Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN DISKUSI

TUTORIAL

BLOK 10 MODUL 1

“SISTEM KESEHATAN NASIONAL”

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

2019
LAPORAN DISKUSI TUTORIAL

BLOK 9 PSIKOLOGI, ETIKA, DAN HUKUM KEDOKTERAN

SKENARIO 5

OLEH

KELOMPOK 3

KETUA : Wirackhul Ikhsan Satya N (1811413009)

SEKRETARIS MEJA : Yuliza Putri (1811412013)

SEKRETARIS PAPAN : Diva Azzahra (1811413013)

ANGGOTA : Anggita Kusnanda Nurisma (1811411023)

Aqila Syifa Nada (1811411017)

Daffa Athaala Naufal (1811413006)

Lutfia Khairani Zulfaneti (1811412018)

Muhammad Daffa Safra (1811412020)

Muhammad Iqbal Iskandar (1811413022)

Risqa Karima (1811412031)

Tiara Oktaviani (1811413019)

TUTOR : drg. Asep Darya Darma Putra

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS ANDALAS

2019
MODUL 1

SISTEM KESEHATAN NASIONAL

SKENARIO 1

“Medical Vacation to Malaka”

Pada dekade 10 tahun terakhir banyak masyarakat indonesia khususnya


dari sumbar yang berobat ke Malaka, Singapore, Cina, dll. Meskipun di indonesia
banyak rumah sakit dan dokter spesialis bahkan sub spesialis yang handal.
Perbedaan regulasi yang ditetapkan pemerintah disetiap negara menghasilkan
kualitas pelayanan dan biaya pelayanan yang berbeda.

Keberhasilan kinerja pemerintahan dibidang kesehatan dinilai dari indikator


kesehatan yang diperoleh melalui survey. Dari survey ini tergambar permasalahan
kesehatan disetiap negara, data kesehatan gigi dan mulut di indonesia terbaru
diperoleh dari hasil Riskesdas 2018 yang menggunakan survey yang diadopsi dari
Oral Health Survey WHO.

STEP 1

TERMINOLOGI

1. Sistem :

2. Sistem kesehatan nasional : kesehatan yang berbasis secara nasional.


Bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan
kesehatan yang mendukung berbagai upaya bangsa
indonesia dalam satu derap langkahguna menjamin
tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam
kerangka mewujudkan kesejahteraan rakyat
sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945
3. Riskesdas : Suatu riset skala nasional yang berbasis komunitas dan telah di
laksanakan secara berkala oleh badan litbang
Kemenkes RI untuk menilai status kesehatan ,
faktor resiko, perkembangan upaya pembangunan
kesehatan.

4. Regulasi : suatu peraturan yang dibuat untuk mengendalikan


suatukelompok untuk mencapai tujuan tertentu.

5. Dokter sub spesialis : dokter yang sekolah lagi untuk mendalami cabang
ilmu spesialisnya.

6. Oral Health Survey : Survey kesehatan gigi dan mulut.

STEP 2

MENENTUKAN MASALAH

1. Mengapa masyarakat indonesia banyak yang berobat ke luar negeri ?

2. Apa saja prinsip dasar sistem kesehatan nasional ?

3. Apa saja landasan sistem kesehatan nasional di indonesia ?

4. Apa faktor yang mempengaruhi pelayanan kesehatan ?

5. Bagaimana kualitas pelayanan dan biaya pelayanan di Indonesia ?

6. Bagagaimana aturan sistem kesehatan nasional di Indonesia ?

7. Apa kekurangan dari sistem kesehatan nasional di Indonesia ?

8. Apa saja permasalahan kesehatan yang terjadi di Indonesia ?

9. Apa perbedaan sistem pembayaran kesehatan di Indonesia dan Malaka ?

10. Apa saja contoh perbedaan regulasi di setiap nregara ?

11. Apa hal yang diperhatikan saat survey indikator kesehatan ?


12. Apakah kinerja pemerintah di bidang kesehatan di Indonesia sudah dikatakan
berhasil ?

STEP 3
ANALISA MASALAH
1. Masyarakat indonesia banyak berobat ke luar negeri, karena :
 Karena kualitas dan biaya lebih murah
 Opini masyarakat bahwa berobat ke luar negeri itu lebih bagus
 Mencari second opinion
 Penjabaran biaya lebih jelas
 Kualitas pelayanan yang cenderung lebih baik
 Karena ketersediaan obat dan alat lebih lengkap
2. Prinsip dasar sistem kesehatan nasional :
 Legal
 Adil
 Tidak diskriminatif
 Kemandirian masyarakat
 Kemitraan
 Berdasarkan HAM
 Pengutamaan dan manfaat
 Tata kepemerintahan yang baik
 Antisipatif dan proaktif

