Anda di halaman 1dari 28

CASE REPORT

TETANUS

Disusun Oleh:

Raditya Sakti Prabowo

1102011217

Dibimbing Oleh:

dr. Yunilasari, Sp.A

TUGAS KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK

RSUD KABUPATEN BEKASI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

PERIODE JUNI-OKTOBER 2019


BAB I

LAPORAN KASUS

1. IDENTITAS PASIEN

Nama : An. M

Jenis kelamin : Laki-laki

Umur : 7 Tahun 4 Bulan

No. RM : 158742

Alamat : KP. Rawa Lintah RT 02 RW 01, Mekar Mukti

Tanggal MRS : 27 Juli 2019

Tanggan pemeriksaan : 1 Agustus 2019

2. ANAMNESIS
A. Keluhan utama : Badan terasa kaku sejak 18 jam SMRS.
B. Riwayat Penyakit Sekarang : OS datang ke RSUD Kabupaten Bekasi diantar
oleh orang tua dengan keluhan badan terasa kaku sejak 18 jam SMRS. Pasien
memiliki riwayat jatuh dari sepeda dan terluka pada kaki yang disebabkan
oleh rantai sepeda. Keluhan timbul sekitar seminggu setelah pasien jatuh.
Keluhan diawali dengan mulut terasa kaku dan tidak bisa menoleh karena
adanya pembengkakan pada leher. Setelah itu OS mengeluhkan adanya rasa
kaku pada badan dan keluhan tersebut disertai dengan kejang seluruh tubuh
dengan tangan dan kaki lurus. Periode kejang tidak diperhatikan oleh orang
tua pasien, kejang pada pasien terjadi jika ada provokasi. Keluhan disertai
juga oleh sesak napas ketika akan dibawa ke rumah sakit. Orang tua pasien
menyangkal adanya demam pada pasien sejak awal. Pasien sulit untuk makan

2
karena rahang terasa kaku. Buang air besar dan buang air kecil pada pasien
lancer tidak ada keluhan.
C. Riwayat Penyakit Dahulu : Orang tua pasien menyangkal bahwa pasien
sebelumnya sudah pernah kejang dengan atau tanpa disertai demam. Keluhan
ini baru dirasakan pertama kali oleh pasien dan belum diobati
D. Riwayat Penyakit keluarga : Orang tua pasien menyangkal adanya riwayat
penyakit kejang atau serupa pada keluarga pasien. Serta tidak ada penyakit-
penyakit serius lainnya.
E. Riwayat Alergi : Orang tua pasien menyangkal adanya riwayat
alergi terhadap makanan, obat, dan udara dingin.
F. Riwayat Sosial Ekonomi : Pasien merupakan anak pertama dari ibu yang
tidak berkerja dan ayah yang bekerja serawutan. Keluarga pasien tergolong
dalam keluarga tidak mampu dan biaya pengobatan pasien seluruhnya
ditanggung oleh pemerintah.
G. Riwayat Imunisasi : Orang tua pasien mengaku tidak memberikan
imunisasi dengan lengkap pada pasien. Hanya memberikan imunisasi awal
saja seperti Hb0, polio awal, dan DPT hanya 2x sisanya orang tua pasien tidak
memberikan imunisasi lanjutan pada pasien.
H. Riwayat Nutrisi : 0-6 bulan pasien mengkonsumsi ASI ekslusif
dilanjutkan dengan ASI + MPASI. Namun ketika pasien lebih dewasa
diberikan nutrisi yang kurang oleh orang tua pasien. Sehari-hari pasien lebih
sering diberikan karbohidrat ketimbang protein yang cukup.

3. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum

 Sakit sedang
 Gizi buruk
o BB : 13 kg
o TB : 125 cm

3
o

4
o Berat badan pasien menurut curva cdc termasuk sangat kurus
o Tinggi badan pasien menurut curva cdc termasuk normal
o Status gizi pasien menurut curva cdc 13/22x100% = 59,09 % yang berarti
pasien memiliki gizi buruk karena kurang dari 80%
 Composmentis

Tanda Vital

 TD : Tidak diperiksa
 Nadi : 105 x/menit
 Pernapasan : 28 x/menit; tipe: thoracoabdominal
 Suhu : 36,9 0C

4. STATUS GENERALIS
 Kepala
Wajah : risus sardonikus (+)
Simetris muka : kanan = kiri
Deformitas : (-)
Rambut : hitam, lurus, sukar dicabut
 Mata
Eksoptalmus/enoptalmus : (-)
Gerakan : ke segala arah
Kelopak mata : dalam batas normal
Kongjungtiva : anemis (-)
Reflek Cahaya : langusng (+/+), tidak langsung (+/+)
 Telinga
Nyeri tekan di prosesus mastoideus : (-)
Pendengaran : dalam batas normal
 Hidung
Perdarahan : (-)
Sekret : (-)
 Mulut
Bibir : sianosis (-)
Trismus : (+) sekitar 4-5 cm
Gusi : perdarahan (-)
 Leher
Kelenjar getah bening : tidak ada pembesaran
Kelenjar thyroid : tidak ada pembesaran
Kaku kuduk : (+)
Tumor : (-)
 Thorax

