Anda di halaman 1dari 48

Daftar Isi

BAB I ...................................................................................................................... 2
1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 2
1.2. Rumusan Masalah .................................................................................... 8
1.3. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 9
1.4. Manfaat Penelitian .................................................................................. 10
1.5. Keaslian Penelitian ................................................................................. 10
BAB II ................................................................................................................... 14
2.1. Tinjauan Pustaka .................................................................................... 14
2.1.1. Kelembagaan Penyuluhan ............................................................... 13
2.1.2. Dinamika Kelembagaan .................................................................. 16
2.1.3. Penyuluhan Pertanian ...................................................................... 18
2.1.4. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan……………………………20
2.1.5. Otonomi Daerah…………………………………………………...22
2.2. Landasan Teori ....................................................................................... 29
2.2.1. Teori Kelembagaan ...................... Error! Bookmark not defined.28
2.2.2. Teori Fungsional Struktural ............................................................ 29
2.3. Kerangka Berpikir .................................................................................. 35
2.4. Konsep dan Definisi Operasional ........................................................... 36
BAB III ................................................................................................................. 38
3.1. Jenis Penelitian ....................................................................................... 38
3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian .................................................................. 39
3.3. Informan Penelitian ................................................................................ 40
3.4. Sumber Data ........................................................................................... 40
3.5. Teknik Pengumpulan Data ..................................................................... 41
3.6. Metode Analisis Data ............................................................................. 42

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang berperan penting

dalam pembangunan Indonesia karena ketersediaan sumberdaya alamnya,

letak geografisnya serta kultur masyarakat agraris yang telah terbentuk

dalam strata kehidupan perekonomian masyarakat Indonesia. Posisi strategis

sektor pertanian dalam mendukung pembangunan Indonesia terlihat dari

kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penyediaan lapangan

kerja, penyedia bahan baku industri, serta instrumen pelestari lingkungan

berkelanjutan. Hal demikian disebabkan karena ketersediaan sumberdaya

alam yang melimpah (luasan lahan pertanian; cari data sensus pertanian

2015), kondisi agroklimatologi yang mendukung (letak geografis), dan

kultur masyarakat agraris sehingga dunia pertanian masih menyediakan

banyak lapangan usaha untuk dikembangkan 30,46 % menyediakan

lapangan pekerjaan. (BPS, Triwulan I/2018).

Seiring perkembangan inovasi pertanian maka persaingan kualitas

kapasitas produksi pertanian kini menggeser keberadaan petani tradisional

yang masih mengandalkan teknologi dan pola pertanian tradisional. Tugas

penting pemerintah adalah memberikan pengawalan, pembinaan, dan

penyuluhan agar kultur masyarakat agraris teradvokasi dalam dinamika

persaingan dimaksud. Salah satu pola efektif yang dikembangkan selama ini

adalah memaksimalkan peran strategis kelembagaan penyuluh. tugas dan

2
fungsi lembaga penyuluhan adalah menyelenggarakan pendidikan non-

formal bagi petani, mendampingi petani, mengajarkan pengetahuan dan

keterampilan tentang usaha tani, mendidik petani agar mampu

memberdayakan semua potensinya, menyebarluaskan inovasi baru kepada

petani tentang bagaimana berusaha tani yang baik.

Perubahan kelembagaan penyuluhan pertanian di Indonesaia cukup

dinamis karena terjadi perubahan format yang tepat seiring perkembangan

zaman agar lebih efisien dan efektif sesuai kebutuhan. Pasca era Bimas,

penyuluh pertanian didistribusikan ke masing-masing dinas sehingga

muncul penyuluh perikanan, penyuluh peternakan, penyuluh perkebunan,

penyuluh kehutanan dan penyuluh pertanian tanaman pangan.

Lahirnya Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2006 tentang

Sistem Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (SP3K) telah

mengintegrasikan semua latar belakang penyuluh menjadi satu wadah

kelembagaan penyuluhan pada berbagai tingkatan. Tersedia Balai

Penyuluhan Pertanian dan Kehutanan pada tingkat kecamatan, setingkat

kabupaten/kota berbentuk Badan Pelaksana Penyuluhan (BAPPELUH),

tingkat propinsi berbentuk Badan Koordinasi Penyuluhan (BAKORLUH),

dan di tingkat pusat terbentuk Badan Pusat Penyuluhan. Kelembagaan di

masing-masing tingkatan mempunyai tugas pokok dan fungsi yang berbeda

namun mempunyai tujuan yang sama yakni peningkatan kesejahteraan

petani.

3
Syahyuti (2015), menegaskan bahwa seiring hadirnya UU Nomor 23

Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah yang mendistribusikan kewenangan

pengelolaan pemerintahan di berbagai tingkatan maka telah teralihkan

sebagian kewenangan antar tingkatan pemerintah. Hal dimaksud

diantaranya, penyuluh perikanan dikembalikan kewenangannya ke pusat,

penyuluh kehutanan ke propinsi, dan penyuluh pertanian menjadi

tanggungjawab semua level secara konkruensi. Sebelumnya, satu produk

kebijakan penting berkenaan dengan kelembagaan pemerintah adalah

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi

Perangkat Daerah dan telah diperbaharui melalui PP Nomor. 18 Tahun 2016

tentang Organisasi Perangkat Daerah yang dijadikan acuan untuk

memutuskan apakah penyuluh harus bergabung dengan instansi atau

tersendiri dengan membentuk BAPPELUH. Merujuk UU Nomor 16 Tahun

2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan

mampu memayungi semua penyuluh dalam satu wadah kelembagaan serta

dipertegas dalam Perpres Nomor 154 Tahun 2014.

Mardikanto (2017), menegaskan bahwa perubahan bentuk dan status

kelembagaan penyuluhan dari berbagai kebijakan cenderung berpengaruh

pada kebijakan struktural namun dari sisi fungsional penyuluh turut

mempengaruhi kebijakan anggaran, termasuk peningkatan kapasitas dan

keahlian para penyuluh. Para penyuluh mendapatkan kesulitan karena dalam

pelaksanaan tugas dan fungsinya akan berhubungan dengan kebijakan

struktural sehingga berpengaruh pada peningkatan keahlian dan inovasi

4
teknologi. Lembaga penyuluhan pertanian pernah berhenti bermetamorfosa

dan pembenahan mulai dari Balai Informasi Penyuluhan Pertanian (BIPP),

Kantor Informasi Penyuluhan Pertanian dan Kehutanan (KIPPK), menjadi

Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPPKP). Kondisi

demikian berdampak pada upaya serius menata fungsi kelembagaan secara

struktural agar mampu memberikan kontribusi secara fungsional terhadap

keberadaan penyuluh selama periodesasi dimaksud.

Perubahan nomenklatur bentuk dan fungsi kelembagaan dimaksud

juga berdampak pada pembangunan pertanian di Provinsi Nusa Tenggara

Timur (NTT), khususnya Kabupaten Alor yang terkategori kabupaten

agraris dan berkepulauan. Letak astronominya yang berbatasan laut dengan

Negara Republik Demokratic Timor Leste (RDTL) adalah posisi geografis

yang cukup strategis dalam pengembangan dan pembangunannya.

Kabupaten Alor memiliki luas wilayah 13.702,49 Km2 yang terdiri dari luas

darat 2.928,88 Km2 dan perairan seluas 10.773, 62 Km2. Tipologi

wilayahnya cenderung berkepulauan yang terdiri dari 15 pulau dengan

rincian 9 (sembilan) pulau berpenghuni dan 6 (enam) pulau tidak

berpenghuni. Wilayah daratannya merupakan konfigurasi daratan bergunung

dan berbukit terjal dengan tingkat kecuraman lebih dari 60% dan tingkat

kemiringannya diatas 40%. Kondisi demikian berdampak pada tingkat

variasi komoditi pertanian sehingga untuk pengembangannya membutuhkan

sentuhan kebijakan yang dikuatkan dengan kelembagaan penyuluhan.

Keaneka-ragaman komoditi pertanian tanaman pangan dan hortikultura,

5
perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan yang dimiliki tersebar

merata hampir disetiap wilayah daratan dan pesisir dengan berbagai

komoditas unggulan pada setiap jenis usahanya.

Penelitian Komoditas Jenis Usaha Unggulan (KPJU) yang dilakukan

Lemlit Undana dan KPw Bank Indonesia, terilis 5 (lima) sektor usaha

unggulan di Kabupaten Alor secara berurutan adalah perikanan, pariwisata,

tanaman pangan, perkebunan dan perdagangan. Terilis dalam data BPS,

pada tahun 2017 sektor tanaman pangan mengalami peningkatan yang cukup

siginifikan pada potensi tanaman padi dan jagung. Data perkembangan

potensi pertanian menunjukkan bahwa pada periode tahun 2015 sampai

2017, produktifitas tanaman padi sawah mengalami kenaikan mulai dari

1.742 ton (2015) dan 2.434 ton (2017), sedangkan padi ladang 15.683 ton

(2015) dan 14.807 ton (2017). Selain tanaman pangan, potensi disektor

pertanian lainnnya seperti tanaman hortikuiltura (buah-buahan dan sayuran)

juga mengalami kenaikan produksi pada 3 (tiga) tahun terakhir (Dinas

Pertanian dan Perkebunan Kab. Alor, 2018).

