Anda di halaman 1dari 30

Visi:

Pada tahun 2023 menghasilkan Ners yang unggul dalam asuhan keperawatan
lanjut usia dengan menerapkan Ilmu dan Teknologi keperawatan

Tugas Praktikum
Kebijakan Kesehatan Masyarakat
Kebijakan Kesehatan Lansia di Puskesmas

Program studi : Program Sarjana Terapan dan Program Studi


Pendidikan Profesi Ners Program Profesi
Mata kuliah : Kebijakan Kesehatan Masyarakat
Pengajar : Dr. Prayetni, S.Kp., M.Kes
Kelompok :2
Nama Kelompok :
1. Annisa Triwijaya T (P3.73.20.2.17.002)
2. Arya Cupal Gustiayo (P3.73.20.2.17.004)
3. Atii’ah Dwiningtyas (P3.73.20.2.17.005)
4. Aufiah Dhia Ulhaq (P3.73.20.2.17.007)
5. Azzahra Firdausy S. (P3.73.20.2.17.008)
6. Desy Nurohma A. (P3.73.20.2.17.011)
7. Else Zulfia M. (P3.73.20.2.17.012)
8. Fathiyyah Aulia Q. (P3.73.20.2.17.014)
9. Febrilla Elena C. (P3.73.20.2.17.015)
10. Gita Savitri Hayuningtyas (P3.73.20.2.17.017)
11. Kartika Witrianti (P3.73.20.2.17.020)
12. Layla Rizqiyyah (P3.73.20.2.17.022)
13. Nisrina Rifqi Syukria (P3.73.20.2.17.025)
14. Rachmaningrum P.N.W. (P3.73.20.2.17.028)
15. Shabrina Nisa S. (P3.73.20.2.17.033)
16. Tammy Melliani Eka P. (P3.73.20.2.17.035)
17. Tyagita Ratih N. (P3.73.20.2.17.037)
18. Vidia Eka Septiasari (P3.73.20.2.17.038)

JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES JAKARTA III
2019
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .............................................................................................................................. ii


BAB I.......................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ....................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ............................................................................................................. 2
D. Manfaat Penulisan ........................................................................................................... 2
E. Sistematika Penulisan ...................................................................................................... 3
BAB II ........................................................................................................................................ 4
KONSEP DASAR ....................................................................................................................... 4
A. Isu Gerontik .................................................................................................................... 4
1. Fasilitas Kesehatan Lansia Kurang .............................................................................. 4
2. DPD: Kesejahteraan Lansia Kurang Diperhatikan ...................................................... 5
B. Kebijakan ........................................................................................................................ 6
BAB III ....................................................................................................................................... 8
RANCANGAN KEBIJAKAN DAN PEMBAHASAN ................................................................. 8
A. Proses Kebijakan ............................................................................................................. 8
1. Fase Agenda ................................................................................................................. 8
2. Tahap Formulasi dan Legitimasi Kebijakan .............................................................. 11
3. Fase Implementasi Kebijakan .................................................................................... 11
4. Fase Evaluasi Kebijakan ............................................................................................ 22
B. Inovasi Kebijakan .......................................................................................................... 25
BAB IV ..................................................................................................................................... 26
PENUTUP ................................................................................................................................ 26
A. Simpulan ....................................................................................................................... 26
B. Saran ............................................................................................................................. 27

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lansia adalah seorang yang berusia 60 tahun ke atas (UU No. 13 Tahun 1998
tentang Kesejahteraan Lanjut Usia). Hasil Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018,
terdapat 9.27 persen (24,49 juta) lansia di Indonesia dengan ketergantungan lansia
terhadap usia produktif meningkat menjadi 14,49. Artinya, setiap 100 orang usia
produktif harus menanggung 15 orang lansia, serta hasil Sakernas tahun 2017 hampir
separuh (47,92 persen) lansia di Indonesia memiliki kegiatan utama bekerja, 32,85%
mengurus rumah tangga, 0,74% termasuk menganggur, dan kegiatan lainnya sekitar
18,49%.
Lansia dipandang sebagai beban pembangunan karena sudah tidak produktif dan
hidupnya bergantung pada generasi yang lebih muda. Beberapa penduduk lansia masih
bekerja, namun produktifitasnya sudah menurun sehinga pendapatan lansia lebih
rendah dibandingkan dengan usia produktif yang mengindikasikan tingkat
kesejahteraan lansia masih rendah. Struktur ageing population merupakan cerminan
tingginya rata-rata UHH di Indonesia. Tingginya UHH menjadi salah satu indikator
keberhasilan pembangunan nasional terutama di bidang kesehatan. Sejak tahun 2004 -
2015 tampak adanya peningkatan Usia Harapan Hidup di Indonesia dari 68,6 tahun
menjadi 70,8 tahun dan proyeksi tahun 2030-2035 mencapai 72,2 tahun.
Data BPS tahun 2018, 1,31% lansia pernah menjadi korban kejahatan dalam
setahun terakhir. Meskipun persentasenya termasuk kecil namun perlu juga menjadi
perhatian. Selain menjadi korban kejahatan, angka kesakitan penduduk lansia tahun
2018 sebesar 25,05% artinya dari setiap 100 orang lansia terdapat 25 orang di antaranya
mengalami sakit. Bila dilihat perkembangannya dari tahun 2005-2014, derajat
kesehatan penduduk lansia mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil Riskesdas 2013
selain masalah degeneratif, penurunan fungsi fisiologis pada lansia menyebabkan
penyakit terbanyak pada lanjut usia adalah Penyakit Tidak Menular (PTM) antara lain
hipertensi 55,76%, artritis 50,56%, stroke 48,7%.
Dalam rangka peningkatan kualitas hidup lansia pemerintah telah merumuskan
berbagai kebijakan pelayanan kesehatan lansia ditujukan dengan meningkatkan derajat
kesehatan lansia. Meninjau dari prevalensi data di atas, penulis tertarik untuk membuat

1
suatu kebijakan terkait kesejahteraan pada lansia, untuk meningkatkan kesejahteraan
lansia yang berkaitan dengan indeks pembangunan manusia di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka
rumusan masalah dari makalah ini adalah : “Bagaimana implementasi UU No. 13
Tahun 1998 pada ruang lingkup Puskesmas dan rancangan inovasi kebijakan pada
keperawatan gerontik di Puskesmas”.
atau
1. Apa isu keperawatan gerontik di puskesmas?
2. Apa kebijakan yang melandaskan program lansia yang sudah ada di Indonesia ?
3. Bagaimana rancangan kebijakan baru terkait keperawatan gerontik di Puskesmas ?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Tujuan pembuatan makalah ini untuk memenuhi tugas kebijakan kesehatan nasional
dan untuk membuat suatu kebijakan kesejahteraan lansia di Indonesia.
2. Tujuan khusus
a. Meningkatkan angka harapan hidup pada lansia, menurunkan angka kekerasan
pada lansia, dan menjadikan lansia sejahtera.
b. Tercapainya indeks pembangunan manusia di Indonesia.