5
Cor
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat.
Palpasi : Iktus kordis teraba pada linea mid
clavicularis sisnistra ICS V
Auskultasi : Bunyi Jantung I-II reguler,
murmur(-/-)
Gallop (-/-)

Pulmo
Inspeksi : Pergerakan dinding dada
simetris
bilateral
Palpasi : Fremitus taktil dan vokal
simetris
bilateral, nyeri tekan
hemitoraks dextra
dan sinistra (-)
Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : Vesikuler Breathing sound
simetris
kanan dan kiri, Ronkhi (-/-),
Wheezing
(-/-)
Thorax Belakang : Opistotonus (+)

 Abdomen
Inspeksi : Gerak dinding perut saat pernapasan
simetris.
Auskultasi : Bising usung (+).
Perkusi : Tidak dilakukan.
Palpasi : Tegang seperti papan, nyeri tekan
(+)

6
di seluruh regio abdomen.
 Alat kelamin : tidak dilakukan pemeriksaan
 Anus dan rectum : tidak dilakukan pemeriksaan
 Ekstremitas : akral hangat, edema pretibial -/-,
dorsum
pedis -/-, pembesaran KGB (-).
Pada cruralis posterior dextra
terdapat Vulnus laceratum yang
sudah di debridement dengan baik
 Kulit : Sawo matang, tidak tampak sianosis,
tidak tampak ikterik, tidak tampak
ruam, turgor kulit baik.

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
 HEMATOLOGI (tanggal 28/07/19)
o Darah Lengkap
Hemoglobin : 11,8 g/dl
Hematokrit : 34 %
Lekosit : 11,4 /mm3
Trombosit : 632,000 /mm3 (H)
Eritrosit : 4,40 juta /mm3
MCV : 76 fL
MCH : 27 ph/mL
MCHC : 35 q.dL
o Hitung Jenis
Basofil :0%
Eusinofil :1%
Neutrofil : 78 % (H)
Limfosit : 18 % (L)
Monosit :3%
o Laju Endap Darah (LED) : 20 mm/jam (H)
 KIMIA KLINIK
AST (SGOT) : 41 U/L (H)
ALT (SGPT) : 15 U/L
Ureum : 18 mg/dL
Kreatinin : 0.4 mg/dL
Natrium : 141 mmol/L
Kalium : 5,0 mmol/L
Klorida (Cl) : 105 mmol/L
GDS : 97 mg/dL

7
6. DIAGNOSIS
 Tetanus Grade 2
 Gizi buruk

7. PENATALAKSANAAN
 IVFD Kaen 3B 10 tpm
 Inj Diazepam 0,1/KgBB tiap 2 jam
 Tetagam 3000 IU
 Inj Metronidazole 2x550 mg
 Inj Paracetamol 1x150 mg bila perlu
 Inj Ranitidin 2x15 mg
 Diet protein 8x150 ml/kkal berupa polimerik

8. PROGNOSIS
Quo ad Vitam : Dubia at Bonam
Quo ad Sanactionam : Dubia at Bonam
Quo ad Functionam : Dubia at Bonam

9. RESUME

Seorang anak laki-laki umur 7 tahun datang ke RSUD Kabupaten Bekasi diantar
oleh orang tua dengan keluhan badan terasa kaku sejak 18 jam SMRS. Pasien
memiliki riwayat jatuh dari sepeda dan terluka pada kaki yang disebabkan oleh rantai
sepeda. Keluhan timbul sekitar seminggu setelah pasien jatuh. Keluhan diawali
dengan mulut terasa kaku dan tidak bisa menoleh karena adanya pembengkakan pada
leher. Setelah itu pasien mengeluhkan adanya rasa kaku pada badan dan keluhan
tersebut disertai dengan kejang seluruh tubuh dengan tangan dan kaki lurus. Periode
kejang tidak diperhatikan oleh orang tua pasien, kejang pada pasien terjadi jika ada
provokasi. Keluhan disertai juga oleh sesak napas ketika akan dibawa ke rumah sakit.
Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan pasien memiliki berat badan yang kurus,
tinggi badan normal, serta gizi buruk, tanda-tanda vital dalam batas normal, pada
wajah terdapat rinus sardonikus (+), pada mulut didapatkan trismus (+) sekitar 4-5
cm, pada leher kaku kuduk (+), pada thorax didapatkan opistotonus (+), pada
abdomen didapatkan tegang seperti papan, nyeri tekan (+) di seluruh regio abdomen,
pada cruralis posterior dextra terdapat Vulnus laceratum yang sudah di debridement

8
dengan baik. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan peningkatan pada trombosit,
neutrophil, LED, dan SGOT serta penurunan pada limfosit.

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang maka pasien ini


didiagnosis sebagai tetanus grade 2 dengan gizi buruk.

