Anda di halaman 1dari 12

Tugas Akhir M2 Aljabar dan Program Linear

A. RINGKASAN MATERI
.I. Ringkasan Materi KB 1, Teori Bilangan
1. Bilangan bulat a membagi habis bilangan bulat b (ditulis a│b) apabila terdapat bilangan bulat
k sehingga b = ak.
2. Istilah-istilah lain yang mempunyai arti sama dengan a│b adalah “a faktor dari b” atau “a
pembagi b” atau “b kelipatan a”.
3. Beberapa sifat terkait keterbagian pada bilangan bulat:
- Jika a│b dan b│c maka a│c.
- Jika a│b dan a(b + c) maka a│b.
- Jika p│q, maka p│qr untuk semua rZ.
- Jika p | q dan p │r, maka p| q + r
4. Suatu bilangan bulat d disebut faktor persekutuan dari a dan b apabila da dan d│b.
5. Bilangan bulat │positif d disebut FPB dari a dan b jika dan hanya jika:
(i). d│a dan d│b
(ii). jika c│a dan c│b maka c │ d.
6. Bilangan bulat a dan b disebut relatif prima (saling prima) jika FPB (a,b) = 1.
7. Untuk setiap bilangan bulat positif a dan b terdapat dengan tunggal bilangan bulat q dan r
sedemikian sehingga b = qa + r dengan 0 r < a.
8. Bilangan-bilangan bulat a1, a2, …, an dengan ai 0 untuk i = 1, 2, …, n mempunyai
kelipatan persekutuan b jika ai│b untuk setiap i.
9. Jika a1, a2, …, an bilangan-bilangan bulat dengan ai 0 untuk i = 1, 2, …, n, maka
kelipatan persekutuan terkecil (KPK) dari bilangan-bilangan tersebut adalah bilangan bulat
positif terkecil di antara kelipatan-kelipatan persekutuan dari a1, a2, …, an.
10. Jika a dan b bilangan-bilangan bulat positif, maka KPK [a,b] X FPB (a,b) = ab.
11. Setiap bilangan asli lebih dari 1, mempunyai paling sedikit 2 faktor yakni 1 dan bilangan itu
sendiri. Jika bilangan asli hanya memiliki 2 faktor tersebut, maka bilangan tersebut
dinamakan bilangan prima.
12. Dua bilangan bulat a dan b dikatakan saling prima (relatif prima) apabila FPB (a,b) = 1.
13. Selanjutnya jika FPB (a1, a2, a3, …, an) = 1 maka a1, a2, a3, …, an dikatakan saling
prima. Jika FPB (ai,aj) = 1 untuk i =1, 2, 3, …, n dengan i j maka a1, a2, a3, …, an saling
prima dua-dua.
14. Setiap bilangan positif yang lebih besar dari 1 dapat dibagi oleh suatu bilangan prima.
15. Jika n suatu bilangan komposit maka n memiliki faktor k dengan 1 < k ≤ √𝑛
16. Jika m bilangan bulat positif maka a dikatakan kongruen dengan b modulo m, ditulis ab
(mod m), jika dan hanya jika m membagi (a-b).
17. Jika ar (mod m) dengan 0 ≤ r m, maka r disebut residu dari a modulo m sedangkan {0, 1,
2, …, (m-1)} disebut himpunan residu modulo m.

II. Ringkasan Materi KB 2, Matriks dan SPL


1. Matriks adalah susunan persegi panjang dari bilangan-bilangan dalam bentuk baris dan
kolom. Bilangan-bilangan tersebut disebut entri atau komponen matriks.
2. Jika matriks A memiliki m baris dan n kolom, maka ukuran (ordo) matriks A adalah mxn.
3. Berdasarkan banyaknya baris dan banyaknya kolom serta entri dari suatu matriks, maka ada
beberapa jenis matriks yaitu matriks persegi, matriks segitiga atas, matriks segitiga bawah,
matriks diagonal, matriks skalar, matriks identitas, matriks nol, matriks baris dan matriks kolom.

