Anda di halaman 1dari 180

STRATEGI

BELAJAR MENGAJAR
MATEMATIKA
STRATEGI
BELAJAR MENGAJAR
MATEMATIKA

Arief Aulia Rahman, M.Pd

Syiah Kuala University Press


2018
Strategi Belajar Mengajar Matematika
© 2018 Arief Aulia Rahman
Cetakan Pertama

Hak Penerbitan pada Syiah Kuala University Press


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara
apa pun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotokopi, tanpa
izin sah dari penerbit

Desain Cover : Firdaus Nuzula


Penata letak & isi : Cut Eva Nasryah
Penerbit & percetakan : Syiah Kuala University Press

Perpustakaan Nasional Katalog : Katalog Dalam Terbitan (KDT)

ARIEF AULIA RAHMAN, M.PD


Strategi Belajar Mengajar Matematika
Banda Aceh : Syiah Kuala University Press 2018
147 Hlm ; 23 cm

ISBN 978-602-5679-36-0

Syiah Kuala University Press


Jl. Teuku Chik Pante Kulu No.1
Kopelma Darussalam-Banda Aceh 23111
Telp : (0651) 801222
Email : upt.percetakan@unsyiah.ac.id
http : www.percetakan.unsyiah.ac.id
INDONESIA

Anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI)


PRAKATA

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Buku ini merupakan karya pertama penulis yang berisi
tentang strategi belajar mengajar matematika pada tingkat
sekolah dasar hingga sekolah menengah atas berdasarkan
kumpulan teori-teori dan referensi dari para ahli dibidang
pendidikan. Buku ini dirasakan penting mengingat kebutuhan
sejumlah pendidik dan calon pendidik dalam memahami
strategi, metode dan cara mengelola kelas agar pembelajaran
lebih maksimal dan efektif.
Pendidik memiliki tugas pokok dalam mengajar,
membimbing dan melatih peserta didik. Oleh karena itu, seorang
pendidik haruslah paham akan konteks tugasnya, baik secara
sistem pengelolaan dan manajemen kelas. Proses kegiatan
belajar mengajar yang berkualitas perlu memperhatikan proses
pembelajaran yang dipengaruhi oleh faktor motivasi, hubungan
antara siswa dan pendidik atau siswa dengan siswa, kemampuan
verbal, tingkat kebebasan dan keterampilan pendidik dalam
mengelola kelas. Jika faktor-faktor ini dipenuhi, maka proses
belajar mengajarpun akan berjalan baik.
Pendidik harus mampu melatih peserta didik dalam
memecahkan suatu permasalahan tanpa membebani mental
sehingga peserta didik tidak merasa bahwa pembelajaran
tersebut menakutkan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan
dilakukan oleh seorang pendidik dalam pembelajaran, yaitu
membuat ilustrasi, mendefinisi, menganalisis, bertanya,
merespon, membangun kepercayaan, memberikan pandangan
yang bervariasi, menyediakan media serta menyesuaikan
metode pembelajaran agar proses belajar maksimal dan
senantiasa meningkatkan semangat peserta didik dalam
mempelajari materi.

iv
Dalam mencapai kesuksesan mengajar, seorang guru harus
memiliki perspektif strategi yang efektif. Tak terkecuali saat
belajar di sekolah, strategi pembelajaran akan sulit diterapkan
apabila tidak dibiasakan, saat paling tepat untuk menguasai dan
menjadikan strategi pembelajaran sebagai bagian dari kehidupan
profesi pendidikan dengan mempelajari strategi pembelajaran
yang dirangkum dalam buku ini.

Terimakasih saya ucapkan kepada ayahanda, Drs. Ahmad


As’adi dan Ibunda Dra. Aminah Sulaiman serta Cut Eva
Nasryah, M.Pd yang telah memberikan semangat dan motivasi
kepada penulis sehingga terbitlah buku berjudul Strategi Belajar
Mengajar Matematika ini. Saya berharap semoga buku ini
bermanfaat bagi para pembaca, terutama para civitas akademika.

Semoga Buku ini berguna bagi bangsa dan negara.

Wssalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Meulaboh, Juni 2018

−Arief Aulia Rahman

v
DAFTAR ISI

PRAKATA.......................................................................... iv
DAFTAR ISI....................................................................... vi

BAB I HAKIKAT STRATEGI BELAJAR


MENGAJAR.......................................................... 1
A. Pengertian Strategi Belajar Mengajar .............. 1
B. Komponen Belajar Mengajar Matematika ....... 9
C. Tugas dan Fungsi Pendidik .............................. 13

BAB II TEORI BELAJAR MATEMATIKA................. 20


A. Teori Behaviorisme.......................................... 20
B. Teori Kognitivisme........................................... 29
C. Teori Humanisme ............................................. 31
D. Teori Konstruktivisme ..................................... 33

BAB III PENDEKATAN PEMBELAJARAN


MATEMATIKA.................................................. 39
A. Pengertian Pendekatan Pembelajaran .............. 39
B. Macam-Macam Pendekatan Pembelajaran ...... 42

BAB IV METODE PEMBELAJARAN DALAM


MATEMATIKA.................................................. 57
A. Pengertian Metode Mengajar ........................... 57
B. Faktor-Faktor Penentu Metode Mengajar ........ 59
C. Jenis-Jenis Metode Mengajar ........................... 64

vi
BAB V PENGELOLAAN KELAS ................................... 83
A. Pengertian Pengelolaan Kelas .......................... 83
B. Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas .............. 86
C. Menejemen Kelas ............................................. 88
D. Lingkungan Kondusif....................................... 98

BAB VI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH ... 105


A. Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah..... 105
B. Faktor-Faktor Interaksi Belajar Mengajar
Matematika....................................................... 118
C. Teknik Keterampilan Dasar Mengajar
Matematika....................................................... 121

BAB VII REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION . 127


A. Prinsip-Prinsip Realistic Mathematics
Education ......................................................... 135
B. Karakteristik Realistic Mathematics
Education ......................................................... 139
C. Learning dan Teaching Trajectory dalam
Pembelajaran.................................................... 140
D. Implementasi Realistic Mathematics Education
dalam Pembelajaran ........................................ 143

DAFTAR PUSTAKA......................................................... 148


INDEKS .............................................................................. 157
GLOSARIUM..................................................................... 160

vii
BAB I
HAKIKAT STRATEGI BELAJAR
MENGAJAR

“Jika Seseorang Berpergian Mencari Ilmu, Maka


Allah Akan Menjadikan Perjalanannya Seperti
Menuju Surga”

−Nabi Muhammad SAW

Hakikat merupakan berasal dari bahasa arab yaitu “al-


Haqq” yang berarti hak, kebenaran atau pasti. Pengertian
hakikat secara etimologi adalah sumber ataupun inti dari suatu
hal. Hakikat biasa digunakan sebagai ungkapan yang
menunjukkan maksud dari sesuatu ataupun intisari atau dasar.

A. Pengertian Strategi Belajar Mengajar


Strategi adalah upaya atau usaha untuk mencapai suatu
tujuan, keberhasilan, kesuksesan, dan kemenangan. Strategi
dalam bidang pendidikan diartikan sebagai suatu rencana,
metode atau rancangan kegiatan untuk mencapai suatu tujuan
pendidikan. Strategi belajar mengajar dapat diartikan suatu
usaha untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Menurut
Rachmawati (2012) bahwa strategi merupakan suatu pola yang

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 1


dibuat secara sistematis. Menurut Nata (2014) strategi belajar
mengajar merupakan suatu rancangan kegiatan yang
melibatkan peserta didik agar seluruh potensi yang ada dalam
diri peserta didik dapat tergali dan teraktualisasi dalam
kehidupan sehari-hari. Menurut Barlian (2013) strategi belajar
mengajar begitu penting dirumuskan pendidik sebelum
melaksanakan pembelajaran, serta perlu melakukan format
ulang bila tidak sesuai dengan kondisi kelas, situasi kelas,
karakteristik peserta didik yang ditemui dan materi yang akan
diajarkan. Sedangkan menurut Sumar & Razak (2016) strategi
belajar mengajar merupakan desain kegiatan yang disusun
untuk menghasilkan tujuan yang diharapkan.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa strategi belajar
mengajar adalah perencanaan yang dibuat dalam rangkaian
kegiatan, dimana proses belajar mengajar diterapkan dengan
menggunakan metode atau strategi tertentu dengan
memanfaatkan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
Strategi berasal dari bahasa yunani “Strategos” yang
artinya panglima. Istilah sering digunakan dalam dunia militer
yang menjadi ilmu kepanglimaan atau cara pemanfaatan atau
pengelolaan seluruh sumber daya militer agar tercapai tujuan
perang. Dalam dunia militer, suatu tujuan yang telah ditetapkan

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 2


haruslah menjadi harga mati untuk mewujudkannya. Hingga
saat ini istilah strategi telah digunakan diberbagai bidang
keilmuan yang tujuannya untuk mencapai keberhasilan dalam
mencapai tujuan.
Misalkan seorang pedagang yang ingin mendapatkan
keuntungan yang maksimal dan memperluas usahanya agar
lebih besar dan sukses harus menyusun strategi tertentu.
Seorang pelatih sepakbola akan menerapkan strategi untuk
memenangkan pertandingan. Begitu juga seorang pendidik
yang dalam proses mengajarnya menggunakan suatu metode
tertentu agar peserta didiknya mampu menguasai atau
memahami konsep yang diajarkan yang bermuara pada
meningkatnya prestasi peserta didik.
Strategi belajar mengajar matematika adalah suatu
kegiatan dalam belajar matematika yang harus dikerjakan
pendidik dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat
dicapai secara efektif dan efisien. Pendidik sebagai fasilitator
memiliki tanggung jawab yang besar dalam merangsang minat
belajar peserta didik, pembelajaran berpusat kepada peserta
didik menjadi strategi jitu dalam belajar matematika. Menurut
Ramlah, Firmansyah, & Zubair (2015) gaya belajar peserta
didik mempengaruhi prestasi belajarnya. Pernyataan tersebut
didukung oleh Hartati (2015) yang menyatakan bahwa gaya

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 3


belajar dan sikap peserta didik terhadap matematika juga
mempengaruhi hasil belajarnya. Sedangkan menurut Amir
(2015) perlu adanya metode pembelajaran yang lebih tepat bagi
peserta didiknya, tentu disertai dengan penyesuaian gaya
mengajar pendidik dengan gaya belajar peserta didik, apabila
hal ini tidak dilakukan maka akan mengakibatkan proses
belajar mengajar matematika tidak optimal, maka dari itu
seorang instruktur perlu memperhatikan metode yang efektif
dan gaya mengajar yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan
karakteristik peserta didik disertai dengan materi yang akan
diajarkan.
Strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu
diperhatikan oleh seorang instruktur atau pendidik dalam
proses pembelajaran. Paling tidak ada 3 jenis strategi yang
berkaitan dengan pembelajaran, yakni: 1) strategi
pengorganisasian pembelajaran, 2) strategi penyampaian
pembelajaran dan, 3) strategi pengelolaan pembelajaran.
Berikut penjelasannya:
1. Strategi pengorganisasian pembelajaran
Pengorganisasian pembelajaran merupakan hal penting
dalam proses belajar mengajar matematika terutama dalam
menyusun rancangan kegiatan (alur kegiatan pembelajaran)
dengan memadukan sebuah keterampilan mengelola strategi

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 4


pengorganisasian pembelajaraan yang terpadu, seperti waktu
yang menjadi tolak ukur keterlaksanaan proses belajar
mengajar dan pencapaian tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan.
Siti (2018) menyatakan bahwa perlu pengorganisasian
informasi pembelajaran yang akan disajikan kepada peserta
didik atau disebut struktural strategi, yang mengacu pada cara
untuk membuat urutan dan mensintesis fakta, konsep, prosedur,
dan prinsip yang berkaitan.
Pengorganisasian strategi belajar mengajar dibedakan
menjadi 2 jenis, yaitu strategi mikro dan strategi makro.
Strategi mikro mengacu kepada metode untuk
pengorganisasian isi pembelajaran yang berkisar pada satu
konsep, atau prosedur atau prinsip. Strategi makro mengacu
kepada metode untuk mengorganisasi isi pembelajaran yang
melibatkan lebih dari satu konsep atau prosedur atau prinsip.

2. Strategi penyampaian pembelajaran


Penyampaiam isi pembelajaran menjadi salah satu
komponen dalam melaksanakan metode proses pembelajaran.
Hal ini bertujuan agar isi dan informasi pembelajaran
tersampaikan dengan baik kepada pembelajar sehingga
pemahaman konsep peserta didik menjadi baik. Menurut
Widoyoko (2009) penyampaian materi yang bagus menjadi

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 5


salah satu aspek kepuasaan peserta didik dalam belajar,
didukung oleh Halim (2012) yang menyatakan bahwa cara
penyampaian isi pembelajaran mempengaruhi pemahaman
peserta didik dalam belajar.

3. Strategi pengelolaan pembelajaran


Pengelolaan pembelajaran merupakan proses menata atau
merancang keterlibatan peserta didik dengan metode yang
dipilih. Menurut Peniati (2012) bahwa dalam merancang
metode yang dipilih dalam proses belajar mengajar, perlu
mencermati/mendasari analisis karakteristik peserta didik
tersebut. Maka dari itu, perlu penerapan metode yang tepat
didasari karakateristik peserta didik agar metode yang
diterapkan efektif dan efesien.
Strategi pengelolaan pembelajaran berkaitan dengan
pengambilan keputusan tentang strategi pengorganisasian dan
strategi penyampaian mana yang digunakan selama proses
pembelajaran. Paling tidak, ada 3 klasifikasi penting dalam
strategi pengelolaan pembelajaran, yaitu penjadwalan,
pembuatan catatan kemajuan belajar peserta didik, dan
motivasi. Ada beberapa istilah yang hampir sama dengan
strategi yaitu metode, pendekatan, teknik, atau taktik dalam
pembelajaran.

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 6


a) Metode merupakan upaya untuk mengimplementasikan
rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar
tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.
b) Pendekatan (Approach) dapat diartikan sebagai titik tolak
atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran.
Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang
terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum.
Metode atau strategi belajar matematika sangat tergantung
kepada pendekatan yang akan digunakan. Roy Killen
(1998) misalnya, mencatat ada dua pendekatan dalam
pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada
pendidik (teacher-centred approaches) dan pendekatan
yang berpusat pada peserta didik (student-centred
approaches). Pendekatan yang berpusat pada pendidik
menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct
instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran
ekspositori. Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang
berpusat pada peserta didik menurunkan strategi
pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi
pembelajaran induktif.
c) Teknik/taktik adalah cara yang dilakukan untuk
mengimplemetasikan metode dan gaya seseorang dalam
melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu. Taktik

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 7


sifatnya lebih individual, walaupun 2 orang sama-sama
menggunakan metode ceramah dalam situasi dan kondisi
yang sama, sudah pasti mereka akan melakukannya secara
berbeda, misalnya dalam taktik menggunakan ilustrasi atau
menggunakan gaya bahasa agar materi yang disampaikan
mudah dipahami.
Strategi belajar mengajar matematika memiliki konsep
sebagai berikut: a) merangkum spesifikasi dan kualifikasi
perubahan sikap peserta didik, (b) menetapkan pendekatan yan
tepat terhadap masalah belajar mengajar matematika peserta
didik, memilih prosedur, metode dan teknik belajar mengajar
matematika, serta (c) menetapkan kriteria keberhasilan kegiatan
belajar mengajar matematika. Strategi sebagai garis besar haluan
dalam mencapai sasaran yang ditentukan menjadi pola-pola
umum kegiatan pendidik dan peserta didik dalam proses belajar
mengajar maematika. Strategi dasar setiap usaha meliputi
empat masalah sebagai berikut.
a) Pengidentifikasian dan penetapan spesifiakasi dan
kualifikasi hasil yang harus dicapai dan menjadi sasaran.
b) Pertimbangan dan pemilihan pendekatan utama yang
efektif dan efesien untuk mencapai sasaran.
c) Pertimbangan dan penetapan langkah-langkah yang
ditempuh sejak awal sampai akhir.

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 8


d) Pertimbangan dan penetapan tolak ukur dan ukuran baku
yang akan digunakan untuk menilai keberhasilan atas
usaha yang dilakukan.
Dalam konteks pembelajaran, keempat strategi dasar
tersebut bisa diterjemahkan menjadi: (a) mengidentifikasi dan
menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku
kepribadian peserta didik yang diharapkan, (b) memilih sistem
pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan
pandangan hidup masyarakat, (c) memilih dan menetapkan
prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap
paling tepat, efektif, sehingga dapat dijadikan pegangan oleh
para pendidik dalam menunaikan kegiatan mengajarnya, dan
(d) menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan
atau kriteria dan standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan
pedoman oleh pendidik dalam melakukan evaluasi hasil
kegiatan belajar mengajar matematika yang selanjutnya akan
dijadikan umpan balik buat penyempurnaan sistem
instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.

B. Komponen Belajar Mengajar Matematika


Pada Kamus Bahasa Indonesia, komponen adalah bagian
dari keseluruhan. Sedangkan belajar mengajar adalah
perubahan yang bertahan lama dalam sikap, perilaku dan
kapasitas berprilaku dengan cara tertentu, yang dihasilkan dari

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 9


praktik atau bentuk-bentuk pengalaman lainnya. Kegiatan
belajar mengajar disusun agar dapat memberikan pengalaman
belajar yang melibatkan proses fisik dan mental peserta didik
melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan
pendidik, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka
mencapai tujuan pembelajaran.
Berbagai defenisi berdasarkan para ahli yang menyatakan
strategi belajar mengajar matematika dengan berbagai istilah
dan pengertian yang berbeda, perbedaan tersebut sebenarnya
hanya terletak pada aksentuasinya saja. Misalnya, Gasong
(2018) mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar merupakan
tindakan pendidik melaksanakan rencana mengajar, pendidik
harus menguasai apa yang akan disampaikan. Selanjutnya,
Sudjana (dalam Trinova, 2013) menambahkan bahwa strategi
mengajar ini dibagi tiga tahapan: tahapan pra-instruksional,
tahap instruksional, dan tahap evaluasi. Pada tahap pra-
instruksional, misalnya pendidik menanyakan kehadiran peserta
didik, bertanya tentang materi lalu ini semua sebagai upaya
melakukan apersepsi, kemudian tahapan kedua pendidik
menjelaskan tujuan, menuliskan pokok-pokok materi sesuai
tujuan ini dimaksudkan untuk menekankan focus pada tujuan
yang diharapkan (learning outcome), dan tahap evaluasi
pendidik berusaha mengetahui sejauh mana peserta didik

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 10


memahami pada materi yang dijelaskan pada tahapan
instruksional dan termasuk sebagai feedback terhadap
pelaksanaan seluruh kegiatan instruksional.
Suatu proses pembelajaran dapat berjalan efektif jika
seluruh komponen yang berpengaruh saling mendukung, yaitu:
a) peserta didik, b) kurikulum, c) pendidik, d) metode, e)
sarana dan prasarana serta 6) lingkungan. Diantara komponen-
komponen yang berpengaruh terhadap efektivitas pembelajaran
tersebut, komponen pendidik lebih menentukan karena ia akan
mengelola komponen lain sehingga dapat meningkatkan
efektivitas pembelajaran.
Seorang pendidik harus bisa mengelola komponen-
komponen lainnya. Karena seorang pendidik dituntut untuk
merencanakan pengajaran, karena dengan adanya perencanaan
pembelajaran komponen lainnya itu bisa dikelola dengan baik.
Susanto (2016) menyebutkan bahwa terdapat lima komponen
dalam belajar matematika, yaitu a) bertanya, b) keaktifan
siswa, c) kerja sama, d) unjuk kerja, dan e) sumber yang
bervariasi. Berikut penjelasannya:
a) Bertanya
Proses belajar mengajar matematika harus dimulai dengan
sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu
siswa akan suatu fenomena. Siswa diberi kesempatan untuk

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 11


bertanya, guru menyampaikan pertanyaan inti yang harus
diselesaikan oleh siswa. Siswa diarahkan untuk mampu
mengevaluasi, mensintesis dan menganalisis jawaban dari
pertanyaan yang tidak dapat ditemukan di dalam buku teks,
melainkan harus dibuat atau dikonstruksi.
b) Keaktifan Peserta Didik
Keaktifan siswa merupakan kegiatan yang harus
diwujudkan dalam belajar mengajar matematika, guru berperan
sebagai fasilitator mengarahkan siswa agar aktif dan telibat
langsung dalam kegiatan belajar mengajar, serta dilatih untuk
mampu menciptakan suatu gagasan atau produk yang menjadi
indikator pemahaman konsep siswa melakukan sebuah
investigasi.
c) Kerja Sama
Kegiatan belajar mengajar matematika membutuh peer
tutoring dalam kegiatan diskusi kelompok. Siswa diharuskan
mampu mengkomunikasikan berbagai gagasan ataupun solusi
dari permasalahan yang diberikan oleh pendidik melalui kerja
sama tim, peserta didik bukan sedang berkompetisi. Jawaban
dari permasalahan yang diajukan guru dapat muncul dalam
berbagai bentuk dan mungkin saja semua jawaban benar.

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 12


d) Unjuk Kerja
Dalam menjawab permasalahan yang diberikan oleh
pendidik, peserta didik akan membuat solusi yang digambarkan
melalui pengetahuannya mengenai permasalahan yang sedang
dipecahkan. Bentuk-bentuk solusi tersebut dapat berupa slide
presentasi, grafik, poster, karangan, dan lain-lain. Melalui
presentasi ini pendidik melakukan evaluasi.
e) Sumber yang Bervariasi
Belajar matematika membutuhkan banyak sumber dan
referensi agar pemahaman konsep peserta didik menjadi kuat,
sumber bisa berupa buku text, video pembelajaran, poster,
wawancara dengan ahli dan lain-lain.

C. Tugas dan Fungsi Pendidik


Pendidik sebagai ujung tombak pendidikan haruslah
dibekali dengan berbagai ilmu dalam mendidik peserta didik,
disertai pula dengan seperangkat latihan keterampilan
kependidikan. Pendidik yang menyadari tugasnya akan
mengerti bahwa selain menjadi pendidik, juga sebagai
penghubung antara lingkungan sekolah dan masyarakat.
Menurut Sukendar (2013) mengemukakan bahwa fungsi
dan tugas pendidik ada dua, yaitu, 1) transfer ilmu kepada
peserta didik seperti kepandaian, kecakapan dan pengalaman-
pengalaman, dan 2) membentuk sikap moral peserta didik

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 13


menjadi lebih baik. Peserta didik dipersiapkan untuk menjadi
warga negara sesuai dengan Undang-undang Pendidikan yang
merupakan keputusan MPR No. 2 Tahun 1983 sebagai
perantara dalam belajar, maka pendidik adalah sebagai
pembimbing untuk membawa anak didik ke arah kedewasaan.
Segala upaya yang dilakukan pendidik tidak selalu dapat
membentuk peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan.
Namun, pendidik akan selalu menjadi contoh dalam segala hal,
pendidik menjadi administrator dan manajer pendidik sebagai
perencana kurikulum, sebagai pemimpin, sebagai sponsor
dalam kegiatan anak-anak.
Seorang pendidik baru dikatakan sempurna jika fungsinya
sebagai pendidik dan juga berfungsi sebagai pembimbing.
Dalam hal ini pembimbing yang memiliki sarana dan
serangkaian usaha dalam memajukan pendidikan.
Membimbing dalam hal ini dapat dikatakan sebagai kegiatan
menuntun anak didik dalam perkembanganya dengan jelas
memberikan langkah dan arah yang sesuai dengan tujuan
pendidikan. Sebagai pendidik harus berlaku membimbing
dalam arti menuntun sesuai dengan kaidah yang baik dan
mengarahkan perkembangan anak didik sesuai dengan tujuan
yang dicita-citakan serta ikut memecahkan persoalan-persoalan
dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak didik. Dengan

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 14


demikian diharapkan menciptakan perkembangan yang lebih
baik pada diri peserta didik, baik perkembangan fisik maupun
mental.
Apabila dilihat dari rincian tugas dan tanggung jawab yang
harus dilaksanakan oleh pendidik. Menurut Uno (2012) bahwa
tugas guru adalah melaksanakan proses belajar mengajar dan
tugas yang berkaitan dengan penataan atau perencanaan tugas
tambahan. Sedangkan al-Abrasyl (1970) berpendapat bahwa, a)
pendidik harus memperlakukan peserta didik seperti anak
sendiri, b) tidak mengharapkan balas jasa, c) memberi nasihat
kepada peserta didik, d) membentuk peserta didik yang
berakhlak mulia dan, e) pendidik harus menerapkan ilmunya,
bukan hanya perkataan semata.
Sedangkan menurut Mulyasa (2008) bahwa ilmu yang
disampaikan oleh pendidik akan menjadi suatu kebenaran yang
tidak perlu diteliti lagi dan menjadi uswatun hasanah atau suri
tauladan yang baik bagi muridnya. Idris (2008) menyatakan
guru adalah orang dewasa yang bertanggung jawab
memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam hal
perkembangan jasmani dan ruhaniah untuk mencapai tingkat
kedewasaan, memenuhi tugasnya sebagai makhluk Tuhan,
makhluk individu yang mandiri, dan makhluk sosial.

