Anda di halaman 1dari 60

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Akuntansi dapat dikatakan sebagai aktivitas jasa yang memiliki funsgi untuk
menyediakan berbagai informasi kuantitatif, terutama bersifat keuangan mengenai
kesatuan usaha ekonomi yang diharapkan akan bermanfaat dalam pengambilan
keputusan oleh pemakai. Penggunaan informasi keuangan yang tepat memerlukan
suatu pengetahuan mengenai karakteristik dan keterbatasan informasi akuntansi
keuangan. Informasi akuntansi keuangan dihasilkan untuk tujuan tertentu, dengan
mendasarkan pada prinsip-prinsip konvensional. Penggunaan informasi akuntansi
keuangan tanpa suatu pengetahuan umum mengenai karakteristik dan keterbatasan
informasi akuntansi keuangan dapat mengakibatkan kesalahan-kesalahan dan
salah tafsir. Alat yang dapat digunakan untuk memproses informasi dalam
akuntansi keuangan adalah laporan keuangan yang secara berkala
dikomunikasikan kepada pihak ekstern perusahaan.
Laporan keuangan yang dipublikasikan dianggap memiliki arti penting
dalam menilai suatu perusahaan, sehingga pihak-pihak yang membutuhkan dapat
memperoleh dengan mudah dan dapat membantu dalam proses pengambilan
keputusan (Fahmi, 2011) dalam Selviani (2017). Dalam laporan keuangan, laba
adalah salah satu indikator yang digunakan untuk menaksir kinerja manajemen.
Informasi laba sering menjadi target rekayasa tindakan oportunis manajemen
untuk memaksimumkan kepuasannya. Tindakan oportunis tersebut dilakukan
dengan cara memilih kebijakan akuntansi tertentu sehingga laba perusahaan dapat
diatur, dinaikkan maupun diturunkan sesuai dengan keinginannya (Selviani,
2017).
Laporan keuangan merupakan hasil dari proses akuntansi memiliki
keterbatasan-keterbatasan dan disusun berdasarkan ketentuan-ketentuan yang pada
umumnya tidak secara keseluruhannya dapat dipahami oleh pihak-pihak
2

yang tidak mendapatkan atau mempelajari tentang akuntansi. Berbagai asumsi,


metode, dan istilah-istilah yang bersifat teknis digunakan di dalam akuntansi.
Oleh karena itu, laporan keuangan merupakan hasil dari suatu aktivitas yang
bersifat teknis berdasarkan pada metode dan prosedur-prosedur yang memerlukan
penjelasan-penjelasan agar tujuan atau maksud untuk menyediakan informasi
yang bermanfaat itu dapat dicapai. Laporan keuangan adalah alat/media
komunikasi umum yang digunakan dalam menghubungkan pihak-pihak yang
berkepentingan dalam suatu perusahaan, baik pihak pemegang saham, kreditur,
pemerintah, maupun manajemen. Informasi laba adalah informasi yang dijadikan
perhatian pertama dari pihak-pihak pemegang saham, kreditur, serta pemerintah
dalam melakukan penilaian kinerja dan pertanggungjawaban manajemen
(perusahaan). Manajemen sendiri adalah pengelola langsung dari perusahaan dan
juga pihak yang bertanggung jawab terhadap penyusunan laporan keuangan.
Adanya kecenderungan dari pihak eksternal (investor) untuk lebih memperhatikan
informasi laba sebagai parameter kinerja perusahaan akan mendorong manajemen
untuk melakukan perilaku menyimpang dalam menunjukkan informasi laba yang
disebut earnings management.
Manajemen laba (earnings management) merupakan suatu tindakan campur
tangan yang sengaja dilakukan oleh manajer dalam proses penyusunan laporan
keuangan, dengan cara menaikkan atau menurunkan laba tanpa dikaitkan dengan
peningkatan atau penurunan profitabilitas ekonomi perusahaan untuk jangka
panjang. Tujuannya agar manajer tersebut dapat memperoleh keuntungan dari
tindakan yang dilakukan (Scipper,1989; serta Fizher dan Rozenweig,1995) dalam
Astuti (2017).

Dalam penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Selviani (2017)


dikemukakan bahwa terdapat banyak faktor yang menjadi motivasi manajer untuk
melakukan manajemen laba, diantaranya adalah profitabilitas, ukuran perusahaan,
dan leverage. Profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba selama satu periode waktu tertentu. Pada umumnya nilai
profitabilitas suatu perusahaan digunakan sebagai indikator untuk mengukur
kinerja suatu perusahaan. Semakin tinggi profitabilitas suatu perusahaan maka
3

kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba juga meningkat. Oleh karena


hal tersebut, keterkaitan antara profitabilitas dengan manajemen laba adalah ketika
profitabilitas yang diperoleh perusahaan kecil pada periode waktu tertentu akan
memicu perusahaan untuk melakukan manajemen laba dengan cara meningkatkan
pendapatan yang diperoleh sehingga akan memperlihatkan kondisi saham yang
stabil dan mempertahankan investor yang ada. Pada hasil penelitian Astuti (2017)
menyimpulkan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.
Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Hasty dan Herawaty, 2017;
Lestari dan Wulandari, 2019) menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh
terhadap manajemen laba.

Ukuran perusahaan adalah suatu skala dimana perusahaan diklasifikasikan


menurut besar kecilnya berdasarkan pada total aktiva suatu perusahaan. Semakin
besar total aktiva maka semakin besar pula ukuran perusahaan tersebut. Ukuran
perusahaan dalam pengaruhnya terhadap praktik perataan laba yaitu berupa
pengawasan dan pengamatan terkait kinerja perusahaan tersebut, semakin besar
perusahaan maka semakin besar sorotan dan pengamatan yang akan didapat
perusahaan, sehingga manajer tidak bisa leluasa melakukan praktik perataan laba
mengingat jika perusahaan mengalami kerugian atau bahkan terbukti melakukan
kecurangan maka dapat berdampak merugikan citra perusahaan baik internal
maupun eksternal perusahaan. Sebaliknya jika perusahaan tergolong klasifikasi
kecil maka semakin kecil pula perusahaan mendapatkan perhatian, sehingga
manajer dapat leluasa melakukan praktik perataan laba. Pada penelitian Astuti
(2017) menyimpulkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap
manajemen laba. Hasil penelitian Astuti (2017) didukung oleh hasil penelitian
yang dilakukan oleh (Kusumawardhani, 2012; Selviani, 2017) yang
menyimpulkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap
manajemen laba. Namun, penelitian yang dilakukan oleh (Handayani dan Rachadi,
2009) menyimpulkan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap
manajemen laba.
4

Leverage memiliki hubungan dengan praktik manajemen laba, dimana


investor akan melihat rasio leverage perusahaan yang kecil karena rasio leverage
mempengaruhi dampak risiko yang terjadi. Jadi, semakin kecil rasio leverage
maka semakin kecil pula risikonya, begitu juga sebaliknya. Dengan cara begitu
ketika perusahaan memiliki rasio leverage yang tinggi maka perusahaan
cenderung akan melakukan praktik manajemen laba karena perusahaan terancam
tidak dapat memenuhi kewajibannya dengan membayar hutangnya tepat waktu.
Pada penelitian Astuti (2017) menyimpulkan bahwa leverage tidak berpengaruh
terhadap manajemen laba. Kesimpulan yang dinyatakan oleh Astuti (2017)
berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh (Guna dan Herawaty,
2010; Utami, 2016) menyimpulkan bahwa leverage berpengaruh terhadap
manajemen laba.

Temuan penelitian yang dilakukan oleh Jiambalvo (1996) dalam Utami


(2016) disebutkan bahwa salah satu faktor yang menjadi motivasi manajer untuk
melakukan manajemen laba adalah kepemilikan institusional. Perusahaan dengan
kepemilikan institusional yang besar mengindikasikan kemampuannya untuk
memonitor manajemen. Persentase saham tertentu yang dimiliki oleh institusi
dapat mempengaruhi proses penyusunan laporan keuangan yang tidak menutup
kemungkinan terdapat akrualisasi sesuai dengan kepentingan pihak manajemen.
Namun hasil temuan penelitian yang dilakukan oleh Jiambalvo (1996) berbeda
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Utami (2016) yang menyimpulkan
bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.
Kesimpulan yang dinyatakan oleh Utami (2016) didukung oleh penelitian yang
dilakukan (Guna dan Herawaty, 2010; Mahariana dan Ramantha, 2014; Agustia,
2013) yang menyimpulkan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh
terhadap manajemen laba.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Putri (2012) dikemukakan bahwa salah
satu faktor yang menjadi motivasi manajer untuk melakukan manajemen laba
adalah kebijakan dividen. Kebijakan dividen dikategorikan sebagai salah satu
motivasi manajer untuk melakukan manajemen laba dengan melakukan pola
5

menurunkan laba. Kebijakan dividen logis dikatakan sebagai motivasi manajer


melakukan manajamen laba, karena apabila laba diturunkan (tidak sesuai dengan
laba yang sebenarnya), maka dividen yang akan dibagikan kepada investor akan
sedikit pula, disitulah kesempatan manajer untuk mengambil keuntungan dari
penurunan laba yang ia lakukan. Dalam penelitiannya, Putri (2012) menyimpulkan
bahwa kebijakan dividen berpengaruh terhadap manajemen laba. Hasil penelitian
yang dilakukan oleh Putri (2012) didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan
oleh (Hasty et al., 2017; Fahrunisyah et al., 2014; Dahayani et al., 2017) yang
menyimpulkan bahwa kebijakan dividen berpengaruh terhadap manajemen laba.
Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Kustono, 2009;
Sulistyawati, 2013; Harsanah, 2013) yang menunjukkan bahwa kebijakan dividen
tidak berpengaruh pada manajemen laba dalam bentuk pemerataan laba.

Berdasarkan permasalahan yang telah diungkapkan mengenai manajemen


laba dan tidak konsistennya hasil dari penelitian terdahulu, maka dari itu peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan mengambil judul
“Pengaruh Profitabilitas, Leverage, Kepemilikan Institusional, Ukuran
Perusahaan, dan Kebijakan Dividen terhadap Manajemen Laba pada
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun
2013-2017”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka


secara terperinci masalah yang akan diteliti adalah pengaruh profitabilitas,
leverage, kepemilikan institusional, ukuran perusahaan, dan kebijakan dividen
terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia tahun 2013-2017. Dari masalah di atas maka dapat dirumuskan
masalah penelitian sebagai berikut:
1. Apakah profitabilitas berpengaruh terhadap manajemen laba?
2. Apakah leverage berpengaruh terhadap manajemen laba?
6

3. Apakah kepemilikan institusional berpengaruh terhadap manajemen laba?


4. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap manajemen laba?
5. Apakah kebijakan dividen berpengaruh terhadap manajemen laba?
6. Apakah profitabilitas, leverage, kepemilikan institusional, ukuran
perusahaan, dan kebijakan dividen berpengaruh secara simultan dan parsial
terhadap manajemen laba?

1.3 Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini
yaitu:
1. Untuk menganalisis pengaruh profitabilitas terhadap manajemen laba pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-
2017.
2. Untuk menganalisis pengaruh leverage terhadap manajemen laba pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-
2017.
3. Untuk menganalisis pengaruh kepemilikan institusional terhadap
manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia tahun 2013-2017.
4. Untuk menganalisis pengaruh ukuran perusahaan terhadap manajemen laba
pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun
2013-2017.
5. Untuk menganalisis pengaruh kebijakan dividen terhadap manajemen laba
pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun
2013-2017.
6. Untuk menganalisis pengaruh profitabilitas, leverage, kepemilikan
institusional, ukuran perusahaan, dan kebijakan dividen secara simultan dan
7

parsial terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang


terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-2017.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:


1. Bagi Manajemen
Hasil penelitian ini sebagai studi perbandingan untuk dijadikan pengkajian
yang lebih mendalam terhadap pengaruh profitabilitas, leverage,
kepemilikan institusional, ukuran perusahaan, dan kebijakan dividen
terhadap manajemen laba
2. Bagi Universitas dan Bagi Fakultas
Hasil penelitian ini dapat menambah kepustakaan bagi Perpustakaan
Universitas Palangka Raya serta menambah kepustakaan bagi Perpustakaan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
3. Bagi Pihak Lain
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pengembangan riset bagi
yang hendak melakukan penelitian tentang pengaruh profitabilitas, leverage,
kepemilikan institusional, ukuran perusahaan, dan kebijakan dividen
terhadap manajemen laba
4. Bagi Penulis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan wawasan yang baru
mengenai manajemen laba.
8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan (Agency Theory) merupakan gambaran hubungan antara


pihak yang memiliki wewenang, yakni investor yang biasa disebut dengan
principal dengan para manajer yang merupakan agent yang diberikan wewenang.
Menurut Anthony dan Govindarajan (2005) dalam Selviani (2017) teori agensi
adalah hubungan atau kontrak antara principal dan agent. Teori keagenan itu
sendiri juga dapat dilihat sebagai suatu model kontraktual antara dua atau lebih
pihak, yaitu dimana salah satu pihak disebut agent dan pihak yang lain disebut
principal (Christophorus, 2013 dalam Selviani, 2017).

