Anda di halaman 1dari 42

PROSEDUR PELAYANAN PUBLIK RAWAT INAP RUMAH SAKIT

DR. TAJUDDIN CHALID MAKASSAR

PROPOSAL TUGAS AKHIR

NURUL AINUN
351 17 051

PROGRAM STUDI D3 ADMINISTRASI BISNIS

JURUSAN ADMINISTRASI NIAGA

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

2020

i
HALAMAN PERSETUJUAN

Proposal tugas akhir ini dengan judul “Prosedur Pelayanan Publik Rawat Inap

Rumah Sakit Dr. Tajuddin Chalid Makassar” oleh Nurul Ainun NIM 351 17 051

dinyatakan layak untuk diseminarkan.

Makassar, Februari 2020

Mengetahui, Menyetujui,
Ketua Program Studi, Pengarah,

Ismail Anas, S.Pd., M.Pd. Drs. Hirman, M.Si


NIP 19830215 200912 1 003 NIP 19661030 199903 1 001

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ....................................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................... ii

DAFTAR ISI ..................................................................................................... iii

DAFTAR TABEL ...............................................................................................v

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ vi

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................1

1.1 Latar Belakang .....................................................................................1


1.2 Identifikasi Masalah .............................................................................3
1.3 Rumusan Masalah ................................................................................3
1.4 Tujuan Penelitian .................................................................................3

1.5 Manfaat Penelitian ...............................................................................3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .........................................................................5

2.1 Tinjauan tentang Pelayanan Publik ......................................................5


2.1.1 Pengertian Pelayanan Publik......................................................5
2.1.2 Konsep Pelayanan Publik ..........................................................6
2.1.3 Variasi Model Pelayanan Publik ................................................7
2.1.4 Konsep Manajemen Pelayanan Publik.......................................8
2.1.5 Komunikator Pelayanan Publik ...............................................12
2.1.6 Peran Komunikator Dalam Pelayanan Publik .........................13
2.1.7 Pesan Dalam Pelayanan Publik ................................................15
2.1.8 Komunikan Dalam Pelayanan Publik ......................................16
2.1.9 Pelayanan Publik Humanis ......................................................18
2.2 Rawat Inap .........................................................................................19
2.3 Rumah Sakit Dr. Tadjuddin Chalid Makassar ...................................20
2.4 Pedoman penyelenggaraan Pelayanan Rumah Sakit .........................23
2.5 Flowchart Prosedur Pelayanan Rawat Inap .......................................28

iii
2.6 Standar Pelayanan Rawat Inap...........................................................29
2.7 Indikator Pelayanan Rawat Inap ........................................................30
2.8 Kerangka Konseptual .........................................................................31
BAB III METODE KEGIATAN ......................................................................32

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................32


3.1.1 Tempat Penelitian .....................................................................32
3.1.2 Waktu Penelitian .......................................................................32
3.2 Teknik Pengumpulan Data .................................................................32
3.3 Tipe dan Desain Kegiatan ..................................................................33
3.4 Teknik Analisis Data..........................................................................34
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................35

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Variasi Model Pelayanan Publik .........................................................8

Tabel 2.2 Hasil Survey Pelayanan Publik .........................................................10

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Flowchart Prosedur Pelayanan Rawat Inap ...................................29

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual ....................................................................31

Gambar 3.1 Desain Kegiatan.............................................................................34

vi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Setiap penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan

dan dipublikasikan sebagai jaminan adanya kepastian bagi penerima pelayanan.

Standar pelayanan adalah ukuran yang diberlakukan dalam peyelenggaraan

pelayanan yang wajib ditaati oleh pemberi dan atau penerima pelayanan.

Rumah Sakit (RS) Dr. Tajuddin Chalid Makassar sebagai salah satu

pelayanan publik di Kota Makassar yang menjalankan berbagai aktivitas, baik

aktivitas berkaitan dengan bidang kesehatan, contohnya, rawat jalan, rawat inap,

rawat darurat, layanan unggulan, penunjang medik, dan penunjang lainnya. RS Dr.

Tajuddin Chalid Makassar juga menjalankan aktifitas administrasi keuangan dan

persuratan, maupun bidang pengembangan dan kerjasama. Saat ini, RS Dr.

Tajuddin Chalid Makassar telah berupaya untuk melakukan perbaikan secara

menyeluruh dan bertahap untuk menuju pelayanan publik yang lebih baik. Salah

satu dimensi keberhasilannya dapat dilihat dari hasil survey yang dilakukan oleh

RS Dr. Tajuddin Chalid Makassar.

Prosedur pelayanan publik merupakan hal yang harus diperhatikan oleh

pihak rumah sakit sehingga dapat memberikan pelayanan yang responsif, efisien

dan sesuai dengan standar operasional yang telah ditetapkan. Hal ini sejalan dengan

menguatnya kebutuhan dan tuntutan masyarakat akan pelayanan yang responsif dan

efisien sesuai dengan standar operasional. RS Dr. Tajuddin Chalid Makassar

1
diharuskan berioentasi pada pelanggan (Customer Driven) yang berarti

menempatkan pelanggan (masyarakat) pada urutan yang paling depan.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan RS Dr. Tajuddin Chalid Makassar

pada tahun 2018 kepuasan terhadap layanan rawat inap sebesar 87,23% sedangkan

targetnya adalah 90%. Ini berarti bahwa kepuasaan dalam layanan rawat inap rumah

sakit ini belum tercapai seusai target yang telah ditetapkan. Hal tersebut dapat

dikarenakan pelayanan yang kurang cepat sehingga prosedur yang terapkan tidak

sesuai dengan yang telah mereka tentukan.

Masyarakat sebagai pelanggan membutuhkan pelayanan yang cepat sehingga

prosedur yang berbelit-belit, lamban dan tidak efisien harus ditinggalkan. Ini

merupakan tantangan bagi aparatur kesehatan pada RS Dr. Tajuddin Chalid

Makassar sebagai pelayan kesehatan masyarakat.

Demi menjamin terwujudnya prosedur pelayanan publik terhadap layanan

rawat inap yang prima, pada RS Dr. Tajuddin Chalid Makassar harus mengacu pada

Undang-undang No. 25/2009 Pasal 3, tentang pelayanan publik, yaitu terwujudnya

batasan dan hubungan yang jelas tentang hak, tanggung jawab, kewajiban, dan

kewenangan seluruh pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan publik,

terwujudnya sistem penyelenggaraan pelayanan publik yang layak sesuai dengan

asas-asas umum pemerintahan dan korporasi yang baik, terpenuhinya

penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan peraturan perundang-undangan,

dan terwujudnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat dalam

penyelenggaraan pelayanan publik.

2
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul,

prosedur pelayanan publik terhadap rawat inap RS Dr. Tajuddin Chalid Makassar.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan RS Dr. Tajuddin Chalid Makassar

pada tahun 2018 tingkat kepuasan terhadap layanan rawat inap hanya sebesar

87,23% sedangkan target yang ditentukan adalah 90%. Ini menunjukkan bahwa

rumah sakit ini tidak bisa merealisasikan tingkat kepuasan masyarakat dalam hal

pelayanan rawat inap berdasarkan target yang mereka tentukan.