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 15


Berdasarkan pendapat yang dikemukakan di atas dapat
diketahui bahwa tugas dan tanggung jawab pendidik bukan
hanya mengajar atau menyampaikan kewajiban kepada peserta
didik, akan tetapi membimbing mereka secara keseluruhan
sehingga terbentuk kepribadian muslim.
Menurut Roqib (2009) tugas guru adalah mengajar,
sedangkan tugas pendidik adalah mendidik, namun, term guru
dimaknai sebagai pendidik yaitu orang yang digugu
(diindahkan ajarannya) dan ditiru (prilakunya). Dilain sisi,
rancangan dan urutan tugas pendidik dalam upaya mendidik
adalah mengajar, memberikan dorongan, memuji, menghukum,
memberikan contoh, dan membiasakan. Sabir (2015)
menambahkan guru memiliki tugas seperti memberi perintah,
larangan, menasehati, hadiah, pemberian kesempatan, dan
menutup kesempatan. Dengan demikian, dapat dipahami
bahwa tugas pendidik bukan hanya sekedar mengajar. Di
samping itu, ia bertugas sebagai motivator dan fasilitator dalam
proses pembelajaran, sehingga seluruh potensi peserta didik
dapat teraktualisasi secara baik dan dinamis.
Profesi pendidik adalah jabatan profesional yang memiliki
tugas pokok dalam proses pembelajaran. Uraian tugas pokok
tersebut mencakup keseluruhan unsur proses pendidikan dan
peserta didik. Tugas pokok itu hanya dapat dilaksanakan secara

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 16


profesional bila persyaratan profesional yang ditetapkan
terpenuhi. Perencanaan serta pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar menjadi faktor penting tercapainya tujuan.
Keterampilan merencanakan dan melaksanakan proses
pembelajaran ini sesuatu yang erat kaitannya dengan tugas dan
tanggung jawab pendidik sebagai pengajar yang mendidik.
Pendidik mengandung arti yang sangat luas, tidak sebatas
memberikan bahan-bahan pengajaran, tetapi menjangkau etika
dan estetika perilaku dalam menghadapi tantangan kehidupan
dimasyarakat (Sanjaya, 2009).
Sanjaya (2009) menambahkan tugas mendidik lebih
menekankan pada pembentukan jiwa, karakter, dan
kepribadian berdasarkan nilai-nilai. Tugas mengajar lebih
menekankan pada pengembangan kemampuan penalaran.
Pendidik adalah pribadi yang mengagungkan akhlak peserta
didiknya. Pendidik merupakan pribadi penuh cinta terhadap
anak-anaknya (peserta didiknya). Hidup dan matinya
pembelajaran bergantung sepenuhnya kepada pendidik.
Pendidik merupakan pembangkit listrik kehidupan peserta
didik dimasa depan. Pendidik merupakan pemimpin bagi
murid-muridnya. Pendidik adalah pelayan bagi murid-
muridnya. Pendidik adalah orang terdepan dalam memberi
contoh sekaligus juga memberi motivasi atau dorongan

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 17


kepada murid-muridnya. Di sinilah peran dan fungsi pendidik
begitu mulia yang kedudukannya menyamai Rasul Allah
SWT, yang diutus pada suatu kaum (umat manusia).

Soal-soal Latihan
1. Jelaskan makna belajar dan pembelajaran!
2. Jelaskan apa yang dimaksud startegi belajar mengajar!
Berikan contoh!
3. Berapa jenis strategi yang berkaitan dengan pembelajaran?
Dan jelaskan !
4. Jelaskan apa yang menjadi tujuan strategi belajar mengajar!
5. Apa yang dimaksud metode, pendekatan dan teknik dalam
pembelajaran, jelaskan!
6. Apa perbedaan antara metode, pendekatan dan teknik
dalam pembelajaran, jelaskan!
7. Sebutkan dan jelaskan konsep strategi belajar mengajar
matematika!
8. Apa yang dimaksud dengan komponen belajar mengajar
matematika, jelaskan!
9. Ada lima komponen yang berpengaruh untuk mendapatkan
proses pembelajaran berjalan efektif, sebutkan dan
jelaskan!
10. Sebutkan dan jelaskan fungsi dan tugas pendidik, serta
berikan contoh!

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 18


11. Jelaskan mengapa seorang guru perlu memahami dan
menguasai strategi pembelajaran?
12. Kemukakan dan jelaskan upaya-upaya apa saja yang harus
dilakukan oleh seorang guru agar dapat menerapkan
strategi pembelajaran dengan baik. Jelaskan dan berikan
contoh!

HAKIKAT STRATEGI BELAJAR MENGAJAR 19


BAB II
TEORI BELAJAR MATEMATIKA

“Tujuan Hidup Bukanlah Jadi Lebih Baik Dari


Yang Lain, Tapi Jadi Lebih Baik Dari Diri Yang
Sebelumnya ”

−Wayne W. Dyer

A. Teori Behaviorisme
Teori belajar Behaviorisme merupakan teori belajar yang
digagas oleh Gage dan Berliner serta sudah cukup lama
diterapkan oleh para pendidik di dunia. Teori ini berpendapat
bahwa perubahan tingkah laku merupakan hasil dari
pengalaman yang didapat. Pengukuran menjadi keutamaan
dalam teori ini, sebab pengukuran digunakan sebagai tolak
ukur perubahan tingkah laku. Teori ini juga dikenal dengan
model stimulus dan responnya, melihat peserta didik sebagai
individu yang pasif. Perilaku yang muncul akan semakin kuat
jika diberi penguatan dan akan hilang jika diberikan hukuman.
Teori behaviorisme menggunakan metode pelatihan dan
pembiasaan dalam proses pembelajaran.
Paham Behaviorisme tidak mengakui adanya bakat,
minat, perasaan peserta didik dalam belajar dan intelektualnya,

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 20


hal ini dikarenakan teori behaviorisme memandang individu
hanyalah fenomena jasmaniah dan tidak memiliki aspek
mental. Proses belajar hanya melatih reflek yang nanti akan
menjadi suatu kebiasaan individu tersebut. Maka dapat
disimpulkan bahwaa proses belajar mengajar menurut aliran ini
menekankan pada pemberian stimulus dan respon yang
menjadi rutinitas peserta didik.
Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman (Andriyani, 2015).
Pernyataan tersebut didukung oleh Slavin (2000) bahwa belajar
merupakan interaksi antara stimulus dan respon. Perubahan
tingkah laku merupakan bukti bahwa seseorang sedang
mengalami proses belajar. Input yang berupa stimulus dan
respon sebagai outputnya. Segala bentuk rangsangan yang
diberikan pendidik disebut stimulus dan apapun
reaksi/tanggapan peserta didik terhadap rangsangan disebut
respon. Bentuk stimulus dan respon tidak dapat diamati dan
diukur, namun pemberian rangsangan dan respon peserta didik
dapat diukur. Maka dari itu, perlu diamati hal-hal penting yang
terjadi setelah stimulus diberikan, seperti perubahan perilaku
atau sikap seseorang.
Teori behaviorisme memiliki tujuan untuk menambah
pengetahuan dan aktivitas belajar sehingga pengetahuan yang

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 21


sudah dipelajari peserta didik dapat terungkap kembali.
Pembelajaran lebih mengikuti kepada kurikulum yang berlaku
sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku
teks/buku wajib dengan penekanan pada keterampilan
mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut.
Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.
Prinsip-prinsip dalam Teori Behavioristik antara lain:
a) Obyek psikologi adalah tingkah laku.
b) Semua bentuk tingkah laku di kembalikan pada reflek.
c) Mementingkan pembentukan kebiasaan.
d) Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri.
e) Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki
bentuk fisik harus dihindari.

Tokoh-tokoh Aliran Behaviorisme


1) Edward Lee Thorndike
Thorndike berpendapat bahwa interaksi antara stimulus
dan respon merupakan aktivitas belajar. Menurutnya apa saja
yang dapat merangsang aktivitas pikiran, alat indera atau
perasaan peserta didik merupakan stimulus, sedangkan apapun
reaksi yang muncul dari peserta didik ketika belajar merupakan
respon. Teori ini disebut juga teori koneksionisme atau
connectionism (S-R Bond) yang berasal dari eksperimen

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 22


Thorndike terhadap seekor kucing dan menghasilkan hukum
belajar seperti berikut:
a) Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respon
menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan
stimulus-respons akan semakin kuat. Sebaliknya,
semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons,
maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara
stimulus-respons.
b) Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu
pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari
pendayagunaan satuan pengantar (conduction unit),
dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang
mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat
sesuatu.
c) Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara
stimulus dengan respons akan semakin bertambah erat,
jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila
jarang atau tidak dilatih.

b) John Watson
John Watson merupakan pendiri aliran behaviorisme di
Amerika Serikat. Watson berpendapat bahwa psikologi harus
dipelajari seperti orang mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam.
Ia menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 23


tingkahlaku. Kepercayaan Watson tentang pemberian situasi
tertentu kepada seorang anak akan membuat seorang anak
mempunyai sifat-sifat tertentu. Beberapa pandangan utama
Watson:
1. Psikologi mempelajari stimulus dan respons (S-R
psychology). Yang dimaksud dengan stimulus adalah
semua obyek di lingkungan, termasuk juga perubahan
jaringan dalam tubuh. Respon adalah apapun yang
dilakukan sebagai jawaban terhadap stimulus.
2. Watson berpandangan bahwa perilaku manusia ditentukan
oleh faktor luar diri, bukan berdasarkan keturunan,
perilaku yang terbentuk berasal dari hasil belajar secara
terus menerus.
3. Watson tidak mempercayai konsep insting, kecuali hal
yang bersifat refleks seperti bersin, merangkak, dan lain-
lain.
4. Menurut Watson apa yang diingat dan dilupakan
ditentukan oleh seringnya sesuatu digunakan/dilakukan.
Dengan kata lain, sejauh mana sesuatu dijadikan
kebiasaan. Faktor yang menentukan adalah kebutuhan.
5. Sumbangan utama Watson adalah ketegasan pendapatnya
bahwa perilaku dapat dikontrol dan ada hukum yang

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 24


mengaturnya. Jadi psikologi adalah ilmu yang bertujuan
meramalkan perilaku.

c) Clark Leonard Hull


Clark Leonard Hull dilahirkan di Akron, New York, Hull
mengembangkan ide-ide baru di berbagai bidang terutama
psikologi belajar. Teori belajar Hull mengutamakan penguatan
atas pengetahuan yang telah dimiliki seseorang. Hull
melakukan berbagai eksperimen dengan rancangan berbagai
percobaan yang menghasilkan temuan baru. Salah satu hasil
percobaan Hull adalah tes bakat yang akan membuktikan
instrumental dalam perkembangan behaviorismenya. Prinsip-
prinsip utama teorinya Hull adalah:
1. Reinforcement adalah faktor penting dalam belajar yang
harus ada. Namun fungsi reinforcement bagi Hull lebih
sebagai drive reduction daripada satisfied factor.
2. Dalam mempelajari hubungan S - R yang diperlu dikaji
adalah faktor O yang mana merupakan suatu kondisi
internal dan sesuatu yang disimpulkan (inferred),
efeknya dapat dilihat pada faktor R yang berupa output.
3. Proses belajar baru terjadi setelah keseimbangan
biologis terjadi.
Hypothetico-deductive theory adalah teori belajar yang
dikembangkan Hull dengan menggunakan metode deduktif.

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 25


Hull percaya bahwa pengembangan ilmu psikologi harus
didasarkan pada teori dan tidak semata-mata berdasarkan
fenomena individual (induktif).

d) Edwin Guthrie
Edwin Ray Guthrie lahir di Lincoln Nebrazka, Guthrie
merupakah ahli behavioristik yang percaya bahwa hukuman
(punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar.
Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu
mengubah tingkah laku seseorang. Teori ini menjelaskan
bahwa pendidik harus mampu melihat situasi dalam
memberikan stimulus dan respon. Peseta didik haruslah
diarahkan untuk menemukan konsep belajar yang benar.
Peserta didik harus dibimbing dalam melakukan kegiatan
belajar dan hukuman yang diberikan harus sesuai dengan
asumsi peserta didik. Namun, beberapa sekolah berpendapat
hukuman bukanlah bersifat edukatif dan tidak efektif dalam
memperbaiki perilaku peserta didik, hal ini tergantung dari
asumsi di lingkungan peserta didik.
Guthrie mengatakan bahwa hukuman yang diberikan
disaat yang tepat akan mengubah kebiasaan seseorang. Begitu
halnya dalam proses belajar mengajar. Namun, teori pemberian
hukuman ini mendapat kritikan dari beberapa ahli, alasannya
ialah:

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 26


1. Perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh pemberian
hukuman bersifat sementara.
2. Dikhawatirkan ada dampak psikologis yang terjadi kepada
sipenerima hukuman.
3. Hukuman yang diberikan dapat menjadi dorongan si
penerima hukuman untuk melakukan hal-hal lain agar
terbebas dari hukuman, hal yang bersifat negatif maupun
positif.

e) Burrhus Frederic Skinner


Burrhus Frederic Skinner lahir di Susquehanna,
Pennsylvania, Skinner merupakan ahli psikologis yang
memandang bahwa hukuman bukanlah metode yang tepat
untuk mengontrol perilaku. Karena hukuman dapat
memberikan dampak negatif dan bertolak belakang dengan
keinginan si pengontrol. Salah satunya adalah mempengaruhi
emosional sipenerima hukuman, pemberian hukuman untuk
mengubah perilaku buruk hingga mempengaruhi emosional
seseorang bukanlah solusi yang tepat.
Skinner berpendapat bahwa ada dua bentuk penguatan,
yaitu penguat positif (positive reinforcers), danpenguat negatif
(negative reinforcers). Penguat negatif merupakan stimulus
yang digerakkan melalui penginderaan seseorang. Penguat
negatif merupakan hal-hal yang akan dihindari oleh individu.

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 27


Penguat negatif berwujud stimulus pengindraan, suatu respon
bisa dikuatkan dengan memunculkan penguat positif atau
menghilangkan penguat negatif. Jika suatu stimulus terjadi
berkali-kali dengan disertai penguat positif, stimulus itu
cenderung untuk mampu menguatkan perilaku. Skinner
mengemukakan bahwa efek penguatan bersifat sederhana dan
langsung, namun efek hukuman bersifat tidak langsung dan
lebih sulit diprediksi.
Skinner terkenal dengan hukum belajar operant
conditioning, yaitu kondisi dimana perilaku dapat memberikan
dampak kepada lingkungan. Respons dalam operant
conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan
oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu
sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan
kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, berikut
adalah hukum-hukum belajar Skinner:
1) Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku
diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku
tersebut akan meningkat.
2) Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku
operant telah diperkuat melalui proses conditioning namun
tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku
tersebut akan menurun bahkan musnah.

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 28


B. Teori Kognitivisme
Teori kognitivisme berpandangan bahwa belajar
merupakan proses penemuan dan transformasi informasi-
informasi yang didapat. Kurt Lewin merupakan psikolgis asal
Jerman penganut teori kognitivisme. Ia berpendapat bahwa
seseorang yang sedang belajar dipandang sebagai orang yang
secara konstan memberikan informasi baru untuk
dikonfirmasikan dengan prinsip yang telah dimiliki, kemudian
merevisi prinsip tersebut apabila sudah tidak sesuai dengan
informasi yang baru diperoleh. Agar peserta didik mampu
melakukan kegiatan belajar, maka ia harus melibatkan diri
secara aktif.
Teori kognitivisme memiliki pandangan bahwa seseoarng
yang menerima informasi akan menyusun, menyimpan dan
menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan
pengetahuan yang telah ada. Selain itu, konsep belajar dalam
teori kognitivisme mengenal istilah asimilasi dan akomodasi.
Yaitu proses belajar secara kontinu antara individu dan
lingkungan sehingga menghasilkan perubahan pengetahuan
dan tingkah laku. Pembelajaran ini sangat tepat diterapkan
bersama dengan media-media pembelajaran yang konkret
untuk melatih peserta didik yang masih belum mampu berfikir

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 29


abstrak. Teori ini menyatakan bahwa proses lebih penting dari
pada hasil, seperti berikut:
1. Belajar tidak sekedar melibatkan stimulus dan respon
tetapi juga melibatkan proses berfikir.
2. Ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui
proses interaksi yang terus menerus dengan lingkungan.

Beberapa teori dalam aliran kognitivisme


a) Teori Gestalt
Proses pembelajaran mengutamakan belajar yang
bermakna, sehingga tidak menimbulkan ambiguitas.

b) Teori Schemata Piaget


Teori ini mengatakan bahwa pengalaman kependidikan
harus dibangun di sekitar struktur kognitif peserta didik.
Struktur kognitif ini bisa dilihat dari usia serta budaya yang
dimiliki oleh peserta didik.

c) Teori Belajar Sosial Bandura


Bandura mempercayai bahwa model akan mempunyai
pengaruh yang paling efektif apabila mereka dianggap atau
dilihat sebagai orang yang mempunyai kehormatan,
kemampuan, status tinggi, dan juga kekuatan, sehingga dalam

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 30


banyak hal seorang pendidik bisa menjadi model yang paling
berpengaruh.

d) Pengolahan Informasi Norman


Norman berpendapat bahwa seorang individu akan
menghubungkan materi yang baru ia temui dengan yang sudah
pernah diketahuinya, yang dalam teorinya disebut learning by
analogy. Pengajaran yang efektif memerlukan pendidik yang
mengetahui struktur kognitif peserta didik.

C. Teori Humanisme
Teori humanisme mengutamakan kebebasan peserta didik
dalam menyelesaikan permasalahan atau menemukan suatu
konsep belajar dengan caranya masing-masing, peserta didik
berperan sebagai subjek didik dan pendidik berperan sebagai
pengarah atau fasilitator. Pembelajaran aliran Humanisme
meletakkan peserta didik sebagai central dalam aktivitas
pembelajaran. Peserta didik menemukan pengalamannya
sendiri dalam belajar dan menggali potensi diri secara mandiri
semaksimal mungkin. Sehingga peserta didik tidak sekedar
hanya menerima informasi yang disampaikan pendidik.
Pendidik berperan menjadi fasilitator dengan memberi
motivasi dan memfasilitasi peserta didik dalam menemukan
pengalaman belajar. Peserta didik menerapkan metode yang

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 31


dapat membuat peserta didik aktif, serta memberikan informasi
yang terstruktur. Peran pendidik sebagai fasilitator adalah
sebagai berikut:
1) Memperhatikan peserta didik dan menciptakan suasana
belajar yang menyenangkan.
2) Menerapkan metode belajar yang bervariasi.
3) Merencanakan pembelajaran yang membuat peserta didik
aktif berinteraksi dengan teman satu tim atau teman
sekelas selama proses belajar mengajar.
4) Menyediakan sumber belajar yang luas dan tidak terbatas
serta mudah diakses oleh peserta didik.
5) Pendidik menjadi tempat untuk bertanya peserta didik
tanpa peserta didik merasa takut.
6) Pendidik menanggapi hasil pekerjaan peserta didik dengan
penuh motivasi agar peserta didik bersemangat.
7) Pendidik bersikap hangat dan meluruskan hal-hal yang
dianggap kurang relevan dengan cara yang santun.
8) Pendidik sebagai seorang manusia yang tidak selalu
sempurna, mau mengenali, mengakui dan menerima
keterbatasan-keterbatasan diri dengan cara mau dan senang
hati menerima pandangan yang lebih baik dari peserta
didik.

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 32


Teori humanisme berhubungan erat dengan pendekatan
belajar yang dikemukan oleh Ausebel. Yaitu proses belajar
bermakna (Meaningfull Learning), materi yang sedang
dipelajari akan dihubungkan atau diasimilasikan dengan
pengetahuan sebelumnya. Namun, pendekatan belajar seperti
ini memerlukan motivasi dan pengalaman emosional agar
proses asimilasi pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif
yang dimiliki pendidik dapat terjadi.
Teori humanisme lebih menekankan kepada ide belajar
dalam bentuk yang paling ideal, artinya mengutamakan isi
yang dipelajari dari pada proses belajar. Teori belajar dapat
berupa apa saja asalkan tujuannya tercapai dengan optimal. Hal
ini menjadikan teori ini bersifat memilih yang terbaik dari
berbagai sumber metode teori walaupun kita ketahui dalam
suatu teori pembelajaran tentunya ada suatu unsur berupa
kelebihan dan kekurangannya tetapi humanisme
tidak mempermasalahkan unsur-unsur kelebihan dan
kelemahan yang terdapat pada teori-teori lain. Teori
humanisme akan memanfaatkan teori-teori apapun asalkan
tujuan utama memanusiakan manusia tercapai.

D. Teori Konstruktivisme
Teori Konstruktivisme memiliki perspektif bahwa belajar
merupakan konstruksi informasi yang masuk ke otak. Belajar

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 33


yang bersifat konstruktif ini sering digunakan untuk
menggambarkan jenis belajar yang terjadi selama pemecahan
masalah yang kreatif di dalam kehidupan sehari-hari. Teori ini
mengatakan bahwa peserta didik yang menerima informasi
baru akan selalu memeriksa kebenaran dari informasi tersebut
dan merevisi prinsip-prinsip tersebut apabila sudah dianggap
tidak dapat digunakan lagi. Hal ini memberikan implikasi
bahwa peserta didik harus terlibat aktif dalam kegiatan
pembelajaran.
Maka dari itu, teori konstruktivisme tidak hanya menerima
konsep, tetapi terjadi proses konstruksi pengetahuan melalui
pengalaman karena pengetahuan bukan bersifat pemberian,
namun berasal dari proses konstruksi pengetahuan setiap
peserta didik sehingga pengetahuan yang didapat lebih dikuasai
dan lama melekat dalam memori peserta didik.
Menurut konstruktivisme, belajar merupakan proses aktif
peserta didik mengkonstruksi arti, wacana, dialog, pengalaman
fisik, dan lain-lain. Belajar juga merupakan proses
mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau informasi
yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dimiliki peserta
didik sehingga pengetahuannya berkembang. Berikut adalah
pandangan aliran kontruktivisme:

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 34


1) Belajar merupakan proses membentuk makna dari apa
yang dilihat, dengar, rasakan, dan alami.
2) Konstruksi arti merupakan proses yang terus menerus.
Setiap kali berhadapan dengan fenomena atau persoalan
yang baru, peserta didik akan selalu mengadakan
rekonstruksi.
3) Belajar merupakan proses membentuk atau
mengembangkan pemikiran yang menuntut penemuan
dan pengaturan kembali pemikiran seseorang.
4) Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman peserta didik
dengan dunia fisik dan lingkungannya.
5) Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah
diketahui peserta didik, yaitu konsep-konsep, tujuan, dan
motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan
yang dipelajari.
Konstruktivisme menghendaki peserta didik harus
membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Pendidik
dapat membantu proses ini dengan cara mengajar yang
membuat informasi lebih bermakna dengan memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan atau
menerapkan sendiri ide-ide mereka. Pendidik dapat memberi
peserta didik tangga yang dapat membantu peserta didik
mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun harus

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 35


diupayakan agar peserta didik sendiri yang memanjat tangga
tersebut. Oleh karena itu agar pembelajaran lebih bermakna
bagi peserta didik dan pendidik maka pendekatan
konstruktivisme merupakan solusi yang baik untuk dapat
diterapkan.
Kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif, dimana
peserta didik membangun sendiri pengetahuannya. Peserta
didik mencari arti sendiri dari yang mereka pelajari, ini
merupakan proses menyesuaikan konsep-konsep dan ide-ide
baru dengan kerangka berfikir yang telah ada dalam pikiran
mereka. Dalam hal ini peserta didik membentuk pengetahuan
mereka sendiri dan pendidik membantu sebagai mediator
dalam proses pembentukan itu. Oleh karena itu, pandangan
konstruktivisme lebih memfokuskan pada kesuksesan peserta
didik dalam mengorganisasikan pengalaman mereka dengan
kata lain peserta didik lebih berpengalaman untuk
mengonstruksikan sendiri pengetahuan mereka melalui
asimilasi dan akomodasi.

Soal-soal Latihan
1. Apa yang kamu ketahui tentang teori belajar?
2. Jelaskan pandangan teori behaviorisme tentang tujuan
pendidikan, kurikulum, proses pembelajaran, guru dan
siswa!

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 36


3. Jelaskan konsep teori behaviorisme!
4. Sebutkan tokoh-tokoh aliran behaviorisme, dan jelaskan
pemahaman teori mereka masing-masing!
5. Sebutkan empat prinsip-prinsip dalam teori behaviorisme!
6. Apa yang harus dilakukan oleh guru jika hendak
menerapkan teori behaviorisme dalam proses
pembelajaran?
7. Jelaskan kelebihan dan kekurangan dari teori behaviorisme!
8. Jelaskan pandangan teori kognitivisme tentang tujuan
pendidikan, kurikulum, proses pembelajaran, guru dan
siswa!
9. Sebutkan tokoh-tokoh aliran behaviorisme, dan jelaskan
pemahaman teori mereka masing-masing!
10. Sebutkan dan jelaskan teori dalam aliran kognitivisme!
11. Apa yang harus dilakukan oleh guru jika hendak
menerapkan teori kognitisme dalam proses pembelajaran?
12. Jeleaskan kelebihan dan kelemahan teori kognitivisme!
13. Jelaskan pandangan teori humanisme!
14. Apa yang harus dilakukan oleh pendidik jika hendak
menerapkan teori humanisme?
15. Jelaskan kelebihan dan kelemahan teori humanisme!
16. Sebutkan dan jelaskan pandangan teori konstruktivisme!

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 37


17. Jelaskan kelebihan dan kelemahan dari teori belajar
konstruktivisme!
18. Apa yang harus dilakukan oleh pendidik jika hendak
menerapkan teori konstrutivisme dalam proses
pembelajaran?
19. Jelaskan perbedaan teori konstruktivisme dengan teori
behaviorisme!
20. Jelaskan perbedaan teori kognitivisme dengan teori
humanisme!

TEORI BELAJAR MATEMATIKA 38


BAB III
PENDEKATAN PEMBELAJARAN
MATEMATIKA
“Usaha dan Keberanian Tidak Cukup Tanpa
Tujuan dan Arah Perencanaan”

John F. Kennedy

A. Pengertian Pendekatan Pembelajaran


Pendekatan pembelajaran merupakan cara pandang dalam
proses belajar mengajar yang dipakai untuk membuat suasana
belajar yang efektif dan mendukung tercapainya tujuan yang
diharapkan. Pendekatan dalam belajar dikenal dengan dua jenis
pendekatan, yaitu :
a. Student Centered Learning (CTL) yaitu pendekatan belajar
yang berpusat pada siswa, proses pembelajaran dimana
peserta didik menjadi aktor dalam aktivitas belajar,
pendidik menjadi fasilitator yang memfasilitasi siswa untuk
berperan aktif dalam proses belajar mengajar, dan
b. Teacher Centered Learning (TCL), yaitu Pendekatan
belajar berpusat pada pendidik, dimana pada pendekatan ini
pendidik menjadi subjek utama dalam proses pembelajaran.