D. Manfaat Penulisan
1. Lansia
Lansia dapat mencapai kesejahteraannya dengan mampu melakukan aktifitas
mandiri, terhindar dari kekerasan, dan mampu mempertahankan kualitas
kesehatannya.
2. Keluarga
Memfasilitasi keluarga dalam menyejahterakan lansia dengan memandirikan lansia,
memberikan perlindungan pada lansia dari kekerasan, dan menjaga kualitas
kesehatan lansia.
3. Masyarakat
Memberikan informasi yang aplikatif dan memfasilitasi masyarakatdalam
menyejahterakan lansia dengan memandirikan lansia, memberikan perlindungan
pada lansia dari kekerasan, dan menjaga kualitas kesehatan lansia.

2
E. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan penyelesaian dari makalah ini maka penulis menyusun sistematika
makalah sebagai berikut : BAB I Pendahuluan, berisi tentang latar belakang, rumusan
masalah, tujuan, manfaat, dan sistematika penulisan. BAB II Konsep Dasar, berisi isu
gerontik dan kebijakan terkait isu gerontik. BAB III Pembahasan, berisi rancangan
kebijakan dan inovasi. BAB IV Penutup, berisi tentang simpulan dan saran.

3
BAB II

KONSEP DASAR

A. Isu Gerontik
1. Fasilitas Kesehatan Lansia Kurang
KOMPAS.com - Indonesia belum memiliki fasilitas kesehatan memadai untuk
mengantisipasi lonjakan jumlah orang lanjut usia. Saat ini baru ada 528 puskesmas
santun lansia di Indonesia, sedangkan jumlah orang lansia yang membutuhkan
perawatan kesehatan mencapai 17,7 juta orang. Pemerintah masih menambah jumlah
puskesmas santun lansia setiap tahun untuk mempermudah perawatan orang lansia
sakit. ”Tapi, belum bisa mengimbangi penambahan jumlah orang lansia,” kata Ketua
II Komisi Nasional Lanjut Usia Toni Hartono, Sabtu (3/8), di Jakarta. Undang-
Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia mendefinisikan
orang lansia sebagai orang berusia di atas 60 tahun.
Adapun puskesmas santun lansia merupakan pusat kesehatan dengan program
dan fasilitas untuk memudahkan orang lansia mendapat pelayanan kesehatan.
Fasilitas itu, antara lain penerapan layanan satu atap yang membuat orang lansia tak
perlu berpindah ruangan saat berobat. Toni mengungkapkan, Indonesia akan
menghadapi ledakan jumlah orang lansia dalam beberapa dekade mendatang karena
peningkatan usia harapan hidup dan penurunan angka kelahiran. Sejak 1980-2010,
rata-rata peningkatan jumlah lansia tiap sepuluh tahun 3,33 juta orang. Namun,
berdasar proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), penambahan jumlah lansia pada
2010-2020 akan mencapai 10,8 juta orang. Sensus Penduduk 2010, ada 18,04 juta
lansia (7,6 persen total penduduk).
Jumlah itu diproyeksikan akan meningkat menjadi 28,88 juta orang (11,34
persen). Sementara itu, proyeksi Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa
(UNFPA), jumlah orang lansia di Indonesia akan mencapai 80 juta orang (25 persen)
pada tahun 2050. Peningkatan jumlah orang lansia disertai peningkatan kebutuhan
terhadap layanan kesehatan, karena mereka yang berusia lanjut biasa menderita
sejumlah penyakit. Kementerian Kesehatan memperkirakan, hanya 1,8 persen orang
lansia sehat sehingga sedikitnya ada 17,7 juta yang butuh layanan kesehatan.
Permasalahan orang lansia Problem utama orang lansia adalah gangguan organ
tubuh, misalnya gangguan penglihatan dan pendengaran, serta penurunan

4
kemampuan berjalan. Riset Kesehatan Dasar 2007, lebih dari 50 persen orang berusia
di atas 55 tahun mengalami disabilitas. Masalah utama lain adalah katarak, penyakit
sendi dan tulang, penyakit gigi mulut, stroke, hipertensi, dan sebagainya. Namun,
kebutuhan itu belum disertai jumlah fasilitas kesehatan memadai.
Data Kementerian Kesehatan, sampai Juni 2013, baru ada 528 puskesmas
santun lansia di 231 kabupaten/kota di Indonesia. Selain puskesmas, layanan
kesehatan juga dilakukan melalui posyandu orang lansia yang kini berjumlah 69.500
unit. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dien Emawati mengatakan, posyandu
orang lansia berperan penting menjaga kesehatan mereka. ”Posyandu lansia diisi
senam, pemeriksaan kesehatan, penyuluhan kesehatan, dan permainan,” ujarnya.
Hingga Juni 2013, ada 1.512 posyandu orang lansia di Jakarta. Namun, implementasi
posyandu orang lansia belum maksimal.
Menurut Sri Mulyana, pengelola Posyandu Lansia Samara di Kelurahan
Pondok Pinang, Jakarta Selatan, dukungan pemerintah kepada posyandu lansia di
wilayahnya kurang. Sejak 2002, Sri dan 10 tetangganya membuat posyandu lansia
swadaya. ”Pihak kelurahan dan puskesmas beralasan tidak ada dana untuk posyandu
lansia. Bahkan tenaga kesehatan dari puskesmas juga jarang datang ke acara rutin
tiap bulan,” kata Sri. (K02

2. DPD: Kesejahteraan Lansia Kurang Diperhatikan


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komite III Dewan Perwakilan Daerah
(DPD) RI menilai pemerintah kurang memberikan perhatian kepada kesejahteraan
lanjut usia (lansia). Padahal harap hidup lansia saat ini telah meningkat, namun sisi
lain berbanding terbalik dengan masalah kesehatan dan sosial. "Kesejahteran lansia
kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah baik kesehatan maupun sosial.
Permasalahan itu perlu menjadi perhatian bersama dengan meningkatnya harapan
hidup lansia,” ucap Ketua Komite III DPD RI Dedi Iskandar Batubara saat RDPU
membahas ‘Permasalahan Kesejahteraan Lanjut Usia’ di Gedung DPD RI, Jakarta,
Selasa (9/10), seperti dalam siaran persnya. Dirinya menambahkan untuk sektor
kesehatan, seharusnya untuk lansia tidak hanya mengatasi penyakit. Melainkan
memberikan semangat hidup atau dukung moril sehingga masyarakat bisa
memberikan kesempatan dan ruang bagi mereka. “Tentunya dengan adanya dorongan
moril akan membantu memberikan semangat bagi lansia,” kata senator asal Sumatera
Utara itu. Dikesempatan yang sama, Anggota Komite III DPD RI Ahmad Sadeli