Wolk et al (1999) dalam Selviani (2017) menyebutkan bahwa teori


keagenan perusahaan merupakan titik temu hubungan keagenan antara pemilik
perusahaan (principal) dengan manajemen (agent), dengan masing-masing pihak
yang terlibat dalam hubungan keagenan tersebut berusaha untuk memaksimalkan
utilitas (manfaat) mereka.

Pada sisi lain, Surifah (1999) dalam Selviani (2017) menyebutkan bahwa
dalam teori keagenan terdapat dua macam kontrak. Kontrak tersebut biasa
berbentuk: (1) kontrak kerja; dan (2) kontrak pinjaman. Kontrak kerja dilakukan
oleh pemilik perusahaan dengan manajer puncak perusahaan, sedangkan kontrak
pinjaman dilakukan oleh manajer perusahaan dengan pemberi pinjaman (kreditur).
Dalam kontrak kerja, pemilik perusahaan merupakan principal dan manajer
puncak merupakan seorang agent. Dalam kontrak pinjaman, pemberi kontrak
merupakan kreditur dan manajer perusahaan merupakan agent.
9

2.1.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory) Terhadap Manajemen Laba

Pada dasarnya agency theory merupakan model yang digunakan


untuk memformulasikan permasalahan (conflict) antara manajemen (agent)
dengan pemilik (principal). Teori keagenan menyatakan bahwa perusahaan
yang memisahkan fungsi pengelolaan dan kepemilikan akan rentan terhadap
konflik keagenan. Pada model keagenan dirancang sebuah sistem yang
melibatkan kedua belah pihak yaitu manajemen dan pemilik. Selanjutnya,
manajemen dan pemilik melakukan kesepakatan (kontrak) kerja untuk
mencapai manfaat (utilitas) yang diharapkan. Menurut Jensen dan Meckling
(1976) dalam Sunarto (2009), manfaat yang diterima oleh kedua belah pihak
didasarkan pada kinerja perusahaan.
Teori keagenan modern mencoba untuk menjelaskan struktur modal
perusahaan sebagai cara untuk meminimalisasi biaya yang dikaitkan dengan
adanya pemisahan kepemilikan dan pengendalian perusahaan. Perusahaan
yang dikuasai oleh manajerial, maka biaya keagenannya rendah. Hal ini
disebabkan antara pemegang saham dan manajer terdapat tujuan yang sama.
Corporate governance didasarkan pada teori keagenan. Corporate
governance diharapkan dapat berfungsi sebagai alat untuk memberikan
keyakinan pada para investor bahwa mereka akan menerima return atas
dana yang telah mereka investasikan. Corporate governance sangat
berkaitan dengan bagaimana membuat para investor yakin bahwa manajer
akan memberikan keuntungan bagi mereka, yakin bahwa manajer tidak
akan menggelapkan atau menginvestasikan ke dalam proyek-proyek yang
tidak menguntungkan berkaitan dengan modal yang telah ditanamkan oleh
investor. Selain itu, corporate governance juga berkaitan dengan bagaimana
para investor mengontrol para manajer. Dengan kata lain corporate
governance digunakan untuk menekan biaya keagenan.
Dalam agency theory, manajemen dalam melakukan manajemen
laba dengan manajemen akrual. Menurut Beaver (2002) dalam Sunarto
(2009), motivasi manajemen akrual dapat dikelompokkan ke dalam dua
kategori, yaitu : opportunistic dan signaling. Pada motivasi opportunistic,
10

manajemen melalui kebijakan aggressive accounting menghasilkan angka


laba lebih tinggi daripada laba yang sesungguhnya. Manajer memiliki
dorongan untuk memilih dan menerapkan metode akuntansi yang dapat
memperlihatkan kinerjanya yang baik untuk tujuan mendapatkan bonus dari
principal. Teori keagenan menunjukkan adanya asimetri informasi antar
manajer (agent) dengan para pengguna laporan keuangan (shareholder
maupun stakeholder) dimana manajer memiliki akses informasi atas kinerja
dan prospek perusahaan yang tidak dimiliki oleh pihak luar perusahaan
(Novianty, 2009). Sedangkan pada motivasi signaling, manajemen
menyajikan informasi keuangan (khususnya laba) diharapkan dapat
memberikan sinyal kemakmuran kepada para pemegang saham.

2.1.2 Laporan Keuangan

Laporan keuangan adalah ringkasan dari suatu proses pencatatan, suatu


ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku
bersangkutan. Laporan keuangan ini dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk
mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang dibebankan oleh para pemilik
perusahaan (Baridwan, 1997:17 dalam Selviani, 2017).

Laporan keuangan adalah informasi keuangan yang disajikan dan disiapkan


oleh manajemen dari suatu perusahaan kepada pihak internal dan eksternal yang
berisi seluruh kegiatan bisnis dari suatu kesatuan usaha yang merupakan salah satu
alat pertanggungjawaban dan komunikasi manajemen kepada pihak-pihak yang
membutuhkannya (Yadiati, 2010:52 dalam Selviani, 2017).

Komponen-komponen laporan keuangan terdiri dari:


1. Laporan Posisi Keuangan
Laporan posisi keuangan adalah suatu laporan yang memuat daftar harta
kekayaan atau aktiva yang dimiliki suatu perusahaan pada suatu tanggal
tertentu. Tujuan dari penyusunan neraca ini adalah untuk memperlihatkan
11

posisi keuangan suatu perusahaan pada tanggal tertentu, biasanya pada saat
buku ditutup yaitu pada akhir bulan, akhir triwulan, atau akhir tahun dan
ditentukan sisanya, sehingga neraca sering disebut balance sheet.
2. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi merupakan laporan yang memuat tentang penghasilan
serta biaya-biaya perusahaan selama periode tertentu dan diakhiri laba atau
rugi bersih yang diperoleh dalam periode tersebut, hal ini dimaksudkan
untuk mengetahui hasil operasi yang telah dilakukan.
3. Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan perubahan ekuitas menunjukkan sumber-sumber modal kerja yang
diperoleh perusahaan dan penggunaannya dalam waktu tertentu. Adapun
laporan perubahan ekuitas merupakan laporan yang menggambarkan
perubahan peningkatan atau penurunan aktiva bersih dalam suatu periode
akuntansi dan atas modal perusahaan dalam periode waktu tertentu.
4. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas berfungsi untuk memberikan informasi yang
memungkinkan untuk melakukan evaluasi perubahan aktiva bersih
perusahaan, struktur keuangan perusahaan yaitu kemampuan untuk
menghasilkan kas dan setara kas.
5. Catatan Atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan merupakan catatan-catatan yang dibuat
sebagai pendukung atau penunjang atas laporan keuangan periode yang
bersangkutan. Catatan-catatan tersebut merupakan catatan penting yang
memuat ikhtisar kebijakan akuntansi suatu perusahaan yang berisi
penjelasan-penjelasan dan kebijakan akuntansi yang mempengaruhi posisi
keuangan dan hasil usaha perusahaan.
12

Tujuan laporan keuangan menurut FASB (Astuti, 2011 dalam Selviani,


2017) yaitu:
1. Harus memberikan informasi yang bermanfaat bagi investor maupun calon
investor dan kreditur dalam mengambil keputusan investasi dan keputusan
kredit nasional.
2. Harus memberikan informasi tentang bisnis maupun aktivitas ekonomi
suatu entitas bagi yang ingin mempelajari informasi tersebut.
3. Harus memberikan informasi tentang sumber daya ekonomi milik
perusahaan, asal sumber daya tersebut, serta pengaruh transaksi atau
kejadian yang merubah sumber daya dan hak atas sumber daya tersebut.
4. Harus memberikan informasi tentang kinerja keuangan perusahaan dalam
satu periode.
5. Harus memberikan informasi untuk membantu pemakai laporan keuangan
dalam mengakses jumlah, waktu dan ketidakpastian penerimaan kas dari
divivden atau bunga dan penerimaan dari penjualan atau penarikan kembali
surat berharga atau pinjaman.

2.1.3 Manajemen Laba (Earnings Management)

Scott (2015) dalam Selviani (2017) menyebutkan bahwa manajemen laba


adalah pilihan yang dilakukan oleh manajer dalam menentukan kebijakan
akuntansi, atau aksi nyata, yang mempengaruhi laba sehingga mencapai sasaran
dengan melaporkan laba tertentu. Menurut Fisher dan Rosenzweig (1995) dalam
Selviani (2017), manajemen laba adalah tindakan manajer untuk menaikkan /
menurunkan laba periode berjalan dari suatu perusahaan yang dikelolanya tanpa
menyebabkan kenaikkan / penurunan keuntungan ekonomi perusahaan jangka
panjang.

Terdapat tiga hipotesis Grand Theory yang menjadi dasar pemikiran


mengenai manajemen laba menurut Watts dan Zimmeman (1986) dalam Selviani
(2017) yaitu:
13

1. Bonus Plan Hypothesis


Hipotesis ini menunjukkan bahwa manajer pada perusahaan yang akan
memberikan bonus cenderung lebih memilih metode akuntansi yang dapat
menaikkan laba periode satu ke periode berikutnya. Konsep ini memotivasi
manajer untuk mengelola laba. Manajer akan mengelola laba pada laporan
keuangan agar selalu bisa mencapai tingkat kinerja yang memberikan bonus.
2. Debt Equity Hypothesis
Hipotesis ini menunjukkan bahwa perusahaan yang menghadapi kesulitan
membayar utang akan membuat manajer perusahaan mengelola laba yang
dapat menaikkan laba dan pendapatan, serta cenderung melanggar
perjanjian utang apabila hal tersebut memberikan keuntungan dan manfaat.
Keuntungan tersebut berupa mengelola laba agar kewajiban utang dapat
ditunda untuk periode berikutnya sehingga pihak yang ingin mengetahui
kondisi perusahaan memperoleh informasi yang salah.
3. Political Cost Hypothesis
Hipotesis ini menunjukkan jika biaya politis semakin besar maka manajer
memilih metode akuntansi yang akan memperkecil laba dengan
menggunakan laba periode sekarang ke laba periode berikutnya. Konsep ini
membahas bahwa manajer perusahaan cenderung melanggar regulasi
pemerintah. Manajer akan mengelola laba sesuai dengan kemauan
perusahaan.

2.1.3.1 Pola Manajemen Laba

Scott (2015) dalam Selviani (2017) membagi manajemen laba


yang mungkin dilakukan oleh para manajer perusahaan ke dalam empat
jenis pola manajemen laba, yaitu:
1. Cuci Bersih (Taking Bath)
Pola ini terjadi pada periode sulit, kondisi buruk yang tidak
menguntungkan apapun pada saat terjadi reorganisasi, termasuk
pengangkatan CEO baru. Manajer melakukan kerugian, mungkin
14

dalam jumlah yang besar. Manajer berharap laba pada periode


mendatang dapat meningkat karena berkurangnya beban periode
mendatang.
2. Menurunkan Laba (Income Minimization)
Pola ini dilakukan sebagai alasan politis pada periode laba yang
tinggi dengan cara seperti pada pola taking a bath. Hal ini
dilakukan pada saat profitabilitas tinggi dengan maksud agar tidak
mendapat perhatian secara politis sekaligus sebagai upaya
menyimpan laba sehingga jika laba periode mendatang mengalami
penurunan drastis dapat diatasi dengan mengambil simpanan laba
periode berjalan.
3. Menaikkan Laba (Income Maximization)
Pola ini dilakukan pada saat laba mengalami penurunan. Kebalikan
dari income minimization, income maximization dilakukan dengan
cara mengambil simpanan laba periode sebelumnya ataupun
menarik laba periode yang akan datang, misalnya dengan menunda
pembebanan biaya. Pola ini dilakukan atas dasar motivasi bonus,
motivasi penghindaran pelanggaran perjanjian utang, pada
penawaran saham perdana dan musiman, ataupun untuk
menghindari turunnya harga saham secara drastis.
4. Perataan Laba (Income Smoothing)
Perataan laba dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba
yang dilaporkan sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang
terlalu besar karena pada umumnya investor lebih menyukai laba
yang relatif stabil.