1.3. Rumusan Masalah

Merujuk pada identifikasi masalah diatas, rumusan masalah penelitian ini ialah

bagaimana prosedur pelayanan publik pada rawat inap RS Dr. Tajuddin Chalid

Makassar.

1.4. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah, maka dapat dideskripsikan tujuan dari

penyusunan tugas akhir ini untuk mengetahui apakah masalah yang terjadi dalam

prosedur pelayanan publik pada rawat inap yang dilaksanakan oleh RS Dr. Tajuddin

Chalid Makassar sudah betul.

1.5. Manfaat Penelitian

1. Sebagai bahan acuan bagi rumah sakit yang bersangkutan dalam

peningkatan layanan rawat inap bagi masyarakat.

3
2. Sebagai bahan referensi sebagai wadah bagi penulis untuk melihat yang

harus dipenuhi penulis untuk menyelesaikan studi pada Politeknik Negeri

Ujung Pandang (PNUP) Jurusan Administrasi Niaga Program Studi D-III

Administrasi Bisnis.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan tentang Pelayanan Publik

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan bahwa “Pelayanan adalah

hal, cara atau hasil pekerjaan melayani”. Sementara itu istilah publik berasal dari

bahasa Inggris, public, yang berarti umum, masyarakat dan negara. Dalam

perjalanannya, kata publik telah dibakukan dalam bahasa Indonesia, yang berarti

umum, orang banyak, ramai. Oleh Inu Kencana Syafei, publik diartikan : “Sejumlah

manusia yang mempunyai kesamaan berpikir, perasan, harapan, sikap dan tindakan

yang benar dan baik berdasarkan nilai-nilai norma yang merasa memiliki”. Oleh

karena itu pelayanan publik dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dilakukan

oleh pemerintah terhadap sejumlah manusia yang memiliki setiap kegiatan yang

menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan dan menawarkan kepuasan

meskipun hasilnya tidak terikat pada suatu produk secara fisik. Pelayanan publik

juga diartikan pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang

mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok atau tata

cara yang telah ditetapkan. (Rasyidin. 2017:15)

2.1.1. Pengertian Pelayanan Publik

Pelayanan publik berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang

pelayanan publik mendefinisikan pelayanan publik sebagai berikut: Pelayanan

publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan

kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap

warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif

5
yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Warga negara berharap

pelayanan publik dapat melayani dengan kejujuran dan pengelolaan sumber

penghasilan secara tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Pelayanan publik yang adil dan dapat dipertanggung- jawabkan menghasilkan

kepercayaan publik. Dibutuhkan etika pelayanan publik sebagai pilar dan

kepercayaan publik sebagai dasar untuk mewujudkan pemerintah yang baik.

(Setyobudi, 2014:4)

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat dikatakan bahwa yang

dimaksud dengan pelayanan publik adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk

memberikan pelayanan terhadap masyarakat berdasarkan Undang-Undang No. 25

Tahun 2009 dalam rangka memnuhi kebutuhan barang, jasa atau pelayanan

administratif.

2.1.2. Konsep Pelayanan Publik

Amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 menjadi menjadi acuan

bagi penyelenggaraan negara untuk memberikan pelayanan secara optimal dan

maksimal. Pelayanan yang maksimal dan optimal menjadi rujukan bagi masyarakat

dalam menerima pelayanan. Kesinambungan seperti itulah yang memberikan

dampak kepercayaan kepada masyarakat. Masyarakat akan merasa puas dengan

pelayanan yang diberikan jika pelayanan yang dilakukan sesuai dengan peraturan

perundang-undangan. Kepuasan masyarakat terhadap pelayanan pada dasarnya

adalah tergantung dari bagaimana ia dilayanai, seperti apa pelayanannya, dan

bagaimana pelayanannya diberikan.

6
Pasal 5 UU No. 25/2009 menyebutkan, bahwa ruang lingkup pelayanan publik

adalah meliputi pelayanan barang publik dan jasa serta pelayanan administartif

yang diatur sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pemberian layanan dalam ruang

lingkup tersebut harus dipenuhi oleh pemerintah secara baik, akuntabel dan

maksimal, sehingga kepuasan masyarakat dalam penerimaan pelayanan dapat

terpenuhi. Pelayanan publik tidak hanya memberikan pelayanan secara fisik, tetapi

sikap, perilaku, dan penerimaan dari aparatur pemberi layanan menjadi titik penting

dalam pelayanan publik. Kepuasan masyarakat tidak hanya bertumpu pada

cepatnya pelayanan, mudahnya pelayanan, dan lain sebagainya, tetapi pada aspek

kebaikan dan etika dalam pemberian pelayanan (Hayat, 2019:23).

Optimalisasi pelayanan public adalah keniscayaan bagi pemerintah dan

menjadi cita-cita masyarakat. Tercapainya reformasi birokrasi dan good

governance salah satunya adalah dipengaruhi oleh kualitas pelayanan publik yang

diberikan secara optimal. Ada beberapa konsep dalam mengoptimalkan pelayanan

publik, yaitu kepemimpinan, budaya organisasi, kelembagaan, tata kerja, standar

pelayanan, pengelolaan pengaduan masyarakat, pengendalian dan evaluasi, sarana

prasarana, penggunaan teknologi informasi, dan pengelolaan sumber daya manusia.

2.1.3. Variasi Model Pelayanan Publik

Elemen kunci pembentuk proses pelayanan, mencakup "series of

interactions between participants, processes, and physical elements". Konfigurasi

antar-ketiga elemen kunci pembentuk proses pelayanan yang tercermin pada sebuah

model pelayanan, sangat bervariasi. Tergantung perspektif yang dipergunakan,

dimana setiap perspektif senantiasa lekat memiliki penekanan dan fokus yang

7
berbeda terhadap elemen kunci pembentuk proses pelayanan. Variasi model

pelayanan publik ini memberikan beberapa contoh model pelayanan publik dengan

barbagai macam perspektif yang dapat digunakan dalam membentuk proses

pelayanan.

Berpijak pada variasi keterlibatan ‘participants’ (penyedia dan pengguna)

dalam proses pelayanan, secara spesifik mengkalisifkasikan aneka model pelayanan

publik ke dalam 4 (empat) model utama. Mencakup: “traditional service provision,

self-help, little service provision, and co-production” (Mindarti, 2016:7). Karakter

sental masing-masing model pelayanan, terlihat pada tabel berikut:

Tabel 2.1. Variasi Model Pelayanan Publik

Sumber: Lely Indah Mindarti, 2016:7

2.1.4. Konsep Manajemen Pelayanan Publik

1. Perubahan orientasi Manajemen Pelayanan Publik

Efisiensi sektor publik merupakan salah satu kunci menuju terciptanya daya

saing nasional di tingkat pasar global. Dalam spiritualitas reinventing government,

negara berusaha merekonstruksi dirinya pada semua tataran untuk bisa

8
mengakomodasi aspirasi masyarakat sebagai konsumen pelayanan publik.