1
4. Dua buah matriks dikatakan sama jika ukurannya sama dan komponen- komponen yang
bersesuaian sama.
T
5. Jika matriks A=(aij)mxn maka transpose A, ditulis A , didefinisikan sebagai matriks berukuran
nxm yang baris ke-i dari AT merupakan kolom ke-i dari A dan kolom ke-j dari AT merupakan
baris ke-j dari matriks A.
6. Jika A=(aij)mxn dan B=(bij)mxn maka jumlah A dan B, ditulis A+B, didefinisikan sebagai
A+B=(aij + bij) mxn.
7. Jika A=(aij)mxn dan α suatu bilangan riil maka hasilkali A dan α, ditulis αA, didefinisikan
sebagai αA=(αaij) mxn.
8. Jika A=(aij)mxn dan B=(bij)nxr maka hasilkali A dan B, ditulis dengan AB dan didefinisikan
sebagai matriks berukuran mxr yang komponen baris ke- i kolom ke-j dari AB adalah
𝑛
∑ aik bkj
𝑛𝑘=1
9. Penjumlahan matriks bersifat komutatif dan asosiatif.
10. Perkalian matriks bersifat asosiatif dan distributif terhadap penjumlahan.
11. Hasil kali elementer bertanda dari matriks A adalah hasilkali elementer … dikalikan
dengan 1 atau -1, dengan aturan dikalikan 1 jika (j1 , j2 , … ,jn) permutasi genap dan
dikalikan -1 jika (j1 , j2 , … ,jn) permutasi ganjil
12. Misalkan A matriks persegi. Determinan A, ditulis det(A) atau |A|, didefinisikan sebagai
jumlah semua hasilkali elementer bertanda dari A.
-1 1
13. Jika A matriks yang mempunyai invers maka A = det 𝐴
𝑎𝑑𝑗 𝐴
14. Jika A dan B matriks berukuran nxn, dengan det(A) ≠ 0, det(B) ≠ 0, maka:
a. (A-1)-1 = A.
b. (AB)-1 = B-1A-1.
c. (AT)-1 =(A-1)T.
-1 -1
d. Untuk skalar tak nol k berlaku (kA) = A .
15. Berdasarkan SPL dalam bentuk AX=B, maka SPL dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. SPL homogen, jika B=O.
b. SPL non homogen, jika BO.
16. Berdasarkan solusi yang dimiliki oleh SPL, maka SPL dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. SPL konsisten, jika SPL tersebut mempunyai solusi.
b. SPL tak konsisten, SPL tersebut tidak mempunyai solusi.
17. Jika A matriks berukuran nxn, maka pernyataan berikut ekivalen. a. A dapat dibalik
(mempunyai invers).
b. SPL AX=O hanya memiliki solusi nol.
c. SPL AX=B konsisten untuk setiap matriks B berukuran nx1.
d. SPL AX=B memiliki tepat satu solusi untuk setiap matriks B berukuran nx1.

2
III Ringkasan Materi KB 3 Vektor

Misalkan terdapat dua vektor v dan w, dapat dijumlahkan dengan cara

Penjumlahan dua vektor bersifat komutatif, v + w = w + v

Pengurangan Vektor Pengurangan dari 𝒘 dapat diperoleh secara geometris dengan


metode jajar genjang

Pengurangan vektor dapat ditulis : − 𝒗 = 𝒘 + (−𝒗)


- Sebuah vektor 𝒗 dapat dikalikan dengn sebuah scalar ( k ) ditulis k 𝒗
- Dua vektor di R2 atau 𝐑3 sama jika dan hanya jika ekivalen. Dengan perkataan lain,
berarti bahwa dua vektor ekuivalen jika dan hanya jika komponen yang bersesuaian
sama. Dua vektor 𝒗 = (𝑣1,2,𝑣3) dan 𝒘 = (𝑤1,𝑤2,𝑤3) di R3 ekivalen (sama) jika dan
hanya jika 𝑣1 = 𝑤1, 𝑣2= 𝑤2, 𝑣3 = 𝑤3
- Vektor yang titik pangkalnya bukan di titik asal

