Anda di halaman 1dari 27

TUGAS AUDIT SISTEM INFORMASI

“Pengumpulan dan Penilaian Bukti Audit”

Nama Dosen : Intan Oviantari,S.E.,Ak.,M.S.Ak.,C.A


Kelompok : 9
Nama : Neri Lestari 41152020160179
Nur Syifa R 41152020160129
Kelas : VII – AK B 2

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS LANGLANGBUANA BANDUNG
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada kehadirat ALLAH SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga akhirnya kami dapat
menyelesaikan tugas ini yang berjudul “Pengumpulan dan Penilaian Bukti Audit”.
Tugas ini dibuat dengan mengacu pada sumber tertulis dan juga berbagai
sumber sebagai landasan pemikiran. Kami menyadari bahwa pembuatan tugas ini
tidak luput dari segala kekurangan dan kesempurnaan. Namun kami telah
mengusahakan yang terbaik bagi pembuatan makalah ini. Oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah
SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin

Bandung, 28 September 2019

Kelompok 9

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................................... i

DAFTAR ISI ........................................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang ...................................................................................................................... 1

1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................................... 1

1.3. Tujuan .................................................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................................................... 3

2.1. Pengertian Bukti Audit.......................................................................................................... 3

2.2. Jenis Bukti Audit ................................................................................................................... 5

2.3. Kualitas Bukti Audit .............................................................................................................. 8

2.4. Pertimbangan dalam Bukti ................................................................................................ 10

2.5 Instrumen Pemeriksaan .................................................................................................... 10

2.6. Performance Measurement Tools ................................................................................... 18

2.7. ISACA Audit Guidelines .................................................................................................... 18

2.8. Evaluasi Bukti Pemeriksaan ............................................................................................. 19

BAB III PENUTUP ............................................................................................................................ 23

3.1. Kesimpulan .......................................................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................ 24

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pengertian bukti audit adalah "any information used by the auditor to
determine whether the information being audited is stated in accordance with
the established criteria." Bukti audit ialah data utama (substansi), data
pendukung dan semua informasi penguat (informasi lain) yang tersedia bagi
auditor dari kegiatan pemeriksaannya yang dapat dipakai sebagai dasar yang
layak untuk menyatakan opini atau memberikan rekomendasinya. Pada
dasarnya bukti audit adalah fakta atau informasi yang diperoleh auditor. Dalam
hal audit internal bukti dapat merupakan data yang jelas, tetapi mungkin juga
bersifat sesuatu yang bisa saja sudah lepas dari pandangan (seen out of), atau
mungkin bahkan perlu digali dari persepsi auditor terhadap penjelasan auditee.
Dari segi pandang audit keuangan, bukti audit terdiri dari: struktur
pengendalian intern, data akuntansi yang terdapat pada catatan akuntansi
jurnal, ledger / subledger dan dokumen-dokumen sumber pendukungnya),
serta informasi penguat, berupa: hasil konfirmasi, penjelasan pihak ketiga, hasil
pemeriksaan fisik, bukti berupa dokumentasi, hasil perhitungan ulang, bukti
lisan wawancara/penjelasan, hasil perbandingan dan rasio, penjelasan ahli
(bukti dari spesialis), dan sebagainya. Dalam internal audit, bukti yang
dimaksud lebih luas tidak sekedar menyangkut data akuntansi. Selain
accounting related facts dan informasi yang berkaitan asersi manajemen, bukti
audit juga meliputi masalan-masalah yang berkaitan dengan kinerja produksi,
administrasi, kelayakan procurement, personil, kesejahteraan karyawan, aspek-
aspek teknologi informasi dan sebagainya. Namun demikian pada jenis audit
apapun, sistem pengendalian intern (internal controls) merupakan salah satu
bukti audit yang paling utama. Dengan Sarbanes Oxley Act 2002, unsur
pengendalian intern makin penting peranannya.

1.2. Rumusan Masalah


1. Mengetahui Bukti Audit
2. Mengetahui Jenis Bukti Audit.

1
3. Mengetahui Kualitas Bukti Audit.
4. Mengetahui Pertimbangan dalam Bukti Audit.
5. Mengetahui Instrumen Pemeriksaan.
6. Mengetahui Performance Measurement Tools.
7. Mengetahui ISACA Audit Guidelines.
8. Mengetahui Evaluasi Pemeriksaan

1.3. Tujuan
Tujuan dari pembuatan tugas ini adalah sebagai salah satu pemenuhan
tugas dan untuk mempelajari dan memahami tentang Pengumpulan dan
Penilaian Bukti Audit secara detail.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Bukti Audit


Dengan pengalaman, kompetensi, dan keyakinannya auditor harus dapat
menentukan bukti audit yang mendukung pemeriksaannya guna dapat memberikan
pendapat (opini) atau melaporkan temuan dan memberikan rekomendasinya.Auditing
pada intinya adalah proses untuk memperoleh/ menilai bukti tentang kegiatan (operasi)
suatu organisasi/perusahaan (auditee) apakah pelaksanaannya sudah sesuai dengan
kriteria/ standar/ aturan/ketentuan atau kebijakan yang telah ditetapkan. Meskipun
tujuan audit, ruang-lingkup, dan pelaporan tipe audit berbeda-beda, pada dasarnya
bukti lapangan merupakan dasar penting bagi pernyataan pendapat (opini) maupun
temuan/rekomendasi audior. Bukti audit merupakan dasar bagi auditor dalam
menentukan pendapat (opini) bagi audit laporan keuangan,atau laporan
temuan/rekomendasi auditor internal. Kompetensi auditor sangat menentukan
kemampuannya dalam mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti audit yang ada.
Pengertian bukti audit adalah "any information used by the auditor to determine
whether the information being audited is stated in accordance with the established
criteria." Bukti audit ialah data utama (substansi), data pendukung dan semua
informasi penguat (informasi lain) yang tersedia bagi auditor dari kegiatan
pemeriksaannya yang dapat dipakai sebagai dasar yang layak untuk menyatakan opini
atau memberikan rekomendasinya. Pada dasarnya bukti audit adalah fakta atau
informasi yang diperoleh auditor. Dalam hal audit internal bukti dapat merupakan data
yang jelas, tetapi mungkin juga bersifat sesuatu yang bisa saja sudah lepas dari
pandangan (seen out of), atau mungkin bahkan perlu digali dari persepsi auditor
terhadap penjelasan auditee.
Dari segi pandang audit keuangan, bukti audit terdiri dari: struktur pengendalian
intern, data akuntansi yang terdapat pada catatan akuntansi jurnal, ledger / subledger
dan dokumen-dokumen sumber pendukungnya), serta informasi penguat, berupa:
hasil konfirmasi, penjelasan pihak ketiga, hasil pemeriksaan fisik, bukti berupa
dokumentasi, hasil perhitungan ulang, bukti lisan wawancara/penjelasan, hasil
perbandingan dan rasio, penjelasan ahli (bukti dari spesialis), dan sebagainya. Dalam
internal audit, bukti yang dimaksud lebih luas tidak sekedar menyangkut data
akuntansi. Selain accounting related facts dan informasi yang berkaitan asersi
manajemen, bukti audit juga meliputi masalan-masalah yang berkaitan dengan kinerja
produksi, administrasi, kelayakan procurement, personil, kesejahteraan karyawan,