5
Karim menilai saat ini pelajaran budi pekerti di sekolah sudah tidak ada lagi.
Menurutnya, hal tersebut mengakibatkan kurang perhatiannya kepada orang tua dan
para lansia.
“Pelajaran budi pekerti merupakan basic bagi generasi muda. Maka saat ini
kebanyakan anak-anak sekarang tidak peduli dengan orang tua,” papar dia. Ahmad
Sadeli juga meminta kepada pemerintah agar pelajaran budi pekerti bisa diterapkan
kembali di sekolah-sekolah. Selain itu, keluarga juga menjadi faktor penting untuk
bisa saling mengerti antara anak dan orang tua. “Tentunya kita harus mengusulkan
pemerintah agar pelajaran itu bisa diterapkan kembali,” lontarnya.
Disisi lain, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Euis Sunarti menjelaskan
kesejahteraan lansia merupakan keniscayaan, mengingat jumlah lansia di Indonesia
semakin meningkat. Berdasarkan data proyeksi penduduk diperkirakan 2017 terdapat
23,66 juta jiwa penduduk lansia. Menurutnya, diprediksi jumlah penduduk lansia
tahun 2020 (27,08 juta), di tahun 2025 (33,69 juta), dan pada 2035 (48,19 juta). Dari
tahun 2015, Indonesia sudah memasuki era penduduk menua karena jumlah
penduduknya berusia 60 tahun ke atas melebihi 7 persen. Komposisi penduduk tua
bertambah dengan pesat disebabkan penurunan angka kelahiran, kematian, dan
peningkatan angka harapan hidup.
Euis menambahkan, kesehatan menjadi permasalahan yang mendominasi
penduduk lansia. Artinya hal itu menyebabkan menurunnya kemampuan fisik dan
mental. “Alhasil menyebabkan membutuhkan pelayanan kesehatan meningkat,”
paparnya. Sementara itu, Pusat Kajian dan Layanan Lansia Tukino mengatakan
penuaan penduduk menjadi isu yang dihadapi banyak negara tak terkecuali Indonesia.
Namun seharusnya para lansia masih dapat berpatisipasi dan aktualisasi diri. “Maka
lansia tidak selalu dinilai dari segi ekonomi,” ujar dia. Ia menilai permasalahan yang
mendominasi penduduk lansia di Indonesia, yaitu proporsi lansia semakin besar
sehingga memerlukan perhatian dan perlakuan khusus dalam pelaksanaan
pembangunan. “Proses penuaan memiliki tiga aspek yaitu biologis, ekonomi, dan
sosial. Tiga hal ini yang menjadi PR (pekerjaan rumah) bersama,” kata Tukino.
B. Kebijakan
1. Posbindu (Pos Pembinaan Terpatu Lanjut Usia) diatur dalam peraturan Mentreri
Kesehatan RI No.25 tahun 2016 tentang rencana aksi nasional kesehatan lanjut
usia tahun 2016-2019.
2. Ramah Lansia
6
(Di atur dalam Peraturan Menteri Sosial No.7 tahun 2017 tentang Pedoman
Pengembangan Kawasan Ramah Lanjut Usia)
3. Bina Keluarga Lansia
(Diantur dalam Undang - Undang 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut
Usia.)
4. Rumah Sehat Lansia
(Di atur dalam Peraturan Walikota Jogjakarta No. 61 Tahun 2013)
5. Puskesmas Santun Lansia
6. Taman Lansia
7. Program Kota Ramah Lansia

7
BAB III

RANCANGAN KEBIJAKAN DAN PEMBAHASAN

A. Proses Kebijakan
1. Fase Agenda
a. Membangun presepsi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA menuliskan artikel tentang
Kesejahteraan lansia yang dianggap kurang diperhatikan. Komite III Dewan
Perwakilan Daerah (DPD) RI menilai pemerintah kurang memberikan
perhatian kepada kesejahteraan lanjut usia (lansia) terlepas dari peningkatan
angka harapan hidup lansia. Seperti yang dikatakan Departemen Ilmu
Keluarga dan Konsumen, Euis Sunarti, kesejahteran lansia kurang
mendapatkan perhatian dari pemerintah baik kesehatan maupun sosial.
Permasalahan ini perlu menjadi perhatian bersama dengan meningkatnya
harapan hidup lansia. Menurutnya, diprediksi jumlah penduduk lansia tahun
2020 (27,08 juta), di tahun 2025 (33,69 juta), dan pada 2035 (48,19 juta).
Pusat Kajian dan Layanan Lansia, Tukino, juga mengatakan penuaan
penduduk menjadi isu yang dihadapi banyak negara tak terkecuali Indonesia.
Namun seharusnya para lansia masih dapat berpatisipasi dan
mengaktualisasikan diri mereka. Ia menilai permasalahan yang mendominasi
penduduk lansia di Indonesia, yaitu proporsi lansia semakin besar sehingga
memerlukan perhatian dan perlakuan khusus dalam pelaksanaan
pembangunan.
Angka harapan hidup merupakan ukuran kesehatan yang penting. Hal
ini mudah dibandingkan di berbagai negara dan mengajukan pertanyaan paling
mendasar tentang kesehatan: berapa lama seseorang berharap untuk hidup.
Harapan hidup meningkat karena peningkatan layanan kesehatan seperti
pemberian vaksin, pengembangan obat-obatan atau perubahan perilaku positif.
Oleh sebab itu, angka harapan hidup menentukan apakah suatu negara telah
meningkatkan kualitasnya dengan baik atau tidak. Selain itu, lansia memiliki
banyak keterampilan dan pengalaman, mereka telah hidup melalui situasi yang
bahkan tidak bisa dibayangkan oleh orang lain, namun kita terus mengabaikan
pengalaman seumur hidup ini ketika mereka justru mulai membutuhkan

8
perawatan dan dukungan. Lansia dapat berkontribusi pada tingkat makro di
suatu tempat kerja, dan pada tingkat lokal untuk komunitas mereka dan
jaringan individu dalam hal berbagi pengalaman. Mereka juga telah
berkontribusi selama beberapa dekade yang mana sering terlupakan.
Mencegah mereka dari catastrophic illness dan mempromosikan hidup yang
sehat dapat mengurangi pengeluaran negara, memungkinkannya dialokasikan
dalam menyediakan fasilitas yang lebih baik tidak hanya untuk mereka tetapi
juga bagi masyarakat untuk digunakan.

