Anda di halaman 1dari 12

I.

KASUS
Judul : Ansietas

II. PROSES TERJADINYA MASALAH


1. Pengertian
Kecemasan adalah suatu perasaan tidak santai yang samar-samar
karena ketidaknyamanan atau rasa takut yang disertai suatu respons
(penyebab tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu). Perasaan
takut dan tidak menentu sebagai sinyal yang menyadarkan bahwa
peringatan tentang bahaya akan datang dan memperkuat individu
mengambil tindakan menghadapi ancaman.
Kejadian dalam hidup seperti menghadapi tuntutan, persaingan, serta
bencana dapat membawa dampak terhadap kesehatan fisik dan
psikologis. Salah satu contoh dampak psikologis adalah timbulnya
kecemasan atau ansietas.

2. Rentang Respon
1. Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan
sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan
meningkatkan lahan persepsinya. Ansietas menumbuhkan motivasi
belajar serta menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.
2. Ansietas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan
perhatian pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain,
sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif tetapi dapat
melakukan sesuatu yang lebih terarah.
3. Ansietas berat sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Adanya
kecenderungan untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan
spesifik dan tidak dapat berpikir tentang hal lain. Semua perilaku
ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Orang tersebut memerlukan
banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain.
4. Tingkat panik dari ansietas berhubungan dengan ketakutan dan
merasa diteror, serta tidak mampu melakukan apapun walaupun dengan
pengarahan. Panik meningkatkan aktivitas motorik, menurunkan
kemampuan berhubungan dengan orang lain, persepsi menyimpang,
serta kehilangan pemikiran rasional.

Respon adaptif Respon maladaptif


Antisipasi Ringan Sedang Berat Panik

3. Penyebab
A. Faktor Predisposisi
Terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan ansietas, di antaranya
sebagai berikut.
1. Faktor biologis.
Otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepine. Reseptor ini
membantu mengatur ansietas. Penghambat GABA juga berperan utama
dalam mekanisme biologis berhubungan dengan ansietas sebagaimana
halnya dengan endorfin. Ansietas mungkin
disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas
seseorang untuk mengatasi stresor.
2. Faktor psikologis
a. Pandangan psikoanalitik. Ansietas adalah konflik emosional
yang terjadi antara antara dua elemen kepribadian—id dan superego.
Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan
superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan
oleh norma-norma budaya seseorang. Ego atau aku berfungsi
menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan dan fungsi
ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
b. Pandangan interpersonal. Ansietas timbul dari perasaan takut
terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal.
Ansietas berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti
perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kelemahan spesifik.
Orang yang mengalami harga diri rendah terutama mudah
mengalami perkembangan ansietas yang berat.
c. Pandangan perilaku. Ansietas merupakan produk frustasi yaitu
segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk
mencapai tujuan yang diinginkan. Pakar perilaku menganggap
sebagai dorongan belajar berdasarkan keinginan dari dalam untuk
menghindari kepedihan. Individu yang terbiasa dengan kehidupan
dini dihadapkan pada ketakutan berlebihan lebih sering
menunjukkan ansietas dalam kehidupan selanjutnya.
3. Sosial budaya
Ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam keluarga. Ada
tumpang tindih dalam gangguan ansietas dan antara gangguan
ansietas dengan depresi. Faktor ekonomi dan latar belakang
pendidikan berpengaruh terhadap terjadinya ansietas.
Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi dibedakan menjadi berikut.
1. Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan
fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk
melakukan aktivitas hidup sehari-hari.
2. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan
identitas, harga diri, dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.
4. Tanda dan Gejala
Keluhan pada orang yang mengalami ansietas, antara lain sebagai
berikut:
a. Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah
tersinggung.
b. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.
c. Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang .
d. Gangguan pola tidur, mimpi (mimpi yang menegangkan).
e. Gangguan konsentrasi dan daya ingat.
f. Keluhan (keluhan somatik, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang,
pendengaran berdenging (tinitus), berdebar-debar, sesak napas,
gangguan pencernaan, gangguan perkemihan, sakit kepala dan
sebagainya.

