Anda di halaman 1dari 44

Daftar Isi

BAB I ...................................................................................................................... 2
1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 2
1.2. Rumusan Masalah .................................................................................... 9
1.3. Tujuan Penelitian .................................................................................... 10
1.4. Manfaat Penelitian .................................................................................. 10
1.5. Keaslian Penelitian ................................................................................. 11
BAB II ................................................................................................................... 12
2.1. Tinjauan Pustaka .................................................................................... 13
2.1.1. Kelembagaan Penyuluhan ............................................................... 13
2.1.2. Dinamika Kelembagaan .................................................................. 15
2.1.3. Penyuluhan Pertanian ...................................................................... 18
2.1.4. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan……………………………20
2.1.5. Otonomi Daerah…………………………………………………...22
2.2. Landasan Teori ....................................................................................... 28
2.2.1. Teori Kelembagaan ...................... Error! Bookmark not defined.28
2.2.2. Teori Fungsional Struktural ............................................................ 29
2.3. Kerangka Berpikir .................................................................................. 32
2.4. Konsep dan Definisi Operasional ........................................................... 33
BAB III ................................................................................................................. 35
3.1. Jenis Penelitian ....................................................................................... 35
3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian .................................................................. 36
3.3. Informan Penelitian ................................................................................ 37
3.4. Sumber Data ........................................................................................... 37
3.5. Teknik Pengumpulan Data ..................................................................... 38
3.6. Metode Analisis Data ............................................................................. 38

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pertanian merupakan salah satu sektor yang berperan penting dalam

pembangunan Indonesia karena ketersediaan sumberdaya alamnya, letak

geografisnya serta kultur masyarakat agraris yang telah terbentuk dalam strata Commented [ana1]: Serta karena letak geografis

kehidupan perekonomian masyarakat Indonesia. Sektor pertanian dalam

kelompok sektoral tergolong agrokompleks karena di dalamnya berkaitan

dengan sub sektor perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan. Posisi

strategis sektor pertanian dalam mendukung pembangunan Indonesia terlihat

dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penyediaan

lapangan kerja, penyedia bahan baku industri, serta instrumen pelestari

lingkungan berkelanjutan. Hal demikian disebabkan karena ketersediaan

sumberdaya alam yang melimpah (luasan lahan pertanian; cari data sensus

pertanian 2015), kondisi agroklimatologi yang mendukung (letak geografis), Commented [ana2]: Perlu editing. Masih ada kata perintah

dan kultur masyarakat agraris sehingga dunia pertanian masih menyediakan

banyak lapangan usaha untuk dikembangkan 30,46 % menyediakan lapangan Commented [ana3]: Sebesar 30,...%

pekerjaan. (BPS, Triwulan I/2018).

Seiring perkembangan inovasi pertanian maka persaingan kualitas

kapasitas produksi pertanian kini menggeser keberadaan petani tradisional

yang masih mengandalkan teknologi dan pola pertanian tradisional. Tugas

penting pemerintah adalah memberikan pengawalan, pembinaan, dan

penyuluhan agar kultur masyarakat agraris teradvokasi dalam dinamika

persaingan dimaksud. Salah satu pola efektif yang dikembangkan selama ini

2
adalah memaksimalkan peran strategis kelembagaan penyuluh. tugas dan

fungsi lembaga penyuluhan adalah menyelenggarakan pendidikan non-formal

bagi petani/nelayan mendampingi petani, mengajarkan pengetahuan dan Commented [ana4]: Petani atau nelayan, mendampingi

keterampilan tentang usaha tani, mendidik petani agar mampu

memberdayakan semua potensinya, menyebarluaskan inovasi baru kepada

petani tentang bagaimana berusaha tani yang baik.

Perubahan kelembagaan penyuluhan pertanian di Indonesaia cukup

dinamis karena terjadi perubahan format yang tepat seiring perkembangan

zaman agar lebih efisien dan efektif sesuai kebutuhan. Pasca era Bimas, Commented [ana5]: Jelaskan secara singkat pengertian era
Bimas. Jangan gunakan garis miring

penyuluh pertanian pada dinas/instansi agrokompleks didistribusikan ke

masing-masing dinas sehingga muncul penyuluh perikanan, penyuluh

peternakan, penyuluh perkebunan, penyuluh kehutanan dan penyuluh

pertanian tanaman pangan.

Lahirnya Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2006 tentang

Sistem Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (SP3K) telah

mengintegrasikan semua latar belakang penyuluh menjadi satu wadah

kelembagaan penyuluhan pada berbagai tingkatan. Tersedia Balai

Penyuluhan Pertanian dan Kehutanan pada tingkat kecamatan, setingkat

kabupaten/kota berbentuk Badan Pelaksana Penyuluhan (BAPPELUH),

tingkat propinsi berbentuk Badan Koordinasi Penyuluhan (BAKORLUH),

dan di tingkat pusat terbentuk Badan Pusat Penyuluhan. Kelembagaan di Commented [ana6]: Dibuat bagan struktur saja. Dari tingkat
terendah sampai pusat. Untuk memudahkan pembaca memahami
strata lembaga penyuluhan.
masing-masing tingkatan mempunyai tugas pokok dan fungsi yang berbeda

3
namun mempunyai tujuan yang sama yakni peningkatan kesejahteraan petani

dan nelayan.

Syahyuti (2015), menegaskan bahwa seiring hadirnya UU Nomor 23

Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah yang mendistribusikan kewenangan

pengelolaan pemerintahan di berbagai tingkatan maka telah teralihkan

sebagian kewenangan antar tingkatan pemerintah. Hal dimaksud diantaranya,

penyuluh perikanan dikembalikan kewenangannya ke pusat, penyuluh

kehutanan ke propinsi, dan penyuluh pertanian menjadi tanggungjawab

semua level secara konkruensi. Sebelumnya, satu produk kebijakan penting

berkenaan dengan kelembagaan pemerintah adalah Peraturan Pemerintah

(PP) Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah dan telah

diperbaharui melalui PP Nomor 18 Tahun 2016 tentang Organisasi Perangkat

Daerah yang dijadikan acuan untuk memutuskan apakah penyuluh harus

bergabung dengan instansi atau tersendiri dengan membentuk BAPPELUH. Commented [ana7]: Dibuat skema struktur lama dan struktur
baru. Ini bisa dijadikan landasan sebagai pemantik masalah

Merujuk UU Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian,

Perikanan dan Kehutanan mampu memayungi semua penyuluh dalam satu

wadah kelembagaan serta dipertegas dalam Perpres Nomor 154 Tahun 2014.

Mardikanto (2017), menegaskan bahwa perubahan bentuk dan status

kelembagaan penyuluhan dari berbagai kebijakan cenderung berpengaruh

pada kebijakan struktural namun dari sisi fungsional penyuluh turut

mempengaruhi kebijakan anggaran, termasuk peningkatan kapasitas dan

keahlian para penyuluh. Para penyuluh mendapatkan kesulitan karena dalam

pelaksanaan tugas dan fungsinya akan berhubungan dengan kebijakan

4
struktural sehingga berpengaruh pada peningkatan keahlian dan inovasi

teknologi. Lembaga penyuluhan pertanian pernah berhenti bermetamorfosa

dan pembenahan mulai dari Balai Informasi Penyuluhan Pertanian (BIPP),

Kantor Informasi Penyuluhan Pertanian dan Kehutanan (KIPPK), menjadi

Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPPKP). Kondisi

demikian berdampak pada upaya serius menata fungsi kelembagaan secara

struktural agar mampu memberikan kontribusi secara fungsional terhadap

keberadaan penyuluh selama periodesasi dimaksud.

Perubahan nomenklatur bentuk dan fungsi kelembagaan dimaksud

juga berdampak pada pembangunan pertanian di Provinsi Nusa Tenggara

Timur (NTT), khususnya Kabupaten Alor yang terkategori kabupaten agraris

dan berkepulauan. Letak astronominya yang berbatasan laut dengan Negara

Republik Demokratic Timor Leste (RDTL) adalah posisi geografis yang

cukup strategis dalam pengembangan dan pembangunannya. Kabupaten Alor

memiliki luas wilayah 13.702,49 Km2 yang terdiri dari luas darat 2.928,88

Km2 dan perairan seluas 10.773, 62 Km2. Tipologi wilayahnya cenderung

berkepulauan yang terdiri dari 15 pulau dengan rincian 9 (sembilan) pulau

berpenghuni dan 6 (enam) pulau tidak berpenghuni. Wilayah daratannya Commented [ana8]: Bisa dirubah narasinya lebih kepada
dampak perubahan kebijakan tersebut terhadap kinerja dinas atau
lembaga terkait di alor.
merupakan konfigurasi daratan bergunung dan berbukit terjal dengan tingkat

kecuraman lebih dari 60% dan tingkat kemiringannya diatas 40%. Kondisi

demikian berdampak pada tingkat variasi komoditi pertanian sehingga untuk

pengembangannya membutuhkan sentuhan kebijakan yang dikuatkan dengan

kelembagaan penyuluhan. Keaneka-ragaman komoditi pertanian tanaman

5
pangan dan hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan

yang dimiliki tersebar merata hampir disetiap wilayah daratan dan pesisir

dengan berbagai komoditas unggulan pada setiap jenis usahanya.