Gambaran potensi dimaksud cenderung diusahakan secara tradisional

(pola subsistem) oleh petani lokal yaitu dengan keterbatasan sumberdaya

lahan, curah hujan yang rendah, terbatasnya modal, minim sentuhan

teknologi, terbatas jangkauan pasar dan kapasitas para petani yang minim

pengalaman usahatani modern. Hal dimaksud dapat mengalami perubahan

jika diperkuat dengan dukungan pendampingan dari pemerintah yang

intensif memaksimalkan peran penyuluh pertanian yang. Harapannya

6
kedepan jika dimaksimalkan peran strategis penyuluh diberbagai sub-sektor

maka akan memudahkan para petani dalam mengatasi berbagai kendala

budidaya, pengolahan pasca panen dan pemasaran komoditi hasil

produksinya hingga mampu bersaing dan berdampak pada meningkatnya

pendapatan para petani.

Ketersediaan tenaga penyuluh pertanian yang menjalankan fungsi

penyuluhan di Kabupaten Alor terdata sebanyak 116 orang penyuluh

pertanian (103 orang ASN dan 13 orang Non ASN) dan 7 orang penyuluh

perikanan (2 orang ASN dan 5 orang Non ASN). Pemberlakuan UU Nomor

23 tahun 2014 beserta perubahan yang mengikutinya dan diperjelas dalam

Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah

mengharuskan daerah untuk mempertimbangkan skema organisasi perangkat

daerahnya sesuai prioritas kebutuhan, potensi daerah dan kemampuan

keuangan daerah. Kabupaten Alor sebagai salah satu daerah otonomi juga

memiliki kewajiban untuk melaksanakan perintah UU No.23 tahun 2014 dan

PP Nomor 18 Tahun 2016 maka pelaksanaan penyuluhan pertanian

berragam secara kelembagaan. Hal ini perlu disikapi dengan baik untuk

merancang sebuah sistem penyelengaraan penyuluhan yang tepat agar proses

transfer pengetahuan tentang teknologi dan inovasi dapat tersampaikan

dengan baik kepada masyarakat Tani yang notabene memiliki keterbatasan

pengetahuan tentang inovasi dan teknologi pertanian modern. Penyuluh

sebagai agen informasi juga perlu di manage secara baik agar dalam

melaksanakan penyuluhan secara efektif dan hal ini membutuhkan

7
kelembagaan yang tepat. Kondisi demikian menjadi keresahan peneliti

sehingga berencana mengajukan Tesis berjudul Dinamika Kelembagaan

Penyuluhan dalam Pembangunan Pertanian di Kabupaten Alor.

1.2. Rumusan Masalah

Kurun waktu 2015-2017 sektor pertanian Kabupaten Alor merupakan

sektor penyumbang PDRB terbesar bagi pembangunan. Data menunjukkan

bahwa sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 30,73% bagi PDRB

Kabupaten Alor yang artinya bahwa pengembangan sektor pertanian dituntut

lebih maksimal agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar lagi bagi

pemerintah. Selain bagi pemerintah kontribusi pada sektor pertanian juga

diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pembukaan lapangan

pekerjaan, peningkatan kesejahteraan masyarakat khsususnya petani dan

peningkatkan pendapatan petani (Bapelitbang Kab.Alor, 2017).

Kondisi geografis Kabupaten Alor yang sangat baik untuk

pengembangan pada sektor pertanian menjadi modal bagi para petani dalam

mengembangkan sektor pertanian. Adanya kenaikan sumbangan sektor

pertaniaan terhadap PDRB pemerintah Kabupaten Alor tidak terlepas dari

peran penyelenggara penyuluhan pertanian dalam membangun sistem

penyuluhan yang efektif melalui struktur kelembagaan yang profesional.

Permasalahan dasarnya adalah peran strategis penyuluh pertanian kini

dibatasi oleh kebijakan struktural sehingga fungsinya sebagai suluh dalam

pembangunan pertanian tidak dapat dimaksimalkan. Kosekwensi logis dari

Pemberlakuan Undang-Undang otonomi Daerah diantaranya adalah

8
perubahan struktur kelembagaan penyuluhan pertanian di daerah menjadi

berragam sesuai dengan kewenangna dan kebutuhan daerah

Perubahan lain setelah pemberlakuan otonomi daerah adalah biaya

dan fasilitas operasional, insentif dan lain-lain tidak mamadai. Kabupaten

Alor sebagai salah satu daerah kepulauan dan sebagaian besar

masyarakatnya adalah bekerja di sector pertanian dan perikanan namun

memiliki pengetahuan yang memadai tentang bagaimana menggunakan

teknologi inovatif dalam meningkatkan pertanian dan perikanan maka

dibutuhkan para penyuluh yang profesional dan handal yang didukung oleh

fasilitas dan kelembagaan yang profesionl pula. Merujuk uraian dan masalah

dasar dimaksud maka rumusan masalah yang disodorkan adalah Bagaimana

perubahan model kelembagaan penyuluhan sebelum dan sesudah

dikeluarkannya UU No.23 Tahun 2014? ”sehingga pertanyaan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana Sistem kerja penyuluhan pertanian pada kelembagaan yang

berbeda di Kabupaten Alor?

2. Bagaimana peran strategis penyuluh pertanian dalam pembangunan

pertanian di Kabupaten Alor?

1.3. Tujuan Penelitian

Merujuk permasalahan yang disajikan, maka tujuan dari penelitian ini adalah

adalah:

9
1. Menganalisa sitem kerja penyuluhan pertanian pada kelembagaan yang

berbeda di Kabupaten Alor.

2. Menganalisa peran strategis penyuluh pertanian dalam pembangunan

pertanian di Kabupaten Alor.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian tesis berjudul Dinamika Kelembagaan Penyuluh Pertanian dalam

Pembangunan Pertanian di Kabupaten Alorini diharapkan bermanfaat bagi

berbagai pihak, diantaranya:

1. Peneliti sebagai bagian dari komunitas ilmiah yang harus

mendedikasikan keilmuannya dalam pembangunan pertanian sekaligus

memenuhi salah satu prasyarat dalam menyelesaikan program

pendidikan magister.

2. Lembaga pendidikan dan komunitas ilmiah khususnya almamater

Universitas Gadja Mada sebagai bahan pengayaan dan pengembangan

ilmu pengetahuan yang relevan untuk kegiatan penelitian lanjutan.

3. Pemerintah daerah sebagai pertimbangan dalam pengambilan kebijakan

terhadap pembangunan pertanian yang lebih berpihak pada penyuluh dan

petani di Kabupaten Alor.

1.5. Keaslian Penelitian

Keaslian penelitian terletak dalam beberapa hal, yaitu diantaranya sesuai

tabel berikut :

10
Tabel 1.2 Keaslian Penelitian

Apandi(2008)Pengaruh Perubahan Kelembagaan Penyuluhan Pertanian terhadap


Produktifitas Kerja Penyuluh Pertanian di Era Otonomi Daerah
Tesis
Analisis Data : Persamaan :
Teknik analisis data menggunakan Skala - Sama-sama Meneliti tentang
Likert kemudian dilakukan uji validitas Kelembagaan Penyuluhan
dan uji reliabilitas Pertanian

Perbedaan :
Hasil Kajian :
- Penelitian ini merupakan penelitian
Menunjukkan bahwa produktifitas kerja
kuantitatif, sementara penelitian yang akan
penyuluh pertanian lapangan dipengaruhi
peneliti lakukan saat ini adalah penelitian
oleh motivasi 0.44, tingkat pendidikan
kualitatif
0.30 dan sumber penghasilan lain 0.27.
-Penelitian ini ingin mengetahui
besarnya pengaruh bersama terhadap
produktifitas kerja penyuluh pertanian,
produktifitas kerja penyuluh pertanian
sedangkan yang akan penliti teliti saat ini
lapangan sebesar 31% dan besarnya
adalah system penyelenggaraan
pengaruh di luar model 69%. Variabel
penyuluhan pertanian oleh lembaga yang
yang paling kuat pengaruhnya terhadap
beragam
produktifitas kerja adalah motivasi.