3
aspek-aspek teknologi informasi dan sebagainya. Namun demikian pada jenis audit
apapun, sistem pengendalian intern (internal controls) merupakan salah satu bukti
audit yang paling utama. Dengan Sarbanes Oxley Act 2002, unsur pengendalian intern
makin penting peranannya.
Auditor melakukan evidence collection dan evidence evaluation.Dalam menilai
sistem pengendalian intern, auditor harus memahami sistem dan kemudian
mendokumen-tasikannya untuk dilakukan evaluasi lebih lanjut. Dokumentasi tentang
pemahaman pengendalian intern dapat dilakukan dengan menggunakan narrative,
flowchart/diagram, dan dengan Internal Control Quesioner (ICQ) atau kombinasi dari
ketiganya. Dalam pengujian kontrol maupun tes substantif dapat juga dilakukan
dengan dukungan audit software, dilakukan code review test data, code comparison,
serta performance management tools lainnya. Dalam pelaksanaan audit berbantuan
komputer dapat dilaksanakan dengan concurrent auditing techniques maupun dengan
pengujian pada komputer terpisah, misalnya pada komputer di kantor auditor.
Pemeriksaan teknologi informasi pada audit keuangan mencakup empat
bidang utama yang pada dasarnya merupakan pelaksanaan test of controls, yaitu
sebagai berikut:
a. Membantu (supporting) staf audit keuangan
b. Nengaudit bidang-bidang lingkungan pengolahan data (environmental data
processing areas) yang mencakup bidang-bidang sebagai berikut:
 Kepustakaan media penyimpanan data computer
 Kegiatan pusat data
 Departemen sistem dan pemrograman
 Pengamanan sistem dan data on-line
 Pengendalian perubahan program aplikasi
 Administrasi database
 Pemrograman perangkat lunak system
 Pusat pelayanan komputer
c. Mengaudit program-program sistem aplikasi
d. Mereview pengembangan sistem
Selanjutnya audit teknologi informasi tersebut mendukung pelaksanaan
substantive test, khususnya untuk menyajikan data akuntansi keuangan dari catatan
akuntansi yang sudah berujud master-file / transaction file atau bahkan database pada
sistem komputer.
Bukti pemeriksaan dikumpulkan dengan jalan dengan sejumlah pengujian (test)
dan prosedur yang bermacam-macam jenisnya, meliputi:

4
 Observasi atas kegiatan operasional perusahaan yang diperiksa dan para
pegawainya.
 Pemeriksaan fisik (PhysicalExamination) atas kuantitas dan atau kondisi aktiva
berwujud seperti peralatan, persediaan barang atau uang kas.
 Konfirmasi atas ketelitian informasi dengan jalan komunikasi tertulis dengan pihak
ketiga yang independen.
 Pertanyaan (Inquiry) yang ditujukan kepada para pegawai dari perusahaan yang
diperiksa yang sering dibantu dengan daftar pertanyaan (Questionnaire) atau
checklist wawancara.
 Pengkalkulasian atau penghitungan kembali informasi kuantitatif mengenai catatan-
catatan dan laporan-laporan.
 Pemeriksaan bukti (Vouching) atau pemeriksaan ketelitian dokumen-dokumen dan
catatan-catatan, terutama dengan jalan penelusuran atau pencarian jejak informasi
melalui sistem pengolahan kepada sumbernya.
 Pemeriksaan analitis (Analytical Review) hubungan-hubungan dan kecenderungan
antara informasi keuangan dan informasi operasi agar dfapat menemukan hal-hal
yang harus diselidiki lebih lanjut.

2.2. Jenis Bukti Audit


Bukti audit dapat dikatagorikan dengan beberapa cara, antara lain: (a) bukti
langsung dan bukti tidak langsung, (b) bukti utama atau primer dan bukti sekunder,
serta (c) fakta atau informasi dan hasil analisis,serta (d) record/testimonial evidence.
a) Bukti Langsung/Tidak Langsung
Bukti langsung adalah bukti audit bersifat fakta atau dokumen sah yang langsung
terkait dengan kegiatan pemeriksaan. Contohnya ialah: sertifikat hak milik tanah
jika auditor meng-uji keabsahan kepemilikan tanah auditee,atau biaya pos tertentu
berupa bukti pembelian dan pembayaran sah aslinya. Sedangkan bukti tidak
langsung misalnya ialah bukti yang harus disimpulkan sendiri oleh auditor
berdasarkan bahan bukti tertentu.Contoh misalnya untuk memeriksa apakah suatu
mesin benar – benar telah diperbaiki sehingga kondisinya sesuai yang dilaporkan
harus disimpulkan sendiri oleh auditor. Auditor mungkin dapat memperoleh bukti
biaya reparasi, tetapi apakah perbaikan telah dilakukan dengan benar dan kondisi
mesin sudah baik seperti yang dilaporkan harus ia simpulkan berdasarkan
justifikasinya sendiri. Barangkali auditor perlu mendengar penjelasan pihak yang
ahli, tetapi keyakinan auditor tetap merupakan kunci utamanya.
b) Bukti Utama (Primer)/Sekunder

5
Bukti utama ialah misalnya surat perjanjian atau kontrak, surat konfirmasi asli
tentang piutang dari pelanggan, rekening Koran dari bank. Sedangkan bukti
sekunder misalnya adalah bila surat-surat tersebut bukan yang asli melainkan
copy,dan bahkan kadang-kadang sudah dengan coretan/tanda/tambahan dengan
pen tulisan tangan. Menggunakan bukti sekunder untuk menarik konklusi
memerlukan keyakinan auditor bahwa copy tersebut valid (sesuai dengan aslinya).
Bila auditor mengalami kesulitan untuk membandingkan dengan aslinya,maka
bukti tersebut hanya dapat digunakan jika ada data pendukungnya atau bukti
penunjang sebagai pembanding atau pencocokan.
c) Fakta/Bukti Hasil Analisa
Bukti angka Rupiah nilai penjualan yang terteta pada Faktur adalah fakta,tetapi
indikasi ada sesuatu yang perlu pemeriksaan lebih sesama karena nilai piutang
tak tertagih yang melonjak adalah hasil suatu prosedur analisis. Prosedur analisis
adalah salah satu teknik pengumpulan bukti audit yang dilaksanakan auditor
dengan cara melakukan perbandingan-perbandingan: misalnya penjualan dengan
laba,penjualan dengan rata-rata persediaan,guna memperoleh indikasi-indikasi
sebagai unsure keyakinan auditor.
Kesimpulan (konklusi) auditor yang didasarkan bukti audit yang berasal dari hasil
pemikiran yang terkait dengan kenyataan atau fakta yang relevan disebut
analytical evidence.
d) Record/Testimonial Evidence
Record evidence adalah bukti audit yang berjudul dokumentasi/catatan,meliputi:
surat-surat perjanjian atau kontrak,notulen rapat,catatan-catatan akutansi atau
keuangan lainya, akte atau dokumen lain yang dapat dianggap sebagai bukti
audit. Dalam hal bukti audit berupa copy surat,atau hasil print-out computer,
auditor harus mencari data pendukungnya. Selain dari itu, kompetensi bukti yang
merupakan hasil pengolahan system komputerisasi, auditor harus meyakinin
bahwa pengendalian (internal controls) sistem tersebut dapat diandalkan.

Yang dimaksud dengan testimonial evidendence adalah informasi yang


diperoleh dari pihak atau orang tertentu, dalam bentuk tulisan maupun lisan ( atau
bersifat hasil analisis). Bukti ini dapat diperoleh melalui beberapa cara:
 Hasil wawancara dengan seseorang yang terkait atau sangat memahami
persoalan yang diperiksa. Dalam hal ini pemeriksa harus memperhatikan
personality,pengetahuan dan kejujuran yang diwawancarai. Dalam hal ini auditor
harus mengusahakan agar informasi yang diperoleh bersumber dari orang yang

6
layak dipercayai, dan merupakan sumber asli,bukan orang kedua yang
mendengar dari pihak lain.
 Surat atau konfirmasi dari pihak lain. Bila auditor menggunakan surat/konfirmasi
untuk memperoleh informasi,maka informasi yang diminta dan jenis jawabanya
yang diinginkan harus jelas.
 Observation ebidence,yaitu bukti audit yang diperoleh dari pengamatan
(perasaanya), misalnya: melihat dan mengikuti perhitungan uang kas secara fisik,
menyaksikan perbaikan mesin, menyaksikan pelaksanaan suatu pelatihan di
ruang kelas, dan sebagainya.
 Analytical evidence, yaitu bukti audit yang diperoleh dari hasil analisis, dan yang
oleh auditor diyakini sebagai pendukung untuk pengambilan kesimpulan
pemeriksaan.

