Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

PSIKOLINGUISTIK

BAHASA DAN BERBAHASA SERTA HUBUNGAN


BERBAHASA, BERPIKIR, DAN BERBUDAYA

Oleh
Kelompok IX :
1. Gita Fajria (17129141)
2. Husni Wulandari
(17129142)
3. Naziroh (17129377)
4. Siti Nurul Fadilah
(17129266)
17 BKT 09

DOSEN PENGAMPU :
NUR AZMI ALWI

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2019
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil’alamin, puji syukur kami ucapkan kepada Allah


SWT, karena dengan rahmat, taufik serta hidayah-Nya tugas Psikolinguistik yang
berbentuk makalah dengan judul “Bahasa dan Berbahasa serta Hubungan
Berbahasa, Berpikir dan Berbudaya” ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu.
Dan tidak lupa shalawat serta salam saya ucapkan kepada nabi Muhammad SAW.

Makalah ini disusun sebagai tugas yang merupakan implementasi dari


program belajar aktif oleh Dosen pengajar mata kuliah “Psikolinguistik”.

Semoga dengan tersusunnya makalah ini bisa menambah khazanah


keilmuan dalam mempelajari “Psikolinguistik” dan memberikan manfaat bagi
pembacanya. Dalam penyusunan makalah ini, kami menyadari masih banyak
kesalahan dan kekurangan didalamnya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
bersifat membangun senantiasa kami harapkan demi penyempurnaan makalah
berikutnya.

Bukittinggi, 01 Februari 2020

Kelompok IX

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………..…….2

DAFTAR ISI ……………………………………….…………..……………..….3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
…………………………..…………………….................4
B. Rumusan Masalah
…………………………………………………….......4
C. Tujuan Penulisan
…………………………………………………….........5

BAB II PEMBAHASAN

A. Hakikat
Bahasa…………………………………………………………….6
B. Fungsi-Fungsi
Bahasa……………………………………….………….....7
C. Struktur
Bahasa…………………………………………………………..11
D. Komponen Tata
Bahasa………………………………………………….14
E. Proses
Berbahasa……………………………………………………...….20
F. Teori Wilhelm Von
Humboldt…….…….….....................…................21
G. Teori Shapir - Whorf………….
…...…................................................21
H. Teori Jean Piaget………....
………...…………………………................23
I. Teori L.S
Vytgotsky………………….………………………………......24
J. Teori Noam
Chomsky……………………………………………………25

3
K. Teori Eric
Lenneberg………………………………………………….....26
L. Teori
Bruner………………………………………………………….…..27
M. Kekontroversialan Hipotesis Sapir
– Whorf……………………………..28

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ……………………
…..……………….…………….……...30
B. Saran
………………………………..…..……………..………….……..31

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………….........32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bahasa dan berbahasa merupakan dua hal yang sejatinya berbeda. Bahasa
secara garis besar merupakan alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi.
Sedangkan berbahasa merupakan penyampain informasi dalam komunikasi
tersebut. Dari pernyataan tersebut secara tidak langsung ditarik kesimpulan bahwa
bahasa adalah objek kajian linguistik sedangkan berbahasa merupakan objek
kajian psikologi.
Berbahasa, dalam arti berkomunikasi, dimulai dengan membuat encode
semantic dan encode gramatikal di dalam otak pemikitan, dilanjutkan dengan
membuat encode fonologi. Kemudian dilanjutkan dengan penyusunan decode
fonologi, decode gramatikal, dan decode semantic pada pihak pendengar yang
terjadi di dalam otaknya.

4
Terdapat masalah dalam kajian psikolinguistik mengenai dua hipotesis
yang kontroversial yang tercermin dalam pertanyaan: mana yang lebih dahulu ada
bahasa atau pikiran atau keduannya hadir bersamaan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud bahasa?
2. Apa saja fungsi-fungsi bahasa dalam kehidupan
manusia?
3. Bagaimana struktur bahasa dalam satuan ujaran?
4. Apa saja komponen-komponen yang terdapat dalam
tata bahasa?
5. Bagaimana proses yang terjadi sewaktu berbahasa?
6. Bagaimana hubungan antara berbahasa, berpikir dan
berbudaya?
7. Apa saja teori-teori yang berkaitan dengan masalah
kajian psikolinguistik mengenai bahasa dan pikiran?

C. Tujuan Penulisan
1. Agar dapat memahami maksud dari bahasa.
2. Agar dapat memahami fungsi bahasa dalam
kehidupan manusia.
3. Agar dapat memahami struktur bahasa dalam satuan
ujaran.
4. Agar dapat memahami komponen yang terdapat
dalam tata bahasa.
5. Agar dapat memahami proses yang terjadi sewaktu
berbahasa.
6. Agar dapat memahami hubungan antara berbahasa,
berpikir dan berbudaya
7. Agar dapat memahami teori-teori yang berkaitan
dengan masalah kajian psikolinguistik mengenai bahasa dan pikiran

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Bahasa dan Berbahasa


Bahasa adalah alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi,
sedangkan berbahasa adalah proses penyampaian informasi dalam berkomunikasi
itu. Bahasa adalah objek kajian linguistic, sedangkan berbahasa adalah objek
kajian psikologi.

1. Hakikat Bahasa
Para pakar linguistik deskriptif mendefinisikan bahasa sebagai “satu
sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang digunakan oleh sekelompok

6
anggota masyarakat untuk berinteraksi dan mengidenfikasi diri.” (Chaer,
1994).
“Satu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer” menyatakan hakikat
bahasa. Definisi bagian pertama ini menyatakan bahwa bahasa adalah suatu
sistem yang bersifat sistematis dan sistemis. Jadi bahasa bukan merupakan
satu sistem tunggal, melainkan dibangun oleh sejumlah subsistem (fonologi,
sintaksis, dan leksikon). Sistem bahasa ini merupakan sistem lambang yang
berupa bunyi. Selain itu, sistem bahasa ini juga bersifat arbitrer. Artinya,
antara lambang yang berupa bunyi itu tidak memiliki hubungan wajib dengan
konsep yang dilambangkannya. Tidak ada alasan mengapa benda yang dipakai
untuk duduk dinamakan kursi, dan yang diminum dinamakan air. Kata-kata
tersebut tidak mempunyai alasan mengapa demikian wujudnya. Definisi
tersebut juga menyiratkan bahwa setiap lambang bahasa, baik kata, frase,
klausa, kalimat maupun wacana memiliki makna tertentu, yang bisa saja
berubah pada satu waktu tertentu.
Sistem simbol lisan yang arbitrer dipakai oleh masyarakat bahasa
tersebut, yakni masyarakat yang memiliki bahasa itu. Orang dari masyarakat
bahasa lain tentu tidak dapat memakai sistem ini. Pemakai bahasa
menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi antara sesama
mereka, tetapi dalam berinteraksi itu mereka secara tidak sadar dikendala oleh
budaya yang mereka junjung. Perilaku bahasa mereka merupakan cerminan
dari budaya mereka. Penolakan terhadap kalimat Tutik mengawini Ahmad
bukan disebabkan oleh kekeliruan tatabahasa, tetapi ketidaklayakan pada
budaya masyarakat Indonesia.
Definisi tambahan “yang digunakan oleh sekelompok anggota
masyarakat untuk berinteraksi dan mengidenfikasi diri” menyatakan fungsi
bahasa dilihat dari segi sosial, yaitu bahwa bahasa itu adalah alat interaksi atau
alat komunikasi di dalam masyarakat.