El Syabrina1,Dedi Budiman Hakim2,dan Fredian Tonny3 (2013)Analisis


Kelembagaan Penyuluhan Pertanian Di Provinsi Riau
Jurnal Manajemen Pembangunan Daerah, Volume 5 Nomor 1,Juni 2013

Analisis Data : Persamaan :


Teknik analisi data menggunkan Analisis - Aspek yang dikaji sama, yaitu
SWOTdan anlisis QSPM kelembagaan penyuluhan
pertanian yang berragam
Hasil Kajian : - Sama-sama merupakan penelitian
Hasil kasjian mengungkapkan bahwa : kualitatif
1. Implementasi Undang-Undang

11
Nomor 22 Tahun 2009 dan Perbedaan :
Undang-Undang Nomor 32 Tahun - Pemilihan lokasi penelitian.
2004 beserta perangkat peraturan penelitian ini memilih lokasi di
perundangan dibawahnya Kota Pekanbaru, Kabupaten
menyebabkan kelembagaan Kampar dan Kabupaten Pelalawan
pertanian di propinsi Riau Propinsi Riau sedangkan lokasi
mengalami perubahan bersama Penelitian akan peneliti lakukan
(coevolution) pranata sosial saat ini di Kabupaten Alor
kelembagaan Propinsi NTT
2. Pelaksanaan fungsi pelayanan dan - Penelitian dilakukan pada tahun
fungsi pengaturan masih 2008 sebelum diberlakukannya
mendominasi sistem kerja UU No.23 tahun 2014, sedangkan
pemyuluhan yang akan peneliti lakukan saat ini
3. Frekuensi LAKU belum adalah setelah pemberlakuan UU
sepenuhnya terlaksana No.23 Tahun 2014
4. Rumusan strategi dalam
Pengembangan Kelembagaan
Penyuluhan Pertanian di Provinsi
Riau adalah dengan bentuk Badan
sendiri yang spesifik menaungi
Penyuluhan Petanian

Siwi Istiana Dinarti (2016) Integrasi Kelembagaan Pengolahan Pangan Lokal


Dalam Upaya Menjadikan Pangan Lokal Sebagai Pendukung Pariwisata di
Kabupaten Lombok Barat
Tesis

Analisis Data : Persamaan :


- Aspek yang dikaji hampir sama
Analisis data yang digunakan adalah
yaitu kelembagaan sektor
model Miles and Huberman yaitu ;
Pertanian
Reduksi data, Penyajian Data dan
- Sama-sama merupakan Penelitian
Verifikasi
Kualitatif

Hasil Kajian : Perbedaan :


- Penelitian ini meneliti
1. Integrasi Kelembagaan
kelembagaan pengolahan pangan

12
Pengolahan pangan lokal di lokal, sedangkan penelitian yang
Kabupaten Lombok Barat belum akan peniliti teliti adalah
maksimal. Hal tersebut akibat dari kelembagaan Penyuluhan
belum adanya koordinator atau Pertanian
penggerak dari lembaga yaitu - Penelitian ini fokus pada integrasi
Sekretariat Daerah dalam kelembagaan, sedangkan yang
pengolahan pangan lokal sebagai akan peneliti teliti saat ini adalah
pendukung pariwisata penyelengaraan penyuluhan
2. Belum adanya koordinasi dan dengan kelembagaan yang
kerjasama diantara lembaga berragam (Dinamika
menyebabkan lembaga-lembaga Kelembagaan)
terkait masih berjalan sendiri –
sendiri
3. Masih terdapat tumpang tindih
program dari lembaga terkait yang
menunjukkan belum adanya
integrasi diantara lembaga
tersebut
4. Bappeda hanya memfasilitasi
dalam perencanaan Pembangunan
Kabupaten serta secara struktural
Bappeda tidak mempunyai
kewenangan mengkoordinasi.

13
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1. Tinjauan Pustaka

2.1.1. Kelembagaan Penyuluhan

Kelembagaan penyuluhan menurut Van Den Ban dan Hawkins (1998)

harus mengubah struktur dan kebudayaannya agar bisa beradaptasi dengan

perubahan zaman yang terjadi sangat masif. Dengan begitu, kelembagaan

penyuluhan akan bisa beradaptasi untuk menghadapi perubahan jaman dan bisa

memenuhi kebutuhan petani sebagai seorang klien.

Undang-Undang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan

Kehutanan(SP3K) yang disyahkan oleh DPR RI dimaksudkan untuk memperkuat

keberadaan dan fungsi kelembagaan penyuluhan pertanian baik di pusat maupun

di daerah dalam memfasilitasi petani dan pelaku usaha pertanian lainnya dalam

mengembangkan usahanya untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan.

Surat Menteri Pertanian Nomor.37/OT.140/M/3/2005 meminta agar PEMDA

membentuk kelembagaan penyuluhan pertanian di daerah. Keberadaan dan

berfungsinya kelembagaan ini sangat penting untuk menciptakan suasana yang

kondusif bagi para penyuluh dalan menjalankan tugas dan fungsinya.

Berdasarkan Undang-Undang No.16 Tahun 2006, Kelembagaan

penyuluhan adalah lembaga pemerintah dan/atau masyarakat yang mempunyai

tugas dan fungsi menyelenggarakan penyuluhan. Kelembagaan penyuluhan terdiri

atas:

a. kelembagaan penyuluhan pemerintah,

14
b. kelembagaan penyuluhan swasta,

c. kelembagaan penyuluhan swadaya.

Kelembagaan penyuluhan pertanian merupakan salah satu wadah

organisasi yang terdapat dalam dinas pertanian. Kelembagaan pertanian

menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang ada antara lain:

1. Kebutuhan ketrampilan yang lebih cakap dibanding usaha produk serelia.

2. Tuntutan petani untuk mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas

produknya.

3. Pengetahuan dari berbagai macam sumber.

4. Pembiayaaan organisasi penyuluhan dari pihak swasta yang semula hanya

dari pihak pemerintah.

Penyesuaian dengan kondisi tersebut maka lembaga penyuluhan dalam

menghadapi perubahan tersebut menyikapi dengan:

1. Pengembangan SDM

2. Pengembangan system

3. Metode dan materi

4. optimalisasi sarana

5. Prasarana dan alat Bantu

6. Pemberdayaan masyarakat sasaran

7. Pengembangan jaringan kerja serta kemitraan

Menurut Pasal 1 UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah,

otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk

mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat

15
setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Syafrudin mengatakan,

bahwa otonomi mempunyai makna kebebasan dan kemandirian tetapi bukan

kemerdekaan. Kebebasan terbatas atau kemandirian itu adalah wujud pemberian

kesempatan yang harus dipertanggung jawabkan. Secara implisit definisi otonomi

tersebut mengandung dua unsur, yaitu adanya pemberian tugas dalam arti

sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan serta kewenangan untuk

melaksanakannya, dan adanya pemberian kepercayaan berupa kewenangan Untuk

memikirkan dan menetapkan sendiri berbagai penyelesaian tugas itu.

2.1.2. Dinamika Kelembagaan

Hagedorn dalam Padmabadhan (2009) merumuskan empat strategi dasar

untuk mencapai “kelembagaan keberlanjutan” dalam jangka panjang: (1)

memunculkan refleksivitas yang dibangun di atas penguatan sensitivitas aktor

untuk mendorong reformasi kelembagaan; (2) mengorganisasikan diri dan

berpartisipasi dalam proses politik yang memberi dampak integratif; (3)

menciptakan harmonisasi kepentingan dan regulasi konflik yang merupakan pusat

penyeimbangan kekuasaan dan kontrol atas sumber daya, sehingga membutuhkan

investasi dalam pengembangan mekanisme penyelesaian konflik; dan (4)

memunculkan inovasi kelembagaan sebagai proses kreatif mencari dan belajar

menggunakan pendekatan kooperatif. Sejalan dengan Haberer (1996), Hagedorn

et al. (2002) merumuskan pentingnya menciptakan transparansi dalam pengaturan

kelembagaan. Kelembagaan dalam konteks pembangunan berkelanjutan dari

perspektif sosiologi, terkait dengan dimensi manusia sebagai fokus dalam

pembangunan, sehingga jika untuk mengkonseptualisasikan pembangunan

16
berkelanjutan dari dimensi manusia, maka akan dititik beratkan pada

keberlanjutan sistem sosial masyarakat. (Gale and Corday, 1994).

Perubahan sistem pemerintahan dari paradigma yang berorientasi pada

sentralisasi ke desentralisasi, telah memberikan konsekuensi sangat luas dan

mendalam pada sistem tata pemerintahan daerah di Indonesia. Perubahan tersebut

dapat dilihat dari bergesernya status dan kedudukan suatu kelembagaan dalam

keseluruhan formasi tata pemerintahan daerah. Konsekuensi dari perubahan

tersebut adalah pada batasan kekuasaan dan wewenang suatu kelembagaan dalam

mengimplementasikan proses-proses regulasi, legislasi dan kebijakan publik.

Sejak berorientasi pada paradigma desentralisasi, formasi sosial dalam sistem

tata pemerintahan di daerah telah membentuk pola-pola relasi kekuasaan dan

wewenang yang berbasis tidak hanya pada pilar regulative, tetapi juga telah

mempertimbangkan pilar normative dan cultural-cognitive yang berbasis otonomi

lokal (Nasdian, 2008). Pembentukan kelembagaan dalam masyarakat tidak

terlepas dari peranan individu, kelompok atau pemerintah sehingga lembaga-

lembaga yang hidup dalam masyarakat yang ada bersifat informal dan ada pula

yang tercipta secara formal baik dari masyarakat maupun luar masyarakat.