3. Landasan Sistem Kesehatan Nasional :


 Landasan Idil, Pancasila
 Landasan Konstitusional, UUD 1945 ( Pasal 28, Pasal 34)
 Landasan Operasional, UU No.36 tahun 2009
4. Faktor yang mempengaruhi pelayanan kesehatan :
 Ilmu pengetahuan dan teknologi baru
 Pergeseran nilai masyarakat
 Aspek legal dan etik
 Aspek ekonomi
 Faktor politik
 Akses ( apakah seseorang ada akses )
 Kapasitas ( Fasilitas Rumah Sakit )
5. Kualitas pelayanan dan biaya pelayanan :
 Biaya pelayanan ada yang mahal ada yang murah
 Pelayanan cukup baik tapi beberapa ada yang belum baik
 Alat tidak memadai
 Pembayarannya ada yang dari BPJS ada yang Umum
 Sistem pembayaran dan pelayanan bersifat vertikal
6. Aturan sistem kesehatan nasional di Indonesia :
 Cakupannya harus adil dan merata
 Berpihak pada masyarakat
 Ditetapkan oleh pemerintah
7. Kekurangan sistem Kesehatan nasional :
 Sumber daya manusia yang belum memadai
 Penyebaran SDM belum merata
 Pemberdayaan terhadap masyarakat kurang
 Rumah sakit banyak, namun terpusat di daerah kota.
8. Permasalahan kesehatan di Indonesia :
 Konektivitas masih kurang
 Kejelasan regulasi yaitu khawatir akan data data yang diinput secara
online akan disalah gunakan.
9. Perbedaan sistem pembayaran di indonesia dan di malaka :
 Di Indonesia Sistem pembayarannya secara langsung dan oleh BPJS
 Di Malaysia sistem pembayarannya itu subsidi dari pajak, alat kesehatan
bebas pajak
10. LO
11. Hal yang diperhatikan saat survey indikator kesehatan :
 Indikator kesehatan ibu
 Indikator kesehatan anak
 Indikator kesehatan kerja dan olahraga
 Indikator pelayanan kesehatan tradisional
 Indikator pengendalian penyakit menular

12. Menurut kami kinerja pemerintah di indonesia belum dikatakan berhasil karema
masih banyaknya masalah masalah kesehatan yang timbul dan sulit teratasi.

STEP 4

SKEMA

Komunikasi Efektif Sistem Kesehatan Nasional

Pelayanan Pembiayaan Mutu

Jenis-jenis Syarat Prinsip

Komunikasi Terapeutik

STEP 5
LEARNING OBJECTIVE (LO) / FORMULASI

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Prinsip Dasar Sistem


Kesehatan Nasional.
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Regulasi Sistem Kesehatan
Nasional.
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Pembiayaan Kesehatan.
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Survey Kesehatan ( Oral
Health Survey )
5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Landasan Sistem
Kesehatan Nasional.
6. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan SIstem Pembayaran
Kesehatan
7. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Quality Assurance
8. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Masalah Kesehatan
Masyarakat Indonesia.
9. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Faktor yang
Mempengaruhi Pelayanan kesehatan.

STEP 6
PENJELASAN LEARNING OBJECTIVE

1. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan Prinsip Dasar Sistem


Kesehatan Nasional.

SKN adalah pengelolaan kesehatan yang diselenggarakan oleh semua


komponen Bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna
menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Pengelolaan kesehatan adalah proses atau cara mencapai tujuan


pembangunan kesehatan melalui pengelolaan upaya kesehatan, penelitian dan
pengembangan kesehatan, pembiayaan kesehatan, sumber daya manusia
kesehatan, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan, manajemen, informasi
dan regulasi kesehatan serta pemberdayaan masyarakat.
Prinsip dasar SKN meliputi :

 Perikemanusiaan

Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip perikemanusiaan


yg dijiwai, digerakkan, dan dikendalikan oleh keimanan dan
ketaqwaan terhadap Tuhan YME. Tenaga kes dituntut untuk tidak
diskriminatif serta selalu menerapkan prinsip-prinsip
perikemanusiaan dalam menyelenggarakan upaya kesehatan.

 Hak Asasi Manusia


Diperolehnya derajat kesehatan yg setinggi-tingginya bagi setiap
orang adalah salah satu hak asasi manusia tanpa membedakan suku,
golongan, agama, dan status sosial ekonomi.