10. FOLLOW UP

28 Juli 2019 S/ Nyeri tenggorok P/


O/KU : Sakit sedang/ Konsul dr. Sa’adah, Sp.A
composmentis. - IVFD Kaen 3B 10tpm
- Inj Diazepam
Suhu: 37 C
0,1/KgBB setiap 2
Nadi: 130 x/m
jam
RR: 24 x/m
- Inj. Tetagam 3000 IU
BB: 13 kg - Inj. Metronidazole
A/ Susp. Tetanus 2x550 mg

29 Juli 2019 S/ Kaku (+) P/


O/ HR: 161 Advise dr. Yuliana Sp.GK
RR: 26 -pasang NGT bila
S: 36,9 mungkin
A/ Tetanus -Diet protein 8x150
ml/kkal
30 Juli 2019 S/ Trismus (+), Defans muscular P/
(+), Epistotonus (+), nyeri - IVFD Kaen 3B 10
tenggorokan, kejang (?) tpm
- Inj Diazepam
O: KU : Sakit sedang /
0,1/KgBB tiap 2 jam
composmentis
- Tetagam 3000 Iu PO
N: 105 x/menit - Inj Metronidazole
P: 28 x/menit 2x550 mg
- Inj Paracetamol 1x100
S: 36,70C

9
A/ Tetanus grade 2 mg
- Inj Ranitidin 2x15 mg
- Diet protein 8x150
ml/kkal

10
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi

Tetanus adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan meningkatnya


tonus otot dan spasme, yang disebabkan oleh tetanospasmin, suatu toksin protein
yang kuat yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Tetanus ini biasanya akut dan
menimbulkan paralitik spastik yang disebabkan tetanospasmin. Tetanospamin
merupakan neurotoksin yang diproduksi oleh Clostridium tetani.1

B. Etiologi

Kuman tetanus yang dikenal sebagai Clostridium Tetani; berbentuk batang


yang langsing dengan ukuran panjang 2–5 um dan lebar 0,3–0,5 um, termasuk gram
positif dan bersifat anaerob. Kuman tetanus ini membentuk spora yang berbentuk
lonjong dengan ujung yang bulat, khas seperti batang korek api (drum stick) Sifat
spora ini tahan dalam air mendidih selama 4 jam, obat antiseptik tetapi mati dalam
autoclaf bila dipanaskan selama 15–20 menit pada suhu 121°C. Bila tidak kena
cahaya, maka spora dapat hidup di tanah berbulan–bulan bahkan sampai tahunan. 2

Kuman tetanus tidak invasif. tetapi kuman ini memproduksi 2 macam


eksotoksin yaitu tetanospasmin dan tetanolisin. Tetanospasmin disebut juga
neurotoksin karena toksin ini melalui beberapa jalan dapat mencapai susunan saraf
pusat dan menimbulkan gejala berupa kekakuan (rigiditas), spasme otot dan kejang–
kejang. Tetanolisin menyebabkan lisis dari sel–sel darah merah. 2

C. Epidemiologi

11
Tetanus tersebar di seluruh dunia dengan angka kejadian tergantung pada
jumlah populasi masyarakat yang tidak kebal, tingkat populasi masyarakat yang tidak
kebal, tingkat pencemaran biologi lingkungan peternakan/ pertanian, dan adanya luka
pada kulit atau mukosa. Tetanus pada anak tersebar di seluruh dunia, terutama pada
daerah risiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah angka kejadian pada
anak laki-laki lebih tinggi, akibat perbedaaan aktivitas fisiknya. 3

Reservoir utama kuman ini adalah yang mengandung kotoran ternak, kuda
dan sebagainya, sehingga risiko penyakit ini didaerah peternakan sangat besar. Spora
kuman Clostridium tetani yang tahan terhadap kekeringan dapat bertebaran di mana-
mana; misalnya dalam debu jalanan, lampu operasi, bubuk antiseptic (dermatol),
ataupun pada alat suntik dan operasi. 3

Pada dasarnya tetanus adalah penyakit akibat penyakit pencemaran


lingkungan oleh bahan biologis (spora), sehingga upaya kausal menurunkan attack
rate berupa cara mengubah lingkungan fisik atau biologic. Port d’entre tak selalu
dapat diketahui dengan pasti, namun diduga melalui:
1. Luka tusuk, patah tulang komplikasi kecelakaan, gigitan binatang, luka
bakar yang luas
2. Luka operasi, luka yang tak dibersihkan (debridement) dengan baik.
3. Otitis media, karies gigi, luka kronik
4. Pemotongan tali pusat yang tidak steril, pembubuhan punting tali pusat
dengan kotoran binatang, bubuk kopi, bubuk ramuan dan daun-daunan
merupakan penyebab utama masuknya spora pada punting tali pusat
yang menyebabkan terjadinya kasus tetanus neonatorum. 3

D. Klasifikasi

12
Berdasarkan gambaran klinis yang telah dideskripsikan, maka tingkatan
penyakit tetanus dapat dibuat dalam suatu kriteria/derajat berat – ringannya penyakit.
Menurut berat ringannya tetanus dibagi atas: 1
1. Tetanus ringan : Trismus > 3 cm, tidak disertai kejang umum walaupun
dirangsang.
2. Tetanus sedang : trismus < 3 cm dan disertai kejang umum bila dirangsang.
3. Tetanus berat : trismus < 1 cm dan disertai kejang umum yang spontan.

