Anda di halaman 1dari 19

BAB 4

SISTEM KEUANGAN SYARIAH

Sistem keuangan syariah terkait erat dengan harta kekayaan, akad transaksi yang diperbolehkan
dan dilarang syariah. Bagaiman pengeloalaan harta itu dilakukan merujuk kepada Al-Quran dan
As-Sunah, agar harta yang dimiliki menjadi halal dan bernilai tidak hanya di dunia tapi juga di
kehidupan akhirat kelak.

KONSEP MEMELIHARA HARTA KEKAYAAN

Memelihara harta, bertujuan agar harta yang dimiliki oleh manusia diperoleh dan digunakan
sesuai dengan syariah sehingga harta yang dimiliki halal dan sesuai dengan keinginan pemilik
mutlak dan harta kekayaan tersebut yaitu Allah SWT.

ANJURAN BEKERJA ATAU BERNIAGA

Islam mengajurkan manusia untuk bekerja dan berniaga, dan menghindari kegiatan meminta-
minta salam mencari harta kekayaan. Manusia memerlukan harta kekayaan sebagai alat untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari termasuk untuk memenuhi sebagian perintah Allah
seperti infak, zakat, pergi haji,perang ( jihad ) dan sebagainya.

KONSEP KEPEMILIKAN

Harta yang baik harus memenuhi dua kriteria, yaitudiperoleh dengan cara yang sah dan benar (
legal and fair ), serta dipergunakan dengan dan untuk hal yang baik-baik di jalan Allah SWT.

Allah SWT adalah pemilik mutlak segala sesuatu yang ada di dunia ini ( QS 57:2 ), sedangkan
manusia adalah wakil ( khalifah ) Allah di muka bumi ini yang diberi kekuasaan untuk
mengelola.

PEROLEHAN HARTA

Memperoleh harta adalah aktivitas ekonomi yang masuk dalam kategori ibadah muamalah (
mengatur manusia dengan manusia ). Kaidah fikih dari muamalah adalah semua halal dan boleh
dilakukan kecuali yang diharamkan/ dilarang dalam Al-Quran dan As-Sunah. Harta dikatakan
halal dan baik apabila niatnya benar, tujuannya benar dan cara atau sarana untuk memperolehnya
juga benar, sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh Al-Quran dan As-Sunah.

Perhitungan untung atau rugi harus berorientasi jangka panjang, yaitu mempertimbangkan
perhitungan untuk kepentingan akhirat.

PENGGUNAAN DAN PENDISTRIBUSIAN HARTA

Ketentuan syariah berkautan dengan harta, antara lain:


Tidak boros dan kikir

Memberi infak dan shadaqah

Membayar zakat sesuai ketentuan

Memberi pinjaman tanpa bunga ( qardhul hasan )

Meringankan kesulitan orang yang berhutang

AKAD/ KONTRAK/ TRANSAKSI

Akad dalam bahasa Arab ‘al-‘aqd, jamaknya ‘al-‘uqud, berarti ikatan atau mengikat ( al-rabht ).
Menurut terminologi hukum Islam, akada adalah pertalian antara penyerahan ( ijab ) dan
penerimaan ( qabul ) yang dibenarkan oleh syariah, yang menimbulkan akibat hukum terhadap
objeknya.

JENIS AKAD

Fikih muamalat membagi lagi akad menjadi dua bagian, yakni:

AKAD TABARRU’ ( gratuitous contract ) adalah perjanjian yang merupakan transaksi yang
tidak ditujukan untuk memperoleh laba ( transaksi nirlaba ).

Ada 3 bentuk akad tabarru’:

Meminjamkan Uang

Memijamkan uang termasuk akad tabarru’ karena tidak boleh melebihkan pembayaran atas
pinjamn yang kita berikan, karena setiap kelebihan tanpa ‘iwad adalah riba. Ada minimal 3 jenis
pinjaman, yaitu:

Qardh: merupakan pinjam yang diberikan tanpa mensyaratkan apa pun, selain mengembalikan
pinjaman tersebut setelah jangka waktu tertentu.

Rahn: merupak pinjaman yang mensyaratkan suatu jaminan dalam bentuk atau jumlah tertentu.

Hiwalah adalah bentuk pinjaman dengan cara mengambil ahli piutang dari pihak lain.

Memijamkan Jasa

Meminjamkan jasa berupa keahlian atau keterampilan termasuk akad tabarru’. Ada minimal 3
jenis pinjaman, yaitu:
Wakalah: memberikan pinjaman berupa kemampuan kita saat ini untuk melakukan sesuatu atas
nama orang lain.

