Anda di halaman 1dari 3

Sinergi Masyarakat untuk Lahan Kritis yang Semakin Miris

Oleh : Irawan Sulaksono, Akbar Wahyu, Ivan Harsa, Titus Windi.

Pada tahun 2014, menurut Badan Pusat Statistik, Indonesia memiliki tanah seluas 1.914
juta m2. Tanah yang luas tersebut kemudian terbagi menjadi beberapa bagian untuk dimanfaatkan
sebagai aset yang penting bagi negara. Terlebih lagi, kondisi alam Indonesia memiliki lahan yang
subur dan sumber daya alam sedemikian kaya, hal itu semakin menegaskan bahwa tanah atau lahan
sebagai komponen penting bagi pertumbuhan bangsa dari seluruh sektor. Namun, proses
perubahan fisik dan kimia di permukaan dataran Indonesia cenderung intensif. Proses perubahan
yang intensif tersebut terjadi salah satunya dikarenakan aktivitas manusia yang mempengaruhi.
Akibatnya lahan yang seharusnya dimanfaatkan itu tidak dapat digunakan dengan baik atau dapat
disebut dengan lahan kritis. Menurut Poerwowidodo dalam bukunya yang berjudul Telaah
Kesuburan Tanah, memandang bahwa lahan kritis adalah suatu keadaan lahan yang terbuka atau
tertutupi semak belukar, sebagai akibat dari solum tanah yang tipis dengan batuan bermunculan
dipermukaan tanah akibat tererosi berat dan produktivitasnya rendah.

Menurut BPS pada tahun 2013 luas lahan kritis di Indonesia mencapai 24,2 hektar. Angka
tersebut akhirnya dapat dikurangi selama periode kepemimpinan Menteri Siti Nurbaya yang dapat
memangkas lahan kritis hingga mencapai hampir 50% dari tahun 2013. Buktinya, Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada tahun 2018 luas lahan kritis di Indonesia saat ini
mencapai 14 juta hektar (ha). Namun sayang, kemampuan Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan (KLHK) untuk melakukan rehabilitasi lahan masih terlampau rendah. Rendahnya
kemampuan itu salah satunya dikarenakan adanya keterbatasan dana dan wilayah lahan kritis yang
menyebar. Bahkan Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung
(PDASHL) Ida Bagus Putera Prathama menyatakan kemampuan pemerintah untuk merehabilitasi
lahan hanya mencapai 500.700 ha. Namun, hal itu bukan sepenuhnya merupakan kesalahan
pemerintah karena alam ini juga memiliki karakteristik tersendiri yang perlu diperhatikan.
Menurunnya angka lahan kritis tersebut juga diakibatkan oleh kriteria yang sudah disesuaikan
sehingga lahan yang seharusnya tidak termasuk lahan kritis tidak dimasukkan ke dalam daftar.

Ada beberapa faktor penyebab yang membuat lahan kritis tersebut sulit direhabilitasi.
Terdapat faktor alam dan faktor non alam yang memperngaruhinya. Faktor alam yang
mempengaruhi, antara lain kekeringan yang membuat tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik
kerena tidak mendapat pasokan air yang cukup. Genangan air yang terus menerus juga dapat
menghilangkan humus. Selain itu, erosi tanah juga dapat membuat nutrisi yang berada di lapisan
atas tanah akan hilang. Beberapa karakteristik lahan juga memiliki kandungan humus dan nutrisi
yang sedikit sehingga hal itu dapat membuat lahan semakin kritis. Selain faktor alam terdapat pula
faktor non-alam yang mempengaruhi antara lain alih fungsi lahan, khususnya daerah aliran sungai
yang terkadang diubah menjadi pemukiman atau perusahaan. Kesalahan dalam pengelolaan lahan
yaitu mengolah lahan dengan sistem monokultur akan membuat nutrisi tanah cepat habis. Hal itu
terjadi karena petani kurang tidak memahami prinsip-prinsip konservasi lahan dengan baik.
Pencemaran bahan kimia dapat membuat lahan semakin kritis karena membuat kesuburan tanah
akan terganggu. Adanya material yang tidak dapat terurai oleh tanah disebabkan oleh kebiasaan
membuang sampah sembarangan akan membuat material non organik sulit diurai oleh dekomposer
pada tanah.

Besar kecilnya faktor pengaruh tersebut akan menimbulkan dampak terhadap lahan yang
telah kritis. Dampak yang ditimbulkan antara lain; menurunnya produktivitas lahan karena lahan
yang seharusnya dapat digunakan tersebut tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
Kekritisan lahan juga dapat meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologis, seperti banjir,
longsor hingga puting beliung. Hal itu terjadi dikarenakan tanah yang tidak dapat ditanami oleh
tumbuhan di atasnya. Ketersediaan air bersih dapat menurun karena tidak adanya daerah resapan
air di dalam tanah. Beberapa dampak dalam skala kecil tersebut akan terasa jika terakumulasi
sehingga dapat menjadi bencana yang besar. Adanya lahan kritis akan semakin merugikan negara.
Apalagi negara Indonesia merupakan negara agraris dimana tanah/lahan menjadi komponen
penting dalam menjalankan roda kehidupan masyarakat.

Dalam kasus lahan kritis di Indonesia yang telah menyebabkan beberapa kerugian bagi
negara dan masyarakat, perlu diadakan strategi untuk mengurangi kekritisan suatu lahan. Strategi
pengendalian tersebut dapat berasal dari pemerintah maupun masyarakat sebagai objek yang dekat
dengan lahan kritis. Menurut kelompok kami, suatu lahan kritis dapat dikurangi dengan cara
merevitalisasi daerah aliran sungai (DAS) prioritas, danau prioritas, dan bendungan prioritas
sebagai penegakan UU no 41 tahun 1991 tentang kehutanan. Selain itu masyarakat juga dapat
menanami lahan kritis tersebut dengan berbagai jenis tanaman fast growing. Disamping itu sebagai
tindak lanjut, pemerintah juga dapat mendukung pembuatan taman bibit rakyat pada lahan kritis
sehingga tanah tersebut dapat diolah. Diatas itu semua, masyarakat Indonesia perlu memperbaiki
kesadaran diri dan mental agar membiasakan diri untuk membuang sampah pada tempatnya
sehingga tanah dapat melakukan perannya tanpa gangguan sampah non organic yang sulit diurai.

Sumber :

CNN Indonesia, ditulis oleh Mesha Mediani, dipublikasikan pada hari Jumat, 06 Juli 2018
00:35 WIB

Poerwowidodo (1990), Telaah Kesuburan Tanah Bamdung: Angkasa

https://sumatra.bisnis.com/read/20180706/452/813393/konservasi-lingkungan-klhk-revisi-luas-
lahan-kritis

https://www.bps.go.id/dynamictable/2017/02/08%2000:00:00/1231/luas-dan-penyebaran-lahan-
kritis-menurut-provinsi-tahun-2005-2013-ribu-ha-.html

Kelompok :

1. AKBAR WAHYU ILLAHI 18/430107/KT/08796

2. IVAN HARSA 18/430140/KT/08829

3. IRAWAN SULAKSONO 18/430135/KT/08824

4. TITUS WINDI P. 18/430178/KT/08867