Anda di halaman 1dari 151

PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN SAHAM, LEVERAGE, FAKTOR

INTERN DAN FAKTOR EKSTERN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN

(Studi Empiris Pada Perusahaan Go Public di Bursa Efek Indonesia)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial

Untuk Memenuhi Syarat-syarat Untuk Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh:

UMI MAIMUNAH

NIM : 104081002523

Di Bawah Bimbingan

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM Indoyama Nasarudin, SE, MBA

NIP : 150 317 955 NIP : 150317593

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1429H/2008M

i
PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN SAHAM, LEVERAGE, FAKTOR
INTERN DAN FAKTOR EKSTERN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN

(Studi Empiris Pada Perusahaan Go Public di Bursa Efek Indonesia)


Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial

Untuk Memenuhi Syarat-syarat Untuk Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh:

UMI MAIMUNAH

NIM : 104081002523

Di Bawah Bimbingan

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM Indoyama Nasarudin, SE, MBA

NIP : 150 317 955 NIP : 150 317593

Penguji Ahli

Prof. Dr. Abdul Hamid, MS

NIP : 131 474 891

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH


JAKARTA

1429H/2008M

ii
Hari ini Selasa tanggal 10 Bulan Juni Tahun Dua Ribu Delapan telah dilakukan Ujian
Komprehensif atas nama Umi Maimunah NIM : 104081002523 dengan judul :
Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham, Leverage, Faktor Intern Dan Faktor
Ekstern Terhadap Nilai Perusahaan Memperhatikan penampilan tersebut selama
ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Manajemen Fakultas
Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 10 Juni 2008

Tim Penguji Ujian Komprehensif

Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM Indoyama Nasarudin, SE, MBA

Ketua Sekretaris

Prof. Dr. Abdul Hamid, MS

Penguji Ahli

iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Umi Maimunah

Tempat/Tanggal Lahir : Bekasi, 22 Januari 1986

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Jl. Dewi Sartika Rt 04/06 No. 1 Margahayu Bekasi


Timur 17113

Nomor Telepon : 08561222263

Pendidikan :

2004-2008 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial, Jurusan Manajemen

2001-2004 MA Annida Al-Islamy

1998-2001 Mts. Annida Al-Islamy

1992-1998 SD Negeri Patriot II

iv
Abstract

The main objective of the study is to examine the impact of ownership


structure, leverage, extern factor, internal factor on the value of the firms in
Indonesian Stock Exchange. It is argued that unlike the agency problem advanced
stock market, the agency problem in the Indonesian Stock Exchange is the divergence
of interest between the minority holders and majority holders. This is because the
Indonesian Stock Exchange is characterized, among other things, by the domination
of large shareholders. It is hypotheses that : (1) there are the impact of ownership
structure, extern factor, internal factor on leverage, (2) there are the impact of
ownership structure, external factor, internal factor, leverage on value of the firm.
This study is to examine Agency Theory, Jensen and Meckling (1976), Pecking Order
Theory, Myers (1984, Trade off Model and Signaling Theory (1979). Population in
this study are public company listed in Indonesian Stock Exchange during 2003-
2006. As much as 24 firms listed in Indonesian Stock Exchange were taken as a
sample using a purposive sampling method. The data were then analyzed by the
structural equation modeling (SEM) analysis, using the LISREL Program version
8.54. The results of this study show that : There are the impact of ownership
structure, extern factor, internal factor on leverage. There are not the impact of
ownership structure, external factor, internal factor on value of the firm. There is
leverage the impact on value of the firm.

Key Word : Ownership Structure, Leverage, Factor Extern, Factor Intern,


Value of the Firm.

v
Abstrak

Tujuan utama dari studi ini adalah untuk menguji pengaruh struktur
kepemilikan saham, leverage, faktor ekstern, dan faktor intern terhadap nilai
perusahaan di Bursa Efek Indonesia. Tidak seperti pada permasalahan keagenan di
paasar modal yang sudah maju, problem keagenan di Bursa Efek Indonesia adalah
terjadinya perbedaaan kepentingan antara pemilik minoritas dengan pemilik
mayoritas. Hipotesis dalam penelitian ini adalah : (1) struktur kepemilikan saham,
faktor ekstern, dan faktor internberpengaruh signifikan terhadap terhadap leverage,
(2) struktur kepemilikan saham, faktor ekstern, faktor intern, dan leverage
berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Studi ini ingin menguji teori
keagenan, Jensen dan Meckling (1976), Pecking Order Theory, Myers (1984), Trade
off Model dan Signaling Theory, Bhattacharya (1979). Populasi dalam studi ini
adalah perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2003 sampai dengan
2006. Sebanyak 24 perusahaan diambil sample dengan menggunakan purposive
sampling. Data dianalisis dengan menggunakan Structural Equation Modelling
(SEM) menggunakan program Lisrel 8.54. Hasil studi menujukkan bahwa struktur
kepemilikan saham, faktor ekstern dan faktor intern berpengaruh signifikan terhadap
leverage. Struktur kepemilikan saham, factor ekstern, dan factor intern tidak
berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Leverage berpengaruh signifikan
terhadap nilai perusahaan.

Kata kunci :Struktur Kepemilikan Saham, Faktor Ekstern, Faktor Intern, Struktur
Modal (Leverage), Nilai Perusahaan

vi
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah robbil ‘alamin, segala puji hanya bagi Allah SWT. Semoga kita
senantiasa mendapatkan hidayah-Nya, sehingga kita termasuk dalam orang-orang
yang berada pada jalan yang benar. Shalawat dan salam kita haturkan kepada
junjungan kita sang pembawa kebenaran Nabi Muhammad SAW.

Skripsi ini berjudul “Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham, Leverage,


Faktor Intern Dan Faktor Ekstern Terhadap Nilai Perusahaan”. Penulis
menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari
sempurna, mengingat terbatasnya kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang
penulis miliki. Namun demikian penulis berusaha sesuai dengan kemampuan, dengan
harapan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Skripsi yang telah penulis selesaikan ini merupakan salah satu anugerah dari
banyaknya nikmat yang telah Dia berikan. Selesainya skripsi ini juga tak lepas dari
bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu ucapan terima kasih yang tak terhingga
penulis sampaikan kepada orang-orang yang semoga selalu dikasihi oleh Allah SWT.

1. Ibu dan Bapak tercinta, yang selalu memberikan limpahan kasih sayang,
perhatian, dan dukungan baik moral, spiritual, maupun material pada penulis.
Kasih sayang mereka yang teruntai begitu indah dan tulus menjadi inspirasi dan
motivasi bagi penulis dalam menjalani hidup. Kakakku (Mimi), Adik-adikku
(Dayat dan Pipih), dan My Love (Joni) tersayang yang telah memberikan
motivasi dan dukungan dalam bentuk moral maupun material hingga
terselesaikannya skripsi ini.
2. Bapak Drs. Mohammad Faisal Badroen, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS, selaku Pembantu Dekan Bid. Akademik
fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
vii
4. Bapak Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM, selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas
Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sekaligus pembimbing I yang telah banyak memberikan saran, petunjuk, ilmu
pengetahuan, dan meluangkan waktunya hingga terselesaikannya skripsi ini.
5. Bapak Indoyama Nasarudin, SE, MBA selaku pembimbing II yang selalu
memberikan petunjuk secara cerdas dalam membimbing penulis sehingga
terselesaikan juga skripsi ini.
6. Seluruh dosen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial yang telah memberikan ilmunya
kepada penulis selama belajar di bangku kuliah. Kepada seluruh staff bagian
Akademik dan Keuangan, serta staff Perpustakaan, terima kasih atas segala
bantuannya.
7. Special thanks to teman-teman terbaik dan teman-teman seperjuangan yang
bersama-sama berjuang dan saling membantu untuk menyelesaikan skripsi ini
Terima kasih sudah banyak membantu dan meluangkan waktu untuk memberikan
pelajaran yang paling berharga.

Semoga mereka semua mendapatkan balasan pahala yang berlipat ganda dan
selalu dijaga dan dilindungi serta benar-benar menjadi orang yang dikasihi dan
disayangi oleh Allah SWT. Tiada balasan apapun jua yang dapat penulis berikan
selain doa.

Penulis sangat menyadari, masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam penulisan
skripsi ini, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan agar
bisa lebih baik lagi. Semoga skripsi ini bisa bermanfaat bagi semua pihak .

Jakarta, Oktober 2008

Umi Maimunah

(Penulis)

viii
DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan................................................................................................... i

Daftar Riwayat Hidup ................................................................................................. iv

Abstract ................................................................................................................. v

Abstrak ................................................................................................................. vi

Kata Pengantar ............................................................................................................................... vii

Daftar isi ................................................................................................................. ix

Daftar Tabel ....................................................................................................................... xii

Daftar Gambar ....................................................................................................................... xiii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian..................................................................................... 1


B. Identifikasi Masalah.............................................................................................. 7
C. Pembatasan Masalah............................................................................................. 8
D. Perumusan Masalah.............................................................................................. 8
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................................................. 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Leverage (Struktur Modal) ............................................................... 11


1. Pengertian Struktur Modal ........................................................................................13
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal ............................................... 13
3. Utang .................................................................................................................... 17
4. Modal ..........................................................................................................................19
B. Nilai Perusahaan ............................................................................... 20

ix
C. Struktur Kepemilikan Saham ...................................................................................... 23
D. Faktor Ekstern ............................................................................................................. 27
E. Faktor Intern ...................................................................................................................... 28
F. Penelitian sebelumnya....................................................................................................... 33
G. Kerangka Pemikiran .................................................................................................... 38
H. Rumusan Hipotesis............................................................................................................ 43

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian ........................................................................................... 47


B. Metode Penentuan Sampel ........................................................................................... 47
C. Metode Pengumpulan Data ......................................................................................... 48
D. Metode Analisis ........................................................................................................... 49
E. Definisi Operasional Variabel ..................................................................................... 63

BAB IV PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian ............................................................................. 68


A.1 Pasar Modal ........................................................................................................... 68
A.2 Organisasi Yang Terkait Di Pasar Modal .................................................................. 69
A.3 Sejarah Pasar Modal Di Indonesia ......................................................................... 71
A.4 Perkembangan Pasar Modal........................................................................................ 74

B. Deskriptif Analisis ...................................................................................................... 76


B.1 Deskriptif Data Sampel .............................................................................................. 76
B.2 Analisis Data Penelitian ........................................................................................ 77

C. Pengujian dan Pembahasan........................................................................................ 103


C.1 Pengujian Model Secara Keseluruhan ......................................................................103
C.2 Pengujian Jalur Individual – Measurement Model .................................................. 106

x
C.2 Pengujian Jalur Individual – Structural Model ........................................................... 113
D. Interpretasi ................................................................................................................ 121

BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

A. Kesimpulan ............................................................................................................... 124


B. Implikasi ................................................................................................................... 124

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

xi
DAFTAR TABEL

Nomor Keterangan Halaman

4.1 Sampel Data Penelitian 77

4.2 Struktur Kepemilikan Saham 79

4.3 Faktor Ekstern ( Tingkat Suku Bunga) 83

4.4 Faktor Ekstern( Value Trade) 85

4.5 Faktor Ekstern( Pertumbuhan Pasar) 87

4.6 Faktor Intern (Profitabilitas) 89

4.7 Faktor Intern (Pembayaran Dividen) 91

4.8 Faktor Intern (Ukuran Perusahaan) 94

4.9 Leverage (DER) 96

4.10 Leverage (DAR) 98

4.11 Nilai Perusahaan (PER) 100

4.12 Nilai Perusahaan (PBV) 102

4.13 Uji Kecocokan 104

4.14 Hubungan Beta dan Gamma 113


4.15 Squared Multiple Correlations (R²) 120

xii
DAFTAR GAMBAR

Nomor Keterangan Halaman

4.1 T- Value 107


4.2 Koefisien Path 108

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Struktur modal atau keputusan pendanaan akan sangat berpengaruh

pada kinerja perusahaan. Keputusan apakah dana yang akan digunakan

oleh perusahaan dengan hutang atau dengan penjualan saham akan sangat

berpengaruh terhadap kinerja perusahaan khususnya dalam rangka

memaksimalkan kemakmuran atau kekayaan para pemegang saham atau

pemilik yang akan tercermin melalui harga saham perusahaan. Dengan

demikian perusahaan perlu mengusahakan suatu keseimbangan yang

optimal dalam menggunakan kedua sumber tersebut sehingga dapat

memaksimalkan nilai perusahaan.

Perusahaan bertujuan untuk memaksimalkan kesejahteraan pemilik

melalui keputusan atau kebijakan investasi, keputusan pendanaan dan

keputusan dividen yang tercermin dalam harga saham di pasar modal,

demikian jika dilihat berdasarkan sudut pandang manajemen keuangan.

Tujuan ini sering diterjemahkan sebagai suatu usaha untuk

memaksimumkan nilai perusahaan. Dalam mencapai tujuan tersebut,

banyak shareholder yang menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada

para profesional yang bertanggung jawab mengelola perusahaan, yang

disebut manajer. Para manajer yang diangkat oleh shareholder diharapkan

akan bertindak atas nama shareholder tersebut, yakni memaksimumkan

nilai perusahaan sehingga kemakmuran shareholder akan dapat tercapai.

1
Para manajer dalam menjalankan operasi perusahaan, sering kali

tindakannya bukan memaksimumkan shareholder, melainkan justru

tergoda untuk meningkatkan kesejahteraannya sendiri. Kondisi ini akan

mengakibatkan munculnya perbedaan kepentingan antara external

shareholder dengan manajer. Konflik yang disebabkan oleh pemisahan

antara kepemilikan dan fungsi pengelolaan dalam teori keuangan disebut

konflik keagenaan atau Agency conflik.

Peningkatan kepemilikan manajerial dapat digunakan sebagai cara

untuk mengurangi konflik keagenan (Crutchley dan hansen: 1989, Jensen,

Solberg dan Zorn: 1992). Perusahaan meningkatkan kepemilikan

manajerial untuk mensejajarkan kedudukan manajer dengan pemegang

saham sehingga bertindak sesuai dengan keinginan pemegang saham.

Dengan meningkatnya persentase kepemilikan, manajer termotivasi untuk

meningkatkan kinerja dan bertanggung jawab meningkatkan kemakmuran

pemegang saham. Pada kepemilikan yang menyebar, masalah keagenan

terjadi antara pihak manajemen dengan pemegang saham. Hal ini

menyebabkan kekuasaan pemegang saham dan menyerahkan kepada

manajer. Sebagai konsekuensinya, manajer menuntut kompensasi yang

tinggi sehingga meningkatkan biaya keagenan. Pada kondisi ini, konflik

keagenan diatasi dengan meningkatkan kepemilikan manajerial.

Sebaliknya pada kepemilikan yang berkonsentrasi masalah keagenan

disebabkan oleh hubungan antara pemegang saham dan kreditor. Masalah

ini dijumpai pada perusahaan-perusahaan di Indonesia. Pada kepemilikan

2
terpusat terdapat dua kelompok pemegang saham, yaitu controlling

mayority stockholder dan minority stockholder. Manajer diangkat dan

diberhentikan oleh controlling mayority stockholder sehingga

menunjukkan kinerja baik dihadapkan pemegang saham. Kondisi ini

memperkecil biaya keagenan ekuitas tetapi menimbulkan biaya keagenan

baru yaitu biaya keagenan hutang ( Husnan : 2000).

Peningkatan dividen diharapkan dapat mengurangi biaya keagenan.

Hal ini disebabkan dimana dividen yang besar menyebabkan rasio laba

ditahan akan kecil sehingga perusahaan membutuhkan tambahan dana dari

sumber eksternal, seperti emisi saham baru. Penambahan dana menyebabkan

kinerja manajer dimonitor oleh bursa dan penyediaan dana baru. Pengawasan

kinerja menyebabkan manajer bertindak sesuai dengan kepentingan

pemegang saham sehingga mengurangi biaya yang berkaitan dengan emisi

saham baru (floating cost). (Crutchley dan Hansen : 1989).

Perkembangan riset pasar modal telah memotivasi penulis untuk

melakukan penelitian bidang keuangan. Beberapa penelitian tentang

struktur modal terhadap nilai perusahaan telah banyak dilakukan oleh

peneliti dan hasilnya saling kontradiksi. Jensen dan Meckling (1976)

beragumentasi bahwa konflik keagenan terjadi karena adanya pemisahan

kepemilikan dan pengendalian. Konflik keagenan menyebabkan

penurunan nilai perusahaan. Penurunan nilai perusahaan akan

mempengaruhi kekayaan dari pemegang saham sehingga pemegang saham

akan melakukan tindakan pengawasan terhadap perilaku manajemen.

3
Dalam teori keagenan dijelaskan bahwa kepentingan manajemen dan

kepentingan pemegang saham mungkin bertentangan. Hal tersebut

disebabkan manajer mengutamakan kepentingan pribadi, sebaliknya

pemegang saham tidak menyukai kepentingan pribadi manajer tersebut,

karena pengeluaran tersebut akan menambah kos perusahaan yang

menyebabkan penurunan keuntungan perusahaan dan penurunan dividen

yang akan diterima. Pemegang saham menginginkan agar kos tersebut

dibiayai oleh utang, tetapi manajer tidak menyukai dengan alasan bahwa

utang mengandung risiko yang tinggi. Perbedaan kepentingan itu

menimbulkan konflik yaag biasa disebut konflik agensi. Konflik

kepentingan dapat diminimumkan dengan suatu mekanisme pengawasan

yang dapat mensejajarkan kepentingan-kepentingan yang terkait tersebut.

Akibat dari munculnya mekanisme pengawasan tersebut menyebabkan

timbulnya suatu kos yang disebut agency cost.

Ada beberapa alternatif untuk mengurangi kos keagenan tersebut

yaitu : pertama, dengan meningkatkan kepemilikan saham perusahaan oleh

manajemen (Jensen dan Meckling 1976). Analisisnya menyatakan bahwa

proporsi kepemilikan saham dikontrol manajer dapat mempengaruhi

kebijakan-kebijakan perusahaan. Selain itu kepemilikan manajerial akan

mensejajarkan kepentingan manajemen dan pemegang saham, sehingga

manajer akan merasakan langsung manfaat dari keputusan yang diambil

dengan benar dan akan merasakan kerugian sebagai konsekwensi dari

pengambilan keputusan yang salah. Kedua, dengan meningkatkan dividen

4
payout ratio (Crutley dan Hansen, 1989; Easterbrook, 1989; Leland dan

Pyle, 1977). Penelitian mereka menyatakan bahwa pembayaran dividen

akan mempengaruhi kebijakan pendanaan, karena dengan pembayaran

dividen akan mengurangi cash flow perusahaan akibatnya perusahaan

dalam memenuhi kebutuhan operasinya akan mencari alternatif sumber

pendanaan yang relevan, Ketiga, meningkatkan pendanaan dengan utang.

Penurunan utang akan menurunkan besarnya konflik antara pemegang

saham dengan manajemen. Disamping itu utang akan menurunkan exess

cash flow yang ada dalam perusahaan, sehingga akan menurunkan

kemungkinan pemborosan yang dilakukan oleh manajemen. Keempat,

institusional investor sebagai pihak yang memonitor agen, Moh’d et al.

(1998) menyatakan bahwa distribusi saham antara pemegang saham dari

luar seperti institusional investor dapat mengurangi agency cost. Hal ini

disebabkan karena kepemilikan mewakili sumber kekuasaan yang dapat

digunakan untuk mendukung atau sebaliknya terhadap keberadaan

manajemen. Jadi dengan adanya investor institusional akan mendorong

peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen.

Ada dua pandangan yang terus diperdebatkan oleh ahli-ahli keuangan di

dunia. Pandangan pertama dikenal dengan pandangan tradisional yang

menyatakan bahwa struktur modal mempengaruhi nilai perusahaan.

Pandangan tradisional diwakili oleh dua teori yaitu Trade off Theory dan

Pecking Order Theory, Myers (1984). Pandangan kedua dikemukakan oleh

Modigliani dan Miller yang menyatakan bahwa struktur

5
modal tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Myers dan Majluf (1984),

menyatakan bahwa perusahaan cenderung mempergunakan internal equity

terlebih dahulu, dan apabila memerlukan external financing, maka

perusahaan akan mengeluarkan debt sebelum menggunakan external

equity.

Dari beberapa penelitian yang dilakukan pada perusahaan-

perusahaan di Indonesia ditemukan bahwa perusahaan-perusahaan di

Indonesia cenderung mengikuti pecking order theory. Santoso (2001) telah

menemukan bahwa pada umumnya para manajer perusahaan di Indonesia

cenderung mengikuti hirarki pendanaan (pecking order theory). Struktur

modal perusahaan diprediksi juga dipengaruhi oleh faktor ekstern dan

faktor intern perusahaan. Struktur kepemilikan menjadi penting dalam

teori keagenan karena sebagian besar argumentasi konflik keagenan

disebabkan oleh adanya pemisahan kepemilikan dan pengelolaan. Konflik

keagenan tidak terjadi pada perusahaan dengan kepemilikan seratus persen

oleh manajemen (Jensen dan Meckling, 1976). Struktur kepemilikan

saham diprediksi berpengaruh dalam penentuan struktur modal. Semakin

terkonsentrasi kepemilikan saham perusahaan cenderung akan mengurangi

utang. Semakin terkonsentrasi kepemilikan saham, maka akan terjadi

pengawasan yang efektif terhadap manjemen. Manajemen akan semakin

berhati-hati dalam melakukan peminjaman, sebab jumlah utang yang

terlalu tinggi akan menimbulkan risiko financial distress sehingga nilai

perusahaan akan menurun. Jumlah utang yang melewati titik optimalnya

6
akan membuat penghematan pajak dari penggunaan utang lebih rendah

dari pada nilai sekarang dari financial distress dan agency cost (model

trade off). Semakin terkonsentrasi kepemilikan saham perusahaan juga

diprediksi akan menigkatkan nilai perusahaan.

Pentingnya penelitian ini dari jurnal sebelumnya penelitian ini

menggunakan bantuan software Lisrel 8.54, sedangkan dalam jurnal

sebelumnya menggunakan bantuan software Amos 4.0 dan juga dalam

penelitian ini menambahkan dua variabel manifest yaitu DAR (Debt to Asset

Ratio) dan PER (Price Earning Ratio).

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan dan evaluasi peneliti

sebelumnya maka penulis tertarik mengadakan penelitian mengenai

“Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham, Leverage, Faktor Intern Dan

Faktor Ekstern Terhadap Nilai Perusahaan”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut peneliti mengidentifikasi

sebagai berikut :

1. Pengaruh kepemilikan saham, faktor ekstern dan faktor intern

terhadap leverage.

2. Pengaruh kepemilikan saham, faktor ekstern, faktor intern dan

leverage terhadap nilai perusahaan.

7
C. Pembatasan Masalah

Untuk membatasi masalah agar tidak terlalu meluas

pembahasannya maka penulis membatasi masalah sebagai berikut :

1. Penelitian ini menggunakan variabel endogen dan eksogen.

2. Peneliti dilakukan pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di

BEI. Periode penelitian per 31 Desember 2003 sampai 31

Desember 2006.

D. Perumusan Masalah

1. Apakah struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap

leverage?

2. Apakah faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap leverage?

3. Apakah faktor intern berpengaruh signifikan terhadap leverage?

4. Apakah struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap

nilai perusahaan?

5. Apakah faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap nilai

perusahaan?

6. Apakah faktor intern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan?

7. Apakah leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan?

8
E. Tujuan Dan Manfaat Penelitian

E.1 Tujuan Penelitian

Tujuan utama dari studi ini adalah untuk menguji pengaruh

struktur kepemilikan, leverage, faktor ekstern, dan faktor intern terhadap

perusahaan di Bursa Efek Jakarta.

1 Untuk menganalisis pengaruh struktur kepemilikan saham terhadap

leverage.

2 Untuk menganalisis pengaruh faktor ekstern terhadap leverage.

3 Untuk menganalisis pengaruh faktor intern terhadap leverage.

4 Untuk menganalisis pengaruh struktur kepemilikan saham terhadap

nilai perusahaan.

5 Untuk menganalisis pengaruh faktor eksren terhadap nilai perusahaan.

6 Untuk menganalisis pengaruh faktor intern terhadap nilai perusahaan.

7 Untuk menganalisis pengaruh leverage terhadap nilai perusahaan.

E.2 Manfaat Penelitian

1. Bagi Penulis

Dapat menerapkan Ilmu Ekonomi, khususnya dlam Manajemen

Keuangan dan Pasar Modal yang telah diperoleh selama masa

perkuliahan.

2. Bagi Investor

Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan informasi untuk

mengetahui keadaan keuangan perusahaan sehingga dapat

9
dimanfaatkan oleh para investor dalam pengambilan keputusan

investor dari pasar modal.

3. Bagi Perusahaan

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan publik

dalam hal pengambilan keputusan keuangannya terutama dalam

menentukan berapa besar proporsi sumber pembiayaan struktur

modalnya, dimana diharapkan dengan proporsi struktur modal

tersebut perusahaan dapat meningkatkan harga sahamnya.

4. Bagi Akademisi

Sebagai penambah kepustakaan dibidang keuangan dan pasar modal.

10
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Leverage (Struktur Modal)

Struktur modal / capital structure : berkaitan dengan struktur

pembelanjaan permanen perusahaan yang terdiri dari hutang jangka panjang

dan modal sendiri. Ahmad Rodoni dan Indo Yama Nasaruddin (2007).

Struktur modal adalah perbandingan nilai hutang dengan nilai modal

sendiri yang tercermin pada laporan keuangan akhir tahun.

Struktur modal merupakan perimbangan antara utang dengan modal yang

dimiliki perusahaan. Salah satu isi penting yang sering dihadapi oleh manajer

suatu perusahaan adalah menentukan perimbangan yang tepat antara utang

dengan modal.