2. Fungsi-Fungsi Bahasa
Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan
berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan

7
diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan
integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan
sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).
a. Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri
Pada awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk
mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tetap,
yakni ayah-ibunya. Dalam perkembangannya, seorang anak tidak lagi
menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya,
melainkan juga untuk berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya.
Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa, baik untuk
mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Seorang penulis
mengekspresikan dirinya melalui tulisannya. Sebenarnya, sebuah karya
ilmiah pun adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk
menunjukkan kemampuannya dalam sebuah bidang ilmu tertentu. Jadi,
kita dapat menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai
tujuan tertentu.
Sebagai contoh lainnya, tulisan kita dalam sebuah buku, merupakan
hasil ekspresi diri kita. Pada saat kita menulis, kita tidak memikirkan siapa
pembaca kita. Kita hanya menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa
memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain atau tidak. Akan tetapi,
pada saat kita menulis surat kepada orang lain, kita mulai berpikir kepada
siapakah surat itu akan ditujukan. Kita memilih cara berbahasa yang
berbeda kepada orang yang kita hormati dibandingkan dengan cara
berbahasa kita kepada teman kita.
Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan
diri, si pemakai bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau
memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya, pembacanya, atau
khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk
kepentingannya pribadi. Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya, yakni
bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.
Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan
secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-
kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Unsur-unsur yang
mendorong ekspresi diri antara lain :

8
1) Agar menarik perhatian orang lain terhadap kita,
2) Keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan
emosi
Pada taraf permulaan, bahasa pada anak-anak sebagian berkembang
sebagai alat untuk menyatakan dirinya sendiri (Gorys Keraf, 1997 :4).

b. Bahasa sebagai Alat Komunikasi


Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri.
Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau
dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan
mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa
yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita.
Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan
maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita
menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai
macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa
depan kita (Gorys Keraf, 1997 : 4).
Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita
sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita
ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita
ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin
mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain membeli
hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar atau
khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. Kita menggunakan bahasa
dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita.
Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain
kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk
dijual. Oleh karena itu, seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang
komunikatif”. Misalnya, kata makro hanya dipahami oleh orang-orang dan
tingkat pendidikan tertentu, namun kata besar atau luas lebih mudah
dimengerti oleh masyarakat umum. Kata griya, misalnya, lebih sulit
dipahami dibandingkan kata rumah atau wisma. Dengan kata lain, kata
besar, luas, rumah, wisma, dianggap lebih komunikatif karena bersifat
lebih umum. Sebaliknya, kata-kata griya atau makro akan memberi nuansa

9
lain pada bahasa kita, misalnya, nuansa keilmuan, nuansa intelektualitas,
atau nuansa tradisional.
Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi
sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri. Melalui
bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atas
suatu hal, asal usul bangsa dan negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat
kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik sebagai bangsa maupun sebagai
diri sendiri.

c. Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial


Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan,
memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman
mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-
pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain.
Anggota-anggota masyarakat hanya dapat dipersatukan secara efisien
melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh
memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok
sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan
kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-
bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Ia
memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu
dengan masyarakatnya (Gorys Keraf, 1997 : 5).
Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi,
berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Pada saat kita
beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu, kita akan memilih bahasa
yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita
hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang
berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan
teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang
yang kita hormati.
Pada saat kita mempelajari bahasa asing, kita juga berusaha
mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa tersebut. Misalnya,
pada situasi apakah kita akan menggunakan kata tertentu, kata manakah
yang sopan dan tidak sopan. Bilamanakah kita dalam berbahasa Indonesia

10
boleh menegur orang dengan kata Kamu atau Saudara atau Bapak atau
Anda? Bagi orang asing, pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam
lingkungan pergaulan orang Indonesia. Jangan sampai ia menggunakan
kata kamu untuk menyapa seorang pejabat. Demikian pula jika kita
mempelajari bahasa asing. Jangan sampai kita salah menggunakan tata
cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Dengan menguasai bahasa
suatu bangsa, kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan
bangsa tersebut.

d. Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial


Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini
dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai
penerangan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa.
Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh
penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.
Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa
sebagai alat kontrol sosial. Lebih jauh lagi, orasi ilmiah atau politik
merupakan alat kontrol sosial. Kita juga sering mengikuti diskusi atau
acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Iklan layanan
masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan
bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan
berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh
pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping
itu, kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain
mengenai suatu hal.
Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah
kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan
salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita.
Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan.
Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang
dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.

3. Struktur Bahasa

11
Struktur secara bahasa adalah kaedah bagaimana sesuatu disusun, cara
penyusunan (sesuatu), susunan (sesuatu), rangka. Sedangkan struktur bahasa
adalah susunan bagian-bagian kalimat atau konstituten kalimat secara linear.
Adapun Struktur luar adalah susunan kalimat atau himpunan kalimat suatu
teks atau bagian teks yang akan dibaca atau didengar. Pendek kata, struktur
luar sama dengan struktur yang tersurat sebagaimana yang tersaji dalam
kondisi siap-pakai, siap-baca. Sedangkan struktur dalam dapat disebut sebagai
struktur tersirat. Struktur dalam belum mengalami proses lebih lanjut dalam
perumusannya. Untuk mudahnya, dapat dikatakan bahwa struktur dalam
berhubungan dengan isi. Sebagai sebuah istilah, transformasi dalam teori teks
ialah perubahan struktur dalam menjadi struktur luar. Jadi, dari bentuk tersirat
menjadi bentuk tersurat. Melalui transformasi, struktur dalam menjelma
menjadi struktur luar. Tahap transformasi ini menjadi bagian utama dalam
teori teks. Dalam teori teks, parafrase dipergunakan untuk mengembalikan
struktur dalam, mengembalikan struktur “bergaya” menjadi struktur yang
sederhana. Parafrase membuka jalan untuk mengetahui deviasi dan
foregrounding yang terdapat pada struktur luar. Apa yang tersirat dalam
struktur luar tidak senantiasa dapat diterangkan melalui parafrase saja.
Penjelasan lebih lanjut masih diperlukan mengenai konteks dan situasi serta
kondisinya, yakni hal-hal yang ada sangkut-pautnya dengan struktur luar dan
struktur dalam tersebut. Oleh karena itu, interpretasi diperlukan. Hal ini
disebabkan bahwa interpretasi merupakan penjelasan struktur dalam
berdasarkan atau memperhatikan konteksnya.
Oleh karena itu, dengan kata lain struktur luar adalah struktur kalimat
itu ketika diucapkan yang dapat kita dengar. Jadi, bersifat konkrit Menurut
teori ini di dalam otak kita terdapat satu peringkat representasi yang abstrak
untuk kalimat yang kita lahirkan. Representasi struktur dalam yang abstrak ini
dihubungkan oleh rumus-rumus transformasi dengan representasi struktur
luar, yaitu kalimat-kalimat yang kita dengar atau kita lahirkan. Perhatikan
bagan berikut:
STRUKTUR-LUAR
(Representasi fonetik kalimat)