2.1.3.2 Motivasi Manajemen Laba

Sulistiawan (2011:31-37) mengatakan bahwa terdapat beberapa hal


yang memotivasi melakukan manajemen laba:
15

1. Motivasi Bonus
Dalam sebuah perjanjian, pemegang saham akan memberikan
sejumlah insentif dan bonus sebagai feedback atau evaluasi atas
kinerja manajer dalam menjalankan operasional perusahaan.
Insentif ini diberikan dalam jumlah relatif tetap dan rutin.
Sementara bonus yang relatif besar nilainya hanya diberikan ketika
kinerja manajer berada di area pencapaian bonus yang telah
ditetapkan oleh pemegang saham. Kinerja manajemen salah
satunya diukur dari pencapaian laba usaha. Pengukuran kinerja
berdasarkan laba dan skema bonus tersebut memotivasi para
manajer untuk memberikan performa terbaiknya sehingga tidak
menutup peluang mereka melakukan tindakan manajemen laba
agar dapat menampilkan kinerja yang baik demi mendapatkan
bonus yang maksimal.
2. Motivasi Utang
Selain melakukan kontrak bisnis dengan pemegang saham, untuk
kepentingan ekspansi perusahaan, manajer seringkali melakukan
beberapa kontrak bisnis dengan pihak ketiga, dalam hal ini adalah
kreditor. Agar kreditor mampu menginvestasikan dana di
perusahaannya, tentunya manajer harus menunjukkan performa
yang baik dari perusahaannya. Selain itu, untuk memperoleh hasil
maksimal yaitu pinjaman dengan jumlah yang besar manajer
mengelola laba untuk menampilkan performa yang baik.
3. Motivasi Pajak
Tindakan manajemen laba tidak hanya terjadi pada perusahaan go
public dan selalu untuk kepentingan harga saham, tetapi juga untuk
kepentingan perpajakan. Kepentingan ini didominasi oleh
perusahaan yang belum go public. Perusahaan yang belum go
public cenderung melaporkan dan menginginkan untuk menyajikan
laporan laba fiskal yang lebih rendah dari nilai yang sebenarnya.
Kecenderungan ini memotivasi manajer untuk melakukan
16

manajemen laba agar seolah-olah laba fiskal yang dilaporkan


memang lebih rendah tanpa melanggar aturan dan kebijakan
akuntansi perpajakan.
4. Motivasi Penjualan Saham
Motivasi ini banyak dilakukan oleh perusahaan yang akan go
public ataupun yang sudah go public. Perusahaan yang akan go
public akan melakukan penawaran saham perdananya ke publik
atau lebih dikenal dengan istilah Initial Public Offerings (IPO)
untuk memperoleh tambahan modal usaha dari calon investor.
Demikian juga dengan perusahaan yang sudah go public, untuk
kelanjutan dan ekspansi usahanya, perusahaan akan menjual
sahamnya ke publik baik melalui penawaran kedua, penawaran
ketiga, dan seterusnya (seasoned equity offerings – SEO), melalui
penjualan saham kepada pemilik lama (right issue), maupun
melakukan akuisisi perusahaan lain. Proses penjualan saham
perusahaan ke publik akan direspon positif oleh pasar ketika
perusahaan penerbit saham dapat “menjual” kinerja yang baik.
Salah satu ukuran kinerja yang dilihat oleh calon investor adalah
penyajian laba pada laporan keuangan perusahaan. Kondisi ini
sering kali memotivasi manajer untuk melakukan manajemen laba
dengan berusaha menampilkan kinerja keuangan yang lebih baik
dari biasanya.
5. Motivasi Pergantian Direksi
Manajemen laba biasanya terjadi pada sekitar periode pergantian
direksi atau CEO, menjelang berakhirnya jabatan, direksi
cenderung bertindak memaksimalkan laba agar performa
kinerjanya tetap terlihat baik pada tahun terakhir ia menjabat.
Perilaku ini ditunjukkan dengan terjadinya peningkatan laba yang
cukup signifikan pada periode menjelang berakhirnya masa
jabatan. Motivasi utama yang mendorong perilaku manajemen laba
17

adalah untuk memperoleh bonus yang maksimal pada akhir masa


jabatannya.
6. Motivasi Politis
Motivasi ini biasanya terjadi pada perusahaan besar yang bidang
usahanya banyak menyentuh masyarakat luas. Perusahaan
cenderung menjaga posisi keuangan dalam keadaan tertentu
sehingga prestasi atau kinerjanya tidak terlalu baik. Jadi, pada
aspek politis ini manajer cenderung melakukan mengelola laba
untuk menyajikan laba yang lebih rendah dari nilai yang
sebenarnya, terutama selama periode kemakmuran tinggi. Hal ini
dilakukan untuk mengurangi visibilitas perusahaan sehingga tidak
menarik perhatian pemerintah dan publik yang dapat menyebabkan
meningkatnya biaya politis perusahaan.

2.1.3.3 Teknik Manajemen Laba


Teknik manajemen laba menurut Setiawati dan Na’im (2000)
dalam Selviani (2017) dapat dilakukan dengan tiga teknik, yaitu:
1. Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi
Cara manajemen mempengaruhi laba melalui judgement
(perkiraan) terhadap estimasi akuntansi antara lain : estimasi
tingkat piutang tak tertagih, estimasi kurun waktu depresiasi aktiva
tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, dan estimasi biaya
garansi.
2. Mengubah metode akuntansi
Perubahan metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu
transaksi, contoh : merubah metode depresiasi aktiva tetap, dari
metode depresiasi angka tahun ke metode depresiasi garis lurus.
3. Menggeser periode biaya atau pendapatan
Contoh rekayasa periode biaya atau pendapatan antara lain :
mempercepat atau menunda pengeluaran untuk penelitian dan
18

pengembangan sampai pada periode akuntansi berikutnya,


mempercepat atau menunda pengeluaran promosi sampai periode
berikutnya, mempercepat atau menunda pengiriman produk ke
pelanggan, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tak
dipakai.

2.1.3.4 Pengukuran Manajemen Laba

Ada beberapa model untuk mendeteksi manajemen laba, model-


model tersebut diantaranya adalah Jones Model (1991), Modified Jones
Model (1995), Kasznik Model (1999), dan Performance-Matched
Discretionary Accruals Model yang dikemukakan oleh Kothari dan kawan-
kawan (2005) (Sulistiawan, 2011:70). Pada penelitian ini, manajemen laba
diproksikan dengan menggunakan discretionary accruals. Model yang
digunakan untuk menghitung discretionary accruals adalah model
modifikasi Jones (Modified Jones Model), yang dihitung dengan cara total
akrual (TA) dikurangi dengan non discretionary accruals (NDA)
(Sulistiawan, 2011:72-74). Tahap-tahap untuk menghitung manajemen laba
menggunakan Modified Jones Model (MJM) adalah sebagai berikut :
1. Menentukan nilai total akrual (TA) dengan formulasi :
=–

Keterangan :
TAit

= Total akrual perusahaan i dalam periode t.


= Laba bersih perusahaan i pada periode t.
NI
it

= Arus kas operasi perusahaan i pada periode t.


CFO it

2. Menentukan nilai parameter β1, β2, dan β3 menggunakan Jones


Model (1991) dengan formulasi :

=β1+β2 +β3 +
19

Lalu untuk menskala data, semua variabel tersebut dibagi dengan


aset tahun sebelumnya, sehingga formulasinya berubah menjadi :

=β1( ) +β2() +β3( )+

− − −

Keterangan :
= Total akrual perusahaan i dalam periode t.
TAit

A
it−1

ΔR
evit

= Total aset perusahaan i pada periode t-1.


PPEit

= Perubahan penjualan bersih perusahaan i pada


β1, β2, β3 periode t.
ε
it

= property, plant, and equipment perusahaan i pada


periode t.
= Parameter yang diperoleh dari persamaan regresi.
= Error term perusahaan i pada periode t.
3. Menghitung nilai non discretionary accruals (NDA) dengan
formulasi :
ΔR ΔR
=β1( evit ecit

) +β2( − ) +β3( )
− − − −

Keterangan :

= Non discretionary accruals perusahaan i pada


NDAit

periode t.
= Total aset perusahaan i pada periode t-1.
A
it−1

ΔR
= Perubahan penjualan bersih perusahaan i pada
evit

periode t.
= Perubahan piutang perusahaan i pada periode t.
ΔR
ecit
PPEit
= property, plant, and equipment perusahaan i pada
periode t.
β1, β2, β3 = Parameter yang diperoleh dari persamaan regresi.
20

Nilai parameter β1, β2, dan β3 adalah hasil dari perhitungan pada
langkah ke-2. Isikan semua nilai yang ada dalam formula sehingga nilai
NDA bisa didapatkan. Akrual non diskresioner (non discretionary accruals)
adalah akrual yang dapat berubah bukan karena kebijakan atau
pertimbangan pihak manajemen, seperti perubahan piutang yang besar
karena adanya tambahan penjualan yang signifikan (Sulistiawan, 2011).
4. Menentukan nilai discretionary accruals yang merupakan indikator
manajemen laba akrual dengan cara menghitung total akrual
dengan non discretionary accruals, dengan formulasi :

= -

Akrual diskresioner (discretionary accruals) adalah akrual yang


dapat berubah sesuai dengan kebijakan manajemen, seperti pertimbangan
tentang penurunan umur ekonomis aset tetap atau pertimbangan pemilihan
metode depresiasi (Sulistiawan, 2011).

2.1.4 Profitabilitas

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan


(Kasmir, 2016). Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen
suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan
dan pendapatan investasi. Pada umumnya nilai profitabilitas suatu perusahaan
dapat digunakan sebagai indikator untuk mengukur kinerja suatu perusahaan.
Semakin tinggi profitabilitas suatu perusahaan maka kinerja dan kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba juga tinggi. Keterkaitan antara profitabilitas
dengan manajemen laba adalah ketika profitabilitas yang diperoleh perusahaan
kecil pada periode waktu tertentu akan memicu perusahaan untuk melakukan
manajemen laba dengan cara meningkatkan pendapatan yang diperoleh sehingga
21

akan memperlihatkan saham dan mempertahankan investor yang ada. Didalam


penelitian ini, profitabilitas diproksikan dengan return on investment (ROI) :

Laba setelah bunga dan pajak


Total aset
ROI =

2.1.5 Leverage

Leverage adalah penggunaan aset dan sumber dana oleh perusahaan yang
memiliki biaya (beban tetap) dengan maksud agar meningkat keuntungan
potensial pemegang saham (Sartono, 2008 dalam Novianus, 2016). Leverage
digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menjamin seluruh
hutangnya dengan seluruh modal yang dimiliki perusahaan. Perusahaan dengan
tingkat leverage yang tinggi termotivasi untuk melakukan manajemen laba agar
terhindar dari pelanggaran hutang. (Widyaningdyah, 2001: 93) perusahaan yang
mempunyai rasio leverage tinggi akibat besarnya jumlah utang dibandingkan
dengan aktiva yang dimiliki perusahaan, diduga melakukan manajemen laba
karena perusahaan terancam default yaitu tidak dapat memenuhi kewajiban
pembayaran utang pada waktnya. Di dalam penelitian ini leverage diproksikan
dengan debt ratio :

Total utang
Debt Ratio = Total aset
22

2.1.6 Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional merupakan saham perusahaan yang dimiliki oleh


institusi atau lembaga (perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi dan
kepemilikan institusi lain) (Tarjo, 2008). Keberadaan investor institusional
dianggap mampu menjadi mekanisme monitoring yang efektif dalam setiap
keputusan yang diambil oleh manajer. Hal ini disebabkan investor institusional
terlibat dalam pengambilan yang strategis sehingga tidak mudah percaya terhadap
tindakan manipulasi laba. Berikut adalah rumus untuk mencari kepemilikan
institusional:

Jumlah saham yang dimiliki investor institusi


INST =
Total modal saham perusahaan yang beredar

2.1.7 Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan adalah skala perusahaan yang dapat diklasifikasikan ke


dalam besar kecilnya suatu perusahaan. Terdapat berbagai cara dalam
mengklasifikasikan perusahaan berdasarkan ukuran, antara lain: total aset, total
penjualan, nilai pasar saham. Ukuran perusahaan merupakan salah satu indikator
yang digunakan investor dalam menilai aset maupun kinerja perusahaan. Besar
kecilnya suatu perusahaan dapat dilihat dari total aktiva (asset) dan total penjualan
(net sales) yang dimiliki oleh perusahaan. Didalam penelitian ini, peneliti
memproksikan ukuran perusahaan dengan menggunakan total aset agar
mengurangi fluktuasi data yang berlebihan. Apabila nilai total aset dipakai begitu
saja, maka nilai variabel akan menjadi besar, dapat menjadi miliar bahkan triliun.
Agar nilai variabel tidak besar, maka disederhanakan dengan
mentransformasikannya menjadi logaritma natural tanpa mengubah nilai yang
sebenarnya. Berikut ini rumus untuk mencari ukuran perusahaan :
23

2.1.8 Kebijakan Dividen

Sartono (2001) dalam Haneswan (2017) yang dimaksud dengan kebijakan


dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan
kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba
ditahan guna pembiayaan investasi dimasa yang datang. Myers dan Majluf (1948)
dalam Haneswan (2017) menjelaskan bahwa apakah perusahaan meningkatkan
pembayaran dividen, mungkin akan diartikan oleh pemodal sebagai sinyal harapan
manajemen tentang akan membaiknya kinerja perusahaan dimasa yang akan
datang, sehingga kebijakan dividen memiliki pengaruh terhadap manajemen laba.
Kebijakan dividen menyangkut keputusan untuk membagikan laba atau menahan
guna diinvestasikan kembali didalam perusahaan. Bagi perusahaan besarnya
dividen mengandung dua akibat yang saling bertentangan. Oleh sebab itu,
diperlukan kebijakan dividen yang optimal yaitu kebijakan dividen yang
menciptakan keseimbangan diantara dividen saat ini dan pertumbuhan dimasa
yang akan datang sehingga memaksimumkan harga perusahaan, (Weston dan
Brigham, 2001). Menurut Keown (2000) dalam Haneswan (2017), kebijakan
dividen perusahaan meliputi rasio pembayaran dividen yang menunjukan jumlah
dividen yang dibayarkan relatif terhadap pendapatan perusahaan dan stabilitas
dividen sepanjang waktu.

Beberapa faktor penting yang mempengaruhi kebijakan dividen adalah


kesempatan investasi yang berbeda, ketersediaan biaya modal alternatif dan
preferensi pemegang saham untuk menerima pendapatan saat ini atau
menerimanya dimasa datang. Didalam penelitian ini, kebijakan dividen
diproksikan dengan Dividend Payout Ratio (DPR) :

Dividen per lembar saham


DPR =
Laba per lembar saham
24

2.2 Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian terdahulu terkait dengan pengaruh profitabilitas,


leverage, kepemilikan institusional, dan kebijakan dividen terhadap manajemen
laba yang sudah dipernah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya, diantaranya
yang menjadi acuan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Ringkasan Hasil Penelitian Terdahulu

Nama Peneliti Judul Variabel Alat


No dan Tahun Yang Hasil Penelitian
Penelitian Analisis
Penelitian Diteliti
Pengaruh
Profitabilitas,
Leverage, dan (X) 1.Profitabilitas dan
Alesia Heni Ukuran Profitabilitas, Regresi ukuran perusahaan
Selviani Perusahaan Leverage, Linier berpengaruh positif
(2017) Terhadap dan Ukuran Berganda (+) terhadap
Manajemen Perusahaan manajemen laba.
1 Laba (Studi
Empiris Pada
Perusahaan
Manufaktur 2. Leverage tidak
Yang Terdaftar (Y) berpengaruh positif
di Bursa Efek Manajemen (-) terhadap
Indonesia Tahun Laba manajemen laba.
2014 – 2016)
Pengaruh (X) Regresi 1.Ukuran
Profitabilitas, Profitabilitas Linier perusahaan
Ukuran , Ukuran Berganda berpengaruh
Perusahaan, Perusahaan, terhadap
Leverage, dan Leverage, manajemen laba.
Kualitas Audit dan kualitas
Terhadap audit 2.Profitabilitas,
Pipit Widhi Manajemen Leverage, dan
2 Laba (Studi (Y) kualitas audit tidak
Astuti (2017)
Empiris Pada Manajemen berpengaruh
Perusahaan Laba terhadap
Manufaktur manajemen laba.
Yang Terdaftar
di Bursa Efek
Indonesia
Periode 2012 –
2015)
25

Pengaruh (X) Regresi Ukuran perusahaan


RR. Sri Ukuran Ukuran Linier tidak berpengaruh
Handayani Perusahaan Perusahaan Berganda terhadap
3 dan Agustono Terhadap manajemen laba.
Dwi Rachadi Manajemen (Y)
(2009) Laba Manajemen
Laba
Pengaruh (X) Regresi Ukuran perusahaan
Mekanisme Good Linier tidak berpengaruh
Good Corporate Corporate Berganda terhadap
Governance, Governance, manajemen laba.
Independensi Independensi 1. Leverage,
Auditor, Auditor, kualitas audit, dan
Kualitas Audit Kualitas profitabilitas
dan Faktor Audit, berpengaruh
Welvin I. Lainnya Leverage, terhadap
Terhadap Profitabilitas manajemen laba.
Guna dan
Manajemen , 2. Kepemilikan
4 Arleen
Laba. Kepemilikan institusional,
Herawaty
Institusional, kepemilikan
(2010)
Kepemilikan manajemen, komite
Manajemen, audit, komisaris
dan Ukuran independen,
Perusahaan independensi
auditor, dan ukuran
(Y) perusahaan tidak
Manajemen berpengaruh
Laba terhadap
manajemen laba.
Pengaruh (X) Regresi 1. Kebiajakan
Kebijakan Kebijakan Linier dividen
Dividen dan Dividen dan Berganda berpengaruh
Good Corporate Good terhadap
I Gusti Ayu Governance Corporate manajemen laba.
5 Made Asri Terhadap Governance 2.Good Corporate
Dwija Putri Manajemen Governance tidak
(2012) Laba. berpengaruh
(Y) terhadap
Manajemen manajemen laba.
Laba
Pengaruh (X) Regresi 1. Leverage dan
kompensasi, kompensasi, Linier earnings power
leverage, ukuran leverage, Berganda berpengaruh
Santhi perusahaan, ukuran terhadap
6 earnings power perusahaan, manajemen laba.
Yuliana
terhadap earnings 2. Kompensasi dan
Sosiawan Manajemen laba power ukuran perusahaan
(2012) tidak berpengaruh
(Y) terhadap
Manajemen manajemen laba.
26

Laba

Pengaruh Faktor (X) Regresi 1. Variabel-variabel


Good Corporate Faktor Good Linier Good Corporate
Governance, Corporate Berganda Governance (GCG)
Free Cash Flow, Governance, tidak berpengaruh
dan Leverage Free Cash terhadap praktek
Terhadap Flow, dan manajemen laba
Dian Agustia Manajemen Leverage 2. Variabel free
7 (2013) Laba cash flow
(Y) berpengaruh negatif
Manajemen signifikan terhadap
Laba manajemen laba.
3. Leverage
berpengaruh
terhadap
manajemen laba.
Pengaruh (X) Regresi 1. Profitabilitas
profitabilitas Profitabilitas Linier berpengaruh
Kurnia terhadap Berganda terhadap
Cahya Lestari manajemen laba (Y) manajemen laba.
8 dan S. Oky (studi kasus Manajemen
Wulandari pada bank yang Laba
(2019) terdaftar di bei
tahun 2016-
2018)
Pengaruh (X) Regresi 1. Corporate
corporate corporate Linier governance,
governance, governance, Berganda struktur
struktur struktur kepemilikan, dan
Indra K. Kepemilikan, Kepemilikan, ukuran
9 (2012) dan ukuran dan ukuran perusahaan
perusahaan perusahaan berpengaruh
Terhadap terhadap
manajemen laba (Y) manajemen laba.
Manajemen
Laba
Pengaruh (X) Regresi 1.asimetri
asimetri asimetri Linier informasi, ukuran
informasi, informasi, Berganda perusahaan,
ukuran ukuran kepemilikan
Restu Agusti perusahaan, perusahaan, manajerial
10 dan Tyas kepemilikan kepemilikan berpengaruh
Pramesti manajerial manajerial terhadap
(2013) terhadap manajemen laba.
manajemen laba (Y)
Manajemen
Laba
27

Ni Ketut Sri Pengaruh (X) Regresi 1.Kebijakan


Dahayani, I kebijakan Kebijakan Linier dividen
Ketut dividen pada dividen Berganda berpengaruh
Budiartha, manajemen laba terhadap
11 dan I Made dengan good (Y) manajemen laba.
Sadha corporate Manajemen
Suardikha governance Laba
(2017) sebagai
moderasi
Analisis (X) Regresi 1.Kebijakan
pengaruh pengaruh Linier dividen dan ukuran
Tria Inggrid kebijakan kebijakan Berganda perusahaan
Fahrunisyah, dividen dan dividen dan berpengaruh
12 Kardinal SE., ukuran ukuran terhadap
M.Si., dan perusahaan perusahaan manajemen laba.
Rini Aprilia, terhadap
M.Sc Manajemen laba (Y)
(2013) Manajemen
Laba
Pengaruh (X) Regresi 1.struktur
struktur struktur Linier kepemilikan,
kepemilikan, kepemilikan, Berganda leverage,
Ayu Dwi leverage, leverage, profitabilitasdan
Hasty dan profitabilitas profitabilitas kebijakan dividen
13 Vinola dan kebijakan dan berpengaruh
Herawaty dividen terhadap kebijakan terhadap
(2017) manajemen laba dividen manajemen laba.
dengan kualitas
audit sebagai (Y)
variabel Manajemen
moderasi Laba
Pengaruh (X) Regresi 1.Kepemilikan
kepemilikan kepemilikan Linier institusional tidak
institusional, institusional, Berganda berpengaruh
ukuran ukuran terhadap
perusahaan, perusahaan, manajemen laba.
leverage dan leverage dan 2.Ukuran
good corporate good perusahaan
governance corporate berpengaruh
Kodriyah terhadap governance terhadap
14 (2015) manajemen laba manajemen laba
(Studi empiris (Y) 3. Leverage tidak
pada perusahaan Manajemen berpengaruh
manufaktur Laba terhadap
yang terdaftar di manajemen laba.
BEI 2009-2012) 4. Ukuran dewan
komisaris
berpengaruh
terhadap
manajemen laba.
28

5. Komposisi
dewan komisaris
independen yang
menjadi salah satu
mekanisme good
corporate
governance
berpengaruh
terhadap
manajemen laba.
Pengaruh (X) Regresi 1.Ukuran
Ukuran Ukuran Linier perusahaan dan
Perusahaan, Perusahaan, Berganda Devidend Payout
Devidend Devidend tidak berpengaruh
Payout, Risiko Payout, terhadap praktik
Spesifik, dan Risiko perataan laba.
Pertumbuhan Spesifik, dan
15 Alwan Sri Perusahaan Pertumbuhan
Kustono terhadap Praktik Perusahaan
(2009) Perataan Laba
pada Perusahaan (Y)
Manufaktur Praktik
Studi Empiris Perataan
Bursa Efek Laba
Jakarta 2002–
2006
Pengaruh (X) Regresi 1.Asimetri
asimetri Asimetri Linier informasi dan
informasi, informasi, Berganda leverage
leverage, leverage, berpengaruh positif
Ni Putu kepemilikan kepemilikan terhadap
Linda Ayu manajerial dan manajerial manajemen laba.
16 Utari dan kepemilikan dan 2. Kepemilikan
Maria M. institusional kepemilikan manajerial dan
Ratna Sari pada manajemen institusional kepemilikan
(2016) laba institusional
(Y) berpengaruh negatif
Manajemen terhadap
Laba manajemen laba.
Pengaruh return (X) Regresi 1. Return on asset
on asset pada return on Linier berpengaruh positif
Indra Satya praktik asset Berganda terhadap
17 Prasavita manajemen laba manajemen laba.
Amertha dengan (Y)
(2013) moderasi Manajemen
corporate Laba
governance
Pengaruh (X) Regresi 1.Leverage
18 Niken Utami leverage, leverage, Linier berpengaruh positif
(2016) kepemilikan kepemilikan Berganda terhadap
29

institusional dan institusional manajemen laba.


