Anda di halaman 1dari 13

PENGERTIAN ETIKA DAN KARAKTER

1
ETIKA DAN KARAKTER
PENDIDIK PAUD
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI,
NONFORMAL DAN INFORMAL
DIREKTORAT PEMBINAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, NONFORMAL DAN INFORMAL
2012
2
KATA PENGANTAR
“Guru biasa memberitahu. Guru baik menjelaskan. Guru ulung memperagakan. Guru hebat mengilhami”
(William Arthur Ward)
Guru dan tenaga kependidikan lainnya merupakan komponen utama dalam pelaksanaan dan proses pendidikan.
Perubahan sistem pelaksanaan pendidikan dan adanya tantangan-tantangan baik yang bersifat lokal, regional,
nasional, dan internasional menghendaki adanya kriteria guru yang memiliki kualitas yang sesuai dengan kebutuhan
dalam memfasilitasi peserta didik mengembangkan potensi yang dimilikinya. Untuk dapat memiliki kualitas tersebut,
guru harus melewati proses pendidikan yang bermutu dan memenuhi standar dan juga berusaha mengembangkan
diri dengan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan akademik dan kemampuan berkepribadian.
Predikat guru memerlukan persyaratan pendidikan tertentu sebagai sebuah pekerjaan yang memiliki nilai-nilai
edukatif-profesional, berwawasan luas dan memiliki tanggung jawab dalam kiprah kependidikannya. Dengan
semakin berkembangnnya zaman menuntut profesi guru yang handal,cerdas dan berkepribadian yang sejalan
dengan kebutuhan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tuntutan ini sangat beralasan dalam
menempetkan guru, khususnya guru atau pendidik PAUD, sebagai suatu profesi dengan memberikan kedudukan
sosial, proteksi jabatan, penghasilan, dan status hukum yang lebih dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.
Buku ini disiapkan untuk membantu para pendidik PAUD agar secara konseptual memahami hal-hal yang berkaitan
dengan etika serta karakter yang sesuai bagi pendidik PAUD. Materi dalam buku disusun secara praktis terkait
dengan berbagai teori maupun ilustrasi mengenai etika dan
3
karakter serta soal-soal latihan yang dapat membantu para pendidik PAUD mengasah pemahaman atas materi yang
telah dipaparkan.
Harapan kami dengan adanya uraian singkat tentang etika dan karakter bagi pendidik PAUD ini adalah agar anak-
anak usia dini dapat berkembang dengan optimal dan semestinya seperti yang dikemukakan dalam berbagai
undang-undang terkait dengan hak anak dan perlindungannya.
Tim Penulis
4
DAFTAR ISI
Halaman Judul ……………………………………………………………… i
Kata Pengantar …………………………………………………………… ii
Daftar Isi …………………………………………………………………… iii
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang ……………………………………………………… 6
B. Tujuan ……………………………………………………………….. 8
C. Ruang Lingkup dan Waktu ……………………………………….. 8
D. Petunjuk Belajar ……………………………………………………. 9
Bab II Rencana Penyajian Materi
A. Kompetensi ………………………………………………………… 10
B. Indikator ……………………………………………………………… 10
C. Materi/Submateri …………………………………………………… 10
D. Metode Pembelajaran ……………………………………………… 11
E. Penilaian ………………………………………………………………11
F. Alokasi Waktu ……………………………………………………… 11
G. Sumber Belajar ……………………………………………………… 11
H. Media Pembelajaran ……………………………………………… 11
Bab III Materi
A. Uraian Materi
1. Etika
a. Pengertian Etika …………………………………………… 12
b. Manfaat Etika bagi Pendidik ……………………………. 14
5
c. Kode Etik dan Etika Pendidik …………………………… 16
2. Karakter
a. Pengertian Karakter ……………………………………… 22
b. Faktor-Faktor Yang Membentuk Karakter ……………… 23
c. Karakter dan Citra Diri Pendidik ………………………… 27
B. Rangkuman Materi ………………………………………………… 40
C. Evaluasi Soal Latihan ……………………………………………… 41
Bab IV Penutup …………………………………………………………… 44
Lampiran
Kunci Jawaban ……………………………………………………………. 46
Daftar Pustaka ……………………………………………………………… 47
6
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan salah satu elemen primer dalam kehidupan manusia di masa modern. Pendidikan pada
dasarnya adalah usaha memanusiakan manusia. Paulo Freire, seperti yang dikutip Yunus (1), melihat pendidikan
sebagai salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi manusia menjadi manusia agar terhindar dari berbagai
bentuk penindasan, kebodohan, sampai ketertinggalan. Pendidikan, sebagai suatu usaha yang disengaja dan
sistematis, tidak semata-mata terbatas sekat ruang sekolah formal namun juga nonformal dan dimulai sejak usia
dini. Semakin tingginya kesadaran orang tua dan pemerhati pendidikan mendorong terbentuknya suatu wadah
pendidikan anak usia dini (PAUD) yang bergerak hingga ke masyarakat akar rumput.
Untuk suatu upaya pendidikan berjalan dengan baik diperlukan beberapa elemen, tidak terkecuali dalam pendidikan
anak usia dini (PAUD) dimana salah satu elemen yang penting keberadaannya adalah pendidik. Pendidik, menurut
Zahara Idris dan Lisma Jamal, adalah orang dewasa yang bertanggungjawab memberikan bimbingan kepada peserta
didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan (mampu berdiri sendiri)
memenuhi tugasnya sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu yang mandiri, dan makhluk sosial. Peran mereka
terutama nampak dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran di sekolah, yaitu mentransformasikan kebudayaan
secara terorganisasi demi perkembangan peserta didik (siswa). Khususnya dalam pendidikan anak usia dini, pendidik
sangat memegang peran sentral sebagai role model peserta didiknya. Mengutip Diaz, pendidik sebagai model harus
dapat menunjukkan:
– Guru sebagai ahli di bidangnya
7
– Guru sebagai contoh pembentukan moral
– Guru sebagai orang yang memiliki kepedulian dan melakukan tindakan
– Guru sebagai figur pemimpin yang memiliki otoritas
– Guru sebagai fasilitator yang selalu siap membantu siswanya
– Guru sebagai delegator
Sebagai seorang pendidik, guru, termasuk guru PAUD, semestinya memahami hakikat pendidik. T. Raka Joni (dalam
Idris dan Jamal) menyebutkan beberapa poin terkait hakikat pendidik :
1) Pendidik sebagai agen pembaharuan, artinya ide-ide pembaharuan itu dapat disebarluaskan oleh pendidik dan
lebih jauh lagi pendidik adalah sumber dari ide-ide pembaharuan
2) Pendidik adalah pemimpin dan pendukung nilai-nilai masyarakat, maksudnya pendidik itu harus lebih dahulu
menjadi orang yang menghayati dan mengamalkan nilai-nilai masyarakat. Lebih jauh lagi, pendidik diharapkan dapat
melanjutkan nilai-nilai tersebut kepada subjek didiknya, dan masyarakat pada umumnya.