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 39


Pendekatan-pendekatan diatas memiliki kelebihan dan
kekurangan masing-masing. Namun, yang terpenting adalah
bagaimana seorang pendidik menerapkan pendekatan belajar
disaat tertentu. Pendekatan pembelajaran digunakan
berdasarkan kebutuhan dan karakteristik siswa. Selain itu
pendekatan pembelajaran juga memiliki kerakteristik yang
dapat digunakan antara lain:
a) Identifikasi, menetapkan sasaran, menetapkan kualifikasi
output dan target yang ingin dicapai harus dilatari oleh
lingkungan.
b) Memilih cara yang paling efektif dalam mencapai sasaran.
c) Merancang alur proses belajar mengajar dari awal hingga
akhir.
d) Menetapkan kriteria dan standar sebagai tolak ukur
pencapaian pembelajaran yang telah ditetapkan.
Karekteristik yang ada akan lebih memudahkan dalam
membuat beberapa rumusan pencapaian dalam pembelajaran
dan dapat menepatkan pendekatan pembelajaran mana yang
tepat untuk digunakan. Setiap sumber daya dan lingkungan
belajar tidaklah sama, membutuhkan masukan dan pandangan
dari pemangku kepentingan. Seorang pendidik tidak boleh
memaksakan penerapan pendekatan yang sangat bertentangan
dengan kenyataan. Berkompromi dengan realita dapat menjadi
faktor informal yang dapat anda gunakan. Dalam posisi ini

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 40


dibutuhkan beberapa faktor informal untuk kepentingan
bersama.

Definisi, teori dan konsep pendekatan pembelajaran menurut


para ahli:
a. Sagala (2005) pendekatan pembelajaran merupakan jalan
yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai
tujuan instruksional untuk suatu satuan instruksional
tertentu.
b. Sagala (2003) menyatakan bahwa pendekatan menjadi
suatu sudut pandang pendidik kepada peserta didik dalam
menilai, menentukan sikap dan perbuatan yang dihadapi
dengan harapan dapat menemukan solusi dalam
menciptakan suasana kelas yang nyaman dan
menyenangkan dalam proses pembelajaran.
c. Nurma (2009) berpendapat bahwa pendekatan lebih
menekankan pada strategi dan perencanaan. Pendekatan
juga dapat diartikan sebagai titik tolak dalam
melaksanakan pembelajaran kerena pendekatan yang
dipilih dapat membantu kita dalam mencapai tujuan
pembelajaran.
d. Rusman (2013) berpendapat bahwa pendekatan dapat
diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 41


kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang
sifatnya masih sangat umum.
Dari pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa
pendekatan pembelajaran merupakan suatu pandangan yang
menentukan arah pelaksanaan atau kegiatan pembelajaran
berdasarkan karakteristik peserta didik dengan tujuan untuk
menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan
tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain,
pendekatan pembelajaran merupakan tata cara seorang
pendidik dalam mengelola kelas.

B. Macam-Macam Pendekatan Pembelajaran


Ada beberapa macam pendekatan pembelajaran yang
digunakan pada kegiatan belajar mengajar, antara lain:
a) Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual merupakan proses belajar
mengajar dengan pembelajaran bermakna melalui kegiatan-
kegiatan yang melibatkan siswa secara langsung, siswa tidak
dilatih untuk menghafal, sekedar mengetahui, atau memahami,
namun siswa dialtih untuk menemukan suatu solusi dari
permasalahan yang diberikan hingga pemahaman konsep siswa
terbentuk. Maka dari itu, pendekatan kontestual mengutamakan
proses belajar dari pada hasil. Pendidik harus mampu

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 42


menyusun strategi yang bervariatif dengan memberdayakan
peserta didik dalam setiap kegiatan belajar.
Ardiyanto (2013) mengatakan bahwa dalam pembelajaran
kontekstual, pendidik dapat menggunakan media hands on
activity dan memilih konteks pembelajaran yang tepat bagi
siswa dengan cara mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan
nyata dan lingkungan di mana anak hidup dan berada serta
dengan budaya yang berlaku dalam masyarakatnya.
Pemahaman, penyajian ilmu pengetahuan, keterampilan, nilai
dan sikap yang ada dalam materi dikaitkan dengan apa yang
dipelajari dalam kelas dan dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan memilih konteks secara tepat, maka siswa dapat
diarahkan kepada pemikiran agar tidak hanya berkonsentrasi
dalam pembelajaran di lingkungan kelas saja, tetapi diajak
untuk mengaitkan aspek-aspek yang benar-benar terjadi dalam
kehidupan mereka sehari-hari, masa depan mereka, dan
lingkungan masyarakat luas.
Dalam pendekatan kontekstual, pendidik lebih banyak
berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.
pendidik bertugas mengelola kelas sebagai sebuah tim yang
bekerja bersama untuk merumuskan, menemukan sesuatu yang
baru bagi kelas yang dapat berupa pengetahuan, keterampilan
dari hasil “menemukan sendiri” dan bukan dari “apa kata
guru”. Penggunaan pembelajaran kontekstual memiliki potensi

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 43


tidak hanya untuk mengembangkan ranah pengetahuan dan
keterampilan proses, tetapi juga untuk mengembangkan sikap,
nilai, serta kreativitas siswa dalam memecahkan masalah yang
terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari melalui interaksi
dengan sesama teman, misalnya melalui pembelajaran
kooperatif, sehingga juga mengembangkan ketrampilan sosial
(social skills). Masita (2012) menyatakan bahwa pendekatan
kontekstual melibatkan siswa dalam masalah yang sebenarnya
dengan menghadapkan peserta didik pada bidang penelitian,
membantu mereka mengidentifikasi masalah yang konseptual
atau metodologis dalam bidang penelitian dan mengajak
mereka untuk merancang cara dalam mengatasi masalah.

b) Pendekatan Konstruktivisme
Pendekatan konstruktivisme adalah pendekatan yang
menjadi landasan berfikir dengan membangun sedikit demi
sedikit pengetahuan yang didapatkan dan hasil pengetahuan
tersebut diperluas dengan konteks yang terbatas serta tidak
secara tiba-tiba. Kelebihan konstruktivisme adalah peserta
didik dapat membimbing pengetahuannya secara mandiri dan
aktif melalui proses belajar yang continue antara pembelajaran
terdahulu dengan pembelajaran yang terbaru. Konsep-konsep
yang dibina pada struktur kognitif seorang akan berkembang
dan berubah apabila ia mendapat pengetahuan atau pengalaman

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 44


baru. Seseorang akan dapat membina konsep dalam struktur
kognitifnya dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan
pengetahuan yang sedia ada padanya dan proses ini dikenali
sebagai accretion. Selain itu, konsep-konsep yang ada pada
seseorang boleh berubah selaras dengan pengalaman baru yang
dialaminya dan ini dikenali sebagai penalaan (tuning)
Seseorang individu juga boleh membina konsep-konsep
dalam struktur kognitifnya dengan menggunakan analogi, yaitu
berdasarkan pengetahuan yang ada padanya. Konsep baru juga
boleh dibina dengan menggabungkan konsep-konsep yang
telah ada pada seseorang dan ini dikenali sebagai parcing.
Pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam proses
pembelajaran kerana belajar dibangun dengan membina konsep
sendiri melalui kegiatan menghubungkan perkara yang
dipelajari dengan pengetahuan yang telah ada pada mereka.
Kadir (2013) membuktikan bahwa penggunaan pendekatan
konstruktivisme telah mendapat pencapaian yang lebih tinggi
dan signifikan dari pada peserta didik yang diajar
menggunakan pendekatan tradisional. Sedangkan Sariningsih
(2014) juga turut membuktikan bahwa pendekatan
konstruktivisme dapat membantu peserta didik dalam
menemukan pemahaman dan pencapaian yang lebih tinggi.

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 45


c) Pendekatan Deduktif-Induktif
Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif ditandai dengan pemaparan konsep,
definisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran.
Pendekatan deduktif dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa
proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik bila siswa
telah mengetahui letak persoalan dan konsep dasarnya .

Pendekatan Induktif
Ciri utama pendekatan induktif dalam pengolahan
informasi adalah menggunakan data untuk membangun konsep
atau untuk memperoleh pengertian. Data yang digunakan
mungkin merupakan data primer atau dapat pula berupa kasus-
kasus nyata yang terjadi dilingkungan.
Pembelajaran tradisional adalah pembelajaran dengan
pendekatan deduktif, memulai dengan teori-teori dan
meningkat ke penerapan teori. Di bidang sains dan teknik
dijumpai upaya mencoba pembelajaran dan topik baru yang
menyajikan kerangka pengetahuan, menyajikan teori-teori dan
rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan utama
peserta didik. Pembelajaran dengan pendekatan deduktif
menekankan pada guru mentransfer informasi atau
pengetahuan.

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 46


Major (2006) menyatakan dalam pembelajaran dengan
pendekatan deduktif dimulai dengan menyajikan generalisasi
atau konsep. Dikembangkan melalui kekuatan argumen logika.
Contoh urutan pembelajaran: (1) definisi disampaikan; dan (2)
memberi contoh, dan beberapa tugas mirip contoh dikerjakan
siswa dengan maksud untuk menguji pemahaman siswa
tentang definisi yang disampaikan.
Alternatif pendekatan pembelajaran lainnya selain dengan
pembelajaran pendekatan deduktif adalah dengan pendekatan
induktif. Beberapa contoh pembelajaran dengan pendekatan
induktif misalnya pembelajaran inkuiri, pembelajaran berbasis
masalah, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis
kasus, dan pembelajaran penemuan. Pembelajaran dengan
pendekatan induktif dimulai dengan melakukan pengamati
terhadap hal-hal khusus dan menginterpretasikannya,
menganalisis kasus, atau memberi masalah konstekstual, siswa
dibimbing memahami konsep, aturan-aturan, dan prosedur-
prosedur berdasar pengamatan siswa sendiri.
Major (2006) berpendapat bahwa pembelajaran dengan
pendekatan induktif efektif untuk mengajarkan konsep atau
generalisasi. Pembelajaran diawali dengan memberikan
contoh-contoh atau kasus khusus menuju konsep atau
generalisasi. Siswa melakukan sejumlah pengamatan yang
kemudian membangun dalam suatu konsep atau generalisasi.

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 47


Siswa tidak harus memiliki pengetahuan utama berupa
abstraksi, tetapi sampai pada abstraksi tersebut setelah
mengamati dan menganalisis apa yang diamati.
Pendekatan induktif-deduktif melatih siswa memecahkan
soal atau masalah. Winarso (2014) menyatakan bahwa induktif
dan deduktif dapat dipakai dalam membahas materi
pembelajaran. Pada prinsipnya matematika bersifat deduktif.
Matematika sebagai “ilmu” hanya diterima pola pikir deduktif.
Pola pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran
“yang berpangkal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau
diarahkan kepada hal yang bersifat khusus” Soedjadi (1994).
Dalam kegiatan memecahkan masalah siswa dapat terlibat
berpikir dengan dengan menggunakan pola pikir induktif, pola
pikir deduktif, atau keduanya digunakan secara bergantian.

d) Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat


Pendekatan sains, teknologi dan masyarakat (STM)
merupakan the teaching and learning of science in the context
of human experience. Artinya, STM dipandang sebagai proses
pembelajaran disesuaikan dengan konteks pengalaman
manusia. Pendekatan ini melatih kreativitas, sikap ilmiah, dan
menggunakan konsep serta proses peserta didik dalam
kehidupan sehari-hari. Menurut Rintayati & Putro (2014)
bahwa STM merupakan approach is able to improve learning

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 48


activity with character intelligent and creativity student. Maka
dari itu, pembelajaran STM haruslah diterapkan dengan cara
mengintegrasikan berbagai disiplin (ilmu) dalam rangka
memahami berbagai hubungan yang terjadi di antara sains,
teknologi dan masyarakat. Hal ini berarti bahwa pemahaman
kita terhadap hubungan antara sistem politik, tradisi
masyarakat dan bagaimana pengaruh sains dan teknologi
terhadap hubungan-hubungan tersebut menjadi bagian yang
penting dalam pengembangan pembelajaran di era sekarang ini.
Pandangan tersebut senada dengan pendapat NC State
University bahwa STM merupakan an interdisciplinery field of
study that seeks to explore a understand the many ways that
scinence and technology shape culture, values, and institution,
and how such factors shape science and technology. Dengan
demikian, maka STM adalah sebuah pendekatan yang
dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana sains dan teknologi
masuk dan merubah proses-proses sosial di masyarakat, dan
bagaimana situasi sosial mempengaruhi perkembangan sains
dan teknologi.
Hasil penelitian Jauhar (2018) yang menunjukkan bahwa
pembelajaran menggunakan pendekatan STM dapat mealatih
kreativitas, sikap, proses, dan konsep pengetahuan. Melalui
pendekatan STM ini pendidik sebagai fasilitator dan informasi
yang diterima siswa akan lebih lama diingat. Sebenarnya dalam

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 49


pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM ini
tercakup juga adanya pemecahan masalah, tetapi masalah itu
lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari-hari,
yang dalam pemecahannya menggunakan rancangan prosedur
yang terlebih dahulu ditentukan.

e) Pendekatan Open-Ended
Pendekatan open-ended pendekatan belajar yang
menyajikan suatu problem yang dirancang agar memikiki multi
jawaban yang benar, dikenal dengan istilah problem tak
lengkap atau soal tebuka. Tujuan utamanya bukanlah untuk
mendapatkan jawaban tetapi bagaimana cara agar untuk sampai
pada jawaban. Dengan demikian, bukan hanya satu pendekatan
atau metode dalam mendapatkan jawaban.
Sifat “keterbukaan” dari suatu masalah dikatakan hilang
apabila hanya ada satu cara dalam menjawab permasalahan
yang diberikan atau hanya ada satu jawaban yang mungkin
untuk masalah tersebut. Contoh penerapan masalah open-ended
dalam kegiatan pembelajaran adalah ketika siswa diminta
mengembangkan metode, cara atau pendekatan yang berbeda
dalam menjawab permasalahan yang diberikan bukan
berorientasi pada jawaban (hasil) akhir.

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 50


f) Pendekatan Saintifik
Proses pembelajaran pada kurikulum 2013 untuk semua
jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan
saintifik. Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah,
yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses
pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap
menggunakan transformasi substansi atau materi ajar agar
peserta didik tahu tentang “mengapa”. Ranah keterampilan
menggunakan transformasi substansi atau materi ajar agar
peserta didik tahu tentang “bagaimana”. Ranah keterampilan
menggunakan transformasi substansi atau materi ajar agar
peserta didik tahu tentang “apa”. Hasil akhir adalah
peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk
menjadi manusia yang baik dan manusia yang memiliki
kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak dari
peserta didik yang meliputi aspek keterampilan sikap, dan
pengetahuan.
Proses belajar dengan pendekatan saintifik terdiri atas lima
kegiatan, yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan data atau
eksperimen, mengolah informasi dan mengkomunikasikan.
Dalam proses mengamati, peserta didik diharapkan dapat
menyaksikan tentang apa yang di sajikan pendidik, melalui
video atau alat peraga yang terkait materi, pendidik juga bisa
menampilkan gambar-gambar yang juga terkait dengan materi.

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 51


Selain itu pengamatan juga dapat dilakukan pada saat guru
melakukan simulasi. Setelah itu, peserta didik merumuskan
pertanyaan yang nanti akan diperoleh melalui proses
pengamatan terhadap media yang ditampilkan oleh pendidik,
selanjutnya peserta didik mengumpulkan informasi. Informasi
yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan yang sudah
dibuat, informasi tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber
belajar seperti buku, perpustakaan, internet dan lain-lain.
Informasi yang telah didapat diolah dan dipresentasikan
bersama teman-teman yang lain untuk saling berbagi informasi.

g) Pendekatan Realistic
Pendekatan realistik adalah salah satu pendekatan
pembelajaran matematika yang menekankan pada keterkaitan
antar konsep-konsep matematika dengan pengalaman sehari-
hari. Dalam pembelajaran realistik, dunia nyata dijadikan
sebagai sunber pemunculan konsep matematika. Pengenalan
konsep-konsep matematika dilakukan dengan menghadapkan
siswa pada masalah dari kehidupan mereka, pengalaman
mereka, atau apa yang pernah mereka lihat atau dengar, tetapi
yang mereka anggap sebagai kenyataan sehingga siswa segera
melibatkan dirinya dalam kegiatan belajar secara bermakna.

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 52


Pendekatan realistik sejalan dengan teori belajar yang
lainnya. Ada lima karakteristik dalam pendekatan realistik,
yaitu:
1. Masalah-masalah disajikan berdasarkan konteks dunia
nyata atau yang dapat dibayangkan oleh siswa.
2. Menggunakan pengembangan model-model yang dibuat
sendiri oleh peserta didik yang berguna untuk
menjembatani peserta didik dari situasi real ke situasi
abstrak.
3. Siswa memproduksi sendiri dan mengkonstruksi sendiri
sehingga dapat membimbing para siswa dari level
matematika informal menuju matematika formal.
4. Interaksi sebagai karakteristik dari proses pembelajaran
matematika.
5. Membuat jalinan antar topik atau antar pokok disebut
“intertwinment”.
Secara umum, pendekatan realistik melatih siswa
menemukan kembali konsep-konsep belajar yang pernah ada
atau bila memungkinkan siswa dapat menemukan konsep-
konsep yang belum pernah di temukan.

h) Pendekatan Etnomatematika
Menurut Agasi & Wahyuono (2016) pendekatan
etnomatematika merupakan pendekatan yang digunakan untuk

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 53


menghubungkan antara realitas budaya dilingkungan peserta
didik dengan matematika saat proses belajar mengajar.
Etnomatematika telah diterapkan diberbagai negara, salah
satunya adalah Jepang. Etnomatematika memiliki pengertian
yang lebih luas dari hanya sekedar etno (etnis) atau suku.
pengajaran matematika di sekolah memang terlalu bersifat
formal. Oleh sebab itu pembelajaran matematika sangat perlu
memberikan muatan antara matematika dalam dunia sehari-hari
yang berbasis pada budaya lokal dengan matematika sekolah.
Pendekatan etnomatematika menggunakan pembelajaran
berbasis budaya lokal dimana peserta didik belajar tentang
budaya, belajar dengan budaya, dan belajar melalui budaya.
Namun pendidik haruslah memperhatika empat hal penting
dalam menerapkan pendekatan etnomatematika, yaitu substansi
dan kompetensi bidang ilmu/bidang studi, kebermaknaan dan
proses pembelajaran, penilaian hasil belajar, serta peran
budaya. Pendidik mengaitkan budaya lokal yang ada
dilingkungan peserta didik dan menjadikannya media untuk
memperkenalkan subtansi dari matematika.

Soal-soal Latihan
1. Apa pengertian dari pendekatan pembelajaran?
2. Ada 2 jenis pendekatan, sebutkan dan jelaskan!
3. Sebutkan karakteristik pendekatan pembelajaran!

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 54


4. Sebutkan dan jelaskan macam–macam pendekatan
pembelajaran yang digunakan pada kegiatan belajar
mengajar!
5. Apa yang harus dilakukan oleh guru jika hendak
menggunakan pendekatan kontekstual dalam
pembelajaran!
6. Apa kelebihan dan kelemahan dari pendekatan
kontekstual?
7. Bagaimana proses pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan kontekstual?
8. Apa kelebihan dan kelemahan dari pendekatan
konstruktivisme?
9. Bagaimana proses pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan konstruktivisme?
10. Bagaimana proses pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan induktif dan deduktif?
11. Apa kelebihan dan kelemahan dari pendekatan sains,
teknologi dan masyarakat (STM)?
12. Apa yang harus dilakukan oleh guru jika hendak
menggunakan pendekatan sains, teknologi, dan masyarakat
(STM) dalam proses pembelajaran?
13. Bagaimana proses pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan open ended? Jelaskan!
14. Apa kelebihan dan kelemahan dari pendekatan saintifik?

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 55


15. Bagaimana proses belajar mengajar dengan menggunakan
pendekatan saintifik? Jelaskan!
16. Apa kelebihan dan kelemahan dari pendekatan realistic?
17. Bagaimana proses belajar mengajar dengan menggunakan
pendekatan realistic?
18. Sebutkan karakteristik dalam pendekatan realistic!
19. Apa kelebihan dan kelemahan dari pendekatan
etnomatematika?

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA 56


BAB IV
METODE PEMBELAJARAN
DALAM MATEMATIKA

“Jika Kau Menginginkan Sesuatu Dalam Hidupmu


yang tak pernah kau punya. Kau harus
melakukan sesuatu yang belum pernah kau
lakukan”

JD Houson

A. Pengertian Metode Mengajar


Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi
unsur-unsur manusiawi adalah suatu proses dalam rangka
mencapai tujuan pembelajaran. Dalam kegiatan belajar
mengajar dibutuhkan suatu metode pembelajaran untuk
menyampaikan materi yang diajarkan oleh pendidik secara
efektif dan efisien untuk mempermudah mencapai tujuan
pembelajaran yang hendak dicapai.
1. Pengertian Metode
Menurut Muhinnin (2011) metode adalah suatu prosedur
yang sistematis digunakan untuk melihat gejala atau fenomena
kejiwaan. Di sisi lain, Djamarah & Zain (2010) mengatakan
bahwa metode memiliki kedudukan sebagai alat motivasi

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 57


ekstrinsik, sebagai strategi pengajaran dan juga sebagai alat
untuk mencapai tujuan. Maka dari itu, dapat dipahami bahwa
metode merupakan suatu cara atau jalan yang digunakan oleh
pendidik untuk menyampaikan materi pelajaran dan digunakan
untuk mencapai tujuan yang telah diterapkan baik tujuan
belajar maupun tujuan mangajar.
2. Pengertian Mengajar
Mengajar adalah aktivitas mengelola, mengatur,
mengorganisasi lingkungan hingga terbentuknya proses belajar.
Lingkungan yang dimaksud tidak hanya kelas, namun juga
meliputi media, pendidik, laboratorium, perpustakaan dan lain-
lain yang berkaitan dengan kegiatan belajar peserta didik.
Maka dari itu, mengajar merupakan aktivitas pendidik dengan
menggunakan perangkat pembelajaran untuk membimbing
peserta didik dalam pembentukan karakternya. Pendidik harus
terus menerus mempersiapkan rancangan kegiatan agar
penyampaian informasi kepada peserta didik lebih efektif dan
memperkuat pemahaman konsepnya.
3. Pengertian Metode Mengajar
Metode mengajar merupakan konsep atau prosedur yang
telah dirancang untuk melakukan aktivitas belajar, khususnya
kegiatan penyajian materi pelajaran kepada peserta didik.
Sutikno (2009) berpendapat bahwa metode pembelajaran
adalah cara-cara dalam menyajikan materi pelajaran yang

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 58


dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada
diri peserta didik dalam upaya untuk mencapai tujuan.
Sehubungan dengan hal tersebut, Rahman & Maarif (2014)
menjelaskan bahwa metode mengajar adalah suatu aktivitas
pendidik dalam menjalin hubngan dengan peserta didik pada
saat proses belajar mengajar. Selanjutnya Muhibbin (2011)
mengatakan bahwa metode mengajar adalah cara yang berisi
prosedur untuk melaksanakan kegiatan pendidikan, khususnya
kegiatan penyajian materi pada peserta didik.
Jadi, dapat dipahami bahwa metode mengajar atau metode
pengajaran merupakan suatu cara yang digunakana pendidik
dalam menyajikan dan menyampaikan informasi berupa
pengetahuan, keterampilan, atau sikap agar tujuan
pembelajaran tercapai dengan efektif dan efesien.

B. Faktor-Faktor Penentu Metode Mengajar


Pemilihan metode dalam belajar mengajar tidaklah
sembarangan. Perlu adanya pertimbangan atas beberapa faktor
yang memungkinkan terjadi. Sebagai suatu cara, metode
tidaklah berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor
lain. Maka itu, pendidik harus mengerti, memahami dan
mempedomaninya ketika akan melaksanakan pemilihan dan
penentuan metode. Tanpa mengindahkan hal ini, metode yang
dipergunakan tidak akan berjalan efektif.

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 59


Setiap metode mempunyai sifat masing-masing, baik
mengenai kelebihan-kelebihannya maupun kelemahan-
kelemahannya. Pendidik akan lebih mudah menetapkan metode
yang paling serasi untuk situasi dan kondisi yang khusus
dihadapinya. Pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi
oleh beberapa faktor, sebagai berikut:
a. Peserta Didik
Peserta didik merupakan individu berpotensi yang menjadi
tujuan akhir pendidikan. Di sekolah, pendidik berkewajiban
untuk mendidiknya. Dalam proses belajar mengajar di kelas,
pendidik langsung berhadapan dengan peserta didik yang
memiliki karakteristik berbeda-beda. Berbagai status sosial,
ekonomi serta jenis kelamin, pada intinya, dari aspek fisik ini
selalu ada perbedaan dan persamaan pada setiap peserta didik.
Dilihat dari aspek psikologis, perilaku peserta didik selalu
menunjukan perbedaan, ada yang pendiam, ada yang kreatif,
ada yang suka bicara, ada yang tertutup (introver), ada yang
terbuka (ekstrover), ada yang pemurung, ada yang periang, dan
sebagainya. Semua perilaku peserta didik tersebut mewarnai
suasana kelas. Jumlah peserta didik yang cenderung banyak
rentan akan konflik dan sukar diatur.
Semua perbedaan yang ada pada masing-masing peserta
didik tentu mempengaruhi penentuan dan pemilihan metode
yang akan diterapkan dalam menciptakan suasana belajar

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 60


mengajar yang efektif demi demi tercapainya tujuan pengajaran
yang telah dirumuskan secara operasional. Dengan demikian,
jelas bahwa kematangan peserta didik yang bervariasi
mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode pengajaran.
b. Tujuan Pembelajaran
Tujuan merupakan target akhir yang ingin dicapai, tujuan
mengajar juga diartikan sebagai tempat yang dituju dalam
proses belajar mengajar. Secara hierarki tujuan itu bergerak
dari yang rendah hingga yang tinggi, yaitu tujuan instruksional
dan tujuan pendidikan nasional. Tujuan pembelajaran
merupakan tujuan intermedier (antara), yang menjadi taget
pencapaian dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Tujuan
pembelajaran dikenal ada dua, yaitu TIU (Tujuan Instruksional
Umum) dan TIK (Tujuan Instruksional Khusus).
Perumusan tujuan instruksional khusus, misalnya akan
mempengaruhi kemampuan yang terjadi pada diri peserta
didik. Proses pengajaran pun dipengaruhinya. Demikian juga
penyeleksian metode yang harus pendidik gunakan di kelas.
Metode yang pendidik pilih harus sejalan dengan taraf
kemampuan yang hendak diisi ke dalam diri setiap peserta
didik. Artinya, metode haruslah tunduk kepada kehendak
tujuan dan bukan sebaliknya. Karena itu, kemampuan yang
bagaimana yang dikehendaki oleh tujuan, maka metode harus
mendukung sepenuhnya.

