Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KEGIATAN PPDH ROTASI

INTERNA HEWAN BESAR yang


dilaksanakan di FAKULTAS KEDOKTERAN
HEWAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Oleh :
DIAH LILIS LAILA, S.KH
NIM. 180130100111057

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2019
KATA

ii
PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah
memberikan hikmat dan anugerah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan kegiatan PPDH Rotasi Interna Hewan Besar yang dilaksanakan di Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Dalam menyelesaikan penulisan laporan
ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada banyak pihak yang telah membantu
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr. Ir. Sudarminto Setyo Yuwono, M. App. Sc., selaku dekan Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya.
2. drh. Wawid Purwatiningsih, M.Si selaku koordinator PPDH FKH UB.
3. drh. Analis Wisnu Wardhana, M.Vet selaku penguji ujian PPDH Rotasi
Interna Hewan Besar di FKH UB yang telah banyak memberikan arahan dan
masukan kepada penulis.
4. Drh. Ribut Hartono dan Drh. Deddy serta semua staff Kampung Sapi
Adventure yang telah memberikan bimbingan, arahan dan waktu kepada
penulis untuk melaksanakan kegiatan PPDH Rotasi Interna Hewan Besar
5. Keluarga penulis atas kasih sayang, dukungan dan doa tak terhingga sehingga
penulis mampu menyelesaikan laporan ini.
6. Teman kelompok 1 PPDH Gelombang X (KOASU) atas semangat dan
kekompakan.
7. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penulisan laporan
ini yang tidak dapat disebut satu persatu.
Akhir kata, penulis berharap semoga Tuhan membalas semua kebaikan yang
telah diberikan dan agar laporan ini dapat memberikan manfaat bagi pembacanya.

Malang, Maret 2019

Penulis

iii
DAFTAR ISI

JUDUL........................................................................................................................................................i
LEMBAR PENGESAHAN...............................................................................................................ii
KATA PENGANTAR.........................................................................................................................iii
DAFTAR ISI..........................................................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR............................................................................................................................v
DAFTAR TABEL.................................................................................................................................vi
BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................................10
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................................10
1.3 Tujuan......................................................................................................................2
1.4 Manfaat....................................................................................................................2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA...................................................................................... 3
2.1 Sapi Potong..............................................................................................................3
2.2 Etiologi Indigesti..................................................................................................... 4
2.3 Gejala Klinis............................................................................................................5
2.4 Penanganan Indigesti...............................................................................................6
BAB 3 METODE KEGIATAN.......................................................................................7
3.1 Waktu Pelaksanaan.................................................................................................. 7
3.2 Jadwal Kegaiatan.........................................................................................................................7
3.3 Metode Kegiatan......................................................................................................8
3.4 Peserta Kegiatan......................................................................................................9
BAB 4 PEMBAHASAN................................................................................................ 10
4.1 Tinjauan Kasus...................................................................................................... 10
4.2 Pembahasan.................................................................................................................................11
4.2.1 Etiologi Indigesti................................................................................................................11
4.2.2 Gejala Klinis........................................................................................................................11
4.2.3 Diagnosa...............................................................................................................................12
4.2.4 Patogenesis...........................................................................................................................12
4.2.5 Pengobatan dan Pencegahan..........................................................................................13
BAB 5 PENUTUP..........................................................................................................15
5.1 Kesimpulan............................................................................................................15

iv
4.2 Saran......................................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................16

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Kondisi Sapi Indigesti...............................................................................10


Gambar 4.2 Feses Lunak dan Berwarna Gelap...........................................................11
Gambar 4.3 Terapi yang digunakan pada kasus indigesti (A) Vitamin B12 (B)
VetStep (C) Benodon 13