Wadi’ah: merupakan bentuk turunan akad wakalah, dimana pada akad ini telah dirinci/
didetailkan tentang jenis pemeliharaan dan penitipan.

Kafalah: juga merupakan bentuk turunan akad wakalah, dimana pada akad ini terjadi atas
wakalah bersyarat ( contingent wakalah ).

Membeikan sesuatu

Ada minimal 3 bentuk akad ini:

Waqaf: merupakan pemberian dan penggunaan pemberian yang dilakukan tersebut untuk
kepentingan umum dan agama, serta pemberian itu tidak dapat dipindahkantangankan .

Hibah, Shadaqah: merupakan pemberian suatu secara sukarela kepada orang lain.

AKAD TIJARAH ( compensational contract ) merupakan akad yang ditujukan untuk


memperoleh keuntungan. Dari sisi kepastian hasil yang diperoleh, akad ini dapat dibagi 2, yaitu:

Natural Uncertainty Contract, merupakan kontrak yang diturunkan dari teori pencampuran
dimana pihak yang bertransaksi saling mencampurkan asset yang mereka miliki menjadi satu,
kemudian menanggung risiko bersama-sama untuk mendapatkan keuntungan.

Natural Certainty Contract: merupakan kontrak yang diturunkan dari teori pertukaran dimana
kedua belah pihak saling mempertukarkan aset yang dimilikinya.

RUKUN DAN SYARAT AKAD

Rukun dan syartat sahnya suatu akad ada tiga, yaitu:

Pelaku yaitu para pihak yang melakukan akad ( penjual dan pembeli, penyewa dan yang
menyewakan, karyawan dan majikan, shahibul maal dan mudharib, mitra dengan mitra dalam
musyarakah dan lain sebagainya).

Objek akad merupakan konsekuensi yang harus ada dengan dilakukannya suatu transaksi
tertentu.

Ijab qabul merupakan kesepakatan dari para pelaku dan menunjukkan mereka saling rida.
TRANSAKSI YANG DILARANG

Hal yang termasuk transaksi yang dilarang adalah sebagai berikut:

Aktivitas Bisnis Terkait Barang dan Jasa yang Diharamkan Allah

Aktivitas investasi dan perdagangan atau semua transaksi yang melibatkan barang dan jasa yang
diharamkan Allah seperti babi, khamar atau minuman yang memabukkan, narkoba, dan
sebagainya.

Riba

Riba berasal dari bahasa Arab yang berarti tambahan ( Al-Ziyadah ), berkembang ( An-Nuwuw
), meningkat ( Al-Irtifa’ ), dan membesar ( Al-‘uluw ).

Imam Sarahhzi mendefinisikan riba sebagai tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis
tanpa adanya suatu penyeimbang ( ‘iwad ) yang dibenarkan syariah atas penambahn tersebut.
Setiap penambahan yang diambil tanpa adanya suatu penyeimbang atau pengganti ( ‘iwad )
dibenarkan syariah adalah riba.

Jenis Riba:

Riba Nasi’ah adalah riba yang muncuk karena utang-piutang, riba nasi’ah dapat trjadi dalam
segala jenis transaksi kredit atau utang-piutang dimana satu satu pihak harus membayar lebih
besar dari pokok pinjamannya.

Ria Fadhl adalah riba yang muncul karena transaksi pertukaran atau barter.

PENGARUH RIBA PADA KEHIDUPAN MANUSIA

Imam Razi mencoba menjelaskan alasan mengapa bunga dalam Islam dilarang, antara lain (
Qardhawi, 2000 ):

Riba merupakan transaksi yang tidak adil dan mengakibatkan peminjam jatuh miskin karena
dieksploitasi.

Riba akan menghalangi orang untuk melakukan usaha karena pemilik dapat menambah hartanya
dengan transaksi riba baik secara tunai maupun berjangka.

Riba akan menyebabkan terputusnya hubungan baik antar masyrakat dalam bidang pinjam
meminjam.

Pada umumnya orang yang memberikan pinjaman adalah orang kaya, sedang yang meminjam
adalah oarang miskin.

PERBEDAAN RIBA DAN JUAL BELI


No. JUAL BELI RIBA
1. Dihalalkan oleh Allah SWT Diharamkan oleh Allah SWT
2. Harus ada pertukaran barang atau Tidak ada pertukaran barang dan
manfaat yang diberikan sehingga ada keuntungan / manfaat hanya
keuntungan/ manfaat yang diperoleh diperoleh oleh penjual.
pembeli dan penjual.
3. Karena ada yang ditukarkan, harus ada Tidak ada beban yang ditanggung
beban yang ditanggung oleh penjual. oleh penjual.
4. Memiliki risiko Untung Rugi, sehingga Tidak memiliki risiko sehingga tidak
diperlukan kerja/ usaha, kesungguhan diperlukan kerja/usaha, kesungguhan
dan keahlian. dan keahlian.