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 61


c. Suasana Pembelajaran
Suasana pembelajaran merupakan lingkungan belajar
peserta didik, suasana pembelajaran yang diciptakan pendidik
sebaiknya tidak monoton atau sama dari hari ke hari. Pendidik
dituntut untuk kreatif menciptakan suasana atau lingkungan
belajar yang baru bagi peserta didik, seperti suasana belajar
mengajar di alam terbuka, yaitu diluar ruang sekolah. Untuk
itu, pendidik perlu memilih metode yang tepat dan sesuai
dengan kondisi yang diciptakan. Di lain waktu, sesuai dengan
sifat bahan dan kemampuan yang ingin dicapai oleh tujuan,
maka pendidik menciptakan lingkungan belajar peserta didik
secara berkelompok. Dalam hal ini tentu saja pendidik telah
memilih metode mengajar untuk mentransfer informasi kepada
peserta didiknya, yaitu metode problem solving. Demikian,
situasi yang diciptakan pendidik mempengaruhi pemilihan dan
penentuan metode mengajar.
d. Fasilitas Pembelajaran
Fasilitas merupakan hal yang mempengaruhi pemilihan
dan penentuan metode mengajar. Fasilitas adalah kelengkapan
yang menunjang belajar peserta didik di sekolah. Lengkap
tidaknya fasilitas belajar akan mempengaruhi pemilihan
metode mengajar. Ketiadaan alat peraga, laboratorium
matematika, biologi maupun fasilitas lain kurang mendukung
penggunaan metode eksperimen atau metode demonstrasi.

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 62


Demikian juga halnya ketiadaan mempunyai fasilitas olahraga,
tentu sukar bagi pendidik menerapkan metode latihan. Justru
itu, keampuhan suatu metode mengajar akan terlihat jika faktor
lain mendukung.
e. Pendidik
Setiap pendidik mempunyai kepribadian yang berbeda.
Seorang pendidik misalnya kurang suka berbicara, tetapi
seorang pendidik yang lain suka berbicara. Seorang pendidik
yang bergelar sarjana pendidikan dan kependidikan, berbeda
dengan pendidik yang sarjana bukan pendidikan dan
kependidikan di bidang penguasaan ilmu kependidikan dan
kependidikan. Pendidik yang sarjana pendidikan dan
kependidikan barangkali lebih banyak menguasai metode-
metode mengajar, karena memang dibentuk sebagai tenaga ahli
di bidang kependidikan dan wajar saja dia menjiwai dunia
pendidik.
Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa kepribadian,
latar belakang pendidikan, dan pengalaman mengajar adalah
permasalahan intern pendidik yang dapat mempengaruhi
pemilihan dan penentuan metode mengajar. Sebagai
penyegaran kembali dari inti kesan atau uraian tersebut
dapatlah diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan
metode mengajar, yaitu peserta didik, tujuan, situasi, fasilitas
dan pendidik.

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 63


C. Jenis-Jenis Metode Mengajar
Pada pembahasan terdahulu telah banyak dibicarakan
mengenai Faktor-faktor penentu metode belajar mengajar yang
sesuai dengan tujuan dan kondisi psikologis peserta didik.
Pembahasan berikut akan membicarakan masalah jenis-jenis
metode mengajar secara global untuk memberikan tambahan
wawasan umum. Metode-metode mengajar yang diuraikan
berikut ini adalah:
1. Metode Proyek
Metode proyek atau unit adalah cara penyajian pelajaran
yang bertitik tolak dari suatu masalah, kemudian dibahas dari
berbagai segi yang berhubungan sehingga pemecahannya
secara keseluruhan dan bermakna. Penggunaan metode ini
bertolak dari anggapan bahwa pemecahan masalah tidak akan
tuntas bila tidak ditinjau dari berbagai segi. Dengan kata lain,
pemecahan setiap masalah perlu melibatkan peserta didik,
bukan hanya melibatkan berbagai mata pelajaran atau bidang
studi saja, melainkan hendaknya melibatkan berbagai mata
pelajaran yang ada kaitan dan sumbangannya bagi pemecahan
masalah tersebut, sehingga setiap masalah dapat dipecahkan
secara keseluruhan yang berarti. Dalam penggunaannya metode
proyek memiliki kelebihan dan kekurangan.
a) Kelebihan Metode Proyek
Beberapa kelebihan metode proyek antara lain:

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 64


1) Memperluas sudut pandang peserta didik dalam
menggunakan segala bidang ilmu untuk memecahkan
sebuah permasalahan.
2) Membiasakan peserta didik dalam menerapkan
pengetahuan dalam menemukan solusi dari
permasalahan.
3) Metode ini sesuai dengan prinsip-prinsip didaktik
modern yang dalam pengajaran perlu diperhatikan:
 Kemampuan individual peserta didik dan kerja
sama dalam kelompok.
 Bahan pelajaran tidak terlepas dari kehidupan
nyata yang penuh dengan masalah.
 Pengembangan aktivitas, kreativitas dan
pengalaman peserta didik banyak dilakukan.
 Agar teori dan praktik, sekolah dan kehidupan
masyarakat menjadi satu kesatuan yang tak
terpisahkan.
b) Kekurangan Metode Proyek
Metode ini memiliki kekurangan, antara lain:
1) Kurikulum yang berlaku di Indonesia saat ini, baik
secara vertikal maupun horizontal, belum menunjang
pelaksanaan metode ini.

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 65


2) Pemilihan topik unit yang tepat sesuai dengan
kebutuhan peserta didik, fasilitas yang memadai serta
sumber-sumber belajar yang diperlukan, bukanlah
merupakan pekerjaan yang mudah.
3) Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat
mengaburkan pokok unit yang dibahas.

2. Metode Eksperimen
Metode eksperimen (percobaan) adalah cara transfer
informasi di mana peserta didik melakukan percobaan dan
terlibat langsung serta membuktikan sendiri sesuatu yang
dipelajari. Dalam proses belajar mengajar dengan metode
percobaan ini peserta didik diberi kesempatan untuk
mengalami sendiri atau melakukan sendiri melalui suatu
proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan
dan menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu objek,
keadaan, atau proses sesuatu. Dengan demikian, peserta didik
dituntut untuk mengalami sendiri, mencari kebenaran, atau
mencoba mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik
kesimpulan atas proses yang dialaminya itu. Namun, metode
eksperimen memiliki kelebihan dan kekurangan dalam
penerapannya sebagai metode pembelajaran, yaitu:

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 66


a) Kelebihan Metode Eksperimen
Metode eksperimen memiliki beberapa kelebihan antara
lain:
1) Kepercayaan peserta didik atas ilmu yang ia dapat dari
hasil percobaanya sendiri membuat kepercayaan
terhadap kebenaran ilmu tersebut semakin meningkat.
2) Menggali segala potensi atau ide-ide peserta didik
untuk hal-hal baru atau terobosan-terobosan baru
dengan penemuan dari hasil percobaannya dan
bermanfaat bagi masyarakat.
3) Meningkatkan kepercayaan diri peserta didik dalam
belajar.
b) Kekurangan Metode Eksperimen
Metode eksperimen mengandung beberapa kekurangan,
antara lain:
1) Metode ini tidak bisa digunakan pada beberapa bidang
keilmuan tertentu.
2) Alat dan bahan yang digunakan dalam metode ini
tidak selalu mudah diperoleh dan relatif mahal.
3) Metode eksperimen memerlukan kesabaran, keuletan,
dan ketelitian.
4) Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang
diharapkan karena mungkin ada faktor-faktor tertentu

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 67


yang berada di luar jangkauan kemampuan atau
pengendalian.

3. Metode Tugas dan Resitasi


Metode resitasi (penugasan) adalah metode penyajian
bahan di mana pendidik memberikan tugas tertentu agar
peserta didik melakukan kegiatan belajar. Namun, pengerjaan
tugas yang diberikan oleh pendidik dapat dilakukan di dalam
kelas, di halaman sekolah, di laboratorium, di perpustakaan, di
rumah peserta didik, atau di mana saja asal tugas itu dapat
dikerjakan. Metode ini diberikan karena dirasakan bahan
pelajaran terlalu banyak, sementara waktu sedikit. Artinya,
banyaknya bahan yang tersedia dengan waktu kurang
seimbang. Agar bahan pelajaran selesai sesuai batas waktu
yang ditentukan, maka metode inilah yang biasanya pendidik
gunakan untuk mengatasinya.
Metode tugas dan resitasi tidaklah sama seperti pekerjaan
rumah (PR) tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas dan resitasi
merangsang peserta didik untuk aktif belajar, baik secara
individual maupun secara kelompok. Karena itu, tugas dapat
diberikan secara individual, atau dapat pula secara kelompok.
Tugas yang dapat diberikan kepada peserta didik ada berbagai
jenis. Hal ini bergantung pada tujuan yang akan dicapai, seperti

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 68


tugas meneliti, menyusun laporan (lisan/tulisan), tugas motorik
(pekerjaan motorik), tugas di laboratorium, dan lain-lain.
Langkah-langkah yang harus diterapkan dalam
menggunakan metode tugas atau resitasi, yaitu:
 Fase Pemberian Tugas
Tugas yang diberikan kepada peserta didik hendaknya
mempertimbangkan:
 Tujuan yang akan dicapai.
 Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga peserta
mengerti apa yang ditugaskan tersebut.
 Sesuai dengan kemampuan peserta didik.
 Ada petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan
peserta didik.
 Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas
tersebut.

 Langkah Pelaksanaan Tugas


 Diberikan bimbingan/pengawasan oleh pendidik.
 Diberikan dorongan sehingga peserta mau bekerja.
 Diusahakan/dikerjakan oleh peserta didik sendiri, tidak
menyuruh orang lain.
 Dianjurkan agar peserta didik mencatat hasil-hasil yang
ia peroleh dengan baik dan sistematik.

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 69


 Fase Mempertanggungjawabkan Tugas
Hal yang harus dikerjakan pada fase ini:
 Laporan peserta didik baik lisan/tulisan dari apa yang
telah dikerjakannya.
 Ada tanya jawab/diskusi kelas.
 Penilaian hasil pekerjaan peserta didik baik dengan tes
maupun nontes atau cara lainnya.
Fase mempertanggungjawabkan tugas inilah yang disebut
“resitasi”. Metode tugas dan resitasi mempunyai beberapa
kelebihan dan kekurangan, antara lain:
a). Kelebihan Metode Tugas
1) Lebih merangsang peserta didik dalam melakukan
aktivitas belajar individual ataupun kelompok.
2) Melatih kemandirian belajar peserta didik di luar
pengawasan pendidik.
3) Melatih kedisiplinan dan tanggung jawab peserta didik.
4) Melatih dan merangsang kreativitas peserta didik.
b). Kekurangan Metode Tugas
1) Keaslian hasil pekerjaan yang dikerjakan peserta didik
menjadi tidak terkontrol.
2) Khusus untuk tugas kelompok, tidak jarang yang aktif
mengerjakan dan menyelesaikannya adalah anggota
tertentu saja, sedangkan anggota lainnya tidak
berpartisipasi dengan baik.

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 70


3) Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan
perbedaan individu peserta didik.
4) Sering memberikan tugas yang monoton (tidak
bervariasi) dapat menimbulkan kejenuhan peserta didik.
4. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah cara transfer informasi pelajaran, di
mana peserta didik dihadapkan kepada suatu permasalahan
yang dapat berupa pernyataan atau hal yang bersifat
problematic untuk dibahas dan dipecahkan bersama. Diskusi
merupakan teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh
seorang pendidik di sekolah. Di dalam diskusi ini proses
belajar mengajar terjadi, di mana interaksi antara dua atau lebih
individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman,
informasi, memecahkan masalah, dapat terjadi juga semuanya
aktif, tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja. Metode
diskusi memiiki kelebihan dan kekurangan diantaranya adalah:
a). Kelebihan Metode Diskusi
1) Melatih kreativitas peserta didik melalui gagasan, ide,
dan terobosan baru dalam pemecahan masalah.
2) Melatih rasa menghargai terhadap pendapat orang lain.
3) Memperkaya wawasan.
4) Melatih siswa untuk terbiasa bermusyawarah dalam
mendiskusikan pemecahan masalah.
b). Kekurangan Metode Diskusi

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 71


1) Pembicaraan terkadang menyimpang, sehingga
memerlukan waktu yang panjang.
2) Metode diskusi tidak efektif diterapkan pada kelomok
dengan jumlah besar.
3) Informasi yang diterima peserta didik terbatas.
4) Metode diskusi biasanya didominasi oleh peserta didik
yang ingin menonjolkan diri.

5. Metode Ekspositori
Metode ini merupakan metode yang mengutamakan
transfer informasi pengetahuan secara verbal agar peserta didik
dapat menguasai konsep materi pelajaran secara optimal.
Metode ini dikenal dengan pembelajaran langsung (direct
instruction). Yang menekankan pada proses bertutur dan
menemukan materi yang diberikan, maka sering juga
dinamakan istilah metode chalk and talk. Metode ini
menerapkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
pendidik (teacher centered learning). Pendidik menyampaikan
materi secara terstruktur agar ilmu tersampaikan dengan
efektif, karena metode ini berfokus kepada adalah kemampuan
akademik siswa (academic achievement student).

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 72


a). Kelebihan Metode Ekspositori
1) Metode ini membantu pendidik untuk mengetahui
tingkat pemahaman peserta didik dalam menguasai
bahan pelajaran yang telah dipelajari.
2) Metode ini membantu keterbatasan waktu yang dimiliki
pendidik agar materi pelajaran yang cukup banyak
dapat dikuasai peserta didik.
3) Peserta didik dilatih untuk mengobservasi suatu materi
pelajaran melalui demonstrasi.
4) Sangat efektif digunakan pada jumlah peserta diidk
yang besar.
b). Kelemahan Metode Ekspositori
1) Metode ini hanya efektif untuk peserta didik yang
mampu mendengar dan memperhatikan dengan baik.
2) Metode ini mengesampingkan perbedaan karakteristik
peserta didik seperti perbedaan pengetahuan, bakat,
minat dan gaya belajar peserta didik.
3) Metode ini tidak mendukung tumbuhkembangnya
kemampuan interpersonal, berpikir kritis dan sosialisasi
peserta didik.
4) Metode ini membutuhkan kesiapan pendidik, mulai dari
pengetahuan, motivasi, antusiasme dan kemampuan
mengelola kelas.

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 73


5) Metode pembelajaran ini bersifat one-way
communication yaitu pembelajaran terjadi pada satu
arah dimana pendidik lebih berperan aktif sehingga
pengetahuan yang didapat peserta didik hanya.

6. Metode Demontrasi
Metode demontrasi merupakan metode pembelajaran
dengan memperagakan atau mempertunjukan kepada peserta
didik suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang
dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai
dengan penjelasan lisan. Proses transfer informasi kepada
peserta didik akan lebih real dan dapat dibayangkan peserta
didik, sehingga pemahaman terbentuk dengan baik, peserta
didik langsung dapat mengamati apa yang diperlihatkan selama
pelajaran berlangsung.
Metode ini digunakan untuk mentransfer gambaran kepada
peserta didik yang lebih jelas tentang hal-hal yang
berhubungan dengan proses mengatur, membuat sesuatu,
proses bekerjanya sesuatu, proses mengerjakan atau
menggunakannya, komponen-komponen yang membentuk
sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain, dan
untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu. Metode
demontrasi mempunyai kelebihan dan kekurangannya, sebagai
berikut:

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 74


a) Kelebihan Metode Demontrasi
1) Pembelajaran menjadi lebih nyata, jelas dan konkrit
sehingga apa yang dibayangkan peserta didik tidak
abstrak dan verbalisme.
2) Pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami peserta
didik.
3) Suasana pembelajaran menjadi lebih menarik.
4) Melatih kemampuan pengamatan peserta didik dengan
menghubungkan antara antara teori dengan kenyataan,
dan mencoba melakukannya sendiri.
b) Kekurangan Metode Demontrasi
1) Keterampilan khusus pendidik dalam
mendemonstrasikan pembelajaran sangat dibutuhkan,
agar pembelajaran lebih efektif.
2) Fasilitas seperti peralatan, tempat, dan biaya yang
memadai tidak selalu tersedia dengan baik.
3) Metode ini memerlukan perencanaan yang sangat
matang dan waktu yang cukup panjang.

7. Metode Problem Solving


Metode problem solving disebut metode pemecahan
masalah merupakan metode belajar sekaligus metode yang
mampu melatih kemampuan berpikir peserta didik, metode ini
dapat dikombinasikan dengan metode lain agar tujuan

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 75


pembelajaran tercapai, mulai dari mengumpulkan data sampai
kepada penarikan kesimpulan. Penggunaan metode ini dengan
mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a. Permasalahan yang diberikan kepada peserta didik harus
sesuai dengan taraf kemampuannya.
b. Mengumpulkan data dalam menemukan solusi dari
masalah, seperti bertanya, meneliti, membaca buku dan
lain-lain.
c. Membuat hipotesis atau jawaban sementara dari masalah
tersebut. Jawaban sementara dibuat berdasarkan data yang
didapatkan.
d. Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam
langkah ini peserta didik harus berusaha memecahkan
masalah sehingga betul-betul yakin bahwa jawaban
tersebut betul-betul cocok. Apakah sesuai dengan jawaban
sementara atau sama sekali tidak sesuai.
e. Menarik kesimpulan. Artinya peserta didik harus sampai
kepada kesimpulan terakhir tentang jawaban dari masalah
tadi.
Metode problem solving mempunyai kelebihan dan
kekurangan sebagai berikut:

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 76


a) Kelebihan Metode Problem Solving
1) Metode ini dapat membuat pendidikan di sekolah
menjadi lebih relevan dengan kehidupan, khususnya
dengan dunia kerja.
2) Proses belajar mengajar melalui pemecahan masalah
dapat membiasakan para peserta didik menghadapi dan
memecahkan masalah secara terampil.
3) Metode ini merangsang pengembangan kemampuan
berpikir peserta didik secara kreatif dan menyeluruh,
karena dalam proses belajarnya, peserta didik banyak
melakukan mental dengan menyoroti permasalahan dari
berbagai segi dalam rangka mencari pemecahan.
b) Kekurangan Metode Problem Solving
1) Menentukan suatu masalah yang tingkatnya sesuai
dengan tingkat berpikir peserta didik, tingkat sekolah
dan kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang
telah dimiliki peserta didik, sangat memerlukan
kemampuan dan ketrampilan pendidik.
2) Proses belajar mengajar dengan menggunakan metode
ini memerlukan waktu yang cukup lama dan sering
terpaksa mengambil waktu pelajaran lain.
3) Mengubah kebiasaan peserta didik belajar dengan
mendengarkan dan menerima informasi pendidik
menjadi belajar dengan banyak berpikir memecahkan

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 77


masalah sendiri atau kelompok, yang kadang-kadang
memerlukan berbagai sumber belajar, merupakan
kesulitan tersendiri bagi peserta didik.

8. Metode Tanya Jawab


Metode tanya jawab merupakan metode pembelajaran
dengan menyajikan pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang
harus dijawab peserta didik, namun bisa juga pertanyaan
muncul dari peserta didik yang harus dijawab pendidik.
Metode tanya jawab adalah yang tertua dan banyak digunakan
dalam proses pendidikan, baik di lingkungan keluarga,
masyarakat maupun sekolah. Metode tanya jawab memiliki
beberapa kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:
a) Kelebihan Metode Tanya Jawab
1) Pertanyaan dapat menarik dan memutuskan perhatian
peserta didik, sekalipun ketika itu peserta didik sedang
ribut, yang mengantuk kembali tegar dan hilang
kantuknya.
2) Merangsang peserta didik untuk melatih dan
mengembangkan daya pikir, termasuk daya ingatan.
3) Mengembangkan keberanian dan keterampilan peserta
didik dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 78


b) Kekurangan Metode Tanya Jawab
1) Peserta didik merasa takut, apalagi bila pendidik
kurang dapat mendorong peserta didik untuk berani,
dengan menciptakan suasana yang tidak tegang,
melainkan akrab.
2) Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan
tingkat berpikir dan mudah dipahami peserta didik.
3) Waktu sering banyak terbuang, terutama apabila
peserta didik tidak dapat menjawab pertanyaan sampai
dua atau tiga orang.
4) Dalam jumlah peserta didik yang banyak, tidak
mungkin cukup waktu untuk memberikan pertanyaan
kepada setiap peserta didik.

9. Metode Latihan
Metode latihan dikenal dengan sebutan metode training
merupakan metode mengajar yang menanamkan kebiasaan-
kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memelihara
kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat
juga digunakan untuk melatih ketangkasan, ketepatan,
kesempatan, dan ketrampilan peserta didik. Sebagai suatu
metode yang diakui banyak mempunyai kelebihan, juga tidak
dapat disangkal bahwa metode latihan mempunyai beberapa
kelemahan, antara lain sebagai berikut:

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 79


a) Kelebihan Metode Latihan
1) Melatih kemampuan motorik peserta didik seperti,
kemampuan melafalkan huruf atau terampil dalam
menggunakan alat olahraga.
2) Melatih kemampuan mental peserta didik seperti,
perkalian, menjumlahkan, pengurangan, pembagian,
tanda-tanda simbol dan sebagainya.
3) Melatih kemampuan asosiasi peserta didik seperti,
hubungan huruf-huruf dalam ejaan, membaca peta dan
sebagainya.
4) Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dan menambah
ketepatan serta kecepatan pelaksanaan.
b) Kelemahan Metode Latihan
1) Menghambat bakat dan inisiatif peserta didik, karena
peserta didik lebih banyak dibawa kepada penyesuaian
dan diarahkan jauh dari pengertian.
2) Membentuk kebiasaan yang baku, karena bersifat
otomatis.
3) Dapat menimbulkan verbalisme.

10. Metode Ceramah


Metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan
metode tradisional, karena sejak dulu metode ini telah
dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara pendidik

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 80


dengan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Cara
mengajar dengan ceramah dapat dikatakan juga sebagai teknik
belajar perkuliahan, merupakan suatu cara mengajar yang
digunakan untuk persoalan serta masalah secara lisan. Metode
ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangannya,
sebagai berikut:
a) Kelebihan Metode Ceramah
1) Pendidik mudah menguasai kelas.
2) Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas.
3) Dapat diikuti oleh jumlah peserta didik yang besar.
4) Mudah mempersiapkan peserta didik dalam kegiatan
belajar.
5) Pendidik mudah menerangkan pelajaran karena
pembelajaran didominasi oleh pendidik.
b) Kelemahan Metode Ceramah
1) Mudah menjadi varbalisme.
2) Bila selalu digunakan dan terlalu lama bisa
membosankan.
3) Menyebabkan peserta didik menjadi pasif.

Soal-soal Latihan
1. Apa pengertian dari metode dan mengajar?
2. Apa pengertian dari metode mengajar sesuai dengan
pemahamanmu?

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 81


3. Factor-faktor apa yang menjadi penentu metode mengajar?
Jelaskan!
4. Bagaimana pelaksanaan metode proyek?
5. Apa kelebihan dan kelemahan dari metode proyek?
6. Apa saja kekurangan dari metode eksperimen?
7. Sebutkan dan jelaskan langkah-langkah yang harus
diterapkan dalam menggunakan metode tugas dan resitasi!
8. Apa saja kelebihan dari metode tugas dan resitasi?
9. Apa yang kamu ketahui dari metode diskusi? Jelaskan!
10. Apa kelebihan dan kekurangan dari metode diskusi?
11. Apa kelebihan dan kekurangan dari metode ekspositori?
12. Apa yang kamu pahami dari metode demonstrasi?
13. Apa kekurangan dari metode demonstrasi?
14. Sebutkan langkah-langkah dari metode problem solving!
15. Apa saja kelebihan dan kekurangan dari metode problem
solving?
16. Apa yang menjadi kendala oleh pendidik jika menerapkan
metode tanya jawab dalam proses pembelajaran?
17. Bagaimana proses pembelajaran dengan metode latihan
sesuai dengan pemahaman anda!
18. Apa kelebihan dari metode ceramah?

