Anda di halaman 1dari 75

BAB III

PERENCANAAN WELL COMPLETION

3.1. Pengertian dan Tujuan Penyelesaian Sumur


Penyelesaian Sumuran atau Well Completion adalah tahapan yang
dilakukan untuk menciptakan adanya interaksi atau hubungan antara reservoir
dengan proses produksi di permukaan yang merupakan tahap akhir atau
penyempurnaan untuk mempersiapkan sumur pemboran menjadi sumur produksi
atau injeksi. Pekerjaan ini dilakukan apabila pemboran telah mencapai formasi
yang merupakan target terakhir dan pemboran telah selesai selanjutnya sumur-
sumur tersebut dipersiapkan untuk diproduksikan atau disempurnakan dulu
sebelum diproduksi. Persiapan ini antara lain mengatur agar aliran dari formasi
dapat dengan aman dan efisien untuk diproduksikan atau sebagai penginjeksian
dengan sebaik-baiknya.
Tujuan dari penyelesaian sumur adalah untuk memaksimalkan dan
mengontrol aliran fluida dari reservoir ke dasar sumur dan dari sumur ke
permukaan sesuai dengan karakteristik, kondisi dan jenis reservoirnya.
Penyelesaian sumur dilakukan dengan pemasangan peralatan untuk mengangkat
fluida hidrokarbon dari reservoir ke permukaan.

3.2. Penyelesaian Sumuran


Penyelesaian Sumuran atau Well Completion bukan berarti penyelesaian
sumuran yang selalu dilakukan dengan tubing, chrismas tree atau peralatan
lainnya. Untuk beberapa keadaan, formasi dapat diproduksikan denga cara open
hole dan yang selanjutnya di casing. Pada daerah tertentu penyelesaian sumuran
ini sangatlah kompleks salah satunya saat pemboran di daerah deep water.
Jenis-jenis penyelesaian sumuran dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu
Penyelesaian Sumuran untuk Formasi (Formation Completion), Penyelesaian
Sumuran untuk Tubing (Tubing Completion) dan Penyelesaian Sumuran untuk
Kepala Sumur (Well Head Completion). Formation completion dapat dilakukan

86
87

secara uncased atau secara cased hole completion yang diperforasi. Untuk
menanggulangi masalah terproduksikanya pasir sehubungan dengan kondisi
formasi dapat digunakan screen liner, gravel packing atau sand consolidation
completion.
Pada tubing completion, berdasarkan jumlah lapisan produktif dan cara
lapisan tersebut diproduksikan dapat dibedakan menjadi single completion untuk
komplesi sumur yang hanya memiliki satu lapisan atau zone produktif dan
multiple completion untuk komplesi sumur yang memiliki lebih dari satu lapisan
atau zone produktif. Untuk kondisi yang terakhir dapat juga digunakan comingle
completion yaitu dengan memproduksikan beberapa lapisan produktif dalam satu
tubing, dengan berbagai pertimbangannya.
Well Head Completion dimaksudkan untuk memberikan keselamatan kerja
pada waktu penggantian atau pemasangan peralatan produksi di bawah permukaan
dan juga berfungsi untuk mengontrol aliran fluida dari sumur. Dalam hal ini akan
dibicarakan mengenai casing head, tubing head, christmas tree, choke,adapter dan
crossover flange.

3.2.1. Penyelesaian Sumuran Untuk Formasi (Formation Completion)


Formation completion atau sering juga disebut downhole completion
merupakan jenis completion yang bertujuan untuk mendapatkan aliran fluida
reservoir yang optimal ke dalam lubang bor dengan dan berdasarkan pemasangan
peralatan serta fungsinya formation completion dapat dibagi menjadi open hole
completion, perforated completion dan sand exclusion completion

3.2.1.1 Penyelesaian Sumuran Open-Hole


Metode ini merupakan metode paling sederhana dimana casing dipasang
hanya sampai pada puncak formasi produktif sehingga formasi produktif tidak
tertutup secara mekanis, dengan demikian aliran fluida reservoir dapat langsung
masuk ke dalam sumur tanpa halangan. Gambar 3.1 menunjukkan penampang
dari metode well completion open hole.
Metode open-hole completion hanya cocok digunakan untuk formasi-
formasi yang kompak atau tidak mudah gugur. Bila laju produksi cukup besar
88

maka produksi dilakukan melalui casing. Sedangkan pemasangan tubing


diperlukan bila laju produksi fluida reservoirnya tidak terlalu besar dan bila
diperlukan penginjeksian zat-zat kimia untuk menanggulangi masalah-masalah
korosi atau scale.
Perencanaan dan perhitungan yang diterapkan untuk jenis completion ini
didasarkan pada penempatan completion nya dalam formasi produktif, yaitu
penembusan sebagian (partially) dan total (fully)

Gambar 3.1. Open-hole Completion


(Allen, T.O. and Robert, A.P., "Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation”)

3.2.1.1.1 Penembusan Formasi Penuh (Fully Penetration)


Pada penembusan formasi penuh (fully penetration), tingkat kedalaman
pemboran didalam formasi sangat berpengaruh terhadap besar rate produksi yang
dihasilkan. Fully penetration merupakan sumur dimana pemborannya menembus
seluruh ketebalan formasi produktif hingga dasar formasi.

3.2.1.1.2 Penembusan Formasi Tak Penuh (Partially Penetration)


Partially penetration well merupakan sumur dimana pemborannya
hanya sebagian ketebalan formasi produktif.
Manfaat penting dari open-hole completion partially penetrating dari
formasi produktif adalah bila dijumpai zona-zona minyak atau gas dengan bottom
water dibawahnya.
89

Pemakaian metode open hole completion memiliki beberapa keuntungan


antara lain adalah didapatkannya diameter lubang bor secara maksimum;
kerusakan atau skin faktor akibat perforasi dapat dikurangi; mudah dipasang
screen liner atau gravel pack; sumur mudah diperdalam apabila diperlukan; tidak
ada biaya perforasi; interpretasi log bagus; seluruh diameter lubang bor
berhadapan dengan pay zona dan bila diperlukan dapat diganti dengan
metode screen dan liner completion atau perforated liner completion.
Adapun kerugian dari metode ini antara lain adalah sulit menempatkan
casing produksi pada horison yang tepat di atas zona produktif; sukar mengontrol
produksi air atau gas yang berlebihan; sukar menentukan zona stimulasi;
memerlukan waktu rig (rig time) yang lebih lama dalam komplesinya;
memerlukan clean out (pembersihan lubang bor) berulang kali.

3.2.1.2 Penyelesaian Sumuran Perforated Casing


Dalam metoda ini casing produksi dipasang sampai dasar formasi
produktif dan disemen selanjutnya diperforasi pada interval-interval yang
diinginkan, Gambar 3.2. Dengan adanya casing maka formasi yang mudah gugur
dapat ditahan. Perforated casing completion umumnya digunakan pada formasi-
formasi dengan faktor sementasi (m) sebesar 1,4.

Gambar 3.2. Perforated Casing Completion


(Allen, T.O. and Robert, A.P., "Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation”)
90

Metode ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam


penggunaannya. Kelebihan dari Perforated Casing Completion adalah dapat
mengontrol produksi air dan gas yang berlebih; Stimulasi dan treatment dapat
dilakukan lebih selektif; Lubang sumur mudah ditambah kedalaman bila
diperlukan; bila diperlukan casing ditambah kedalaman untuk menghalangi
masuknya pasir, completion tambahan dapat dilakukan sesuai dengan teknik
pengontrolan pasir yang dikehendaki; Dapat disesuaikan dengan konfigurasi
multiple completion; Daerah produktif dapat diseleksi dengan perforasi;
Frekwensi workover lebih sedikit.
Sementara itu kekurangan dari Perforated Casing Completion adalah
memerlukan biaya perforasi yang besar; Hasil Interpretasi log kurang teliti
(kadang-kadang kritis), karena perlu dilakukan gamma ray log agar tidak salah
memilih lapisan pasir dan menghindari zona submargin pada saat perforasi;
Kemungkinan akan terjadinya kerusakan formasi lebih besar; Timbulnya
gangguan dari hasil perforasi.
Lubang-lubang pada casing yang dibuat sebagai jalan mengalirnya minyak
dari formasi ke dalam lubang sumur disebut perforasi. Pekerjaan perforasi
dilakukan dengan cara memasukkan alat atau perforator ke dalam casing di dalam
lubang sumur. Untuk melakukan perforasi ada dua cara yang biasa dipakai, yaitu
dengan bullet/gun perforator dan jet/shape perforator.

3.2.1.3. Penyelesaian Sumuran Tipe Sand Exclusion


Penyelesaian Sumuran Tipe Sand Exclusion atau Sand exclusion
completion merupakan metoda yang digunakan untuk sumur yang mempunyai
masalah kepasiran dan formasi yang kurang kompak. Beberapa metoda tersebut
adalah : Metoda Liner Completion, Metoda Gravel Pack dan Metoda Sand
Consolidation.

3.2.1.3.1. Liner Completion


Metoda ini biasanya digunakan untuk formasi produktif dengan faktor
sementasi antara 1,4 sampai 1,7.
91

Liner completion dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan cara


pemasangan linernya, yaitu screen-liner completion dan perforated liner
completion.
 Screen liner completion
Dalam metoda ini casing dipasang sampai puncak dari lapisan/zone
produktif. Kemudian liner dipasang pada formasi produktif yang dikombinasikan
dengan screen sehingga pasir yang ikut aliran produksi tertahan oleh screen.
Komplesi jenis ini digambarkan seperti Gambar 3.3.

Gambar 3.3. Screen-liner Completion


(Gatlin, C., “Petroleum Engineering – Drilling and well Completions”)

Keuntungan :
1. Formation damage selama pemboran melewati zone produktif dapat
dikurangi.
2. Tidak ada biaya perforasi.
3. Dapat disesuaikan dengan cara khusus untuk mengontrol pasir.
4. Pembersihan lubang dapat dihindarkan.
92

Kerugian :
1. Produksi air dan gas sulit dikontrol.
2. Stimulasi tidak dapat dilakukan secara selektif.
3. Rig time bertambah dengan digunakannya cable tool.
4. Sumur tidak mudah ditambah kedalamannya.
5. Fluida tidak mengalir pada diameter penuh.

 Perforated liner Completion


Dalam metoda ini casing dipasang di atas zona produktifnya dan dipasang
casing-linier dan disemen. Selanjutnya linier diperforasi untuk produksi. Jenis
komplesi ini diperlihatkan pada Gambar 3.4.

Keuntungan :
1. Kerusakan formasi dapat dikurangi.
2. Produksi gas atau minyak lebih mudah dikontrol.
3. Stimulasi dapat dilakukan secara selektif.
4. Kedalaman sumur dapat ditambah dengan mudah.

Kerugian :
1. Fluida mengalir kelubang sumur tidak dengan diameter penuh.
2. Interpretasi log kritis.
3. Penyemenan linier sulit dilakukan.
4. Ada tambahan biaya untuk perforasi, penyemenan dan rig time.

Gambar 3.4.

Gambar 3.4. Perforated Liner Completion


(Shell Internationale Petroleum Maatschappij B.V. : “Well Completions”)
93

Di dalam screen liner completion, dijumpai antara lain :


- slotted screen liner atau screen liner dengan lubang berupa celah yang
horizontal atau vertikal,
- wire wrapped screen liner yaitu pipa saringan berupa anyaman, dan prepack
screen liner yang berupa pipa saringan terdiri dari dua pipa yang diantaranya
diisi oleh gravel.
Bentuk-bentuk dari screen liner ini ditunjukkan pada Gambar 3.5., 3.6., dan 3.7.
Lubang (opening) pada screen liner harus mempunyai ukuran tertentu agar pasir
formasi dapat membentuk susunan penahan (bridging) dan tertahan pada screen.

Gambar 3.5. Wire Wrapped Screen


(Gatlin, C., “Petroleum Engineering – Drilling and well Completions”)
94

Gambar 3.6. Jenis-Jenis Slotted Screen Liner


(a) Horizontal ; (b) Vertikal
(Gatlin, C., “Petroleum Engineering – Drilling and well Completions”)

Gambar 3.7. Prepack Sand Screen


(Gatlin, C., “Petroleum Engineering – Drilling and well Completions”)
95

3.2.1.3.2 Gravel Pack Completion


Metoda ini dilakukan bila screen liner masih tidak mampu menahan
terproduksinya pasir. Caranya adalah dengan menempatkan sejumlah gravel pada
formasi produktif disekeliling casingnya hingga fluida akan tertahan oleh pasir
yang membentuk barrier dibelakang gravel dan gravel ditahan oleh screen.

Pemasangan Gravel Pack


Dalam pengerjaan teknik gravel pack ini tidak terlepas dari kondisi lubang
sumur yaitu open hole atau cased hole. Dari keadaan lubang sumur ini, maka
prosedur pemasangan gravel pack ini dapat digolongkan menjadi dua sistem, yaitu
External Gravel Pack dan Interval Gravel Pack.

