Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”),secara


etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus,
dan perkataan ini bersumber pada kata communis. Dalam kata communis ini
memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang
memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna (Effendy, 1994:3).

komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang
atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga
diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat
karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat.

Dalam melakukan komunikasi kelompok diperlukan pemimpin dimana


definisi tentang kepemimpinan bervariasi sebanyak orang yang mencoba
mendefinisikan konsep kepemimpinan. Definisi kepemimpinan secara luas

1
meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi
perilaku untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok
dan budaya.

Hasibuan (2007:170) menyatakan gaya kepemimpinan adalah suatu cara


pemimpin untuk mempengaruhi bawahannya, agar mereka mau bekerja sama dan
bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana gaya komunikasi kepemimpinan dalam suatu kelompok?

2. Apa saja karakteristik kelompok?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui gaya komunikasi kepemimpinan dalam suatu


kelompok.

2. Untuk mengetahui macam dari karakteristik kelompok.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Gaya Komunikasi Kepemimpinan Dalam Suatu Kelompok

Menurut Thoha (2007:42) teori Path Goal berusaha untuk menjelaskan


pengaruh perilaku pemimpin terhadap motivasi, kepuasan, dan pelaksanaan
pekerjaan bawahan/kelompok/pengikutnya. Teori Path Goal membagi empat
gaya kepemimpinan yaitu :

2
1. Kepemimpinan direktif

Tipe ini sama dengan model kepemimpinan otokratis bahwa bawahan


tahu dengan pasti apa yang diharapkan darinya dan pengarahan yang
khusus diberikan oleh pemimpin. Dalam model ini tidak ada partisipasi
dari bawahannya.

2. Kepemimpinan supportif

Kepemimpinan model ini mempunyai kesediaan untuk menjelaskan


sendiri, bersahabay, mudah didekati, dan mempunyai perhatian
kemanusiaan yang murni terhadap para bawahannya.

3. Kepemimpinan partisipatif

Pada gaya kepemimpinan ini pemimpin berusaha meminta dan


menggunakan saran-saran dari para bawahannya. Namun pengambilan
keputusan masih tetap berda padanya.

4. Kepemimpinan berorientasi pada prestasi

Gaya kepemimpinan ini menetapkan serangkaian tujuan yang


menantang bawahannya untuk berpartisipasi. Pemimpin juga
memberikan keyakinan kepada mereka bahwa mereka mampu
melaksanakan tugas pekerjaan mencapai tujuan secara baik (Thoha,
2007:42).

Salah satu pendekatan yang dikenal dalam menjalankan gaya kepemimpinan


adalah empat sistem manajemen yang dikembangkan oleh Rensis Likert. Rensis
Likert mengadakan studi pola dan gaya pemimpin mendukung manajemen
partisipatif.

Likert memandang manajer yang efektif sangat berorientasi pada


bawahannya yang bergantung pada komunikasi untuk tetap menjaga agar semua
orang bekerja sebagai suatu unit.

3
Likert berasumsi adanya 4 (empat) sistem manajemen yang dikutip dari
Robbins (2000:5) yaitu :

1. Exsploitive autoritative

Manajer-manajer ini sangat otokratis, kurang percaya pada bawahan,


komunikasi satu arah ke bawah, memotivasi orang-orang melalui rasa takut
dan jarang memberi ganjaran, membatasi pengambilan keputusan pada
tingkat teras, dan memperlihatkan karakteristik yang sama.

2. Benevolent autoritative

Manajemen seperti ini sedikit yakin dan percaya kepada bawahan,


memotivasi dengan ganjaran serta rasa takut dan hukuman tertentu,
memperkenalkan sedikit komunikasi ke 7 atas, sedikit mendorong timbulnya
ide dan pendapat dari bawahan, dan memperkenalkan pendelegasian
pengambilan keputusan dalam hal-hal tertentu tetapi dengan pengendalian
kebijaksanaan yang tepat.