Manajemen publik juga bagian dari aspek administrasi publik yang memfokuskan

pada fungsi-fungsi dan proses manajemen organisasi publik. Administrasi publik

lebih luas pengertiannya dari manajemen publik, yang meliputi politik, sosial,

budaya, dan hukum yang mempengaruhi organisasi- organisasi publik. Sedangkan

manajemen publik hanya meliputi (a) perencanaan, (planning) (b) pengorganisasian

(organizing), (c) pengisian staf (staffing) (d) pengarahan (directing) (e)

pengkoordinasian (coordinating), (f) pelaporan (reporting) (g) penganggaran

(budgeting). Kesemuanya ini diadakan untuk mencapai tujuan organisasi.

Namun konsep di atas sekarang telah meluas menjadi analisis kebijakan,

analisis manajemen keuangan, analisis SDM, analisis informasi, dan relasi dengan

pihak-pihak luar (external relation). Pelayanan publik yang berkualitas dapat

mengadopsi nilai- nilai privat yang berorientasi pada profit making ke sektor

publik, seperti efektivitas, efisiensi, dan ekonomis. Hal ini diperlukan, namun tidak

boleh mengabaikan nilai-nilai kepublikan yang lebih berorientasi pada pelayanan

(service making) seperti nilai-nilai akuntabilitas, transparansi, netralitas,

responsifitas, representatitivitas dan lain-lainnya.

2. Kinerja Pelayanan Publik di Indonesia

Nashudin (2016:4) Secara umum kualitas pelayanan publik di Indonesia belum

memberikan kepuasan bagi masyarakat sebagai pengguna layanan. Hasil survey

yang dilakukan oleh berbagai lembaga menunjukkan bahwa dilihat dari sisi

efisiensi dan efektivitas, responsivitas, kesamaan perlakuan dan besar kecilnya

rente, birokrasi masih jauh dari yang diharapkan masyarakat. Beberapa survey yang

9
dilakukan oleh berbagai Lembaga juga menunjukkan rapor buruknya pelayanan

publik. Hasil survey yang dilakukan oleh berbagai lembaga dapat pada tabel

dibawah ini.

Tabel 2.2. Hasil Survey Pelayanan Publik

Nama Lembaga Tahun Urutan Indonesia


Word Investment Report Indonesia urutan ke 138
Index Foreign Direct dari 140 negara.
2003
Investment (1990 –
2000).
Indonesia urutan ke 150
Country Risk (Marvin dari 185 negara di bawah
2004
Zonish & Associate). Afganistan, Burundi, dan
Somalia.
Indonesia urutan terakhir
di Asia untuk tingkat
penggunaan listrik,
urutan yang ke 9 dari 12
negara untuk pelanggan
Kepala Perwakilan Bank telepon seluler, urutan ke
2004
Dunia (Andrew Steer). 7 untuk akses sanitasi,
urutan ke 8 untuk akses
jalan dan urutan ke 7
untuk air bersih
menjangkau 16%
populasi.
Akses rakyat terhadap
pelayanan public masih
Word Development
2004 rendah (Pendidikan,
Report
kesehatan, dan air
bersih).
Sumber : Nashudin 2016:4

Contoh-contoh buruknya pelayanan public di Indonesia, dapat dilihat kasus yang

terjadi di kabupaten Bulukumba tentang pelayanan kesehatan dan yang terjadi di

Bojong, Bogor tentang pengolaan sampah.

10
3. Strategi Penyusunan Standar Layanan Publik

Dalam penyelenggaraan pelayanan seringkali dijumpai cukup banyak unit

pelayanan yang tidak memahami secara mendalam produk-produk pelayanan yang

dihasilkannya. Banyak yang memandang hanya masyarakat saja yang menjadi

fokus pelayanan mereka, padahal pada kenyataannya mereka melayani instansi lain

Karenanya, pelayanan yang diberikan kepada instansi lain tidak dipandang

merupakan produk pelayanan yang dihasilkan.

Nashudin (2016:4) mengemukakan bahwa langkah-langkah identifikasi

terhadap jenis pelayanan yang diselenggarakan oleh unit pelayanan, sangat

bermanfaat untuk melihat kembali mengenai pelayanan-pelayanan yang dihasilkan

oleh suatu unit pelayanan. Identifikasi dapat dilakukan dengan menjawab

pertanyaan yang berkaitan dengan:

1. Jenis pelayanan yang diselenggarakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi,

baik yang diberikan kepada masyarakat maupun instansi lainnya,

2. Pelayanan apa saja yang bersifat, utama (core) ataupun péndukung (supporting),

3. Dasar hukum Diselenggarakannya pelayanan-pelayanan tersebut.

Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi kembali pelanggan atau

masyarakat yang menjadi target pelayanan. Dalam kaitan tersebut, perlu dijawab

beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan:

1. Pelanggan atau pengguna pelayanan atau target pelayanan yang langsung

merasakan hasil pelayanan,

2. Pelanggan yang secara tidak langsung merasakan hasil pelayanan,

3. Pelanggan internal yang dilayani,

11
4. Instansi mana yang juga menjadi pelanggan.

2.1.5. Komunikator Pelayanan Publik

Secara umum pengertian komunikator adalah pihak yang bertindak sebagai

pengirim pesan dalam sebuah proses komunikasi. Menurut Rudy (2005:4) yang

dimaksud dengan komunikator adalah seseorang atau sekelompok orang yang

merupakan tempat asal pesan, sumber berita, informasi, atau pengertian yang

disampaikan (dikomunikasikan) atau bisa kita sebut sebagai orang atau pihak yang

mengirim/menyampaikan berita.

Pada dasarnya komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang

(komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal)

untuk mengubah perilaku orang lain (komunikan) (Hoveland, 2009:68). Sekalipun

fungsinya sama yaitu sebagai pengirim pesan, sebetulnya masing-masing istilah itu

memiliki ciri khas tersendiri, terutama tentang sumber. Seorang sumber bisa jadi

komunikator/ pembicara. Sebaliknya, seorang komunikator/sumber tidak selalu

sebagai sumber. Bisa jadi ia menjadi pelaksana (eksekutor) dari seorang sumber

untuk menyampaikan pesan kepada khalayak ramai atau individu. “Seorang

pembicara yang baik (a good speaker) muncul dari seorang penyimak yang baik (a

good listener).” Jika komunikasi kita ingin berhasil, maka kita tidak hanya

menyampaikan komunikasi dengan jelas, namun kita juga harus menyimak

komunikasi orang lain, sehingga komunikasi itu menjadi jelas. Pada akhirnya,

pengertian dan kesepahaman akan didapat.

Hardiyansyah (2015:23) mengemukakan bahwa pelayanan publik (public

services) oleh birokrasi publik adalah merupakan salah satu perwujudan dari fungsi

12
aparatur negara sebagai abdi masyarakat di samping sebagai abdi negara. Pelayanan

publik (public services) oleh birokrasi publik dimaksudkan untuk mensejahterakan

masyarakat (warga negara) dari suatu negara kesejahteraan (welfare state).