 External gravel pack


External gravel pack adalah jenis gravel pack yang diterapkan pada sumur
berkondisi open hole. Secara luas open hole gravel pack diterapkan dimana
krakteristik formasi memenuhi komplesi lubang terbuka dan instalasi kontrol
kepasiran harus mampu mengalirkan fluida reservoir secara maksimal.
Perencanaan dan pemakaian open hole pack yang tepat akan memberikan
produktivitas yang lebih baik daripada inside gravel pack atau metoda sand
consolidation, karena casing yang terperforasi akan membatasi dan lubang bor
yang diperbesar akan memperbaiki aliran radial yang terjadi di dalam sumur.
Metoda ini juga sesuai untuk diterapkan pada sumur-sumur yang index
produktivitasnya tidak mengalami penurunan yang besar selama masa produksi.
Gravel pack ditempatkan ke dalam formasi di belakang casing. Variasi dari jenis
external gravel pack adalah dimana zone produktif telah dicasing yang kemudian
casing pada zone disobek/dipotong dan diperbesar.
Pengoperasian penempatan gravel biasanya digunakan fluida berviskositas
tinggi, hal ini untuk mencegah terbentuknya rangkaian penahan sebelum annulus
antara screen dan formasi, terisi seperti terlihat pada Gambar 3.8.

 Internal gravel pack


Internal gravel pack adalah jenis gravel pack yang diterapkan pada kondisi
lubang bor dalam keadaan tercasing dan terperforasi.
96

Prinsip pemasangan gravel adalah dengan menempatkan gravel tersebut


diantara liner dan casing. Metoda cased hole/internal gravel pack dapat diterapkan
pada kondisi-kondisi sebagai berikut :
- Formasi dengan internal produksi yang panjang, dimana metoda penempatan
sand consolidation tidak dapat diterapkan.
- Formasi berlapis-lapis, dimana produksi diharapkan dilakukan melalui suatu
rangkaian pipa produksi. Faktor utama yang harus diperhatikan dalam cased
hole gravel pack ini adalah pembersihan lubang perforasi dengan
menggunakan fluida komplesi sebelum gravel dimasukkan ke dalam lubang
sumur/formasi.
Pengoperasian gravel dengan konsentrasi tinggi akan memberikan hasil
yang baik karena fluida yang kental akibat konsentrasi tinggi akan mengurangi
terjadinya percampuran antara pasir formasi dengan butiran gravel. Pada Gambar
3.9. secara skematis ditunjukkan penempatan gravel pack completion.

Gambar 3.8. Open Hole (External) Gravel Pack


(Shell Internationale Petroleum Maatschappij B.V. : “Well Completions”)
97

Gambar 3.9. Case Hole (Internal) Gravel Pack


(Shell Internationale Petroleum Maatschappij B.V. : “Well Completions”)

Dengan mengetahui teknik penempatan gravel dalam formasi produktif


maka bisa mendasari metoda gravel packing. Terdapat tiga metoda dalam teknik
ini yaitu:
a. Metoda Reserve Circulation
Metoda reserve circulation merupakan sirkulasi yang dilakukan dengan
memompakan butir gravel melalui annulus antara casing dan string, dimana
kemudian fluida pendorong akan kembali ke atas melalui screen dan
kepermukaan melewati string. Metoda ini seperti terlihat pada Gambar 3.10.
b. Metoda Cross-over Tool
Merupakan metoda sirkulasi yang dilakukan melalui tubing dengan bantuan
pompa, melewati packer dan cross-over pipe dan kembali kepermukaan
melalui annulus antara tubing dan casing, seperti terlihat pada Gambar 3.10.
c. Metoda Wash-down atau Simplified Method
Gambar 3.11. menunjukan langkah pengerjaan dari metoda Wash-down atau
Simplified Method. Keterangan gambar tersebut adalah sebagai berikut :
98

(a). Formasi produktif yang akan digravel diperforasi, kemudian lubang


dibersihkan dari pasir formasi.
(b). Rangkaian pipa diturunkan, kemudian gravel diinjeksikan dengan
tekanan tertentu.
(c). Screen liner dengan packer diturunkan disertai dengan pipa pembersih
(wash pipe) untuk membersihkan pasir yang ada dalam lubang sumur.
(d). Setelah selesai penempatan screen liner pada kedalaman yang
diinginkan, maka wash pipe-nya diangkat.

Gambar 3.10. Metoda Gravel Packing dengan Reserve Circulation


dan Cross-over Tool
(Rubiandini, Rudi . “Teknik Pemboran. Bahan Ajar”)
99

Gambar 3.11. Simplified Method of Gravel Packing


(Gatlin, C., “Petroleum Engineering – Drilling and well Completions”)

3.2.1.3.3. Sand Consolidation


Masalah kepasiran juga terjadi didalam komplesi formasi yang secara
alamiah tidak terkonsolidated. Dalam hal ini para ahli mencoba untuk
meningkatkan pengontrolan pasir dengan melakukan konsolidasi batuan.
Cara ini dikenal dengan sand consolidation. Metoda sand consolidation
umumnya dilakukan pada lapisan tipis berbutir relatif besar, permeabilitas
seragam (uniform) dan clean sand.
Prinsip dari metoda ini adalah menginjeksikan bahan kimia kedalam
lapisan pasir sehingga butiran pasir yang terlepas menjadi tersemen. Bahan kimia
yang umumnya digunakan adalah epoxy resin, fiuran dan phenol-formaldehyde.
Metoda lain yang merupakan kombinasi antara gravel-pack dengan
konsolidasi adalah plastic pack. Dalam hal ini gravel dicampur dulu dengan
material plastik kemudian diinjeksikan ke dalam lubang perforasi di depan
100

formasi. Disini ukuran gravel yang akan digunakan menuruti hukum Karpoff,
yaitu diameter gravel pada 10% kumulatif sama dengan 6 kali diameter pasir
formasi pada 10% berat kumulatifnya.

3.2.1.4. Kondisi Kerja Perforasi


Kondisi kerja perforasi didalam casing ini sangat dipengaruhi oleh adanya
tekanan atau pressure, baik itu tekanan hidrostatik maupun tekanan formasi.
Pembagian kondisi krja perforasi berdasarkan atas perbedaan kedua tekanan
tersebut, dan biasanva dibedakan menjadi dua, yaitu kondisi underbalance dan
overbalance.

3.2.1.4.1. Perforasi Overbalance


Kondisi perforasi overbalance atau positive pressure perforating adalah
merupakan teknik perforasi yang dilakukan pada kondisi tekanan dasar sumur
Iebih besar dan tekanan formasi. Dari basil penelitian diketahui bahwa cara ini
tidak menguntungkan. dikarenakan lubang hasil perforasi akan tersumbat oleh
partikel lumpur dan serpihan pecahan batuan sebagai akibat aliran flulda pemberat
dari lubang sumur ke dalam foramsi path saat perlubangan, hal ini terjadi karena
tekanan dasar sumur lebih tinggi dan tekanan formasi sehingga path saat sumur
diproduksikan aliran fluida akan terhalang oleh partikel padatan yang menyumbat
lubang perforasi.

3.2.1.4.2. Perforasi Underbalance


Tehnik perforasi underbalance merupakan kebalikan dan teknik
perforasi overbalance, yaitu tekanan dasar sumur lebih kecil dan tekanan formasi
Secara iehnis perforasi underbalanee digolongkan menjadi dua metode. yaitu
metode wireline dan metode tubing coveyed. Karena perforasi dilakukan pada
tekanan formasi yang lebih tinggi dan tekanan dasar sumur, maka saat setelah
periubangan akan terjadi aliran fluida formasi ke dalam sumur. Aliran ini akan
membersihkan lubang perforasi dan pecahan batuan semen, dan padatan lumpur
pemboran.
101

Gambar 3.12. Operasi perforasi overbalance dalam lumpur pemboran


(Allen, T.O. and Robert, A.P., "Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation”)

Gambar 3.13. Metode operasi perforasi underbalance


(Allen, T.O. and Robert, A.P., "Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation”)
102

3.2.1.5. Teknik Perforasi


Pada umumnya teknik perforasi secara konvensional dilakukan dengan
menggunakan kabel (wireline). Kedalaman perforator ditentukan dengan
mengukur panjang kabel, dan penyalaannya dilakukan di permukaan. Selama
pengerjaan diperlukan fluida pemberat (lumpur) untuk mengimbangi tekanan
sumur agar tidak terjadi semburan liar. Teknik perforasi dibedakan menjadi dua
berdasarkan media perforator yang digunakan. Kedua teknik perforasi ini adalah:
1. Wireline conveyed perforation
2. Tubing conveyed perforation

3.2.1.5.1. Wireline conveyed perforation


Pada sistem ini gun diturunkan ke dalam sumur dengan menggunakan
wireline atau kawat. Metode ini sendiri dapat dipat dibagi menjadi dua, yaitu ;
wireline conveyed casing gun dan wireline coneyed tubing gun.
Pada wireline conveyed casing gun ini biasanya menggunakan gun
dengan diameter besar. Keuntungan menggunakan gun dengan diameter besar ini
adalah akan didapat daya ledak yang tinggi dan tiak terjadi kerusakan bentuk
casing. Kondisi kerja dengan teknik ini bisanya dengan overbalance.
Pada wireline coveyed tubing gun biasanya menggunakan diameter
yang lebih kecil, dimana gun tersebut dimasukkan ke dalam sumur melalui x-tree
dan tubing string, setelah packer dan tubing terpasang di atas interval perforasi.
Kondisi kerja yang dipakai dalam teknik ini biasanya adalah underbalance.

3.2.1.5.2. Tubing Conveyed Perforation


Jenis ini menggunakan gun dengan diametr yang lebih besar yang
dipasang pada ujung bawah tubing atau tail pipe dan diturunkan ke dalam sumur
berama-sanma dengan tubing string.
Setelah packer dan x-tree dipasang, perforsi dilakukan secara mekanik
dengan cara menjatuhkan drop bar atau go devil melalui tubing yang selanjutnya
menghantam firring head yang ditempatkan di atas perforator.
103

Perforasi dapat dilakukan baik pada kondisi overbalance maupun


underbalance, dan setelah perforasi dilakukan, perforator biasanya dibiarkan
teetap tergantung atau dijatuhkan ke dasar sumur. Teknik perforasi dengan tubing
conveyed perforator in dapat dilihat pada Gambar 3.14
Teknik perforasi dengan tubing conveyed perforator ini lebih banyak digunakan
karena lebih banyak keuntungannya, yaitu :
1. Dapat menggunakan gun dengan diameter yang lebih besar.
2. Dapat digunakan untuk perforasi pada casing berlapis.
3. dapat di-run pada kondisi underbalace dengan beda tekanan yang cukup
besar.
4. Efisien dan efektif untuk interval perforasi yang panjang.
5. Dapat digunakan untuk lubang bor yang berarah atau miring.

Gambar 3.14. Teknik perforasi dengan tubing conveyed perforation (TCP)


(Allen, T.O. and Robert, A.P., "Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation”)
104

3.2.2. Penyelesian Sumuran Untuk Tubing (Tubing Completion).


Tujuan dari tubing completion adalah untuk mempersiapkan sumur supaya
fluida yang ada didasar sumur dapat mengalir atau dialirkan ke permukaan dengan
laju alir yang optimal.
Penentuan jenis tubing completion yang utama didasarkan oleh jumlah
tubing yang akan dipakai karena berhubungan dengan jumlah atau zona produktif
yang ada dan produktivitas dari formasi.
Metode tubing completion jika berdasar jumlah production string yang
digunakan dalam satu sumur dan lapisan yang diproduksi pada saat yang
bersamaan secara umum dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu single completion,
comingle completion, dan multiple completion. Selain ketiga tipe tersebut masih
terdapat jenis lain yaitu permanent completion, yang didasarkan pada cara
pemasangan dari production string yang dipakai.

3.2.2.1. Penyelesaian Sumuran Tunggal (Single Completion)


Merupakan metode completion yang hanya menggunakan satu production
string dimana sumurnya hanya memiliki satu lapisan atau zona produktif.
Berdasarkan kondisi reservoir dan lapisan batuan produktifnya, single completion
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu open hole completion dan perforated
completion.