3. Consultative

Manajer-manajer seperti ini memiliki rasa yakin dan percaya secukupnya


kepada bawahan, biasanya menggunakan ide-ide dan pendapat para bawahan
secara konstruktif, menggunakan ganjaran untuk memotivasi dan
sekali-sekali menggunakan hukuman serta keikutsertaan tertentu,
berkomunikasi dua arah, keputusan-keputusan khusus dilimpahkan ke tingkat
bawah, serta bertindak konsultatif dengan cara-cara lain.

4. Partisipative

Manajer-manajer seperti ini memiliki rasa yakin dan percaya pada


bawahan dalam segala hal, berusaha memperoleh ide-ide dan pendapat dari
bawahan dan menggunakannya secara konstruktif, memberikan ganjaran
ekonomi atas dasar keikut sertaan dan keterlibatan kelompok dalam
bidang-bidang seperti penyusunan tujuan, berkomunikasi dua arah dengan
rekan sekerja, mendorong adanya pengambilan keputusan pada semua tingkat

4
organisasi dan melaksanakan tugas bersama rekan sejawat dan bawahannya
sebagai kelompok.

Gaya Kepemimpinan yang Efektif

Menurut Habsari (2008:12) kepemimpinan yang efektif memiliki ciri-ciri sebagai


berikut:

a. Memperhitungkan minat sampai hasil akhir.


Memahami bahwa hasil adalah selalu penilaian terakhir

b. Memiliki semangat menyelesaikan masalah

c. Lebih demokratis dari pada autority

d. Memberikan kesempatan untuk mencapai potensi setiap orang


Memiliki Etika dan moral yang tinggi

e. Mengambil tanggung jawab terhadap hasil tim.

Gaya kepemimpinan yang sebaiknya dijalankan oleh seorang pemimpin


terhadap organisasinya sangat tergantung pada kondisi anggota organisasi itu
sendiri. Pada dasarnya tiap gaya kepemimpinan hanya cocok untuk kondisi
tertentu saja. Dengan mengetahui kondisi nyata anggota, seorang pemimpin dapat
memilih model kepemimpinan yang tepat. Tidak menutup kemungkinan seorang
pemimpin menerapkan gaya yang berbeda untuk divisi atau seksi yang berbeda.

White dan Lippit (Harbani, 2008:46), mengemukakan tiga (3) gaya


kepemimpinan, yaitu :

1. Kepemimpinan Otokratis

Dalam tipe kepemimpinan ini, pemimpin menentukan sendiri"policy" dan


dalam rencana untuk kelompoknya, membuat keputusankeputusan sendiri, namun
mendapatkan tanggung jawab penuh. Bawahan harus patuh dan mengikuti
perintahnya, jadi pemimpin tersebut menentukan atau mendiktekan aktivitas dari
anggotanya. Pemimpin otokratis biasanya merasa bahwa mereka mengetahui apa

5
yang mereka inginkan dan cenderung mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan
tersebutdalam bentuk perintah-perintah langsung kepada bawahan.

Dalamkepemimpinan otokrasi terjadi adanya keketatan dalam pengawasan,


sehingga sukar bagi bawahan dalam memuaskan kebutuhan egoistisnya.

Kebaikan dari gaya kepemimpinan ini adalah :

a. Keputusan dapat diambil secara tepat.

b. Tipe ini baik digunakan pada bawahan yang kurang disiplin,kurang


inisiatif, bergantung pada atasan kerja, dan kurangkecakapan.

c. Pemusatan kekuasaan, tanggung jawab serta membuat keputusan terletak


pada satu orang yaitu pemimpin.

Kelemahannya adalah :

a. Dengan tidak diikutsertakannya bawahan dalam mengambilkeputusan


atau tindakan maka bawahan tersebut tidak dapat belajar mengenai hal
tersebut.

b. Kurang mendorong inisiatif bawahan dan dapat mematikan inisiatif


bawahannya tersebut.

c. Dapat menimbulkan rasa tidak puas dan tertekan.

d. Bawahan kurang mampu menerima tanggung jawab dan tergantung pada


atasan saja.