Terdapat tiga teori utama dalam menjelaskan tujuan perusahaan dalam

memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham. Ketiga teori tersebut

berusaha menjelaskan bagaimana struktur modal dapat memaksimumkan nilai

perusahaan. Ketiga teori tersebut adalah :

a) Teori Tradisional atau Teori Klasik

Menyatakan bahwa struktur modal yang optimal yang dapat

memaksimumkan nilai perusahaan adalah dengan cara

meminimumkan biaya modal rata-rata (average cost of capital). Salah

satu versi teori ini dikembangkan oleh Ezra Solomon yang

menyatakan bahwa struktur modal yang optimal terjadi apabila

11
terdapat kelebihan antara debt equity ratio dengan average cost of

capital.

b) Teori yang dikembangkan oleh Miller dan Modigliani

Menyatakan bahwa pasar modal itu adalah sempurna dan tidak

ada pajak. Mereka menyatakan nilai perusahaan tidak dipengaruhi

oleh struktur modal.

c) Teori yang juga dikembangkan oleh Miller dan Modigliani.

Dengan memperhatikan tingkat pajak mereka menyatakan

bahwa penggunaan utang dapat memaksimumkan nilai perusahaan

dan kemakmuran pemegang saham.

Weston (1963) dalam Napa (1999), menggunakan analisis regresi

berganda untuk menguji leverage. Hasilnya mendukung teori leverage

tradisional. Barger (1963) dalam Napa (1999) menggunakan fungsi kuadrat

untuk mempelajari pengaruh perubahan leverage terhadap nilai pasar

perusahaan .hasilnya mendukung teori tradisional Myers (1984) dalam

penelitiannya menemukan bahwa profitabilitas perusahaan mempunyai

hubungan yang positif secara signifikan dengan utang perusahaan. Myers

dalam Sutiati (2001) menunjukan bahwa perusahaan yang profitabilitas tinggi

lebih dipercaya untuk memperoleh utang. Myers juga berpendapat bahwa

apabila harga saham dipasaran terlalu mahal maka perusahaan harus menolak

menerbitkan saham baru karena harga saham tersebut akan turun melalui

proses penilaian.

12
1. Pengertian Struktur Modal

Struktur modal merupakan komposisi pendanaan ekuitas (modal

sendiri) dan utang pada suatu perusahaan (Wild et al., 2005). Struktur modal

sering kali dihitung berdasarkan besaran relatif berbagai sumber pendanaan.

Stabilitas keuangan perusahaan serta risiko gagal melunasi utang tergantung

pada sumber pendanaan serta jenis dan jumlah berbagai aktiva yang dimiliki

perusahaan. Struktur modal dapat diartikan sebagai paduan sumber dana

jangka panjang yang digunakan oleh perusahaan (Keown et al., 2000).

Sedangkan menurut Awat (1999) struktur modal adalah proporsi antara utang

jangka panjang dan modal sendiri. Demikian pula menurut Riyanto (2001)

bahwa struktur modal adalah perimbangan antara utang jangka panjang

dengan modal sendiri.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal

Menurut Riyanto (2001) besar kecilnya struktur modal yang digunakan

perusahaan dipengaruhi oleh banyak faktor. Adapun faktor-faktor tersebut

antara lain:

a) Tingkat bunga

Tingkat bunga yang berlaku saat manajemen akan menentukan struktur

modal akan mempengaruhi jenis modal apa yang akan digunakan, apakah

menggunakan saham atau obligasi. Penggunaan obligasi hanya dibenarkan

jika tingkat bunga obligasi lebih rendah daripada earning power dari

tambahan modal tersebut.

13
b) Stabilitas earning

Stabilitas dan besarnya earning yang diperoleh perusahaan akan

menentukan apakah perusahan dibenarkan untuk menggunakan modal

dengan beban tetap (utang) atau tidak. Jika perusahaan memiliki earning

yang stabil maka perusahaan akan mampu memenuhi kewajiban finan-

sialnya, sebaliknya perusahaan yang memiliki earning tidak stabil akan

menghadapi risiko tidak dapat membayar beban bunga atau angsuran

utangnya pada tahun-tahun atau kondisi yang buruk.

c) Susunan aktiva

Pada kebanyakan perusahaan industri atau manufaktur di mana

sebagian besar dari modalnya tertanam dalam aktiva tetap, akan cenderung

mengutamakan penggunaan modal sendiri sedang modal asing atau utang

hanya sebagai pelengkap. Sedangkan perusahaan yang sebagian besar

aktivanya terdiri atas aktiva lancar akan menggutamakan pemenuhan ke-

butuhan dananya dengan utang jangka pendek.

d) Risiko aktiva

Risiko yang melekat pada setiap aktiva perusahaan belum tentu sama.

Semakin panjang jangka waktu penggunaannya maka risikonya semakin

besar. Jika perusahaan memiliki aktiva yang peka terhadap risiko maka

perusahaan harus memilih banyak menggunakan modal sendiri yang relatif

tahan risiko, dan sedapat mungkin mengurangi penggunaan modal asing

(utang) yang memiliki risiko lebih tinggi dibanding modal sendiri.

14
e) Jumlah modal yang dibutuhkan

Jumlah modal yang dibutuhkan atau diperlukan dapat mempengaruhi

struktur modal. Jika modal yang dibutuhkan sangat besar maka dirasakan

perlu bagi perusahaan untuk menggunakan beberapa sekuritas secara ber-

samaan, misalnya mengeluarkan saham dan obligasi secara bersamaan.

f) Keadaan pasar modal

Kondisi pasar sering mengalami perubahan yang disebabkan oleh banyak

faktor. Oleh karena itu, dalam rangka memperoleh dana melalui penjualan

sekuritas perusahaan harus memperhatikan kondisi pasar modal. Ketika

investor menyukai menanamkan dananya dalam pembelian saham, maka

pada waktu itu perusahaan lebih baik melakukan penerbitan saham.

g) Sifat manajemen

Bagi manajemen yang optimis terhadap masa depan perusahaan,

umumnya akan berani menangung risiko yang besar (risk seeker),

sehingga akan lebih berani menggunakan utang untuk memenuhi

kebutuhan dana perusahaan. Sebaliknya manajer yang bersifat pesimis dan

tidak menyenangi risiko (risk averter) akan lebih suka menggunakan

sumber dana intern untuk memenuhi kebutuhan dananya.

h) Besarnya perusahaan

Suatu perusahaan yang tergolong besar di mana sahamnya tersebar

sangat luas, penambahan saham untuk memenuhi kebutuhan dana tidak

banyak mempengaruhi kekuasan atau pengendalian pemegang saham

mayoritas. Oleh karena itu, perusahaan besar umumnya lebih menyukai

15
melakukan penerbitan saham baru untuk memenuhi kebutuhan dananya.

Sedangkan menurut Brigham dan Houston (2001) besarnya kecilnya struktur

modal atau utang suatu perusahaan ditentukan oleh empat faktor berikut :

a. Risiko bisnis

Risiko bisnis atau tingkat risiko yang terkandung dalam

operasi perusahaan apabila perusahaan tersebut menggunakan

utang. Makin besar atau makin tinggi risiko perusahaan, maka

perusahaan akan cenderung menggunakan utang yang rendah.

b. Pajak perusahaan

Alasan utama penggunaan utang oleh perusahaan adalah

karena biaya bunga dapat dikurangkan dalam perhitungan pajak.

c. Fleksibilitas keuangan

Fleksibilitas keuangan atau kemampuan perusahaan untuk

menambah modal dengan persyaratan yang wajar dalam keadaan

yang memburuk. Ketersediaan modal yang cukup merupakan hal

yang penting guna mendukung operasi perusahaan yang stabil serta

menentukan keberhasilan perusahan dalam jangka panjang. Oleh

karena itu dalam kondisi perekonomian yang sulit, atau apabila

perusahaan mengalami kesulitan operasi maka kemungkinan

perusahaan tersebut memperoleh pinjaman dari investor relatif

kecil, sehingga kondisi tersebut akan mempengaruhi struktur modal

atau utang perusahaan.

16
d. Agresivitas manajemen

Pada perusahaan-perusahaan dengan manajer yang agresif

pada umumnya lebih cenderung menggunakan utang untuk

meningkatkan laba.

3. Utang

1) Pengertian utang

Utang atau sering disebut dengan istilah kewajiban adalah "tuntutan-

tuntutan dari pihak luar", yaitu kewajiban ekonomis yang harus dibayar

kepada pihak luar. Pihak-pihak di luar perusahaan tersebut disebut kreditur

(Horngren et al., 1997). Sedangkan menurut Munawir (2001), utang adalah

semua kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang belum

terpenuhi, di mana utang ini merupakan sumber dana atau modal

perusahaan yang berasal dari kreditur.

2) Jenis utang

Utang atau kewajiban perusahaan dapat dikelompokkan menjadi utang

jangka pendek (utang lancar) dan utang jangka panjang.

2a) Utang jangka pendek atau utang lancar

Utang jangka pendek atau utang lancar adalah utang perusahaan

yang pelunasannya atau pembayarannya akan dilakukan dalam jangka

pendek (satu tahun sejak tanggal neraca) dengan menggunakan aktiva

lancar yang dimiliki oleh perusahaan (Munawir, 2001). Utang lancar

tersebut meliputi beberapa utang sebagai berikut :

(a) Utang dagang, yaitu utang yang timbul karena adanya pembelian

17
barang dagangan secara kredit.

(b) Utang wesel, yaitu utang yang disertai dengan janji tertulis untuk

melakukan pembayaran sejumlah tertentu pada waktu tertentu di

masa yang akan datang.

(c) Utang pajak, yaitu utang pajak yang belum disetorkan ke kas

negara.

(d) Biaya yang masih harus dibayar, yaitu biaya-biaya yang sudah

terjadi tetapi belum dilakukan pembayarannya.

(e) Utang jangka panjang yang segera jatuh tempo, yaitu sebagian

(seluruh) utang jangka panjang yang sudah mejadi utang jangka

pendek, karena harus segera dilakukan pembayarannya.

(f) Penghasilan yang diterima di muka (deferred revenue), yaitu

Penerimaan uang untuk penjualan barang/jasa yang belum di

realisir.

2b) Utang jangka panjang

Utang jangka panjang adalah kewajiban keuangan yang jangka

waktu pembayarannya (jatuh temponya) masih jangka panjang (lebih

dari satu tahun sejak tanggal neraca) (Munawir, 2001). Utang jangka

panjang tersebut meliputi:

a. Utang obligasi

b. Utang hipotik yaitu utang yang dijamin dengan aktiva tetap

tertentu.

c. Pinjaman jangka panjang yang lain.

18
4. Modal

Modal adalah hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik Perusahaan

yang ditunjukkan dalam pos modal (modal saham), surplus dan laba yang

ditahan. Atau kelebihan nilai aktiva yang dimiliki oleh perusahaan terhadap

seluruh utang-utangnya (Munawir, 2001). Dalam praktek kadang-kadang

nampak adanya suatu klasifikasi di dalam neraca yang pada umumnya

membingungkan pembaca (sulit untuk ditafsirkan) dengan nama reserve

(cadangan). Seharusnya cadangan ini diklasifikasikan sesuai dengan

klasifikasi neraca yaitu aktiva, utang dan milik sendiri (modal) sehingga

cadangan pada prinsipnya juga terdiri dari tiga golongan yaitu: (Munawir,

2001).

1. Cadangan sebagai pengurang aktiva (reserve that offseting assets). Misal-

nya cadangan penyusutan (reserve for depreciation), cadangan ini meupakan

pengurangan terhadap aktiva yang disusut, sehingga dalam neraca nampak di

sebelah debet mengurangi aktiva yang bersangkutan. Cadangan penyusutan

itu akan lebih tepat bila diberi nama lain yaitu akumulasi penyusutan, atau

akumulasi depresiasi (Munawir, 2001).

2. Cadangan sebagai utang (liability reserve), misalnya reserve for taxes

(cadangan untuk pajak) merupakan suatu utang yang dicatat sebagai

cadangan, ini tidak benar, seharusnya cadangan untuk pajak ini

dimasukkan dalam utang lancar (current liability), yaitu Utang Pajak atau

Taksiran Utang Pajak.

19
3. Cadangan yang merupakan surplus, yang betul-betul merupakan hak para

pemilik perusahaan, misalnya cadangan untuk ekspansi adalah merupakan

pemisahan sebagian dari laba yang ditahan (retained earning), dan dalam

neraca masuk dalam klasifikasi modal (appropriated surplus).

B. Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan adalah sangat penting karena dengan nilai perusahaan

yang tinggi akan diikuti oleh tingginya kemakmuran pemegang saham

(Bringham Gapensi, 1996). Semakin tinggi harga saham semakin tinggi nilai

perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik

perusahaan, sebab dengan nilai yang tinggi menunjukan kemakmuran

pemegang saham juga tinggi. Kekayaan pemegang saham dan perusahaan

dipresentasikan oleh harga pasar dari saham yang merupakan cerminan dari

keputusan investasi, pendanaan (financing), dan manajemen asset.

Menurut Fama (1978) dalam Untung wahyudi et.al , nilai perusahaan

akan tercermin dari harga sahamnya. Harga pasar dari saham perusahaan yang

terbentuk antara pembeli dan penjual disaat terjadi transaksi disebut nilai pasar

perusahaan, karena harga pasar saham dianggap cerminan dari nilai asset

perusahaan sesungguhnya. Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator

nilai pasar saham sangat dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Adanya

peluang investasi dapat memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan

perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga akan meningkatkan harga

saham, dengan meningkatnya harga saham maka nilai perusahaan pun akan

meningkat.

20
Indikator- indikator yang mempengaruhi nilai perusahaan diantaranya

adalah :

1. PER (Price Earning Ratio)

PER yaitu rasio yang mengukur seberapa besar perbandingan antara harga

saham perusahaan dengan keuntungan yang diperoleh para pemegang saham. (

Sutrisno, 2000 dalam Mohammad Usman,2001 dalam Malla Bahagia,2008).

Rumus yang digunakan adalah :

Harga Pasar Saham


PER= -------------------------------

Laba per Lembar Saham

Faktor-faktor yang mempengaruhi PER adalah :

Tingkat pertumbuhan laba

Dividend Payout Ratio

Tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemodal.

Menurut Basuku Yusuf, 2005 dalam Malla Bahagia, 2008, hubungan faktor-

faktor tersebut terhadap PER dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Semakin tinggi Pertumbuhan laba semakin tinggi PER nya, dengan kata

lain hubungan antara pertumbuhan laba dengan PER nya bersifat positif. Hal

ini dikarenakan bahwa prospek perusahaan dimasa yang akan datang dilihat

dari pertumbuhan laba, dengan laba perusahaan yang tinggi menunjukkan

kemampuan perusahaan dalam mengelola biaya yang dikeluarkan secara

efisien. Laba bersih yang tinggi menunjukkan earning per share yang tinggi,

yang berarti perusahaan mempunyai tingkat

21
profitabilitas yang baik, dengan tingkat profitabilitas yang tinggi dapat

meningkatkan kepercayaan pemodal untuk berinvestasi pada perusahaan

tersebut sehingga saham-saham dari perusahaan yang memiliki tingkat

profitabilitas dan pertumbuhan laba yang tinggi akan memiliki PER yang

tinggi pula, karena saham-saham akan lebih diminati di bursa sehingga

kecenderungan harganya meningkat lebih besar.

2. Semakin tinggi Dividend Payout Ratio (DPR), semakin tinggi PER nya.

DPR memiliki hubungan positif dengan PER, dimana DPR menentukan

besarnya dividen yang diterima oleh pemilik saham dan besarnya dividen

ini secara positif dapat mempengaruhi harga saham terutama pada pasar

modal didominasi yang mempunyai strategi mangejar dividen sebagai

target utama, maka semakin tinggi dividen semakin tinggi PER.

3. Semakin tinggi required rate of return (r) semakin rendah PER, r

merupakan tingkat keuntungan yang dianggap layak bagi investasi saham,

atau disebut juga sebagai tingkat keuntungan yang disyaratkan. Jika

keuntungan yang diperoleh dari investasi tersebut ternyata lebih kecil dari

tingkat keuntungan yang disyaratkan, berarti hal ini menunjukkan

investasi tersebut kurang menarik, sehingga dapat menyebabkan turunnya

harga saham tersebut dan sebaliknya. Dengan begitu r memiliki hubungan

yang negatif dengan PER, semakin tinggi tingkat keuntungan yang

diisyaratkan semakin rendah nilai PER nya.

PER adalah fungsi dari perubahan kemampuan laba yang diharapkan

di masa yang akan datang. Semakin besar PER, maka semakin

22
besar pula kemungkinan perusahaan untuk tumbuh sehingga dapat

meningkatkan nilai perusahaan.

2. PBV (Price Book Value)

Rasio ini mengukur nilai yang diberikan pasar keuangan kepada

manajemen dan organisasi perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang terus

tumbuh (Brigham, 1999: 92).

Rumus yang digunakan adalah :

Harga Pasar per Lembar Saham


PBV = ---------------------------------------

Nilai Buku per Lembar Saham

C. Struktur Kepemilikan Saham

Struktur kepemilikan saham adalah proporsi kepemilikan institusional dan

manjemen dalam kepemilikan saham perusahaan.

1. Kepemilikan Manajerial

Shleifer dan Vishny (1986) dalam Theresia (2002) menemukan

kepemilikan institusional secara positif terhadap kepemilikan manajerial.

Kepemilikan institusional secara mayoritas akan mengurangi kemungkinan

perusahaan untuk diakuisisi, sehingga meningkatkan keinginan manajer untuk

memperbasar kepemilikan pada perusahaan. Namun sebaliknya, menurut Fitri

dan Manduh (2003) semakin tinggi kepemilikan institusioanal maka akan

semakin meningkatkan kepengawasan pihak eksternal terhadap perusahaan.

23
Proporsi hutang yang besar akan menempatkan manajer di bawah

pengawasan debtholders dan manajer cenderung tidak menyukai pengawasan

oleh debtholders tersebut, sehingga pengaruh kebijakan hutang terhadap

kepemilikan manajerial adalah negatif. Kontras dengan pernyataan diatas,

Fitri dan Mamduh (2003) menyatakan adanya pengaruh positif. Pernyataan

ini berdasarkan pada asumsi bahwa penggunaan hutang akan mengurangi

kebutuhan penerbitan saham baru sehingga meningkatkan proporsi

kepemilikan manajerial.

Hubungan antara dividend dan kepemilikan manajerial dapat dijelaskan

melalui free cash flow hypothesis (FCF) (Jensen, 1986). Melalui hipotesis ini

kebijakan dividen digunakan untuk mempengaruhi kepemilikan manajerial

sehingga mengurangi biaya keagenan yang berkaitan dengan FCF. Penelitian

tersebut membuktikan bahwa terdapat hubungan subtitusi antara kebijakan

dividend dan kepemilikan manajerial.

2. Kepemilikan Institusional

Dengan tingginya kepemilikan manajerial, para investor institusional akan

mendapatkan kesempatan kontrol perusahaan yang lebih sedikit. Ini berarti

bahwa hubungan antara kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional

adalah negatif. Hubungan ini sesuai dengan penelitian Fitri dan Mamduh

(2003).

Risiko mempunyai hubungan negatif dan signifikan terhadap

kepemilikan institusional. Tingginya risiko yang dihadapi perusahaan

meningkatkan risiko kebangkrutan dan volatilitas dari pendapatan, hal ini

24
akan mengurangi minat institusi untuk melakukan investasi pada saham

perusahaan itu karena institusi lebih mementingkan pada stabilitas

pendapatan (Fitri dan Mamduh,2003).

Menurut Crutchley et al (1999), pengaruh kebijakan hutang terhadap

kepemilikan institusional adalah positif. Kebijakan hutang yang tinggi

menyebabkan perusahaan dimonitor oleh pihak debtholders, karena monitoring

dalam perusahaan yang ketat tadi menyebab manajer akan bertindak sesuai

dengan kepentingan debtholders dan shareholders, sehingga kondisi ini akan

menarik masuknya kepemilikan institusional.

Kebijakan dividen mempunyai pengaruh positif terhadap kepemilikan

institusional. Dari sudut pandang investor, investor institusional mungkin

akan lebih tertarik untuk berinvestasi pada saham dengan dividen yang tinggi

dan mekanisme yang ketat.

Semakin banyak saham yang dimiliki manajer akan semakin

menurunkan masalah keagenan sehingga membuat dividen tidak perlu

dibayarkan pada risiko yang tinggi dalam hal ini berarti kepemilikan

manajerial mempengaruhi kebijakan dividen secara negatif.

Dengan jumlah investasi yang tinggi, investor institusional melakukan

monitoring yang semakin ketat dan menghalangi perilaku oportunis manajer.

Monitoring oleh investor institusional ini dapat mengurangi agency cost

dalam hal ini yaitu biaya yang ditanggung pemilik untuk mengawasi agen

seperti biaya audit, sehingga dividen yang dibayarkan juga menurun.

25
Kehadiran kepemilikan institusional memiliki efek subtitusi bagi pembayaran

dividen untuk mengurangi biaya keagenan.

Menurut Chen dan Steiner (1999), variabe risiko mempunyai hubungan

negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Dengan tingginya risiko

bisnis yang dihadapi perusahaan akan diantisipasi dengan kebijakan

pembayaran dividen yang rendah. Dividen yang rendah dapat digunakan

untuk menghindari pemotongan dividen dimasa mendatang sehingga

penalokasian sebagian keuntungan pada laba ditahan dapat digunakan untuk

investasi lebih lanjut.

Malalui penjelasan balancing model of agency cost, Megginson (1997)

dalam Mahadwarta (2002) menyatakan bahwa kebijakan hutang mempengaruhi

kebijakan dividen dengan hubungan yang negatif. Perusahaan dengan tingkat

hutang yang tinggi akan berusaha untuk mengurangi agency cost of debt-nya

dengan mengurangi hutang, sehingga untuk membiayai investasinya digunakan

pendanaan dari aliran cost internal. Pemegang saham akan merelakan aliran kas

internal yang sebelumnya dapat digunakan untuk pembayaran dividen untuk

membiayai investasi

26
D. Faktor Ekstern

Faktor ekstern merupakan pengelompokan dari variablel-variabel yang tidak

dapat dikendalikan perusahaan. Variabel yang termasuk faktor ekstern adalah :

1. Tingkat suku bunga

Pengertian operasional variabel tingkat suku bunga adalah tingkat

bunga kredit investasi dan tingkat bunga kredit modal kerja Bank

Umum rata-rata pertahun yang dibebankan kepada perusahaan atas

penggunaan modal kerja dalam bentuk utang jangka pendek dan dana

investasi dalam bentuk hutang jangka panjang pada akhir tahun. Suku

bunga merupakan biaya modal bagi perusahaan suku bunga yang

tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi sehingga

perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya

leverage akan menurun.

2. Keadaan Pasar Modal

Keadaan pasar modal semakin bergairah akan mengurangi minat

perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih

tertarik melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage

akan menurun. Keadaan pasar modal merupakan besarnya nilai

transaksi perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada akhir tahun

sebagai cermin perkembangan BEI. Variabel pasar modal diukur

dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham di BEI pada akhir tahun.

27
3. Pertumbuhan Pasar

Pertumbuhan pasar adalah persepsi peluang bisnis yang tersedia

dipasar yang harus direbut oleh perusahaan. Pertumbuhan pasar ini

diukur dari nilai rasio selisih volume penjualan pada tahun t dengan

volume penjualan pada tahun t-1 dibagi dengan volume penjualan

industri pada tahun t-1. Pertunbuhan pasar menunjukan kinerja

perusahaan membaik sehingga investor akan merespon positif dan nilai

perusahan akan meningkat. Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan

prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif

sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat.

E. Faktor Intern

Faktor intern merupakan variabel-variabel yang dapat dikendalikan

oleh perusahaan. Variabel-variabel yang termasuk variabel faktor intern

adalah :

1. Profitabilitas

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan

profit atau laba selama satu tahun yang dinyatakan dengan rasio laba

operasi dengan penjualan dari data laporan labarugi akhir tahun.

Rasio profitabilitas dapat diukur dari dua pendekatan yakni

pendekatan penjualan dan pendekatan investasi (Horne 1992). Ukuran

yang banyak digunakan adalah return on assets (ROA) dan return on

equity (ROE).

28
Tingkat profitabilitas masa lalu di suatu perusahaan harus

merupakan pene tu atau determinan penting atas struktur modal

perusahaan yang bersangkutan dengan besarnya jumlah laba ditahan,

suatu perusahaan mungkin cenderung memilih pendanaan dari sunber

tersebut dari pada peminjaman. Hal ini sejalan dengan hipotesa

pecking order theory yang digunakan oleh Myers, yang menyatakan

bahwa cara-cara yang dipergunakan oleh perusahaan dalam

memperoleh dana adalah dengan urutan sebagai berikut :

Pertama, dari laba di tahan. Kedua, dari pendanaan hutang dan

Ketiga, dari ekuitas baru. Profitabilitas yang mempunyai pengaruh

penting pada kebijakan dividen perusahaan. Perusahaan yang memiliki

tingkat keuntungan yang tinggi cenderung akan membayarkan sebagai

besar hasil keuntungan tersebut dalam bentuk dividen. Untuk menilai

tingkat profit ini digunakan perhitungan tingkat rata-rata atas asset

(ROA) (Hang and Rhee, 1990. Hal 2a).

Dengan formula :

Laba Bersih yg Tersedia bagi Pemegang Saham Biasa


ROA = -------------------------------------------------------------------
Rata-rata Total Aktiva

sumber. Brigham Gapenski dan Daves (1999, hal. 77).