vi
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sapi adalah ternak ruminansia yang memiliki nilai ekonomi tinggi dalam
kehidupan masyarakat, sebab dapat menghasilkan berbagai macam kebutuhan
hidup manusia. Pembangunan peternakan sebagai bagian integral dari
pembangunan pertanian terus berkembang sehingga mampu memberikan
kontribusi yang berarti dalam pembangunan nasional. Terdapat kendala dalam
pemeliharaannya yaitu adanya penyakit yang menyerang sapi. Penyakit pada
ternak sapi perlu mendapat perhatian khusus baik dari pemerintah maupun
masyarakat khususnya para peternak, karena dapat menjadi salah satu hambatan
usaha peternakan (Pane, 1993).
Salah satu bagian yang paling penting dalam penanganan kesehatan ternak
adalah melakukan pengamatan terhadap ternak yang sakit melalui pemeriksaan
ternak yang diduga sakit. Namun, para peternak sapi di Indonesia terutama yang
di daerah memiliki pengetahuan yang rendah mengenai teknis pemeliharaan sapi
terutama penyakit sapi dan cara penanganannya. Salah satu penyakit pada ternak
sapi adalah Indigesti yang merupakan sindrom yang bersifat kompleks dengan
berbagai manifestasi klinis tanpa disertai perubahan anatomis pada lambung muka
hewan pemamah biak. Keberadaan penyakit ini berkaitan dengan faktor
manajemen pemeliharaan seperti pemberian pakan yang terlalu tinggi kandungan
seratnya, perubahan pakan mendadak, kualitas pakan buruk, pemberian antibiotika
jangka panjang atau kekurangan minum. Penyakit ini berbeda dengan penyakit
ternak yang disebabkan oleh virus dan bakteri, walaupun tidak menyebabkan
kematian namun karena kerugian yang disebabkan penurunan tingkat produksi,
turunnya berat badan ternak, terhambatnya pertumbuhan, daya tahan tubuh
menurun dan adanya ganggunan metabolisme menjadikan indigesti layak untuk
diperhatikan (Akoso, 1996).

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian diatas, rumusan masalah kegiatan Pendidikan Dokter
Hewan (PPDH) Rotasi Interna Hewan Besar adalah bagaimana tahapan-tahapan

1
diagnosa, dan penanganan kasus indigesti dan pengobatan yang diberikan di
Peternakan Batu, Jawa Timur?

1.3 Tujuan
Tujuan kegiatan Pendidikan Dokter Hewan (PPDH) Rotasi Interna Hewan
Besar adalah untuk mengetahui tahapan-tahapan diagnosa, dan penanganan kasus
indigesti dan pengobatan yang diberikan di Peternakan Batu, Jawa Timur

1.4 Manfaat
Manfaat kegiatan Pendidikan Dokter Hewan (PPDH) Rotasi Interna
Hewan Besar adalah memahami tahapan-tahapan diagnosa penyakit interna
hewan besar dan pengobatan yang diberikan pada hewan tersebut.

2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sapi
Sapi potong merupakan sapi yang dipelihara dengan tujuan utama sebagai
penghasil daging. Menurut Abidin (2006) sapi potong adalah jenis sapi khusus
dipelihara untuk digemukkan karena karakteristiknya, seperti tingkat pertumbuhan
cepat dan kualitas daging cukup baik. Sapi-sapi ini umumnya dijadikan sebagai
sapi bakalan, dipelihara secara intensif selama beberapa bulan, sehingga diperoleh
pertambahan bobot badan ideal untuk dipotong.
2.1.1 Sistem Pencernaan Ternak Ruminansia
Pencernaan adalah rangkaian proses perubahan fisik dan kimia yang
dialami bahan makanan di dalam saluran pencernaan ternak ruminansia. Proses
pencernaan makanan relatif lebih kompleks bila dibandingkan dengan
pencernaan pada jenis ternak non ruminansia.
Organ pencernaan pada ternak ruminansia terdiri atas empat bagian
penting, yaitu mulut, perut, usus halus, dan organ pencernaan bagian belakang.
Perut ternak ruminansia dibagi menjadi empat bagian yaitu retikulum, rumen,
omasum, dan abomasum. Rumen dan retikulum dihuni oleh mikroba serta
merupakan alat pencernaan fermentatif dengan kondisi anaerob, suhu 39°C, pH
rumen 6--7.
Pada sistem pencernaan ruminansia terdapat suatu proses yang disebut
memamah biak (ruminasi). Pakan berserat (hijauan) yang dimakan oleh ternak

3
untuk sementara ditahan dalam rumen. Pada waktu ternak tersebut beristirahat,
pakan yang ada di dalam rumen lalu dikembalikan ke mulut (proses regurgitasi)
untuk dikunyah kembali (remastikasi) kemudian pakan ditelan kembali (proses
redeglutasi). Selanjutnya pakan tersebut dicerna oleh enzim-enzim mikroba
rumen (mikrobial attack). Ukuran rumen dan retikulo sangat besar, dapat
mencapai 15--22% dari bobot tubuh ternak (Sutardi, 1981).

