Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II


DENGAN CORONARY ARTERY DISEASE (CAD)
DIRUANG CVCU RSSA MALANG

Disusun oleh:
Siti Qorina Maghfiroh
14401.16.17036

PROGRAM STUDY D3 KEPERAWATAN


STIKES HAFSHAWATY PESANTREN ZAINUL HASAN
PROBOLINGGO
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Nama : Siti Qorina Maghfiroh


NIM : 14401.16.17036
Judul : trauma abdomen

Mahasiswa

( )

Mengetahui,
Pembimbing Akademik Pembimbing Ruangan

( ) ( )
Kepala Ruangan

( )
LEMBAR KONSUL
Nama : Siti Qorina Maghfiroh
NIM : 14401.16.17036
NO. TANGGAL KONSUL SARAN PEMBIMBING TTD
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
DENGAN KASUS CORONARY ARTERY DESEASE (CAD)

I. DEFINISI
Penyakit arteri koroner (CAD) adalah penyempitan atau penyumbatan
arteri koroner, arteri yang menyalurkan darah ke otot jantung. Bila aliran
darah melambat, jantung tak mendapat cukup oksigen dan zat nutrisi. Hal
ini biasanya mengakibatkan nyeri dada yang disebut angina. Bila satu atau
lebih dari arteri koroner tersumbat sama sekali, akibatnya adalah serangan
jantung (kerusakan pada otot jantung).( Brunner and Sudarth, 2001).
Gagal jantung sering disebut dengan gagal jantung kongestif adalah
ketidakmampuan jantung untuk memompakan darah yang adekuat untuk
memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi.Istilah gagal jantung
kongestif sering digunakan kalau terjadi gagal jantung sisi kiri dan kanan (
Brunner & Suddarth, 2002)
Penyakit jantung koroner / penyakit arteri koroner merupakan suatu
manifestasi khusus dan aterosklerosis pada arteri koroner. Plak terbentuk
pada percabangan arteri yang ke arah arteri kiri, arteri koronaria kanan dan
agak jarang pada arteri sirkumflek. Aliran darah ke distal dapat mengalami
obstruksi secara permanen maupun sementara yang disebabkan oleh
akumulasi plak atau penggumpalan. Sirkulasi kolateral berkembang di
sekitar obstruksi arteromasus yang menghambat pertukaran gas dan nutrisi
ke miokardium.

II. ETIOLOG
Penyakit arteri koroner bisa menyerang semua ras, tetapi angka kejadian
paling tinggi ditemukan pada orang kulit putih. Tetapi ras sendiri tampaknya
bukan merupakan bourgeois penting dalam gaya hidup seseorang. Secara
spesifik, faktor-faktor yang meningkatkan resiko terjadinya penyakit arteri
koroner adalah :
1. Berusia lebih dari 45 tahun (bagi pria).

Sangat penting bagi kaum pria mengetahui usia rentan terkena


penyakit jantung koroner. Pria berusia lebih dari 45 tahun lebih banyak
menderita serangan jantung ketimbang pria yang berusia jauh di bawah
45 tahun.

2. Berusia lebih dari 55 tahun atau mengalami menopause dini sebagai


akibat operasi (bagi wanita).

Wanita yang telah berhenti mengalami menstruasi (menopause) secara


fisiologis ataupun secara dini (pascaoperasi) lebih kerap terkena penyakit
jantung koroner apalagi ketika usia wanita itu telah menginjak usila (usia
lanjut).

3. Riwayat penyakit jantung dalam keluarga

Riwayat penyakit jantung di dalam keluarga sering merupakan akibat


dari profil kolesterol yang tidak normal, dalam artian terdapat kebiasaan
yang "buruk" dalam segi diet keluarga.

4. Diabetes.

Kebanyakan penderita diabetes meninggal bukanlah karena


meningkatnya level gula darah, namun karena kondisi komplikasi ke
jantung mereka.

5. Merokok.

Merokok telah disebut-sebut sebagai salah satu faktor risiko utama


penyakit jantung koroner. Kandungan nikotin di dalam rokok dapat
merusak dinding (endotel) pembuluh darah sehingga mendukung
terbentuknya timbunan lemak yang akhirnya terjadi sumbatan pembuluh
darah.
6. Tekanan darah tinggi (hipertensi).