Cole dan Youngman (1969) membagi tetanus umum atas :


GRADE DESKRIPSI
Grade I : Ringan Masa inkubasi lebih dari 14 hari.
Period of onset > 6 hari
Ttrismus + tapi tidak berat
Sukar makan dan minum tetapi disfagi tidak ada
Lokalisasi kekakuan dekat dengan luka berupa spasme
disekitar luka dan kekakuan umum terjadi beberapa jam
atau hari.
Grade II : Masa inkubasi 10-14 hari
Period of onset 3 hari atau kurang
Sedang
Trismus dan disfagi ada
Kekakuan umum terjadi dalam beberapa hari tetapi dispnoe
dan sianosis tidak ada
Grade III : berat Masa inkubasi < 10 hari
Period of onset < 3 hari
Trismus dan disfagia berat
Kekakuan umum dan gangguan pernapasan asfiksia,
ketakutan, keringat banyak dan takikardia.

Sedangkan Patel dan Joag membagi penyakit tetanus ini dalam tingkatan
dengan berdasarkan gejala klinis yang dibaginya dalam 5 kriteria :
Kriteria 1 : rahang kaku, spasme terbatas, disfagia, dan kekakuan otot tulang
belakang

13
Kriteria 2 : spasme saja tanpa melihat frekuensi dan derajatnya
Kriteria 3 : inkubasi antara 7 hari atau kurang
Kriteria 4 : waktu onset adalah 48 jam atau kurang
Kriteria 5 : kenaikan suhu rektal sampai 100 0 farenheit dan aksila sampai 990
farenheit

Dengan berdasarkan 5 kriteria di atas, maka dibuatlah tingkatan penyakit


tetanus sebagai berikut :
Tingkat I : Ringan, minimal 1 kriteria ( K1 / K2 ) mortalitas 0 %
Tingkat II : Sedang, minimal 2 kriteria ( K1& K2) dengan masa inkubasi > 7 hari
dan onset > 2 hari, moirtalitas 10 %
Tingkat III : Berat, minimal 3 kriteria dengan masa inkubasi < 7 hari dan onset <
2 hari, mortalitas 32%
Tingkat IV : Sangat berat, minimal ada 4 kriteria dengan mortalitas 60%
Tingat V : Biasanya mortalitas 84 % dengan 5 kriteria, termasuk di dalamnya
adalah tetanus neonatorum maupun puerpurium

E. Patogenesis

Biasanya penyakit ini terjadi setelah luka yang dalam misalnya luka yang
disebabkan tertusuk paku, pecahan kaca, kaleng atau luka tembak, karena luka
tersebut menimbulkan keadaan anaerob yang ideal. Selain itu luka laserasi yang
kotor, luka bakar dan patah tulang juga akan mengakibatkan keadaan anaerob yang
ideal untuk pertumbuhan C. tetani ini. Walaupun demekian luka-luka ringan seperti
luka gore, lesi pada mata, telinga atau tonsil dan traktus digestivus serta gigitan
serangga dapat pula gores, lesi pada mata, telinga atau tonsil dan traktus digestivus
serta gigitan serangga dapat pula merupakan porte d’entrée (tempat masuk) dari C.
tetani. Dibagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta, sering ditemukan telinga

14
dengan otitis media perforate merupakan tempat masuknya C. tetani, bila anamnestik
tidak ada luka. 3
Hipotesis mengenai cara absorbsi dan bekerjanya toksin:
 Toksin diabsorbsi pada ujung saraf motorik dan melalui aksis silindrik
dibawa ke kornu anterior susunan saraf pusat.
 Toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk ke dalam sirkulasi darah
arteri kemudian masuk ke dalam susunan saraf pusat.
Spora yang masuk ke dalam tubuh dan berada dalam lingkungan anerobik,
berubah menjadi vegetatife dan berbiak cepat sambil menghasilkan toksin. Dalam
jaringan yang anaerobic ini terdapat penurunan potensial oksidasi reduksi jaringan
dan turunnya tekanan oksigen jaringan akibat adanya benda asing, seperti bambu,
pecahan kaca dan sebagainya.
Hipotesa bahwa toksin pada awalnya merambat dari tempat luka lewat motor
endplate dan aksis silinder saraf tepi ke kornu anterior sumsum tulang belakang dan
menyebar ke seluruh susunan saraf pusat, lebih banyak dianut daripada lewat
pembuluh limfe dan darah. Pengangkuan toksin ini melewati saraf motorik, terutama
serabut motor. Reseptor khusus pada ganglion menyebabkan fragmen C toksin
tetanus menempel erat dan kemudian melalui proses perlekatan dan internalisasi,
toksin diangkut kea rah sel secara ekstra aksional dan menimbulkan perubahan
potensial membrane dan gangguan enzim yang menyebabkan kolin-esterase tidak
aktif, sehingga kadar asetilkolin menjadi sangat tinggi pada sinaps yang terkena.
Toksin menyebabkan blockade pada simpul yang menyalurkan impuls pada tonus
otot, sehingga tonus otot meningkat dan menimbulkan kekakuan. Bila tonus makin
meningkat akan timbul kejang, terutama pada otot yang besar.