Penelitian Komoditas Jenis Usaha Unggulan (KPJU) yang dilakukan

Lemlit Undana dan KPw Bank Indonesia, terilis 5 (lima) sektor usaha

unggulan di Kabupaten Alor secara berurutan adalah perikanan, pariwisata,

tanaman pangan, perkebunan dan perdagangan. Terilis dalam data BPS, pada

tahun 2017 sektor tanaman pangan mengalami peningkatan yang cukup

siginifikan pada potensi tanaman padi dan jagung. Data perkembangan

potensi pertanian menunjukkan bahwa pada periode tahun 2015 sampai 2017,

produktifitas tanaman padi sawah mengalami kenaikan mulai dari 1.742 ton

(2015) dan 2.434 ton (2017), sedangkan padi ladang 15.683 ton (2015) dan

14.807 ton (2017). Selain tanaman pangan, potensi disektor pertanian

lainnnya seperti tanaman hortikuiltura (buah-buahan dan sayuran) juga

mengalami kenaikan produksi pada 3 (tiga) tahun terakhir (Dinas Pertanian

dan Perkebunan Kab. Alor, 2018).

Gambaran potensi dimaksud cenderung diusahakan secara tradisional

(pola subsistem) oleh petani lokal yaitu dengan keterbatasan sumberdaya

lahan, curah hujan yang rendah, terbatasnya modal, minim sentuhan

teknologi, terbatas jangkauan pasar dan kapasitas para petani yang minim

pengalaman usahatani modern. Hal dimaksud dapat mengalami perubahan

jika diperkuat dengan dukungan pendampingan dari pemerintah yang intensif

memaksimalkan peran penyuluh pertanian yang agrokompleks. Harapannya

6
kedepan jika dimaksimalkan peran strategis penyuluh diberbagai sub-sektor

maka akan memudahkan para petani dalam mengatasi berbagai kendala

budidaya, pengolahan pasca panen dan pemasaran komoditi hasil produksinya

hingga mampu bersaing dan berdampak pada meningkatnya pendapatan para

petani.

Tugas penyuluh pertanian menurut UU Nomor 16 Tahun 2006 adalah

melakukan kegiatan persiapan penyuluhan pertanian, pelaksanaan

penyuluhan pertanian, evaluasi dan pelaporan, serta pengembangan

penyuluhan, pengembangan profesi dan kegiatan penunjang penyuluhan

pertanian. Keberadaan penyuluh berfungsi sebagai motivator, fasilitator, dan

dinamisator dalam kegiatan penyuluhan pertanian seperti membantu

mencarikan informasi inovasi/teknologi, permodalan, pemasaran,

mengajarkan keterampilan, menawarkan/merekomendasikan paket teknologi,

memfasilitasi, mengembangkan swadaya dan swakarya petani.

Peran atas keberadaan penyuluh pertanian adalah; (1) Memfasilitasi

proses pembelajaran bagi pelaku utama dan pelaku usaha, (2) Mengupayakan

kemudahan akses pelaku utama dan pelaku usaha ke sumber informasi,

teknologi, dan sumberdaya lainnya, (3) Meningkatkan kemampuan

kepemimpinan, manajerial, dan kewirausahaan pelaku utama dan pelaku

usaha, (4) Membantu pelaku utama dan pelaku usaha dalam menumbuh-

kembangkan organisasinya menjadi organisasi ekonomi yang berdaya saing

tinggi, produktif, menerapkan tata kelola berusaha yang baik dan

berkelanjutan, (5) Membantu menganalisis dan memecahkan masalah serta

7
merespon peluang dan tantangan yang dihadapi pelaku utama dan pelaku

usaha dalam mengelola usaha, (6) Menumbuhkan kesadaran pelaku utama

dan pelaku usaha terhadap kelestarian fungsi lingkungan, dan (7)

Melembagakan nilai-nilai budaya pembangunan pertanian yang maju dan

modern bagi pelaku utama secara berkelanjutan.

Tugas, fungsi dan peran diatas diperuntukan bagi jabatan fungsional

penyuluh maupun kelompok penyuluh non-PNS (Tenaga Harian Lepas; THL)

karena menjadi tanggung jawab fungsional.Memperhatikan tugas, fungsi dan

peran tenaga penyuluh diatas maka pembangunan pertanian diberbagai

tingkatan membutuhkan keberadaan pemerintah yang diperankan oleh

petugas lapangan. Ketersediaan tenaga penyuluh pertanian yang menjalankan

fungsi penyuluhan di Kabupaten Alor terdata sebanyak 116 orang penyuluh

pertanian (103 orangASN dan 13 orang Non ASN) dan 7 orang penyuluh

perikanan (2 orang ASN dan 5 orang Non ASN). Pemberlakuan UU Nomor

23 tahun 2014 beserta perubahan yang mengikutinya dan diperjelas dalam

Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah

mengharuskan daerah untuk mempertimbangkan skema organisasi perangkat

daerahnya sesuai prioritas kebutuhan, potensi daerah dan kemampuan

keuangan daerah. Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Alor Nomor 8 Tahun

2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah tidak

menyediakan kelembagaan khusus untuk penyelenggaraan penyuluhan

pertanian yaitu fungsi penyuluh pertanian dikembalikan pada dinas pertanian,

sedangkan penyuluhan sektor agrokompleks dilaksanakan oleh masing-

8
masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.Kondisi ini jelas akan

berdampak pada kinerja para penyuluh, fokus pengembangan kebijakan,

dukungan pendanaan serta fungsi koordinasi antar penyuluh, Organisasi

Perangkat Daerah (OPD) teknis dan kelompok tani.Kondisi demikian menjadi

keresahan peneliti sehingga berencana mengajukan Tesis berjudul Dinamika

Kelembagaan Penyuluh Pertanian dalam Pembangunan Sektor

Agrokompleks di Kabupaten Alor.

1.2. Rumusan Masalah

Kurun waktu 2015-2017 sektor pertanian Kabupaten Alor merupakan

sektor penyumbang PDRB terbesar bagi pembangunan. Data menunjukkan

bahwa sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 30,73% bagi PDRB

Kabupaten Alor yang artinya bahwa pengembangan sektor pertanian dituntut

lebih maksimal agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar lagi bagi

pemerintah. Selain bagi pemerintah kontribusi pada sektor pertanian juga

diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pembukaan lapangan

pekerjaan, peningkatan kesejahteraan masyarakat khsususnya petani dan

peningkatkan pendapatan petani (Bapelitbang Kab.Alor, 2017).

Kondisi geografis Kabupaten Alor yang sangat baik untuk

pengembangan pada sektor pertanian menjadi modal bagi para petani dalam

mengembangkan sektor pertanian. Adanya kenaikan sumbangan sektor

pertaniaan terhadap PDRB pemerintah Kabupaten Alor tidak terlepas dari

peran penyelenggara penyuluhan pertanian dalam membangun sistem

penyuluhan yang efektif melalui struktur kelembagaan yang profesional.

9
Permasalahan dasarnya adalah peran strategis penyuluh pertanian kini

dibatasi oleh kebijakan struktural sehingga fungsinya sebagai suluh dalam

pembangunan pertanian tidak dapat dimaksimalkan. Merujuk uraian dan

masalah dasar dimaksud maka rumusan masalah yang disodorkan adalah;

1. Bagaimana capaian dan peran strategis penyuluh pertanian dalam

pembangunan pertanian di Kabupaten Alor?

2. Bagaimana sistem kerja penyuluhan pertanianpada kelembagaan yang

berbeda di Kabupaten Alor?

3. Bagaimanakah model kelembagaan penyuluh pertanian dalam

membangun sektor Agrokompleks di Kabupaten Alor?