Jenis Bukti Audit


Sumber bukti, yakni dari mana bukti audit diperoleh dan siapa yang membuat
bukti tersebut, menentukan kompetensi dan dapat dipercayainya bukti sehubungan
dengan sumber bukti. Jika bukti audit diperoleh dari pihak yang independen di luar
perusahaan, maka bukti-bukti ini memberikan tingkat kepercayaan atau kompetensi
yang lebih tinggi dari pada bukti audit yang berasal dari dalam perusahaan. Bukti
audit yang berasal dari pihak intern perusahaan yang memiliki kontrol yang baik akan
lebih kompeten dari pada bukti dari pihak intern perusahaan yang sistem
pengendalian internnya buruk. Pengetahuan yang diperoleh sendiri oleh auditor
melalui inspeksi fisik, perhitungan serta observasi akan lebih meyakinkan atau lebih
kompeten dari pada informasi yang diperoleh secara tidak langsung (dari pihak lain).
Bukti audit yang objektif dianggap lebih reliabel dari pada bukti audit yang
bersifat subjektif, dan tidak memerlukan banyak pertimbangan untuk menentukan
kebenarannya dari pada bukti yang subjektif. Bukti yang objektif adalah bukti yang
bila digunakan oleh orang lain akan menghasilkan kesimpulan yang relatif sama atau
tidak berbeda secara material. Contoh bukti yang objektif adalah perhitungan fisik
persediaan, konfirmasi piutang dan bank.

a) Kecukupan atau Kelengkapan Bukti


Untuk mengukur cukup/ tidaknya bukti, atau lengkap/ tidaknya bukti audit yang
dikumpulkan agak bersifat subyektif, jadi sifatnya relatif (menurut justifikasi
auditor sendiri). Cukup tidaknya atau apakah suatu bukti sudah dianggap lengkap
atau belum, bergantung kepada auditor yang memerlukan informasi guna menarik
kesimpulan hasil pemeriksaannya. Ukuran mengenai berapa banyak bukti audit
7
yang diperlukan sering diistilahkan sebagal bobot bahan bukti (the weight of
evidence). Bobot tersebut ditentukan oleh sejauh mana bukti yang tersedia dapat
mendukung tingkat keyakinan (proof beyond a reasonable doubt), yang
keseluruhannya bergantung pada pengalaman dan keahlian auditor.
b) Tepat Waktu (Timeliness)
Untuk dapat memperoleh kesimpulan pada waktu yang telah ditentukan, bukti
audit juga harus diperoleh pada saat yang tepat sesuai dengan rencana yang
telah ditetapkan.Timeliness menunjukkan bukti-bukti tersebut dikumpulkan sesuai
dengan periode yang dicakup audit.Bukti tentang akun neraca lebih reliabel jika
didapat sedekat mungkin dengan tanggal neraca. Bukti yang diperoleh dari
observasi penghitungan fisik pada tanggal neraca merupakan bukti yang lebih
baik tentang kuantitas yang ada dari pada perhitungannya dilakukan pada waktu
yang lain. Untuk akun laporan laba rugi, bukti akan lebih reliabel jika ada sampel
dari keseluruhan periode audit dibandingkan bila sampel hanya dari bulan-
bulan/periode tertentu saja. Auditor harus memperoleh bukti yang menyatakan
bahwa klien telah melakukan cut-off atau pisah batas dengan benar.

2.3. Kualitas Bukti Audit


Salah satu aspek penting berkenaan dengan bukti audit adalah mutu (quality)
bukti audit. Mutu bukti audit merupakan kualitas atau ukuran dapat tidaknya suatu
bukti digunakan sebagai bahan untuk menarik konklusi (kesimpulan) guna pernyataan
pendapat atau rekomendasi oleh auditor. Dengan kata lain, bukti audit yang
berkualitas adalah bukti yang dapat dipercaya, sah/valid,obyektif dan relevan sebagai
dasar pengambilan kesimpulan oleh auditor. Di bidang hukum, bukti atau keterangan
saksi sebagai pembuktian memerlukan keabsahan pengadilan berdasarkan penilaian
hakim (juri) yang harus bertindak netral. Sedangkan pada audit agak berbeda : auditor
(sebagai pemeriksa) harus secara independen menilai kualitas bukti audit itu sendiri, di
sini tidak ada fungsi penuntut umum,pembela dan hakim.
Pengalaman auditor sangat menentukan keyakinanya dalam menilai kualitas
bukti audit, namun demikian ada beberapa pedoman yang dapat digunakan untuk
menilai kualitas bukti audit. Kualitas bukti audit ditentukan oleh bebagi factor,antara
lain : relevansi (relevancy), nilai pentingnya bukti audit (materiality), keabsahan atau
kompetensi bukti (competency), kecukupan atau kelengkapan bukti (sufficiency), dan
timeliness.
a) Relevansi (Relevancy)
Menurut Herbert Leo (1983,p.144) “ Relevance means that the information used
as evidence must have some logical relationship to the criteria of the audit

8
objective.” Jadi, bukti audit yang relevan berarti bukti tersebut harus terkait dengan
tujuan audit.Pengertian bukti yang relevan adalah bukti harus terkait, relevan, atau
mempunyai hubungan logis terhadap kriteria yang digunakan untuk tujuan
pemeriksaan (yang sedang diuji oleh auditor). Bukti mungkin hanya relevan untuk
satu tujuan, tetapi tidak relevan bagi tujuan yang lain. Auditor harus sadar
sepenuhnya mengenai pentingnya hal ini. Bila auditor memperoleh bukti yang
tidak relevan, maka akan banyak waktu dan biaya yang terbuang percuma. Lebih
jauh lagi, bukti semacam ini juga dapat mrnghasilkan kesimpulan yang salah.
Bukti yang tidak terkait atau yang tidak relevan tidak akan membantu tercapainya
tujuan audit, bahkan membuang-buang waktu dan biaya.
b) Nilai Penting (Materiality)
Aspek materialitas ini mungkin terutanma berkaitan dengan audit laporan
keuangan. Di dalam audit laporan keuangan, suatu kesalahan diukur dari material
atau tidaknya kesalahan itu. Materialitas bersifat relatif, karena jenis kesalahan
dan besar kecilnya nilai bukti (kesalahan) akan mempengaruhi sikap auditor
dalam mengambil kesimpulan, atau pendapat yang akan dikemukakannya dalam
laporan pemeriksaan. Misalnya: (a) Kesalahan yang mempengaruhi laba dianggap
lebih material dari pada yang tidak berpengaruh terhadap laba, (b) kesalahan
yang nilainya relatif sangat kecil dianggap tidak materialitas dibanding yang
nilainya cukup signifikan, (c) kesalahan yang bersifat penyalahgunaan
(kecurangan) dianggap lebih material dibandingkan dengan kekeliruan.
c) Kompetensi Bukti Audit (Competeney)
Kompetensi bukti audit dipengaruhi oleh beberapa fiaktor, terutama dari sah
tidaknya bukti dan sumber dari mana bukti audit tersebut diperoleh Statenment of
Auditing Standards 400Audit Euidence menyebutkan bahwa reliabilitas bukti audit
dipengaruhi oleh sumber (Internal atau eksternal) dan oleh sifatnya (visual,
dokumenter, atau lisan). Karena reliabilitas bukti audit tergantung pada kondisi
masing-masing, beberapa hal di bawan ini dapat dijadikan petunjuk umum dalam
menentukan tingkat reliabilitasi bukti audit :
 Bukti audit dari sumber-sumber eksternal (contohnya, konfirmasi yang
diterima dari pihak ketiga) biasanya lebih reliabel dari pada yang dibuat
secara internal.
 Bukti audit yang dibuat secara intertnal lebih reliabel apabila sistem akuntansi
dan pengendalian internal berjalan efektif.
 Bukti audit yang diterima langsung oleh auditor lebih reliabel dari pada yang
diperoleh dari entitas (auditee ).

