Anda di halaman 1dari 9

PEMAKAMAN DESA TRUNYAN

TRADISI MAKRE-KARE
TRADISI OMED-OMEDAN

TRADISI MEKOTEK
GEBUK ENDE SERAYA

TRADISI MESDES BANGKE


TRADISI MAKEPUNG

MEGIBUNG DI KARANGASEM
TRADISI MESURYAK

UPACARA MELATI
Berikut macam-macam tradisi unik yang ada di beberapa tempat di pulau Bali, serta penjelasan
detailnya berikut;

1. Pemakaman Desa Trunyan

Pada umumnya orang meninggal di Bali, terutama bagi umat Hindu selain dikubur bisa
dibakar atau dikremasi langsung, namun demikian suatu tradisi unik dengan budaya yang berbeda
bisa anda temukan di Desa Trunyan Kintamani, kabupaten Bangli, yang juga merupakan salah satu
desa Bali Aga. Pada saat orang meninggal, maka tubuh atau jasad orang tersebut hanya diletakkan
di bawah pohon Menyan, jasad tersebut diletakkan di atas tanah tanpa dikubur, hanya dipagari
oleh bambu (ancak saji) agar tidak dicari oleh binatang atau hewan liar, anehnya tidak sedikitpun
dari jasad tersebut berbau busuk, sampai akhirnya tinggal tersisa tulang belulang saja, dan tulang
belulang itu nantinya diletakkan pada sebuah tempat di kawasan tersebut, pemakaman di Trunyan
ini melengkapi daftar budaya dan tradisi unik bumi Nusantara – Indonesia. Karena keunikan
tersebut pemakaman desa tradisional Trunyan menjadi destinasi wisata di pulau Bali yang menjadi
tujuan tour wisatawan.

2. Tradisi Mekare-Kare

Mekare-kare ini dikenal juga dengan perang pandan, tradisi unik di pulau Bali hanya
dilakukan di desa tradisional Tenganan, Karangasem yang dikenal juga sebagai desa Bali Aga.
Perang dilakukan berhadap-hadapan satu lawan satu dengan masing-masing memegang segepok
pandan berduri sebagai senjata. Desa Tenganan juga merupakan salah satu desa Bali Aga, yang
mengklaim sebagai penduduk Bali Asli. Mekare-kare atau perang Pandan digelar saat Ngusaba
kapat (Sasih Sambah) atau sekitar bulan Juni. Budaya dan tradisi unik tersebut digelar di halaman
Bale Agung dilangsungkan selama 2 hari dan dimulai jam 2 sore, ritual atau prosesi tersebut
bertujuan untuk menghormati Dewa Perang atau Dewa Indra yang merupakan dewa Tertinggi bagi
umat Hindu di Tenganan. Desa ini menjadi salah satu destinasi wisata dan tujuan tour populer di
pulau Bali.

3. Tradisi Omed-Omedan

Budaya dan tradisi unik ini digelar di tengah kota Denpasar, tepatnya di Banjar Kaja, Desa
Sesetan, Denpasar Selatan. Digelar setahun sekali, bertepatan saat hari Ngembak Geni atau sehari
setelah hari Raya Nyepi, tradisi unik dimulai sekitar pukul 14.00 selama 2 jam. Prosesi ini hanya
diikuti oleh kalangan muda-mudi atau yang belum menikah dengan umur minimal 13 tahun, omed-
omedan berarti tarik menarik antar pemuda dan pemudi warga banjar dan terkadang dibarengi
dengan adegan ciuman diantara keduanya. Tradisi ini digelar sebagai wujud kegembiraan setelah
pelaksanaan Hari Raya Nyepi, ini sebuah warisan budaya leluhur di pulau Bali, memiliki nilai
sakral dan dipercaya akan mengalami hal buruk jika tradisi ini tidak dilangsungkan. Tradisi ini
menjadi salah satu atraksi wisata yang bisa dinikmati saat tour pada hari Ngembak Geni.
4. Tradisi Mekotek