kepemilikan dan 2.Kepemilikan
manajerial kepemilikan institusional tidak
terhadap manajerial berpengaruh
manajemen laba terhadap
manajemen laba
(Y) 3.Kepemilikan

Manajemen manajerial
Laba berpengaruh positif
terhadap
manajemen laba.
Pengaruh nilai (X) Regresi 1. Nilai
perusahaan,kebij Nilai Linier perusahaan,kebijak
akan dividen, perusahaan,k Berganda an dividen, dan
dan reputasi ebijakan reputasi auditor
auditor terhadap dividen, dan tidak berpengaruh
19 Sulistiyawati perataan laba reputasi terhadap perataan
(2013) auditor laba.
(Y)

Perataan
Laba
Pengaruh (X) Regresi 1. Ukuran
ukuran Ukuran Linier perusahaan
perusahaan, perusahaan, Berganda berpengaruh
financial financial terhadap praktik
leverage dan leverage dan perataan laba.
kebijakan kebijakan 2. Financial
Marsidatul dividen terhadap dividen leverage dan
20 Hasanah praktik perataan kebijakan dividen
(2013) laba (Y) tidak berpengaruh
(studi empiris Praktik terhadap praktik
pada perusahaan perataan laba perataan laba.
manufaktur
yang terdaftar di
Bursa Efek
Indonesia)
Pengaruh (X) Regresi 1. Ukuran
kepemilikan Kepemilikan Linier perusahaan dan
institusional, institusional, Berganda kepemilikan
ukuran ukuran institusional
Wawan perusahaan, perusahaan, berpengaruh
21 Hermanto leverage leverage terhadap
(2015) terhadap manajemen laba.
manajemen laba (Y) 2. leverage tidak
(studi empiris Manajemen berpengaruh
pada perusahaan laba terhadap
mnufaktur yang manajemen laba.
30

terdaftar di bei
Tahun 2010-
2013)
Pengaruh (X) Regresi 1. financial
ukuran Ukuran Linier leverage
perusahaan, perusahaan, Berganda dan likuiditas
Harris profitabilitas, profitabilitas, berpengaruh
Prasetya financial financial terhadap praktik
dan leverage, leverage, perataan laba.
22 Shiddiq Nur klasifikasi KAP klasifikasi 2.Ukuran
Rahardjo dan likuiditas KAP dan perusahaan,
(2013) terhadap praktik likuiditas profitabilitas, dan
perataan laba klasifikasi KAP
tidak berpengaruh
(Y) terhadap praktik
Praktik perataan laba.
perataan laba
Sumber: Skripsi dan Berbagai Jurnal Penelitian Ilmiah

2.3 Kerangka Konsep Penelitian

Dalam penelitian kuantitatif, seorang peneliti memiliki kewajiban untuk


mengembangkan kerangka konseptual agar hubungan antar variabel yang diteliti
dapat dijelaskan secara teoritis. Menurut Uma Sekaran, 1992 (dalam Sugiyono,
2017:60), mengemukakan bahwa kerangka berfikir merupakan model konseptual
tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah
didefinisikan sebagai masalah yang penting. Sedangkan menurut Suriasumantri,
1986 (dalam Sugiyono, 2017:60), kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan
sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi objek permasalahan. Berdasarkan
pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kerangka berpikir adalah
penjelasan sementara secara konseptual tentang keterkaitan hubungan pada setiap
objek pemasalahan berdasarkan teori.
Pada saat ini, dunia usaha semakin berkembang pesat. Dibalik berkembang
pesatnya dunia usaha, laporan keuangan merupakan media yang sangat vital
dalam pengambilan keputusan bagi setiap perusahaan. Didalam laporan keuangan,
laba adalah indikator untuk menilai kinerja manajemen. Dengan begitu, pihak
manajemen bisa saja melakukan tindakan curang dengan mengatur laba sesuai
31

dengan keinginannya agar kinerjanya terlihat baik sehingga ia dapat memperoleh


keuntungan dari tindakannya tersebut. Tindakan manajer mengatur laba sesuai
dengan keinginannya dikenal dengan earnings management (manajemen laba)
Ada beberapa faktor yang mendorong manajer melakukan manajemen laba, yaitu :
(1). Profitabilitas : ketika profitabilitas yang diperoleh perusahaan mendapatkan
nilai yang kecil pada waktu tertentu maka akan memicu perusahaan untuk
melakukan manajemen laba dengan cara meningkatkan laba dan pendapatan yang
diperoleh sehingga akan memperlihatkan kondisi saham yang stabil dan
mempertahankan investor yang ada ; (2). Leverage : perusahaan dengan tingkat
leverage yang tinggi termotivasi untuk melakukan manajemen laba agar terhindar
dari pelanggaran hutang. Hal ini karena perusahaan terancam default (kegagalan
membayar hutang) yang terjadi karena kurangnya pengawasan oleh pihak
principal terhadap manajemen. Akibat dari hal tersebut, manajemen dapat
mengambil keputusan secara sepihak dan dapat mengambil strategi yang kurang
tepat. Manajemen laba akan membuat kinerja perusahaan tampak baik di mata
para pemegang saham (investor) dan publik walaupun perusahaan dalam keadaan
terancam default; (3). Kepemilikan Institusional : perusahaan dengan
kepemilikan institusional yang besar mengindikasikan kemampuannya untuk
memonitor manajemen. Persentase saham tertentu yang dimiliki oleh institusi
dapat mempengaruhi proses penyusunan laporan keuangan yang tidak menutup
kemungkinan terdapat akrualisasi sesuai dengan kepentingan pihak manajemen ;
(4). Ukuran Perusahaan : perusahaan besar cenderung menjaga laporan posisi
keuangannya dalam keadaan tertentu sehingga kinerjanya tidak terlalu baik,
dengan cara menyajikan laba yang lebih rendah dari nilai yang sebenarnya
terutama selama periode yang menunjukkan kemakmuran perusahaan tersebut ;
dan (5). Kebijakan Dividen : manajemen dapat melakukan estimasi besarnya
dividen yang akan diberikan melalui prospektus perusahaan. Prospektus
perusahaan menjelaskan besarnya kebijakan dividen yang direncanakan oleh
perusahaan dalam bentuk jumlah persentase dividen tunai dikaitkan dengan
jumlah laba bersih.
32

Setiap variabel yang telah dijelaskan di atas saling memiliki keterkaitan atau
memiliki hubungan. Maka kerangka penelitian pada penelitian ini akan
menjelaskan pengaruh profitabilitas, leverage, kepemilikan institusional, ukuran
perusahaan, dan kebijakan dividen terhadap earnings management (manajemen
laba) secara keseluruhan (simultan). Kerangka pikir penelitian dapat dilihat pada
gambar 1 sebagai berikut :

Saat dunia usaha berkembang pesat, laporan keuangan merupakan media terpenting
dalam pengambilan keputusan bagi setiap perusahaan karena di dalam
laporan keuangan terdapat informasi laba yang merupakan indikator
untuk menilai kinerja manajemen.

Saat dunia usaha berkembang pesat, laporan keuangan merupakan media terpenting
dalam pengambilan keputusan bagi setiap perusahaan karena di dalam
laporan keuangan terdapat informasi laba yang merupakan indikator
untuk menilai kinerja manajemen.

Informasi laba kerap kali menjadi target oleh manajemen untuk


mengatur laba sesuai dengan keinginannya agar kinerjanya terlihat baik.

Penelitian Terdahulu
Agency Theory
1. Alesia Heni Selviani. 2017
(Teori Keagenan)
Hasil riset : Profitabilitas
dan ukuran perusahaan
berpengaruh positif (+)
terhadap manajemen laba

Variabel X
1. Profitabilitas
2. Leverage
3. Kepemilikan Institusional
4. Ukuran Perusahaan
5. Kebijakan Dividen

Variabel Y
Manajemen Laba

Uji Asumsi Klasik, Statistik


Deskriptif, dan Uji Hipotesis.

Temuan Hasil Penelitian


33

Implikasi Hasil Penelitian

Kesimpulan dan Saran

Gambar 1 Kerangka Pikir Penelitian

Sugiyono (2014) menyatakan bahwa kerangka konsep akan


menghubungkan secara teoritis antara variabel-variabel penelitian yaitu antara
variabel independen (manajemen laba) dan variabel independen (profitabilitas,
leverage, kepemilikan institusional, ukuran perusahaan, dan kebijakan dividen).
Sehingga kerangka konsep penelitian sebagai berikut:

X1 = Profitabilitas

X2 = Leverage

X3 = Kepemilikam Institusional Y = Manajemen Laba

X4 = Ukuran Perusahaan

X5 = Kebijakan Dividen

Gambar 2 Kerangka Konsep Penelitian

2.4 Hipotesis Penelitian

2.4.1 Pengaruh Profitabilitas Terhadap Manajemen Laba

Laba yang besar akan menarik investor karena perusahaan memiliki tingkat
pengembalian yang semakin tinggi. Dengan kata lain, semakin tinggi rasio ini
maka semakin baik produktivitas aset dalam memperoleh keuntungan bersih. Hal
ini selanjutnya akan meningkatkan daya tarik perusahaan kepada investor.
34

Peningkatan daya tarik perusahaan menjadikan perusahaan tersebut makin


diminati investor, karena tingkat pengembalian akan semakin besar. Semakin
tinggi rasio yang diperoleh maka semakin efisien manajemen aset perusahaan.
Sebaliknya jika semakin rendah rasio yang diperoleh, maka mengindikasikan
semakin tidak efisien manajemen aset perusahaan. Sehingga ketika rasio ini
rendah, manajemen cenderung melakukan tindakan manajemen laba. Seperti
halnya pernyataan yang dikemukakan oleh Juniarti dan Corolina (2005) dalam
Prasetya (2013) bahwa profitabilitas yang rendah atau menurun memiliki
kecenderungan bagi perusahaan tersebut untuk melakukan manajemen laba.

Hal ini pun sejalan dengan hasil riset yang dikemukakan oleh Suyudi (2009)
dalam Amertha (2013) bahwa apabila kinerja perusahaan buruk pihak manajemen
akan melakukan tindakan manajemen laba dengan cara menaikkan laba
akuntansinya, begitu pula sebaliknya bila perusahaan berkinerja baik pihak
manajemen akan melakukan tindakan manajemen laba dengan cara menurunkan
laba akuntansinya. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang diajukan
sebagai berikut :

H1 : Profitabilitas berpengaruh terhadap manajemen laba.

2.4.2 Pengaruh Leverage Terhadap Manajemen Laba

Rasio ini menunjukkan besarnya aktiva yang dimiliki perusahaan yang


dibiayai oleh utang, artinya berapa besar utang yang ditanggung perusahaan
dibandingkan dengan aktivanya (Kasmir, 2010) dalam Dewi (2017). Leverage
yang digunakan dalam penelitian ini adalah perbandingan antara utang dan aktiva
yang digunakan untuk menjamin utang. Menurut Widyaningdyah (2001: 93)
dalam Utari dan Sari (2016), perusahaan yang mempunyai rasio leverage tinggi
akibat besarnya jumlah utang dibandingkan aktiva yang dimiliki perusahaan,
diduga melakukan manajemen laba karena perusahaan terancam default yaitu
tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran utang pada waktunya. Perusahaan
akan berusaha menghindarinya dengan membuat kebijakan yang dapat
35

meningkatkan pendapatan maupun laba, dengan demikian akan memberikan


posisi bargaining (persetujuan) yang relatif lebih baik dalam negoisasi atau
penjadwalan ulang utang perusahaan. Astuti (2011) meneliti pengaruh leverage
terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdapat di Bursa
Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa leverage berpengaruh positif
signifikan terhadap manajemen laba. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis
yang diajukan sebagai berikut:
H2 : Leverage berpengaruh terhadap manajemen laba.

2.4.3 Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Manajemen Laba

Kepemilikan institusional memiliki kemampuan untuk memonitor kinerja


manajer dalam mengelola perusahaan sehingga dengan adanya kepemilikan oleh
institusi lain diharapkan bisa mengurangi perilaku manajemen laba yang
dilakukan manajer. Investor institusional merupakan pihak yang dapat memonitor
agen dengan kepemilikannya yang besar, sehingga motivasi manajer untuk
mengatur laba menjadi berkurang.