9
 Bukti audit dalam bentuk dokumen dan bentuk tulisan lainnya biasanya lebih
reliabel dari pada bentuk lisan.
 Dokumen asli lebih reliabel dari pada fotocopy, teleks, atau faksimili.
Bukti audit yang valid menjadikan bukti tersebut kompeten untuk digunakan
sebagai dasar pengambilan Keputusan mengenai kesimpulan hasil pemeriksaan.

2.4. Pertimbangan dalam Bukti


Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh auditor didalam
menetapkan bukti audit,yaitu :
 Di bidang hukum, pihak yang dituntut maupun penuntut mempunyai hak dan
kesempatan yang sama untuk mempertahankan kebenaran yang diyakininya, atau
untuk membela dirinya, dan kemudian hakim yang akan menentukan kebenaran
berdasarkan bukti-bukti yang dibahas di pengadilan berdasarkan keyakinannya.
Pada auditing, auditor harus obyektif dan bila temuan (negatif) yang akan
dilaporkannya dirasa perlu untuk disanggah atau dijelaskan (alasan mengapa
terjadi demikian) oleh auditan, maka auditor harus menyajikan alasan tersebut
pada laporannya (auditee included).
 Auditor yang memerlukan bukti audit untuk tujuan pemeriksaan harus mengerti
dan menyadari bahwa tidak ada sesuatu hal yang pasti untuk tersebut. Auditor itu
sendiri yang harus menentukan bagaimana mutu bukti yang diperoleh, berapa
banyak bukti audit yang diperlukan, dan seberapa mendukung keyakinannya
dalam mengambil Kesimpulan dari pemeriksaan tersebut.
 Bukti audit harus dicatat, dikelola dan dievaluasi.
 Laporan hasil audit harus disertai lampiran buktl audit yang mendukung
kesimpulan atau pendapat yang diberikan oleh auditor.

2.5 Instrumen Pemeriksaan


Terdapat berbagai teknik pemeriksaan yang bisa diterapkan dalam
melaksanakan audit. Teknik-teknik pemeriksaan tersebut, antara lain ialah: observasi,
wawancara atau tanya-jawab, kuesioner, konfirmasi, inspeksi, analisis, perbandingan,
pemeriksaan bukti-bukti tertulis atau studi dokumentasi (vouching dan verifikasi),
rekonsiliasi, trasir (tracing), perhitungan ulang (re-computation) dan scanning.
Beberapa teknik yang lain focus groups discussion (diskusi bebas dalam bentuk
kelompok yang diikuti oleh pemeriksa pada ruang lain yang tidak terlihat). Dalam audit
sistem informasi juga dapat dilakukan teknik-teknik audit dengan metoda codereview,
test data, code comparison, dengan dukungan audit software, dilakukan performance

10
management tools lainnya, dan monitor information system usage (mempelajari siapa
pemakai sistem atau users, kapan/bagaimana/ seberapa sering menggunakan, berapa
lama, mengukur user satisfaction, dan sebagainya).
a) Observasi (pengamatan)
Observasi atau pengamatan adalah cara memeriksa dengan
menggunakan panca indra terutama mata, yang dilakukan secara kontinyu selama
kurun waktu tertentu untuk membuktikan sesuatu keaqdaan atau masalah.
Seringkali observasi dikaitkan dengan melihat dari jarak jauh atau tanpa disadari
oleh pihak yang diamati. Teknik observasi akan membantu memperjelas
pengertianpemeriksa mengenai kegiatan-kegiatan yang diperiksa. Observasi
secara cermat terhadap suatu kegiatan dapat menemukan adanya indikasi
ketidakefisienan atau ketidak-efektifan, dan mungkin dapat terungkap kelemahan
serius yang memerlukan pemeriksaan yang lebih terinci.Indikasi
ketidakefisienan/ketidakefektifan misalnya berupa kemacetan produksi,
penumpukan peralatanatau bahan-bahan yang berlebihan, pengangguran
pegawai, perlunya perbaikan atau pengolahan kembali defect product.
Keberhasilan observasi bergantung dari pelaksanaannya, misalnya, jika auditor
cermat, rasa ingin tahunya besar dan sangat imajinatif, maka ia akan mampu
mengamati dengan cara yang baik mengenai kegiatan personalia, keadaan
bangunan dan peralatan, barang-barang ,pelaksanaan suatu prosedur, dan
sebagainya.
Tidak ada subtitusi bagi metoda observasi dalam menilai-aktivitas yang
sedang diaudit.Beberapa contoh observasi yang tidak dapat digantikan dengan
metoda lain misalnya, melihat keberadaan tanah dan bangunan aset perusahaan,
menyaksikan pelaksanaan pelatihan pegawai di ruang kelas, melihat pelaksanaan
reparasi mesin, observasi produktivitas pegawai. Anda dapat melakukan
wawancara dan menelaah dokumen untuk memperoleh pemahaman mendasar
mengenai prosedur dan operasi; tetapi, observasi operasi aktual atas sistem yang
dipelajari akan memberikan cara pandang yang tidak dapat diperoleh dengan cara
lain. Selain itu, observasi dapat bermanfaat untuk mengkonfirmasikan informasi
yang diperoleh dari kuesioner dan wawancara. Salah satu teknik observasi yang
bermanfaat ialah melihat proses transaksi pada seluruh prosedur; misalnya
observasi dengan mengikuti order penjualan dari mulai dibuat sampai pengiriman
barang. Ini khususnya bermanfaat jilka dilakukan tanpa pemberitahuan, sehingga
anda melihat segala sesuatunya seperti yang normalnya dilakukan sehari-hari
Observasi me-mungkinkan auditor memberikan saran-saran yang berguna untuk
meningkatkan efisiensi.

11
Observasi yang dilakukan dalam kurun waktu tertentu pada suatu
perusahaan misalnya dapat memberikan gambarang sebagai berikut :
 Observasi yang dilakukan terhadap para petugas yang bekerja di lapangan
menunjukan bahwa mereka berhenti bekerja sesudah lepas tengah hari;
pengawasan oleh atasannya praktis tidak ada, atau: para petugas di suatu
bagian dalam perusahaan menunjukkan bahwa mereka menggunakan
waktuyang terlampau lama untuk makan siang tanpa izin dan bercakap-
cakappanjang lebar mengenai urusan pribadi di tempat pekerjaannya.
 Observasi yang dilakukan terhadap kelompok pekerja di bagian pemeliharaan
aktiva menunjukkan bahwa mereka terlambat mulai bekerja dan pulang jauh
sebelum waktunya; cara kerjanya semrawut dan tidak ada patokan untuk
mengukur produktivitas.
 Menurut prosedur yang berlaku, kelebihan bahan yang dikembalikan oleh
bagian produksi harus dicatat oleh bagian produksi harus dicatat oleh
bagian perbekalan, agar dapat diketahui tingkat persediaan yang ada untuk
dipergunakan.
 Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh pemeriksa, diketahui bahwa
selama jangka waktu enam buian bahan-bahan yang diterima kembali dari
bagian produksi tidak dimasukkan ke dalam catatan bagian perbekalan.
Sebagai akibatnya, perusahaan telah membeli barang untuk persediaan yang
sebenarnya tidak diperlukan. Pemeriksa memperoleh fakta bahwa tidak ada
perintah untuk mencatat bahan-bahan yang dikembalikan.
b) Wawancara, Tanya-jawab (Interview)
Wawancara merupakan teknik pemeriksaan berupa tanya-jawab
secaralisan antara auditor dengan auditee untuk memperoleh bahan bukti
auditTanya jawab (inquiry) dapat dilakukan secara lisan (wawancara) atau
tertulis.Meskipun banyak bukti yang bisa diperoleh melalui cara ini, namun
hasilnyatidak dianggap memuaskan bila bukan berasal dari sumber yang
independen(bebas). Oleh karena itu, bila pemeriksa memperoleh bukti atau
informasi melaluitanya-jawab dengan pihak yang terlibat, pemeriksa perlu
mengusahakan pulabukti penunjang lainnya dengan menggunakan teknik
pemeriksaan yang lain(wawancara merupakan secondary audit instrument).
Biasanya auditor membawa catatan untuk mempermudah pengajuan
pertanyaan dan mencatat jawaban. Wawancara yang baik akan menghasilkan
bahan bukti yang diperlukan dalam waktu relatif singkat. Memperoleh kebenaran
dalam wawancara bukanlah pekerjaan yang mudah. Apabila sebelumnya