- Vektor geometri
Di R2 dan R3 vektor-vektor dapat dinyatakan secara geometris sebagai segmen-
segmen garis berarah; arah panah menentukan arah vektor dan panjang panah
menyatakan besarnya, bisanya dinyatakan dengan huruf kecil tebal misalnya
𝒙,𝒚,𝒛,𝒂,𝒌,𝒗, dan 𝒘;

3
- Jika 𝒖 = (𝑢1, 𝑢2,𝑢3) dan 𝒗 = (𝑣1,𝑣2,𝑣3) merupakan dua vektor di ruang vektor 𝐑𝟑,
maka hasil perkalian silang 𝒖 × 𝒗 adalah didefinisikan sebagai vektor berikut
𝒖 × 𝒗 = (𝑢2𝑣3 − 𝑢3𝑣2,3𝑣1 − 𝑢1𝑣3, 𝑢1𝑣2 − 𝑢2𝑣1)
- Jika 𝒖 dan 𝒗 adalah vektor tak nol di R2 (atau di R3), dan jika θ adalah sudut antara 𝒖
dan 𝒗, maka perkalian titik (bisa juga disebut hasil kali titik atau hasil kali dalam) dari
dan 𝒗, dapat dinotasikan dengan 𝒖.𝒗 dan didefinisikan dengan

- Untuk mencari sudut antara 𝒖 dan 𝒗, yaitu sudut θ, dapat digunakan rumus berikut

bentuk komponen hasil perkalian titik dua vektor : 𝑢.𝑣 = 𝑢1𝑣1 + 𝑢2𝑣2 + 𝑢3𝑣3
- Untuk menentukan sudut antara duaa vektor diakukan dengan rumus

- Jika W himpunan bagian yang tidak kosong dari ruang vektor V, dan operasi tambah
dan kali dengan skalar yang didefinisikan di W sama dengan di V; maka W subruang
dari V jika hanya jika W tertutup terhadap operasi tambah dan perkalian dengan scalar
- Sebuah himpunan tak kosong 𝐒 = {𝒗𝟏,𝒗𝟐,…,𝒗𝒌} bebas linear di ruang vektor V jika
dan hanya jika koefisien yang memenuhi persamaan vektor 𝑘1𝒗𝟏 + 𝑘2𝒗𝟐 + …+ 𝑘𝑟𝒗𝒓 =
0 dipenuhi hanya untuk 𝑘1 = 0, 𝑘2 = 0,…,𝑘𝑟 = 0.
4
Jika 𝒘 adalah vektor pada ruang vektor V, maka 𝒘 merupakan kombinasi linear dari
vektor 𝑣1, 𝑣2, . . . , dalam V jika 𝒘 dapat dinyatakan dalam bentuk 𝒘 = 𝑘1𝑣1 + 𝑘2𝑣2
+· · · +𝑘𝑟𝑣𝑟 dengan 𝑘1, 𝑘2, . . . , 𝑘𝑟 adalah skalar. Skalar ini disebut koefisien
kombinasi linear
- Jika 𝐒 = {𝒘1,𝒘2,...,𝒘𝑟} adalah himpunan vektor yang tidak kosong di ruang vektor V,
maka jika setiap vektor di V dapat dinyatakan sebagai kombinasi linear dari vektor-
vektor pada S, maka dikatakan bahwa vektor-vektor 𝒘1,𝒘2,...,𝒘𝑟 merentang V. Atau
S merentang V
Himpunan = {𝑣1,2,𝑣3,….,𝑣𝑛} disebut basis dari ruang vektor V, jika S bebas linear
dan S merentang V.