3.2.2.1.1. Penyelesaian Sumuran Open Hole (Open hole completion)


Merupakan metode penyelesaian sumur tanpa menggunakan casing
pada zona produktif. Casing hanya dipasang di atas zona produktif tanpa
menggunakan perforasi.
Open hole completion merupakan cara komplesi yang dilakukan bila
formasinya cukup kompak. Formasi kompak ini biasanya pada formasi yang
mengandung sementasi yang banyak. Gambar 3.15. merupakan gambaran
sederhana dari metode single completion pada sumur yang open hole.
105

Gambar 3.15. Single Completion Jenis Open Hole


(Allen, T.O. and Robert, A.P., "Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation”)

3.2.2.1.2. Penyelesaian Sumuran Perforasi (Perforated completion)


Komplesi yang dilakukan bila formasinya kurang kompak dan/atau bila
diselingi lapisan-lapisan tipis dari air atau gas perforasi Gambar 3.16. Sedangkan
jika didasarkan pada cara memproduksikan minyak kepermukaan maka ada
macam-macam jenis single completion, yaitu :
a. Flowing well-casing flow
Aliran ke atas melalui casing tanpa dibatasi oleh tubing atau packer. Komplesi
ini dilakukan untuk sumur-sumur yang mampu memproduksi dengan rate
yang sangat tinggi.
b. Flowing well-casing and tubing flow
Aliran ke atas melalui casing dan tubing, juga digunakan untuk sumur dengan
laju aliran tinggi.
106

c. Pumping well
Tempat kedudukan tubing dan pompa dipasang pada suatu kedalaman di
bawah working level. Pompa dan roda string dipasang di tengah-tengah di
dalam tubing.
d. Flowing well-tubing flow
Di sini rangkaian tubing dan packer produksi dipasang. Dengan demikian
aliran produksi lewat di dalam tubing.
e. Gas lift well
Gas masuk ke dalam tubing melalui vulve yang dipasang di dalam mandrel
yang terletak di dalam tubing.

Gambar 3.16. Single Completion Jenis Perforated


(Allen, T.O. and Robert, A.P., "Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation”)

3.2.2.2. Penyelesaian Sumuran Commingle (Commingle Completion)


Metode ini dilakukan untuk sumur yang memiliki lebih dari satu lapisan
atau zone produktif diproduksikan melalui satu production string. Jenis
commingle completion antara lain :
107

3.2.2.2.1. Single Tubing with Single Packer


Cara produksi yang dipakai untuk sumur yang mempunyai dua zona
produktif. Kedua zona dibatasi dengan sebuah packer. Lapisan/zona bawah
diproduksikan melalui tubing, sedangkan zona atau fluidanya diproduksikan
melalui analisis antara tubing dan casing (Gambar 3.22)

3.2.2.2.2. Single Tubing with Dual Packer


Digunakan bila mempunyai dua zona produktif dan kedua fluida dari zona
atas dan bawah dialirkan kepermukaan melalui satu tubing dengan cross-over
choke (Gambar 3.23).

3.2.2.2.3. Single Tubing Single Packer with Extra Tubing


Dalam jenis ini extra tubing digunakan untuk menginjeksikan zat-zat
kimia untuk menanggulangi problema produksi seperti sulphur, salt dan scale
plugging (Gambar 3.24).

3.2.2.2.4. Single Tubing with Multiple Packer


Merupakan metode yang digunakan untuk memproduksikan fluida
reservoir dari tiga atau lebih zona produktif melalui satu tubing. Tiap zona
dipisahkan dengan packer.
Keuntungan metode commingle completion ini antara lain : masing-
masing bagian dari alat produksi dapat dibuka dan ditutup dengan wire-line.
Pengontrolan aliran dan kerusakan alat dapat dilakukan dengan mudah,
kerugiannya terletak pada besarnya biaya yang dikeluarkan, karena tiap-tiap zona
harus memiliki peralatan sendiri. Untuk melakukan treatment atau perforasi ulang,
sukar dilakukan tanpa mematikan sumur dan mengangkat tubing (Gambar 3.25).
108

Gambar 3.17. Commingle Completion dengan Single Tubing Single Packer


(Allen, T.O. and Robert, A.P., "Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation”)

Gambar 3.18. Commingle Completion dengan Single Tubing Dual Packer


(Allen, T.O. and Robert, A.P., "Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation”)
109

Gambar 3.19. Commingle Completion dengan Single Tubing Single Packer


Dan Extra Tubing
(Allen, T.O. and Robert, A.P., "Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation”)

Gambar 3.20. Commingle Completion dengan Single Tubing Multiple Packer


(Allen, T.O. and Robert, A.P., "Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation”)
110

3.2.2.3. Penyelesaian Sumuran Multipel (Multiple Completion)


Merupakan metoda yang digunakan untuk sumur yang memiliki lebih
dari satu zona atau lapisan produktif, dimana tiap-tiap zona produktif
diproduksikan sendiri-sendiri secara terpisah sesuai dengan produktivitas serta
jarak masing-masing zona, sehingga dapat memaksimalkan perolehan minyak.
Dengan cara multiple completion ini pengontrolan produksi dari masing-masing
zona dan juga kerusakan alat dan formasi dapat dilakukan dengan mudah.
Kerugian terletak pada besarnya biaya yang dikeluarkan, karena tiap-tiap zona
harus memiliki peralatan sendiri, juga peralatan untuk menanggulangi masalah
scale atau korosi.

3.2.2.3.1. Penyelesaian Sumuran Paker Multipel (Multiple Packer Completion)


Komplesi ini digunakan pada sumur yang mempunyai lebih dari satu
lapisan atau zona produktif. Dimana untuk memisahkan aliran fluida dari masing-
masing dilakukan dengan pemakaian packer. Konfigurasi multiple packer
completion ditujukan oleh Gambar 3.26.
Ada dua jenis multiple-packer yang bisa digunakan, yaitu meliputi :
a. Paralel tubing strings dan
b. Paralel concentric tubing strings

Gambar 3.21. Multiple-packer Completion


(Allen, T.O. and Robert, A.P., "Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation”)
111

Kekurangan dari metoda multiple-packer completion antara lain :


1. Inventasi awal mahal.
2. Artificial lift sulit dilakukan.
3. Tubing dan packer seringkali bocor, sehingga stimulasi dan workover
tidak mudah dilakukan.
4. Ongkos operasi relatif mahal.

3.2.2.3.2 Penyelesaian Sumuran Multipel Tanpa Tubing (Multiple-tubingless


Completion)
Metoda ini tidak digunakan production tubing tetapi digunakan casing
berukuran kecil. Biasanya digunakan casing berukuran 2/7 inch.
Metoda ini sesuai untuk sumur-sumur yang mempunyai umur produksi
panjang, adanya pekerjaan stimulasi antara lain : acidizing, fracturing, sand
control dan masalah-masalah lain yang memerlukan stimulasi atau treatment.
Sedangkan untuk sumur-sumur yang memproduksikan fluida yang bersifat
korosif, maka pemilihan metoda ini tidak cocok, karena casing produksi disemen
secara permanen.
Keuntungan :
1. Mengurangi biaya, karena biaya komplesi awal dan workover dimasa
mendatang lebih murah.
2. Tidak ada ketergantungan dari masing-masing zona dan masing-masing
zona dapat diproduksikan tanpa mengganggu lapisan/tubing yang lain.
3. Tidak ada kerugian akibat kebocoran tubing atau packer.
4. Artificial lift, penutupan atau workover suatu zona tidak mengganggu zona
lain.
5. Prosedur workover, squeeze cementing, stimulasi atau plug back lebih
sederhana dan memerlukan waktu yang lebih singkat.
Kerugian :
1. Laju produksi terbatas.
2. Pengontrolan korosi dan parafin lebih kritis.
3. Stimulasi atau treatment dengan laju yang tinggi lebih sulit dilakukan.
112

4. Pengontrolan zona pasir yang tebal lebih sulit dilakukan.


5. Resiko yang tinggi akibat adanya tekanan fluida sumur.

Gambar 3.22. Multiple-tubingless Completion


(Allen, T.O. and Robert, A.P., "Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation”)

3.2.3. Penyelesaian Sumuran Untuk Kepala Sumur (Well Head Completion)


Wellhead suatu istilah yang digunakan untuk menguraikan peralatan yang
terpaut pada bagian atas dari rangkaian pipa didalam suatu sumur untuk menahan
dan menopang rangkaian pipa.
Peralatan wellhead dalam standart API diklasifikasikan berdasarkan
kesanggupannya dalam menahan tekanan kerja (working pressere) yang berkisar
antara 960 psi sampai 15000 psi, seperti dalam Tabel III-1. untuk seri 600 berarti
mempunyai tekanan kerja 2000 psi. tekanan test hidrostatik adalah tekanan yang
diberikan di pabrik untuk menguji apakah peralatan tersebut memenuhi standart
kelayakan. Dan pengoperasian peralatan wellhead tersebut adalah pada temperatur
–50 0F sampai +250 0F.
113

Gambar 3.23. Rangkaian Peralatan Wellhead Completion


(Beggs Dale, H., “Production Optimization Using Nodal Analysis”)

3.2.3.1 Penyelesaian Sumuran Tunggal (Single Completion)


Metoda single completion jenis peralatannya dibagi menjadi dua:

3.2.3.1.1. Tubing Head Untuk Single Completion


Tubing head ditempatkan diatas casing head dan berfungsi untuk
menggantungkan tubing dan memberikan suatu pack off antara tubing string dan
production string.
114

Tabel III-1
Seri Tekanan Kerja Peralatan Wellhead

Max cold working Hydrostatic test Former


Pressure Pressure corresponding
Psi Psi Series designation

960 1400 Series 400


2000 4000 Series 600
3000 6000 Series 900
5000 10000 Series 1500
10000 15000 Series 22900
10000* 15000
15000 22500

Disamping itu juga memberikan hubungan annulus casing dan tubing


melalui outlet samping. Pemilihan tubing head untuk single completion maupun
untuk multiple completion didasarkan pada perencanaan mangkuk tubingnya.
Adapun bagian-bagian dari peralatan tubing head adalah sebagai berikut:
1. Top flange, disini dilengkapi dengan lockscrew yang berfungsi untuk
menahan tubing hanger pada tempatnya dan memberikan tekanan pada
tubing hanger seal dan seal annulus.
2. Tubing hanger, fungsinya untuk menggantung tubing dan memberikan
penyekat antara tubing dengan tubing head.
3. Outlet, merupakan saluran keluar yang jumlahnya bisa satu atau dua buah.
4. Lower flange, merupakan tempat untuk memasang bit guide dan
secondary seal.
115

Gambar 3.24. Tubing Head untuk Single Completion


(Allen, T.O. and Robert, A.P., "Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation”)

Tubing head pada umumnya digunakan pada tekanan kerja 960, 2000,
3000, 5000, dan 10000 psi. didalam pemilihan tubing head, faktor-faktor di bawah
ini yang harus dipertimbangkan untuk perawatan dan pengontrolan yang baik
pada sumur, yaitu:
 Lower flange dari tubing head harus mempunyai ukuran dan tekanan kerja
yang sesuai dengan top flange dari casing head sebelumnya, atau cross-
over sebelumnya.
 Memilih bit guide dan secondary seal yang sesuai ukurannya dengan
rangkaian casing yang digunakan untuk produksi fluida sumur.
 Besarnya tekanan kerja dari tubing head harus sama atau lebih besar harga
tekanan permukaan pada saat sumur ditutup (shut-in pressure).
 Ukuran flange bagian atas harus sesuai dengan ukuran tubing hanger yang
diperlukan, adaptor flange dan blow out preventernya.
116

 Tubing head harus mempunyai saluran keluar yang sesuai dengan ukuran
dan tekanan kerjanya.
 Tubing head harus sesuai dengan semua kemungkinan keadaan produksi,
seperti pumping dan gas lift.

Pemilihan ukuran dari tubing head ini dapat dilihat pada tabel III-2 yang
memberikan ukuran flange pada tubing head yang umum digunakan saat ini.
Untuk tubing head yang mempunyai ukuran 6 inchi, maka top flange
minimum harus mempunyai ukuran 6 5/ inchi, dimana akan memberikan
pembukaan penuh (fuul opening) sampai 7 inchi, atau rangkaian peralatan
produksi yang mempunyai ukuran lebih kecil. Bila digunakan production string
dengan ukuran 7 5/ inchi, maka harus dilakukan pemilihan tubing head dengan
pembukaan penuh untuk ukuran bit 6 ¾ inchi.
Adapun ukuran lower flange berkisar antara 6 inchi sampai 20 inchi,
sedangkan ukuran top flange berkisar antara 6 inchi sampai inchi.