Penelitian yang dilakukan oleh Suryani (2010) dalam Hermanto (2015)


menunjukkan bahwa variabel kepemilikan institusional berpengaruh negatif
signifikan terhadap manajemen laba, artinya semakin besar kepemilikan
institusional maka semakin kecil praktik manajemen laba yang dilakukan
perusahaan. Hal ini diperjelas dengan penelitian menurut Agustina (2013) dalam
Hermanto (2015) bahwa kepemilikan institusional tidak memiliki kemampuan
untuk mengendalikan pihak manajemen sehingga tidak dapat mengurangi
earnings management, dikarenakan investor institusional tidak berperan sebagai
sophisticated investors yang memiliki lebih banyak kemampuan dan kesempatan
untuk memonitor dan mendisiplinkan manajer agar lebih terfokus pada nilai
perusahaan. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang diajukan sebagai
berikut:

H3 : Kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap manajemen laba


36

2.4.4 Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba

Ukuran perusahaan dianggap dapat mempengaruhi manajemen laba. Ukuran


perusahaan dilihat dari seberapa besar aset yang dimilikinya. Perusahaan dengan
ukuran yang besar akan dilihat kinerjanya oleh publik sehingga perusahaan akan
melaporkan kondisi keuangannya dengan lebih berhati-hati dan lebih transparan,
sehingga perusahaan besar lebih sedikit melakukan manajemen laba. Sedangkan
perusahaan dengan ukuran yang lebih kecil mempunyai kecenderungan untuk
melakukan manajemen laba dengan melaporkan laba yang lebih besar untuk
menunjukkan kinerja perusahaan yang memuaskan. Keputusan Ketua Bapepam
No.Kep 11/PM/1997 menyebutkan perusahaan kecil dan menengah berdasarkan
aktiva (kekayaan) adalah badan hukum yang memiliki total aktiva tidak lebih dari
seratus miliyar rupiah, sedangkan perusahaan besar adalah badan hukum yang
total aktivanya diatas seratus miliyar rupiah. Semakin besar ukuran perusahaan
maka total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan pun semakin besar. Pemerintah
akan membebankan berbagai biaya (biaya operasi, biaya administrasi) kepada
perusahaan besar. Perusahaan yang besar dengan total aktiva yang besar akan
mempunyai kecenderungan menghasilkan laba perusahaan yang besar pula.
Perusahaan besar cenderung melakukan praktik manajemen laba dengan cara
menurunkan laba karena perusahaan menghindari fluktuasi atau kenaikan laba
secara drastis agar terhindar dari kenaikan pembebanan biaya oleh pemerintah dan
masyarakat. Handayani dan Rachadi (2009) melakukan penelitian tentang
pengaruh ukuran perusahaan terhadap manajemen laba pada perusahaan
manufaktur periode 2003-2006 dengan hasil ukuran perusahaan mempunyai
pengaruh negatif terhadap manajemen laba. Berdasarkan uraian tersebut, maka
hipotesis yang diajukan sebagai berikut :

H4 : Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap manajemen laba


37

2.4.5 Pengaruh Kebijakan Dividen Terhadap Manajemen Laba

Penelitian yang menganalisis hubungan kebijakan dividen dengan


manajemen laba seperti yang dilakukan oleh Savov (2006). Tujuan penelitiannya
adalah mengembangkan analisis pada manajemen laba untuk menguji hubungan
interaksi antara perilaku pelaporan perusahaan, kebijakan dividen dan investasi,
dan kesalahan penentuan harga saham (stock market mispricing) dan dua varibel
tambahan, yaitu nilai pasar (market to book ratio) dan utang (debt). Penelitian
dilakukan di perusahaan-perusahaan Jerman dengan menggunakan data laporan
keuangan periode 1982- 2003 dan menggunakan analisis regresi. Manajemen laba
diproksi menggunakan dicretionary accrual dengan metode pengukuran yang
diadopsi dari model modifikasian Jones (1991). Kebijakan dividen diukur dengan
perubahan dividen yang berdasarkan Litner (1956) model. Hasil penelitian
menemukan bahwa investasi berhubungan positif dengan manajemen laba dan
kebijakan dividen berhubungan secara negatif terhadap manajemen laba.

Hasil temuan Savov (2006) menunjukkan bahwa kebijakan dividen


berhubungan negatif terhadap manajemen laba. Artinya semakin tinggi dividen
yang dibayarkan maka manajemen semakin menurunkan laba dengan cara
melakukan manajemen laba dengan pola income decreasing. Putri (2012)
melakukan penelitian tentang pengaruh kebijakan dividen dan good corporate
governance terhadap manajemen laba dengan hasil kebijakan dividen berpengaruh
terhadap manajemen laba dan good corporate governance tidak berpengaruh
terhadap manajemen laba. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang
diajukan sebagai berikut:

H5 : Kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.


38

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Menurut Sugiyono


(2017:13) metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian
yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada
populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya
dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian,
analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis
yang telah ditetapkan. Metode kuantitatif yang digunakan adalah analisis statistik.
Dalam penelitian ini yang digunakan adalah statistik inferensial. Statistik
inferensial adalah serangkaian teknik yang digunakan untuk mengkaji, menaksir,
dan mengambil kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh dari sampel untuk
menggambarkan karakteristik atau ciri dari suatu populasi (Siregar, 2015:2).

3.2 Populasi dan Sampel


3.2.1 Populasi

Menurut Ferdinand (2011:215) dalam Ismilya (2016) populasi adalah


gabungan dari seluruh elemen yang berbentuk peristiwa, hal atau orang memiliki
karakteristik yang serupa yang menjadi pusat perhatian seorang peneliti karena itu
dipandang sebagai sebuah semesta penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah
perusahaan manufaktur yang konsisten terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
pada tahun 2013-2017 yang berjumlah 159 perusahaan.

Alasan peneliti memilih perusahaan manufaktur sebagai sampel dalam


penelitian ini karena perusahaan manufaktur skala produksinya cukup besar dan
39

membutuhkan modal yang besar pula untuk pengembangan produk dan ekspansi
pangsa pasar, sehingga cenderung mempunyai tingkat Debt to Equity Ratio (DER)
yang cukup tinggi.

3.2.2 Sampel

Teknik pengambilan sampel dilakukan melalui metode purposive sampling


dengan tujuan untuk mendapatkan sampel yang sesuai dengan tujuan penelitian.
Menurut Hartono (2014:98) pengambilan sampel (purposive sampling) dilakukan
dengan mengambil sampel dari populasi berdasarkan suatu kriteria tertentu.
Kriteria yang digunakan dapat berdasarkan pertimbangan (judgement). Menurut
Hartono (2014:98) judgment sampling adalah purposive sampling dengan
beberapa kriteria berupa suatu pertimbangan tertentu.

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dibatasi dengan kriteria-kriteria


tertentu, antara lain:
1. Perusahaan manufaktur yang secara konsisten terdaftar di Bursa Efek
Indonesia pada tahun 2013-2017.
2. Perusahaan manufaktur yang menerbitkan laporan keuangan yang telah
diaudit tahun 2013-2017.
3. Perusahaan yang memiliki data lengkap mengenai informasi total piutang,
aset tetap, total aset, total pendapatan, laba bersih, arus kas operasi, laba
setelah bunga dan pajak, dan total hutang yang dibutuhkan dalam penelitian
ini.
4. Perusahaan manufaktur yang membagikan dividen kepada investor.
5. Perusahaan manufaktur yang menggunakan mata uang rupiah.
40

Berdasarkan kriteria sampel di atas, maka terdapat sebanyak 22 perusahaan


yang sesuai dengan kriterianya dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut ini:
Tabel 3.1. Kriteria Sampel Penelitian

No Kriteria Sampel Jumlah


1 Perusahaan manufaktur yang konsisten terdaftar di Bursa 159
Efek Indonesia Tahun 2013-2017.
2 Perusahaan yang tidak menerbitkan laporan keuangan yang (27)
telah diaudit.
3 Perusahaan yang tidak memiliki data lengkap. (35)

4 Perusahaan yang tidak membagikan dividen kepada (63)


investor.
5 Perusahaan yang menggunakan mata uang asing. (12)

Total Sampel 22

Sumber: Diolah

3.3 Variabel dan Definisi Operasional


3.3.1 Variabel Penelitian
Menurut Sugiyono (2017: 38), variabel adalah segala sesuatu yang
berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga
diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel Independen
Variabel independen yang digunakan dalam penilitian ini adalah profitabilitas,
leverage, kepemilikan institusional, ukuran perusahaan, dan kebijakan dividen.
2. Variabel Dependen
Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah manajemen laba.
41

3.3.2 Definisi Operasional

Berikut ini adalah definisi operasional variabel yang digunakan dalam penelitian
ini:
Tabel 3.2. Definisi Operasional

No. Variabel Definisi Pengukuran Skala


Manajemen laba adalah
suatu kondisi dimana
manajemen melakukan
Manajem intervensi dalam proses
en Laba penyusunan laporan DA = TA - NDA
it it it

1 (Earnings keuangan bagi pihak Rasio


Managem eksternal sehingga (Restie N., 2010)
ent) meratakan, menaikkan,
dan menurunkan
pelaporan laba.
(Restie N., 2010).
Profitabilitas adalah Laba setelah bunga dan
kemampuan perusahaan
Profitabili dalam mencari ROI = pajak Rasio
2 keuntungan. Total aset
tas
(Kasmir, 2016 dalam
(Alesia, 2017)
Alesia, 2017)
Leverage adalah hutang
yang digunakan oleh
perusahaan untuk =
Total hutang

3 Leverage membiayai asetnya Total Aset


Rasio
dalam rangka
(Alesia, 2017)
menjalankan aktivitas
operasionalnya.
(I Ketut, 2015)
Kepemilikan
institusional adalah
kepemilikan saham Jumlah Saham Institusional

perusahaan oleh institusi INST =

Kepemili-
keuangan seperti
Jumlah Saham Beredar

kan
4 Institusi- perusahaan asuransi, (Siregar dan Utama, 2005 Rasio
onal bank, dana pensiun, dan dalam Welvin dan Erleen,
investment banking. 2010)
(Siregar dan Utama,
2005 dalam Welvin dan
Erleen, 2010)
42

Ukuran perusahaan
adalah skala perusahaan
Ukuran Perusahaan =
Ukuran yang dapat
5 Perusahaa diklasifikasikan ke Total Aset

Rasio
n dalam besar kecilnya (Alesia, 2017)
suatu perusahaan.
(Alesia, 2017)
kebijakan dividen
adalah keputusan
apakah laba yang
diperoleh perusahaan
akan dibagikan kepada
pemegang saham DPR =
Laba per lembar saham

6 Kebijakan sebagai dividen atau Dividen per lembar saham


Rasio
Dividen akan ditahan dalam
(I Gusti, 2012)
bentuk laba ditahan
guna pembiayaan
investasi dimasa yang
akan datang.
(Sartono, 2001 dalam
Haneswan, 2017)
Sumber: Diolah

3.4 Jenis dan Sumber Data


3.4.1 Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data
sekunder merupakan data yang sumbernya diperoleh secara tidak langsung yang
dapat berupa bukti, catatan, atau laporan historis yang tersusun dalam arsip, baik
yang dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan (Kuntjojo, 2009 : 34).
Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan
(financial report).

3.4.2 Sumber Data

Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian ini adalah subyek dari
mana data dapat diperoleh (Arikunto, 2002). Sumber data yang digunakan dalam
43

penelitian ini diambil dalam periode pengamatan antara tahun 2013-2017 yang
diperoleh dari situs resmi:
1. Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id).
2. IDNFinancials (www.idnfinancials.com).
3. Situs resmi perusahaan yang menjadi sampel penelitian.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah teknik


dokumentasi dikarenakan data berupa data sekunder yang terdapat di laporan
keuangan. Teknik dokumentasi yaitu mencari data berupa catatan, transkrip, buku,
surat kabar, majalah, prasasti, notulen, rapat, legger, agenda, dan sebagainya.
(Arikunto, 2002).