IV. Ringkasan Materi KB 4, Grup


1. Operasi biner pada himpunan tak-kosong S adalah aturan yang mengawankan setiap elemen
di S x S dengan tepat satu elemen di S.
2. Misalkan S himpunan tak-kosong.
a. Operasi biner ∗ pada S dikatakan bersifat komutatif jika a * b = b * a, ∀ a, b ∈ S.
b. Operasi biner ∗ pada S dikatakan bersifat asosiatif jika (a * b) * c = a * (b * c), ∀ a, b, c
∈ S.
c. Elemen e ∈ S dikatakan elemen identitas untuk ∗ pada S jika e ∗ a = a ∗ e = a, ∀ a ∈ S.
d. Elemen a ∈ S dikatakan invers b ∈ S untuk ∗ pada S jika a ∗ b = b ∗ a = e

3. Suatu grup < G, ∗> adalah himpunan tak-kosong G bersama- sama dengan operasi biner ∗
pada G sehingga memenuhi aksioma- aksioma berikut:
a. operasi biner ∗ bersifat asosiatif, yaitu ∀ a, b, c ∈ G berlaku (a ∗ b) ∗ c= a ∗ (b ∗ c),
b. terdapat elemen identitas e∈G untuk ∗ pada G, yaitu ∃ e ∈ G ∋ e ∗ x = x ∗ e = x,
∀ x ∈ G,
c. setiap elemen di G mempunyai invers untuk ∗ pada G, yaitu ∀ a ∈ G ∃ a′ ∈ G ∋ a ∗ a
= e = a ∗ a.
4. Suatu grup <G, ∗> disebut komutatif (abelian) jika operasi biner bersifat komutatif.
5. Suatu grup < G, ∗> disebut berhingga jika banyaknya elemen di G berhingga.
6. Pada grup < G, ∗> berlaku hukum kanselasi kiri dan hukum kanselasi kanan.
7. Jika < G, ∗> grup dan a, b di G maka persamaan a ∗ x = b dan y ∗ a = b mempunyai
penyelesaian tunggal di G.
8. Elemen identitas pada grup < G, ∗> adalah tunggal.
9. Invers elemen pada grup < G, ∗>adalah tunggal.
10. Pada tabel grup berhingga, setiap elemen pada grup muncul tepat satu kali di setiap baris
dan setiap kolom tabel.
11. Misalkan G suatu grup dan S himpunan bagian tak-kosong dari G. Jika untuk setiap a, b di
S berlaku ab di S maka dikatakan S tertutup terhadap operasi biner pada grup G. Operasi
biner pada S didefinisikan sebagai operasi yang diinduksi pada S dari G.
12. Misalkan G suatu grup, H himpunan bagian tak-kosong dari G dan bersifat tertutup terhadap
operasi biner pada G.
Jika H merupakan grup terhadap operasi biner pada G maka dikatakan H subgrup G,
ditulis H≤G.

5
Jika G suatu grup maka {e} dan G merupakan subgrup G
Himpunan {e} disebut subgrup trivial sedangkan G disebut subgrup tak-sejati.
Subgrup H disebut subgrup sejati dari G, ditulis H < G, jika H subgrup G dengan H ≠ G
dan H ≠ {e}
13. Misalkan G suatu grup dan H himpunan bagian tak-kosong dari G.
H subgrup . G  a. H bersifat tertutup terhadap operasi biner di G.
b. Setiap elemen di H mempunyai invers.
14. Pada grup < G, ∗> dengan elemen identitas e dan a ∈ G berlaku
an= a ∗ a ∗ a ∗ … ∗ a sebanyak n faktor dan e = a0 .
15. Jika G suatu grup dan a ∈ G maka H = {an n ⋳ ℤ} merupakan subgroup terkecil dari G
yang memuat a.
Subgrup H = {an| n ∈ ℤ } disebut subgrup siklik dari G, ditulis H = < a >.

Elemen a disebut generator H.


16. Jika G grup dan G = {bn |n⋳ℤ} untuk suatu b ∈ G maka G disebut grup siklik, ditulis G
= < b >. Elemen b disebut generator G.
17. Misalkan G suatu grup dan a ∈ G. Jika subgrup siklik < a > dari G ini berhingga,
maka order elemen a didefinisikan sebagai order dari subgrup siklik ini, yaitu < a > .
Jika tidak, maka elemen a dikatakan berorder tak- berhingga.

