Anda di halaman 1dari 18

Atika Ulfia Adlina

PENGALAMAN MISTIK PENGIKUT TAREKAT


QADIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH DAWE KUDUS
Mystical Experience from Religious Community of Qadiriyah wa
Naqsyabandiyah Dawe Kudus

ATIKA ULFIA ADLINA

ATIKA ULFIA ADLINA


ABSTRAK
Pascasarjana IAIN Walisongo
Semarang Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1. Ahwâl (pengalaman mistik) apa saja-
Jl. Walisongo 3-5, Semarang 50185 kah yang dialami oleh pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe
Telp. (024) 7614454 Kudus? 2. Adakah keterkaitan antara suluk dengan jenis ahwâl (pengalaman mistik)
e-mail: design_dewe@yahoo.co.id pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus? dan 3. Adakah
Naskah diterima: 7 Maret 2012
perbedaan intensitas ahwâl (pengalaman mistik) bagi masing-masing kelas pada
Naskah direvisi: 8-14 Mei 2012
Naskah disetujui: 14 Mei 2012 pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus? Jenis penelitian
ini adalah penelitian lapangan yang pemilihan informannya menggunakan tehnik
purposive sampling. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis secara kualita-
tif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pertama, ada ada beberapa motivasi yang mendorong mereka mengikuti
Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, antara lain: ingin mendekatkan diri kepada
Allah, mempersiapkan diri menghadapi kematian, adanya kharisma seorang guru,
dan lain-lain. Kedua, pengalaman mistik yang dirasakan oleh pengikut Tarekat
Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Kudus diklasifikasikan sesuai dengan tingka-
tan dzikir laţâif yang mereka lakukan yakni: laţîfah al-qalb, laţîfah ar-rûh, laţîfah
as-sirr, laţîfah khafiy, laţîfah akhfa, laţîfah an-nafsi dan laţîfah al-qâlib. Berdasar-
kan tingkatan dzikir laţâif tersebut didapat kesimpulan bahwa ada beberapa pen-
galaman mistik yang sama yang dirasakan di beberapa lathaif. Dengan demikian,
ada keterkaitan antara suluk dan pengalaman mistik yang dirasakan oleh pengikut
Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus.
Kata kunci: Pengalaman Mistik, Suluk, Tarekat.

ABSTRACT
The research aimed to know: 1. Ahwal (mystical experience) experienced by followers
of Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah in Piji, Dawe, Kudus; 2. The correlation
between suluk and their kinds of ahwal; and 3. The different intensity of ahwal for
the followers in each stage of the tarekat. This was a field reserch which used purpo-
sive sampling tehnique. The data were then analysed qualitatively and phenomeno-
logically. The findings of the research showed that there were some factors motivated
people to join the Tarekat: the intention to be close to God, preparing themselves
for death, charismatic figure, etc. Secondly, the classification of the mystical experi-
ences was adjusted with the lataif dzikir stages, they were laţîfah al-qalb, laţîfah ar-
rûh, laţîfah as-sirr, laţîfah khafiy, laţîfah akhfa, laţîfah an-nafsi dan laţîfah al-qâlib.
There were same ahwal experienced by the followers in some stages. Therefore, it
was concluded that there was a relationship between suluk and ahwal experienced
by the followers of the tarekat in Piji Dawe Kudus.
Keywords: Mystical Experiences, Suluk, Tarekat.

Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012 37


Pengalaman Mistik Pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah...

PENDAHULUAN benar telah diketahui dampaknya yaitu lemahnya


Para pengikut tarekat pada umumnya meng- nafsu lawwâmah (nafsu yang menyesali karena
akui mempunyai pengalaman-pengalaman mis- perbuatan buruknya) karena barokah guru dan
tik (mystical experiences) (Glock and Stark pertolongan Allah, maka ia dapat meningkatkan
dalam Roland Robertson, 1993: 296). Demi- zikir hingga mencapai zikir yang selanjutnya.
kian juga para pengikut Tarekat Qadiriyah wa Masing-masing tingkatan ini menambah seribu
Naqsyabandiyah di Desa Piji Kecamatan Dawe zikir ism al-Dzat.
Kabupaten Kudus yang menjadi fokus penelitian Selain kegiatan keagamaan di atas, pengikut
ini. Menurut penuturan Muhammad (Wawan- Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe
cara dengan Muhammad, tanggal 21 Juli 2011, Kudus melakukan bai’at, muraqabah dan khata-
ia adalah salah satu pengikut Tarekat Qadiriyah man. Bai’at adalah sebuah prosesi kesetiaan,
wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus sekaligus antara seorang murid terhadap seorang mursyid
dipercaya masyarakat sebagai tokoh agama di (guru tarekat). Seorang murid menyerahkan diri-
desa tempat tinggalnya). Dia pernah bermimpi nya untuk dibina dan dibimbing dalam rangka
bertemu Rasulullah Saw. Selain itu beberapa doa membersihkan jiwanya dan mendekatkan diri
yang dibaca dapat menjadi obat penyembuhan kepada Tuhannya. Selanjutnya seorang mursyid
sesuai kehendak Tuhan dan dapat berbicara de- menerimanya dengan mengajarkan zikir yang bi-
ngan binatang sebagai pertanda siapa-siapa orang asa disebut talqin zikir atau pembelajaran talqin.
yang akan meninggal dunia. Pengalaman mistik
Sedangkan muraqabah adalah suatu kesa-
yang lain biasanya dimunculkan dalam bentuk
daran hati yang terus-menerus atas pengawasan
perasaan-perasaan seperti tenang, optimis, me-
Tuhan terhadap semua keadaannya. Khataman
rasa dekat dengan Tuhan, menerima apa adanya, adalah bersungguh-sungguh dalam mening-
menjadikan terangnya hati, memudahkan terca- katkan kualitas spiritual pengikut tarekat baik
painya kehendak, menghilangkan ketakutan, me- dengan melakukan zikir atau wirid, dengan pe-
nolak balak, meningkatkan derajat di dunia dan ngajian dan bimbingan ruhaniyah oleh mursyid
di akhirat. secara khusus. Kegiatan-kegiatan tersebut di-
Pengalaman-pengalaman mistik yang dira- percaya mengandung makna “barokah” yang
sakan oleh para pengikut tarekat tersebut diper- dipercaya mengantarkan mereka pada pengala-
cayai dapat diperoleh setelah mereka melakukan man mistik berupa perasaan seperti tenang, op-
amalan-amalan Tarekat Qadiriyah wa Naqsya- timis, merasa dekat dengan Tuhan, menerima
bandiyah di Piji, Dawe, Kudus. Menurut ajaran apa adanya, menjadikan terangnya hati, memu-
Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe dahkan tercapainya kehendak, menghilangkan
Kudus, manusia terdiri atas tujuh unsur halus ketakutan, menolak balak, meningkatkan derajat
(lathaif): yaitu laţîfah al-qalb, laţîfah ar-rûh, di dunia dan di akhirat.
laţîfah as-sirr, laţîfah khafiy, laţîfah akhfa, Dalam ilmu tasawuf, pengalaman mistik se-
laţîfah an-nafsi dan laţîfah al-qâlib. Masing- perti ini disebut ahwâl. Sekalipun ahwâl dan
masing jenjang laţîfah ini mempunyai jumlah pengalaman mistik merupakan entitas yang ber-
zikir yang berbeda yang wajib dibaca oleh para beda, akan tetapi secara substansial kedua no-
pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah menklatur tersebut mempunyai keterkaitan. Ah-
Piji Dawe Kudus. Adapun zikir yang wajib dibaca wâl sebagai kondisi psikis seseorang tidak bisa
adalah zikir nafi-isbat “Lâ ilâha illa allah” seba- lepas dari pengalaman mistik. Hal ini disebabkan
nyak 165 kali dan zikir as-sirr (diam) laţîfah ism karena ketika seseorang menjelaskan kondisi ba-
al-Dzat “Allah… Allah…” sebanyak 11.000 kali. tinnya (ahwâl), dia tidak akan lepas dari peng-
Jika seorang murid telah melakukan zikir pada alamannya berhubungan dengan Allah Swt.
tahap dasar secara terus menerus hingga benar-

38 Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012


Atika Ulfia Adlina

Ahwâl dikenal sebagai suatu keadaan atau Kondisi-kondisi batin seperti ini menun-
kondisi batin diberikan Tuhan kepada seseorang jukkan adanya hubungan khas antara manusia
tanpa bisa dikendalikan oleh seseorang. Pada dengan Tuhan. Menurut Schimmel (1986: 2),
umumnya, ahwâl diperoleh para sufi sebab ia pengalaman mistik dapat diklasifisikan menjadi
memperjuangkan dan mewujudkan tahapan dua yakni: pertama, mistik kepribadian (mysti-
(maqâmat) untuk menuju Tuhan. Kondisi batin cism of personality). Kedua, mistik ketakterhing-
tersebut seolah memberi kesan bahwa ia merupa- gaan (mysticism of infinity) yaitu kesadaran yang
kan sebuah konsekuensi dari adanya maqâmat. mampu menghantar pada pemahaman bahwa
Al-Qusyairi (2007: 4) menjelaskan bahwa ahwâl segala sesuatu adalah Allah.
sebagai makna, nilai atau rasa yang hadir dalam
Keberadaan ahwâl yang mampu mengantar
hati itu secara otomatis terhujam kepada batin
seseorang kepada tingkat kualitas hidup yang
seseorang tanpa unsur kesengajaan, upaya, latih-
lebih tinggi senada dengan tujuan praktis dari
an dan pemaksaan.
keberadaan tarekat. Dalam kitab Al-Mabahis al-
Senada dengan pernyataan di atas, ahwâl Asliyah, sebagaimana disadur oleh Asy‘ari Sajid
juga dijelaskan Schimmel (1986: 130) sebagai (2005: 4) menerangkan bahwa tidak lain karena
keadaan jiwa yang dikaruniakan Tuhan kepada tujuan tarekat adalah menjalankan budi pekerti
seseorang dan bukan merupakan perbuatan (etika) yang baik atau bertatakrama dalam peri-
manusia. Ahwâl juga menunjukkan pengalaman laku lahir dan batin.
batin seseorang yang tidak dapat ditolak dan
Di sisi lain, Tarekat Qadiriyah wa Naqsya-
perginya pun tidak dapat dicegah.
bandiyah di Piji, Dawe, Kudus dipandang mena-
Hasyim menerangkan bahwa proses Tuhan rik sebab sisi inklusifitasnya terhadap semua ka-
memanifestaikan diriNya itu ke dalam jiwa dan lang-an masyarakat. Mayoritas pengikut Tarekat
hati bersih manusia. Oleh karena itu, diperlu- Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ini adalah kel-
kan jiwa dan hati bersih ketika proses itu terjadi ompok masyarakat yang notabenennya adalah
baik dalam bentuk keagungan atau keindahan- masya-rakat yang pemahaman keagamaannya
Nya (Hasyim Muhammad, 2002: 7). Sementara masih kurang. Sebagai contoh, tidak dapat mem-
untuk memperoleh jiwa dan hati yang bersih, baca al-Qur’an, puasa Ramadhan dan salat lima
seseorang harus menempuh maqâmat dan bi- waktu yang kadang masih ditinggal. Banyak juga
asanya diwujudkan dalam amalan (mujâhadah) yang berasal dari masyarakat yang mempunyai
tertentu dan pelatihan diri (riyâdah). Dengan latar belakang masa lalu yang buruk (mo limo).
demikian seseorang akan mencintai manifestasi Nomenklatur mo limo ini sangat akrab disebut
Tuhan dan merasakan kegembiraan-kegembi- untuk tindakan-tindakan buruk yaitu madon
raan tertentu seperti hati merasa dekat (qurb), (“main perempuan”), mabuk, main (judi, ke-
cinta (mahabbah), penuh optimis (rajâ’), tentram plek), maling (mencuri/merampok) dan madat
(tuma’ninah), yakin, menerima apa adanya, suka (memakai obat-obatan) (Wawancara dengan KH.
cita (uns). Kondisi kejiwaan tersebut dinamakan Afandi Shiddiq, tanggal 26 Juni 2011. Ia merupa-
ahwâl. Sedangkan Harun Nasution (1978: 54) kan badal mursyid KH. Muhammad Shiddiq
biasa menggambarkan ahwâl dengan kondisi ba- Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji,
tin seperti takut (khauf), rendah hati (tawadhu’), Dawe, Kudus sekaligus anak dari KH. Muham-
patuh (taqwa), ikhlas dan syukur. Ali Makhsun mad Shiddiq). Hal ini memberi peluang masya-
(2007: 24) menambahkan kondisi batin sese- rakat Kudus dan sekitarnya untuk ikut bergabung
orang seperti merasa kosong dari segala-galanya dalam tarekat tersebut. Dengan demikian stigma
selain Allah (Fazlur Rahman, 1965: 203) merasa negatif tentang ke-eksklusifan tarekat berangsur-
ketiadaan akan dirinya, tidak tertarik dan tidak angsur memudar sehingga tarekat dapat diterima
bergantung pada keinginan tertentu dll. di tengah-tengah masyarakat.

Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012 39


Pengalaman Mistik Pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah...

Di samping itu, pengikut tarekat ini mempu- punan tugas-tugas perbaikan temporal-kondi-
nyai anggota yang berjumlah besar bila dibanding- sional yang didasarkan pada pokok-pokok ajaran
kan dengan tarekat-tarekat yang ada di Kudus se- yang dijadikan sebagai media untuk mencapai
perti Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Tarekat kesucian jiwa dan kedamaian kalbu. Kesucian
Tijaniyah, dan Tarekat Syadziliyah. Hal ini sejalan jiwa yang dimaksud adalah suci dari segala ko-
dengan cita-cita KH. Muhammad Shiddiq (mursyid toran dan penyakit hati seperti kemusyrikan,
Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe arogansi (takabbur), berbangga diri (ujub), ma-
Kudus, yang akrab dipanggil Mbah Shiddiq atau rah, dendam, hasut, cinta dunia, kikir, ambisi
Kiai Shiddiq) itu sendiri sebagaimana disampaikan harta, kekayaan, mengejar karir, pamer dll. Sete-
Muhammad bahwa KH. Muhammad Shiddiq ber- lah melakukan pengosongan terhadap sifat-sifat
cita-cita membentuk keberagamaan masyarakat buruk tersebut maka tarekat mengupayakan pe-
Kudus melalui tarekat tersebut dengan cara meng- mutusan segala sesuatu yang berada di belakang
himpun dan merangkul masyarakat Kudus yang segala nafsu syahwat yang diharamkan serta
sulit diterima oleh tarekat lain. Sulit diterimanya mengurung diri dari berbagai tuntutan maksiat
sebagian masyarakat oleh tarekat lain ini disebab- dan kemungkaran.
kan karena kurang ketatnya syari’at yang mereka
Muslih bin ‘Abdul ar-Rahman (w.1368/1981)
pegang. Maka tidak mengherankan, jika kemudian
dalam kitabnya yang sangat terkenal di kalang-
pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah
an Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di
tersebut kadang kala masih memungkinkan me-
Piji, Dawe, Kudus yaitu Al-futûhat al-Rabbâni-
ninggalkan syari’at seperti tidak puasa, tidak salat
yyah begitu juga dalam kitabnya ‘Umdat as-Sâ-
(Wawancara de-ngan Muhammad, 21 Juli 2011).
lik menjelaskan ada tiga cara dalam tarekat yang
Sebagai sebuah tarekat dengan sifat inklusifitasnya
harus ditempuh para sâlik (pengikut tarekat)
yang mampu mengantarkan pengikutnya menuju
untuk sampai kepada Allah, yaitu: pertama, me-
pengalaman-pengalaman mistik merupakan se-
ngamalkan zikir (Reynold Nicholson, 1983: 45,
buah keunikan tersendiri yang patut diteliti.
Amin Syukur, 2007: 93-94) yaitu memantapkan
hati menghadap Allah, menata hati sedemikian
Rumusan Masalah
rupa sehingga hati menjadi benar-benar sepi dari
Dari latar belakang di atas maka permasala-
selain Allah, atau urusan apapun selain Allah, ti-
han pokok yang akan dijawab melalui penelitian
dak mengingat-ingat masa lalu ataupun menga-
ini adalah:
ngan-angan masa depan dan tidak mengingat-
1. Ahwâl (pengalaman mistik) apa sajakah yang ingat selain Allah. Kedua, al-Muraqabah (Mus-
dialami oleh pengikut tarekat Qadiriyah wa lih, t.th: 82, Murtadho Hadi, 2000: 135) adalah
Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus? cara yang ditempuh oleh kekasih-kekasih Allah
2. Adakah keterkaitan antara suluk dengan jenis untuk senantiasa wukuf (meletakkan “hati” de-
Ahwâl (pengalaman mistik) pengikut tarekat ngan perenungan) ke hadirat Allah Swt. Senan-
Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus? tiasa “melirik” sifat dan af’al (perbuatan) Allah
sehingga mahabbah dan ibadah kepada Allah
3. Adakah perbedaan intensitas Ahwâl (pe- senantiasa terjaga dari tidur atau lupa. Tujuan
ngalaman mistik) bagi masing-masing kelas akhir dari muraqabah adalah tetap dalam rangka
pada pengikut tarekat Qadiriyah wa Naqsya- zikir kepada Allah yang telah dibarengi dengan
bandiyah Piji Dawe Kudus? makrifat dalam af’al dan sifat Allah.
Kerangka Teori Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Piji,
Tarekat dan Pengalaman Mistik Dawe, Kudus ini didirikan oleh KH. Muhammad
Shiddiq as-Sholihi pada tahun 1361 H (Wawan-
Sayyid Ali (2005: 135) mengatakan tarekat
cara dengan Ismail, seorang Khadim dan staf ad-
sebagai lembaga atau jama’ah zikir adalah him-

40 Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012


Atika Ulfia Adlina

ministrasi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Yahya, Syeh Hisyamuddin, Syeh Waliyuddin,


Piji Dawe Kudus, 21 Juni 2011). Adapun silsilah Syeh Nuruddin, Syeh Zainuddin, Syeh Syarafud-
Tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah Kudus din, Syeh Syamsuddin, Syeh Moh Hattaq, Syeh
dari jalan Sayyidina Abi Bakar ash-Shiddiq adalah: Abdul Aziz, Syeikh ‘Abd al-Qadir Jilani, Syeh Ibu
KH. Affandi Shiddiq as-Sholihi, KH. Muhammad Said Al-Mubarak Al-Mahzumi, Syeh Abu Hasan
Shiddiq, Syeh M. Romli Tamim al-Jombani, Syeh Ali al- Hakkari, Abul Faraj al-Thusi, Syeh Abdul
Kholil Rejoso Peterongan, Syeh Hasbullah al-Ma- Wahid al-Tamimi, Syeh Abu Bakar Dulafi al-
duri, Syeh Abdul Karim al-Banteni, Syeh Ahmad Syibli, Syeh Abul Qasim al-Junaid al-Bagdadi,
Khotib Sambas, Syeh Syamsuddin, Syeh Murod Syeh Sari al-Saqathi, Syeh Ma’ruf al-Kurkhi, Syeh
(mengambil dari Syeh Abdul Fatah), Syeh Khon Abul Hasan Ali ibn Musa al-Ridho, Syeh Musa
Affandi, Syeh Holid an-Naqsabandy, Syeh Abdil- al-Kadzim, Syeh Ja’far Shodiq, Syeh Muhammad
lah Addahlawy, Syeh Madzhar Anwar Syamsiddin al-Baqir, Syeh Imam Zainul Abidin, Sayyidina
Habibillah, Syeh Nurul Badwany, Syeh Syaifud- Husein, Sayyidina Ali ibn Abi Thalib, Sayyidina
din, Syeh Urwatil Wustho Muhammad al-Maksun Nabi Muhammad Saw, Sayyiduna Jibril kemu-
al-Faruqy, Syeh Muayyiddin Muhammad Baqi dian Allah Swt.
Billah, Syeh Maulana Howajiqi al-Amkany, Syeh Inti ajaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsya-
Darwis Muhammad as-Samarkandy, Syeh Maula- bandiyah di Piji, Dawe, Kudus adalah zikir. Ama-
na zahid al-Badhasy al-Wahsary, Syeh Nasiriddin lan zikir dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandi-
Abdillah Syihabuddin Muhammad al-Ahror, Syeh yah tersebut meliputi zikir lisan dan zikir qalbu.
Ya’kub bin Utsman bin Mahmud al-Jurkhi, Syeh Zikir lisan atau disebut juga zikir nafi itsbat yaitu
Alauddin al-Athor al-Bukhary al-Khawarizmi, ucapan lâ ilâha illa Allah. Pada kalimat ini terda-
Syeh Muhammad Bahauddin bin Muhammad pat hal yang menafikan yang lain dari pada Allah
bin Muhammad al-Uwaisy al-Bukari, Syeh Sayyid dan mengisbatkan Allah. Sedangkan zikir qalbu
Amir Kullal bin Sayyid Hamzah, Syeh Khowajih yaitu zikir yang tersembunyi di dalam hati, tanpa
Baba Assyimasyi, Syeh Khowajih Mahmud Anjiz suara dan kata-kata. Zikir ini hanya memenuhi
Fagnawi, Syeh Arif Royuukari, Syeh Abdil Kholiq qalbu dengan kesadaran yang sangat dekat den-
al-Ghojduwany, Syeh Khowajih Abi Ya’kub Yusuf gan Allah, seirama dengan detak jantung serta
al-Hamdani, Syeh Abi Ali Fadhil bin Muhammad mengikuti keluar-masuknya nafas. Zikir qalbu
Attusy al-Farmadi, Syeh Abil Hasan Ali bin Ja’far atau zikir ismu dzat adalah zikir kepada Allah
Shoddiq al-Kharqani, Ruhaniyyah Syeh Yazid Al- dengan menyebut “Allah... Allah... Allah...” secara
Busthami, Ruhaniyyah Imam Ja’far Ash-Shoddiq, sirr atau khafi (dalam hati) zikir ini juga disebut
As-Sayyid Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar dengan zikir lathâif yang merupakan ciri khas
Ash-Shiddiq, Shohabil Jalil Salman Al-Farisy, Tarekat Naqsyabandiyah (Abdullah, 2004: 83).
Ash-Shiddiqil A’Dhom Abi Bakar As-Shiddiq ra,
Sayyidil Mursalin Muhammad Saw, Sayyidina Ji- Ada dua jenis zikir dalam Tarekat Qadiri-
bril as, Allah Swt. yah wa Naqsyabandiyah di Piji, Dawe, Kudus
sebagaimana dituturkan oleh Ismail (Staf admin-
Adapun silsilah Tarekat Qadiriyah wa Naq-
istrasi tarekat tersebut) dan diperkuat oleh KH.
syabandiyah Kudus dari jalan Sayyidina Ali bin
Afandi Shiddiq (Wawancara dengan KH. Afandi
Abi Thalib karromallahu wajhah adalah: KH. Af-
Shiddiq, tanggal 26 Juni 2011; wawancara den-
fandi Shiddiq as-Sholihi, KH. Muhammad Shid-
gan Ismail, tanggal 21 Juni 2011) yaitu:
diq, Syeh M. Romli Tamim al-Jombani, Syeh
Kholil Rejoso Peterongan, Syeh Hasbullah al-Ma- 1. Zikir nafi isbat, adalah zikir kepada Allah de-
duri, Syeh Abdul Karim al-Banteni, Syeh Ahmad ngan menyebut kalimat tahlil yaitu lâ ilâha
Khotib Sambas, Syeh Syamsuddin, Syeh Murod, illâh. Zikir ini dikerjakan oleh para pengikut
Syeh Abdil Fattah, Syeh Kamaluddin, Syeh Us- setelah salat lima waktu berjumlah 165 kali.
man, Syeh Abdurrahim, Syeh Abu Bakar, Syeh 2. Zikir ism al-Dzat adalah zikir kepada Allah

Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012 41


Pengalaman Mistik Pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah...

dengan menyebut kalimat “Allah.. Allah... Al- gap oleh orang yang mengalaminya merupakan
lah” dalam hati atau secara (as-sirr/ khafiy). kontak (tidak melalui panca indra, tetapi tiba-
Zikir ini biasa disebut juga zikir lathaif. Zikir tiba, intuitif) atau kesatuan diri dengan sesuatu
ini sedikit-dikitnya 5.000 kali dan sebanyak- yang lebih besar dari dirinya yang disebut dunia
banyak sampai 25.000 kali agar supaya men- Ruh, Tuhan, Yang Absolut atau lainnya.
jadi watak atau istiqmah dari para pengikut. ‘Abd Allâh al-Anṣârî (w.481/1089) men-
Untuk zikir ism al-dzat yang sebanyak 25.000 jelaskan keterkaitan antara upaya dan kemajuan
kali diperuntukkan kepada para pengikut yang spiritual sang sâlik dengan hadirnya pengalaman
sudah mengikuti khalwat. Adapun bagi yang beragama seseorang adalah terletak pada upaya
belum namun sudah mencapai zikir lathifa al- pada pembinasaan (fanâ) ego dan ketiadaban-
qâlib maka zikirnya sebanyak 11.000 kali. dingan keesaan Ilahi (tauhîd) (Carl W. Ernst,
Dengan melaksanakan zikir secara konsisten 2003: 48). Problem yang dihadapi manusia
diyakini akan menimbulkan pengalaman beraga- adalah bahwa ia tidak mungkin membersihkan
ma tersendiri bagi pengamalnya, yang pada gi- hatinya tanpa pengetahuan dan pengalaman yang
lirannya melahirkan perasaan selalu dekat kepa- perolehnya melalui panca indra dan akal pikiran.
da Allah dan Allah senantiasa hadir dalam jiwa- Jika seseorang bersungguh-sungguh mencari
nya. Kondisi seperti tersebut di atas yang menjadi pengetahuan dengan disiplin diri (maqâmât),
obyek kajian psikologi agama. Selanjutnya, peng- maka tumbuhlah kesadaran diri (self awarness),
alaman beragama pengamal Tarekat Qadiriyah penemuan diri (self identification), dan pengem-
wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus inilah yang bangan diri (self development). Meminjam istilah
menjadi fokus utama penelitian ini. al-Ghazali disebut dengan takhallî (pembersihan
diri), tahallî (pengisian diri), tajallî (kelahiran
Pengalaman beragama menurut William
baru) (Badawi Thobanah dalam Muqaddimah
James adalah segala perasaan, tindakan dan
Ihya Ulûm ad-Dîn, t.th.: 21). Secara khusus garis
pengalaman pribadi manusia dalam kesendiri- tajallî Ilahi itu adalah insan kâmil (Amin Syukur,
annya, sejauh mereka memahami diri mereka 1999: 70, Kautsar Azhari Noer, 1995: 126). Arti-
sendiri saat berhadapan dengan apa yang mere- nya dari segi lahir jasad manusia merupakan
ka anggap sebagai yang Ilahiyah. Berangkat dari miniatur alam semesta sedangkan dari sisi batin
pengertian agama tersebut, maka pengalaman ia merupakan citra Tuhan (Yunasril Ali, 1997: 79).
beragama mencakup pemikiran, penghayatan,
keyakinan, dambaan dan prilaku yang berkaitan ‘Ali Ibn ‘Utsmân al-Hujwiri (w. 456/1063)
dengan hal-hal yang religius. James berpendapat membedakan dengan jelas antara maqamât dan
bahwa pengalaman beragama berakar dan ber- ahwâl. Istilah maqamât menunjuk kepada jalan
Tuhan sesuai dengan kebajikannya (termasuk
pusat pada kesadaran mistis, pengalaman dan
dalam kategori tindakan) sedangkan istilah ah-
kesadaran ini bersifat unik dan personal (James,
wâl menunjuk kepada nikmat dan kemurahan
1982: 19-20).
yang Tuhan anugerahkan kepada hati hamba-Nya
Pembahasan mengenai pengalaman beraga- dan yang tidak berkaitan dengan kezuhudan sang
ma pada ujungnya akan masuk pada pengala- hamba (termasuk ke dalam kategori anugerah).
man mistik. Wolter Housten Clark (1969: 263) Apabila cinta Ilahi dapat mewakili seluruh (ahwâl)
menyatakan bahwa pengalaman mistik adalah kondisi batin seorang sâlik maka menurut Javad
sebuah pengalaman subyektif tentang pemaha- Nurbakhsh dan Seyyed Hossein Nasr (1999: 5) ah-
man kekuatan kosmik atau kekuatan yang lebih wâl tersebut dapat muncul dalam diri sâlik dengan
besar dari dirinya, pengalaman tersebut lebih dua cara, yaitu 1) Melalui daya tarik ilahi (jazbah);
bersifat intuitif dari pada dapat diindra atau ra- dan 2) melalui pengembaraan dan kemajuan meto-
sional. Sedangkan menurut Leuba, pengalaman dis di atas jalan (sayr wa suluk). Dengan daya tarik,
mistik adalah pengalaman apa saja yang diang- cinta Tuhan muncul dalam diri sâlik secara lang-

42 Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012


Atika Ulfia Adlina

sung, tanpa perantara sehingga sang sâlik melupa- orang bergantung pada pencapaian keadaan yang
kan segalanya kecuali Tuhan. Dengan jalan kedua, lain. Sebagai contohnya tingkat gairah (walah)
yakni jalan pengembaraan dan kemajuan metodis tidak mungkin dapat dicapai tanpa rindu (syawq)
di atas jalan, sufi menjadi begitu pasrah jatuh cinta terlebih dahulu. Kemudian rindu (syawq) tidak
pada guru spiritualnya, yang kemudian mengubah mungkin ada kecuali adanya cinta (mahabbah)
cinta ini menjadi cinta Ilahi. Untuk menghadirkan terlebih dahulu, demikian seterusnya. Masing-
penyerupaan yang lain, sâlik memulai pencarian masing keadaan ini merupakan tingkatan hati
guru spiritual, yang menggenggam di tangannya dan membentuk hubungan dengan Tuhan. Kea-
lentera Pencari Kebenaran; kemudian sang guru daan-keadaan ini pada dasarnya tak terbatas,
menghidupkan nyala lentera dengan nafas ruh karena objek yang para sâlik tuju adalah Tuhan
sucinya sendiri, yang menyebabkan sâlik terbakar yang mempunyai sifat tidak terbatas. Gambaran
oleh cinta Ilahi. Meski demikian, perolehan ahwâl maqâmat dan ahwâl terhadap Tuhan diibaratkan
baik melalui cara pertama maupun kedua sebagai- seperti tingakatan zodiak di langit yang mengitari
mana sudah diurai di atas, kedua-duanya sebenar- matahari. Keadaan-keadaan hati (ahwâl) adalah
nya sama-sama merupakan rahmat Allah Swt. sarana untuk mengatur urutan (maqâmât) untuk
Dalam pembahasan ini, al-Hallaj mengusulkan menuju Tuhan (Carl W. Ernst, 2003: 42). Daftar
sebuah pengujian untuk ketulusan klaim spiritual al-Hallaj tersebut menjelaskan hubungan antara
yang menjajarkan setiap momen (waqt) pengala- upaya manusia dan berkah ilahi yang merupakan
man batin dengan perbuatan dan sifat yang diper- prasyarat untuk keadaan-keadaan spiritual.
lukan bagi orang yang mengklaimnya. Sebagaimana Informasi-informasi mengenai aspek psiko-
disadur Carl W. Ernst (1999: 39-40), penjabaran logi manusia sebagaimana tergambar jelas pada
tersebut adalah: 1) orang yang mengklaim keimanan uraian sebelumnya memberikan kesimpulan
(îmân) membutuhkan bimbingan (rusyd); 2) orang bahwa potensi —potensi batin atau tingkatan—
yang mengklaim kepasrahan (islâm) membutuhkan tingkatan berhubungan erat dengan perjuangan
moral (akhlâq); 3) orang yang mengklaim kemu- sâlik yang sedang dilaksanakan dalam rangka
rahan hati (ihsân) membutuhkan kesaksian (mus- mengendalikan diri dan mengenali diri. Penga-
yâhadah); 4) orang yang mengklaim pemaham- laman-pengalaman yang diperoleh selama sâlik
an (fahm) membutuhkan kelimpahan (ziyâdah); melakukan perjuangan maqâmât itulah yang
5) orang yang mengklaim akal (‘aql) membutuhkan pada akhirnya membuahkan kesan-kesan yang
rasa (madzâq); 6) orang yang mengklaim ilmu (‘ilm) unik, yang sarat akan perasaan-perasaan ter-
membutuhkan pendengaran (sama’); 7) orang yang dalam yang menggambarkan kondisi batiniah
mengklaim makrifat (ma’rifâh) membutuhkan ruh, mereka yang tentu saja berbeda satu sama lain di
kedamaian dan wewangian (ar-rûh wa ar-râhab kalangan mereka.
wa ar-râ’ihah); 8) orang yang mengklaim ruh (rûh)
Berdasarkan konsep-konsep di atas, kemudian
membutuhkan ibadah (‘ibâdah); 9) orang yang
dibangun konstruk pemikiran bahwa, pengalaman
mengklaim ketakwaan (tawakkul) membutuhkan
mistik pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsya-
kepercayaan (siqah); 10) orang yang mengklaim
bandiyah Piji Dawe Kudus sebagai wujud dari pen-
takut (khauf) membutuhkan dorongan (inzi’âj);
galaman keberagamaan memiliki empat komponen
11) orang yang mengklaim harapan (raja’) membu-
pembentuk: 1) adalah maqamat; 2) suluk; 3) ahwâl;
tuhkan ketenangan (tuma`ninah); 12) orang yang
dan 4) sistem sosial. Konstruk ini diadopsi secara sis-
mengklaim cinta (mahabbah) membutuhkan rindu
temik dari dua dasar kerangka pemikiran. Pertama,
(syawq); 13) orang yang mengklaim rindu (sywaq)
Koentjaraningrat yang membangun empat kompo-
membutuhkan gairah (walah); dan 14) orang yang
nen religi, yaitu emosi keagamaan, sistem keper-
mengklaim gairah (walah) membutuhkan Allah.
cayaan, sistem upacara keagamaan, dan kelompok
Al-Hallaj membuat daftar keadaan (ahwâl) keagamaan (Koentjaraningrat, 1974: 137-142). Ked-
tersebut dengan menjadikan setiap keadaan sese-

Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012 43


Pengalaman Mistik Pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah...

ua, Talcott Parsons yang membangun teori tindakan berkaitan dengan tarekat tersebut meliputi daftar
(Theory of Action Systems) ke dalam tiga kompo- anggota Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah
nen, yaitu sistem budaya, sistem sosial, dan sistem Piji Dawe Kudus nama-nama pengurus, silsilah
kepriba-dian (Talcott Parsons, 1966: 3-23). Lebih kemursyidan tarekat, amalan-amalan tarekat,
jelas mengenai empat komponen pengalaman mistik karya-karya dari Shiddiq sebagai mursyid Tarekat
pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus,
Dawe Kudus seperti terlihat pada gambar 1 berikut. tata cara dan materi wirid/zikir dan lain-lainnya.
Gambar 1: Pengalaman mistik pengikut tarekat Sumber Data Sekunder
Maqâmât Sedangkan sumber-sumber sekunder yang
digunakan dalam penulisan ini meliputi berbagai
macam literatur buku, majalah dll yang relevan
Pengalaman Mistik Ahwâl
Suluk
Pengikut Tarikat dengan penelitian ini.

Teknik Pengumpulan Data


Sistem Populasi penelitian ini adalah semua pengikut
Personal
Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe
Kudus yang berjumlah kurang lebih 12.000 orang
METODE PENELITIAN dan tersebar ke dalam tujuh kelas berdasarkan zi-
Jenis Penelitian kir laţîfah yakni zikir laţîfah al-qalb, zikir laţîfah
Jenis penelitian ini adalah field research ar-rûh, zikir laţîfah as-sirr, zikir laţîfah khafiy,
(penelitian lapangan) dengan objek ahwâl (peng- zikir laţîfah akhfa, zikir laţîfah an-nafsi dan zikir
alaman mistik) yang diperoleh pengikut Tarekat laţîfah al-qâlib. Teknik sampling yang akan digu-
Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus. nakan untuk menjaring informan adalah purpo-
Oleh karena itu, objek yang secara rinci menjadi sive sampling1 yang mengacu pada persebaran
fokus penelitian ini adalah: 1) Suluk atau amalan kelas tersebut. Teknik ini dilakukan sampai di-
pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah capai taraf redudency (ketuntasan) yang artinya
Piji Dawe Kudus yang secara teoretik menyebab- keterangan dari beberapa responden dianggap
kan terjadinya pengalaman mistik; 2) Macam- cukup terhadap informasi yang diperlukan.
macam Ahwâl (pengalaman mistik) yang dialami
Teknik pengumpulan data yang dipakai
oleh pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsya-
dalam penelitian ini adalah: pertama, wawan-
bandiyah Piji Dawe Kudus.
cara, teknik wawancara secara terstruktur dan
mendalam akan ditujukan kepada informan.
Sumber Data
Wawancara digunakan untuk mendapatkan data
Sumber Data Primer berupa pengalaman mistik pengikut Tarekat Qa-
Data primer yang dimaksud adalah berbagai diriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus dan
informasi mengenai ahwâl (pengalaman mistik), tanggapan mereka terhadap pengalaman terse-
amalan pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsya- but. Kedua, observasi, teknik ini akan digunakan
bandiyah Piji Dawe Kudus dan berbagai hal yang untuk mengamati aktifitas keagamaan perilaku

1
Teknik ini menggunakan pertimbangan tertentu dari beberapa responden yang menguasai bidang yang akan diteliti
atau responden yang dianggap mampu memberikan informasi tentang fokus penelitian (purposive sampling uses judgment
of an expert in selecting cases or it selects cases with a specific purposive in mind) (W. Lawrence Neuman, 2000: 198). Den-
gan pengambilan sampel secara purpsosive, hal-hal yang dicari dapat dipilih pada kasus-kasus ekstrim sehingga hal-hal yang
dicari tampil menonjol dan lebih mudah dicari maknanya (Noeng Muhadjir, 2007: 162).

44 Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012


Atika Ulfia Adlina

pengikut tarekat Tarekat Qadiriyah wa Naqsya- embrances new ways of looking at the world)
bandiyah Piji Dawe Kudus. Ketiga, dokumen- (Shank, 2006: 10).
tasi, teknik ini akan digunakan untuk menjaring
seluruh data berupa dokumen-dokumen yang TEMUAN DAN PEMBAHASAN
berkaitan dengan tarekat tersebut meliputi daftar Pola Umum Keagamaan Pengikut Tarekat
anggota Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus
Piji Dawe Kudus, silsilah kemursyidan tarekat, Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji
amalan-amalan tarekat, karya-karya dari Shiddiq Dawe Kudus juga sering disebut ngaji kesepuhan
sebagai mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsya- (mengaji untuk usia seseorang yang sudah dewa-
bandiyah Piji Dawe Kudus, tata cara dan materi sa). Usia pengikut tarekat ini berkisar antara 36
wirid/zikir dan lain-lainnya. ke atas. Meski demikian, ngaji kasepuhan yang
dulu hanya diperuntukan untuk ibu-ibu yang
Teknik Analisis Data dan Jenis Pendekatan
sudah tidak lagi menstruasi dan untuk ibu-ibu
Penelitian ini akan meneliti aspek psikolo- atau bapak-bapak yang sudah tidak lagi mem-
gi manusia dalam sebuah komunitas agama punyai urusan dunia seperti anak, kerjaan, kini
(tarekat). Untuk itu, pengetahuan tentang juga diperuntukkan kepada ibu-ibu yang belum
kondisi sosial dan psikis masyarakat Kudus dan menopause dan masih bekerja.
Piji Dawe Kudus serta pengikut Tarekat Qadiri-
Dewasa atau taklif adalah fase dimana
yah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus penting
manusia sudah dikenai kewajiban sebagai ‘abd
untuk diketahui. Hal ini mengingat pengalaman
(hamba) dan khalifah. Pada fase ini, manu-
mistik dalam beberapa segi dipengaruhi oleh
sia sedang memproses dirinya menjadi pribadi
kondisi psikis dan sosiologis seseorang. Pende-
yang berkualitas sehingga ia mampu menghasil-
katan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kan kemampuan-kemampuan, dan prestasi-
fenomenologi. Pendekatan ini dilakukan atas as-
prestasi baik secara fisik, psikologis maupun
umsi dasar bahwa: 1) pengikut Tarekat Qadiriyah
spiritual (Fuad Nashori, 2005: 156). Dalam is-
wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus mempunyai
tilah psikologi perkembangan usia dewasa ter-
kemampuan mengungkapkan tindakan melalui
bagi menjadi tiga golongan yakni, dewasa awal
perbuatan, perkatan dan bahasa; 2) makna tin-
(21-40), dewasa madya (40-60) dan dewasa
dakan pada prinsipnya tidak lepas dari konteks
akhir (60-kematian). Sebagian besar pengikut
budaya dan lingkungan dimana mereka tersebut
Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah terma-
berada; 3) secara keseluruhan, kehidupan mere-
suk golongan dewasa madya dan dewasa akhir.
ka memiliki makna yang hanya dapat dipahami
dengan makna yang lebih komprehensif (Denzin, Kematangan jiwa di usia dewasa terkait de-
2000: xv). Melalui pendekatan fenomenologi, re- ngan sikap keberagamaan yang dimilikinya. Pada
alitas fenomena atau kejadian yang berlangsung umumnya sikap keberagamaan pada usia dewasa
di latar penelitian diselami secara mendalam memiliki perspektif yang luas didasarkan atas ni-
dan utuh serta terfokus tanpa meninggalkan lai-nilai yang dipilihnya. Selain itu, sikap keber-
konteks dimana peristiwa tersebut terjadi (Mu- agamaan ini umumnya juga dilandasi oleh pen-
hadjir, 1990: 13). Peneliti berusaha memahami dalaman pengertian dan perluasan pemahaman
peristiwa dalam kaitannya dengan orang dalam tentang ajaran agama yang dianutnya. Beragama,
situasi tertentu. Ini tidak lain karena penelitian bagi orang dewasa sudah merupakan sikap hidup
kualitatif bersifat natural, deskriptif, induktif dan bukan sekadar ikut-ikutan.
(Moelong, 1989: 18) dan merupakan suatu usaha Akan tetapi, untuk mencapai kematangan
untuk menemukan makna dari suatu fenomena beragama, dibutuhkan kemampuan seseorang
yang ada pada subjek yang diteliti (the inquiry untuk mengenali atau memahami nilai agama
into meaning is in service of understanding and yang terletak pada nilai-nilai luhurnya serta men-

Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012 45


Pengalaman Mistik Pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah...