Penipuan

Penipuan dalam kualitas, misalnya dengan mencampur barang baik dengan yang buruk atau
barang yang dijual memiliki cacat tapi disembunyikan. Penipuan dalam kuantitas, misalnya
mengurangi timbangan. Penipuan dalam harga ( ghaban ), misalnya menjual barang dengan
harga yang terlalu tinggi pada orang yang tidak mengetahui harga wajar barang tersebut.
Penipuan dalam waktu, misalnya orang penyedia jasa menyanggupi menyelesaikan pesanan pada
waktu tertentu, sementara dia sangat sadar bahwa dengan sumber daya dan kendala yang
dimilikinya tidak mungkin dapat menyelesaikan waktu yang dijanjikan.

Perjudian

Transaksi perejudian adalah transaksi yang melibatkan dua pihak atau lebih, dimana mereka
menyerahkan uang/ harta kekayaan lainnya, kemudian mengadakan permainan tertentu, baik
dengan kartu, adu ketangkasan, kuis sms, tebak skor bola atau media lainnya.

Transaksi yang Mengandung Ketidakpastian/ GHARAR

Gharar terjadi ketika terdapat incomplete information, sehingga da ketidakpastian antara dua
belah pihak yang bertransaksi. Ketidakjelasan ini dapat menimbulkan pertikaian antara para
pihak dan ada pihak yang dirugikan. Ketidakjelasan dapat terjadi dala lima hal, yakni dalam
kuantitas, kualitas, harga, waktu penyerahan, dan akad.

Penimbunan Barang/ Ihtikar

Penimbunan adalah membeli sesuatu yang dibutuhkan masyarakat, kemudian menyimpannya,


sehingga barang tersebut berkurang di pasaran dan mengakibatkan peningkatan harga.
Penimbunan seperti ini dilarang karena dapat merugikan orang lain dengan kelangkaannya/ sulit
didapat dan harganya tinggi.
Monopoli

Monopoli biasanya dilakukan dengan membuat entry barrier, untuk menghambat produsen atau
penjual masuk ke pasaragar ia menjadi pemain tunggal di pasar dan dapat menghasilkan
keuntungan yang tinggi.

Rekaya Permintaan ( Bai’ an Najsy )

Ini termasuk kedalam kategori penipuan ( tadlis ), karena merekayasa permintaan, dimana satu
pihak berpura-pura mengajukan penawaran dengan harga yang tinggi, agar calon pembeli tertarik
dan membeli barang tersebut dengan harga yang tinggi.

Suap

Suap dilarang karena dapat merusak sistem yang ada didalam masyarakat, sehingga
menimbulkan ketidakadilan sosial dan persamaan perlakuan.

Penjual Bersyarat/ Ta’alluq

Terjadi apabila ada dua akad saling dikaitkan dimana berlakunya akad pertama tergantung pada
akad kedua; sehingga dapat mengakibatkan tidak terpenuhinya rukun ( sesuatu yang harus ada
dalam akad ).

Pembelian Kembali oleh Penjual dari Pihak Pembeli ( Bai’al Inah )

Misalnya, A menjual secara tunai pada B kemudian A membeli kembali barang yang sama dari
B secara kredit.

Jual Beli dengan Cara Talaqqi Al-Rukban

Jual beli dengan cara mencegat atau menjumpai pihak penghasil atau pembawa barang
perniagaan dan membelinya, dimana pihak penjual tidak mengetahui harga pasar atas barang
dagangan yang dibawanya sementara pihak pembeli mengharapkan keuntungan yang berlipat
dengan memanfaatkan ketidaktahuan mereka.

PRINSIP SISTEM KEUANGAN SYARIAH

Berikut ini adalah prinsip sistem keuangan Islam sebagaiman diatur melalui Al-Quran dan As-
Sunah:

Pelaranggan Riba
Pembagian Risiko

Menganggap Uang sebagai Modal Potensial

Larangan Melakukan Kegiatan Spekulatif

Kesucian Kontrak

Aktivitas Usaha Harus Sesuai Syariah

INSTRUMEN KEUANGAN SYARIAH

Dikelompokkan sebagai berikut:

Akad investasi yang merukan jenis akad tijarah dalam bentuk uncertainty contract. Kelompok
akad ini adalah sebagai berikut:

Mudharabah, yaitu bentuk kerja sama antara dua pihak atau lebih, dimana pemilik modal (
shahibul maal ) mempercayakan sejumlah modal kepagada pengelola ( mudharib )

Musyarakah, yaitu kerja sama yang terjadi antara para pemilik modal ( mitra musyarakah ) untuk
menggabungkan modal dan melakukan usaha secara bersama dalam suatu kemitraan.

