Anda di halaman 1dari 4

Panduan Praktik Klinis

Diagnosis Peyakit: Hemoptysis

No Dokumen : No Revisi :00 Halaman : 1 / 4

Ditetapkan
STANDAR TanggalTerbit : Direktur,
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO dr. EkoWahyu Agustin, MM
.
Pengertian Batuk darah atau Hemoptoe atau Hemoptysis adalah batuk yang
disertai darah yang berasal dari saluran napas bawah atau
parenkim paru.
Batuk darah massif bila jumlah darah yang keluar > 600 ml
dalam 24 jam.
Etiologi :
1. Karsinoma Bronkogenik
2. Bronkiektasis
3. Tuberkulosis Paru
4. Abses Paru
5. Adenoma Bronkial
6. Eksaserbasi PPOK
7. Kardiovaskuler
8. AV Malformation
Anamnesis 1. Membedakan batuk darah dan muntah darah.
Batuk darah: darah dibatukkan dengan rasa panas
ditenggorokan, darah berbuih bercampur udara, darah segar
berwarna merah muda, darah bersifat alkalis.
Muntah darah: darah dimuntahkan dengan rasa mual, darah
bercampur sisa makanan, darah berwarna kehitaman, darah
bersifat asam.
2. Bagaimana batuk darahnya?
Batuk darah disertai sputum yang purulen dicurigai penyakit
yang mendasari adalah infeksi paru. Bila batuk darah tanpa
sputum yang purulen dicurigai penyakit yang mendasari
adalah tuberculosis paru, karsinoma, atau infark paru. Bila
batuk darah berbau busuk dicurigai abses paru, bila batuk
darah berupa frothy sputum dicurigai edema paru.
3. Pola batuk darah.
Bronkitis atau bronkiektasis mengalami batuk dahak
berulang. Jika batuk darah terjadi setiap bulan yang
berhubungan dengan saat menstruasi dicurigai sebagai
Catamenial hemoptysis.
4. Anamnesis tentang gejala otolaring, jantung, dan paru yang
dapat membantu melokalisir sumber perdarahan.
5. Faktor risiko sebagai kondisi penyebab.
Merokok, usia, trauma dada, riwayat bepergian ke daerah
endemis parasit, virus, jamur, atau bakteri tertentu.
6. Gejala lain yang menyertai.
Bila terdapat gejala lain seperti penurunan berat badan
disertai batuk darah dicurigai sebagai karsinoma. Bila
terdapat riwayat keringat malam, demam yang tidak tinggi
dicurigai sebagai tuberculosis. Bila batuk darah disertai
hematuri dicurigai sebagai Good Pasture Syndrome.
Pemeriksaan  Pemeriksaan saluran nafas atas harus dilakukan untuk
Fisik menentukan sumber perdarahan di tempat tersebut.
 Rongga mulut harus diperiksa dengan cermat.
 Suara nafas tambahan seperti wheezing dan ronki dapat
timbul akibat penyempitan saluran nafas oleh gumpalan
darah.
Kriteria 1. Anamnesis
Diagnosis 2. Pemeriksaan Fisik
3. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis Kerja Hemoptysis
Diagnosis 1. Karsinoma Bronkogenik
Banding 2. Bronkiektasis
3. Tuberkulosis Paru
4. Abses Paru
5. Adenoma Bronkial
6. Eksaserbasi PPOK
7. Kardiovaskuler
8. AV Malformation
Pemeriksaan  Pemeriksaan laboratorium: Hb, Trombosit, Faal Hemostasis,
Penunjang SGOT, SGPT, Analisis Gas Darah, Urea, Serum Kreatinin,
Serum Elektrolit, Pemeriksaan Sputum BTA (Bakteri Tahan
Asam) dan sitologi sputum, kultur sputum.
 Pemeriksaan radiologi: foto thoraks sangat bermanfaat,
dibuat dengan proyeksi PA dan Lateral. Dari foto thoraks
dapat ditemukan lesi seperti : kavitas, massa, fungus ball
atau airfluid level.
 Bronkoskopi: sangat bermanfaat untuk diagnosis dan terapi
batuk darah. Dengan bronkoskopi dapat diketahui lokasi
perdarahan, dapat mengetahui lesi yang menyebabkan
perdarahan, juga digunakan untuk mengambil material
untuk pemeriksaan.
Indikasi Bronkoskopi:
- Bila tidak didapatkan kelainan radiologik.
- Batuk darah yang berulang-ulang.
- Batuk darah yang massif sebagai tindakan terapeutik
yaitu membersihkan gumpalan darah yang
keluar/penghisapan dan untuk menghentikan perdarahan
dengan cara : iced saline lavage, instilasi topical agent
(epinefrin, thrombin, thrombin-fibrinogen), Endobronkial
tamponade, laser fotokoagulasi.
 Arteriografi Bronkial: dengan pemeriksaan Arteriografi
Bronkial diduga dapat melokalisir pembuluh darah
berkelok-kelok atau dilatasi yang dicurigai sebagai sumber
perdarahan.
 CT Scan, Aortografi:
- Bila dicurigai aneurisma aorta pada batuk darah,
pemeriksaan aortografi dapat membantu diagnosis aorto-
bronchial communication.
- CT scan dada paling sering dikerjakan pada penderita
occult hemoptysis, sebab CT scan dapat mendeteksi Ca
paru masih kecil, Bronkiolitiasis atau Bronkiektasis.
Tata Laksana Tujuan terapi adalah :
- mencegah tersumbatnya saluran pernapasan oleh bekuan
darah
- mencegah kemungkinan penyebaran infeksi
- menghentikan perdarahan.