METODE PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA 82


BAB V
PENGELOLAAN KELAS
“Sebuah Tujuan Tanpa Perencanaan hanya akan
menjadi Harapan”

Antoine de Saint-Exupery

A. Pengertian Pengelolaan Kelas


Pengelolaan kelas merupakan dua kata yang berasal dari
pengelolaan dan kelas. Pengelolaan diartikan sebagai
managemen atau pengaturan, sementara pengelolaan kelas
berarti pengaturan atau managemen seseorang dalam
memimpin aktivitas di kelas. Menurut Nata (2014) pengelolaan
kelas adalah keterampilan pendidik untuk menciptakan dan
memelihara kondisi belajar yang optimal, dan
mengendalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar
mengajar. Berikut pengertian pengelolaan kelas menurut para
ahli:
a) Menurut Rofiq (2009), pengelolaan kelas adalah suatu
proses penyelenggaraan ruang dimana dilakukan kegiatan
belajar mengajar.
b) Menurut Sanjaya (2016), pengelolaan kelas merupakan
otonomi pendidik dalam mengatur kelas dan keberhasilan

PENGELOLAAN KELAS 83
pembelajaran peserta didik, apa yang dilakukan pendidik
dalam kelas sangat bergantung kepada pendidik itu sendiri.
c) Menurut Ghufron (2010), pengelolaan kelas bertujuan
untuk menciptakan atau mempertahankan situasi dan
kondisi belajar yang tetap memungkinkan peserta didik
menguasai kompetensi, sekaligus mengamalkan nilai-nilai
karakter bangsa, menciptakan kondisi belajar berarti
menata kelas (fisik dan non-fisik) yang memungkinkan
peserta didik belajar secara memadai.
Penyataan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
pengelolaan kelas merupakan keterampilan seorang pendidik
dalam menciptakan dan memelihara sebuah kelas yang
kondusif dengan maksud agar tercapainya kondisi yang
optimal sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan
dengan baik. Pengelolaan kelas merupakan salah satu
keterampilan penting yang harus dikuasai oleh seorang
pendidik. Karena tanpa keterampilan mengelola kelas, akan
sulit untuk menjalankan kegiatan mengajar belajar secara
efektif. Adapun pokok-pokok pikiran yang melatar belakangi
pengelolaan kelas adalah sebagai berikut:
a) Pembelajaran di sekolah menggunakan suasana
berkelompok.

PENGELOLAAN KELAS 84
b) Pendidik memiliki kewajiban untuk membentuk dan
mengembangkan kelompok kelas yang efektif dan
kondusif.
c) Kelompok kelas adalah suatu sistem yang memiliki ciri-
ciri sebagaimana yang dimiliki oleh sistem sosial
lainnya.
d) Peserta didik yang memiliki karakteristik yang
bervariasi.
Pengelolaan kelas sangat di perlukan karena dari hari ke
hari bahkan dari waktu ke waktu tingkah laku dan
perbuatan peserta didik selalu berubah-rubah. Hari ini peserta
didik dapat belajar dengan baik dan tenang, tetapi besok belum
tentu. Oleh karena itu kondisi belajar yang optimal dapat
dicapai jika pendidik mampu mengatur peserta didik dan
sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam situasi yang
menyenangkan untuk mencapai tujuan pelajaran.

Tujuan Pengelolaan Kelas


Pengelolaan kelas bertujuan untuk menyediakan fasilitas
berbagai bentuk kegiatan belajar peserta didik, baik
dilingkungan sosial, intelektual dan emosional di dalam
kelas. Fasilitas yang disediakan memungkinkan peserta didik
belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang
memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan

PENGELOLAAN KELAS 85
intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi pada peserta
didik. Tujuan lainnya adalah mengantarkan anak didik dari
tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti,
dan dari tidak berilmu menjadi berilmu. Menurut Zahroh
(2015), tujuan pengelolaan kelas adalah:
a) Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai
lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang
memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan
kemampuan semaksimal mungkin.
b) Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat
menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar;
c) Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar
yang mendukung dan memungkinkan peserta didik belajar
sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan
intelektual peserta didik dalam kelas.
d) Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang
sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.

B. Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas


Pengelolaan kelas berdasarkan pendekatan
diklasifikasikan menjadi delapan pendekatan, yaitu:
1) Pendekatan Otoriter (Autority Approach), merupakan
suatu cara pengelolaan kelas dengan mengontrol tingkah

PENGELOLAAN KELAS 86
laku peserta didik melalui penerapan disiplin yang sangat
ketat serta mengandung unsur kekuasaan dan ancaman.
2) Pendekatan Permisif (Permisive Approach), merupakan
suatu cara pengelolaan kelas dengan memberi kebebasan
kepada peserta didik dalam melakukan berbagai kegiatan
sesuai dengan yang peserta didik inginkan.
3) Pendekatan Resep, merupakan cara pengelolaan kelas
dengan memberi peserta didik satu daftar yang dapat
menggambarkan apa yang harus dan tidak boleh
dikerjakan selama pembelajaran.
4) Pendekatan Pengajaran, merupakan cara pengelolaan
kelas dengan membuat perencanaan dan implementasi
yang sangat matang untuk melakukan proses pengajaran
yang baik.
5) Pendekatan Perubahan Tingkah Laku (Behavior
Modification Approach), merupakan cara pengelolaan
kelas dengan mengembangkan dan memfasilitasi
perubahan perilaku yang bersifat positif dari sisiwa dan
berusaha semaksimal mungkin mencegah munculnya atau
memperbaiki perilaku negatif peserta didik.
6) Pendekatan Suasana Emosi dan Hubungan Sosial (Sosio
Emosional Climate Approach), merupakan cara
pengelolaan kelas dengan menciptakan suasana
hubungan interpersonal yang baik dan sehat antara

PENGELOLAAN KELAS 87
pendidik dengan peserta didik dan peserta didik dengan
peserta didik.
7) Pendekatan Proses Kelompok (Group Proses Approach),
merupakan cara pengelolaan kelas dengan seperangkat
kegiatan pendidik untuk menumbuhkan kelas yang efektif.
8) Pendekatan Pluralistik (Electis Approach) merupakan cara
pandangan yang mencakup tiga pendekatan (perubahan
tingkah laku, iklim sosio emosional, dan proses
kelompok.

C. Manajemen Kelas
Manajemen kelas adalah sinonim dengan pengelolaan
kelas. Dilihat dari kata penyusunnya, manajemen kelas terdiri
dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas. Sebelum kita masuk
kepada pengertian tentang manajemen kelas, kita perhatikan
terlebih dahulu apa itu manajemen dan apa itu kelas.
Manajemen dari kata “Management” diterjemahkan dari
pengelolaan, berarti proses penggunaan sumber daya secara
efektif untuk mencapai sasaran. Sedangkan pengelolaan adalah
proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang
terlibat dalam perlaksanaan dan pencapaian tujuan. Maksud
manajemen kelas adalah mengacu kepada penciptaan
suasana atau kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik

PENGELOLAAN KELAS 88
dalam kelas tersebut dapat belajar dengan efektif. Pengertian
manajemen kelas menurut para ahli:
a) Djamarah (2010) berpendapat bahwa manajemen kelas
merupakan upaya untuk memperdayagunakan potensi kelas
yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses
interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran.
b) Munawaroh (2012) berpendapat bahwa sebagai suatu aksi
yang dilakukan pendidik dalam menciptakan dan
memelihara lingkungan belajar agar tetap kondusif bagi
peserta didik dan pendidik untuk mecapai tujuan
instruksional.
Tujuan manajemen kelas juga tertuang pada tujuan
pendidikan secara umum. Menurut Sudirman (2007), tujuan
manajemen kelas adalah memberikan fasilitas untuk berbagai
aktivitas belajar. Sementara Arikunto (2004) mengatakan
bahwa tujuan manajemen kelas adalah agar setiap anak di
kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai
tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Arikunto
menguraikan rincian tujuan manajemen kelas, yaitu:
1) Menciptakan situasi dan kondisi kelas menjadi lingkungan
belajar yang memungkinkan peserta didik untuk belajar
dan berbuat lebih baik.
2) Tidak menghambat terwujudnya interaksi pembelajaran

PENGELOLAAN KELAS 89
3) Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perlengkapan
belajar yang mendukung dan memungkinkan peserta didik
belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan
intelektual peserta didik dalam kelas.
4) Membina dan membimbing peserta didik sesuai dengan
latar belakang sosial, ekonomi, budaya, serta sifat-sifat
individunya.
Kegiatan manajemen kelas (pengelolaan kelas) meliputi
dua kegiatan yang secara garis besar terdiri dari:
a) Pengaturan Peserta didik
Peserta didik adalah orang yang melakukan aktifitas dan
kegiatan di kelas yang ditempatkan sebagai objek, dan karena
perkembangan ilmu pengetahuan dan kesadaran manusia,
maka peserta didik kemudian menduduki fungsi sebagai
subjek. Artinya peserta didik bukan barang tetapi juga
merupakan objek yang memiliki potensi dan pilihan untuk
bergerak. Artinya dalam hal ini fungsi pendidik tetap memiliki
proporsi yang besar untuk dapat membimbing, mengarahkan,
dan memandu setiap aktifitas yang harus dilakukan peserta
didik. Oleh karena itu pengaturan peserta didik adalah
bagaimana mengatur dan menempatkan peserta didik dikelas
sesuai dengan potensi intelektual dan pengembangan
emosionalnya. Peserta didik diberikan kesempatan untuk

PENGELOLAAN KELAS 90
memperoleh posisi dalam belajar yang sesuai dengan
keinginannya.
b) Pengaturan Fasilitas
Kondisi fisik lingkungan kelas dipengaruhi oleh kegiatan
pendidik maupun peserta. Maka dari itu, sarana dan prasarana
yang dibutuhkan harus terpenuhi agar proses interaksi dapat
terjadi, sehingga suasana pembelajaran menjadi lebih
harmonis dan baik dari permulaan masa kegiatan belajar
mengajar sampai akhir masa belajar mengajar. Pengaturan
fasilitas meliputi bermutu, nyaman dan aman, estetika, dan
sehat. Fasilitas yang belum cukup untuk menunjang kegiatan
belajar dapat diatur dengan baik sehingga daya gunanya lebih
tinggi. Pengaturan fasilitas adalah kegiatan yang harus
dilakukan peserta didik sehingga seluruh peserta didik dapat
terfasilitasi dalam aktifitasnya di dalam kelas. Pengaturan fisik
kelas diarahkan untuk meningkatkan efektifitas belajar peserta
didik sehingga peserta didik merasa senang, nyaman, aman
dan belajar dengan baik. Kegiatan-kegiatan yang perlu
dilaksanakan dalam manajemen kelas adalah mengecek
kehadiran peserta didik, mengumpulkan hasil pekerjaaan
peserta didik, pendistribusian bahan dan alat, mengumpulkan
informasi dari peserta didik, mencatat data, pemeliharaan
arsip, menyampaikan materi pembelajaran dan memberikan
tugas/PR.

PENGELOLAAN KELAS 91
Faktor yang Mempengaruhi Manajemen Kelas
Manajemen kelas akan memberikan dampak yang begitu
besar terhadap pencapaian tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan, faktor-faktor kesuksesan penerapan manajemen
kelas dilihat dari kondisi fisik kelas serta pendukungnya.
Namun, terdapat non-fisik yang terdapat pada pendidik. Maka
dari itu, beberapa faktor yang perlu diperhatikan untuk
mewujudkan manajemen kelas yang baik adalah sebagai
berikut:
1. Kondisi fisik
Hasil pembelajaran tentu dipengaruhi oleh faktor
lingkungan fisik peserta didik, lingkungan fisik yang baik
akan meningkatkan intensitas proses pembelajaran dan
memiliki pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan belajar.
Lingkungan fisik yang dimaksudkan meliputi ruangan tempat
berlangsungnya proses belajar mengajar, pengaturan tempat
duduk, ventilasi dan pengaturan cahaya suhu dan pengaturan
penyimpanan barang-barang.
2 Kondisi sosio-emosional
Kondisi sosio emosional dalam kelas akan mempunyai
pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar,
kegairahan peserta didik dan efektifitas tercapainya tujuan
pengajaran. Kondisi sosio emosional meliputi: tipe

PENGELOLAAN KELAS 92
kepemimpinan, sikap pendidik, suara pendidik dan pembinaan
hubungan baik.

Sikap Pendidik dan Pendekatan yang Digunakan dalam


Pengelolaan Kelas
Menurut Djamarah (2006) ada beberapa sikap yang harus
diperhatikan untuk memperkecil masalah yang terjadi dalam
pengelolaan kelas, yaitu:
a) Hangat dan antusias, pendidik yang hangat dan
akrab pada peserta didik akan menunjukkan antusias
pada tugasnya.
b) Menggunakan kata-kata, tindakan, cara kerja dan
bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan
kegairahan peserta didik untuk belajar.
c) Bervariasi dalam penggunaan alat atau media pola
interaksi antara pendidik dan peserta didik.
d) Pendidik luwes untuk mengubah strategi mengajarnya.
e) Pendidik harus menekankan pada hal-hal yang
positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-
hal yang negatif.
f) Pendidik harus disiplin dalam segala hal.

Aspek dalam Manajemen Kelas


Manajemen kelas harus dilakukan oleh pendidik untuk
memberikan dukungan terhadap keberhasilan belajar peserta

PENGELOLAAN KELAS 93
didik. Keberhasilan dalam pembelajaran akan ditentukan oleh
kemampuan pendidik dalam memfasilitasi peserta didik
dengan kegiatan manajerial terhadap kelas, keberhasilan dalam
“me-manage” kelas yang dilakukan pendidik haruslah melihat
aspek dalam kelas. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan
dalam manajemen kelas yang baik adalah meliputi sifat kelas,
pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan efektif dan
kreatif.

Fungsi Manajemen Kelas


Dalam pelaksanaannya, fungsi-fungsi manajemen tersebut
harus disesuaikan dengan dasar filosofis dari pendidikan di
dalam kelas. Fungsi manajerial di dalam kelas meliputi;
merencanakan, mengorganisasi, menentukan sumber daya
dan kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan
organisasi, merancang dan mengembangkan kelompok kerja
yang berisi individu yang mampu membawa organisasi pada
tujuan, menugaskan seseorang dalam suatu tanggung jawab
atau fungsi tertentu, mendelegasikan wewenang kepada
seseorang. Memimpin, mengendalikan, menetapkan standar
kinerja, mengukur kinerja dan mengambil tindakan korektif
saat terdeteksi penyimpangan.

PENGELOLAAN KELAS 94
Masalah dalam Manajemen Kelas
Pengelolaan kelas yang dilakukan oleh pendidik adalah
upaya untuk memberikan pelayanan pembelajaran yang sesuai
dengan setiap potensi peserta didik, sehingga semua peserta
didik dapat belajar dengan baik dan merasa terfasilitasi dari
sisi perkembangan fisik dan psikisnya. Akan tetapi dalam
penyelenggaraan pembelajaran di dalam kelas tidak selalu
berlangsung dengan baik, bahkan sering muncul masalah.
Masalah dapat kita tinjau dari bebagai sisi, sehingga pendidik
dapat menjadi maklum bila perencanaan yang disusun
sedemikian rupa akan tetapi masih muncul masalah dalam
pelaksanaannya. Masalah dapat kita lihat dari sisi sifat
masalah, jenis masalah dan sumber masalah.
1. Sifat masalah yang muncul dikelas
Berdasarkan sifat masalah, dibagi dua yaitu perennial
yang artinya bahwa masalah melekat, masalah akan selalu
ada ketika terjadi proses interaksi. Kemudian naturan effect,
artinya bahwa ketika dalam sebuah kegiatan muncul masalah
dan masalah itu tidak dicarikan penyelesaiannya, maka hal
tersebut akan memicu dampak lain sebagai pengikut dari
permasalahan tersebut yang mungkin akan besar.
2. Jenis masalah yang muncul dikelas
Berbagai masalah dapat muncul di dalam kelas, masalah
biasa berasal dari peserta didik, pendidik, kelas, situasi

PENGELOLAAN KELAS 95
sekolah. Dilihat dari jenisnya masalah dalam kelas yang
memungkinkan terganggunya proses belajar mengajar dapat
dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu masalah yang
muncul secara individu, dan masalah yang muncul karena
kelompok.
a) Masalah individu
Masalah individu adalah segala permasalahan yang
melekat pada perorangan baik karena aktivitasnya sebelum di
kelas yaitu di rumah, di jalan dan di lingkungan sekolah
sehingga muncul dikelas atau permasalahan yang muncul pada
saat proses pembelajaran berlangsung karena interaksinya
dengan peserta didik lain atau pendidik. Masalah individu
muncul bila terjadi stimulus yang tidak di harapkan dari sikap
peserta didik lain atau dari sikap pendidik bahkan bisa datang
dari materi belajar. Stimulus yang berlebihan dari pendidik
terhadap peserta didik akan memicu permasalahan.
b) Masalah kelompok
Masalah kelompok adalah masalah yang muncul karena
kolektivitas peserta didik yang tidak teroganisir sehingga
memunculkan kecemburuan atau ketidak setujuan yang tidak
dikemukakan yang pada akhirnya akan menurunkan semangat
belajar individu. Permasalahan dalam kelompok terjadi karena
kurang awasnya pendidik dalam menentukan kelompok atau

PENGELOLAAN KELAS 96
stimulus yang diberikan pendidik tidak dapat memunculkan
gairah dalam belajar secara keseluruhan.

3. Sumber masalah
Secara garis besar masalah di dalam kelas bisa berasal dari
rumah, dan dari lingkungan masyarakat dimana ia bergaul dan
juga lingkungan sekolah.
a) Lingkungan rumah.
Kondisi emosional peserta didik di kelas banyak akan
dipengaruhi oleh pergaulannya di rumah. Kondisi rumah
tempat dia tinggal, sosial dan ekonomi yang sedang
dijalaninya akan mempengaruhi pola belajar dia di sekolah.
b) Lingkungan masyarakat.
Pada saat tertentu ketika anak bergaul dalam masyarakat
baik dengan teman sebayanya ataupun dengan yang lebih
tua dan lebih muda, hal ini harus diwaspadai oleh pendidik
karena peristiwa-peristiwa yang menyenangkan ataupun tidak
menyenangkan dapat menyebabkan anak tidak dapat belajar
dengan baik di dalam kelas.
c) Lingkungan sekolah.
Dalam lingkungan sekolah anak bergaul dengan berbagai
tingkatan kelas, dengan kakak kelasnya atau dengan orang
yang lebih dewasa seperti pendidik, penjaga sekolah,
petugas tata usaha, kepala sekolah. Pergaulan yang terjadi di

PENGELOLAAN KELAS 97
lingkungan sekolah tersebut akan memberikan warna terhadap
pola perilaku dan sikap dan kemungkinan akan terbawa
sampai dalam kelas.

D. Lingkungan Kondusif
Lingkungan belajar secara umum dapat berupa
lingkungan rumah, sekolah, dan sebagainya. Namun,
pembelajaran yang baik hanya akan terjadi dalam lingkungan
yang kondusif. Yaitu kondisi dimana proses belajar mengajar
terjadi dengan rasa aman dan nyaman. Kondisi ini akan
mengantarkan peserta didik pada hasil belajar yang maksimal.
Hal ini memungkinkan peserta didik untuk dapat memusatkan
perhatian dan pemikirannya kepada materi pelajaran.
Sebaliknya, kondisi lingkungan yang tidak kondusif akan
membuyarkan konsentrasi peserta didik sehingga hasil belajar
akan menjadi tidak optimal. Ada dua faktor penentu terjadinya
suasana lingkungan yang kondusif.
Pertama, suasana dalam kelas. Pendidik menjadi pihak
yang paling bertanggung jawab dalam pengelolaan
pembelajaran di ruang kelas. Strategi dan metode
pembelajaran yang digunakan sangat menentukan kondusif
atau tidaknya suasana belajar. Kemudian bagaimana pendidik
menguasai situasi belajar peserta didik. Pendidik tidak hanya
perlu menguasai materi pelajaran, namun yang lebih penting

PENGELOLAAN KELAS 98
adalah mampu menguasai dinamika kelas yang dihuni oleh
berbagai sifat dan watak peserta didik. Jika pendidik tidak
mampu menguasai dinamika kelas, suasana kelas akan gaduh
dan ribut oleh sikap dan perbuatan peserta didik yang
beraneka ragam.
Kedua, lingkungan di sekitar kelas atau sekolah. Suasana
belajar yang kondusif akan tercipta apabila didukung suasana
yang nyaman dan tentram di sekitar kelas atau sekolah. Lokasi
sekolah yang berada terlalu dekat dengan keramaian, seperti:
pasar, pinggiran jalan raya atau pabrik cenderung mengganggu
konsentrasi peserta didik dalam belajar. Tidak hanya
persoalan bunyi, bau tak sedap pun dapat mengganggu
konsentrasi belajar peserta didik dalam belajar. Misalnya
sekolah yang berada terlalu dekat dengan areal peternakan atau
perkebunan karet, akan membuat suasana belajar menjadi tidak
kondusif.
Jadi, pembelajaran yang baik akan tercipta apabila kondisi
kelas dan sekitarnya kondusif. Kondisi yang kondusif ini akan
dapat tercapai apabila suasana di ruang kelas dan di
lingkungan sekitarnya, mendukung terlaksananya proses
belajar peserta didik.
Permasalahan dalam mewujudkan lingkungan belajar
yang kondusif, masalah pengelolaan kelas yang dapat
menghambat terwujudnya lingkungan belajar yang kondusif

PENGELOLAAN KELAS 99
dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu: masalah
individual dan masalah kelompok.
a) Masalah individu/perorangan
Masalah individu akan muncul karena dalam setiap
individu ada kebutuhan untuk diterima dalam kelompok dan
ingin mencapai harga diri. Sehingga ketika kebutuhan tidak
dapat terpenuhi melalui cara-cara yang wajar maka individu
tersebut akan berusaha mendapatkannya dengan cara-cara
yang tidak baik. Akibat tidak terpenuhinya kebutuhan
tersebut, memungkinkan terjadi beberapa tindakan peserta
didik yang dapat digolongkan menjadi:
1) Attention getting behaviors
Tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian orang
lain, misalnya membadut di dalam kelas (aktif), atau dengan
berbuat serba lamban supaya menjadi perhatian oleh pendidik
(pasif).
2) Power seeking behaviours
Tingkah-Iaku yang ingin mendapat kekuasaan, misalnya
selalu mendebat atau kehilangan kendali emosional, seperti
marah-marah, menangis atau selalu "Iupa" pada aturan penting
di kelas (pasif).
3) Revenge seeking behaviours
Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain
dengan tujuan menuntut balas, misalnya mengata-ngatai,

PENGELOLAAN KELAS 100


memukul, menggigit dan sebagainya (kelompok ini
nampaknya kebanyakan dalam bentuk aktif atau pasif).
4) Passive behaviour (helpness)
Perasaan seseorang atas ketidakmampuan dan sama sekali
menolak untuk mencoba melakukan apapun karena yakin
bahwa hanya kegagalanlah yang menjadi bagiannya.

b) Masalah kelompok
Johnson & Mary (1970) mengemukakan tujuh katagori
masalah kelompok dalam manajemen kelas. Masalah ini
merupakan yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas.
Masalah kelompok akan muncul apabila tidak terpenuhinya
kebutuhan-kebutuhan kelompok, kelas frustasi atau lemas dan
akhirnya peserta didik menjadi anggota kelompok bersifat
pasif, acuh, tidak puas dan belajarnya terganggu. Apabila
kebutuhan kelompok ini terpenuhi, anggotanya akan aktif,
puas, bergairah dan belajar dengan baik.
Masalah-masalah kelompok yang dimaksud adalah:
a) Kelas kurang kohesif lantaran alasan jenis kelamin,
suku, tingkatan sosial ekonomi, dan sebagainya.
b) Penyimpangan dari norma-norma tingkah laku yang
telah disepakati sebelumnya.
c) Kelas bereaksi negatif terhadap salah seorang
anggotanya.

PENGELOLAAN KELAS 101


d) Membimbing anggota kelas yang justru melanggar
norma kelompok.
e) Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya
dari yang tengah digarap.
f) Semangat kerja rendah, kelas kurang mampu
menyesuaikan diri dengan keadaan baru seperti
gangguan jadwal pendidik terpaksa diganti
sementara oleh pendidik lain.

Upaya Menciptakan Lingkungan Belajar yang Kondusif


Secara Preventif dan Kuratif
Upaya untuk menciptakan dan mempertahankan suasana
yang diliputi oleh motivasi peserta didik yang tinggi, dapat
dilakukan secara preventif maupun kuratif. Perbedaan kedua
jenis pengelolaan kelas tersebut, akan berpengaruh terhadap
perbedaan langkah-langkah yang dilakukan oleh seorang
pendidik dalam menerapkan kedua jenis manajemen kelas
tersebut. Dikatakan secara preventif apabila upaya yang
dilakukan atas dasar inisiatif pendidik untuk menciptakan
suatu kondisi dari kondisi interaksi biasa menjadi interaksi
pendidikan dengan jalan menciptakan kondisi baru yang
menguntungkan bagi proses belajar mengajar. Sedangkan
yang dimaksud dengan manajemen kelas secara kuratif adalah
yang dilaksanakan karena terjadi penyimpangan pada tingkah

PENGELOLAAN KELAS 102


laku peserta didik, sehingga mengganggu jalannya proses
belajar mengajar. Upaya untuk menciptakan dan
mempertahankan suasana yang diliputi oleh motivasi peserta
didik yang tinggi dapat dilakukan secara preventif maupun
secara kuratif. Sehingga pengelolaan kelas, apabila ditinjau
dari sifatnya, dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Pengelolaan kelas yang bersifat preventif (pencegahan)
Upaya yang dilakukan atas dasar inisiatif pendidik untuk
menciptakan kondisi pendidikan yang menguntungkan bagi
proses belajar mengajar. Pengelolaan kelas yang preventif
ini dapat berupa tindakan, contoh atau pemberian informasi
yang dapat diberikan kepada peserta didik sehingga akan
berkembang motivasi yang tinggi, atau motivasi yang sudah
baik itu tidak dinodai oleh tindakan peserta didik yang
menyimpang sehingga mengganggu proses belajar mengajar di
kelas.
2. Pengelolaan kelas yang bersifat kuratif (penyembuhan)
Pengelolaan kelas yang dilaksanakan karena terjadi
penyimpangan pada tingkah laku peserta didik sehingga
mengganggu jalannya proses belajar mengajar. Dalam hal
ini kegiatan pengelolaan kelas akan berusaha menghentikan
tingkah laku yang menyimpang tersebut dan kemudian
mengarahkan terciptanya tingkah laku peserta didik yang

PENGELOLAAN KELAS 103


mendukung terselenggaranya proses belajar mengajar dengan
baik.