3.2.3.1.2. Chistmas-tree Untuk Single completion


Chirtmas-tree merupakan suatu susunan dari katup-katup (valve) dan
fitting yang ditempatkan diatas tubing head untuk mengatur serta mengalirkan
fluida dari sumur. Berdasarkan jenis komplesi sumurnya, christmas-tree
dibedakan untuk single completion dan multiple completion. Untuk komplesi
sumur single completion, ditunjukkan pada Gambar 4.40. sedangkan berdasarkan
bentuk dan jumlah, christmas tree berlengan satu (wing valve/single string),
christmas tree berlengan dua (dual wing/dual string).
Pada umunya single completion menggunakan satu wing valve.
Sedangkan peralatan christmas-tree terdiri dari:
 Tubing head adapter  Wing valve
 Master valve  Choke
 Tee atau cross  Flow-line valve
 Master valve
Gambar 3.25. Christmas-tree Single Wing Single Completion
(Allen, T.O. and Robert, A.P., "Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation”)

3.2.3.2. Penyelesaian Sumuran Multipel (Multiple Completion)


Multiple completion jenis peralatannya dibagi menjadi dua:

3.2.3.2.1. Tubing Head Untuk Multiple Completion


Pada perencanaan tubing head untuk multiple completion agak berbeda
dalam pemilihan ukuran mangkuk tubing headnya (tubing head bowl), dimana
harus disesuaikan dengan ukuran dan jumlah tubing yang digunakan untuk dual
completion, dengan dual completion tubing hanger.

86
118

Gambar 3.26. Tubing Head Multiple Completion


(Allen, T.O. and Robert, A.P., "Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation”)

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih mangkuk tubing untuk
multiple completion, yaitu:
1. Memilih ukuran yang sesuai dan rencanakan bagian dalam agar dapat
menerima tubing hanger yang diinginkan.
2. Merencanakan tubing hanger sehingga masih tetap berlaku untuk
menggatung jumlah rangkaian tubing yang lebih kecil atau pada sebuah
rangkaian tubing.
3. Tubing head direncanakan agar dapat menerima hangernya, sehingga
tubingnya dapat dipasang tanpa membuka blow-out preventernya.
4. Menggunakan alat pedoman untuk menentukan arah tubing hanger dengan
tepat.

Selanjutnya di dalam pemilihan multiple completion tubing hanger harus


memperhatikan beberapa faktor yaitu:
1. Memilih seal yang terdapat di atas masing-masing hanger, tujuannya agar
tidak terjadi kerusakan pada waktu memasang tubing.
119

2. Memilih elemen pack off yang tepat atau seal yang sesuai.
3. Merencanakan suatu terusan untuk valve gas lift jika diperlukan nantinya.
4. Mengusahkan agar pada waktu menggantungkan rangkaian tubing di
dalam casing bagian atasnya tidak terpencar-pencar.
5. Menyusun hanger sehingga pemasangan katup back pressure sesuai dan
tepat pada tempatnya.
6. Hanger harus disusun untuk suatu ketetapan atau keakuratan tes tekanan.

3.2.3.2.2. Christmas-Tree Untuk Multiple Completion


Merupakan jenis christmas-tree yang digunakan pada sumur yang
diproduksikan lebih dari satu tubing atau multiple completion “double wing
christmas-tree”.
Pemasangan christmas-tree jenis multiple paralel string well head dengan
semua fitting, berada pada flange bagian atas tubing head. Sedangkan untuk
christmas-tree yang digunakan sambungan jenis ulir, las dan flange yang berdiri
sendiri serta dengan kesatuan yang lengkap, dipakai untuk tubing dengan ukuran:
11/4; 1¾; 2¾; 27/8; 3 atau 4 inchi.
Menurut bentuk sambungan manifoldnya, maka multiple completion
christmas-tree, dapat dibedakan:
 Jenis ulir,”theaded paralel string dual/triple completion”
 Jenis flange,”All flanged paralel string dual completion”

Pada christmas-tree yang mempunyai bentuk sambungan jenis ulir, las dan
flange yang berdiri sendiri, besarnya tekanan kerja sebesar 2000 dan 3000 psi,
sedangkan untuk jenis flange dengan kesatuan lengkap, besarnya tekanan kerja
2000, 3000, 5000 dan 10000 psi.
120

Gambar 3.27. Christmas-tree untuk Multiple Completion


(Allen, T.O. and Robert, A.P., "Production Operation Well Completion, Workover and Stimulation”)

3.3. Faktor Pemilihan dan Perencanaan Penyelesaian Sumur


3.3.1 Faktor Pemilihan
Tiap-tiap jenis penyelesaian sumur mempunyai fungsi yang berbeda-beda
sehingga terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan jenis
penyelesaian sumur juga berbeda, yaitu:
 Kekompakan Batuan
Kekompakan batuan merupakan salah satu dasar pemilihan jenis formation
completion yang dipertimbangan guna mencegah adanya guguran formasi dan
terproduksinya pasir. Analisa kondisi formasi dan parameter peralatan yang
digunakan untuk perhitungan dalam pemilihan metode penyelesaian sumur antara
lain adalah kestabilan formasi, butir pasir dan ukuran celah atau lubang screen
liner. Analisa kestabilan formasi dan analisa butiran pasir memakai data logging
dan coring dari lapisan produktif yang akan diproduksikan. Untuk ukuran lubang
screen liner dipilih berdasarkan besarnya fluida reservoir yang diinginkan untuk
mengalir ke dalam sumur.
121

Kekompakan batuan dapat diperkirakan dari faktor sementasi yang


diberikan dari persamaan Archie, yaitu :
F   m ………………………………………………………………..(3-1)
keterangan :
F = faktor formasi, yaitu perbandingan antara Ro (resistivitas minyak
pada saturasi air 100%) dan Rw (resistivitas air formasi).
Ø = porositas batuan.
m = faktor sementasi.
Harga m dapat didapatkan dengan plot antara factor formasi dengan
porositas batuan. Semakin besar harga faktor sementasi (m), semakin tinggi pula
tingkat penyemenannya yang menandakan formasi yang ada kuat atau kompak.
Diketahuinya besarn faktor sementasi dari faktor formasi produktif untuk menjadi
acuan penentuan jenis completion dari formasi yang sesuai untuk lapisan
produktif tersebut. Data Lithologi dan Faktor Sementasi dapat dilihat pada (Tabel
III-2)

Tabel III-2.
Lithologi Dan Faktor Sementasi

Rock Description m, values


Unconsolidated rock (loose sands, oolitic lime stone) 1.3
Very slightly cemented (Gulf Coast typesand, except 1.4 – 1.5
Wilcox)
Slightly cemented (most sands with 20% porosity or more) 1.6 – 1.7
Moderately cemented (highly consolidated sands of 15 1.8 – 1.9
percent porosity or less)
Highly cemented (low porosity sand, quartzite, limestone,
dolomite of intergranular porosity, chalk) 2.0 – 2.2

Selain kekompakan batuan, ada parameter lainnya yang menjadi parameter


dalam penentuan jenis formation completion, antara lain volume lempung formasi
(shale) dan kekuatan formasi.
122

Dalam menentukan volume shale, kita dapat memperkirakan dengan data –


data logging. Persamaan yang dapat digunakan adalah :
SP log
Vsh  1  ………………………………………………….. (3-2)
SSP
Keterangan :
Vsh = kandungan lempung, fraksi
SP log = defleksi SP log, mV
SSP = defleksi maksimum SP log, MV
Syarat dikatakan formasi tersebut cukup kuat untuk dilakukan open hole
completion adalah formasi tersebut memiliki volume shale lebih kecil dari 0.25
Dalam menentukan kekuatan formasi, kita dapat menggunakan persamaan
yang dilakukan oleh Tixier, yaitu :
G/Cb = (1.34 x 1010)2 AB(ρb2/Δtc4)……………………………………(3-3)
Keterangan :
A = (1-2σ) / 2(1- σ)
B = (1+ σ)/3(1- σ)
σ = 0.125 x Vsh + 0.27
G = shear modulus, psi
Cb = bulk compressibility, psi
ρb = bulk density, gr/cc
G/Cb = kriteris strength formasi, psi2
1/Cb = bulk modulus, psi
Vsh = kandungan lempung / volume shale, fraksi
Δtc = transite time, us/ft
Dalam menentukan suatu formasi apakah stabil atau tidak dapat diketahui
dari suatu lapangan dikenal kriteria kritis. Misalnya, untuk lapangan Gulf Coast
digunakan kriteria kritis G/Cb = 0.8 x 1012 psi2. Ini berarti untuk formasi tersebut
akan memproduksikan pasir dan bila formasi dengan G/Cb lebih besar dari harga
tersebut, maka formasi tersebut tidak akan memproduksikan pasir.
Untuk formasi yang kompak atau tidak mudah gugur dapat digunakan
metode open hole completion. Sedangkan untuk formasi yang mudah gugur atau
123

kurang kompak digunakan perforated casing completion. Pemilihan Sand


exlucion completion digunakan untuk sumur yang mempunyai masalah kepasiran
dan kurang kompak.

 Jumlah Lapisan Produktif


Jika suatu reservoir mempunyai lapisan produktif yang lebih dari satu
maka kondisi masing-masing zona berbeda sehingga metode penyelesaian sumur
pun berbeda.
Sumur yang hanya mempunyai satu lapisan produktif, produksi dilakukan
melalui production string yang dikenal dengan single completion. Sedangkan
yang mempunyai lapisan produktif lebih dari satu, dapat menggunakan satu
tubing yang biasa disebut comingle completion. Metode ini dilakukan bila kondisi
reservoir pada masing-masing lapisan produktif hampir sama dan jarak antara
lapisan tersebut tidak terlalu jauh. Namun bila kondisi dari setiap lapisan berbeda,
maka masing-masing lapisan produktif diproduksikan melalui tubing yang
berbeda. Metode ini dikenal sebagai multiple completion.
Apabila suatu sumur memiliki lebih dari satu lapisan produktif dengan
perbedaan tekanan formasi cukup besar, Pzu (tekanan upper zona) lebih besar dari
Pzl (tekanan lower zona) dilakukan single completion, maka perbedaan tekanan
tersebut berpengaruh terhadap kemampuan produksi dari lapisan yang bertekanan
lebih rendah karena adanya "interflow". Untuk mengatasi problem interflow,
dapat dengan memilih jenis completion yaitu multiple completion, sehingga setiap
lapisan atau zona produktif dapat diproduksikan sesuai dengan produktivitas
formasinya.

 Produktivity Indeks

Productivity index berkaitan dengan laju produksi. Productvity Index yang


besar menggambarkan laju produksi yang besar pula, karena harga PI berbanding
lurus dengan harga laju produksi.
Productivity index juga berhubungan dengan mekanisme pendorong dan
pressure loss. PI yang terlalu besar dapat mengakibatkan penurunan tekanan
reservoir yang cepat dan pressure loss yang besar. Pressure loss yang besar dapat
124

dikurangi dengan mengatur laju produksi serta melakukan pemilihan ukuran


tubing yang tepat, yang pada akhirnya akan menentukan metode penyelesaian
sumur yang tepat sehingga didapat laju produksi yang optimum.
PI merupakan standart yang dipakai pada open hole yang menembus
seluruh lapisan produktif dimana tidak ada gangguan permeabilitas disekitar
lubang bor.

 Sifat Fluida Formasi


Komposisi kimia dan fisika dari fluida formasi sangat berpengaruh pada
pemilihan metode atau jenis well completion yang akan digunakan, karena sifat
merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya problem pada penyelesaian
sumur seperti korosi, scale dan parafin.
Problem ini akan sangat sulit ditanggulangi bila sumur dengan beberapa
zona produktif diproduksikan secara comingle, karena dengan begitu treatment
akan dilakukan pada semua lapisan yang memakan biaya yang besar. Oleh karena
itu, sumur sebaiknya diproduksikan secara multiple meskipun perbedaan
kedalaman lapisan-lapisan produktif sangat kecil sehingga akan mempermudah
saat melakukan treatmen atau workover dan menghemat biaya.

 Kemungkinan Pemakaian Artificial Lift


Kemungkinan pemakaian artificial lift untuk proses produksi yang
mendatang sangat mempengaruhi pemilihan metode completion yang akan
digunakan. Pertimbangan ini dilakukan untuk mempermudah pemasangan
peralatan-peralatan artificial lift pada sumur tersebut bila nantinya pada sumur
tersebut akan dilakukan artificial lift. Jadi pemasangan tools artificial lift
dilakukan di awal sebelum sumur diproduksikan. Hal ini penting dilakukan karena
metode dan kerja dari tiap artificial lift berbeda dan memerlukan kondisi-kondisi
yang berbeda pula baik dari formasi atau hal lainnya untuk nantinya sebagai
bahan pertimbangan.