Tekanan darah yang tinggi dan menetap akan menimbulkan trauma


langsung terhadap dinding pembuluh darah arteri koronaria, sehingga
memudahkan terjadinya arterosklerosis koroner (faktor koroner) yang
merupakan penyebab penyakit arteri/jantung koroner.

7. Kegemukan (obesitas).

Obesitas (kegemukan yang sangat) bisa merupakan manifestasi dari


banyaknya lemak yang terkandung di dalam tubuh. Seseorang yang
obesitas lebih menyimpan kecenderungan terbentuknya plak yang
merupakan cikal bakal terjadinya penyakit jantung koroner.

8. Gaya hidup buruk.

Gaya hidup yang buruk terutama dalam hal jarangnya olahraga ringan
yang rutin serta pola makan yang tidak dijaga akan mempercepat
seseorang terkena pneyakit jantung koroner.

9. Stress.
Banyak penelitian yang sudah menunjukkan bahwa bila menghadapi
situasi yang tegang, dapat terjadi aritmia jantung yang membahayakan
jiwa.

III. PATOFISIOLOGIS
Aterosklerosis dimulai ketika kolesterol, lemak tetimbun di intima arteri.
Timbunan ini akan mengakibatkan terganggunya absorbsi nutrient sel-sel
endotel yang menyusun lapisan dalam pembuluh darah dan menyumbat
aliran darah karena timbunan ini menonjol ke lumen pembuluh darah. Sel-
sel endotel pembuluh darah yang terkena akan mengalami nekrotik dan
menjadi jaringan parut.
Selanjutnya lumen bertambah sempit dan aliran darah bisa terhambat.
Pada lumen yang menyempit dan berdinding kasar, akan cenderung
terjadinya pembentukan bekuan darah. Hal ini menjelaskan bagaiman
terjadinya koagulasi intravaskuler yang diikuti oleh penyakit tromboemboli.

a. CAD ditandai oleh penyempitan koroner arteri akibat aterosklerosis,


spasme atau, jarang, emboli.

b. Perubahan aterosklerosis pada arteri koroner hasil kerusakan ke lapisan


dalam arteri koroner dengan kekakuan pembuluh darah dan respon lalai
berkurang.

c. Akumulasi deposit lemak dan lipid, bersama dengan perkembangan plak


fibrosa atas kawasan yang rusak di pembuluh darah, menyebabkan
penyempitan pembuluh darah, sehingga mengurangi ukuran lumen
pembuluh darah dan menghambat aliran darah ke jaringan miokard.

d. Penurunan pengiriman oksigen dan nutrisi ke jaringan menyebabkan


iskemia miokard transien dan nyeri.

e. Penyebab plak arteri mengeras keras, sedangkan plak lembut dapat


menyebabkan pembentukan bekuan darah
IV. ANATOMI FISIOLOGIS

Endapan lemak (ateroma atau plak) terbentuk secara bertahap dan


tersebar di percabangan besar dari kedua arteri koroner utama, yang
mengelilingi jantung dan menyediakan darah bagi jantung. Proses
pembentukan ateroma ini disebut aterosklerosis.
Ateroma bisa menonjol ke dalam arteri dan menyebabkan arteri menjadi
sempit.
Jika ateroma terus membesar, bagian dari ateroma bisa pecah dan masuk ke
dalam aliran darah atau bisa terbentuk bekuan darah di permukaan ateroma
tersebut.
Supaya bisa berkontraksi dan memompa secara normal, otot jantung
(miokardium) memerlukan pasokan darah yang kaya akan oksigen dari
arteri koroner. Jika penyumbatan arteri koroner semakin memburuk, bisa
terjadi iskemi (berkurangnya pasokan darah) pada otot jantung,
menyebabkan kerusakan jantung.
Penyebab utama dari iskemi miokardial adalah penyakit arteri koroner.
Komplikasi utama dari penyakit arteri koroner adalah angina dan serangan
jantung (infark miokardial).
V. MENIFESTASI KLINIS
1. Nyeri. Jika otot tidak mendapatkan cukup darah (suatu keadaan yang
disebut iskemi), maka oksigen yang tidak memadai dan hasil
metabolisme yang berlebihan menyebabkan kram atau kejang. Angina
merupakan perasaan sesak di dada atau perasaan dada diremas-remas,
yang timbul jika otot jantung tidak mendapatkan darah yang cukup. Jenis
dan beratnya nyeri atau ketidaknyamanan ini bervariasi pada setiap
orang. Beberapa orang yang mengalami kekurangan aliran darah bisa
tidak merasakan nyeri sama sekali (suatu keadaan yang disebut silent
ischemia).
2. Sesak napas merupakan gejala yang biasa ditemukan pada gagal
jantung. Sesak merupakan akibat dari masuknya cairan ke dalam rongga
udara di paru-paru (kongesti pulmoner atau edema pulmoner).
3. Kelelahan atau kepenatan. Jika jantung tidak efektif memompa, maka
aliran darah ke otot selama melakukan aktivitas akan berkurang,
menyebabkan penderita merasa lemah dan lelah. Gejala ini seringkali
bersifat ringan. Untuk mengatasinya, penderita biasanya mengurangi
aktivitasnya secara bertahap atau mengira gejala ini sebagai bagian dari
penuaan.
4. Palpitasi (jantung berdebar-debar).
5. Pusing & pingsan. Penurunan aliran darah karena denyut atau irama
jantung yang abnormal atau karena kemampuan memompa yang buruk,
bisa menyebabkan pusing dan pingsan.