Pergeseran paradigma penyuluhan dari teknik budidaya (on-farm) menuju sistem

usaha agribisnis telah mengubah sistem kelembagaan penyuluhan, dari

pendekatan agribisnis dan partisipatif yang tadinya hanya terdiri dari subsistem

petani, penyuluh dan kelembagaan struktural, menjadi subsistem petani, penyuluh,

pelaku agribisnis lainnya, lembaga penelitian dan lembaga pelatihan (Hafsah,

2006). Kelembagaan penyuluhan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi

17
sepanjang hal itu memungkinkan adanya pembagian kerja yang lebih jauh,

peningkatan pendapatan, perluasan usaha dan kebebasan untuk memperoleh

peluang usaha. Dalam kehidupan nyata, kelembagaan dapat menjadi peubah

eksogen dalam proses pembangunan dengan demikian kelembagaan dapat

dianggap sebagai penyebab segala perubahan pembangunan. Namun dipihak

lain kelembagaan bisa diduga menjadi peubah endogen dimana perubahan

kelembagaan diakibatkan karena adanya perubahan-perubahan pada sistem sosial

masyarakat yang ada. Menurut Scott (2008) dalam Nasdian (2008), perubahan

kelembagaan secara teoritis tidak hanya disebabkan oleh faktor regulasi, namun

juga oleh stuktursosial masyarakat yang merupakan faktor-faktor yang dapat

mempercepat atau memperlambat (atau menjadi buffer) evolusi bersama

kelembagaan dan organisasi tersebut. Pada era BIMAS, penyuluhan pertanian

dilakukan melalui pendekatan sentralistis dan berkoordinasi yang ketatantar

instansi terkait dari pusat sampai kedaerah. Sedangkan konsep penyuluhan di

era otonomi diserahkan sepenuhnya kekabupaten/kota. Pemerintah pusat

sepenuhnya hanya bertugas merumus kankebijakan, norma, standar, dan model-

model penyuluhan partisipatif (RPP IPB,2005). Namun, munculnya beberapa

peraturan pemerintah yang kurang mendukung penyelenggaraan penyuluhan

daerah, seperti PP No.25/2000 dan PPNo.8/2003 mengakibatkan ruang gerak

pemerintah daerah untuk mendirikan kelembagaan penyuluhan pertanian sangat

terbatas. Tentunya hal ini menyebabkan kelembagaan penyuluhan pertanian

ditingkat provinsi tidak jelas dan kelembagaan penyuluhan pertanian ditingkat

kabupaten/kota beragam. Undang-undang No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem

18
Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan menyatakan pembagian

kelembagaan penyuluhan, yaitu:

1) Kelembagaan di Pusat adalah Badan Penyuluhan yang bertanggung

jawab kepada Menteri;

2) Kelembagaan di Provinsi berbentuk Badan Koordinasi Penyuluhan;

3) Kelembagaan di kabupaten/kota berbentuk Badan Pelaksana Penyuluhan;

4) Kelembagaan di Kecamatan adalah Balai Penyuluh Pertanian (BPP); serta

5) Kelembagaan di Desa/Kelurahan berbentuk pos penyuluhan

desa/kelurahan yang bersifat non-struktural.

Kebijakan pembangunan pertanian pada era desentralisasi adalah

mewujudkan pertanian yang tangguh dalam rangka pemantapan ketahanan

pangan, peningkatan nilai tambah dan daya saing produk pertanian serta

peningkatan kesejahteraan petani. Kebijakan ini juga mensyaratkan di

kembangkannya jaringan kerjasama diantara pelaku agribisnis, penyuluhan

pertanian, peneliti, pendidikan dan pelatihan (Hafsah, 2006). Berdasarkan hal-hal

tersebut, terdapat dua hal penting yang perlu dipikirkan dan dilaksanakan dengan

baik agar penyuluhan dibidang pertanian, perikanan dan kehutanan dimasa depan

dapat berjalan dengan efektif secara berkelanjutan, yaitu dibangunnya sistem

penyuluhan yang komprehensif dan diadopsinya pengembangan program-program

penyuluhan yang berbasis penelitian dan ilmu pengetahuan (Slamet,2008).

2.1.3. Penyuluhan Pertanian

19
Penyuluhan pertanian adalah proses pemberdayaan petani, bukan lagi

sebagai proses transfer teknologi kepada petani seperti pada masa Revolusi Hijau

yang lalu. Pemberdayaan atau empowerment berasal dari kata empower yang

makna sebenarnya adalah “to give official authority or legal power, capacity, to

make one able to do something.” Dengan demikian pemberdayaan dapat diartikan

sebagai suatu proses kapasitas atau pengembangan kapasitas SDM. Dengan

kapasitas seseorang akan memiliki kemandirian, tahan uji, pintar, jujur,

berkemampuan kreatif, produktif, emansipatif, tidak tergantung, pro-aktif,

dinamis, terbuka dan bertanggung jawab dalam mengatasi semua masalah dan

menjawab tantangan untuk mencapai kemajuan (Soedijanto, 2006).

Penyuluhan pertanian sebagai sebagai suatu sistem pemberdayaan petani

merupakan suatu sistem pendidikan non formal bagi keluarga petani yang

bertujuan membantu petani dalam meningkatkan keterampilan teknis,

pengetahuan, mengembangkan perubahan sikap yang lebih positif dan

membangun kemandirian dalam mengelola lahan pertaniannya. Penyuluhan

pertanian sebagai perantara dalam proses alih teknologi maka tugas utama dari

pelayanan penyuluhan adalah memfasilitasi proses belajar, menyediakan

informasi teknologi, informasi input dan harga input-output serta informasi pasar

(Badan SDM Pertanian, 2003).

Sejak berlakunya otonomi daerah/desentralisasi, penyelenggaraan

penyuluhan pertanian yang menyangkut aspek-aspk perencanaan, kelembagaan,

ketenagaan, program, manajemen dan pembiayaan menjadi wewenang wajib dan

tanggungjawab pemerintah kabupaten/kota. Sedangkan pemerintah pusat baik

20
secara langsung maupun melalui pemerintah propinsi mempunyai wewenang

untuk memfasilitasi pemerintah kabupaten/kota sehingga dapat menyelenggarakan

penyuluhan pertanian secara produktif, efektif dan efisien sesuai kebutuhan

lokalita (Badan Pengembangan SDM Pertanian, 2003). Dalam kondisi tersebut

hampir semua pemerintah daerah kabupaten/kota kurang memberi prioritas dan

dukungan pada aspek penyuluhan pertanian, akibatnya penyelenggaraan

penyuluhan tidak terprogram dan terlaksana dengan baik (mengalami stagnasi),

sistem penyuluhan kurang terpadu dan tenaga penyuluh lapangan kurang

berfungsi dan petani kehilangan partner kerja dalam proses alih teknologi,

sehingga menimbulkan berbagai permasalahan tentang penyelenggaraan

penyuluhan dan kelembagaan penyuluhan di propinsi dan kabupaten/kota dan di

kecamatan menjadi beragam.

2.1.4. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan

Pembangunan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) merupa-

kan implementasi dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable

development) yang bertujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan

masyarakat tani secara luas. Hal ini dilakukan melalui peningkatan produksi

pertanian (kuantitas dan kualitas), dengan tetap memperhatikan kelestarian

sumber daya alam dan lingkungan.Pembangunan pertanian dilakukan secara

seimbang dan disesuaikan dengan daya dukung ekosistem sehingga kontinuitas

produksi dapat dipertahankan dalam jangka panjang, dengan menekan tingkat

kerusakan lingkungan sekecil mungkin. Adigium sistem pertanian berkelanjutan

antara lainbetter environment, better farming, and better living. Adapun perta-

21
nian organik merupakan salah satu model perwujudan sistem pertanian

berkelanjut-an (Salikin, 2003).

Bank Dunia menerjemahkan paradigma pembangunan berkelanjutan

dalam bentuk kerangka segitiga pembangunan berkelanjutan (Environmentally

Sustainable Development Triangle). Pembangunan berkelanjutan bertumpu pada

keberlanjutan ekonomi, ekologi, dan sosial. Berkelanjutan secara ekonomis adalah

suatu kegiatan pembangunan harus mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi,

pemeliharaan kapital, penggunaan sumberdaya, serta investasi secara efisien.

Berkelanjutan secara ekologis berarti bahwa kegiatan tersebut mampu

mempertahankan integritas ekosistem, memelihara daya dukung lingkungan, dan

konservasi sumberdaya alam termasuk keanekaragaman hayati (biodiversity).

Keberlanjutan secara sosial berarti bahwa pembangunan tersebut dapat

menciptakan pemerataan hasil-hasil pembangunan, mobilitas sosial, kohesi sosial,

partisipasi masyarakat, pemberdayaan masyarakat, identitas sosial, dan

pengembangan kelembagaan (Serageldin, 1996 dalam Dahuri 1998).

Pertanian berkelanjutan mempunyai beberapa prinsip yaitu: (a)

menggunakan sistem input luar yang efektif, produktif, murah, dan membuang

metode produksi yang menggunakan sistem input dari industri, (b) memahami dan

menghargai kearifan lokal serta lebih banyak melibatkan peran petani dalam

pengelolaan sumberdaya alam dan pertanian, (c) melaksanakan konservasi

sumberdaya alam yang digunakan dalam sistem produksi (Shepherd, 1998 dalam

Budiasa, 2011).