 Adil dan Merata

Dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yg setinggi-tingginya,


perlu diselenggarakan upaya kesehatan yg bermutu dan terjangkau
oleh seluruh lapisan masyarakat secara adil dan merata, baik geografis
maupun ekonomis

 Pemberdayaan dan Kemandirian Masyarakat

Setiap orang dan masyarakat bersama dengan pemerintah


berkewajiban dan bertanggungjawab untuk memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan perorangan, keluarga, masyarakat
beserta lingkungannya. Penyelenggaraan pembangunan kesehatan
harus berdasarkan pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan
sendiri, kepribadian bangsa, semangat solidaritas sosial, dan gotong
royong

 Kemitraan
Pembangunan kesehatan harus diselenggarakan dengan
menggalang kemitraan yg dinamis dan harmonis antara pemerintah
dan masyarakat termasuk swasta, dengan mendayagunakan potensi
yg dimiliki. Kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat
termasuk swasta serta kerjasama lintas sektor dalam pembangunan
kesehatan diwujudkan dalam suatu jejaring yg berhasil guna, agar
diperoleh sinergisme yg lebih mnatap dalam rangka mencapai derajat
kesmas yg setinggi-tingginya.

 Pengutamaan dan Manfaat

Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan lebih


mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan perorangan
maupun golongan. Upaya kesehatan yg bermutu dilaksanakan dengan
memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta harus lebih
mengutamakan pendekatan peningkatan kesehatan dan pencegahan
penyakit. Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara berhasil
guna dan berdaya guna, dengan mengutamakan upaya kesehatan yg
mempunyai daya ungkit tinggi agar memberikan manfaat yg
sebesarbesarnya bagi peningkatan derajat kesmas beserta
lingkungannya
 Tata Kepemerintahan yang Baik

Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis,


berkepastian hukum, terbuka (transparent), rasional/profesional, serta
bertanggungjawab dan bertanggung gugat (accountable)

2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Regulasi Sistem


Kesehatan nasional
a. Undang-undang No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
b. Undang-undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik kedokteran
c. Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
d. Perpres No.72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional
e. Kepmenkes No. 131 Tahun 2004 Tentang Sistem Kesehatan Nasional.

3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Pembiayaan Kesehatan

Proses pelayanan kesehatan tidak bisa dipisahkan dengan pembiayaan


kesehatan. Biaya kesehatan ialah besarnya dana yang harus disediakan untuk
menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang
diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat.

Berdasarkan pengertian ini, maka biaya kesehatan dapat ditinjau dari dua
sudut yaitu berdasarkan:

1. Penyedia Pelayanan Kesehatan (Health Provider), adalah besarnya dana


yang harus disediakan untuk dapat menyelenggarakan upaya kesehatan,
maka dilihat pengertian ini bahwa biaya kesehatan dari sudut penyedia
pelayanan adalah persoalan utama pemerintah dan ataupun pihak swasta,
yakni pihak-pihak yang akan menyelenggarakan upaya kesehatan.
Besarnya dana bagi penyedia pelayanan kesehatan lebih menunjuk kepada
seluruh biaya investasi (investment cost) serta seluruh biaya operasional
(operational cost).

2. Pemakai Jasa Pelayanan (Health consumer), adalah besarnya dana yang


harus disediakan untuk dapat memanfaatkan jasa pelayanan. Dalam hal ini
biaya kesehatan menjadi persoalan utama para pemakai jasa pelayanan,
namun dalam batas-batas tertentu pemerintah juga turut serta, yakni dalam
rangka terjaminnya pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan bagi
masyarakat yang membutuhkannya. Besarnya dana bagi pemakai jasa
pelayanan lebih menunjuk pada jumlah uang yang harus dikeluarkan (out
of pocket) untuk dapat memanfaatkan suatu upaya kesehatan. (Azwar, A.
1999).
Pembiayaan kesehatan yang kuat, stabil dan berkesinambungan memegang
peranan yang amat vital untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam
rangka mencapai berbagai tujuan penting dari pembangunan kesehatan di suatu
negara diantaranya adalah pemerataan pelayanan kesehatan dan akses
(equitable access to health care) dan pelayanan yang berkualitas (assured
quality). Oleh karena itu reformasi kebijakan kesehatan di suatu negara
seyogyanya memberikan fokus penting kepada kebijakan pembiayaan
kesehatan untuk menjamin terselenggaranya kecukupan (adequacy),
pemerataan (equity), efisiensi (efficiency) dan efektifitas (effectiveness) dari
pembiayaan kesehatan itu sendiri. (Departemen Kesehatan RI, 2004).

Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan yang memadai (health


care financing) akan menolong pemerintah di suatu negara untuk dapat
memobilisasi sumber-sumber pembiayaan kesehatan, mengalokasikannya
secara rasional serta menggunakannya secara efisien dan efektif. Kebijakan
pembiayaan kesehatan yang mengutamakan pemerataan serta berpihak kepada
masyarakat miskin (equitable and pro poor health policy) akan mendorong
tercapainya akses yang universal. Pada aspek yang lebih luas diyakini bahwa
pembiayaan kesehatan mempunyai kontribusi pada perkembangan sosial dan
ekonomi. Pelayanan kesehatan itu sendiri pada akhir-akhir ini menjadi amat
mahal baik pada negara maju maupun pada negara berkembang. Penggunaan
yang berlebihan dari pelayanan kesehatan dengan teknologi tinggi adalah salah
satu penyebab utamanya. Penyebab yang lain adalah dominasi pembiayaan
pelayanan kesehatan dengan mekanisme pembayaran tunai (fee for service) dan
lemahnya kemampuan dalam penatalaksanaan sumber-sumber dan pelayanan
itu sendiri (poor management of resources and services). (Departemen
Kesehatan RI, 2004).