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. ECG menunjukan: adanya elevasi yang merupakan tanda dari iskemi,
gelombang T inversi atau hilang yang merupakan tanda dari injuri, dan
gelombang Q yang mencerminkan adanya nekrosis.
2. Enzym dan Isoenzym Pada Jantung: CPK-MB meningkat dalam 4-12
jam, dan mencapai puncak pada 24 jam. Peningkatan SGOT dalam 6-12
jam dan mencapai puncak pada 36 jam.
3. Elektrolit: ketidakseimbangan yang memungkinkan terjadinya
penurunan konduksi jantung dan kontraktilitas jantung seperti hipo atau
hiperkalemia.
4. Whole Blood Cell: leukositosis mungkin timbul pada keesokan hari
setelah serangan.
5. Analisa Gas Darah: Menunjukan terjadinya hipoksia atau proses
penyakit paru yang kronis atau akut.
6. Kolesterol atau Trigliseid: mungkin mengalami peningkatan yang
mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis.
7. Chest X-Ray: mungkin normal atau adanya cardiomegali, CHF, atau
aneurisma ventrikiler.
8. Echocardiogram: Mungkin harus di lakukan guna menggambarkan
fungsi atau kapasitas masing-masing ruang pada jantung.
9. Exercise Stress Test: Menunjukan kemampuan jantung beradaptasi
terhadap suatu stress/ aktivitas.

VII. PENATALAKSANAAN
1. Aspirin / Klopidogrel / Tiklopidin.
Obat-obatan ini mengencerkan darah dan mengurangi kemungkinan
gumpalan darah terbentuk pada ujung arteri jantung menyempit, maka
dari itu mengurangi resiko serangan jantung.
2. Beta-bloker (e.g. Atenolol, Bisoprolol, Karvedilol).
Obatan-obatan ini membantu untuk mengurangi detak jantung dan
tekanan darah, sehingga menurunkan gejala angina juga melindungi
jantung.
3. Nitrates (e.g. Isosorbide Dinitrate).
Obatan-obatan ini bekerja membuka arteri jantung, dan kemudian
meningkatkan aliran darah ke otot jantung dan mengurangi gejala nyeri
dada. Bentuk nitrat bereaksi cepat, Gliseril Trinitrat, umumnya diberikan
berupa tablet atau semprot di bawah lidah, biasa digunakan untuk
penghilang nyeri dada secara cepat.
4. Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors (e.g. Enalapril, Perindopril)
and Angiotensin Receptor Blockers (e.g. Losartan, Valsartan).
Obatan-obatan ini memungkinkan aliran darah ke jantung lebih
mudah, dan juga membantu menurunkan tekanan darah.
5. Obatan-obatan penurun lemak (seperti Fenofibrat, Simvastatin,
Atorvastatin, Rosuvastatin).
Obatan-obatan ini menurunkan kadar kolesterol jahat (Lipoprotein
Densitas-Rendah), yang merupakan salah satu penyebab umum untuk
penyakit jantung koroner dini atau lanjut. Obat-obatan tersebut
merupakan andalan terapi penyakit jantung koroner.