12
Mulut

Rumus-rumus
Transformasi
Otak

STRUKTUR-DALAM
(Representasi dalam : Abstrak)

Untuk Memahami bagan tersebut, simaklah dua kalimat berikut :


(1) Murid itu mudah diajar
(2) Murid itu senang diajar
Kalimat (1) dan kalimat (2) memiliki struktur luar yang sama

Kalimat (1)
K

FN FV

N Art A V

Murid itu Mudah diajar

Kalimat (2)

13
K

FN FV

N Art A V

Murid itu Senang diajar

Keterangan :
K = Kalimat
FN = Frase Nominal
FV = Frase Verbal
A = Adjektiva
Art = Artikel

Dari kedua diagram pohon itu tampak bahwa struktur luar kalimat 1
dan kalimat 2 adalah percis sama. Namun, kita, sebagai penutur bahasa
indonesia dapat merasakan bahwa yang mengalami sesuatu sebagai akibat
“murid itu diajar” adalah dua pihak yang berlainan. Pada kalimat 1 yang
mengalami sesuatu yang mudah adalah yang mengajar murid itu. Sedangkan
pada kalimat 2 yang mengalami rasa senang adalah muriditu, bukan yang
mengajar. Suatu tata bahasa yang memadai harus mampu memberi keterangan
struktural mengapa kedua kalimat itu berbeda sebagaimana yang dirasakan
oleh penutur asli bahasa itu. Maka, dalam hal kalimat 1 dan kalimat 2 di atas,
meskipun struktur luarnya sama, tetapi struktur dalamnya jauh berbeda.

4. Komponen Tata Bahasa

a. Komponen Sintaksis
Sintaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan
antar kata dalam tuturan Zainal Ariffin (2008:1). Sintaksis merupakan
komponen sentral dalam pembentukan kalimat disamping komponen

14
semantik dan komponen fonologi. Tugas utama komponen sintaksis adalah
menentukkan hubungan antar pola-pola bunyi bahasa itu dengan makna-
maknanya dengan cara mengatur urutan kata-kata yang membentuk frase
atau kalimat itu agar sesuai dengan makna yang diinginkan penuturnya
(….:39).
Cara kerja komponen sintaksis, misal pada kalimat
(1) Mobil itu menabrak pemulung itu.
Setiap penutur bahasa Indonesia dengan kompetensinya mengenai
bahasa Indonesia yang telah dinuranikan akan mampu menentukkan
hal berikut.
a. Kalimat (1) di atas tergolong baik dan lengkap
b. Kalimat (1) terdiri dari beberapa kata
c. Dalam kalimat (1) mobil dan pemulung tergolong nominal,
menabrak tergolong verba, dan itu adalah menunjukkan sesuatu
yang dimaksud.
d. Setiap penutur bahasa Indonesia jika akan memanggal
suatu kalimat pastilah cara pemenggalannya sebagai berikut:
- Mobil itu/ menabrak pemulung itu
- Tidak mungkin menjadi
- Mobil itu menabrak/ pemulung itu atau
- Mobil/ itu menabrak pemulung itu
Jadi, setiap penutur bahasa Indonesia akan merasakan bahwa kata
itu yang pertama lebih natural bergabung kata mobil dari pada dengan kata
menabrak. Kemampuan seperti ini menunjukkan tata bahasa Indonesia
yang dinuranikan secara tidak sadar.
Bagian-bagian dari kalimat (1), yakni FN+V+FN dengan rincian
sebagai berikut:
Frase Nominal (FN) : Mobil itu
Verba (V) :Menambrak
Frase Nominal (FN) : Pemulung itu
Dengan demikian, organisasi kalimat (1), yang sesuai dengan kompetensi
bahasa Indonesia merupakan satu hierarki sebagi berikut

1 (K)
KALIMAT
2 FN FV

3 N Art V FN
4 Mobil itu menabrak N Art
5 pemulung itu

15
16
Hierarki Kalimat (1) jika digambarkan dengan diagram pohon
sebagai berikut.
K

FN FV

N Art V FN

N Art

Kuda Itu menendang Petani Itu

Dari bagan tersebut terlihat bahwa komponen sintaksis membentuk


suatu kalimat berdasarkan urutan dan organisasi kata-kata yang diatur oleh
rumus kebetulan sama dengan penanda frase (PF) struktur luarnya,
sehingga kalimat itu mudah dipahami. Namun, pada umunya banyak
praktik kebahasaan yang struktur dalam dan struktur luarnya berbeda.

b. Komponen Semantik
Teori linguistik generatif transformasi standar mengakui bahwa
makna suatu kalimat sangat tergantung pada beberapa faktor yang saling
berkaitan dengan lainnya. Faktor-faktor itu antara lain (a) makna leksikal
kata yang membentuk kalimat, (b) urutan kata dalam organisasi kalimat,
(c) intonasi, cara kalimat diucapkan atau dituliskan, (d) konteks situasi
tempat kalimat itu diucapkan, (c) kalimat sebelum dan sesudah yang
menyertai kalimat itu, dan (f) faktor-faktor lain. Umpamanya kalimat
kucing makan tikus mati dengan intonasi/jeda seperti berikut menjadi
berbeda maknanya.

(1) Kucing / makan tikus mati.


(2) Kucing makan / tikus mati.
(3) Kucing makan tikus / mati.
Kalimat di atas menjadi semakin rumit karena banyak kata
memiliki dari satu makna, dan makna ini pun bisa saja terlepas apabila
kata itu berada dalam konteks frase yang berlainan. Umpamanya kata

17
manis secara leksikal mengacu pada rasa seperti rasa gula; tetapi dapat
juga bermakna ‘baik’, ‘menarik’, ‘cantik’ dan sebagainya. Kata manis
pada kalimat (4) masih bermakna ganda ‘cantik’, atau ‘baik hati’. Namun,
pada kalimat (5) dan kalimat (6) sudah agak tertentu, yaitu ‘cantik’ untuk
kalimat (5) dan ‘baik hati’ untuk kalimat (6).