b. Membuat Batasan Masalah


1) Lansia yang masih berperan dalam dunia kerja namun produktifitas lansia
sudah mulai menurun dikarenakan beberapa faktor sehingga berdampak
pada pendapatan dan kesejahteraan lansia yang rendah.
2) Penyakit degeneratif yang dialami lansia mengakibatkan fungsi fisiologis
dan daya tahan tubuh pada lansia menurun sehingga Angka Kesakitan
Tinggi dan Usia Harapan Hidup (UHH) rendah.
3) Lansia menjadi korban kejahatan karena kondisi fisik yang menurun
seiring dengan bertambahnya usia.

c. Mobilisasi Pendekatan
1) Memberikan proposal program pada puskesmas kota target utama yang
akan dilaksanakan program tersebut.
2) Program dilakukan secara kontinyu
3) Setelah Programdilakukan secara kontinyu, puskesmas dinaikkan ke dinas
kesehatan.
4) Dari dinas kesehatan, program diajukan pada kementerian kesehatan
sesuai dengan Peraturan Menteri yang berlaku;
a) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 67 Tahun 2015 tentang
Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia di Pusat Kesehatan
Masyarakat
Pasal 2
(1) Pengaturan Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia di
Puskesmas bertujuan untuk: a.meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan tenaga kesehatan di Puskesmas dan sumber daya

9
manusia lainnya dalam melaksanakan pelayanan kesehatan
Lanjut Usia;
(2) meningkatkan pengetahuan dan kemampuan tenaga kesehatan
dalam merujuk pasien Lanjut Usia yang membutuhkan
penanganan lebih lanjut di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat
lanjutan;
(3) meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan
Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) bagi
kesehatan Lanjut Usia; dan d.menyelenggarakan pelayanan
kesehatan Lanjut Usia secara terkoordinasi dengan lintas
program, organisasi kemasyarakatan, dan dunia usaha dengan
asas kemitraan.

b) Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan


Upaya Peningkatan Kesejahteraan Lanjut Usia, yang antara lain
meliputi:
1) Pelayanan keagamaan dan mental spiritual seperti pembangunan
sarana ibadah dengan pelayanan aksesibilitas bagi lanjut usia;
2) Pelayanan kesehatan melalui peningkatan upaya penyembuhan
(kuratif), diperluas pada bidang pelayanan geriatrik/gerontologik;
3) Pelayanan untuk prasarana umum, yaitu mendapatkan kemudahan
dalam penggunaan fasilitas umum, keringanan biaya, kemudahan
dalam melakukan perjalanan, penyediaan fasilitas rekreasi dan
olahraga khusus;
4) Kemudahan dalam penggunaan fasilitas umum, seperti pelayanan
administrasi pemerintah (Kartu Tanda Penduduk seumur hidup),
pelayanan kesehatan pada sarana kesehatan milik pemerintah,
pelayanan dan keringanan biaya untuk pembelian tiket perjalanan,
akomodasi, pembayaran pajak, pembelian tiket rekreasi,
penyediaan tempat duduk khusus, penyediaan loket khusus,
penyediaan kartu wisata khusus, mendahulukan para lanjut usia.

10
5) Kemudian dari Dinas Kesehatan akan mengajukkan progam ke
Kementerian Kesehatan, untuk dijadikan program wajib di seluruh
puskesmas indonesia.

2. Tahap Formulasi dan Legitimasi Kebijakan


Sudah banyak kebijakan dan program yang di buat oleh pemerintah untuk
menyejahteraan lansia, berbagai kebijakan dan program pemerintah seperti
Posbindu, Ramah Lansia, Bina Keluarga Lansia, Rumah Sehat Lansia, Puskesmas
Santun Lansia, Taman lansia dan Program Kota Ramah Lansia sudah berhasil
untuk meningkatkan usia harapan hidup lansia dari tahun ke tahun dengan
kebijakan tersebut. Jumlah penduduk Lansia pada tahun 2006 sebesar kurang
lebih 19 juta, usia harapan hidup 66,2 tahun, pada tahun 2010 diperkirakan
sebesar 23,9 juta (9,77%), usia harapan hidupnya 67,4 tahun dan pada tahun 2020
diperkirakan sebesar 28,8 juta (11,34%), dengan usia harapan hidup 71,1 tahun.
Karena peningkatan usia harapan hidup lansia semakin meningkat maka
diperkirakan pada tahun 2020-2025 akan terjadi peningkatkan jumlah lansia di
seluruh indonesia. Oleh karena itu diperlukan kebijakan atau program yang
mengiringi peristiwa tersebut, kami membuat sebuah kebijakan yang diharapkan
dapat memberikan perubahan yang signifikan dan mengawal peningkatan jumlah
lansia agar implikasi negatif dapat ditekan.

3. Fase Implementasi Kebijakan


Mazmanian dan Sabatier (1983); memberikan langkah-langkah melakukan
intervensi dalam implementasi sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi masalah yang harus diintervensi.
b. Menegaskan tujuan yang hendak dicapai.
c. Merancang struktur proses implementasi.

Dengan demikian program harus disusun secara jelas dan harus dioperasionalkan
dalam bentuk proyek.

11
Jadi beberapa hal yang harus diperhatikan dalam implementasi adalah:
1) Pembentukan unit organisasi atau staf pelaksana upaya untuk
memahami dari tujuan kebijakan pemerintah benar-benar diwujudkan

Ketua

Wakil

Sekretaris II Sekretaris I

Bendahara II Bendahara I

Ketua Tim Ketua Tim Ketua Tim


Bidang Kesehatan Bidang Kekerasan Bidang Pekerjaan

Anggota Bidang Anggota Bidang Anggota Bidang


Kesehatan I Kekerasan I Pekerjaan I

Anggota Bidang Anggota Bidang Anggota Bidang


Kesehatan II Kekerasan II Pekerjaan II

Anggota Bidang Anggota Bidang Anggota Bidang


Kesehatan III Kekerasan III Pekerjaan III

12
2) Penjabaran tujuan dalam berbagai aturan pelaksana (Standard
operating procedures/SOP)
a) SOP mengenai Kesehatan Lansia

SOP KESEJAHTERAAN LANSIA


Prosedur No.Pokok No. Revisi Halaman 1 dari 1
Tetap 1 -

Tgl Terbit. Bekasi


03 September 2019

Ketua
Pengertian Kegiatan pembangunanan yang memperhatikan fungsi, kearifan, pengetahuan, keahlian,
keterampilan, pengalaman, usia, dan kondisi fisiknya, serta terselanggaranya pemeliharaan taraf
kesejahteraan sosial lanjut usia.
Tujuan 1. Memperpanjang usia harapan hidup dan masa produktif
2. Terwujudnya kemandirian dan kesejahteraan lansia
3. Melaksanakan fungsi sosial dan berperan aktif secara wajar dalam hidup bermasyarakat