VIII. ASKEP SECARA TEORI


A. Pengkajian
1. Identitas
Meliputi nama pasien, umur, jenis kelamin, suku bangsa, pekerjaan,
pendidikan, alamat, tanggal MRS dan diagnosa medis. ( Wantiyah, 2010
: hal 17)
2. Keluhan utama
Pasien CAD biasanya merasakan nyeri dada dan dapat dilakukan dengan
skala nyeri 0-10, 0 tidak nyeri dan 10 nyeri paling tinggi. Pengkajian
nyeri secara mendalam menggunakan pendekatan PQRST, meliputi
prepitasi dan penyembuh, kualitas dan kuantitas, intensitas, durasi,
lokasi, radiasi/penyebaran,onset. ( Wantiyah,2010:hal 18)
3. Riwayat kesehatan lalu
Dalam hal ini yang perlu dikaji atau ditanyakan pada klien antara lain
apakah klien pernah menderita hipertensi atau diabetes melitus, infark
miokard tau penyakit jantung koroner itu sendiri sebelumnya. Serta
ditanyakan apakah pernah MRS sebelumnya. ( Wantiyah,2010:hal 17)
4. Riwayat kesehatan sekarang
Dalam mengkaji hal ini menggunakan analisa systom PQRST. Untuk
membantu klien dalam mengutamakan masalah keluhannya secara
lengkap. Pada klien CAD umumnya mengalami nyeri dada. (
Wantiyah,2010:hal 18)
5. Riwayat kesehatan keluarga
Mengkaji pada keluarga, apakah didalam keluarga ada yang menderita
penyakit jantung koroner. Riwayat penderita CAD umumnya mewarisi
juga faktor- faktor risiko lainnya. Seperti abnormal kadar kolestrol, dan
peningkatan tekanan darah. (A.Fauzi Yahya 2010: hal 28)
6. Riwayat psikososial
Pada klien CAD biasanya yang muncul pada klien dengan penyakit
jantung koroner adalah menyangkal, takut, cemas, dan marah,
ketergantungan, depresi dan penerimaan realistis. ( Wantiyah,2010:hal
18)
7. Pola aktivitas dan latihan
Hal ini perlu dilakukan pengkajian pda pasien dengan penyakit jantung
koroner untuk menilai kemampuan dan toleransi pasien dalam
melakukan aktivitas. Pasien penyakit jantung koroner mengalami
penurunan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari – hari.
(Panthee & Kritpraha, 2011 : hal 15)
8. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Keadaan umum klien mulai pada saat pertama kali bertemu dengan
klien dilanjutkan mengukur tanda – tanda vital. Kesadaran klien juga
diamati apakah kompos mantis, apatis, samnolen, delirium, semi
koma atau koma. Keadaan sakit juga diamati apakah sedang, berat,
ringan atau tampak tidak sakit.
b. Tanda – tanda vital
c. Pemeriksaan fisik persistem
1. Sistem persyarafan, meliputi kesadaran, ukuran pupil,
pergerakan seluruh ekstermitas dan kemampuan menanggapi
respon verbal maupun non verbal. (Aziza,2010:hal 13)
2. Sistem penglihatan, pada klien CAD mata mengalami
pandangan kabur. (Gondor, 2015:hal 22)
3. Sistem pendengaran, pada klien CAD pada sistem pendengaran
telinga, tidak mengalami gangguan. (Gondor, 2015:hal 22)
4. Sistem abdomen, bersih, datar dan tidak ada pembesaran hati
(Gondor, 2015:hal 22)
5. Sistem respirasi, pengkajian dilakukan untuk mengetahui secara
dinit tanda dan gejala tidak adekuatnya ventilasi dan oksigenasi.
Pengkajian meliputi persentase fraksi oksigen, volume tidal,
frekuensi pernapasan dan modus yang digunakan untuk
bernapas. Pastikan posisi ETT tepat pada tempatnya,
pemeriksaan analisa gas darah dan elektrolit untuk mendeteksi
hipoksemia (Aziza,2010:hal13)
6. Sistem kardiovaskuler, pengkajian dengan teknik inspeksi,
auskultrasi, palpasi, dan perkusi perawat melakukan pengukuran
tekanan darah; suhu;denyut jantung dan iramanya; pulsasi prifer;
dan temperatur kulit. Auskultrasi bunyi jantung dapat
menghasilkan bunyi gallop S3 sebagai indikasi gagal jantung
atau adanya bunyi gallop S4 tanda hipertensi sebagai komplikasi.
Peningkatan irama napas merupakan salah satu tanda cemas atau
takut (Wantiyah, 2010: hal 18)
7. Sistem gastrointestinal, pengkajian pada gastrointestinal meliputi
aukultrasi bising usus, palpasi abdomen (nyeri, distensi).
(Aziza,2010:hal13)
8. Sistem muskuluskeletal, pada klien CAD adanya kelemahan dan
kelelahan otot sehingga timbul ketidakmampuan melakukan
aktifitas yang diharapkan atau aktifitas yang biasanya dilakukan.
(Aziza,2010:hal13)
9. Sistem endokrin, biasanya terdapat peningkatan kadar gula
darah. (Aziza,2010:hal13)
10. sistem integumen, pada klien CAD akral terasa hangat, turgor
baik. (Gondon, 2015:hal 22)
11. sistem perkemihan, kaji ada tidaknya pembengkakan dan nyeri
pada daerah pinggang, observasi dan palpasi pada daerah
abdomen bawah untuk mengetahui adanya retensi urine dan kaji
tentang jenis cairan yang keluar. (Aziza,2010:hal13)

B. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan
kontakilitas miokardial (penurunan)
2. pola nafas tidak efektif berhubungan dengan menurunnya
ekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam
rongga pleura
3. nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis
C. intervensi
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan
kontakilitas miokardial (penurunan).
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi curah jantung dalam
keadaan stabil.
Kriteria hasil:
 Tanda Vital dalam rentang normal (Tekanan darah, Nadi,
respirasi)
 Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada kelelahan
 Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak ada asites
 Tidak ada penurunan kesadaran
 AGD dalam batas normal
 Tidak ada distensi vena leher
 Warna kulit normal
Intwevensi:
Observasi
 Identifikasi tanda atau gejala primer penurunan curah
jantung
 Identifikasi tanda atau gejala sekunder penurunan curah
jantung
 Monitor tekanan darah
 Monitor intake dan output cairan
 Monitor saturasi oksigen
 Monitor keluhan nyeri dada
 Monitor fungsi alat pemicu jantung
 Monitor EKG
Terapeutik
 Posisikan pasien semi fowler atau fowler
 Berikan diet jantung yang sesuai
 Berikan terapi relaksasi untuk mengurangi stres
 Berikan dunkungan emosional dan spiritual
Edukasi
 Anjurkan beraktifitas fisik sesuai toleransi
 Anjurkan berhebti merokok
 Anjurkan keluarga mengukur intake dan output cairan
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian antiaritmia
 Rujuk ke program rehabilitasi jantung
2. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan menurunnya
ekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam
rongga pleura
 Tujuan
- Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7 jam
sekali di harapkan pasien membaik
 Kriteria Hasil
1. Tekanan ekspirasi atau inspirasi membaik
2. Frekuensi napas membaik
3. Kedalaman napas membaik
4. Penggunan otot bantu napas membaik
 Intervensi

Observasi

1. Monitor pola napas


2. Monitor bunyi napas tambahan
3. Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head tilt chin lift
4. Posisikan semi fowler atau fowler
5. Berikan oksigen

Terapeutik

Monitor frekunsi irama, kedalaman dan upaya napas

1. Monitor pola napas


2. Monitor adanya sumbatan jalan napas
3. Palpasi kesimetrisan ekspensi paru
4. Auskultasi bunyi napas
5. Monitor saturasi oksigen
Edukasi
1. Identifikasi efek perubhan otot bantu napas
2. Monitor status respirasi dan oksigenasi
3. Pertahankan kepatenan jalan napas
4. Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan
5. Gunakan bag-valve mask, jika perlu
DAFTAR PUSTAKA

Rilantono, lily L.2012. Penyakit Kardiovaskular (PKV). Jakarta:Badan Penerbit


FKUI
Risa Hermawati, Haris Candra Dewi.2014.penyakit jantung koroner. Jakarta :
Kandas media (Imprint agromedia pustaka.
WHO. 2014. Fact sheets: The top 10 causes of death.
http://www.jitunews.com/read/35580/berdasarkan-data-who-penyakit-
kardiovaskular-penyebab-kematian-nomor-satu (diakses 01 Oktober 2017)
Judith.M.Wilkison dan Nancy.R.2013.Buku Saku Diagnosis Keperawatan Ed
9.Jakarta: EGC
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Ed.1. Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawatan Nasional Indonesia
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2017. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Ed.1
cetakan 2. Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawatan Nasional Indonesia
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Ed.1 cetakan 2. Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawatan Nasional
Indonesia