12
pihakyang diperiksa sudah mengetahui ke mana arah pertanyaan yang akan
diajukan, maka ia dapat merancang jawaban yang bersifat pembelaan diri dan
mungkin pulamengusahakan agar kelemahan dapat disembunyikan. Dalam
kondisi seperti ini, mungkin informasi yang diberikan tidak benar atau tidak
lengkap. Oleh karenaitu, pemeriksa hendaknya dapat bersikap sedemikian rupa
sehingga pihak yang diperiksa tidak curiga kepadanya dan tujuan untuk
memperoleh bahan buktiaudit yang tepat dapat terpenuhi. Wawancara
memerlukan pendekatan, karena akan bermanfaat untuk mendekatkan auditor
dengan pihak yang diperiksa, lebih mengakrabkan pembicaraan dan
meningkatkan partisipasi auditee. Kadang-kadang wawancara tidak menggunakan
pertanyaan yang telah disusun terstruktur, tetapi menggunakan beberapa topik
umum untuk dibahas. Jenis wawancara ini memiliki keuntungan karena fleksibel
untuk membahas isu-isu yang penting bagi pemeriksaan, tetapi auditor harus
berusaha mengarahkan pembicaraan kepada hal yang langsung bermanfaat bagi
pemeriksaan. Sebagai contoh, jika manajer membicarakan kekurangan bahan
mentah, tugas auditorialah mengarahkan pembicaraan kepada penyebab
terjadinya kekurangan.
Ada beberapa hal penting dalam wawancara yang perlu diingat.
Pertama,sangat mungkin orang yang diwawancarai tidak bersikap kooperatif. Jika
ini terjadi, tidak ada hal yang dapat dilakukan selain mencari orang lain untuk
diwawancarai. Kedua, adalah jawaban auditee yang biasa menganggap auditor
sebagai pengganggu yang masuk ke lingkungan mereka atau sebagai
penghambat posisi pekerjaan mereka. Masalah tersebut dapat diminimalkan
dengan membina hubungan baik. Akhirnya, wawancara mengandung masalah
seni mendengarkan. Pewawancara yang efektif akan memberikan kesempatan
lebih banyak untuk berbicara kepada orang yang diwawancarainya.
Oleh karena tujuan pemeriksaan adalah memperoleh bukti mengenai
pokok -okok yang sedang dalam pemeriksaan, wawancara harus dirancang untuk
dapat mengungkapkan hal tersebut secara lengkap. Penanggungjawab suatu
kegiatan merupakan sumber informasi penting. Dalam hal ini, pemeriksa harus
mempertimbangkan dengan seksama mengenai pengetahuan pihak yang
diwawancarai atas pokok persoalan yang dibicarakan, motifnya, dan apakah
informasi yang disampaikan sesuai dengan informasi lain yang diperolehnya.
Dalam menentukan pihak yang akan diwawancarai, kenyataan menunjukkan
bahwa seseorang yang menempati kedudukan yang tinggi tidak merupakan
Jaminan atas keabsahan atas informasi yang diberikan olehnya. Mungkin saja ia
belum lama mengerti posisi itu atau mungkin pula ia tidak memiliki pengetahuan

13
langsung mengenai masalah yang dinyatakan, yang barangkali justru dipunyai
oleh bawahannya. Aspek-aspek manajemen harus dibicarakan dengan pejabat
yang sepadan, yang posisinya memungkinkan mereka menjawab persoalan-
persoalan tersebut. Auditor bisa mewawancarai ahli-ahli yang merupakan pihak
luar, tetapi wawancara hendaknya diarahkan untuk menjamin bahwa keterangan
para ahli tersebut dapat diandalkan dan meneguhkan sifat dapat dipercayainya
bukti. Pemeriksa bisa pula mewawancarai informan, yaitu seorang yang dapat
memberikan informasi tertentu kepada pemeriksa. Orang tersebut disebut
informan rahasia jika ia memberikan informasi dengan janji bahwa identitasnya
tidak akan dikatakan pada pihak ketiga, atau apabila sifat kasus atau informasi
yang diberikannya menyebabkan pemeriksa perlu merahasiakan identitasnya.
c) Kuesioner (Tanya-jawab Tertulis)
Cara tanya jawab yang mudah dan praktis adalah dengan tertulis. Setelah
responden ditentukan, kemudian dikirim surat pengantar beserta daftarpertanyaan
(kuisioner) tentang hal-hal yang ditanyakan (sebaiknya dibuat pedoman pengisian
dan tanggal jawab yang diharapkan). Tentu saja cara inimempunyai sisi
kekurangan dibandingkan dengan apabila pemeriksa sendiriaktif mendatangi
pihak yang bersangkutan untuk memperoleh informasi yang bersangkutan.
Kelemahan dari wawancara tertulis adalah bahwa pada dasarnya daftar
pertanyaan tidak fleksibel sifatnya, tidak ada tindak lanjutdan verifikasi.Tingkat
keandalan informasi yang diperoleh dari kuesioner lebihrendah dibandingkan
dengan yang diperoleh lewat wawancara. Informasi yangdiperoleh dengan cara
mengirimkan daftar pertanyaan harus dipergunakansecara hati-hati, dan jika tidak
terdapat bukti penguat untuknya, bukti demikian belum mencukupi untuk
digunakan sebagai pendukung kesimpulan dan saran pemeriksa.
Kuesioner terbuka adalah teknik pengumpulan fakta dengan format
jawaban tertulis yang lebih bersifat umum. Kuesioner terbuka mempunyai
tujuanyang sama dengan wawancara pendekatan, mengajukan pertanyaan-
pertanyaan yang sanget umnum seperti, "Apakah anda mempunyai saran untuk
memperbaiki sistem, mohon dijelaskan." Kuesioner terbuka memberikan
kesempatan kepada manajer untuk mengatakan apa saja yang ada dalam
pikirannya. Kuesioner tertutup merupakan teknik yang bermanfaat untuk
mengumpulkan jawaban pertanyaan dari sejumlah besar responden. Kuesioner
sangat efektif dalam banyak situasi termasuk pengumpulan informasi dalam
pengendalian intern. Tetapi, ada beberapa masalah yang timbul jika
menggunakan kuesioner tertutup. Salah satu masalah adalah jumlah pertanyaan
yang banyak akan membuat jawaban menjadi dangkal. Bahaya lain adalah bahwa