Kebijakan LENTERA (Lansia Sejahtera)


Prosedur Pelayanan Kesehatan
1. Prosedure Pemeriksaan Tekanan Darah
2. Prosedure Pemeriksaan Gula Darah
3. Prosedure Pemeriksaan Asam Urat
4. Prosedure Pemeriksaan Kolestrol
5. Prosedure Pemeriksaan Berat Badan/ Tinggi Badan
Unit terkait  Poli Lansia

b) SOP mengenai Mendeteksi Kekerasan dan Penelantaran Pada Lansia


Evaluasi medis terperinci dari pasien yang diduga menerima perilaku
kekerasan diperlukan karena kondisi medis dan kejiwaan dapat
menyerupai abuse. Tanda-tanda kekerasan mungkin termasuk pada pola
cedera tertentu. Mewawancarai pasien dan caregiver secara terpisah sangat
membantu. Evaluasi untuk kemungkinan perilaku kekerasan harus
mencakup penilaian fungsi kognitif. Indeks Kecurigaan Kekerasan Pada
Lansia (The Elder Abuse Suspicion Index, EASI) divalidasi untuk
screening abuse pada lansia yang secara kognitif masih baik. Proses dua
langkah yang lebih rinci digunakan untuk screening lansia dengan
gangguan kognitif.

13
TIPE
KEKERASAN
(ABUSE) KARAKTERISTIK CONTOH

Finansial atau Penggunaan dana atau sumber daya Pencurian kartu debit atau kredit,
material secara ilegal atau tidak patut, eksploitasi paksaan untuk merampas aset
(mis., Pemindahan paksa properti
atau akun)

Pengabaian Penolakan yang disengaja atau tidak Kegagalan menyediakan makanan,


disengaja atau kegagalan pengasuh yang pakaian, tempat tinggal, perawatan
ditunjuk untuk memenuhi kebutuhan yang medis, kebersihan, atau stimulasi /
dibutuhkan untuk kesejahteraan lansia interaksi sosial yang memadai

Fisik Timbul rasa sakit atau cedera Menampar, memukul, menendang,


mencekok paksa makan, menahan
diri, menyerang dengan benda

Psikologis Timbul kesedihan mental Agresi atau ancaman verbal,


atau ancaman pelembagaan, isolasi
Emosional sosial, pernyataan yang memalukan
atau merendahkan

Seksual Kontak genital non-konsensual, Obrolan sugestif, aktivitas seksual


pembicaraan seksual yang tidak yang dipaksakan, menyentuh,
diinginkan membelai seseorang tidak secara
konsen

(1) Indeks Kecurigaan Kekerasan Pada Lansia (The Elder Abuse Suspicion Index,
EASI)
Beberapa instrumen yang dirancang untuk mendeteksi risiko atau dugaan
kekerasan telah divalidasi dalam pengaturan perawatan primer. EASI divalidasi dalam
pengaturan perawatan primer dan dapat digunakan untuk menyaring lansia yang
secara kognitif masih baik selama kunjungan rutin. EASI mencakup lima item yang
dijawab lansia, ditambah satu pertanyaan yang dapat mengidentifikasi lansia yang
berisiko. Setidaknya satu jawaban "ya" untuk pertanyaan 2 hingga 6 menunjukkan
perlunya penilaian lebih lanjut.

14
Dalam 12 bulan terakhir: Ya Tidak Tidak
1. Apakah Anda mengandalkan orang untuk hal-hal berikut: mendapatkan
mandi, berpakaian, berbelanja, perbankan, atau makan? jawaban
2. Adakah yang mencegah Anda mendapatkan makanan, pakaian, Ya Tidak Tidak
obat-obatan, kacamata? mendapatkan
jawaban
3. Pernahkah Anda kesal karena seseorang berbicara dengan Anda Ya Tidak Tidak
di tempat jauh yang membuat Anda merasa malu atau terancam? mendapatkan
jawaban
4. Adakah yang mencoba memaksa Anda untuk menandatangani Ya Tidak Tidak
surat atau menggunakan uang untuk melawan Anda? mendapatkan
jawaban
5. Adakah yang membuat Anda takut, menyentuh Anda dengan Ya Tidak Tidak
cara yang tidak Anda inginkan atau menyakiti Anda secara mendapatkan
fisik? jawaban
6. Abuse pada lansia dapat dikaitkan dengan temuan seperti kontak Ya Tidak Tidak yakin
mata yang buruk, withdrawn nature, kekurangan gizi, masalah
kebersihan, luka, memar, pakaian yang tidak pantas, atau
masalah kepatuhan pengobatan. Apakah Anda memperhatikan
hal ini hari ini atau dalam 12 bulan terakhir?
Catatan :
EASI dikembangkan untuk meningkatkan kecurigaan dokter akan levelat yang mungkin masuk akal
untuk mengusulkan rujukan untuk evaluasi lebih lanjut oleh layanan sosial. Layanan perlindungan
dewasa atau yang sederajat, meskipun keenam pertanyaan tersebut harus ditanyakan, sebuah
jawaban “ya” pada satu atau lebih pertanyaan 2 hingga 6 dapat menimbulkan kekhawatiran. EASI
divalidasi untuk dokter keluarga untuk memberikan kepada orang yang lebih tua dengan skor
Pemeriksaan Status Mini-Mental 24 atau lebih besar yang terlihat dalam pengaturan rawat jalan.

Skrining lansia untuk adanya tanda kekerasan dapat mengikuti proses satu
atau dua langkah, tergantung pada tingkat fungsi kognitif lansia. Ketika telah
diketahui lansia memiliki fungsi kognitif normal dan utuh dari waktu ke waktu,
dianjurkan skrining satu langkah menggunakan EASI. Ketika tidak diketahui atau
ada kecurigaan demensia, proses dua langkah dimulai dengan screening untuk
gangguan kognitif dengan Mini-Cog. Ini dapat diberikan dalam waktu kurang dari
lima menit dan memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang sebanding dengan.
Pemeriksaan Status Mini-Mental jika Mini-Cog negatif untuk demensia, dapat
diberikan EASI. Jika Mini-Cog positif, penilaian lebih lanjut harus mengklarifikasi
gangguan kognitif sebelum screening untuk abuse. Defisit kognitif mungkin
terbatas pada domain tertentu, dan lansia dapat mempertahankan memori dan
kapasitas di tempat lain.
15
(2) Tanda dan Gejala Kemungkinan Abuse atau Penelantaran Lansia