1.3. Tujuan Penelitian

Merujuk permasalahan yang disajikan, maka tujuan dari penelitian ini adalah

adalah:

1. Menganalisa capaian dan peran strategis penyuluh pertanian dalam

pembangunan pertanian di Kabupaten Alor.

2. Menganalisa sistem kerja penyuluhan pertanian pada kelembagaan yang

berbeda di Kabupaten Alor.

3. Merancang permodelan kelembagaan penyuluh pertanian dalam

membangun sektor Agrokompleks di Kabupaten Alor.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian tesis berjudul Dinamika Kelembagaan Penyuluh Pertanian dalam

Pembangunan Sektor Agrokompleks di Kabupaten Alorini diharapkan

bermanfaat bagi berbagai pihak, diantaranya:

10
1. Peneliti sebagai bagian dari komunitas ilmiah yang harus mendedikasikan

keilmuannya dalam pembangunan pertanian sekaligus memenuhi salah

satu prasyarat dalam menyelesaikan program pendidikan magister.

2. Lembaga pendidikan dan komunitas ilmiah khususnya almamater

Universitas Gadja Mada sebagai bahan pengayaan dan pengembangan

ilmu pengetahuan yang relevan untuk kegiatan penelitian lanjutan.

3. Masyarakat dan petani di Kabupaten Alor dalam melaksanakan dan

menopang kebijakan pembangunan pertanian di Kabupaten Alor.

1.5. Keaslian Penelitian

Keaslian penelitian terletak dalam beberapa hal, yaitu diantaranya sesuai

tabel berikut :

Tabel 1.2 Keaslian Penelitian

Apandi(2008)Pengaruh Perubahan Kelembagaan Penyuluhan Pertanian


terhadap Produktifitas Kerja Penyuluh Pertanian di Era Otonomi Daerah
Tesis

11
Analisis Data : Persamaan :
Teknik analisis data menggunakan Meneliti Kelembagaan Penyuluhan
Skala Likert kemudian dilakukan uji Pertanian
validitas dan uji reliabilitas

Hasil Kajian : Perbedaan :


Menunjukkan bahwa produktifitas -Penelitian ini merupakan penelitian

kerja penyuluh pertanian lapangan kuantitatif, sementara penelitian yang

dipengaruhi oleh motivasi 0.44, tingkat akan saya lakukan adalah penelitian

pendidikan 0.30 dan sumber kualitatif

penghasilan lain 0.27. besarnya -Penelitian ini ingin mengetahui

pengaruh bersama terhadap produktifitas kerja penyuluh pertanian,

produktifitas kerja penyuluh pertanian sedangkan yang akan saya teliti adalah

lapangan sebesar 31% dan besarnya penyelenggaraan penyuluhan oleh

pengaruh di luar model 69%. Variabel lembaga yang beragam antar sektor

yang paling kuat pengaruhnya terhadap pertanian (agrokompleks)

produktifitas kerja adalah motivasi.

El Syabrina1,Dedi Budiman Hakim2,dan Fredian Tonny3 (2013)Analisis


Kelembagaan Penyuluhan Pertanian Di Provinsi Riau
Jurnal Manajemen Pembangunan Daerah, Volume 5 Nomor 1,Juni 2013

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

12
2.1. Tinjauan Pustaka

2.1.1. Kelembagaan Penyuluhan

Kelembagaan penyuluhan menurut Van Den Ban dan Hawkins (1998) harus

mengubah struktur dan kebudayaannya agar bisa beradaptasi dengan perubahan

zaman yang terjadi sangat masif. Dengan begitu, kelembagaan penyuluhan akan

bisa beradaptasi untuk menghadapi perubahan jaman dan bisa memenuhi kebutuhan

petani sebagai seorang klien.

Undang-Undang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan

Kehutanan(SP3K) yang disyahkan oleh DPR RI dimaksudkan untuk memperkuat

keberadaan dan fungsi kelembagaan penyuluhan pertanian baik di pusat maupun di

daerah dalam memfasilitasi petani dan pelaku usaha pertanian lainnya dalam

mengembangkan usahanya untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan.

Surat Menteri Pertanian Nomor.37/OT.140/M/3/2005 meminta agar PEMDA

membentuk kelembagaan penyuluhan pertanian di daerah. Keberadaan dan

berfungsinya kelembagaan ini sangat penting untuk menciptakan suasana yang

kondusif bagi para penyuluh dalan menjalankan tugas dan fungsinya.

Berdasarkan Undang-Undang No.16 Tahun 2006, Kelembagaan

penyuluhan adalah lembaga pemerintah dan/atau masyarakat yang mempunyai

tugas dan fungsi menyelenggarakan penyuluhan. Kelembagaan penyuluhan terdiri

atas:

a. kelembagaan penyuluhan pemerintah,

b. kelembagaan penyuluhan swasta,

13
c. kelembagaan penyuluhan swadaya.

Kelembagaan penyuluhan pertanian merupakan salah satu wadah organisasi

yang terdapat dalam dinas pertanian. Kelembagaan pertanian menyesuaikan dengan

perubahan-perubahan yang ada antara lain:

1. Kebutuhan ketrampilan yang lebih cakap dibanding usaha produk serelia.

2. Tuntutan petani untuk mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas

produknya.

3. Pengetahuan dari berbagai macam sumber.

4. Pembiayaaan organisasi penyuluhan dari pihak swasta yang semula hanya

dari pihak pemerintah.

Penyesuaian dengan kondisi tersebut maka lembaga penyuluhan dalam

menghadapi perubahan tersebut menyikapi dengan:

1. Pengembangan SDM

2. Pengembangan system

3. Metode dan materi

4. optimalisasi sarana

5. Prasarana dan alat Bantu

6. Pemberdayaan masyarakat sasaran

7. Pengembangan jaringan kerja serta kemitraan

Menurut Pasal 1 UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah,

otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk

mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat

setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Syafrudin mengatakan,

14
bahwa otonomi mempunyai makna kebebasan dan kemandirian tetapi bukan

kemerdekaan. Kebebasan terbatas atau kemandirian itu adalah wujud pemberian

kesempatan yang harus dipertanggung jawabkan. Secara implisit definisi otonomi

tersebut mengandung dua unsur, yaitu adanya pemberian tugas dalam arti sejumlah

pekerjaan yang harus diselesaikan serta kewenangan untuk melaksanakannya, dan

adanya pemberian kepercayaan berupa kewenangan Untuk memikirkan dan

menetapkan sendiri berbagai penyelesaian tugas itu.

2.1.2. Dinamika Kelembagaan

Hagedorn dalam Padmabadhan (2009) merumuskan empat strategi dasar

untuk mencapai “kelembagaan keberlanjutan” dalam jangka panjang: (1)

memunculkan refleksivitas yang dibangun di atas penguatan sensitivitas aktor

untuk mendorong reformasi kelembagaan; (2) mengorganisasikan diri dan

berpartisipasi dalam proses politik yang memberi dampak integratif; (3)

menciptakan harmonisasi kepentingan dan regulasi konflik yang merupakan pusat

penyeimbangan kekuasaan dan kontrol atas sumber daya, sehingga membutuhkan

investasi dalam pengembangan mekanisme penyelesaian konflik; dan (4)

memunculkan inovasi kelembagaan sebagai proses kreatif mencari dan belajar

menggunakan pendekatan kooperatif. Sejalan dengan Haberer (1996), Hagedorn et

al. (2002) merumuskan pentingnya menciptakan transparansi dalam pengaturan

kelembagaan. Kelembagaan dalam konteks pembangunan berkelanjutan dari

perspektif sosiologi, terkait dengan dimensi manusia sebagai fokus dalam

pembangunan, sehingga jika untuk mengkonseptualisasikan pembangunan

15
berkelanjutan dari dimensi manusia, maka akan dititik beratkan pada keberlanjutan

sistem sosial masyarakat. (Gale and Corday, 1994).

Perubahan sistem pemerintahan dari paradigma yang berorientasi pada

sentralisasi ke desentralisasi, telah memberikan konsekuensi sangat luas dan

mendalam pada sistem tata pemerintahan daerah di Indonesia. Perubahan tersebut

dapat dilihat dari bergesernya status dan kedudukan suatu kelembagaan dalam

keseluruhan formasi tata pemerintahan daerah. Konsekuensi dari perubahan

tersebut adalah pada batasan kekuasaan dan wewenang suatu kelembagaan dalam

mengimplementasikan proses-proses regulasi, legislasi dan kebijakan publik.