Suku ( Obligasi Syariah ) merupakan surat utang yang sesuai dengan prinsip syariah.

Saham syariah produknya sesuai dengan syariah.

Akad jual beli/ sewa-menyewa yang merupakan jenis akad tijarah dengan bentuk certainty
contract, kelompok akad ini adalah sebagai berikut:

Murabahah adalah transaksi penjualan barang dengan menyatakan biaya perolehan dan
keuntungan ( margin ) yang disepakati antara penjual dan pembeli.

Salam adalah transaksi jual beli dimana barang yang diperjualbelikan belum ada.

Istishna’ memiliki sistem yang mirip dengan salam, dalam Istishna’ pembayaran dapat dilakukan
dimuka, cicilan dalam beberapa kali ( termin ) atau ditangguhkan selama jangka waktu tertentu.

Ijarah adalah akad sewa-menyewa antara pemilik objek sewa dan penyewa untuk mendapatkan
manfaat atas objek sewa yang disewakan.

Akad lainnya meliputi:

Sharf adalah perjanjian jual beli suatu valuta dengan valuta lainnya.
Wadiah adalah akad penitipan dari pihak yang mempunyai uang/barang kepada pihak yang
menerima titipan dengan catatan kapan pun titipan diambil penerima titipan wajib menyerahkan
kembali uang/barang titipan tersebut.

Qardhul Hasan adalah pinjaman yang tidak mempersyaratkan adanya imbalan. Waktu
pengembalian pinjaman ditetapkan bersama antara pemberi dan penerima pinjaman.

Al-Wakalah adalah jasa pemberian kuasa dari satu pihak ke pihak lainnya.. Untuk jasanya itu,
yang dititipkan dapat memperoleh fee sebagai imbalan.

Kafalah adalah perjanjian pemberian jamina atau penanggungan atas pembayaran utang satu
pihak pada pihak lainnya.

Hiwalah adalah pengalihan utang atau piutang dari pihak pertama ( al-muhil ) kepada pihak ( al-
muhal ’alaih ) atas dasar saling mempercayai.

Rahn merupakan sebuah perjanjian pinjaman dengan jaminan aset. Berupa penahanan harta milik
si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya.
BAB 5

SEJARAH DAN PEMIKIRAN AKUNTANSI SYARIAH

Akuntansi syariah pada dasarnya merupakan bentuk aplikasi dari nilai-nilai Islam sebagai suatu
agama yang tidak hanya mengatur masalah keimanan tetapi juga mengatur masalah kehidupan
sehari-hari.

PERKEMBANGAN AWAL AKUNTANSI

Sebenarnya sudah banyak pula ahli akuntan yang mengakui keberadaan akuntansi Islam itu,
misalnya RE Gambling, William Roget, Baydoun, Hayashi dari Jepang, dan lain-lain. Seperti
Paciolli dalam memperkenalkan sistem double entry melalui ilmu matematika. Sistem akuntansi
dibangun dari dasar kesamaan Aset = Liabilitas + Ekuitas ( A = L + E ).

SEJARAH AKUNTANSI

Akuntansi merupakan salah satu profesi tertua di dunia. Dari zaman prasejarah, keluarga
memiliki perhitungan tersendiri untuk mencatat makanan dan pakaian yang harus mereka
persiapkan dan mereka gunakan pada saat musim dingin. Ketika masyarakat mulai mengenal
adanya “ perdagangan “ , maka pada saat yang sama mereka telah mengenal konsep niali ( value
) dan mulai mengenal sistem moneter ( moneter system ).

PERKEMBANGAN AKUNTANSI SYARIAH

ZAMAN AWAL PERKEMBANGAN ISLAM

Dalam perkembangan selanjutnya, ketika ada kewajiban zakat dan ‘ushr ( pajak pertanian dari
muslim ), dan perluasan wilayah sehingga dikenal adanya jizyah ( pajak perlindungan dari
nonmuslim ) dan kharaj ( pajak hasil pertanian dari nonmuslim ), maka Rasul mendirikan
Baitul Maal pada awal abad ke-7. Konsep ini cukup maju pada zaman tersebut dimana seluruh
pertanian dikumpulkan secara terpisah dengan pemimpin negara dan baru akan dikeluarkan
untuk kepentingan negara.

