Anda di halaman 1dari 22

KETERKAITAN SENI DENGAN AGAMA HINDU

Oleh :
Kelompok 1

NI PUTU MAYRA MIRANTI 1813011009


KADEK YUSTISIA WIDYAYANTI 1813011024
MADE VIRYA KUSUMA DEWI 1813011025

Kelas : 2C

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga
makalah yang berjudul “” ini dapat tersusun hingga selesai. Harapan kami semoga
makalah dapat menambah pengalaman dan pengetahuan bagi para pembaca. Untuk
kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar
menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih
banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca kami demi kesempurnaan dari
makalah ini.

Singaraja, 19 Mei 2019

Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman Judul……….……………………………………………………………..i

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii


DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ..................................... Error! Bookmark not defined.

1.1 Latar belakang masalah ........................... Error! Bookmark not defined.


1.2 Rumusan masalah ..................................................................................... 2
1.3 Tujuan ....................................................................................................... 2
1.4 Manfaat ..................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ....................................... Error! Bookmark not defined.

2.1 Hubungan Seni dengan Agama ................................................................ 6


2.2 Seni dalam Pandangan Agama Hindu .................................................... 12
2.3. Seni dalam Weda .................................................................................... 15
2.4. Peran Seni dalam Praktik Agama Hindu ........................................................... 17

BAB III PENUTUP .............................................................................................. 21

3.1 Kesimpulan .............................................. Error! Bookmark not defined.


3.2 Saran ........................................................ Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA ............................................ Error! Bookmark not defined.

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Secara umum banyak orang yang mengemukakan pengertian seni
sebagai keindahan. Pengertian seni adalah produk manusia yang mengandung
nilai keindahan bukan pengertian yang keliru, namun tidak sepenuhnya benar.
Jika menelusuri arti seni melalui sejarahnya, baik di Barat, sejak Yunani Kuno,
hingga ke Indonesia, nilai keindahan menjadi satu kriteria yang utama. Sebelum
memasuki tentang pengertian seni, ada baiknya dibicarakan lebih dahulu
apakah keindahan itu. Dalam karya seni dapat digali berbagai persoalan
objektif. Contohnya persoalan tentang susunan seni, anatomi bentuk, atau
pertumbuhan gaya. Penelaahan dengan metode perbandingan dan analisis
teoretis serta penyatupaduan secara kritis menghasilkan sekelompok
pengetahua ilmiah yang dianggap tidak tertampung oleh nama estetika sebagai
filsafat tentang keindahan. Sebagai suatu norma, aturan, maupun segenap
aktivitas masyarakat Indonesia, agama telah menjadi pola anutan masyarakat.
Dalam konteks inilah agama sekaligus telah menjadi budaya
masyarakat Indonesia. Di sisi lain, budaya lokal yang ada di masyarakat tidak
otomatis hilang dengan kehadiran agama di Indonesia. Budaya lokal mi
sebagian terus dikembangkan dengan mendapat warna. Perkembangan mi
kemudian melahirkan “akulturasi budaya,” antara budaya lokal dan agama.
Kita ketahui bahwa aspek kehidupan masyarakat pada dasarnya dapat
dilihat dari berbagai macam aspek, misalnya tingkah laku kehidupan sehari-hari
pada satu komunitas kelompok kemasyarakatan. Tingkah laku kehidupan di
masing-masing kelompok adalah berbeda-beda yang disesuaikan dengan
keadaan lingkungan tempat kelompok itu berada. Kebiasaan atas tingkah laku
yang ditunjukan oleh suatu komunitas masyarakat tersebut dinamakan dengan
tradisi. Tradisi ini timbul dari kebudayaan yang terdapat dalam kelompok
tertentu. Kebudayaan memiliki banyak aspek. Budaya dapat diartikan sebagai
segala hasil cipta, rasa, dan karsa manusia untuk membantu kehidupannya.
Maka dengan hal ini keberadaan seni yang ada dalam masyarakat termasuk

4
salah satu hasil dari kebudayaan yang tercipta dari kreatifitas rasa karsa manusia
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam pelaksanaan keagamaan agama
Hindu, umat senantiasa mengimplementasikannya dalam bentuk seni, sehingga
dalam pelaksanaan upacara agama senantiasa dibarengi dengan seni. Dalam
bahasa sansekerta seni berasal dari kata san yang berarti persembahan dalam
upacara agama, sehingga tidak salah kalau pelaksanaan upacara Agama Hindu
terdapat banyak sekali unsur-unsur seni di dalam pelaksanaannya, baik yang
berupa sesajen, suara (dharma gita), gambelan, dan gerak (tari, sikap mudra
sulinggih). Hal ini menjadikan seni dan agama adalah satu kesatuan yang tidak
dapat dipisahkan, karena pelaksanaan ajaran Agama Hindu dilakukan dengan
seni.
1.2.Rumusan Masalah
1.2.1. Apa Hakikat Seni dalam Agama Hindu?
1.2.2. Bagaimana Pandangan dan Hubungan Seni dalam Agama Hindu?
1.2.3. Bagaimana Pedoman Seni dalam Weda dan Peran Praktik seni dalam
agama Hindu?
1.3.Tujuan
1.3.1. Mengetahui Hubungan dengan Seni dalam Agama Hindu.
1.3.2. Mengetahui Pandangan Seni dalam Agama Hindu.
1.3.3. Mengetahui Bagaimana Pedoman Seni dalam Weda dan Peran Praktik
seni dalam agama Hindu.
1.4.Manfaat
1.4.1. Manfaat Bagi Penulis
Untuk memahami dan mengerti mengenai seni dalam Agama Hindu.
1.4.2. Manfaat Bagi Pembaca
Untuk menambah wawasan pembaca mengenai seni dalam Agama
Hindu.