Soal-soal Latihan
1. Apa pengertian dari pengelolaan kelas?
2. Apa tujuan dari pengelolaan kelas?
3. Sebutkan dan jelaskan pendekatan dalam pengelolaan
kelas!
4. Apa pengertian dari manejemen kelas?
5. Apa tujuan dari manejemen kelas?
6. Jelaskan bagaimana kegiatan manejemen kelas!
7. Factor apa saja yang menjadi pengaruh manejemen kelas?
8. Apa fungsi dari manejemen kelas?
9. Apa saja masalah dalam manejemen kelas?
10. Apa faktor yang menjadi penentu terjadinya suasana
lingkungan yang kondusif? Jelaskan!
11. Apa yang menjadi penghambat terwujudnya lingkungan
belajar yang kondusif? Jelaskan!
12. Bagaimana upaya untuk menciptakan lingkungan belajar
yang kondusif secara preventif dan kuratif? Jelaskan !
13. Jelaskan perbedaan pengelolaan kelas yang bersifat
preventif dan bersifat kuratif!

PENGELOLAAN KELAS 104


BAB VI
PEMBELAJARAN BERBASIS
MASALAH

“Jika Anda Menginginkan Pekerja yang kreatif,


Beri Mereka Cukup Waktu Untuk Bermain”

John Cleese

A. Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah


Pembelajaran berbasis masalah (PBM) atau “problem-
based learning (PBL)” merupakan model pembelajaran dengan
menyajikan masalah-masalah yang praktis melalui stimulus
pada kegiatan belajar mengajar. PBL merupakan salah satu
model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi
belajar aktif kepada peserta didik. PBL menjadi suatu
pendekatan dalam belajar dimana peserta didik menyelesaikan
permasalahan-permasalahan autentik dengan tujuan untuk
mengorganisasikan pengetahuan peserta didik mengembangkan
keterampilan berfikir, mengembangkan kemandirian belajar
serta rasa percaya diri (Trianto, 2009). PBL menjadi salah satu
model pembelajaran inovatif yang menyajikan suasana belajar
aktif dengan melibatkan peserta didik untuk memecahkan suatu
masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga peserta

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 105


didik dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan
dengan masalah tersebut.
Muhson (2009) problem based learning merupakan
pembelajaran yang mengaplikasikan konsep-konsep yang
diterimanya dalam lingkungan sehingga pembelajaran tidak
dijejali dengan konsep-konsep yang abstrak. PBL
menghadapkan peserta didik pada masalah nyata, peserta didik
disajikan permasalahan yang dapat diselesaikan dengan
berbagai sudut pandang dengan mengaplikasikan informasi
yang dimiliki. Selanjutnya Ismaimuza (2010) mengungkapkan
bahwa masalah dalam PBM adalah masalah yang tidak
terstruktur atau konstekstual dan menarik (contextual and
engaging) sehingga merangsang peserta didik untuk bertanya
dari berbagai perpektif.

Karakteristik Problem-Based Learning


PBL memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
a) Pembelajaran mengedepankan pertanyaan atau masalah
PBL tidak hanya mengorganisasikan prinsip-prinsip dan
keterampilan akademik tertentu tetapi mengorganisasikan
pengajaran disekitar pertanyaan dan masalah yang kedua-
duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna
untuk peserta didik. Mereka mengajukan situasi kehidupan

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 106


nyata yang autentik, menghindari jawaban sederhana dan
menemukan berbagai macam solusi untuk situasi seperti itu.
b) Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
Meskipun PBL hanya berpusat pada mata pelajaran
tertentu, tetapi dalam pemecahannya, peserta didik dapat
meninjaunya dari berbagai mata pelajaran yang berkaitan.
c) Penyelidikan autentik
PBL mewajibkan peserta didik melakukan investigasi
autentik untuk mencari penyelesaian dari masalah yang
diberikan. Peserta didik dituntut untuk menganalisis dan
mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis dan
membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi,
melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat interfensi
dan merumuskan kesimpulan.
d) Menghasilkan produk/ karya dan mendemonstrasikannya
PBL melatih peserta didik untuk mampu menghasilkan
produk-produk tertentu dalam bentuk karya nyata dan peragaan
yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelasaian masalah
yang mereka temukan.
Berdasarkan uraian di atas, tiga ciri utama dari
pembelajaran berbasis masalah.
Pertama, PBL merupakan rangkaian aktifitas
pembelajaran, artinya dalam implementasinya ada sejumlah
kegiatan yang harus dilakukan peserta didik. PBL tidak

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 107


mengharapkan peserta didik hanya sekedar mendengarkan,
mencatat kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi
peserta didik aktif berfikir, berkomunikasi, mencari dan
mengolah data dan akhirnya menyimpulkan.
Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk
menyelesaikan masalah. PBL menempatkan masalah sebagai
kata kunci proses pembelajaran.
Ketiga, pemecahan masalah dilakukan dengan
menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir
dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berikir
deduktif dan induktif.

Sintaks (Langkah-Langkah) Pembelajaran Berbasis Masalah


Langkah-langkah pemecahan masalah dalam pembelajaran
PBL paling sedikit ada delapan tahapan, yaitu:
a. mengidentifikasi masalah,
b. mengumpulkan data,
c. menganalisis data,
d. memecahkan masalah berdasarkan pada data yang ada dan
analisisnya,
e. memilih cara untuk memecahkan masalah,
f. merencanakan penerapan pemecahan masalah,
g. melakukan ujicoba terhadap rencana yang ditetapkan, dan
h. melakukan tindakan (action) untuk memecahkan masalah.

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 108


Empat tahap yang pertama mutlak diperlukan untuk
berbagai kategori tingkat berfikir, sedangkan empat tahap
berikutnya harus dicapai bila pembelajaran dimaksudkan untuk
mencapai keterampilan berfikir tingkat tinggi.

Sintaks Pembelajaran berbasis masalah (Reta:2012)


Tahap Tingkah laku pendidik
Tahap-1 Pendidik menjelaskan tujuan
Orientasi peserta didik pembelajaran, menjelaskan
pada masalah logistic yang dibutuhkan,
mengajukan fenomena atau
demonstrasi atau cerita untuk
memunculkan masalah,
memotivasi peserta didik untuk
terlibat dalam pemencahan
masalah yang dipilih.
Tahap-2 Pendidik membantu peserta
Mengorganisasi peserta didik untuk mendefinisikan dan
didik untuk belajar mengorganisasikan tugas belajar
yang berhubungan dengan
masalah tersebut.
Tahap-3 Pendidik mendorong peserta
Membimbing didik untuk mengumpulkan

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 109


penyelidikan informasi yang sesuai,
individual melaksanakan eksperimen,
maupun kelompok. untuk mendapatkan penjelasan
dan pemecahan masalah.
Tahap-4 Pendidik membantu peserta
Mengembangkan didik dalam merencanakan dan
dan menyajikan menyiapkan karya yang sesuai
hasil karya. seperti laporan, video, dan
model serta membantu mereka
untuk berbagi tugas dengan
temannya.
Tahap-5 Pendidik membantu peserta
Menganalisis didik untuk melakukan refleksi
dan mengevaluasi atau evaluasi terhadap
proses penyelidikan mereka dan
pemecahan masalah. proses-proses yang mereka
gunakan.

Fase 1: Mengorientasikan peserta didik pada masalah


PBL merupakan pembelajaran yang dimulai dengan
memaparkan tujuan pembelajaran dan kegiatan yang akan
dilakukan, hal ini merupakan tahapan yang penting karena
pendidik menjelaskan secara rinci apa yang akan dilakukan dan
bagaimana cara pendidik mengevaluasi peserta didik secara

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 110


rinci. Tujuannya adalah untuk memberikan motivasi kepada
peserta didik agar dapat mengerti apa yang akan dilakukan.
Ada empat aspek penting tahapan ini, yaitu:
a) pembelajaran PBL lebih mengutamakan kepada
penyelidikan masalah-masalah dan bagaimana peserta
didik menyelesaikan permasalah tersebut, bukan kepada
transfer informasi baru kepada peserta didik.
b) Permasalahan yang disajikan kepada peserta didik berupa
permasalahan yang rumit dan kompleks, serta memiliki
banyak cara dalam penyelesaiannya.
c) Peserta didik terus didorong untuk memberikan
pertanyaan-pertanyaan selama mencari informasi melalui
eksperimen. Pendidik berperan sebagai pembimbing yang
mengarah kegiatan pembelajaran, namun peserta didik
harus berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan
temannya.
d) Semua peserta didik diberi kesempatan yang sama dalam
mengemukakan ide dan pendapatnya secara terbuka dan
penuh kebebasan.

Fase 2: Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar


PBL melatih peserta didik dalam bekerja sama atau
berkolaborasi untuk memecahkan suatu permasalahan, maka
dari itu, pendidik mengarahkan peserta didik untuk membentuk

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 111


kelompok-kelompok belajar dan masing-masing kelompok
memecahkan permasalahan yang berbeda-beda, seperti halnya
prinsip pembelajaran kooperatif, yaitu: a) kelompok bersifat
heterogen, b) kerjasama antar anggota kelompok, c)
komunikasi, dan d) tutor sebaya. Pendidik memonitor serta
menilai kinerja masing-masing kelompok selama proses
pembelajaran.
PBL mengutamakan pada masalah dan kerjasama dalam
kelompok. Selanjutnya, pendidik dan peserta didik menetapak
pembahasan-pembahasan yang spesifik, apa saja yang
dilakukan selama proses eksperimen, dan susunan kegiatan
(jadwal). Tugas pendidik dalam menerapkan PBL adalah
mengaktifkan seluruh peserta didik agar terlibat dalam
kegiatan-kegiatan penyelidikan dan hasilnya penyelesaian
permasalahan tersebut.
Fase 3: Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
Penyelidikan adalah inti dari PBL. Meskipun setiap situasi
permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda,
namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik,
yakni pengumpulan data dan eksperimen, berhipotesis dan
penjelasan, dan memberikan pemecahan. Pengumpulan data
dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting.
Pada tahap ini, pendidik harus mendorong peserta didik untuk
mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 112


maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi
situasi permasalahan. Tujuannya adalah agar peserta didik
mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan
membangun ide mereka sendiri. Pendidik membantu peserta
didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya
dari berbagai sumber, dan ia seharusnya mengajukan
pertanyaan pada peserta didik untuk berifikir tentang masalah
dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada
pemecahan masalah yang dapat dipertahankan.
Setelah peserta didik mengumpulkan cukup data dan
memberikan permasalahan tentang fenomena yang mereka
selidiki, selanjutnya mereka mulai menawarkan penjelasan
dalam bentuk hipotesis, penjelesan, dan pemecahan. Selama
pengajaran pada fase ini, pendidik mendorong peserta didik
untuk menyampaikan semua ide-idenya dan menerima secara
penuh ide tersebut. Pendidik juga harus mengajukan
pertanyaan yang membuat peserta didik berfikir tentang
kelayakan hipotesis dan solusi yang mereka buat serta tentang
kualitas informasi yang dikumpulkan.

Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan hasil karya dan


Mendemonstrasikannya
Tahapan ini merupakan tahap penyajian hasil karya yang
didapat melalui tahap eksperimen. Hasil karya bukan hanya

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 113


berupa laporan ekperimen, namun juga video tape
(menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan),
model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan
pemecahannya), program komputer, dan sajian multimedia.
Tentunya kecanggihan karya sangat dipengaruhi tingkat
berfikir peserta didik. Langkah selanjutnya adalah peserta didik
mempresentasikan hasil karyanya dan pendidik berperan
sebagai organisator. Dalam presentasi ini melibatkan peserta
didik lainnya, pendidik, orang tua, dan lainnya yang dapat
menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik.

Fase 5: Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah


Fase ini merupakan tahap akhir dalam PBL. Fase ini
dimaksudkan untuk membantu peserta didik menganalisis dan
mengevaluasi proses penemuan masalah mereka sendiri dan
keterampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka
gunakan. Selama fase ini pendidik meminta peserta didik untuk
merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan
selama proses kegiatan belajarnya.
Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Masalah
a. Tugas-tugas Perencanaan
Karena hakikat interaktifnya, model pembelajaran berbasis
masalah membutuhkan banyak perencanaan seperti halnya
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik lainnya.

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 114


b. Penetapan Tujuan
Model PBL dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan
seperti keterampilan menyelidiki, memahami peran orang
dewasa, dan membantu peserta didik menjadi pembelajar yang
mandiri. Dalam pelaksanaannya PBL bisa diarahkan untuk
mencapai tujuan-tujuan tersebut.
c. Merancang Situasi Masalah
Beberapa pendidik dalam menerapkan PBL lebih suka
memberi kesempatan dan keleluasaan kepada peserta didik
untuk memilih masalah yang akan diselidiki. Situasi masalah
yang baik seharusnya autentik, mengandung teka-teki, dan
tidak didefinisikan secara ketat, memungkinkan kerjasama,
bermakna bagi peserta didik, dan konsisten dengan tujuan
kurikulum.
d. Organisasi Sumber Daya dan Rencana Logistik
Dalam pengajaran berdasarkan masalah peserta didik
dimungkinkan bekerja dengan beragam material dan peralatan,
dan dalam pelaksanaanya biasa dilakukan di dalam kelas,
diperpustakaan, atau dilaboratorium, atau diluar sekolah.
e. Tugas Interaktif
Pendidik membantu peserta didik dalam pengumpulan
informasi dari berbagai sumber, peserta didik diberi pertanyaan
yang membuat mereka berpikir tentang suatu masalah dan jenis
informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 115


tersebut. Pendidik mendorong pertukaran ide gagasan secara
bebas dan penerimaan sepenuhnya gagasan-gagasan tersebut
merupakan hal yang sangat penting dalam tahap penyelidikan
dalam rangka pembelajaran berdasarkan masalah. Puncak
proyek-proyek PBL adalah penciptaan dan peragaan artifak
seperti laporan, poster, model-model fisik, dan video tape.
f. Analisis dan Evaluasi Proses Pemecahan Masalah
Tugas pendidik pada tahap akhir pengajaran berdasarkan
pemecahan masalah adalah membantu peserta didik
menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri,
dan ketrampilan penyelidikan yang mereka gunakan.
g. Lingkungan Belajar dan Tugas-Tugas Manajemen
Salah satu masalah yang cukup rumit bagi pendidik dalam
pengelolaan pembelajaran yang menggunakan model PBL
adalah bagaimana menangani peserta didik baik individual
maupun kelompok, yang dapat menyelesaikan tugas lebih awal
maupun yang terlambat sebab kecepatan penyelesaian tugas
tiap individu maupun kelompok berbeda-beda. Model PBL
melatih peserta didik agar mampu menyelesaikan tugas yang
lebih dari satu dan waktu penyelesaiannya berbeda-beda, hal
ini mengakibatkan perlu pengevaluasian kerja peserta didik.
h. Assesmen dan Evaluasi
Dalam model PBL fokus perhatian pembelajaran tidak
pada perolehan pengetahuan, oleh karena itu tugas penilaian

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 116


tidak cukup bila penilaiannya hanya dengan tes tertulis atau tes
kertas dan pensil. Tugas assesmen dan evaluasi yang sesuai
untuk model PBL terutama terdiri dari menemukan prosedur
penilaian alternatif yang akan digunakan untuk mengukur
pekerjaan peserta didik, misalnya dengan assesmen kinerja dan
peragaan hasil. Assesmen kinerja dapat berupa assesmen
pengamatan, assesmen merumuskan pertanyaan, assesmen
merumuskan sebuah hipotesa.

Manfaat Pembelajaran Berbasis Masalah


1. PBL menjadikan suasana pembelajaran lebih bermakna.
Peserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah
maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang
dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang
diperlukan. Artinya belajar tersebut ada pada konteks
aplikasi konsep. Belajar dapat semakin bermakna dan
dapat diperluas ketika peserta didik berhadapan dengan
situasi di mana konsep diterapkan.
2. PBL menjadikan peserta didik mengintegrasikan
pengetahuan dan keterampilannya secara simultan dan
mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan. Artinya,
apa yang mereka lakukan sesuai dengan keadaan nyata
bukan lagi teoritis. Sehingga, masalah-masalah dalam

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 117


aplikasi suatu konsep atau teori mereka akan temukan
sekaligus selama pembelajaran berlangsung.
3. PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis,
menumbuhkan inisiatif peserta didik dalam bekerja,
motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan
hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.

B. Faktor-Faktor Interaksi Belajar Mengajar Matematika


Proses belajar mengajar pada umumnya merupakan
serangkaian aktivitas komunikasi antara peserta didik dan
pendidik, namun interaksi antara pendidik dan peserta didik
dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu:
1) Faktor tujuan
Interaksi adalah kegiatan yang sadar akan tujuan. Tujuan
adalah sesuatu yang diharapkan setelah kegiatan belajar
mengajar selesai. Karena setiap pendidik yang akan
mengajarkan satu unit bahan pelajaran, harus terlebih dahulu
merumuskan tujuan instruksional dari materi yang akan
diajarkan itu. Tujuan instruksional itu sebagai pedoman dan
pengarahan bagi jalannya proses mengajar, sehingga
menimbulkan interaksi belajar mengajar yang efektif. Tujuan
instruksional ini yang pertama kali harus dirumuskan. Sebab
tanpa adanya tujuan yang jelas, proses interaksi tidak akan
berjalan secara optimal, proses interaksi ini bertujuan untuk

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 118


menetapkan isi dari interaksi tersebut serta berfungsi untuk
menetapkan arah tujuan pembelajaran.
2) Faktor bahan/ materi
Setelah tujuan dirumuskan, harus diikuti langkah
pemilihan bahan pelajaran yang sesuai dengan kondisi
tingkatan peserta didik yang akan menerima pelajaran.
Pendidik harus menguasai materi pelajaran yang akan
diberikan kepada peserta didik. Penguasaan bahan oleh
pendidik seyogyanya mengarah kepada spesifik atas ilmu atau
kecakapan yang diajarkan. Mengingat isi, sifat dan luasnya
ilmu maka pendidik harus mampu menguraikan ilmu atau
kecakapan atau apa-apa yang diajarkannya ke dalam ilmu atau
kecakapan yang bersangkutan.
3) Faktor pendidik dan peserta didik
Pendidik sebagai pihak yang berinisiatif untuk
penyelenggaraan pengajaran, sedang peserta didik sebagai
pihak yang secara langsung mangalami dan mendapatkan
kemanfaatan dari peristiwa pengajaran yang terjadi. Pendidik
sebagai pengarah dan pembimbing berdasarkan tujuan yang
telah ditentukan, sedang peserta didik adalah sebagai yang
sedang menuju pada arah tujuan melalui aktifitas dan
berinteraksi langsung dengan ligkungan sebagai sumber belajar
atas bimbingan pendidik. Jadi kedua pihak (pendidik dan
peserta didik) sebagai dua subjek pengajaran sama-sama

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 119


menempati status yang penting. Disamping itu faktor pendidik
dan peserta didik merupakan unsur yang sangat berperan dalam
pencapaian hasil belajar yang optimal. Salah satunya dengan
adanya contact hours atau jam-jam bertemu antara pendidik
dan peserta didik. Dalam saat itu dapat dikembangkan
komunikasi dua arah, pendidik dapat menanyai dan
mengungkapkan keadaan peserta didik dan sebaliknya peserta
didik mengajukan berbagai persoalan dan hambatan yang
sedang dihadapi. Terjadilah suatu proses interaksi dan
komunikasi yang humanistik. Hal ini jelas akan sangat
membantu keberhasilan studi para peserta didik. Berhasil
dalam artian tidak sekedar tahu dan medapat nilai ujian yang
baik, tetapi akan menyentuh soal sikap mental dan tingkah
laku.
4) Faktor metode
Metode merupakan alat yang harus dipilih dan
dipergunakan pendidik dalam menyampaikan bahan pelajaran
(materi). Metode adalah suatu cara kerja yang sistematis dan
umumnya berfungsi sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan.
semakin baik suatu metode, maka semakin efektif pula dalam
pencapaiannya. Tetapi tidak ada satu metodepun yang
dikatakan paling baik dipergunakan bagi semua macam usaha
pencapaian tujuan, tepat tidaknya suatu metode dipengaruhi

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 120


oleh berbagai faktor. Faktor utama yang menentukan
berhasilnya metode adalah tujuan yang akan dicapai.
5) Faktor situasi
Situasi adalah suasana belajar atau suasana pengajaran,
termasuk dalam pengertian ini adalah suasana yang berkaitan
dengan keadaan peserta didik seperti semangat belajar, juga
keadaan cuaca, keadaan pendidik, keadaan kelas pengajaran
yang berdekatan yang mungkin mengganggu atau terganggu
karena penggunaan suatu metode.

C. Teknik Keterampilan Dasar Mengajar Matematika


Keterampilan dasar dalam mengajar merupakan
kemampuan yang harus dimiliki oleh Seorang pendidik
profesional. Keterampilan dasar seorang pendidik dibagi atas
delapan keterampilan dasar yang diterapkan selama proses
pembelajaran, yaitu: 1) keterampilan bertanya, 2) keterampilan
memberikan penguatan, 3) keterampilan mengadakan variasi,
4) keterampilan menjelaskan, dan 5) keterampilan membuka
dan menutup pelajaran. Berikut adalah penjelesan dari masing-
masing keterampilan tersebut:
1) Keterampilan Bertanya
Bertanya merupakan ungkapan secara verbal yang
ditujukan untuk meminta respon yang dapat berupa
pengetahuan, pertimbangan dan lain-lain. Maka dari itu,

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 121


bertanya menjadi stimulus yang dapat merangsang kemampuan
berpikir peserta didik. Teknik bertanya yang dirancang dan
sistematis akan memberikan dampak positif dalam proses
pembelajaran. Pertanyaan yang berkualitas dibagi kedalam dua
jenis pertanyaan, yaitu pertanyaan menurut Taksonomi Bloom
dan pertanyaan menurut tujuannya. Pertanyaan menurut
Taksonomi Bloom adalah pertanyaan pengetahuan (recall
question atau knowlagde question), pemahaman
(conprehention question), pertanyaan penerapan (application
question), pertanyaan sintetis (synthesis question) dan
pertanyaan evaluasi (evaluation question) sementara
pertanyaan menurut tujuannya adalah pertanyaan permintaan
(compliance question), pertanyaan retoris (rhetorical question),
pertanyaan mengarahkan atau menuntun (prompting question)
dan pertanyaan menggali (probing question).

2) Keterampilan Memberikan Penguatan


Penguatan atau yang dikenal dengan sebutan
reinforcement merupakan bentuk respon yang bersifat verbal
maupun non-verbal bertujuan sebagai transfer informasi atau
umpan balik bagi penerima atas perilaku atau tingkah laku
sebagai suatu dorongan atau koreksi. Penguatan
memungkinkan berulangnya kembali perilaku seseorang.
Penerapan penguatan dalam proses belajar berdampak positif

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 122


dalam meningkatkan perhatian, motivasi, aktivitas belajar
peserta didik dan membentuk peserta didik yang memiliki ide-
ide produktif. Untuk itu, perlu penguatan verbal seperti pujian
atau apresiasi terhadap hasil kerja peserta didik dan penguatan
non-verbal dengan memberikan perhatian lebih kepada peseta
didik agar mereka merasa diperhatikan.
Keterampilan memberikan penguatan terdiri dari beberapa
komponen yang perlu dipahami dan dikuasai penggunaannya
oleh peserta didik agar dapat memberikan penguatan secara
bijaksana dan sistematis. Penerapan penguatan secara efektif
harus memperhatikan tiga aspek, yaitu kehangatan dan
efektifitas, kebermaknaan, dan menghindari penggunaan
respon yang negatif.

3) Keterampilan Mengadakan Variasi


Keterampilan mengadakan variasi merupakan cara
pendidik dalam meningkatkan interaksi belajar agar terjalin
suasana belajar yang aktif dan tidak membosankan bagi peserta
didik. Interaksi dalam proses belajar mengajar penting
dilakukan agar peserta didik senantiasa menunjukkan
ketekunan, serta penuh partisipasi. Variasi dilakukan untuk
memodifikasi aktivitas pengajaran.
Variasi dalam hal mengajar dapat berupa: penggunaan
variasi suara (teacher voice), pemusatan perhatian peserta didik

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 123


(focusing), kesenyapan atau kebisuan pendidik (teacher
silence), mengadakan kontak pandang dan gerak (eye contact
and movement), gerakan badan mimik, variasi dalam ekspresi
wajah pendidik, dan pergantian posisi pendidik dalam kelas
dan gerak pendidik (teachers movement).
Variasi dalam penggunaan media dan alat pengajaran
digolongkan ke dalam tiga bagian, yakni dapat didengar,
dilihat, dan diraba. Adapun variasi penggunaan media dan alat
pengajaran antara lain adalah sebagai berikut: variasi alat atau
bahan yang dapat dilihat (visual aids), variasi alat atau bahan
yang dapat didengar (auditif aids), variasi alat atau bahan yang
dapat diraba (motorik), dan variasi alat atau bahan yang dapat
didengar, dilihat dan diraba (audio visual aids).

4) Keterampilan Menjelaskan
Keterampilan menjelaskan merupakan kemampuan dalam
menyajikan informasi yang disusun secara sistematis dan
berkaitan antara satu dengan lainnya. Komponen dalam
keterampilan menjelaskan terbagi menjadi dua, yaitu: 1)
merencanakan, mencakup penganalisaan masalah secara
keseluruhan, penentuan jenis hubungan yang ada diantara
unsur-unsur yang dikaitkan dengan penggunaan hukum, rumus,
atau generalisasi yang sesuai dengan hubungan yang telah
ditentukan dan penyajian suatu penjelasan, dengan

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 124


memperhatikan hal-hal sebagai berikut: kejelasan, penggunaan
contoh dan ilustrasi, pemberian tekanan, dan penggunaan
balikan.

5) Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran


Membuka pelajaran merupakan kegiatan pendidik dalam
menciptakan suasana prakondisi bagi peserta didik agar mental
maupun perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajarinya
sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif
terhadap kegiatan belajar. Sedangkan menutup pelajaran ialah
kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengakhiri
pelajaran atau kegiatan belajar mengajar. Keterampilan ini
termasuk sebagai usaha dalam menarik perhatian, motivasi,
memberi acuan melalui berbagai usaha, dan membuat kaitan
atau hubungan di antara materi-materi yang akan dipelajari.