(4) Gadis itu sangat manis.


(5) Gadis itu sangat manis rupanya.
(6) Gadis itu sangat manis budinya.
Untuk bisa menghasilkan kalimat yang gramatikal dan berterima
secara semantik, teori linguistik generatif transformasi standar mengajukan
teori fitur-fitur semantik (semantics features) atau disebut juga penanda
semantik (semantics marker). Teori ini mengansumsikan bahwa setiap kata
memiliki sejumlah fitur semantik yang membentuk keseluruhan makna
kata itu. Umpamanya kata bapak memiliki fitur [+benda], [+konkret],
[+manusia], [+dewasa], [+laki-laki], [+menikah], dan [+beranak].
Sedangkan kata ibu memiliki fitur-fitur [+benda], [+konkret], [+manusia],
[+dewasa], [-laki-laki], [+menikah], dan [+beranak]. Dari fitur-fitur yang
yang disebut, tampak bedanya bapak dan ibu. Kalau bapak memiliki fitur
[+laki-laki], sedangkan ibu memiliki fitur[-laki-laki]. Karena itulah,
makna kalimat (7) berterima, sedangkan kalimat (8) tidak berterima.

(7) Ibu itu sedang hamil.


(8) *Bapak itu sedang hamil.
Pengenalan fitur-fitur semantik ini sebenarnya juga telah
ternuranikan oleh setiap penutur suatu bahasa sebagai bagian dari
kompetensi bahasanya. Oleh karena itu, setiap penutur suatu bahasa dapat
mengenal mana kalimat yang secara semantik berterima dan mana pula
yang tidak berterima.
Teori linguistik generatif transformasi standar dan yang diperluas
menyatakan adanya komponen semantik ini sebagai komponen dalam otak
yang terpisah dari komponen sintaksis dengan garis yang tegas. Namun,
sejumlah pakar pengikut generatif transformasi yang lain menganggap

18
kedua komponen itu, sintaksis dan semantik, tidak mempunyai garis
pemisah yang tegas.

c. Komponen Fonologi
Yang dimaksud dengan komponen fonologi adalah sistem bunyi
suatu bahasa. Komponen fonologi ini, sebagai komponen ketiga dalam tata
bahasa generatif transformasi memiliki rumus-rumus fonologi yang
bertugas mengubah struktur-luar sintaksis menjadi representasi fonetik
yaitu bunyi-bunyi bahasa yang kita dengar yang diucapkan oleh seorang
penutur. Untuk dapat memahami bagaimana cara kerja rumus-rumus
fonologi itu kita perlu mengenal dulu representasi fonetik itu.
Kalau kita mendengar kata-kata (baraŋ), (balaŋ), (bəraŋ), (paraŋ),
(palaŋ), dan (pəraŋ) diucapkan, maka kita dapat mencatat bahwa pada
ketiga kata pertama terdapat bunyi [b] pada awal katanya. Pada ketiga kata
berikutnya terdapat bunyi [p] pada awal katanya. Kata pertama dan kata
kedua bunyinya hampir sama. Perbedaannya terletak pada bunyi ketiga
yaitu [r] pada kata pertama dan [l] pada kata kedua. Kata pertama dan
ketiga bunyinya juga hampir sama, perbedaannya hanya terletak pada pada
bunyi kedua, yaitu [a] kata pertama dan [ə] pada kata ketiga. Sedangkan
kalau kita bandingkan kata kelima dan keenam, maka kita lihat ada 2 buah
bunyi yang berbeda, yaitu pada kata kelima bunyi kedua dan ketiganya
berupa [a] dan [l], sedangkan pada kata keenam bunyi kedua dan
ketiganya berupa [e] dan [r]. Bunyi-bunyi yang membentuk kata ini
disebut unit bunyi, segmen fonetik, atau dalam studi fonologi disebut fon.
Unit bunyi, segmen fonetik, atau fon yang membentuk kata ini di
dalam studi fonologi, dideskripsikan berdasarkan tempat dan cara
artikulasinya. Misalnya kata [baraŋ] dan [paraŋ] yang mirip, dan masing-
masing dibangun oleh lima buah fon, letak bedanya hanya pada fon
pertama yaitu [b] dan [p]. Kedua fon ini termasuk bunyi hambat bilabial.
Bedanya bunyi [b] dalah bersuara dan bunyi [p] adalah bunyi tak bersuara.
Dalam studi fonologi ciri-ciri bunyi itu disebut fitur-fitur, dan ciri bunyi
yang membedakan disebut fitur distingtif.
Pertanyaannya sekarang apa yang dimaksud dengan rumus-rumus
fonologi? Untuk dapat memahaminya mari kita ambil contoh kata gerobak

19
dalam bahasa Indonesia. Bunyi [k] pada akhir kata gerobak itu paling tidak
dipresentasikan menjadi [k], [g], dan [?], sehingga lafalnya:
<gerobak> ======> 1. [g ə robak]
2. [g ə robag]
3. [g ə roba?]
Meskipun ucapannya berbeda, tetapi maknanya tidak berubah.
Ketiga bunyi akhir itu [k], [g], dan [?] hanya dilambangkan sebagai satu
bunyi saja di dalam otak manusia Indonesia, yaitu /k/ sebagai sebuah
fonem. Dalam kajian fonologi taksonomi, fonem dianggap sebagai satuan
bunyi terkecil, tetapi didalam kajian fonologi generatif dianggap sebagai
bunyi yang masih bisa dipecah atas beberapa fitur distingtif.
Dari keterangan di atas bisa dikatakan komponen fonologi
mempunyai 2 peringkat, yaitu dalam dan luar. Peringkat dalam berupa
abstraksi dari representasi fonetik yang berada di peringkat luar. Kedua
peringkat ini dihubungkan oleh rumus fonologi. Sebagai contoh kata
gerobak dalam bahasa Indonesia yang bentuk pada peringkat dalamnya
/gərobak/, tetapi dalam bentuk peringkat luarnya seperti orang di Jakarta
adalah [gərobag].