5
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Hubungan Seni dengan Agama Hindu


2.1.1 Hubungan Seni dengan Agama
Einstein menyatakan bahwa antara agama, seni dan ilmu memiliki
keterkaitan dalam membangun hidup dan kehidupan manusia secara utuh. Agama
mengarahkan hidup manusia, seni menghaluskan hidup, dan ilmu bertujuan
memudahkan hidup manusia. Ketiga hal ini merupakan landasan budaya bagi setiap
masyarakat yang religius atau mendasarkan dirinya pada nilai-nilai agama. Hal ini
sejalan dengan definisi kebudayaan sebagaimana disampaikan oleh
Koentjaraningrat (2002:9) bahwa kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan
karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil
budi dan karyanya itu. Kebudayaan memang merupakan sesuatu hal yang kompleks
sehingga terlalu sulit untuk didefinisikan, bahkan beberapa orang mengidentikkan
antara kebudayaan dan kesenian.
Dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali, antara agama dan kesenian
atau seringkali dikatakan dengan kebudayaannya sangat sulit untuk dibedakan.
Padahal garis batas antara agama dan kebudayaan atau kesenian sangatlah jelas
walaupun tipis sekali kenyataannya. Hal ini memunculkan konfrontasi dalam
pemahaman masyarakat adalah tentang hubungan agama dengan
kebudayaannya.Agama merupakan landasan moral dan etika yang paling tinggi dari
berbagai bentuk kehidupan. Akan tetapi pemahaman ajaran agama yang tidak utuh
dan menyeluruh justru sering kali dapat membahayakan tidak saja bagi diri orang
tersebut tetapi juga bagi kehidupan dan kepentingan masyarakat secara luas.
Terkait dengan hal itu, Koentjaraningrat menyatakan bahwa ada tujuh unsur
kebudayaan universal, yaitu (1) sistem religi dan upacara keagamaan, (2) sistem
dan organisasi kemasyarakatan, (3) sistem ilmu pengetahuan, (4) bahasa, (5)
kesenian, (6) sistem mata pencaharian hidup, (7) sistem tekhnologi dan peralatan.
Dalam hal ini kesenian merupakan salah satu unsur dari kebudayaan universal yang
walaupun dalam kenyataannya berbeda dengan sistem religi atau upacara
keagamaan, tetapi pada kenyataannya memiliki hubungan yang tidak terpisahkan.
Koentjaraningrat menyatakan bahwa agama dalam hubungannya dengan
kebudayaan adalah bahwa agama merupakan sistem religi. Sistem religi
Koentjaraningrat (1987) menyatakan bahwa sistem religi terdiri atas lima
komponen yang saling berkaitan erat satu sama lain. Kelima komponen itu adalah
(1) Emosi keagamaan; (2) Sistem keyakinan; (3) Sistem ritus dan upacara; (4)
Peralatan Ritus dan Upacara; dan (5) Umat agama. Dalam kenyataan di dunia
empiris bahwa kaitan agama, kebudayaan dan kesenian akan tampak dalam sistem
ritus serta peralatan upacara. Agama memberikan nilai sakral atau sistem keyakinan
kepadanya sehingga menyebabkan munculnya emosi keagamaan dalam diri
penganutnya.
Emosi keagamaan menyebabkan manusia mempunyai sikap serba religius
merupakan suatu getaran yang menggerakkan jiwa manusia. Sistem keyakinan
dalam suatu religi berwujud pikiran dan gagasan manusia yang menyangkut
keyakinan dan konsepsi manusia tentang sifat-sifat Tuhan, tentang wujud alam
gaib, dunia akhir, roh nenek moyang, dewa-dewa, hantu serta sistem nilai, sistem
norma, kesusilaan, dan doktrin religi lainnya yang mengatur tingkah laku manusia.
Sistem keyakinan tersebut biasanya terkandung dalam kesusasteraan suci, baik
yang tertulis maupun lisan, seperti dongeng dan mitologi. Sistem ritus dan upacara
dalam suatu religi berwujud tindakan manusia dalam melaksanakan kebaktiannya
terhadap Tuhan, dewa-dewa, nenek moyang atau makhluk lainnya. Dalam sistem
ritus dan upacara biasanya digunakan sarana dan peralatan upacara. Komponen
kelima adalah umat atau kesatuan sosial yang menganut sistem keyakinan tersebut.
Dari kelima komponen tersebut, Koentjaraningrat menekankan bahwa emosi
keagamaan adalah komponen utama dari gejala religi. Seperti dijelaskan sebagai
berikut.
“Keyakinan, ritus serta upacara, peralatan ritus serta upacara dan umat agama, yang
berkaitan erat satu sama dengan lain dan saling pengaruh mempengaruhi, baru
mendapat sifat keramat yang mendalam apabila dihinggapi oleh komponen yang
saya sebut sebagai komponen utama, yaitu emosi keagamaan (Koentjaraningrat,
1987: 83).