ZAMAN EMPAT KHALIFAH


Fungsi akuntansi telah dilakukan oleh berbagai pihak dalam Islam seperti: Al-Amil, Mubashor,
Al-Khatib, namun yang paling terkenal adalah Al-Khatib yang menunjukkan orang yang yang
bertanggung jawab untuk menuliskan dan mencatat informasi baik keuangan maupun
nonkeuangan. Sedangkan untuk khusus akuntan dikenal dengan nama Muhasabah/ Muhtasib
yang menunjukkan orang yang bertanggung jawab melakukan perhitungan. Muhtasib adalah
orang yang bertanggung jawab atas lembaga Al Hisbah tidak bertanggung jawab kepada
eksekutif.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa akuntansi Islam adalah menyangkut semua praktik kehidupan
yang lebih luas tdak hanya menyangkut praktik ekonomi dan bisnis sebagaimana dalam sistem
kapitalis. Akuntansi Islam sebenarnya lebih luas dari hanya perhitungan angka, informasi
keuangan atau pertanggungjawaban. Dia menyangkut semua penegakan hukum sehingga tidak
ada pelanggaran hukum baik hukum sipil atau hukum yang berkaitan dengan ibadah.

SEKILAS PROSEDUR DAN ISTILAH YANG DIGUNAKAN

Ada tujuh hal khusus dalam sistem akuntansi yang dijalankan oleh negara Islam sebagaimana
dijelaskan oleh Al-Khawarizmy dan Al-Mazendarany ( Zaid, 2004 ) yaitu:

Sistem akuntansi untuk kehidupan hidup, sistem ini dibawah koordinasi seorang manajer.

Sistem akuntansi untuk kontruksi merupakan sistem akuntansi untuk proyek pembangunan yang
dilakukan oleh pemerintah.

Sistem akuntansi untuk pertanian merupakan sistemyang berbasis non-moneter. Sistem ini
memfokuskan diri untuk mencatat dan mengelola persediaan pertanian dalam bentuk fisik.

Sistem akuntansi gudang merupakan sistem untuk mencatat pembelian barang negara.

Sistem akuntansi mata uang, sistem ini telah dilakukan oleh negara Islam sebelum abad ke-14 M.

Sistem Akuntansi peternakan merupakan sistem untuk mencatat seluruh binatang ternak.

Sistem akuntansi pendaharaan merupakan sistem untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran
harian nrgara baik nilai uang atau barang.

Bahkan pengendalian intern yang paling penting adalah pengendalian diri sendiri ( self control )
diman Allah mengetahui seluruh pikiran dsan perbuatan semua makhluk-Nya. Prosedur yang
harus dilakukan adalah sebagai berikut ( Zaid, 2004 ):

Transaksi harus mencatat setelah terjadi.

Transaksi harus dikelompokkan berdasarkan jenisnya ( nature ).


Penerimaan akan mencatat d isisi sebelah kanan dan pengeluaran disebelah kiri.

Pembayaran harus dicatat dan diberikan penjelasan yang memadai di sisi kiri halaman.

Pencatatan transaksi harus dilakukan dan dijelaskan secara hati-hati.

Tidak diberikan jarak penulisan di sisi sebelah kiri, dan harus diberi garis penutup. Garis ini
disebut sebagai Attarkeen.

Koreksi atas transaksi yang telah dicatat tdak boleh dengan cara menghapus menulis ulang.

Jika akun telah ditutup, maka akan dibri tanda tentang hal tersebut.

Seluruh transaksi yang dicatat di buku jurnak ( Al Jaridah ) akan dipindahkan pada buku khusus
berdasarkan pengelompokan transaksi.

Orang yang melakukan pencatatan untuk pengelompokan berbeda dengan orang yang melakukan
pencatatan harian.

Saldo ( disebut Al Haseel ) diperoleh dari selisih.

Laporan harus disusun setiap bulan dan setiap tahun.

Pada setiap akhir tahun, laporan yang disampaikan oleh Al Kateb harus menjelaskan seluruh
informasi secara detail barang dan dana yang berada dibawah wewenangnya.

Laporan tahunan yang disusun Al Kateb akan diperiksa dan dibandingkan dengan tahun
sebelumnya dan akan disimpan di Diwan Pusat.

Dihubungkan dengan prosedur tersebut, terdapat beberapa istilah sebagai berikut:

Al-Jaridah merupakan buku untuk mencatat transaksi yang dalam bahasa Arab berarti koran atau
jurnal.

