Anda di halaman 1dari 42

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA ANAK STUNTING

DISUSUN OLEH :

 IDWAN NURYANTO 1811020376


 SITI ROHAMAH 1811020349
 DINA UJIANA 1811020324
 UJIARTI 1811020342

PROGARAM STUDI KEPERAWATAN S1

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena
berkat limpahan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Stunting” dengan tepat
waktu.
Tidak lupa penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, yaitu :
Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, baik dari segi
materi maupun penyajiannya. Untuk itu saran dan kritik yang
membangun sangat diharapkan dalam penyempurnaannya dan semoga
paper ini dapat memberikan tambahan wawasan bagi kita semua
khususnya teman-teman mahasiswa serta bisa menjadi bahan referensi
untuk pembelajaran kita bersama.
Banyumas, 16 April 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang.....................................................................1
b Rumusan Masalah........................... .............................2
c. Tujuan Penulisan .........................................................3
d Manfaat penulisan........................................................4
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA STUNTING
a.Konsep dasar Stunting
1 Gejala Stunting ..........................................................4
2 Klasifikasi Stunting ...................................................5
3 Penyebab Stunting.......................................................6
4 Pencegahan terhadap Stunting ...................................17
5 .Penanggulangan Stunting ............................................19
b .Pathway stunting..............................................................21
BAB 3.Asuhan Keperawatan Teoritis Stunting
a.Pengkajian keperawatan....................................................22
b.Diagnosa............................................................................22
c.Intervensi.............................................................................22
d.Implementasi.....................................................................23
BAB 4 Penutup
a. Kesimpulan.’’..................................................................25..
b .Saran.................................................................................
Daftar Referensi
BAB 1. PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Perkembangan masalah gizi di Indonesia dapat dikelompokkan
menjadi 3, yaitu: Masalah gizi yang secara public health sudah
terkendali; Masalah yang belum dapat diselesaikan (un-finished); dan
Masalah gizi yang sudah meningkat dan mengancam kesehatan
masyarakat (emerging). Masalah gizi lain yang juga mulai
teridentifikasi dan perlu diperhatikan adalah defisiensi vitamin D.
Masalah gizi yang sudah dapat dikendalikan meliputi kekurangan
Vitamin A pada anak Balita, Gangguan Akibat Kurang Iodium dan
Anemia Gizi pada anak 2-5 tahun. Penanggulangan masalah Kurang
Vitamin A (KVA) pada anak Balita sudah dilaksanakan secara intensif
sejak tahun 1970-an, melalui distribusi kapsul vitamin A setiap 6
bulan, dan peningkatan promosi konsumsi makanan sumber vitamin
A. Dua survei pada tahun 2007 dan 2011 menunjukkan, secara
nasional proporsi anak dengan serum retinol kurang dari 20 ug sudah
di bawah batas masalah kesehatan masyarakat, artinya masalah kurang
vitamin A secara nasional tidak menjadi masalah kesehatan
masyarakat.
Penanggulangan GAKI dilakukan sejak tahun 1994 dengan
mewajibkan semua garam yang beredar harus mengandung iodium
sekurangnya 30 ppm. Data status Iodium pada anak sekolah sebagai
indikator gangguan akibat kurang Iodium selama 10 tahun terakhir
menunjukkan hasil yang konsisten. Median Ekskresi Iodium dalam
Urin (EIU) dari tiga survai terakhir berkisar antara 200-230 g/L, dan
proporsi anak dengan EIU <100 g/L di bawah 20%. Secara nasional
masalah gangguan akibat kekurangan Iodium tidak lagi menjadi
masalah kesehatan masyarakat.
Masalah gizi ketiga yang sudah bisa dikendalikan adalah anemia gizi
pada anak 2-5 tahun. Prevalensi anemia pada anak mengalami
penurunan, yakni 51,5% (1995) menjadi 25,0% (2006) dan 17,6%
(2011).
Masalah gizi yang belum selesai adalah masalah gizi kurang dan
pendek (stunting). Pada tahun 2010 prevalensi anak stunting 35.6 %,
artinya 1 diantara 2
tiga anak kita kemungkinan besar pendek. Sementara prevalensi gizi
kurang telah turun dari 31% (1989), menjadi 17.9% (2010). Dengan
capaian ini target MDGs sasaran 1 yaitu menurunnya prevalensi gizi
kurang menjadi 15.5% pada tahun 2015 diperkirakan dapat dicapai.
Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa 30,8% anak Indonesia “stunted”.
Sebagai akibatnya, produktivitas individu menurun dan masyarakat
harus hidup dengan penghasilan yang rendah.Stunting atau penurunan
tingkat pertumbuhan pada manusia utamanya disebabkan oleh
kekurangan gizi. Lebih jauh lagi, kekurangan gizi ini disebabkan oleh
rusaknya mukosa usus oleh bakteri fecal yang mengakibatkan
terjadinya gangguan absorbsi zat gizi. Dengan demikian, peningkatan
cakupan sanitasi dan perilaku hygiene sebesar 99% dapat membantu
menurunkan insiden diare sebesar 30% dan menurunkan prevalensi
stuntingsebesar 2,4%.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa sanitasi buruk mengakibatkan
beragam dampak negatif, baik bagi kesehatan, ekonomi maupun
lingkungan. Saat ini, tantangan pembangunan sanitasi semakin berat
dengan adanya temuan bahwa sanitasi buruk mengakibatkan sebagian
besar generasi penerus bangsa terdiagnosa stunted. Sanitasi buruk dan
air minum yang terkontaminasi mengakibatkan diare yang
mengganggu penyerapan zat-zat gizi dalam tubuh. Akibatnya, anak-
anak tidak mendapatkan zat gizi yang memadai sehingga
pertumbuhannya terhambat.