29
2. Pembayaran dividen

1.) Definisi kebijakan dividen

Kebijakan dividen adalah kebijakan dalam menentukan pembagian

laba antara pembayaran kepada pemegang saham dan investasi kembali ke

perusahaan (Copeland, 1997 : 125). Kebijakan dividen mempengaruhi baik

pembelajaan jangka panjang ataupun penghasilan yang dibagikan kepada

pemegang saham, maka perusahaan memiliki dua kemungkinan sudut

pandang untuk membayar dividen :

a. Sebagai keputusan pembelanjaan jangka panjang dengan pendekatan

ini, semua laba sesudah pajak yang diperoleh perusahaan dapat

dipandang sebagai sumber dana jangka panjang. Suatu pengumpulan

dividen kas mengurangi jumlah dana yang tersedia untuk membelanjai

pertumbuhan, membatasi pertumbuhan, atau memaksa perusahaan

memperoleh sumber dana yang lain. Perusahaan akan menahan

pendapatanya, bila : a) tersedia proyek-proyek yang menguntungkan,

b) struktur modal membutuhkan modal sendiri.

b. Sebagai suatu keputusan kesejahteraan maksimum dengan pendekatan

ini perusahaan mengakui bahwa pembayaran dividen mempunyai

pengaruh terhadap harga pasar saham biasa. Perusahaan harus

memaksimumkan rasa kesejahteraan dengan mendeklarasikan dividen

yang cukup untuk memenuhi harapan investor dan pemegang saham.

(Sarwoko, 1995 : 206) kebijakan dividen yang optimal adalah

kebijakan yang menciptakan keseimbangan diantara dividen saat ini

30
dan pertumbuhan dimasa mendatang sehingga memaksimumkan harga

saham (Brigham, 1994 : 198).

2.) Jenis-jenis dividen

Jenis-jenis dividen yang dibagikan oleh perusahaan kepada para

pemegang saham adalah :

a. Cash dividend, yaitu dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam

bentuk tunai atau kas.

b. Property dividend, dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam

bentuk aktiva selain kas, misalnya mesin, inventory, dll.

c. Script dividend, yaitu dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam

dua kali pembayaran atau lebih karena perusahaan dalam kesulitan

likuiditas.

d. Liquidating dividend, yaitu dividen dibagikan dengan tidak

berdasarkan keuntungan yang diperoleh perusahaan tetapi merupakan

pengurangan modal perusahan.

Stock dividend, yaitu dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam

bentuk sham. Hal ini dimaksudkan untuk mengkapitalisasi pendapatan

perusahaan sehingga tidak ada aset yang diberikan.

3.) Jenis kebijakan dividen

a. kebijakan dividen yang stabil

jumlah dividen per lembar yang dibayarkan setiap tahunnya relatif

tetap selama jangka waktu tertentu meskipun pendapatan per lembar

saham pertahunnya berfluktuasi.

31
b. kebijakan dividen dengan penetapan jumlah dividen minimal plus

jumlah ekstra tertentu.

Kebijakan ini menetapkan jumlah rupiah minimal dividen per lembar

saham tiap tahunnya. Dalam keadaan keuangan yang lebih baik

perusahaan akan membayarkan dividen ekstra diatas jumlah minimal

tersebut.

c. kebijakan dividen dengan penetapan dividend payout ratio yang

konstan.

Kebijakan ini membayarkan dividen berdasarkan persentase tertentu dari

laba. Ini berarti bahwa jumlah dividen per lembar saham yang

dibayarkan setiap tahunnya akan berfluktuasi sesuai dengan

perkembangan keuntungan neto yang diperoleh setiap tahunnya.

d. kebijakan dividen fleksibel.

Pembayaran besarnya dividen setiap tahunnya disesuaikan dengan

posisi financial dan kebijakan financial perusahan tersebut.

3. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar

kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan

pada neraca akhir tahun yang dilakukan dengan len (ln) dari total

aktiva.

Ukuran perusahaan menunjukan aktifitas perusahaan yang dimiliki

perusahaan. Semakin besar ukuran perusahaan berarti semakin besar

32
aktiva yang bisa dijadikan jaminan untruk memperoleh hutang

sehingga leverage akan meningkat.

Sebuah perusahaan yang besar dan mampu mempertahankan

keberadaannya dengan baik akan memiliki akses yang mudah pada pasar

modal bila dibandingkan dengan perusahaan yang kecil. Karena

aksebilitas yang mudah terhadap pasar modal berarti memiliki

fleksibilitas yang besar dan kemampuan untuk mengumpulkan dana

dalam waktu singkat, dengan demikian perusahaan besar biasanya

mampu membayarkan rasio dividen yang lebih tinggi dibandingkan

perusahaan kecil.

F. Peneliti Sebelumnya

Peneliti sebelumnya telah dilakukan oleh Sujoko dan Ugy Soebiantoro

(2007) yang menguji tentang pengaruh struktur kepemilikan, leverage, faktor

ekstern dan faktor intern terhadap nilai perusahaan di Bursa Efek Jakarta.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis apakah ada

pengaruh struktur kepemilikan, faktor ekstern, dan faktor intern berpengaruh

signifikan terhadap leverage, dan untuk mengetahui serta menganalisis

apakah ada strukrur kepemilikan, faktor ekstern,faktor intern dan leverage

berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahan. Populasi dalam studi ini

adalah perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Sebanyak 134

perusahaan diambil sebagai sampel dengan menggunakan purposive

sampling. Adapun metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini


33
adalah dengan menggunakan analisis Structural Equation Modeling. Hasil studi

ini menunjukan bahwa struktur kepemilikan, faktor ekstern dan faktor intern

berpengaruh signifikan terhadap leverage. Struktur kepemilikan, faktor ekstern,

faktor intern dan leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

Studi ini menguji teori keagenan Jensen dan Meckling (1971). Pecking Order

Theory Myers (1984), Trade Off Model dan Signaling Theory, Bhattacarya

(1979).

Peneliti lainnya dilakukan oleh Siti Khodijah (2006) analisa faktor-

faktor determinan struktur modal dan price earning ratio serta pengujian

terhadap harga saham studi empiris perusahaan Jakarta Islamic Index dengan

pendekatan Path Analysis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktor-

faktor apa saja yang mempengaruhi struktur modal baik secara langsung dan

tidak tidak langsung dalam hal struktur aktiva, operating leverage (DOL),

total leverage (DCC), profitabilitas (ROI), penjualan (sales) dan tingkat

pertumbuhan (grow rates), untuk menganalisa dari variabel-variabel tersebut.

Variabel apa saja yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap

struktur modal perusahaan,untuk memperoleh bukti empiris tentang faktor-

faktor apa saja yang memperngaruhi price earning ratio (PER) , seperti total

leverage (DCL), profitabilitas (ROI), penjualan (sales), dan tingkat

pertumbuhan (grow rates), baik secara langsung dan tidak langsung, untuk

menganalisa dari keempat variabel tersebut, variabel apa saja yang

mempunyai pengaruh paling dominan terhadap price earning ratio (PER) dan

untuk memperoleh bukti empiris tentang faktor apa saja dari kedua faktor,

34
yakni struktur modal dan price earning ratio (PER) yang mempengaruhi harga

saham, serta mencari faktor apa yang dimiliki pengaruh paling dominan.

Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis Path Analysis.

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahan-perusahaan yang terdaftar

dalam JII di BEJ dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil

studi ini menunjukan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal

adalah struktur aktiva dan profitabilitas yang mempunyai pengaruh paling

dominan terhadap struktur modal ialah profitabilitasnya, total pengaruh dari

total leverage dan penjualan maka total leverage mempunyai pengaruh yang

paling dominan terhadap PER dan hasil penelitian selanjutnya yakni antara

pengaruh struktur modal dan PER terhadap harga saham hasil menunjukan

bahwa kedua variabel tersebut mempunyai pengaruh.

Peneliti lainnya dilakukan oleh Cyrillius Martono (2002). Analisa

pengaruh profitabilitas industri, rasio leverage keuangan tertimbang dan

itensitas modal tertimbang serta pangsa pasar terhadap ROA dan ROE

perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia. Studi ini meneliti empat

proksi rasio-rasio persaingan yang mempengaruhi profitabilitas perusahaan.

Proksi tersebut meliputi profitabilitas industry, rasio leverage keuangan

tertimbang dan pangsa pasar. Penelitian ini menggunakan data laporan

keuangan perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia sejak 1994-

1997 dengan total sampel per tahun sebanyak 41 perusahaan yang terdaftar di

Bursa Efek Jakarta. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi

berganda dengan menggunakan pooling data. Uji t dan uji F digunakan untuk

35
menguji hipotesis penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa : pertama,

tiga variabel, yaitu ROA industri, intensitas modal tertimbang, dan leverage

keuangan tertimbang terbukti berpengaruh signifikan terhadap ROA

perusahaan. Kedua, tiga variabel, yaitu ROE industri, leverage keuangan

tertimbang, dan pangsa pasar terbukti berpengaruh signifikan terhadap ROE.

Ketiga, berdasarkan nilai R2, hasil analisis regresi ROE. Keempat,

profitabilitas industri, terbukti superior dalam menjelaskan ROA, sedangkan

variabel yang superior dalam menjelaskan ROE adalah rasio leverage

keuangan tertimbang.

Peneliti lainnya dilakukan oleh Ardi Murdoko Sudarmadji dan Lana

Sularto (2007). Pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, dan tipe

kepemilikan perusahaan terhadap luas voluntary disclosure aporan keuangan

tahunan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah variabel ukuran

perusahaan, profitabilitas dan tipe kepemilikan perusahaan berpengaruh

terhadap luas voluntary disclosure laporan tahuanan. Jumlah sampel yang

digunakan dalam penelitian ini yaitu terdiri dari 8 perusahaan yang bergerak

dalam manufaktur. Pengolahan dan analisis data menggunakan regeresi linier

berganda dengan bantuan program SPSS. Pengujian data digunakan untuk

regresi linier berganda yaitu uji asumsi klasik. Hasil penelitian ini didapat

bahwa variabel ukuran perusahaan, profitabilitas dan tipe kepemilikan

perusahaan tidak berpengaruh terhadap luas voluntary disclosure laporan

tahunan.

36
Peneliti lainnya dilakukan oleh Etty M. Nasser dan Fielyandi F.

(2006) meneliti tentang pengaruh kepemilikan institusional, ukuran

perusahaan, profitabilitas, dan hutang sebagai variabel intervening terhadap

nilai perusahaan. Pengujian hipotesis menggunakan path analysis (structural

equation model) dengan bantuan software Amos 4.0. Penelitian ini bertujuan

untuk menguji apakah ada pengaruh ukuran perusahaan dan kepemilikan

institusional terhadap kebijakan hutang dan menguji apakah ada pengaruh

ukuran perusahaan, kepemilikan institusional, profitabilitas dan kebijakan

hutang terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini didapat bahwa variabel

ukuran perusahaan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap

kebijakan hutang. Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh negatif

signifikan terhadap kebijakan hutang. Hasil analisa pengaruh ukuran

perusahaan terhadap nilai perusahaan ditemukan bahwa size mempunyai

pengaruh yang positif signifikan terhadap nilai

perusahaan, variabel profitabilitas juga memiliki

pengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan.

37
G. Kerangka pemikiran

Struktur kepemilikan secara teoritis mempunyai hubungan dengan

leverage. Semakin terkonsentrasi kepemilikan saham maka pengawasan pemilik

terhadap manjemen akan semakin efektif. Manajemen akan semakin berhati-hati

dalam memperoleh pinjaman sebab jumlah utang yang semakin meningkat akan

menimbulkan financial distress. Terjadinya financial distress akan

mengakibatkan nilai perusahaan akan mengalami penurunan sehingga

mengurangi kemakmuran pemilik.

Suku bunga merupakan biaya modal bagi perusahaan suku bunga

yang tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi dehingga

perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya leverage

akan menurun. Keadaan pasar modal semakin bergairah akan mengurangi

minat perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih

tertarik melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan

menurun. Pertumbuhan pasar yang tinggi menunjukan peluang pasar yang

bagus sehingga mendorong perusahaan untuk melakukan peminjaman

sehingga leverage akan meningkat. Profitabilitas yang meningkat akan

meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan mengurangi minat perusahaan

untuk melakukan peminjaman dan leverage akan menurun. Pembayaran

dividen yang meningkat akan mengurangi laba yang ditahan sehingga sumber

dana intern akan menurun dan perusahaan akan tertarik melakukan

peminjaman dan leverage akan meningkat. Ukuran perusahaan menunjukan

aktifitas perusahaan yang dimiliki perusahaan. Semakin besar ukuran

38
perusahaan berarti semakin besar aktiva yang bisa dijadikan jaminan untruk

memperoleh hutang sehingga leverage akan meningkat. Kepemilikan

institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan peminjaman kepada

manajemen sehingga manajemen terdorong untuk meningkatkan kinerjanya,

selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat. Kepemilikan manajerial akan

mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerja perusahaan, karena

mereka juga memiliki perusahaan. Kinerja perusahaan yang meningkat akan

meningkatkan nilai perusahaan. Suku bunga yang tinggi akan mengurangi

minat investor untuk menginvestasikan dananya kepasar modal sehingga

aktifitas perdagangan akan menurun dan nilai perusahaan akan menurun.

Pertunbuhan pasar menunjukan kinerja perusahaan membaik sehingga

investor akan merespon positif dan nilai perusahan akan meningkat.

Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan prospek perusahaan yang baik

sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan

meningkat. Singnally theory, Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa

profitabilitas yang tinggi menunjukan prospek perusahaan yang bagus

sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan

meningkat. Pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukan

prospek perusahaan semakin bagus sehingga investor akan tertarik untuk

membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat. Ukuran perusahaan

yang besar menunjukan perusahaan mengalami perkembangan sehingga

investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Investor

akan merespon positif sehingga perusahaan akan meningkat. Leverage yang

39
semakin tinggi menimbulkan financial distress sehingga nilai perusahaan

akan menurun. Balancing theory (1976), Stigliz (1976) menyatakan bahwa

ada keseimbangan antara manfaat dan pengorbanan dalam kaitannya dengan

utang.

Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian yang

disesuaikan dengan konsep jalur, maka secara sistematis dapat dibuat

kerangka pemikiran sebagai berikut :

e1 X1.1
Struktur Kepemilikan
Saham (X1) 1
e2 X1.
2
Y1.1 e9
Struktur Modal
(Leverage) (Y1)
e3 X2.1 Y1.2 e10

e4 X2.2 Faktor Ekstern (X2)


Trad e off Theory (Rubenstein)(19 73)
Pecking Order Theory (Myers)(1984)(-)
Steiner (200 4)(+ )

e5 X2.3
Y2.1 e11
Nilai Perusahaan
(Y2)
Y2.2 e12
e6 X3.1

e7 X3.2 Faktor Intern (X3) 2

e8 X3.3

Keterangan :

X1.1 : Kepemilikan Manajerial

X1.2 : Kepemilikan Institusional

X2.1 : Tingkat Suku Bunga

X2.2 : Keadaaan Pasar Modal

40
X2.3 : Pertumbuhan Pasar

X3.1 : Profitabilitas

X3.2 : Pembayaran Dividen X3.3

: Ukuran Perusahaan

Y1.1 : DER (Debt to Equity Ratio)

Y1.2 : DAR (Debt to asset Ratio)

Y2.1 : PER (Price Earning Ratio)

Y2.2 : PBV (Price Book Value)

ß : (beta) koefisien jalur yang menjelaskan pengaruh dari variabel endogen ke

variabel endogen

? : (gama) koefisien jalur yang menjelaskan pengaruh dari variabel eksogen

ke variabel endogen

e : (error) error term yang berkaitan dengan latent variabel endogen

Bentuk persamaan struktural sebagai berikut :

Y1 : ?1 X1 + ?3X2+ ?5 X3+e1

Y2 : ?2 X1 + ?4X2+ ?6 X3+e2

Y2 : ßY1+e2

Pada persamaan struktural pertama, X1 (Struktur Kepemilikan Saham), X2

( Faktor Ekstern) dan X3 ( Faktor Intern) merupakan variabel eksogen, Y1

(Struktur Modal) sebagai variabel endogen, e1 merupakan residual variabel yang

berkaitan dengan variabel endogen, dan ?1,?3,dan ?5 koefisien jalur yang

menjelaskan pengaruh dari variabel eksogen ke variabel endogen. Pada persamaan

41
struktural kedua X1 (Struktur Kepemilikan Saham), X2 ( Faktor Ekstern) dan X3 (

Faktor Intern) merupakan variabel eksogen, Y2 ( Nilai Perusahaan) sebagai

variabel endogen, e2 merupakan residual variabel yang berkaitan dengan variabel

endogen, dan ?2,?4,dan ?6 koefisien jalur yang menjelaskan pengaruh dari variabel

eksogen ke variable endogen. Pada persamaan struktural ketiga Y1 (Struktur

Modal) dan Y2 (Nilai Perusahaan) sebagai variabel endogen, ß (beta) yaitu

koefisien jalur yang menjelaskan pengaruh dari variabel endogen (Y2)( Nilai

Perusahaan) ke variabel endogen lainnya (Y1)(Nilai Perusahaan. Sedangkan e2

merupakan residual variabel yang berkaitan dengan variabel endogen.

Awal penelitian ini dilakukan dengan mengamati perusahaan-perusahaan

yang tergabung dalam Bursa Efek Indonesia dan menyeleksi perusahan-

perusahaan yang secara terus menerus membagikan dividen masuk didalamnya

selama empat periode yaitu tahun 2003 sampai dengan tahun 2006. Selanjutnya

dari perusahaan tersebut peneliti mengambil data laporan keuangan akhir tahun

per 31 Desember yang berupa modal saham (share capital), nilai perdagangan

saham (value trade), total sales industry, ROA, DPR, total asset, DER, DAR,

PER dan PBV. Data tersebut akan diolah untuk mendapatkan variabel-variabel

yang diperlukan dalam penelitian. Dalam penelitian ini melibatkan variabel latent

dan beberapa indikator sebagai variabel manifest. variabel latent yaitu variabel

yang tidak bisa diukur secara langsung dan memerlukan beberapa indikator

sebagai proksi dan variabel manifest adalah variabel yang secara langsung daoat

diukur.

42
Variabel latent terdiri dari variabel endogen dan variabel eksogen.

Variabel endogen dalam penelitian ini diantaranya adalah Struktur Modal

(Leverage) (Y1), dan Nilai Perusahaan (Y2), dan variabel eksogennya diantaranya

Struktur Kepemilikan Saham (X1), Faktor Ekstern (X2), Faktor Intern (X2).

Setelah variabel manifest/indikator tersebut diperoleh maka dilakukan

pengujian dengan menggunakan metode structural equation modeling (SEM),

metode ini dibantu dengan menggunakan program Lisrel (Linear Structural

Relationships) 8.54.

H. Rumusan Hipotesis

Secara teoritis, pembiayaan perusahaan dihadapkan oleh berbagai

macam pertimbangan. Salah satu teori yang mendasari keputusan pendanaan

perusahaan adalah pecking order theory, Myers (1984) yang mengemukakan

adanya kecenderungan perusahaan untuk menentukan pemilihan sumber

pendanaan atas dasar hirarki risiko (pecking order theory). Pecking Order

Theory adalah salah satu teori yang mendasarakan pada asimetri informasi.

Asimetri informasi akan mempengaruhi struktur modal perusahaan dengan

cara membatasi akses pada sumber pendanaan dari luar. Myers dan Majluf

(1984) menunjukan bahwa dengan adanya asimetri informasi investor

biasanya akan menginterpretasikan sebagai berita buruk apabila perusahaan

mendanai investasinya dengan menerbitkan equitas. Dengan demikian,

perusahaan akan lebih memilih mendanai investasinya berdasarkan urutan

resiko. Bayless dan Diltz (1994) mengemukakan bahwa pecking order theory

43
cenderung akan memilih internal fund, riskless debt, risky debt dan equity.

Myers dan Majluf (1984), dan Myers (1984) mengacu terhadap masalah ini

sebagai hipotesis pecking order yang menyatakan bahwa perusahaan

cenderung menggunakan internal equity terlebih dahulu, dan apabila

memerlukan external finance, maka perusahaan akan mengeluarkan debt

sebelum menggunakan external equity.

Struktur kepemilikan secara teoritis mempunyai hubungan dengan

leverage. Semakin terkonsentrasi kepemilikan saham maka pengawasan pemilik

terhadap manjemen akan semakin efektif. Manajemen akan semakin berhati-hati

dalam memperoleh pinjaman sebab jumlah utang yang semakin meningkat akan

menimbulkan financial distress. Terjadinya financial distress akan

mengakibatkan nilai perusahaan akan mengalami penurunan sehingga

mengurangi kemakmuran pemilik.

Suku bunga merupakan biaya modal bagi perusahaan suku bunga

yang tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi dehingga

perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya leverage

akan menurun. Keadaan pasar modal semakin bergairah akan mengurangi

minat perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih

tertarik melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan

menurun. Pertumbuhan pasar yang tinggi menunjukan peluang pasar yang

bagus sehingga mendorong perusahaan untuk melakukan peminjaman

sehingga leverage akan meningkat. Profitabilitas yang meningkat akan

meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan mengurangi minat perusahaan

44
untuk melakukan peminjaman dan leverage akan menurun. Pembayaran

dividen yang meningkat akan mengurangi laba yang ditahan sehingga sumber

dana intern akan menurun dan perusahaan akan tertarik melakukan

peminjaman dan leverage akan meningkat. Ukuran perusahaan menunjukan

aktifitas perusahaan yang dimiliki perusahaan. Semakin besar ukuran

perusahaan berarti semakin besar aktiva yang bisa dijadikan jaminan untruk

memperoleh hutang sehingga leverage akan meningkat. Kepemilikan

institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan peminjaman kepada

manajemen sehingga manajemen terdorong untuk meningkatkan kinerjanya,

selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat. Kepemilikan manajerial akan

mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerja perusahaan, karena

mereka juga memiliki perusahaan. Kinerja perusahaan yang meningkat akan

meningkatkan nilai perusahaan. Suku bunga yang tinggi akan mengurangi

minat investor untuk menginvestasikan dananya kepasar modal sehingga

aktifitas perdagangan akan menurun dan nilai perusahaan akan menurun.

Pertunbuhan pasar menunjukan kinerja perusahaan membaik sehingga

investor akan merespon positif dan nilai perusahan akan meningkat.

Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan prospek perusahaan yang baik

sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan

meningkat. Singnally theory, Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa

profitabilitas yang tinggi menunjukan prospek perusahaan yang bagus

sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan

meningkat. Pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukan

45
prospek perusahaan semakin bagus sehingga investor akan tertarik untuk

membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat. Ukuran perusahaan

yang besar menunjukan perusahaan mengalami perkembangan sehingga

investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Investor

akan merespon positif sehingga perusahaan akan meningkat. Leverage yang

semakin tinggi menimbulkan financial distress sehingga nilai perusahaan

akan menurun. Balancing theory (1976), Stigliz (1976) menyatakan bahwa

ada keseimbangan antara manfaat dan pengorbanan dalam kaitannya dengan

utang.

Hipotesis penelitian

H1= Struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap leverage

H2= Faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap leverage

H3= Faktor intern berpengaruh signifikan terhadap leverage

H4= Struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap nilai

perusahaan

H5= Faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

H6= Faktor intern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

H7= Leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

46
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan go public

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2003 sampai dengan

tahun 2006. Ditetapkan penelitian dimulai tahun 2003 karena pada tahun

2003 keadaan perekonomian mulai pulih kembali setelah terjadi krisis.

Ditetapkan BEI sebagai tempat penelitian karena BEI penulis anggap sebagai

tempat untuk memperoleh data yang diperlukan berupa laporan keuangan dan

harga saham yang dijadikan sampel dalam penelitian ini. Adapun variabel

yang diteliti adalah struktur kepemilikan saham, struktur modal (leverage),

faktor ekstern, faktor intern, dan nilai perusahaan.

B. Metode Penentuan Sampel

1. Populasi

Penelitian ini mengambil populasi perusahaan-perusahaan go public yang

terdaftar di BEI tahun 2003 sampai dengan tahun 2006 melalui proses

screaning.

2. Sampel

Metode penentuan sampel yang digunakan adalah purposive sampling,

yaitu sampel yang memiliki kriteria sebagai berikut :

a. Perusahaan tercatat di BEI tahun 2003 sampai dengan tahun 2006.

b. Data laporan keuangan tersedia berturut-turut untuk laporan tahun

2003 sampai dengan tahun 2006.

47
c. Perusahaan mempublikasikan laporan keuangan yang telah diaudit

dengan menggunakan tahun buku yang berakhir pada tanggal 31

Desember.

d. Perusahaan harus membagikan dividen pada tahun 2003, 2004, 2005,

dan 2006 secara terus menerus.

C. Metode Pengumpulan Data

Untuk memperoleh hasil penelitian yang diharapkan, dibutuhkan data

dan informasi yang mendukung penelitian ini. Data sekunder dan informasi

yang dibutuhkan penulis diperoleh dari :

a). Penelitian Laporan

1. Laporan keuangan 31 Desember 2003, 31 Desember 2004, 31

Desember 2005, 31 Desember 2006.

2. Harga saham akhir tahun pada tahun 2003 sampai dengan

tahun 2006.

3. Rata-rata tingkat suku bunga modal kerja akhir bulan dan rata-

rata tingkat suku bunga investor akhir bulan dari Bank Umum

untuk tahun 2003 sampai dengan tahun 2006.

b). Metode Kepustakaan

Penelitian ini juga dilakukan melalui studi kepustakaan seperti jurnal,

literature, buku, website dan lain-lain yang behubungan dengan penelitian

ini.