 Kemungkinan Operasi Treatment dan Workover


125

Besarnya laju produksi dipermukaan diatur sesuai kebutuhan dengan


menggunakan choke, bila besarnya laju produksi berkurang sedangkan ukuran
choke yang dipakai tetap, akan menimbulkan kerusakan pada lapisan produktifnya
atau peralatannya. Untuk itu perlu pemeriksaan terhadap penyebab terjadinya
penurunan laju produksi tersebut.
Pada multiple completion dapat diketahui rendahnya laju produksi dari
tiap-tipa zona produktif, sehingga perbaikan atau treatment dapat dilakukan tanpa
mengganggu lapisan produktif lainnya. Sedangkan untuk sumur yang
menggunakan metode commingle completion untuk mengetahui atau menentukan
lapisan produktif yang mengalami kerusakan adalah dengan melakukan tes
produksi dipermukaan. Dasar dari tes ini adalah dengan merubah THP dan
mengawasi laju produksi dipermukaan dan dapat dilakukan apabila IPR dari
masing-masing zona produktif diketahui.
Rendahnya laju produksi dapat disebabkan oleh turunnya tekanan reservoir
dan permeabilitas batuan disekitar lubang sumur. Untuk itu dilakukan treatment
atau perbaikan semisal dengan injeksi gas, air atau miscible fluid injection dapat
dilakukan juga hydraulic fracturing, acidizing maupun steam stimulation (injeksi
uap panas kedalam reservoir). Metode yang aman mengatur distribusi tekanan
maupun jumlah zat untuk treatment dalam operasi acidizing maupun fracturing
pada sumur commingle adalah menggunakan multiple injection packer.
Penyebab kerusakan alat di dalam sumur antara lain adalah tersumbatnya
peralatan oleh adanya scale, parafin atau pasir yang terkandung di dalam fluida
reservoir; Adanya pasir yang terkandung dalam fluida reservoir yang terproduksi
bersifat abrasif dan fluida korosif menyebabkan peralatan menjadi aus;
Memperbaiki atau mengganti peralatan yang rusak selama masih bisa dilakukan
dari permukaan dengan menggunakan wire line melalui production string. Akan
tetapi bila kerusakan cukup berat kemungkinan harus dilakukan perbaikan dengan
jalan mencabut (pulling off) sebagian tubing produksi yang mengalami kerusakan.
Pada multiple completion kerusakan peralatan produksi dari suatu zona
produktif dapat diketahui dan operasi work overnya dapat dilakukan tanpa
menggangu jalanya produksi dari zona produktif yang lain. Untuk mengetahui
126

adanya kerusakan peralatan produksi secara commingle adalah dengan mengatur


besarnya THP, yaitu apabila laju produksi besarnya tetap berarti ada kerusakan
pada peralatan produksi. Untuk menanggulanginya dapat dilakukan seperti pada
multiple completion adalah dengan menggunakan wire line atau small diameter
tubing akan tetapi bila kerusakan cukup berat misalnya kebocoran packer, maka
dilakukan pencabutan tubing produksi.
Pada umumnya kerusakan alat-alat produksi dibawah permukaan pada
sumur yang diproduksikan secara commingle lebih kecil dibandingkan pada
sumur yang diproduksikan secara multiple completion. Keadaan ini disebabkan
peralatan-peralatan produksi sumur commingle lebih sedikit dan lebih sederhana
dibandingkan dengan multiple completion.

3.3.2. Perencanaan Penyelesaian Sumuran.


3.3.2.1. Perencanaan Formation Completion
3.3.2.1.1. Perencanaan Formation Completion Open Hole Completion
Formation completion dengan menggunakan open hole completion
terdiri dari 2 jenis well penetration dan perhitungannya.
a. Fully Penetrating Well
7.08kh( Pe  Pwf )
q ….………………….…………….………..(3-4)
oBo ln( re / rw)
b. Partially Penetrating Well
7.08kh( Pe  Pwf )  rw 
q f 1  7 cos( f 90) ….………………...…..(3-5)
oBo ln( re / rw)  fh 
Di mana :
f = Faktor penetrasi (D/h)
D = Jarak kedalaman penetrasi, ft

3.3.2.1.2. Perencanaan Formation Completion Closed Hole Completion


(Perforated Casing Completion)
Formation completion dengan menggunakan perforated casing
completion digunakan pada reservoir yang memiliki WOR dan GOR, karena
metode ini dapat mengontrol ikut terproduksinya air atau gas , yaitu dengan
127

mengatur interval dan posisi perforasi. Disamping itu perforasi juga memberikan
efek samping yang menguntungkan yaitu efek penembusan pelubangan ke dalam
perforasi produktif. Hal-hal yang perlu direncanakan dan dan diperhitungkan
dalam Perforated Casing Completion adalah :
1. Perhitungan Interval dan Posisi Perforasi
2. Perhitungan Density Perforasi
3. Perhitungan Diameter Perforasi
4. Penentuan Pola Perforasi
5. Perhitungan Faktor Skin Perforasi
6. Perhitungan Pressure Drop Perforasi

3.3.2.1.2.1. Perhitungan Interval dan Posisi Perforasi


Penentuan interval perforasi dimaksudkan untuk mendapatkan suatu
posisi dan panjang rangkaian perforasi optimum yang memberikan laju produksi
maksimum tanpa ikut terproduksinya air dan gas. Ada beberapa metoda yang
dapat digunakan untuk menentukan interval dan posisi perforasi, diantaranya
metode ini yang dikembangkan oleh Chaney, metode Chierici, dan metode Pirson

 Metode Chaney et. al.


Metode ini menggunakan dasar teori Muskat, bahwa suatu hasil analisa
matematis dan studi potentiometris analyzer dari water dan gas coning. Dari hasil
analisa satu set kurva dapat dikembangkan untuk menghitung laju produksi kritis
pada sumur-sumur yang mempunyai GOC, WOC atau keduanya, sebagaimana
ditunjukkan pada Gambar 3.28. Kurva ini hanya berlaku untuk kondisi reservoir
yang homogen.
Kurva-kurva tersebut menunjukkan hubungan antara laju produksi kritis
dalam reservoir bpd terhadap jarak antara puncak interval perforasi dengan
puncak lapisan pasir atau GOC. Kurva-kurva ini berlaku untuk ketebalan kolom
minyak 12 1/2', 25’, 50’, 75’, 100’ dengan radius pengurasan 1000 feet. Untuk
mendapatkan laju produksi kritis dari reservoir dengan ketebalam kolom minyak
antara harga tersebut di atas, maka dapat dilakukan interpolasi linier. Dari setiap
Gambar tersebut menunjukkan lima kurva water coning yang dinyatakan dalam
128

kurva A, B, C, D, E, serta lima kurva gas coning yang dinyatakan dalam kurva a,
b, c, d dan e.
Kurva A dan a berlaku untuk10% ketebalan kolom minyak yang diperforasi.
Kurva B dan b berlaku untuk 20% kolom minyak yang diperforasi sedangkan
kurva C dan c untuk 30%. Kemudian kurva D dan d untuk 40% sedangkan kurva
E dan e untuk 50% ketebalan kolom minyak diperforasi. Kurva-kurva tersebut
didapatkan dengan menggunakan karakteristik batuan dan fluida reservoir sebagai
berikut :
 permeabilitas, Ko = 1000 md.
 viskositas, μo = 1 cp.
 perbedaan densitas antara minyak-air Δρow = 0,3 gr/cc.
 perbedaan densitas antara minyak-gas Drog = 0,6 gr/cc.
Oleh karena itu untuk penggunaan laju aliran yang didapat dari kurva
tersebut harus dikoreksi terhadap harga yang sebenarnya dari karakteristik fluida
formasi serta harus dikoreksi terhadap satuan permukaan.
Koreksi laju aliran water coning dalam sistem air-gas :

0,00333k g Δ pgw Q kurva


Q gw  ............................................................. (3-6)
μ 0β g

Koreksi laju aliran water coning untuk sistem minyak-gas :

0,00167k g Δ pog Q kurva


Q og  ................................................................. (3-7)
μ 0β o

Koreksi laju aliran gas coning untuk sistem air-minyak :

0,00167k 0 Δ pow Q kurva


Q ow  ............................................................... (3-8)
μ 0β o
129

Gambar 3.28. Kurva Hubungan Antara Laju Aliran Kritis Terhadap


Jarak Antara Interval Perforasi dengan Puncak Lapisan Pasir
(Brown, K.E., “The Technologi of Artificial Method”)
130

Gambar 3.29. Kurva Hubungan Antara Laju Aliran Kritis Terhadap Jarak
Antara Interval Perforasi dengan Puncak Lapisan Pasir (lanjutan)
(Brown, K.E., “The Technologi of Artificial Method”)
131

Gambar 3.30. Kurva Hubungan Antara Laju Aliran Kritis Terhadap Jarak
Antara Interval Perforasi dengan Puncak Lapisan Pasir (lanjutan)
(Brown, K.E., “The Technologi of Artificial Method”)
132

Dimana :
Qow = laju produksi maksimum minyak tanpa produksi air, STB/hari
Qgw = laju produksi maksimum gas tanpa produksi air, MSCF/hari
Qog = laju produksi maksimum minyak tanpa produksi gas, STB/hari
Qkurva = laju produksi kritis yang dibaca pada Gambar 4.45
Drow = perbedaan densitas antara minyak-air, gr/cc
Ko,Kg = permeabilitas minya, gas, md
mo, mg = viskositas minyak, gas, cp
Drgw = perbedaan densitas antara gas-air, gr/cc
Bo = faktor volume formasi minyak, bbl/STB
Bg = faktor volume formasi gas, bbl/MSCF
Penentuan interval dan posisi perforasi metoda ini didasarkan pada
Gambar 3.28 hingga Gambar 3.30. Kurva dalam gambar tersebut membantu
memecahkan persoalan, yaitu dimana harus diperforasi suatu reservoir dengan
ketebalan kolom minyak tertentu yang mempunyai bidang batas air-minyak dan
gas-minyak.
Titik potong dari kurva dan water coning secara otomatis memberikan laju
produksi maksimum, dimana sumur bisa diproduksi tanpa adanya produksi air dan
gas. Titik potong juga memberikan informasi dimana perforasi harus dilakukan.
Harga laju produksi yang didapatkan dari kurva bukan merupakan harga
sebenarnya dari laju produksi, sehingga diperlukan koreksi untuk perbedaan
permeabilitas, viskositas dan densitas sebenarnya maupun koreksi terhadap satuan
permukaan dengan menggunakan Persamaan (3-3), (3-4) dan (3-5) agar didapat
laju produksi yang sebenarnya. Kemudian dengan cara yang sama diulangi untuk
interval perforasi yang lain sehingga didapatkan beberapa laju produksi kritis.
Data produksi lapangan juga diperlukan untuk menentukan interval perforasi yang
optimum. Seandainya data produksi lapangan tidak tersedia dikarenakan lapangan
masih baru, maka diambil interval 10% dari ketebalan kolom minyak.
Seperti diketahui bahwa kurva Gambar 3.28. tersebut dibuat berdasarkan
perbedaan densitas antara minyak dan gas 0,6 gr/cc, serta perbedaan antara
minyak dan air 0,33 gr/cc. Oleh karena itu titik potong antara kurva water dan gas
133

coning tidak akan sama untuk harga densitas yang berbeda. Apabila perbedaan
densitas minyak-air dan minyak-gas berbeda dengan kurva dasar diatas, maka
prosedur mendapatkan titik potong yang baru adalah :
1. Pilih tiga buah titik kurva b dari Gambar 3.30 yang sama merupakan gas
coning. Tiga titik ini terdiri dari titik potong antara kurva B dan b serta dua
titik lain yang masing-masing berbeda dari kedua belah pihak dari titik
potong. Untuk 12,5 feet ketebalan kolom minyak, titik tersebut adalah 2,5’,
3,75’ dan 5,0’ dari puncak perforasi GOC.
2. Substitusikan harga laju produksi pada setiap titik kedalam Persamaan (3-6)
dan hitung harga laju produksi kritis terkoreksi.
3. Plot antara laju produksi kritis terhadap jarak puncak perforasi ke GOC pada
kertas semi-log, maka bentuk kurva b pada Gambar 3-4.
4. Seperti langkah 1, pilih tiga buah laju produksi kritis dari kurva B.
5. Substitusikan harga ini kedalam Persamaan (3-5) dan hitunglah laju produksi
kritis terkoreksi.
6. Kemudian plot antara laju produksi kritis koreksi pada kertas semi-log seperti
langkah 3. Titik potong antara kedua kurva akan memberikan laju produksi
maksimum koreksi dalam STB. Titik potong ini juga menunjukkan dimana
puncak perforasi dilakukan.

 Metode Chierici et. al.