22
2.1.5. Otonomi Daerah

Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, menyatakan bahwa yang

dimaksud dengan Otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah

otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan

kepentingan masyarakat setempat dalam system Negara Kesatuan Republik

Indonesia. dinyatakan juga dalam Undang-Undang ini bahwa daerah otonom yang

selanjutnya disebut sebagai daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang

mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan

pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri

berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik

Indonesia. untuk urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang

wajib diselenggarakan oleh semua daerah, sadangkan urusan pemerintahan pilihan

adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh Daerah sesuai

dengan potensi yang dimiliki Daerah.

Makna dasar dari otonomi adalah adanya suatu kewenangan bagi

Pemerintah Daerah untuk menentukan kebijakan-kebijakan sendiri yang ditujukan

bagi perlaksanaan roda pemerintahan daerahnya sesuai dengan aspirasi

masyarakatnya. Pratikno (1991) menyatakan bahwa kewenangan-kewenangan

tersebut mengacu pada kewenangan pembuat keputusan di daerah dalam

menentukan tipe dan tingkat pelayanan yang diberikan kepada masyarakat, dan

bagaimana pelayanan ini diberikan dan di biayai. Kewenangan yang diberikan

bersifat nyata, luas dan bertanggung jawab sehingga memberi peluang bagi daerah

agar dapat mengatur dan melaksanakan kewenangan daerahnya berdasarkan

23
prakarsa sendiri sesuai dengan kepentingan, kondisi dan potensi masyarakat

disetiap daerah. Keberadaan Otonomi Daerah diharapkan terjadi penguatan

masyarakat untuk meningkatkan kapasitas demokrasi atau dengan kata lain bahwa

UU Pemerintahan Daerah bervisi demokrasi.

Keberhasilan pelaksanaan Otonomi Daerah akan ditentukan oleh banyak

hal. Riswandha Imawan (1991) menyatakan bahwa keberhasilan penyelenggaran

Otonomi Daerah ditentukan oleh : 1. Semakin rendahnya tingkat ketergantungan

(degree of dependency) Pemerintah daerah kepada pemerintah pusat, tidak saja

dalam perencanaan tetapi juga dalam penyediaan dana. Karena suatu rencana

pembanguna hanya akan efektif kalau dibuat dan dilakukan sendiri oleh

pemerintah daerah. 2. Kemampuan daerah untuk meningkatkan pertumbuhan

ekonomi mereka (growth from inside) dan faktor-luar yang secara langsung

mempengaruhi laju pertumbuhan pembangunan daerah (growth from outside).

Perubahan orientasi pembangunan dari top down ke bottom up mengisyaratkan

bahwa tujuan pembangunan itu adalah untuk memacu pertumbuhan dari dalam

(growth from inside). Dengan demikian, pemerintah lebih leluasa merencanakan

dan menentukan prioritas yang hendak dilaksanakan. Otonomi Daerah pada

dasarnya berkaitan erat dengan pola pembagian kekuasaan antara pemerintah

pusat dan pemerintah daerah. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dalam

pelaksanaanya memberikan dampak baik yang cukup positif bagi Daerah, maupun

yang mungkin akan menyulitkan Daerah bahkan Pemerintah pusat. Sebagai

konsekuensi maka diperlukan pengaturan yang sistematis yang menggambarkan

adanya hubungan berjenjang baik yang berkaitan dengan koordinasi, pembinaan

24
dan pengawasan. Oleh karena itulah, pelaksanaan kebijakan ini kemudian

menimbulkan tanggapan yang beragam dari Pemerintah maupun masyarakat.

Penyelenggaraan desentralisasi sebagaimana di amanahkan dalam

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 mengisyaratkan pembagian urusan

pemerintahan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Pemerintah

daerah umumnya menganggap bahwa kebijakan otonomi daerah yang ada saat ini

melalui UU No. 32 tahun 2004 merupakan sebuah kebijakan yang sangat baik

terutama bagi daerah dalam rangka mengembangkan potensi daerahnya. Hal ini di

karenakan : Pertama,bahwa secara politis kebijakan tersebut akan memberikan

keleluasaan pada Pemerintah Daerah untuk dapat mengatur dan mengurus sendiri

urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan sesuai

dengan kondisi dan kebutuhan daerah. Kedua, secara ekonomis Pemerintah

Daerah akan diuntungkan karena mempunyai wewenang yang lebih besar untuk

mengelola dan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang terdapat di

wilayahnya. Dengan demikian maka pemerintah daerah kabupaten/kota

mempunyai wewenang yang sangat luas dalam menata daerahnya dalam hal ini

menjalankan dinamika pemerintahannya serta memanfaatkan berbagai sumber

daya yang berada di wilayahnya.

Penekanan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah yang berada pada

daerah kabupaten dan kota, kemudian menciptakan anggapan bahwa Pemerintah

Daerah mempunyai wewenang untuk melakukan berbagai langkah sesuai dengan

kondisi obyektif daerah serta disesuaikan pula dengan tuntutan dari dinamika

masyarakat daerah dalam rangka pelaksanaan kebijakan otonomi daerah.

25
Berdasarkan hal tersebut maka pemerintah daerah kemudian menjabarkan

pelaksanaan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah ke

dalam berbagai peraturan daerah (PERDA), Peraturan Kepala Daerah, dan

ketentuan daerah lainnya dengan demikian maka posisi pemerintah daerah

menjadi sangat penting karena menjadi titik sentral dari seluruh proses

pelaksanaan berbagai kebijakan yang diterapkan di wilayahnya. Kondisi ini tentu

dapat menjelaskan bagaimana sikap pemerintah daerah yang kemudian berubah

menjadi pusat dari seluruh pelaksanaan kebijakan dan tidak hanya sebagai

pelaksana saja dari apa yang telah diatur oleh pemerintah pusat, seperti pada era

sebelumnya.

Dalam konteks kewenangan pusat dan daerah dalam pelaksanaan

kebijakan otonomi daerah belum sepenuhnya bisa terlaksana dengan baik. disatu

sisi, pemerintah daerah merasa bahwa pemerintah pusat masih belum sepenuh hati

untuk memberikan kewenangan-kewenangan tersebut kepada pemerintah daerah.

adanya keengganan pemerintah pusat untuk memberikan kewenangan yang terlalu

besar kepada daerah, didasarkan pada alasan bahwa belum semua daerah siap

untuk melaksanakan kebijakan otonomi daerah, selain itu sumber daya manusia

yang kurang memadai serta belum terbiasanya daerah menerima kewenangan

yang begitu luas, ditambah lagi dengan alasan bahwa segala sesuatunya harus

tetap berada dalam konteks negara kesatuan dalam rangka menjaga keutuhan

wilayah dan mewujudkan tujuan negara. alasan-alasan tersebut menjadi

pembenaran dari pada sikap pemerintah pusat. disatu sisi, alasan-alasan tersebut

cukup memiliki dasar yang kuat dimana hampir sebagaian besar daerah di

26
Indonesia masih memiliki keterbatasan-keterbatasan. Akan tetapi tetap saja bahwa

pihak daerah haruslah diberikan ruang berdasarkan wewenang yang diberikan

oleh konstitusi kepadanya, untuk dapat menata wilayahnya sendiri, sesuai dengan

aspirasi masyarakatnya. dalam kondisi tarik menarik tersebut, berbagai

permasalahan kemudian dapat timbul akibat keengganan pemerintah pusat untuk

lebih mempercayai pemerintah daerah dalam mengelola daerahnya. hal tersebut

akan tampak dalam operasioanlisasi kebijakan otonomi daerah, yang kerapkali

membingungkan pemerintah daerah. Dalam pelaksanaan kebijakan otonomi

daerah, kebingungan yang dialami oleh pemerintah daerah di sebabkan oleh

karena masih tumpang tindihnya wewenang yang mengatur berbagai persoalan

dalam rangka pelaksanaan kebijakan ini. hal tersebut justru di sebabkan karena

masih belum jelasnya aturan-aturan pelaksanaan yang akan menjadi panduan

dalam pelaksanaan kebijakan tersebut. dampak nyata dari kondisi tersebut adalah

terjadinya rebutan lahan kewenangan antara pemerintah daerah dengan

pemerintah pusat dalam mengatur berbagai permasalahan.

Berdasarkan UU No. 22 tahun 1999 maka Indonesia secara resmi

melaksanakan otonomi daerah yang mulai berlaku sejak 1 Januari 2000. Tujuan

otonomi daerah adalah untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat

melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat. Di

samping itu melalui otonomi luas, daerah diharapkan mampu meningkatkan daya

saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan,

keistimewaaan, dan kekhususan daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik

Indonesia.

27
Pada Tahun 2014 telah ditetapkan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang

Pemerintahan Daerah dan telah mengalami perubahan melalui Perppu No.2 Tahun

2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang

Pemrintahan Daerah. Undang-Undang ini sangat strategis karena mengatur

pembagian urusan pusat, propinsi dan kabupaten/kota dalam semua aspek

penyelenggaraan pemerintahan. Hal ini untuk menyempurnakan Undang-Undang

sebelumnya, dimana dalam pembagian urusan misalnya, konsep negara kesatuan

yang desentralistis belum sepenuhnya terakomodir dalam aturan dan norma-

norma yang ada sehingga seringkali masih dijumpai hubungan antar kementerian

dan lembaga dengan daerah, antar provinsi dan kabupaten/kota, dan antar daerah

yang kurang baik.