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat dikatakan bahwa yang

dimaksud dengan komunikator pelayanan publik adalah “seseorang atau

sekelompok orang dari birokrasi publik yang mengirim/menyampaikan

berita/pesan dan memberikan pelayanan (melayani) keperluan orang atau

masyarakat sebagai warga negara yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu

sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan dengan prinsip

kesetaraan.”.

2.1.6. Peran Komunikator Dalam Pelayanan Publik

Keefektifan proses komunikasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan

berkomunikasi, tetapi juga oleh diri si komunikator. Hardiyansyah (2015:28)

mengemukakan bahwa fungsi komunikator ialah pengutaraan pikiran dan

perasaannya dalam bentuk pesan untuk membuat komunikan (penerima pesan)

menjadi tahu atau berubah sikap, pendapat, atau perilakunya. Demi mencapai hasil

yang diharapkan, maka penting untuk seorang komunikator memperhatikan;

Pertama, Etos komunikator. Etos adalah nilai diri seseorang yang merupakan

paduan dari kognisi (proses memahami), afeksi (perasaan yang ditimbulkan oleh

perangsang dari luar), dan konasi (aspek psikologis yang berkaitan dengan upaya).

Jelas kiranya bahwa suatu informasi atau pesan yang disampaikan komunikator

kepada komunikan akan komunikatif apabila terjadi proses psikologis yang sama

13
antara insan-insan yang terlibat dalam proses tersebut. Situasi komunikatif seperti

itu akan terjadi bila terdapat etos pada diri komunikator.

Adapun faktor pendukung yang dapat menimbulkan etos pada seseorang;

Kesiapan: gaya komunikasi yang meyakinkan memerlukan persiapan yang matang,

contohnya: materi pembahasan. Kesungguhan: kesungguhan akan menimbulkan

kepercayaan komunikan terhadap apa yang disampaikan.Ketulusan: komunikator

yang terampil dapat menstimulasikan faktor ketulusan agar menghindari kesan

palsu dalam pikiran komunikan. Kepercayaan:muncul dengan penguasaan diri dan

situasi secara sempurna (bukan takabur), sebelum dapat memancarkan kepastian.

Ketenangan: ketenangan yang ditunjukkan komunikator akan menimbulkan kesan

pada komunikan bahwa Ia berpengalaman dan mengusasi persoalan yang

disampaikan. Keramahan: keramahan tidak berarti kelemahan, tetapi

pengekspresian sikap etis. Kesederhanaan: keaslian menunjukkan keaslian dan

kemurnian sikap.

Kedua, Sikap komunikator. Sikap adalah suatu kesiapan kegiatan, suatu

kecenderungan pada diri seseorang untuk melakukan suatu kegiatan menuju atau

menjauhi nilai-nilai sosial. Dalam kaitannya dengan kegiatan komunikasi yang

melibatkan manusia sebagai sasarannya, terdapat jenis sikap pada diri komunikator;

Reseptif: kesediaan untuk menerima gagasan dari orang lain. Komunikator dapat

mengambil manfaat dari setiap pendapat yang berlainan. Selektif: untuk menjadi

komunikator yang baik, maka harus menjadi komunikan yang terampil. Di dalam

menerima pesan dari orang lain dalam bentuk gagasan/informasi, Ia harus dapat

selektif dalam rangka pembinaan profesinya untuk diabdikan kepada masyarakat.

14
Dijestif4: kemampuan komunikator dalam mencernakan gagasan atau informasi

dari orang lain sebagai bahan bagi pesan yang akan dikomunikasikan.

Kemampuannya dalam memahamimakna secara lebih luas, lebih dalam dari yang

tersurat, melihat intinnya yang hakiki, dan melakukan prediksi akibat pengaruh dari

gagasan/informasi tersebut. Asimilatif: kemampuan komunikator dalam

mengkorelasikan gagasan atau informasi yang diterimanya, secara sistematis

dengan apa yang telah dimiliki dalam benaknya (hasil pendidikan/pengalaman).

Transmisif: kemampuan komunikator dalam mentransmisikan konsep yang telah

diformulasikan secara kognitif, afektif, dan konatif kepada orang lain. Dengan kata

lain, dapat memilih kata-kata yang fungsional, menyusun kalimat secara logis,

memilih waktu yang tepat, sehingga dapat menimbulkan dampak yang diharapkan.

2.1.7. Pesan Dalam Pelayanan Publik

Menurut Dwiyanto dkk (2008:87) kinerja pelayanan publik yang buruk juga

disebabkan oleh peraturan yang tidak disosialisasikan kepada pengguna jasa secara

jelas dan transparan yang pada akhirnya menimbulkan berbagai penyelewengan

peraturan oleh aparat pelayanan. Pesan yang baik tidak hanya dilihat dari kemasan

atau desain pesan, juga tidak dilihat dari isi pesan semata. Pesan yang baik, di

samping memang harus didesain/dikemas dengan baik dan isi pesan yang baik

(mudah dipahami) pula, dan yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa pesan

tersebut disampaikan dan disosialisasikan secara transparan kepada pengguna jasa

(komunikan). Selama ini yang terjadi adalah kekurangpahaman masyarakat

terhadap berbagai program dan kebijakan pemerintah yang sebagian besar

15
diakibatkan dari kurangnya sosialisasi dan transparansi terhadap berbagai program

dan kebijakan tersebut.

2.1.8. Komunikan Dalam Pelayanan Publik

Komunikator (aparatur) harus mengetahui berbagai macam karakteristik

dari komunikan (khalayak). Menurut Effendy (2011:315), komunikan merupakan

komponen yang paling banyak meminta perhatian. Mengapa demikian, karena

jumlahnya banyak dan sifatnya heterogen dan anonim, sedangkan mereka harus

dapat dicapai seraya menerima setiap pesan secara inderawi dan secara rohani.

Yang dimaksud dengan inderawi ialah diterimanya suatu pesan jelas bagi indera

mata dan terang untuk indera telinga. Yang dimasud dengan rohani ialah sebagai

terjemahan dari “accepted”, yaitu diterimanya suatu pesan yang sesuai dengan

kerangka referensinya (frame of reference), paduan dari usia, agama, pendidikan,

kebudayaan, dan nilai-nilai kehidupan lainnya.

Dalam kaitannya dengan pelayanan publik, komunikan adalah masyarakat

atau warga negara yang kedudukannya sama dengan komunikator atau aparatur

yang memberikan pelayanan. Pada Pasal 18 Undang-Undang No. 25/2009

dinyatakan bahwa masyarakat berhak:

a. Mengetahui kebenaran isi standar pelayanan;

b. Mengawasi pelaksanaan standar pelayanan;

c. Mendapat tanggapan terhadap pengaduan yang diajukan;

d. Mendapat advokasi, perlindungan, dan/atau pemenuhan pelayanan;

16
e. Memberitahukan kepada pimpinan penyelenggara untuk memperbaiki

pelayanan apabila pelayanan yang diberikan tidak sesuai dengan standar

pelayanan;

f. Memberitahukan kepada Pelaksana untuk memperbaiki pelayanan apabila

pelayanan yang diberikan tidak sesuai dengan standar pelayanan;

g. Mengadukan Pelaksana yang melakukan penyimpangan standar pelayanan

dan/atau tidak memperbaiki pelayanan kepada Penyelenggara dan ombudsman;

h. Mengadukan Penyelenggara yang melakukan penyimpangan standar pelayanan

dan/atau tidak memperbaiki pelayanan kepada pembina Penyelenggara dan

ombudsman; dan

i. Mendapat pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas dan tujuan pelayanan.

