Anda di halaman 1dari 6

Pre dan Post ECT

A. Pengertian ECT
Terapi elektrokonvulsif (ECT) merupakan suatu jenis pengobatan somatik
dimanaarus listrik digunakan pada otak melalui elektroda yang ditempatkan pada
pelipis. Arus tersebut cukup menimbulkan kejang grand mal, yang darinya diharapkan
efekyang terapeutik tercapai. Mekanisme kerja ECT sebenarnya tidak diketahui,
tetapidiperkirakan bahwa ECT menghasilkan perubahan-perubahan biokimia didalam
otak (Peningkatan kadar norepinefrin dan serotinin) mirip dengan obat anti depresan.
Terapi elektrokonvulsif menginduksi kejang grand mal secara buatan dengan
mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang dipasang pada satu atau kedua pelipis
(Stuart, 2007). Dan menurut Townsend (1998) Terapi elektrokonvulsif (ECT)
merupakan suatu jenis pengobatan somatik dimana arus listrik digunakan pada otak
melalui elektroda yang ditempatkan pada pelipis. Arus tersebut cukup untuk
menimbulkan kejang gran mal, yang darinya diharapkan efek yang terapeutik
tercapai.

B. Jenis ECT
Jenis ECT ada 2 macam :
1. ECT konvensional
ECT konvensional ini menyebabkan timbulnya kejang pada pasien sehingga
tampak tidak manusiawi.Terapi konvensional ini di lakukan tanpa menggunakan
obat-obatan anastesi seperti pada ECT premedikasi.
2. ECT pre-medikasi
Terapi ini lebih manusiawi dari pada ECT konvensional,karena pada terapi ini di
berikan obat-obatan anastesi yang bisa menekan timbulnya kejang yang terjadi
pada pasien.

C. Frekuensi ECT
Frekuensi pemberian ECT tergantung pada keadaan pemberita yang dapat di
perlakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Pemberian ECT secara blok 2-4 hari berturut-turut 1-2 kali sehari.
2. Dua sampai tiga kali seminggu.
3. ECT “maintanance’ sekali tiap 2-4 minggu.
4. Pasien dengan gangguan depresi berat di berikan antara 5-10 kali.
5. Untuk pasien yang mengalami gangguan di polar,mania,dengan gangguan skijo
frenia,pasien baru mendapat respon yang maksimum setelah 20-25 kali tindakan
ECT.

D. Indikasi ECT
Pasien dengan penyakit depresif mayor yang tidak berespon terhadap antidepresan
atau yang tidak dapat meminum obat (Stuard, 2007).
1. Pasien dengan bunuh diri akut yang cukup lama tidak menerima pengobatan untuk
mencapai efek terapeutik.
2. Gangguan skizofrenia: skizofrenia katatonik tipe stupor atau tipe excited
memberikan respons yang baik dengan ECT. Cobalah antipsikotik terlebih dahulu,
tetapi jika kondisinya mengancam kehidupan (delyrium hyperexcited), segera
lakukan ECT.

E. Kontraindikasi ECT
Tidak ada kontraindikasi yang mutlak. Pertimbangkan resiko prosedur dengan bahaya
yang akan terjadi jika pasien tidak diterapi. Penyakit neurologik bukan suatu
kontraindikasi
1. Resiko sangat tinggi:
a. Peningkatan tekanan intrakranial (karena tumor otak, infeksi sistem saraf pusat),
ECT dengan singkat meningkatkan tekanan SSP dan resiko herniasi tentorium.
b. Infark miokard: ECT sering menyebabkan aritmia berakibat fatal jika terdapat
kerusakan otot jantung, tunggu hingga enzim dan EKG stabil.
2. Resiko sedang:
a. Osteoatritis berat, osteoporosis, atau fraktur yang baru, siapkan selama terapi
(pelemas otot) dan ablasio retina.
b. Penyakit kardiovaskuler (misalnya hipertensi, angina, aneurisma, aritmia),
berikan premedikasi dengan hati-hati, dokter spesialis jantung hendaknya ada
disana.
c. Infeksi berat, cedera serebrovaskular, kesulitan bernafas yang kronis, ulkus
peptik akut, feokromasitoma.
F. Efek Samping ECT
1. Kematian, angka kematian yang disebabkan ECT adalah bervariasi antara 1-1.000
dan 1-10.000 pasien. Resiko ini sama dengan resiko karena pemberian anastesi
umum. Kematian biasanya karena komplikasi kardiovaskuler.
2. Efek sistemik, pada pasien dengan gangguan jantung, dapat terjadi arritmia jantung
sementara. Arritmia ini terjadi karena bradikardia post ictal yang sementara dan
dapat dicegah dengan peningkatan dosis premedikasi anti kolinerjik. Arritmia
dapat juga terjadi karena hiperaktifitas simpathetiksewaktu kejang atau saat pasien
sadar kembali. Dilaporkan pula adanya reaksi toksis dan allergi terhadap obat yang
digunakan untuk prosedur ECT premedikasi, tetapi frekwensinya sangat jarang.
3. Efek cerebral,pada pemberian ECT bilateral dapat terjadi amnesia dan acute
confusion. Fungsi memori akan membaik kembali 1-6 bulan setelah ECT, tetapi
ada pasien yang melaporkan tetap mengalami gangguan memori (Tomb, 2004).