V. Ringkasan Materi KB 5, Program Linier


1. Untuk mendapatkan penyelesaian pertidaksamaan linear satu variabel dilakukan
prosedur sebagai berikut.
a. Tambahkan kedua ruas dengan bilangan yang sama.
b. Kurangkan kedua ruas dengan bilangan yang sama.
c. Kalikan atau bagi kedua ruas dengan bilangan positif yang sama.
d. Jika mengalikan atau membagi kedua ruas dengan bilangan negatif yang sama
maka tanda pertidaksamaannya harus dibalik.
2. Menyelesaikan pertidaksamaan linear dua variabel dengan cara sebagai berikut:
a. Ubah tanda pertidaksamaan menjadi tanda sama dengan. Gambar garis yang
persamaannya ax + by = c
(putus-putus jika tanda < atau >, tidak putus-putus jika tandanya ≤ atau ≥ ).
b. Ambil titik uji P yang tidak berada pada garis l dan cek apakah memenuhi
pertidaksamaan. Jika memenuhi pertidaksamaan maka himpunan
penyelesaiannya adalah himpunan titik-titik pada paruh bidang (half- plane)
yang memuat P. Jika tidak memenuhi pertidaksamaan maka himpunan
penyelesaiannya adalah himpunan titik-titik pada paruh bidang (half-plane) di sisi
lain garis.
c. Arsir daerah yang tidak memenuhi pertidaksamaan.
3. Himpunan penyelesaiannya dalam gambar berupa daerah sehingga disebut dengan
daerah penyelesaian. Langkah-langkah untuk menentukan penyelesaian dari sistem
pertidaksamaan linear dua variabel adalah sebagai berikut.
a. Gambar daerah penyelesaian pertidaksamaan yang pertama
b. Gambar daerah penyelesaian pertidaksamaan yang kedua, dst

6
c. Himpunan penyelesaian (berupa daerah penyelesaian) system pertidaksamaan
linear dua variabelnya adalah perpotongan daerah penyelesaian pada langkah a
dan b.
4. Langkah-langkah untuk membuat model matematika adalah sebagai berikut:
a. Menentukan tipe masalah (maksimum atau minimum).
b. Mendefinisikan variabel keputusan.
c. Merumuskan fungsi tujuan.
d. Merumuskan fungsi kendala.
e. Menentukan persyaratan nonnegatif.
5. Bentuk baku model matematika suatu program linear untuk masalah
maksimum adalah sebagai berikut.
Maks 𝑍 = 𝑐1 𝑥1 + 𝑐2 𝑥2 + 𝑐3 𝑥3 + ⋯ 𝑐𝑛 𝑥𝑛
𝑍 = 𝑐11 𝑥1 + 𝑐12 𝑥2 + ⋯ 𝑐1𝑛 𝑥𝑛 ≤ 𝑏1
𝑍 = 𝑐21 𝑥2 + 𝑐22 𝑥2 + ⋯ 𝑐2𝑛 𝑥𝑛 ≤ 𝑏2
Harus memenuhi (h.m)
𝑎𝑚1 𝑥1 + 𝑎𝑚2 𝑥2 + … 𝑎1𝑛 𝑥𝑛 ≤ 𝑏𝑚
𝑥1 , 𝑥2 , … ≥ 0

6. Bentuk baku model matematika suatu program linear untuk masalah


minimum adalah sebagai berikut.

