaga-tenaga kehormatan, seperti guru
atau pegawai negeri yang dipercaya anggotanya.
Pembentukan modal sendiri perusahaan koperasi, terutama melalui modal yang disetor dan
pembentukn cadangan dari sisa hasil usaha perusahaan koperasi.
Kredit hanya diberikan kepada anggota yang sebagaian besar adalah petani-petani kecil.
Meskipun demikian, deposito dapat diterima namun bukan dari anggota.

Merujuk kajian historis diatas, pada dasar koperasi harus:

Tumbuh dari bawah (rakyat) bukan ditumbuhkan dari atas (pemerintah).


Koperasi adalah organisasi independen mengelola usahanya dengan prinsip swadaya
dan manajemen yang demokratis.
Anggota adalah pemilik sekaligus pelanggan koperasi.
Anggota harus mendapatkan kepuasan akan pelayanan tertentu.
Tugas utama koperasi adalah memuaskan kebutuhan anggotanya.

Di negara Berkembang peranan Pemerintah masih sangat diperlukan karena:

Banyak masyarakat yang belum paham benar tentang koperasi.


Tingkat pendidikan masih sangat rendah.
Informasi yang belum lengkap tentang hakikat koperasi yang sebenarnya.
Meskipun demikian, bantuan pemerintah tidak perlu menyebabkan koperasi teruus
bergantung pada bantuan. Peranan pemerintah dalam pengembangan koperasi hanya
terbatas pada upaya membangun koperasi yang mandiri (berswadaya).
Dua alasan kenapa pemerintah (promotor) membantu pengembangan Koperasi

Alasan Non Ekonomi: koperasi harus ada (pertimbangan ideologis) meskipun organisasi koperasi
tidak mampu bersaing/kurang menguntungan dibandingkan perusahaan nonkoperasi.

Alasan Ekonomis: koperasi memiliki potensi dan kelebihan khusus dalam bersaing dengan
perusahaan nonkoperasi.

Koperasi sejak awal permulaan usahanya (koperasi tidak mampu mewujudkan manfaat yang
diharapkan).
Para pesaing non koperasi sejak semula telah berproduksi dengan biaya yang rendah.

Bantuan pemerintah terutama bentuk permodalan, sarana & prasarana fisik, serta kelembagaan
diperlukan untuk menyetarakan kedudukan koperasi dalam persaingan.