B. Rumusan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini penulis mencoba mengidentifikasi
beberapa pertanyaan yang akan dijadikan bahan dalam penyusunan
dan penyelesaian makalah. Rumusan masalah adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian dari stunting?
2. Bagaimanakah gejala dari stunting?
3. Apa saja klasifikasi dari stunting?
4. Apa saja penyebab stunting?
5. Bagaimana cara pencegahan stunting?
6.Bagaimana cara penanggulangan stunting?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penyusunan makalah ini selain untuk memenuhi salah
satu tugas dari mata kuliah Gizi Masyarakat, juga memiliki tujuan
umum dan tujuan khusus.
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui penyakit stunting yang masih banyak di derita
balita di Indonesia dan cara pencegahannya.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus pembuatan makalah ini adalah :
1. Mengetahui dan memahami pengertian dari stunting.
2. Mengetahui gejala dari stunting.
3. Mengetahui klasifikasi dari stunting.
4. Mengetahui penyebab stunting.
5. Mengetahui cara pencegahan stunting.
6. Mengetahui cara penanggulangan stunting.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA STUNTING
A.Konsep dasar stunting
Menurut data yang dilansir WHO, 178 juta anak di bawah lima
tahun mengalami stunted. Stunting (tubuh pendek) adalah keadaan
tubuh yang sangat pendek hingga melampaui defisit 2 SD dibawah
median panjang atau tinggi badan populasi yang menjadi referensi
internasional. Stunting adalah keadaan dimana tinggi badan
berdasarkan umur rendah, atau keadaan dimana tubuh anak lebih
pendek dibandingkan dengan anak – anak lain seusianya (MCN,
2009). Stunted adalah tinggi badan yang kurang menurut umur (<-
2SD), ditandai dengan terlambatnya pertumbuhan anak yang
mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal
dan sehat sesuai usia anak. Stunted merupakan kekurangan gizi kronis
atau kegagalan pertumbuhan dimasa lalu dan digunakan sebagai
indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak (Dinkes
Sumsel).
Balita Pendek (Stunting) adalah status gizi yang didasarkan pada
indeks PB/U atau TB/U dimana dalam standar antropometri penilaian
status gizi anak, hasil pengukuran tersebut berada pada ambang batas
(Z-Score) <-2 SD sampai dengan -3 SD (pendek/ stunted) dan <-3 SD
(sangat pendek / severely stunted). Stunting adalah perawakan pendek
yang timbul akibat malnutrisi yang lama (Candra, 2013). Menurut
Millennium Challenge Account-Indonesia, stunting adalah masalah
kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang
dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai
dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam
kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Kekurangan
gizi pada usia dini meningkatkan angka kematian bayi dan anak,
menyebabkan penderitanya mudah sakit dan memiliki postur tubuh
tak maksimal saat dewasa. Kemampuan kognitif para penderita juga
berkurang, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi jangka panjang
bagi Indonesia.
Stunting yang telah tejadi bila tidak diimbangi dengan catch-up
growth (tumbuh kejar) mengakibatkan menurunnya pertumbuhan,
masalah stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang
berhubungan dengan 5
meningkatnya risiko kesakitan, kematian dan hambatan pada
pertumbuhan baik motorik maupun mental. Stunting dibentuk oleh
growth faltering dan catcth up growth yang tidak memadai yang
mencerminkan ketidakmampuan untuk mencapai pertumbuhan
optimal, hal tersebut mengungkapkan bahwa kelompok balita yang
lahir dengan berat badan normal dapat mengalami stunting bila
pemenuhan kebutuhan selanjutnya tidak terpenuhi dengan baik.
1. Gejala Stunting
Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Selatan anak yang
mengalami stunting ini memiliki ciri-ciri atau gejala-gejala sebagai
berikut:
a. Anak yang stunted, pada usia 8-10 tahun lebih terkekang/tertekan
(lebih pendiam, tidak banyak melakukan eye-contact) dibandingkan
dengan anak non-stunted jika ditempatkan dalam situasi penuh
tekanan.
b. Anak dengan kekurangan protein dan energi kronis (stunting)
menampilkan performa yang buruk pada tes perhatian dan memori
belajar, tetapi masih baik dalam koordinasi dan kecepatan gerak.
c. Pertumbuhan melambat, batas bawah kecepatan tumbuh adalah
5cm/tahun decimal
d. Tanda tanda pubertas terlambat (payudara, menarche, rambut pubis,
rambut ketiak, panjangnya testis dan volume testis
e. Wajah tampak lebih muda dari umurnya
f. Pertumbuhan gigi yang terlambat

2. Klasifikasi Stunting
Menurut Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak
Penilaian status gizi balita yang paling sering dilakukan adalah dengan
cara penilaian antropometri. Secara umum antropometri berhubungan
dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi
tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri
digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan
energi. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan adalah
berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur
(TB/U), 6
berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) yang dinyatakan dengan
standar deviasi unit z (Z- score). Stunting dapat diketahui bila seorang
balita sudah ditimbang berat badannya dan diukur panjang atau tinggi
badannya, lalu dibandingkan dengan standar, dan hasilnya berada
dibawah normal. Jadi secara fisik balita akan lebih pendek
dibandingkan balita seumurnya.
Penghitungan ini menggunakan standar Z score dari WHO. Normal,
pendek dan Sangat Pendek adalah status gizi yang didasarkan pada
indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan
menurut Umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted
(pendek) dan severely stunted (sangat pendek) (Nailis, 2016).
Berikut klasifikasi status gizi stunting berdasarkan indikator tinggi
badan per umur (TB/U).
I I. Sangat pendek : Zscore < -3,0
II II. Pendek : Zscore < -2,0 s.d. Zscore ≥ -3,0
III III. Normal : Zscore ≥ -2,0 13