Selanjutnya, pada Pasal 19 disebutkan bahwa masyarakat berkewajiban:

a. mematuhi dan memenuhi ketentuan sebagaimana dipersyaratkan dalam standar

pelayanan;

b. ikut menjaga terpeliharanya sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan

publik; dan

c. Berpartisipasi aktif dan mematuhi peraturan yang terkait dengan

penyelenggaraan pelayanan publik.

Berdasarkan isi kedua pasal di atas, bahwa sesungguhnya komunikasi akan berhasil

jika masyarakat/khalayak/komunikan turut mendukung dalam proses perjalanan

komunikasi. Untuk itu, sebagai komunikan/masyarakat ada beberapa hal yang perlu

diperhatikan, antara lain: (1) ia dapat dan benar-benar mengerti pesan komunikasi; (2) pada

saat ia mengambil keputusan, ia sadar bahwa keputusannya itu sesuai dengan tujuannya;

(3) pada saat ia mengambil keputusan, ia sadar bahwa keputusannya itu bersangkutan

17
dengan kepentingan pribadinya; dan (4) ia mampu untuk menempatinya baik secara mental

maupun secara fisik.

2.1.9. Pelayanan Publik Humanis

Mustafa (2012:173) menjelaskan bahwa perilaku birokrasi memiliki ruang

gerak antara perilaku soft dan perilaku hard yang “merupakan wujud interaksi

antara individu dengan lingkungan birokrasinya, adalah bersentuhan dengan

pelaksanaan fungsi pelayanan publik”. Dengan kata lain, perilaku birokrasi yang

diharapkan adalah perilaku yang profesional dalam mewujudkan aspirasi publik

yang tercermin dalam pelayanan publik yang baik, sehingga akan meningkatkan

kepercayaan publik kepada para penyelenggara pelayanan publik.

Dalam kaitan dengan paradigma humanis dalam penyelenggaraan

pelayanan public, Hasjimzum (2014:450-451) menawarkan lima prinsip yang harus

diperhatikan dalam pelayanan publik agar kualitas pelayanan publik dapat dicapai,

yakni: 1) tangible, memberikan pelayanan yang baik yang ditunjukkan dengan

perilaku pelayanan; 2) reliable, handal dan terampil, menguasai bidang kerja yang

diterapkan; 3) responsiveness, rasa tanggungjawab terhadap kualitas pelayanan,

maksudnya setiap pegawai dalam memberikan bentuk-bentuk pelayanan

mengutamakan aspek pelayanan yang sangat mempengaruhi perilaku orang yang

mendapatkan pelayanan; 4) assurance (jaminan), pelayan publik yang memiliki

pengetahuan sehingga orang yang menerima pelayanan merasa puas dan yakin

bahwa segala bentuk urusannya akan dapat diselesaikan dengan cepat dan benar; 5)

emphaty, mampu melayani orang yang dilayani dengan penuh perhatian terhadap

berbagai masalah yang membutuhkan pelayanan.

18
Empati tidak hanya ditunjukkan dengan perilaku dan bahasa tubuh, namun

yang jauh lebih penting di dalamnya yaitu dapat menggunakan komunikasi yang

baik dan tentunya mengandung unsur etika dan estetika. Karena itu, paradigma

humanis dalam pelayanan publik salah satunya yang harus juga diimbangi adalah

adanya komunikasi timbal balik yang efektif. Menurut Andi Wahyudi dalam

Hasjimzum (2014:450), urgensi komunikasi dalam pelayanan publik memiliki

peran yang sangat penting karena proses penyelenggaraan pelayanan publik dengan

kelengkapan yang meliputi ketersediaan sumberdaya manusia, anggaran, biaya,

sarana dan prasarana, serta metoda pemberian pelayanan, perlu dikemas dalam

komunikasi yang baik antara provider dan pengguna layanan publik. Tanpa

komunikasi yang baik, publik tidak mengetahui upaya apa yang telah dilakukan

oleh provider layanan publik.

2.2. Rawat Inap

Chriswardani, Suryawati, Dharminto, Zahroh (2006:178) mengemukakan

Rawat inap merupakan pelayanan terhadap pasien rumah sakit yang menempati

tempat tidur perawatan karena keperluan observasi, diagnosis, terapi, rehabili- tasi

medik dan pelayanan medik lainnya. Pelayanan rawat inap merupakan pelayanan

medis yang utama di rumah sakit dan merupakan tempat untuk interaksi an- tara

pasien dan pihak-pihak yang ada di dalam rumah sakit dan berlangsung dalam

waktu yang lama. Pelayanan rawat inap melibatkan pasien, dokter, dan perawat

dalam hubungan yang sensitif yang menyangkut kepuasan pasien, mutu pelayanan

dan citra rumah sakit. Semua itu sangat membutuhkan perhatian pihak manajemen

rumah sakit. Berbagai kegiatan yang terkait dengan pelayanan rawat inap di rumah

19
sakit yaitu, penerimaan pasien, pelayanan medik (dokter), pelayanan perawatan

oleh perawat, pelayanan penun- jang medik, pelayanan obat, pelayanan makan,

serta administrasi keuangan.

2.3. Rumah Sakit Dr. Tadjuddin Chalid Makassar

Rumah Sakit Kusta Ujung Pandang (sekarang RSK Dr. Tadjuddin Chalid

Makassar) resmi berdiri pada tanggal 1 Oktober 1982 berdasarkan SK Menteri

Kesehatan RI Nomor 568/Menkes/SK/1982 tentang Organisasi dan Tata Kerja

Rumah Sakit Kusta Ujung Pandang. Rumah Sakit Kusta Ujung Pandang meurpakan

unit organic dalam lingkungan Departemen Kesehatan yang pada waktu itu berada

dan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan.

Diakibatkan karena masih tingginya angka prevalensi kusta di seluruh wilayah

Republik Indonesia, maka berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor

270/MENKES/SK/VI/1985 tanggal 4 Juni 1985, Rumah Sakit Kusta Ujung

Pandang ditunjuk menjadi rumah sakit Pembina dan sekaligus sebagai pusat

rujukan kusta di Kawasan Timur Indonesia. Adapun wilayah binaan adalah seluruh

Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya. Seiring dengan perkembangan jaman dan kondisi

masyarakat, maka berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor

297/Menkes/SK/III/2008 Rumah Sakit Kusta Makassar berubah nama menjadi

Rumah Sakit Dr. Tadjuddin Chalid Makassar yang berada dan bertanggungjawab

langsung kepada Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan

RI. Di samping itu brdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor

2/KMK.05/2010, Rumah Sakit Dr. Tadjuddin Chalid Makassar diberikan

20
kepercayaan sebagai instansi Pemerintah yang menerapkan Pola Pengelolaan

Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU).