14
karyawan umumnya lebih suka menjawab sedikit pertanyaan. Pertanyaan yang
dipaksakan akan memberikan gambaran situasi yang keliru, Sebagai contoh, jika
manajer produksi ditanya tanggapannya "Ya" atau "Tidak" untuk pertanyaan,
"Apakah kekurangan bahan mentah disebabkan oleh departemen pembelian?"
akan menghasilkan jawaban yang keliru. Manajer produksi merasa bahwa sistem
pembelian yang salah dan bukan manajer pembelian; tetapi, tidak mungkin untuk
mencari kesimpulan yangtepat melalui jawaban Ya atau Tidak untuk pertanyaan
ini. Akhirnya, resiko dalam pertanyaan rinci adalah justru pertanyaan yang penting
terlupakan. Topik utama malah terabaikan: kuesioner tidak memuat pertanyaan
yang berkaitandengan fokus masalah yang dimaksud Konfirmasi.
d) Konfirmasi
Konfirmasi merupakan upaya untuk memperoleh informasi/penegasan
darisumber lain yang independen,baik secara lisan maupun tertulis dalam
rangkapembuktian pemeriksaan. Dalam pemeriksaan, selain melakukan kegiatan
sepertimeneliti catatan dan berkas-berkas, menganalisis dan melakukan
verifikasi,termasuk pula di dalamnya kegiatan mengadakan konfirmasi dalam
kaitannyadengan kecukupan bukti dan kesesuaian dengan tujuan
pemeriksaan.Konfirmasi dapat dilakukan terhadap berbagai hal, misalnya:
 Konfirmasi mengenai uang muka/kas bon kepada pegawai yang bersangkutan.
 Konfirmasi untuk persediaan yang disimpan pada pihak ketiga.
 Konfirmasi untuk menentukan kebenaran saldo piutang kepada para debitur.
Demikian pula, dalam memperoleh informasi secara lisan mengenai
persoalan persoalan penting, perlu dilakukan konfirmasi, terutama apabila
terdapat kesangsian apakah komentar yang diberikan secara lisan tersebut
mencerminkan pandangan resmi atau tidak.
Konfirmasi dapat dilakukan secara lisan atau secara tertulis. Konfirmasi
secara lisan dilakukan secara langsung kepada pihak yang bersangkutan dengan
mengajukan pertanyaan atau wawancara. Konfirmasi secara tertulis dapat dibagi
dua macam, yaitu konfirmasi positif dan konfirmasi negatif. Konfirmasi positif
adalah konfirmasi dimana pihak yang bersangkutan diminta untuk memberikan
jawaban dalam batas waktu yang ditetapkan, baik jawaban menolak maupun
jawaban menyetujui. Sedangkan dalam konfirmasi negatif, pihak yang
bersangkutan hanya diminta memberikan jawaban dalam batas waktu yang
ditetapkan apabila menolak isi surat permintaan konfirmasi. Jika lewat batas waktu
yang ditetapkan tidak memberikan jawaban maka dianggap menyetujui.
e) Inspeksi Fisik

15
Inspeksi merupakan cara memeriksa dengan memakai panca-indera
terutama mata, untuk memperoleh bukti atas suatu keadaan atau suatu masalah
pada saat tertentu. Inspeksi merupakan usaha pemeriksa untuk memperoleh
bukti-bukti secara langsung kata langsung di sini berarti pemeriksa sendiri harus
berada ditempat dimana keadaan atau masalah tersebut ingin dibuktikan.Auditor
tidak boleh mendasarkan pendapat dan kesimpulan pemeriksaannya semata-
mata atas dasar pengetahuannya mengenai bukti-bukti yang diperolehnya secara
tidak langsung. Inspeksi sebaiknya dilakukan oleh lebih dari satu orang auditor.
Pemeriksa harus mencoba mengusahakan agar ada wakil-wakil instansi atau
pihak ketiga yang menyertai acara inspeksi itu, yang dapat membenarkan/
menguatkan kesimpulan pemeriksa. Sesuai keperluannya, pemeriksa dapat
meminta wakil instansi atau pihak ketiga agar turut menandatangani berita acara
mengenai inspeksi tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan timbulnya
bantahan mengenai kecermatan inspeksi yang dilakukan oleh
pemeriksa. Di bawah ini dikemukakan contoh mengenai inspeksi yang dilakukan
oleh pemeriksa.
f) Prosedur Analisis
Analisis artinya memecah atau menguraikan suatu keadaan atau masalah
ke dalam beberapa bagian atau elemen dan memisahkan bagian tersebut untuk
digabungkan dengan keseluruhan atau dibandingkan dengan yang lain. Dengan
analisis pemeriksa dapat melihat hubungan penting antara satu unsur dengan
unsur lainnya. Berikut ini diberikan dua contoh kegiatan analisis yang sering
dilakukan:
 Auditor menyusun daftar pesanan pembelian dalam lembaran yang terpisah
dan menganalisis masing-masing lembaran itu menurut syarat penawarannya,
rekanan yang masuk, persetujuan, pembelian yang telah dilakukan lebih dulu,
analisis biaya, jadwal dan lain-lain.
 Pemeriksa dapat menganalisis suatu peraturan, anggaran dasar,atau kontrak
dan membandingkan dengan pelaksanaannya.
g) Perbandingan
Perbandingan adalah usaha untuk mencari kesamaan dan perbedaan
antara dua atau lebih gejala atau keadaan. Dalam audit terhadap kegiatan
keuangan misalnya, pemeriksa melakukan pekerjaan membandingkan seperti:
 Membandingkan realisasi penerimaan/pengeluaran dengan jumlah menurut
anggaran.

16
 Membandingkan pelaksanaan sebenarnya di bidang keuangan dengan
pelaksanaan di waktu-waktu yang lalu,dengan patokan lainnya yang dipakai
oleh badan usaha yang bersangkutan.
Hasil pekerjaan membandingkan biasanya dilanjutkan dengan melakukan
analisis sebab-sebab terjadinya penyimpangan. Demikian pula dengan
pemeriksaan terhadap kegiatan-kegiatan teknis operasional, pemeriksa
senantiasa melakukan perbandingan antara patokan patokan atau standar-
standar yang berlaku dengan pelaksanaan yang sebenarnya, serta menganalisis
perbedaan-perbedaannya.
h) Penelaahan Dokumen
Pada umumnya cukup banyak dokumen yang tersedia pada suatu
organisasi untuk ditelaah: bagan arus, bagan organisasi, manual prosedur,
manual operasi, manual referensi, notulen rapat, surat perjanjian, dan catatan-
catatan historis lainnya. Dokumen-dokumen tersebut bias dengan mudah
diperoleh bisa pula sangat sulit, tergantung pada masing-masing organisasi.
Dalam situasi yang baik, seluruh dokumen yang dibutuhkan dapat diperoleh di
perpustakaan pusat, tetapi ada banyak situasi dokumen-dokumen harus
dikumpulkan satu per satu lebih dulu.Jika mungkin, dokumen-dokumen penting
harus ditelaah sebelum melakukan wawancara.Terutama untulk bagan akun,
bagan organisasi, dan notulen rapat dewan direksi. Dokumen dokumen ini dapat
membantu untuk memperoleh pemahaman menyeluruh mengenai organisasi.
Pada saat menelaah dokumen, perlu diingat bahwa sistem umumnya tidak
beroperasi dan dijalankan sesuai yang didokumentasikan. Dalam beberapa
situasi, perubahan-perubahan dapat dibuat dalam sistem tanpa pemutakhiran atas
dokumen-dokumen yang terkait.Oleh karena itu, auditor tidak dapat mendasarkan
sepenuhnya pada dokumentasi saat memahami operasi sistem. Dalam beberapa
kasus, penyimpangan-penyimpangan antara kinerja system aktual dan kinerja
sistem terdokumetasi dapat mengindikasikan adanya masalah. Oleh karena itu,
auditor harus membuat penilaian keseluruhan berkaitan dengan status dokumen
tertentu sehubungan dengan arti pentingnya terhadap kebijakan perusahaan.Jika
dokumen sudah mewakili kebijakan perusahaan berjalan, maka pelanggaran atas
kebijakan dapat dibuktikan.
Dokumentasi yang bermanfaat adalah diagram (flowchart / diagram arus
data). Data Flow Diagram (DFD) berbeda dengan flowchart dalam hal fokus, DFD
lebih mudah untuk komunikasi, tetapi flowchart lebih komprehensif untuk cek
pengendalian intern. DFD merupakan teknik sistem yang populer, namun ditinjau

17
dari kebutuhan evaluasi terhadap sistem pengendalian intern, diagram ini kurang
memadai.