48
D. Metode Analisis

Rancangan penelitian yang dipilih berupa model persamaan struktural

atau structural equation modeling (SEM) dan untuk pengujian hipotesis

menggunakan path analysis. Path analysis digunakan untuk mengetahui

hubungan antara masing-masing variabel.

Identifikasi Variabel

Terdapat dua variabel yaitu :

a. Variabel Endogen

Variabel endogen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel

eksogen dan merupakan variabel antara. Ada dua variabel endogen

dalam penelitian yaitu : Leverage (Y1) dan Nilai Perusahaan (Y2).

b. Variabel Eksogen

Variabel Eksogen adalah variabel yang diduga secara bebas

berpengaruh terhadap variabel endogen yaitu : struktur kepemilikan

saham (X1), factor ekstern (X2), dan faktor intern (X3).

c. Variabel Manifest (variabel observed /indikator)

Variabel Manifest (variabel observed /indikator) adalah variabel

yang dapat diukur secara langsung. variabel manifest dalam

penelitian ini meliputi struktur kepemilikan saham manajerial (X1.1),

struktur kepemilikan institusional (X1.2), tingkat suku bunga (X2.1),

keadaan pasar modal (X2.2), pertumbuhan pasar (X2.3), profitabilitas

(X3.1), pembayaran dividen (X3.2), ukuran perusahaan (X3.3), debt to

49
equity ratio (DER) (Y1.1), debt to asset ratio (DAR) (Y1.2), price

earning ratio (PER) (Y2.1), dan price book value (PBV) (Y2.2).

Structural Equation Modeling (SEM)

Model persamaan struktural (structural equation modeling) adalah

generasi kedua teknik analisis multivariate (Bagozzi dan Fornell 1982)

yang memungkinkan peneliti untuk menguji hubungan antara variabel

yang kompleks baik recursive maupun non recursive untuk

memperoleh gambaran menyeluruh mengenai keseluruhan model.

Selain itu menurut Bollen (1989), SEM juga dapat menguji secara

bersama-sama :

1. Model struktural. Yaitu hubungan antara variabel laten baik

variabel laten endogen maupun eksogen.

2. Model measurement. Yaitu hubungan (nilai loading) antar indikator

dengan variabel latennya.

Dengan adanya pengujian model struktural dan pengukuran

memungkinkan peneliti untuk menguji kesalahan pengukuran

(measurement error) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari

Structural Equation Modeling dan melakukan analisis faktor

bersamaan dengan pengujian hipotesis. Proses Structural Equation

Modeling mencakup beberapa langkah yang harus dilakukan

antaranya adalah :

50
1 . Konseptualisasi Model

Tahap ini berhubungan dengan pengembangan hipotesis

berdasarkan teori sebagai dasar dalam menghubungkan variabel laten

dengan variabel laten lainnya, dan juga dengan indikator-indikatornya.

Teori dalam konseptualisasi model bukan hanya berasal dari para

akademisi, tetapi juga dapat berasal pengalaman dan praktek yang

diperoleh dari para praktisi. Selain itu konseptualisasi model juga

harus merefleksikan pengukuran variabel laten melalui berbagai

indikator yang dapat diukur.

2. Penyusunan Diagram Jalur

Tahap ini akan memudahkan kita dalam memvisualisasikan hipotesis

yang telah diajukan dalam konseptualisasi model. Path diagram

merupakan representasi grafis mengenai bagaimana beberapa variabel

pada suatu model berhubungan satu sama lain, yang memberikan suatu

pandangan menyeluruh mengenai struktur model

3. Spesifikasi Model

Tahap ketiga ini memungkinkan kita untuk menggambarkan sifat

dan jumlah parameter yang diestimasi

4. Identifikasi Model

Informasi yang diperoleh dari data yang diuji untuk menentukan

apakah cukup untuk mengestimasi parameter dalam model, disini kita

dapat memperoleh nilai yang unik untuk seluruh parameter dari data

yang telah kita peroleh.

51
Untuk menentukan apakah model kita mengandung atau tidak

masalah identifikasi, maka harus dipenuhi keadaan berikut :

t < s/2

dimana :

t : jumlah parameter yang diestimasi

s : jumlah varians dan kovarians antara variable manifest

(observed/manifest) : yang merupakan (p+q) (p+q+1)

p : jumlah variabel y (indikator variabel endogen)

q : jumlah variabel x (indikator variabel eksogen)

Jika t > 2, maka model tersebut adalah unidentified.

Masalah ini dapat terjadi pada SEM, dimana informasi yang

terdapat pada data empiris (varians dan kovarians variabel

manifest) tidak cukup untuk menghasilkan solusi yang unik untuk

memperoleh parameter model. Masalah unidentifest tersebut dapat

diatasi dengan mengkonstraint model dengan cara menambah

indikator (variabel manifest) ke dalam model, menentukan (fix)

parameter tambahan menjadi 0 dan mengasumsikan bahwa

parameter yang satu dengan parameter yang lain sama.

Jika t = s/2, maka model disebut just-identified, sehingga solusi

yang unik, tunggal, dapat diestimasi untuk megestimasi parameter.

Model yang just-identified, seluruh informasi yang tersedia telah

digunakan untuk mengestimasi parameter, sehinggga tidak ada

52
informasi yang tersisa untuk menguji model ( derajat kepercayaan

adalah 0).

Jika t < s/2, maka model tersebut adalah over-identified.

Dalam hal ini lebih dari satu estimasi masing-masing dapat

diperoleh (karena jumlah persamaan yang tersedia melebihi jumlah

parameter yang diestimasi).

5. Estimasi Parameter

Tahap ini, kita melakukan pengujian signifikansi yaitu menentukan

apakah parameter yang dihasilkan secara signifikan berbeda dari nol.

Estimasi parameter dalam LISREL mempunyai tiga informasi yang

berguna yaitu koefisien regresi standar error dan nilai t. Standar error

yang digunakan untuk mengukur ketepatan dari setiap estimasi

parameter. Untuk mengetahui signifikan tidaknya hubungan antara

variabel laten maupun antara variabel laten dengan indikatornya, maka

nilai t harus lebih besar dari nilai t-tabel pada level tertentu yang

tergantung dari ukuran sampel dan level signifikan tersebut.

6. Penilaian Model Fit

Uji Keseluruhan

Salah satu tujuan dari Structural Equation Modeling adalah menentukan

apakah model plausible (masuk akal) atau fit. Suatu model penelitian

dikatakan baik, apaabila memiliki model fit yang baik pula.

Tingkat kesesuaian model secara keseluruhan terdiri dari:

53
Absolute Fit Measures

Absolut fit Measures digunakan untuk memiliki kesesuaian model

secara keseluruhan (baik model pengukuran maupun model

struktural), tanpa menyesuaikan kepada degree of freedom-nya.

Indikator-indikator dalam absolut fit Measures adalah sebagai berikut:

a. Chi-Square dan Probabilitas

Chi-square merupakan ukuran mengenai buruknya fit suatu

model. Nilai Chi-square sebesar nol menunjukkan bahwa model

memiliki fit yang sempurna (perfect fit). Nilai chi-square yang

signifikan (kurang dari 0.05) menunjukkan bahwa data empiris

yang diperoleh memiliki perbedaan dengan teori yang telah

dibangun berdasarkan struktural equation modeling. Sedangkan

probabilitas adalah untuk memperoleh penyimpangan (deviasi)

besar yang ditunjukkan oleh chi-square. Nilai probabilitas yang

tidak signifikan (p=0) adalah yang diharapkan, yang menunjukkan

bahwa data empiris sesuai dengan model.

Nilai probabilitas chi-square memiliki permasalahan yang

fundamental dalam validitasnya. Menurut Cochran (1952) dalam

Imam Ghozali (2005) probabilitas ini sangat sensitif dimana

ketidaksesuaian antara data dengan teori (model) sangat

dipengaruhi oleh besarnya ukuran sampel. Jika ukuran sampel

kecil, maka chi-square ini akan menunjukkan data secara signifikan

tidak berbeda dengan model dan teori-teori yang mendasarinya.

54
Sedangkan jika ukuran sampel adalah besar, maka uji chi-square

akan menunjukkan bahwa data secara signifikan berbeda dengan

teori, meskipun perbedaan tersebut adalah sangat kecil

b. Goodness of Fit Indices (GFI)

Goodness of Fit Indices (GFI) merupakan suatu ukuran

mengenai ketepatan model dalam menghasilkan observed matriks

kovarians. Nilai GFI ini harus berkisar antara 0 dan 1. Menurut

Diamantopaulus dan Siguaw (2000) dalam Imam Ghozali (2005),

nilai GFI yang lebih besar dari 0,9 menunjukkan fit suatu model yang

baik.

c. Adjusted Goodness of Fit Index

Adjusted Goodness of Fit Index (AGFI) adalah sama dengan

GFI, tetapi telah menyesuaikan pengaruh degress of freedom pada

suatu model. Model yang fit adalah yang memiliki nilai AGFI 0.9

(Diamantopaulus dan Sigauw (2000) dalam Imam Ghozali (2005),.

Ukuran yang hampir sama dengan GFI dan AGFI adalah

Parsimony goodness of fit indexs (PGFI) yang diperkenalkan oleh

Mulaik et.al (1989), yang juga telah menyesuaikan adanya dampak

dari degree of freedom dan kompleksitas model. Model yang baik

apabila memiliki nilai PGFI jauh lebih besar daripada 0.6 (Byrne,

1998 dalam Imam Ghozali, 2005).

55
d. Root Mean Square Errors of Approximation (RMSEA)

Ukuran model fit telah lama diperkenalkan oleh Steiger dan

Lind pada tahun 1980. Nilai RMSEA yang kurang daripada 0.05

mengindikasikan adanya model fit, dan nilai RMSEA yang berkisar

antara 0.08 menyatakan bahwa model memiliki perkiraan

permasalahan yang reasonable (Byrne, 1998 dalam Imam Ghozali,

2005). Sedangkan menurut Maccallum et.al (1996) dalam Imam

Ghozali (2005) menyatakan bahwa model memiliki nilai yang

cukup fit jika RMSEA berkisar 0.08 sampai dengan 0.1 dan jika

RMSEA lebih besar dari 0.1 mengindikasikan model memiliki nilai

fit yang jelek.

P-value for test of Close juga merupakan indikator yang menilai

fit aatau tidaknya suatu model yang dapat dilihat dari kedekatannya

terhadap model fit. Joreskog (1996) dalam Imam Ghozali (2005)

menganjurkan bahwa P-value for test of Close (RMSEA < 0.05)

haruslah lebih besar daripada 0.5 sehingga mengindikasikan bahwa

model adalah fit.

e. Normed Chi-Square (X2 /df)

Normed Chi-Square (X2 /df) merupakan indikator goodness of

fit adalah rasio perbandingan antara nilai chi-square dengan

degrees of freedom. Menurut Wheaton (1977) dalam Imam Ghozali

(2005) cut-off model fit sebesar 5 dan sedikit lebih tinggi daripada

56
yang dianjurkan oleh Carmines dan Melver (1981) dalam Imam

Ghozali (2005) yaitu sebesar 2).

Comparative Fit Measures

Comparative fit Measures berkaitan dengan pertanyaan seberapa

baikkah kesesuaian model yang dibuat dibandingkan dengan

beberapa model alternatif. Indikator-indikator dari comparative fit

Measures dianataranya adalah:

a. Normed Fit Index (NFI)

Normed Fit Index (NFI) yang ditemukan oleh Bentler dan Bonetts

(1980), merupakan salah satu alternatif untuk menentukan model

fit. Namun, karena NFI memiliki tendensi untuk merendahkan fit

dalam sampel yang kecil, sehingga merevisi index ini dengan nama

Comparative Fit Index (CFI). Nilai NFI dan CFI berkisar antara 0

dan 1. Tetapi suatu model dikatakan fit apabila memiliki nilai NFI

dan CFI lebih besar dari 0.9 (Bentler,1992).

b. Non-Normed Fit Index (NNFI)

Non-Normed Fit Index (NNFI) digunakan untuk mengatasi

permasalahan yang timbul akibat kompleksitas model. Menurut

Kelloway (1998) dalam Didi Achjari (2003) dalam Malla Bahagia

(2008) menyatakan bahwa model dikatakan fit jika nilai NNFI

0.90.

c. Relative Fit Index (RFI)

57
Relative Fit Index (RFI) digunakan untuk mengukur fit dimana

nilainya 0 sampai 1, nilai yang lebih besar menunjukkan adanya

superior fit. Menurut Kelloway (1998) menyatakan bahwa model

dikatakan fit jika nilai NNFI 0.90.

d. Comparative Fit Index (CFI)

Comparative Fit Index (CFI) suatu model dikatakan fit apabila

memiliki Comparative Fit Index (CFI) lebih besar dari 0.90.

(Bentler, 1992 dalam Imam Ghozali,205).

Parsimonius Fit Measures

a. Parsimony Goodness of Fit Index (PGFI)

Parsimony Goodness of Fit Index (PGFI) yang diperkenalkan

oleh Mulaik et.al. (1998) dalam Imam Ghozali (2005). PGFI telah

menyesuaikan adanya dampak dari degree of freedom dan

kompleksitas model. Model yang baik apabila memiliki nilai

PGFI jauh lebih besar daripada 0.6. (Byrne,1998 dalam Imam

Ghozali, 2005). Lain halnya menurut Kelloway (1998) nilai PGFI

berkisar antara 0-1, dimana lebih besar nilai tersebut lebih baik.

b. Parsimony Normed Fit Index (PNFI)

Menurut Kelloway (1998) nilai PNFI berkisar antara 0-1, dimana

lebih besar nilai tersebut lebih baik.

58
Tabel 3.1
Standar Penilaian Kesesuaian (Fit )
Nilai Yang Direkomendasikan
Laporan Statistik
Holmes- Smith (2002) Kelloway (1998)
Absolut Fit
?² p > 0.05 Tidak Signifikan
Normed Chi-Square (?²/df) 1<?²/df<2 2<?²/df<5
Nilai 2-3 ?reasonable
good fit < 2 ? over fitting
Nilai < 1 ?overfit
RMR < 0.05 < 0.05
RMSEA < 0.05 < 0.10 ? good fit
0.05-0.08?reasonable fit <0.05 ? very good fit
< 0.01 ?outstanding fit
GFI > 0.95 >0.90? good fit
> 0.90 ?reasonable fit
AGFI >0.95 >0.90? good fit
>0.90 ?reasonable fit
Comparative Fit
NFI - 0.9 ? good fit
NNFI >0.95 0.9 ? good fit
>0.90 ?reasonable fit
>1 ? lack of parsimony
CFI >0.95 0.9 ? good fit
>0.90 ?reasonable fit
RFI - 0.9 ? good fit
Parsimonious Fit
PNFI - 0-1 (lebih besar lebih baik)
PGFI - 0-1 (lebih besar lebih baik)
AIC Nilai sekecil mungkin 0-1 (lebih besar lebih baik)
CAIC Nilai sekecil mungkin 0-1 (lebih besar lebih baik)

Uji Individual Measurement Model

Bila Kecocokan model secara keseluruhan telah terpenuhi,

selanjutnya adalah memperhatikan kecocokan measurement model

untuk setiap model. Bila model telah memenuhi criteria yang

ditetapkan pada uji keseluruhan, maka langkah selanjutnya menguji

59
setiap construct secara terpisah , dengan Uji signifiakansi setiap

indikator dengan uji – t, variabel indikator diaktakan signifikan

apabila nilai t yang diperoleh minimal sebesar 1.96 untuk taraf a =

5%, dan 2.58 untuk taraf a = 1% .

Uji Individual Struktural Model

Langkah selanjutnya adalah menguji structural model. Pada

pengujian ini terdapat dual hal yang harus dilakukan , yaitu :

a. Uji koefisien gamma dan beta

Seperti halnya uji signifikansi untuk indikator, parameter Gamma

atau Beta dikatakan diaktakan signifikan apabila nilai t yang

diperoleh minimal sebesar 1.96 untuk taraf a = 5%, dan 2.58 untuk

taraf a = 1% .

b. Uji keseluruhan structural model

Untuk menilai kebaikan dari keseluruhan structural model,

perhatikanlah nilai Squared Multiple Correlation (R²). Semakin besar

nilai tersebut semakin baik model yang dihasilkan.

7. Modifikai Model

Modifikasi model dilakukan jika hasil yang diperoleh tidak fit.

Model yang tidak fit dapat dilihat dari beberapa indikator goodness of fit

yang tidak menunjukan batas dan syarat tertentu misalkan nilai p yang

lebih kecil dari 0.05 sehingga menunjukkan model tidak fit padahal

model dikatakan fit apabila memiliki p yang tidak signifikan (lebih besar

dari 0.05). dalam Lisrel, terdapat modification index yang merupakan

60
salah satu alternatif terbaik untuk memodifikasi model. Namun harus

diperhatikan juga bahwa segala modifikasi (walaupun sangat sedikit),

harus berdasarkan teori yang mendukung.

Beberapa modifikasi model dapat dilakukan dengan cara :

1. Mengkorelasikan antara dua indikator.

2. Menambah hubungan (path) antara indikator dan variabel laten.

3. Merubah indikator dari suatu variabel.

Setelah melakukan modifikasi tersebut, maka yang seharusnya kita

lakukan adalah mempertimbangkan dan mencari justifikasi teori yang

kuat terhadap dilakukannya modifikasi tersebut.

8. Validasi Silang Model

Validasi silang model merupakan tahap terakhir dari analisis SEM

yaitu menguji fit tidaknya model terhadap suatu data baru (validasi sub-

sampel yang diperoleh melalui pemecahan sampel). Validasi silang ini

penting apabila terdapat modifikasi yang substansial yang dilakukan

terhadap model asli yang dilakukan pada tahap sebelumnya.

Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis pada SEM dimulai dengan penyusunan hipotesa

berdasarkan kajian pustaka dan hasil penelitian terdahulu, sehingga dapat ditarik

inferensi terhadap masalah penelitian dalam bentuk hipotesis alternatif sebgai

jawaban sementara penelitian sebagai berikut :

61
H1= Struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap leverage

H2= Faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap leverage

H3= Faktor intern berpengaruh signifikan terhadap leverage

H4=Struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap nilai

perusahaan

H5= Faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

H6= Faktor intern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

H7= Leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

Uji Signifikan

Uji signifikan dapat dilakukan dengan cara melihat jalur-jalur pada model

pengukuran dan model struktural yamg signifikan. Pada model pengukuran,

jalur–jalur (pengaruh) yang dapat dilihat adalah pengaruh yang

menghubungkan antara variabel laten dan indikatornya, apakah mempunyai

tingkat signifikan terhadap variabel latennya atau tidak. Uji signifikan pada

model pengukuran bertujuan untuk menentukan kemampuan suatu indikator

dalam mengukur variabel latennya. Pada model struktural pengaruh dapat

dilihat dari pengaruh yang menghubungkan antara variabel eksogen dengan

variabel endogen dan antara variabel endogen dengan variabel endogen.

Untuk mengetahui jalur-jalur hubungan dapat dilihat uji koefisien secara

parsial. Uji secara parsial terhadap koefisien path pada setiap jalur model

pengukuran maupun struktural dapat ditunjukkan dari t-value (nilai t) sebagai

berikut :

62
Jika t-hitung > t-tabel, maka terdapat koefisien jalur yang signifikan.

Jika t-hitung < t-tabel, maka tidak terdapat koefisien jalur yang tidak

signifikan.

E. Definisi Operasional Variabel

1. Variabel Endogen

a. Leverage ( Struktur Modal )

Indikator-indikator yang mempengaruhi leverage diantaranya

adalah :

1. DER (Debt to Equity Ratio)

DER yaitu rasio yang mencerminkan besarnya modal sendiri dijadikan

jaminan utang, yang diukur dengan formulasi sebagai berikut :

Hutang Jangka Panjang


DER = ---------------------------------------
Modal Sendiri

2. DAR (Debt to Asset Ratio)

DAR yaitu perbandingan antara utang jangka panjang dengan total

aktiva.

Hutang Jangka Panjang


DAR = ---------------------------------------
Total Aktiva

b. Nilai Perusahaan

Indikator-indikator yang mempengaruhi nilai perusahaan

diantaranya adalah :

63
1. PER (Price Earning Ratio)

PER yaitu rasio yang mengukur seberapa besar perbandingan antara

harga saham perusahaan dengan keuntungan yang diperoleh para

pemegang saham. ( sutrisno,2000 dalam Mohammad Usman,2001

dalam Malla Bahagia,2008).

Rumus yang digunakan adalah :

Harga Pasar Saham


PER= -------------------------------

Laba per Lembar Saham

2. PBV(Price Book Value) Rasio ini mengukur nilai yang diberikan pasar

keuangan kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai

sebuah perusahaan yang terus tumbuh (Brigham, 1999: 92).

Harga Pasar per Lembar Saham


PBV = ---------------------------------------

Nilai Buku per Lembar Saham

2. Variabel Eksogen

a. Struktur kepemilikan saham

Struktur kepemilikan saham adalah proporsi kepemilikan institusional

dan manjemen dalam kepemilikan saham perusahaan.

1) Kepemilikan Istitusional

Kepemilikan Institusional merupakan proporsi kepemilikan

saham oleh institusi dalam hal ini institusi pendiri perusahaan, bukan

64
institusi pemegang saham publik yang diukur dengan prosentase jumlah

saham yang dimiliki oleh investor institusi intern. Pengukuran ini

mengacu dari penelitian Sudarma (2003) dalam Sujoko (2007).

Inst Shrs it
Institusional (X ) = ---------------------------
Total Shrs it
Keterangan :

Inst Shrs it=Saham yang dimiliki oleh institusi pada perusahaan i

periode t.

Total Shrs it= Jumlah total saham beredar perusahaan I periode t

2) Kepemilikan Manjerial

Kepemilikan Manajerial merupakan kepemilikan terbesar oleh

manjemen perusahaan yang diukur dengan prosentase jumlah saham yang

dimiliki manajemen. Pengukuran ini mengaju dari Sudarma (2003) dalam

Sujoko (2007).

D + C Shrs it
Managerial Ownership (X ) = -------------------------
Total Shrs it

Keterangan :
D & C Shrs it = Saham yang dimiliki perusahaan I pada periode t
Total Shrs it = Jumlah total saham beredar perusahaan I pada periode t

65
b. Faktor Ekstern

Faktor Ekstern merupakan pengelompokan dari variabel-variabel yang

tidak dapat dikendalikan perusahaan. Variabel yang termasuk faktor

ekstern adalah:

1) Tingkat Suku Bunga

Pengertian operasional variabel tingkat suku bunga adalah tingkat

bunga kredit investasi dan tingkat bunga kredit modal kerja Bank Umum

rata-rata pertahun yang dibebankan kepada perusahaan atas penggunaan

modal kerja dalam bentuk utang jangka pendek dan dana investasi dalam

bentuk hutang jangka panjang pada akhir tahun.

2) Keadaan Pasar Modal

Keadaan pasar modal merupakan besarnya nilai transaksi

perdagangan di BEI pada akhir tahun sebagai cermin perkembangan BEI.

Variabel pasar modal diukur dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham

di BEI pada akhir tahun.

3) Pertumbuhan Pasar

Pertumbuhan pasar adalah persepsi peluang bisnis yang tersedia

dipasar yang harus direbut oleh perusahaan. Pertumbuhan pasar ini diukur

dari nilai rasio selisih volume penjualan pada tahun t dengan volume

penjualan pada tahun t-1 dibagi dengan volume penjualan industri pada

tahun t-1.

vol penj pada th t – volpenj pada th t-1


Pertum pasar = ---------------------------------------
volume penjualan pada tahun t-1

66
c. Faktor Intern

Faktor intern merupakan variabel-variabel yang dapat dikendalikan oleh

perusahaan. Variabel-variabel yang termasuk variabel faktor intern adalah :

1) Profitabilitas

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan

profit atau laba selama satu tahun yang dinyatakan dengan rasio laba operasi

dengan penjualan dari data laporan labarugi akhir tahun.

2) Pembayaran Dividen

Pembayaran dividen merupakan besarnya laba yang dibagikan

kepada pemegang saham pada akhir tahun yang juga akan mencerminkan

besarnya laba yang akan ditanamkan pada laba ditahan akhir tahun. Variabel

ini dinyatakan dengan rasio dividen perlembar saham dengan laba

perlembar saham akhir rahun.

Dividen per lembar saham


DPR = -------------------------------------------
Laba per lembar saham

3) Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar

kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan pada

neraca akhir tahun yang dilakukan dengan len (ln) dari total aktiva.

SIZE = Ln Total Assets it

Keterangan :

Total Assets it = Total assets yang dimiliki perusahaan i

periode t

67
BAB IV

PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

A.1 Pasar Modal

Pasar modal adalah pasar yang memperjualbelikan instrument keuangan

jangka panjang baik dalam bentuk hutang maupun modal sendiri, baik yang

dibentuk oleh pemerintah, public authorities maupun perusahaan swasta,artinya

pasar modal bertindak sebagai penghubung antara para investor dengan

perusahaan ataupun institusi pemerintah melalui perdagangan instrument

keuangan jangka panjang seperti obligasi, saham dan lainnya.

Selain itu pasar modal memiliki peran dan manfaat diantaranya :

1. Pasar modal merupakan wahana pengalokasian dana secara efisien.

Artinya investor dapat melakukan investasi pada perusahaan melalui

pembelian efek-efek baru yang ditawarkan/diperdagangkan pasar modal, dan

sebaliknya perusahaan dapat memperoleh dana yang dibutuhkan dengan menawarkan

instrument keuangan melalui pasar modal tersebut.

2. Pasar modal sebagai alternative investasi.

Yaitu pasar modal memudahkan alternatif investasi untuk memperoleh

keuntungan dengan risiko tertentu.

3. Memungkinkan para investor untuk memiliki perusahaan yang sehat dan

berprospek baik.