Daftar Al Yaumiah ( Buku Harian/ dalam bahasa Persia dikenal dengan nama Ruznamah ).
Daftar tersebut digunakan sebagai dasar untuk pembuatan Ash-Shahed ( jurnal voucher )

Beberapa jenis laporan keuangan diantaranya:

Al Khitmah: merupakan laporan yang dibuat setiap akhir bulan yang menunjukan total
penerimaan dan pengeluaran.

Al Khitmah Al Jameeah: merupakan laporan yang disiapkan oleh Al Khateb tahunan dan
diberikan kepada atasannya ( biasa disebut Al Mawafaka-Penerima ) berisi: pendapatan, beban
dan surplus/defisit setiap akhit tahun.
Bentuk perhitungan dan laporean zakat akan dikelompokkan pada laporan keuangan terbagi
dalam 3 kelompok, yaitu:

Ar-Raj Mal ( yang dapat tertagih )

Ar- Munkasir Minal Mal ( piutang tidak dapat tertagih ) dan

Al Muta’adhir Wal Mutahayyer wal Muta’akkid ( piutang yang sulit dan piutang bermasalah
sehingga tidak tertagih )

Pada perhitungan zakat, utang diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan kemampuan bayar,
yaitu:

Arra’ej Minal Maal ( colllectible debts )

AlMunkase Minal Mal ( uncollectible debts )

Al Muta’adher wal Mutahayyer ( complicated atau douful debts )

HUBUNGAN AKUNTANSI MODERN DAN AKUNTANSI ISLAM

Penelitian tentang sejarah dan perkembangan akuntansi memang perlu dikaji lebih dalam
mengingat masih dipertanyakan bukti-bukti otentik/ langsung tentang hal tersebut sebagaiman
diungkapkan oleh Napier ( 2007 ).Hal tersebut harus tetap dilakukan oleh para ilmuwan muslim
saat ini, dan pembuktian tersebut akan menempuh jalan masih panjang bukti-bukti otentik dari
zaman dinasti Abbasiah ( dengan pusat pemerintahan di Kufah, Irak ) saat ini sudah banyak yang
hilang karena perang.
BAB 6

KERANGKA DASAR PENYUSUNAN DAN PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN SYARIAH

Proses akuntansi, yang dimulai dari identifikasi kejadian dan transaksi hingga penyajian dalam
laporan keuangan, memerlukan sebuah kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan
keuangan. Kerangka dasar atau kerangka konseptual akuntansi, adalah suatu system yang
melekat dengan tujuan-tujuan serta sifat dasar yang mengarah pada standar yang konsisten dan
terdiri atas sifat, fungsi dan batasan dari akuntansi keuangan dan laporan keuangan.

Kerangka konseptual diperlukan agar dehasilkan standard an aturan yang koheren, yang disusun
atas dasar yang sama sehingga menambah pengertian dan kepercayaan para pengguna laporan
keuangan, serta dapat dibandingkan di antara perusahaan yang berbeda atau periode yang
berbeda.

KERANGKA DASAR PENYUSUNAN DAN PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN SYARIAH

Tujuan kerangka dasar ini adalahuntuk digunakan sebagai acuan bagi :

Penyusun standar akuntansi keuangan syariah, dalam pelaksanaan tugasnya.

Penyusun laporan keuangan, untuk menanggulangi masalah akuntansi syariah yang belum diatur
dalam standar akuntansi keuangan syariah.

Auditor, dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusun sesuai dengan
prinsip akuntansi syariah yang berlaku umum.

Para pemakai laporan keuangan, dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam laporan
keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan syariah.

PEMAKAI DAN KEBUTUHAN INFORMASI

Pemakai informasi keuangan meliputi:

Investor

Pemilik dana qardh

Pemilik dana syirkah

Pemilik dana titipan

Pembayar dan penerima zakat, infak, sedekah, dan wakaf

Pengawas syariah
Karyawan

Pemasok dan mitra usaha lainnya

Pelanggan

Pemerintah

Masyarakat

PARADIGMA TRANSAKSI SYARIAH

Transaksi syariah didasarkan pada paradigm dasar bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan
sebagai amanah ( kepercayaan Ilahi ) dan saran kebahagian hidup bagi seluruh umat manusia
untuk mencapai kesejahteraan hakiki secara material dan spiritual ( al-falah ).

ASAS TRANSAKSI SYARIAH

Transaksi syariah berasaskan pada prinsip:

Persaudaraan ( ukhuwah ), yang berarti bahwa transaksi syariah menjunjung tinggi nilai
kebersamaan dalam memperoleh manfaat.

Keadilan ( ‘adalah ), yang berarti selalu menempatkan sesuatu hanya pada yang berhak dan
sesuai dengan posisinya.