2.6. Performance Measurement Tools


Performance mesurement tools adalah merupakan tools pendukung
bagiauditor dalam memperoleh bahan bukti audit yang berkaitan dengan efisiensi
sistem. Auditor dapat menggunakannya dalam melakukan diagnosa problem dan
terapi sistem yang sudah operasional, serta memperkirakan parameter yang
diperlukan dalam menyusun model analisis-simulasi kinerja sistem. Beberapa hal yang
perlu dipahami oleh auditor adalah:
a) Indikator kinerja untuk menentukan sistem bekerja dengan baik atau
tidak.Contohnya misalnya, dalam suatu sistem berbasis teknologi on-line,
masalahresponse time menjadi salah satu indikator penting.
b) Parameter workload untuk menentukan sumberdaya yang diperlukan, misalnya di
dalam system berbasis on-line, auditor perlu mengamati rata-rata pemakian
terminal oleh users, disk storage space, serta jumlah CPU(central processing unit)
time. Dalam sistem batch, auditor mungkin perlumemeriksa banyaknya dokumen
per batch, banyaknya transaksi yang akanmeng-update master-file serta perkiraan
computer-time yang diperlukan.
c) Parameter system yang dapat dipergunakan oleh auditor untuk menentukanfaktor-
faktor yang mempengaruhi kinerja sistem dan kaitannya denganworkload.
Misalnya, auditor mungkin berkepentingan dengan rata-rataresponse-time
terhadap remote request, rata-rata transmission errors, jumlahterminal yang
tersedia untuk perekaman, dan waktu yang diperlukan untukcryptographic device
dalam encrypt/ decrypt data.

2.7. ISACA Audit Guidelines


Dalam IS Audit Guidelines (ISACA, 2005, p.18) disinggung pula mengenaibukti
audit. Berbagai bukti audit lain, selain yang disinggung di atas menurutguidelines ini
adalah:
 Observed processesand existence of physical items (misalnya: media
yangdisimpan di lokasi offsite storage, computer room security).
 Documentary audit evidence (dalam bentuk dokumentasi kertas, atau medialain
seperti hasil extract data, program listings, control logs, dokumentasisystems
documentation)

18
 Representations atau hasil pemeriksaan (kebijakan dan prosedur tertulis, systems
flowchart,pernyataan lisan/ tertulis).
 Hasil analisis auditor, termassuk: pembandingan, simulasi, kalkulasi, danpendapat
auditor, benchmarking dengan kinerja organisasi lain atau periode/tahun lain,
pembandingan masalah atau tingkat error antar aplikasi,transaksi, dan sebagainya.
Dalam melakukan pengumpulan bukti pemeriksaan, auditor harus mem-
pertimbangkan berbagai hal, misalnya masalah yang bersifat alami dan unsur waktu.
Contohnya ialah data hasil proses online atau data yang diolah dengan office automation
systems (misalnya spreadsheet) harus dilihat unsur waktunya. Masalahnya ialah karena
auditor harus yakin apakah bukti data yangada adalahdata asli yang diolah (status segera
setelah transaksi) atau jangan-jangan data tersebut sudah mengalami perubahan, atau
sudah dirubah!

2.8. Evaluasi Bukti Pemeriksaan


Setelah bukti-bukti audit dikumpulkan, auditor harus mengevaluasi seluruh isi
dari bukti-bukti tersebut sesuai dengan tujuan dari audit dan kemudian:
 Dilakukan tests of controis yang bertujuan untuk mengetahui apakahpengendalian
yang ada telah dilakukan sesuai dengan prosedur yang telahditetapkan.
 Dilakukan substantive test, yang terdiri dari:
 Tests of transactions yang bertujuan untuk mengevaluasi apakah terdapat
kekeliruan atau kesalahan di dalam pemrosesan transaksi yang menyebabkan
ketidak akuratan informasi keuangan.
 Tests of balances or overall results yang bertujuan untuk menjamin laporanyang
dihasilkan adalah benar dan akurat.
Bukti-bukti yang telah dikumpulkan dan dievaluasi sebagaimana butir b)di atas,
digunakan untuk mendukung suatu kesimpulan yang positif maupun negatif mengenai
kegiatan operasi, pengendalian atau informasi yang diaudit. Jika bukti-bukti tersebut
kurang meyakinkan dan memerlukan bukti-bukti lain, auditor akan merencanakan dan
melaksanakan prosedur-prosedur tambahan sampai terkumpul bukti yang cukup untuk
memperoleh kesimpulan yang terbaik. setelah pekerjaan pemeriksaan diselesaikan
dan kesimpulan akhir telah dicapai, pemeriksa menyiapkan laporan mengenai temuan
dan rekomendasinya. Setelah melakukan komunikasi terhadap hasil-hasil
pemeriksaan, sebaiknya pemeriksa melaksanakan suatu studi tindak lanjut untuk
meyakinkan bahwa rekomendasinya telah dilaksanakan.

a. Evaluasi Asset Saveguarding & Data Integrity

19
Untuk mengukur seberapa baik saveguardingassets maupun data integrity,
auditor memerlukan skala pengukuran, karena keamanan assets dan dataintegrity
bukan sesuatu yang ukurannya mutlak jelek dan mutlak baik, tetapiberada dalam
rentang keduanya.
Tingkat keamanan assets dapat diukur dari expected loss jika assets
rusak,dicuri, atau digunakan oleh orang yang tidak berwenang atau untuk tujuan
yangsalah. Misalnya, jika terdapat 30 % $900 jika assets rusak (sehingga revenue
yangseharusnya diterima sebesar itu hilang), 60% barang tersebut seharga
$1000dicuri, dan 10% barang hilang $1200, maka
Expected loss = (10 %x900) +(60%x1000)+(10%x1200) 990.
Ukuran data integrity bergantung pada tujuan audit dan jenis datanya
sendiri,salah satu fokusnya ialah seberapa jauh internal controls dapat
mempreventif/deteksi/koreksi terhadap adanya kemungkinan kesalahan data. Bagi
auditor ekstern independen dalam general audit menilainya dari materialitas error
darinilai substansi akuntansi. Sedangkan bagi auditor intern, selain nilai uang juga
kuantitas barang yang salah, serta banyaknya terjadi kesalahan. Jadi tipe errors
berkaitan dengan data integrity adalah:
 Besarnya nilai (uang) pada error exists (makin besar nilai yang salah makinbesar
dampaknya terhadap penilaian auditor mengenai data integrity).
 The quantity errors, konsep ini hampir di atas tetapi bukan nilai rupiahmelainkan
kuantitas barang (jumlah on-hand for inventory), makin besarkesalahannya
berarti penilaian terhadap data integrity makin rendah.
 The number of errors (makin sering terjadi kesalahan, walaupun nilainva kecil,
akan semakin menurunkan penilaian terhadap data integrity).
Estimasi errors dalam data integrity sebiknya dinyatakan dalam probability
distribution of errors, karena penyebab kesalahan bisa terjadi akibat berbagai faktor,
misalnya: petugas tidak terlatih, waktu kerja (siang hari), motivasi dan keseriusan
petugas, dan sebagainya. Estimasi terhadap data integrity adalah kemungkinan-
kemungkinan penyebab kesalahan, berbeda dengan penilaian terhadap internal
control yang relatif fokusnya jelas. Deterministic error adalah error yang auditor
yakin bahwa penyebabnya jelas, misalnya kesalahan rumus di program,
seharusnya x 5 keliru x 3.