Metoda ini menggunakan suatu model potentiometric yang didasarkan
pada teori water dan gas coning dari Muskat. Beberapa anggapan dari metoda ini
adalah sebagai berikut :
1. Reservoir homogen, ukuran aquifier terbatas sehingga tidak merupakan tenaga
pendorong.
2. Gas cap berkembang dengan kecepatan yang relatif kecil, sehingga gradien
potensial di gas cap dapat diabaikan.
3. Dibawah kondisi statis, permukaan kontak antara fluida adalah horisontal.
4. Fluida reservoir incompressible.
5. Pengaruh tekanan kapiler dapat diabaikan.
134

Dengan beberapa anggapan tersebut diatas, maka oil-water dan gas-oil


interface (t1 dan t2) akan stabil apabila laju produksi minyak melalui sumur
produksi tidak lebih besar dari harga yang memberikan pada persamaan berikut :
h 2 Δ pow K rw
Q ow  3,073 x 10 3
ψ, rde ,  , δw ………………….……..(3-9)
μ oβ g

h 2 Δ pog K rw
Q og  3,073 x 10 3
ψ, rde ,  , δo ….……….……………..(3-10)
μ oβ g
dimana :
Qow = laju produksi maksimum minyak tanpa terjadi water coning,
STB/hari
Qog = laju produksi maksimum minyak tanpa terjadi gas coning,
STB/hari
h = ketebalan zona minyak, ft
kro = permeabilitas efektif minyak horizontal, md
rDe = re/h (kvo/kro) = parameter jari-jari pengurasan
e = b/h = parameter interval perforasi, ft
dg = hcg/h
hcg = jarak batas air-minyak ke puncak perforasi, ft
hcw = hcw/h
hcw = jarak batas air-minyak ke puncak perforasi, ft
kvo = permeabilitas efektif minyak vertikal, md
Ψ = fungsi tidak berdimensi
re = jari-jari pengurasan, feet
Jika laju produksi lebih besar dari harga laju produksi yang diberikan
Persamaan (3-9), (3-10) maka permukaan kontak air-minyak tidak lagi stabil
sehingga air dan gas ikut terproduksi kepermukaan. Dengan demikian syarat
untuk tidak terproduksinya air dan gas kepermukaan adalah : Qo < Qow atau Qo
< Qog. Berdasarkan hubungan tersebut, terlihat bahwa parameter-parameter yang
mempengaruhi besarnya laju produksi kritis adalah karakteristik fluida (Drog,
Drow, m, Bo) dan batuan reservoir (permeabilitas efektif), ketebalan zona minyak
135

(h) dan geometri reservoir (rDe, e, d) yang dinyatakan dalam fungsi tidak
berdimensi (Ψ).

Gambar 3.31. Fungsi Ψ untuk Berbagai Harga rDe


(Brown, K.E., “The Technologi of Artificial Method”)
136

 Metode Pirson
Persamaan -persamaan yang dibuat Pirson untuk menetukan laju produksi
kritis dalam tiga kasus sebagai berikut :
Untuk kasus gas conning .
( o -  g ) K o
Q og = 1,535
 o ln (re / rw)
h 2

- (h - D) 2 .............................. (3-11)

Untuk kasus water conning

( -  o)
Q ow = 1,535 w

 o ln (re / rw)
h 2

- D .......................................... (3-12)

Untuk kasus gas dan water conning yang terjadi bersama-sama seperti yang
terlihat pada Gambar (3.5), laju aliran minyak maksimum dibagi menjaadi dua
aliran, pertama Qog yang diambil di atas bidang zo, disebut laju aliran minyak
maksimum tanpa gas dari gas conning, dan Qow yang diambil bidang bagi zo,
disebut laju aliran minyak maksimum tanpa air dari water conning.
Persamaan-persamaan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :

( o -  g ) K o
Q og = 1,535 (h - z o ) - (h - D - h c - z o ) 2 ......... (3-13)
 o ln (re / rw)
( w -  g ) K o 2
Q ow = 1,535 (z o - (z o - h + D)) ........... .......... (3-14)
 o ln (re / rw)
sehingga Qo maksimum = Qog + Qow ............................................................... (3-15)
dimana :

Qo maks : laju produksi maksimum tanpa produksi air dan gas, bbl/hari
w : berat spesifik air
o : berat spesifik minyak
g : berat spesifik gas
hc : interval perforasi
D : jarak dari puncak zone minyak ke dasar perforaasi, ft
zo : jarak dari dasar zone minyak ke bidang bagi, ft
137

Harga-harga D dan zo dapat dihitung dengan persamaan :

o - g
D = h - (h - h c ) ......................................................... (3-16)
w - g

o - g
zo = h ........................................................................... (3-17)
w - g

Gambar 3.32. Kondisi Water and Gas Conning Menurut Pirson


(Brown, K.E., “The Technologi of Artificial Method”)

Langkah-langkah penentuan interval dan posisi perforasi :


1. Ambil beberapa kemungkinan harga hc
2. Hitung D dengan persamaan menggunakan persamaan (3-16)
3. Hitung zo dengan persamaan (3-17)
4. Hitung harga-harga Qog dan Qow melalui persamaan (3-13) dan (3-14)
138

5. Hitung harga Q optimum dengan persamaan (3-15)


6. Dengan mengetahui kemampuan sumur pada berbagai interval perforasi,
maka dari berbagai harga Qoptimum yang telah dihitung diatas, dapat
ditentukan harga Qop yang sesuai atau laju produksi kritis yang cocok untuk
sumur yang bersangkutan.
7. Dari harga Qopt yang dipilih pada langkah 6, maka harga interval perforasi
hc, dan posisi D, untuk sumur yang bersangkutan dapat diketahui.

3.3.2.1.2.2. Perhitungan Densitas Perforasi


Densitas Perforasi adalah adalah jumlah lubang perforasi per satuan
panjang (ft). Untuk mencegah terjadinya coning, faktor utama yang harus dibatasi
adalah laju produksi water awal dari sumur tersebut akan membandingkan laju
produksi dari sumur yang diperforasi (Qp) terhadap produktivitas sumur bila
dikomplesi secara terbuka (Qo).
Besarnya productivity ratio dinyatakan oleh Muskat sebagai berikut :
re
Qp ln
rw
 ……………………………………………………..(3-18)
Qo r
C  ln e
rw
dimana :
Qp = laju produksi maksimal sumur perforasi
Qo = laju produksi sumur bila diselesaikan secara open hole
C = faktor skin perforasi dan formasi

Dengan demikian terlihat bahwa, produktivitas awal dari suatu formasi


dipengaruhi oleh faktor-faktor :
- Skin karena lumpur bor dan semen.
- Perforasi, yang meliputi pola, kedalaman penembusan dan diameter
perforasi.
139

3.3.2.1.2.3. Perhitungan Diameter Perforasi


Pada Gambar 3.33. dari Stanley Locke, memperlihatkan pengaruh dari
diameter lubang perforasi pada berbagai harga kc/ku (permeabilitas crush
zone/permeabilitas formasi) terhadap produktivity ratio.
Pada gambar tersebut, terlihat bahwa pertambahan diameter lubang
perforasi diatas 0,25 inch (6,35 mm) tidak banyak mempengaruhi besarnya
produktivity ratio.

Gambar 3.33. Produktivity Ratio vs Diameter Lubang Perforasi


(Gatlin, C., “Petroleum Engineering – Drilling and well Completions”)

Pada sumur-sumur dengan laju aliran tinggi, akan terjadi aliran turbulent.
Pada Gambar 3.33. dapat memberikan gambaran yang lebih representatif
mengenai hal ini. Pada gambar tersebut di atas, bahwa untuk mendapatkan rate
sebesar 100 bbl/day, dengan kedalaman penetrasi perforasi 1 inchi (305 mm) dan
diameter lubang perforasi sebesar 0,375 inch (9,5 mm) dibutuhkan drowdown
(DP) sebesar 1 psi.
140

Jadi dengan menggunakan persamaan Fanning (seperti yang tertera pada


gambar di atas), dapat ditentukan diameter lubang perforasi pada rate (laju aliran)
yang diinginkan, dengan catatan bahwa parameter-parameter yang lain sesuai
seperti yang tertera pada grafik, yaitu :
- f (friction faktor) = 0,85
- L (perforation length) = 12,00
- (specific gravity minyak) = 0,85
K.C. Hong, menggambarkan pengaruh pola perforasi terhadap
produktivity ratio, seperti terlihat pada Gambar 3.35. Gambar tersebut
menggambarkan produktivity ratio versus kedalaman penetrasi perforasi untuk
tiga pola perforasi.
Ketiga pola tersebut disusun secara vertikal dan lurus, dimana pola
pertama (yang terbawah) mempunyai phasing 00 yang disebut “strip shooting”,
pola yang kedua (di tengah) mempunyai phasing 900 dan pelubangan dilakukan
pada suatu bidang horizontal (simple pattern), sedangkan pola ketiga (teratas) juga
mempunyai phasing 900 tetapi pelubangan dilakukan pada dua bidang horizontal.
Permeabilitas vertikal dan horizontal diasumsikan sama.
Pola pertama (strip shooting) menghasilkan produktivity ratio yang lebih
rendah bila dibandingkan dengan kedua pola lainnya. Hal ini disebabkan karena
distribusi tekanan pada kedua pola menghasilkan drawdown yang lebih merata
untuk memproduksi fluida yang lebih besar.
Pada formasi yang isotropic (permeabilitas horizontal dan vertikal sama),
keseragaman besarnya draw down dihubungkan terhadap jarak antara pelubangan
yang berdekatan. Jarak yang terbesar terdapat pada pola ketiga (staggerd pattern),
sehingga pola tersebut mempunyai productivity ratio yang tertinggi.
Dari hasil penelitian Stanley Locke, digambarkan pengaruh dari
kedalaman penetrasi perforasi (perforation length) terhadap productivity ratio,
seperti terlihat pada Gambar 3.36. Productivity ratio mencapai harga maksimum
pada kedalaman penetrasi kira-kira 12 inch (395 mm). Juga terlihat bahwa
productivity ratio akan makin meningkat dengan pertambahan kedalaman
penetrasi perforasi.
141

Gambar 3.34. Grafik Drawdown vs Diameter Lubang Perforasi


Dari Persamaan Fanning
(Gatlin, C., “Petroleum Engineering – Drilling and well Completions”)

Gambar 3.35. Pengaruh Pola Perforasi Pada Productivity Ratio


(Brown, K.E., “The Technologi of Artificial Method”)
142

Pada Gambar 3.36, Gambar 3.37 digambarkan untuk suatu kedalaman


penetrasi yang sama, maka besarnya productivity ratio akan bertambah dengan
bertambahnya density perforasi.

Gambar 3.36. Productivity Ratio vs Kedalaman Penetrasi Perforasi


(Gatlin, C., “Petroleum Engineering – Drilling and well Completions”)

Gambar 3.37. Productivity Ratio vs Kedalaman Penetrasi


Untuk Berbagai Harga Density Perforasi
(Gatlin, C., “Petroleum Engineering – Drilling and well Completions”)
143

3.3.2.1.2.4. Penentuan Pola Perforasi


Didalam perforasi dikenal dua macam pola perforasi, yaitu :
 Pola sederhana (simple pattern)
 Pola tangga (staggered pattern)
Selanjutnya K.C. Hong, menggambarkan pengaruh pola perforasi terhadap
productivity ratio, seperti terlihat pada Gambar 3.35, dimana pada Gambar 3.35.
menggambarkan productivity ratio versus kedalaman penetrasi perforasi untuk
tiga pola perforasi. Ketiga perforasi tersebut disusun secara vertikal dan lurus,
dimana pola pertama (yang terbawah mempunyai phasing 0o yang disebut “strip
shooting”, pola yang kedua (di tengah) mempunyai phasing 90o dan pelubangan
dilakukan pada suatu bidang horizontal (simple pattern), sedangkan pola ketiga
(paling atas) juga mempunyai phasing 90o tetapi pelubangan dilakukan pada dua
bidang horizontal diasumsikan sama.
Pola pertama (strip shooting) menghasilkan productivity ratio yang lebih
rendah bila dibandingkan dengan kedua pola lainnya. Hal ini disebabkan karena
distribusi tekanan pada kedua pola menghasilkan drawdown yang lebih merata
untuk memproduksikan fluida yang lebih besar.
Pada formasi yang isotropic (permeabilitas vertikal dan horizontal sama),
keseragaman besarnya drawdown dihubungkan terhadap jarak antara pelubangan
yang berdekatan. Jarak yang terbesar terdapat pada pola ketiga (Istraggered
pattern), sehingga pola tersebut mempunyai productivity ratio yang tinggi.