Dan di bawah ini merupakan klasifikasi status gizi stunting


berdasarkan indikator TB/U dan BB/TB.
I I. Pendek-kurus : -Zscore TB/U < -2,0 dan Zscore BB/TB < -
2,0
II II. Pendek-normal : Z-score TB/U < -2,0 dan Zscore BB/TB
antara -2,0 s/d 2,0
III III. Pendek-gemuk : Z-score ≥ -2,0 s/d Zscore ≤ 2,0

3.Penyebab Stunting
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya keadaan stunting pada
anak. Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari diri anak itu sendiri
maupun dari luar diri anak tersebut. Faktor penyebab stunting adalah
asupan gizi dan adanya penyakit infeksi sedangkan penyebab tidak
langsungnya adalah pola asuh, pelayanan kesehatan, ketersedian
pangan, faktor budaya, ekonomi dan masih banyak lagi faktor lainnya
(Bappenas R.I, 2013).

a. Faktor Langsung
1) Asupan Gizi Balita

a) Kelebihan gizi adalah suatu keadaan yang muncul akibat


pemenuhan asupan zat gizi yang lebih banyak dari kebutuhan seperti
gizi lebih, obesitas atau kegemukan.
b) Gizi baik adalah suatu keadaan yang muncul akibat pemenuhan
asupan zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan.
c) Kurang gizi adalah suatu keadaan yang muncul akibat pemenuhan
asupan zat gizi yang lebih sedikit dari kebutuhan seperti gizi kurang
dan buruk, pendek, kurus dan sangat kurus (Depkes R.I, 2008).

Saat ini Indonesia mengahadapi masalah gizi ganda, permasalahan


gizi ganda tersebut adalah adanya masalah kurang gizi dilain pihak
masalah kegemukan atau gizi lebih telah meningkat. Keadaan gizi
dibagi menjadi 3 berdasarkan pemenuhan asupannya yaitu:
Asupan gizi yang adekuat sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangan tubuh balita. Masa kritis ini merupakan masa saat
balita akan mengalami tumbuh kembang dan tumbuh kejar. Balita
yang mengalami kekurangan gizi sebelumnya masih dapat diperbaiki
dengan asupan yang baik sehingga dapat melakukan tumbuh kejar
sesuai dengan perkembangannya. Namun apabila intervensinya
terlambat balita tidak akan dapat mengejar keterlambatan
pertumbuhannya yang disebut dengan gagal tumbuh. Begitu pula
dengan balita yang normal kemungkinan terjadi gangguan
pertumbuhan bila asupan yang diterima tidak mencukupi. Dalam
penelitian yang menganalisis hasil Riskesdas menyatakan bahwa
konsumsi energi balita berpengaruh terhadap kejadian balita pendek,
selain itu pada level rumah tangga konsumsi energi rumah tangga di
bawah rata-rata merupakan penyebab terjadinya anak balita pendek.
Dalam upaya penanganan masalah stunting ini, khusus untuk bayi dan
anak telah dikembangkan standar emas makanan bayi dalam
pemenuhan kebutuhan gizinya yaitu 1) Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
yang harus dilakukan sesegera mungkin setelah melahirkan; 2)
Memberikan ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan tanpa
pemberian makanan dan minuman tambahan lainnya; 3) Pemberian
makanan pendamping ASI yang berasal dari makanan keluarga,
diberikan tepat waktu mulai bayi berusia 6 bulan; dan 4) Pemberian
ASI diteruskan sampai anak berusia 2 tahun (Bappenas R.I, 2013).
Asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan akan membantu
pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebaliknya asupan gizi yang
kurang dapat menyebabkan kekurangan gizi salah salah satunya dapat
menyebabkan stunting.

2) Penyakit Infeksi
Penyakit infeksi merupakan salah satu faktor penyebab
langsung stunting, Kaitan antara penyakit infeksi dengan pemenuhan
asupan gizi tidak dapat dipisahkan. Adanya penyakit infeksi akan
memperburuk keadaan bila terjadi kekurangan asupan gizi. Anak
balita dengan kurang gizi akan lebih mudah terkena penyakit infeksi.
Penyakit infeksi akan ikut menambah kebutuhan akan zat gizi untuk
membantu perlawanan terhadap penyakit ini sendiri. Pemenuhan zat
gizi yang sudah sesuai dengan kebutuhan namun penyakit infeksi
yang diderita tidak tertangani akan tidak dapat memperbaiki status
kesehatan dan status gizi anak balita. Untuk itu penanganan terhadap
penyakit infeksi yang diderita sedini mungkin akan membantu
perbaikan gizi dengan diiimbangi pemenuhan asupan yang sesuai
dengan kebutuhan anak balita.
Penyakit infeksi yang sering diderita balita seperti cacingan, Infeksi
saluran pernafasan Atas (ISPA), diare dan infeksi lainnya sangat erat
hubungannya dengan status mutu pelayanan kesehatan dasar
khususnya imunisasi, kualitas lingkungan hidup dan perilaku sehat
(Bappenas R.I, 2013).
Ada beberapa penelitian yang meneliti tentang hubungan penyakit
infeksi dengan stunting yang menyatakan
bahwa diare merupakan salah satu faktor risiko kejadian stunting pada
anak usia dibawah 5 tahun.
b. Faktor Tidak Langsung
1) Ketersediaan Pangan