3) Pendidik sebagai fasilitator memungkinkan terciptanya kondisi yang baik bagi peserta didik untuk belajar.
Misalnya dalam proses belajar-mengajar peserta didiklah yang aktif belajar, peranan pendidik menyediakan sumber,
bahan, dan media yang diperlukan dalam kegiatan tersebut.
4) Pendidik bertanggung jawab atas tercapainya hasil belajar peserta didik.
5) Pendidik dituntut untuk menjadi contoh dalam pengelolaan proses belajar-mengajar khususnya bagi calon guru
yang menjadi peserta didik.
6) Pendidik bertanggung jawab secara profesional untuk terus-menerus meningkatkan kemampuannya. Ini berarti
bahwa pendidik adalah pribadi yang selalu harus belajar.
8
7) Pendidik menjunjung tinggi kode etik profesional. Bahwa guru sebagai jabatan profesional tentunya mempunyai
kode etik yang harus dipedomani dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.
Terkait dengan poin-poin di atas maka dapat kita bayangkan betapa guru atau pendidik menjadi tokoh yang memiliki
peran penting terutama dalam pendidikan anak usia dini dimana peran orang dewasa sebagai role model masih
sangat dibutuhkan. Pendidikan anak usia dini perlu penanganan yang khas dibandingkan dengan pendidikan lainnya
karena anak usia dini memiliki karakteristik perkembangan dan cara belajar yang berbeda dengan anak-anak yang
usianya lebih tua, sehingga memerlukan bimbingan yang khas pula. Untuk itu, seorang pendidik PAUD penting untuk
memiliki pengetahuan dan kapasitas etika maupun karakter yang positif sehingga dalam melaksanakan tugas, para
pendidik dapat memberikan contoh positif bagi anak didiknya. Hal ini tentunya akan menghasilkan peserta didik
yang potensinya berkembang secara optimal serta beretika dan berkarakter positif yang siap bersosialisasi dengan
anggota masyarakat lain dalam interaksinya sehari-hari serta.
B. TUJUAN
Materi dan modul ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan bagi pendidik PAUD terkait konsep etika dan
karakter sehingga nantinya pendidik PAUD dapat mengaplikasikan dalam proses pembelajaran yang dilakukan.
C. RUANG LINGKUP DAN WAKTU
Ruang lingkup materi mencakup etika dan karakter yang dimiliki oleh pendidik PAUD yang diberikan dalam waktu 4
JP (180 menit).
9
D. PETUNJUK BELAJAR
Peserta diklat membaca modul, melakukan diskusi dan tanya-jawab, serta mengerjakan tugas-tugas yang telah
disiapkan
10
BAB II
RENCANA PENYAJIAN MATERI
A. KOMPETENSI
Kompetensi yang diharapkan dari materi ini adalah peserta didik dapat memahami etika dan karakter pendidik
PAUD.
B. INDIKATOR
1. Peserta dapat menjelaskan konsep etika dan etika pendidik PAUD
2. Peserta dapat menjelaskan pentingnya etika pendidik dalam proses pembelajaran di PAUD
3. Peserta dapat menjelaskan konsep karakter dan karakter pendidik PAUD
4. Peserta dapat mengaplikasikan etika dan karakter dalam pembelajaran di PAUD.
C. MATERI/SUBMATERI
Materi yang akan dibahas dalam modul ini adalah :
1) Etika
a. Definisi etika
b. Manfaat Etika Bagi Pendidik PAUD
c. Kode Etik dan Etika Pendidik PAUD
2) Karakter
a. Definisi karakter
b. Faktor-Faktor Yang Membentuk Karakter
c. Karakter dan Citra Diri Pendidik
11
D. METODE PEMBELAJARAN
Metode pembelajaran yang akan dilakukan dalam penyajian materi ini adalah:
1) Ceramah
2) Tanya jawab
3) Diskusi kelompok
4) Aktivitas lain (menonton film, analisis kasus dari media massa)
E. PENILAIAN
Penilaian akan dilakukan melalui evaluasi pre-test dan Post test yang berbentuk soal pilihan berganda (multiple
choice)
F. ALOKASI WAKTU
4 jam pelajaran atau 180 menit
G. SUMBER BELAJAR
Modul, pustaka acuan, film, contoh kasus
H. MEDIA PEMBELAJARAN
Media pembelajaran yang digunakan dalam penyajian materi ini adalah :
1) Modul
2) Slide dan OHP
3) Film
4) Kliping artikel media massa (surat kabar)
12
BAB III
MATERI
A. URAIAN MATERI
1. ETIKA
a. Pengertian
Etika berasal dari bahasa Yunani, “ethos”, yang berarti “timbul dari kebiasaan”. Etika adalah cabang utama filsafat
yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standard dan penilaian moral. Etika berhubungan
erat dengan konsep individu atau kelompok sebagai alat penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu yang
telah dilakukan. Etika biasanya sering diasumsikan bersinonim atau memiliki kesamaan dengan moral. Moral atau
moralitas biasanya dikaitkan dengan sistem nilai tentang bagaimana kita harus hidup secara baik sebagai manusia.
Sistem nilai ini terkandung dalam ajaran berbentuk petuah-petuah, nasehat, peraturan, perintah, dan semacamnya
yang diwariskan secara turun-temurun melalui agama atau kebudayaan tertentu tentang bagaimana manusia harus
hidup secara baik agar ia benar-benar menjadi manusia yang baik.
Berbeda dengan moralitas, etika perlu dipahami sebagai sebuah cabang filsafat yang bicara mengenai nilai dan
norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya. Nilai adalah sesuatu yang berguna bagi seseorang
atau kelompok dan karena itu orang atau kelompok tersebut selalu berusaha untuk mencapainya karena
pencapaiannya sangat memberi makna kepada diri serta seluruh hidupnya. Norma adalah aturan atau kaidah dari
perilaku dan tindakan manusia.
13
14
b. Manfaat Etika Bagi Pendidik Menurut Suseno, ada empat alasan mengapa manusia perlu beretika: Pertama, kita
hidup dalam masyarakat yang semakin pluralistik. Perlu kesatuan tatanan normatif. Kedua, kita hidup dalam masa
transformasi masyarakat yang sangat cepat. Dalam transformasi ekonomi, sosial, intelektual, dan budaya itu nilai
budaya tradisional tertantang. Perubahan-perubahan budaya terjadi begitu cepat akibat modernisasi. Dalam situasi
seperti ini, etika membantu kita agar jangan kehilangan orientasi, dapat membedakan antara yang hakiki dan apa
yang boleh berubah dan dengan demikian tetap sanggup untuk mengambil sikap yang dapat
dipertanggungjawabkan. Ketiga, dengan etika kita dapat menghadapi ideologi-ideologi baru dengan kritis dan
objektif untuk membentuk penilaian sendiri, agar kita tidak mudah terpancing. Etika juga membantu agar kita jangan
naif atau ekstrem, tidak cepat bereaksi, terhadap suatu pandangan baru, menolak nilai-nilai hanya karena baru dan
belum biasa. Keempat, etika juga perlu oleh agama untuk memantabkan pemeluknya dalam keyakinan dan
keimanan. Dengan memperhatikan manfaat etika, diharapkan peran pendidik di manapun, dalam situasi apapun
keberadaannya tetaplah sebagai pembimbing, pembina perilaku, dan sekaligus model berperilaku manusia beretika.