3.3.2.1.2.5. Perhitungan Faktor Skin Perforasi


Laju aliran dari formasi ke dalam sumur pada perforated casing
completion, dipengaruhi oleh kerusakan (damage) dan lubang perforasi. Dalam
hal ini keduanya dapat dikatakan sebagai skin yang sama secara kuantitatif dapat
berharga positif atau negatif. Untuk selanjutnya masing-masing dinyatakan
sebagai skin damage (Sd) dan skin perforasi (Sp). Sedangkan hasil dari analisa tes
tekanan memberikan harga skin total (St), dimana :
St = Sd + Sp ………………………………………………………..(3-19)
dimana :
144

S = St untuk sumur berselubung (bercasing)


St = Sd atau Sp = 0 untuk open hole completion
Teori analisa fluida menuju ke sumur menganggap geometri aliran radial
dengan batas-batas r = rw (dinding formasi) dan r = re (batas pengurasan). Apabila
faktor skin diperhitungkan sebagai kehilangan tekanan, maka persamaan menjadi :

7,08kh Pr  Pwt 


q ….…………………………….…..……(3-20)

μβ ln
re 
 0.75  S
 rw 

Dalam hal ini, makin kecil diameter perforasi, semakin besar skin
perforasinya. Dan makin banyak lubang juga makin dalam perforasinya, maka
skin semakin kecil.
Untuk menentukan harga skin faktor akibat perforasi (Sp), K.C. Hong
telah membuat beberapa nomogram seperti pada Gambar 3.39. (untuk simple
pattern) dan Gambar 3.40 (untuk staggered patterns). Gambar 3.41 berfungsi
untuk koreksi bila diameter perforasi 0,25 dan 1,0 inch.
Langkah-langkah untuk menentukan (Sp) dengan menggunakan
nomogram-nomogram tersebut sebagai berikut :
1. Tentukan harga :
- Diameter sumur (dw) yaitu diameter outside casing (OD) ditambah dua
kali ketebalan semen.
- Ratio permeabilitas vertikal dengan horizontal, kv/kh.
- Pola perforasi (yaitu harga perforation phasing, 0 dan interval dalam
masing-masing perforasi, h).
- Depth of penetration (dihitung dari muka semen), ap adalah total area
Sandstone sebagai dasarnya, yang memiliki compresive strength sebesar
6500 psi. Jika harga compresive strength untuk satu formasi diketahui,
harga ap dapat dikoreksi dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut :
145

 Bullet Perforator :

Pr  PB C B C t 
1.15
……...……………………..…………………(3-21)

 Jet Perforator
Pf = PB e8.6 x 10-5 (CB – Cf) …….……………...…………………(3-22)
dimana :
Pf = penetration in formation, in = ap
PB = TCP pada Beroa Sandstone, in
CB = compresive strength pada Barea Sandstone, 6500 psi
Cf = compresive strength pada formasi, psi
2. Gunakan Gambar 3.38 (untuk simple patterns) atau Gambar 3.39 (untuk
staggered patterns) untuk mendapatkan harga (Sp). Mulailah dari sisi kiri
nomogram dan dibuat garis penghubung dengan parameter-parameter yang
telah didapat dalam langkah pertama.
3. Dengan memakai Gambar 3.41, dilakukan koreksi harga Sp dari langkah 2
untuk diameter perforasi yang berbeda. Setelah harga Sp didapat, maka dapat
dihitung harga skin total (St) apabila skin damage (Sd) diketahui, sehingga
perhitungan produktivitas sumur bisa dicari. Sedangkan untuk menentukan
produktivity rationya dapat menggunakan persamaan :
qp lnre/rw
4. production ratio (PR)   …………....………………(3-23)
q St  lnre/rw
Apabila St berharga negatif, berarti PR akan mempunyai harga lebih dari
satu. Jadi dapat disimpulkan bahwa laju produksi sumur yang diperforasi dapat
lebih besar dari laju produksi sumur pada kondisi open hole.
146

Gambar 3.38. Nomogram untuk Menentukan Perforation Skin Faktor (Sp),


(simple patterns, ½ inch perforation)
(Rubiandini, Rudi . “Teknik Pemboran. Bahan Ajar”)

Gambar 3.39. Nomorgam untuk Perforation Skin Faktor (Sp)


(staggered patterns, ½ inch perforation)
(Rubiandini, Rudi . “Teknik Pemboran. Bahan Ajar”)
147

Gambar 3.40. Koreksi Sp untuk Diameter Perforasi ¼ inch dan 1 inch


(Rubiandini, Rudi . “Teknik Pemboran. Bahan Ajar”)

3.3.2.1.2.6 Perhitungan Pressure Drop Perforasi


Salah satu penyebab rendahnya productivitas sumur pada perforated
completion adalah karena program pelubangan selubung (perforasi) yang tidak
memadai. Apabila kondisi ini terjadi, akan berakibat timbulnya suatu hambatan
terhadap aliran atau bertambahnya penurunan tekanan (pressure drop) dalam
formasi. Oleh karena itulah, Carl Granger dan Kermit Brown telah menggunakan
analisa Nodal untuk mengevaluasi besarnya penurunan tekanan melalui lubang
perforasi, pada berbagai harga density perforasi.
Analisa Nodal disini, diterapkan untuk Standart Perforated Well, dengan
menganggap perforated hole turn 90° dan tidak terjadi damage zone disekeliling
lubang bor. Anggapan-anggapan lain yang digunakan dalam mengevaluasi
pressure drop melalui lubang perforasi ini adalah :
148

1. Permeabilitas dari crushed zone atau compact zone adalah :


a. 10% dari permeabilitas formasi apabila diperforasi dengan tekanan
overbalanced (tekanan hidrostatis dalam lubang bor lebih besar daripada
tekanan formasi).
b. 40% dari permeabilitas formasi, apabila diperforasi dengan tekanan
underbalanced (tekanan hidrostatis dalam lubang bor lebih kecil daripada
tekanan formasi).
2. Ketebalan crushed zone adalah 1/2 inch.
3. Infinite reservoir adalah, sehingga Pwfs tetap pada sisi dari compact zone,
jadi pada closed outer boundary, konstanta – 3/4 pada Persamaan Darcy
dihilangkan.
4. Untuk menghilangkan presure drop melalui lubang perforasi digunakan
persamaan dari Jones, Blount dan Gazle.
Persaman dibawah ini hanya berlaku untuk sumur minyak pada umumnya, yaitu
sebagai berikut :
Pwfs – Pwf = aq2 + bq = P ………………………………………….. (3-24)
atau,
 4  1 1   r 
2.30 x 10 βBo ρ o  rp  re 
2
μ oβ o  ln e 
  2 rp 
P  2
q  
3
q …..….. (3-25)
Lp 7.08 x 10 L p K p

2,30x10 4 β Bo 2ρo (1/rp  1/re)


a=
Lp 2
μo Bo ln (re/rp)
b=
7,08x10  3 Lp Kp

2,33 x 1010
 = turbulune factor, ft -1 =
Kp1,201

dimana :
Bo = faktor volume formasi, bbl/STB
ρo = densitas minyak, lb/cuft
Lp = perforation length, ft
149

Kp = permeabilitas compact zone, md (kp = 0,1 k formasi, jika


overbalanced dan kp = 0,4 k formasi, jika kondisi underbalanced)
rp = jari-jari lubang perforasi, ft
re = jari-jari compact zone, ft (re = rp + 0,5 inch)
μo = viscositas minyak, cp
Tekanan dasar sumur merupakan faktor yang dipertimbangkan dalam
perencanaan perforasi sumur, karena hal ini berpengaruh pada efek pembersihan
lubang perforasi. Tekanan dasar sumur ini terbagi atas Pressure Differential dan
Pressure Limitation.

 Pressure Differential
Pressure Differential adalah perbedaan tekanan antara lubang sumur
dengan tekanan formasi. Dikenal dengan dua macam pressure differential yaitu
underbalance dan overbalance.
Pada perforasi metode underbalance yaitu perforasi yang dilakukan pada
kondisi tekanan dalam lubang sumur lebih kecil daripada tekanan formasi.
Dengan cara ini tekanan formasi akan mendorong semua kotoran formasi yang
ada di dalam lubang perforasi, sehingga dapat diperoleh suatu lubang perforasi
yang bersih, yang mampu dapat mengalirkan fluida reservoir ke dalam lubang
sumur secara lebih baik. Metode ini dikenal karena kemampuannya untuk
menghasilkan lubang perforasi yang bersih dan memperkecil skin yang terbentuk
disekeliling lubang perforasi.
Pada perforasi metode overbalance digunakan pada kondisi dimana
tekanan dasar lubang sumur lebih besar dari tekanan formasi. Kondisi demikian
dapat menyebabkan terjadinya penyumbatan lubang perforasi oleh padatan
lumpur, kotoran bahan peledak atau partikel-partikel formasi (debris) sehingga
akan memperkecil productivitas formasi.
Meskipun perforasi dilakukan pada fluida sumur yang bersih seperti
minyak dan air, partikel-partikel dari kotoran bahan peledak dan formasi, lempung
atau partikel kotoran lainnya dapat menyebabkan penyumbatan lubang perforasi
150

dan menyebabkan kerusakan formasi (formation damage). Untuk itu perlu


dilakukannya pemilihan fluida perforasi secara selektif.

 Pressure limitation
Yang dimaksud dengan pressure limitation adalah tekanan kerja
maksimum perforasi di dalam lubang sumur. Kondisi ini berkaitan dengan
ketahanan perforasi dalam melakukan tugasnya.
Sebaliknya dalam melakukan komplesi-komplesi untuk sumur bertekanan
sangat tinggi digunakan perforasi yang memiliki “pressure rating” yang cukup
besar, hal ini untuk menghindari kegagalan perforasi pada suatu formasi yang
bertekanan sangat tinggi tersebut.
Dari kedua macam tekanan dasar sumur yang terdapat dalam suatu
pekerjaan perforasi tersebut maka yang sering dipertimbangkan dalam
perencanaan dan perhitungan parameter-parameter perforasi adalah masalah
pressure differential yang digunakan yaitu kondisi overbalance atau kondisi
underbalance.

3.3.2.2. Perencanaan Penyelesaian Sumuran Untuk Tubing


Dasar dari perencanaan tubing completion adalah vertical flow
performance, karena menjadi dasar utama dalam penentuan ukuran tubing dan
analisa kehilangan tekanan pada tubing.

3.3.2.2.1. Perhitungan Diameter Tubing


Perhitungan diameter tubing pada dasarnya merupakan pemilihan ukuran
(diameter) tubing yang disesuaikan denagn laju aliran optimum sumur. Pemilihan
tubing ini dapat dilakukan dengan analisa nodal yang pertama kali dikemukakan
oleh Gilbert (1954) kemudian didiskusikan oleh Nind (1954) dan Brown (1978)
merupakan suatu analisa sisitem produksi dengan memperhatikan pembagian
titik-titik pusat penurunan tekanan (nodal) dalam sistem produksi.
Langkah-Langkahnya sebagai berikut:
1. Buat grafik IPR sumur tersebut.
151

2. Asumsikan beberapa laju produksi dan diameter tubing yang sesuai dengan
grafik pressure traverse dengan memperhatikan data sumur. Dengan harga
Pwh dan GLR yang diketahui, maka dapat ditentukan equivalent depth maka
didapat equivalent depth (untuk Pwf). Kemudian dari titik kedalaman tersebut
ditarik garis horizontal hingga memotong kurva GLR tadi. Dari titik potong
ini dapat diketahui berapa pressure-nya yang merupakan harga Pwf-nya.
3. Buat Tabel laju aliran versus Pwf untuk masing-masing tubing dari langkah 2.
4. Plotkan grafik tubing intake langkah 3 pada Grafik IPR langkah 1 seperti
pada Gambar 3.41 berikut.

Gambar 3.41. Hubungan IPR dengan Kurva Tubing Performance


(Brown, K.E., “The Technologi of Artificial Method”)

5. Titik perpotongan antara tubing intake dan IPR dari langkah 4 merupakan laju
produksi maksimum masing-masing tubing untuk sumur tersebut.
6. Berdasarkan langkah 5, dapat ditentukan tubing yang sesuai untuk digunakan
agar kita mendapatkan laju produksi mendekati laju produksi optimum.
152

3.3.2.2.2. Perhitungan Pressure Loss Pada Tubing


Perhitungan kehilangan tekanan selama terjadi aliran melalui pipa vertikal
(tubing) telah dilakukan oleh beberapa peneliti, antara lain : Poettman dan
Carpenter, Gilbert, Hagerdon dan Brown serta Beggs dan Brill.

 Metode Poettman dan Carpenter


Poettman dan Carpenter mengembangkan metode semi empiris berdasarkan
persamaan keseimbangan energi serta data dari 34 sumur minyak flowing dan 15
sumur minyak gas-lift yang menggunakan tubing 2’’, 2,5’’ dan 3’’. Minyak, air
dan gas dianggap sebagai satu fasa dan tidak korelasi liquid hold up. Selain
daripada itu juga dianggap aliran minyak, air dan gas merupakan aliran turbulen.
Kehilangan energi yang terjadi sepanjang aliran tersebut, dikorelasikan dengan
pembilang daripada bilangan Reynold, seperti terlihat pada Gambar 3.42.