Prosesi atau ritual Mekotek ini hanya bisa anda temukan di desa Munggu, Kecamatan
Mengwi, Badung. Dikenal juga dengan Gerebeg Mekotek, tradisi unik di pulau Bali ini digelar
setiap 6 bulan (210 hari) sekali, tepatnya saat perayaan Hari Raya Kuningan (10 hari setelah
Galungan). Prosesi ini digelar dengan tujuan tolak Bala untuk melindungi dari serangan penyakit
dan juga memohon keselamatan. Pada mulanya tradisi Mekotek, menggunakan tongkat besi, untuk
menghindari agar peserta tidak ada yang terluka, maka digunakanlah kayu Pulet sepanjang 2-3.5
meter yang kulitnya sudah dikupas sehingga terlihat halus. Tongkat-tongkat tersebut dipadukan
menjadi satu formasi sebuah kerucut, suara “tek,tek” kayu berbenturan tersebut sehingga dikenal
dengan Mekotek. Budaya dan tradisi unik di Badung Bali ini masih terjaga lestari sampai sekarang
ini.

5. Gebug Ende Seraya

Atraksi ini dikenal juga dengan perang rotan, yang mana dua orang laki-laki berhadap-
hadapan dan saling serang dengan sebatang rotan sepanjang 1.5-2 meter kemudian tangan satunya
memegang tameng untuk menangkis serangan lawan, diantara keduanya dibatasi dengan batang
rotan (garis tengah) agar tidak masuk ke wilayah lawan. Perang rotan ini tidak hanya perlu
ketangkasan saja tetapi juga keberanian, karena setiap peserta bisa saja kena pukulan rotan lawan.
Tradisi unik di desa Seraya, Karangasem – Bali Timur ini menjadi sebuah budaya yang diwariskan
sampai sekarang, tujuan utama dari prosesi Gebug Ende ini adalah ritual tradisional untuk
memohon hujan, dan ini dilakukan pada musim kemarau yaitu di bulan Oktober – Nopember setiap
tahunnya. Kondisi geografis dari desa Seraya yang berada di wilayah perbukitan memang rentan
dengan masalah air, itulah sebabnya ritual memohon hujan ini dilangsungkan di desa ini. Seraya
juga memiliki sejumlah destinasi wisata yang bisa dikunjungi saat tour di pulau Bali.

6. Tradisi Mesbes Bangke

Sebuah budaya dan tradisi yang benar-benar ekstrim dan unik di pulau Bali. Tradisi ini
berlangsung di Banjar Buruan, Tampak Siring, Gianyar ini memang , tradisi Mesbes Bangke atau
mencabik-cabik mayat memang terlihat mengerikan dan menyeramkan, apalagi bagi mereka yang
baru pertama kali ataupun mengenal tradisi tersebut. Yang mana jasad atau mayat seseorang yang
akan dikremasi (ngaben), akan dicabik-cabik oleh warga banjar Buruan sebelum menuju tempat
pembakaran mayat, mayat tersebut akan ditunggu oleh warga di luar pekarangan rumah, setelah
mayat tersebut keluar dari pintu gerbang rumah, barulah warga mencabik-cabik mayat tersebut,
karena bersemangat, bahkan ada sampai naik ke atas mayat yang sedang diusung. Tradisi hanya
ini berlaku untuk mereka yang ngaben sendiri (pribadi) tidak berlaku untuk ngaben massal. Budaya
dan tradisi unik di Gianyar ini masih berlangsung sampai sekarang ini.
7. Tradisi Makepung