jadikan nilai-nilai dalam bersikap dan bertingkah tujuan hidup yang hakiki yang merupakan pan-
laku. Sementara masalah sentral pada masa de- tulan dari pandangan hidup orang Islam sering-
wasa madya adalah mencapai pandangan hidup kali tidak tampak kecuali bila menghadapi ber-
yang matang dan utuh yang dapat menjadi dasar bagai kesulitan hidup baik yang menyangkut “ke-
dalam membuat keputusan secara konsisten. duniaan” maupun “keakhiratan”.
Sedangkan pada masa dewasa selanjutnya ciri
Tidak semua orang yang masuk menjadi
utamanya adalah ‘pasrah’. Pada masa ini, minat
pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah
dan kegiatan kurang beragama. Hidup menjadi
Piji Dawe Kudus didorong oleh semangat ingin
kurang rumit dan lebih berpusat pada hal-hal
menyucikan diri, taubat, atau bahkan menjauhi
yang sungguh-sungguh berarti. Kesederhanaan
hal-hal yang menyangkut “keduniaan” (asketik)
lebih sangat menonjol pada usia tua.
tetapi ada juga karena ikut-ikutan dengan ke-
Istilah yang khas untuk menyebut dua kate- banyakan tetangganya, sanak keluarganya yang
gori pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsya- telah masuk menjadi anggota tarekat atau seka-
bandiyah Piji Dawe Kudus adalah wong enom dar menonjolkan diri bahwa dirinya telah ber-
dan wong tuwo. Kedua istilah itu diangkat dari agama secara sempurna. Alasan yang lain yang
alam pikiran berdasarkan usia. Golongan wong sering diungkapkan oleh para pengikut kalangan
tuwo atau angkatan tua pada umumnya mem- wong tuwo adalah karena usia sudah tua dan su-
punyai sikap iman yang sudah terbentuk, stabil dah waktunya memikirkan akhirat. Mereka biasa
dan sulit diubah. Sedangkan kategori golongan menyebut mengaji di tarekat dengan istilah ngel-
wong enom, identitas mereka belum terbentuk mu kasepuhan (mengaji khusus untuk kalangan
dan masih perlu mencari. Mereka masih ber- orang tua).
ada dalam masa pancaroba atau masa rekons-
Amalan yang dilakukan di Tarekat Qadiriyah
truksi. Dimana nilai-nilai ajaran tarekat masih
wa Naqsyabandiyah pada umumnya dan di Piji
perlu dipelajari dan dijadikan pedoman dalam
Dawe Kudus pada khususnya dinilai sangat berat
kehidupan. Akibat kurangnya pengalaman dan
dibanding dengan tarekat yang lain. Menurut KH
belum tercapainya kematangan berfikir dan
Afandi Shiddiq yakni badal mursyid Mbah Shid-
berolah batin, mereka belum berhasil mencapai
diq, jika para pengikut tarekat melakukan amal-
keseimbangan yang ideal. Di satu pihak, mereka
an tersebut maka mereka harus mempersiapkan
merasa membutuhkan bimbingan dari angka-
hati dan mentalnya sehingga kuat. Lebih lanjut
tan tua yaitu badal-badal atau ketua kelompok.
KH Afandi Shiddiq menerangkan bahwa lama
Tetapi di lain pihak mereka tidak mau diikat oleh
atau sebentarnya waktu yang harus para pengikut
tradisi-tradisi yang mengikat. Keadaan psikolo-
tempuh untuk mengamalkan amalan tarekat ti-
gis yang demikian itu, membawa pengaruh yang
dak bisa serta merta mengukur akan kualitas hati
besar atas sikap mereka terhadap tarekat. Ter-
seseorang. KH Afandi Shiddiq menuturkan:
hadap tantangan yang bersifat dunia yang penuh
“Ada yang baru sebentar ikut, hatinya sudah baik.
dengan ketidakpastian, jawaban mereka masih Ada yang sudah lama ikut justru cerai. Ada yang
bersifat mencoba dan meraba. Apalagi terhadap tadinya mabuk sekarang tidak dan ada yang mak-
nilai ajaran tarekat yang menyangkut kepenting- siatnya kenceng tarekatnya juga kenceng. Oleh
an kehidupan akhirat. Itu semua bagi angkatan karena itu, mengukur kualitas hati seseorang itu
sulit karena tarekat adalah persoalan hati” (Wa-
muda masih merupakan tanda tanya yang belum wancara dengan KH Affandi Shiddiq, anak sekali-
terjawab secara meyakinkan. gus badal KH Shiddiq, tanggal 28 Juni 2011).
Para pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsya- Mengikuti sebuah tarekat seperti Tarekat
bandiyah Piji Dawe Kudus berpandangan bahwa Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus
manusia itu berasal dari Allah dan akan kembali tidak selamanya menjadi jaminan seseorang ber-
kepadaNya. Namun demikian, kesadaran akan perilaku layaknya salik. Tidak jarang beberapa

46 Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012


Atika Ulfia Adlina

pengikut yang memiliki pemahaman minim ter- adalah kesalahan pelafalan beberapa doktrin
hadap syari’at Islam, masih menunjukkan peri- tarekat seperti zikir nafi isbat diucapkan nabi
laku-perilaku yang tidak Islami misalnya: me- isbat, alam nasyrah menjadi alam nasrak dsb.
ninggalkan salat wajib lima waktu, puasa Rama- Hal ini dapat dipahami mengingat latarbelakang
dhan, dan berjudi. Hal-hal semacam inilah yang para salik yang buta huruf dan tidak memiliki
sebenarnya menjadi sasaran kritik dari kelompok pengalaman belajar agama.
anti-tarekat dimana seseorang yang memutuskan
Terhadap praktik keagamaan yang berben-
mengikuti ajaran tarekat tertentu haruslah me-
tuk peribadatan pada umumnya bersifat formal-
nguasai dan mengamalkan syari’at.
istis. Bentuk yuridis formal sangat dipentingkan
Selain itu, apa yang menjadi problem dan masih cukup ditaati. Namun, frekuensi ke-
pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandi- hadiran dalam khataman rutin di tarekat ini dari
yah Piji Dawe Kudus adalah para pengikut yang ketua kelompok lebih rendah jika dibanding de-
tidak memahami makna tazkiyat an-Nafs (men- ngan kelompok pengikut biasa. Kehadiran ketua
sucikan jiwa). Padahal, tazkiyat an-Nafs adalah kelompok hanya sebatas pada beberapa hari yang
inti dari ajaran tarekat manapun. Tazkiyat an- dianggap sakral misalnya acara khaul Syeh ‘Abd
Nafs adalah membersihkan jiwa dari akhlak yang al-Qadir al-Jilani dan khalwat pada bulan Rama-
buruk agar bisa mencapai ridha, makrifat dan dhan, sedangkan peribadatan rutin pada hari
musyahadah kepada Allah. Akhlak yang buruk sabtu dan ahad mereka tinggalkan.
adalah derita dan penyakit yang lebih berba-
Perhatian utama pengikut tarekat adalah ma-
haya dari penyakit manapun (Muslih, t.th: 34).
salah arti dan makna dalam kehidupan. Mereka
Di sini berarti, tarekat itu tidak berhenti hanya
membutuhkan bukan saja kepastian kognitif ter-
sampai pada wirid. Akan tetapi banyak di antara
hadap masalah yang tidak dapat dielakkan dari
pengikut yang sudah mencapai level-level ter-
pikirannya seperti penderitaan, kematian, dan na-
tentu tetap mempraktikkan akhlak-akhlak yang
sib, tetapi juga membutuhkan pengaturan emosi
buruk seperti berdusta, hasud, berkonflik dengan
atau pengendalian diri. Pada sisi ini tarekat di-
tetangga, berhutang tidak segera membayar pa-
anggap oleh mereka telah mampu meningkatkan
dahal sudah ada uang, membungakan uang dsb.
kesadaran hidup dalam diri mereka akan kondisi
Perilaku-perilaku ini adalah menghambat proses
eksistensinya berupa ketidakpastian dan ketidak-
tazkiyat an-Nafs.
mampuan untuk menjawab problem hidup yang
Minimnya pemahaman para pengikut terha- berat. Mereka biasanya mencari jaminan rasa
dap amalan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandi- aman melalui doktrin eskatologi berupa kebang-
yah Piji Dawe Kudus mempengaruhi pemaha- kitan kembali mursyid untuk memberi syafa’at.
man keagamaan mereka. Beberapa pengikut
sepuh mengatakan “halah wong tuwo leh ngunu Tipologi Pengikut Tarekat Qadiriyah wa
dik, mlebu kuping kiwo metu kuping tengen. Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus
Meneh nek ngaji, halah-halah.. podo ngantuk… Tipe pelaku tarekat ini didasari atas sejum-
ngunu iku terus piye” (orang tua ya seperti itu, lah alasan yang mendasari mereka bergabung di
masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Apalagi dalam tarekat. Wawancara mendalam dengan
kalau mengaji, pada ngantuk… terus bagaimana) beberapa pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naq-
(Wawancara dengan Mbah Mi, pengikut Tarekat syabandiyah, didapat beberapa tipologi pengikut
Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus, Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe
tanggal 19 Oktober 2011). Hal ini menyebabkan Kudus. Berikut akan diuraikan alasan mengikuti
munculnya pemaknaan-pemaknaan yang kurang tarekat, tipe pelaku tarekat dan asumsi permasa-
tepat terhadap ajaran Tarekat Qadiriyah wa lahan yang dibangun.
Naqsyabandiyah. Beberapa yang layak disebut Pertama, pencarian akan ketenangan jiwa.

Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012 47


Pengalaman Mistik Pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah...