Diberlakukannya Undang-Undang No.23 tahun 2014, maka Penyuluhan

Pertanian menjadi wewenang dan tanggungjawab Pemerintah Daerah (PEMDA).

Dengan kewenangan yang dimiliki tersebut, Pemerintah Daerah dapat

mengoptimalkan seluruh potensi sumberdaya penyuluhan pertanian yang tersedia,

yang satu diantaranya adalah kelembagaan penyuluhan. Untuk mengoptimalkan

penyelenggaraan pemerintahan di daerah maka diterbitkanlah PP No.18 Tahun

2016 tentang perangkat daerah, maka melalui Peraturan Daerah (PERDA)

beberapa lembaga yang oleh pemerintah daerah dianggap kurang sesuai dengan

kebutuhan daerah di tiadakan sehingga Orgnanisasi Perangkat Daerah jadi

beragam dan berbeda di setiap daerah hal ini termasuk juga kelembagaan

penyuluhan.

28
2.2. Landasan Teori

2.2.1 Teori Kelembagaan


Teori Institusional (Institutional Theory) atau teori kelembagaan yaitu

terbentuknya organisasi karena adanya tekenan lingkungan institusional yang

menyebabkan terjadinya institusionalisasi. Scott dalam Agung (2012)

mengemukakan bahwa teori institusional memberi perhatian yang mendalam dan

sungguh-sungguh pada struktur sosial. Teori ini memperhatikan bagaimana

struktur, seperti skema, aturan, norma dan rutin menjadi bentuk yang bersifat

otoritatif untuk terjadinya perilaku sosial. Teori institusional mempertanyakan

bagaimana hal-hal tersebut dibuat, berpadu, diadaptasi dalam ruang dan waktu.

Merujuk Gerhard Linski dalam sunarto (2004) dan juga Svejvig (2010), teori

institusional dapat membahas perilaku sosial baik dalam jenjang makro-struktur,

meso-struktur ataupun mikro-struktur.

Menurut Nugroho (2010) dalam Ulfah (2018), Kelembagaan diartikan

sebagai aturan main, norma-norma, larangan larangan, kontrak, kebijakan dan

peraturan atau perundangan yang mengatur dan mengendalikan perilaku individu

dalam masyarakat atau organisasi untuk mengurangi ketidakpastian dalam

mengontrol lingkungannya serta menghambat munculnya perilaku oportunis dan

saling merugikan sehingga perilaku manusia dalam memaksimumkan

kesejahteraan individualnya lebih dapat diprediksi.

Definisi tersebut mengimplikasikan 2 komponen penting dalam

kelembagaan, yaitu aturan main (Irules of the game) dan organisasi (players of

the game). Keduanya sulit dipisahkan karena organisasi dapat berjalan apabila

29
aturan main mengizinkan atau memungkinkan, sebaliknya aturan main disusun,

dijalankan, dan ditegakkan oleh organisasi.

DiMaggio dan Powell (1983) mengemukakan kelembagaan merupakan

suatu organisasi yang terbentuk karena berasal dari struktur internal di dalam

lingkungan institusional. Gagasan yang berpengaruh dikenal dengan institusinal

ini berasal dari kondisi masyarakat secara umum yang ditentukan oleh

rasionalitas, keefektifan dan sebuah legitimasi sehingga gagasan tersebut dapat

diterima dalam konteks menyelaraskan struktur organisasi.

Menurut DiMaggio dan Powell (1983) dalam Siwi (2016) menerangkan

penyebab rasionalisasi organisasi telah berubah. Dikatakan bahwa birokrasi dan

bentuk lain dari perubahan organisasi terjadi sebagai hasil dari proses yang

membuat organisasi lebih mirip tanpa membuat mereka lebih efisien. Mereka

mengusulkan bahwa dari waktu ke waktu organisasi cenderung bergerak kearah

homogenitas. Meski menunjukkan keseragaman pada awalnya. Istilah ini untuk

menggambarkan homogenisasi adalah isomorphism. Tipe isomorphism dibagi

menjadi dua, yaitu isomorphism kompetitif dan isomorphism institusional. yang

pertama berhubungan dengan kompetisi pasar dan yang kedua berhubungan

dengan sebuah situasi dimana sebuah sebuah organisasi juga harus berkompetisi

untuk mendapatkan kekuatan politik dan legitimasi institusional. Dalam studi ini

mengadopsi berbagai konsep yang kedua karena organisasi pemerintah daerah

tidak berada dalam kompetisi yang bebas dan terbuka sepenuhnya.

Terdapat 3 (tiga) mekanisme kelembagaan umum untuk memahami

bagaimana organisasi beroperasi dan mempengaruhi populasi, mekanisme

30
isomorphism yaitu coercive isomorphism yaitu muncul sebagai akibat dari

pengaruh politik legitimasi, kedua yaitu mimetic isomorphism yaitu hasil dari

proses menanggapi lingkungan yang tidak pasti dalam bidang organisasi

beroperasi. Dalam suatu ketidakpastian maka organisasi cenderung untuk meniru

orang lain agar mencapai legitimasi (reaksi organisasi atas ketidakpastian). Ketiga

yaitu Normative isomorphism diasosiasikan berhubungan dengan profesionalitas.

Organisasi yang beroperasi dalam lingkungan yang sama dapat dikatakan akan

sedang mengalami tuntutan yang sama mengenai apa yang umumnya dianggap

sebagai sebuah perilaku yang dapat diterima dan akibatnya memiliki struktur dan

proses yang sama.

Berdasarkan perbedaan tugas pokok atau misi yang mendasari

organisasinya, Syukur Abdullah Alfian (dalam Ulfah, 2018) menjelaskan bahwa

kelembagaan dibedakan dalam tiga kategori, yaitu:

a. Kelembagaan pemerintahan umum, yaitu rangkaian organisasi pemerintah yang

menjalankan tugas-tugas pemerintahan umum termasuk memelihara ketertiban

dan keamanan, dari tingkat pusat sampai daerah (propinsi, kabupaten, kecamatan

dan desa). Tugas-tugas tersebut lebih bersifat “mengatur” (regulative function).

b. Kelembagaan pembangunan yaitu organisasi pemerintahan yang menjalankan

salah satu bidang atau sektor khusus guna mencapai tujuan pembangunan, seperti

pertanian, kesehatan, pendidikan, industri dan lain-lain. Fungsi pokoknya adalah

fungsi pembangunan (development function) atau fungsi adaptasi (adaptive

function).

31
2.2.2 Teori Fungsional Struktural

Salah satu tokoh yang dikenal dengan teori fungsionalisme struktural

adalah Talcott Parsons. Dimana persons ini memiliki empat (4) fungsi tindakan

yaitu terkenal dengan “ AGIL”. Dengan menggunakan definisi ini person percaya

bahwa ada empat imperatif yang diperlukan menjadi seluruh sistem. Agar

bertahan hidup, sistem harus menjalankan keempat fungsi tersebut, diantaranya :

1. Adaptasi : sistem harus mengatasi kebutuhan situasional yang datang dari

luar. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan

dengan kebutuhan-kebutuhannya. Fungsi ini dijalankan dengan sistem

tindakan organisme behavioral untuk menyesuaikan dan mengubah dunia

luar.

2. Pencapaian tujuan : sistem harus mendefenisikan dan mencapai tujuan

utamanya. Fungsi ini dijalankan oleh sistem kepribadian dengan

mendefinisikan tujuan sistem dan memobilisasi sumber daya yang

digunakan untuk mencapainya.

3. Integrasi : sistem harus mengatur hubungan bagian-bagian yang menjadi

komponennya. Ia pun harus mengatur hubungan antar ketiga fungsi yang

lain (A,G,L). Fungsi ini dijalankan oleh sistem sosial dengan mengontrol

bagian-bagian yang menjadi komponennya.

4. Latensi ( Pemeliharaan Pola). Sistem harus melengkapi, memelihara dan

memperbarui motivasi individu dan pola-pola budaya yang menciptakan

dan mempertahankan motivasi tersebut. Fungsi ini dijalankan oleh sistem

32
kultural dengan membekali aktor dengan norma dan nilai-nilai yang

memotivasi mereka untuk bertindak.

Dari gambar di atas Person mendesain skema AGIL agar dapat digunakan

pada semua level sistem teoritisnya. Dalam pembahasan di atas tentang sistem

tindakan, Person menjabarkan bagaimana menggunakan AGIL. Organisme

behavioral adalah sistem tindakan yang menangani fungsi adaptasi dengan

menyesuaikan dan mengubah dunia luar. Sistem kepribadian menjalankan fungsi

pencapaian tujuan dengan mendefinisikan tujuan sistem dan memobilisasi

sumberdaya yang digunakan untuk mencapainya. Sistem sosial menangani fungsi

integrasi dengan mengontrol bagian-bagian yang menjadi komponennya.