Soal-soal Latihan
1. Apa pengertian dari pembelajaran berbasis masalah?
2. Apa saja karakteristik pembelajaran berbasis masalah?
Sebutkan dan jelaskan!
3. Sebutkan dan jelaskan ciri utama dari pembelajaran
berbasis masalah!
4. Bagaimana langkah-langkah pembelajaran berbasis
masalah? Jelaskan!

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 125


5. Susunlah rencana pelaksanaan pembelajaran berbasis
masalah!
6. Sebutkan dan jelaskan manfaat pembelajaran berbasis
masalah!
7. Jelaskan faktor-faktor interaksi belajar mengajar
matematika!
8. Jelaskan teknik keterampilan dasar mengajar matematika!
9. Apa tujuan dari pembelajaran berbasis masalah?
10. Buatlah minimal 3 contoh soal sesuai dengan pembelajaran
berbasis masalah!

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH 126


BAB VII
REALISTIC MATHEMATICS
EDUCATION

“Berikan Seorang Pria Semangkuk Nasi dan Anda


Memberinya Makanan Untuk Sehari, Ajarkan
Seorang Pria Memelihara Padi dan Anda
Memberinya Makanan Seumur Hidup”

Confusius

Pendekatan Realistic Mathematics Education pertama kali


diperkenalkan di Belanda oleh Freudenthal, pendekatan ini
diterapkan untuk mengembangkan aktivitas peserta didik
dalam belajar matematika. Peserta didik diajarkan untuk
mampu mencari solusi dari setiap permasalahan,
mengorganisasikan materi yang dapat digunakan sebagai bahan
dalam memecahkan permasalahan. Mengorganisasikan ide
baru dan konsep-konsep baru sesuai konteks, aktivitas-aktivitas
ini disebut matematizing.
Haji & Abdullah (2016) mengatakan pembelajaran
matematika realistik sebagai suatu pola yang sistematis dalam
merancang pembelajaran matematika yang efektif untuk
mencapai tujuan pembelajaran matematika dengan bertumpu
pada kreativitas peserta didik dalam melakukan doing

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


127
mathematics yang memandang matematika sebagai suatu
aktivitas manusia melalui kegiatan memecahkan masalah
kontekstual, merumuskan model, mengkaitkan berbagai topik,
berinteraksi dengan berbagai sumber, memanfaatkan berbagai
potensi sendiri, berdiskusi, melakukan refleksi, memanfaatkan
fenomena pendidikan, mengeksplor, dan akhirnya menemukan
(invention) berbagai konsep (prinsip) dan algoritma
matematika.
Selanjutnya Graciella & Suwangsih (2016) dalam
pendekatan matematika realistik bertolak dari masalah-masalah
kontekstual, peserta didik berperan aktif dalam pembelajaran,
pendidik berperan sebagai fasilitator, peserta didik bebas
mengeluarkan idenya, peserta didik berbagi ide-idenya, peserta
didik dengan bebas mengkomunikasikan ide-idenya.
Matematika realistik merupakan pendekatan yang
mendorong interaksi peserta didik dalam menemukan solusi
dari suatu permasalahan matematika yang dirujuk dari masalah
kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, hal ini sesuai dengan apa
yang dikatakan oleh Van den Heuvel-Panhuizen (dalam
Saefudin, 2012) bahwa matematika adalah aktifitas manusia
dan dihubungkan dengan realitas kehidupan nyata yang disebut
special.
Salah satu prinsip dalam pendekatan realistic mathematics
education adalah progressive matematization yaitu proses

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


128
mengarahkan pemikiran peserta didik kearah pemikiran
matematika, dari pemikiran yang kontekstual kepemikiran
formal. Sehingga peserta didik aktif dalam bermatematika
(Soedjadi, 2014). Proses matematisasi membuat peran pendidik
dari penyampai informasi menjadi moderator atau fasilitator
selama proses pembelajaran, proses pembelajaran lebih penting
dari pada produk. Dalam situasi bermatematisasi peran
pendidik matematika berganti dari seorang penyampai
informasi/ilmu menjadi seorang fasilitator atau seorang
moderator.
Prinsip lain dalam realistic mathematics education adalah
guided reinvention yaitu proses pembelajaran yang mendorong
peserta didik menemukan metode khusus dalam pemecahan
masalah, konsep-konsep penyelesaian masalah ditemukan oleh
peserta didik secara mandiri. Soal kontekstual menjadi awal
pembuka pembelajaran agar reinvention dapat terjadi dan
menjadi jembatan yang menghubungkan antara pengetahuan
informal menjadi pengetahuan formal. Melalui permasalahan
kontekstual peserta didik menemukan konsep-konsep
matematika yang relevan sekaligus memahami penerapan
konsep tersebut dalam dunia nyata. Kondisi ini memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk mengkontruksi
pengetahuannya sendiri, serta memberi kesempatan kepada

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


129
peserta didik belajar berfikir mencari alternatif dalam
penyelesaian masalah.
Pandangan belajar konstruktivisme bahwa membentuk
pengetahuan peserta didik oleh mereka sendiri menjadi
pembentukan pengetahuan yang lebih baik dari pada
pengetahuan yang diberikan dalam bentuk yang sudah jadi oleh
pendidik. Maka dari itu, melalui realistic mathematics
education peserta didik akan belajar secara bermakna
(meaningfull learning), sehingga peserta didik akan lebih
memahami apa yang mereka pelajari dan bukan merupakan
pengetahuan semata. Untuk pendidik, realistic mathematics
education memberikan kesempatan berkembangnya kreatifitas
dalam mengembangkan dan menyusun masalah kontekstual.
Menurut Hobri (2009) realistic mathematics education
mempunyai langkah-langkah aktivitas yang meliputi: 1)
memahami masalah kontekstual, 2) menjelaskan masalah
kontekstual, 3) menyelesaikan masalah kontekstual, 4)
mendiskusikan jawaban, dan 5) menyimpulkan.
Terdapat dua alasan mendasar mengapa realistic
mathematics education merupakan suatu proses yang sangat
penting dalam matematisasi. Pertama, matematisasi bukan
hanya merupakan aktifitas ahli matematika saja, melainkan
juga aktifitas peserta didik dalam memahami situasi sehari-
hari. Kedua, matematisasi berkaitan erat dengan penemuan

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


130
kembali (reinvention) ide atau gagasan dalam suatu konsep
matematika melalui suatu proses yang mungkin serupa dengan
cara yang telah dilakukan oleh para ahli matematika atau
pendidikan matematika pada saat menemukan konsep tertentu
dalam matematika.
Pendekatan realistic mathematics education melatih
peserta didik memecahkan masalah secara informal
(mengunakan bahasa mereka sendiri), tetapi setelah beberapa
waktu, setelah peserta didik familiar dengan proses-proses
pemecahan masalah yang serupa (melalui simplikasi dan
formalisasi), mereka akan menggunakan bahasa yang lebih
formal, dan diakhir proses peserta didik akan menemukan
suatu algorithma. Proses yang dilalui peserta didik sampai
mereka menemukan algoritma disebut matematisasi vertikal.
Proses informal yang dilakukan peserta didik dalam
menyelesaikan suatu soal, membuat model, melakukan
translasi antar modus representasi, membuat skema,
menemukan hubungan disebut matematisasi horizontal,
sedangkan matematisasi vertikal meliputi antara lain proses
menyatakan suatu hubungan dengan suatu formula (rumus),
membuktikan keteraturan, membuat berbagai model,
merumuskan konsep baru, melakukan generalisasi dan
sebagainya (Dhoruri, 2010).

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


131
Pendidik dituntut untuk mampu merangsang peserta didik
dalam menarik suatu kesimpulan dan melatih peserta didik
untuk melakukan rekonstruksi. Mula-mula matematisasi
berlangsung secara horizontal dan dengan bimbingan pendidik
peserta didik melakukan secara vertikal. Pembelajaran
matematika sebaiknya dilakukan dengan memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk
mencoba menemukan sendiri melalui bantuan pendidik,
kegiatan ini disebut guided reinvention yaitu suatu kegiatan
yang mendorong peserta didik untuk mencoba menemukan
prinsip, konsep, atau rumus-rumus matematika melalui
pembelajaran yang secara spesifik dirancang oleh pendidik.
Dengan demikian prinsip utama pembelajaran matematika
tidak terletak pada matematika sebagai suatu sistem tertutup
dan kaku, melainkan pada aktivitasnya yang lebih dikenal
sebagai suatu proses matematisasi (process of matematization).
Adapun kegiatan atau aktivitas yang merupakan
matematisasi horizontal adalah:
a) Identifikasi masalah matematika kedalam konteks umum.
b) Membuat penskemaan.
c) Memvisualkan permasalahan dalam bentuk yang berbeda.
d) Mencari hubungan dari setiap konsep dan permasalahan.
e) Pengenalan aspek isomorfik dalam masalah-masalah yang
berbeda.

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


132
f) Menyajikan real world problem ke dalam mathematical
problem.
g) Menyajikan real world problem ke dalam suatu model
matematika yang diketahui.
Setelah proses matematisasi horizontal dipahami peserta
didik, langkah berikutnya adalah matematisasi vertikal. Proses
ini dilakukan mencapai aspek-aspek matematika formal.
Matematika formal merupakan matematisasi vertikal, yang
meliputi:
a) Menyatakan suatu hubungan dalam suatu rumus.
b) Pembuktian keteraturan.
c) Perbaikan dan penyesuaian model.
d) Penggunaan model-model yang berbeda.
e) Pengkombinasian dan pengintegrasian model-model.
f) Membuat konsep matematika baru.
g) Penggeneralisasian.
Dalam proses matematisasi, pendekatan dalam pendidikan
matematika dibagi menjadi empat pendekatan, yaitu
pendekatan mekanistik, pendekatan strukturalistik, pendekatan
empiristik, dan pendekatan realistik. Pendekatan mekanistik
adalah pendekatan yang tidak memberi perhatian terhadap
matematisasi horizontal dan vertikal. Sedangkan pendekatan
strukturalistik hanya terfokus pada matematisasi vertikal dan
mengabaikan matematisasi horizontal. Sebaliknya, pendekatan

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


133
empiristik hanya menekankan pada matematisasi horizontal
tetapi lemah pada matematisasi vertikal. Terakhir pendekatan
realistik adalah pendekatan yang menggunakan kedua proses
matematisasi unutk membentuk proses belajar jangka panjang.
Untuk melihat dipakai tidaknya proses matematisasi
horizontal dan atau vertikal dalam pendekatan mekanistik,
strukturalistik, empirik dan realistik dapat dilihat seperti pada
tabel berikut:
Pendekatan Komponen Matematisasi
Pembelajaran Horizontal Vertikal
Mekanistic - -
Empiristic + -
Structuralistic - +
Realistic + +
(Sumber: Widyastuti & Pujiastuti, 2014)
Keterangan:
+ : memuat komponen matematisasi
- : kurang memuat komponen matematisasi

Pendekatan pembelajaran matematika dapat pula


dibedakan berdasarkan proses formal dan informalnya
pembelajaran dilakukan. Pendekatan mekanistik dan
strukturalistik pembelajaran dilakukan secara formal.

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


134
Sedangkan pada pendekatan-pendekatan empirik dan realistik
pembelajaran dilakukan secara informal. Menurut pendekatan
mekanistik matematika adalah suatu sistim aturan. Aturan ini
diberikan kepada peserta didik, kemudian mereka
memvertivikasi, dan menerapkannya kedalam masalah serupa
seperti contoh sebelumnya. Menurut pandangan strukturalistik,
matematika terstruktur secara baik. Menurut pandangan ini
matematika semata-matahanya aksioma, definisi dan teorema.
Karenanya orientasi pembelajaran menurut pandangan ini
adalah subject matter. Matematika disampaikan secara
deductive-axiomatics. Pandangan yang terakhir adalah
empiristik, pandangan ini banyak menekankan aktivitas
“environment”. Perhatian ini lebih besar ketimbang operasi
mental kepada peserta didik yang ditawari simulasi lingkungan
dengan harapan bahwa dengan pendewasaan ini mereka akan
sampai kepada perkembangan kognisi. Namun ternyata sangat
sedikit pada pandangan ini sampai kepada tingkat vertikal.

A. Prinsip-prinsip Realistic Mathematics Education


Menurut Gravemeijer (dalam Widyastuti & Pujiastuti,
2014) realistic mathematics education memiliki tiga prinsip
dalam pembelajarannya, yakni:
a) Guided reinvention atau progressive mathematizing

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


135
Prinsip ini memberikan peserta didik kesempatan untuk
terlibat langsung dalam proses menemukan konsep
matematika. Diawal pembelajaran, peserta didik diberikan
beberapa permasalahan kontekstual yang memiliki
berbagai solusi dalam penyelesaiannya, melalui tahapan
matematisasi peserta didik dilatih menemukan konsep
yang mereka pahami secara pribadi.
b) Didactical phenomenology
Pembelajaran melalui realistic mathematics education
menyajikan permasalahan kontekstual kepada peserta didik
namun tetap mempertimbangkan aspek kecocokan
permasalahan yang disajikan dengan kontribusinya dalam
proses guided reinvention serta pemodelan matematikanya.
c) Self developed models
Pembelajaran dengan realistic mathematics education
melatih peserta didik untuk membuat model
penyelesaiannya secara mandiri berdasarkan
pemahamannya dengan permasalahan kontekstual yang
diberikan. Sehingga memungkinkan munculnya berbagai
ide atau model matematika peserta didik yang beragam.
Model-model matematika tersebut akan mengarahkan
mereka kepada pengetahuan formal dan cara penyelesaian
masalah menurut versi mereka sendiri.

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


136
Heuvel den Heuvel-Panhuizen (dalam Saefudin, 2012)
mengungkapkan prinsip-prinsip dalam realistic mathematics
education dilihat pada 6 prinsip sebagai berikut:
1) Prinsip aktivitas
Matematisasi berhubungan erat berdasarkan pandangan
bahwa matematika merupakan aktivitas manusia. Oleh sebab
itu, matematika harus melalui proses “doing”. Peserta didik
harus terlibat langsung dalam proses pembelajaran bukan
hanya menerima konsep-konsep yang diberikan pendidik (a
ready-made mathematics).
2) Prinsip realitas
Realistic mathematics education membawa permasalahan
dunia nyata (can imagine) dalam dunia matematika peserta
didik. konsep-konsep matematika dikaitkan dalam kehidupan
peserta didik dan membantu mereka untuk dapat mengaplikasi
matematika.

3) Prinsip tahap pemahaman


pembelajaran matematika melibatkan beberapa tahapan
pemahaman, dimulai dari menemukan penyelesaian melalui
model yang dibuat oleh peserta didik hingga mendapatkan
insight tentang hal-hal yang mendasar sampai mampu
menemukan penyelesaian suatu masalah matematis secara
formal.

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


137
4) Prinsip intertwinment
Intertwinment merupakan salah satu karakteristik dari
realistic mathematics education, yaitu suatu pandangan bahwa
matematika merupakan satu kesatuan atau tidak terpisah-pisah.
Maka dari itu, artinya bahwa peserta didik memiliki
kesempatan untuk menerapkan berbagai konsep, rumus,
prinsip, serta pemahaman secara terpadu dan saling berkaitan.
5) Prinsip interaksi
Matematika merupakan aktivitas sosial dimana siswa
menyelesaikan permasalahan kontekstual bersama-sama
dengan peserta didik lain, peserta didik diberi kesempatan
untuk melakukan tukar pengalaman, strategi penyelesaian,
serta temuan lainnya diantara sesama mereka. Dengan
mendengarkan apa yang ditemukan orang lain serta
mendiskusikannya, dimungkinkan untuk meningkatkan strategi
yang mereka temukan sendiri. Dengan demikian, interaksi
memungkinkan peserta didik untuk melakukan refleksi yang
pada akhirnya akan mendorong mereka pada perolehan
pemahaman yang lebih tinggi dari sebelumnya.
6) Prinsip bimbingan
Penerapan realistic mathematics eduaction dalam proses
belajar siswa melatih siswa membuat model matematika
mereka sendiri, namun peserta didik tetap perlu dibimbing
untuk menemukan pemodelan tersebut. Pendidik menjadi

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


138
pemegang kunci kesuksesan dalam proses bagaimana peserta
didik memperoleh pengetahuan.

B. Karakteristik Realistic Mathematics Education


Menurut Lange (dalam Soviawati, 2011) membagi
realistic mathematics education dalam lima karakteristik dasar,
yaitu:
a) Menyajikan permasalahan nyata (real context).
b) Menggunakan model matematisasi, peserta didik membuat
model-model matematisasi sebagai jembatan antara level
pemahaman yang satu ke level pemahaman berikutnya.
c) Konstribusi peserta didik, konstribusi proses belajar atas
penyelesaian soal atau masalah kontekstual yang dihadapi
peserta didik menjadi awal dari proses matematisasi
selanjutnya.
d) Interaksi yang terus menerus antara peserta didik yang satu
dengan peserta didik yang lainnya, juga antara peserta
didik dengan pembimbing, mengenai proses konstruksi,
dengan demikian peserta didik mendapat manfaat positif
dari interaksi tersebut.
e) Terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya, banyak
keterkaitan (intertwining) dengan berbagai bagian dari
materi pembelajaran. Ciri ini marupakan model holistik
yang menunjukkan bahwa unit-unit belajar tidak akan

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


139
dicapai jika diajarkan secara terpisah, melainkan dengan
keterkaitan dan keterintegrasian dalam proses pemecahan
masalah.

C. Learning dan Teaching Trajectory dalam Pembelajaran


Learning trajectory merupakan belajar tentang bagaimana
anak berpikir dan bagaimana tahap-tahap berpikir pada anak,
dan hypotecital learning trajectory merupakan panduan yang
digunakan untuk memulai learning trajectory atau desain yang
dapat menjembatani antara teori dengan eksperimen. Learning
trajectory diperolah berdasarkan hypothetical learning
trajectory yang sudah diujicobakan pada saat proses
pembelajaran.
Hypothetical learning trajectory diperkenalkan oleh
Simon dalam artikelnya yang berjudul “Recontructing
Mathematics Pedagogy from a Construktivist Perspektive”
Artikel tersebut membahas tentang konsep hypothetical
learning trajectory dan learning trajectory dalam pembelajaran
matematika. Menurut Simon (1995) hypothetical learning
trajectory terdiri dari 3 komponen yaitu tujuan pembelajaran,
rancangan aktivitas dan dugaan tentang cara berfikir peserta
didik. Hipotesis cara berfikir yang dimaksudkan adalah alur
berfikir dalam memahami konsep pembelajaran. Penelitian

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


140
Simon (1995) berhasil merumuskan alur belajar dalam
beberapa kegiatan belajar matematika.
Clement dan Sarama (2009) mengemukakan tentang
komponen learning trajectory yaitu: “learning trajectory have
three parts: a mathematical goal, a developmental path along
which children develop to reach that goal, and a set of
instructional activities, or tasks, matched to each of the levels
of thinking in that path that help children develop ever higer
levels of thinking”. Jadi menurut Clement dan Sarama (2009)
learning trajectory terdiri dari tujuan matematika,
perkembangan peserta didik dalam mencapai tujuan dan
serangkaian kegiatan instruksional.
Aprianti dkk (2016) mengemukakan hypothetical learning
trajectory merupakan dugaan sementara tentang kemungkinan
belajar seseorang yang dirancang oleh pendidik, hypothetical
learning trajectory di dalamnya terdapat tujuan pembelajaran,
penjabaran kegiatan yang akan dilaksanakan, prediksi respon
siswa berserta antisipasi didaktis pedagogis. Hypothetical
learning trajectory disusun untuk menyusun desain
pembelajaran yang memungkinkan dapat mengatasi learning
obstacle atau hambatan belajar.
Menurut Zabeta dkk (2015) hypothetical learning
trajectory merupakan aktivitas pembelajaran sementara dan
dugaan proses pembelajaran yang mengantisipasi bagaimana

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


141
pemikiran dan pemahaman siswa yang mungkin berkembang
ketika aktivitas pembelajaran berlangsung di kelas, terdiri dari
tahapan (a) preparing for experiment, (b) the design
experiment, dan (c) retrospective analysis. Kegiatan yang
dilakukan pada tahap preparing for experiment adalah kajian
literatur, memformulasikan hypothecical learning trajectory
berdasarkan informasi konjektur tanpa data empirik, pretes dan
postest, interview atau protokol tertulis dari beberapa
pertanyaan, analisis tugas terstrustur dan seterusnya. Kegiatan
yang dilakuan pada tahap design experiment adalah melakukan
uji coba terhadap hypothecical learning trajectory yang telah di
formulasikan melalui analisis mendalam untuk memperoleh
data yang valid. Setiap tahap berfikir peserta didik harus dicatat
dalam bentuk transkrip. Kegiatan yang dilakukan pada tahap
restropective analysis adalah menganlisis data yang diperoleh
dari design experiment. Analisis data diperoleh dari transkrip.
Berdasarkan analisis data akan diperoleh alur belajar peserta
didik.
Pendidik dapat menentukan desain pembelajaran yang
akan diterapkan melalui learning trajectory, yaitu suatu alur
belajar yang menjadi acuan pendidik dalam menentukan dan
merumuskan tujuan-tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
selanjutnya pendidik dapat membuat keputusan-keputusan

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


142
tentang langkah-langkah strategi yang akan mewujudkan
tujuan-tujuan tersebut.

D. Implementasi Realistic Mathematics Education dalam


Pembelajaran
Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI)
merancang ide-ide kerangka kerja pendidikan yang berbasis
Realistic Mathematics Education (RME) yang menjadi acuan
oleh pendidik-pendidik matematika, peserta didik, penulis
bahan ajar atau buku ajar matematika, dan juga pengembang
kurikulum. Kerangka kerja ini menjadi aturan dalam
bentuk/model belajar yang harus diikuti oleh para pengembang
dalam mendesain contoh materi kurikulum RME atau PMRI,
dan menjadi prasyarat keberhasilan pelaksanaan RME dikelas.
Kerangka RME ini meliputi berbagai aspek, antara lain: peserta
didik, masalah kontekstual, pendidik, lingkungan belajar, dan
pengalaman belajar. Semua aspek tersebut terintegrasi sebagai
suatu sistem yang disusun secara efektif dan efesien dan saling
berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Tujuan
pembelajaran matematika dengan menggunakan RME yaitu
mengembangkan pemahaman matematika peserta didik
terhadap konsep dan ide matematika melalui eksplorasi
terhadap masalah konstektual yang berdasarkan pada proses
penemuan (guided reinvention). Masalah kontekstual yang

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


143
digunakan merupakan masalah yang relevan dan juga
merupakan kondisi yang ada dilingkungan peserta didik.
Pendidik sebagai fasilitator dalam pembelajaran ditunjukkan
bahwa pendidik memiliki kemampuan untuk membangun
proses berfikir peserta didik meskipun dalam lingkungan
pembelajaran yang interaktif.
Konsep utama RME menunjukkan bahwa proses
pembelajaran harus dimulai dari berbagai macam masalah
kontekstual yang diberikan kepada peserta didik. Dengan
aktifitas yang dilakukan oleh peserta didik sehingga mereka
dapat terlibat didalamnya sehingga proses pembelajaran
menjadi bermakna. Masalah kontekstual yang diajukan kepada
peserta didik dapat membantu peserta didik untuk membangun
ide dan konsep matematikanya sendiri (mathematical concept
formation). Implementasi RME didalam keas meliputi tiga
fase:
1. Fase pengenalan
Pada fase pengenalan, pendidik memperkenalkan
masalah realistik dalam matematika kepada seluruh
peserta didik serta membantu untuk memberi
pemahaman (setting) masalah. Pada fase ini sebaiknya
ditinjau ulang semua konsep-konsep yang berlaku
sebelumnya dan diusahakan untuk mengkaitkan masalah

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


144
yang dikaji saat itu kepengalaman peserta didik
sebelumnya.
2. Fase eksplorasi
Pada fase ini, peserta didik dianjurkan bekerja secara
individual, berpasangan atau dalam kelompok kecil. Pada
saat peserta didik sedang bekerja mereka mencoba
membuat model situasi masalah, berbagi pengalaman
atau ide, mendiskusikan pola yang dibentuk saat ini, serta
berupaya membuat dugaan. Selanjutnya dikembangkan
strategi-strategi pemecahan masalah yang mungkin
dilakukan berdasarkan pada pengetahuan informasi atau
formal yang dimiliki peserta didik. Disini pendidik
berupaya meyakinkan peserta didik dengan cara memberi
pengertian sambil berjalan mengelilingi peserta didik.
Melakukan pemeriksaan terhadap pekerjaan peserta
didik, dan memberi motivasi kepada peserta didik untuk
giat bekerja. Dalam hal ini, peranan pendidik adalah
memberikan bantuan seperlunya kepada peserta didik
yang memerlukan bantuan. Bagi peserta didik yang
berkemampuan tinggi dapat diberikan pekerjaan yang
lebih menantang.
3. Fase meringkas
Pada fase ini, pendidik dapat mengawali pekerjaan
lanjutan setelah peserta didik menunjukkan kemajuan

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


145
dalam pemecahan masalah. Peranan peserta didik dalam
fase ini sangat penting. Seperti mengajukan dugaan,
pertanyaan kepada yang lain, bernegosiasi, alternatif-
alternatif, penyelesaian masalah, memberikan alasan,
memperbaiki strategi dan dugaaan mereka serta membuat
keterkaitan.

Soal-soal Latihan
1. Apa pengertian pembelajaran matematika realistic?
2. Sebutkan dan jelaskan prinsip-prinsip pembelajaran
matematika realistic?
3. Sebutkan langkah-langkah pembelajaran matematika
realistic!
4. Jelaskan apa itu matematika horizontal dan matematika
vertical!
5. Apa saja prinsip-prinsip pembelajaran matematika
realistic? Sebutkan dan jelaskan!
6. Apa saja prinsip pembelajaran realistic menurut Heuvel
dan Heuvel-Panhuizen? Sebutkan dan jelaskan!
7. Sebutkan karakteristik pembelajaran matematika realistic!
8. Buatlah minimal 3 contoh soal matematika yang sesuai
dengan pembelajaran matika realistic?
9. Apa pengertian dari learning dan teaching trajectory
dalam pembelajaran?