Gambar 3.42. Korelasi Faktor Gesekan Poettman dan Carpenter


153

Beberapa hal yang harus diingat mengenai penggunaan dari metode ini adalah :
1. Korelasi ini dapat digunakan untuk pipa-pipa yang ukurannya sesuai dengan
ukuran pipa-pipa yang digunakan dalam studi ini, yaitu : 2’’, 2.5’’ dan 3’’.
Penggunaan metode ini untuk ukuran pipa yang lain, harus
mempertimbangkan mengenai hasil yang diperoleh.
2. Laju aliran total digunakan untuk menghitung density pada setiap titik dalam
pipa.
3. Pola aliran diabaikan.
4. Pengaruh viskositas diabaikan. Studi oleh Ross, Hagerdorn dan Brown
menunjukkan bahwa pengaruh viskositas di atas 6 cp (atau 10 cp), perlu
diperhitungkan.
5. Komponen percepatan dalam persamaan energi diabaikan. Hal ini benar untuk
kondisi tertentu, tetapi bila kecepatan aliran sangat tinggi, maka komponen
percepatan perlu diperhitungkan.
6. Faktor gesekan dianggap merupakan harga rata-rata untuk seluruh panjang
tubing, sedangkan sebenarnya faktor gesekan berubah dari dasar sumur
sampai kepermukaan.
Poettman dan Carpenter mengembangkan korelasinya berdasarkan
persamaan energi umum, yang kemudian diubah dalam bentuk total massa laju
aliran, seperti berikut :

dP 1  fw 2 
  5
…………………………………………(3-26)
dL 144  7.413 x 10 ρd 
10

dimana :
w = massa laju aliran total, lb/hari
ρ = density campuran, lb/cuft
δ = diameter dalam pipa, ft
f = faktor gesekan yang diperoleh dari Gambar 3.42.
Selanjutnya, prosedur perhitungan penurunan tekanan sepanjang pipa
vertikal dengan metode Poettman dan Carpenter, adalah sebagai berikut :
1. Data yang harus tersedia adalah :
a. Gas Liquid Ratio (GLR).
154

b. Specific Gravity Gas.


c. Faktor volume formasi berbagai tekanan.
d. Kelarutan gas dalam minyak berbagai tekanan.
e. API gravity minyak.
f. Laju aliran minyak dalam air.
g. Specific Gravity air.
h. Tekanan aliran dipermukaan.
i. Temperatur dipermukaan dan gradien temperature.
j. Kedalaman tubing/sumur.
k. Ukuran tubing.
2. Pada kertas grafik milimeter, plot kedalaman pada sumbu vertikal, dengan
titik nol di atas dan plot harga tekanan aliran dipermukaan pada sumbu
horizontal atau tekanan aliran dasar sumur pada kedalaman total.
3. Berdasarkan 1 STB minyak, tentukan massa minyak, gas dan air per STB,
sebagai berikut :
m = berat minyak + berat gas + berat air
m  350γ 0   0.0764γ g R   350γ w WOR  ….……....……….(3-27)

4. Tentukan berat total dari fluida yang terproduksi setiap hari, yaitu
merupakan perkalian antara langkah 3 dengan laju aliran minyak.
5. Dimulai dari tekanan aliran dipermukaan (flowing tubing pressure) anggap
beberapa titik tekanan pada tubing sesuai dengan pertambahan tekanan.
Pertambahan tekanan ini harus cukup kecil, supaya diperoleh grafik yang
baik.
6. Hitung volume campuran minyak, gas dan air pada tekanan yang sesuai
dengan langkah 5, per STB minyak/satuan cuft.
Volume total = volume (minyak + gas + air)

Vw  5.61 B 0  5.61 WOR  volume gas bebas 


14.7 TZ
...……….(3-28)
P520
Volume gas bebas = (Rs – GOR)
7. Menentukan densitas campuran pada tekanan yang bersangkutan :
ρ = (m/Vm)
155

8. Hitung pembilang daripada bilangan Reynold, yaitu :

1.4737 x 10 5 q 0 m 
ρdv  …….………………………..……….(3-29)
d
9. Tentukan faktor gesekan (f) dengan menggunakan Gambar 3.42.
10. Hitung gradien tekanan (dP/dL), dengan menggunakan Persamaan (3-26).
11. Ulangi prosedur di atas, mulai dari langkah 5 untuk titik tekanan berikutnya
dan tentukan gradien tekanannya.
12. Rata-ratakan hasil perhitungan gradien tekanan tersebut dengan tekanan
rata-rata, maka akan dihasilkan jarak antara kedua titik tersebut.
13. Plot jarak tersebut ke dalam kertas grafik, sesuai dengan tekanannya.
14. Ulangi langkah tersebut di atas sampai kedalaman sumur tercapai.

3.3.2.3. Perencanaan Penyelesaian Sumuran Untuk Kepala Sumur


Titik potong dalam merencanakan well head completion adalah memilih
well head yang sesuai dengan rentang tekanan dan menentukan diameter choke
yang dibutuhkan disamping pula pemilihan x-mastree yang akan digunakan.

3.3.2.3.1. Perencanaan Kepala Sumur


Perencanaan ukuran well head dipilih per-bagian dimulai dari lower most
casing head yang dirancang bagian dalamnya dapat memberikan lubang yang
terbuka luas agar peralatan yang diturunkan ke bawah permukaan tidak merusak
tubing head. Dalam perencanaan ukuran atau kekuatan dari lower most casing
head yang akan dipergunakan adalah bergantung dari ukuran casing yang dipakai
dan harus mempunyai tekanan kerja minimal sama dengan tekanan formasinya.
Disamping itu dalam merencanakan lower most casing head harus dapat
menerima casing hanger tanpa menimbulkan kerusakan casing dan rangkaiannya,
serta ukuran flange yang digunakan harus tepat. Sebagai contoh ukuran dari
flange 12” adalah untuk tekanan herja 300 psi, bila ukuran casing yang digunakan
ukuran 11¾” atau 13 3/8”. Sedangkan dalam perencanaan ukuran dan kekuatan
intermediate, casing head bergantung dari rangkaian casing yang digantungnya
dan harus mempunyai tekanan kerja minimal sama dengan tekanan permukaan
156

maksimumnya yang menyebabkan kerusakan formasi pada dasar rangkaian casing


intermediate dan tekanan kerja intermediate casing head mempunyai ukuran 6”
s/d 20”, yang digunakan untuk menopang ukuran casing dari 4 ½” s/d 13 3/8”.
Intermediate casing head digunakan pada tekanan kerja 960, 2000, 3000 dan
5000 psi.
Sebagai tanbahan dalam perencanaan intermediate casing head harus
memperhatikan beberapa faktor, antara lain bagian bawah flange dari intermediate
casing head, sementara bagian atas flange intermediate casing head harus cocok
ukuran dan tekanan kerjanya dengan alat-alat yang dipasang casing spool tersebut.
Lebih dari itu, ukuran dan tekanan kerja serta jenisnya harus cocok dengan ukuran
lubang saluran keluar (outlet). Sedangkan casing hanger yang berfungsi untuk
menggantungkan rangkaian casing berikutnya, bergantung dari penampang flange
dan ukuran dari casing yang digantung.
Dalam perencanaan dan kekuatan tubing head bergantung dari ukuran
casing yang digunakan harus mempunyai tekanan kerja yang mampu menahan
tekanan aliran fluida formasi. Harus diperhatikan pula beberapa hal, seperti
ukuran flange bagian bawah dari tubing head dan tekanan kerjanya harus sesuai
dengan flange bagian atas dari casing head atau cross over flange yang telah
dipasang sebelumnya. Tubing head yang dipilih harus dapat memberikan terusan
yang luas, sehingga rangkaian casing produksi dan pemasangan alat-alat artificial
lift dapat masuk jika diperlukan.

3.2.3.3.2. Perencanaan Christmas-Tree


Perencanaan x-mas tree sangat dipengaruhi oleh kondisi tekanan sumur,
disamping pula oleh jumlah komplesi yang digunakan.
Kondisi tekanan perlu diperhatikan karena x-mas tree dalam standart API
diklasifikasikan berdasarkan kesanggupan dalam menahan tekanan kerja. Setiap
x-mass tree mempunyai seri dan tekanan kerja masing-masing.
• Seri 400 untuk tekanan kerja 960 psi.
• Seri 400 untuk tekanan kerja 2000 psi dan seterusnya.
157

Choke performance merupakan bagian analisa ulah kerja sumur sembur


alam pada kepala sumur yang meliputi kehilangan tekanan akibat penyempitan
diameter pipa pada bagian tertentu (surface choke). Selain dipasang pada
peralatan kepala sumur, biasanya dipasang pula tubing pada tubing di dasar sumur
(subsurface choke). Hal terpenting dalam perencanaan choke adalah perencanaan
ukuran dan perhitungan pressure drop yang terjadi pada choke.
Tujuan utama pemasangan choke adalah untuk mengatur laju produksi
yang sesuai dengan perencanaan. Pemilihan choke di lapangan minyak dilakukan
sedemikian rupa hingga bagian tekanan down stream di dalam flow line tidak
berdampak jelek terhadap tekanan kepala sumur dan kelakuan produksi sumur.
Tekanan kepala sumur sedikitnya dua kali lebih besar dari tekanan flow line.
Untuk pemilihan ukuran choke yang sesuai dengan laju produksi yang
direncanakan, dapat ditentukan dengan dua metode.
Analisa Menurut Gilbert
Teoritis, Gilbert menurunkan suatu persamaan untuk menentukan diameter
choke, yaitu:
CxR 05 xq
Pwh  …………...………………………………………….(3-30)
S2
dimana :
Pth = tubing head pressure, psi
C = konstanta yang besarnya diambil dari harga 600
S = ukuran choke per 64”
R = gas liguid ratio, MCF/bbl
Jika menggunakan data lapangan, Gilbert menurunkan persamaan sebagai berikut:

435xR 0564 xq
Pwh  ……..………………………………………….(3-31)
S180
dimana :
q = laju produksi cairan total, bbl/day
Dari persamaan di atas dapat dibuat nomogram untuk mencari ukuran choke,
terlihat pada gambar 3.43. Pembacaan nomogram tersebut di bawah ini adalah
158

dari titik potong laju produksi yang diinginkan dengan harga GLR ditarik garis
horisontal ke kanan sampai memotong garis ukuran choke 10/64 selanjutnya
ditarik garis vertikal sampai memotong garis ukuran choke yang diinginkan.
Kemudian dari titik terakhir di atas ditarik ke kiri horisontal sehingga diperoleh
harga THP. Jadi harga THP ini ukuran choke telah sesuai.
Penentuan ukuran choke dengan menggunakan Ros Formula prinsipnya
adalah sama dengan metode Gilbert, akan tetapi Ros menggunakan Formula untuk
mengembangkan aliran gas cairan kritis yang melalui suatu hambatan. Dalam
bentuk sederhana persamaan tersebut adalah:

Pwh  17.4q(R 05 )/(S 2 ) …...…………………………………………….(3-32)

dimana:
Pwh = tekanan kepala tubing, psi
Q = laju produksi minyak, STB/day
0.00504Tz( Rp  Rs)
R 
BoP
Rp = gas oil ratio, SCF/STB
Rs = kelarutan gas dalam minyak pada tekanan tubing dan temperatur
85o F
Bo = FVF minyak pada tekanan tubing dan temperatur 85o F
P = P1/4636.8
P1 = tekanan tubing, lb/ft2
S = ukuran choke, 1/64 inchi
Disamping perencanaan ukuran choke yang digunakan, maka masalah
penting lainnya dalam choke performance adalah adanya masalah penurunan
tekanan atau pressure drop yang terjadi di choke. Hal ini perlu diperhatikan karena
menyangkut masalah aliran fluida yang akan menuju ke separator. Untuk
menentukan besarnya penurunan tekanan melalui choke (surface choke),
dilakukan dengan analisa nodal, dimana surface choke ini merupakan nodee (titik)
solusinya.
159

Gambar 3.43. Nomogram dari Gilbert untuk Menentukan


Ukuran Choke Tertentu yang Sesuai

Prosedur solusinya adalah sebagai berikut:


1. Asumsikan beberapa laju produksi seperti: 200, 400, 600, 800 dan
seterusnya.
2. Tentukan tekanan besarnya kepala sumur yang diperlukan untuk
menggerakkan fluida keseparator dengan menggunakan korelasi aliran
multifasa horisontal terhadap laju produksi yang diasumsikan. Ini
merupakan harga Pwh up-stream.
3. Tentukan pula besarnya tekanan kepala sumur untuk aliran vertikal, dengan
menggunakan korelasi aliran multifasa vertikal terhadap laju produksi yang
diasumsikan. Ini merupakan harga Pwh down-stream.
4. Kemudian plot antara Pwh up-stream versus laju produksi. Tentukan P yang
terjadi untuk berbagai laju produksi, seperti tertera pada gambar dibawah ini.
160

5. Lakukan plot ulang terhadap besarnya P yang diperoleh dari langkah (4)
versus laju produksi, hal ini merupakan gambaran kelakuan sistem secara
keseluruhan terhadap surface choke.
6. Untuk ukuran choke yang berbeda dan dengan asumsi laju produksi, maka
tentukan Pwh dengan persamaan sebagai berikut :
CR 05 q
Pwh  …………………………………………………….(3-33)
S2
7. Selanjutnya dilakukan plot antara langkah 5 dan 6. Besarnya penurunan
tekanan (pressure drop) akan semakin rendah apabila ukuran dari surface
choke diperbesar.