4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Survey kesehatan (Oral


Health Survey )
 Tujuan survey kesehatan mulut
- Sebagai dasar suatu program pencegahan
- Mengecek status kesehatan gigi msyarakat
- Sebagai perencanaan program kesehatan

 Indeks-indeks survei kesehatan mulut


- DEM-T dan def-t : berguna untuk mengecek status
karies,membandingkan status pengalaman karies gigi antar daerah
serta sebelum dan sesudah program berjalan, dan perkembangan
status pengalaman karies individu
- Oral Hygiene Index (OHI) : mengindeks debris dan kalkulus
- OHI – S : mengindeks jumlah permukaan gigi dan metode pemilihan
permukaan gigi.
- CPITN : digunakan dalam prosedur screening. Memberi gambaran
perawatan yang tepat yang harus diberikan kepada pasien
- Prevalensi : frekuensi suatu penyakit pada suatu jangka waktu
tertentu Dikelompok masyarakat tertentu
- Insidensi : frekuensi timbulnya penyakit penyakit baru selama satu
jangka waktu di satu kelompok masyarakat.
- Indeks plak : menilai ketebalan dari plak pada tepi servikal gigi yang
dekat dengan gusi. Empat bidang yang diperiksa, yaitu Distal,fasial
atau bukal, mesial,lingual

5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Landasan Sistem


Kesehatan Nasional
 Landasan idiil : Pancasila
 Landasan Operasional : UU No 36 Thn 2009 ttg Kesehatan
 Landasan Konstitusional : UUD 1945
- Pasal 28 A; setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan
hidup dan kehidupannya
- Pasal 28 B ayat (2); setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh
dan berkembang
- Pasal 28 C ayat (1); setiap orang berhak mengembangkan diri melalui
pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan
memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan
budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan
umat manusia
- Pasal 28 H ayat (1); setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin,
bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat
serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan, dan ayat (3); setiap orang
berhak atas jaminan sosial yg memungkinkan pengembangan dirinya
secara utuh sebagai manusia yg bermartabat
- Pasal 34 ayat (2); negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi
seluruh rakyat dan memperdayakan masyarakat yg lemah dan tidak
mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan, dan ayat (3); negara
bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan
fasilitas pelayanan umum yang layak
6. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Sistem Pembayaran
Kesehatan.

Terdapat beberapa model sistem pembiayaan pelayanan kesehatan yang dijalankan


oleh beberapa negara, berdasarkan sumber pembiayaannya:

1. Direct Payments by Patients

Ciri utama model direct payment adalah setiap individu menanggung secara
langsung besaran biaya pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat
penggunaannya. Pada umumnya sistem ini akan mendorong penggunaan
pelayanan kesehatan secara lebih hati-hati, serta adanya kompetisi antara para
provider pelayanan kesehatan untuk menarik konsumen atau free market.
Meskipun tampaknya sehat, namun transaksi kesehatan pada umumnya bersifat
tidak seimbang dimana pasien sebagai konsumen tidak mampu mengenali
permasalahan dan kebutuhannya, sehingga tingkat kebutuhan dan penggunaan
jasa lebih banyak diarahkan oleh provider. Sehingga free market dalam
pelayanan kesehatan tidak selalu berakhir dengan peningkatan mutu dan efisiensi
namun dapat mengarah pada penggunaan terapi yang berlebihan.

2. User payments

Dalam model ini, pasien membayar secara langsung biaya pelayanan


kesehatan baik pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta. Perbedaannya
dengan model informal adalah besaran dan mekanisme pembayaran, juga
kelompok yang menjadi pengecualian telah diatur secara formal oleh pemerintah
dan provider. Bentuk yang paling kompleks adalah besaran biaya yang bebeda
setiap kunjungan sesuai dengan jasa pelayanan kesehatan yang diberikan
(biasanya terjadi untuk fasilitas pelayanan kesehatan swasta). Namun model yang
umum digunakan adalah ’flat rate’, dimana besaran biaya per-episode sakit
bersifat tetap.

3. Saving based

Model ini mempunyai karakteristik ‘risk spreding’ pada individu namun tidak
terjadi risk pooling antar individu. Artinya biaya kesehatan langsung, akan
ditanggung oleh individu sesuai dengan tingkat penggunaannya, namun individu
tersebut mendapatkan bantuan dalam mengelola pengumpulan dana (saving) dan
penggunaannya bilamana membutuhkan pelayanan kesehatan. Biasanya model ini
hanya mampu mencakup pelayanan kesehatan primer dan akut, bukan pelayanan
kesehatan yang bersifat kronis dan kompleks yang biasanya tidak bisa ditanggung
oleh setiap individu meskipun dengan mekanisme saving. Sehingga model ini tidak
dapat dijadikan model tunggal pada suatu negara, harus didukung model lain yang
menanggung biaya kesehatan lain dan pada kelompok yang lebih luas.