5. Proses Berbahasa
Proses berbahasa merupakan gabungan berurutan antara dua proses,
yaitu proses produktif dan proses reseptif (Chaer, 2003:45). Proses produktif
terjadi pada penutur yang menghasilkan kode-kode bahasa yang memiliki
makna. Sedangkan proses reseptif terjadi pada mitra tutur yang ditandai
dengan menangkap kode-kode bahasa dari penutur, lengkap dengan
maknanya. Penutur yang menghasilkan kode-kode melalui organ tutur dan
diterima oleh mitra tutur melalui organ pendengaran.
Proses produksi atau juga bisa disebut enkode memiliki tahapan proses
berawal dari enkode semantik, yakni proses penyusunan konsep, ide, atau
pengertian. Dilanjutkan dengan enkode gramatikal, yakni menyusun enkode
semantik ke dalam susunan gramatikal. Selanjutnya adalah enkode fonologi,
yakni penyusunan unsur bunyi dari kode itu.

20
Proses reseptif atau disebut juga dekode memiliki tahapan dari dekode
fonologi, dekode gramatikal, dan dekode semantik. Dekode fonologi
merupakan proses menerima bunyi-bunyi tersebut melalui organ pendengaran.
Kemudian lanjut dengan dekode gramatikal, yakni memahami bunyi sebagai
satuan gramatikal. Selanjutnya adalah dekode semantik, yakni memahami
konsep, ide, atau pengertian dari kode-kode bahasa tersebut.
Proses berbahasa produktif dan reseptif dapat dianalisis dengan
pendekatan perilaku dan pendekatan kognitif. Dalam psikolinguistik, aspek
reseptif lebih banyak disorot dan dibicarakan oleh pakar psikolinguistik
(Parera dalam Chaer, 2003: 46). Reseptif merupakan aspek yang lebih mudah
dikenali daripada aspek produktif, yakni dengan cara mengamati reseptif
setelah menerima isyarat bahasa.
Konsep dari enkode dan dekode ini adalah pengomunikasian makna
dari penutur ke mitra tutur. Dengan demikian dapat diartikan bahwa, setiap
orang yang sedang berkomunikasi, pada dasar sama-sama menyampaikan
makna dengan dikemas secara berurutan, yakni bagi penutur 1) enkode
semantik, 2) enkode gramatikal, dan 3) enkode fonologi. Sedangkan bagi
mitra tutur 3) dekode fonologi, 2) dekode gramatikal, dan 1) dekode semantik.

B. Hubungan Berbahasa, Berpikir dan Berbudaya


Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang hubungan bahasa dan
berpikir, di antaranya (Abdul Chaer, 2003: 51):

1. Teori Wihelm van Humboldt


Wilhelm van Humboldt, sarjana Jerman abad ke-15 menekankan
adanya ketergantungan pemikiran manusia pada bahasa. Maksudnya,
pandangan hidup dan budaya suatu masyarakat ditentukan oleh bahasa
masyarakat itu sendiri. Anggota-anggota masyarakat itu sendiri tiada dapat
menyimpang dari garis-garis yang telah ditentukan oleh bahasanya itu. Kalau
salah seorang dari anggota masyarakat ingin mengubah pandangan hidupnya,
maka dia harus mempelajari dulu satu bahasa lain itu. Maka dengan demikian
dia akan menganut cara berpikir dan juga budaya masyarakat lain.

21
Mengenai bahasa itu sendiri, Wilhelm van Humboldt berpendapat
bahwa substansi bahasa terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berupa bunyi-
bunyi, dan bagian lainnya berupa pikiran-pikiran yang belum terbentuk.
Bunyi-bunyi dibentuk oleh lautformdan pikiran-pikiran dibentuk oleh
ideenform atau innereform. Jadi bahasa menurut Wilhelm van Humboldt
merupakan sintesa dari bunyi (lautform) dan pikiran (ideenform).
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa bunyi bahasa
merupakan bentuk luar, sedang pikiran adalah bentuk dalam. Bentuk luar
bahasa itulah yang kita dengar, sedangkan bentuk dalam bahasa berada dalam
otak. Kedua bentuk inilah yang membelenggu manusia, dan menentukan cara
berpikirnya. Dengan kata lain Wilhelm Van Humboldt berpendapat bahwa
struktur suatu bahasa menyatakan kehidupan dalam otak dan pemikiran
penutur bahasa itu sendiri.

2. Teori Sapir-Whorf
Edward Sapir (1884-1939), linguis Amerika memiliki pendapat yang
hampir sama dengan Van Humboldt. Sapir mengatakan bahwa manusia hidup
di dunia ini di bawah belas kasih bahasanya yang telah menjadi alat pengantar
dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, telah menjadi fakta bahwa
kehidupan suatu masyarakat “didirikan” di atas tabiat-tabiat dan sifat-sifat
bahasa itu. Karena itulah tidak ada dua bahasa yang sama sehingga bisa
mewakili satu masyarakat yang sama. Setiap Bahasa satu masyarakat telah
mendirikan satu dunia tersendiri untuk penutur bahasa itu. Jadi, berapa banyak
manusia yang hidup di dunia ini sama dengan banyaknya jumlah bahasa yang
ada di dunia ini. Dengan demikian, Sapir menegaskan bahwa apa yang kita
dengar, kita lihat, kita alami dan kita perbuat saat ini adalah disebabkan oleh
sifat-sifat/tabiat-tabiat bahasa yang ada terlebih dahulu.
Menurut Benjamin Lee Worf (1897-1941), murid Sapir, sistem tata
bahasa bukan hanya alat untuk menyuarakan ide-ide, tetapi juga sebagai
pembentuk ide-ide itu, program kegiatan mental dan penentu struktur mental
seseorang. Dengan kata lain, bahasalah yang menentukan jalan pikiran
seseorang. Sesudah meneliti bahasa Hopi, salah satu bahasa Indian di

22
California Amerika Serikat, dengan mendalam Whorf mengajukan satu
hipotesa yang lazim disebut Hipotesa Whorf (atau Hipotesa Sapir-Whorf)
mengenai relativitas bahasa. Menurut hipotesa ini, bahasa-bahasa yang
berbeda membongkar alam ini dengan cara yang berbeda, sehingga terciptalah
konsep relativitas sistem-sistem konsep yang tergantung kepada bahasa yang
beragam itu. Tata bahasa itu bukan alat untuk mengeluarkan ide-ide, tetapi
merupakan pembentuk ide-ide itu. Tata bahasalah yang menentukan jalan
pikiran seseorang.
Berdasarkan hipotesis Sapir-Whorf itu dapatlah dikatakan bahwa
pandangan hidup bangsa-bangsa di Asia (Indonesia, Malaysia, Singapura,
Thailand, dan lain-lain) adalah sama karena bahasa-bahasa mereka memiliki
struktur bahasa yang sama. Sedangkan pandangan hidup bangsa-bangsa lain
seperti China, Jepang, Amerika, Eropa, Afrika, Perancis, Brazil adalah
berlainan karena struktur bahasanya berlainan. Untuk menjelaskan hal itu
Whorf membandingkan kebudayaan Hopi dan kebudayaan Eropa.
Kebudayaan Hopi diorganisasi oleh peristiwa-peristiwa (event), sedangkan
kebudayaan Eropa diorganisasi oleh ruang (space) dan waktu (time). Menurut
kebudayaan Hopi kalau satu bibit ditanam maka bibit itu akan tumbuh, jarak
waktu dan tempat tumbuhnya tidaklah penting, yang penting adalah peristiwa
menanamnya dan tumbuhnya bibit itu, sedangkan menurut kebudayaan Eropa
jangka wakatu itulah yang penting. Menurut Whorf, inilah bukti bahwa bahasa
mereka telah menggariskan realitas hidup dengan cara yang berlainan (Abdul
Chaer, 2003: 51).