Akhirnya, sistem kultural menjalankan fungsi latensi dengan membekali aktor

dengan norma dan nilai-nilai yang memotivasi mereka untuk bertindak.

Person menjelaskan bahwa manusia dipahami sewaktu dia membuat

pilihan atau keputusan antara tujuan yang berbeda dan alat-alat untuk

mencapainya sehingga tujuan dan sasaran tersebut harus dipilih oleh individu dan

alat-alat yang berbeda-beda yang memungkinkan tujuan tersebut bisa dicapai

dimana pilihan-pilihan tersebut terdapat dalam suatu lingkungan yang ditempati

33
oleh masyarakat tersebut. Vago (1989) menjelaskan bahwa Talcott Persons (1961)

memandang masyarakat sebagai sistem yang dikelililngi oleh tiga sistem tiga

sistem lain yaitu kepribadian, organisme dan budaya sehingga ia menganggap

masyarakat dalam kondisi ekuilibrium bila batas-batasnya dengan tiga sistem

lainnya tidak dilanggar. Craib (1994) menjelaskan bahwa lingkungan itu termasuk

norma-norma dan nilai-nilai yang diterima secara umum sehingga unit tindakan

terbentuk oleh pelaku, alat-alat dan suatu lingkungan yang terdiri objek fisik dan

sosial, norma-norma dan nilai-nilai.

Setiap individu dalam suatu masyarakat diasumsikan akan mencapai daya

tarik yang maksimal dalam suatu interaksi dengan tindakan-tindakan yang diulang

untuk mendapatkan tanggapan masyarakat sehingga menciptakan peran status

yang akan membangun suatu jaringan posisi-posisi dalam suatu institusi

masyarakat. Craib (1994), menjelaskan bahwa suatu pernyataan hubungan-

hubungan yang berlangsung dalam cara yang sedemikian sehingga tingkah laku

yang sedemikian berkaitan dengan setiap peran status yang tepat dan siapapun

yang melakukannya dinamakan institusional. Veeger (1991), menjelaskan bahwa

dalam teori Parson, tiap-tiap sistem sosial terdiri dari pola-pola perilaku tertentu

yang terdiri dari lima kategori yaitu perasaan atau netral perasaan, arah diri atau

arah kolektifitas, partikularisme atau universalisme, status bawaan atau status

perolehan sendiri serta campur baur atau tertentu dimana tiap kategorisasi

tersebut, individu yang berinteraksi tidak perlu untuk memutuskan sendiri

alternatif mana yang akan dipakai tapi masyarakt atau kebudayaan setempat telah

34
memilih untuk dia dan telah melembagakan salah satu alternatif yang menentukan

corak interaksi.

2.3. Kerangka Berpikir

Sektor pertanian merupakan sektor penggerak perekonomian Nasional.

Dengan demikian maka sektor ini perlu memperoleh perhatian lebih oleh

pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Salah satu hal yang

perlu dilakukan adalah penyelenggaraan penyuluhan yang tepat dan efektif.

dengan demikian agar pemerintah dapat menyampaikan program-programnya dan

petani dapat menerima dan menerapkannya. Semangat otonomi daerah yang di

tertuang dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah dan PP

Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah dan telah diperbarui

melalui PP Nomor 18 Tahun 2016 tentang Organisasi Perangkat Daerah

menyebabkan ketidaksamaan kelembagaan penyuluhan pertanian di masing-

masing daerah. Berbagai Subsektor pertanian terbagi dalam beberapa Organisasi

Perangkat Daerah, meskipun demikian fungsi penyuluhan pada masing-masing

subsektor (Pertanian, Peternakan, Ketahanan Pangan, Kehutanan dan Perikanan)

harus tetap dilaksanakan.

Sejalan dengan dinamika bentuk kelembagaan penyuluhan pertanian,

ternyata telah ikut merubah struktur dan sistem penyelengaraan penyuluhan

pertanian jadi berbeda-beda dan juga berdampak pada kinerja petugas penyuluh

pertanian di daerah. Penelitian ini akan menelaah deskripsi kebijakan otonomi

daerah dan dampaknya terhadap sistem dan mekanisme penyelenggaraan

35
penyuluhan pertanian yang meliputi kelembagaan penyuluhan, sistem kerja

penyuluhan pertanian, kinerja penyelenggara penyuluhan pertanian. (Gambar 2).

Kebijakan Otonomi
Daerah

Kelembagaan Sistem Mekanisme


Penyuluhan Penyuluhan Penyuluhan

Kinerja
Penyuluhan

Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran Penelitian

2.4. Konsep dan Definisi Operasional

Tabel 1.4 Konsep dan Definisi Operasional


No. Konsep Definisi Operasional

1. Dinamika Perubahan regulasi kelembagaan penyuluhan

2. Kelembagaan Institusi atau organisasi perangkat daerah (OPD)

kabupaten Alor

3. Sistem Rangkaian aturan main pekerjaan yang

dilaksanakan oleh beberapa pihak

36
4. Penyuluhan Menyampaikan pesan dan informasi teknologi tepat

guna.

5. Otonomi Daerah Kebijakan untuk menyerahkan sebagian

kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah

daerah

6.Kinerja penyuluhan : kemampuan penyelenggara penyuluhan mematuhi waktu


kerja serta tepat dalam penyelesaiaknnya

37
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan sebuah penelitian deskriptif dengan

pendekatan kualitatif. Bogdan dan Taylor dalam Moloeng (2007:4)

mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang

menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari

orang-orang dan perilaku yang diamati dari fenomena yang terjadi. Lebih

lanjut Moleong (2007:11) mengemukakan bahwa penelitian deskriptif

menekankan pada data berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka

yang disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu,

semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa

yang sudah diteliti. Pengambilan sampel atau sumber data pada penelitian

ini dilakukan secara purposive dan untuk ukuran sampel tersebut

ditentukan secara snowball, teknik pengumpulan dengan triangulasi

(gabungan), analisa data bersifat kualitatif dan hasil penelitian

menekankan makna generalisasi. Hasil dari penelitian ini hanya

mendeskripsikan atau mengkonstruksikan wawancara-wawancara

mendalam terhadap subjek penelitian sehingga dapat memberikan

gambaran yang jelas mengenai penyelenggaraan penyuluhan.

38
3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan tempat dimana peneliti melakukan

penelitian terutama dalam menangkap fenomena atau peristiwa yang

sebenarnya terjadi dari objek yang diteliti dalam rangka mendapatkan

data-data penelitian yang akurat. Dalam penentuan Lokasi penelitian,

Moleong (2007:132) menentukan cara terbaik untuk ditempuh dengan

jalan mempertimbangkan teori substantif dan menjajaki lapangan dan

mencari kesesuaian dengan kenyataan yang ada dilapangan. Sementaraitu

keterbatasan geografi dan praktis seperti waktu, biaya, tenaga perlu juga di

jadikan pertimbangan dalam penentuan lokasi penelitian. Lokasi yang

diambil dalam penelitian ini ditentukan dengan sengaja (purposive), yang

dilakukan pada Pemerintah Daerah Kabupaten Alor, Provinsi NTT.

Dengan berbagai pertimbangan dan alasan antara lain:

1) Pertimbangan tanggung jawab moril peneliti sebagai ASN

Kabupaten Alor dalam pembangunan Daerah menjadi salah satu

pertimbangan pemilihan lokasi.

2) Kabupaten Alor sebagai Daerah kepulauan yang sebagian besar

penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani dan

nelayan.

3) Kabupaten Alor adalah salah satu Kabupaten di Propinsi NTT yang

merupakan wilayah perbatasan yang berbatasan Laut dengan

Negara Timor Leste sehingga memiliki jalur Dagang antar negara.

39
4) Memilki potensi pertanian, kelautan dan sektor agrokompleks yang

masih perlu dikembangkan.

3.3. Informan Penelitian

Informan dalam penelitian ini ialah :

Tabel 1.3 Informan Penelitian

No Informan Jenis Informasi


1. Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) 1. Pengelolaan
pemerintahan
2. Komunikasi antar sektor
pertanian
3. Kebijakan anggaran dan
penyuluhan

2. Tim Asistensi Kelembagaan Daerah 1. Penerapan regulasi


Kelembagaan
2. pertimbangan –
pertimbangan
pembentukan OPD

3. Koordinator Penyuluh Pertanian Kabupaten Dampak penerapan UU


otonomi daerah terhadap
penyelenggaraan penyuluhan
bagi penyuluh dan
petani/nelayan

3.4. Sumber Data

1. Sumber Data Primer

Sumber data primer berupa cara wawancara langsung terhadap pimpinan

Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sektor agrokompleks dan penyuluh

pertanian di Kabupaten Alor Propinsi NTT

2. Sumber Data Sekunder

40
Sumber data skunder merupakan sumber data yang diperoleh secara

tidak langsung oleh peneliti, melainkan didapatkan dari pihak lain. Data

sekunder ini akan menjadi informasi pendukung yang akan melengkapi

informasi yang diperoleh dari data primer. Sumber data sekunder bisa berupa

dat-data yang berasal dari jurnal, buku-buku, website, berita online yang

memuat informasi maupun data-data dari dinas terkait.