Akses pangan pada rumah tangga menurut Bappenas adalah


kondisi penguasaan sumberdaya (sosial, teknologi,
finansial/keuangan, alam, dan manusia) yang cukup untuk
memperoleh dan/atau ditukarkan untuk memenuhi kecukupan pangan,
termasuk kecukupan pangan di rumah tangga. Masalah ketersediaan
ini tidak hanya terkait masalah daya beli namun juga pada
pendistribusian dan keberadaan pangan itu sendiri, sedangkan pola
konsumsi pangan merupakan susunan makanan yang biasa dimakan
mencakup jenis dan jumlah dan frekuensi dan jangka waktu tertentu.
Aksesibilitas pangan yang rendah berakibat pada kurangnya
pemenuhan konsumsi yang beragam, bergizi, seimbang dan nyaman di
tingkat keluarga yang mempengaruhi pola konsumsi pangan dalam
keluarga sehingga berdampak pada semakin beratnya masalah kurang
gizi masyarakat (Bappenas R.I, 2013).
Ketersediaan pangan yang kurang dapat berakibat pada kurangnya
pemenuhan asupan nutrisi dalam keluarga itu sendiri. Rata-rata asupan
kalori dan protein anak balita di Indonesia masih di bawah Angka
Kecukupan Gizi (AKG) yang dapat mengakibatkan anak balita
perempuan dan anak balita laki-laki Indonesia mempunyai rata-rata
tinggi badan masing-masing 6,7 cm dan 7,3 cm lebih pendek dari pada
standar rujukan WHO 2005 (Bappenas R.I, 2013). Oleh karena itu
penanganan masalah gizi ini tidak hanya melibatkan sektor kesehatan
saja namun juga melibatkan lintas sektor lainnya.
Ketersediaan pangan merupakan faktor penyebab kejadian stunting,
ketersediaan pangan di rumah tangga dipengaruhi oleh pendapatan
keluarga, pendapatan keluarga yang lebih rendah dan biaya yang
digunakan untuk pengeluaran pangan yang lebih rendah 10
merupakan beberapa ciri rumah tangga dengan anak pendek.
Penelitian di Semarang Timur juga menyatakan bahwa pendapatan
perkapita yang rendah merupakan faktor risiko kejadian stunting
(Nasikhah dan Margawati, 2012). Selain itu penelitian yang dilakukan
di Maluku Utara dan di Nepal menyatakan bahwa stunting
dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah faktor sosial
ekonomi yaitu defisit pangan dalam keluarga (Ramli et all, 2009;
Paudel et all, 2012).
2) Status Gizi Ibu saat Hamil
Status gizi ibu saat hamil dipengaruhi oleh banyak faktor, faktor
tersebut dapat terjadi sebelum kehamilan maupun selama kehamilan.
Beberapa indikator pengukuran seperti 1) kadar hemoglobin (Hb)
yang menunjukkan gambaran kadar Hb dalam darah untuk
menentukan anemia atau tidak; 2) Lingkar Lengan Atas (LILA) yaitu
gambaran pemenuhan gizi masa lalu dari ibu untuk menentukan KEK
atau tidak; 3) hasil pengukuran berat badan untuk menentukan
kenaikan berat badan selama hamil yang dibandingkan dengan IMT
ibu sebelum hamil.
a) Pengukuran LILA
Pengukuran LILA dilakukan pada ibu hamil untuk mengetahui status
KEK ibu tersebut. KEK merupakan suatu keadaan yang menunjukkan
kekurangan energi dan protein dalam jangka waktu yang lama
(Kemenkes R.I, 2013). Faktor predisposisi yang menyebabkan KEK
adalah asupan nutrisi yang kurang dan adanya faktor medis seperti
terdapatnya penyakit kronis. KEK pada ibu hamil dapat berbahaya
baik bagi ibu maupun bayi, risiko pada saat prsalinan dan keadaan
yang lemah dan cepat lelah saat hamil sering dialami oleh ibu yang
mengalami KEK (Direktorat Bina Gizi dan KIA, 2012).
Pada wanita hamil dan WUS digunakan ambang batas LILA <23,5 cm
dikategorikan risiko KEK (Kemenkes R.I, 2013).
Pengukuran LILA ini dilakukan dengan mengukur lengan atas ibu
hamil tangan yang jarang digunakan dengan menggunakan alat
pengukur LILA.
Penelitian di Sulawesi Barat menyatakan bahwa faktor yang
berhubungan dengan kejadian KEK adalah pengetahuan, pola makan,
makanan pantangan dan status anemia (Rahmaniar dkk, 2013).
Kekurangan energi secara kronis menyebabkan cadangan zat gizi yang
dibutuhkan oleh janin dalam kandungan tidak adekuat sehingga dapat
menyebabkan terjadinya gangguan baik pertumbuhan maupun
perkembangannya. Status KEK ini dapat memprediksi hasil luaran
nantinya, ibu yang mengalami KEK mengakibatkan masalah
kekurangan gizi pada bayi saat masih dalam kandungan sehingga
melahirkan bayi dengan panjang badan pendek. Selain itu, ibu hamil
dengan KEK berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir
rendah (BBLR). Panjang badan lahir rendah dan BBLR dapat
menyebabkan stunting bila asupan gizi tidak adekuat. Hubungan
antara stunting dan KEK telah diteliti di Yogyakarta dengan hasil
penelitian tersebut menyatakan bahwa ibu hamil dengan riwayat KEK
saat hamil dapat meningkatkan risiko kejadian stunting pada anak
balita usia 6-24 bulan.
b) Kadar Hemoglobin