Sejak berorientasi pada paradigma desentralisasi, formasi sosial dalam sistem

tata pemerintahan di daerah telah membentuk pola-pola relasi kekuasaan dan

wewenang yang berbasis tidak hanya pada pilar regulative, tetapi juga telah

mempertimbangkan pilar normative dan cultural-cognitive yang berbasis otonomi

lokal (Nasdian, 2008). Pembentukan kelembagaan dalam masyarakat tidak terlepas

dari peranan individu, kelompok atau pemerintah sehingga lembaga-lembaga yang

hidup dalam masyarakat yang ada bersifat informal dan ada pula yang tercipta

secara formal baik dari masyarakat maupun luar masyarakat. Pergeseran paradigma

penyuluhan dari teknik budidaya (on-farm) menuju sistem usaha agribisnis telah

mengubah sistem kelembagaan penyuluhan, dari pendekatan agribisnis dan

partisipatif yang tadinya hanya terdiri dari subsistem petani, penyuluh dan

kelembagaan struktural, menjadi subsistem petani, penyuluh, pelaku agribisnis

lainnya, lembaga penelitian dan lembaga pelatihan (Hafsah, 2006). Kelembagaan

penyuluhan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi sepanjang hal itu

16
memungkinkan adanya pembagian kerja yang lebih jauh,

peningkatan pendapatan, perluasan usaha dan kebebasan untuk memperoleh

peluang usaha. Dalam kehidupan nyata, kelembagaan dapat menjadi peubah

eksogen dalam proses pembangunan dengan demikian kelembagaan dapat

dianggap sebagai penyebab segala perubahan pembangunan. Namun dipihak

lain kelembagaan bisa diduga menjadi peubah endogen dimana perubahan

kelembagaan diakibatkan karena adanya perubahan-perubahan pada sistem sosial

masyarakat yang ada. Menurut Scott (2008) dalam Nasdian (2008), perubahan

kelembagaan secara teoritis tidak hanya disebabkan oleh faktor regulasi, namun

juga oleh stuktursosial masyarakat yang merupakan faktor-faktor yang dapat

mempercepat atau memperlambat (atau menjadi buffer) evolusi bersama

kelembagaan dan organisasi tersebut. Pada era BIMAS, penyuluhan pertanian

dilakukan melalui pendekatan sentralistis dan berkoordinasi yang ketatantar

instansi terkait dari pusat sampai kedaerah. Sedangkan konsep penyuluhan di

era otonomi diserahkan sepenuhnya kekabupaten/kota. Pemerintah pusat

sepenuhnya hanya bertugas merumus kankebijakan, norma, standar, dan model-

model penyuluhan partisipatif (RPP IPB,2005). Namun, munculnya beberapa

peraturan pemerintah yang kurang mendukung penyelenggaraan penyuluhan

daerah, seperti PP No.25/2000 dan PPNo.8/2003 mengakibatkan ruang gerak

pemerintah daerah untuk mendirikan kelembagaan penyuluhan pertanian sangat

terbatas. Tentunya hal ini menyebabkan kelembagaan penyuluhan pertanian

ditingkat provinsi tidak jelas dan kelembagaan penyuluhan pertanian ditingkat

kabupaten/kota beragam. Undang-undang No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem

17
Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan menyatakan pembagian

kelembagaan penyuluhan, yaitu: 1) Kelembagaan di Pusat adalah Badan

Penyuluhan yang bertanggung jawab kepada Menteri; 2) Kelembagaan di Provinsi

berbentuk Badan Koordinasi Penyuluhan; 3) Kelembagaan di kabupaten/kota

berbentuk Badan Pelaksana Penyuluhan; 4) Kelembagaan di Kecamatan adalah

Balai Penyuluh Pertanian (BPP); serta 5) Kelembagaan di Desa/Kelurahan

berbentuk pos penyuluhan desa/kelurahan yang bersifat non-struktural. Kebijakan

pembangunan pertanian pada era desentralisasi adalah mewujudkan pertanian yang

tangguh dalam rangka pemantapan ketahanan pangan, peningkatan nilai tambah

dan daya saing produk pertanian serta peningkatan kesejahteraan petani. Kebijakan

ini juga mensyaratkan di kembangkannya jaringan kerjasama diantara pelaku

agribisnis, penyuluhan pertanian, peneliti, pendidikan dan pelatihan (Hafsah, 2006).

Berdasarkan hal-hal tersebut, terdapat dua hal penting yang perlu dipikirkan dan

dilaksanakan dengan baik agar penyuluhan dibidang pertanian, perikanan dan

kehutanan dimasa depan dapat berjalan dengan efektif secara berkelanjutan, yaitu

dibangunnya sistem penyuluhan yang komprehensif dan diadopsinya

pengembangan program-program penyuluhan yang berbasis penelitian dan ilmu

pengetahuan (Slamet,2008).

2.1.3. Penyuluhan Pertanian

Penyuluhan pertanian adalah proses pemberdayaan petani, bukan lagi

sebagai proses transfer teknologi kepada petani seperti pada masa Revolusi Hijau

yang lalu. Pemberdayaan atau empowerment berasal dari kata empower yang makna

sebenarnya adalah “to give official authority or legal power, capacity, to make one

18
able to do something.” Dengan demikian pemberdayaan dapat diartikan sebagai

suatu proses kapasitas atau pengembangan kapasitas SDM. Dengan kapasitas

seseorang akan memiliki kemandirian, tahan uji, pintar, jujur, berkemampuan

kreatif, produktif, emansipatif, tidak tergantung, pro-aktif, dinamis, terbuka dan

bertanggung jawab dalam mengatasi semua masalah dan menjawab tantangan

untuk mencapai kemajuan (Soedijanto, 2006).

Penyuluhan pertanian sebagai sebagai suatu sistem pemberdayaan petani

merupakan suatu sistem pendidikan non formal bagi keluarga petani yang bertujuan

membantu petani dalam meningkatkan keterampilan teknis, pengetahuan,

mengembangkan perubahan sikap yang lebih positif dan membangun kemandirian

dalam mengelola lahan pertaniannya. Penyuluhan pertanian sebagai perantara

dalam proses alih teknologi maka tugas utama dari pelayanan penyuluhan adalah

memfasilitasi proses belajar, menyediakan informasi teknologi, informasi input dan

harga input-output serta informasi pasar (Badan SDM Pertanian, 2003).

Sejak berlakunya otonomi daerah/desentralisasi, penyelenggaraan

penyuluhan pertanian yang menyangkut aspek-aspk perencanaan, kelembagaan,

ketenagaan, program, manajemen dan pembiayaan menjadi wewenang wajib dan

tanggungjawab pemerintah kabupaten/kota. Sedangkan pemerintah pusat baik

secara langsung maupun melalui pemerintah propinsi mempunyai wewenang untuk

memfasilitasi pemerintah kabupaten/kota sehingga dapat menyelenggarakan

penyuluhan pertanian secara produktif, efektif dan efisien sesuai kebutuhan lokalita

(Badan Pengembangan SDM Pertanian, 2003). Dalam kondisi tersebut hampir

19
semua pemerintah daerah kabupaten/kota kurang memberi prioritas dan dukungan

pada aspek penyuluhan pertanian, akibatnya penyelenggaraan penyuluhan tidak

terprogram dan terlaksana dengan baik (mengalami stagnasi), sistem penyuluhan

kurang terpadu dan tenaga penyuluh lapangan kurang berfungsi dan petani

kehilangan partner kerja dalam proses alih teknologi, sehingga menimbulkan

berbagai permasalahan tentang penyelenggaraan penyuluhan dan kelembagaan

penyuluhan di propinsi dan kabupaten/kota dan di kecamatan menjadi beragam.

2.1.4. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan

Pembangunan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) merupa-

kan implementasi dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable

development) yang bertujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan

masyarakat tani secara luas. Hal ini dilakukan melalui peningkatan produksi

pertanian (kuantitas dan kualitas), dengan tetap memperhatikan kelestarian sumber

daya alam dan lingkungan.Pembangunan pertanian dilakukan secara seimbang dan

disesuaikan dengan daya dukung ekosistem sehingga kontinuitas produksi dapat

dipertahankan dalam jangka panjang, dengan menekan tingkat kerusakan

lingkungan sekecil mungkin. Adigium sistem pertanian berkelanjutan antara

lainbetter environment, better farming, and better living. Adapun perta-nian

organik merupakan salah satu model perwujudan sistem pertanian berkelanjut-an

(Salikin, 2003).