3. Teori Jean Piaget


Untuk menentukan apakah bahasa terkait dengan pikiran, Piaget
berpendapat bahwa ada dua macam modus pikiran, yaitu pikiran terarah
(directed) atau pikiran intelegen (Intelegent) dan pikiran tak terarah atau
autistik (autistic) (Soenjono Dardjowidjojo, 2003: 283). Piaget yang
mengembangkan teori pertumbuhan kognisi menyatakan jika seorang anak
bisa menggolong-golongkan sekumpulan benda dengan cara yang berlainan,
sebelum menggunakan kata-kata yang serupa dengan benda tersebut, maka

23
perkembangan kognisi dapat diterangkan telah terjadi sebelum dia dapat
berbahasa. Menurut teori ini mempelajari segala sesuatu mengenai dunia
adalah melalui tindakan-tindakan dan perilakunya dan setelah itu melalui
bahasa. Perilaku kanak-kanak itu merupakan manipulasi dunia pada satu
waktu dan tempat tertentu dan bahasa merupakan alat untuk memberikan
kemampuan kepada kanak-kanak untuk beranjak ke arah yang lebih jauh dari
waktu dan tempat tertentu.
Mengenai Hubungan Bahasa dengan kegiatan intelek (berpikir), Piaget
menemukan dua hal penting, yaitu:
a. Sumber kegiatan intelek tidak terdapat dalam bahasa tetapi dalam
periode sensomotorik, yaitu satu sistem skema yang dikembangkan secara
penuh dan membuat lebih dahulu gambaran-gambaran dari aspek-aspek
struktur dan bentuk-bentuk dasar penyimpanan dan oprasi pemakaian
kembali.
b. Pembentukan pikiran yang tepat dikemukakan dan terbentuk
terjadi bersamaan dengan waktu pemerolehan bahasa. Keduanya milik
proses yang lebih umum, yaitu konstitusi fungsi lambang pada umumnya.
Awal terjadinya fungsi lambang ini ditandai oleh bermacam-macam
perilaku yang terjadi serentak perkembangannya.
Piaget juga menegaskan bahwa kegiatan intelek (berpikir) sebenarnya
adalah aksi atau perilaku yang telah dinuranikan dalam kegiatan-kegiatan
sensomotorik termasuk juga perilaku bahasa (Abdul Chaer, 2003: 55).

4. Teori L.S Vgotsky


Vgotsky berpendapat bahwa adanya satu tahap perkembangan bahasa
adalah sebelum adanya pikiran dan adanya satu tahap perkembangan pikiran
adalah sebelum adanya bahasa. Kemudian kedua garis perkembangan ini
saling bertemu, maka terjadilah secara serentak pikiran berbahasa dan bahasa
berpikir. Dengan kata lain, pikiran dan bahasa pada tahap permulaan
berkembang secara terpisah dan tidak saling mempengaruhi. Begitulah kanak-
kanak berpikir dengan menggunakan bahasa dan berbahasa dengan
menggunakan pikiran. Menurutnya pikiran berbahasa (verbal thought)
berkembang melalui beberapa tahap. Mula-mula kanak-kanak harus

24
mengucapkan kata-kata untuk dipahami kemudian bergerak ke arah
kemampuan mengerti atau berpikir tanpa mengucapkan kata-kata itu, lalu ia
bisa memisahkan kata-kata yang berarti dan yang tidak berarti. Selanjutnya
Vgotsky menjelaskan hubungan antara pikiran dan bahasa bukanlah suatu
benda, melainkan merupakan suatu proses, satu gerak yang terus menerus dari
pikiran ke kata (bahasa) dan dari kata ke pikiran.
Menurutnya juga dalam mengkaji gerak pikiran ini kita harus mengkaji
dua bagian ucapan yaitu ucapan dalam mempunyai arti yang merupakan aspek
semantik ucapan, dan ucapan luar yang merupakan aspek fonetik (bunyi
ucapan). Penyatuan dua bagian atau aspek ini, sangat rumit dan kompleks.
Dalam perkembangan bahasa kedua bahagian ini masing-masing bergerak
bebas. Oleh karena itu, kita harus membedakan antara aspek fonetik dan aspek
semantik. Keduanya bergerak dalam arah yang bertentangan dan
perkembangan keduanya sudah terjadi pada waktu dan dengan cara yang
sama. Namun, bukan berarti keduanya tidak saling bergantung. Satu pikiran
kanak-kanak pada mulanya merupakan satu keseluruhan yang tidak samar dan
harus mencari ekspresinya dalam bentuk satu kata. Setelah pikiran kana-kanak
itu mulai terarah dan meningkat, maka dia mulai kurang cenderung untuk
menyampaikan pikiran itu yang mulai membentuk satu kalimat lengkap.
Sebaliknya, ucapan bergerak dari satu keseluruhan kalimat lengkap, hal ini
menolong pikiran kanak-kanak untuk bergerak dari satu keseluruhan kepada
bagian-bagian yang bermakna.
Pikiran dan kata menurut Vgotsky tidak dipotong dari satu pola.
Struktur ucapan tidak hanya mencerminkan tetapi juga mengubahnya setelah
pikiran beerubah menjadi ucapan. Karena itulah kata-kata tidak dapat dipakai
oleh pikiran seperti memakai baju yang sudah siap. Pikiran tidak hanya
mencari ekspresinya dalam ucapan tetapi juga mendapatkan realitas dan
bentuknya dalam ucapan itu.