Dampak Toksin
1. Dampak pada ganglion pra sumsum tulang belakang disebabkan oleh
karena eksotoksin memblok sinaps jalur antagonis, mengubah

15
keseimbangan dan koordinasi impuls sehingga tonus otot meningkat dan
otot menjadi kaku.
2. Dampak pada otak, diakibatkan oleh toksin yang menempel pada cerebral
gangliosides diduga menyebabkan kekakuan dan kejang yang khas pada
tetanus
3. Dampak pada saraf autonom, terutama mengenai saraf simpatis dan
menimbulkan gaya keringat yang berlebihan, hipertermia, hipotensi,
hipertensi, aritmia, heart block atau tokikardia

F. Manifestasi Klinis
Variasi masa inkubasi sangat lebar, biasanya berkisar anatara 5-14 hari. Makin
lama masa inkubasi, gejala yang timbul makin ringan. Derajat berat penyakit selain
berdasarkan gejala klinis yang tampak juga dapat diramalkan dari lama masa inkubasi
atau lama period of onset. Kekakuan dimulai pada otot setemapat atau trismus,
kemudian menjalar ke seluruh tubuh, tanpa disertai gangguan kesadaran. Kekakuan
tetanus sangat khas, yaitu fleksi kedua lengan dan ekstensi pada kedua kaki, fleksi
pada kedua kaki, tubuh kaku melengkung bagai busur.
Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin
bertambah terutama pada rahang dan leher. Dalam waktu 48 jam penyakit ini menjadi
nyata dengan :

1. Trismus (kesukaran membuka mulut) karena spasme otot-otot


mastikatoris.
2. Kaku kuduk sampai epistotonus (karena ketegangan otot-otot erector
trunki)
3. Ketegangan otot dinding perut (harus dibedakan dengan abdomen akut)
4. Kejang tonik terutama bila dirangsang karena toksin terdapat di kornu
anterior.

16
5. Risus sardonikus karena spasme otot muka (alis tertarik ke atas),sudut
mulut tertarik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi.
6. Kesukaran menelan,gelisah, mudah terangsang, nyeri anggota badan
sering merupakan gejala dini.
7. Spasme yang khas , yaitu badan kaku dengan epistotonus, ekstremitas
inferior dalam keadaan ekstensi, lengan kaku dan tangan mengepal kuat.
Anak tetap sadar. Spasme mula-mula intermitten diselingi periode
relaksasi. Kemudian tidak jelas lagi dan serangan tersebut disertai rasa
nyeri. Kadang-kadang terjadi perdarahan intramusculus karena kontraksi
yang kuat.
8. Asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada otot pernapasan dan
laring. Retensi urine dapat terjadi karena spasme otot urethral. Fraktur
kolumna vertebralis dapat pula terjadi karena kontraksi otot yang sangat
kuat.
9. Panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir.
10. Biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang-kadang peninggian
tekanan cairan otak. 6
Ada 4 bentuk klinik dari tetanus, yaitu:
1. tetanus local: otot terasa sakit, lalu timbul rebiditas dan spasme pada
bagian paroksimal luak. Gejala itu dapat menetap dalam beberapa minggu
dan menhilang tanpa sekuele.
2. Tetanus general merupakan bentuk paling sering, timbul mendadak
dengan kaku kuduk, trismus, gelisah, mudah tersinggung dan sakit kepala
merupakan manifestasi awal. Dalam waktu singkat konstruksi otot
somatik — meluas. Timbul kejang tetanik bermacam grup otot,
menimbulkan aduksi lengan dan ekstensi ekstremitas bagian bawah. Pada
mulanya spasme berlangsuang beberapa detik sampai beberapa menit dan
terpisah oleh periode relaksasi.

17
3. Tetanus sephal : varian tetanus local yang jarang terjadi masa inkubasi 1-2
hari terjadi sesudah otitis media atau luka kepala dan muka.
Paling menonjol adalah disfungsi saraf III, IV, VII, IX dan XI tersering
adalah saraf otak VII diikuti tetanus umum.
4. Neonatal tetanus :Biasanya disebabkan infeksi C. tetani, yang masuk
melalui tali pusat sewaktu proses pertolongan persalinan. Spora yang
masuk disebabkan oleh proses pertolongan persalinan yang tidak steril,
baik oleh penggunaan alat yang telah terkontaminasi spora C.tetani,
maupun penggunaan obat-obatan
Menurut berat gejala dapat dibedakan 3 stadium :
1. Trismus (3 cm) tanpa kejang-lorik umum meskipun dirangsang.
2. Trismus (3 cm atau lebih kecil) dengan kejang torik umum bila
dirangsang.
3. Trismus (1 cm) dengan kejang torik umum spontan.