b. Evaluasi Efektivitas Sistem


Tujuan evaluasi efektivitas sistem adalah untuk mengukur seberapa bagus
sistem memenuhi kebutuhan para penggunanya. Dalam mengevaluasi efektivitas
sistem ditempuh enam tahap, yaitu: (a) indentifikasi tujuan/manfaat system yang
20
ingin dicapai, (b) pilih pengukuran yang akan digunakan, (c) identifikasi sumber
datanya, (d) tentukan ex-ante values dalam pengukuran, (e) tentukan ex-post
values pengukuran, dan (f) mengukur the system impact berdasarkan
pembandingan penilaian ex-ante dan ex-post tersebut.
Untuk membantu auditor dalam mengukur efektivitas software, ia
harusmemeriksa empat atribut:
 History of repair maintenance
 History of adaptive maintenance
 History of perfective maintenance (resources consumption)
 Run-time resource consumplion
Auditor perlu menyusun model tentang faktor-faktor yang dapat berpengaruh
terhadap efektivitas sistem dan keterkaitannya. Hal-hal yang berpengaruh terhadap
kecepatan waktu adalah
 Response-time (online) atau turnaround time (batch)
 Reliablity (stability) of the system (keandalan sistem)
 Ease of interaction with the system (kemudahan pemakaian)
 Usefulness of the functionality provided by the system (Manfaat features yang
ada)
 Ease of learning (mudah dipelajari/ digunakan).
 Quality of documentation and help facilities (kelengkapan dokumentasi dan
Help)
 Extent of integration with other systems (keterpaduan dengan sistem yang
lain yang ada)

c. Evaluasi Kegunaan
Evaluasi manfaat atau usefulness dapat dilakukan dengan menilai apakah:
 Komputerisasi memudahkan penyelesaian pekerjaan (enables to accomplish
tasks)
 Komnputerisasi meningkatkan kinerja (enables to improve their job performance)
 Komputerisasi meningkatakan produktivitas (enables to increase their
productivity)
 Komputerisasi meningkatkan efektivitas (enables to increase their
effectivenesson the job)
 Komputerisasi mempermudah bekerja (enables to work easier)

21
 Sistem informasi berguna dalam pelaksanaan tugasnya (IS to be useful in their
job).

d. Evaluasi Kemudahan Pakai


Untuk menentukan apakah suatu sistem aplikasi mudah dipakai, atauukuran
kemudahan pemakaian aplilkasi (ease of use) adalah:
 Sistem mudah dipelajari (easy to learn)
 Sistem bekerja seperti yang diharapkan/dipikirkannya (to do what they want to do)
 Sistem aplikasinya jelas dan mudah dipahami (clear and understandable way)
 Mudah dilakukan interaksi (interaction is flexible)
 Dengan dukungan komputerisasi maka kita akan lebih berkarya (can become
skillfull)
 Sistem mudah dioperasikan (the IS will be easy to use).
Untuk menilai efektivitas sistem informasi, salah satu tekniknya adalahdengan
mengukur tingkat kepuasan pengguna/pemakai (users).Untuk ituperlu disurvey atau
dikumpulkan pendapat tentang persepsi pengguna terhadapsistem. Hal-hal yang
perlu dimasukkan dalam penilaian ini (items included inuser satisfaction) adalah
antara lain:
 Hubungan relasi antar staff (relationships between IS staff)
 Proses bila terjadi permintaan perubahan (processing of system changerequest)
 Ketepatan waktu informasi yang dibutuhkan (timelines of information)
 Pelatihan yang diberikan kepada para calon pemakai (level of informationsystem
training provided to users)
 Relevansi laporan yang dihasilkan bagi dirinya (relevance of output)
 Banyaknya laporan yang dapat diperoleh (amount of output)
 Kelengkapan dokumentasi yang tersedia (quality of documentationprovided)
 Ketergantungan (dependability of the information system).

e. Evaluasi Efektivitas Ekonomis


Sedangkan untuk mengevaluasi efektivitas ditinjau dari sudut pandangsecara
ekonomis, dapat dinilai beberapa aspek berikut ini:
 Identifikasi benefit of IS, demikian juga the cost of IS
 Bandingkan manfaat dengan biaya (value the benefit & cost of the IS).
Dalammenilai hal ini harus diambil pertimbangan-pertimbangan yang luas,
karenamanfaat bisa bersifat langsung/ tidak langsung, maupun fisik dan non-
fisik(tangible dan intangible).

22
 Tentukan (determine) nilai the NPV of the IS.
 Perhatikan bahwa implementasi system informasi mungkin tidak mengungkan
secara uang, namun mempunyai manfaat yang lebih besar ditinjau dari aspek lain,
atau, memang harus dilakukan (misalnya kalau tidak perusahaan akan hancur
dalam persaingan).
Sedangkan ukuran kualitas information, seperti telah dibahas pada Bab-3
antara lain ditentukan oleh :Authenticity, Accurancy, Completeness, Timelines,
Relevances, Comprehensibility, Precision, Conciseness, Informativeness.

f. Evaluasi Efisiensi Sistem


Ada dua alasan auditor terlibat dalam pengukuran efisiensi sistem,
yaitu:manajemen mungkin memintanya memeriksa sistem yang ada untuk
menentukanapakah kinerja sistem dapat ditingkatkan atau dibuat alternatif lain. Untuk
itutetapkan tujuan pemeriksaan, siapkan anggaran untuk kegiatan evaluasi
tersebut,tentukan indikator-indikator kinerja, susun workload model, susun
systemconfiguration model, percobaan, analisis hasilnya, dan beri rekomendasi.
Indeks kinerja pengukuran efisiensi dapat dibedakan dalam empat jenis:(a)
indikator ketepatan waktu, seberapa cepat sistem menyajikan output yangdibutuhkan
oleh users, (b) indikator throughput, mengukur seberapa banyak yangdilakukan sistem
dalam periode waktu tertentu, (c) indikator utilization, untukmengukur tingkat
kesibukan sistem, dan (d) indikator reliability, untuk mengukurtingkat
ketersediaan/kesiapan sistem untuk memproses the user's workload.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Bukti audit adalah segala informasi yang mendukung angka-angka atau informasi
lain yang disajikan dalam laporan keuangan, yang dapat digunakan oleh auditor sebagai
dasar yang layak untuk menyatakan pendapatnya.
Bukti-bukti audit haruslah reliable dan terpercaya. Faktor-faktor lainnya
adalah:Independensi sumber.Bukti didapatkan secara langsung oleh auditor.Kontrol
internal lebih dari informasi internal.Dokumen-dokumen yang ditulis.Dokumen
asli.Konsistensi bukti dari sumber yang berbeda.

23
Instrumen Pemeriksaan : Observasi (Pengamatan), Wawancara/Tanya-jawab
(Interview), Kuesioner (Tanya-jawab Tertulis), Konfirmasi, Inspeksi Fisik, Prosedur
Analisis, Perbandingan, dan Penelaahan Dokumen.
Oleh Arens dan Loebbecke, Pemeriksaan fisik didefinisikan sebagai pemeriksaan
atau penghitungan yang dilakukan oleh auditor atas tangible asset. Jenis bukti audit ini
sering berhubungan dengan persediaan, kas dan juga termasuk verifikasi investasi,
piutang dan tangible fixed assetBukti audit fisik (physical evidence) terdiri dari semua yang
dapat dihitung, diperiksa, diamati, atau diinspeksi. Bukti audit ini, melalui bukti langsung
(faktual), menyediakan dukungan utama bagi tujuan eksistensi.
Setelah bukti-bukti audit dikumpulkan, auditor harus mengevaluasi seluruh isi
dari bukti-bukti tersebut sesuai dengan tujuan dari audit dan kemudian:
 Dilakukan tests of controis yang bertujuan untuk mengetahui apakahpengendalian
yang ada telah dilakukan sesuai dengan prosedur yang telahditetapkan.
 Dilakukan substantive test, yang terdiri dari:
 Tests of transactions yang bertujuan untuk mengevaluasi apakah terdapat
kekeliruan atau kesalahan di dalam pemrosesan transaksi yang menyebabkan
ketidak akuratan informasi keuangan.
 Tests of balances or overall results yang bertujuan untuk menjamin laporanyang
dihasilkan adalah benar dan akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Gonodiyoto, Sanyoto. 2007. Audit Sistem Informasi Pendekatan CobIT. Jakarta:


Penerbit Mitra Wacana Media.

24