Anda di halaman 1dari 2

TUGAS SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI

Mazhab Neoklasik
Aryan Satriyo Yudhoyono
B300160199
Kelas C

Pemikiran-pemikiran ekonomi yang berkembang saat ini telah mengalami suatu proses
yang panjang. Perkembangan dunia diikuti juga oleh perkembangan pemikiran disemua bidang
kehidupan, tidak terkecuali dibidang ekonomi. Perkembangan awal mengenai teori ekonomi
klasik dilanjutkan oleh munculnya teori neoklasik.
Mazhab neoklasik merupakan telah mengubah pandangan tentang ekonomi baik dalam
teori maupun dalam metodologinya. Teori nilai tidak lagi didasarkan pada nilai tenaga kerja
atau biaya produksi tetapi telah beralih pada kepuasan marjinal (marginal utility).
Jika pada mazhab Klasik mengutamakan segi pasok dan biaya produksi dan barang dan
jasa yang bersangkutan, maka pada mazhab Klasik menjelaskan kenyataan bahwa ekonomi
masyarakat yang sudah majemuk ditandai dengan beralngsungnya proses tukar-menukar dalam
transaksi jual-beli di pasar.
Pokok permasalahan berkisar pada soal penawaran dan permintaan harga (supply-
demand-curve). Dalam tingkat akhir, nilai suatu barang ditentukan oleh penilaian subjektif dari
pihak konsumen. Berdasarkan pertimbangan pokok tersebut dikembangkan pengertian
kepuasan marginal. Oleh sebab itu, mazhab Neo-Klasik sering disebut dengan aliran kepuasan
marginal.
Dalam bagian akhir abad XIX telah muncul pemikiran-pemikiran baru dari sekelompok
pakar ekonomi. Pemikiran mereka ini masih berlandaskan dasar-dasar teori yag di letakkan
sebelumnya oleh para pengarang mazhab klasik. Dalam pada itu para ilmuwan yang dimaksud
menganut pangkal haluan yang sama dalam pedekatannya terhadap masalah-maslaah ekonomi,
yaitu : penekanan terhadap segi kebutuhan dan permintaan akan barang dan jasa. Penilainan
subjektif oleh pihak peminta/pembeli mengenai faedah(utility) sesuatu barang(atau jasa) bagi
peminta/pembeli itu menjadi faktor yang menentukan nilai dan harganya.
Semua aliran Neo-Klasik dari tempat-tempat yang berbeda yang disebut di atas
berpangkal tolak pada pendapat : Faedah marginal suatu barang ditentukna oleh penilaian
subjetif dari peminta/pembeli. Pangkal pikiran inilah yang dalam hakikatnya membedakan
pandangan para pakar mazhab Klasik sebelumnya. Oleh sebab itu, mazhab Neo-Klasik sering
juga diberi julukan sebagai “aliran faedah marginal).
Dalam hubungan ini harus diungkapkan bahwa pengertian dan istilah faedah dan faedah
marginal (utility dan marginal utility) itu sebenarnya bersumber awal pada gagasan seorang
pemikir berbangsa Jerman, Herman Gossen (1810-1858) mengenai nutzen dan grenznutzen
yang sudah dibeberkannya pada pertengahan abad XIX, jadi beberapa dasawarsa sebelum
munculnya karya-karya ilmiah para pakar dari mazhab Neo-Klasik.

Teori neoklasik digunakan untuk berbagai pendekatan untuk ekonomi berfokus pada
penentuan harga, output, dan pendapatan distribusi di pasar melalui penawaran dan
permintaan.
Rasionalitas instrumental berkaitan perilaku individu dalam menentukan preferensi
mereka secara rasional. Preferensi dalam hal ini berkenaan dengan pengalokasian dana dan
daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan dalam rangka mencapai kepuasan maksimum.

Berhubungan dengan rasionalitas perilaku individu dalam interaksi perkonomian


kompleks yang cenderung berbenturan, dan kadang-kadang berlawanan dengan gagasan
rasional, interaksi ekonomi individu atau kelompok seringkali terperangkap dalam suatu jeruji
rasisme ataupun kelas-kelas soaial dalam masyarakat.

Dari berbagai interaksi yang terjadi dalam pasar, ekonom neoklasik cenderung
mengkonseptualisasikan/mengasumsikan hasil interaksi tersebut dalam bentuk
"kesetimbangan".