7
Dalam hubungan antara agama dan kesenian akan tampak jelas dalam
sistem ritus dan upacara, serta peralatan upacara. Terutama dalam kehidupan
beragama Hindu di Bali yang selalu berkaitan dengan ritual yang cukup besar dan
penuh nilai seni. Jika diamati secara fisik akan tampak jelas bahwa apapun yang
dilakukan oleh masyarakat Hindu Bali dalam melaksanakan ajaran agamanya
adalah dengan nilai estetika atau kesenian. Kesenian yang dilaksanakan berkaitan
dengan pelaksanaan agama Hindu akan menumbuhkan emosi keagamaan sehingga
umat merasakan itu sebagai hal yang penuh nilai kesucian. Oleh sebab itu maka di
Bali kesenian dalam kaitannya dengan agama atau nilai kesakralannya dapat
dibedakan menjadi tiga hal, yaitu seni sakral (Wali), seni semi sakral (bebali), dan
seni profan (balih-balihan).
Berbagai macam pendapat tentang hubungan agama dan kebudayaan
mengindikasikan bahwa keduanya saling terkait erat. Geertz (1992:11)
menekankan pada agama sebagai sekumpulan persepsi manusia tentang simbol-
simbol sakral. Menurutnya, simbol-simbol sakral itu merubah persepsi manusia ke
dalam kecenderungan-kecenderungan akan kewajiban-kewajiban terhadap sesuatu
yang dinilai bersifat religius. Misalnya, aktivitas puasa menjadi bagian dari agama
ketika digunakan tidak sekedar untuk mengurangi berat badan, tetapi lebih
ditujukan untuk sesuatu yang bersifat psikis atau untuk dunia yang lebih abstrak.
Dalam bidang kesenian misalnya, tugu batu (palinggih)yang dibuat indah berukir
tidak saja sekedar akan bernilai seni tinggi tetapi lebih banyak menunjukkan tentang
kebesaran makna yang terkandung dalam tugu itu sebagai tempat pemujaan kepada
Tuhan.
Hal ini seturut dengan pemahaman Elliade (dalam Susanto, 1987:44-45)
tentang mitos-mitos sakral. Mitos telah mampu merubah pandangan masyarakat
terhadap sesuatu yang biasa (profan) menjadi hal yang disakralkan. Sapi yang
merupakan binatang biasa bagi orang-orang muslim, merupakan binatang yang
disakralkan oleh orang-orang Hindu. Artinya, antara kebudayaan dan agama secara
bersama-sama berlaku dalam kehidupan manusia, jika kebudayaan menggiring
manusia untuk merumuskan sebuah agama sebagai kesepakatan bersama, maka
agama adalah nilai dari kesepakatan itu sendiri yang didasarkan pada keyakinan.
Keyakinan merupakan sesuatu yang paling mendasar dalam agama karena tanpa
keyakinan agama tidak lebih dari sekedar hasil kebudayaan manusia yang bisa
hilang setiap saat.
2.1.2 Agama Hindu dan Kesenian di Bali
Kesenian dalam perspektif Hindu di Bali yang universal identik dengan
kehidupan religi masyarakatnya sehingga mempunyai kedudukan yang sangat
mendasar. Para penganutnya dapat mengekspresikan keyakinan terhadap Hyang
Maha Kuasa. Maka banyak muncul kesenian yang dikaitkan dengan pemujaan
tertentu atau sebagai pelengkap pemujaan tersebut.
Upacara di Pura-Pura (tempat suci) tidak lepas dari seni suara, tari,
karawitan, seni lukis, seni rupa dan sastra. Candi-candi, Pura-Pura, dibangun
sedemikian rupa sebagai ungkapan rasa estetika, etika dan sikap religius dari
penganut Hindu di Bali. Pregina (penari) dalam semangat ngayah (bekerja tanpa
pamrih) mempersembahkan tarian sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang
Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), bhakti dan pengabdian sebagai wujud
kerinduan ingin bertemu dengan sumber seni itu sendiri.
Para seniman pun ingin menyatu dengan seni karena sesungguhnya setiap
insan di dunia ini adalah percikan seni. Selain itu juga berkembang pertunjukkan
seni yang bersifat menghibur. Maka di Bali, berdasarkan sifatnya seni digolongkan
menjadi seni wali yang disakralkan dan seni yang tidak sakral (disebut profan) yang
berfungsi sebagai tontonan atau hiburan saja.
Pada seni tari, tari sakral atau wali adalah tari yang dipentaskan dalam
rangka suatu karya atau yadnya atau rangkaian ritual tertentu, dan tarian tersebut
biasanya disucikan. Kesuciannya tampak pada peralatan yang digunakan, misalnya
pada tari Pendet ada canang sari (sesajian janur dan bunga yang disusun rapi),
pasepan (perapian), dan tetabuhan. Pada tari Rejang pada gelungannya serta benang
penuntun yang dililitkan pada tubuh penari (khusus Rejang Renteng). Topeng
Sidakarya pada bentuk tapel (topeng), kekereb (tutup…), dan beras sekar ura
(bunga yang dipotong kecil-kecil untuk ditaburkan). Semuanya tidak boleh
digunakan sembarangan. Kesakralan juga ada pada si penari itu sendiri, misalnya
seorang penari Rejang atau penari Sang Hyang harus menampilkan penari yang
masih muda, belum pernah kawin, dan belum haid. Atau penarinya harus