Pemeriksaan darah dilakukan pada ibu hamil untuk mengetahui kadar


Hb ibu sehingga dapat diketahui status anemia yang dialami ibu saat
hamil. Anemia pada saat kehamilan merupakan suatu kondisi
terjadinya kekurangan sel darah merah atau hemoglobin (Hb) pada
saat kehamilan. Ada banyak faktor predisposisi dari anemia tersebut
yaitu diet rendah zat besi, vitamin B12, dan asam folat, adanya
penyakit gastrointestinal, serta adanya penyakit kronis ataupun adanya
riwayat dari keluarga sendiri.
Ibu hamil dengan anemia sering dijumpai karena pada saat kehamilan
keperluan akan zat makanan bertambah dan terjadi
perubahan-perubahan dalam darah dan sumsum tulang. Nilai cut-off
anemia ibu hamil adalah bila hasil pemeriksaan Hb<11,0 g/dl
(Kemenkes R.I, 2013) penyebab anemia pada ibu hamil adalah karena
gangguan penyerapan pada pencernaan, kurangnya asupan zat besi
dan protein dari makanan, perdarahan akut maupun kronis,
meningkatkan kebutuhan zat besi, kekurangan asam folat dan vitamin,
menjalankan diet miskin zat besi pola makan yang kurang baik
maupun karena kelainan pada sumsum tulang belakang.
Akibat anemia bagi janin adalah hambatan pada pertumbuhan janin,
bayi lahir prematur, bayi lahir dengan BBLR, serta lahir dengan
cadangan zat besi kurang sedangkan akibat dari anemia bagi ibu hamil
dapat menimbulkan komplikasi, gangguan pada saat persalinan dan
dapat membahayakan kondisi ibu seperti pingsan, bahkan sampai pada
kematian (Direktorat Bina Gizi dan KIA, 2012). Kadar hemoglobin
saat ibu hamil berhubungan dengan panjang bayi yang nantinya akan
dilahirkan, semakin tinggi kadar Hb semakin panjang ukuran bayi
yang akan dilahirkan. Prematuritas, dan BBLR juga merupakan faktor
risiko kejadian stunting, sehingga secara tidak langsung anemia pada
ibu hamil dapat menyebabkan kejadian stunting pada balita.
c) Kenaikan Berat Badan Ibu saat Hamil

Menurut Almatsier, Ibu hamil akan membutuhkan tambahan energi


dari pada ibu yang tidak hamil, penambahan tersebut dibedakan
berdasarkan umur kehamilannya yaitu: 1) Trimester I ibu hamil
membutuhkan tambahan energi 150- 200 kal/hari; 2) Trimester II ibu
hamil membutuhkan tambahan energi 250-350 kal/hari; 3) Trimester
III ibu hamil membutuhkan tambahan energi 400 kal/hari dan jumlah
cairan yang dibutuhkan minimal 1500 ml/hari. Penambahan berat
badan ibu hamil dihubungkan dengan IMT saat sebelum ibu belum
hamil. Apabila IMT ibu sebelum hamil dalam status kurang gizi maka
penambahan berat badan seharusnya lebih banyak dibandingkan
dengan ibu yang status gizinya normal atau status gizi lebih.
Penambahan berat badan ibu selama kehamilan berbeda pada masing–
masing trimester. Pada trimester pertama berat badan bertambah 1,5-2
Kg, trimester kedua 4-6 Kg dan trimester ketiga berat badan
bertambah 6-8 Kg. Total kenaikan berat badan ibu selama hamil
sekitar 9-12 Kg (Direktorat Bina Gizi dan KIA, 2012).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Yongky tahun 2004 menyatakan
bahwa pertambahan berat badan saat hamil merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi status kelahiran bayi (BBLR).
Penambahan berat badan saat hamil perlu dikontrol karena apabila
berlebih dapat menyebabkan obesitas pada bayi sebaliknya apabila
kurang dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah,
prematur yang merupakan faktor risiko kejadian stunting pada anak
balita.