Karena ini bagian dari tanggung jawab sebagai pendidik. Pendidik yang sukses adalah guru yang tidak hanya kaya
secara materi namun juga kaya dalam nilai-nilai moral dan spiritualnya. Pendidik yang cerdas mampu
memberdayakan
15
segala kualitas positif dalam dirinya berhak untuk mengukirkan nasibnya sesuai dengan yang diimpikan. Sebutir telur
elang dieramkan dalam sarang ayam hutan. Telur menetas, dan elang kecil tumbuh dan menganggap dirinya adalah
anak ayam hutan. Anak elang berperilaku sebagaimana anak ayam hutan. Ia mengais-ngais tanah untuk mencari
makan. Ia berkotek dan berkokok, ia tidak pernah terbang lebih dari beberapa meter, karena seperti itulah tabiat
ayam hutan. Suatu hari ia melihat burung elang sedang terbang dengan anggun dan agung di langit bebas. Ia
bertanya kepada induk ayam hutan: ’Burung apakah yang cantik itu?’ Induk Ayam hutan menjawab: “Itu adalah
seekor elang, ia burung yang terkenal, tetapi kamu tidak bisa terbang seperti dia karena kamu hanyalah seekor ayam
hutan”. Anak elang percaya saja dengan cerita itu karena dianggapnya benar. Ia jalani hidupnya, dan mati sebagai
seekor ayam hutan, dan kehilangan warisannya sebagai seekor elang, karena tidak mempunyai visi sendiri. Alangkah
sia-sia. Ia dilahirkan untuk menang tetapi ia dikondisikan untuk kalah. (Qomari Anwar, diunduh dari
hadipranaabadi.weebly.com)
16
Bayangkan… andai induk ayam hutan adalah guru, dan sang elang kecil adalah siswa
c. Kode Etik dan Etika Pendidik PAUD Kode etik merupakan bagian dari perilaku dan pengetahuan yang sangat
penting untuk diketahui, dipahami, dan diterapkan oleh pendidik. Kode etik suatu profesi adalah norma-norma yang
harus diindahkan oleh setiap anggota profesi di dalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya di
masyarakat. Sehingga dengan kata lain, kode etik profesi memberi panduan pada individu-individu dengan profesi
terkait, dalam hal ini pendidik, mengenai apa yang boleh mereka laksanakan atau larangan yang sebaiknya mereka
hindari. Seorang guru akan mengetahui tentang aturan-aturan yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam
melaksanakan profesinya sebagai seorang guru.
Tujuan merumuskan kode etik dalam suatu profesi adalah untuk kepentingan anggota dan kepentingan organisasi
profesi itu sendiri. Keberadaan kode etik profesi pendidik bertujuan untuk :
1) menjunjung tinggi martabat profesi
2) menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota
3) meningkatkan pengabdian para anggota profesi
4) meningkatkan mutu profesi
5) meningkatkan mutu organisasi profesi
17
Kode etik disusun biasanya menyesuaikan konteks lokal dimana setiap region biasanya memodifikasi kode etik
profesi mereka sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di region tersebut walaupun tetap ada prinsip-prinsip
umum yang teguh dipegang dan berlaku universal di berbagai wilayah. Pada umumnya, kode etik pendidik
bersumber dari:
1) nilai-nilai agama dan Pancasila
2) nilai-nilai kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional
3) nilai-nilai jati diri, harkat dan martabat manusia yang meliputi perkembangan jasmaniah, emosional, sosial, dan
spiritual.
Kode etik guru/pendidik Indonesia dapat dirumuskan sebagai himpunan nilai-nilai dan norma-norma profesi guru
yang tersusun dengan baik dan sistematis dalam suatu sistem yang utuh dan bulat. Fungsi kode etik guru Indonesia
adalah sebagai landasan moral dan pedoman tingkah laku setiap guru warga PGRI dalam menunaikan tugas
pengabdiannya sebagai guru, baik di dalam maupun di luar sekolah serta dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Ada beberapa butir mengenai kode etik guru Indonesia, antara lain : 1) berbakti membimbing peserta didik untuk
membentuk manusia Indonesia yang seutuhnya berjiwa Pancasila. 2) memiliki dan melaksanakan kejuruan
profesional. 3) berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan
pembinaan. 4) menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar-mengajar.
5) memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan
rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan.
18
6) secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat prosesinya. Kode Etik
Guru Indonesia ditetapkan dalam kongres PGRI ke XIII tahun 1973, dan kemudian disempurnakan dalam Kongres
PGRI ke XVI tahun 1989. Berikut penjabarannya (Djumiran, http://pjjpgsd.dikti.go.id) 1. Guru berbakti membimbing
peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila. a. Guru menghormati hak
individu, agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dari anak didiknya masing – masing. b. Guru
menghormati dan membimbing kepribadian anak didiknya. c. Guru menyadari bahwa intelegensi, moral dan jasmani
adalah tujuan utama pendidikan. d. Guru melatih anak didik memecahkan masalah-masalah dan membina daya
kreasinya agar dapat menunjang masyarakat yang sedang membangun e. Guru membantu sekolah dalam usaha
menanamkan pengetahuan, keterampilan kepada anak didik.
19
Ilustrasi Kasus : Tasya mengolok-olok temannya, Sita, yang mengenakan jilbab ke sekolah. Tasya mengatakan Sita
seperti nenek-nenek karena mengenakan jilbab. Kebetulan saat itu Pak Wawan, salah seorang guru, melihat kejadian
tersebut. Pak Wawan pun menghampiri Sita dan Tasya lalu menjelaskan kepada Tasya mengenai jilbab secara
sederhana serta meminta Tasya untuk minta maaf pada Sita. 2. Guru memiliki kejujuran profesional dalam
menerapkan kurikulum sesuai kebutuhan anak didik masing masing a. Guru menghargai dan memperhatikan
perbedaan dan kebutuhan anak didiknya masing masing. b. Guru hendaknya fleksibel di dalam menerapkan
kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing masing. c. Guru memberi pelajaran didalam dan diluar
sekolah berdasarkan kurikulum dan berlaku secara baik tanpa membedakan jenis dan posisi sosial orang tua murid.
20
Ilustrasi kasus : Di kelas Ibu Rosa, ada seorang murid bernama Afika yang sangat menyukai musik namun membenci
berhitung. Untuk mengakali Afika agar senang berhitung akhirnya Ibu Rosa memperkenalkan angka dan mengajari
berhitung kepada Afika melalui nyanyian dan permainan alat musik sehingga akhirnya Afika mulai menguasai materi
berhitung. Bagaimana pendapat Anda terhadap sikap Ibu Rosa? Apakah Anda pernah memiliki pengalaman serupa?
3. Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan
diri dari segala penyalahgunaan. a. Komunikasi guru dan anak didik didalam dan diluar sekolah dilandaskan pada rasa
kasih sayang. b. Untuk berhasilnya pendidikan, guru harus mengetahui kepribadian anak dan latar belakang
keluarganya. c. Komunikasi hanya diadakan semat-mata untuk kepentingan pendidikan anak didik.
21
Ilustrasi kasus : Nanda akhir-akhir ini tidak bersemangat untuk mengikuti kegiatan belajar dan bermain dengan
teman-temannya. Bahkan dalam satu minggu ini Nanda sudah tiga kali tidak masuk sekolah. Ibu Mirna, sebagai guru
di PAUD tempat Nanda bersekolah, alih-alih melakukan pendekatan dan menanyakan masalah kepada Nanda, Ibu
Mirna malah mengatakan Nanda sebagai siswa pemalas dan sombong.
2. KARAKTER
a. Pengertian Karakter
Etika membantu individu untuk dapat bertindak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Pengetahuan atas etika yang diaplikasikan secara berkelanjutan, terus-menerus melalui proses pembiasaan dapat
menumbuhkan suatu kualitas tersendiri yang dapat membedakan antara individu
Sikap guru yang menghargai anak ditunjukkan dengan komunikasi dan relasi yang baik dapat membantu kelancaran
proses pendidikan yang berlangsung
22
dengan individu lainnya atau dikenal juga dengan karakter. Karakter, jika dikaitkan dengan etika, merupakan
kecakapan khusus yang didukung oleh kesadaran moral, perasaan moral, dan tindakan moral.
2. KATAKTER
a. Pengertian
Karakter adalah evaluasi kualitas tahan lama individu tertentu. Konsep karakter dapat menyiratkan berbagai atribut
termasuk keberadaan atau kurangnya kebajikan seperti perilaku integritas, keberanian, ketabahan, kejujuran, dan
kesetiaan. Karakter terutama mengacu pada kumpulan kualitas yang membedakan satu orang dari yang lain.
Menurut Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), karakter didefinisikan sebagai
bawaan hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, temperamen, watak. Adapun berkarakter
adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Karakter mengacu kepada serangkaian sikap
(attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Selain itu, karakter, khususnya
karakter yang baik, tidak berdiri sendiri melainkan merupakan suatu rangkaian dari perbuatan yang tidak hanya
ditujukan kepada diri sendiri melainkan juga perbuatan yang berhubungan dengan orang lain seperti yang dikatakan
Aristoteles, seorang filsuf Yunani :
“Karakter yang baik merupakan : perbuatan yang benar dalam hidup, berbuat benar dalam hubungan dengan orang
lain, berbuat benar terhadap diri sendiri”
–Aristoteles-
23
Individu yang tidak jujur, kejam, rakus, dan berperilaku negatif akan digolongkan sebagai individu yang memiliki
karakter buruk atau negatif. Sebaliknya, individu yang berperilaku sesuai kaidah moral digolongkan sebagai individu
dengan karakter positif. Individu yang berkarakter baik atau positif adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-
hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya sendiri, sesama manusia, dan lingkungannya dengan mengoptimalkan
potensi dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi, dan motivasinya (perasaannya). Karakter positif berarti
individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri,
kreatif dan inovatif, mandiri, bertanggung jawab, jujur, pemaaf, menepati janji, dan kualitas positif lainnya.
Karakter bukanlah sesuatu yang sepenuhnya bersifat genetik atau turunan sehingga untuk membentuk karakter
harus melalui proses pembelajaran dan pembiasaan atau pelatihan secara terus menenerus. Terkait dengan karakter
maka yang dilatih dan dibentuk adalah kebiasaan dalam berpikir, merasa, dan senantiasa berbuat baik dalam
kehidupan sehari-hari. Misalnya saja untuk membentuk karakter jujur pada individu maka sejak dini seseorang harus
dibiasakan untuk berkata dan bertingkahlaku jujur dengan membiasakan diri tidak mencontek pekerjaan orang lain
atau mengakui kesalahan yang dilakukan.
b. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Karakter
Menjadi pendidik PAUD yang berkarakter merupakan hal yang penting. Karakter menunjukkan siapa kita sebenarnya
dan menentukan bagaimana seseorang membuat keputusan.
24
Karakter juga menentukan sikap, perkataan, dan tindakan seseorang dimana hal-hal tersebut dapat membantu
untuk mencapai kesuksesan. Pembentukan karakter individu pada umumnya melalui berbagai proses dimana banyak
faktor yang berperan selama proses pembentukan karakter berlangsung. Karakter terbentuk dari hasil internalisasi
berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap,
dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat
dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat
dan karakter bangsa.
V. Campbell dan R. Obligasi (1982) menyatakan ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam pembentukan
karakter seseorang :
1) Faktor keturunan
2) Pengalaman masa kanak-kanak
3) Pemodelan oleh orang dewasa atau orang yang lebih tua
4) Pengaruh lingkungan sebaya
5) Lingkungan fisik dan sosial
6) Subtansi materi di sekolah atau lembaga pendidikan lain
7) Media massa
Untuk mengembangkan karakter yang baik perlu ada suatu penentuan dan pendefinisian kualitas karakter yang akan
ditanamkan sehingga dapat dimengerti oleh semua orang antara lain dengan memberikan ilustrasi-ilustrasi atau
aktivitas.
Dalam proses pembentukan karakter yang baik perlu adanya kontrol internal dan kontrol sosial yang menuntut
25
individu untuk memiliki karakter positif tertentu. Misalnya saja sebagai pendidik (guru) dalam suatu komunitas
pendidikan, seperti PAUD, dibutuhkan karakter seperti jujur, perhatian, sabar, dan karakter positif lain sebab
pendidik dalam komunitas pendidikan berperan sebagai teladan dan model bagi anak didiknya.
Selain pendefinisian yang jelas mengenai kualitas karakter yang diinginkan serta adanya kontrol internal dan kontrol
sosial, dalam pembentukan karakter, khususnya karakter yang baik atau positif, diperlukan reinforcement atau
penguatan dari luar (eksternal) melalui bentuk-bentuk penghargaan terhadap karakter baik yang ditunjukkan.
Penghargaan yang ditunjukkan dapat berupa pujian atau hadiah (reward) tertentu. Seorang pimpinan dalam PAUD,
misalnya, dapat memuji pendidik-pendidik PAUD yang mengajar di tempatnya atas karakter baik yang ditunjukkan
seperti, “wah,saya perhatikan Ibu Yuni selalu tepat waktu datang ke sekolah. Bagus sekali itu. Pertahankan terus ya,
Bu”. Pujian-pujian yang diberikan, terutama di depan publik, atau reward dalam bentuk lain walaupun sifatnya
sederhana namun apabila diberikan terus-menerus akan membentuk pemahaman dan keyakinan pada individu
mengenai karakter baik sehingga karakter tersebut akan terus dilakukan.