Bank Dunia menerjemahkan paradigma pembangunan berkelanjutan dalam

bentuk kerangka segitiga pembangunan berkelanjutan (Environmentally

Sustainable DevelopmentTriangle). Pembangunan berkelanjutan bertumpu pada

20
keberlanjutan ekonomi, ekologi, dan sosial. Berkelanjutan secara ekonomis adalah

suatu kegiatan pembangunan harus mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi,

pemeliharaan kapital, penggunaan sumberdaya, serta investasi secara efisien.

Berkelanjutan secara ekologis berarti bahwa kegiatan tersebut mampu

mempertahankan integritas ekosistem, memelihara daya dukung lingkungan, dan

konservasi sumberdaya alam termasuk keanekaragaman hayati (biodiversity).

Keberlanjutan secara sosial berarti bahwa pembangunan tersebut dapat

menciptakan pemerataan hasil-hasil pembangunan, mobilitas sosial, kohesi sosial,

partisipasi masyarakat, pemberdayaan masyarakat, identitas sosial, dan

pengembangan kelembagaan (Serageldin, 1996 dalam Dahuri 1998).

Pertanian berkelanjutan mempunyai beberapa prinsip yaitu: (a)

menggunakan sistem input luar yang efektif, produktif, murah, dan membuang

metode produksi yang menggunakan sistem input dari industri, (b) memahami dan

menghargai kearifan lokal serta lebih banyak melibatkan peran petani dalam

pengelolaan sumberdaya alam dan pertanian, (c) melaksanakan konservasi

sumberdaya alam yang digunakan dalam sistem produksi (Shepherd, 1998 dalam

Budiasa, 2011).

2.1.5. Otonomi Daerah

Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, menyatakan bahwa yang

dimaksud dengan Otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah

otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan

kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Undang-Undang ini juga menyatakan bahwa daerah otonom adalah kesatuan

21
masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang

mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat

setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem

Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hal tersebut menunjukkan bahwa makna dasar dari otonomi adalah adanya

suatu kewenangan bagi Pemerintah Daerah untuk menentukan kebijakan-kebijakan

sendiri yang ditujukan bagi perlaksanaan roda pemerintahan daerahnya sesuai

dengan aspirasi masyarakatnya. Pratikno menyatakan bahwa kewenangan-

kewenangan tersebut mengacu pada kewenangan pembuat keputusan didaerah

dalam menentukan tipe dan tingkat pelayanan yang diberikan kepada masyarakat,

dan bagaimana pelayanan ini diberikan dan dibiayai. Kewenangan yang diberikan

bersifat nyata, luas dan bertanggung jawab sehingga memberi peluang bagi daerah

agar dapat mengatur dan melaksanakan kewenangan daerahnya berdasarkan

prakarsa sendiri sesuai dengan kepentingan, kondisi dan potensi masyarakat

disetiap daerah. Keberadaan Otonomi Daerah diharapkan terjadi penguatan

masyarakat untuk meningkatkan kapasitas demokrasi atau dengan kata lainbahwa

UU Pemerintahan Daerah bervisi demokrasi.

Keberhasilan pelaksanaan Otonomi Daerah akan ditentukan oleh banyak

hal. Riswandha Imawan menyatakan bahwa keberhasilan penyelenggaran Otonomi

Daerah ditentukan oleh : 1. Semakin rendahnya tingkat ketergantungan (degree of

dependency) Pemerintah daerah kepada pemerintah pusat, tidak saja dalam

perencanaan tetapi juga dalam penyediaan dana. Karena suatu rencana pembanguna

hanya akan efektif kalau dibuat dan dilakukan sendiri oleh pemerintah daerah. 2.

22
Kemampuan daerah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi mereka (growth

from inside) dan faktor-luar yang secara langsung mempengaruhi laju pertumbuhan

pembangunan daerah (growth from outside). Perubahan orientasi pembangunan

dari top down ke bottom up mengisyaratkan bahwa tujuan pembangunan itu adalah

untuk memacu pertumbuhan dari dalam (growth from inside). Dengan demikian,

pemerintah lebih leluasa merencanakan dan menentukan prioritas yang hendak

dilaksanakan. Otonomi Daerah pada dasarnya berkaitan erat dengan pola

pembagian kekuasaan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Namun

tidak dapat dipungkiribahwa dalam pelaksanaanya memberikan dampak baik yang

cukup positif bagi Daerah, maupun yang mungkin akan menyulitkan Daerah

bahkan Pemerintah pusat. Sebagai konsekuensi maka diperlukan pengaturan yang

sistematis yang menggambarkan adanya hubungan berjenjang baik yang berkaitan

dengan koordinasi, pembinaan dan pengawasan.Oleh karena itulah, pelaksanaan

kebijakan ini kemudian menimbulkan tanggapan yang beragam dari Pemerintah

maupun masyarakat.

Penyelenggaraan desentralisasi sebagaimana di amanahkan dalam Undang-

undang Nomor 32 Tahun 2004 mengisyaratkan pembagian urusan pemerintahan

antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Pemerintah daerah umumnya

menganggap bahwa kebijakan otonomi daerah yang ada saat ini melalui UU No. 32

tahun 2004 merupakan sebuah kebijakan yang sangat baik terutama bagi daerah

dalam rangka mengembangkan potensi daerahnya. Hal ini di karenakan :

Pertama,bahwa secara politis kebijakan tersebut akan memberikan keleluasaan

pada Pemerintah Daerah untuk dapat mengatur dan mengurus sendiri urusan

23
pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan sesuai dengan

kondisi dan kebutuhan daerah. Kedua, secara ekonomis Pemerintah Daerah akan

diuntungkan karena mempunyai wewenang yang lebih besar untuk mengelola dan

memanfaatkan potensi sumber daya alam yang terdapat di wilayahnya. Dengan

demikian maka pemerintah daerah kabupaten/kota mempunyai wewenang yang

sangat luas dalam menata daerahnya dalam hal ini menjalankan dinamika

pemerintahannya serta memanfaatkan berbagai sumber daya yang berada

diwilayahnya.

Penekanan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah yang berada pada daerah

kabupaten dan kota, kemudian menciptakan anggapan bahwa Pemerintah Daerah

mempunyai wewenang untuk melakukan berbagai langkah sesuai dengan kondisi

obyektif daerah serta disesuaikan pula dengan tuntutan dari dinamika masyarakat

daerah dalam rangka pelaksanaan kebijakan otonomi daerah. Berdasarkan hal

tersebut maka pemerintah daerah kemudian menjabarkan pelaksanaan Undang-

Undang No. 32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah ke dalam berbagai peraturan

daerah (PERDA), peraturan kepala daerah, dan ketentuan daerah lainnya dengan

demikian maka posisi pemerintah daerah menjadi sangat penting karena menjadi

titik sentral dari seluruh proses pelaksanaan berbagai kebijakan yang diterapkan di

wilayahnya. Kondisi ini tentu dapat menjelaskan bagaimana sikap pemerintah

daerah yang kemudian berubah menjadi pusat dari seluruh pelaksanaan kebijakan

dan tidak hanya sebagai pelaksana saja dari apa yang telah diatur oleh pemerintah

pusat, seperti pada era sebelumnya.

24
Dalam konteks kewenangan pusat dan daerah dalam pelaksanaan kebijakan

otonomi daerah belum sepenuhnya bisa terlaksana dengan baik.disatu sisi,

pemerintah daerah merasa bahwa pemerintah pusat masih belum sepenuh hati untuk

memberikan kewenangan-kewenangan tersebut kepada pemerintah daerah.adanya

keengganan pemerintah pusat untuk memberikan kewenangan yang terlalu besar

kepada daerah, didasarkan pada alasan bahwa belum semua daerah siap untuk

melaksanakan kebijakan otonomi daerah, selain itu kurangnya sumber daya

manusia yang cukup memadai serta belum terbiasanya daerah menerima

kewenangan yang begitu luas.ditambah lagi dengan alasan bahwa segala

sesuatunya harus tetap berada dalam konteks negara kesatuan dalam rangka

menjaga keutuhan wilayah dan mewujudkan tujuan negara. alasan-alasan tersebut

menjadi pembenaran dari pada sikap pemerintah pusat. disatu sisi, alasan-alasan

tersebut cukup memiliki dasar yang kuat dimana hampir sebagaian besar daerah di

Indonesia masih memiliki keterbatasan-keterbatasan. Akan tetapi tetap saja bahwa

pihak daerah haruslah diberikan ruang berdasarkan wewenang yang diberikan oleh

konstitusi kepadanya, untuk dapat menata wilayahnya sendiri, sesuai dengan

aspirasi masyarakatnya. dalam kondisi tarik menarik tersebut, berbagai

permasalahan kemudian dapat timbul akibat keengganan pemerintah pusat untuk

lebih mempercayai pemerintah daerah dalam mengelola daerahnya. hal tersebut

akan tampak dalam operasioanlisasi kebijakan otonomi daerah, yang kerapkali

membingungkan pemerintah daerah. Dalam pelaksanaan kebijakan otonomi

daerah, kebingungan yang dialami oleh pemerintah daerah di sebabkan oleh karena

masih tumpang tindihnya wewenang yang mengatur berbagai persoalan dalam

25
rangka pelaksanaan kebijakan ini. hal tersebut justru di sebabkan karena masih

belum jelasnya aturan-aturan pelaksanaan yang akan menjadi panduan dalam

pelaksanaan kebijakan tersebut. dampak nyata dari kondisi tersebut adalah

terjadinya rebutan lahan kewenangan antara pemerintah daerah dengan pemerintah

pusat dalam mengatur berbagai permasalahan.