5. Akibat

Tingkat Respon fisik Respon kognitif Respon


ansietas emosional
Ringan -Ketegangan otot -Lapang persepsi luas -Perilaku otomatis
ringan -Terlihat tenang, percaya -Sedikit tidak sabar
-Sadar akan diri -Aktivitas
lingkungan -Perasaan gagal sedikit menyendiri
-Rilaks atau sedikit -Waspada dan -Terstimulasi
gelisah memerhatikan banyak hal -Tenang
-Penuh perhatian -Mempertimbangkan
-Rajin informasi
-Tingkat pembelajaran
optimal

Sedang -Ketegangan otot -Lapang persepsi menurun -Tidak nyaman


sedang -Tidak perhatian secara -Mudah tersinggung
-Tanda-tanda vital efektif -Kepercayaan diri
meningkat -Fokus terhadap stimulus goyah
-Pupil dilatasi, mulai meningkat -Tidak sabar
berkeringat -Rentang perhatian -Gembira
-Sering mondar- menurun
mandir, memukul -Penyelesaian masalah
tangan menurun
-Suara berubah: -Pembelajaran terjadi
bergetar, nada suara dengan memfokuskan
tinggi
-Kewaspadaan dan
ketegangan
meningkat
-Sering berkemih,
sakit kepala, pola
tidur berubah, nyeri
punggung
Berat -Ketegangan otot berat -Lapang persepsi terbatas -Sangat cemas
-Hiper ventilasi -Proses berfikir terpecah- -Takut
-Kontak mata buruk pecah -Bingung
-Pengeluaran keringat -Sulit berfikir -Merasa tidak
meningkat -Penyelesaian masalah adekuat
-Bicara cepat, nada buruk -Menarik diri
suara tinggi -Tidak mampu -Ingin bebas
-Tindakan tanpa tujuan mempertimbangkan
dan serampangan informasi
-Rahang menegang, -Hanya memerhatikan
mengerakan gigi ancaman
-Kebutuhan ruang -Preokupasi dengan pikiran
gerak meningkat sendiri
-Mondar-mandir, -Egois
teriak
-Meremas tangan,
gemetar
Panik -Flight, fight atau -Persepsi sangat sempit -Merasa terbebani
freeze -Pikiran tidak logis, -Merasa tidak
-Ketegangan otot terganggu mampu, tidak
sangat berat -Kepribadian kacau berdaya
-Pupil dilatasi -Tidak dapat -Lepas kendala
-Tanda-tanda vital menyelesaikan masalah -mengamuk, putus
meningkat kemudian -Fokus pada pikiran sendiri asa
menurun -Tidak rasional -marah, sangat takut
-Tidak dapat tidur -Sulit memahami stimulus -mengharap hasil
-Hormon stres dan eksternal yang buruk
nourotransmiter -Halusinasi, waham, ilusi -Kaget, takut
berkurang mungkin terjadi -Lelah
-Wajah menyeringai,
mulut ternganga