2.2 Etiologi Indigesti


Indigesti merupakan sindrom yang bersifat kompleks dengan berbagai
manifestasi klinis tanpa disertai perubahan anatomis pada lambung muka hewan
pemamah biak. Indigesti dibagi menjadi dua yaitu simplek dan komplek. Indigesti
sederhana atau simplek merupakan sindrom gangguan pencernaan yang berasal
dari rumen atau reticulum, ditandai dengan penurunan atau hilangnya gerak
rumen, lemahnya tonus kedua lambung tersebut hingga ingesta tertimbun di
dalamnya dan disertai pula dengan sembelit (konstipasi) (Mustofa, 2010).

4
Indigesti yang merupakan keadaan atoni rumen biasanya mengikuti
perubahan pada pH rumen. Perubahan pH tersebut disebabkan oleh fermentasi
yang berlebihan dari pakan yang dicerna. Akumulasi pakan yang sudah dicerna
dalam jumlah yang berlebihan secara fisik dapat menggangu fungsi rumen selama
24-48 jam.

2.2 Gejala Klinis


Gejala klinis yang terlihat tergantung pada penyebab dari gangguan
pencernaan tersebut. Pemberian silase yang berlebihan akan menyebabkan sapi
perah mengalami anoreksia dan penurunan produksi susu. Pada saat palpasi rumen
terasa penuh dan padat, motilitas rumen pada kejadian ini akan menurun.
Temperatur, frekuensi jantung, dan frekuensi pernafasan tetap normal. Feses
berbentuk normal namun berkurang. Persembuhan dapat terjadi secara spontan
dalam waktu 24-48 jam. Sedangkan indigesti yang disebabkan oleh pemberian
konsentrat yang berlebihan akan menunjukkan keadaan anoreksia dan stasis
rumen. Saat palpasi rumen tidak terlalu penuh dan mungkin saja mengandung
cairan yang berlebihan. Feses akan tampak lembek dengan bau yang sangat khas.
Beberapa penyebab indigesti yang lain misalnya: sapi mengkonsumsi
pakan yang kandungan proteinnya terlalu tingi, bahan pakan berjamur, pemberian
obat antimikrobial yang berlebihan, dan hewan yang lelah atau sehabis makan
langsung dipekerjakan lagi. (Subronto, 2008).

5
2.3 Penanganan Indigesti
Pengobatan indigesti secara simptomatik banyak dilakukan, diantaranya
dengan obat-obat parasimptomimetik seperti carbamyl-choline dengan dosis 2-4
ml secara subkutan pada sapi dan kerbau dewasa dapat merangsang gerak rumen
dalam waktu singkat. Physostigmin atau neostigmin dengan dosis 5 mg/ 100 kg
secara subkutan. Secara oral, preparat magnesimsulfat atau sodium sulfat dengan
dosis 100-400 gram, pemberian dengan dosis rendah 50-100 gram selama 2-3 hari
sebagi rumintaorium. Pengobatan dengan campuran antarasodium salisilat dengan
sodium bikabonat dengn jumlah 5-10 gram selama 2-3 hari per oral. Pemberian
makanan penguat dan makanan kasar perlu dihentikan, air minum, bila perlu
diberi garam dapur harus disediakan ad libitum (Subronto,2003).

6
BAB 3 METODE KEGIATAN

3.1 Pelaksanaan Kegiatan


Pelaksanaan kegiatan koasistensi Pendidikan Profesi Dokter Hewan
(PPDH) yang dilaksanakan di Kampung Sapi Adventure dan Praktek Dokter
Hewan Mandiri Drh. Ribut Hartono, Batu-Malang dimulai pada tanggal 1 Oktober
s/d 26 Oktober 2018.