3.6 Teknik dan Alat Analisis Data

Penelitian ini menggunakan uji statistik regresi linier berganda. Variabel X

langsung diuji pengaruhnya terhadap variabel Y dengan menggunakan program

IBM SPSS versi 25 untuk pengolahan data. Berikut adalah langkah-langkah

dalam penelitian:

1. Mengumpulkan data yang berkaitan dengan profitabilitas, leverage,


kepemilikan institusional, ukuran perusahaan, dan kebijakan dividen.
2. Menghitung masing-masing nilai variabel X untuk mendapatkan nilai β1,
β2, dan β3 yang di uji menggunakan alat yaitu IBM SPSS versi 25.
3. Menghitung nilai variabel Y (manajemen laba).
4. Kemudian, melakukan uji asumsi klasik. Penelitian ini akan memakai empat
jenis pengujian asumsi klasik yaitu uji normalitas, uji multikolinieritas, uji
autokorelasi, dan uji heteroskedastisitas.
44

5. Selanjutnya, dilakukan analisis deskriptif untuk mendapatkan gambaran


atau deskrpsi mengenai data.
6. Setelah dilakukan analisis deskriptif, selanjutnya adalah melakukan
pengujian hipotesis dengan analisis regresi linier berganda dan uji simultan
(uji-f).
7. Langkah terakhir adalah membuat kesimpulan, menentukan variabel-
variabel yang mempengaruhi variabel Y dan mengetahui seberapa besar
pengaruh variabel X dalam penelitian ini terhadap variabel Y.

3.6.1 Uji Asumsi Klasik

Tujuan dari uji asumsi klasik untuk memberikan kepastian bahwa


persamaan regresi yang didapatkan memiliki ketepatan dalam estimasi, tidak bias
dan konsisten yang artinya pengujian asumsi klasik ini bertujuan untuk
mengetahui dan menguji kelayakan atas model regresi yang digunakan dalam
penelitian ini.

Adapun pengujian asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah
uji normalitas, uji multikolinieritas, uji autokorelasi, dan uji heteroskedastisitas.

3.6.1.1 Uji Normalitas

Tujuan dari uji normalitas adalah untuk menguji apakah di dalam


model regresi variabel pengganggu atau residual mempunyai distribusi
normal. Uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti
distribusi normal (Ghozali, 2016:154). Pengujian normalitas data dilakukan
dengan menggunakan One Sample Kormogorov-Smirnov Test, dengan
melihat tingkat signifikansi 5%. Dasar pengambilan keputusan dari uji
normalitas adalah dengan melihat probabiltas asymp.sig (2-tailed) > 0.05
maka data mempunyai distribusi normal dan sebaliknya jika probabilitas
asymp.sig (2-tailed) < 0.05 maka data mempunyai distribusi yang tidak
normal
45

3.6.1.2 Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah pada model


regresi ditemukan adanya korelasi yang tinggi antar variabel bebas
(independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di
antara variabel independen (Ghozali, 2016:103). Untuk mendeteksi ada atau
tidaknya masalah multikolonieritas di dalam model regresi dapat dilihat dari
nilai VIF (Variance Inflation Factor). Jika VIF yang dihasilkan kurang dari
10 dan nilai tolerance diatas 0,10, maka tidak terjadi multikolonieritas
begitu pula sebaliknya.

3.6.1.3 Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah


model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu (error) pada
periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika
ada, berarti terdapat autokorelasi. Model regresi yang baik adalah regresi
yang bebas dari autokorelasi (Ghozali, 2016:107). Untuk mendeteksi ada
tidaknya autokorelasi dapat menggunakan uji Durbin Watson (DW test),
dimana hasil pengujian ditentukan berdasarkan nilai Durbin-Watson (DW).
Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi:
Hipotesis nol Keputusan Jika
Tidak ada autokorelasi positif Tolak 0 < d < dl
Tidak ada autokorelasi positif Tidak ada kesimpulan dl < d < dl
Tidak ada korelasi negatif Tolak 4 - dl < d < dl
Tidak ada korelasi negatif Tidak ada kesimpulan 4 - du < d < 4 - dl
Tidak ada autokorelasi positif atau Tidak ditolak du < d < 4 - du
negatif
46

3.6.1.4 Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model


regresi terjadi perbedaan variance dari residual satu periode pengamatan ke
periode pengamatan yang lain (Ghozali, 2016:137). Untuk mendeteksi ada
tidaknya gejala heteroskedastisitas pada suatu model dapat diuji dengan uji
Glejser. Uji Glejser dilakukan dengan cara meregresikan antara variabel
independen dengan nilai absolut residualnya. Jika nilai signifikansi antara
variabel independen dengan absolut residual lebih dari 0, 05 maka tidak
terjadi gejala heteroskedastisitas.

3.6.2 Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang


dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum,
sum, range, kurtosis, dan skewness (kemencengan distribusi) (Ghozali, 2016:19).
Statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui deskripsi profitabilitas, leverage,
kepemilikan institusional, ukuran perusahaan, kebijakan dividen dan manajemen
laba pada perusahaan manufaktur. Pengukuran yang digunakan dalam penelitian
ini adalah nilai minimum, nilai maximum, mean, dan modus.

3.6.3 Uji Hipotesis


Pengujian hipotesis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan model persamaan regresi linier berganda. Model ini digunakan
untuk menguji pengaruh dua atau lebih variabel independen terhadap variabel
dependen. Persamaan regresi berganda yang diinterpretasikan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
Y = a + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X5 +
e Keterangan:
Y = Manajemen Laba
47

a = Konstanta
β1, β2, β3 = Koefisien Regresi
X1 = Profitabilitas
X2 = Leverage
X3 = Kepemilikan Institusional
X4 = Ukuran Perusahaan
X5 = Kebijakan Dividen
e = Faktor Pengganggu

Pengujian hipotesis dilakukan melalui uji F.

3.6.3.1 Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)

Uji statistik F menunjukkan apakah semua variabel independen


atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara
bersama-sama terhadap variabel dependen atau terikat (Ghozali, 2016:96).

Menurut Ghozali (2016:99) kriteria pengujian dalam uji statistik F


dapat dilihat dari probabilitas, jika nilai Sig < 0,05 maka dapat dikatakan
bahwa variabel independen secara bersama-sama dan signifikan
mempengaruhi variabel dependen maka hal ini berarti variabel independen
mampu menjelaskan variabel dependen secara serentak (simultan).

3.6.3.2 Uji Signifikansi Parsial (Uji Statistik t)

Pengujian Uji statistik t menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu


variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan
variasi variabel dependen (Ghozali, 2016:97).

Menurut Ghozali (2016:99) patokan yang digunakan dapat dilihat


dari probabilitas signifikansi < 0,05 ini menyatakan bahwa suatu variabel
48

independen secara individual mempengaruhi variabel dependen begitu juga


sebaliknya. Uji t dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh
variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial.
49

DAFTAR PUSTAKA

Agusti, Restu., dan Tyas Pramesti. (2013). Pengaruh Asimetri Informasi, Ukuran
Perusahaan, Kepemilikan Manajerial Terhadap Manajemen Laba. Jurnal
Ekonomi Universitas Riau. 17 (1) : 8-9.
Agustia, Dian. (2013). Pengaruh Faktor Good Corporate Governance, Free Cash
Flow, dan Leverage Terhadap Manajemen Laba. Jurnal Akuntansi dan
Keuangan. 15 (1) : 39.
Amertha, Indra Satya Prasavita. (2013). Pengaruh Return On Asset Pada Praktik
Manajemen Laba Dengan Moderasi Corporate Governance. Jurnal
Akuntansi. 4 (2) : 384-385.
Arikunto, Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta. PT. Rineka Cipta.
Astuti, Pipit Widhi. (2017). Pengaruh Profitabilitas, Ukuran Perusahaan,
Leverage, dan Kualitas Audit Terhadap Manajemen Laba (Studi Empiris
Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
Periode 2012-2013. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Dahayani, Ni Ketut Sri., I Ketut Budiartha., dan Sadha Suardikha. (2017).
Pengaruh Kebijakan Dividen Pada Manajemen Laba Dengan Good
Corporate Governance Sebagai Moderasi. Jurnal Ekonomi dan Bisnis. 6 (4)
: 1.420 – 1.421.
Fahrunisyah, Tria Inggrid., Kardinal SE., M.Si., dan Rini Aprilia, M.Sc. (2013).
Analisis Pengaruh Kebijakan Dividen dan Ukuran Perusahaan Terhadap
Manajemen Laba. Jurnal Akuntansi dan Keuangan. 3 (2) : 9-10.
Ghozali, Imam. (2016). Aplikasi Analisis Multivariete dengan Program IBM SPSS
23. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Guna, Welvin I., dan Erleen Herawaty. (2010). Pengaruh Mekanisme Good
Corporate Governance, Independensi Auditor, Kualitas Audit, dan Faktor
Lainnya Terhadap Manajemen Laba. Jurnal Bisnis dan Akuntansi. 12 (1) :
60.
Gunawan, I Ketut ., Nyoman Ari Surya Darmawan., dan I Gusti Ayu
Purnamawati. (2015). Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, dan
Leverage Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI). e-Jurnal S1 Ak. Universitas
Pendidikan Ganesha. 3 (01).
50

Handayani, RR. Sri., dan Agustono Dwi Rachadi. (2009). Pengaruh Ukuran
Perusahaan Terhadap Manajemen Laba. Jurnal Bisnis dan Akuntansi. 11
(1) : 37.
Hartono, Jogiyanto. (2014). Metodologi Penelitian Bisnis (Salah Kaprah dan
Pengalaman-pengalaman). Yogyakarta: BPFE.

Hasanah, Marsidatul. (2013). Pengaruh Ukuran Perusahaan, Financial Leverage


dan Kebijakan Dividen Terhadap Praktik Perataan Laba (Studi Empiris
pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia).
Skripsi. Universitas Negeri Padang.
Hasty, Ayu Dwi., dan Vinola Herawaty. (2017). Pengaruh Struktur Kepemilikan,
Leverage, Profitabilitas dan Kebijakan Dividen Terhadap Manajemen Laba
dengan Kualitas Audit Sebagai Variabel Moderasi. Jurnal Media Riset
Akuntansi, Auditing, dan Informasi. 17 (1) : 13-14.
Hermanto, Wawan. (2015). Pengaruh Kepemilikan Institusional, Ukuran
Perusahaan, Leverge Terhadap Manajemen Laba (Studi Empiris pada
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2010-2013). Skripsi.
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Kodriyah. (2015). Pengaruh Kepemilikan Institusional, Ukuran Perusahaan,
Leverage dan Good Corporate Governance terhadap Manajemen Laba
(Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI 2009-
2012). Jurnal Akuntansi. 2 (1) : 69.
Kustono, Alwan Sri. (2009). Pengaruh Ukuran, Devidend Payout, Risiko Spesifik,
dan Pertumbuhan Perusahaan terhadap Praktik Perataan Laba pada
Perusahaan Manufaktur Studi Empiris Bursa Efek Jakarta 2002–2006.
Jurnal Ekonomi Bisnis. 14 (3) : 204-205.
Kusumawardhani, Indra. (2012). Pengaruh Corporate Governance, Struktur
Kepemilikan, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba. Jurnal
Akuntansi dan Sistem Teknologi Informasi. 9 (1) : 53.
Lestari, Kurnia Cahya., dan S. Oky Wulandari. (2019). Pengaruh Profitabilitas
Terhadap Manajemen Laba (studi kasus pada bank yang terdaftar di BEI
Tahun 2016-2018). Jurnal Akademi Akuntansi. 2 (1) : 34.
Lisa, Oyong. (2012). Asimetri Informasi dan Manajemen Laba: Suatu Tinjauan
dalam Hubungan Keagenan. Fakultas Ekonomi STIE Widyagama
Lumajang. Journal Siasat Bisnis.
Ningsaptiti, Restie. (2010). Analisis Pengaruh Ukuran Perusahaan dan
Mekanisme Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba. Skripsi.
Universitas Diponegoro.
51

Prasetya, Harris., dan Shiddiq Nur Rahardjo. (2013). Pengaruh Ukuran


Perusahaan, Profitabilitas, Financial Leverage, Klasifikasi KAP dan
Likuiditas Terhadap Praktik Perataan Laba. Jurnal Akuntansi. 2 (4) : 5-6.
Priyatno, Duwi. (2014). SPSS 22 Pengolah data Terpraktis. Yogyakarta: ANDI.

Pujiningsih, Andiany Indra. (2011). Pengaruh Struktur Kepemilikan Manajemen,


Ukuran Perusahaan, Praktik Corporate Governance dan Kompensasi
Bonus Terhadap Manajemen Laba (Studi Empiris pada Perusahaan
Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2007-2009).
Skripsi Universitas Diponegoro. Semarang.
Putri, I Gusti Ayu Made Asri Dwija. (2012). Pengaruh Kebijakan Dividen dan
Good Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba. Jurnal Studi
Ekonomi. 17 (2) : 163.
Selviani, Alesia Heni. (2017). Pengaruh Profitabilitas, Leverage, dan Ukuran
Perusahaan Terhadap Manajemen Laba (Studi Empiris Pada Perusahaan
Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014-2016.
Skripsi. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Sosiawan, Santhi Yuliana. (2012). Pengaruh Kompensasi, Leverage, Ukuran
Perusahaan, Earnings Power Terhadap Manajemen Laba. jurnal Akuntansi.
8 (1) : 88.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sujarweni, Wiratna V. (2015). SPSS untuk Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Baru
Press.