III. A. POHON MASALAH

Risiko mencederai diri sendiri,


orang lain dan lingkungan

Gangguan perilaku : kecemasan Problem

Koping individu tak efektif

Stressor
B. MASALAH KEPERAWATAN YANG PERLU DIKAJI
Faktor Predisposisi
Menurut Stuart dan Laraia (1998) terdapat beberapa teori yang dapat
menjelaskan ansietas, di antaranya sebagai berikut.
1. Faktor biologis.
Otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepine. Reseptor ini
membantu mengatur ansietas. Penghambat GABA juga berperan utama
dalam mekanisme biologis berhubungan dengan ansietas sebagaimana
halnya dengan endorfin. Ansietas mungkin disertai dengan gangguan fisik
dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stresor.
2. Faktor psikologis
a. Pandangan psikoanalitik. Ansietas adalah konflik emosional yang terjadi
antaraantara dua elemen kepribadian—id dan superego. Id mewakili
dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan superego
mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-
norma budaya seseorang. Ego atau aku berfungsi menengahi tuntutan
dari dua elemen yang bertentangan dan fungsi ansietas adalah
mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
b. Pandangan interpersonal. Ansietas timbul dari perasaan takut terhadap
tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal. Ansietas
berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan
kehilangan, yang menimbulkan kelemahan spesifik. Orang yang
mengalami harga diri rendah terutama mudah mengalami perkembangan
ansietas yang berat.
c. Pandangan perilaku. Ansietas merupakan produk frustasi yaitu segala
sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai
tujuan yang diinginkan. Pakar perilaku menganggap sebagai dorongan
belajar berdasarkan keinginan dari dalam untuk menghindari kepedihan.
Individu yang terbiasa dengan kehidupan dini dihadapkan pada
ketakutan berlebihan lebih sering menunjukkan ansietas dalam
kehidupan selanjutnya.
3. Sosial budaya
Ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam keluarga. Ada tumpang
tindih dalam gangguan ansietas dan antara gangguan ansietas dengan
depresi. Faktor ekonomi dan latar belakang pendidikan berpengaruh
terhadap terjadinya ansietas.

Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi dibedakan menjadi berikut.
1. Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan
fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan
aktivitas hidup sehari-hari.
2. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas,
harga diri, dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.

Sumber Koping
Individu mengatasi ansietas dengan menggerakkan sumber koping di
lingkungan.

Mekanisme Koping
Tingkat ansietas sedang dan berat menimbulkan dua jenis mekanisme
koping yaitu sebagai berikut.
1. Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan
berorientasi pada tindakan untuk memenuhi secara realistik tuntutan situasi
stres, misalnya perilaku menyerang untuk mengubah atau mengatasi
hambatan pemenuhan kebutuhan. Menarik diri untuk memindahkan dari
sumber stres. Kompromi untuk mengganti tujuan atau mengorbankan
kebutuhan personal.
2. Mekanisme pertahanan ego membantu mengatasi ansietas ringan dan
sedang, tetapi berlangsung tidak sadar, melibatkan penipuan diri, distorsi
realitas, dan bersifat maladaptif.
IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Kecemasan
V. RENCANA KEPERAWATAN
Tindakan Keperawatan untuk Pasien
1. Tujuan
a. Pasien mampu mengenal ansietas.
b. Pasien mampu mengatasi ansietas melalui teknik relaksasi.
c. Pasien mampu memperagakan dan menggunakan teknik relaksasi
untuk mengatasi ansietas.
2. Tindakan keperawatan
a. Bina hubungan saling percaya. Dalam membina hubungan saling
percaya perlu dipertimbangkan agar pasien merasa aman dan
nyaman saat berinteraksi. Tindakan yang harus dilakukan dalam
membina hubungan saling percaya adalah sebagai berikut.
1) Mengucapkan salam terapeutik.
2) Berjabat tangan.
3) Menjelaskan tujuan interaksi.
4) Membuat kontrak topik, waktu, dan tempat setiap kali bertemu
pasien.
b. Bantu pasien mengenal ansietas.
1) Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan menguraikan
perasaannya.
2) Bantu pasien menjelaskan situasi yang menimbulkan ansietas.
3) Bantu pasien mengenal penyebab ansietas.
4) Bantu pasien menyadari perilaku akibat ansietas.
c. Ajarkan pasien teknik relaksasi untuk meningkatkan kontrol dan rasa
percaya diri.
1) Pengalihan situasi.
2) Latihan relaksasi dengan tarik napas dalam, mengerutkan, dan
mengendurkan otot-otot.
3) Hipnotis diri sendiri (latihan lima jari).
d. Motivasi pasien melakukan teknik relaksasi setiap kali ansietas
muncul.