3.2 Jadwal Kegiatan


Kegiatan mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) interna
hewan besar di Kampung Sapi Adventure dan Praktek Dokter Hewan Mandiri
Drh. Ribut Hartono, Batu-Malang dapat dilihat pada Tabel 3.1

Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan PPDH di Kampung Sapi Adventure dan Praktek
Dokter Hewan Mandiri Drh. Ribut Hartono, Batu-Malang

No Waktu Jenis Kegiatan Pelaksana


Kegiatan

1. Selasa, 2 Oktober 1. Briefing kegiatan di 1. Ibu Maesaroh


2018 Kampung Sapi 2. Drh. Nunik
Adventure 3. Mahasiswa PPDH
2. Rabu 3 Oktober 1. Mengikuti kegiatan 1. Bpk. Ponco Ari
2018 pemberian materi Bowo
mengenai Marketing. 2. Mahasiswa PPDH

3. Minggu,7 Oktober 1. Mengikuti kegiatan 1. Drh. Deddy


2018 pemberian materi 2. Mahasiswa PPDH
mengenai Pendahuluan
Pengelolaan Peternakan
Sapi Perah

4. Sabtu, 13 Oktober 1. Mengikuti kegiatan 1. Furqon Adhimas Y.


2018 pemberian materi 2. Mahasiswa PPDH
mengenai Reproduksi
pada Sapi Perah dan
Manajemen
Pemeliharaan Pedet.

7
5. Senin,15 Oktober 1. Mengikuti kegiatan 1. Drh. Ribut Hartono
2018 pengobatan pada pasien 2. Mahasiswa PPDH
footrot, indigesti, dan
laminitis

6. Rabu, 17 Oktober 1. Mengikuti kegiatan 1. Drh. Ribut Hartono


2018 pengobatan pada pasien 2. Mahasiswa PPDH
enteritis

7. Kamis, 18 Oktober 1. Mengikuti kegiatan 1. Drh. Rkibut Hartono


2018 pengobatan pada pasien 2. Mahasiswa PPDH
helminthiasis dan
hipersalivasi disertai
demam.

8. Sabtu, 20 Oktober 1. Mengikuti kegiatan 1. Drh. Ribut Hartono


2018 pengobatan pada pasien 2. Mahasiswa PPDH
enteritis dan abortus

9. Selasa, 23 Oktober 1. Mengikuti kegiatan 1. Drh. Ribut Hartono


2018 pengobatan pada pasien 2. Mahasiswa PPDH
pneumonia dan infeksi
E. coli

10. Rabu, 24 Oktober 1. Mengikuti kegiatan 1. Drh. Ribut Hartono


2018 pengobatan pada kasus 2. Mahasiswa PPDH
retensio plase nta

11. Kamis, 25 Oktober 1. Mengikuti kegiatan 1. Drh. Ribut Hartono


2018 kegiatan pengobatan 2. Mahasiswa PPDH
pada pasien enteritis
dan control pasien pada
kasus indigesti

12. Jumat, 26 Oktober 1. Mengikuti kegiatan 1. Drh. Nunik


2018 pemberian materi 2. Mahasiswa PPDH
mengenai Data pada
Sapi Perah dan Produksi

3.3 Metode Kegiatan


Metode yang digunakan dalam kegiatan Pendidikan Profesi Dokter Hewan
(PPDH) Rotasi Interna Hewan Besar, yaitu:
a. Observasi partisipatorik, mengikuti seluruh proses diagnosa dan pengobatan
penyakit interna.

8
b. Interview (wawancara), diskusi dan mencari informasi secara lisan pada
pembimbing lapang dan petugas serta pengamatan langsung di lapangan.
c. Dokumentasi.