9
melakukan pewintenan (upacara penyucian diri) dulu sebelum menarikan tarian
sakral.
Dalam sejarahnya tari wali ini sebagian besar dikaitkan dengan mitologi
agama yang berkembang di daerah tertentu. Mitologi ini mungkin dibuat bersamaan
atau sesudah tari wali itu diciptakan atau sebelumnya. Meskipun tarian ini
diciptakan manusia, tetapi karena sudah merupakan konsensus dari masyarakat
pendukungnya maka tari wali ini mendapat tempat khusus di hati masyarakat dalam
kaitannya dengan keyakinan agama, terutama agama Hindu.
Tari-tari wali yang tercipta di Bali mirip dengan tari-tari ritual di India.
Menurut mitologi tarian-tarian wali itu diciptakan oleh Dewa Brahma, dan Dewa
Siwa yang terkenal dengan tarian kosmisnya, yaitu Siwa Nata Raja. Di mana Dewa
Siwa memutar dunia dengan gerakan mudranya yang berkekuatan ghaib. Setiap
sikap tangan dengan gerakan tubuh memiliki makna dan kekuatan tertentu sehingga
tarian ini tidak hanya menampilkan keindahan rupa atau pakaian, tetapi mempunyai
kekuatan sekala dan niskala. Di Bali tidak sembarang digunakan. Hanya para
Sulinggih (Brahmana atau orang suci) saja yang menggunakan gerakan tangan
mudra ini, karena sangat sakral.
Di Bali untuk menambah kekuatan sekala dan niskala pada tarian sering
disertai dengan banten-banten (sesajian) Pasupati untuk penari atau perlengkapan
tari tertentu. Untuk pertunjukkan tari wali tertentu, diawali dengan sesajian dan
tetabuhan agar tidak diganggu bhuta kala giraha dan bhuta kala kapiragan. Tak
jarang persembahan tari dalam ritual tertentu dilakukan prosesi Pasupati, baik
secara sederhana dengan menggunakan banten Pasupati atau dilakukan dengan
lebih khusus, lebih besar atau istimewa untuk memohon agar si penari dibimbing
sesuai dengan kehendak Ida Betara.
Pasupati artinya raja gembala hewan. Maksudnya agar si penari layaknya hewan
gembala yang diatur dan digembalakan sepenuhnya oleh si penggembala, yaitu Ida
Betara. Maka setiap gerak-gerik penari tidak sepenuhnya berasal dari dirinya
sendiri, sebagian gerakannya dijiwai oleh Ida Betara yang dimohonkan. Sehingga
tarian itu akan memiliki niskala (kekuatan magis).
Hubungan antara agama dan kebudayaan atau lebih spesifik dengan
kesenian akan menjadi lebih jelas apabila dianalisa dengan wujud kebudayaan itu
sendiri. Bahwa kebudayaan menurut Koentjaraningrat setidaknya memiliki tiga
wujud, yaitu (1) kebudayaan sebagai sekumpulan ide-ide atau gagasan-gagasan,
(2) kebudayaan sebagai sistem aktivitas berpola, dan (3) kebudayaan sebagai
artefak atau benda-benda fisik. Agama secara langsung mewujudkan diri ke dalam
tiga wujud tersebut.
Dalam wujud ide-ide, maka ide-ide tentang agama adalah apa yang tertulis
dalam kitab suci yang diyakini oleh penyembahnya. Kitab suci yang merupakan
hasil perenungan dari orang-orang suci dinyatakan sebagai wahyu yang menjadi
sumber dari segala aktifitas religius manusia. Dalam wujud aktifitas, maka agama
adalah sekumpulan sistem aktifitas manusia dalam menjalankan apa saja perintah
dari kitab suci yang diyakininya. Dalam wujud inilah akan muncul kegiatan-
kegiatan ritual, puasa, sembahyang, juga berdoa. Dalam sistem kemasyarakatan,
juga menyebabkan munculnya stratifikasi sosial, misal adanya kelompok pendeta
atau alim ulama, munculnya kelompok penceramah atau pengkhotbah, munculnya
organisasi keagamaan. Dan wujud kebudayaan sebagai artefak-artefak maka agama
mewujudkan diri dalam benda-benda sakral. Dalam wujud ini, maka agama sebagai
kebudayaan menjadi sangat mudah diklasifikasikan. Adanya bangunan-bangunan
suci atau tempat ibadah, adanya patung-patung, salib, dan banyak lagi benda-benda
sakral yang berusaha diwujudkan oleh kebudayaan manusia dalam menghayati
agamanya.
Fenomena kehidupan beragama masyarakat Hindu di Bali sepertinya sangat
lekat dengan kehidupan kebudayaan orang Bali sendiri. Hal ini tampak bahwa
kehidupan orang Bali selalu berpelukan erat dengan kegiatan-kegiatan ritual, yang
bernuansa religius. Hal ini juga membedakan wajah agama Hindu di Bali dengan
agama Hindu lainnya, baik di Jawa maupun di India. Dalam beberapa pendapat,
seringkali agama Hindu di Bali dianggap tidak bisa memisahkan diri dengan adat
dan budayanya, atau antara agama, dan budaya Bali tidak ada bedanya.
Aktifitas seni dalam kehidupan masayrakat Bali memang tidak dapat
dilepaskan apalagi dengan kondisi perekonomian Bali yang sangat ditopang oleh
kepariwisataan. Lebih unik lagi tatkala kesenian merupakan bagian integral dalam

11
pelaksanaan agama Hindu di Bali. Dilihat dari idenya, antara kesenian dan aktifitas
beragama Hindu di Bali merupakan satu kesatuan dimana dalam kepercayaan
agama Hindu, Dewa Siwa merupakan perwujudan dari tarian kosmis (Siwa
Nataraja), dari Dewa Siwa-lah segala aktivitas kesenian muncul.
Secara umum kesenian meliputi seni pahat, seni bangunan, seni suara, seni
musik, dan seni tari. Dalam konsep tripartit kehidupan budaya masyarakat Hindu
di Bali selalu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu uttama, madya, nista, sakral, semi-
sakral, dan profan. Dalam konsep ini, kesenian Bali baik itu pahat, seni bangunan,
seni suara, seni musik, dan seni tari selalu menggunakan ketiga konsep tersebut.
Dalam seni bangunan misalnya selalu dibagi menjadi tiga hal, yaitu utama
(bangunan merajan/ tempat suci), madya (tempat tinggal), dan nista (pekarangan).
Seni bangunan Bali dalam kaitannya dengan agama Hindu bukanlah asal-asalan
melainkan berdasarkan lontar asta kosala-kosali dan asta bumi. Seni suara
(kidung), juga dibedakan penggunaannya sesuai dengan ajaran agama Hindu, misal
ada kidung untuk dewa yajna, manusa yajna, dan bhuta yajna. Seni tari, seperti
telah dikemukakan di depan bahwa juga dibagi atas tari wali, bebali dan balih-
balihan. Demikian erat nilai seni (estetika) masyarakat Bali dengan agama Hindu
sehingga agama Hindu di Bali nampak subur dan indah, bukan terkesan kering. Hal
ini tentu diharapkan akan membentuk jiwa umat Hindu yang halus dan penuh
kedamaian.