A. Penatalaksanaan Konservatif
1. Menenangkan penderita dan memberitahu penderita agar
jangan takut-takut membatukkan darahnya.
2. Penderita diminta berbaring pada posisi bagian paru yang
sakit atau sedikit trendelenberg, terutama bila refleks
batuknya tidak adekuat.
3. Jaga agar jalan nafas tetap terbuka. Bila terdapat tanda-
tanda sumbatan jalan nafas perlu dilakukan penghisapan
atau bila diperlukan dilakukan pemasangan pipa
endotrakeal. Pemberian oksigen hanya berarti bila jalan
nafas bebas hambatan/sumbatan.
4. Pemasangan IV line atau IVFD untuk penggantian cairan
maupun untuk jalur pemberian obat parenteral.
5. Pemberian obat hemostatik belum jelas manfaatnya pada
batuk darah yang tidak disertai kelainan faal hemostatik.
6. Obat-obat dengan efek sedasi ringan dapat diberikan bila
penderita gelisah. Obat-obat penekan refleks batuk hanya
diberikan bila terdapat batuk yang berlebihan dan
merangsang timbulnya perdarahan lebih banyak.
7. Transfusi darah diberikan bila hematokrit turun dibawah
nilai 25 – 30 % atau Hb di bawah 10gr% sedang
perdarahan masih berlangsung.

B. Penatalaksanaan Bedah
Indikasi tindakan bedah menurut Busroh (1978) :
1. Batuk darah >600cc/24jam dan dalam pengamatan batuk
darah tidak berhenti.
2. Batuk darah 250 – 600cc/24jam, Hb<10gr% dan batuk
darah berlangsung terus.
3. Batuk darah 250 – 600cc/24jam, Hb>10gr% dan dalam
pengamatan 48 jam perdarahan tidak berhenti.

Indikasi operasi menurut Amitana ( 1968 ) :


1. Perhatikan sumber perdarahan.
2. Aspirasi berulang.
3. Adanya kavitas penyebab terjadinya perdarahan
berulang.
4. Faal paru yang minimal sehingga setiap perdarahan
menyebabkan ancaman kematian.

Tindakan bedah meliputi :


1. Reseksi paru : lobektomi atau pneumonektomi.
2. Terapi kolaps : pneumoperitonium, pneumothoraks
artifisial, torakoplasti, frenikolisis ( membuat paralise n.
phrenicus ).
3. Lain-lain : embolisasi artificial.
Penyulit 1. Terjadinya asfiksia karena adanya pembekuan darah dalam
saluran pernapasan.
2. Jumlah darah yang dikeluarkan selama terjadinya batuk
darah dapat menimbulkan syok hipovolemik.
3. Atelektasis karena sumbatan saluran napas sehingga paru
bagian distal akan mengalami kolaps.
4. Aspirasi Pneumonia yaitu infeksi yang terjadi beberapa jam
atau beberapa hari setelah perdarahan.
Edukasi 1. Menjelaskan tentang diagnosis penyakitnya dan
penatalaksanaannya ( konservatif dan bedah ).
2. Menjelaskan agar jangan takut-takut membatukkan
darahnya dan cara batuk yang benar.
3. Menjelaskan posisi berbaring pada posisi bagian paru yang
sakit atau sedikit trendelenberg, terutama bila refleks
batuknya tidak adekuat.
Konsultasi  Dokter Spesialis Paru
 Dokter Spesialis yang lain sesuai dengan etiologi batuk darah
Prognosis Dubious ad bonam
Tingkat
Evidens
Tingkat
Rekomendasi
Penelaah Kritis SMF Paru RS Muhammadiyah Lamongan
Indikator
Medis
Kepustakaan Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru, Departemen Ilmu Penyakit Paru,
FK Unair – RSUD dr.Soetomo, Surabaya, Tahun 2010.