Karakter merupakan salah satu poin penting yang menentukan keberhasilan seseorang. Temuan dari Universitas
Harvard, 85% dari sebab-sebab kesuksesan, pencapaian sasaran, promosi jabatan, dan lain-lain, adalah karena sikap-
sikap seseorang. Hanya 15% disebabkan oleh keahlian atau kompetensi teknis yang dimilikinya. Oleh sebab itu,
terkait
26
upaya membangun karakter positif, khususnya karakter dalam diri pendidik, disusunlah 16 pilar pembangun karakter
:
1) Kasih sayang
2) Penghargaan
3) Pemberian ruang untuk pengembangan diri
4) Kepercayaan
5) Kerja sama
6) Saling berbagi
7) Saling memotivasi
8) Saling mendengarkan
9) Saling berinteraksi secara positif
10) Saling menanamkan nilai-nilai moral
11) Saling mengingatkan dengan ketulusan hati
12) Saling menularkan antusiasme
13) Saling menggali potensi diri
14) Saling mengajari dengan kerendahan hati
15) Saling menginspirasi
16) Saling menghormati perbedaan
Bercerita dan berdiskusi dengan anak-anak menunjukkan guru memiliki karakter yang positif, yaitu saling
mendengarkan
dan saling menginspirasi.
27
c. Karakter dan Citra Diri Pendidik
Pendidikan menjadi sarana untuk mentransfer nilai dan norma di dalam masyarakat. Setiap masyarakat mempunyai
norma dan nilai, melalui pendidikan diusahakan agar individu menjadi pendukung norma kaidah dan nilai yang
dijunjung tinggi oleh masyarakat dan menjadi milik pribadi yang tercermin dalam kehidupannya sehari-hari.
Pendidikan juga merupakan proses pembentukan pribadi secara utuh, dimana proses pendidikan berlangsung secara
sistematis dan sistemik. Sistematis berarti berlangsung bertahap dan berkesinambungan sedangkan sistemik berarti
berlangsung pada semua situasi lingkungan dan sistem baik keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara yang
melembaga.
Karakteristik pendidik adalah sebagai 1) seseorang yang dituntut untuk komitmen terhadap profesinya, orang yang
selalu berusaha memperbaiki dan memperbarui cara kerjanya sesuai dengan tuntutan zaman 2) seseorang yang
memiliki ilmu, yang mampu menangkap hakikat sesuatu, orang yang mampu menjelaskan hakikat dalam
pengetahuan yang diajarkannya 3) seseorang yang kreatif, yang mampu menyiapkan peserta didiknya agar mampu
berkreasi, sekaligus mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya,
masyarakat, dan alam sekitar, 4) seseorang yang berusaha menularkan penghayatan akhlak atau kepribadian kepada
peserta didiknya, 5) seseorang yang berusaha mencerdaskan peserta didiknya, melatihkan berbagai keterampilan
mereka sesuai bakat, minat, dan kemampuan 6) seseorang yang beradab.
28
Seorang pendidik anak usia dini, menurut Megawangi (2005), perlu memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Menanamkan Kebaikan Tanpa Pamrih
Seorang pendidik walaupun telah berusaha menjadi pendidik yang ideal, tetapi belum menjamin akan berhasil dalam
membantu perkembangan anak, karena banyak faktor lain yang mempengaruhinya, misalnya pendidikan di rumah,
pengaruh kawan, dan sebagainya. Namun dengan memberikan layanan pendidikan dan bimbingan yang penuh
perhatian, kasih sayang, siswa akan menjadi lebih baik. Lebih-lebih pada pendidikan anak usia dini, hasil pendidikan
tidak akan segera nampak hasilnya. Ada sebuah teori yang disebut sleeper effect, yang menyatakan bahwa efek
pendidikan, hasilnya baru terlihat beberapa tahun kemudian. Oleh karena itu satu karakter penting untuk dimiliki
pendidik adalah “mendidik (menanam kebaikan) tanpa pamrih”
Ada sebuah kisah tentang Johny Appleseed, mudah-mudahan cerita ini dapat memberikan inspirasi pada semua
pendidik untuk menebarkan benih kebajikan walapun tidak tahu bagaimana hasilnya nanti:
29
Alkisah ada seorang bernama Johny yang senang berkelana. Ia selalu mengantongi segenggam biji apel
dikantongnya. Kemanapun ia pergi, ia selalu menebar biji apel, sehingga ia terkenal dengan Johny Appleseed. Ia
tidak berpikir apakah benih yang ditebarkan akan tumbuh dan ia juga tidak berniat menikmati buahnya, atau
berteduh di bawahnya. Apa yang dilakukan Johny the Appleseed ternyata menumbuhkan beribu-ribu pohon apel
yang mana Johny tidak bisa melihat hasilnya.
Ada sebuah teori yang dapat memberikan inspirasi mengenai dampak berkelanjutan dari menanam sebuah
kebajikan, walau sekecil apapun, yaitu Chaos Theory (Teori Chaos) dari James Gleick, yang mengenalkan konsep efek
kupu-kupu (Butterfly effect) yang berbunyi : seekor kupu-kupu yang mengepakkan udara dengan sayapnya hari ini di
Beijing, dapat menyebabkan tornado di New York tahun depan. Konsep ini mengajarkan kepada kita bahwa sekecil
apapun tindakan sekarang, akan mempunyai dampak besar di kemudian hari. Konsep ini memberikan peringatan
kepada kita untuk berhati-hati dalam berpikir, berkata dan bertindak, karena kita tidak dapat memprediksi
bagaimana dampak hebatnya di masa depan.
Dalam Chaos Theory diterangkan mengapa sebuah kepakan sayap kupu-kupu bisa membentuk pola (pattern) yang
khas. Pernahkan kita bayangkan mengapa Austria melahirkan orang-orang jenius dan kreatif, seperti para komposer
dunia John Strauss, Mozart, Schubert dan Mahler.
30
Psikolog Sigmud Freud, Ekonom Loudwig atau negara Singapura bebas korupsi, atau warga Korea di Seoul yang turun
ke jalan berpesta pora merayakan kemenangan tim sepak bolanya masuk ke final, tetapi tidak membuat satu
pohonpun patah, tidak ada satu pot bungapun rusak, dan tidak ada satu pun botol minuman yang tergeletak di jalan.
Terbentuknya sebuah pola dalam Chaos Theory diterangkan oleh adanya sebuah konsep : Strange attractor yaitu
magnet yang dapat menarik apa saja yang mempunyai kualitas yang sama. Hal ini dapat diilustrasikan, misalnya :
Adanya kerumunan burung dari berbagai jenis yang sedang makan biji-bijian yang tersebar di atas tanah. Tiba-tiba
ada sebuah kejutan yang menyebabkan semua burung beterbangan. Sudah dapat dipastikan bahwa burung akan
terbang bersama burung-burung lainnya yang sejenis dan tidak pernah masuk dalam kelompok burung lain.