Berdasarkan pertumbuhan pemukiman di Kota Makassar yang sangat pesat

yang juga berpengaruh kepada wilayah sekitar rumah sakit, mengakibatkan Rumah

Sakit Dr. Tadjuddin Chalid Makassar yang pada waktu dibangun, lokasinya berada

di luar kota dan sangat terisolasi sekarang berada di tengah pemukiman warga,

sehingga berdasarkan tuntutan dan kebutuhan masyarakat, Rumah Sakit Dr.

Tadjuddin Chalid Makassar mempunyai kewajiban untuk setiap saat siap

memberikan pelayanan kepada masyarakat umum. Kondisi tersebut telah disikapi

dengan baik oleh Kementerian Kesehatan, di mana pada tanggal 31 Mei 2010

Kementerian Kesehatan memberikan ijin untuk membuka pelayanan umum melalui

Surat Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan

No. HK.03.05/I/2835/10.

Perkembangan pemikiran masyarakat yang modern menuntut Rumah Sakit

Dr. Tadjuddin Chalid Makassar mengikuti dengan melakukan perubahan dari

internal khususnya perubahan Struktur Organisasi yang telah ketinggalan jaman

dan dirasakan telah tidak sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan oleh

masyarakat yang semakin kompleks, maka pada tanggal 14 Mei 2012 Menteri

Kesehatan RI mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 009 Tahun 2012

tentang Organisasi dan Tata Kelola Rumah Sakit Dr. Tadjuddin Chalid Makassar.

Selama berdirinya Rumah Sakit Dr.Tadjuddin chalid Makassar telah dipimpin oleh

5 Direktur dan 1 Direktur Utama. Urutan nama-nama direktur Rumah Sakit Dr.

Tadjuddin Chalid Makassar hingga sekarang adalah : dr. A. A. Munru, dr. Fahmi

21
A.Tanjung, dr. Tambunan, dr. H. Sanusi Karateng, DR. dr. H. Rasyidin Abdullah,

MPH, dan Direktur Utama adalah : dr. H. Kamal Ali Parengrengi, M.Kes.

Pada masa kepemimpinan dr. H. Kamal Ali Parengrengi, M.Kes telah terjadi

pengembangan unit pelayanan antara lain Unit Rehabilitasi Terpadu (Poliklinik

Rehabilitasi Medik, Ortetik Prostetik, Fisioterapi, Okupasi Terapi, Unit Latihan

Kerja) dan Unit Bedah Rekonstruksi telah difungsikan dan dimanfaatkan sebagai

pusat rehabilitasi cacat kusta yang diarahkan bertaraf nasional. Pengembangan ini

disesuaikan dengan kemajuan dan permintaan/kebutuhan terkait rehabilitasi kusta

khususnya di wilayah binaan. Kondisi ini sejalan dengan visi Rumah Sakit Dr.

Tadjuddin Chalid Makassar yaitu “Menjadi Rumah Sakit Terkemuka di

Indonesia dalam Pelayanan Rehabilitasi Kusta Tahun 2019”.

Di samping itu juga telah dilakukan pengembangan terhadap Instalasi Rawat

Darurat, KIA/KB dan Perawatan Umum guna memberikan pelayanan kepada

masyarakat yang setiap bulan terjadi peningkatan yang cukup signifikan,

pengembangan di bidang Pendidikan dan Penelitian (DIKLIT) karena semaikin

banyaknya sekolah dan perguruan tinggi di Makassar dan sekitarnya yang

membutuhkan tempat lahan praktek dan tempat penelitian di dalam menunjang

keilmuan peserta didiknya. Renovasi gedung administrai guna menunjang

pelayanan administrasi perkantoran kepada masyarakat dan pegawai yang

membutuhkan pelayanan, serta dalam rangkat memberikan pendidikan kesehatan

kepada masyarakat dan keluarganya maka dibentuklah Instalasi Promosi Kesehatan

Rumah Sakit (PKRS).

22
Selain peningkatan sarana fisik, juga diikuti dengan peningkatan kualitas SDM

melalui program pendidikan berkelanjutan dan penyelenggaraan berbagai pelatihan

dan penyelenggaraan penelitian pelayanan kesehatan dibuktikan dengan adanya

beberapa MoU dengan Institusi Pendidikan dan juga beberapa kerjasama baik lintas

sector maupun lintas program (http://www.rstc.co.id/).

2.4. Pedoman penyelenggaraan Pelayanan Rumah Sakit

a. Governance

Governing body adalah Pemilik Rumah sakit atau beberapa individu yang

ditunjuk untuk menjalankan fungsi rumah sakit dan secara hukum bertanggung

jawab terhadap manajemen rumah sakit secara umum dan mutu pelayanan rumah

sakit. Medical Staff by Laws adalah suatu peraturan organisasi staf medis dan

komite medis di rumah sakit yang ditetapkan oleh pemilik rumah sakit atau

governing body. Fungsi governing body yang dimaksud adalah menyusun dan

mereview peraturan internal rumah sakit (hospital by laws) yang berkaitan dengan

akuntabilitas rumah sakit, menyusun dan mereview kebijakan governing body,

meningkatkan kinerja rumah sakit, menetapkan kriteria, proses seleksi serta

rekruitmen direktur rumah sakit berbasis kompetensi, menetapkan evaluasi kinerja

direktur rumah sakit; serta menyusun mekanisme komunikasi antara governing

body, direktur dan tenaga medik. Peraturan internal rumah sakit (hospital by laws)

adalah suatu produk hukum yang merupakan konstitusi sebuah rumah sakit yang

ditetapkan oleh pemilik rumah sakit atau yang mewakili. Peraturan internal rumah

sakit terdiri dari corporate by laws yang mengatur hubungan pemilik atau yang

23
mewakili dengan pengelola rumah sakit dan medical staff by laws yang mengatur

stafklinis. Peraturan internal rumah sakit mengatur:

1. Organisasi pemilik atau yang mewakili;

2. Peran, tugas dan kewenangan pemilik Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan

Rumah Sakit atau yang mewakili;

3. Peran, tugas dan kewenangan Direktur rumah sakit;

4. Organisasi staf medik;

5. peran, tugas dan kewenangan staf medik.

