Anda di halaman 1dari 13

Sterilisasi gas merupakan


pilihan lain yang digunakan
untuk sterilisasi alat/bahan
yang sensitif terhadap
panas.

Beberapa parameter sterilisasi
gas Et
-
O mencakup:

Semakin tinggi konsentrasi gas
umumnya memerlukan waktu
untuk proses sterilisasi semakin
cepat. Konsentrasi biasa
dinyatakan dalam mg/L ruang
chamber

Semakin tinggi suhu, semakin cepat
reaksi berjalan. Sterilisasi
suhu rendah biasa menggunakan
suhu 47

60C

Kelembaban untuk meningkatkan
daya penetrasi gas

Waktu siklus satu kali proses
sterilisasi sekitar 2

6 jam,
tergantung pada suhu dan
konsentrasi.
Sterilisasi
Gas atau Etilen
Oksida
http://dhadhang.files.wordpress.com/2013/10/cara-cara-sterilisasi.pdf

2.4.1.
Metode Sterilisasi
Metode yan
g
digunakan untuk sterilisasi peralatan bedah minor di rumah
sakit, menggunakan perangkat CSSD (
Central Sterile Supplies Department)
,
dimana alat
-
alat dibersihkan, disiapkan, dan dikemas pada
central sterilizing
department
, di
-
otoklaf dalam amplop kertas tertutup dan dikirim ke ruang
perawatan atau ruang operasi. Jika tidak ada fasilitas CSSD, dapat
digunakan
alternatif lain (Brown, 1995).
Menurut Schrock (1991), m
etode
lengkap suatu sterilisasi dengan
penggunaan yang luas, hanyalah: Gas dengan tekanan (oto
klaf), pemanasan kering
dan gas etilen oksida.
Universitas
Sumatera
Utara
1.
Otoklaf
Gas jenuh pada tekanan 750 mmHg dan suhu 120
°
C, membunuh semua
bakteri vegetatif dan sebagian besar spora yang tahan dalam suasana
kering,
dalam waktu 13 menit. Penambahan waktu (biasanya hingga total
30 menit), akan
memungkinkan penembusan panas dan gas lembab ke dalam pusat
paket yang
disterilkan.
Otoklaf modern yang bertekanan udara negatif atau dengan tekanan
tinggi,
bekerja dengan waktu yang lebih singkat.
2.
Pemanasan kering
Benda
-
benda yang mudah ru
sak dengan gas lembab, atau benda yang
sebaiknya tetap tinggal kering, dapat disterilkan dengan pemanasan
kering, pada
suhu 170
°
C selama 1 jam. Pada benda berlemak, sterilisasi cara ini akan
memakan
waktu 4 jam, dengan suhu 160
°
C (320
°
F).
3.
Sterilisasi denga
n gas
Etilen oksida cair dan gas, memusnahkan bakteri, virus, jamur, dan
spora.
Pada kontak dengan kulit, senyawa ini akan menimbulkan
peradangan, peracunan
dan luka bakar yang hebat. Untuk alat
-
alat yang tak dapat disterilkan dengan
otoklaf, misalnya alat
-
alat teleskopik, alat
-
alat dari plastik atau karet, alat
-
alat
yang peka dan lembut, kabel listrik dan ampul bersegel, sterilisasi
gas merupakan
pilihan utama.
Beberapa bahan (akrilat, polistirena, dan bahan
-
bahan farmasi) bereaksi
dengan etilen oksida, sehingga rusak. Maka terhadap bahan
-
bahan tersebut, harus
dipilih cara lain. Sterilisasi dengan gas memerlukan waktu 1 jam 45
menit, yaitu
bila gas yang dipakai, sama dengan gas yang dipakai pada otoklaf,
ialah campuran
dari 12% etilen oksida dan 88% dikloro
difloro
-
metana (Freon 12), pada suhu
55
°
C dan tekanan 410 mmHg. Setelah sterilisasi, dibutuhkan waktu
beberapa saat
untuk mengeluarkan gas dari bahan.
4.
Perebusan
Secara tradisional metode desinfeksi peralatan adalah dengan
merebusnya
dalam air mendidih sela
ma 5 menit (100
°
C atau 212
°
F); spora bakteri, dan virus
Universitas
Sumatera
Utara
tidak akan hancur dan oleh karena itu jenis sterilisasi ini dianjurkan
tidak
digunakan (Brown, 1995).
Perebusan hanya dilaksanakan, bila alat
-
alat tak dapat disterilkan dengan
otoklaf, pemanasan ker
ing, dan sterilisasi dengan gas.
Waktu sterilisasi minimal pada perebusan di air adalah 30 menit,
(pada
tempat yang berketinggian di atas permukaan air laut yang kurang
dari 300
meter).
Pada tempat yang berketinggian lebih dari itu, diperlukan waktu
perebu
san
yang lebih lama. Penambahan alkali, meningkatkan daya guna
bakterisidal,
sehingga lamanya sterilisasi dapat dipersingkat, hanya 15 menit.
5.
Perendaman dalam antiseptika
Sterilisasi dengan perendaman dalam antiseptika, biasanya
merupakan pilihan
terakhir,
apabila keempat cara di atas tak bisa dipakai atau didapat. Pada
keadaan
-
keadaan tertentu, cara ini mungkin akan lebih dibutuhkan atau lebih
praktis,
misalnya untuk mensterilkan alat
-
alat yang berlensa, alat
-
alat pemotong yang
halus. Macam
-
macam gerisida
dapat dipilih untuk keperluan ini, adalah
Glutaraldehida 2% dalam larutan alkali. Cairan ini mempunyai aksi
bakterisidal
dan virusidal dalam waktu 3 jam (Schrock, 1991). Ini akan
mendesinfeksi
peralatan jika direndam selama 10 menit, dan akan menjadi steri
l jika direndam
selama 10 jam (Brown, 1995).
Secara tradisional, alkohol 70% merupakan larutan yang paling
banyak
dipakai dengan penambahan Klorheksidin 0.5%. Larutan ini banyak
digunakan
untuk desinfeksi darurat peralatan bedah yang hanya memerlukan
waktu
dua
menit (Brown, 1995)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31209/4/Chapter%20II.pdf