d) Berat Badan Lahir


Berat badan lahir sangat terkait dengan pertumbuhan dan
perkembangan jangka panjang anak balita, pada penelitian yang
dilakukan oleh Anisa tahun 2012 menyimpulkan bahwa terdapat
hubungan yang bermakna antara berat lahir dengan kejadian stunting
pada balita di Kelurahan Kalibaru. Bayi yang lahir dengan berat badan
lahir rendah (BBLR) yaitu bayi yang lahir dengan berat badan kurang
dari 2500 gram, bayi dengan berat badan lahir rendah akan mengalami
hambatan pada pertumbuhan dan perkembangannya serta
kemungkinan terjadi kemunduran fungsi intelektualnya selain itu bayi
lebih rentan terkena infeksi dan terjadi hipotermi (Direktorat Bina
Gizi dan KIA, 2012).
Banyak penelitian yang telah meneliti tentang hubungan antara
BBLR dengan kejadian stunting diantaranya yaitu penelitian di
Klungkung dan di Yogyakarta menyatakan hal yang sama bahwa
ada hubungan antara berat badan lahir dengan kejadian stunting.
Selain itu, penelitian yang dilakukan di Malawi juga menyatakan
prediktor terkuat kejadian stunting adalah BBLR.
e) Panjang Badan Lahir
Asupan gizi ibu yang kurang adekuat sebelum masa kehamilan
menyebabkan gangguan pertumbuhan pada janin sehingga dapat
menyebabkan bayi lahir dengan panjang badan lahir pendek. Bayi
yang dilahirkan memiliki panjang badan lahir normal bila panjang
badan lahir bayi tersebut berada pada panjang 48-52 cm (Kemenkes
R.I, 2013).
Penentuan asupan yang baik sangat penting untuk mengejar panjang
badan yang seharusnya. Berat badan lahir, panjang badan lahir, usia
kehamilan dan pola asuh merupakan beberapa faktor yang
mempengaruhi kejadian stunting. Panjang badan lahir merupakan
salah satu faktor risiko kejadian stunting pada balita.
Menurut Riskesdas tahun 2013 kategori panjang badan lahir
dikelompokkan menjadi tiga, yaitu <48 cm, 48-52 cm, dan >52 cm,
panjang badan lahir pendek adalah bayi yang lahir dengan panjang
<48 cm (Kemenkes R.I, 2013). Panjang badan lahir pendek
dipengaruhi oleh pemenuhan nutrisi bayi tersebut saat masih dalam
kandungan.
f) ASI Eksklusif
ASI Eksklusif menurut Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu
Eksklusif adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) tanpa menambahkan
dan atau mengganti dengan makanan atau minuman lain yang
diberikan kepada bayi sejak baru dilahirkan selama 6 bulan
(Kemenkes R.I, 2012). Pemenuhan kebutuhan bayi 0-6 bulan telah
dapat terpenuhi dengan pemberian ASI saja. Menyusui eksklusif juga
penting karena pada usia ini, makanan selain ASI belum mampu
dicerna oleh enzim-enzim yang ada di dalam usus
selain itu pengeluaran sisa pembakaran makanan belum bisa dilakukan
dengan baik karena ginjal belum sempurna (Kemenkes R.I, 2013).
Manfaat dari ASI Eksklusif ini sendiri sangat banyak mulai dari
peningkatan kekebalan tubuh, pemenuhan kebutuhan gizi, murah,
mudah, bersih, higienis serta dapat meningkatkan jalinan atau ikatan
batin antara ibu dan anak.
Penelitian yang dilakukan di Kota Banda Aceh menyatakan bahwa
kejadian stunting disebabkan oleh rendahnya pendapatan keluarga,
pemberian ASI yang tidak eksklusif, pemberian MP-ASI yang kurang
baik, imunisasi yang tidak lengkap dengan faktor yang paling
dominan pengaruhnya adalah pemberian ASI yang tidak eksklusif.
Hal serupa dinyatakan pula oleh Arifin pada tahun 2012 dengan hasil
penelitian yang menyatakan bahwa kejadian stunting dipengaruhi oleh
berat badan saat lahir, asupan gizi balita, pemberian ASI, riwayat
penyakit infeksi, pengetahuan gizi ibu balita, pendapatan keluarga,
jarak antar kelahiran namun faktor yang paling dominan adalah
pemberian ASI (Arifin dkk, 2013). Berarti dengan pemberian ASI
eksklusif kepada bayi dapat menurunkan kemungkinan kejadian
stunting pada balita, hal ini juga tertuang pada gerakan 1000 HPK
yang dicanangkan oleh pemerintah Republik Indonesia.
g) MP-ASI
Kebutuhan anak balita akan pemenuhan nutrisi bertambah
seiring pertambahan umurnya. ASI eksklusif hanya dapat memenuhi
kebutuhan nutrisi balita sampai usia 6 bulan, selanjutnya ASI hanya
mampu memenuhi kebutuhan energi sekitar 60-70% dan sangat
sedikit mengandung mikronutrien sehingga memerlukan tambahan
makanan lain yang biasa disebut makanan pendamping ASI (MP-
ASI). Pengertian dari MP-ASI menurut WHO adalah
makanan/minuman selain ASI yang mengandung zat gizi yang
diberikan selama pemberian makanan peralihan yaitu pada saat
makanan/ minuman lain yang diberikan bersamaan dengan pemberian
ASI kepada bayi.
Pemberian MP-ASI merupakan proses transisi dimulainya pemberian
makanan khusus selain ASI secara bertahap jenis, jumlah, frekuensi
maupun tekstur dan kosistensinya sampai seluruh kebutuhan gizi anak
dipenuhi oleh makanan keluarga. Jenis MP-ASI ada dua yaitu MP-
ASI yang dibuat secara khusus baik buatan rumah tangga atau pabrik
dan makanan biasa dimakan keluarga yang dimodifikasi agar mudah
dimakan oleh bayi. MP-ASI yang tepat diberikan secara bertahap
sesuai dengan usia anak baik jenis maupun jumlahnya. Resiko terkena
penyakit infeksi akibat pemberian MP-ASI terlalu dini disebabkan
karena usus yang belum siap menerima makanan serta kebersihan
yang kurang. Menurut Global Strategy for infant and Young Child
Feeding ada 4 persyaratan pemberian MP-ASI yaitu:
i i. Tepat waktu yaitu pemberian MP-ASI dimulai saat kebutuhan
energi gizi melebihi yang di dapat dari ASI yaitu pada umur 6 bulan.
ii ii. Adekuat yaitu pemberian MP-ASI harus cukup energi,
protein, dan mikronutrien sesuai dengan kebutuhan.
iii iii. Tepat cara pemberian yaitu pemberian MP-ASI sejalan
dengan tanda lapar dan nafsu makan yang ditunjukkan serta frekuensi
dan cara pemberiannya sesuai dengan umur
iv iv. Aman yaitu pemberian MP-ASI harus diawasi baik dari
penyimpanan, persiapan, dan saat diberikan MP-ASI harus higienis.

Penelitian yang dilakukan di Purwokerto, menyatakan bahwa usia


makan pertama merupakan faktor resiko terhadap kejadian stunting
pada balita. Pemberian MP-ASI terlalu dini dapat meningkatkan risiko
penyakit infeksi seperti diare hal ini terjadi
karena MP-ASI yang diberikan tidak sebersih dan mudah dicerna
seperti ASI. Zat gizi seperti zink dan tembaga serta air yang hilang
selama diare jika tidak diganti akan terjadi malabsorbsi zat gizi selama
diare yang dapat menimbulkan dehidrasi parah, malnutrisi, gagal
tumbuh bahkan kematian (Meilyasari dan Isnawati, 2014).
4. Pencegahan terhadap Stunting
Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan stunting atau
tubuh pendek dapat dicegah dengan beberapa cara, antara lain:
a. Pemberian ASI secara baik dan tepat disertai dengan pengawasan
berat badan secara teratur dan terus menerus
b. Menghindari pemberian makanan buatan kepada anak untuk
mengganti ASI sepanjang ibu masih mampu menghasilkan ASI,
terutama pada usia dibawah empat bulan
c. Meningkatkan pendapatan keluarga yang dapat dilakukan dengan
upaya mengikutsertakan para anggota keluarga yang sudah cukup
umur untuk bekerja dengan diimbangi dengan penggunaan uang yang
terarah dan efisien. Cara lain yang dapat ditempuh ialah
pemberdayaan melalui peningkatan keterampilan dan kewirausahaan
d. Meningkatkan intensitas komunikasi informasi edukasi (KIE)
kepada masyarakaat, terutama para ibu mengenai pentingnya
konsumsi zat besi yang diatur sesuai kebutuhan. Hal ini dapat
dikoordinasikan dengan kegiatan posyandu.