(a) Memar di lokasi yang tidak biasa (tidak melebihi tonjolan tulang; pada
lengan lateral, wajah, atau punggung; lebih besar dari 5 cm)
(b) Luka bakar dalam pola yang tidak konsisten dengan cedera yang tidak
disengaja atau dengan penjelasan yang diberikan (mis., Pola stocking atau
sarung tangan, penusukan paksa)
(c) Luka dekubitus, kecuali akibat decline yang tidak terhindarkan
(d) Dehidrasi, impaksi tinja
(e) Bukti kekerasan seksual
(f) Cedera jaringan lunak intraoral
(g) Malnutrisi, penurunan berat badan yang secara medis tidak dapat
dijelaskan
(h) Obat yang hilang
(i) Cidera berpola seperti tamparan tangan atau bekas gigitan; tanda ligatur
atau bekas luka di sekitar pergelangan tangan, pergelangan kaki, atau leher
menunjukkan pengekangan yang tidak pantas
(j) Kontrol yang buruk terhadap masalah medis meskipun rencana medis yang
masuk akal dan akses ke pengobatan
(k) Perdarahan ophthalmic subconjunctival atau vitreous
(l) Alopesia traumatis atau pembengkakan kulit kepala
(m) Fraktur yang tidak dapat dijelaskan
(n) Penundaan yang tidak biasa dalam mencari perawatan medis untuk cedera
(o) Urine burns (mirip dengan ruam popok parah), pakaian kotor, atau tanda-
tanda tidak memperhatikan kebersihan lainnya

(3) Rencana Keselamatan untuk Lanjut Usia yang Mengalami Kekerasan

Rencana keselamatan membantu mengidentifikasi opsi untuk lansia dan


memberikan ide untuk meningkatkan keselamatannya. Setiap rencana harus dibuat
secara individu, ditulis, disimpan di tempat yang aman, dan ditinjau secara teratur.
Rencana keselamatan dapat meliputi:

(a) Tempat yang aman untuk dikunjungi, seperti rumah teman atau anggota
keluarga, tempat penampungan, atau rumah sakit

16
(b) Strategi untuk mengurangi bahaya jika pasien akan terus melakukan kontak
dengan pelaku
(c) Checklist barang-barang penting untuk disimpan bersama di tempat yang aman
(d) Nomor telepon keluarga, teman, organisasi masyarakat, dan penyedia layanan
darurat
(e) Pertimbangan khusus, seperti kebutuhan transportasi, jika pasien tinggal di
daerah pedesaan
(f) Janji temu lanjut dengan dokter keluarga atau rujukan ke layanan lain

17
3) Koordinasi berbagai sumber dan pengeluaran pada kelompok sasaran serta pembagian tugas diantara badan pelaksana
No. Jabatan Tugas Pokok Fungsi
1. Ketua Menyelenggarakan perumusan, 1. Penyelenggaraan perencanaan program kebijakan
penetapan, mengoordinasikan dan 2. Penyelenggaraan perumusan kebijakan dan fasilitas pengawasan
mengendalikan pelaksanaan kebijakan. kebijakan
3. Penyelenggaraan pemeriksaan, pengutusan, pengujian, evaluasi,
monitoring, dan penilaian kebijakan
4. Pelaksanaan kebijakan dan fasilitasi kebijakan
5. Penyelenggaraan administrasi kesekretariatan.
2. Wakil Membantu ketua dalam melaksanakan 1. Perencanaan dan pengusulan program pengawasan wilayah I
pengawasan terhadap pelaksanaan 2. Pengkajian bahan kebijakan pengawasan dan fasilitasi
urusan pemerintahan di daerah, pengawasan
mencakup Bidang Kesehatan, Bidang 3. Pemeriksaan, pengusutan,pengujian, evaluasi, monitoring, reviu
Kekerasan dan Pekerjaan. dan penilaian tugas pengawasan
4. Pengoordinasian pelaksanaan pengawasan
5. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan
tugas dan fungsinya.
3. Sekertaris 1 Merencanakan operasional, mengelola, 1. Perencanaan operasional urusan umum, kepegawaian, serta
mengoordinasikan, dan mengendalikan pengelolaan perencanaan, evaluasi dan pelaporan
urusan umum, kepegawaian, 2. Pengelolaan urusan umum, kepegawaian, perencanaan, evaluasi
perencanaan, evaluasi dan pelaporan. dan pelaporan

18
3. Pengendalian, evaluasi dan pelaporan urusan umum,
kepegawaian, serta pengelolaan perencanaan, evaluasi dan
pelaporan
4. Pengoordinasian urusan umum, kepegawaian, perencanaan,
evaluasi dan pelaporan ketua
5. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan
tugas dan fungsinya.
4. Sekretaris II Mengevaluasi dan melaporkan urusan 1. Perencanaan operasional urusan umum, kepegawaian, serta
umum, kepegawaian, keuangan, pengelolaan perencanaan, evaluasi dan pelaporan
perencanaan, evaluasi dan pelaporan. 2. Pengelolaan urusan umum, kepegawaian, perencanaan, evaluasi
dan pelaporan
3. Pengendalian, evaluasi dan pelaporan urusan umum,
kepegawaian, serta pengelolaan perencanaan, evaluasi dan
pelaporan
4. Pengoordinasian urusan umum, kepegawaian, perencanaan,
evaluasi dan pelaporan ketua
5. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan
tugas dan fungsinya.

19
5. Anggota Merumuskan, mengkoordinasi, 1. Merumuskan langkah-langkah strategis dan teknis untuk
Bidang melaksanakan, bekerja sama, dan melaksanakan kegiatan yang diamanatkan
Kesehatan melaporkan tugas yang telah diberikan. 2. Mengkoordinasikan komponen-komponen kepanitiaan untuk
pelaksanaan kegiatan
3. Bertanggung jawab terhadap ketua bidang dalam melaksanakan
kegiatan yang diamanatkan
4. Dalam melaksanakan tugas bertanggung jawab kepada ketua
bidang kesehatan.
6. Anggota Merumuskan, mengkoordinasi, 1. Merumuskan langkah-langkah strategis dan teknis untuk
Bidang melaksanakan, bekerja sama, dan melaksanakan kegiatan yang diamanatkan
Kekerasan melaporkan tugas yang telah diberikan. 2. Mengkoordinasikan komponen-komponen kepanitiaan untuk
pelaksanaan kegiatan
3. Bertanggung jawab terhadap ketua bidang dalam melaksanakan
kegiatan yang diamanatkan
4. Dalam melaksanakan tugas bertanggung jawab kepada ketua
bidang kekerasan.
7. Anggota Merumuskan, mengkoordinasi, 1. Merumuskan langkah-langkah strategis dan teknis untuk
Bidang melaksanakan, bekerja sama, dan melaksanakan kegiatan yang diamanatkan
Pekerjaan melaporkan tugas yang telah diberikan. 2. Mengkoordinasikan komponen-komponen kepanitiaan untuk
pelaksanaan kegiatan
3. Bertanggung jawab terhadap ketua bidang dalam melaksanakan