4. Informal

Ciri utama model ini adalah bahwa pembayaran yang dilakukan oleh individu pada
provider kesehatan formal misalnya dokter, bidan tetapi juga pada provider
kesehatan lain misalnya: mantri, dan pengobatan tradisional; tidak dilakukan secara
formal atau tidak diatur besaran, jenis dan mekanisme pembayarannya. Besaran
biaya biasanya timbul dari kesepakatan atau banyak diatur oleh provider dan juga
dapat berupa pembayaran dengan barang. Model ini biasanya muncul pada negara
berkembang dimana belum mempunyai sistem pelayanan kesehatan dan
pembiayaan yang mampu mencakup semua golongan masyarakat dan jenis
pelayanan.

5. Insurance Based
Sistem pembiayaan dengan pendekatan asuransi mempunyai perbedaan utama
dimana individu tidak menanggung biaya langsung pelayanan kesehatan. Konsep
asuransi memiliki dua karakteristik khusus yaitu pengalihan resiko kesakitan pada
satu individu pada satu kelompok serta adanya sharing looses secara adil. Secara
sederhana dapat digambarkan bahwa satu kelompok individu mempunyai resiko
kesakitan yang telah diperhitungkan jenis, frekuensi dan besaran biayanya.
Keseluruhan besaran resiko tersebut diperhitungkan dan dibagi antar anggota
kelompok sebagai premi yang harus dibayarkan. Apabila anggota kelompok, maka
keseluruhan biaya pelayanan kesehatan sesuai yang diperhitungkan akan
ditanggung dari dana yang telah dikumpulkan bersama. Besaran premi dan jenis
pelayanan yang ditanggung serta mekanime pembayaran ditentukan oleh organisasi
pengelola dana asuransi.

7. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Quality Assurance


Menjaga mutu (Quality Assurance) sering diartikan sebagai menjamin mutu
atau memastikan mutu. Seperti pada penggunaan kata to assure (=to convince, to
make sure or certain, to ensure, to secure) artinya adalah meyakinkan orang,
mengusahakan sebaikbaiknya, mengamankan atau menjaga. Terjemahannya
sering dirancukan dalam bahasa Belanda “assurantie”, yang padanan Inggris-nya
adalah Insurance = menjamin (bukan to assurance).
Proses dapat diartikan sebagai pengawasan pengendalian ((Wijono D, 1999).
Pengawasan pengendalian (control) diartikan sebagai suatu proses pendelegasian
tanggung jawab dan wewenang untuk suatu kegiatan manajemen di mana dalam
jangka waktu lama memelihara hasil rata-rata dari penjagaan hasil yang
memuaskan”. Control bisa dilakukan terhadap product dan cost. Biasanya ada 4
(empat) langkah yang dilakukan, yaitu:
1. Penyusunan standar: penetapan standaar-standar biaya yang diperlukan
(cost quality), performance quality, safety quality dan rehabilitasi quality
dari pada produk.
2. Penilaian kesesuaian: membandingkan kesesuaian dari produk yang
dihasilkan atau pelayanan yangditawarkan terhadap standar-standar
tersebut.
3. Koreksi bila perlu: koreksi penyebab dan faktor-faktor maintenance yang
mempengaruhi kepuasan.
4. Perencanaan peningkatan mutu: membangun usaha yang berkelanjutan
untuk memperbaiki standard-standard cost, performance, safety dan
realibility.
Upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dasar (PKD) atau
menyelesaikan masalah-masalah mutu dengan program QA, dilakukan dengan
pendekatan sistem. Artinya, memperhatikan proses manajemen mutu sejak
Input, Proses, Output, Outcome dan Impact. Program QA lebih menekankan
kegiatannya pada Proses pelayanan kesehatan yang langsung berhubungan
dengan standar pelayanan medis (standar operating procedure), tanpa
mengabaikan Input atau Impact, karena Input dan Impact banyak dipengaruhi
berbagai macam faktor intern maupun ekstern selain mutu pelayanan
kesehatan, dan QA tidak harus banyak meningkatkan mutu Input dengan
menambah kuantitas.