Maks 𝑍 = 𝑐1 𝑥1 + 𝑐2 𝑥2 + 𝑐3 𝑥3 + ⋯ 𝑐𝑛 𝑥𝑛
𝑍 = 𝑐11 𝑥1 + 𝑐12 𝑥2 + ⋯ 𝑐1𝑛 𝑥𝑛 ≥ 𝑏1
𝑍 = 𝑐21 𝑥2 + 𝑐22 𝑥2 + ⋯ 𝑐2𝑛 𝑥𝑛 ≥ 𝑏2
Harus memenuhi (h.m)
𝑎𝑚1 𝑥1 + 𝑎𝑚2 𝑥2 + … 𝑎1𝑛 𝑥𝑛 ≥ 𝑏𝑚
𝑥1 , 𝑥2 , … ≥ 0

7. Metode grafik ini dibedakan 2 yaitu metode titik ekstrim (titik pojok) dan metode
garis selidik.
8. Teorema Fundamental Program Linear
a. Jika nilai optimal fungsi tujuan masalah program linear ada maka nilai
tersebut dihasilkan oleh satu atau lebih titik pojok pada daerah
penyelesaian fisibel.
b. Jika masalah program linear mempunyai penyelesaian tidak tunggal,
sedikitnya satu dari penyelesaiannya berada pada titik pojok daerah
penyelesaian fisibel.
9. Teorema Eksistensi Penyelesaian Masalah Program Linear

7
a. Jika daerah penyelesaian fisibel masalah program linear tertutup maka nilai
maksimum dan nilai minium fungsi tujuan ada.
b. Jika daerah penyelesaian fisibel masalah program linear tidak tertutup dan
koefisien fungsi tujuan bernilai positif maka nilai minimum fungsi tujuan ada
tetapi nilai maksimumnya tidak ada.
c. Jika daerah penyelesaian fisibel masalah program linear kosong (artinya tidak
ada titik yang memenuhi semua fungsi kendala) maka nilai maksimum dan nilai
minimum fungsi tujuan tidak ada.
10. Langkah menyelesaikan model matematika dengan metode grafik (metode titik
ekstrim)
a. Menggambar garis yang persamaannya ditentukan dari fungsi kendala. b.
Mengarsir daerah yang tidak memenuhi fungsi kendala
b. Menentukan Daerah Penyelesaian Fisibel (DPF)
c. Membandingkan nilai Z dari titik ekstrim untuk menentukan penyelesaian
optimal.

11. Langkah menyelesaikan model matematika dengan metode grafik (metode garis selidik)
a. Menggambar DPF.

b. Menggambar garis yang persamaannya dari fungsi tujuan ax+by=0

c. Menggambar garis-garis yang sejajar dengan ax+by=0 dan melalui titik ekstrim.
Garis sejajar ini disebut garis selidik.
d. Untuk masalah maksimum maka titik ekstrim terakhir yang dilalui garis

selidik berkaitan dengan penyelesaian optimal. Sedangkan untuk masalah


minimum, titik ekstrim pertama yang dilalui garis selidik berkaitan dengan
penyelesaian optimal.
12. Kasus program linear yaitu penyelesaian tidak tunggal (multiple optimal solution),
ketidaklayakan (infeasible solution), kelebihan pembatas (redundant constraint), dan
penyelesaian tidak terbatas (unbounded solution).
13. Langkah-langkah menyelesaikan masalah program linear dengan metode simpleks adalah
sebagai berikut.
a. Buat model matematika (jika masalah dalam bentuk masalah kontekstual).
b. Tambahkan variabel slack atau variabel surplus pada setiap
pertidaksamaan fungsi kendala. Jika pertidaksamaannya “ ≤ ” maka tambahkan
variabel slack agar menjadi persamaan. Jika pertidaksamaannya “≥
” maka kurangkan variabel surplus agar menjadi persamaan. Variabel slack dan

8
variabel surplus merupakan variabel nonnegatif yang dimunculkan di ruas kiri
pertidaksamaan agar menjadi
persamaan.
c. Diperoleh model matematika baru.
d. Susun model matematika baru tsb ke dalam tabel simpleks (sebagai program
awal).
e. Pilih kolom kunci yaitu kolom yang mempunyai nilai 𝑍𝑗 − 𝑐𝑗 terendah
(𝑍𝑘 − 𝑐𝑘 < 0 | 𝑍𝑘 − 𝑐𝑘 | = maks {|𝑍𝑗 − 𝑐𝑗 | 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑗 ∋ 𝑍𝑗 − 𝑐𝑗 > 0})
𝑎𝑖0
f. Pilih baris kunci yaitu yang bernilai terendah dengan 𝑎𝑗𝑘 ≥ 0 dan k
𝑎𝑗𝑙