20
kegiatan yang diamanatkan
4. Dalam melaksanakan tugas bertanggung jawab kepada ketua
bidang pekerjaan .

a. Ketua
b. Wakil
c. Sekretaris I
d. Sekretaris II
e. Bendahara I
f. Bendahara II
g. Ketua Tim Bidang Kesehatan
h. Ketua Tim Bidang Kekerasan
i. Ketua Tim Bidang Pekerjaan
j. Anggota Bidang Kesehatan I
k. Anggota Bidang KesehatanII
l. Anggota Bidang Kesehatan III
m. Anggota Bidang Kekerasan I
n. Anggota Bidang Kekerasan II
o. Anggota Bidang Kekerasan III
p. Anggota Bidang Pekerjaan I
q. Anggota Bidang Pekerjaan II
r. Anggota Bidang Pekerjaan III

21
4) Pengalokasian Sumber Daya untuk Mencapai Tujuan
Seperti kita tahu, sumber daya yang kita miliki pasti terbatas, baik itu
berupa dana, asset, maupun sumber daya manusia. Untuk itu, suatu organisasi
perlu melakukan strategi pengalokasian secara efektif. Efektif berarti
organisasi harus mampu menempatkan sumber daya yang dimiliki sesuai
dengan tujuan yang jelas. Setelah melakukan proses secara efektif, organisasi
perlu menerapkan efisiensi dalam proses pengalokasian sumber daya.
Maksudnya, organisasi harus menekan anggaran pengeluaran atau melakukan
strategi itu dalam waktu yang sesingkat mungkin. Dengan demikian, tujuan
dapat tercapai secara efektif dan efisien. Semakin efektif kinerja organisasi,
semakin mudah dalam mewujudkan visi yg dimiliki.
Menurut Jackson dan Schuler, perencanaan sumber daya manusia yang
tepat membutuhkan langkah-langkah tertentu berkaitan dengan aktivitas
perencanaan sumber daya manusia menuju organisasi modern. Langkah-
langkah tersebut meliputi:
a) Pengumpulan dan analisis data untuk meramalkan permintaan maupun
persediaan sumber daya manusia yang diekspektasikan bagi perencanaan
masa depan.
b) Mengembangkan tujuan perencanaan sumber daya manusia.
c) Merancang dan mengimplementasikan program-program yang dapat
memudahkan organisasi untuk pencapaian tujuan perencanaan sumber
daya manusia.
d) Mengawasi dan mengevaluasi program-program yang berjalan.

Keempat tahap tersebut dapat diimplementasikan pada pencapaian tujuan


jangka pendek (kurang dari satu tahun), menengah (dua sampai tiga tahun),
maupun jangka panjang (lebih dari tiga tahun).

4. Fase Evaluasi Kebijakan


Evaluasi merupakan salah satu tahapan penting dalam proses kebijakan publik,
namun seringkali tahapan ini diabaikan dan hanya berakhir pada tahap implementasi.
Evaluasi adalah kegiatan untuk menilai tingkat kinerja suatu kebijakan. Evaluasi
kebijakan digunakan untuk mengukur keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan suatu
kebijakan publik. Menurut Muhadjir dalam Widodo mengemukakan “Evaluasi
kebijakan publik merupakan suatu proses untuk menilai seberapa jauh suatu kebijakan

22
publik dapat “membuahkan hasil”, yaitu dengan membandingkan antara hasil yang
diperoleh dengan tujuan dan/atau target kebijakan publik yang ditentukan”. Dalam
bahasa yang lebih singkat Jones mengartikan evaluasi adalah “Kegiatan yang
bertujuan untuk menilai “manfaat” suatu kebijakan”. Serta secara umum evaluasi
kebijakan dapat dikatakan sebagai “Kegiatan yang menyangkut estimasi atau
penilaian kebijakan yang menyangkut substansi, implementasi, dan dampak”.40 Hal
ini berarti bahwa proses evaluasi tidah hanya dapat dilakukan pada tahapan akhir saja,
melainkan keseluruhan dari proses kebijakan dapat dievaluasi.

a. Kriteria Evaluasi Kebijakan

Evaluasi kebijakan publik, dalam tahapan pelaksanaannya menggunakan


pengembangan beberapa indikator untuk menghindari timbulnya bias serta sebagai
pedoman ataupun arahan bagi evaluator. Kriteria-kriteria yang ditetapkan menjadi
tolak ukur dalam menentukan berhasil atau tidaknya suatu kebijakan publik. Nugroho
menjelaskan bahwasannya evaluasi memberi informasi yang valid dan dapat
dipercaya mengenai kinerja kebijakan, yaitu seberapa jauh kebutuhan, nilai, dan
kesempatan telah dapat dicapai melalui tindakan publik. William N. Dunn
mengemukakan beberapa kriteria rekomendasi kebijakan yang sama dengan kriteria
evaluasi kebijakan, kriteria rekomendasi kebijakan terdiri atas :

1) Efektifitas (effectiveness). Berkenaan dengan apakah suatu alternatif mencapai


hasil (akibat) yang diharapkan, atau mencapai tujuan dari diadakannya tindakan.
Efektifitas, yang secara dekat berhubungan dengan rasionalitas teknis, selalu
diukur dari unit produk atau layanan atau nilai moneternya.
2) Efisiensi (efficiency). Berkenaan dengan jumlah usaha yang diperlukan untuk
menghasilkan tingkat efektifitas tertentu. Efisiensi yang merupakan sinonim dari
rasionalitas ekonomi adalah merupakan hubungan antara efektifitas dan usaha,
yang terakhir umumnya diukur dari ongkos moneter.
3) Kecukupan (adequacy). Berkenaan dengan seberapa jauh suatu tingkat efektifitas
memuaskan kebutuhan, nilai, atau kesempatan menumbuhkan adanya masalah.
Kriteria kecukupan menekankan pada kuatnya hubungan antara alternatif
kebijakan dan hasil yang diharapkan.
4) Perataan (equity). Erat berhubungan dengan rasionalitas legal dan sosial dan
menunjuk pada distribusi akibat dan usaha antara kelompok-kelompok yang
23
berbeda dalam masyarakat. Kebijakan yang berorientasi pada perataan adalah
kebijakan yang akibatnya (misalnya, unit pelayanan atau manfaat moneter) atau
usaha (misalnya biaya moneter) secara adil didistribusikan. Kebijakan yang
dirancang untuk mendistribusikan pendapatan, kesempatan pendidikan, atau
pelayanan pendidikan kadang-kadang didistribusikan atas dasar kriteria
kesamaan. Kriteria kesamaan erat berhubungan dengan konsepsi yang saling
bersaing, yaitu keadilan atau kewajaran dan terhadap konflik etis sekitar dasar
yang memadai untuk mendistribusikan risoris masyarakat.
5) Responsivitas (responsiveness) berkenaan dengan seberapa jauh suatu kebijakan
dapat memuaskan kebutuhan, preferensi, atau nilai kelompok-kelompok
masyarakat tertentu. kriteria responsivitas adalah penting karena analisis yang
dapat memuaskan semua kriteria lainnya – efektifitas, efisiensi, kecukupan,
kesamaan – masih gagal jika belum menanggapi kebutuhan aktual dari kelompok
yang semestinya diuntungkan dari adanya suatu kebijakan.
6) Ketepatan (appropriateness). Kriterian ketepatan secara dekat berhubungan
dengan rasionalitas, substantif, karena pertanyaan tentang ketepatan kebijakan
tidak berkenaan dengan satuan kriteria individu tetapi dua atau lebih kriteria
secara bersama-sama. Ketepatan merujuk pada nilai atau harga dari tujuan
program dan kepada kuatnya asumsi yang melandasi tujuan-tujuan tersebut.
Sejalan dengan kriteria rekomendasi kebijakan tersebut, Dunn mengemukakan
kriteria evaluasi kebijakan antara lain:

b. Tabel
Kriteria Evaluasi Kebijakan

Tipe Kriteria Pertanyaan

Efektifitas Apakah hasil yang diinginkan telah dicapai?

Seberapa banyak usaha yang diperluka untuk mencapai hasil


Efisiensi
yang diinginkan?

Seberapa jauh pencapaian hasil yang diinginkan memecahkan


Kecukupan
masalah?

Apakah biaya dan manfaat didistribusikan dengan merata


Perataan
kepada kelompok-kelompok yang berbeda?

24
Apakah hasil kebijakan memuaskan kebutuhan, preferensi atau
Responsivitas
nilai kelompok-kelompok tertentu?

Apakah hasil (tujuan) yang diinginkan benar-benar berguna


Ketepatan
atau bernilai?

B. Inovasi Kebijakan

Kami berinovasi membuat kebijakan yang bertujuan untuk menyejahterakan


lansia. Hal ini didasari oleh :

1. Undang-undang no 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia


2. Peraturan Mentri Kesehatan no 67 tahun 2015 tentang penyelenggaraan
pelayanan kesehatan lanjut usia di pusat kesehatan masyarakat
3. Peraturan peemrintah no 43 tahun 2004 tentang pelaksanaan upaya
peningkatan kesejahteraan lanjut usia

Dan sejalan dengan program pemerintah untuk menghadapi angka pertumbuhan


lansia yang diprediksi akan meningkat pada tahun 2020-2025. Kebijakan kami
bernama LENTERA yang berisi screening lansia, intervensi lansia, kemudian
diimplementasikan dalam bentuk pendidikan kesehatan dan follow-up kasus jika
ditemukan. Kami memusatkan program kami secara holistik dalam tiga bidang yang
mencakup kesehatan, kesejahteraan dan keamanan pada lansia.

25
BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan
Lansia adalah seorang yang berusia 60 tahun ke atas (UU No. 13 Tahun 1998
tentang Kesejahteraan Lanjut Usia). Lansia dipandang sebagai beban
pembangunan karena sudah tidak produktif dan hidupnya bergantung pada
generasi yang lebih muda. oleh karena itu kebijakan-kebijakan yang terkait
dengan kesejahteraan lansia sudah sepatutnya terus di tingkatkan oleh pemerintah
guna menjamin para lansia hidup sehat dan sejahtera.
Kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah: Posbindu (Pos Pembinaan
Terpatu Lanjut Usia) diatur dalam peraturan Mentreri Kesehatan RI No.25 tahun
2016 tentang rencana aksi nasional kesehatan lanjut usia tahun 2016-2019. Ramah
Lansia (Di atur dalam Peraturan Menteri Sosial No.7 tahun 2017 tentang Pedoman
Pengembangan Kawasan Ramah Lanjut Usia). Bina Keluarga Lansia (Diantur
dalam Undang - Undang 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.)
Rumah Sehat Lansia (Di atur dalam Peraturan Walikota Jogjakarta No. 61 Tahun
2013), Puskesmas Santun Lansia, Taman Lansia, Program Kota Ramah Lansia.
Dengan adanya kebijakan-kebijakan pemerintah tentang Kesejahteraan lansia,
kami mendapat suatu inovasi kebijakan yang terkait dengan lansia, Kebijakan
kami bernama LENTERA yang berisi screening lansia, intervensi lansia,
kemudian diimplementasikan dalam bentuk pendidikan kesehatan dan follow-up
kasus jika ditemukan. Kami memusatkan program kami secara holistik dalam tiga
bidang yang mencakup kesehatan, kesejahteraan dan keamanan pada lansia.
Maka dari itu, kami membuat inovasi kebijakan yang bertujuan untuk
menyejahterakan lansia. Hal ini didasari oleh: Undang-undang No 13 tahun 1998
tentang kesejahteraan lansia, Peraturan Mentri Kesehatan No 67 tahun 2015
tentang penyelenggaraan pelayanan kesehatan lanjut usia di pusat kesehatan
masyarakat, Peraturan peemrintah no 43 tahun 2004 tentang pelaksanaan upaya
peningkatan kesejahteraan lanjut usia.

26
B. Saran
Sebaiknya pemerintah dapat mempertimbangkan dan menindak lanjuti
kebijakan ini sebagai bentuk pengembangan kesejahteraan lansia serta dalam
menangani permasalahan yang menyangkut kesejahteraan lansia dan terus
mengupdate kebijakan-kebijakan yang sudah ada sebelumnya menjadi lebih baik
lagi, selain itu perawat juga harus kritis dalam menerapkan asuhan keperawatan
pada lansia untuk meningkatkan dan mempertahankan kesejahteraan lansia.
Sekian makalah ini kami buat dan kami susun sesuai dengan format yang ada.
Terima kasih kepada pihak dan sumber yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini,sehingga dapat terselesaikan sampai batas waktu yang telah
ditentukan. Jika dalam penyusunan makalah ini terdapat kesalahan mohon kritik
dan saran yang besifat membangun.

27
Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. (2018).


Hoover, Robert M., et al. 2014. D. E. A. and N. A. and I. A. A. of F. P. (2014). No Title.
RI, P. D. dan I. K. K. (2013). Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI.
RI, P. D. dan I. K. K. (2016). Situasi lanjut usia (lansia).
Riant Nugroho. 2009. Public Policy. Jakarta : Elex Media Komputindo. (2009).
William N. Dunn. 2003. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Edisi Kedua. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press Hal. 610. (2003). No Title.

28