G. Diagnosis

Biasanya tidak sukar. Anamnesis terdapat luka dan ketegangan otot yang khas
terutama pada rahang sangat membantu. Anamnesis yang teliti dan terarah selain
membantu menjelaskan gejala klinis yang kita hadapi juga mempunyai arti diagnostic
dan prognostic. Anamnesis yang dapat membantu diagnosis antara lain:
• Apakah dijumpai luka tusuk, luka kecelakaan/patah tulang terbuka,
luka dengan nanah atau gigitan binatang
• Apakah pernah keluar nanah dari telinga
• Apakah menderita gigi berlobang
• Apakah sudah pernah mendapat imunisasi DT atau TT, kapan
imunisasi yang terakhir
• Selang waktu antara timbulnya gejala klinis pertama (trismus atau
spasme local) dengan kejang yang pertama (periode of onset). 3

18
Diagnosis banding
Untuk membedakan diagnosis banding dari tetanus, tidak akan sular sekali
dijumpai dari pemeriksaan fisik, laboratorium test (dimana cairan serebrospinal
normal dan pemeriksaan darah rutin normal atau sedikit meninggi, sedangkan SGOT,
CPK dan SERUM aldolase sedikit meninggi karena kekakuan otot-otot tubuh), serta
riwayat imunisasi, kekakuan otot otot tubuh), risus sardonicus dan kesadaran yang
tetap normal.

I. Penatalaksanaan
A. Umum
Tujuan terapi ini berupa mengeliminasi kuman tetani, menetralisirkan
peredaran toksin, mencegah spasme otot dan memberikan bantuan pemafasan
sampai pulih. Dan tujuan tersebut dapat diperinci sbb :
1. Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya, berupa:
Membersihkan luka, irigasi luka, debridement luka (eksisi jaringan
nekrotik),membuang benda asing dalam luka serta kompres dengan
H202 ,dalam hal ini penatalaksanaan, terhadap luka tersebut dilakukan 1
-2 jam setelah ATS dan pemberian Antibiotika. Sekitar luka disuntik ATS.
2. Diet cukup kalori dan protein, bentuk makanan tergantung kemampuan
membuka mulut dan menelan. Hila ada trismus, makanan dapat diberikan
personde atau parenteral.
3. Isolasi untuk menghindari rangsang luar seperti suara dan tindakan
terhadap penderita
4. Oksigen, pernafasan buatan dan trachcostomi bila perlu.
5. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit. 6

B. Obat- obatan
1. Antibiotika :

19
Diberikan parenteral Peniciline 1,2juta unit / hari selama 10 hari, IM.
Sedangkan tetanus pada anak dapat diberikan Peniciline dosis 50.000 Unit /
KgBB/12 jam secafa IM diberikan selama 7-10 hari. Bila sensitif terhadap
peniciline, obat dapat diganti dengan preparat lain seperti tetrasiklin dosis 30-
40 mg/kgBB/ 24 jam, tetapi dosis tidak melebihi 2 gram dan diberikan dalam
dosis terbagi ( 4 dosis ). Bisa juga diberikan metronidazole dengan dosis
infus: 7,5 mg/kg tiap 8 jam. Oral: (usia 1-10 tahun) 40 mg/kg dalam dosis
tunggal, atau 15-30 mg/kg dalam 2-3 dosis terbagi selama 7 hari. Dosis
maksimal: 2 gram/dosis. Bila tersedia Peniciline intravena, dapat digunakan
dengan dosis 200.000 unit /kgBB/24 jam, dibagi 6 dosis selama 10 hari.
Antibiotika ini hanya bertujuan membunuh bentuk vegetatif dari C.tetani,
bukan untuk toksin yang dihasilkannya. Bila dijumpai adanya komplikasi
pemberian antibiotika broad spektrum dapat dilakukan. 6

2. Antitoksin

Antitoksin dapat digunakan Human Tetanus Immunoglobulin ( TIG) dengan


dosis 3000-6000 U, satu kali pemberian saja, secara IM tidak boleh diberikan
secara intravena karena TIG mengandung "anti complementary aggregates of
globulin ", yang mana ini dapat mencetuskan reaksi allergi yang serius. Bila
TIG tidak ada, dianjurkan untuk menggunakan tetanus antitoksin, yang
berawal dari hewan, dengan dosis 40.000 U, dengan cara pemberiannya
adalah : 20.000 U dari antitoksin dimasukkan kedalam 200 cc cairan NaC1
fisiologis dan diberikan secara intravena, pemberian harus sudah diselesaikan
dalam waktu 30-45menit. Setengah dosis yang tersisa (20.000 U) diberikan
secara IM pada daerah pada sebelah luar. 5

3.Tetanus Toksoid

20
Pemberian Tetanus Toksoid (TT) yang pertama,dilakukan bersamaan dengan
pemberian antitoksin tetapi pada sisi yang berbeda dengan alat suntik yang
berbeda. Pemberian dilakukan secara I.M. Pemberian TT harus dilanjutkan
sampai imunisasi dasar terhadap tetanus selesai.