Sterilisasi dan Metode Sterilisasi

Ilmu Farmasi : Artikel ini akan membahas mengenai sterilisasi dan metode sterilisasi atau
macam macam sterilisasi, jenis jenis sterilisasi (seterilisasi panas lembab, sterilisasi panas
kering, sterilisasi ultraviolet/EM, sterilisasi gas, filterisasi dan sterilisasi pengion/sinar gamma)

Steril adalah kondisi sediaan yang terbebas dari partikel asing non self, tidak terdapat/tercemar
mikroorganisme serta memenuhi persyaratan yang menyatakan sediaan tersebut steril. Sterilisasi
adalah
tahapan atau proses yang bertujuan sediaan tersebut menjadi steril.
Secara umum metode pembuatan sediaan steril dibagi menjadi 2 : metode sterilisasi akhir dan
metode aseptis. Pemilihan metode disesuaikan dengan stabilitas zat aktif, formula dan metode
sterilisasi yang digunakan.
1. Metode sterilisasi akhir
Metode sterilisasi akhir merupakan proses sterilisasi yang dilakukan setelah sediaan selesai
dikemas, untuk selanjutnya dilakukan sterilisasi, jenis metode sterilisasi yang sering digunakan
adalah metode sterilisasi panas lembab menggunakan autoklaf, namun sterilisasi akhir dapat
dilakukan dengan berbagai metode (panas kering, filterisasi, EM, pengion, gas, dsb),
pertimbangan untuk memilih metode sterilisasi yang sesuai adalah dengan mempertimbangkan
kestabilan bahan dan zat yang terhadap panas atau kelembaban (Stabilitas, Kompatibilitas dan
Efektifitas serta Efisiensi).
2. Cara aseptik
Cara aseptik bukan termasuk metode sterilisasi. Cara aseptik hanya bisa dilakukan khusus untuk
zat aktif yang tidak tahan/rusak terhadap suhu tinggi, antibiotik dan beberapa hormon merupakan
contoh sediaan dengan perlakuan metode aseptis.
Cara aseptis pada prinsipnya adalah cara kerja untuk memperoleh sediaan steril dengan cara
mencegh kontaminasi jasad renik/partikel asing kedalam sediaan. Proses cara aseptisnya adalah
melakukan sterilisasi pada semua bahan sediaan (pada awal sebelum pembuatan sediaan) sesuai
dengan sifat dari bahan yang digunakan. kemudian dilanjutkan pada proses pembuatan dan
pengemasan dalam ruang steril atau didalam laminar air flow untuk mencegah kontaminasi. Pada
proses aseptis masih terdapat celah terjadinya kontaminasi, sehingga apabila metode sterilisasi
akhir bisa dilakukan maka metode aseptis tidak perlu dilakukan.