2.2 Pandangan Agama Hindu terhadap Seni

Agama dan seni adalah dua hal yang sangat dekat dan banyak
yang beranggapan bahwa seni dan agama sesuatu kesatuan yang utuh,padahal
agama dan seni punya kedudukan masing-masing,agamalah yang punya kedudukan
yang lebih mulia dari seni, namun keduanya mempunyai hubungan yang erat dalam
kehidupan.
Seni adalah kesanggupan akal manusia, baik berupa kegiatan rohani
maupun pisik untuk menghasilkan sesuatu [artistik] luar biasa menggugah
perasaan. Sedangkan Agama adalah sebuah sistem yang mengatur tata keimanan
[kepercayaan]dan peribadatan kepada Tuhan,serta tata kaidah yang berhubungan
dengan pergaulan manusia dengan lingkunganya. Estetika Hindu pada intinya
merupakan cara pandang mengenai rasa keidahan[lango] yang diikat oleh nilai-
nilai agama Hindu yang didasarkan atas ajaran-ajaran kitab suci Weda. Sebagai
landasan pokok konsep yang dianggap penting dalam dalam estetika Hindu seperti:
konsep kesucian, konsep kebenaran, dan konsep keseimbangan, konsep
kesucian[shiwam] nilai-nilai ketuhan yang mencakup yajna dan taksu.

Umat Hindu, seperti yang terlihat di Bali memiliki pandangan seni


yang diikat nilai –spiritual ketuhan sesuai dengan ajaran agama,bisa kita lihat
dalam dinamika praktek keagamaan seni mendapat peran yang tidak sedikit
bentuk sesaji persembahan yang demikian rumit,megah dan menakjubkan dengan
bentuk-bentuk simbul penuh dengan makna,demikian juga dengan kehadiran
patung-patung dewanya sebagai penghias kota yang selalu mengigatkan kita
masyarakat bali selalu berpikiran suci dan kebaikan
Sang Hyang Widhi itu Maha Inda dan sumber keindahan, itu diwujudkan
dalam dalam Siwa Nata Raja dengan tarian kosmisnya dikatakan sebagai
Penciptaan musik dan tari sekaligus menciptakan seni yang agung,atas kepercayaan
ini umat Hindu percaya bahwa segala sesuatu yang bernilai artistik adalah ciptaan
Tuhan,maka segala aktivitas kesenian yang diwujudkan dalam persembahan
kepada Tuhan.
Kesenian dalam perspektif Hindu di Bali yang universal identik dengan
kehidupan religi masyarakatnya sehingga mempunyai kedudukan yang sangat
mendasar. Para penganutnya dapat mengekspresikan keyakinan terhadap Hyang
Maha Kuasa. Maka banyak muncul kesenian yangdikaitkan dengan pemujaan
tertentu atau sebagai pelengkap pemujaan tersebut.Upacara di Pura-Pura (tempat
suci) tidak lepas dari seni suara, tari, karawitan, seni lukis, seni rupadan sastra.
Candi-candi, Pura-Pura, dibangun sedemikian rupa sebagai ungkapan rasa estetika,
etikadan sikap religius dari penganut Hindu di Bali. Pregina (penari) dalam
semangat ngayah (bekerjatanpa pamrih) mempersembahkan tarian sebagai wujud
bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa(Tuhan Yang Maha Esa), bhakti dan
pengabdian sebagai wujud kerinduan ingin bertemu dengansumber seni itu
sendiri.Para seniman pun ingin menyatu dengan seni karena sesungguhnya setiap
insan di dunia ini adalahpercikan seni. Selain itu juga berkembang pertunjukkan
seni yang bersifat menghibur. Maka di Bali,berdasarkan sifatnya seni digolongkan menjadi