3.4 Biodata Mahasiswa


Mahasiswa yang melaksanakan kegiatan PPDH di Kampung Sapi
Adventure dan Praktek Dokter Hewan Mandiri Drh. Ribut Hartono, Batu-Malang
yaitu :
Nama :Diah Lilis Laila, S.KH
NIM : 180130100111057
Email : lilislaila280@gmail.com

9
BAB 4 PEMBAHASAN

4.1 Tinjauan Kasus


Signalemen
Jenis Hewan : Sapi
Ras : Peranakan limousin
Jenis Kelamin : Jantan
Umur : 5 bulan

Gambar 1.1 Kondisi Sapi Indigesti (Dokumentasi pribadi, 2019)

Anamnesa dan Temuan Klinis


Pemilik sapi menghubungi dokter hewan dengan keluhan bahwa sapinya
tidak mau makan, dan tampak lesu.

Tindakan yang Dilakukan


Tindakan yang dilakukan untuk menegakkan diagnosa dilakukan dengan
beberapa pemeriksaan diantaranya inspeksi dilihat adanya perubahan pada
postur tubuh sapi, kemudian dilakukan palpasi pada daerah abdomen dengan
menekan abdomen dengan kepalan tangan ke daerah abdomen.

Diagnosa
Berdasarkan anamnesa, temuan klinis dan pemeriksaan abdomen diagnosa
dari sapi tersebut adalah indigesti.

4.2 Pembahasan
Dokter hewan mendapat laporan dari peternak sapi bahwa sapinya tidak
mau makan dan lemas. Berdasarkan anamnesa yang didapat dari peternak tersebut

10
yaitu anoreksia dan kondisinya tampak lesu dan juga dilakukan pemeriksaan
bahwa tidak ada gerak rumen (atoni rumen). Menurut Subronto (2008), hewan
yang mengalami indigesti simpleks ditandai dengan kondisi tubuh yang tampak
lesu dan hilang nafsu makan. Pada palpasi rumen terasa berisi ingesta yang lunak.
Pada umumnya frekuensi pernafasan dan pulsus masih dalam batas normal. Feses
dikeluarkan biasanya hanya sedikit berlendir, berwarna gelap dengan konsistensi
lunak (Gambar 4.1).

Gambar 4.2 Feses sapi indigesti lunak dan berwarna gelap


(Dokumentasi pribadi, 2018).

4.2.1 Etiologi Indigesti


Indigesti terjadi akibat dari pergantian pakan yang mendadak yang bisanya
dialami oleh sapi muda yang mulai menyesuaikan diri dengan pakan atau
ransum yang diberikan, selain itu pemberian pakan yang mengandung serat
kasar yang tinggi juga dapat menyebabkan indigesti. Dalam beberapa kasus
pemberian obat antimicrobial yang berlebihan dapat memicu terjadinya
indigesti pada hewan, hewan yang terlalu letih atau dipaksa bekerja dan hewan
yang sedang dalam transportasi dari satu daerah ke daerah lain.

4.2.2 Gejala Klinis


Indigesti dapat terjadi karena perubahan pakan yang mendadak. Gejala
klinis Lesu, malas bergerak, nafsu makan menurun, nafsu minum masih ada,

11
produksi susu menururn, frekuensi gerak rumen meningkat dan segera diikuti
dengan penurunan frekuensi gerak rumen. Pada palpasi rumen, ingesta terasa
lunak dan pada pemerikasaan tonus rumen atau penekanan pada daerah flank
dengan jari atau tangan, flank hasil tekanan tidak kembali. Tinja yang
dikeluarkan sedikit berlendir, gelap dan konsisitensi lunak serta terjadi
konstipasi. Pulsus dan frekuensi nafas masih normal.

4.2.3 Diagnosa
Berdasarkan anamnesa, gejala klinis dan pemeriksaan fisik yang telah
dilakukan sapi tersebut diagnosa indigesti. Dalam diagnosis banding perlu
diperbandingkan dengan ketosis, retikuloperitonitis traumatika, Left Displace
Abomasum. Pada ketosis biasanya terjadi dalam waktu dua bulan pertama
setelah kelahiran, Sedangkan pada retikulo peritonitis traumatika gejala klinis
yang ditemukan bersifat menonjol (Subronto,2008).