1. Mutu Input atau Struktur

Donabedian menjelaskan struktur adalah...: “The relatively stable characteristics of


the providers of care, of the tools and resources they have at their disposal, and of
the physical and organizational settings in which they work. The concept of
structure includes the human, physical, and financial resources that are needed to
provide medical care”. Pengertian tersebut mencakup pula jumlah, distribusi, dan
kualifikasi dari tenaga profesional, peralatan dan geografi dari rumah sakit dan
fasilitas lain, termasuk asuransi kesehatan. Karakter yang mendasar dari struktur
adalah kestabilan penggunaan struktur sebagai ukuran tidak langsung (in direct
measure) dalam pelayanan kesehatan tergantung pada pengaruhnya dalam
pelayanan. Struktur mempengaruhi secara tidak langsung baik tidaknya pelayanan
atau kinerjanya. Dengan demikian, struktur memberikan kontribusi baik diinginkan
atau tidak dalam mutu pelayanan kesehatan. Kaitan struktur dengan mutu pelayanan
kesehatan antara lain dapat dalam hal perencanaan, desain dan implementasi dalam
sistem pelayanan kesehatan yangdimaksudkan untuk menyediakan kebutuhan yang
diperlukan oleh tenaga pelayanan kesehatan. Seperti telah dikemukakan, struktut
mempengaruhi proses pelayanan yang menghasilkan outcome.
2. Mutu Proses Pelayanan Kesehatan

Proses pelayanan kesehatan menurut Donabedian yaitu: “A set of activities that go


on whithin ang between practisioners and patients”, tentang mutu proses diketahui
dari hasil pengamatan langsung atau review dari catatan dan informasi yang
merupakan rekonstruksi yang cermat, apa yang lebih kurang terjadi. Kalau proses
adalah obyek utama penilaian, maka dasar penetapan mutu merupakan hubungan
antara karakter-karakter dari proses pelayanan medis dan konsekuensinya terhadap
kesehatan, serta kesejahteraan individu dan masyarakat, yang berhubungan dengan
nilai-nilai yang berlaku. Sehubungan dengan manajemen teknis medis, hubungan
antara karakter proses pelayanan dan konsekuensinya, ditentukan oleh keadaan
ilmu kedokteran dan teknologinya pada suatu waktu dan norma-norma teknis
pelayanan yang baik. Menjaga mutu pelayanan kesehatan pada sisi proses
pelayanan kesehatan, berhubungan secara langsung dengan praktik medis dokter
atau paramedis dengan pasien. Sejak anamnese, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
penunjang lainnya seperti laboratorium, radiologi, diagnosis, terapi, perawatan dan
atau konsultasi lanjutan serta rujukan, apakah telah mengacu pada standar dan
prosedur pelayanan medis yang ditetapkan secara profesional. Kepatuhan para
tenaga medis dalam memberikan pelayanan mengacu kepada standar dan prosedur
tersebut sangat mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan terhadap pasien. Lebih
dari itu apakah dokter dan tenaga medis lainnya telah melakukan Informed Consent,
memperhatikan hak pasien akan informasi secukupnya dan juga memberikan
edukasi atau penyuluhan pada pasiententang penyakitnya, juga dengan didasari atas
hubungan antar manusia (human relations)yang mulai sehingga pasien memperoleh
kepuasan lebih, tidak hanya puas karena pelayanan teknis medisnya seperti yang
diharapkan, namun juga kepuasan karena pelayanan KIE tentang penyakitnya
seperti yang diharapkan juga. Prakteknya, untuk menilai apakah pelayan medis
yang diberikan bermutu atau tidak (kepatuhan terhadap standar pelayanan medis)
dapat dilakukan oleh atasan atau teman sejawat (peer review) atau team yang
diberikan tugas, atau bahkan melalui laporan keluhan pasien. Dengan menggunakan
instrumen-instrumen yang disediakan seperti daftar tilik (check list), kuesioner,
wawancara dan sebagainya. Persoalan-persoalan yang ditemukan berkaitan dengan
kegiatan pelayan medis ini (single problem/complex problem) dapat dibahas dan
dicari atau direncanakan solusinya, secara terus menerus sehingga selalu terjaga
mutu pelayanan yang diberikan.

3. Mutu Output /Outcome Pelayanan Kesehatan

Output/Outcome menurut Donabedian adalah “A change in patient’s current and


future health status that can be atributed to antecedent health care”. Diawali
dengan tersedianya input atau struktur yang bermutu dalam pelaksanaan kesehatan
dan adanya proses pelayanan medis sesuai dengan standar atau kepatuhan terhadap
standar pelayan yang baik, diharapkan hasil pekerjaan (output) pelayanan medis
yang bermutu. Dalam menilai apakah hasil (outputnya) bermutu atau tidak, diukur
dengan standar hasil (yang diharapkan) dari pelayanan medis yang telah dikerjakan.
Perlu diingat bahwa standar dan prosedur pelayanan medis (proses) berlainan
dengan standar hasil (output). Hasil pelayanan tidak bermutu apabila berbeda atau
tidak seperti yang diharapkan atau tidak sesuai dengan standar hasil yang
ditetapkan. Demikianlah hasil pelayanan kesehatan/medis ini dapat dinilai antara
lain dengan melakukan:

a. Audit medis pasca operasi/tindakan medis lain;

b. Audit maternal perinatal;

c. Studi kasus/kematian 48 jam;

d. Review rekam medis dan review medis lain;

e. Adanya keluhan pasien berkaitan dengan pasca operasi (asa sakit luar biasa dan
sebagainya) atas survei klien berkaitan dengan kepuasan pasien.

f. Informed Consent.