13
seni wali yang disakralkan dan seni yang tidak sakral(disebut profan) yang berfungsi
sebagai tontonan atau hiburan saja
Masyarakat Hindu kesenian dibagi 2 menurut fungsinya, yaitu:
1. Seni sakral [sacred religius art].sewaktu-waktu utuk prsembahan kepada
Tuhan orisinil seperti rejang dewa,pretima,arca dll
2. Kesenian bebali [ceremonial art] untuk tontonan bersifat hiburan,tari
sambutan,kreasi,barong dance dll
Penciptaan seni di Bali menciptakan[berkesenian] atas dasar konsep
ngayah,baik pada masyarakat maupun hyang widhi,selalu melibatkan usur-unsur
ritual dalam setiap aktivitas berkesenian mereka untuk menjaga kesucian karya seni
yang dihasilkan dan mendapat sinar suci-Nya. Sebagai contoh sudah menjadi
kebiasaan untuk mengawali pertunjukan para seniman melakukan ritual ada yang
melakukan dengan terang-terangan dengan sesaji yang lengkap,dan ada yang
sembunyi-sembunyi dengan mengunakan sesaji yang sederhana. Upacara ini selalu
mengigatkan seniman dan penonton akan keberadaan Tuhan Ida Sang Hyang Widhi
Wasa. Berkesenian adalah sebuah persembahan suci [yajna] serta melibatkan
kekuatan sinar suci Hyang Widhi .
Nilai kebenaran, kejujuran, ketulusan, kesungguhan disajikan pada lakon-
lakon seni seperti drama,wayang kulit,drama tari calon narang hapir keseluruhan
mengetengahkan pertarungan antara nilai-nilai kebaikan dan keburukan dan
berakhir dengan kemenangan di pihak yang benar atau setidak-tidaknya imbang
tidak ada yang kalah dan yang menang,bahwa baik buruk itu akan selalu ada[rua
bineda].
Berkaitan dengan implementasi tentang estetika hindu dalam berkesenian
bagi masyarakat Bali disamping konsep-konsep yang telah diuraikan di atas,
terdapat pula beberapa konsep –konsep yang sangat mendasar dan menghasikan
karya seni yang betul memiliki greget/ taksu, adapun konsep-konsep tersebut antara
lain; konsep kepercayaan,konsep sekala dan niskala,konsep tri hita karana, karma
pala,konsep greget dan[ taksu ] jenggah.
2.4 Seni Dalam Weda
Setiap ajaran agama memberikan tuntunan untuk kesejahteraan dan
kebahagiaan umat manusia lahir dan batin dan diyakini pula bahwa ajaran
agama itu bersumber pada kitab suci. Demikian pula umat Hindu yakin bahwa
kitab sucinya itu merupakan wahyu atau sabda Tuhan Yang Maha Esa yang
disebut Śrutiyang artinya yang didengar (revealed teachings). Veda sebagai
himpunan sabda atau wahyu berasal dari Apauruseya (yang artinya bukan dari
Purusa atau manusia), sebab para rsi penerima wahyu berfungsi hanya sebagai
instrumen (sarana) dari Tuhan Yang Maha Esa untuk menyampaikan ajaran
suci-Nya. Sebagai kitab suci, Veda adalah sumber ajaran agama Hindu sebab
dari Veda- lah mengalir ajaran yang merupakan kebenaran agama Hindu.
Ajaran Veda dikutip kembali dan memberikan vitalitas terhadap kitab-kitab
susastra Hindu pada masa berikutnya. Dari kitab Veda-(Sruti) mengalirlah
ajarannya dan dikembangkan dalam kitab-kitab Smrti, Itihāsa, Purana, Tantra,
Darśaṇa dan Tatwa-tatwa yang kita warisi di Indonesia.
Kitab Upaweda adalah kelompok kedua dari Weda Smrti yang sama
pentingnya dengan Wedangga. Kata Upaweda berasal dari bahasa Sanskerta,
yang terdiri dari 2 kata yaitu “upa” yang artinya “dekat”dan “Weda” yang
artinya “pengetahuan suci atau kitab suci”. Upaweda berarti dekat dengan
pengetahuan suci. Seperti kita ketahui bahwa Weda Smrti dibagi menjadi dua
golongan besar yakni kelompok Wedangga (Sadangga), dan kelompok
Upaweda. Ada juga yang mengartikan Upaweda sebagai Veda yang lebih
kecil, sekitar hal-hal yang bersumber dari Veda. Upaveda adalah kitab-kita
yang menunjang pemahaman Veda, disebut juga sebagai Veda tambahan
sebagai bagian yang menjelaskan weda dengan bahasa yang lebih mudah
dimengerti.
Kelompok Upaweda terdiri dari beberapa jenis, diantaranya adalah
sebagai berikut:
1. Kitab Itihasa adalah sebuah epos yang isinya meneceritakan sejarah
perkembangan raja-raja dan kerajaan Hindu pada masa lampau. Kitan
ini dikelompokkan menjadi dua yakni kitan Ramayana dan
Mahabharata. adapun penyusunnya adalah Bahgawan Wyasa.

15
2. Kitab Purana Adalah kitab kedua dari Upaveda. ada pun isinya
adalah menceritakan tentang kebiasaan yang berlaku pada zaman dahulu
alias saman kuno.
3. Kitab Arthasastra adalah kitab yang berisi tentang pokok-pokok
pemikiran pada bidang ilmu politik salah satu kitabnya yakni
nitisastra/Rajadharma (dandaniti). Kitab ini ditulis oleh Bhagawan
Brhaspati
4. Kitab Ayurweda adalah kitab yang berisi tentang ilmu kesehatan
atau kedokteran baik secara rohani maupun jasmani.
5. Kitab Gandharwa Weda adalah kitab yang berisi tentang berbagai
aspek ilmu seni.
6. Kitab Kama Sastra adalah kitab yang berisi tentang segala sesuatu
yang berhubungan dengan asmara, cinta, seni atau rasa indah.
7. Kitab Agama adalah kitab yang berisi tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan ritual upacara keagamaan dan aturan atau tatacara
dalam melaksanakan upacara keagamaan.
Kehidupan manusia dari zaman pra sejarah hingga era infromasi seperti
saat ini tak dapat lepas dari eksistensi kesenian sebagai sebuah media
keindahan, hiburan, hingga media komunikasi yang cukup efektif. Munculnya
berbagai disiplin kesenian merupakan suatu cermin bagi perkembangan
peradaban kebudayaan manusia, karena seni merupakan salah satu hasil
budaya manusia. Kesenian pun lahir dengan beragam ketegori yang
kesemuanya dapat dinikmati oleh tiap indera; seni gerak, seni musik, seni lukis,
seni pahat, seni patung, seni peran, seni sastra, dsb. Dan kesemuanya memiliki
fungsi dan peran yang berbeda bagi kehidupan manusia, namun juga memiliki
sisi kesamaan.
Ada pendapat dalam dunia filsafat seni bahwa manusia adalah makhluk
pemuja keindahan. Melalui panca indra manusia menikmati keindahan dan
setiap saat tak dapat berpisah dengannya, dan berupaya untuk dapat
menikmatinya. Kalau tidak dapat memperolehnya manusia mencari kian
kemari agar dapat menemukan dan memuaskan rasa dahaga akan keindahan.
Manusia setiap waktu memperindah diri, pakaian, rumah, kendaraan dan
sebagainya agar segalanya tampak mempesona dan menyenangkan bagi yang
melihatnya. Semua ini menunjukkan betapa manusia sangat gandrung dan
mencintai keindahan. Seolah-olah keindahan termasuk konsumsi vital bagi
indra manusia.
Gandharwaveda sebagai kelompok Upaveda, menduduki tempat yang
penting dan ada hubungannya dengan Sama Veda. Di dalam kitab Purāna kita
jumpai pula keterangan mengenai Gandharwa Veda. Gandharwaveda juga
mengajarkan tentang tari, musik atau seni suara. Adapun nama-nama buku
yang tergolong Gandharwaveda tidak diberi nama Gandharwaveda, melainkan
dengan nama lain. Penulis terkenal Sadasiwa, Brahma dan Bharata. Bharata
menulis buku yang dikenal dengan Natyasāstra, dan sesuai menurut namanya,
Natya berarti tari-tarian, karena itu isinya pun jelas menguraikan tentang seni
tari dan musik. Sebagaimana diketahui musik, tari-tarian dan seni suara tidak
dapat dipisahkan dari agama. Bahkan Siva terkenal sebagai Natarāja yaitu
Dewa atas ilmu seni tari. Dari kitab itu diperoleh keterangan tentang adanya
tokoh penting lainnya, Wrddhabhārata dan Bhārata.
Wrddhabhārata terkenal karena telah menyusun sebuah Gandharwaveda
dengan nama Natyavedāgama atau dengan nama lain, Dwadasasahari.
Natyasāstra itu sendiri juga dikenal dengan Satasahasri. Adapun Bhārata
sendiri membahas tentang rasa dan mimik dalam drama. Dattila menulis kitab
disebut Dattila juga yang isinya membahas tentang musik. Atas dasar kitab-
kitab itu akhirnya berkembang luas penulisan Gandharwaveda antara lain
Nātya Śāstra, Rasarnawa , dan Rasarat Nasamucaya