Adanya daya tarik yang aneh (strange attractor) dalam sebuah sistem sosial akan menjadi daya tarik bagi mereka
yang memang pada prinsipnya mempunyai kualitas yang sama dengan daya tarik itu. Semakin banyak orang tertarik
dan berkumpul dalam kerumunan sistem itu, maka akan membentuk sebuah pola dengan ciri khas perilakunya.
Sebuah organisasi yang korup, akan menarik orang-orang yang tidak jujur karena tertarik oleh daya magnet perilaku
korup. Begitu pula organisasi yang baik bisa menjadi magnet yang dapat menarik orang-orang baik untuk berkumpul
bersama melakukan kebajikan. Namun mungkin saja dalam suatu kerumunan baik akan terdapat beberapa orang
yang
31
tidak baik, begitu pula sebaliknya, karena disebut teori chaos atau teori kekacauan.
Biasanya orang-orang yang baik dalam kerumunan jahat suatu saat akan terlempar dari sistem sosial yang ada
sekarang karena mereka tidak tahan hidup di tengah–tengah kerumunan orang yang pola tingkahlakunya
bertentangan dengan hati nuraninya. Begitu pula orang-orang tidak baik berada dalam kerumunan orang baik suatu
saat akan terlempar keluar.
Orang-orang yang baik terlempar dari kerumunan buruk adalah mereka yang mempunyai lentera hati nurani yang
terang benderang sehingga dapat menjadi strange attractor baru yang dapat menarik orang yang berkepribadian
sama. Selanjutnya dapat mengubah sistem sosial yang ada menjadi pola baru yang positif. Begitu pula, para pendidik
yang mempunyai nurani yang kuat, akan tidak tahan berada dalam sebuah birokrasi pendidikan yang buruk,
sehingga akan terlempar dari sistem tersebut, dan berani untuk memulai suatu yang berbeda dan mau mengadakan
“perubahan” siapa tahu para pendidik yang menyadari fungsinya sebagai “pendidik, membangun citra positif anak”
akan berkumpul bersama bahu membahu membentuk karakter anak didiknya.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa, pendidik anak usia dini dalam melaksanakan tugasnya senantiasa
mengedepankan kode etik “menanam kebaikan tanpa pamrih mencintai anak”, dengan asah, asih, dan asuh,
mendidik dan mengasuh dengan kasih sayang semata karena amanah Tuhan Yang Maha Kuasa.
32
2. Membangun Citra Diri Positif Anak
Banyak perilaku guru yang dapat membunuh karakter anak, yaitu dengan membuat anak merasa rendah diri.
Seorang guru yang tidak pernah memberi pujian atau kata-kata positif, kecuali cemoohan dan kata-kata negatif akan
memuat muridnya menjadi tidak percaya diri. Rasa tidak percaya diri yang telah terbentuk sejak anak usia dini akan
terbawa sampai dewasa.
Peran guru dalam membangun citra diri yang positif pada anak sangat besar, sehingga sebuah sekolah dasar di
Medford Massachusetts yang bernama Dame School, membuat kebijakan untuk membangun citra diri positif kepada
murid-muridnya.
Kisah Dame School, menyatakan bahwa seluruh murid sekolah dasar dari kelas 1 sampai kelas 3, tidak boleh
diberikan nilai angka atau huruf di rapornya, tetapi hanya berupa uraian consisten dan not consisten, berbeda
dengan di Indonesia rapor anak diisi dengan angka, bahkan diberi peringkat atau ranking. Menurut mereka, kalau
seorang anak usia di bawah 9 tahun diberikan nilai (baik dan buruk), maka akan “memvonis” anak; pintar, sedang
dan bodoh. Padahal anak-anak pada usia itu masih terus berkembang kemampuannya. Baru nanti ketika anak sudah
kelas empat SD, ilai mulai diberikan, tetapi ranking tetap tidak diberikan.
Hasil Kerja harian murid-murid cukup diberikan “nilai” dengan gambar stiker (bintang, bunga atau mobil ) atau
dengan tulisan gurunya yang berbunyi : good dan good effort. Ternyata dengan cara ini, anak-anak bersemangat
untuk mengerjakan tugasnya dengan baik, karena setelah
33
selesai guru akan menempelkan stiker di lembaran bukunya. Dalam memeriksa hasil kerja, guru tidak mencoretr
hasil kerja anak yang salah, tetapi dengan membetulkannya dengan cara menuliskan jawaban yang benar di samping
hasil kerja anak yang salah.
Murid-murid didorong untuk aktif berdiskusi, dan guru selalu memberi komentar positif kepada setiap pendapat
yang dilontarkan kepada anak. Dengan carta ini murid-murid menjadi bersemangat un tuk tetap masuk sekolah.
Bahkan anak bertekad untuk tetap masuk sekolah walaupun suhu badannya panas tinggi.
Di Dame school, waktu libur panjang adalah waktu yang membosankan, tetapi waktu sekolah adalah waktu yang
menyenangkan. Anak-anak begitu mencintasi sekolahnya, karena gurunya telah berhasil menciptakan suasana
belajar yang menyenangkan yang membuat anak-anak antusias untuk belajar. Kalau anak senang hatinya, maka
bagian limbik otaknya akan terbuka, sehingga anak dengan mudah menyerap pelajaran yang diberikan.
Keadaan belajar di Dame School terasa berbeda dengan keadaan belajar di Indonesia. Guru di Indonesia cenderung
jarang memberikan pujian kepada anak, tetapi lebih banyak mengkritik dan memarahi anak. Hal ini menjadi salah
satu faktor yang sering menjadi penyebab seorang anak tidak percaya diri adalah ketika di kelas ia tidak dapat
menjawab pertanyaan atau ketika maju ke depan papan tulis untuk menyelesaikan soal yang diberikan guru. Banyak
guru yang bersikap negatif ketika mendapatkan muridnya tidak dapat menjawab pertanyaan, misalnya dengan
perkataan : “itu
34
salah, kamu pasti tidak belajar ya?“ atau “lihat anak-anak, betul tidak jawaban Rika?”. Seharusnya reaksi guru adalah
“jawabannya belum lengkap, mungkin ada jawaban yang lain?” atau “jalannya sudah hampir benar, tetapi coba
kamu ulangi lagi, mungkin ada jawaban yang kamu lupakan” atau “Ana, nanti kamu duduk sama Shella dan kamu
berdua dapat memecahkan soal itu ?”
Sering guru mempermalukan anak di depan kelas, memarahi atau bahkan menghukumnya. Kita semua pasti pernah
melihat atau mempunyai pengalaman tentang sikap guru yang seperti itu. Sekali anak dipermalukan, ia kan takut,
gemetaran ketika harus menjawa pertanyaan guru, sehingga ia menjadi tidak percaya diri untuk mengungkapkan
pendapatnya di depan kelas. Sejak anak kecil juga sudah divonis dengan diberikan ranking atau dengan istilah
“mendapat ranking sepuluh besar” atau “tidak masuk ranking.”
