Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

DIRUANG IGD RSUD DR. MOCH. ANSARI SALEH

SNAKE BITE

Disusun oleh

SYED ALWI FERRYADA (1114160528)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DARUL AZHAR

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

KABUPATEN TANAH BUMBU

TAHUN 2020
SNAKE BITE

A. Definisi
Gigitan ular adalah suatu keadan yang disebabkan oleh gigitan ular berbisa. Bisa
ular adalah kumpulan dari terutama protein yang mempunyai efek fisiologik yang luas
atau bervariasi. Yang mempengaruhi sistem multiorgan, terutama neurologik,
kardiovaskuler, dan sistem pernapasan

B. Etiologi
Terdapat 3 famili ular yang berbisa, yaitu Elapidae, Hidrophidae, dan Viperidae. Bisa
ular dapat menyebabkan perubahan lokal, seperti edema dan pendarahan. Banyak bisa
yang menimbulkan perubahan lokal, tetapi tetap dilokasi pada anggota badan yang
tergigit. Sedangkan beberapa bisa Elapidae tidak terdapat lagi dilokasi gigitan dalam
waktu 8 jam.
Daya toksik bisa ular yang telah diketahui ada beberapa macam :
a. Bisa ular yang bersifat racun terhadap darah (hematoxic) Bisa ular yang bersifat racun
terhadap darah, yaitu bisa ular yang menyerang dan merusak (menghancurkan) sel-sel
darah merah dengan jalan menghancurkan stroma lecethine (dinding sel darah
merah), sehingga sel darah menjadi hancur dan larut (hemolysin) dan keluar
menembus pembuluh-pembuluh darah, mengakibatkan timbulnya perdarahan pada
selaput tipis (lender) pada mulut, hidung, tenggorokan, dan lain-lain.
b. Bisa ular yang bersifat saraf (Neurotoxic)
Yaitu bisa ular yang merusak dan melumpuhkan jaringan-jaringan sel saraf sekitar
luka gigitan yang menyebabkan jaringan-jaringan sel saraf tersebut mati dengan
tanda-tanda kulit sekitar luka gigitan tampak kebiru-biruan dan hitam (nekrotis).
Penyebaran dan peracunan selanjutnya mempengaruhi susunan saraf pusat dengan
jalan melumpuhkan susunan saraf pusat, seperti saraf pernafasan dan jantung.
Penyebaran bisa ular keseluruh tubuh, ialah melalui pembuluh limfe.
c. Bisa ular yang bersifat Myotoksin
Mengakibatkan rabdomiolisis yang sering berhubungan dengan maemotoksin.
Myoglobulinuria yang menyebabkan kerusakan ginjal dan hiperkalemia akibat
kerusakan sel-sel otot.
d. Bisa ular yang bersifat kardiotoksin
Merusak serat-serat otot jantung yang menimbulkan kerusakan otot jantung.
e. Bisa ular yang bersifat cytotoksin
Dengan melepaskan histamin dan zat vasoaktifamin lainnya berakibat terganggunya
kardiovaskuler.
f. Bisa ular yang bersifat cytolitik
Zat ini yang aktif menyebabkan peradangan dan nekrose di jaringan pada tempat
gigitan.
g. Enzim-enzim
Termasuk hyaluronidase sebagai zat aktif pada penyebaran bisa.