2.5 Peran Seni Dalam Praktik Agama Hindu

Agama dan seni adalah dua hal yang sangat dekat dan banyak
yang beranggapan bahwa seni dan agama sesuatu kesatuan yang utuh,padahal
agama dan seni punya kedudukan masing-masing,agamalah yang punya
kedudukan yang lebih mulia dari seni, namun keduanya mempunyai hubungan
yang erat dalam kehidupan.
Seni adalah kesanggupan akal manusia, baik berupa kegiatan rohani
maupun pisik untuk menghasilkan sesuatu [artistik] luar biasa menggugah

17
perasaan. Sedangkan Agama adalah sebuah sistem yang mengatur tata
keimanan [kepercayaan]dan peribadatan kepada Tuhan,serta tata kaidah yang
berhubungan dengan pergaulan manusia dengan lingkunganya.
Seni mempunyai bentuk diantaranya;
 Seni yang dapat dinikmati melalui media pendengaran[audio art]
misalnya seni musik, seni suara, seni sastra
(puisi,pantun,kekidungan,gamelan)
 Seni yang dapat dinikmati dengan media penglihatan[visual art]
seperti lukisan, patung, bangunan, seni gerak, tari ,metetanganan dalam
mudra-mudra yang digunakan pendeta dalam memimpin upacara.
 Seni yang dinikmati melalui media penglihatan dan
pendengaran[Audio visual art] misalnya pertunjukan musik, pergelaran,
wayang kulit , arca, drama gong, film dll
Disadari atau tidak didalam kehidupan sehari-hari semua umat manusia
yang masih terikat dengan keduniawian membutuhkan keindahan,kita
berdandan bersolek di depan kaca biar menarik dalam bentuk ekspresi diri
untuk memperlihatkan keindahan,menciptakan bentuk-bentuk atau obyek
yang menyenangkan sesama,terus muncul sisi yang kedua yaitu “ rasa”
[lango]kesan yang dimunculkan obyek tersebut dan dalam menilai kualitas
seni sering sering ditinjau dari sudut agama,baik atau buruk,etis atau tidak
etis,dan seni akan kehilangan makna jika bertentangan dengan norma-norma
baik buruk yang berlaku di lingkungan atau daerah setempat.
Estetika Hindu pada intinya merupakan cara pandang mengenai rasa
keidahan[lango] yang diikat oleh nilai- nilai agama Hindu yang didasarkan
atas ajaran-ajaran kitab suci Weda. Sebagai landasan pokok konsep yang
dianggap penting dalam dalam estetika Hindu seperti: konsep
kesucian, konsep kebenaran, dan konsep keseimbangan, konsep
kesucian[shiwam] nilai-nilai ketuhan yang mencakup yajna dan taksu.
Umat Hindu, seperti yang terlihat di Bali memiliki pandangan seni
yang diikat nilai –spiritual ketuhan sesuai dengan ajaran agama,bisa kita lihat
dalam dinamika praktek keagamaan seni mendapat peran yang tidak sedikit
bentuk sesaji persembahan yang demikian rumit,megah dan menakjubkan
dengan bentuk-bentuk simbul penuh dengan makna,demikian juga dengan
kehadiran patung-patung dewanya sebagai penghias kota yang selalu
mengigatkan kita masyarakat bali selalu berpikiran suci dan kebaikan
Sang Hyang Widhi itu Maha Inda dan sumber keindahan, itu diwujudkan
dalam dalam Siwa Nata Raja dengan tarian kosmisnya dikatakan sebagai
Penciptaan musik dan tari sekaligus menciptakan seni yang agung,atas
kepercayaan ini umat Hindu percaya bahwa segala sesuatu yang bernilai
artistik adalah ciptaan Tuhan,maka segala aktivitas kesenian yang diwujudkan
dalam persembahan kepada Tuhan.
Masyarakat Hindu kesenian dibagi 2 menurut fungsinya, yaitu:
1. Seni sakral [sacred religius art].sewaktu-waktu untuk prsembahan
kepada Tuhan
2. Kesenian bebali [ceremonial art] untuk tontonan bersifat hiburan
Jenis - jenis seni sakral
Sehubungan dengan pelaksanaan upacara Panca Yadnya, maka terdapat
beberapa contoh jenis seni yang dapat mengiringinya antara lain:
 Seni Tari; Rejang, pendet, baris, sanghyang, bedayang semang,
tortor, gantar
 Seni Suara; Wargasari, gending sanghyang, sekar madya, sekar
agung, sloka/palawakya
 Seni Tabuh; gambang, saron, selonding, gong beri, gong luwang,
slonding, angklung, gender wayang.
 Seni Bangunan; padmasana, meru, gedong, rong tiga, candi bentar,
tugu karang
 Seni Rupa; arca/pratima, patung dwarapala, tapakan pelinggih,
pedagingan, boma, patung dewata nawa sanga
Jenis - jenis seni bebalian
 Seni tari; wayang, cak, gambuh, janger, topeng, legong, oleg,
sendratari, drama gong, arja
 Seni Suara; sekar alit, sekar madya, sekar agung, gending daerah
 Seni Tabuh; pegambuhan, pengarjan, semar pegulingan, gong