Kemashalatan ( masalahah ), yaitu segala bentuk kebaikkan dan manfaat yang berdimensi
duniawi dan ukhrawi, material dan spiritual, serta individu dan kolektif.

Keseimbangan ( tawazun ), yaitu keseimbangan antar aspek material dan spiritual, antara
asetprivat dan public.

Universalisme ( syumuliyah ), dimana esensinya dapat dilakukan oleh, dengan dan untuk semua
pihak yang berkepentingan tanpa membedakan suku, agama, ras, dan golongan sesuai dengan
semangat kerahmatan semesta ( rahmatan lil alamin ).

KARAKTERISTIK TRANSAKSI SYARIAH

Karakteristik dan pensyaratan, antara lain:

Transaksi hanya dilakukan berdasarkan prinsip salinh paham dan saling rida.

Prinsip kebebasan bertransaksi diakui sepanjang objeknya halal dan baik ( thayib )

Uang hanya berfungsi sebagai alat tukar dan satuan pengukur nilai, bukan sebagai komoditas.
Tidak mengandung unsur riba.

Tidak mengandung unsur kezaliman.

Tidak mengandung unsur masyir.

Tidak mengandung unsur gharar.

Tidak mengandung unsur haram.

Tidak menganut prinsip nilai waktu dan uang ( time value of money )

Transaksi dilakukan berdasarkan suatu perjanjian yang jelas dan benar serta keuntungan semua
pihak tanpa merugikan pihak lain sehingga tidak diperkenankan menggunakan standar ganda
harga untu satu akad.

Tida ada distorsi harga melaui rekayasa permintaan ( najasy ), maupun melaui rekayasa
penawaran ( ihtikar )

Tidak mengandung unsur kolusi dengan suap-menyuap ( risywah )

TUJUAN LAPORAN KEUANGAN

Tujuan utama laporan keuangan adalah menyediakan informasi, menyakut posisi keuangan,
kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu entitas syariah yang bermanfaat bagi sejumlah
besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

BENTUK LAPORAN KEUANGAN

Laporan keuangan entitas syariah terdiri atas:

Posisi Keuangan Entitas Syariah, disajikan sebagai neraca.

Informasi Kinerja Entitas Syariah, disajiakan dalam laoran laba rugi.

Informasi Perubahan Posisi Keuangan Entitas Syariah, yang dapat disusun berdasarkan definisi
dana seperti seluruh sumber daya keuangan, modal kerja, aset likuid atau kas.

Informasi Lain, seperti Laporan Penjelasan tentang Pemenuhan Fungsi Sosial Entitas Syariah.

Catatan dan Skedul Tambahan, merupakan penampung dari informasi tambahan yang relevan
termasuk pengungkapan tentang risiko dan ketidakpastian yang mempengaruhi entitas.

ASUMSI DASAR

Dasar Akrual
Laporan keuangan disajikan atas dasar akrual, maksudnya bahwa pengaruh transaksi dan
peristiwa lain diakui pada saat kejadian ( dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau
dibayar )

Kelangsungan Usaha

Laporan keuangan biasabya disusun atas dasar asumsi kelangsungan usaha entitas syariah yang
akan melanjutkan usahanya di masa depan.

KARAKTERISTIK KUALITATIF LAPORAN KEUANGAN

Terdapat empat karakteristik kualitatif poko, yaitu:

Dapat dipahami

Relevan

Keandalan

Dapat dibandingkan

KENDALA INFORMASI YANG RELEVAN DAN ANDAL

Kendala informasi yang relevan dan andal terdapat dalam hal sebagai berikut:

Tepat waktu

Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan, maka informasi yang dihasilkan
akan kehilang relevansinya.

Keseimbangan antara biaya dan manfaat

Keseimbangan antara biaya dan manfaat lebih merupakan suatu kendala yang dapat terjadi (
pervasive ) dari suatu karakteristik kualitatif.

UNSUR-UNSUR LAPORAN KEUANGAN

Sesuai karakteristik, laporan keuangan entitas syariah, antara lain meliputi:

Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan komersial yang terdiri atas laporan
posisi keuangan, laporan laba rugi, laporan arus kas, serta laporan perubahan ekuitas.

POSISI KEUANGAN
Pos-pos ini didefinisikan sebagai berikut:

Aset adalah sumber daya yang dikuasainoleh entitas syariah sebagai akibat dari peristiwa masa
lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh antitas syariah.

Kewajiban merupakan utang entitas syariah masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu.