68
Hal ini dikarenakan penyebaran kepemilikan secara luas (tidak hanya

dimiliki oleh sejumlah orang tertentu saja) akan mendorong perkembambangan

perusahaan menjadi transparan.

4. Pelaksanaan manejemen perusahaan secara profesional dan transfaran

5. Peningkatan aktivitas ekonomi nasional.

Dengan keberadaan pasar modal perusahaan akan lebih mudah

memperoleh dana sehingga akan mendorong perekonomian nasional menjadi

lebih maju, terciptanya kesempatan kerja yang luas dan meningkatkan pendapatan

pajak bagi pemerintah.

A.2 Organisasi Yang Terkait di Pasar Modal.

1. Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM).

BAPEPAM melakukan kewenangan untuk melakukan pembinaan,

pengaturan, pengawasan pasar modal, di Indonesia dan keberadaan BAPEPAM

dibawah Menteri Keuangan sekaligus bertanggung jawab kepadanya

2. Perusahaan (Emiten).

Memperoleh dana di pasar modal dengan melaksanakan penawaran umum

atau investasi langsung.

3. Self Regulatory Organization (SRO).

SRO adalah organisasi yang mewakili kewenangan untuk membuat peraturan

yang berhubungan dengan aktivitas usahanya. SRO terdiri dari :

69
Burasa Efek.

Adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan system dan

sarana mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain

dengan tujuan memperdagangkan efek antara mereka.

Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP).

Adalah pihak yang menyelenggarakan jasa kliring dan penjaminana

trqansaksi bursa agar terlaksana secara teratur, wajar, dan efisien. Setiap

trnasaksi akan melewati lembaga ini untuk diselesaikan transaksinya, apakah

seorang pemodal akan bertambah jumlah saham yang dimilikinya karena

menjual saham yang dimilikinya dan menerima pembayaran. Lembaga yang

telah memperoleh izin usaha sebagai LKP oleh BAPEPAM adalah PT.KPEI

(PT. Kliring Penjaminan Efek Indonesia).

Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaiana (LPP).

Adalah pihak yang menyelenggarakan kegiatan custodian sentral

(penyimpanan efek) bagi Bank custodian, perusahaan efek dan lainnya.

Lembaga yang telah memperoleh izin usaha sebagai (LPP) oleh

BAPEPAM adalah PT. KSEI (PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia).

4. Perusahaan Efek.

Perusahaan efek adalah yang mempunyai aktivitas sebagai

perantara pedagang efek yaitu bahwa perusahaan efek melakukan jual beli

saham atas kepentingan pihak lain, atau dirinya sendiri, sebagai penjamin

emisi efek yaitu menjamin agar penerbitan emisi sekuritas yang dilakukan

oleh suatu perusahaan dapat terjual smua, dan sebagai manajer iivestasi

70
yaitu mengelola dana nasabah untuk diinvestasikan keberbagai sekuritas

atau gabungan dari ketiga tersebut.

5. Penasehat Investasi

Penasihat investasi yaitu pihak yang member nasihat kepada pihak

lain mengenai penjualan dan pembelian efek.

A.3 Sejarah Pasar Modal di Indonesia

Kegiatan jual beli saham dan obligasi sebenarnya telah dimulai pada abad

XIX. Pada tanggal 14 Desember 1912, Amserdamse Effectenbueurs mendirikan

cabang bursa di Batavia. Bursa ini merupakan bursa tertua keempat di Asia,

setelah Bombay, Hongkong dan Tokyo. Bursa yang dinamakan Vereniging voor

de Effectenhandel, memperjualbelikan saham dan obligasi perusahaan/perkebunan

Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang diterbitkan pemerintah

(propinsi dan kotapraja), sertifikat saham perusahaan-perusahaan Amerika yang

diterbitkan oleh kantor administrasi di negeri Belanda serta efek perusahaan

Belanda lainnya (Rusdin, Pasar Modal, Bandung; Alfabeta, 2006, hal 4).

Minat masyarakat terhadap pasar modal mendorong didirikannya bursa di

kota Surabaya (11 Juni 1925) dan Semarang (1 Agustus 1925). Perkembangan

pasar modal pada saat itu, terlihat dari nilai efek yang mencapai NIF 1,4 milyar,

pun demikian perkembangan pasar modal ini mengalami penyurutan akibat

Perang Dunia II.

Akibatnya, pemerintah Hindia Belanda mengambil kebijakan untuk

memusatkan perdagangan efeknya di Batavia dan menutup bursa efek di

71
Semarang dan Surabaya. Pada tanggal 17 Mei 1940, secara keseluruhan kegiatan

perdagangan efek ditutup. Di masa kemerdekaan, pada tahun 1950, pemerintah

mengeluarkan obligasi Republik Indonesia, yang menandakan mulai aktifnya

Pasar Modal Indonesia.

Pada tanggal 31 Juni 1952, Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali.

Penyelenggaraan tersebut kemudian diserahkan kepada Perserikatan Perdagangan

Uang dan Efek-efeknya (PPUE). Namun pada tahun 1958, terjadi kelesuan dan

kemunduran perdagangan di Bursa, akibat konfrontasi pemerintah dengan

Belanda. Pemerintah di masa Orde Baru, berusaha untuk mengembalikan

kepercayaan rakyat terhadap nilai mata uang Rupiah.

Pemerintah melakukan persiapan khusus untuk membentuk pasar modal.

Pada tahun 1976, pemerintah membentuk Bapepam (Badan Pembina Pasar

Modal) dan PT Danareksa. Hal tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah

untuk membentuk Pasar Uang dan Pasar Modal. Pada tanggal 10 Agustus 1977,

berdasarkan Keppres RI No 52/ 1976, pasar modal diaktifkan kembali.

Perkembangan pasar modal selama tahun 1977–1987, mengalami kelesuan. Pada

tahun 1987-1988, pemerintah menerbitkan paket-paket deregulasi. Paket

deregulasi ini adalah: Paket Desember 1987 (Pakdes 87), Paket Desember 1988

(Pakto 88), dan Paket Desember 1988 (Pakdes 88). Penerbitan paket deregulasi ini

menandai liberalisasi ekonomi Indonesia. Dampak dari adanya ketiga kebijakan

tersebut, pasar modal Indonesia menjadi aktif hingga sekarang.

72
Pakdes 1987 .

Pakdes 1987 merupakan penyederhanaan persyaratan proses emisi saham dan

obligasi, dihapuskannya biaya yang sebelumnya dipungut oleh Bapepam, seperti

biaya pendaftaran emisi efek. Selain itu dibuka pula kesempatan bagi pemodal

asing untuk membeli efek maksimal 49% dari total emisi. Pakdes 87 juga

menghapus batasan fluktuasi harga saham di bursa efek dan memperkenalkan

bursa paralel. Sebagai pilihan bagi emiten yang belum memenuhi syarat untuk

memasuki bursa efek.

Pakto 88

Pakto 88 ditujukan pada sektor perbankkan, namun mempunyai dampak terhadap

perkembangan pasar modal. Pakto 88 berisikan tentang ketentuan 3 L (Legal,

Lending, Limit), dan pengenaan pajak atas bunga deposito. Pengenaan pajak ini

berdampak positif terhadap perkembangan pasar modal. Sebab dengan keluarnya

kebijaksanaan ini berarti pemerintah memberi perlakuan yang sama antara sektor

perbankan dan sektor pasar modal.

Pakdes 88

Pakdes 88 pada dasarnya memberikan dorongan yang lebih jauh pada pasar modal

dengan membuka peluang bagi swasta untuk menyelenggarakan bursa.

73
A.4 Perkembangan Pasar Modal

Minggu keempat Februari 2006, Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa

Efek Jakarta (BEJ) cenderung menurun. Indeks ditutup pada level 1.216,140 atau

turun 27,335 poin (2,19%) dibandingkan akhir minggu sebelumnya yang

mencapai level 1.243,475. Pada perdagangan saham hari pertama, indeks

mengalami peningkatan sebesar 3,939 poin (0,32%) ke posisi 1.247,414.

Peningkatan indeks ini antara lain didorong oleh adanya aksi beli para pemodal

atas saham PT Semen Gresik. Hal ini juga dipengaruhi oleh adanya sentimen

positif pasar atas pernyataan dari Bank Indonesia bahwa pertumbuhan ekonomi

akan tumbuh secara cepat dalam semester pertama tahun 2006 ini, dan

pertumbuhan PDB tahun 2006 diperkirakan akan mencapai antara 5% dan 5,7%.

Pada perdagangan saham hari berikutnya indeks melemah 11,325 poin

(0,91%) ke level 1.236,089. Para pemodal cenderung melakukan aksi jual atas

saham-saham unggulan seperti saham PT. Astra Int, PT Bank BRI dan PT. Bank

Mandiri berkenaan dengan kekhawatiran akan kembali naiknya tingkat suku

bunga perbankan. Kondisi tersebut tidak terlepas dari rencana pemerintah yang

akan menaikkan tariff dasar listrik yang akan berdampak pada naiknya tingkat

inflasi. Aksi jual juga terjadi pada saham PT. Indosat dan PT. Telkom berkenaan

dengan adanya laporan dari Morgan Stanley yang memberikan rekomendasi

industri telekomunikasi di Indonesia dari “attractive” menjadi “cautious” seiring

dengan semakin ketatnya persaingan di industri telekomunikasi.

Penurunan indeks terus berlanjut pada pertengahan minggu, dimana indeks

ditutup pada posisi 1.231,250 atau turun 4,839 poin (0,39%). Para pemodal

74
cenderung melakukan aksi jual atas saham-saham perbankan seiring dengan

adanya pernyataan dari US Federal Reserve yang mengindikasikan akan

melanjutkan menaikkan tingkat suku bunga. Tingginya tingkat suku bunga di

Amerika Serikat akan mendorong Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga

sebagai upaya mencegah penurunan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut masih

berlanjut pada perdagangan saham hari Kamis, dimana indeks mengalami

penurunan sebesar 7,086 poin (0,58%) menjadi 1.224,164.

Pada akhir pekan indeks turun 8, 024 poin ke level 1.215,140 yang dipicu

oleh aksi jual saham PNG yang dinilai harga sahamnya naik terlalu cepat,

disamping adanya kekhawatiran investor terhadap laporan keuangan emiten tahun

2005 yang diprediksi belum menunjukan perbaikan, terutama emiten

perbankan. Nilai rata-rata perdagangan saham perhari di BEJ pada minggu ini Rp.

1.045,99 miliar, turun 23,64% dibandingkan minggu sebelumnya Rp. 1.369,78

miliar. Sementara itu, proporsi perdagangan lebih didominasi oleh pemodal

domestik yang mencapai 73, 60% dibandingkan dengan pemodal asing 26,40%

dari total perdagangan saham. Pemodal asing lebih banyak melakukan penjualan,

terlihat dari total posisi jual yang lebih besar daripada posisi belinya sehingga

terjadi aliran dana keluar sekitar Rp. 311.812 miliar. (Sumber:Bapepam).

75
B. Deskriptif Analisis

B.1 Deskripsi Data Sampel

Berdasarkan pengambilan sampel secara Purposive Sampling maka dapat

diperoleh sebagai berikut :

Perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta (Bursa Efek Indonesia) dan

mengeluarkan laporan keuangan per 31 desember pada tahun 2003-2006

berjumlah 389 perusahaan.

Perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta (Bursa Efek Indonesia)

listing sebelum tahun 2003 berjumlah 318 perusahaan.

Perusahaan yang membagikan dividen secara terus-menerus selama tahun

2003-2006 berjumlah 58 perusahaan.

Perusahaan yang tidak memiliki struktur kepemilikan baik kepemilikan

manajerial maupun kepemilikan institusional berjumlah 40 perusahaan.

Dari keterangan-keterangan tersebut, maka dapat diperoleh sampel penelitian

yaitu 24 perusahaan dengan nama perusahaan sebagai berikut :

76
Tabel 4.1
Sampel Data Penelitian

No Nama Perusahaan
1 AKR Corporatian Tbk.
2 Asuransi Bintang Tbk.
3 Asuransi International Tbk.
4 Astra Graphia Tbk.
5 Astra Otoparts Tbk.
6 Berlian Laju Tanker Tbk.
7 Bank UOB Buana Tbk.
8 Ekhadarma International Tbk.
9 Gudang Garam Tbk.
10 Hexindo Adiperkasa Tbk.
11 Indorama Sythentic Tbk.
12 Indosat Tbk.
13 Intel Nickel Indonesia Tbk.
14 Kimia Farma Tbk.
15 Lautan Luas Tbk.
16 Panin Sekuritas Tbk.
17 Ramayana Lestari Tbk.
18 Rig Tenders Tbk.
19 Selamat Sempurna Tbk.
20 Sorini Corporation Tbk.
21 Sepatu Bata Tbk.
22 Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk.
23 Tempo Scan Pasific Tbk.
24 Tunas Baru Lampung Tbk.
Sumber : Bursa Efek Indonesia

B.2 Deskripsi Analisis Data

Perolehan data-data dari variabel observed/indicator yang diteliti,

diantaranya adalah :

a. Struktur Kepemilikan Saham

Struktur kepemilikan saham (X1) merupakan distribusi saham antara pihak

manjemen perusahaan (manajer dan staf) (X1.1), dan kepemilikan

institusional (X1.2). Manajer Ownership (X1.1) menggambarkan

77
kepemilikan saham oleh manajemen perusahaan yang diukur dengan

persentase jumlah saham yang dimiliki manajemen. Rasio ini digunakan

untuk mengetahui proporsi kepemilikan saham oleh manajer terhadap total

saham beredar. Institusioanl Ownership (X1.2) menggambarkan

kepemilikan saham oleh investor institusi yang diukur dengan persentase

jumlah saham yang dimiliki investor institusi, adapun rasio yang diperoleh

dari indikator-indikator yang diteliti dapat dilihat dari table yaitu sebagai

berikut :

78
Tabel 4.2
Struktur Kepemilikan Saham (X1).
No. Nama Perusahaan Mjr. Own Inst. Own
2003 2004 2005 2006 2003 2004 2005 2006
1 AKR Corporatian Tbk. 0,0048 0,0014 0,0014 0,0014 0,7335 0,7124 0,7124 0,7124
2 Asuransi Bintang Tbk. 0,0448 0,0717 0,0800 0,0950 0,6146 0,8128 0,8613 0,8648
3 Asuransi International Tbk. 0,0009 0,0009 0,0044 0,0002 0,4755 0,4755 0,5011 0,5011
4 Astra Graphia Tbk. 0,0001 0,0001 0,0001 0,0001 0,7695 0,7687 0,7687 0,7687
5 Astra Otoparts Tbk. 0,0001 0,0004 0,0009 0,0005 0,8731 0,8504 0,8672 0,8672
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 0,0006 0,0006 0,0006 0,0006 0,6325 0,5228 0,4541 0,4542
7 Bank UOB Buana Tbk. 0,0066 0,0065 0,0061 0,0061 0,6814 0,7185 0,8785 0,8788
8 Ekhadarma International Tbk. 0,0505 0,0549 0,0638 0,0588 0,7282 0,7282 0,7326 0,7437
9 Gudang Garam Tbk. 0,0174 0,0174 0,0206 0,0206 0,7212 0,7212 0,7212 0,7212
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 0,0021 0,0021 0,0508 0,0001 0,7624 0,8131 0,1721 0,7621
11 Indorama Sythentic Tbk. 0,1318 0,1318 0,1318 0,1937 0,4516 0,4516 0,4516 0,5379
12 Indosat Tbk. 0,0002 0,0002 0,0002 0,0003 0,5694 0,5577 0,5504 0,5510
13 Intel Nickel Indonesia Tbk. 0,0122 0,0004 0,0004 0,0004 0,7882 0,8207 0,8207 0,8207
14 Kimia Farma Tbk. 0,0097 0,0097 0,0040 0,0039 0,9003 0,9003 0,9003 0,9003
15 Lautan Luas Tbk. 0,0364 0,0364 0,0364 0,0364 0,6303 0,6303 0,6303 0,6818
16 Panin Sekuritas Tbk. 0,0400 0,0400 0,0400 0,0400 0,3344 0,3344 0,3344 0,3344
17 Ramayana Lestari Tbk. 0,0371 0,0371 0,0370 0,0368 0,6407 0,6407 0,6378 0,5755
18 Rig Tenders Tbk. 0,0011 0,0011 0,0011 0,0011 0,7746 0,7747 0,9685 0,9684
19 Selamat Sempurna Tbk. 0,0448 0,0649 0,0666 0,0822 0,6802 0,6802 0,6802 0,6136
20 Sorini Corporation Tbk. 0,0005 0,0005 0,0005 0,0005 0,6462 0,6462 0,6462 0,6462
21 Sepatu Bata Tbk. 0,0011 0,0001 0,0001 0,0001 0,8420 0,7880 0,8410 0,8390
22 Tambang Batu Bara Bukit Tbk 0,0122 0,0125 0,0070 0,0035 0,8374 0,7019 0,6502 0,6502
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 0,0006 0,0010 0,0011 0,0010 0,7656 0,6628 0,6633 0,1413
24 Tunas Baru Lampung Tbk. 0,0010 0,0010 0,0010 0,0010 0,8269 0,7820 0,7820 0,5957
Rata-rata per tahun 0,0190 0,0205 0,0232 0,0243 0,6950 0,6873 0,6761 0,6721
Sumber : Laporan Keuangan Tiap Perusahaan BEI

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa hampir sebagian besar perusahaan

memiliki nilai struktur kepemilikan institusional dari tahun ketahun selama

periode 2003-2006 yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai struktur

kepemilikan saham manajerial.

79
Rata-rata struktur kepemilikan saham manajerial pada tabel tersebut

menunjukan jumlah kecil yaitu sekitar 0.0190 (1.90%) pada tahun 2003, 0.0205

(2.05%) pada tahun 2004, 0.0232 (2.32%) pada tahun 2005, dan 0.0243 (2.43%)

pada tahun 2006, dimana struktur kepemilikan saham manajerial tertinggi dimiliki

oleh perusahaan Indorama Synthetic Tbk. yaitu sebesar 0.1937 (19.37%) dan

0.0950 (9.50%) oleh perusahaan Asuransi Bintang Tbk. Tetapi tidak hanya pada

tahun 2006, perusahaan Indorama Synthetic Tbk. dan Perusahaan Asuransi

Bintang Tbk. mempunyai struktur saham manajerial yang sama besar pada tahun

2003, 2004, dan 2005 yaitu 0.1318 (13.18%) yang dimiliki perusahaan

IndoramaSynthetic Tbk. dan 0.08 (8%) yang dimiliki oleh perusahaan Asuransi

Bintang Tbk. Sementara itu perusahaan yang memiliki struktur kepemilikan

saham manajerial terendah pada tahun 2003 adalah perusahaan astra Graphia Tbk.

dan Astra Otoparts Tbk. yaitu sama-sama sebesar 0.0001 (0.01%). Selanjutnya

tahun 2004 struktur kepemilikan saham manajerial terendah dimiliki oleh

perusahaan Astra graphia Tbk. dan Sepatu BataTbk. yaitu sama-sama sebesar

0.0001 (0.01%). Selanjutnya tahun 2005 yang memiliki struktur kepemilikan

saham manajerial terendah adalah perusahaan Astra Graphia Tbk. dan Sepatu Bata

Tbk. yaitu sama-sama sebesar 0.0001 (0.01%), dan tahun 2006 yang memiliki

struktur kepemilikan saham manajerial terendah adalah perusahaan Perusahaaan

Astra Graphia Tbk., perusahaan Hexindo Adiperkasa Tbk., dan perusahaan Sepatu

bata Tbk. yaitu sama-sama sebesar 0.0001 (0.01%).

Rata-rata struktur kepemilikan saham Institusional pada tabel tersebut

menunjukan jumlah yang besar yaitu sekitar 0.6950 (69.5%) pada tahun 2003,

80
0.6873 (68.73%) pada tahun 2004, 0.6761 (67.61%) pada tahun 2005, dan 0.6721

(67.21%) pada tahun 2006. Dimana struktur kepemilikan saham institusi tertinggi

dmiliki oleh perusahaan Rig Tenders Tbk. yaitu sebesar 0.9685 (96,85%) pada tahun

2005, dan perusahaan Kimia Farma Tbk. yaitu sebesar 0.9003 (90.03%).

Sementara itu perusahaan yang memiliki struktur kepemilikan saham

institusional terendah pada tahun 2003, 2004, dan 2005 adalah perusahaan panin

Sekuritas Tbk. yaitu sebesar 0.3344 (33.44%), selanjutnya pada tahun 2006

struktur kepemilikan saham institusional terendah dimiliki oleh perusahaan

Tempo Scan Pasific Tbk. yaitu sebesar 0.1413 (14.13%).

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar

(bahkan seluruh) perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia periode 2003-

2006 mempunyai jumlah kepemilikan saham manajerial yang kecil atau kurang

dari 5%, ini menunjukan bahwa dengan kepemilikan manajerial yang rendah,

kekuasaan yang dimiliki oleh pihak manajemen atas perusahaan yang semakin

rendah. Hal ini juga menyebabkan segala tindakan dan keputusan yang dilakukan

oleh manajer diawasi oleh pihak institusi. Dengan kepemilikan saham

Institusioanal yang besar akan menimbulkan usaha pengawasan dan kontrol yang

lebih besar oleh pihak investor Institusi terhadap opportunistic manajer sehingga

pemanfaatan akan aktiva perusahaan semakin besar.

81
b. Faktor Ekstern

Faktor ekstern (X2), yaitu merupakan pengelompokan dari variabel-

variabel yang tidak dapat dikendalikan perusahaan. Variabel yang termasuk dalam

faktor ekstern adalah tingkat suku bunga, keadaan pasar modal, dan pertumbuhan

pasar.

1) Tingkat Suku Bunga (X2.1)

Pengertian operasional variabel tingkat suku bunga adalah tingkat

bunga kredit investasi dan tingkat bunga kredit modal kerja Bank Umum

rata-rata pertahun yang dibebankan kepada perusahaan atas penggunaan

modal kerja dalam bentuk utang jangka pendek dan dana investasi dalam

bentuk hutang jangka panjang pada akhir tahun.

2) Keadaan Pasar Modal (X2.2)

Keadaan pasar modal merupakan besarnya nilai transaksi

perdagangan di BEI pada akhir tahun sebagai cermin perkembangan BEI.

Variabel pasar modal diukur dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham

di BEI pada akhir tahun.

3) Pertumbuhan Pasar (X2.3)

Pertumbuhan pasar adalah persepsi peluang bisnis yang tersedia

dipasar yang harus direbut oleh perusahaan. Pertumbuhan pasar ini diukur

dari nilai rasio selisih volume penjualan pada tahun t dengan volume

penjualan pada tahun t-1 dibagi dengan volume penjualan industri pada

tahun t-1.

82
Adapun rasio yang diperoleh dari indikator-indikator yang diteliti

dapat dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

Tabel 4.3
Faktor Ekstern (X2).
No. Nama Perusahaan Tingkat Suku Bunga
2003 2004 2005 2006
1 AKR Corporatian Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
2 Asuransi Bintang Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
3 Asuransi International Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
4 Astra Graphia Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
5 Astra Otoparts Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
7 Bank UOB Buana Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
8 Ekhadarma International Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
9 Gudang Garam Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
11 Indorama Sythentic Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
12 Indosat Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
13 Intel Nickel Indonesia Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
14 Kimia Farma Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
15 Lautan Luas Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
16 Panin Sekuritas Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
17 Ramayana Lestari Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
18 Rig Tenders Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
19 Selamat Sempurna Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
20 Sorini Corporation Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
21 Sepatu Bata Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
22 Tambang Batu Bara Bukit Tbk 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
24 Tunas Baru Lampung Tbk. 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
Rata-rata per tahun 0,1699 0,1440 0,1413 0,1585
Sumber : Data diolah

Dari tabel 4.3 diatas dapat dilihat bahwa rata-rata tingkat suku

bunga per tahun yaitu pada tahun 2003 tingkat suku bunga sebesar 0.1699

(16.99%), pada tahun 2004 sebesar 0.1440 (14.4%), pada tahun 2005

83
sebesar 0.1413 (14.13%), dan pada tahun 2006 sebesar 0.1585 (15.85%).

Dimana tingkat suku bunga tertinggi yaitu pada tahun 2003 sebesar 0.1699

(16.99%), dan tingkat suku bunga terendah yaitu pada tahun 2005 sebesar

0.1413 (14.13%). Semakin tinggi suku bunga berarti biaya penggunaan

dana semakin tinggi sehingga perusahaan enggan untuk melakukan

peminjaman dan selanjutunya leverage akan menurun, dan sebaliknya

semakin rendah suku bunga berarti biaya penggunaan dana semakin

rendah sehingga perusahaan melakukan peminjaman yang tinggi dan

selanjutunya leverage akan meningkat. Semakin tinggi suku bunga akan

mengurangi minat investor untuk menginvestasikan dananya ke pasar

modal sehingga aktivitas perdagangan akan menurun dan nilai perusahaan

akan menurun, begitu juga sebaliknya semakin rendah suku bunga akan

menambah minat investor untuk menginvestasikan dananya ke pasar

modal sehingga aktivitas perdagangan akan meningkat dan nilai

perusahaan akan meningkat.

Selanjutnya adalah tabel 4.4 keadaan pasar modal (X2.2) yang

merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi faktor ekstern (X2) yang

merupakan besarnya nilai transaksi perdagangan di Bursa Efek Indonesia ,

yang diukur dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham di Bursa Efek

Indonesia pada akhir tahun 2003-2006.