4.2.4 Patogenesis
Patomekanisme indigesti dilihat dari pemberian pakan yang
mengandung protein tinggi atau yang mengalami pembusukan akan
menghaslkan ammonia, dengan akibat derajat keasaman rumen mengalami
kenaikan. Hal ini akan menyebabkan bakteri yang tidak tahan suasana alkalis
akan mengalami kematian, serta menyebabkan pencernaan secara biokimiawi
tidak efisien. Ingesta yang tidak tercerna dengan baik akan tertimbun di dalam
rumen, yang secara reflektoris mendorong rumen untuk berkontraksi
berlebihan. Akibat hal tersebut maka akan terbentuk asam laktat secara
berlebihan yang kemudian menyebabkan gerakan rumen menjadi melemah
(Subronto,2008).

12
4.2.5 Pengobatan dan Pencegahan
Pengobatan yang diberikan untuk kasus ini yaitu dengan memberikan
antibiotik Streptomicin (20mg/kgBB), Vitamin B12 (10-20ml per ekor
perhari), serta Analgesik Benodon (Gambar 4.3). Mekanisme kerja dari
antibiotik streptomicin yakni dengan penghambatan sintesa protein bakteri dan
pemberian vitamin B12 akan membantu proses pencernaan mikrobial dan
pergerakan rumen.
Untuk mencegah terjadinya indigesti sebaiknya hentikan pakan silage
atau pakan yang tinggi kandungan serat. Berikan pakan yang baik, rumput
segar dan air. Pencegahan dilakukan dengan menghindari pemberian pakan
yang terlalu tinggi serat.

13
Gambar 4.3 Terapi yang digunakan pada kasus indigesti (A) Vitamin B12 (B) Vet
Step (C) Benodon (Dokumentasi pribadi, 2018)

14
BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan anamnesa, temuan klinis dan pemeriksaan abdomen yang
dilakukan dapat di diagnosa sapi tersebut menderita indigesti. Menurut dokter
hewan Ribut penyebab terjadinya indigesti karena pergantian pakan dan bisa
juga disebabkan karena pakan serat kasar yang terlalu banyak. Penanganan
kasus Indigesti yang dilakukan oleh dokter hewan Ribut dengan memberikan
antibiotik Streptomicin, Vitamin B12, serta Analgesik Benodon.

5.2 Saran
Pencegahan yang dapat dilakukan untuk kasus indigesti adalah
mengurangi ransum yang berserat kasar, tidak terlalu banyak protein dan
pemberian air minum ad libitum.

15
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 2006. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Aiello et al. 2000. The Merck Veterinary Manual. Edisi ke-8. USA : Whitehouse
station.Arora, S.P. 1989. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Edisi
Indonesia. Penerbit Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Akoso, T.B. 1996. Kesehatan Sapi. Kanisius: Yogyakarta; Hal: 157-160.

Arora.1995. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Diterjemahkan oleh R.


Murwanidan B. Srigandono. Gajah Mada University Press.Yogyakarta.

Blowey RW. 2004. Digestive Disorders of Calves. Andrews AH, Editor: Bovine
Medicine Diseases and Husbandry of Cattle Second edition. State Avenue:
Blackwell Publishing Company.

Church, D.C. 1979. Digestive Physiology and Nutrition of Ruminant.Vol : 1


Second Edition. John Wiley and Sons. New York.

Frasser, C.M. 2005. The Merck Veterinary Manual: a Handbook of Diagnosis,


Therapy, and Disease. USA : Blackwell Publishing.

Hendrawan, Soetanto. 2000. Bahan Kuliah Nutrisi Ruminansia. Jurusan Nutrisi


dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan . Universitas Brawijaya.
Malang.

Pane, I., 1993. Pemuliabiakan Ternak Sapi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Santosa, U. 1995. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Cetakan I. Penebar


Swadaya. Jakarta.

Siregar, S. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya. Jakarta

Smith, B.P. 2002. Large Animal Internal Medicine 3rd ed. Mosby : st. Louis
Missouri.

Subronto. 2008. Ilmu Penyakit Ternak I-a (Mamalia). Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

Sutardi, T. 1980. Ketahanan protein bahan makanan terhadap degradasi oleh


mikroba rumen dan manfaatnya bagi peningkatan produktifitas ternak.Di
dalam : Prosiding Seminar Penelitian dan Penunjang Peternakan. Bogor :
LPP IPB.

16