Menurut Millenium Challenge Account-Indonesia (2015) stunting


dapat dicegah dengan beberapa cara yaitu:
a. Pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil. Ibu hamil harus
mendapatkan makanan yang cukup gizi, suplementasi zat gizi (tablet
zat besi atau Fe), dan terpantau kesehatannya. Namun, kepatuhan ibu
hamil untuk meminum tablet tambah darah hanya 33%. Padahal
mereka harus minimal mengkonsumsi 90 tablet selama kehamilan.
b. ASI eksklusif sampai umur 6 bulan dan setelah umur 6 bulan diberi
makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan
kualitasnya.
c. Memantau pertumbuhan balita di posyandu merupakan upaya yang
sangat strategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan
pertumbuhan.
d. Meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta
menjaga kebersihan lingkungan.

Intervensi gizi saja belum cukup untuk mengatasi masalah stunting.


Faktor sanitasi dan kebersihan lingkungan berpengaruh pula untuk
kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak, karena anak usia di
bawah dua tahun rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit.
Paparan terus menerus terhadap kotoran manusia dan binatang dapat
menyebabkan infeksi bakteri kronis. Infeksi tersebut, disebabkan oleh
praktik sanitasi dan kebersihan yang kurang baik, membuat gizi sulit
diserap oleh tubuh.
Rendahnya sanitasi dan kebersihan lingkungan pun memicu gangguan
saluran pencernaan, yang membuat energi untuk pertumbuhan
teralihkan kepada perlawanan tubuh menghadapi infeksi. Sebuah riset
menemukan bahwa semakin sering seorang anak menderita diare,
maka semakin besar pula ancaman stunting untuknya. Selain itu, saat
anak sakit, lazimnya selera makan mereka pun berkurang, sehingga
asupan gizi makin rendah. Maka, pertumbuhan sel otak yang
seharusnya sangat pesat dalam dua tahun pertama seorang anak
menjadi terhambat. Dampaknya, anak tersebut terancam menderita
stunting, yang mengakibatkan pertumbuhan mental dan fsiknya
terganggu, sehingga potensinya tak dapat berkembang dengan
maksimal.
Penelitian lain menunjukkan potensi stunting berkurang jika ada
intervensi yang terfokus pada perubahan perilaku dalam sanitasi dan
kebersihan. Adapun akses terhadap sanitasi yang baik berkontribusi
dalam penurunan stunting sebesar 27%.
Untuk memotong rantai buruknya sanitasi dan kebersihan serta
kaitannya dengan stunting, ibu hamil dan anak perlu hidup dalam
lingkungan yang bersih. Dua cara utama adalah dengan tidak buang
air besar sembarangan, serta mencuci tangan dengan sabun.
5. Penanggulangan Stunting
Menurut Dinak Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, periode yang
paling kritis dalam penanggulangan stunting dimulai sejak janin dalam
kandungan sampai anak berusia 2 tahun yang disebut dengan periode
emas (seribu hari pertama kehidupan). Oleh karena itu perbaikan gizi
diprioritaskan pada usia seribu hari pertama kehidupan yaitu 270 hari
selama kehamilannya dan 730 hari pada kehidupan pertama bayi yang
dilahirkannya.
Secara langsung masalah gizi disebabkan oleh rendahnya asupan gizi
dan masalah kesehatan. Selain itu asupan gizi dan masalah kesehatan
merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Adapun pengaruh
tidak langsung adalah ketersediaan makanan, pola asuh dan
ketersediaan air minum (bersih), sanitasi dan pelayanan kesehatan.
Seluruh faktor penyebab ini dipengaruhi oleh beberapa akar masalah
yaitu kelembagaan, politik dan ideologi, kebijakan ekonomi, dan
sumberdaya, lingkungan, teknologi, serta kependudukan.
Berdasarkan faktor penyebab masalah gizi tersebut, maka perbaikan
gizi dilakukan dengan dua pendekatan yaitu secara langsung (kegiatan
spesifik) dan secara tidak langsung (kegiatan sensitif). Kegiatan
spesifik umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan seperti PMT ibu
hamil KEK, pemberian tablet tambah darah, pemeriksaan kehamilan,
imunisasi TT, pemberian vitamin A pada ibu nifas. Untuk bayi dan
balita dimulai dengan inisiasi menyusu dini (IMD), ASI eksklusif,
pemberian vitamin A, pemantauan pertumbuhan, imunisasi dasar,
pemberian MP-ASI. Sedangkan kegiatan yang sensitif melibatkan
sektor terkait seperti penanggulangan kemiskinan, penyediaan pangan,
penyediaan lapangan kerja, perbaikan infrastruktur (perbaikan jalan,
pasar), dan lain-lain.
Kegiatan perbaikan gizi dimaksudkan untuk mencapai pertumbuhan
yang optimal. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Multicentre
Growth Reference Study (MGRS) Tahun 2005 yang kemudian
menjadi dasar standar pertumbuhan internasional, pertumbuhan anak
sangat ditentukan oleh kondisi sosial ekonomi,
riwayat kesehatan, pemberian ASI dan MP-ASI. Untuk mencapai
pertumbuhan optimal maka seorang anak perlu mendapat asupan gizi
yang baik dan diikuti oleh dukungan kesehatan lingkungan.
Penanggulangan stunting yang paling efektif dilakukan pada seribu
hari pertama kehidupan, meliputi :