84
Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat

dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

Tabel 4.4
Faktor Ekstern (X2).
No. Nama Perusahaan Value Trade
2003 2004 2005 2006
1 AKR Corporatian Tbk. 1,0986 5,1417 6,1356 6,6606
2 Asuransi Bintang Tbk. 1,7579 2,3514 0,6931 0,1823
3 Asuransi International Tbk. 9,3304 9,7491 9,9166 10,1628
4 Astra Graphia Tbk. 6,0210 5,3660 6,2005 5,5053
5 Astra Otoparts Tbk. 5,8230 6,4968 5,6312 5,1874
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 5,3279 6,9147 8,4451 9,6346
7 Bank UOB Buana Tbk. 4,7791 7,0792 7,8120 3,8286
8 Ekhadarma International Tbk. 1,6094 2,5649 1,6094 0,6931
9 Gudang Garam Tbk. 1,6094 2,5649 1,6094 0,6931
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 3,2581 5,7683 5,0626 5,3799
11 Indorama Sythentic Tbk. 5,1475 5,3033 4,4659 3,2958
12 Indosat Tbk. 8,7407 9,3927 9,6366 9,9426
13 Intel Nickel Indonesia Tbk. 5,8861 7,8002 7,8364 8,4002
14 Kimia Farma Tbk. 5,4337 4,9488 4,7362 4,2195
15 Lautan Luas Tbk. 4,6444 5,0814 6,3613 4,4998
16 Panin Sekuritas Tbk. 3,0910 2,1972 2,0794 2,4849
17 Ramayana Lestari Tbk. 7,0842 7,2392 7,2004 7,5501
18 Rig Tenders Tbk. 4,2767 3,4340 6,2558 0,6931
19 Selamat Sempurna Tbk. 3,8501 1,9459 1,9459 1,3863
20 Sorini Corporation Tbk. 1,7918 3,8501 2,8904 1,9459
21 Sepatu Bata Tbk. 2,8285 2,2439 2,1211 2,5321
22 Tambang Batu Bara Bukit Tbk 4,1109 4,9345 4,3438 6,4135
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 6,3509 6,5425 5,6168 7,3415
24 Tunas Baru Lampung Tbk. 4,1109 4,9345 4,3438 6,4135
Rata-rata per tahun 4,4984 5,1602 5,1229 4,7936
Sumber : Data diolah

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata per tahun keadaan

pasar modal yang diukur dari besarnya nilai transaksi perdagangan di BEI

pada akhir tahun sebagai cermin perkembangan BEI. Variabel pasar modal

85
diukur dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham di BEI pada akhir

tahun, pada tahun 2003 sebesar 4.4984, pada tahun 2004 rata-rata per

tahun sebesar 5.1602, pada tahun 2005 rata-rata per tahun sebesar 5.1229,

dan pada tahun 2006 rata-rata per tahun 4.7936. Dimana rata-rata pertahun

tertinggi yaitu pada tahun 2004 sebesar 5.1602, dan rata-rata pertahun

terendah yaitu pada tahun 2003 sebesar 4.4984. Semakin tinggi keadaan

pasar modal akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan

peminjaman karena perusahaan lebih tertarik melakukan pembiayaan

melalui pasar modal sehingga leverage akan menurun

Selanjutnya adalah table 4.5 Pertumbuhan pasar (X2.3) yang

merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi faktor ekstern (X2),

Pertumbuhan pasar adalah persepsi peluang bisnis yang tersedia dipasar yang

harus direbut oleh perusahaan. Pertumbuhan pasar ini diukur dari nilai rasio

selisih volume penjualan pada tahun t dengan volume penjualan pada tahun

t-1 dibagi dengan volume penjualan industri pada tahun t-1.

86
Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat dilihat

dari tabel yaitu sebagai berikut :

Tabel 4.5
Faktor Ekstern (X2).
No. Nama Perusahaan Pertumbuhan Pasar
2003 2004 2005 2006
1 AKR Corporatian Tbk. 10,5443 10,7099 11,0115 11,1590
2 Asuransi Bintang Tbk. 11,1794 11,2488 11,1087 11,6630
3 Asuransi International Tbk. 10,8190 11,0566 11,3526 11,2377
4 Astra Graphia Tbk. 10,5443 10,7099 11,0115 11,1590
5 Astra Otoparts Tbk. 10,8190 11,0566 11,3526 11,2377
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 10,3866 10,6470 10,9090 11,0771
7 Bank UOB Buana Tbk. 11,1794 11,2488 11,1087 11,6630
8 Ekhadarma International Tbk. 10,9804 10,8946 11,0418 11,0747
9 Gudang Garam Tbk. 10,9804 10,8946 11,0418 11,0747
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 10,5443 10,7099 11,0115 11,1590
11 Indorama Sythentic Tbk. 10,8190 11,0566 11,3526 11,2377
12 Indosat Tbk. 10,3866 10,6470 10,9090 11,0771
13 Intel Nickel Indonesia Tbk. 9,4212 10,0330 10,3686 10,4873
14 Kimia Farma Tbk. 10,7649 11,2274 11,3093 11,4582
15 Lautan Luas Tbk. 10,5443 10,7099 11,0115 11,1590
16 Panin Sekuritas Tbk. 11,1794 11,2488 11,1087 11,6630
17 Ramayana Lestari Tbk. 10,5443 10,7099 11,0115 11,1590
18 Rig Tenders Tbk. 10,3866 10,6470 10,9090 11,0771
19 Selamat Sempurna Tbk. 10,8190 11,0566 11,3526 11,2377
20 Sorini Corporation Tbk. 10,9804 10,8946 11,0418 11,0747
21 Sepatu Bata Tbk. 10,8190 11,0566 11,3526 11,2377
22 Tambang Batu Bara Bukit Tbk 10,7649 11,2274 11,3093 11,4582
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 10,5443 10,7099 11,0115 11,1590
24 Tunas Baru Lampung Tbk. 10,7649 11,2274 11,3093 11,4582
Rata-rata per tahun 10,6965 10,9012 11,0961 11,2270
Sumber : Data diolah

Dari tabel 4.5 diatas dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan

pasar tertinggi pada tahun 2006 sebesar 11.2270 dan rata-rata

pertumbuhan pasar terendah adalah pada tahun 2003 yaitu sebesar

10.6965, dimana pertumbuhan pasar yang tinggi menunjukan peluang

87
pasar bagus sehingga akan mendorong perusahaan untuk melakukan

pinjaman sehingga leverage akan meningkat, pertumbuhan pasar

menunjukan kinerja perusahaan menbaiksehingga investor akan merespon

positif dan nilai perusahaan akan meningkat.

c. Faktor Intern

Faktor intern (X3) merupakan variabel-variabel yang dapat

dikendalikan oleh perusahaan. Variabel-variabel yang termasuk variabel

faktor intern adalah :

a. Profitabilitas (X3.1)

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan

profit atau laba selama satu tahun yang dinyatakan dengan rasio laba

operasi dengan penjualan dari data laporan labarugi akhir tahun.

b. Pembayaran Dividen (X3.2)

Pembayaran dividen merupakan besarnya laba yang dibagikan

kepada pemegang saham pada akhir tahun yang juga akan mencerminkan

besarnya laba yang akan ditanamkan pada laba ditahan akhir tahun.

Variabel ini dinyatakan dengan rasio dividen perlembar saham dengan laba

perlembar saham akhir rahun.

c. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar

kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan

pada neraca akhir tahun yang dilakukan dengan len (ln) dari total aktiva.

88
SIZE = Ln Total Assets it.

Adapun rasio yang diperoleh dari indikator-indikator yang diteliti

dapat dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

Tabel
Faktor Intern 4.6
No. Nama Perusahaan ROA(Return On Asset)
2003 2004 2005 2006
1 AKR Corporatian Tbk. 0,0880 0,0975 0,0925 0,0796
2 Asuransi Bintang Tbk. 0,0304 0,0198 0,0127 0,0031
3 Asuransi International Tbk. 0,2569 0,2046 0,1746 0,1014
4 Astra Graphia Tbk. 0,0367 0,1040 0,1054 0,1395
5 Astra Otoparts Tbk. 0,1512 0,1351 0,1416 0,1278
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 0,0513 0,0568 0,0826 0,1479
7 Bank UOB Buana Tbk. 0,0223 0,0255 0,0308 0,0348
8 Ekhadarma International Tbk. 0,0887 0,0989 0,0862 0,0862
9 Gudang Garam Tbk. 0,1516 0,1248 0,1225 0,0738
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 0,1075 0,2077 0,1325 0,0481
11 Indorama Sythentic Tbk. 0,0132 0,0130 0,0050 0,0049
12 Indosat Tbk. 0,0600 0,0855 0,0718 0,0591
13 Intel Nickel Indonesia Tbk. 0,1151 0,2522 0,2341 0,3509
14 Kimia Farma Tbk. 0,0560 0,1053 0,0700 0,0536
15 Lautan Luas Tbk. 0,0195 0,0604 0,0518 0,0344
16 Panin Sekuritas Tbk. 0,0693 0,0859 0,0696 0,0834
17 Ramayana Lestari Tbk. 0,1603 0,1618 0,1677 0,1584
18 Rig Tenders Tbk. 0,0697 0,1034 0,0896 0,0242
19 Selamat Sempurna Tbk. 0,1299 0,1506 0,1539 0,1470
20 Sorini Corporation Tbk. 0,0952 0,1172 0,0999 0,0694
21 Sepatu Bata Tbk. 0,2339 0,2019 0,1258 0,1194
22 Tambang Batu Bara Bukit Tbk 0,1553 0,2419 0,2300 0,2153
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 0,2236 0,2035 0,1726 0,1475
24 Tunas Baru Lampung Tbk. 0,0407 0,0217 0,0128 0,0386
Rata-rata per tahun 0,1011 0,1200 0,1057 0,0978
Sumber : data diolah

Dari tabel 4.6 tersebut dapat kita lihat bahwa rata-rata pertahun

ROA pada tahun 2003 sebesar 0.1011 (10.11%), pada tahun 2004 sebesar

0.1200 (12%), pada tahun 2005 0.1057 (10.57%), dan pada tahun 2006

89
sebesar 0.0978 (9.78%). Dimana rata-rata pertahun tertingggi yaitu pada

tahun 2004 sebesar 0.1200 (12%),dan rata-rata pertahun terendah yaitu

pada tahun 2006 sebesar 0.0978 (9.78%). Pada tahun 2003 ROA tertinggi

dimiliki oleh perusahaan Asuransi Internasional Tbk. yaitu sebesar 0.2569

(25.69%), untuk tahun 2004, 2005, dan 2006 ROA tertinggi dimiliki oleh

perusahaan Intel Nickel Indonesia Tbk. yaitu masing-masing sebesar

0.2522 (25.22%) untuk tahun 2004, 0.2341 (23.41%) untuk tahun 2005,

dan 0.3509 (35.09%) untuk tahun 2006. Pada tahun 2003, 2004, dan 2005

ROA terendah dimiliki perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar

0.0132 (1.32%) untuk tahun 2003, 0.0130 (1.3%) untuk tahun 2004, dan

0.0050 (0.5%) untuk tahun 2005. Pada tahun 2006 ROA terendah dimiliki

oleh perusahaan Asuransi Bintang Tbk. yaitu sebesar 0.0031 (0.31%).

Profitabilitas yang meningkat akan meningkatkan laba ditahan sehingga akan

mengurangi minat perusahaan untuk melakukan pinjaman dan leverage akan

menurun. Probabilitas yang tinggi menunjukkan prospek perusahaan yang

baik sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai

perusahaan meningkat.

Selanjutnya adalah tabel 4.7 dividen payout ratio (X3.2) yang

merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi faktor ekstern (X 3).

Pembayaran dividen merupakan besarnya laba yang dibagikan kepada

pemegang saham pada akhir tahun yang juga akan mencerminkan

besarnya laba yang akan ditanamkan pada laba ditahan akhir tahun.

90
Variabel ini dinyatakan dengan rasio dividen perlembar saham dengan

laba perlembar saham akhir tahun.

Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat

dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

Tabel 4.7
Faktor Intern (X3)
No. Nama Perusahaan DPR(Dividen Payout Ratio)
2003 2004 2005 2006
1 AKR Corporatian Tbk. 0,1931 0,3279 0,3139 0,3167
2 Asuransi Bintang Tbk. 0,4083 0,8328 0,5022 0,6760
3 Asuransi International Tbk. 0,0051 0,0050 0,0048 0,0054
4 Astra Graphia Tbk. 0,7550 2,8179 0,9349 1,1651
5 Astra Otoparts Tbk. 0,1830 0,2065 0,2764 0,2051
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 0,2080 0,1278 0,1289 0,1380
7 Bank UOB Buana Tbk. 0,3649 0,3001 0,3002 0,3000
8 Ekhadarma International Tbk. 0,1030 0,5001 0,5391 0,2910
9 Gudang Garam Tbk. 0,3139 0,5374 0,5091 0,4773
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 0,3556 0,3951 0,3952 0,3622
11 Indorama Sythentic Tbk. 0,2561 0,2560 0,4810 0,5068
12 Indosat Tbk. 0,0953 0,4991 0,4926 0,5000
13 Intel Nickel Indonesia Tbk. 0,3576 0,4123 0,3725 1,0231
14 Kimia Farma Tbk. 0,4000 0,2982 0,3000 0,2992
15 Lautan Luas Tbk. 0,2040 0,2554 0,2529 0,2103
16 Panin Sekuritas Tbk. 0,1856 0,1469 0,1713 0,1729
17 Ramayana Lestari Tbk. 0,5553 0,1347 0,5117 0,4950
18 Rig Tenders Tbk. 1,0504 0,5286 0,6755 0,7866
19 Selamat Sempurna Tbk. 0,9490 0,4527 0,8638 3,2163
20 Sorini Corporation Tbk. 0,1361 0,2052 0,3035 0,3887
21 Sepatu Bata Tbk. 0,5427 0,5561 0,5182 0,4997
22 Tambang Batu Bara Bukit Tbk 0,5032 0,4742 0,5009 0,5000
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 0,5578 0,5548 0,4548 0,0413
24 Tunas Baru Lampung Tbk. 0,3194 0,2945 0,2025 0,2981
Rata-rata per tahun 0,3751 0,4633 0,4169 0,5365
Sumber : data diolah

Pada tabel 4.7 diatas menunjukkan bahwa rata-rata rasio

pembayaran dividen yang dilakukan perusahaan pada tahun 2003 sebesar

91
0.3751 (37.51%), pada tahun 2004 sebesar 0.4633 (46.33%), pada tahun

2005 sebesar 0.4169 (41.69%), dan pada tahun 2006 sebesar 0.5365

(53.65%). Rata-rata rasio pembayaran dividen tertinggi pada tahun 2006

sebesar 0.5365 (53.65%), dan rata-rata rasio pembayaran dividen

terendah pada tahun 2003 sebesar 0.3751 (37.51%). Pada tahun 2003

rasio pembayaran dividen (dividen payout ratio) tertinggi dimiliki oleh

perusahaan Rig Tenders Tbk. yaitu sebesar 1.0504 (105.04%), untuk

tahun 2004 DPR tertinggi dimiliki oleh perusahaan Astra Graphia Tbk.

yaitu sebesar 2.8179 (281.79%), untuk tahun 2005 DPR tertinggi

dimiliki oleg perusahaan Astra Graphia Tbk. yaitu sebesar 0.9349

(93.49%), dan DPR tertinggi untuk tahun 2006 dimiliki oleh perusahaan

Selamat Sempurna Tbk. yaitu sebesar 3.2163 (321.63%). Ini dapat

dibuktikan bahwa hampir atau lebih dari 100% keuntungan yang

diperoleh perusahaan dibagikan kepada para pemegang saham dalam

bentuk dividen, sementara itu DPR terendah yang dibayarkan perusahaan

kepada pemegang saham adalah Asuransi Internasional Tbk. pada tahun

2003 yaitu sebesar 0.0051 (0.51%), tahun 2004 sebesar 0.0050 (0.5%),

tahun 2005 sebesar 0.0048 (0.48%), dan pada tahun 2006 sebesar 0.0054

(0.54%).

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perusahaan-

perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia selama 2003 sampai

dengan 2006 memiliki rata-rata DPR yang cukup tinggi sekitar (44.7%). Ini

menunjukkan bahwa hampir setengah dari keuntungan yang diperoleh

92
perusahaan digunakan untuk membayar dividen kepada pemegang saham

dan sisanya akan diinvestasikan kembali kedalam perusahaan dalam bentuk

laba ditahan. Peningkatan pembayaran dividen akan mengurangi laba yang

ditahan sehingga sumber dana intern akan menurun dan perusahaan akan

tertarik untuk melakukan pinjaman sehingga leverage akan meningkat, dan

pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukkan prospek

perusahaan semakin bagus sehingga investor akan tertarik untuk membeli

saham dan nilai perusahaan meningkat.

Selanjutnya adalah tabel 4.8 ukuran perusahaan (X3.3) yang

merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi faktor ekstern (X3).

Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar

kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan

pada neraca akhir tahun yang dilakukan dengan len (ln) dari total aktiva.

93
Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat

dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

Tabel 4.8
Faktor Intern (X3).
No. Nama Perusahaan Total Asset
2003 2004 2005 2006
1 AKR Corporatian Tbk. 13,4477 14,3404 14,4985 14,6815
2 Asuransi Bintang Tbk. 12,1635 12,0191 12,0707 12,1147
3 Asuransi International Tbk. 17,1262 17,4828 17,4828 17,6654
4 Astra Graphia Tbk. 13,4655 13,2552 13,1593 13,2791
5 Astra Otoparts Tbk. 14,4871 14,7061 14,9236 14,9235
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 14,9176 15,2884 15,8835 15,8835
7 Bank UOB Buana Tbk. 16,4782 16,6100 16,5881 16,6402
8 Ekhadarma International Tbk. 11,0158 11,0523 11,2274 11,2205
9 Gudang Garam Tbk. 16,6685 16,8404 16,9124 16,8943
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 13,2785 13,3631 13,8827 14,0012
11 Indorama Sythentic Tbk. 15,3263 15,4124 15,5209 15,4930
12 Indosat Tbk. 17,0795 17,1431 17,3055 17,3486
13 Intel Nickel Indonesia Tbk. 16,2075 16,4592 16,5980 16,7682
14 Kimia Farma Tbk. 14,1280 13,9754 13,9754 13,9790
15 Lautan Luas Tbk. 14,0215 14,1697 14,2910 14,4201
16 Panin Sekuritas Tbk. 12,6169 12,6115 13,0815 13,5689
17 Ramayana Lestari Tbk. 14,7367 14,7550 14,6649 14,7429
18 Rig Tenders Tbk. 13,0293 13,3254 13,4156 13,7586
19 Selamat Sempurna Tbk. 13,3576 13,3862 13,4047 13,4824
20 Sorini Corporation Tbk. 13,1825 13,1872 13,3728 12,3556
21 Sepatu Bata Tbk. 12,3556 12,4781 12,6306 12,5116
22 Tambang Batu Bara Bukit Tbk 14,5236 14,6848 14,8592 14,9494
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 14,4799 14,5770 14,6681 14,7235
24 Tunas Baru Lampung Tbk. 13,9564 14,1172 14,1881 14,5329
Rata-rata per tahun 14,2521 14,3850 14,5252 14,5808
Sumber : data diolah

Pada tabel 4.8 diatas menunjukkan bahwa rata-rata pertahun total

asset pada tahun 2003 sebesar 14.2521, pada tahun 2004 sebesar 14.3850,

tahun 2005 sebesar 14.5252, dan tahun 2006 sebesar 14.5808. Rata-rata total

asset tertinggi pada tahun 2006 yaitu sebesar 14.5808, dan rata-rata

94
terendah pada tahun 2003 yaitu sebesar 14.2521. Pada tahun 2003, 2004,

2005, dan 2006 total asset tertinggi dimiliki oleh perusahaan Asuransi

International Tbk. yaitu sebesar 17,1262, untuk tahun 2003, sebesar 17.4828

untuk tahun 2004 dan 2005, dan sebesar 17.6654 untuk tahun

2006. Pada tahun 2003, 2004, 2005, dan 2006 total asset terendah dimiliki

oleh perusahaan Ekhadarma International Tbk. yaitu sebesar 11,0158

untuk tahun 2003, sebesar 11,0523 untuk tahun 2004, sebesar 11,2274

untuk tahun 2005, dan sebesar 11,2205 untuk tahun 2006. Ukuran

perusahaan menunjukan aktifitas perusahaan yang dimiliki perusahaan.

Semakin besar ukuran perusahaan berarti semakin besar aktiva yang bisa

dijadikan jaminan untruk memperoleh hutang sehingga leverage akan

meningkat. Ukuran perusahaan yang besar menunjukan perusahaan

mengalami perkembangan sehingga investor akan merespon positif dan

nilai perusahaan akan meningkat.

d. Struktur Modal (leverage)

Struktur modal dapat diukur melalui beberapa indikator

diantaranya Debt to Equity Ratio (DER), dan Debt to Asset Ratio (DAR).

Adapun rasio-rasio yang diperoleh dari beberapa indikator tersebut dapat

ditunjukkan pada tabel 4.9 sebagai berikut :

95
Tabel
Leverage 4.9
No. Nama Perusahaan DER
2003 2004 2005 2006
1 AKR Corporatian Tbk. 0,4500 0,7800 0,8600 1,0900
2 Asuransi Bintang Tbk. 1,3800 1,1300 1,3500 1,1100
3 Asuransi International Tbk. 1,1900 1,1800 1,1100 1,4100
4 Astra Graphia Tbk. 1,1200 0,7200 0,8200 0,9800
5 Astra Otoparts Tbk. 0,5200 0,6200 0,7100 0,5700
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 1,7800 1,6200 2,9400 1,6200
7 Bank UOB Buana Tbk. 7,5200 7,6000 6,3800 4,1600
8 Ekhadarma International Tbk. 0,2200 0,1800 0,3700 0,2900
9 Gudang Garam Tbk. 0,5800 0,6900 0,6900 0,6500
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 1,8300 1,2500 2,1000 2,4800
11 Indorama Sythentic Tbk. 25,6100 25,6000 48,1000 50,6800
12 Indosat Tbk. 1,1300 1,1000 1,2800 1,2400
13 Intel Nickel Indonesia Tbk. 0,5000 0,4000 0,2700 0,2600
14 Kimia Farma Tbk. 0,8100 0,4400 0,3900 0,4500
15 Lautan Luas Tbk. 1,9400 1,9700 2,1000 2,4300
16 Panin Sekuritas Tbk. 1,9300 1,4200 2,1500 2,7300
17 Ramayana Lestari Tbk. 0,6500 0,5400 0,3300 0,3000
18 Rig Tenders Tbk. 0,0400 0,0400 0,0400 0,6600
19 Selamat Sempurna Tbk. 0,5900 0,7100 0,6100 0,5300
20 Sorini Corporation Tbk. 0,7100 0,6000 0,6700 0,7200
21 Sepatu Bata Tbk. 0,4700 0,5000 0,7300 0,4300
22 Tambang Batu Bara Bukit Tbk 0,3400 0,4100 0,3800 0,3500
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 0,1900 0,2000 0,2600 0,2300
24 Tunas Baru Lampung Tbk. 1,2800 1,6500 1,8300 1,3700
Rata-rata per tahun 2,1992 2,1396 3,1863 3,1975
Sumber : data diolah

Dari tabel 4.9 diatas menunjukkan bahwa rata-rata debt to equity

ratio (DER) pada tahun 2006 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun

2003, 2004, dan 2005. Tahun 2003 rata-rata debt to equity ratio (DER)

mencapai 2.1992 dimana nilai DER tertinggi dimiliki oleh perusahaan

Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 25.6100 dan terendah dimiliki oleh

perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400, sedangkan tahun 2004

96
rata-rata debt to equity ratio (DER) mencapai 2.1396 dimana nilai DER

tertinggi dimiliki oleh perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar

25.6000 dan terendah dimiliki oleh perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu

sebesar 0.0400, sedangkan tahun 2005 rata-rata debt to equity ratio (DER)

mencapai 3.1863, dimana nilai DER tertinggi dimiliki oleh perusahaan

Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 48.1000, dan terendah dimiliki oleh

perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400,dan tahun 2006 rata-rata

debt to equity ratio (DER) mencapai 3.1975, dimana nilai DER tertinggi

dimiliki oleh perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 50.6800, dan

terendah dimiliki oleh perusahaan Tempo Scan Pasific Tbk. yaitu sebesar

0.2300.

Dari uraian diatas menunjukkan bahwa dalam membiayai hutang

jangka panjang perusahaan-perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia

selama periode 2003-2006 menggunakan equity yang dimiliki.