adalah kolom kuncinya


𝑎𝑖0
( {𝑎𝑗𝑘 ≥ 0}) dan k adalah kolom kuncinya
𝑎𝑗𝑙

g. Tentukan elemen kuncinya yaitu perpotongan kolom kunci dengan baris


kunci, disimbolkan elemen kunci 𝑎𝑟𝑘 , r = baris kunci, k = kolom kunci

h. Lakukan transformasi baris kunci dengan cara membagi elemen pada


𝑎𝑟𝑗
baris kunci dengan elemen kunci , 𝑗 = 0,1,2. . 𝑛
𝑎𝑓𝑘

i. Lakukan transformasi baris-baris yang lain yaitu baris baru = baris lama

– bilangan pada kolom kunci yang bersesuaian dengan baris lama (baris
yang akanm ditransformasikan) dikalikan nilai baru baris kunci.

𝑎𝑟𝑗
(𝑎𝑖𝑗− ( )) , 𝑖 ≠ 𝑟
𝑎𝑓𝑘

j. Buat tabel simpleks baru berdasarkan langkah e s.d i


k. Bila tabel baru/perbaikan belum optimal (∋)Zj − Cj < 0
l. Lakukan terus-menerus tahap e s.d. i sehingga menemukan m ∀Zj − Cj ≥ 0
m. Program optimal.

9
14. Dualitas

Sehingga bentuk dualnya menjadi

B. Deskripsikan/uraikan kemajuan yang Anda peroleh selama daring:


1. Materi yang sudah Anda pahami/kuasai.
Materi yang sudah saya pahami yaitu materi yang sering saya temui pada
pembelajaran di sekolah di antaranya matriks, sistem persamaan dan
pertidaksamaan linear dan vektor

10
2. Materi yang belum dapat Anda pahami/kuasa
Materi yang belum dapat dipahami/dikuasai adalah materi yang saya pelajari saat
kuliah, dan tidak saya pelajari dan temui pada pembelajaran di sekolah diantaranya
grup, metode simplek, dan dualitas sehingga saya kesulitan dalam mempelajari
materi terebut.
C. Materi esensial (berdasarkan kurikulum 2013) apa saja yang tidak ada dalam Modul 2.
Jawab:
Materi esensial (berdasarkan kurikulum 2013) yaitu materi yang terdapat dalam KI KD yang
diberikan dari sekolah untuk semua tingkatan (X, XI, XI), materinya adalah sebagai berikut:
sistem persamaan linear, program linear, matriks, vektor, permutasi dan kombinasi.
D. Materi apa saja yang tidak esensial (berdasarkan kurikulum 2013) namun ada dalam Modul 2.
Uraikan materi yang menurut Anda tidak esensial tetapi dijelaskan dalam bagian ini
Jawab:
Teori bilangan kekongruenan bilangan, Operasi biner, grup, subgroup dan grup siklik, Metode
simplek
E. Kemajuan dalam menyelesaikan Tugas Kegiatan Belajar
1. Soal uraian yang dapat Anda selesaikan sendiri tanpa bantuan instruktur
Jawab:
Soal-soal tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Tentukan KPK dan FPB dari 84, 90
2. Tuliskan bentuk kanonik dari 540 dan 638
3. Misalkan 𝒖 = (−3,2,1), 𝒗 = (4,7,−3), dan 𝒘 = (5,−2,8). Carilah vektor 𝒙 yang memenuhi
5𝒖 − 2𝒗 = 2(𝒘 − 5𝒙).
2. Soal uraian yang dapat Anda selesaikan setelah mendapat bantuan instruktur.

3. Soal uraian yang mana saja yang masih belum dapat Anda selesaikan dengan baik.
11
Bentuk soal yang belum dapat terselesaikan dengan baik diantaranya sebagai
berikut:

12