Rumah sakit mempunyai kebijakan tertulis, sistem, prosedur dan hospital by laws

dan medical staff by laws dilaksanakan oleh rumah sakit_ Hospital by laws

mengatur hubungan antara goveming body, manajemen, dan tenaga fungsional,

serta antara tenaga fungsional dengan pasien. Prosedur yang harus dimiliki minimal

mencakup:

a. Pendaftaran dan pemulangan pasien

b. Prosedur untuk tidak menolak merawat pasien atas dasar ras, usia, agama,

warga negara,jenis kelamin, kecacatan, penyakit (HIV/AIDS dan penyakit lain),

kemampuan membayar atau sumber pembayaran.

c. Pertolongan pertama kepada pasien tidak sadar, ibu melahirkan dan pasien

gawat darurat tanpa meminta biaya pelayanan terlebih dahulu

d. Rujukan pasien inter dan antar sarana pelayanan kesehatan lain

e. Informed consent/Persetujuan tindakan Medis

24
f. Prosedur yang terkait dengan masalah bioetika, misalnya penghentian life

support, penolakan pengobatan, penolakan perawatan, transplantasif/donasi

organ, dan lain sebagainya

g. Akuntansi sesuai dengan pedoman akuntansi yang berlaku

h. Pembayaran di unit gawat darurat terutama bagi keluarga miskin dan kebijakan

perkecualian bagi keluarga miskin

i. Identifikasi pasien yang digunakan mulai dari pendaftaran hingga pemulangan

pasien

j. Manajemen keluhan bagi pasien, keluarga, pengunjung dan yang bekerja di

rumah sakit, mencakup identifikasi keluhan, waktu yang dibutuhkan untuk

merespon, mekanisme review dan pencarian solusi keluhan, dan tindak lanjut

k. Seleksi dan rekruitmen tenaga struktural dan fungsional rutnah sakit

l. Penyusunan dan penyampaian uraian tugas kepada tenaga di rumah sakit

m. Penyampaian informasi mengenai hak-hak pasien

Rumah Sakit mendokumentasikan catatan seluruh pertemuan goveming body

beserta notulensinya yang telah disahkan. Rumah sakit merupakan bagian dari

jejaring pelayanan kesehatan untuk mencapai indikator kinerja kesehatan yang

ditetapkan daerah. Oleh karenanya rumah sakit harus mempunyai hubungan

koordinatif, kooperatif dan fungsional dengan Dinas Keschatan dan sarana

pelayanan kesehatan lain. Rumah sakit wajib berpartisipasi dalam penanggulangan

bencana, wabah penyakit, pelaporan penyakit menular dan penyakit lain yang

ditetapkan oleh tingkat nasional dan daerah, serta dalam melaksanakan program

prioritas pemerintah. Pendirian rumah sakit diawali dengan studi kelayakan, yang

25
mencakup analisis pasar dan pemasaran, analisis keuangan, rencana kebutuhan

pelayanan (umlah, jenis, tenaga, alat, dan perbekalan kesehatan), analisis aspek

legal, analisis kelayakan lingkungan, analisis epidemiologi penyakit, serta

rekomendasi.Studi kelayakan dilakukan oleh pihak ketiga, yang tidak terkait

dcngan pihak yang mengajukan pendirian rumah sakit. Rumah sakit memiliki

rencana strategik, yang mencakup visi, misi, tujuan, sasaran dan strategi organisasi.

Pembinaan dan pengawasan rumah sakit dapat dilakukan oleh governing body,

Pemerintah Daerah / pusat, Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan dan

bekerjasama dengan stake holder terkait. Pembinaan dan pengawasan upaya

pelayanan medik secara teknis menjadi tanggung jawab Departemen Kesehatan dan

dilakukanjuga oleh Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten/Kota.

b. Organisasi

Rumah sakit mempunyai struktur organisasi berdasarkan azasorganisasi yang

hemat struktur dan kaya fungsi, yang menggambarkan kewenangan, tanggung

jawab, dan komunikasi dalam menyelenggarakan pelayanan dan antar unit

pelayanan di rumah sakit serta manajemennya. Struktur organisasi rumah sakit

mencerminkan fungsi administrasi dan keuangan, fungsipelayanan umum, dan

medik, sarana dan prasarana, fungsi pendidikan, penelitian, dan pengembangan

serta fungsi peningkatan mutu. Selain itu, rumah sakit harus memiliki Komite.

Komite adalah wadah non struktural yang terdiri dari tenaga ahli atau profesi yang

dibentuk untuk memberikan pertimbangan strategis kepada pimpinan rumah sakit

dalamrangka peningkatan dan pengembangan pelayanan rumah sakit. Pembentukan

komite ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit sesuai kebutuhan rumah sakit,

26
sekurang-kurangnya terdiri dari Komite Medik, Komite Pencegahan dan

Pengendalian Infeksi serta Komite Etik dan Hukum. Komite berada di bawah dan

bertanggungj awab kepada pimpinan rumah sakit Komite dipimpin oleh seorang

ketua yang diangkat dan diberhentikan oleh pimpinan rumah sakit. Pembentukan

dan perubahan jumlah dan jenis komite ditetapkan oleh pimpinan nimah sakit

setelah mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik sebagai

Pembina Teknis di bidang Perumah Sakitan. Komite Medis Komite Medis adalah

wadah professional medis yang keanggotaannya berasal dari ketua kelompok staf

medis atau yang mewakili.

Komite medis mempunyai otoritas tertinggi di dalam pengorganisasian staf

medis di dalam struktur organisasi rumah sakit, Komite Medis berada di bawah

Direktur Rumah Sakit sedangkan di dalam struktur organisasi rumah sakit swasta,

Komite Medis bisa berada di bawah Direktur Rumah Sakit atau dibawah Pemilik

dan sejajar dengan Direktur Rumah Sakit. Susunan Komite Medis terdiri dari ketua,

wakil Ketua, sekretaris, anggota, Staf medik fungsional dikelompokkan sesuai

dengan keahliannya dan dipimpin oleh seorang ketua yang dipilih oleh anggota

kelompoknya untuk masa bakti tertentu.

Komite medis adalah kelompok tenaga medis yang anggotanya terdiri dari

Ketua Staf Medis Fungsional masing - masing keahliannya. Komite Medis bertugas

membantu Direktur dalam menyusun standar operating prosedur dan memantau

pelaksanaannya, serta melaksanakan pembinaan etika profesi, mengatur

kewenangan profesi anggota stafmedik fungsional, dan mengembangkan program

pendidlkan, pelayanan, pelatihan, penelitian setta pengembangan. Dalam

27
melaksanakan tugasnya, komite medis bertanggung jawab kepada Direktur atau

Governing body dan dapat dibantu oleh panitia - panitia dan staf medik fungsional,

serta tenaga lain. Susunan dan besaran organisasi pada Komite Medis harus

mengacu pada peraturan menteri kesehatan dan ditetapkan oleh Pemilik Rumah

Sakit.

2.5. Flowchart Prosedur Pelayanan Rawat Inap

Rumah sakit Tadjuddin Chalid Merupakan rumah sakit tingkat lanjut dimana

untuk pasien yang menggunakan layanan BPJS harus mengikuti prosedur playanan

BPJS yang harus dimulai dari pengambilan rujukan di puskesmas, kemudian ke

Rumah Sakit Tadjuddin Chalid untuk melakukan observasi, diagnose penyakit, dan

pasien dapat menempati kamar yang telah disediakan (Fatmawati, 2018:54).