5. Teori Noam Chomsky


Mengenai hubungan berbahasa dan berpikir Noam Chomsky
mengajukan kembali teori klasik yang disebut hipotesis nurani. Sebenarnya,

25
teori ini tidak secara langsung membicarakan gabungan bahasa dengan
berpikir, tetapi kita dapat menarik kesimpulan mengenai hal ini, karena
Chomsky sendiri menegaskan bahwa pengkajian bahasa membukakan
perspektif yang baik dalam pengkajian proses mental manusia. Hipotesis
nurani mengatakan bahwa struktur bahasa-bahasa dalam adalah nurani.
Artinya, rumus-rumus itu dibawa sejak lahir. Pada waktu seorang kanak-kanak
mulai mempelajari bahasa ibu dia telah dilengkapi sejak lahir dengan satu
peralatan konsep, yaitu dengan struktur bahasa dalam yang bersifat universal.
Peralatan konsep ini tidak ada hubungannya dengan belajar atau pembelajaran.
Menurut Chomsky bahasa-bahasa yang ada di dunia ini adalah sama
karena didasari oleh satu sistem yang universal, hanyalah pada tingkat
dalamnya saja yang disebut struktur dalam (deep structure). Pada tingkat luar
(surface structure) bahasa-bahasa itu berbeda-beda. Pada tingkat dalam,
bahasa-bahasa itu terdapat rumus-rumus tata bahasa yang mengatur proses-
proses untuk memungkinkan aspek-aspek kreatif bahasa bekerja. Chomsky
mengistilahkan dengan dengan inti prooses generative bahasa (aspek kreatif)
terdapat pada tingkat dalam ini. Inti proses generative inilah yang merupakan
alat semantik untuk menciptakan kalimat-kalimat baru yang tidak terbatas
jumlahnya.
Hipotesis ini juga berpendapat bahwa struktur-struktur dalam bahasa
adalah sama. Struktur dalam setiap bahasa bersifat otonom dan karena itu
tidak ada hubungannya dengan sistem kognisi (pemikiran dan kecerdasan).

6. Teori Eric Lenneberrg


Berkenaan dengan masalah hubungan berbahasa dan berpikir, Eric
Lenneberrg mengajukan teori yang disebut teori kemampuan bahasa khusus.
Menurutnya, banyak bukti yang menunjukkan bahwa manusia menerima
warisan biologis asli berupa kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan
bahasa khusus untuk manusia dan yang tidak ada hubungannya dengan
kecerdasan dan pemikiran. Kanak-kanak menurutnya telah mempunyai biologi
utnuk berbahasa pada waktu mereka masih berada pada tingkat kemampuan
berpikir yang rendah, kemampuan bercakap, dan memahami kalimat yang

26
mempunayi korelasi rendah dengan IQ manusia. Penelitian yang dilakukan
oleh Lenneberrg telah menunjukkan bahwa bahasa-bahasa berkembang
dengan cara yang sama pada kanak-kanak yang cacat mental dan kanak-kanak
yang normal. Umpamanya kanak-kanak yang mempunyai IQ hanya 50 ketika
berusia 12 tahun dan lebih kurah 30 ketika berumur 20 tahun juga mampu
menguasai bahasa dengan baik, kecuali sesekali terjadi kesalahucapan dan
kesalahan tata bahasa. Menurutnya, adanya cacat kecerdasan yang parah tidak
berarti akan terjadi pula kerusakan bahasa. Sebaliknya adanya kerusakan
bahasa tidak berarti akan menimbulkan kemampuan kognitif yang rendah.
Bukti bahwa manusia telah dipersiapkan secara biologis adalah sebagai
berikut:
a. Kemampuan berbahasa sangat erat hubungannya dengan bagian-
bagian anatomi dan fonologi manusia, seperti bagian-bagian otak
tertentu yang mendasari bahasa.
b. Jadwal perkembangan bahasa yang sama berlaku bagi semua
kanak-kanak normal. Semua kanak-kanak bisa dikatakan mengikuti
strategi dan waktu pemerolehan bahasa yang sama, yaitu lebih dahulu
menguasai prinsip-prinsip pembagian dan pola persepsi.
c. Perkembangan bahasa tidak dapat dihambat meskipun pad kanak-
kanak yang mempunyai cacat tertentu seperti buta, tuli atau memiliki
orang tua pekak sejak lahir. Namun, bahasa kanak-kanak ini dapat
berkembang dengan hanya sedikit keterlambatan.
d. Bahasa tidak dapat diajarkan pada makhluk lain.
e. Setiap bahasa didasarkan pada prinsip semantik, sintaksis dan
fonologi.

7. Teori Brunner
Berkenaan dengan masalah hubungan bahasa dan berpikir, Brunner
memperkenalkan teori yang disebutnya teori instrumentalisme. Menurut teori
ini, bahasa adalah alat pada manusia untuk mengembangkan dan
menyempurnakan pemikiran itu. Dengan kata lain, bahasa dapat membantu
pemikiran manusia supaya dapat berpikir lebih sistematis. Brunner
berpendapat bahwa berbahasa dan berpikir berkembang dari sumber yang

27
sama. Oleh karena itu, keduanya mempunyai bentuk yang sangat serupa dan
saling membantu.
Dalam bidang pendidikan, implikasi teori Brunner ini sangat besar.
Menurut teori ini bahasa sebagai alat untuk berpikir harus berhubungan
langsung dengan perilaku atau aksi serta dengan struktur pada tingkat
permulaan. Lalu pada peringkat selanjutnya bahasa ini harus berkembang
kearah suatu bentuk yang melibatkan keekplisitan yang besar dan ketidak
ketergantungan pada konteks, sehingga pikiran-pikiran atau kalimat-kalimat
dapat ditafsirkan atau dipahami tanpa pengetahuan situasi sewaktu kalimat itu
diucapkan, atau tanpa mengetahui situasi yang mendasari maksud dan tujuan
si penutur. Dengan bahasa sebagai alat kita dapat melakukan aksi kearah yang
lebih jauh lagi sebelum aksi itu terjauh. Dengan cara yang sama pikiran juga
berguna untuk membantu terjadinya aksi karena pikiran juga dapat membantu
peta-peta kognitif mengarah kepada sesuatu yang akan ditempuh untuk
mencari tujuan. Jadi, pada mulanya berbahasa dan berpikir muncul secara
bersamaan untuk mengatur aksi manusia. Selanjutnya keduanya saling
membantu. Dalam hal ini pikiran memakai elemen hubungan-hubungan yang
dapat digabungkan untuk membimbing aksi yang sebenarnya, sedangkan
bahasa menyediakan representasi produser-produser untuk melaksanakan aksi-
aksi itu.
Di samping adanya dua kecakapan yang melibatkan bahasa, yaitu
kecakapan linguistik dan kecakapan komunikasi, teori Bruner ini juga
memperkenalkan adanya kecakapan analisis yang dimiliki oleh setiapa
manusia yang berbahasa. Kecakapan analisis inilah yang memungkinkan
tercapainya peringkat abstrak yang berbeda-beda. Misalnya, yang
memungkinkan seorang anak beranjak lebih jauh dari apa yang ada di
hadapannya. Kecakapan analisis jugalah yang memungkinkan seseorang untuk
mengalihkan perhatian dari yang satu kepada yang lainnya (Abdul Chaer,
2003: 59-60).