Tindakan Keperawatan untuk Keluarga


1. Tujuan:
a. Keluarga mampu mengenal masalah ansietas pada anggota keluarganya.
b. Keluarga mampu memahami proses terjadinya masalah ansietas.
c. Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami ansietas.
d. Keluarga mampu mempraktikkan cara merawat pasien dengan ansietas.
e. Keluarga mampu merujuk anggota keluarga yang mengalami ansietas.
2. Tindakan keperawatan
a. Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien.
b. Diskusikan tentang proses terjadinya ansietas serta tanda dan gejala.
c. Diskusikan tentang penyebab dan akibat dari ansietas.
d. Diskusikan cara merawat pasien dengan ansietas dengan cara
mengajarkan teknik relaksasi.
1) Mengalihkan situasi.
2) Latihan relaksasi dengan napas dalam, mengerutkan, dan
mengendurkan otot.
3) Menghipnotis diri sendiri (latihan lima jari).
e. Diskusikan dengan keluarga perilaku pasien yang perlu dirujuk dan
bagaimana merujuk pasien.

VI. SPTK
SP Pasien SP Keluarga
SP1 : SP 1 :
1. Membantu pasien mengenal 1. Mendiskusikan masalah yang
ansietas dirasakan keluarga dalam
(tanda,gejala,penyebab dan merawat pasien pasien
akibat) 2. Membantu keluarga mengenal
2. Mengajarkan teknik ansietas pasien
pengalihan situasi/ distraksi (tanda,gejala,penyebab dan
akibat)
3. Latihan melakukan teknik 3. Mengajarkan teknik
pengalihan situasi/distraksi pengalihan situasi/ distraksi
4. Latihan melakukan teknik
pengalihan situasi/distraksi
SP2 SP 2
1. Evaluasi kemampuan pasien 1. Evaluasi kemampuan keluarga
mengenal ansietas mengenal ansietas
2. Evaluasi kemampuan distraksi 2. Evaluasi kemampuan keluarga
3. Mengajarkan relaksasi nafas dalam distraksi
dalam 3. Mengajarkan relaksasi nafas
4. Latihan relaksasi nafas dalam dalam
4. Latihan relaksasi nafas dalam.
SP 3 SP 3
1. Evaluasi kemampuan pasien 1. Evaluasi kemampuan keluarga
mengenal masalah mengenal masalah
2. Evaluasi kemampuan distraksi 2. Evaluasi kemampuan distraksi
dan relaksasi nafas dalam dan relaksasi
3. Melatih pasien untuk relaksasi 3. Melatih keluarga untuk
otot relaksasi otot
4. Latihan relaksasi otot 4. Latihan relaksasi otot
5. Atur posisi senyaman
mungkin, santai
6. Konsentrasi thd gerakan otot
seluruh tubuh
 Latihan otot wajah
 Latihan otot leher
 Latihan otot punggung
 Latihan otot perut
 Latihan otot panggul
 Latihan otot tangan dan
kaki

SP4 SP 4
1. Evaluasi kemampuan 1. Evaluasi kemampuan mengenal
mengenal ansietas ansietas
2. Evaluasi kemampuan 2. Evaluasi kemampuan distraksi,
distraksi, relaksasi nafas relaksasi nafas dalam dan
dalam dan relaksasi otot relaksasi otot
3. Melatih hipnotik limajari 3. Melatih hipnotik limajari
4. Latihan hipnotik 5 jari 4. Latihan hipnotik 5 jari
5. Latih sampai membudaya 5. Latih sampai membudaya
6. Nilai kemampuan mengatasi 6. Nilai kemampuan mengatasi
anxietas anxietas
7. Nilai apakah anxietas teratasi 7. Nilai apakah anxietas teratasi

VII. DAFTAR RUJUKAN


Direja. S. H, Ade. 2011. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta. Nuha
Medika
Ah. Yusuf,dkk. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta.
Salemba Medika
Damaiyanti, Mukhripah & Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan jiwa.
Gunarsa, Aep (ed). Bandung. PT Refika Aditama
Yosep, Iyus. 2011. Buku saku keperawatan jiwa edisi revisi. Bandung : PT
Refika Aditama