Indonesia telah bertekad untuk mengimplementasikan otonomi daerah,

yang secara resmi disampaikan dengan bertolak atas UU No 22 tahun 1999 yang

mulai berlaku semenjak 1 Januari 2000. Tujuan otonomi daerah adalah untuk

mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan

pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat. Di samping itu melalui

otonomi luas, daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing daerah dengan

memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaaan, dan

kekhususan daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada Tahun 2014 telah ditetapkan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang

Pemerintahan Daerah. UU ini sangat strategis karena mengatur pembagian urusan

pusat, propinsi dan kabupaten/kota dalam semua aspek penyelenggaraan

pemerintahan. Ini untuk menyempurnakan UU sebelumnya, dimana dalam

pembagian urusan misalnya, konsep negara kesatuan yang desentralistis belum

sepenuhnya tergambar dalam pengaturan dan norma-norma yang ada sehingga

seringkali masih dijumpai ketidakharmonisan hubungan antar kementrian

danlembaga dengan daerah, antar provinsi dan kabupaten/kota, dan antar daerah.

Ketidakjelasan pengaturan sering membuat kerjasama antara

Pemerintah Pusat, provinsi dan kabupaten/kota dan antar daerah dalam

26
penyelenggaraan pemerintahan daerah belum dapat dilakukan secara

optimal. Juga menyebabkan sulitnya menciptakan sinergi antara pembangunan

pusat dengan daerah dan antara provinsi dengan kabupaten/kota dalam wilayah

provinsi tersebut. Kebijakan ini belum mampu mempercepat perbaikan

kesejahteraan rakyat di daerah.Otonomi daerah dijalankan dengan 3 asas yaitu asas

desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan. Dengan basis

ini, pemerintahan daerah berkesempatan luas meningkatkan efisiensi dan

efektivitas penyelenggaraan otonomi daerah. Pemerintahan daerah provinsi

mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan yang

berskala provinsi (lintas kabupaten/kota) berdasarkan NSPK yang ditetapkan

Pemerintah Pusat. Demikian pula untuk pemerintahan kabupaten/kota.

Namun, implementasi UU 23 tahun 2014 masih menunggu banyak

kelengkapan. Misalnya ada 54 pasal yang mengamanatkan pembentukan PP. Untuk

kelembagaan penyuluhan, ada 3 pasal penting yang berhubungan, yakni Pasal 15

berkenaan dengan perubahan terhadap pembagan urusan pemerintahan konkuren

antara pemerintah pusat dan daerah, Pasal 18 tentang SPM, dan Pasal 21 berisi

pelaksanaan urusan pemerintahan konkuren. Dalam pasal 15 UU No 23 tahun 2014

tentang Pemerintah Daerah secara jelas disebutkan bahwa penyuluhan pertanian

merupakan urusan bersama antara pemerintah pusat dan daerah, atau dilaksanakan

secara konkurensi. Hal ini berimplikasi kepada pengelolaan sistem penyuluhan

dalam hal peningkatan kompetensi, pengembangan profesionalitas dan juga karir

penyuluh pertanian.

27
Penyuluhan Pertanian tidak menjadi bagian dalam lampiran UU No 23

tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah. Dengan kata lain, penyuluhan pertanian

tetap dijalankan dengan berpedoman kepada UU No 16 tahun 2006 tentang SP3K.

Meski demikian, untuk mengoptimalkan penyelenggaraan pemerintah di daerah

maka diterbitkanlah PP No.18 Tahun 2016 tentang perangkat daerah maka beberapa

lembaga yang oleh pemerintah daerah dianggap kurang sesuai dengan kebutuhan

daerah di tiadakan sehingga Orgnanisasi Perangkat Daerah jadi berangam dan

berbeda di setiap daerah hal ini termasuk juga kelembagaan penyuluhan.

2.2. Landasan Teori


2.2.1 Teori Kelembagaan
Teori Institusional (Institutional Theory) atau teori kelembagaan yaitu

terbentuknya organisasi karena adanya tekenan lingkungan institusional yang

menyebabkan terjadinya institusionalisasi. Scott dalam Agung (2012)

mengemukakan bahwa teori institusional memberi perhatian yang mendalam dan

sungguh-sungguh pada struktur sosial. Teori ini memperhatikan bagaimana

struktur, seperti skema, aturan, norma dan rutin menjadi bentuk yang bersifat

otoritatif untuk terjadinya perilaku sosial. Teori institusional mempertanyakan

bagaimana hal-hal tersebut dibuat, berpadu, diadaptasi dalam ruang dan waktu.

Merujuk Gerhard Linski dalam sunarto (2004) dan juga Svejvig (2010), teori

institusional dapat membahas perilaku sosial baik dalam jenjang makro-struktur,

meso struktur ataupun mikro-struktur.

28
2.2.2 Teori Fungsional Struktural

Salah satu tokoh yang dikenal dengan teori fungsionalisme struktural adalah

Talcott Parsons. Dimana persons ini memiliki empat (4) fungsi tindakan yaitu

terkenal dengan “ AGIL”. Dengan menggunakan definisi ini person percaya bahwa

ada empat imperatif yang diperlukan menjadi seluruh sistem. Agar bertahan hidup,

sistem harus menjalankan keempat fungsi tersebut, diantaranya :

1. Adaptasi : sistem harus mengatasi kebutuhan situasional yang datang dari

luar. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan

dengan kebutuhan-kebutuhannya. Fungsi ini dijalankan dengan sistem

tindakan organisme behavioral untuk menyesuaikan dan mengubah dunia

luar.

2. Pencapaian tujuan : sistem harus mendefenisikan dan mencapai tujuan

utamanya. Fungsi ini dijalankan oleh sistem kepribadian dengan

mendefinisikan tujuan sistem dan memobilisasi sumber daya yang digunakan

untuk mencapainya.

3. Integrasi : sistem harus mengatur hubungan bagian-bagian yang menjadi

komponennya. Ia pun harus mengatur hubungan antar ketiga fungsi yang lain

(A,G,L). Fungsi ini dijalankan oleh sistem sosial dengan mengontrol bagian-

bagian yang menjadi komponennya.

4. Latensi ( Pemeliharaan Pola). Sistem harus melengkapi, memelihara dan

memperbarui motivasi individu dan pola-pola budaya yang menciptakan dan

mempertahankan motivasi tersebut. Fungsi ini dijalankan oleh sistem kultural

29
dengan membekali aktor dengan norma dan nilai-nilai yang memotivasi

mereka untuk bertindak.

Dari gambar di atas Person mendesain skema AGIL agar dapat digunakan

pada semua level sistem teoritisnya. Dalam pembahasan di atas tentang sistem

tindakan, Person menjabarkan bagaimana menggunakan AGIL. Organisme

behavioral adalah sistem tindakan yang menangani fungsi adaptasi dengan

menyesuaikan dan mengubah dunia luar. Sistem kepribadian menjalankan fungsi

pencapaian tujuan dengan mendefinisikan tujuan sistem dan memobilisasi

sumberdaya yang digunakan untuk mencapainya. Sistem sosial menangani fungsi

integrasi dengan mengontrol bagian-bagian yang menjadi komponennya. Akhirnya,

sistem kultural menjalankan fungsi latensi dengan membekali aktor dengan norma

dan nilai-nilai yang memotivasi mereka untuk bertindak.