Macam Macam Metode Sterilisasi


a. Sterilisasi Panas/thermal
sterilisasi panas merupakan sterilisasi yang dianggap paling efektif, tetapi kelemahannya tidak
bisa diaplikasikan pada zat aktif yang tidak tahan panas/rusak karna panas, sterilisasi panas
dibagi menjadi 2 :

 Sterilisasi Panas Lembab : Sterilisasi panas lembab adalah sterilisasi dengan


menggunakan uap panas dibawah tekanan berlangsung didalam autoklaf, umumnya
dilakukan dalam uap jenuh dalam waktu 30 menit dengan suhu 115 C - 116 C, lama dan
suhu tergantung bahan yang disterilisasi, untuk mengetahuinya lihat farmakope indonesia
 Sterilisasi Panas Kering : metode sterilisasi dengan menggunakan oven pada suhu160-
170 C selama 1-2 jam. umumnya sterilisasi panas dilakukan pada jenis minyak, serbuk
yang tidak stabil terhadap uap air, dan alat-alat gelas ukur yang tidak digunakan untuk
pengukuran (Bukan alat ukur)

b. Sterilisasi Radiasi
Sterilisasi radiasi dibagi menjadi 2 :

 Radiasi elektromagnetik (EM) adalah sterilisasi menggunakan sinar ultraviolet (UV).


sinar UV ini memotong DNA mikroorganisme sehingga ekspresi DNA tidak terjadi.
keterbatasannya sterilisasi cara ini hanya bisa bekerja pada permukaan, tidak bisa
menembuh bahan padat.
 Radiasi pengion adalah metode sterilisasi yang menggunakan sinar gamma untuk
merusak DNA mikroorganisme, kelebihannya bisa menembus zat padat

c. Sterilisasi Gas
Sterilisasi menggunakan gas etilen oksida, kelemahannya zat ini mudah terbakar, bersifat
mutagenik dan toksik, sehingga dikhawatirkan terdapat residu setelah sterilisasi. Pilihan
sterilisasi cara gas biasanya pilihan akhir bila zat tidak tahan panas ataupun uap air.
d. Sterilisasi Filtrasi
Sterilisasi yang menggunakan alat khusus yang menggunakan penyaring/filter matriks pori pori
tertentu. menggunakan pori pori 10 nm untuk virus dan 0,22 nm untuk bakteri
http://ilmu-kefarmasian.blogspot.com/2013/03/sterilisasi-dan-metode-sterilisasi.html

Sterilisasi Gas

Pharmaceutical Technology : 281

Sterilisasi gas digunakan dalam pemaparan gas atau uap untuk membunuh mikroorganisme

dan sporanya. Meskipun gas dengan cepat berpenetrasi ke dalam pori dan serbuk padat,

sterilisasi adalah fenomena permukaan dan mikroorganisme yang terkristal akan dibunuh.

Sterilisasi yang digunakan dalam bidang farmasi untuk mensterilkan bahan-bahan dan

menghilangkan dari bahan yang disterilkan pada akhir jalur sterilisasi, gas ini tidak inert, dan

kereaktifannya terhadap bahan yang disterilkan harus dipertimbangkan misalnya thiamin,

riboflavin, dan streptomisin kehilangan protein ketika disterilkan dengan etilen oksida.

Etilen oksida bereaksi sebagai bakterisida dengan alkalis asam amino, hidroksi atau gugus

sulfur dari enzim seluler atau protein. Beberapa lembab dibutuhkan untuk etilen oksida

berpenetrasi dan menghancurkan sel. Kelembaban rendah misalnya minimal 20%, angka

kematian tidak logaritmik (tidak nyata). Tetapi mikroorganisme muncul peningkatan

resistensinya dengan penurunan kelembaban. Dalam prakteknya, kelembaban dalam chamber

pensteril ditingkatkan dari 50-60% dan dipegang untuk suatu waktu pada permukaan dan

kelembaban membran sel sebelum penggunaan etilen oksida.