C. Patofisiologi
Bisa ular yang masuk ke dalam tubuh, menimbulkan daya toksin. Toksik tersebut
menyebar melalui peredaran darah yang dapat mengganggu berbagai system. Seperti,
sistem neurogist, sistem kardiovaskuler, sistem pernapasan.
Pada gangguan sistem neurologis, toksik tersebut dapat mengenai saraf yang
berhubungan dengan sistem pernapasan yang dapat mengakibatkan oedem pada saluran
pernapasan, sehingga menimbulkan kesulitan untuk bernapas.
Pada sistem kardiovaskuler, toksik mengganggu kerja pembuluh darah yang dapat
mengakibatkan hipotensi. Sedangkan pada sistem pernapasan dapat mengakibatkan syok
hipovolemik dan terjadi koagulopati hebat yang dapat mengakibatkan gagal napas.
Patway
D. Tanda dan Gejala
Secara umum, akan timbul gejala lokal dan gejala sistemik pada semua gigitan ular.
Gejala lokal: edema, nyeri tekan pada luka gigitan, ekimosis (kulit kegelapan karena
darah yang terperangkap di jaringan bawah kulit).
Sindrom kompartemen merupakan salah satu gejala khusus gigitan ular berbisa, yaitu
terjadi oedem (pembengkakan) pada tungkai ditandai dengan 5P: pain (nyeri), pallor
(muka pucat), paresthesia (mati rasa), paralysis (kelumpuhan otot), pulselesness
(denyutan).
Tanda dan gejala khusus pada gigitan family ular :
a. Gigitan Elapidae
Misal: ular kobra, ular weling, ular welang, ular sendok, ular anang, ular cabai, coral
snakes, mambas, kraits), cirinya:
1. Semburan kobra pada mata dapat menimbulkan rasa sakit yang berdenyut, kaku
pada kelopak mata, bengkak di sekitar mulut.
2. Gambaran sakit yang berat, melepuh, dan kulit yang rusak.
3. 15 menit setelah digigit ular muncul gejala sistemik. 10 jam muncul paralisis
urat-urat di wajah, bibir, lidah, tenggorokan, sehingga sukar bicara, susah
menelan, otot lemas, kelopak mata menurun, sakit kepala, kulit dingin, muntah,
pandangan kabur, mati rasa di sekitar mulut dan kematian dapat terjadi dalam 24
jam.
b. Gigitan Viperidae/Crotalidae
Misal pada ular tanah, ular hijau, ular bandotan puspo, cirinya:
1. Gejala lokal timbul dalam 15 menit, atau setelah beberapa jam berupa bengkak di
dekat gigitan yang menyebar ke seluruh anggota badan.
2. Gejala sistemik muncul setelah 50 menit atau setelah beberapa jam.
3. Keracunan berat ditandai dengan pembengkakan di atas siku dan lutut dalam
waktu 2 jam atau ditandai dengan perdarahan hebat.
c. Gigitan Hydropiidae
Misalnya, ular laut, cirinya:
1. Segera timbul sakit kepala, lidah terasa tebal, berkeringat, dan muntah.
2. Setelah 30 menit sampai beberapa jam biasanya timbul kaku dan nyeri
menyeluruh, dilatasi pupil, spasme otot rahang, paralisis otot, mioglobulinuria
yang ditandai dengan urin warna coklat gelap (ini penting untuk diagnosis), ginjal
rusak, henti jantung.
d. Gigitan Crotalidae
Misalnya ular tanah, ular hijau, ular bandotan puspo, cirinya:
1. Gejala lokal ditemukan tanda gigitan taring, pembengkakan, ekimosis, nyeri di
daerah gigitan, semua ini indikasi perlunya pemberian polivalen crotalidae
antivenin.
2. Anemia, hipotensi, trombositopeni.
Tanda dan gejala lain gigitan ular berbisa dapat dibagi ke dalam beberapa kategori:

a. Efek lokal, digigit oleh beberapa ular viper atau beberapa kobra menimbulkan rasa
sakit dan perlunakan di daerah gigitan. Luka dapat membengkak hebat dan dapat
berdarah dan melepuh. Beberapa bisa ular kobra juga dapat mematikan jaringan
sekitar sisi gigitan luka.
b. Perdarahan, gigitan oleh famili viperidae atau beberapa elapid Australia dapat
menyebabkan perdarahan organ internal, seperti otak atau organ-organ abdomen.
Korban dapat berdarah dari luka gigitan atau berdarah spontan dari mulut atau luka
yang lama. Perdarahan yang tak terkontrol dapat menyebabkan syok atau bahkan
kematian.
c. Efek sistem saraf, bisa ular elapid dan ular laut dapat berefek langsung pada sistem
saraf. Bisa ular kobra dan mamba dapat beraksi terutama secara cepat menghentikan
otot-otot pernafasan, berakibat kematian sebelum mendapat perawatan. Awalnya,
korban dapat menderita masalah visual, kesulitan bicara dan bernafas, dan kesemutan.
d. Kematian otot, bisa dari russell’s viper (Daboia russelli), ular laut, dan beberapa
elapid Australia dapat secara langsung menyebabkan kematian otot di beberapa area
tubuh. Debris dari sel otot yang mati dapat menyumbat ginjal, yang mencoba
menyaring protein. Hal ini dapat menyebabkan gagal ginjal.
e. Mata, semburan bisa ular kobra dan ringhal dapat secara tepat mengenai mata korban,
menghasilkan sakit dan kerusakan, bahkan kebutaan sementara pada mata.