Dana syirkah temporer adalah dana yang diterima sebagai investasi dengan jangka waktu tertentu
dari individu dan pihak lainnya dimana entitas syariah mempunyai hak untuk mengelola dan
menginvestasikan dana tersebut dengan pembagian hasil investasi berdasarka kesepakatan.

Ekuitas adalah hak residual atas asset entitas syariah setelah dikurangi semua kewajiban dan
dana syirkah temporer.

KINERJA

Unsur penghasilan dan beban didefinisikan berikut ini:

Penghasilan ( income ) adalah kenaikkan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi
dalam bentuk pemasukan atau penambahan aset atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan
kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.

Beban ( expense ) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi

Hak pihak ketiga atas bagi hasil dana syirkah temporer adalah bagian bagi hasil pemilik dana
atas keuntungan dan kerugian hasil investasi bersama entitas syariah dalam suatu periode laporan
keuangan.

Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan social

Komponen laporan keuangan lainnya yang mencerminkan kegiatan dan tanggung jawab khusus
entitas syariah tersebut.

PENGUKURAN UNSUR LAPORAN KEUANGAN

Bebagai dasar pengukuran tersebut adalah sebagai berikut:

Biaya historis ( historical cost )

Biaya kini ( current cost )

Nilai realisasi/ penyelesaian ( realizable/ settlement value )


LAPORAN KEUANGAN BANK SYARIAH ( PSAK 101 )

Laporan keuangan bank syariah yang lengkap terdiri atas:

Neraca

Laporan Laba Rugi

Laporan Arus Kas

Laporan Perubahan Ekuitas

Laporan Perbahan Dana Investasi Terikat

Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil

Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat

Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan

Catatan atas Laporan Keuangan

Investasi terikat adalah investasi yang bersumber dari pemilik dana investasi terikat dan
sejenisnya yang dikelola oleh bank syariah sebagai agen investasi. Investasi terikat bukan
merupakan asset maupun kewajiban karena bank syariah tidak mempunyai hak untuk
menggunakan atau mengeluarkan investasi tersebut, serta bank syariah tidak memiliki kewajiban
mengembalikan atau menanggung risiko investasi.

KONSEP DASAR AKUNTANSI MENURUT AAOIFFI DAN PEMIKIR ISLAM

TUJUAN AKUNTANSI KEUANGAN DAN LAPORAN KEUANGAN

Manfaat dengan ditentukannya tujuan akuntansi untuk lembaga keuangan syariah menurut
AAOIFFI yaitu sebagai berikut:

Dapat digunakan sebagai panduan bagi dewan standar untuk menghasilkan standar yang
konsisten.

Tujuan akan membantu bank dan lembaga keuangan syariah untuk memilih berbagai alternatif
metode akuntansi pada saat standar akuntansi belum mengatur.

Tujuan akan membantu untuk memandu manajemen dalam membuat pertimbangan/ judgement
pada saat akan menyusun laporan keuangan.
Tujuan jika diungkapkan dengan baik, akan meningkatkan kepercayaan prngguna serta
meningkatkan pemahaman informasi akuntansi sehingga akhirnya akan meningkatkan
kepercayaan atas lembaga keuangan syariah.

Penetapan tujuan yang mendukung penyusunan standar akuntansi yang konsisten. Ini seharusnya
dapat meningkatkan kepercayaan pengguna laporan keuangan.

PEMAKAI DAN KEBUTUHAN INFORMASI

Pemakai laporan keuangan menurut AAOIFI antara lain sebagai berikut.

Pemegang Saham

Pemegang Investasi

Pemilik Dana ( bagi Deposan Bank )

Pemilik Dana Tabungan

Pihak yang Melakukan Transaksi Bisnis

Pengelola Zakat

Pihak yang Mengatur

BEBERAPA PEMIKIRAN KE DEPAN

Neraca yang Menggunakan Nilai Saat Ini ( current value balance sheet ), untuk mengatasi
kelemahan dari historical cost yang kurang cocok dengan nilai sekarang. Alasan lainnya, adalah
dengan menggunakan nilai sekarang dan mempermudah pengguna laporan keuangan untuk
mengambil keputusan karena nilai yang disajikan lebih relevan dibanding nilai historical cost.

Laporan Nilai Tambah ( Value Added Statement ) sebagai pengganti laporan laba atau sebagai
laporan tambahan atas neraca dan laporan laba rugi. Usulan ini didasarkan atas pertimbangan
bahwa unsur terpenting di dalam akuntansi syariah bukanlah kinerja operasional ( laba bersih )
tetapi kinerja dari sisi pandang para skateholders dan nilai sosial yang dapat didistribusikan
secara adil kepada kelompok yang terlibat dengan perusahaan dalam menghasilkan nilai tambah.