2. Kepemimpinan Demokrasi (Demokratis)

Dalam gaya ini pemimpin sering mengadakan konsultasi denganmengikuti


bawahannya dan aktif dalam menentukan rencana kerja yangberhubungan dengan
kelompok. Disini pemimpin seperti moderator atau koordinator dan tidak
memegang peranan seperti pada kepemimpinan otoriter. Partisipan digunakan

6
dan kondisi yang tepat, akan menjadikan hal yang efektif. Pemimpin demokratis,
seringmendorong bawahan untuk ikut ambil bagian dalam hal tujuan-tujuan dan

metode-metode serta menyokong ide-ide dan saran-saran. Disinipemimpin


mencoba mengutamakan "human relation" (hubungan antarmanusia) yang baik
dan mengerjakan secara lancar.

Kebaikan dari gaya kepemimpinan ini adalah :

a. Memberikan kebebasan lebih besar kepada kelompok untuk mengadakan


kontrol terhadap supervisor.

b. Merasa lebih bertanggungjawab dalam menjalankan pekerjaan.

c. Produktivitas lebih tinggi dari apa yang diinginkan manajemen dengan


catatan bila situasi memungkinkan.

d. Ada kesempatan untuk mengisi kebutuhan egoistisnya.

e. Lebih matang dan bertanggungjawab terhadap status dan pangkat yang


lebih tinggi.

Kelemahannya adalah :

a. Harus banyak membutuhkan koordinasi dan komunikasi.

b. Membutuhkan waktu yang relatif lama dalam mengambil keputusan.

c. Memberikan persyaratan tingkat "skilled" (kepandaian) yang relative


tinggi bagi pimpinan.

d. Diperlukan adanya toleransi yang besar pada kedua belah pihak karena
jika tidak dapat menimbulkan perselisih pahaman.

3. Gaya Kepemimpinan Laissez Faire

Yaitu gaya kepemimpinan kendali bebas. Pendekatan ini bukan berarti tidak
adanya sama sekali pimpinan. Gaya ini berasumsi bahwa suatu tugas disajikan
kepada kelompok yang biasanya menentukan teknik-teknik mereka sendiri guna

7
mencapai tujuan tersebut dalam rangka mencapai sasaran-sasaran dan kebijakan
organisasi.

Kepemimpinan pada tipe ini melaksanakan perannya atas dasar aktivitas


kelompok dan pimpinan kurang mengadakan pengontrolan terhadap bawahannya.
Pada tipe ini pemimpin akan meletakkan tanggung jawab keputusan sepenuhnya
kepada para bawahannya, pemimpin akan sedikit saja atau hampir tidak sama
sekali memberikan pengarahan. Pemimpin pada gaya ini sifatnya pasif dan
seolah-olah tidak mampu memberikan pengaruhnya kepada bawahannya.

8
B. Karakteristik Kelompok

Anggota-anggota kelompok bekerja sama untuk mencapai dua tujuan:


melaksanakan tugas kelompok, dan memelihara moral anggota-anggotanya.
Tujuan pertama diukur dari hasil kerja kelompokdisebut prestasi (performance)
tujuan kedua diketahui dari tingkat kepuasan (satisfacation).

Jadi, bila kelompok dimaksudkan untuk saling berbagi informasi (misalnya


kelompok belajar), maka keefektifannya dapat dilihat dari beberapa banyak
informasi yang diperoleh anggota kelompok dan sejauh mana anggota dapat
memuaskan kebutuhannya dalam kegiatan kelompok.

Jalaluddin Rakhmat (2001:160), meyakini bahwa faktor-faktor keefektifan


kelompok dapat dilacak pada karakteristik kelompok, yaitu:

1. Faktor situasional karakteristik kelompok:

a. Ukuran kelompok.