19
kebyar, pelegongan, pejangeran, joget pingitan, angklung bilah, gangsa
jongkok, joged bungbung, bebonangan, gong suling
 Seni Bangunan; Bangunan tradisi, bangunan pariwisata, bangunan
sosial, bangunan lainnya
 Seni Rupa; Relief pada bangunan, patung penghias bangunan,
patung setiap pojok yang bersifat hiasan
Penciptaan seni di Bali menciptakan[berkesenian] atas dasar konsep
ngayah,baik pada masyarakat maupun hyang widhi,selalu melibatkan usur-
unsur ritual dalam setiap aktivitas berkesenian mereka untuk menjaga kesucian
karya seni yang dihasilkan dan mendapat sinar suci-Nya. Sebagai contoh sudah
menjadi kebiasaan untuk mengawali pertunjukan para seniman melakukan
ritual ada yang melakukan dengan terang-terangan dengan sesaji yang
lengkap,dan ada yang sembunyi-sembunyi dengan mengunakan sesaji yang
sederhana. Upacara ini selalu mengigatkan seniman dan penonton akan
keberadaan Tuhan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Berkesenian adalah sebuah
persembahan suci [yajna] serta melibatkan kekuatan sinar suci Hyang Widhi .
Nilai kebenaran, kejujuran, ketulusan, kesungguhan disajikan pada
lakon-lakon seni seperti drama, wayang kulit, drama tari calonarang hampir
keseluruhan mengetengahkan pertarungan antara nilai-nilai kebaikan dan
keburukan dan berakhir dengan kemenangan di pihak yang benar atau setidak-
tidaknya imbang tidak ada yang kalah dan yang menang,bahwa baik buruk itu
akan selalu ada[rua bineda]
Berkaitan dengan implementasi tentang estetika hindu dalam
berkesenian bagi masyarakat Bali disamping konsep-konsep yang telah
diuraikan di atas, terdapat pula beberapa konsep –konsep yang sangat
mendasar dan menghasikan karya seni yang betul memiliki greget/ taksu,
adapun konsep-konsep tersebut antara lain; konsep kepercayaan,konsep sekala
dan niskala,konsep tri hita karana, karma pala,konsep greget dan[ taksu ]
jenggah.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.1.1. Seni dan agama tidak dapat di pisahkan atau saling melengkapi, karena
seni itu dipakai media untuk menyebarkan suatu ajaran atau kepercayaan
agama.Tanpa seni tidak mungkin karena seni adalah keindahan,dan seni
tanpa agama sangat membahayakan,karena insfirasi seni ide-ide liar dan
luas terkadang berlebihan akan terpelosok pada pemikiran-pemikiran
seni yang menjerumuskan untuk keluar dari tatanan hukum Agama.
3.1.2. Kesenian dalam perspektif Hindu di Bali yang universal identik dengan
kehidupan religi masyarakatnya sehingga mempunyai kedudukan yang
sangat mendasar. Para penganutnya dapat mengekspresikan keyakinan
terhadap Hyang Maha Kuasa.
3.1.3. Gandharwaveda sebagai kelompok Upaveda, menduduki tempat yang
penting dan ada hubungannya dengan Sama Veda. Di dalam kitab Purāna
kita jumpai pula keterangan mengenai Gandharwa Veda.
Gandharwaveda juga mengajarkan tentang tari, musik atau seni suara.
Agama dan seni adalah dua hal yang sangat dekat dan banyak yang
beranggapan bahwa seni dan agama sesuatu kesatuan yang utuh, padahal
agama dan seni punya kedudukan masing-masing,agamalah yang punya
kedudukan yang lebih mulia dari seni, namun keduanya mempunyai
hubungan yang erat dalam kehidupan.

3.2 Saran
Sebagai umat beragama hindu tentu kita harus tahu tentang seni dalam
persepektif agama hindu. Selain itu kita sebagai anak muda patut mempelajari
berbagai kesenian. Baik kesenian sakral maupun bebalian agar segala kesenian
tersebut dapat tetap lestari.

DAFTAR PUSTAKA
--------------------, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta, 2002.

21
Anonim.2016.Pendidikan Agama Hindu Untuk Perguruan
Tinggi.Jakarta:Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementrian
Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi
Geertz, Clifford, Kebudayaan dan Agama, Kanisius, Yogyakarta, 2003.
Haedi, Ayatroe, Kepribadian Budaya Bangsa, Pustaka Jaya, Jakarta, 1986
https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/66 diakses tanggal 21 Mei
2019
http swarahindudharma.com › Artikel diakses tanggal 21 Mei 2019
http://hindu-nesia.blogspot.com/2013/12/hubungan-antara-kesenian-dan-
agama.html
Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropolgi I, Universitas Indonesia Pers,
Jakarta,1987.
Notingham, Elizabeth K, Agama dan Masyarakat, Rajagrafindo Perkasa, Jakarta,
2002.
Pals, Daniel.L, Dekonstruksi Kebenaran, IRCisoR, Yogyakarta, 2002.
Rai Sudharta dan Puniatmadja, Upadesa, Paramita, Surabaya, 2001.
Susanto, P.Hari, Mitos Menurut Pemikiran Mircea Elliade, Kanisius, Jakarta,
1987.
Team, 2002, Estetika Hindu dan Kebudayaan Bali, Program Magister Ilmu
Agama dan Kebudayaan, UNHI.
Denpasar://ejournal.upi.edu/index.php/jpis/article/viewFile/1616/PDF diakses
tanggal 21 Mei 2019

Anda mungkin juga menyukai