Person menjelaskan bahwa manusia dipahami sewaktu dia membuat pilihan

atau keputusan antara tujuan yang berbeda dan alat-alat untuk mencapainya

sehingga tujuan dan sasaran tersebut harus dipilih oleh individu dan alat-alat yang

berbeda-beda yang memungkinkan tujuan tersebut bisa dicapai dimana pilihan-

pilihan tersebut terdapat dalam suatu lingkungan yang ditempati oleh masyarakat

30
tersebut. Vago (1989) menjelaskan bahwa Talcott Persons (1961) memandang

masyarakat sebagai sistem yang dikelililngi oleh tiga sistem tiga sistem lain yaitu

kepribadian, organisme dan budaya sehingga ia menganggap masyarakat dalam

kondisi ekuilibrium bila batas-batasnya dengan tiga sistem lainnya tidak dilanggar.

Craib (1994) menjelaskan bahwa lingkungan itu termasuk norma-norma dan nilai-

nilai yang diterima secara umum sehingga unit tindakan terbentuk oleh pelaku, alat-

alat dan suatu lingkungan yang terdiri objek fisik dan sosial, norma-norma dan

nilai-nilai.

Setiap individu dalam suatu masyarakat diasumsikan akan mencapai daya

tarik yang maksimal dalam suatu interaksi dengan tindakan-tindakan yang diulang

untuk mendapatkan tanggapan masyarakat sehingga menciptakan peran status yang

akan membangun suatu jaringan posisi-posisi dalam suatu institusi masyarakat.

Craib (1994), menjelaskan bahwa suatu pernyataan hubungan-hubungan yang

berlangsung dalam cara yang sedemikian sehingga tingkah laku yang sedemikian

berkaitan dengan setiap peran status yang tepat dan siapapun yang melakukannya

dinamakan institusional. Veeger (1991), menjelaskan bahwa dalam teori Parson,

tiap-tiap sistem sosial terdiri dari pola-pola perilaku tertentu yang terdiri dari lima

kategori yaitu perasaan atau netral perasaan, arah diri atau arah kolektifitas,

partikularisme atau universalisme, status bawaan atau status perolehan sendiri serta

campur baur atau tertentu dimana tiap kategorisasi tersebut, individu yang

berinteraksi tidak perlu untuk memutuskan sendiri alternatif mana yang akan

dipakai tapi masyarakt atau kebudayaan setempat telah memilih untuk dia dan telah

melembagakan salah satu alternatif yang menentukan corak interaksi.

31
2.3. Kerangka Berpikir

Sektor pertanian merupakan sektor penggerak perekonomian Nasional.

Dengan demikian maka sektor ini perlu memperoleh perhatian lebih oleh

pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Salah satu hal yang

perlu dilakukan adalah penyelenggaraan penyuluhan yang tepat dan efektif. dengan

demikian agar pemerintah dapat menyampaikan program-programnya dan petani

dapat menerima dan menerapkannya. Semangat otonomi daerah yang di tertuang

dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah dan PP Nomor 41

Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah dan telah diperbarui melalui PP

Nomor 18 Tahun 2016 tentang Organisasi Perangkat Daerah menyebabkan

ketidaksamaan kelembagaan penyuluhan pertanian di masing-masing daerah.

Berbagai Subsektor pertanian terbagi dalam beberapa Organisasi Perangkat Daerah,

meskipun demikian fungsi penyuluhan pada masing-masing subsektor (Pertanian,

Peternakan, Ketahanan Pangan, Kehutanan dan Perikanan) harus tetap

dilaksanakan.

Sejalan dengan dinamika bentuk kelembagaan penyuluhan pertanian,

ternyata telah ikut merubah struktur dan sistem penyelengaraan penyuluhan

pertanian jadi berbeda-beda dan juga berdampak pada kinerja petugas penyuluh

pertanian di daerah. Kinerja penyuluh merupakan kemampuan penyuluh mematuhi

peraturan dan mekanisme kerja dan ketepatan dalam menyelesaikan pekerjaan.

Penelitian ini menelaah deskripsi kebijakan otonomi daerah dan dampaknya

terhadap sistem penyelengaraan penyuluhan pertanian seperti kelembagaan

32
penyuluhan, sistem kerja penyuluhan pertanian, kinerja pelaku penyuluhan

pertanian. (Gambar 2).

Kebijakan Otonomi
Daerah

Kelembagaan Sistem Mekanisme


Penyuluhan Penyuluhan Penyuluhan

Kinerja
Penyuluhan

Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran Penelitian

2.4. Konsep dan Definisi Operasional


Tabel 1.4 Konsep dan Definisi Operasional

No. Konsep Definisi Operasional

1. Dinamika Perubahan regulasi kelembagaan penyuluhan

2. Kelembagaan Institusi atau organisasi perangkat daerah

(OPD)

3. Sektor Agrokompleks Komunikasi penyelenggaraan penyuluhan

antar sektor (pertanian dan perkebunan,

peternakan, perikanan dan ketahanan pangan).

33
4. Penyuluhan Menyampaikan pesan dan informasi teknologi

tepat guna.

5. Otonomi Daerah Kebijakan untuk menyerahkan sebagian

kewenangan pemerintah pusat kepada

pemerintah daerah

34
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan sebuah penelitian deskriptif dengan

pendekatan kualitatif. Bogdan dan Taylor dalam Moloeng (2007:4)

mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang

menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-

orang dan perilaku yang diamati dari fenomena yang terjadi. Lebih lanjut

Moleong (2007:11) mengemukakan bahwa penelitian deskriptif

menekankan pada data berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka

yang disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu, semua

yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah

diteliti. Pengambilan sampel atau sumber data pada penelitian ini dilakukan

secara purposive dan untuk ukuran sampel tersebut ditentukan secara

snowball, teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan), analisa data

bersifat kualitatif dan hasil penelitian menekankan makna generalisasi.

Hasil dari penelitian ini hanya mendeskripsikan atau mengkonstruksikan

wawancara-wawancara mendalam terhadap subjek penelitian sehingga

dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai penyelenggaraan

penyuluhan.

35
3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan tempat dimana peneliti melakukan

penelitian terutama dalam menangkap fenomena atau peristiwa yang

sebenarnya terjadi dari objek yang diteliti dalam rangka mendapatkan data-

data penelitian yang akurat. Dalam penentuan Lokasi penelitian, Moleong

(2007:132) menentukan cara terbaik untuk ditempuh dengan jalan

mempertimbangkan teori substantif dan menjajaki lapangan dan mencari

kesesuaian dengan kenyataan yang ada dilapangan. Sementaraitu

keterbatasan geografi dan praktis seperti waktu, biaya, tenaga perlu juga di

jadikan pertimbangan dalam penentuan lokasi penelitian. Lokasi yang

diambil dalam penelitian ini ditentukan dengan sengaja (purposive), yang

dilakukan pada Pemerintah Daerah Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Dengan

berbagai pertimbangan dan alasan antara lain: 1) Pertimbangan tanggung

jawab moril peneliti sebagai ASN Kabupaten Alor dalam pembangunan

Daerah menjadi salah satu pertimbangan pemilihan lokasi. 2) Kabupaten

Alor sebagai Daerah kepulauan yang sebagian besar penduduknya memiliki

mata pencaharian sebagai petani dan nelayan.3) Kabupaten Alor adalah

salah satu Kabupaten di Propinsi NTT yang merupakan wilayah perbatasan

yang berbatasan Laut dengan Negara Timor Leste sehingga memiliki jalur

Dagang antar negara. 4) Memilki potensi pertanian, kelautan dan sektor

agrokompleks yang masih perlu dikembangkan.

36
3.3. Informan Penelitian

Informan dalam penelitian ini ialah :

Tabel 1.3 Informan Penelitian

No Informan Jenis Informasi


1. Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah 1. Pengelolaan
pemerintahan
(OPD)
2. Komunikasi antar
sektor pertanian
3. Kebijakan anggaran
dan penyuluhan

2. Tim Asistensi Kelembagaan Daerah 1. Penerapan regulasi


Kelembagaan
2. pertimbangan –
pertimbangan
pembentukan OPD

3. Koordinator Penyuluh Pertanian Dampak penerapan UU


otonomi daerah terhadap
Kabupaten
penyelenggaraan
penyuluhan bagi
penyuluh dan
petani/nelayan

3.4. Sumber Data

1. Sumber Data Primer

Sumber data primer berupa cara wawancara langsung terhadap pimpinan

Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sektor agrokompleks dan penyuluh

pertanian di Kabupaten Alor Propinsi NTT

2. Sumber Data Sekunder

37
Sumber data skunder merupakan sumber data yang diperoleh secara tidak

langsung oleh peneliti, melainkan didapatkan dari pihak lain. Data sekunder ini

akan menjadi informasi pendukung yang akan melengkapi informasi yang

diperoleh dari data primer. Sumber data sekunder bisa berupa dat-data yang

berasal dari jurnal, buku-buku, website, berita online yang memuat informasi

maupun data-data dari dinas terkait.