Hubungan antara ukuran kelompok dengan prestasi kerja kelompok


bergantung pada jenis tugas yang harus diselesaikan oleh kelompok.

b. Kohesi kelompok

Kohesi kelompok didefinisikan sebagai kekuatan yang mendorong


anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok, dan
mencegahnya meninggalkan kelompok. McDavid dan Harari (dalam
Jalaluddin Rakmat, 2001:164) menyarankan bahwa kohesi diukur dari
beberapa faktor sebagai berikut: ketertarikan anggota secara
interpersonal pada satu sama lain; ketertarikan anggota pada kegiatan dan
fungsi kelompok; sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai
alat untuk memuaskan kebutuhan personal.

c. Kepemimpinan

9
Kepemimpinan adalah komunikasi yang secara positif mempengaruhi
kelompok untuk bergerak ke arah tujuan kelompok. Kepemimpinan
adalah faktor yang paling menentukan kefektifan komunikasi kelompok

2. Faktor personal karakteristik kelompok:

a. Kebutuhan interpersonal

William C. Schultz 1966 (dalam Rakhmat Jalaludin, 2001:167)


merumuskan Teori FIRO (Fundamental Interpersonal Relations
Orientatation), menurutnya orang menjadi anggota kelompok karena
didorong oleh tiga kebutuhan intepersonal sebagai berikut: ingin masuk
menjadi bagian kelompok (inclusion), ingin mengendalikan orang lain
dalam tatanan hierakis (control), ingin memperoleh keakraban emosional
dari anggota kelompok yang lain.

b. Tindak komunikasi

Setiap anggota berusaha menyampaikan atau menerima informasi (secara


verbal maupun nonverbal). Robert Bales 1950 (dalam Rakhmat Jalaludin,
2001:174) mengembangkan sistem kategori untuk menganalisis tindak
komunikasi, yang kemudian dikenal sebagai Interaction Process Analysis
(IPA).

c. Peranan

Seperti tindak komunikasi, peranan yang dimainkan oleh anggota


kelompok dapat membantu penyelesaian tugas kelompok, memelihara
suasana emosional yang lebih baik, atau hanya menampilkan
kepentingan individu saja (yang tidak jarang menghambat kemajuan
kelompok).

10
11
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Komunikasi didefinisikan sebagai proses penyampaian pesan dari


komunikan dengan komunikator. Seorang pemimpin organisasi harus memiliki
gaya komunikasi kepemimpinan yang tepat agar bisa membawa organisasinya
mencapai tujuannya. Adapun beberapa teori atau pendapat para ahli tentang gaya
kepemimpinan diantara lain Teori Path Goal membagi empat gaya kepemimpinan
yaitu direktif, supportif, partisipasif, dan berorientasi pada prestasi. Sedangkan
White dan Lippit (Harbani, 2008:46), mengemukakan tiga gaya kepemimpinan,
yaitu otokratis, demokratis, dan Laissez Faire.

Keefektifan kelompok dapat dilihat dari karakteristik kelompok menurut


Jalaluddin Rakhmat (2001:160) diantara lain faktor situasional karakteristik
kelompok (ukuran kelompok, kohesi, dan kelompok . kepemimpinan) dan faktor
personal karakteristik kelompok (kebutuhan interpersonal tindak komunikasi,
peranan)

B. Saran

Kita sebagai mahasiwa kebidanan sangat penting untuk mempelajari dan


memahami tentang komunikasi karena kita sebagai tenaga kesehatan karena di
masa yang akan datang kita pasti lebih sering berinteraksi dengan banyak orang
dan tentunya diperlukan kemampuan berkomunikasi dengan baik. Dan dengan
makalah ini diharapkan dapat dilaksanakan atau dilakukan dikehidupan
sehari-hari.

12
DAFTAR PUSTAKA

Gracia Febrina lumentut. 2017. Pola komunikasi pemimpin organisasi. e-journal


“Acta Diurna” Volume VI. No. 1. Tahun 2017. Diakses pada tanggal 6
februari 2020 pukul 21.34 melalui

https://media.neliti.com/media/publications/94818-ID-pola-komunikasi-pemi
mpin-organisasi-dala.pdf

Nia Ambarwati.2017.Gaya Kepemimpinan Yang Efektif. Diakses pada tanggal 6


februari 2020 pukul 21:36 melalaui

http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-akuntansi/article/viewFil
e/13650/12520

Mia Rafi Irma. 2016 .Perilaku Komunikasi Komunitas. JOM Fisip, Vol.3 No.2
(Oktober) 2016. Diakses pada tanggal 6 februari 2020 pukul 22:54 melalui

https://media.neliti.com/media/publications/206050-perilaku-komunikasi-ko
munitas-shinwa-cos.pdf

13