Motivasi ini dibangun atas dasar keinginan para mampu membuat mereka mempersiapkan bekal
pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsabaniyah untuk kematiannya. Sebagaimana penuturannya
Piji Dawe Kudus untuk mencari ketenangan jiwa “opo meneh seng meh kanggo sangu mati wuk,
melalui tarekat. Sri Utami yang sudah mengikuti nek gak cedak karo seng nggawe urip” (apalagi
tarekat ini sejak 2009 menuturkan “wis aku wis yang bisa buat bekal mati Nduk, kalau tidak dekat
adem melu Mbah Shiddiq, atiku tentrem ngono dengan yang Sang Maha Pencipta). Motivasi ini
lho” (aku sudah tenang ikut Mbah Shiddiq, hatiku sangat terkait dengan kerinduan mereka kepada
tentram). Lebih lanjut dia menuturkan sebelum Allah lepas dari rasa cintanya atau karena kebu-
mengikuti Mbah Shiddiq, ia banyak dirundung tuhannya. Marwan mengatakan “he’eh pancen,
permasalahan baik keluarga dan usaha. Hal ini aku iku kadang kangen, pingin ndang gage sho-
terutama berkaitan dengan ketiga anak perem- lat terus zikiran” (iya memang, saya terkadang
puannya. Suami anak pertama meninggal dalam juga rindu, rasanya pingin segera salat terus zi-
sebuah kecelakaan tragis. Anak perempuan ke- kir) (Wawancara dengan Jatemi, 21 Oktober
dua mengalami kegagalan berumah tangga dalam 2011; Marwan, 22 Oktober 2011: masing-masing
pernikahan yang hanya berusia muda. Hal ini di- adalah pengikut tarekat tersebut).
tambah dengan kondisi suami yang mengalami
Ketiga, kesesuaian olah nalar masyarakat
PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dari perusa-
dengan olah nalar ketarekatan. Maksudnya,
haan yang menyebabkan anak perempuan tera-
ajaran-ajaran tarekat tentang kesederhanaan
khirnya terbengkalai dalam pendidikan. Semen-
hidup, konsep hidup yang sempurna adalah hidup
tara itu, anak laki-lakinya tidak dapat diandalkan
dalam persoalan ekonomi keluarga. Ia sendiri yang sederhana misalnya, mampu menjadi daya
sebagai buruh pabrik tidak memiliki penghasil- dorong seseorang untuk mengikuti ajaran tarekat.
an banyak. Kondisi internal keluarga ini, diper- Intinya sublimasi kemiskinan dengan konsep ke-
parah dengan kondisi eksternal keluarga besar sederhanaan dalam ajaran tarekat, memberikan
dan masyarakat sekitar yang mencibir. Motivasi motivasi seseorang untuk mengikuti tarekat ter-
seperti ini, menjadikan seorang pengikut Tarekat tentu di samping kesamaan dan kedekatan ang-
Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus gota yang lain, solidaritas, dsb. Akan tetapi, olah
memiliki ketergantungan akan keberadaan tarekat nalar semacam ini pada ujungnya justru mem-
dan unsur-unsurnya (Wawancara dengan Sri Uta- bentuk manusia yang stagnan sekaligus memiliki
mi, pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandi- mental yang kuat dalam menjalani proses ke-
yah Piji Dawe Kudus, tanggal 21 Oktober 2011). hidupan. Mental yang kuat bisa dipahami mela-
lui wujud kepasrahan total yang ditunjukkan oleh
Kedua, pemenuhan kebutuhan manusia akan
istri Marwan. Ia menuturkan “aku wis puas karo
fitrah Ilahiyah. Motivasi semacam ini dibentuk
uripku sing saiki, ameh njaluk opo maneh kabeh
dari kesadaran pengikut Tarekat Qadiriyah wa
wis dicukupi Gusti Allah. Rak nduwe lah sing
Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus akan kebutuhan
penting rak nduwe utang, hera dik?” (saya su-
fitrah Ilahiyyah. Fitrah Ilahiyah yang dimaksud
dah puas dengan hidup saya yang sekarang. Mau
adalah kebutuhan dasar manusia atas eksistensi
minta apalagi, semua sudah dicukupi oleh Allah.
ketuhanan. Hal ini terutama berkaitan dengan
Tidak punya apa, tidak masalah. Yang penting
kesadaran usia yang sudah sepuh (tua). Jatemi
tidak punya hutang, ya kan dik?).
menuturkan “wis tuwo leh ape opo meneh dik…
wis ancen wayahe mikir akhirat” (sudah tua mau Keempat, adanya kharisma seorang guru.
berfikir apa lagi, sudah saatnya berfikir tentang Tidak dipungkiri bahwa tarekat menempatkan
akhirat). Jatemi sendiri kini berusia 70 tahun. Dia mursyid pada posisi penting. Pada tingkatan ter-
mengikuti tarekat sejak dia berumur 50 tahun. tentu, mursyid juga sekaligus bertindak sebagai
Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran fitrah patron (pelindung, pengayom) bagi murid-murid-
Ilahiyah yang dimiliki oleh pengikut tarekat ini, nya. Perasaan seperti inilah yang mendasari be-

48 Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012


Atika Ulfia Adlina

berapa salik Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandi- mad, pengikut tarekat, 21 Juli 2011). Akan tetapi,
yah Piji Dawe Kudus, untuk mengikuti tarekat solidaritas semacam ini dikahawatirkan mem-
ini. Motivasi semacam ini akan memberikan ke- bentuk manusia yang memiliki fanatisme yang
cenderungan murid untuk selalu rindu kepada berlebihan. Hal ini ditunjukkan misalnya, de-
guru. Walaupun kerinduan itu pada ujungnya ngan kemarahan beberapa anggota tarekat jika
berwujud penghormatan yang berlebihan. Pen- sang mursyid atau bahkan murid mendapatkan
carian rasa aman akan jaminan-jaminan tertentu kritik dari orang lain.
dengan sistem taklid juga menjadi alasan seorang
Alasan-alasan kepengikutan tarekat tersebut
salik memilih guru dari tarekat tertentu. Sutinah
tentu menjadi aspek yang perlu diwaspadai pula
menuturkan “jarene iku nganu dik, mbesuk ning
sehingga proses kebaikan yang dihasilkan dari
akhirat muride Syeh ‘Abd al-Qadir al-Jilani iku
tarekat tidak hanya berhenti pada ketika pelaku
dipisahke ndisik” (katanya itu dik, besok di akhi-
mengikuti ritual dalam tarekat itu sendiri tetapi
rat para pengikut Syeh ‘Abd al-Qadir al-Jilani
diharapkan juga mampu memberi dampak dalam
akan dijadikan satu). Menjadi ironi adalah tak-
kehidupan mereka sehari-hari. Oleh karena itu,
lid se-perti ini justru membentuk manusia yang
Mughi berpendapat (2001: 153) bahwa spiritual-
kurang memanfaatkan potensi pikirnya jika tidak
isme baik dalam bentuk tasawuf, ihsan maupun
diimbangi dengan semangat untuk selalu belajar.
akhlaq menjadi kebutuhan sepanjang hidup
Hal ini jika tidak diperhatikan oleh para salik,
manusia dalam semua tahap perkembangan
akan menghasilkan karakter muslim yang jauh
masyarakat. Untuk masyarakat yang masih ter-
dari sikap cerdas.
belakang, spiritualisme harus berfungsi sebagai
Kelima, lahirnya suatu komunitas masyara- pendorong untuk mengingkatkan etos kerja dan
kat yang mempunyai ikatan tertentu yang dapat bukan pelarian dari ketidakberdayaan masya-
melahirkan persatuan yang sangat kuat. Arti- rakat untuk mengatasi tantangan hidupnya. Se-
nya, motivasi seseorang mengikuti Tarekat Qa- dangkan bagi masyarakat maju-industrial, spi-
diriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus atas ritualisme berfungsi sebagai tali penghubung
dasar solidaritas. Selain itu, motivasi semacam dengan Tuhan.
ini dibangun atas dasar mengikuti kebiasaan
yang dilaksanakan sanak famili, tetangga dan te- Pengalaman Mistik Pengikut Tarekat
man sejawatnya. Likah yang kini berusia 52 ta- Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe
hun menuturkan bahwa alasan dia dulu tertarik Kudus Berdasarkan Cluster (Kelas) Lathaif
menjadi pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsya- Informan yang dipilih untuk mengetahui
bandiyah Piji Dawe Kudus lantaran mengikuti pengalaman mistik yang dirasakan oleh pengikut
kebiasaan ibunya. Sebagaimana penuturannya Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah adalah
“mboh yo mbak… aku ku mbiyen angger melu- berdasarkan zikir lathâif atau tingkatan-ting-
melu makku” (tidak tau ya mbak… saya dulu han- katan zikir yaitu, laţîfah al-qalb, laţîfah ar-rûh,
ya ikut-ikut ibu saya) (Wawancara dengan Likah, laţîfah as-sirr, laţîfah khafiy, laţîfah akhfa,
Pengikut tarekat, tanggal 19 Oktober 2011). Apa laţîfah an-nafsi dan laţîfah al-qâlib. Umumnya
yang menarik dari motivasi ini adalah solidari- bagian-bagian dari amalan tarekat yang mampu
tas yang tetap terjalin setelah para anggota aktif mendatangkan ketergetaran hati adalah pada
mengikuti tarekat. Hal ini ditunjukkan dengan saat zikir as-sirr ism al-Dzat. Pada saat zikir ini
kehadiran hampir semua jama’ah tarekat ketika memang, pengikut harus benar-benar berkon-
salah satu anggota meninggal dunia. Bahkan sentrasi, madep mantep, pikiran dan hati be-
mursyid atau badal juga turut menghadiri acara nar-benar ditata sehingga hanya menuju Allah
pemakaman. Menurut Mbah Muh, saudara-sau- Swt bukan kepada yang lain. Berikut adalah in-
dara setarekat tersebut akan memberikan saksi dikasi ahwâl dari pengalaman-pengalaman yang
besok di akhirat (Wawancara dengan Muham- dialami oleh para pengikut Tarekat Qadiriyah

Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012 49


Pengalaman Mistik Pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah...

wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus mengikuti merasa seperti melihat wajah Mbah Shiddiq. Saya
tingkatan-tingkatan zikir. kan jadi takut, sepertinya kok diperhatikan terus)
Pertama, tingkat laţîfah al-qalb. Pada tingkat (Wawancara dengan Jatemi, 21 Oktober 2011).
ini, pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandi- Penuturan Sutinah yang sudah melewati fase
yah Piji Dawe Kudus diharuskan membaca zikir tentang ketenangan jiwa yang dia dapat setelah
as-sirr ism al-dzat sebanyak 5000 kali. Kedua, mengikuti zikir laţîfah al-qalb menjelaskan ten-
tingkat laţîfah ar-rûh. Pada tingkat ini, pengikut tang pengalaman mistik berupa tenang, raja’
Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe dan khauf. Dalam dimensi raja’, ia menuturkan
Kudus diharuskan membaca zikir as-sirr ism al- “ning pancen wis tak buktikno Dik… angger
dzat laţîfah al-qalb sebanyak 5000 kali kemudian wiridanku, sholatku tak temenani karo tak tam-
ditambah dengan zikir as-sirr ism al-dzat laţîfah bah sholat hajat karo tahajud, dodolanku ru-
ar-rûh sebanyak 1000 kali. mangsaku soyo laris iku. Padahal tah, mohune
Pada kedua tingkat zikir laţîfah ini, pengala- gak karu-karuan sek susah aku.” (Tapi memang
man mistik yang dirasakan oleh pengikut Tarekat sudah saya buktikan Dik. Setiap saya serius ter-
Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus hadap wirid/zikir, salat kemudian ditambah de-
sama yakni tenang, khauf dan raja’. Penuturan ngan salat hajat dan tahajud, jualan saya jadi laris.
Sri Utami yang sudah melewati fase tentang kete- Padahal dulu, jualan saya tidak seperti sekarang
nangan jiwa yang dia dapat setelah mengikuti zikir ini. Jadi saya susah). Pengalaman ini mengantar
laţîfah al-qalb menjelaskan tentang pengalaman Sutinah mempunyai harapan akan keberhasilan
mistiknya yang berupa tenang. Dalam dimensi usahanya jika dia semakin serius dan benar-be-
khauf misalnya, ia menuturkan “aku iku serik Dik nar mendekat kepada Allah. Lebih lanjut ia me-
nek dirasani, tapi ameh mbales karo nesu-nesu ngatakan “wis Dik… wis mantep lan adem saiki
aku wedi nek diblondrokno Pengeran” (saya se- atiku” (sudah dik, sekarang hati saya sudah man-
benarnya benci Dik kalau dibicarakan orang, tapi tap dan tentram) (Wawancara dengan Sutinah,
kalau mau membalas sambil marah-marah, saya 25 Oktober 2011).
takut. Takutnya kalau gantian Allah yang mem- Ketiga, tingkat laţîfah as-sirr. Pada tingkat-
balas saya). Kesadaran akan takut terhadap Allah an ini, pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsya-
ini mengantar dia mempunyai harapan-harapan bandiyah Piji Dawe Kudus diharuskan membaca
(raja’) sebagai wujud dari kepasrahannya. Se- zikir as-sirr ism al-dzat laţîfah al-qalb sebanyak
bagaimana yang dituturkannya “mulane aku yo 5000 kali, zikir as-sirr ism al-dzat laţîfah ar-rûh
angger dungo wae dik, Gusti… ampun gawe sebanyak 1000 kali kemudian ditambah dengan
atiku serik. Mugo-mugo tiyang ingkang sampun zikir as-sirr ism al-dzat laţîfah as-sirr seba-
ngrasani kulo Jenengan wales” (makanya saya nyak 1000 kali. Keempat, tingkat laţîfah khafiy.
tinggal berdoa saja, ya Allah.. jangan membuat Pada tingkatan ini, pengikut Tarekat Qadiriyah
hatiku penuh kebencian. Semoga Engkau mem- wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus diharuskan
balas orang-orang yang telah mencibir saya) (Wa- membaca zikir as-sirr ism al-dzat laţîfah al-qalb
wancara dengan Sri Utami, 21 Oktober 2011). sebanyak 5000 kali, zikir as-sirr ism al-dzat
Ilustrasi lain adalah pengalaman khauf Jate- laţîfah ar-rûh sebanyak 1000 kali, as-sirr ism
mi yang mengatakan “aku iku ra dik, nek meh al-dzat laţîfah as-sirr sebanyak 1000 kali, ke-
lapo-lapo sing dak bener ra, koyo ngarasani mudian ditambah dengan zikir laţîfah khafiy se-
wong, serik karo wong, aku iku koyo ketok-keto- banyak 1000 kali. Kelima, tingkat laţîfah akhfa,
ken Mbah Shiddiq wae. Aku kan dadi wedi, koyo Pada tingkatan ini, pengikut Tarekat Qadiriyah
diperhatekno ngono lho” (saya itu Dik, kalau mau wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus diharuskan
berbuat yang tidak baik, seperti membicarakan membaca zikir as-sirr ism al-dzat laţîfah al-
kejelekan orang, benci dengan orang lain, saya qalb sebanyak 5000 kali, zikir as-sirr ism al-

50 Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012


Atika Ulfia Adlina

dzat laţîfah ar-rûh sebanyak 1000 kali, as-sirr katan ini, pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsya-
ism al-dzat laţîfah as-sirr sebanyak 1000, zikir bandiyah Piji Dawe Kudus diharuskan membaca
laţîfah khafiy sebanyak 1000 kali kemudian di- zikir as-sirr ism al-dzat laţîfah al-qalb seba-
tambah zikir laţîfah akhfa sebanyak 1000 kali. nyak 5000 kali, zikir as-sirr ism al-dzat laţîfah
Ke-enam, tingkat laţîfah an-nafsi. Pada tingkat- ar-rûh sebanyak 1000 kali, as-sirr ism al-dzat
an ini, pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsya- laţîfah as-sirr sebanyak 1000 kali, zikir laţîfah
bandiyah Piji Dawe Kudus diharuskan membaca khafiy sebanyak 1000 kali, laţîfah akhfa seba-
zikir as-sirr ism al-dzat laţîfah al-qalb sebanyak nyak 1000, zikir laţîfah an-nafsi sebanyak 1000
5000 kali, zikir as-sirr ism al-dzat laţîfah ar-rûh kali kemudian ditambah dengan zikir laţîfah
sebanyak 1000 kali, as-sirr ism al-dzat laţîfah al-qâlb sebanyak 1000 kali. Tingkat ketujuh ini
as-sirr sebanyak 1000 kali, zikir laţîfah khafiy adalah tingkat pamungkas dari keseluruhan fase
sebanyak 1000 kali, laţîfah akhfa sebanyak 1000 zikir dalam zikir laţîfah di Tarekat Qadiriyah wa
kali kemudian ditambah dengan zikir laţîfah an- Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus yang berjum-
nafsi sebanyak 1000 kali. lah 11.000 kali. Setelah itu, biasanya salik akan
mendapatkan kesempatan khalwat. Secara ideal,
Pada keempat zikir laţîfah ini, pengalaman
salik pada tingkat ini adalah salik yang sudah
mistik yang dirasakan pengikut Tarekat Qadiri-
mendapatkan pengalaman-pengalaman mistik
yah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus sama
berupa tenang, mahabbah (cinta), rindu, ridha,
yakni tenang, khauf, raja’, dan ridla. Ridla yang
gairah, al-anasu, al-basthu, al-qabdhu, al-khauf
dimaksud adalah rela atas segala ketetapan Allah.
dan raja’.
Marwan, menuturkan “saiki aku iku meh dia-
pak-apakno iku elah. Nek dicoba yo angger tak Pengalaman mistik berupa al-uns (keinti-
tompo. Lilo pokoke” (sekarang saya mau diapa- man) dapat ditangkap dari penuturan Sulhadi.
apakan sudah pasrah. Kalau dicoba ya saya teri- Ia menuturkan “rumangsaku aku cedak karo
ma. Rela pokoknya). Rela yang ia maksudkan ter- Gusti Allah. Alhamdulillah, opo wae seng tak
utama berkaitan dengan kondisi penglihatannya karepno alhamdulillah iku lho diijabahi. Pancen
yang hampir buta. “Mohune Bapak yo nggresulo aku rak tau njaluk seng ora-ora, dak (perasaan
saya, saya dekat dengan Allah. Alhamdulillah,
a Dik”(tadinya Bapak mengeluhkan kondisinya
saya merasa apa saja yang saya inginkan alham-
itu),” tutur istri Marwan. Akan tetapi, pengajaran
dulillah dikabulkan. Memang, saya tidak pernah
Mbah Shiddiq melalui Tarekat Qadiriyah wa
minta macam-macam, tidak)” (Wawancara de-
Naqsyabandiyah tersebut menyadarkannya akan
ngan Sulhadi, 24 November 2011). Sementara,
posisi manusia atas kekuasaan Allah (Wawancara
pengalaman mistik yang diilustrasikan oleh Kas.
dengan Marwan, 22 Oktober 2011).
Pada awalnya ia menuturkan “pancen nikmat
Penuturan istri Marwan sendiri, pengikut dik nek zikire iku madep, mantep. Kadang iku
tarekat yang sudah melewati fase zikir laţîfah sampe tak suwik-suwikno (memang terasa ada
akhfa menjelaskan pengalaman mistiknya tentang nikmat tersendiri ketika zikirnya mantap dan
kerelaan dan syukur. Ia menuturkan “saumpama konsentrasi. Terkadang justru sengaja saya buat
aku diuji opo wae karo Pengeran, Dik, yo wis ang- lama)”. Pengalaman nikmat seperti ini dapat
ger tak tompo. Wong urip iku kudu akeh syukure. menimbulkan kerinduan kerinduan dan kegai-
Wis dikei urip iku leh ancen wis kudu syukur” rahan untuk dapat segera bertemu dengan Allah
(seandainya saya dikasih cobaan apa saja dari Al- kembali. Lebih lanjut Kas menuturkan “aku terus
lah, saya terima. Orang hidup itu harus banyak rasane pengin ndang gage subuh maneh (saya
bersyukur. Kita sudah dikasih hidup, sudah pasti rasanya ingin segera subuh lagi)”. Amalan zikir
harus bersyukur) (Wawancara dengan istri Mar- as-sirr ism al-dzat lathaif memang biasa dibaca
wan, 23 Oktober 2011). setiap habis salat subuh. Kebiasaan ini hampir
Ketujuh, tingkat laţîfah al-qâlib. Pada ting- dilakukan oleh sebagian besar pengikut Tarekat

Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012 51


Pengalaman Mistik Pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah...

Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus. (jadi, kucing seperti memberitahu saya. Hei...
Menurut penuturan Jatemi “sing wektune lego a besok bapak itu akan meninggal. Ya benar me-
dik, ben iso marem (mencari waktu yang luang ninggal, sungguh saya tidak berbohong)” (Wa-
Dik, supaya bisa puas). wancara dengan Muhammad, 21 Juli 2011).
Muhammad, yang akrab dipanggil dengan Selain memimpin khataman, Mbah Muh juga
Kiai Muhammad atau Mbah Muh merupakan sering diminta masyarakat yang berhajat seperti
se-sepuh dan tokoh masyarakat yang sudah be- slametan, mitoni, sunatan, dsb untuk memimpin
rada di tingkat zikir laţîfah di atas. Sebagai se- manaqiban Syeh ‘Abd al-Qadir al-Jilani. Tidak
orang salik yang senior, ia juga ditunjuk sebagai jarang pembacaan manaqib oleh Mbah Muh
penang-gungjawab khataman pada kelompok menyisakan pengalaman mistik. Sebagai contoh,
pengajian para pengikut Tarekat Qadiriyah wa salah seorang tentara yang memohon doa restu
Naqsyabandiyah di Masjid Sumber Jati, Karang- Mbah Muh dengan pembacaan manaqib, ia seo-
bener, Kudus. Penunjukan ini, harus mendapat lah melihat wajah Mbah Muh di hamparan awan
persetujuan dari mursyid. Oleh karena itu, Mbah ketika ia terjun memakai parasut dari pesawat.
Muh juga memiliki posisi penting dalam proses Kehadiran wajah Mbah Muh itu, memberikan
pengajaran dan pengamalan Tarekat Qadiriyah wa ketenangan jiwa tentara tersebut. Mbah Muh se-
Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus. Posisi penting cara rendah hati mengatakan “niku sanes kulo.
tersebut telah menempatkannya sebagai tempat Niku, Syeh ‘Abd al-Qadir sing membo-membo
bertanya tentang segala persoalan muamalah, wajahe kados kulo amargi kulo engkang maos
spiritual dan keagamaan. manaqib” (itu bukan saya. Itu, Syeh Abd al-Qa-
Menurut Mbah Muh (Wawancara dengan dir yang menyerupakan wajahnya seperti saya.
Muhammad, 21 Juli 2011), jika salik sudah meng- Sebab saya yang membaca manaqib) (Wawan-
hayati zikir laţîfah dan kaifiyahnya (tata cara) cara denga Muhammad, 21 Juli 2011). Bagi Mbah
dengan benar, salik akan mendapatkan pengala- Muh, tujuan hidup itu hanya satu yakni mencari
man-pengalaman mistik yang luar biasa. Disebut kedamaian. Jika orang sudah damai, aliran darah
luar biasa karena pengalaman ini dirasa adalah akan lancar, badan akan sehat dan tidak mudah
pengalaman yang benar-benar baru dan mem- sakit, karena sumber penyakit yang berat dari
berikan efek yang menakjubkan. Lebih lanjut pikiran susah. Dengan zikir jiwa menjadi pasrah,
Mbah Muh menuturkan “saestu, kulo niki nate tawakkal pada Allah. Kepasrahan ini akan mem-
pinanggih kaliyan poro sahabatipun Kanjeng bawa kenikmatan dan keajaiban. Dalam bahasa
Nabi. Padahal mboten tilem, mboten ngimpi. lain, orang yang menjalani demikian akan men-
Nggih sedoyo, sayyidina Abu Bakar, Umar, Uts- dapat ma‘unah dari Allah Swt. Mbah Muh juga di-
man, Ali (sungguh, saya pernah bertemu dengan percayai masyarakat memiliki kemampuan untuk
para sahabat nabi. Padahal saya tidak sedang ti- menyembuhkan berbagai penyakit dengan mem-
dur, tidak bermimpi. Sahabat semuanya mulai baca wirid tertentu (Wawancara dengan Jatemi,
dari Sayyidina Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali)” 21 Oktober 2011).
(Wawancara dengan Muhammad 21 Juli 2011). Pengalaman lain yang banyak dikemu-
Pengalaman Mbah Muh yang lain yang ham- kakan antara lain adanya isyarah, atau feeling,
pir serupa adalah memiliki insting yang lebih semacam intuisi yang tajam, yaitu daya atau ke-
kuat. Insting ini berupa ketajaman mata hati mampuan mengetahui atau memahami sesuatu
Mbah Muh dalam menangkap sinyal-sinyal dari tanpa dipikirkan atau dipelajari. Bisa pula intuisi
binatang yang menggambarkan akan datangnya diartikan dengan bisikan hati bahwa akan terjadi
kabar kematian. “Dados, kucing niku koyo ngan- sesuatu, atau merasakan sesuatu yang kemudian
dani kulo. Hei... iku lho pak iku sesuk ameh mati. benar-benar terjadi. Zikir yang dilakukan peng-
Nggih mati tenan, saestu niku. Mboten goroh amal tarekat, khususnya zikir sirri, dalam kegiat-