a. Pada ibu hamil Memperbaiki gizi dan kesehatan Ibu hamil
merupakan cara terbaik dalam mengatasi stunting. Ibu hamil perlu
mendapat makanan yang baik, sehingga apabila ibu hamil dalam
keadaan sangat kurus atau telah mengalami Kurang Energi Kronis
(KEK), maka perlu diberikan makanan tambahan kepada ibu hamil
tersebut. Setiap ibu hamil perlu mendapat tablet tambah darah,
minimal 90 tablet selama kehamilan. Kesehatan ibu harus tetap dijaga
agar ibu tidak mengalami sakit
b. Pada saat bayi lahir 1) Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter
terlatih dan begitu bayi lahir melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
2) Bayi sampai dengan usia 6 bulan diberi Air Susu Ibu (ASI) saja
(ASI Eksklusif) ,Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun 1) Mulai
usia 6 bulan, selain ASI bayi diberi Makanan Pendamping ASI (MP-
ASI). Pemberian ASI terus dilakukan sampai bayi berumur 2 tahun
atau lebih. Bayi dan anak memperoleh kapsul vitamin A, taburia,
imunisasi dasar lengkap. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
harus diupayakan oleh setiap rumah tangga.
BAB 4. PENUTUP
Kesimpulan
Stunting adalah tinggi badan yang kurang menurut umur (<-
2SD), ditandai dengan terlambatnya pertumbuhan anak yang
mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal
dan sehat sesuai usia anak. Stunted merupakan kekurangan gizi kronis
atau kegagalan pertumbuhan dimasa lalu dan digunakan sebagai
indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak.
Anak yang mengalami stunting ini memiliki ciri-ciri atau gejala-gejala
seperti Pertumbuhan melambat, batas bawah kecepatan tumbuh adalah
5cm/tahun decimal, Wajah tampak lebih muda dari umurnya,
Pertumbuhan gigi yang terlambat, dan lain-lainya.
Klasifikasi status gizi stunting daapat diketahui berdasarkan indikator
tinggi badan per umur (TB/U) dan klasifikasi status gizi stunting
berdasarkan indikator TB/U dan BB/TB.
Ada dua penyebab stunting dapat terjadi yaitu adanya factor langsung
dan factor tidak langsung. Faktor langsung yang meliputi asupan gizi
balita dan penyakit infeksi sedangkan factor tidak langsung yang
menyebabkan stunting adalah ketersediaan pangan dan status gizi ibu
saat hamil.
Penanggulangan stunting yang paling efektif dilakukan pada seribu
hari pertama kehidupan, yang meliputi Pada ibu hamil, Pada saat bayi
lahir, Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun dan Perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS) harus diupayakan oleh setiap rumah tangga.
22
DAFTAR REFERENSI
Arifi n, D. Z., Irdasari, S. Y., & Handayana, S. (2012). Analisis
Sebaran dan Faktor Risiko Stunting pada Balita di Kabupaten
Purwakarta. Tersedia: http://www.pustaka.unpad.ac.id. [11 September
2017]
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian
Kesehatan RI. Riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2013. [Online].
Tersedia:
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskes
das%20 2013.pdf [10 September 2017]
Candra, A. (2013). Hubungan underlying factors dengan kejadian
stunting pada anak 1-2 tahun. Journal of Nutrition and Health, Vol.1,
No.1. Diakses dari http://www.ejournal.undip.ac.id [12 September
2017]
Departemen Kesehatan RI. 2008. Laporan Riset Kesehatan Dasar
Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2007.
www.scribd.com/Laporan_ Hasil_ Riskesdas_ NTT_ 2007.pdf [11
September 2017]
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Laporan Riset
Kesehatan Dasar tahun 2013. Jakarta: Balitbangkes
Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. Kemenkes
RI no195/MENKES/SK/XII/2010: Standar Antropometri Penilaian
Status Gizi Anak. Jakarta; 2011. 14.
Dinas Kesehatan Sumatera Selatan. Tersedia:
http://dinkes.sumselprov.go.id/download/unggah/stunting_anak-2016-
01-04.pdf [12 September 2017]
Meilyasari, F. & Isnawati, M. (2014). Faktor risiko kejadian stunting
pada balita usia 12 bulan di Desa Purwokerto Kecamatan Patebon,
Kabupaten Kendal. Journal of Nutrition College, 3(2), 16-25.
Tersedia: http://www,ejournals1.undip.ac.id [10 September 2017] 23
Millennium Challenge Account – Indonesia. Backgrounder : Stunting
Dan Masa Depan Indonesia. [Online]. Tersedia: http://mca-
indonesia.go.id/wp-content/uploads/2015/01/BackgrounderStunting-
ID.pdf [11 September 2017]
Nailis, Anisa. (2016). Hubungan Konsumsi Ikan dengan Kejadian
Stunting pada Anak Usia 2-4 Tahun. Thesis. Fakultas Kedokteran.
Universitas Diponegoro. Semarang
Nasikhah, R dan Margawati, A. (2012). Faktor risiko kejadian
stunting pada balita usia 24-36 bulan di Kecamatan Semarang Timur.
Journal of Nutrition College,1(1). Tersedia: http:// www.ejournal-
s1.undip.ac.id [9 September 2017]
Ramli, Agho, K. E., Inder, K. J., Bowe, S. J. Jacobs, J. & Dibley, M. J.
(2009). Prevalence And Risk Factors For Stunting And Severe
Stunting Among Under-Fi Ves In North Maluku Province Of
Indonesia. BMC Pediatrics, 9-64. doi:10.1186/1471-2431-9-64