Sulistiawan, Dedhy., Yeni Januarsi, dan Liza Alvia. (2011). Creative Accounting :
Mengungkap Manajemen Laba dan Skandal Akuntansi. Jakarta : Salemba
Empat.
Sulistiyawati. (2013). Pengaruh Nilai Perusahaan, Kebijakan Dividen, dan
Reputasi Auditor Terhadap Perataan Laba. Jurnal Akuntansi. 2 (2) : 152.
Tarjo. (2008). Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan Institusional dan Leverage
Terhadap Manajemen Laba, Nilai Pemegang Saham serta Cost of Equity
Capital. Simposium Nasional Akuntansi XI. Pontianak.
Utami, Niken. (2016). Pengaruh Leverage, Kepemilikan Institusional dan
Kepemilikan Manajerial Terhadap Manajemen Laba (Studi Empiris di
Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode
Tahun 2009-2012). Skripsi. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
52

Utari, Ni Putu Linda Ayu., dan Maria M. Ratna Sari. (2016). Pengaruh Asimetri
Informasi, Leverage, Kepemilikan Manajerial dan Kepemilikan
Institusional pada Manajemen Laba. Jurnal Akuntansi. 15 (3) : 1.909-1.910.
www.idnfinancials.com
www.idx.co.id
www.unilever.co.id
53

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Daftar Perusahaan Manufaktur yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia dari Tahun

2013-2017

No Kode Emiten Nama Perusahaan


1 INTP Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. [S]
2 SMBR Semen Baturaja (Persero) Tbk. [S]
3 SMCB Holcim Indonesia Tbk.
4 SMGR Semen Indonesia (Persero) Tbk. [S]
5 WSBP WSBP Waskita Beton Precast Tbk. [S]
6 WTON WTON Wijaya Karya Beton Tbk. [S]
7 AMFG Asahimas Flat Glass Tbk. [S]
8 ARNA Arwana Citramulia Tbk. [S]
9 IKAI Intikeramik Alamasri Industri Tbk.
10 KIAS Keramika Indonesia Assosiasi Tbk. [S
11 MARK Mark Dynamics Indonesia Tbk. [S
12 MLIA Mulia Industrindo Tbk
13 TOTO Surya Toto Indonesia Tbk. [S]
14 ALKA Alakasa Industrindo Tbk. [S]
15 ALMI Alumindo Light Metal Industry Tbk.
16 BAJA Saranacentral Bajatama Tbk.
17 BTON Betonjaya Manunggal Tbk. [S]
18 CTBN Citra Tubindo Tbk. [S]
19 GDST Gunawan Dianjaya Steel Tbk. [S]
20 INAI Indal Aluminium Industry Tbk. [S]
21 ISSP Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk.
22 JKSW Jakarta Kyoei Steel Works Tbk. [S]
23 JPRS Jaya Pari Steel Tbk. [S]
24 KRAS Krakatau Steel (Persero) Tbk.
54

25 LION Lion Metal Works Tbk. [S]


26 LMSH Lionmesh Prima Tbk. [S]
27 NIKL Pelat Timah Nusantara Tbk. [S]
28 PICO Pelangi Indah Canindo Tbk. [S]
29 TBMS Tembaga Mulia Semanan Tbk. [S]
30 ADMG Polychem Indonesia Tbk. [S]
31 AGII Aneka Gas Industri Tbk. [S]
32 BRPT Barito Pacific Tbk. [S]
33 DPNS Duta Pertiwi Nusantara Tbk. [S]
34 EKAD Ekadharma International Tbk. [S]
35 ETWA Eterindo Wahanatama Tbk.
36 INCI Intanwijaya Internasional Tbk. [S]
37 MDKI Emdeki Utama Tbk. [S]
38 SRSN Indo Acidatama Tbk. [S]
39 TPIA Chandra Asri Petrochemical Tbk. [S]
40 UNIC Unggul Indah Cahaya Tbk. [S]
41 AKPI Argha Karya Prima Industry Tbk. [S]
42 APLI Asiaplast Industries Tbk. [S]
43 BRNA Berlina Tbk. [S]
44 FPNI Lotte Chemical Titan Tbk. [S]
45 IGAR Champion Pacific Indonesia Tbk. [S]
46 IMPC Impack Pratama Industri Tbk. [S]
47 IPOL Indopoly Swakarsa Industry Tbk. [S]
48 PBID Panca Budi Idaman Tbk. [S]
49 TALF Tunas Alfin Tbk.
50 TRST Trias Sentosa Tbk. [S]
51 YPAS Yanaprima Hastapersada Tbk.
52 CPIN Charoen Pokphand Indonesia Tbk. [S
53 CPRO Central Proteina Prima Tbk.
54 JPFA Japfa Comfeed Indonesia Tbk. [S]
55

55 MAIN Malindo Feedmill Tbk. [S]


56 SIPD Sierad Produce Tbk. [S]
57 SULI SLJ Global Tbk.
58 TIRT Tirta Mahakam Resources Tbk
59 ALDO Alkindo Naratama Tbk [S]
60 DAJK Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk.
61 FASW Fajar Surya Wisesa Tbk.
62 INKP Indah Kiat Pulp & Paper Tbk.
63 INRU Toba Pulp Lestari Tbk. [S]
64 KBRI Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk
65 KDSI Kedawung Setia Industrial Tbk. [S]
66 SPMA Suparma Tbk. [S]
67 TKIM Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk.
68 INCF Indo Komoditi Korpora Tbk.
69 KMTR KMTR Kirana Megatara Tbk.
70 AMIN Ateliers Mecaniques D'Indonesie Tbk. [S
71 GMFI Garuda Maintenance Facility Aero
Asia Tbk. [S]
72 KRAH Grand Kartech Tbk.
73 ASII Astra International Tbk. [S]
74 AUTO Astra Otoparts Tbk. [S]
75 BOLT Garuda Metalindo Tbk. [S]
76 BRAM Indo Kordsa Tbk. [S]
77 GDYR Goodyear Indonesia Tbk. [S]
78 GJTL Gajah Tunggal Tbk. [S]
79 IMAS Indomobil Sukses Internasional Tbk.
80 INDS Indospring Tbk. [S]
81 LPIN Multi Prima Sejahtera Tbk.
82 MASA Multistrada Arah Sarana Tbk. [S]
83 NIPS Nipress Tbk. [S]
84 PRAS Prima Alloy Steel Universal Tbk. [S]
56

85 SMSM Selamat Sempurna Tbk. [S]


86 ARGO Argo Pantes Tbk.
87 BELL Trisula Textile Industries Tbk. [S]
88 CNTB Century Textile Industry (Seri B) Tbk.
89 CNTX Century Textile Industry (PS) Tbk
90 ERTX Eratex Djaja Tbk.
91 ESTI Ever Shine Textile Industry Tbk. [S]
92 HDTX Panasia Indo Resources Tbk.
93 INDR Indo-Rama Synthetics Tbk. [S]
94 MYTX Asia Pacific Investama Tbk.
95 PBRX Pan Brothers Tbk.
96 POLY Asia Pacific Fibers Tbk.
97 RICY Ricky Putra Globalindo Tbk. [S]
98 SRIL Sri Rejeki Isman Tbk.
99 SSTM Sunson Textile Manufacturer Tbk. [S]
100 STAR Star Petrochem Tbk. [S]
101 TFCO Tifico Fiber Indonesia Tbk. [S]
102 TRIS Trisula International Tbk. [S]
103 UNIT Nusantara Inti Corpora Tbk. [S]
104 BATA Sepatu Bata Tbk. [S]
105 BIMA Primarindo Asia Infrastructure Tbk.
106 IKBI Sumi Indo Kabel Tbk. [S]
107 JECC Jembo Cable Company Tbk. [S]
108 KBLI KMI Wire and Cable Tbk. [S]
109 KBLM Kabelindo Murni Tbk. [S]
110 SCCO Supreme Cable Manufacturing &
Commerce Tbk. [S]
111 VOKS Voksel Electric Tbk. [S]
112 PTSN Sat Nusapersada Tbk. [S]
113 AISA Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. [S]
57

114 ALTO Tri Banyan Tirta Tbk.


115 BTEK Bumi Teknokultura Unggul Tbk. [S]
116 BUDI Budi Starch & Sweetener Tbk. [S]
117 CEKA Wilmar Cahaya Indonesia Tbk. [S]
118 CAMP Campina Ice Cream Industry Tbk. [S]
119 CLEO Sariguna Primatirta Tbk. [S]
120 DLTA Delta Djakarta Tbk.
121 HOKI Buyung Poetra Sembada Tbk. [S]
122 ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.
[S]
123 IIKP Inti Agri Resources Tbk. [S]
124 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk. [S]
125 MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk.
126 MYOR Mayora Indah Tbk. [S]
127 PCAR Prima Cakrawala Abadi Tbk. [S]
128 PSDN Prasidha Aneka Niaga Tbk. [S]
129 ROTI Nippon Indosari Corpindo Tbk. [S]
130 SKBM Sekar Bumi Tbk. [S]
131 SKLT Sekar Laut Tbk. [S]
132 STTP Siantar Top Tbk. [S]
133 ULTJ Ultrajaya Milk Industry & Trading Co.
Tbk. [S]
134 GGRM Gudang Garam Tbk.
135 HMSP HM Sampoerna Tbk.
136 RMBA Bentoel Internasional Investama Tbk
137 WIIM Wismilak Inti Makmur Tbk.
138 DVLA Darya-Varia Laboratoria Tbk. [S]
139 INAF Indofarma (Persero) Tbk. [S]
140 KAEF Kimia Farma (Persero) Tbk. [S]
141 KLBF Kalbe Farma Tbk. [S]
142 MERK Merck Tbk. [S]
58

143 PYFA Pyridam Farma Tbk. [S]


144 SCPI Merck Sharp Dohme Pharma Tbk.
145 SIDO Industri Jamu dan Farmasi Sido
Muncul Tbk. [S]
146 SQBB Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk.
[S]
147 SQBI Taisho Pharmaceutical Indonesia (PS)
Tbk
148 TSPC Tempo Scan Pacific Tbk. [S]
149 ADES Akasha Wira International Tbk. [S]
150 KINO Kino Indonesia Tbk. [S]
151 MBTO Martina Berto Tbk. [S]
152 MRAT Mustika Ratu Tbk. [S]
153 TCID Mandom Indonesia Tbk. [S]
154 UNVR Unilever Indonesia Tbk. [S]
155 KICI Kedaung Indah Can Tbk. [S]
156 LMPI Langgeng Makmur Industri Tbk. [S]
157 WOOD Integra Indocabinet Tbk [S]
158 CINT Chitose Internasional Tbk. [S]
159 HRTA Hartadinata Abadi Tbk. [S]

Lampiran 2 Daftar Sampel Perusahaan Manufaktur dari Tahun 2013-2017

No Kode Emiten Nama Perusahaan

1 BATA Sepatu Bata Tbk. [S]


2 JECC Jembo Cable Company Tbk. [S]
3 KBLI KMI Wire and Cable Tbk. [S]
4 KBLM Kabelindo Murni Tbk. [S]
5 Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk.
SCCO [S]
6 ASII Astra International Tbk. [S]
59

7 HMSP HM Sampoerna Tbk.


8 WIIM Wismilak Inti Makmur Tbk.
9 TSPC Tempo Scan Pacific Tbk. [S]
10 UNVR Unilever Indonesia Tbk. [S]
11 DLTA Delta Djakarta Tbk.
12 ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. [S]
13 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk. [S]
14 MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk.
15 ARNA Arwana Citramulia Tbk. [S]
16 AMFG Asahimas Flat Glass Tbk. [S]
17 TOTO Surya Toto Indonesia Tbk. [S]
18 EKAD Ekadharma International Tbk. [S]
19 INAI Indal Aluminium Industry Tbk. [S]
20 SMGR Semen Indonesia (Persero) Tbk. [S]
21 KLBF Kalbe Farma Tbk. [S]
22 INTP Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. [S]