8. Kekontroversian Hipotesis Sapir-Whorf

28
Teori-teori atau hipotesis-hipotesis yang dibicarakan di atas tampak
cenderung saling bertentangan. Teori pertama dari Von Humboldt mengatakan
bahwa adanya pandangan hidup yang bermacam-macam adalah karena adanya
keragaman sistem bahasa dan adanya system bahasa dan adanya system
unifersal yang dimiliki oleh bahasa-bahasa yang ada di dunia ini. Teori kedua
dari Sapir-Whorf menyatakan bahwa struktur bahasa nenentukan struktur
pikiran. Teori ketiga dari Piaget Menyatakan bahwa struktur pikiran di bentuk
oleh perilaku, dan bukan oleh struktur bahasa. Struktur pikiran mendahului
kemampuan-kemampuan yang dipakai kemudian untuk berbahasa. Teori
keempat dari Vygotsky menyatakan bahwa pada mulanya bahasa dan pikiran
berkembang sendiri-sendiri dan tidak saling mempengaruhi; tetapi pada
pertumbuhan selanjutnya keduanya saling mempengaruhi; bahasa
mempengaruhi pikiran dan pikiran mempengaruhi bahasa. Teori kelima dari
Chomsky menyatakan bahwa bahasa dan pemikiran adalah dua buah system
yang bersaingan yang memiliki keotonomiannya masing-masing. Pada tingkat
struktur-dalam bahasa-bahasa di dunia ini sama karena di dasari oleh system
unifersal; tetpi pada tingkat struktur-luar bahasa-bahasa itu berbeda-beda.
Teori ke enam dari Lennerberg mengatakan bahwa manusia telah menerima
warisan biologi ketika dilahirkan, berupa kemampuan berkomunikasi dengan
bahasa yang khusus untuk manusia; dan tidak ada hubungannya dengan
kecerdasan atau pemikiran. Kemampuan berbahasa ini mempunyai korelasi
yang rendah dengan IQ manusia. Teori ketujuh dari Bruner menyatakan
bahwa bahasa adalah alat bagi manusia untuk berpikir, untuk
menyempurnakan dan mengembangkan pemikirannya itu.
Beberapa uraian para ahli mengenai keterkaitan antara bahasa dan
pikiran antara lain:
a. Bahasa mempengaruhi pikiran
Pemahaman terhadap kata mempengaruhi pandangannya terhadap
realitas. Pikiran dapat manusia terkondisikan oleh kata yang manusia
digunakan. Tokoh yang mendukung hubungan ini adalah Benyamin Whorf
dan gurunya, Edward Saphir. Whorf mengambil contoh Bangsa Jepang. Orang
Jepang mempunyai pikiran yang sangat tinggi karena orang Jepang

29
mempunyai banyak kosa kata dalam mejelaskan sebuah realitas. Hal ini
membuktikan bahwa mereka mempunyai pemahaman yang mendetail tentang
realitas.
b. Pikiran mempengaruhi bahasa
Pendukung pendapat ini adalah tokoh psikologi kognitif yang tak asing
bagi manusia, yaitu Jean Piaget. Melalui observasi yang dilakukan oleh Piaget
terhadap perkembangan aspek kognitif anak. Ia melihat bahwa perkembangan
aspek kognitif anak akan mempengaruhi bahasa yang digunakannya. Semakin
tinggi aspek tersebut semakin tinggi bahasa yang digunakannya.
c. Bahasa dan pikiran saling mempengaruhi
Hubungan timbal balik antara kata-kata dan pikiran dikemukakan oleh
Benyamin Vigotsky, seorang ahli semantik berkebangsaan Rusia yang teorinya
dikenal sebagai pembaharu teori Piaget mengatakan bahwa bahasa dan pikiran
saling mempengaruhi. Penggabungan Vigotsky terhadap kedua pendapat di
atas banyak diterima oleh kalangan ahli psikologi kognitif.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian bab pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa dan
pikiran memiliki keterkaitan yang saling mempengaruhi (resiprokal). Variabel
berupa domain-domain kognitif dapat dipertimbangkan sebagai pendahulu
perkembangan struktur bahasa pada awal tahap perkembangan anak.

Namun demikian, ada proses tahapan produksi bahasa (production of


language) mungkin lepas atau tidak tergantung pada domain kognitif yang lain.
Sebagai bukti misalnya, beberapa individu yang memiliki gangguan keterbatasan
bahasa memiliki anterior aphasics di dalam otaknya dengan performansi yang
optimal.

30
Teori-teori atau hipotesis-hipotesis yang dibicarakan di atas tampak
cenderung saling bertentangan. Diantara teori atau hipotesis di atas barangkali
hipotesis Sapir-Whorf-lah yang paling controversial. Hipotesis ini yang
menyatakan bahwa jalan pikiran dan kebudayaan suatu masyarakat ditentukan
atau dipengaruhi oleh struktur bahasanya, namun hipotesis tersebut banyak
menimbulkan kritik dan reksi hebat dari para ahli filsafat, linguistik, psikologi,
psikolinguistik, sosiologi, antropologi dan lain-lain. Dan untuk menguji hipotesis
Sapir-Whorf itu, Farb (1947) mengadakan penelitian.

Para ahli menguraikan mengenai keterkaitan antara bahasa dan pikiran


antara lain:

1. Bahasa mempengaruhi pikiran


2. Pikiran mempengaruhi bahasa
3. Bahasa dan pikiran saling
mempengaruhi.

B. Saran

Penulis menyadari makalah ini masih banyak kekurangannya. Maka dari


itu penulis butuh kritik dan saran serta dukungan dari dosen pembimbing dan
pembaca. Walaupun demikian penulis berharap makalah ini dapat menambah
wawasan dan ilmu pengetahuan serta bermanfaat bagi pembaca sehingga dapat
diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

31
DAFTAR RUJUKAN

Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Cipta.


Khairil. 2011. “Hakikat dan Fungsi Bahasa” dalam
http://khairilusman.wordpress.com/2011/11/12/hakikat-dan-fungsi-
bahasa/. Diakses pada tanggal 1 Februari 2020.
Luthfi, Hikmatul. 2008. “Struktur Luar” dalam
http://bebaslandas.blogspot.com/2008/11/struktur-luar-pengertian-struktur-
luar.html. Diakses pada tanggal 1 Februari 2020.
Mustyka. 2011. “Bahasa dan Berbahasa” dalam http://mustyka-
mustyka.blogspot.com/2011/12/contoh-makalah-bahasa-dan-
berbahasa.html. Diakses pada tanggal 1 Februari 2020.
Ramlan. 2010. “Hakikat Bahasa” dalam
http://ramlannarie.wordpress.com/2010/06/09/hakikat-bahasa/. Diakses
pada tanggal 1 Februari 2020.

32
33