Dengan demikian pada dasarnya penilaian hasil ini untuk menjawab pertanyaan

apakah hasil dari pelayanan medis yag dikerjakan telah sesuai dengan standar hasil
sebagaimana seharusnya. Pendekatan QA dalam menjaga dan meningkatkan mutu
serta menyelesaikan masalah mutu yang timbul, pada umumnya terdapat empat
prinsip utama, yaitu:

a. Fokus pada pasien, klien dan pelanggan;


b. Fokus pada sistem dan proses;

c. Fokus pada keputusan berdasarkan data;

d. Fokus pada partisipasi dan tim kerja.

Langkah proses QA, bukanlah merupakan pendekatan linear langkah demi langkah,
seperti misalnya perencanaan pada umumnya, namun dapat pula simultan
bersamaan bila perlu. 10 (sepuluh) langkah dan proses Quality Assurance Process
(QAP), meliputi:

a. Perencanaan QA (Planning for QA)

b. Membuat pedoman dan menyusun standar-standar (Developing guidelines and


setting standards).

c. Mengkomunikasikan standar dan spesifikasi (Communicating standars and

specificification).

d.Monitoring mutu (Monitoring quality).

e. Identifikasi masalah-masalah dan seleksi peluang-peluang untuk peningkatan

(Identifyng problems and selecting opportunities for improvement).

f. Mendefinisikan secara operasional permasalahan (Defining the problem


operationlly);

g. Memilih suatu tim (Choosing team);

h. Menganalisis dan mempelajari masalah untuk identifikasi akan penyebab


masalahnya

(Analysing and studying the problem to identify its roots causes).

i. Membuat solusi-solusi dan kegiatan-kegiatan untuk peningkatan (Developing


solutions and actions for improvement).

j. Melaksanakan dan mengevaluasi upaya peningkatan mutu (Implementing and


evaluations quality improvement effors).

4. Mendesain Mutu/QA
Langkah-langkah yang dikerjakan dalam hal ini, meliputi:

a. Merencanakan QA : mengembangkan visi dan strategi kegiatan visi dan strategi


kegiatan QA, menetapkan tugas-tugas dan alokasi sumber daya.

b. Mengembangkan pedoman-pedoman dan standar-standar. Menetapkan apa yang


dikehendaki untuk pelayanan kesehatan yang bermutu;

c. Mengkomunikasikan pedoman-pedoman dan standar-standar, sadar, mengerti


dan percaya terhadapnya.

8. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Masalah Kesehatan


Masyarakat

Founder dan Chairman Center for Healthcare Policy and Reform Studies
(Chapters) Indonesia Luthfi Mardiansyah menuturkan, setidaknya terdapat 6
kendala yang perlu dibenahi dan disikapi secepatnya. Adapun kendala tersebut
antara lain:

1. Konektivitas

Kendala konektifitas menjadi penyebab utama sistem kesehatan digital


(E-Health) di Indonesia tidak berkembang, terutama di daerah-daerah
terpencil yang seharusnya butuh akses kesehatan yang sama dengan
masyarakat kota.

Bila konektifitas sudah merata di seluruh Indonesia, maka bisa


dipastikan masyarakat bisa mendapat akses kesehatan yang baik karena bisa
berkonsultasi dengan dokter meski berjauhan. Pun biayanya jauh lebih
murah.

2. Kejelasan Regulasi

Menurut sebuah survei dari Deloitte Indonesia, Bahar, dan Chapter,


sebesar 15,6 persen pengguna masih merasa tidak puas dengan adanya
layanan kesehatan digital. Ketidakpuasaan ini terjadi karena pengguna
mengkhawatirkan keamanan data yang diinput ke dalam layanan kesehatan
digital tersebut. Pun belum adanya aturan tentang tata cara pengantaran obat
agar tidak terkontaminasi benda lain hingga sampai kepada pasien.

Selain keamanan data, yang masih menjadi masalah utama dalam


perkembangan layanan digital ini antara lain, terjadinya komunikasi yang
kurang baik antara dokter dengan penderita penyakit karena tidak memeriksa
penyakit secara langsung. Apalagi secara pengalaman, banyak dokter yang
tidak terbiasa memeriksa penyakit hanya melalui telepon.