52 Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012


Atika Ulfia Adlina

an khususiyah penuh konsentrasi dan pengha- seseorang yang mampu mengoptimalkan potensi
yatan mendalam, sehingga seperti ada kekuatan dirinya sehingga dia dapat mewujud sebagai se-
batin atau energi dalam (kesaksian ini secara se- orang ‘abd (hamba yang taat kepada Allah atau
nada diberikan oleh beberapa informan seperti habl min Allah) dan khalifah (habl min an-Nâs).
Muhammad dan Jatemi). Proses mendekatkan diri kepada Allah melalui
zikir lathaif dan amalan Tarekat Qadiriyah wa
Tradisi tawassul dalam tarekat memung-
Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus sangat bersi-
kinkan para salik untuk berkomunikasi dengan
fat personal. Oleh karena itu, pengalaman mistik
mursyid secara tidak langsung. Pengalaman mis-
yang diperoleh lebih dibentuk karena istiqomah
tik yang ditemukan dalam penelitian ini adanya
(keajegan) dalam proses tazkiyât an-Nafs (men-
kondisi fana’ fi al-mursyid. Fana’ fi al-mursyid
sucikan jiwa), lingkungan, kesadaran pengikut
adalah perasaan jiwa sâlik yang menyatu dengan
akan kepatuhan mereka terhadap amalan tarekat,
jiwa guru. Penyatuan jiwa ini meliputi penyatuan
pengalaman belajar agama dan sejauh mana
hati, dan pikiran. Hasil temuan mengungkapkan
tingkat pemahaman mereka mengenai tarekat.
adanya pengalaman mistik yang dirasakan oleh
Dengan demikian, pengalaman mistik yang dia-
pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah
lami oleh pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsya-
Piji Dawe Kudus tetapi sulit untuk dilukiskan.
bandiyah Piji Dawe Kudus bersifat fluktuatif (naik
Secara ideal pengalaman-pengalaman mis- turun) sebagaimana sifat dari ahwâl sendiri.
tik yang dialami oleh para pengikut Tarekat Qa-
diriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Kudus PENUTUP
mengalami peningkatan. Artinya pengalaman Berangkat dari berbagai lapisan masyarakat
mistik itu, bertingkat dari satu fase ke fase lain- yang menjadi pengikut tarekat ini, motivasi yang
nya sesuai dengan doktrin Tarekat Qadiriyah wa mereka miliki untuk menjadi pengikut tarekat
Naqsyabandiyah. Akan tetapi, ada pengikut yang juga bervariasi, antara lain: ingin mendekatkan
tidak berada pada fase tingkat lanjut tetapi sudah diri kepada Allah, kesesuaian olah nalar masya-
mendapatkan pengalaman mistik yang seharus- rakat dengan olah nalar ketarekatan, mencari
nya ada di tingkat atasnya. Sebaliknya, ada juga ketenangan dalam hidup, mempersiapkan diri
pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah menghadapi kematian, adanya kharisma seorang
Piji Dawe Kudus yang sudah ada di tingkat ting- guru dan pencarian rasa aman akan jaminan-
gi tetapi tidak memiliki kesiapan mental sesuai jaminan tertentu dengan sistem taklid, adanya
dengan cita-cita ideal. Sebagai contoh, di satu sisi ikatan tertentu yang dapat melahirkan persatuan
Sri Utami yang relatif muda menjadi pengikut yang sangat kuat yang datang dari komunitas
tarekat tetapi sudah mendapatkan pengalaman tarekat dan memenuhi kebutuhan manusia akan
mistik seperti tenang, khauf, dan raja’. Di sisi fitrah ketuhanan.
lain, Gini yang sudah berada di tingkat paling lan-
Pengalaman mistik yang dirasakan oleh
jut di antara yang lain, tetapi tidak menunjukkan
pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah
tipe sesuai cita-cita ideal misalnya: masyarakat
Piji Kudus diklasifikasikan sesuai dengan ting-
masih menyaksikan Gini terlibat cekcok dengan
katan zikir lathaif yang mereka lakukan yakni:
tetangga yang disebabkan karena persoalan-per-
laţîfah al-qalb, laţîfah ar-rûh, laţîfah as-sirr,
soalan kecil, kesalahpahaman yang dipicu dari
laţîfah khafiy, laţîfah akhfa, laţîfah an-nafsi
gaya komunikasi (Wawancara dengan Sutinah,
dan laţîfah al-qâlib. Berdasarkan tingkatan zikir
22 Oktober 2011).
lathaif tersebut didapat kesimpulan bahwa pada
Hal itu menunjukkan bahwa tingkatan-ting- tingkat laţîfah al-qalb, laţîfah ar-rûh, pengala-
katan zikir lathaif tersebut tidak dapat menjamin man mistik yang dirasakan sama yakni tenang,
dan menjadi tolok ukur seseorang dikatakan se- khauf dan raja’. Pada tingkat laţîfah as-sirr,
bagai sâlik ideal. Sâlik ideal yang dimaksud adalah laţîfah khafiy, laţîfah akhfa, laţîfah an-nafsi¸

Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012 53


Pengalaman Mistik Pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah...

juga menghasilkan pengalaman mistik yang sama Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin.
yakni tenang, khauf, raja’ dan ridha. Sedangkan
Nicholson, Reynold A., t.th. The Mystics of Islam.
pada tingkat yang pungkasan yaitu laţîfah al-
London & Boston: Routledge and Kegan Paul.
qâlib, didapat pengalaman mistik seperti tenang,
mahabbah (cinta), rindu, ridha, gairah, al-anasu, ___. 1970. The Idea of Personality in Sufism. La-
al-khauf, dan raja’. hore: Cambridge University Press.

Ada keterkaitan antara suluk dan pengala- Noer, Kautsar Azhari. 1999. Ibn al-‘Arabi: Wahdat al-
man mistik. Hal ini menyebabkan varian dari WujuddalamPerdebatan.Jakarta:Paramadina.
pengalaman mistik yang dirasakan pengikut An-Naisaburi, Abul Qasim Abdul Karim Hawazin
Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Dawe Al-Qusyairi. 2007. Risalah Qusyairiyah. Dit-
Kudus memiliki persamaan dan perbedaan di erjemahkan oleh Faruq, Umar. Jakarta: Pus-
tiap tingkatan zikir lathaifnya. taka Amani.
Rahman, Fazlur. 1965. Islamic Methodology in
History. Pakistan: Central Institute of Islam-
ic Research.
DAFTAR PUSTAKA
Robertson, Roland. 1993. Agama: dalam Anali-
Muslih, t.th. al-Futûhat al-Rabbâniyyah. Sema-
sia dan Interpretasi Sosiologis. Jakarta: PT
rang: Toha Putra.
Raja Grafindo Persada.
Ali, Sayyid Nur bin. 2000. Al-Tasawwufu Syar’i.
Schimmel, Annemarie. 1986. Dimensi Mistik
Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah.
dalam Islam. Diterjemahkah oleh Damono,
Al-Ghazali, t.th. Ihya’ Ulumiddin. Beirut: Dar al- Sapardi Djoko, dkk. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Haya al-Kutub al-Arabiyah.
Shank, Gary D. 2006. Quality Research. New
Al-Hâtimî, Muhammad Ibn ‘Alî bin Muhammad Jersey: Columbus.
Ibn al-‘Arabî al-Tâ’î. 1980. Fusuş al-Hikâm,
Syukur, Amin. 2007. Zikir Menyembuhkan
Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi.
Kankerku (Cet. II). Bandung: Hikmah PT
___, t.th. Al-Futûhât al-Makiyyah. Beirut: Dar Mizan Publika.
al-Kitab al-‘Arabi.
___. 1999. Menggungat Tasawuf. Jogjakarta:
James, William. 1997. The Varieties of Religious Pustaka Pelajar.
Experience. New York: Touchstone Roskefel-
At-Tirmîzî, ‘Abû ‘Abdillah Muhammad bin ‘Alî
ler Center.
bin al-Hasan bin Bisyr. 1958. Bayân al-Farq
Moleong, Lexy J. 1989. Metodologi Penelitian baina al-Shadr wa-al-Qalb wa al-Fu’âd wa
Kualitatif . Bandung: Remaja Rosdakarya. al-Lûbb. Kairo: Maktabah al-Kulliyat al-
Muhadjir, Noeng. 1990. Metodologi Penelitian Azhariyyah.

54 Jurnal “Analisa” Volume 19 Nomor 01 Januari - Juni 2012