28
Sumber: Fatmawati 2018:54

Gambar 2.1 Flowchart Prosedur Pelayanan Rawat Inap

2.6. Standar Pelayanan Rawat Inap

Fatmawati (2018:55) mengemukakan setiap jenis pelayanan medis harus sesuai

dengan masing-masing standar pelayanan medis profesi termasuk layanan rawat

inap. Tujuan pelayanan rawat inap ialah mengupayakan kesembuhan pasien secara

29
optimal melalui prosedur dan tindakan yang dapat dipertnggung jawabkan . Standar

pelayanan Rawat Inap antara lain:

1. Melakukan wawancara kepada pasien

2. Melakukan pemeriksaan terhadap pasien

3. Menegakkan diagnose penyakit

4. Merencanakan dan memberikan terapi/pengobatan

5. Melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap pasien

6. Membuat catatan medic.

2.7. Indikator Pelayanan Rawat Inap

Fatmawati (2018:57) mengemukakan bahwa indikator pelayanan rawat inap

rumah sakit pada hakekatnya merupakan pelayanan rumah sakit yang wajib

dilaksanakan oleh pemerintah/pemerintah provinsi/pemerintah kabupaten/kota

dengan standar kinerja yang ditetapkan. Dengan disusunnya indikator pelayanan

rawat inap Rumah Sakit diharapkan dapat membantu pelaksanaan penerapan

pelayanan rawat inap di rumah sakit yang sesuai dengan indikator. Indikator

pelayanan Rawat Inap antara lain:

1. Pemberi pelayanan di rawat inap.

2. Dokter penanggung jawab pasien rawat inap.

3. Ketersediaan pelayanan rawat inap.

4. Jam visite Dokter Spesialis.

5. Kejadian infeksi pasca operasi.

6. Kejadian infeksi Nosokomial.

30
7. Tidak adanya kejadian pasien jatuh yang berakibat kecacatan/kematian.

8. Kematian Pasien > 48 Jam.

9. Kejadian pulang paksa.

10. Kepuasan Pelanggan.

11. Ketersediaan pelayanan rawat inap di rumah sakit yang memberikan pelayanan

jiwa.

2.8. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual adalah keterkaitan antara teori–teori atau konsep yang

mendukung dalam kegiatan tugas akhir ini yang digunakan sebagai pedoman dalam

menyusun sistematis penelitian. Kerangka konseptual menjadi pedoman penulis

untuk menjelaskan secara sistematis teori yang digunakan dalam kegiatan tugas

akhir ini. Penelitian ini memiliki kerangka konseptual yang akan dijelaskan pada

gambar dibawah ini.

RUMAH SAKIT ------- RAWAT INAP -------- hasil

Indikator rawat inap:

1. S.d. 11

Feed back

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual

31
BAB III

METODE KEGIATAN

3.1 Tempat dan Waktu Kegiatan

3.1.1 Tempat Kegiatan

Penelitian yang berupa pelayanan prosedur rawat inap pada Rumah Sakit

Tadjuddin Chalid Makassar akan mengambil objek penelitian pada Rumah Sakit

Tadjuddin Chalid Makassar Jalan Pacerakkang No. 67 Makassar Sulawesi Selatan.

3.1.2 Waktu Kegiatan

Kegiatan berlangsung selama kurang lebih 1 (satu) bulan.

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan :

a. Kuisioner

Kuisioner merupakan suatu teknik pengumpulan informasi untuk

mengetahui keadaan pelayanan prosedur rawat inap pada Rumah Sakit

Tadjuddin Chalid Makassar pada saat ini sebagai acuan untuk penelitian yang

diajukan. Dalam hal ini, penulis memberikan kuisioner kepada

pasien/keluarga pasien Rumah Sakit Tadjuddin Chalid Makassar untuk

mengetahui apakah pelayanan pada Rumah Sakit Tadjuddin Chalid Makassar

telah sesuai dengan standar pelayanan prosedur rawat inap.

32
b. Wawancara

Teknik pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab langsung dengan

informan yang dianggap refresentatif dalam memberikan informasi terkait dengan

topik kegiatan, dalam hal ini kepala perawatan rawat inap RS TCM.

3.3 Tipe dan Desain Kegiatan

a. Tipe Kegiatan

Tipe kegiatan yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif. Penelitian

deskriptif, yaitu penyelidikan yang dilakukan terhadap variabel mandiri atau satu

variabel, yaitu tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel

yang lainnya.

b. Desain Kegiatan

Desain kegiatan merupakan suatu pedoman yang memuat langkah-langkah

lebih lanjut mengenai bagaimana penulis akan melaksanakan kegiatan ini. Adapun

desain kegiatan ini adalah sebagai berikut:

33
Gambar 3.1. Desain Kegiatan

3.4 Teknik Analisis Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisa data kuantitatif

yaitu dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi untuk mendapatkan hasil dari

data yang telah dikumpulkan melalui kuisioner.

34
DAFTAR PUSTAKA

Chriswardani, Suryawati & Dharminto & Zahroh, S. (2006) ‘Penyusunan indikator


kepuasan pasien rawat inap rumah sakit di provinsi Jawa Tengah’, Jurnal
Manajemen Pelayanan Kesehatan.
Dwiyanto, Agus. 2017. Managemen Pelayanan Publik: Peduli inklusif dan
kolaborasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Effendy, Onong Uchjana. 2011. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Fatmawati. 2018. Sistem Pelayanan Rumah Sakit Dr. Tadjuddin Chalid Terhadap
Penyandang Kusta Di Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar, Makassar:
Universitas Hasanuddin.
Hardiyansyah. 2015. Komunikasi Pelayanan Publik Konsep Dan Aplikasi.
Yogyakarta: Gava Media.

Hasjimzum, Y. 2014. Model Demokrasi dalam Peningkatan Kualitas Pelayanan


Publik (Studi Otonomi Daerah dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat
Pasca Reformasi). Jurnal Dinamika Hukum, Vol. 14 (3).
Hayat, 2019, Manajemen Pelayanan Publik, Jakarta: Rajawali Persada.
Husein, Farid, W. dkk. 2008. Pedoman Penyelenggaraan pelayanan di rumah sakit.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Hovland, Carl I. 2009. Komunikasi Politik (Konsep, Teori, dan Strategi), Jakarta:
PT. Rajawali Pers.
Mindarty, Indah Lely. 2016. Managemen Pelayanan Publik: Menuju Tata Kelola
Yang Baik. Malang: UB Press.
Mustafa, D. 2012. Potret Perilaku Birokrasi Pemerintahan, Reformasi Birokrasi,
Makassar: Universitas Negeri Makassar.
Nashudin. 2016. Manajemen & Kepemimpinan dalam Pelayanan Publik. Mataram:
Mataram.
Rasyidin, Abd. Wahid. 2017. Analisis Pelayanan Publik Di Dinas Penanaman
Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Palopo, Makassar: Universitas
Hasanuddin.
Rudy, T. May. 2005. Komunikasi & Hubungan Masyarakat Internasional.
Bandung: Refika Aditama.

Sejarah Rumah Sakit Tadjudin Chalid Makassar, 2016 (Online),

35
(http://www.rstc.co.id/statis-228-sejarah.html), Diakses 24 Desember 2019.

Setyobudi, Y. F. (2014) ‘Peran Masyarakat Dalam Pelayanan Publik Sesuai Dengan


Undang-Undang No . 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik’.

Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik

36