Kendala-kendala soal regulasi di atas, tentu menjadi kendala pada


perkembangan e-health. Pemerintah hendaknya mengatur regulasi tersebut
secara cepat mengingat pengguna layanan kesehatan digital semakin
bertumbuh

3. Bonus Demografi

Populasi Indonesia merupakan populasi ke-4 terbesar di dunia, yang


banyak didominasi oleh usia muda dan masyarakat ekonomi kelas
menengah. Bonus demografi ini menjadi kekuatan untuk Indonesia untuk
bersaing di kancah global.

Sayangnya, bonus demografi ini tak dibarengi denganpelayanan


kesehatan yang baik. Anak muda dan masyarakat yang dianggap mampu
memajukan Indonesia justru jadi tak terlindungi karena tidak ada pelayanan
kesehatan yang baik.

4. Negara Kepulauan

Menjadi negara kepulauan, memang sangat berpengaruh besar terhadap


potensi ekspor Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia. Indonesia terkenal
dengan beragam SDA dan keindahan alam yang mampu menarik wisatawan
berkunjung. Di sisi lain, distribusi pangan dan distribusi kesehatan banyak
terkendala karena tidak bisa ditempuh hanya dengan jalur darat.
5. Pelayanan Rendah

tingkat pelayanan rumah sakit di Indonesia relatif rendah. Ini tercermin


dari kendala masyarakat dalam mendapatkan layanan kesehatan di beberapa
rumah sakit. Pasien yang menderita penyakit berat diminta menanti
pelayanan hingga 1 bulan lamanya di rumah. Akibatnya, banyak masyarakat
di daerah Medan yang akhirnya memilih Penang, Malaysia, untuk berobat
ketimbang di Indonesia.

6. Teknologi Tak Dimanfaatkan dengan Baik

Teknologi yang ada tak dimanfaatkan dengan baik untuk pelayanan


kesehatan. Padahal, penggima internet di Indonesia paling tinggi ketimbang
negara lain. Bila kendala di atas bisa diatasi dengan baik, sistem pelayanan
di Indonesia akan lebih merata dan terintegrasi baik offline maupun online.

9. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Faktor Yang


Mempengaruhi Pelayanan Kesehatan.
 Komunikasi
Tata cara informasi yg diberikan pihak penyedia jasa dan keluhan-
keluhan dari pasien. Bagaimana cara penyedia jasa memberikan respon
terhadap keluhan-keluhan tersebut
 Ekonomi
Pelaksanaan kesehatan akan dipengaruhi oleh tingkat ekonomi di
masyarakat. Semakin tinggi ekonomi seseorang, pelayanan kesehatan
akan lebih diperhatikan dan mudah dijangkau, demikian juga sebaliknya
apabila tingkat ekonomi seseorang rendah, maka sangat sulit menjangkau
pelayanan kesehatan mengingat biaya dalam jasa pelayanan kesehatan
membutuhkan biaya yang cukup mahal. Keadaan ekonomi ini yang akan
dapat mempengaruhi dalam sistem pelayanan kesehatan.
 Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Baru
Pelaksanaan sistem pelayanan kesehatan dapat dipengaruhi oleh ilmu
pengetahuan dan teknologi baru, sebagai dampaknya dalam pelayanan
kesehatan seperti mengatasi masalah penyakit-penyakit yang sulit dapat
digunakan pengunaan alat seperti laser, terapi perubahan gen dan lain-
lain. Berdasarkan itu maka pelayanan kesehatan membutuhkan biaya
yang cukup mahal dan pelayanan akan lebih professional dan butuh
tenaga-tenaga yang ahli dalam bidang tertentu.
 Pergeseran Nilai Masyarakat
Berlangsungnya sistem pelayanan kesehatan juga dapat dipengaruhi oleh
nilai yang ada di masyarakat sebagai pengguna jasa pelayanan, di mana
dengan beragamnya masyarakat maka dapat menimbulkan pemanfaatan
jasa pelayanan kesehatan yang berbeda. Masyarakat yang sudah maju
dengan pengetahuan yang tinggi, maka akan memiliki kesadaran yang
lebih dalam penggunaan/pemanfaatan pelayanan kesehatan, demikian
juga sebaliknya pada masyarakat yang memiliki pengetahuan yang
kurang akan memiliki kesadaran yang rendah terhadap pelayanan
kesehatan, sehingga kondisi demikian akan sangat mempengaruhi sistem
pelayanan kesehatan.
 Aspek Legal dan Etik
Dengan tingginya kesadaran masyarakat terhadap penggunaan atau
pemanfaatan jasa pelayanan kesehatan, maka akan semakin tinggi pula
tuntutan hukum dan etik dalam pelayanan kesehatan, sehingga pelaku
pemberi pelayanan kesehatan harus dituntut untuk memberikan
pelayanan kesehatan secara professional dengan memperhatikan nilai-
nilai hukum dan etika yang ada di masyarakat.
 Kinerja
 Estetika
 Lokasi
 Fasilitas
 Suasana
DAFTAR PUSTAKA