E. Klasifikasi
Gigitan ular berbahaya jika ularnya tergolong jenis berbisa. Sebenarnya dari kira – kira
ratusan jenis ular yang diketahui hanya sedikit sekali yang berbisa, dan dari golongan ini
hanya beberapa yang berbahaya bagi manusia. (de Jong, 1998).
Di seluruh dunia dikenal lebih dari 2000 spesies ular, namun jenis yang berbisa hanya
sekitar 250 spesies. Berdasarkan morfologi gigi taringnya, ular dapat diklasifikasikan ke
dalam 4 familli utama yaitu:
a. Famili Elipadae, terdiri dari : Najabungarus (king cobra), berwarna coklat hijau dan
terdapat di Sumatra dan Jawa. Najatripudrat Sputatrix (cobra hitam, ular sendok)
panjangnya sekitar 1,5 meter terdapat di Sumatra dan Jawa. Najabungarus Candida
(ular sendok berkaca mata) sangat berbahaya dan terdapat di India.
b. Famili Viperidae, terdiri dari : Ancistrodon Rodostom (ular tanah), Lacheis Graninius
(ular hijau pohon), Micrurus Fulvius (ular batu koral).
c. Famili Hidropidae meupakan ular laut yang mempunyai ekor pipeh seperti dayung
biasanya berkepala kecil.
d. Familli Colubridae, misalnya ular pohon.
Ciri – Ciri Ular Berbisa :

Ular berbisa Ular tidak berbisa


1. Bentuk kepala segitiga 4. Bentuk kepala segi empat panjang
2. Dua gigi taring besar di rahang atas 5. Gigi taring kecil
3. Bekas gigitan dua luka gigitan 6. Bekas gigitan luka halus berbentuk
utama akibat gigi taring lengkungan

Perbedaan Ular Berbisa Dan Ular Tidak Berbisa :

Tidak berbisa Berbisa


Bentuk kepala Bulat Elips, segitiga
Gigi taring Gigi kecil 2 gigi taring besar
Bekas gigitan Lengkung seperti U Terdapat 2 titik
Warna Warna warni Gelap

Gigitan ular dapat diklasifikasikan beberapa derajat, antara lain :

a. Derajat 0
Tidak ada keracunan, hanya ada bekas taring dan gigitan ular, nyeri minimal dan
terdapat edema dan eritema kurang dari 1 inci dalam 12 jam, pada umunya gejala
sistemik yang lain tidak ada.
b. Derajat I
Terjadi keracunan menimal, terdapat bekas taring dan gigitan, terasa sangat nyeri dan
edema serta eritema seluas 1- inci dalam 12 jam, tidak ada gejala sistemik.
c. Derajat II
Terjadi keracunan tingkat sedang terdapat bekas taring dan gigitan, terdapat sangat
nyeri dan edema serta eritema yang terjadi meluas antara 6-12 inci dalam 12 jam.
Kadang-kadang dijumpai gejala sistemik seperti mual, gejala neurotoksi, syok,
pembesaran kelenjar getah bening regional.
d. Derajat III
Terdapat gejala keracunan yang hebat, bekas taring dan gigitan, terasa sangat nyeri,
edema dan eritema yang terjadi luasnya lebih dari 12 inci dalam 12 jam. Juga terdapat
gejala sistemik seperti hipotensi, petekhiae, dan ekimosis serta syok.
e. Derajat IV
Gejala keracunan sangat berat, terdapat bekas taring dan gigitan yang multiple,
terdapat edema dan local pada bagian distal ekstremitas dan gejala sistemik berupa
gagal ginjal, koma sputum berdarah.
F. Komplikasi
1. Syok hipovolemik
2. Edema paru
3. Kematian
4. Gagal nafas

G. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium Darah :
1. 20 Minute Whole Bloot Clotting Test : pemerikasaan sensitif untuk mendeteksi
gangguan koagulasi darah. Darah vena dimasukkan kedalam botol kaca murni
yang belum pernah di gunakan, didiamkan selama 20 menit, jika darah tidak
membeku berarti terjadi gangguan koagulasi darah akibat bisa ular.
2. Pemeriksaan koagulasi darah lainnya: Prothrombin time, Activated Partial
Thromboplastin Time, International Normalized Ratio dapat memanjang. Produk
degradasi fibrinogen seperti D-dimer dapat meningkat.
3. Pemeriksaan darah lainnya meliputi leukosit, trombosit, Hemoglobin, hematokrit
dan hitung jenis leukosit. Faal Hemostasis Cross Match, Serum elektrolit, Faal
ginjal
4. Pemeriksaan Darah Kimia : ureum, kreatinin, serum meningkat pada gagal ginjal
akut.
5. Anlisis Gas Darah : menunjukkan gagal nafas pada neurotosisitas dan aseidemia
akibat asidosis metabolik atau respiratorik.
b. Pemeriksaan Urinalis : untuk mendeteksi myoglubinuria (hematuria, gilkosuria,
proteinuria).
c. Pemeriksaan Radiologi :
1. Rontgen thoraks : mendeteksi edema pulmonal, perdarahan paru, red cell casts,
efusi pleura, pneumonia sekunder.
2. USG : menilai area lokalis ada tidaknya thrombosis vena, mendeteksi efusi pleura
dan pericardial, mendeteksi perdarahan pada rongga-rongga tubuh
(intraabdominal, intratorakal, retroperitoneal).
3. ECG (Electrocardiogram) : perubahan dan abnormalitas EKG termasuk
takiaritmia, bradikardia, perubahan segmen ST, blok AV dan tanda hiperkalemia.
4. Echokardiografi : mendeteksi penurunan fraksi ejeksi pada pasien dengan
hipotensi dan syok.
H. Diagnosa Keperawatan
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan reaksi endotoksin
Tujuan : diharapkan pola nafas efektif kembali.
Kreteria hasil (NOC)
- Frekuensi pernafasan 16-24 x/menit
- Bernafas mudah
- Tidak didapatkan penggunaan otot-otot tambahan
- Bersuara secara adekuat
Intervensi (NIC)
- Buka jalan nafas dengan gunakan head tilt dan chin lift
- Atur posisi semi fowler
- Berikan pelembab udara kassa basah NaCL lembab
- Auskultasi bunyi nafas
- Kolaborasi pemberian oksigen
2. Nyeri berhubungan dengan gigitan ular berbisa
Tujuan : diharapkan gangguan nyeri klien teratasi
Kreteria hasil (NOC)
- Klien melaporkan tidak nyeri lagi
- Ekspresi wajah tidak meringis
Intervensi (NIC)
- Kaji skala nyeri dengan PQRST
P : Nyeri
Q : Terus-menerus
R : Seluruh Persendian.
S:5
T : Saat Beraktivitas
- Atur posisi senyaman mungkin
- Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi
- Ciptakan lingkungan yang tenang dan anjurkan klien beristirahat yang cukup
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan tubuh
Tujuan : diharapkan infeksi tidak terjadi.
Kreteria hsil (NOC)
- Menghindari paparan yang bisa mengancam kesehatan
- Leukosit dalam batas normal (5.000-10.000)
- Memperoleh immunisasi yang sesuai
- Mengenali perubahan status kesehatan
Intervensi (NIC)
- Lakukan pengikatan pada daerah atas luka 15-30 cm dari luka gigitan
- Pertahankan tehnik isolasi
- Cuci tangan sebelum atau setelah melakukan tindakan
- Pertahankan tehnik aseptic
- Kolaborasi pemberian anti bisa ular
- Kolaborasi pemberian antibiotic, obat SABU
I. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan
Prinsip Pengganan Pada Korban Gigitan Ular :
 Menghalangi atau memperlambat absorbsi bisa ular.
 Menetralkan bisa ular yang masuk kedalam sirkulasi darah
 Mengobati atau mengatasi efek lokal dan sistemik. (Sudoyo, 2006).
1. Penatalaksanaan Medis
secara pertolongan medis jangan tinggalkan korban selanjutnya lakukan prinsip RIGT
yaitu:
1. R (Reassure) : yakinkan kondisi korban, tenangkan dan istrihatkan korban dalam
posisi horizontal terhadap luka gigitan, kepanikan akan menaikan tekanan darah
dan nadi sehingga racun akan lebih cepat menyebar ke tubuh. Terkadang pasien
pingsan/ panik karena kaget.
2. I (Immobilisation) : jangan menggerakan korban, untuk tidak berjalan atau lari.
Jika dalam waktu 30 menit pertolongan medis tidak datang, lakukan tehnik balut
tekan (pressure immobilisation) pada daerah sekitar gigitan (tanggan atau kaki)
lihat prossure immobilisation (balut tekan), tujuannya adalah untuk menahan
aliran limfe, bukan menahan aliran arteri atau vena.
Prosedur Pressure Immobilization (balut tekan) :
1) Balut tekan pada kaki:
a) Istirahatkan (immobilisasikan) Korban.
b) Keringkan sekitar luka gigitan.
c) Gunakan pembalut elastis.
d) Jaga luka lebih rendah dari jantung.
e) Sesegera mungkin, lakukan pembalutan dari bawah pangkal jari kaki naik
ke atas.
f) Biarkan jari kaki jangan dibalut.
g) Jangan melepas celana atau baju korban.
h) Balut dengan cara melingkar cukup kencang namun jangan sampai
menghambat aliran darah (dapat dilihat dengan warna jari kaki yang tetap
pink).
i) Beri papan/pengalas keras sepanjang kaki.
2) Balut tekan pada tangan:
a) Balut dari telapak tangan naik keatas. ( jari tangan tidak dibalut)
b) Balut siku & lengan dengan posisi ditekuk 90 derajat.
c) Lanjutkan balutan ke lengan sampai pangkal lengan.
d) Pasang papan sebagai fiksasi.
e) Gunakan mitela untuk menggendong tangan.
3. G (Get) : bawah korban kerumah sakit sesegera dan seaman mungkin.
4. T (Tell to Doctor) : informasikan ke dokter tanda dan gejala yang muncul pada
korban.
2. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Di bawah ke Emergency Room, dan melakukan ABC (penatalaksanaan Airway,
Breathing dan Circulation).
2. Berikan pertolongan pertama pada luka gigitan (verban ketat dan luas di atas luka,
imobilisasi (dengan bidai bila perlu).
3. Insisi luka pada 1 jam pertama setelah digigit akan mengurangi toksin 50%
4. Pada penatalaksanaan sirkulasi, berikan IVFD RL 16-20 tpm.
5. Sampel (5-10 ml) darah untuk pemeriksaan : waktu protrombin, APTT, INR,
fibrinogen dan Hb, leukosit, trombosit, kreatinin, BUN, elektrolit (terutama K).
Periksa waktu pembekuan darah, jika > 10 menit, maka menunjukkan
kemungkinan adanya koagulopati.
6. Penisillin prokain (PP) 1 juta unit pagi dan sore
7. Berikan SABU (Serum Anti Bisa Ular, serum kuda yang dikebalkan), pivalen 1
ml berisi :
10-50LD50 bisa Ankystrodon
25-50LD50 bisa Bungarus
25-51LD50 bisa Nayasputarix .
8. Teknik pemberian : 2 vial @ 5ml intravena dalam 500 ml NaCl 0,9% atau
Dextrose 5% dengan kecapatan 30-40 tetes/menit. SABU maksimal 100 ml (20
vial). Infiltrasi lokal pada luka tidak dianjurkan.
9. Heparin 20.000 unit per 24 jam
10. Monitor diathese hemorhagi setelah 2 jam, bila tidak membaik, tambah 2 flacon
SABU lagi. SABU maksimal diberikan 300 cc (1 flacon = 10 cc).
11. Bila ada tanda-tanda laryngospasme, bronchospasme, urtikaria atau hipotensi
berikan adrenalin 0,5 mg/IM, hydrocortisone 100 mg IV.
12. Kalau perlu dilakukan hemodialise.
13. Bila diathese hemorhagi membaik, transfusi komponen
14. Observasi pasien minimal 1 x 24 jam.
DAFTAR PUSTAKA
Musliha.(2010).keperawatan gawat darurat.yogyakarta: nuha medika
Junaidi,iskandar.(2010).pedoman pertolongan pertama yang harus dilakukan saat gawat &darurat
medis. Yogyakarta:cv andi offset
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika
Brunner and Suddarth, (2002). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Edisi 8. Volume 1.
Jakarta : ECG
Corwin. J. Elizabeth, (2001). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC
Doengos. Marylinn E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan Dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC
Tim Training dan Tim Pengkaji Medis Internasional SOS. (2008). PPGD (Pertolongan Pertama
Gawat Darurat) Level 2. Internasional SOS training department : Jakarta.
EgMansjoer. Arif. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta : EGC.
Badan pendidikan dan latihan wanadri.2005. teknik dasar hidup dialam bebas
Sartono, 1999, racun dan keracunan, jakarta: EGC
http://www.slideshare.net/septianraha/askep-gigitan-ular-27495411
http://yafetgeu.blogspot.co.id/2012/08/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan.html\
http://www.slideshare.net/septianraha/askep-gigitan-ular
http://alifatunkhasanah.blogspot.co.id/2015/04/asuhan-keperawatan-gigitan-ular.html
Brunner and Suddarth, (2002). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Edisi 8. Volume 1.
Jakarta : ECG
Corwin. J. Elizabeth, (2001). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC
Doengos. Marylinn E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan Dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC
Tim Training dan Tim Pengkaji Medis Internasional SOS. (2008). PPGD (Pertolongan Pertama
Gawat Darurat) Level 2. Internasional SOS training department : Jakarta.
EgMansjoer. Arif. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta : EGC.