Selanjutnya adalah tabel 4.10 Debt to Asset Ratio (DAR) (Y1.2) yang

merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi struktur modal

(leverage) (Y1). Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti

dapat dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

97
Tabel
Leverage 4.10
No. Nama Perusahaan DAR
2003 2004 2005 2006
1 AKR Corporatian Tbk. 0,3000 0,4000 0,4200 0,4800
2 Asuransi Bintang Tbk. 0,5700 0,5300 0,5700 0,5300
3 Asuransi International Tbk. 0,5100 0,5000 0,4800 0,5400
4 Astra Graphia Tbk. 0,5300 0,4200 0,4500 0,4900
5 Astra Otoparts Tbk. 0,5700 0,5300 0,5700 0,5300
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 0,6400 0,6200 0,7500 0,6200
7 Bank UOB Buana Tbk. 0,8800 0,8800 0,8600 0,8100
8 Ekhadarma International Tbk. 0,1800 0,1500 0,2700 0,2200
9 Gudang Garam Tbk. 0,3700 0,4100 0,4100 0,3900
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 0,6500 0,5500 0,6800 0,7100
11 Indorama Sythentic Tbk. 0,5700 0,5600 0,5800 0,6000
12 Indosat Tbk. 0,5300 0,5200 0,5600 0,5500
13 Intel Nickel Indonesia Tbk. 0,3300 0,2900 0,2200 0,2100
14 Kimia Farma Tbk. 0,4500 0,3100 0,2800 0,3100
15 Lautan Luas Tbk. 0,6300 0,6300 0,6500 0,6700
16 Panin Sekuritas Tbk. 0,6600 0,5900 0,6800 0,7300
17 Ramayana Lestari Tbk. 0,3900 0,3500 0,2500 0,2300
18 Rig Tenders Tbk. 0,0400 0,0400 0,0400 0,4000
19 Selamat Sempurna Tbk. 0,3400 0,3800 0,3400 0,3300
20 Sorini Corporation Tbk. 0,3800 0,3600 0,3800 0,4000
21 Sepatu Bata Tbk. 0,3200 0,3300 0,4200 0,3000
22 Tambang Batu Bara Bukit Tbk 0,2500 0,2900 0,2700 0,2600
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 0,1600 0,1600 0,2000 0,1800
24 Tunas Baru Lampung Tbk. 0,5600 0,6200 0,6500 0,5800
Rata-rata per tahun 0,4504 0,4342 0,4575 0,4613
Sumber : data diolah

Dari tabel 4.10 diatas menunjukkan bahwa rata-rata debt to asset

ratio (DAR) pada tahun 2006 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2003,

2004, dan 2005. Tahun 2003 rata-rata debt to asset ratio (DAR) mencapai

0.4504 dimana nilai DAR tertinggi dimiliki oleh perusahaan Bank UOB

Buana Tbk. yaitu sebesar 0.8800 dan terendah dimiliki oleh

98
perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400, sedangkan tahun 2004

rata-rata debt to asset ratio (DAR) mencapai 0.4342 dimana nilai DAR

tertinggi dimiliki oleh perusahaan Bank UOB Buana Tbk. yaitu sebesar

0.8800 dan terendah dimiliki oleh perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu

sebesar 0.0400, sedangkan tahun 2005 rata-rata debt to asset ratio (DAR)

mencapai 0.4575, dimana nilai DAR tertinggi dimiliki oleh perusahaan

Bank UOB Buana Tbk. yaitu sebesar 0.8600, dan terendah dimiliki oleh

perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400,dan tahun 2006 rata-rata

debt to asset ratio (DAR) mencapai 0.4613, dimana nilai DAR tertinggi

dimiliki oleh perusahaan Bank UOB Buana Tbk. yaitu sebesar 0.8100, dan

terendah dimiliki oleh perusahaan Tempo Scan Pasific Tbk. yaitu sebesar

0.1800.

Dari uraian diatas menunjukkan bahwa dalam membiayai hutang

jangka panjang perusahaan-perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia

selama periode 2003-2006 menggunakan aktiva yang dimiliki.

e. Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan dapat diukur dari beberapa indicator diantaranya

Price Earning Ratio (PER), dan Price Book Value (PBV).

Adapun rasio-rasio yang diperoleh dari indikator-indikator yang

diteliti dapat ditunjukkan pada tabel 4.11 sebagai berikut :

99
Tabel
Nilai Perusahaan 4.11
No. Nama Perusahaan PER
2003 2004 2005 2006
1 AKR Corporatian Tbk. 3,4800 9,4300 7,7400 13,2800
2 Asuransi Bintang Tbk. 5,0400 19,7800 11,8000 67,6000
3 Asuransi International Tbk. 4,5600 7,1900 7,5700 17,1200
4 Astra Graphia Tbk. 20,7600 11,5600 11,0300 7,4000
5 Astra Otoparts Tbk. 5,6700 6,6200 7,7400 8,0000
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 13,8700 11,9300 6,7000 6,0000
7 Bank UOB Buana Tbk. 12,3700 14,5100 15,8400 15,7700
8 Ekhadarma International Tbk. 9,7800 12,2500 14,6600 15,5200
9 Gudang Garam Tbk. 14,2300 14,5600 11,8600 19,4700
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 3,6600 5,6500 8,2500 19,1700
11 Indorama Sythentic Tbk. 8,4000 8,8900 15,0700 17,3800
12 Indosat Tbk. 9,8500 4,6300 4,9400 6,6500
13 Intel Nickel Indonesia Tbk. 9,8500 4,6300 4,9400 6,6500
14 Kimia Farma Tbk. 27,1700 14,6400 15,2400 20,8300
15 Lautan Luas Tbk. 29,0700 5,5600 7,1400 10,6400
16 Panin Sekuritas Tbk. 5,1500 4,7000 3,0300 2,6800
17 Ramayana Lestari Tbk. 20,1300 17,4000 18,8400 19,6600
18 Rig Tenders Tbk. 12,8200 8,7200 11,1500 39,3300
19 Selamat Sempurna Tbk. 7,1800 6,5600 6,5900 6,8700
20 Sorini Corporation Tbk. 4,0800 5,5100 5,7700 11,6600
21 Sepatu Bata Tbk. 5,1000 5,1900 7,5100 9,0300
22 Tambang Batu Bara Bukit Tbk 7,5900 7,7500 8,8800 16,7200
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 8,2300 10,5400 8,5700 14,8600
24 Tunas Baru Lampung Tbk. 10,2200 22,5800 51,9500 18,7200
Rata-rata per tahun 10,7608 10,0325 11,3671 16,2921
Sumber : data diolah

Tabel 4.11 menunjukkan bahwa rata-rata PER dari semua industri

pada tahun 2006 lebih tinggi dibandingkan tahun 2003, 2004, dan 2005.

Tahun 2003 rata-rata PER dari semua industri sebesar 10.7608, dimana

nilai tertinggi PER dimiliki oleh perusahaan Lautan Luas Tbk. yaitu

sebesar 29.0700 sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan AKR

Corporation Tbk. yaitu sebesar 3.4800. Sementara itu rata-rata PER tahun

100
2004 rata-rata PER dari semua industri sebesar 10.0325, dimana nilai

tertinggi dimiliki oleh perusahaan Tunas Baru Lampung Tbk. yaitu

sebesar 22.5800, sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan Indosat

Tbk. dan Intel Nickel Indonesia Tbk. yaitu sebesar 4.6300. Sementara itu

rata-rata PER tahun 2005 rata-rata PER dari semua industri sebesar

11.3671, dimana nilai tertinggi dimiliki oleh perusahaan Tunas Baru

Lampung Tbk. yaitu sebesar 51.9500, sedangkan terendah dimiliki oleh

perusahaan Indosat Tbk. dan Intel Nickel Indonesia Tbk. yaitu sebesar

4.9400. Selanjutnya rata-rata PER tahun 2006 rata-rata PER dari semua

industri sebesar 16.2921, dimana nilai tertinggi dimiliki oleh perusahaan

Asuransi Bintang Tbk. yaitu sebesar 67.6000, sedangkan terendah

dimiliki oleh perusahaan Panin Sekuritas Tbk. yaitu sebesar 2.6800.

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa semakin tinggi PER maka

semakin tinggi pula prospek pertumbuhan dimasa depan, karena menurut

Foster (1986) dalam Yetti Iswahyuni (2002) dalam Malla Bahagia (2008),

PER dapat mempresentasikan aliran laba masa depan. Semakin besar PER,

maka semakin besar pula kemungkinan perusahaan untuk tumbuh

sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Selanjutnya adalah tabel 4.12 Price Book Value (Y2.2) yang

merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi nilai perusahaan

(Y2). Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat

dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

101
Tabel
Nilai Perusahaan 4.12
No. Nama Perusahaan PBV
2003 2004 2005 2006
1 AKR Corporatian Tbk. 0,4000 0,8400 0,9500 1,6400
2 Asuransi Bintang Tbk. 0,3700 0,4900 0,5100 1,0100
3 Asuransi International Tbk. 1,7200 2,3600 2,0600 2,8400
4 Astra Graphia Tbk. 1,3400 1,3000 1,4000 1,3900
5 Astra Otoparts Tbk. 0,9800 1,0600 1,3200 1,2100
6 Berlian Laju Tanker Tbk. 1,9100 1,7400 2,1500 2,3100
7 Bank UOB Buana Tbk. 1,6300 2,1600 2,5300 1,9700
8 Ekhadarma International Tbk. 0,8500 1,0200 1,3900 1,5500
9 Gudang Garam Tbk. 2,3900 2,1400 1,7100 1,4900
10 Hexindo Adiperkasa Tbk. 0,7500 1,8200 2,3400 2,1900
11 Indorama Sythentic Tbk. 0,1800 0,1900 0,1300 0,1500
12 Indosat Tbk. 1,2700 2,3000 2,0800 2,4100
13 Intel Nickel Indonesia Tbk. 1,1900 1,1400 1,0300 2,0300
14 Kimia Farma Tbk. 1,5500 1,4000 0,9500 1,0500
15 Lautan Luas Tbk. 0,5600 0,6300 0,7500 0,6200
16 Panin Sekuritas Tbk. 0,9500 0,9300 0,6300 0,8000
17 Ramayana Lestari Tbk. 3,9900 3,2700 3,2300 3,1600
18 Rig Tenders Tbk. 0,8500 0,8500 0,9400 1,0700
19 Selamat Sempurna Tbk. 0,9600 1,1000 1,0700 1,0100
20 Sorini Corporation Tbk. 0,4800 0,6200 0,6000 0,9100
21 Sepatu Bata Tbk. 1,1600 1,0400 1,0700 0,9600
22 Tambang Batu Bara Bukit Tbk 1,2300 1,9300 2,0200 3,5400
23 Tempo Scan Pasific Tbk. 1,7000 2,0000 1,4200 2,0900
24 Tunas Baru Lampung Tbk. 0,5100 0,7300 0,6300 1,1500

Rata-rata per tahun 1,2050 1,3775 1,3713 1,6063


Sumber : data diolah

Tabel 4.12 menunjukkan bahwa rata-rata PBV dari semua industri

pada tahun 2006 lebih tinggi dibandingkan tahun 2003, 2004, dan 2005.

Tahun 2003 rata-rata PBV dari semua industri sebesar 1.2050, dimana

nilai tertinggi PBV dimiliki oleh perusahaan Ramayana Lestari Tbk. yaitu

sebesar 3.9900 sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan Indorama

Sythentic Tbk. yaitu sebesar 0.1800. Sementara itu rata-rata PBV tahun

102
2004 dari semua industri sebesar 1.3775 dimana nilai tertinggi dimiliki

oleh perusahaan Ramayana Lestari Tbk. yaitu sebesar 3.2700, sedangkan

terendah dimiliki oleh perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar

0.1900. Sementara itu rata-rata PBV tahun 2005 dari semua industri

sebesar 1.3713, dimana nilai tertinggi dimiliki oleh perusahaan Ramayana

Lestari Tbk. yaitu sebesar 3.2300 sedangkan terendah dimiliki oleh

perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 0.1300. Selanjutnya

rata-rata PBV tahun 2006 dari semua industri sebesar 1.6063, dimana nilai

tertinggi dimiliki oleh perusahaan Tambang Batu Bara Bukit Tbk. yaitu

sebesar 3.5400, sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan Indorama

Sythentic Tbk. yaitu sebesar 0.1500. Dari tabel diatas menunjukkan bahwa

semakin tinggi PBV maka semakin tinggi pula prospek pertumbuhan

dimasa depan.

C. Pengujian dan Pembahasan

1. Pengujian Model Secara Keseluruhan

Berdasarkan pada output analisis SEM yang menggunakan software Lisrel

diperoleh nilai-nilai yang digunakan sebagai acuan dalam pengujian model

secara keseluruhan. Nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut :

103
Tabel 4.13
Uji kecocokan pada beberapa Kriteria Goodness of Fit Index

Goodness of Fit Cut Off Value Hasil Penelitian Evaluasi Model


Index
Degree Of Freedom Positif 44
Normed Chi Square <2 1.25 Over fitting
(X²/df)
RMR < 0.05 0.048 Good fit
RMSEA < 0.05 0.040 Good fit
GFI > 0.90 0.92 Good fit
AGFI > 0.90 0.86 Cukup fit
NFI 0.9 0.90 Good fit
NNFI 0.9 0.97 Good fit
CFI 0.9 0.98 Good fit
RFI 0.9 0.86 Good fit
PNFI 0-1 0.60 Cukup fit
PGFI 0-1 0.52 Cukup fit

Koefisien Goodness of Fit Index diatas menunjukkan adanya kecocokan

model dengan tingkat kecocokan yang baik. Dari beberapa indikator yang

digunakan dalam menilai kecocokan model ini, seluruhnya terpenuhi dengan baik.

Hal ini dapat ditujukan dari beberapa indikator fit diantaranya adalah :

Normed Chi-Square (X²/df) yang mempunyai nilai sebesar 1.25, karena

nilai tersebut mendekati nilai yang direkomendasikan yaitu 1 < X²/df < 2,

maka dapat dikatakan bahwa model tersebut Over fitting. Hal ini

disesuaikan dengan standar penilaian kesesuaian yang dilakukan oleh

beberapa peneliti yaitu Holmes Smith (2002) dalam Didi Achjari (2003)

menyatakan bahwa nilai normed chi-square antara 2-3 merupakan reasonable

good fit. Kelloway (1998) menyatakan bahwa model dikatakan fit jika 2 <

X²/df < 5 dan dikatakan overfitting nilai normed chi-square < 2.

104
RMR ( Root Mean Square Residual ) yang menunjukkan good fit karena

RMR mempunyai nilai 0.048, nilai tersebut lebih dari yang

direkomendasikan yaitu 0.050.

RMSEA ( Root Mean Square Error of Appoximation ) yang menunjukkan

bahwa model adalah good fit, karena RMSEA mempunyai nilai 0.040

yang mendekati 0.05.

GFI ( Goodness of Fit Index ) yang mempunyai nilai sebesar 0.92, yang

menunjukkan bahwa model adalah good fit karena mendekati nilai yang

direkomendasikan sebesar 0.90.

AGFI ( Adjusted Goodness of Fit Index ) yang mempunyai nilai sebesar

0.86 lebih kecil dari nilai yang direkomendasikan yaitu 0.90, sehingga dapat

dikatakan bahwa model adalah cukup fit.

NFI ( Normed Fit Index ) menunjukkan bahwa model adalah good fit. Ini

dapat dilihat dari nilai NFI yaitu sebesar 0.90, nilai tersebut sama dengan

nilai yang direkomendasikan yaitu sebesar 0.90.

NNFI / Tucker Lewis Index (TLI) yang mempunyai nilai sebesar 0.97,

menunjukkan bahwa model adalah good fit, karena nilai tersebut

mendekati dari yang direkomendasikan yaitu 0.90.

CFI ( Comparative Fit Index ) mempunyai nilai sebesar 0.98 lebih besar

dari nilai yang direkomendasikan yaitu sebesar 0.90, sehingga dapat

dikatakan bahwa model adalah good fit.

105
RFI ( Relative Fit Index ) mempunyai nilai sebesar 0.86 lebih kecil dari

nilai yang direkomendasikan yaitu sebesar 0.90, sehingga dapat dikatakan

bahwa model adalah good fit.

PNFI ( Parsimony Normed Fit Index ) menunjukkan bahwa model adalah

cukup fit, ini dapat dilihat dari nilai PNFI yang sebesar 0.60, nilai tersebut

berkisar 0-1 dimana nilai yang mendekati 1 tersebut menunjukkan model

cukup fit.

PGFI ( Parsimony Goodness Fit Index ) mempunyai nilai sebesar 0.52

sehingga dikatakan bahwa model cukup fit karena nilai tersebut berkisar 0-

1 dimana nilai yang mendekati 1 tersebut menunjukkan model cukup fit.

Berdasarkan pada nilai-nilai koefisien diatas yang memenuhi

pesyaratan kecocokan sebuah model, maka dapat disimpulkan bahwa

secara umum, model yang diperoleh memiliki tingkat kecocokan yang

baik.

2. Pengujian Jalur Individual – Measurement Model

Setelah dilakukan pengujian secara keseluruhan, langkah

selanjutnya adalah melakukan pengujian secara individual, yaitu untuk

melihat apakah seluruh jalur yang dihipotesiskan memiliki tingkat

signifikansi yang baik atau tidak. Untuk mengetahui apakah masing-

masing jalur memiliki tingkat signifikansi yang tinggi atau tidak dilakukan

dengan melihat nilai t-hitung yang diperoleh. Sebuah jalur dikatakan

signifikans jika nilai t-hitung untuk jalur tersebut lebih besar dari 1,96.

106
Berikut diagram yang berisikan nilai-nilai T-Value dan Standardized

Solution untuk seluruh koefisien jalur :

Gambar 4.1

T-Value

107
Gambar 4.2

Koefisien Path

Dari path diagram diatas dapat menunjukkan hubungan indikator

terhadap variabel latennya yaitu sebagai berikut :

1. Kepemilikan Manajerial (X1.1) terhadap Struktur Kepemilikan Saham.

Kepemilikan manajerial mempunyai koefisien path (jalur) positif

dan hubungan yang signifikan terhadap struktur kepemilikan saham, hal

ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.91 dan nilai-t hitung

yang sebesar 6.28 yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar

1.96, sehingga indikator kepemilikan manajerial mempunyai tingkat

108
signifikan yang baik. Kepemilikan manajerial mempunyai koefisien path

sebesar 0.91 (91%) terhadap struktur kepemilikan saham.

2. Kepemilikan Institusional (X1.2) terhadap Struktur Kepemilikan Saham.

Kepemilikan institusional mempunyai koefisien path (jalur) positif

dan hubungan yang signifikan terhadap struktur kepemilikan saham, hal

ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.75 dan nilai-t hitung

yang sebesar 5.62 yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar

1.96, sehingga indikator kepemilikan institusional mempunyai tingkat

signifikan yang baik. Kepemilikan Institusional mempunyai koefisien path

sebesar 0.75 (75%) terhadap struktur kepemilikan saham. Kepemilikan

Institusional merupkan indikator dari Struktur Kepemilikan Saham dimana

indikator ini paling mewakili variabel latennya. Kepemilikan institusional

mempunyai koefisien path sebesar 0.75 (75%) terhadap struktur

kepemilikan saham.

3. Tingkat Suku Bunga (X2.1) terhadap Faktor Ekstern.

Tingkat suku bunga merupakan indikator dari faktor ekstern.

Tingkat suku bunga mempunyai koefisien path (jalur) positif dan

hubungan yang signifikan terhadap faktor ekstern, hal ini dapat ditujukan

dari koefisien jalur yang sebesar 0.97 dan nilai-t hitung yang sebesar 12.51

yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga

indikator tingkat suku bunga mempunyai tingkat signifikan yang baik.

109
Tingkat suku bunga mempunyai koefisien path sebesar 0.97 (97%) terhadap

factor ekstern.

4. Keadaan Pasar Modal (X2.2) terhadap faktor Ekstern.

Keadaan Pasar Modal merupakan indikator dari Faktor Ekstern,

dimana indikator ini paling mewakili variabel latennya. Keadaan pasar

modal mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang

signifikan terhadap faktor ekstern, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur

yang sebesar 0.94 dan nilai-t hitung yang sebesar 11.99 yang lebih besar

dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator keadaan pasar

modal mempunyai tingkat signifikan yang baik. Keadaan pasar modal

mempunyai koefisien path sebesar 0.94 (94%) terhadap factor ekstern.

5. Pertumbuhan Pasar (X2.3) terhadap Faktor Ekstern.

Pertumbuhan pasar mempunyai koefisien path (jalur) positif dan

hubungan yang signifikan terhadap faktor ekstern, hal ini dapat ditujukan

dari koefisien jalur yang sebesar 0.75 dan nilai-t hitung yang sebesar 8.56

yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga

indikator pertumbuhan pasar mempunyai tingkat signifikan yang baik.

Pertumbuhan pasar mempunyai koefisien path sebesar 0.75 (75%)

terhadap factor ekstern.

6. Profitabilitas (X3.1) terhadap Faktor Intern.

Profitabilitas merupakan indikator dari Faktor Intern, dimana

indikator ini paling mewakili variabel latennya. Profitabilitas mempunyai

110
koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan terhadap faktor

intern, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.81 dan

nilai-t hitung yang sebesar 8.19 yang lebih besar dibandingkan dengan t-

tabel sebesar 1.96, sehingga indikator probabilitas mempunyai tingkat

signifikan yang baik. Profitabilitas mempunyai koefisien path sebesar 0.81

(81%) terhadap factor intern.

7. Pembayaran Dividen (X3.2) terhadap Faktor Intern.

Pembayaran dividen mempunyai koefisien path (jalur) positif dan

hubungan yang signifikan terhadap faktor intern, hal ini dapat ditujukan dari

koefisien jalur yang sebesar 0.52 dan nilai-t hitung yang sebesar 5.02 yang

lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator

pembayaran dividen mempunyai tingkat signifikan yang baik. Pembayaran

dividen mempunyai koefisien path sebesar 0.52 (52%) terhadap factor intern.

8. Ukuran Perusahaan (X3.3) terhadap Faktor Intern.

Ukuran Perusahaan mempunyai koefisien path (jalur) positif dan

hubungan yang signifikan terhadap faktor intern, hal ini dapat ditujukan

dari koefisien jalur yang sebesar 0.86 dan nilai-t hitung yang sebesar 8.77

yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga

indikator ukuran perusahaan mempunyai tingkat signifikan yang baik.

Ukuran Perusahaan mempunyai koefisien path sebesar 0.88 (86%)

terhadap factor intern.

111
9. Debt to Asset Ratio (Y1.2) terhadap Leverage.

Debt to Asset Ratio merupakan indikator dari Leverage, dimana

indikator ini paling mewakili variabel latennya. Debt to Asset Ratio

mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan

terhadap leverage, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar

0.92 dan nilai-t hitung yang sebesar 5.84 yang lebih besar dibandingkan

dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator Debt to Asset Ratio

mempunyai tingkat signifikan yang baik. Debt to Asset Ratio mempunyai

koefisien path sebesar 0.92 (92%) terhadap Leverage.

10. Price Book Value (Y2.2) terhadap Nilai Perusahaan.

Price Book Value merupakan indikator dari nilai perusahaan,

dimana indikator ini paling mewakili variabel latennya. Price Book Value

mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan

terhadap nilai perusahaan, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang

sebesar 0.87 dan nilai-t hitung yang sebesar 3.32 yang lebih besar

dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator Price Book

Value mempunyai tingkat signifikan yang baik. Price Book Value

mempunyai koefisien path sebesar 0.87 (87%) terhadap Nilai Perusahaan.

Dari gambar 4.1 diatas terlihat bahwa jalur dari indikator terhadap

latennya yang dihipotesiskan nilai t-hitung yang lebih besar dari 1.96 dan

dapat disimpulkan bahwa seluruh koefisien jalur tersebut signifikan,

kecuali indikator Y1.1 dan Y2.2 tidak memiliki t-value, karena didalam

112
SEM indikator pertama dari variabel endogen tidak memiliki nilai t (t-

value).

3. Pengujian Jalur Individual – Stuctrural Model

Langkah berikutnya adalah menguji struktural model. Ada dua hal yang harus

diperhatikan, yaitu :

1. Signifikansi koefisien Beta dan Gamma dengan uji t

2. Kecocokan dari model structural dengan memperhatikan nilai R²

(Squared Multiple Correlation).

Tabel 4.14
Hubungan Beta dan Gamma
Koefisien Path
Hipotesis Variabel indipenden Variabel Dependen (t-value)

H
Struktur Modal
Struktur Kepemilikan Saham (leverage) -0.30 (-2.47)

Struktur Kepemilikan Saham Nilai Perusahaan 0.12 (0.94)

H
Struktur Modal
Faktor Ekstern (leverage) -0.24 (-2.16)

Faktor Ekstern Nilai Perusahaan 0.05 (0.49)

H
Struktur Modal
Faktor Intern (leverage) -0.38 (-2.95)

113
H

Faktor Intern Nilai Perusahaan 0.18 (1.28)

Struktur Modal (leverage) Nilai Perusahaan -0.52 (-2.61)


Sumber : data diolah

Dari output yang ditampilkan dengan path diagram dan

ditunjukkan dengan tabel, maka didapatlah hubungan dan pengaruh

sebagai berikut :

H1 Struktur Kepemilikan Saham terhadap Struktur Modal.

Dari tabel 4.14 diatas menujukkan adanya koefisien path negatif

dan berpengaruh signifikan antara struktur kepemilikan saham terhadap

struktur modal, ini dapat dilihat dari koefisien path sebesar -0.30 dan nilai t-

hitung sebesar -2.47 lebih besar dari 1.96, hubungan tersebut menyatakan

bahwa variabel struktur kepemilikan saham berpengaruh negatif terhadap

struktur modal (leverage), artinya semakin tinggi struktur kepemilikan

saham perusahaan, maka pengawasan yang dilakukan pemilik terhadap

managemen akan semakin efektif, manajemen akan berhati-hati dalam

melakukan pinjaman sehingga leverage akan menurun. Hasil ini sesuai

dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa struktur

kepemilikan saham mempunyai pengaruh negatif terhadap struktur modal

(leverage).

H2 Struktur Kepemilikan Saham terhadap Nilai Perusahaan.

114
Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path positif dan

tidak berpengaruh signifikan antara struktur kepemilikan saham terhadap

nilai perusahaan. Pengaruh positif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien

path (pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar 0.12 dan hubungan yamg

tidak signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar 0.94 lebih kecil

dari 1.96. hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel struktur

kepemilikan saham mempunyai pengaruh positif terhadap nilai

perusahaan, artinya semakin tinggi struktur kepemilikan saham perusahaan

maka nilai perusahaan akan meningkat, dengan peningkatan kepemilikan

saham institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan

peminjaman kepada manajemen sehingga terdorong untuk meningkatkan

kinerjanya, selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat. Dan kepemilikan

manajerial akan mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerja

perusahaan, karena mereka juga memiliki perusahaan, kinerja perusahaan

yang meningkat akan meningkatkan perusahaan. Hasil ini sesuai dengan

penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel struktur

kepemilikan saham mempunyai pengaruh positif terhadap nilai

perusahaan.