3.5. Teknik Pengumpulan Data


Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan beberapa teknik

pengumpulan data diantaranya :

a. Wawancara : Kegiatan ini dilakukan dengan memberikan pertanyaan-

pertanyaan yang telah disiapkan sebelum peneliti kelapangan penelitian

agar data-data yang di peroleh lengkap.

b. Observasi : Observasi dilakukan dengan cara peneliti mengamati secara

langsung bagaimana mekanisme penyelenggaraan penyuluhan yang

dilakukan oleh masing-masing sektor agrokompleks.

c. Studi Literatur : Data-data yang diperoleh dari berbagai sumber berupa

regulasi dan aturan kelembagaan penyuluhan yang di terbitkan oleh

pemerintah pusat dan daerah, jurnal nasional dan jurnal internasional,

berita-berita nasonal dan berita lokal mengenai kelembagaan dan

penyelenggaraan penyuluhan.

41
3.6. Metode Analisis Data

a. Validitas Data

Data hasil wawancara, observasi, dan forum grup diskusi harus

diperhatikan dan diuji supaya data tersebut layak digunakan sebagai

hasil penelitian.Teknik trianggulasi biasanya digunakan untuk menguji

data menjadi data yang valid. Trianggulasi adalah ide dalam melihat

suatu hal dari beberapa sudut pandang agar dapat meningkatkan

keakuratan data (Neuman,2013). Dalam penelitian ini peneliti akan

menggunakan dua pendekatan trianggulasi menggunakan model

sugiyono (2012), yaitu menggunakan Trianggulasi Sumber dan

Trianggulasi Teknik :

1) Trianggulasi Sumber

Peneliti melakukan trianggulasi sumber dengan melakukan

klarifikasi data yang diperoleh kepada beberapa sumber sebagai

informan melalui teknik yang sama. Data yang telah dideskripsikan dan

dikategorisasikan antara pendapat yang sama dan berbeda kemudian

disusun menjadi suatu kesimpulan yang disepakati dengan informan

kunci.

2) Trianggulasi Teknik

Trianggulasi Teknik merupakan upaya klarifikasi data pada

informan kunci dengan Teknik yang berbeda.Pada penelitian ini,

Teknik pengambilan data dilakukan dengan wawancara, observasi,

studi literatur.

42
b. Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan dan diuji keabsahannya

kemudian dianalisis. Teknik analisis data yang digunakan pada

penelitian ini menggunakan teknis analisis data model interaktif

menurut Miles & Huberman. Teknis tersebut terdiri atas empat

tahapan yang harus dilakukan.(Herdiansyah, 2011: 164).

Adapun apa saja yang perlu dilakukan pada setiap tahapan

diatas akan dijelaskan satu persatu berikut ini :

1) Pengumpulan Data

Penelitian Kualitatif, proses pengumpulan data dilakukan

sebelum penelitian, pada saat penelitian, dan bahkan di akhir

penelitian. Idealnya, proses pengumpulan data sudah dilakukan

ketika penelitian masih dalam bentuk konsep atau draft.

2) Reduksi data

Inti dari reduksi data adalah proses penggabungan dan

penyeragaman segala bentuk data yang diperoleh menjadi satu

bentuk tulisan (script) yang akan dianalisis.

3) Display Data

Display data adalah mengolah data setengah jadi yang

sudah seragam dalam bentuk tulisan dan sudah memiliki alur tema

yang jelas kedalam proses kategori tema, sub kategori tema dan

proses pengkodean sesuai dengan verbatim wawancara yang

dilakukan sebelumnya.

43
4) Kesimpulan/Verifikasi

Kesimpulan/verifikasi secara esensial berisi tentang uraian

dari seluruh sub kategorisasi tema yang tercantum pada tabel

kategorisasi dan pengodean yang sudah terselesaikan disertai

dengan quote verbatim wawancara.

44
DAFTAR PUSTAKA

Agung, 2012. Penggunaan Teori Institusional dalam Penelitian Teknologi


Informasi dan Komunikasi di indonesia. Seminar NasionalAplikasi
TeknologiInformasi. Yogyakarta.

Benu Fred et all, 2018, KPJU UnggulanKabupatenAlor 2018, KPw BI NTT dan
Lemlit Undana, Kupang

BPS Alor, 2019, Alor Dalam Angka 2018, BPS Kabupaten Alor, Kalabahi.

Budiasa, I.W. 2011. Pertanian Berkelanjutan : Teori Dan Permodelan. Denpasar:


Udayana University Press.

Craib, Ian. 1994 Teori - Teori Sosial Modern : dari Parsons sampai Habermas,

Diterjemahkan T. Effendi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Creswell. John W, 2012.Research Design; Edisi Ketiga. Penerbit Pustaka Pelajar.


Yogyakarta

Dahuri, R. 1998. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan : Dalam Persperktif


Ekonomi, Sosial, Dan Ekologi.Agrimedia. Vol. 4 No. 1, Februari,
Hal. 5-11.

FukuyamaF.,2005.Trust,
KebajikanSosialdanPenciptaanKemakmuran.PenerbitQalam. Yogyakarta

Gale, R.P And S. M. Corday. 1994. “Making Sense Of Sustainability : Nine


Answer To What Should Be Sustained”. Rural Sociology 59 : 311-
332.

George, 2012. Teori Sosiologi Clasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori


Sosiologi Postmodern. Buku Teori Sosiologi, Kreasi Wacana Yogyakarta.

Kartodirdjo S., 2013. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. PT.
Gramedian. Jakarta

Mulyana. Dedy, 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif; Paradigma Baru Ilmu


Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Penerbit PT. Remaja Rosdakarya.
Bandung

Alfian dan Nazaruddin Syamsyuddin, Profil Budaya Politik Indonesia, Pustaka


Utama Grafiti, Jakarta, 1991, hlm. 229.

Padmanabhan, Martina And Volker Beckman. 2009. Institution And


Sustainability : Introduction And Overview. In Book: Institution

45
And Sustainability :Political Economy Of Agriculture And The
Environment : Essay In Honour Of Konrad Hagedorn. Springer: London.

Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah.

Peraturan Presiden Nomor 154 Tahun 2014, tentang Kelembagaan Penyuluhan


Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan.

Pratikno, Perumusan Pola Hubungan Pusat Daerah dalam Rangka Realisasi


Otonomi Daerah. Laporan Penelitian Fak Sospol UGM Yogyakarta 1991
Riswanda Imawan, Dampak Pembangunan Nasional Terhadap Peningkatan
Kemampuan Daerah. Laporan Peneltian PAU Studi Sosial UGM
Yogyakarta 1991.
Rustiadi E.; Saefulhakim S.; Panuju D., 2011. Perencanaan dan Pembangunan
Wilayah. Pustaka Obor Indonesia. Jakarta

Sachari A., 2005. Metodologi Penelitian Budaya Rupa. Penerbit Erlangga. Jakarta

Sakinah Nadir, Otonomi Daerah Dan Desentralisasi Desa: Menuju Pemberdayaan


Masyarakat Desa, Jurnal Politik ProfetikVolume 1 Nomor1 Tahun 2013

Salkin, Karwan A. 2003. SistemPertanianBerkelanjutan. Yog-yakarta: Kanisius.

Sarwono J. dan Lubis H., 2007. Metode Riset untuk Desain Komunikasi Visual.
Penerbit Andi. Yogyakarta

Scott, W. Richard. 2004. Institutional Theory: Contributing to a Theoritical


Research Program. Great Minds in Management: The Process of
Theory Development. Smith, K. G. &Hitt, M. A. Oxford University
Press.

Silalahi U., 2012. Metode Penelitian Sosial. Penerbit Refika Aditama. Bandung

Soedijanto, 2006. Jurnal Penyuluhan, Vol. 2, No. 1.

Svejvig, Per. 2010. Enterprise Systems and Institutions Theorizing About


Enterprise Systems
in Organizations using Institutional Theory – A Case Study Approach.
Unpublished Ph.D. Thesis Aarhus University.

46
Syahyuti, 2015. Modernisasi Penyuluhan Pertanian di Indonesia:
Dukungan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 terhadap Eksistensi
Kelembagaan Penyuluhan Pertanian di Daerah

Teddlie C. Tashakori A., 2010.HandBook of Mixed Methods in Social &


Behavioral Research. Penerbit Pustaka Pelajar.Yogyakarta

UU RI Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Edisi Terbaru 2014,


Penerbit : FokusMedia. Bandung

UU Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan


Kehutanan

Vago, Stefen. 1989. Sosial Change. Second Edition, Prentice – Hall, inc

Veeger, K.J. 1991. Realita Sosial (Refleksi Filsafat Sosial Atau Hubungan
Individu Masyarakat Dalam Cakrawala Sejarah Sosiaogi). Jakarta :
Gramedia Pustaka Utama

Walker J.A., 2010.Design History and History of Design (Desain-Sejarah-


Budaya; Sebuah Pengantar Komprehensif). Penerbit Jalasutra. Yogyakarta

Guru Honorer

47
 Berbagi itu indah, apalagi berbagi ilmu..

48