G. Peran Perawat Dalam Pelaksanaan Ect


1. Peran perawat dalam persiapan klien sebelum tindakan ECT
a. Anjurkan pasien dan keluarga untuk tenang dan beritahu prosedur tindakan yang
akan dilakukan.
b. Lakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk mengidentifikasi adanya
kelainan yang merupakan kontraindikasi ECT.
c. Siapkan surat persetujuan tindakan.
d. Klien dipuasakan 4-6 jam sebelum tindakan.
e. Lepas gigi palsu, lensa kontak, perhiasan atau jepit rambut yang mungkin
dipakai klien.
f. Klien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan defekasi.
g. Klien jika ada tanda ansietas, berikan 5 mg diazepam IM 1-2 jam sebelum ECT.
h. Jika klien menggunakan obat antidepresan, antipsikotik, sedatif hipnotik, dan
antikonvulsan, harus dihentikan sehari sebelumnya. Litium biasanya dihentikan
beberapa hari sebelumnya karena beresiko organik.
i. Premedikasi dengan injeksi SA (sulfatatropin) 0,6-1,2 mg setengah jam sebelum
ECT. Pemberian antikolinergik ini mengendalikan aritmia vagal dan
menurunkan sekresi gastrointestinal.
2. Persiapan alat
a. Perlengkapan dan peralatan terapi, termasuk pasta dan gel elektroda, bantalan
kasa, alkohol, saling,elektroda elektroensefalogram (EEG), dan kertas grafik.
b. Peralatan untuk memantau, termasuk elektrokardiogram (EKG) dan elektroda
EKG.
c. Manset tekanan darah, stimulator saraf perifer, dan oksimeter denyut nadi.
d. Stetoskop.
e. Palu reflex.
f. Peralatan intravena.
g. Penahan gigitan dengan wadah individu.
h. Pelbet dengan kasur yang keras dan bersisi pengaman serta dapat meninggikan
bagian kepala dan kaki.
i. Peralatan penghisap lender.
j. Peralatan ventilasi, termasuk slang, masker, ambu bag, peralatan jalan nafas
oral, dan peralatan intubasi dengan sistem pemberian oksigen yang dapat
memberikan tekanan oksigen positif. Obat untuk keadaan darurat dan obat lain
sesuai rekomendasi staf anastesi.
3. Prosedur pelaksanaan
Menurut pendapat Stuart (2007) berikut prosedur pelaksanaan terapi kejang listrik:
a. Berikan penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang prosedur.
b. Dapatkan persetujan tindakan.
c. Pastikan status puasa pasien setelah tengah malam.
d. Minta pasien melepaskan perhiasan, jepit rambut, kaca mata, dan alat bantu
pendengaran. Semua gigi palsu dilepaskan, tambahan gigi parsial
dipertahankan.
e. Pakaikan baju yang longgar dan nyaman.
f. Kosongkan kandung kemih pasien.
g. Berikan obat praterapi.
h. Pastikan obat dan peralatan yang diperlakukan tersedia dan siap pakai.
i. Bantu pelaksanaan ECT.
a) Tenangkan pasien.
b) Dokter atau ahli anastesi memberikan oksigen untuk menyiapkan pasien bila
terjadi apnea karena relaksan otot.
c) Berikan obat.
d) Pasang spatel lidah yang diberi bantalan untuk melindungi gigi pasien.
e) Pasang elektroda. Kemudian berikan syok.
f) Pantau pasien selama masa pemulihan
4. Peran perawat setelah ECT
Berikut adalah hal-hal yang harus dilakukan perawat untuk membantu klien dalam
masa pemulihan setelah tindakan ECT dilakukan yang telah dimodifikasi dari
pendapat Stuart (2007) dan Townsen (1998). Menurut pendapat Stuart (2007)
memantau klien dalam masa pemulihan yaitu dengan cara sebagai berikut:
a. Bantu pemberian oksigen dan pengisapan lendir sesuai kebutuhan.
b. Pantau tanda-tanda vital.
c. Setelah pernapasan pulih kembali, atur posisi miring pada pasien sampai sadar.
Pertahankan jalan napas paten.
d. Jika pasien berespon, orientasikan pasien.
e. Ambulasikan pasien dengan bantuan, setelah memeriksa adanya hipotensi
postural.
f. Izinkan pasien tidur sebentar jika diinginkannya.
g. Berikan makanan ringan.
h. Libatkan dalam aktivitas sehari-hari seperti biasa, orientasikan pasien sesuai
kebutuhan.
i. Tawarkan analgesik untuk sakit kepala jika diperlukan.
Menurut Townsend (1998), jika terjadi kehilangan memori dan kekacauan
mental sementara yang merupakan efek samping ECT yang paling umum hal ini
penting untuk perawat hadir saat pasien sadar supaya dapat mengurangi
ketakutanketakutan yang disertai dengan kehilangan memori. Implementasi
keperawatan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Berikan ketenangan dengan mengatakan bahwa kehilangan memori tersebut
hanya sementara.
2) Jelaskan kepada pasien apa yang telah terjadi.
3) Reorientasikan pasien terhadap waktu dan tempat.
4) Biarkan pasien mengatakan ketakutan dan kecemasannya yang berhubungan
dengan pelaksanaan ECT terhadap dirinya.
5) Berikan sesuatu struktur perjanjian yang lebih baik pada aktivitas-aktivitas
rutin pasien untuk meminimalkan kebingungan.
DAFTAR PUSTAKA

Stuart GW, Sundeen.2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.

Tomb, David. 2004, Buku Saku Psikiatri, edisi 6. Jakarta: EGC

Townsend, M.C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikitari
(terjemahan), Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.