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


146
10. Apa yang di maksud dengan hypothetical learning
trajectory?
11. Apa saja tahapan hypothetical learning trajectory dalam
aktivitas pembelajaran?
12. Apa tujuan pembelajaran matematika dengan
menggunakan RME?
13. Sebutkan dan jelaskan implementasi RME didalam kelas!

REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION


147
DAFTAR PUSTAKA

Agasi, G. R., & Wahyuono, Y. D. (2016). Kajian


Etnomatematika: Studi Kasus Penggunaan Bahasa Lokal
Untuk Penyajian Dan Penyelesaian Masalah Lokal
Matematika. In PRISMA, Prosiding Seminar Nasional
Matematika (pp. 527-534).

Al-Abrasyi, M.A. (1970). Dasar-dasar Pokok Pendidikan


Islam, Terj. Djohar Bustani, Aghani, dan Johar Bahri,
Jakarta: Bulan Bintang.

Amir, M. F. (2015). Proses berpikir kritis siswa sekolah dasar


dalam memecahkan masalah berbentuk soal cerita
matematika berdasarkan gaya belajar. JURNAL MATH
EDUCATOR NUSANTARA: Wahana Publikasi Karya
Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan Matematika, 1(2).

Andriyani, F. (2015). Teori belajar behavioristik dan pandangan


islam tentang behavioristik. Syaikhuna, 1(1), 165-180.

Aprianti, D. A., Karlimah, K., & Hidayat, S. (2016). Desain


Didaktis Pengelompokan Bangun Datar untuk
Mengembangkan Komunikasi Matematis Siswa Kelas II
Sekolah Dasar. PEDADIDAKTIKA: Jurnal Ilmiah
Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 3(1), 150-158.

Ardiyanto, D. S. (2013). Pembelajaran matematika dengan


pendekatan kontekstual berbantuan hands on problem
solving untuk meningkatkan rasa ingin tahu dan prestasi
belajar siswa. Prosiding Universitas Yogyakarta, 175-
184.

DAFTAR PUSTAKA 148


5
Arikunto, S.(2004). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta :
Bumi Aksara.

Barlian, I. (2013). Begitu Pentingkah Strategi Belajar Mengajar


Bagi Guru ?. In Forum Sosial (Vol. 6, No. 01, pp. 241-
246). Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas
Sriwijaya.

Clements, D.H., & Sarama. J. (2009). Learning and Teaching


Early Math : The Learning Trajectory Approach. New
York : Routledge

Dhoruri, A. (2010). Pembelajaran Matematika dengan


Pendekatan Matematika Realistik (PMR). Yogyakarta:
Universitas Negeri Yogyakarta.

Djamarah, S.H. (2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT


Rineka Cipta.

Djamarah, S.H. (2010). Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi


Edukatif. Jakarta : Rineka Cipta.

Djamarah, S.H., & Zein, A. (2010). Strategi Belajar Mengajar.


Jakarta: Rineka Cipta

Gasong, D. (2018). Belajar dan pembelajaran. Yogyakarta :


Deepublish.

Ghufron, A. (2010). Integrasi nilai-nilai karakter bangsa pada


kegiatan pembelajaran. Cakrawala Pendidikan, (3).

DAFTAR PUSTAKA 149


5
Graciella, M., & Suwangsih, E. (2016). Penerapan pendekatan
matematika realistik untuk meningkatkan kemampuan
representasi matematis siswa. Metodik Didaktik, 10(2).

Haji, S., & Abdullah, M. I. (2016). Peningkatan Kemampuan


Komunikasi Matematik Melalui Pembelajaran
Matematika Realistik. Infinity Journal, 5(1), 42-49.

Halim, A. (2012). Pengaruh strategi pembelajaran dan gaya


belajar terhadap hasil belajar fisika siswa SMP N 2
Secanggang Kabupaten Langkat. Jurnal Tabularasa,
9(2), 141-158.

Hartati, L. (2015). Pengaruh gaya belajar dan sikap siswa pada


pelajaran matematika terhadap hasil belajar matematika.
Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, 3(3).

Hobri. (2009). Model-model Pembelajaran Inovatif. Jember:


Center for Society Studies (CSS).

Idris, M. (2008). Kiat Menjadi Guru Profesional. Cet. I;


Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Ismaimuza, D. (2010). Pengaruh Pembelajaran Berbasis


Masalah dengan Strategi Konflik Kognitif Terhadap
Kemampuan Berfikir Kritis Matematis dan Sikap Siswa
SMP. Jurnal Pendidikan Matematika. 4(1) : 1-10.

Jauhar, S. (2018). Pengembangan Bahan Ajar Ips Berbasis


Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) Untuk
Meningkatkan Kreativitas Siswa Di Sekolah Dasar.
JIKAP PGSD: Jurnal Ilmiah Ilmu Kependidikan, 2(2),
58-65.

DAFTAR PUSTAKA 150


5
Johnson, L.V., & Mary. A.B. (1970). Classroom Management.
Massachussets : De heat and Company.

Kadir, A. (2013). Konsep pembelajaran kontekstual di sekolah.


Dinamika ilmu, 13(1).

Killen, R. (1998). Effective Teaching Strategies: Lesson From


Research And Practice, Second Edition. Australia:
Social Science Press.

Major, F.T. (2006). The Squencing of Content Inductive and


Deductive Approach. Inductive-Deductive Approach.
[Online] Tersedia: Http. //Educ2.Hku.Hk/.Html.

Masita, M. (2012). Peningkatan aktivitas siswa pada


pembelajaran matematika melalui pendekatan
kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jurnal
Pendidikan Matematika, 1(1).

Muhibbin, S. (2011). Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja


Grafindo Persada.

Muhson, A. (2009). Peningkatan Minat Belajar dan Pemahaman


Mahasiswa Melalui Penerapan Problem-Based Learning.
Jurnal Kependidikan: Penelitian Inovasi Pembelajaran,
39(2).

Mulyasa. E. (2008). Menjadi Guru Profesional, Menciptakan


Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Cet. VII;
Bandung: Remaja Rosda Karya.

DAFTAR PUSTAKA 151


5
Munawaroh, I. (2012). Esensi “Menghidupkan” Ruang Kelas
Bagi penyelenggaraan Pembelajaran Efektif. Majalah
Ilmiah Pembelajaran.

Nata, D. H. A. (2014). Perspektif islam tentang strategi


pembelajaran. Jakarta : Kencana.

Nurma. (2009). Pengertian Metode dan Pendekatan.


(Uns.Ac.Id)

Peniati, E. (2012). Pengembangan Modul Mata Kuliah Strategi


Belajar Mengajar IPA Berbasis Hasil Penelitian
Pembelajaran. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 1(1).

Rachmawati, Y. (2012). Strategi Pengembangan Kreativitas


Pada Anak. Jakarta : Prenada Media.

Rahman, R., & Maarif, S. (2014). Pengaruh Penggunaan Metode


Discovery terhadap Kemampuan Analogi Matematis
Siswa SMK Al-Ikhsan Pamarican Kabupaten Ciamis
Jawa Barat. Infinity Journal, 3(1), 33-58

Ramlah, R., Firmansyah, D., & Zubair, H. (2015). Pengaruh


Gaya Belajar dan Keaktifan Siswa Terhadap Prestasi
Belajar Matematika (Survey Pada SMP Negeri di
Kecamatan Klari Kabupaten Karawang). Majalah Ilmiah
SOLUSI, 1(03).

Reta, I. K. (2012). Pengaruh model pembelajaran Berbasis


masalah terhadap keterampilan berpikir Kritis ditinjau
dari Gaya kognitif siswa. Jurnal Pendidikan dan
Pembelajaran IPA Indonesia, 2(1).

DAFTAR PUSTAKA 152


5
Rintayati, P., & Putro, S. P. (2014). Meningkatkan Aktivitas
Belajar (Active Learning) Siswa Berkarakter Cerdas
dengan Pendekatan Sains Teknologi (STM). Didaktika
Dwija Indria, 1(2).

Rofiq, A. (2009). Pengelolaan kelas. Malang: Direktorat Jendral


PMPTK.

Roqib, M. (2009). Ilmu Pendidikan Islam; Pengembangan


Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga dan
Masyarakat. LKIS Pelangi Aksara.

Rusman. (2013). Model-model Pembelajaran. Jakarta: Raja


Grafindo.

Sabir, M. (2015). Kedudukan guru sebagai pendidik. Jurnal


Auladuna, 2(2). 221-232

Saefudin, A. A. (2012). Pengembangan kemampuan berpikir


kreatif siswa dalam pembelajaran matematika dengan
pendekatan pendidikan matematika realistik indonesia
(PMRI). Jurnal Al-Bidāyah, 4(1).

Sagala, S. (2003). Manajemen Berbasis Sekolah dan


Masyarakat, Strategi Memenangkan Mutu. Jakarta: PT.
Nimas Multima

Sagala, S. (2005). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung:


Alfabeta.

Sanjaya, D. H. W. (2016). Penelitian tindakan kelas. Prenada


Media.

DAFTAR PUSTAKA 153


5
Sanjaya, W. (2009). Perencanaan Dan Desain Sistem
Pembelajaran. Cet. I; Jakarta: Prenada Media.

Sariningsih, R. (2014). Pendekatan kontekstual untuk


meningkatkan kemampuan pemahaman matematis siswa
SMP. Infinity Journal, 3(2), 150-163.

Simon, M.A. (1995). Reconstructing Mathematics Pedagogy


from a Constructive Perspective. Journal of Research in
Mathematics Education. Vol 26. No 2

Siti, D. K. N. (2018). Strategi pembelajaran pemecahan


masalah di sekolah dasar. Universitas Muhammadiyah
Sidoarjo.

Slavin, R.E. (2000). Educational Psychology : Theory and


Practice. Pearson. Education. New Jersey.

Soedjadi, R. (2014). Inti Dasar–Dasar Pendidikan Matematika


Realistik Indonesia. Jurnal Pendidikan Matematika,
1(2).

Soviawati, E. (2011). Pendekatan matematika realistik (pmr)


untuk meningkatkan kemampuan berfikir siswa di
tingkat sekolah dasar. Jurnal Edisi Khusus, 2(2), 79-85.

Sudirman, A.M. (2007). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar.


Jakarta : PT Grafindo Persada.

Sukendar, N. C. E. (2013). Pengaruh Keterampilan


Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Motivasi Kerja
Guru Terhadap Kinerja Guru Smp Negeri Di Sub Rayon

DAFTAR PUSTAKA 154


5
03 Kabupaten Jepara. Jurnal Manajemen Pendidikan
Universitas PGRI Semarang, 2(1).

Sumar, W. T., & Razak, I. A. (2016). Strategi Pembelajaran


dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Soft Skill.
Yogyakarta : Deepublish.

Susanto, A. (2016). Teori belajar dan pembelajaran di sekolah


dasar. Jakarta : Kencana.

Sutikno, M. S. (2009). Strategi Belajar Mengajar Melalui


Penanaman Konsep Umum & Islami. Bandung: PT
Refika Aditama.

Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif


Progresif. Jakarta : Kencana Prenada Group.

Trinova, Z. (2013). Pembelajaran Berbasis Student-Centered


Learning Pada Materi Pendidikan Agama Islam. Al-Ta
lim Journal, 20(1), 324-335.

Uno, H.B. (2012). Teori Kinerja dan Pengukurannya. Jakarta:


Bumi Aksara

Widoyoko, E. P. (2009). Evaluasi program pembelajaran.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Widyastuti, N. S., & Pujiastuti, P. (2014). Pengaruh pendidikan


matematika realistik indonesia (PMRI) terhadap
pemahaman konsep dan berpikir logis siswa. Jurnal
Prima Edukasia, 2(2), 183-193.

DAFTAR PUSTAKA 155


5
Winarso, W. (2014). Membangun Kemampuan Berfikir
Matematika Tingkat Tinggi Melalui Pendekatan
Induktif, Deduktif dan Induktif-Deduktif dalam
Pembelajaran Matematika. Eduma: Mathematics
Education Learning and Teaching, 3(2).

Zabeta, M., Hartono, Y., & Putri, R. I. I. (2015). Desain


Pembelajaran Materi Pecahan Menggunakan Pendekatan
Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI).
Beta Jurnal Tadris Matematika, 8(1), 86-99.

Zahroh, L. (2015). Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas.


Tasyri', 22(2), 175-189.

DAFTAR PUSTAKA 156


5
INDEKS

Adminstrator 14
Akomodasi 29,36
Aksentuasi 10
Aktualisasi 2,16
Analogi 45
Antusiasme 73
Apersepsi 10
Asimilasi 29, 33, 34, 36
Asosiasi 80
Autentik 105,107,115
Continue 44
Deduktif 7,25,46-48,55,108
Delegasi 94
Dinamika 99
Dinamis 16
Discovery 7
Edukatif 26,89
Ekstrinsik 58
Ekstrover 60
Estetika 17,91
Etika 17
Etnis 54
Evaluasi 9,10,12,13, 22,110,114,116,117,122
Fasilitator 3,12,16,31,32,39,49,128,129,144
Feedback 11
Filosofis 94
Formalisasi 131
Generalisasi 47,124,131,133
Heterogen 112

Indeks 157
Hierarki 61
Hipotesis 76,107,112,113,140
Holistik 139
Induktif 7,26,46-48,55,108
Inkuiri 7,47
Inovatif 105
Insight 137
Instruksional 9-11,41,61,89,118,141
Instrumental 25
Intelektual 20,85,86,90,114
Intermedier 61
Interpersonal 73,87,118
Intertwinment 53,138
Introver 60
Investigasi 12,107
Klasifikasi 6,86
Kolektivitas 96
Kompetensi 54,84
Kondusif 84,85,89,98,99,102,104
Koneksionisme 22
Konstruksi 12,33-35,53,114,132,139
Korektif 94
Kualifikasi 8,9,40
Kuratif 102-104
Matematizing 127
Organisator 114
Otonomi 83
Output 21,25,40
Parcing 45
Peer Tutoring 12
Perennial 95
Perspektif 33

Indeks 158
Preventif 102-104
Problematic 71
Reinvention 129,131,132,135,136,143
Resitasi 68-70,82
Simplikasi 131
Sistesis 5,12
Special 128
Spesifikasi 8,9
Stimulus 20-24,26-28,30,96,97,105,122
Substansi 51,54
Tuning 45
Verbal 72,121-123
Verbalisme 75,80

Indeks 159
GLOSARIUM

Abstrak : Sesuatu yang tidak jelas, tidak terdefinisi


dan tidak dapat dibayangkan

Administrator : Seseorang yang memegang kendali


penuh terhadap segala kegiatan yang
dijalankan

Akomodasi : Menyusun kembali struktur pikiran


karena adanya informasi baru, sehingga
informasi tersebut mempunyai tempat

Aksentuasi : Penyajian unsur pembeda pada satu


ungkapan agar tidak berkesan monoton
dan membosankan.

Aktualisasi : Keinginan seseorang untuk


menggunakan semua kemampuan
dirinya untuk mencapai apapun yang
bisa dilakukan

Ambiguitas : Sifat atau hal yang bermakna dua atau


mempunyai dua pengertian

Analogi : Kalimat yang membandingkan dua hal


yang memiliki kemiripan
makna. Sehingga dengan memberikan
dua hal yang memiliki kemiripan makna
ini, diharapkan seseorang yang

Glosarium 160
mendengarkan dapat menangkap makna
yang dimaksud oleh si pembicara.

Antusias : Bersemangat, bersungguh-sungguh,


bergairah.

Apresiasi : Suatu proses melihat, mendengar,


menghayati, menilai, menjiwai dan
membandiangkan atau menghargai suatu
karya.

Asimilasi : Proses kognitif dimana seseorang


mengintegrasikan persepsi, konsep
ataupun pengalaman baru ke dalam
skema atau pola yang sudah ada dalam
pikirannya

Asosiasi : Kemampuan menghubungkan antara


gagasan dengan kemampuan panca-
indra dengan menggunakan gambar,
bagan, dan sebagainya.

Asumsi : Dugaan atau anggapan sementara yang


belum terbukti kebenarannya dan
memerlukan pembuktian secara
langsung.

Autentik : Istilah yang diciptakan untuk


menjelaskan berbagai metode penilaian
alternatif yang memungkinkan siswa
dapat mendemonstrasikan

Glosarium 161
kemampuannya dalam menyelesaikan
tugas-tugas dan menyelesaikan masalah.

Behaviorisme : Teori perkembangan perilaku, yang


dapat diukur, diamati dan dihasilkan
oleh respon pelajar terhadap rangsangan

Biologis : Sesuatu yang terhubung dengan proses


alami dari makhluk hidup

Deduktif : Cara berpikir dimana dari pernyataan


yang bersifat umum ditarik kesimpulan
yang bersifat khusus

Desain : Sebuah proses atau bagian dari sebuah


mekanisme sistem yang disepakati
bersama

Edukatif : Segala sesuatu yang bersifat mendidik,


memberikan pembelajaran dan amanat

Efektif : Cara mencapai suatu tujuan dengan


pemilihan cara yang benar dari beberapa
alternatif, lalu menerapkannya dengan
waktu yang cepat dan tepat.

Efesien : Cara untuk mencapai suatu tujuan


dengan penggunaan sumber daya yang
minimal namun hasil maksimal

Eksperimen : Suatu set tindakan dan pengamatan,


yang dilakukan untuk mengecek atau

Glosarium 162
menyalahkan hipotesis atau mengenali
hubungan sebab akibat antara gejala

Emosional : Kemampuan seseorang untuk menerima,


menilai, mengelola, serta mengontrol
emosi dirinya dan orang lain di
sekitarnya

Estetika : Susunan bagian dari sesuatu yang


mengandung pola, dimana pola tersebut
mempersatukan bagian-bagian yang
membentuknya dan mengandung
keselarasan dari unsur-unsurnya,
sehingga menimbulkan keindahan

Etika : Suatu norma atau aturan yang dipakai


sebagai pedoman dalam berperilaku di
masyarakat bagi seseorang terkait
dengan sifat baik dan buruk.

Etimologi : Cabang ilmu liguistik yang mempelajari


asal-usul kata

Etnis : Suku bangsa adalah suatu golongan


manusia yang anggota-anggotanya
mengidentifikasikan dirinya dengan
sesamanya

Evaluasi : Proses menentukan nilai untuk suatu hal


atau objek yang berdasarkan pada acuan-
acuan tertentu untuk menentukan tujuan
tertentu

Glosarium 163
Fakta : Segala sesuatu yang tertangkap oleh
indra manusia atau data keadaan nyata
yang terbukti dan telah menjadi suatu
kenyataan.

Fase : Tingkatan masa (perubahan,


perkembangan, dan sebagainya)

Fasilitator : Seseorang yang membantu sekelompok


orang memahami tujuan bersama
mereka dan membantu mereka membuat
rencana guna mencapai tujuan tersebut
tanpa mengambil posisi tertentu dalam
diskusi

Feedback : Sebuah balasan yang di kirimkan oleh


komunikan kepada komunikator, setelah
menerima pesan dari sang komunikator

Fenomena : Sesuatu hal yang bisa disaksikan dengan


panca indera serta dapat dinilai dan
diterangkan secara ilmiah.

Gagasan : Sesuatu (hasil pemikiran, usulan,


keinginan, harapan) yang akan
disampaikan.

Hierarki : Urutan tingkatan atau jenjang jabatan


(pangkat kedudukan)

Glosarium 164
Hipotesis : Jawaban sementara terhadap masalah
yang masih bersifat praduga karena
masih harus dibuktikan kebenarannya

Identifikasi : Kegiatan yang mencari, menemukan,


mengumpulkan, mencatat data dan
informasi dari “kebutuhan” lapangan

Ilustrasi : Suatu gambar yang memiliki fungsi


sebagai sarana untuk menjelaskan suatu
kejadian

Induktif : proses penalaran untuk menarik


kesimpulan berupa prinsip atau sikap
yang berlaku umum berdasarkan fakta –
fakta yang bersifat khusus.

Informal : Tidak resmi

Inisiatif : proses penalaran untuk menarik


kesimpulan berupa prinsip atau sikap
yang berlaku umum berdasarkan fakta –
fakta yang bersifat khusus

Inovatif : Proses dan/atau hasil pengembangan


pemanfaatan/mobilisasi pengetahuan,
keterampilan dan pengalaman untuk
menciptakan atau memperbaiki produk,
proses, dan/atau sistem yang baru, yang
memberikan nilai yang berarti atau
secara signifikan

Glosarium 165
Insting : Suatu pola perilaku dan reaksi terhadap
suatu rangsangan tertentu yang tidak
dipelajari tetapi telah ada sejak kelahiran
suatu makhluk hidup dan diperoleh
secara turun-temuru

Instruksional : Pengajaran, pelajaran atau bahkan


perintah / instruksi

Instrumental : Masukan yang kehadirannya dan


pemanfaatannya diatur untuk mencapai
hasil pembelajaran yang diharapkan

Intelektual : Penggunaan kecerdasannya untuk


bekerja, belajar, membayangkan,
mengagas, atau menyoal dan menjawab
persoalan tentang berbagai gagasan

Interaksi : Hubungan timbal balik antara individu


yang satu dengan yang lainnya yang
saling mempengaruhi dalam hal
bersosialisasi dan berkomunikasi.

Interfensi : Tindakan memasukkan sesuatu hal


diantaranya seperti orang yang berusaha
untuk membantu

Intermedier : Suatu sifat yang dominan tidak mampu


menutupi sifat resesif lain dengan
sempurna atau kedua sifat sama kuat

Glosarium 166
Interpersonal : komunikasi secara langsung atau face to
face communication pada waktu dan
tempat yang sama

Intisari : Kesimpulan, inti-inti sesuatu

Karakteristik : Sifat batin yang memengaruhi segenap


pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat
yang dimiliki manusia atau makhluk
hidup lainnya

Kecakapan : Menyatakan suatu tindakan, keberadaan,


pengalaman, atau pengertian dinamis
lainnya

Kejiwaan : Tingkat kecerdasan, sifat dan perilaku,


serta kepribadian seperti emosi, adaptasi
dan minatnya terhadap sesuatu

Komponen : Bagian dari keseluruhan atau unsur yang


membentuk suatu sistem atau kesatuan

Koneksionisme : Teori belajar yang lebih menekankan


pada tingkah laku manusia yang reaktif
dan memberi respon terhadap
lingkungan.

Konsep : Suatu representasi abstrak dan umum


tentang sesuatu yang bertujuan
menjelaskan suatu benda atau gagasan

Glosarium 167
Konseptual : Merupakan sesuatu yang disusun secara
terperinci terencana dengan matang,
punya dasar teori yang kuat, latar
belakang yang jelas, rencana yang baik ,
tujuan yang jelas manfaat yang baik

Konstruksi : Kegiatan atau proses mental seorang


siswa dalam menemukan dan mengubah
informasi yang diperoleh sehingga
terbentuk pemahaman atau tafsiran
secara menyeluruh tentang suatu
pengetahuan

Logistic : Terdidik atau pandai dalam memperkirakan


perhitungan
Luwes : Tidak kaku; tidak canggung; mudah
disesuaikan

Metode : Prosedur atau cara yang ditempuh untuk


mencapai tujuan tertentu

Metodologis : Ilmu-ilmu/cara yang digunakan untuk


memperoleh kebenaran menggunakan
penelusuran dengan tata cara tertentu dalam
menemukan kebenaran, tergantung dari
realitas yang sedang dikaji

Minat : Dorongan atau keinginan dalam diri


seseorang pada objek tertentu

Moral : Suatu hukum tingkah laku yang di terapkan


kepada setiap individu untuk dapat
bersosialiasi dengan benar agar terjalin rasa
hormat dan menghormati

Glosarium 168
Motivasi : Proses yang menjelaskan intensitas, arah,
dan ketekunan seorang individu untuk
mencapai tujuannya

Motivator : Orang yang memiliki profesi atau


pencaharian dari memberikan motivasi
kepada orang lain

Motorik : Proses tumbuh kembang kemampuan gerak


seorang anak

Nonverbal : Proses komunikasi di mana pesan


disampaikan tidak menggunakan kata-kata

Norma : Kaidah, pedoman, acuan, dan ketentuan


berperilaku dan berinteraksi antar manusia
di dalam suatu kelompok masyarakat dalam
menjalani kehidupan bersama-sama

Operasional : Pedoman dalam melakukan suatu kegiatan


ataupun pekerjaan penelitian

Optimal : Suatu proses untuk mencapai hasil yang


ideal

Organisme : Segala macam makhluk hidup yang saling


terkait satu sama lain, saling mempengaruhi,
dan bekerja sama untuk suatu tujuan tertentu

Peer tutoring : Pembelajaran bersama teman sejawat

Glosarium 169
Pra- : Tahapan yang ditempuh guru sebelum
instruksional memulai pembelajaran

Problematic : Masalah-masalah yang ditimbulkan

Profesi : Suatu pekerjaan yang membutuhkan ilmu


pengetahuan atau keterampilan khusus
sehingga orang yang memiliki pekerjaan
tersebut harus mengikuti pelatihan tertentu
agar dapat melakukan pekerjaannya dengan
baik

Profesional : Orang yang mempunyai profesi atau


pekerjaan purna waktu dan hidup dari
pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu
keahlian yang tinggi

Prosedur : Serangkaian aksi yang spesifik, tindakan


atau operasi yang harus dijalankan atau
dieksekusi dengan cara yang baku agar
selalu memperoleh hasil yang sama dari
keadaan yang sama

Reflek : Gerakan yang dilakukan tanpa sadar dan


merupakan respon segera setelah adanya
rangsang

Respon : Istilah yang digunakan oleh psikologi untuk


menamakan reaksi terhadap rangsang yang
diterima oleh panca indra

Sintesis : Suatu integrasi dari dua atau lebih elemen


yang ada yang menghasilkan suatu hasil
baru

Glosarium 170
Sistematis : Segala usaha untuk menguraikan dan
merumuskan sesuatu dalam hubungan yang
teratur dan logis sehingga membentuk suatu
sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh,
terpadu, mampu menjelaskan rangkaian
sebab akibat menyangkut obyeknya

Stimulus : Kegiatan yang merangsang terjadinya


kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan,
atau hal-hal lain yang dapat ditangkap
melalui alat indera

Glosarium 171