J. Pencegahan
1. Mencegah terjadinya luka
2. Perawatan luka yang adekuat
3. Pemberian anti tetanus (ATS) dalam beberapa jam setelah luka yaitu untuk
memberikan kekebalan pasif, sehingga dapat dicegah terjadinya tetanus
gejalanya ringan. Umumnya diberikan 1.500 U intramuskulus dengan
didahului oleh uji kulit dan mata.
4. Pemberian toksoid tetanus pada anak yang belum pernah mendapat
imunisasi aktif pada minggu-minggu berikutnya setelah pemberian ATS,
kemudian diulangi lagi dengan jarak waktu 1bulan 2 kali berturut-turut.
5. Pemberian penisilin prokain selama 2-3 hari setelah mendapat luka berat
(dosis 50.000 U/kgBB/hari).
6. Imunisasi aktif. Toksoid tetanus diberikan agar anak membentuk
kekebalan secara aktif. Sebagai vaksinasi dasar diberikan bersama
vaksinasi terhadap pertusis dan difteria, dimulai pada umur 3 bulan.
Vaksinasi ulangan (booster) diberikan 1 tahun kemudian dan pada usia 5
tahun serta selanjutnya setiap 5 tahun diberikan hanya bersama toksoid
difteria (tanpa vaksin pertusis).
Bila terjadi luka berat pada seseorang anak yang telah mendapat imunisasi
atau toksoid tetanus 4 tahun yang lalu, maka kepadanya wajib diberikan pencegahan
dengan suntikan sekaligus antioksin dan toksoid pada kedua ekstremitas (berlainan
tempat suntikan). 4

21
K. Komplikasi
1. Spasme otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air liur (saliva) di
dalam rongga mulut dan hal ini memungkinkan terjadinya aspirasi
sehingga dapat terjadi pneumonia aspirasi.
2. Asfiksia
3. Atelektasis karena obstruksi oleh secret
4. Fraktura kompresi
Komplikasi pada tetanus yaang sering dijumpai: laringospasm, kekakuan otot-
otot pernafasan atau terjadinya akumulasi sekresi berupa pneumonia dan atelektase
serta kompressi fraktur vertebra dan laserasi lidah akibat kejang. Selain itu bisa
terjadi rhabdomyolisis dan renal failure. 4

L. Prognosis

Dipengaruhi oleh beberapa factor dan akan buruk pada masa tunas yang
pendek (kurang dari 7hari), usia yang sangat muda (neoatus) dan usia lanjut, bila
disertai frekuensi kejang yang tinggi, kenaikan suhu tubuh yang tinggi, pengobatan
yang terlambat, periode of onset yang pendek (jarak antara trismus dan timbulnya
kejang) dan adanya komplikasi terutama spasme otot pernafasan dan obstruksi
saluran pernafasan.
Prognosis tetanus diklassikasikan dari tingkat keganasannya, dimana :
1. Ringan; bila tidak adanya kejang umum ( generalized spasm )
2. Sedang; bila sekali muncul kejang umum
3. Berat ; bila kejang umum yang berat sering terjadi.
Masa inkubasi neonatal tetanus berkisar antara 3 -14 hari, tetapi bisa lebih
pendek atau pun lebih panjang. Berat ringannya penyakit juga tergantung pada
lamanya masa inkubasi, makin pendek masa inkubasi biasanya prognosa makin jelek.

22
Prognosa tetanus neonatal jelek bila:
1. Umur bayi kurang dari 7 hari
2. Masa inkubasi 7 hari atau kurang
3. Periode timbulnya gejala kurang dari 18 jam
4. Dijumpai muscular spasm
Case Fatality Rate (CFR) tetanus berkisar 44-55%,sedangkan tetanus
neonatorum >60%. 4

BAB 3

PEMBAHASAN

23
Hasil anamnesis terhadap keluhan pasien anak umur 7 tahun adalah terdapat
kaku badan 18 jam sebelum masuk rumah sakit. Keluhan timbul seminggu setelah
pasien jatuh dari sepeda. Keluhan diawali dengan mulut terasa kaku dan tidak bisa
menoleh karena adanya pembengkakan pada leher. Setelah itu pasien mengeluhkan
adanya rasa kaku pada badan dan keluhan tersebut disertai dengan kejang seluruh
tubuh dengan tangan dan kaki lurus. Periode kejang tidak diperhatikan oleh orang tua
pasien, kejang pada pasien terjadi jika ada provokasi.