H3Faktor Ekstern terhadap Struktur Modal.

Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path negatif dan

berpengaruh signifikan antara faktor ekstern terhadap struktur modal

(leverage). Pengaruh negatif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path

(pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar -0.24 dan hubungan yamg

115
signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar -2.16 lebih besar dari

1.96. Hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel faktor ekstern

berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage), artinya semakin

tinggi faktor ekstern maka leverage akan menurun, faktor ekstern dapat

dilihat dari indikatorrnya yaitu tingkat suku bunga yang tinggi berarti biaya

penggunaan dana semakin tinggi sehingga perusahaan enggan untuk

melakukan peminjaman dan selanjutnya leverage akan menurun, indikator

lainnya yaitu keadaan pasar modal yang tinggi, akan mengurangi minat

perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih tertarik

melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan

menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang

membuktikan bahwa variabel faktor ekstern berpengaruh negatif terhadap

struktur modal (leverage).

H4Faktor Ekstern terhadap Nilai Perusahaan.

Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path positif dan

tidak berpengaruh signifikan antara faktor ekstern terhadap nilai

perusahaan. Pengaruh positif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path

(pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar 0.05 dan hubungan yamg tidak

signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar 0.49 lebih besar dari

1.96.

Hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel faktor ekstern

berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan artinya semakin tinggi

116
faktor ekstern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor ekstern dapat

dilihat dari indikatorrnya yaitu keadaan pasar modal mempunyai pengaruh

positif terhadap nilai perusahaan, temuan penelitian ini menunjukkan

bahwa para pemodal secara umum akan mempertimbangkan faktor

perkembangan pasar modal dalam membeli saham, indikator lainnya yaitu

pertumbuhan pasar mempunyai pengaruh positif terhadap nilai

perusahaan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa meningkatnya

pertumbuhan pasar akan mempengaruhi earning perusahaan, earning

perusahaan yang tinggi menunjukkan prospek perusahaan yang bagus

dimasa yang akan datang, prospek bagus tersebut akan direspon positif

oleh investor, respon positif oleh investor tersebut akan meningkatkan

harga sahamuntuk selanjutnya akan meningkatkan nilai perusahaan.

H5Faktor Intern terhadap Struktur Modal.

Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path negatif dan

berpengaruh signifikan antara faktor intern terhadap struktur modal

(leverage). Pengaruh negatif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path

(pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar -0.38 dan hubungan yamg

signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar -2.95 lebih besar dari

1.96. Hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel faktor intern

berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage), artinya semakin

tinggi faktor intern maka leverage akan menurun, faktor intern dapat

dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang meningkat akan

117
meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan mengurangi minat

perusahaan untuk melakukan peminjaman dan leverage akan menurun.

Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan

bahwa variabel faktor intern berpengaruh negatif terhadap struktur modal

(leverage).

H6Faktor Intern terhadap Nilai Perusahaan.

Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path positif dan

tidak berpengaruh signifikan antara faktor intern terhadap nilai

perusahaan. Pengaruh positif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path

(pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar 0.18 dan hubungan yamg tidak

signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar 1.28 lebih besar dari

1.96.

Hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel faktor intern

berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan artinya semakin tinggi faktor

intern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor intern dapat dilihat

dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan

prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif

sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat. Singnally theory,

Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa profitabilitas yang tinggi

menunjukan prospek perusahaan yang bagus sehingga investor akan

merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Pembayaran

dividen yang semakin meningkat menunjukan prospek perusahaan

semakin bagus sehingga investor akan tertarik untuk membeli saham dan

118
nilai perusahaan akan meningkat. Ukuran perusahaan yang besar

menunjukan perusahaan mengalami perkembangan sehingga investor akan

merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Hasil ini sesuai

dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor

intern berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

H7Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan.

Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path negatif dan

berpengaruh signifikan antara struktur modal (leverage) terhadap nilai

perusahaan. Pengaruh negatif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien

path (pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar -0.52 dan hubungan yamg

signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar -2.61 lebih besar dari

1.96. hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel struktur modal

(leverage) berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan artinya, semakin

tinggi leverage maka nilai perusahaan akan menurun, karena leverage yang

semakin tinggi akan menimbulkan financial distress sehingga nilai

perusahaan menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007)

yang membuktikan bahwa variabel struktur modal (leverage) berpengaruh

negatif terhadap nilai perusahaan.

Pada tabel 4.14 Gamma di atas, terlihat bahwa pada model yang

dihipotesiskan, variabel Struktur Kepemilikan Saham, Faktor Ekstern, dan

Faktor Intern mempengaruhi Struktur Modal secara signifikans. Ini

ditunjukkan dengan nilai t-hitung nya masing-masing yang lebih besar dari

1,96. Sementara itu, tidak terdapat satupun variabel yang mempengaruhi

119
Nilai Perusahaan, dimana Struktur Kepemilikan Saham, Faktor Ekstern,

dan Faktor Iintern tidak mempengaruhi secara signifikans karena memiliki

nilai t-hitng yang lebih kecil dari 1,96. Sementara pada tabel Beta terlihat

bahwa Struktur Modal secara signifikans mempengaruhi Nilai Perusahaan.

Ini diperlihatkan oleh nilai t-hitung yang lebih besar dari 1,96.

Selanjutnya, kecocokan dari model structural dengan

memperhatikan nilai R² (Squared Multiple Correlation).

Tabel 4.15
Squared Multiple Correlations (R²)
Variabel Laten Indikator R²
Struktur X1.1 0.83
Kepemilikan Saham X1.2 0.56
X2.1 0.93
Faktor Ekstern X2.2 0.89
X2.3 0.57
X3.1 0.65
Faktor Intern X3.2 0.27
X3.3 0.74
Struktur Modal Y1.1 0.52
(leverage) Y1.2 0.85
Nilai Y2.1 0.25
Perusahaan Y2.2 0.76
Sumber : data diolah

120
Dari tabel 4.15 diatas, dapat dilihat bahwa X2.1 (tingkat suku bunga)

memiliki R² tertinggi yaitu sebesar 0.93, artinya faktor ekstern (variabel laten

endogen) berkontribusi besar terhadap varians tingkat suku bunga yaitu sebesar 93%

sedangkan sisanya sebesar 7% dijelaskan oleh measurement error, sehingga dapat

dikatakan bahwa tingkat suku bunga merupakan indicator yang paling baik dari

variable latennya yaitu factor ekstern, sedangkan Y2.1 (price earning ratio)

merupakan indiaktor yang paling kurang baik dari variable laten endogennya yaitu

nilai perusahaan karena mempunyai nilai R² yang paling kecil dibanding dengan

indikator variabel endogen yang lain.

D. Interpretasi

Berdasarkan pembahasan hipotesis diatas terdapat pengaruh negatif antara

struktur kepemilikan saham terhadap struktur modal. Hal ini terjadi karena

kepemilikan saham yang tinggi dapat mengurangi penggunaan leverage artinya,

kepemilikan institusi yang tinggi akan meningkatkan pengawasan dan kontro

lterhadap tindakan dan keputusan yang dibuat oleh pihak manjemen sedangkan

jika kepemilikan saham manajerial meningkat maka akan menimbulkan sikap

berhati-hati bagi pihak manajemen untuk bertindak dan mengambil keputusan.

Variabel struktur kepemilikan saham mempunyai pengaruh positif

terhadap nilai perusahaan, artinya semakin tinggi struktur kepemilikan saham

perusahaan maka nilai perusahaan akan meningkat, dengan peningkatan

kepemilikan saham institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan

121
peminjaman kepada manajemen sehingga terdorong untuk meningkatkan

kinerjanya, selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat.

Variabel faktor ekstern berpengaruh negatif terhadap struktur modal

(leverage), artinya semakin tinggi faktor ekstern maka leverage akan menurun,

faktor ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu tingkat suku bunga yang

tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi sehingga perusahaan enggan

untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya leverage akan menurun, indikator

lainnya yaitu keadaan pasar modal yang tinggi, akan mengurangi minat

perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih tertarik

melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan menurun.

Variabel faktor ekstern berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan

artinya semakin tinggi faktor ekstern maka nilai perusahaan akan meningkat,

faktor ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu keadaan pasar modal

mempunyai pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, temuan penelitian ini

menunjukkan bahwa para pemodal secara umum akan mempertimbangkan faktor

perkembangan pasar modal dalam membeli saham

Variabel faktor intern berpengaruh negatif terhadap struktur modal

(leverage), artinya semakin tinggi faktor intern maka leverage akan menurun,

faktor intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang meningkat

akan meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan mengurangi minat

perusahaan untuk melakukan peminjaman dan leverage akan menurun. Hasil ini

sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor

intern berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage).

122
Variabel faktor intern berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan

artinya semakin tinggi faktor intern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor

intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang tinggi akan

menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon

positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat. Pembayaran dividen yang

semakin meningkat menunjukan prospek perusahaan semakin bagus sehingga

investor akan tertarik untuk membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat.

Ukuran perusahaan yang besar menunjukan perusahaan mengalami perkembangan

sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat.

Variabel struktur modal (leverage) berpengaruh negatif terhadap nilai

perusahaan artinya, semakin tinggi leverage maka nilai perusahaan akan menurun,

karena leverage yang semakin tinggi akan menimbulkan financial distress

sehingga nilai perusahaan menurun.

123
BAB V

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan yang telah dijelaskan

pada bab sebelumnya, maka penelitian ini dapat diambil kesimpulan yaitu

sebagai berikut :

1. Struktur Kepemilikan Saham mempunyai koefisien path (jalur) negatif

dan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (leverage). Ini

menggambarkan semakin tinggi kepemilikan kepemilikan saham baik

kepemilikan saham manjerial maupun institusional maka semakin rendah

tingkat hutang (leverage) yang digunakan. Hasil penelitian ini sesuai

dengan yang dilakukan oleh Sujoko (2007) yang menyatakan bahwa

semakin tinggi struktur kepemilikan saham perusahaan, maka

124
pengawasan yang dilakukan pemilik terhadap managemen akan

semakin efektif, manajemen akan berhati-hati dalam melakukan

pinjaman sehingga leverage akan menurun. Temuan penelitian ini juga

tidak mendukung Agency Theory, Jensen dan Meckling (1979) yang

menjelaskan tentang adanya pemisahan yang jelas antara fungsi

kepemilikan dengan fungsi pengelolaan. Manajemen tidak mempunyai

kendali dalam menentukan hutang karena banyak dikendalikan oleh

mayoritas.

2. Struktur kepemilikan Saham

Struktur kepemilikan saham mempunyai koefisien path (jalur) positif dan

tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya, semakin

tinggi struktur kepemilikan saham perusahaan maka nilai perusahaan

akan meningkat, dengan peningkatan kepemilikan saham institusional

akan mendorong pemilik untuk melakukan peminjaman kepada

manajemen sehingga terdorong untuk meningkatkan kinerjanya,

selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat. Dan kepemilikan

manajerial akan mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerja

perusahaan, karena mereka juga memiliki perusahaan, kinerja perusahaan

yang meningkat akan meningkatkan perusahaan. Hasil ini sesuai dengan

penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel struktur

kepemilikan saham mempunyai pengaruh positif terhadap nilai

perusahaan. Penelitian ini sesuai

125
dengan temuan penelitian Sudarma (2003) yang menemukan bahwa

Struktur kepemilikan saham tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai

perusahaan.

3. Faktor Ekstern mempunyai koefisien path (jalur) negatif dan

berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (leverage). Artinya,

semakin tinggi faktor ekstern maka leverage akan menurun, faktor

ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu tingkat suku bunga yang

tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi sehingga

perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya

leverage akan menurun, indikator lainnya yaitu keadaan pasar modal

yang tinggi, akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan

peminjaman karena perusahaan lebih tertarik melakukan pembiayaan

melalui pasar modal sehingga leverage akan menurun. Hasil ini sesuai

dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel

faktor ekstern berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage).

4. Faktor Ekstern mempunyai koefisien path (jalur) positif dan tidak

berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya, semakin

tinggi faktor ekstern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor

ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu keadaan pasar modal

mempunyai pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, temuan

penelitian ini menunjukkan bahwa para pemodal secara umum akan

mempertimbangkan faktor perkembangan pasar modaldalam membeli

saham, indikator lainnya yaitu pertumbuhan pasar mempunyai

126
pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, temuan penelitian ini

menunjukkan bahwa meningkatnya pertumbuhan pasar akan

mempengaruhi earning perusahaan, earning perusahaan yang tinggi

menunjukkan prospek perusahaan yang bagus dimasa yang akan datang,

prospek bagus tersebut akan direspon positif oleh investor, respon positif

oleh investor tersebut akan meningkatkan harga sahamuntuk selanjutnya

akan meningkatkan nilai perusahaan

5. Faktor Intern mempunyai koefisien path (jalur) negatif dan

berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (leverage). Artinya,

semakin tinggi faktor intern maka leverage akan menurun, faktor

intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang

meningkat akan meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan

mengurangi minat perusahaan untuk melakukan peminjaman dan

leverage akan menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko

(2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor intern berpengaruh

negatif terhadap struktur modal (leverage). Hasil penelitian ini

mendukung Pecking Order Theory, Myers (1984) dimana dalam

melakukan pembiayaan, perusahaan mendasarkan pada urutan dari

laba yang ditahan , kemudian hutang dan yang terakhir adalah emisi

saham baru.

6. Faktor Intern mempunyai koefisien path (jalur) positif dan tidak

berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya, semakin

tinggi faktor intern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor

127
intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang tinggi

akan menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga investor

akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat.

Singnally theory, Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa

profitabilitas yang tinggi menunjukan prospek perusahaan yang bagus

sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan

meningkat. Pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukan

prospek perusahaan semakin bagus sehingga investor akan tertarik

untuk membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat. Ukuran

perusahaan yang besar menunjukan perusahaan mengalami

perkembangan sehingga investor akan merespon positif dan nilai

perusahaan akan meningkat. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko

(2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor intern berpengaruh

positif terhadap nilai perusahaan.

7. Struktur Modal (leverage) mempunyai koefisien path (jalur) negatif

dan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya,

semakin tinggi leverage maka nilai perusahaan akan menurun, karena

leverage yang semakin tinggi akan menimbulkan financial distress

sehingga nilai perusahaan menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian

Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel struktur modal

(leverage) berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Hasil

penelitian ini mendukung teori struktur modal Trade off Model yang

128
menyatakan bahwa jumlah hutang yang semakin meningkat akan

menurunkan nilai perusahaan.

B. Implikasi

Penelitian ini belum menggunakan kepemilikan saham public

sebagai indikator dari variabel laten eksogen struktur kepemilikan

saham, peneliti mendatang perlu memasukan kepemilikan public sebagai

dari indicator struktur kepemilikan saham.

Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan, maka penulis

mencoba mengemukakan implikasi yang mungkin bermanfaat

diantaranya :

1. Bagi Perusahaan

Adanya pengaruh-pengaruh yang terjadi antara struktur

kepemilikan saham, faktor ekstern, faktor intern terhadap struktur

modal (leverage), dan struktur kepemilikan saham, faktor ekstern,

faktor intern terhadap nilai perusahaan, dapat membantu pihak

perusahaan dalam mengambil keputusan yang amat penting,

karena keputusan yang nantinya diambil dapat menentukan

kemajuan dan kelangsungan hidup perusahaan.

2. Bagi Investor

Dengaan adanya struktur modal (leverage) pengaruh-pengaruh

yang terjadi dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan dan

memutuskan investasi yang akan dilakukan karena setiap investor

129
menginginkan prospek yang amat baik bagi perusahaan di masa

depan.

3. Bagi Akademisi

Perlu diadakan penelitian selanjutnya mngenai pengaruh-pengaruh

variable endogen dan variable eksogen dengan menambahkan

sample yang lebih banyak dan juga menggunakan analisis SEM

dengan konseptualisasi model yang berbeda dan menggunakan

software lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Almilia, Luciana Spica, dan Meliza Silvy, ”Analisis Kebijakan Dividen dan
Kebijakan Leverage Terhadap Prediksi Kepemilikan Manajerial Dengan
Tehnik Analisis Multinomial logit”, Jurnal Akuntansi dan Bisnis, Vol.6,
No. 1, hal. 1 – 19, 2006.

Achjari, Didi. “Pelaporan statistic Structural Equation Modeling : Temuan Tiga


Jurnal Bisnis”, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Volume 6, No.
3,September 2003.

Bahagia, Malla, “Analisis Struktur Kepemilikan, Kebijakan Dividen dan


Kwbijakan Hutang Terhadap Nilai Perusahaan dengan Pendekatan
Structural Equation Modeling (SEM)”, Jakarta: UIN Syarifhidayatullah,
2008.

Christianti, Ari, “Penentuan Prilaku Kebijakan Struktural Modal pada


Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta : Hipotesis Static Trade
Off atau Pecking Order Theory”, Simposium Nasional Akuntansi 9
Padang. 2006.

Ghozali, Imam. “Structural Equatin Modeling Theory, Konsep n Aplikasi dengan


Program Lisrel 8.54”, Semarang : Universitas Diponegoro, 2005.

Hamid, Abdul. “Panduan Penulisan Skripsi”. Jakarta : FEIS UIN Syarif


Hidayatullah Press, 2007.

130
Muslimin, “Analisis Struktur Kepemilikan, Kebijakan Dividend an kebijakan Utang
Terhadap Nilai Perusahaan”, Jurnal Ekonomi dan Manajemen, volume 7,
No. 2, Juni, 2006.

Nasser, Etty M., dan Fielyandi F., “Pengaruh Kepemilikan Institusional, Ukuran
Perusahaan, Profitabilitas, dan Hutang Sebagai Variabel Intervening
Terhadap Nilai Perusahaan”, Jurnal Ekonomi STEI, No.2. 2006.

Putra, AA GP Widana, “Pengaruh Free Cash Flows Terhadap Hubungan Antara


Struktur Modal dan Kebijakan Dividend an Return Saham” Yogyakarta :
Tesis S2, Universitas Gajah Mada, 2003.

Putri, Imanda, dan Moh. Nasir, “Analisis Persamaan Simultan Kepemilikan


Manajerial, Kepemilikan Institusional, Risiko, Kebijakan Hutang, dan
Kebijakan Dividen Dalam Perpektif Teori Keagenan”, Simposium
Nasional Akuntansi, Ikatan Akuntansi Indonesia. 2006.

Riyanto, Bambang. “Dasar- Dasar Pembelanjaan Perusahaan”. Yogyakarta :


Yayasan Penerbit Gajah Mada, 1998.

Rodoni, Ahmad dan Nasaruddin, Indo Yama, “Modul Manajemen Keuangan”,


Jakarta : Bab IX Capital Sstructure and Leverage, 2007.

Sholihah, Maratush. Engujian Empiris Balance Theory, Pecking Order Theory


dan Signaling Theory pada Struktur Modal Perusahaan di Indonesia”.
Skripsi S1 FEIS UIN Syarif Hidayatullah. 2006.

Sudana, I Made, dan Wiayaningrum, M Enny, “Analisis Kebijakan Investasi


Modal Kerja Hubungannya dengan Profitabilitas pada Kondisi Ekonomi
SebelumKrisis dan Masa Krisis”, Majalah Ekonomi, Fak. Ekonomi
Unair dan Fak. Ekonomi Ubhara, 2003.

Sudarmadji, Ardi Murdoko dan Sularto, Lana, “Pengaruh Ukuran Perusahaan,


Profitabilitas, Leverage, dan Tipe Kepemilikan Perusahaan Terhadap luas
Voluntary disclosure laporan Keuangan Tahunan”, Proceeding PESAT
(Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek dan Sipil), Auditorium Kampus
Gunadarma, 2007.

Suhartoro, “Pengaruh Insider Ownership Net Organizational Capital dan Risiko


Pasar terhadap Kebijakan Dividen”, Yogyakarta : Tesis S2, Universitas
Gajah Mada, 2002.

Sujoko,”Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham, Lverage,Faktor Intern dan


Faktor Ekstern Terhadap Nilai Perusahaan.
Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan Vol. 9 no. 1, Surabaya :
Universitas Kristen petra, 2007.

131
Suranta, Eddy, dan Pratana P. Midiastuti, ”Analisis Hubungan Kepemilikan
Manajerial, Nilai Perusahaan, dan Investasi dengan Model Persamaan
Linier Simultan”, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.6, No.1. 2003.

Utami, Sih Widhi. “Asosiasi Investment Opportunity Set dengan Kebijakan


Pendanaan, Kebijakan Dividen, dan Implikasinya pada Perubahan
Harga Saham”. Simposium Nasional Akuntansi, IAI. 2006.

Wahyudi, Untung, dan Hartini P.Pawesti, “Implikasi Struktur Keuangan


Terhadap Nilai Perusahaan : Dengan Keputusan Keuangan Sebagai
Variabel Intervening”, Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang. 2006.

132
LAMPIRAN-LAMPIRAN

1. GOODNESS O FIT INDEX

Goodness of Fit Statistics

Degrees of Freedom = 44
Minimum Fit Function Chi-Square = 55.45 (P = 0.12)
Normal Theory Weighted Least Squares Chi-Square = 50.72 (P = 0.23)
Estimated Non-centrality Parameter (NCP) = 6.72
90 Percent Confidence Interval for NCP = (0.0 ; 28.57)

Minimum Fit Function Value = 0.58


Population Discrepancy Function Value (F0) = 0.071
90 Percent Confidence Interval for F0 = (0.0 ; 0.30)
Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA) = 0.040
90 Percent Confidence Interval for RMSEA = (0.0 ; 0.083)
P-Value for Test of Close Fit (RMSEA < 0.05) = 0.60

Expected Cross-Validation Index (ECVI) = 1.25


90 Percent Confidence Interval for ECVI = (1.18 ; 1.48)
ECVI for Saturated Model = 1.64
ECVI for Independence Model = 6.35

Chi-Square for Independence Model with 66 Degrees of Freedom = 579.61


Independence AIC = 603.61
Model AIC = 118.72
Saturated AIC = 156.00
Independence CAIC = 646.39
Model CAIC = 239.91
Saturated CAIC = 434.02

Normed Fit Index (NFI) = 0.90


Non-Normed Fit Index (NNFI) = 0.97
Parsimony Normed Fit Index (PNFI) = 0.60
Comparative Fit Index (CFI) = 0.98
Incremental Fit Index (IFI) = 0.98
Relative Fit Index (RFI) = 0.86

Critical N (CN) = 118.71

Root Mean Square Residual (RMR) = 0.048


Standardized RMR = 0.048
Goodness of Fit Index (GFI) = 0.92
Adjusted Goodness of Fit Index (AGFI) = 0.86
Parsimony Goodness of Fit Index (PGFI) = 0.52

132
2. T- VALUE DAN KOEFISIEN PATH

LAMBDA-Y

SM NP
-------- --------
Y1.1 0.72 - -

Y1.2 0.92 - -
(0.16)
5.84

Y2.1 - - 0.50

Y2.2 - - 0.87
(0.26)
3.32

LAMBDA-X

SKS FE FI
-------- -------- --------
X1.1 0.91 - - - -
(0.15)
6.28

X1.2 0.75 - - - -
(0.13)
5.62

X2.1 - - 0.97 - -
(0.08)
12.51

X2.2 - - 0.94 - -
(0.08)
11.99

X2.3 - - 0.75 - -
(0.09)
8.56

X3.1 - - - - 0.81
(0.10)
8.19

X3.2 - - - - 0.52
(0.10)
5.02

133
X3.3 - - - - 0.86
(0.10)
8.77

THETA-EPS

Y1.1 Y1.2 Y2.1 Y2.2


-------- -------- -------- --------
0.48 0.15 0.75 0.24
(0.10) (0.12) (0.13) (0.20)
4.83 1.22 5.95 1.21

THETA-DELTA

X1.1 X1.2 X2.1 X2.2 X2.3 X3.1


-------- -------- -------- -------- -------- --------
0.17 0.44 0.07 0.11 0.43 0.35
(0.23) (0.16) (0.04) (0.04) (0.07) (0.10)
0.74 2.73 1.76 2.89 6.47 3.59

THETA-DELTA

X3.2 X3.3
-------- --------
0.73 0.26
(0.11) (0.10)
6.39 2.62

THETA-EPS

Y1.1 Y1.2 Y2.1 Y2.2


-------- -------- -------- --------
0.48 0.15 0.75 0.24

THETA-DELTA

X1.1 X1.2 X2.1 X2.2 X2.3 X3.1


-------- -------- -------- -------- -------- --------
0.17 0.44 0.07 0.11 0.43 0.35

THETA-DELTA

X3.2 X3.3
-------- --------
0.73 0.26

134
3. BETA DAN GAMMA

BETA

SM NP
-------- --------
SM - - - -

NP -0.52 - -
(0.20)
-2.61

GAMMA

SKS FE FI
-------- -------- --------
SM -0.30 -0.24 -0.38
(0.12) (0.11) (0.13)
-2.47 -2.16 -2.95

NP 0.12 0.05 0.18


(0.12) (0.11) (0.14)
0.94 0.49 1.28

135
4. SQUARED MULTIPLE CORRELATION (R²)

Squared Multiple Correlations for X - Variables

X1.1 X1.2 X2.1 X2.2 X2.3 X3.1


-------- -------- -------- -------- -------- --------
0.83 0.56 0.93 0.89 0.57 0.65

Squared Multiple Correlations for X - Variables

X3.2 X3.3
-------- --------
0.27 0.74

Squared Multiple Correlations for Y - Variables

Y1.1 Y1.2 Y2.1 Y2.2


-------- -------- -------- --------
0.52 0.85 0.25 0.76

1
3
6