Etilen oksida bersifat eksplosif ketika dicampur dengan udara. Penghilangan sifat eksplosif

dengan menggunakan campuran etilen oksida dan karbondioksida. Seperti Carboxide, Oxyfume

20, campuran etilen oksida dengan hidrokarbon terflouronasi seperti Storoxide 12. keduanya
diluent inert yang mempunyai tekanan uap yang tinggi dan bereaksi sebagai pembakar etilen

oksida keluar dari silinder masuk ke dalam chamber steril. Komponen terfloronasi mempunyai

keuntungan over karbondioksida yang disimpan dalam wadah yang ringan dan campuran

mengizinkan tekanan parsial tinggi dari etilen oksida pada chamber pensteril pada tekanan total

yang sama.

Sterilisasi gas berjalan lambat waktu sterilisasi tergantung pada keberadaan kontaminasi

kelembaban, temperatur dan konsentrasi etilen oksida. Konsentrasi minimum etilen oksida dalam

450 mg/L, 271 Psi, konsentrasi ini 85°C dan 50% kelembaban relativ dibutuhkan 4-5 jam

pemaparan. Di bawah kondisi sama 1000 mg/L membutuhkan sterilisasi 2-3 jam. Dalam partikel

6 jam pemaparan etilen oksida digunakan untuk menyiapkan tepi yang aman dan

memperbolehkan waktu untuk penetrasi gas ke dalam bahan sterilisasi. Sisa gas dihilangkan

dengan terminal vakum dilanjutkan oleh pembersihan udara yang difiltrasi. Cara ini digunakan

untuk mensterilkan obat serbuk seperti penisilin, juga telah digunakan untuk sterilisasi benang,

plastik tube. Penggunaan etilen oksida untuk sterilisasi akhir peralatan parenteral tertentu seperti

kertas karf dan lapisan tipis polietilen. Semprot aerosol etilen oksida telah digunakan untuk

mensterilkan daerah sempit dimana dilakukan teknik aseptis.

Validation of Pharmaceutical Processes : 151

Gas yang biasa digunakan adalah etilen oksida dalam bentuk murni atau campuran dengan

gas inert lainnya. Gas ini sangat mudah menguap dan sangat mudah terbakar. Merupakan agen

alkilasi yang menyebabkan dekstruksi mikroorganisme termasuk sel-sel spora dan vegetatif.

Sterilisasi dilakukan dalam ruang/chamber sterilisasi.


Sterilisasi menghasilkan bahan toksik seperti etilen klorohidrin yang menghasilkan ion

klorida dalam bahan-bahan. Digunakan untuk sterilisasi ala-alat medis dan baju-baju medis,

bahan-bahan seperti pipet sekali pakai dan cawan petri yang digunakan dalam laboratorium

mikrobiologi. Residu etilen oksida adalah bahan yang toksik yang harus dihilangkan dari bahan –

bahan yang disterilkan setelah proses sterilisasi, yang dapat dilakukan dengan mengubah suhu

lebih tinggi dari suhu kamar. Juga perlu dilakukan perlindungan terhadap personil dari efek

berbahaya gas ini.

Faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi ini termasuk kelembaban, konsentrasi gas,

suhu dan distribusi gas dalam chamber pengsterilan. Penghancuran bakteri tergantung pada

adanya kelembaban, gas dan suhu dalam bahan pengemas, penetrasi melalui bahan pengemas,

pada pengemas pertama atau kedua, harus dilakukan, persyaratan desain khusus pada bahan

pengemas.

Mekanisme aksi etilen oksida

Teori dan Praktek Farmasi Industri : 1286

Etilen oksida dianggap menghasilkan efek letal terhadap mikroorganisme dengan

mengalkilasi metabolit esensial yang terutama mempengaruhi proses reproduksi. Alkilasi ini

barangkali terjadi dengan menghilangkan hidrogen aktif pada gugus sulfhidril, amina, karboksil

atau hidroksil dengan suatu radikal hidroksi etil metabolit yang tidak diubah dengan tidak

tersedia bagi mikroorganisme sehingga mikroorganisme ini mati tanpa reproduksi.

http://rgmaisyah.wordpress.com/2009/03/15/metode-sterilisasi/