Dari hasil anamnesis diatas terlihat bahwa pasien kemungkinan menderita


tetanus karena sesuai dengan manifestasi klinis dari tetanus. Lebih tepatnya tetanus
grade 2 karena onset yang timbul pada pasien ini termasuk sedang (sekitar 1 minggu
atau lebih setelah jatuh) dan kejang yang terjadi pada pasien terjadi jika ada provokasi
seperti disentuh atau suara dan cahaya bukan kejang spontan.

Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan pasien menderita malnutrisi karena


bb/tb didapatkan kurang dari sama dengan -3 SD, tanda-tanda vital dalam batas
normal, pada wajah terdapat rinus sardonikus (+), pada mulut didapatkan trismus (+),
pada leher kaku kuduk (+), pada thorax didapatkan opistotonus (+), pada abdomen
didapatkan tegang seperti papan, nyeri tekan (+) di seluruh regio abdomen.

Dari hasil pemeriksaan fisik diatas terlihat bahwa dugaan pasien terhadap
tetanus semakin kuat karena adanya gejala khas pada tetanus seperti rinus sardonikus,
trismus, dan opistotonus yang positif. Namun dalam pasien ini terdapat masalah lain
berupa malnutrisi berat sehingga pasien mendapat terapi pemberian protein 8x150
ml/kkal.

Terapi yang didapat pasien pada kasus ini berupa IVFD Kaen 3B 10 tpm, Inj
Diazepam 0,1/KgBB tiap 2 jam, Tetagam 3000 Iu PO, Inj Metronidazole 2x550 mg,
Inj Paracetamol 1x100 mg, Inj Ranitidin 2x15 mg, Diet protein 8x150 ml/kkal

24
Infus yang diberikan pada pasien ini adalah kaen 3B karena merupakan
larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan
kandungan kalium cukup untuk mengatasi ekskresi harian, pada keadaan asupan oral
terbatas karena adanya trismus (+) pada pasien ini.

Diazepam diberikan untuk mengatasi kejang pada pasien yang disebabkan


oleh toksin yang menempel pada cerebral gangliosides diduga menyebabkan
kekakuan dan kejang yang khas pada tetanus.

Tetagam merupakan merk dagang dari Human Tetanus Immunoglobulin


diberikan dengan dosis 3000-6000 unit satu kali pemberian saja, secara IM tidak
boleh diberikan secara intravena karena TIG mengandung "anti complementary
aggregates of globulin ", yang mana ini dapat mencetuskan reaksi allergi yang serius.

Metronidazole adalah antibiotik untuk mengobati berbagai infeksi akibat


bakteri. Obat ini tergolong dalam kelas antibiotik yang dikenal dengan
nitroimidazoles. Cara kerja obat metronidazole adalah dengan menghentikan
pertumbuhan bakteri dan protozoa..

Paracetamole diberikan pada pasien sebagai analgesik untuk mengatasi rasa


sakit pada pasien. Obat ini dipakai untuk meredakan rasa sakit ringan hingga
menengah, serta menurunkan demam bila terdapat demam pada pasien.

Ranitidine diberikan untuk mengurangi produksi asam lambung pada pasien.


Diketahui pada kasus ini pasien sulit untuk makan karena adanya trismus. Sehingga
ada baiknya diberikan ranitidine secara intravena agar menjaga lambung pasien untuk
tidak luka.

Prognosis pada pasien termasuk dubia ad bonam pada ketiganya (vitam,


sanactionam, dan functionam) karena masa inkubasi lebih dari 7 hari periode
timbulnya gejala lebih dari 18 jam serta penanganan yang cepat pada pasien ini.

25
Setelah pasien sembuh disarankan untuk pemberian imunisasi tetanus toxoid
agar menambah kekebalan pasien terhadap tetanus.

DAFTAR PUSTAKA

26
1. Sumarmo SPS, Garna H, Hadinegoro SR, Satari HI. Buku Ajar Infeksi dan
penyakit Tropis : Tetanus. Edisi 2. IDAI. 2008
2. Barkin RM, et al. Dev Biol Stand. 1999.Diphtheria and tetanus toxoids and
pertussis vaccine adsorbed (DTP): response to varying immunizing dosage
and schedule.
3. Merdjani, A., dkk. 2003. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis.Badan
Penerbit IDAI, Jakarta.
4. Dr. Rusepno Hasan, dkk. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jilid II. Hal 568-72.. Cetakan kesebelas
Jakarta: 2005.
5. Stephen S. tetanus edited by.Behrman, dkk. Dalam Ilmu Kesehatan Anak
Nelson Hal.1004-07. Edisi 15-Jakarta : EGC, 2000
6. http://74.125.153.132/search?q=cache:Bmq-xfKW6OsJ:library. usu.ac.id/
download/ fk/ penysaraf-kiking2. pdf+tetanus&cd=1&hl=id&ct= clnk&gl=id .
Diakses tanggal 4 Juni 2019

27