Sikap guru yang demikian, memang bukan hanya kesalahan guru saja, tetapi adalah kesalahan sebuah sistem
pendidikan yang orientasinya hanya semata-mata mengejar keberhasilan akademik, yaitu sistem mengejar target
kurikulum dengan segenap tes harian, ulangan umum, ujian akhir. Padahal untuk anak usia dini, yang terpenting
ditanamkan adalah sikap agar anak-anak cinta belajar. Bukan semata-mata harus bisa karena kalau “harus” bisa,
suasana belajar menjadi penuh beban, sehingga otak limbik anak tertutup, akhirnya anak tidak dapat mencapai
potensi optimalnya.
35
Di dalam ilustrasi ini, dikandung bahwa seorang guru perlu menampilkan etika membangun citra positif anak melalui
perilaku-perilaku : santun, tulus, mencintai anak, memberikan pujian dan menciptakan kesenangan anak dengan
melabel atau memberi cap negatif anak.
3. Guru sebagai Model/Tokoh Idola Anak
Seorang filosof Yunani, Aesop, menulis didalam dongengnya sebuah kisah yang menarik, yakni seekor kepiting.
Ceritanya sebagai berikut :
Suatu hari seekor kepiting bertanya kepada anaknya “mengapa kamu berjalan menyamping seperti itu anakku?
Seharusnya kamu berjalan lurus kedepan “ Anak kepiting menjawab “ tunjukkkan bagaiman dulu carannya bu…,
nanti aku akanmenirunya. Kepiting tua berusaha mencontohkan bagaimana berjalan lurus, tetapi tidak berhasil.
Kisah diatas menggambarkan betapa seringnya kita sebagai pendidik mengkritik dan menyalahi perilaku anak kita.
Padahal perilaku adalah hasil dari proses sosialisasi dan pendidikan yang diberikan dari lingkungannya, terutama dari
orang tua atau pendidik. Seseorang telah menceritakan tentang pengalamannya dengan seorang guru, yang
bernama Muhayaidden, bahwa ia telah meminta nasehat bagaimana mendidik anaknya agar menjadi anak yang baik
dan beraklak mulia. Sang guru tidak memberikan jawaban yang panjang dan berteori, tetapi hanya dengan “perbaiki
36
saja diri kamu dulu, nanti dengan sendirinya anak kamu akan menjadi baik “.Thomas Lickona mengatakan bahwa
“values are caught“, nilai-nilai yang ditangkap anak adalah melalui contoh dari guru dan orang tuanya. Nilai-nilai
adalah yang diterangkan langsung oleh gurunya.
Menjadi pendidik PAUD tidak cukup hanya berbekal kurikulum atau Acuan Pembelajaran Menu Generik, tetapi juga
menyangkut bagaimana guru sebagai pendidik menjadi idola bagi muridnya. Bagaiman ciri-ciri guru yang menjadi
idola murid-muridnya, antara lain sebagai berikut:
(a) anak bersemangat kesekolah, anak-anak tidak sabar bersekolah dan hari-hari libur menjadi hari yang
membosankan
(b) anak akan mengatakan sayang atau suka kepada gurunya kalau ditanyakan apakah mereka menyayangi gurunya,
(c) anak selalu merindukan gurunya dan
(d) anak akan mengerjakan tugas yang diberikan, karena tidak ingin mengecewakan gurunya.
Pengalaman seorang guru bernama Bill Rose, seperti diungkapkan diatas adalah salah satu bukti bagaimana seorang
guru yang berusaha menumbuhkan rasa percaya diri murid-muridnya dengan penuh perhatian dan kasih sayang
(etika kepribadian) sehingga membuat murid-muridnya mau bekerja keras untuk menyenangi gurunya.
Inti dari pesan dalam sub bab ini adalah bagaimana ampuhnya sosok panutan orangtua atau guru dalam
mempengaruhi perilaku anak. Apabila kita ingin menjadikan
37
diri sebagai tokoh panutan, maka diri kita sendiri harus diperbaiki dulu.
4. Mendidik dengan Mencelupkan Diri
Seorang pendidik yang berhasil adalah yang dapat mencelupkan dirinya secara menyeluruh, pikiran, dan perasaan,
dapat membangun personal dengan murid-muridnya, mempunyai kemampuan komunikasi secara efektif, mampu
mengelola emosi dengan baik, mampu menghidupkan suasana yang menarik dan menyenangkan agar anak senang
berjalan/bermain.
Mencelupkan diri secara total memang memerlukan sikap dan dedikasi dan kecintaan terhadap profesi yang sedang
dijalani. Seorang guru yang dapat mencelupkan dirinya pada profesinya sebagai guru adalah seorang yang dapat
berkontemplasi (merenungkan) perasaan, pikiran dan perilakunya secara rutin agar dapat melihat kekurangan-
kekurangan yang ada pada dirinya. Seorang guru bukan berarti harus sempurna, tetapi diharapkan untuk
memperbaiki dan mengontrol terus tindakannya agar tetap dijadikan model konkrit bagi murid-muridnya.
Seringkali orang tidak mau menerima atau mengakui bahwa dirinya masih banyak kekurangan. Merasa dirinya sudah
benar, tidak mungkin salah dan tidak ingin dikritik dan disalahkan. Menurut Carl G. Jung, setiap manusia mempunyai
sisi gelap, kalau kita tidak menerima keberadaan sisi gelap tersebut, maka sifat-sifat gelap akan menjadi kekuatan
yang suatu saat akan keluar dan terlihat oleh orang lain, walaupun diri kita tidak menyadarinya. Inilah
38
yang menyebabkan banyak manusia yang tidak konsisten antara kata dan tindakannya.
Guru yang demikian tidak dapat menjadi model bagi murid-muridnya, bahkan malah bisa menjadi berbahaya, karena
kalau murid-muridnya menilai guru seringkali berkata moral, tetapi tidak dalam tindakan. Akibat negatif lain dari
penolakan sisi gelap adalah ingin memarahi orang lain yang dianggap bersalah. Murid-murid biasanya akan menjadi
tumpahan kemarahan guru, yang sebenarnya adalah kemarahan kepada sifat yang ada dalam diri guru sendiri, guru
yang sering menyalahkan murid-murid, tidak akan menjadi pendidik yang efektif.
Oleh karena itu, seorang guru sebagai pendidik anak usia dini hendaknya terus merenung untuk melihat kekurangan
dan mengevaluasi diri dan berusaha untuk terus menerus memperbaiki segala kekurangan demi membentuk citra
diri guru yang positif.
Guru PAUD sebisa mungkin dapat menghidupkan suasana sehingga membuat anak tertarik untuk belajar
39
Citra diri guru dapat dimaksudkan sebagai gambaran tentang diri pribadi guru yang diberikan appresiasi oleh
masyarakat. Penilaian yang diberikan oleh masyarakat terhadap guru bisa positif atau negatif tergantung kepada
kepribadian maupun karakter yang muncul sebagai wujud profesi guru secara utuh. Citra Diri Positif (positive self-
image) dapat membangun dan mempermudah karir seseorang, karena dia memandang positif kepada kemampuan
diri, melihat kelebihan diri, bukan kekurangannya. Dengan berpikir positif pada diri, membuat dirinya berharga.