3.5. Teknik Pengumpulan Data


Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan beberapa teknik

pengumpulan data diantaranya :

a. Wawancara : Kegiatan ini dilakukan dengan memberikan pertanyaan-

pertanyaan yang telah disiapkan sebelum peneliti kelapangan penelitian

agar data-data yang di peroleh lengkap.

b. Observasi : Observasi dilakukan dengan cara peneliti mengamati secara

langsung bagaimana mekanisme penyelenggaraan penyuluhan yang

dilakukan oleh masing-masing sektor agrokompleks.

c. Studi Literatur : Data-data yang diperoleh dari berbagai sumber berupa

regulasi dan aturan kelembagaan penyuluhan yang di terbitkan oleh

pemerintah pusat dan daerah, jurnal nasional dan jurnal internasional,

berita-berita nasonal dan berita lokal mengenai kelembagaan dan

penyelenggaraan penyuluhan.

3.6. Metode Analisis Data

a. Validitas Data

38
Data hasil wawancara, observasi, dan forum grup diskusi harus

diperhatikan dan diuji supaya data tersebut layak digunakan sebagai hasil

penelitian.Teknik trianggulasi biasanya digunakan untuk menguji data

menjadi data yang valid. Trianggulasi adalah ide dalam melihat suatu hal

dari beberapa sudut pandang agar dapat meningkatkan keakuratan data

(Neuman,2013). Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan dua

pendekatan trianggulasi menggunakan model sugiyono (2012), yaitu

menggunakan Trianggulasi Sumber dan Trianggulasi Teknik :

1) Trianggulasi Sumber

Peneliti melakukan trianggulasi sumber dengan melakukan

klarifikasi data yang diperoleh kepada beberapa sumber sebagai

informan melalui teknik yang sama. Data yang telah dideskripsikan dan

dikategorisasikan antara pendapat yang sama dan berbeda kemudian

disusun menjadi suatu kesimpulan yang disepakati dengan informan

kunci.

2) Trianggulasi Teknik

Trianggulasi Teknik merupakan upaya klarifikasi data pada informan

kunci dengan Teknik yang berbeda.Pada penelitian ini, Teknik

pengambilan data dilakukan dengan wawancara, observasi, studi

literatur.

b. Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan dan diuji keabsahannya kemudian

dianalisis. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini

39
menggunakan teknis analisis data model interaktif menurut Miles &

Huberman. Teknis tersebut terdiri atas empat tahapan yang harus

dilakukan.(Herdiansyah, 2011: 164).

Adapun apa saja yang perlu dilakukan pada setiap tahapan

diatas akan dijelaskan satu persatu berikut ini :

1) Pengumpulan Data

Penelitian Kualitatif, proses pengumpulan data dilakukan

sebelum penelitian, pada saat penelitian, dan bahkan di akhir

penelitian. Idealnya, proses pengumpulan data sudah dilakukan

ketika penelitian masih dalam bentuk konsep atau draft.

2) Reduksi data

Inti dari reduksi data adalah proses penggabungan dan

penyeragaman segala bentuk data yang diperoleh menjadi satu

bentuk tulisan (script) yang akan dianalisis.

3) Display Data

Display data adalah mengolah data setengah jadi yang sudah

seragam dalam bentuk tulisan dan sudah memiliki alur tema yang

jelas kedalam proses kategori tema, sub kategori tema dan proses

pengkodean sesuai dengan verbatim wawancara yang dilakukan

sebelumnya.

4) Kesimpulan/Verifikasi

Kesimpulan/verifikasi secara esensial berisi tentang uraian

dari seluruh sub kategorisasi tema yang tercantum pada tabel

40
kategorisasi dan pengodean yang sudah terselesaikan disertai

dengan quote verbatim wawancara.

41
DAFTAR PUSTAKA

Agung, 2012. Penggunaan Teori Institusional dalam Penelitian Teknologi


Informasi dan Komunikasi di indonesia. Seminar NasionalAplikasi
TeknologiInformasi. Yogyakarta.

Benu Fred et all, 2018, KPJU UnggulanKabupatenAlor 2018, KPw BI NTT dan
Lemlit Undana, Kupang

BPS Alor, 2019, AlorDalamAngka 2018, BPS KabupatenAlor, Kalabahi.

Budiasa, I.W. 2011. Pertanian Berkelanjutan : Teori Dan Permodelan. Denpasar:


Udayana University Press.

Craib, Ian. 1994 Teori - Teori Sosial Modern : dari Parsons sampai Habermas,

Diterjemahkan T. Effendi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Creswell. John W, 2012.Research Design; Edisi Ketiga. Penerbit Pustaka Pelajar.


Yogyakarta

Dahuri, R. 1998. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan : Dalam Persperktif


Ekonomi, Sosial, Dan Ekologi.Agrimedia. Vol. 4 No. 1, Februari,
Hal. 5-11.

FukuyamaF.,2005.Trust,
KebajikanSosialdanPenciptaanKemakmuran.PenerbitQalam. Yogyakarta

Gale, R.P And S. M. Corday. 1994. “Making Sense Of Sustainability : Nine


Answer To What Should Be Sustained”. Rural Sociology 59 : 311-
332.

George, 2012. Teori Sosiologi Clasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori


Sosiologi Postmodern. Buku Teori Sosiologi, Kreasi Wacana Yogyakarta.

Kartodirdjo S., 2013. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. PT.
Gramedian. Jakarta

Mulyana. Dedy, 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif; Paradigma Baru Ilmu


Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Penerbit PT. Remaja Rosdakarya.
Bandung

Padmanabhan, Martina And Volker Beckman. 2009. Institution And


Sustainability : Introduction And Overview. In Book: Institution
And Sustainability :Political Economy Of Agriculture And The
Environment : Essay In Honour Of Konrad Hagedorn. Springer: London.

Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah.

42
PeraturanPresidenNomor 154 Tahun 2014, tentang Kelembagaan Penyuluhan
Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan.
Rustiadi E.; Saefulhakim S.; Panuju D., 2011. Perencanaan dan Pembangunan
Wilayah. Pustaka Obor Indonesia. Jakarta

Sachari A., 2005. Metodologi Penelitian Budaya Rupa. Penerbit Erlangga. Jakarta

Salkin, Karwan A. 2003. SistemPertanianBerkelanjutan. Yog-yakarta: Kanisius.

Sarwono J. dan Lubis H., 2007. Metode Riset untuk Desain Komunikasi Visual.
Penerbit Andi. Yogyakarta

Scott, W. Richard. 2004. Institutional Theory: Contributing to a Theoritical


Research Program. Great Minds in Management: The Process of
Theory Development. Smith, K. G. &Hitt, M. A. Oxford University
Press.

Silalahi U., 2012. Metode Penelitian Sosial. Penerbit Refika Aditama. Bandung

Soedijanto, 2006. JurnalPenyuluhan, Vol. 2, No. 1.

Svejvig, Per. 2010. Enterprise Systems and Institutions Theorizing About


Enterprise Systems
in Organizations using Institutional Theory – A Case Study Approach.
Unpublished Ph.D. Thesis Aarhus University.

Teddlie C. Tashakori A., 2010.HandBook of Mixed Methods in Social & Behavioral


Research. Penerbit Pustaka Pelajar.Yogyakarta

UU Nomor16 Tahun 2006 tentangSistemPenyuluhanPertanian, Perikanandan


Kehutanan

Vago, Stefen. 1989. Sosial Change. Second Edition, Prentice – Hall, inc

Veeger, K.J. 1991. Realita Sosial (Refleksi Filsafat Sosial Atau Hubungan
Individu Masyarakat Dalam Cakrawala Sejarah Sosiaogi). Jakarta :
Gramedia Pustaka Utama

Walker J.A., 2010.Design History and History of Design (Desain-Sejarah-Budaya;


Sebuah Pengantar Komprehensif). Penerbit Jalasutra. Yogyakarta

43
Guru Honorer
 Berbagi itu indah, apalagi berbagi ilmu..

44