Makepung sendiri berarti berkejar-kejaran, menggunakan sepasang hewan kerbau, dan di


pulau Dewata Bali hanya bisa anda temukan di kabupaten Jembrana, sehingga dengan tradisi
Makepung ini, kabupaten Jembrana dikenal juga dengan “Bumi Makepung”. Adu kecepatan
dengan kerbau dikendalikan oleh seorang joki atau sais, berlomba mengejar kerbau yang berpacu
di depannya, pemenangnya ditentukan oleh kerbau yang mampu mempersempit atau
memperlonggar jarak pacuan antara dua pasang kerbau yang berkejar-kejaran, tidak ditentukan
siapa yang lebih dulu ke garis finish. ini menjadi tradisi tahunan yang diikuti oleh kelompok tani
di Jembrana. Kerbau pacuan dipilih dan diperlakukan khusus bak seorang atlet, bahkan sebelum
perlombaan dimulai pemilik tidak lupa melakukan ritual. Digelar setiap Minggu diantara bulan
Juli sampai Nopember setiap tahunnya. Atraksi wisata ini bisa menjadi agenda tour anda, saat anda
liburan pada waktu yang tepat di pulau Bali.

8. Tradisi Megibung Di Karangasem

Tradisi makan bersama saat ada hajatan upacara adat menjadi budaya masyarakat
Karanagsem di Bali Timur, seperti saat ada acara pernikahan, otonan, 3 bulanan ataupun upacara
adat lainnya, masih bertahan sampai sekarang ini di Kabupaten Karangasem, walaupun beberapa
warga sekarang ini terkadang menyiapkan makan prasmanan (makan jalan) saat ada hajatan, tetapi
tradisi megibung ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Bahkan pada waktu Bupati Karangasem I
Wayan Geredeg pernah menggelar megibung massal di objek wisata Taman Ujung Karangasem
dan memecahkan rekor Muri. Megibung atau makan bersama oleh sekelompok orang yang terdiri
dari 5-6 orang dinamakan “sele” duduk mengitari “gibungan” yaitu segepok nasi di atas dulang
atau nampan, lengkap dengan sayur dan lauk pauk yang dinamakan “karangan” dan kemudian
mereka makan bersama menikmati menikmati gibungan dan karangan.

9. Tradisi Mesuryak

Sebuah tradisi unik di pulau Bali yang merupakan warisan budaya leluhur ini hanya bisa
ditemukan di desa Bongan, Kabupaten Tabanan. Budaya dan Tradisi di Tabanan ini digelar
bertujuan untuk penghormatan terhadap para leluhur dengan secara suka cita, bersorak beramai-
ramai dengan memberikan perbekalan seperti beras dan uang. Tradisi bersorak beramai-ramai ini
kemudian dibarengi dengan melempar uang ke udara dan diperebutkan oleh warga dinamakan
tradisi Mesuryak. Tradisi ini digelar setiap 6 bulan sekali yaitu pada Hari Raya Kuningan.
Rangkaian prosesi ini berkaitan dengan perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan, setelah
leluhur hadir di tengah keluarga mulai dari hari Raya Galungan, kemudian pada saat Kuningan
diantar kembali ke Nirwana dengan berbagai sesajian dan perbekalan.
10. Upacara Melasti

Melasti dilakukan setiap tahun sekali dalam rangkaian Hari Raya Nyepi di Bali, namun
demikian upacara Melasti juga dilakukan pada hari-hari tertentu saat piodalan pada sebuah pura
sesuai dengan hari yang ditentukan. Melasti dikenal dengan mekiis atau melis menuju tempat-
tempat sumber air seperti laut, danau ataupun mata air. Namun Melasti atau melis di pulau Bali
secara serempak digelar setiap setahun sekali yaitu 3-4 hari sebelum hari raya Nyepi sekitar bulan
Maret. Saat Melasti semua pretima, senjata nawa sanga, umbul-umbul dan kober di arak ke sumber
air seperti ke laut untuk disucikan dan menghanyutkan segala malaning bumi ataupun kotoran,
dimaksudkan juga menghanyutkan segala penderitaan manusia melalui air kehidupan, dan
kemudian menyucikan diri dengan angamet (mengambil) tirta amertha, untuk mendapatkan sari-
sari kehidupan. Budaya dan tradisi ini menjadi warisan budaya leluhur Bali yang terjaga dengan
baik sampai saat ini.