Seseorang yang memiliki citra diri yang positif akan mendapatkan berbagai manfaat, baik yang berdampak positif
bagi dirinya sendiri maupun untuk orang-orang di sekitarnya. Manfaat-manfaat yang terasakan oleh si empunya citra
diri positif dan lingkungannya tersebut adalah: 1) Guru akan membawa Perubahan Positif Guru yang memiliki citra
diri positif senantiasa mempunyai inisiatif untuk menggulirkan perubahan positif bagi lingkungan tempat ia berkarya.
Mereka tidak akan menunggu agar kehidupan menjadi lebih baik, sebaliknya, mereka akan melakukan perubahan
untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik. Perubahan positif tidak hanya terasakan oleh dirinya, namun juga
oleh lingkungannya. 2) Mengubah Krisis Menjadi Keberuntungan Selain membawa perubahan positif, guru yang
memiliki citra positif juga mampu mengubah krisis menjadi kesempatan
40
untuk meraih keberuntungan. Citra diri yang positif mendorong guru untuk menjadi pemenang dalam segala hal.
Menurut orang-orang yang bercitra diri positif, kekalahan, kegagalan, kesulitan dan hambatan sifatnya hanya
sementara. Fokus perhatian mereka tidak melulu tertuju kepada kondisi yang tidak menguntungkan tersebut,
melainkan fokus mereka diarahkan pada jalan keluar. Seringkali kita memandang pada pintu yang tertutup terlalu
lama, sehingga kita tidak melihat bahwa ada pintu-pintu kesempatan lain yang terbuka untuk kita.
”Tanamlah pemikiran, kau akan menuai tindakan”
”Tanamlah tindakan, kau akan menuai kebiasaan”
”Tanamlah kebiasaan, kau akan menuai watak”
”Tanamlah watak, kau akan menuai cita-cita”
(Bernard Shaw)
B. RANGKUMAN MATERI
Etika sebagai ilmu tentang kesusilaan, yang menentukan bagaimana patutnya manusia hidup dalam masyarakat,
yang dapat memahami apa yang baik dan yang buruk. Etika akan membantu kita untuk mencari orientasi. Tujuannya
agar kita tidak hidup dengan cara ikut-ikutan. Dengan memperhatikan manfaat etika, seorang pendidik di manapun,
dalam situasi apapun keberadaannya tetaplah sebagai pembimbing, pembina perilaku, dan sekaligus model
berperilaku manusia beretika karena ini bagian dari tanggung jawab sebagai pendidik. Etika dapat membentuk
karakter yang merupakan ketergabungan dari adanya kesadaran moral, perasaan moral, dan tindakan moral.
41
Karakter dapat menunjukkan diri kita sebenarnya dan menentukan sikap, perkataan, dan tindakan. Guru yang
memiliki kemampuan membangun citra diri dan karakter positif akan sukses dar mudah membangun karier. la selalu
melihat kelebihan diri, bukan kekurangan. Guru mampu membuat dirinya berharga di mata orang lain. Contohnya
antara lain citra kejujuran, kesabaran, ketegasan, kedisiplinan dan wibawa merupakan citra positi yang disukai
siapapun. Di dalam membangun citra diri ini dibutuhkan kemauan dan keseriusan dan memang tidak mudah, sering
tidak akan terlihat langsung hasilnya karena citra diri merupakan produk pembelajaran dari orangtua, pengasuh yang
memberikan kontribusi terbesar pada citra diri kita.
C. EVALUASI SOAL LATIHAN
Jawablah pertanyaan di bawah ini
1. Aturan atau kaidah dari perilaku dan tindakan manusia adalah pengertian dari …
a. Etika
b. Moral
c. Nilai
d. Norma
2. Berikut merupakan hal mendasar mengapa manusia harus beretika, kecuali …
a. Kita hidup dalam masyarakat yang majemuk
b. Hidup dalam masa transformasi masyarakat yang lambat
c. Kita hidup menghadapi ideologi-ideologi baru dengan kritis dan obyektif untuk membentuk penilaian
d. Kita hidup beragama untuk memantapkan keyakinan
42
3. Menjunjung tinggi martabat profesi sebagai pendidik adalah tujuan dari …
a. Etika pendidik
b. Kode etik pendidik
c. Norma pendidik
d. Karakter pendidik
4. Menciptakan suasana sekolah sebaiknya yang menunjang berhasilnya proses pembelajaran merupakan butir-butir

a. Kode etik guru
b. Etika guru
c. Fungsi guru
d. Tugas guru
5. Salah satu sikap guru atau pendidik PAUD yang positif adalah …
a. Menggunakan kekerasan sebagai teknik disiplin
b. Mengabaikan perbedaan peserta didik
c. Memahami karakteristik tiap peserta didik
d. Kurang melibatkan siswa
6. Menurut Aristoteles, karakter yang baik merupakan …
a. berbuat benar dalam hubungan dengan orang lain, terhadap diri sendiri, dan bertanggung jawab
b. perbuatan yang benar dalam hidup, berbuat benar dalam hubungan dengan orang lain, dan berbuat benar
terhadap diri sendiri
c. bertingkah laku yang benar dalam hidup dan bersikap baik terhadap sesama
d. menghargai orang lain dan berkata benar kepada orang lain
43
7. Karakter sangat berperan dalam menentukan … … seseorang
a. Sikap, perkataan, dan tindakan
b. Sikap, perasaan, dan tindakan
c. Sikap, perkataan, dan keimanan
d. Perkataan, motivasi, dan tindakan
8. Kecakapan khusus yang didukung oleh kesadaran moral, perasaan moral, dan tindakan moral merupakan salah
satu definisi dari …
a. Etika
b. Etos
c. Karakter
d. Kepribadian
44
BAB IV
PENUTUP
“Ingatlah! Percayalah akan kemampuan Anda mengajar dan kemampuan siswa Anda belajar, maka akan terjadi hal-
hal yang menakjubkan”
(Bobbi DePorter)
Guru atau pendidik PAUD memiliki peran sangat besar dalam menjalankan peran mereka selama proses pendidikan,
pengasuhan, dan perlindungan bagi para peserta didik. Ketiga hal ini membuat para pendidik PAUD harus bekerja
ekstra dibandingkan pendidik di tingkatan pendidikan lainnya. Mereka juga menjadi model atas sikap positif bagi
peserta didiknya. Oleh sebab itu merupakan kewajiban bagi para pendidik PAUD untuk dapat memiliki etika dan
karakter yang menunjang mereka untuk menjalankan tugasnya serta berinteraksi baik dengan anak sebagai peserta
didik, rekan sejawat, orang tua, serta lingkungan masyarakat yang dapat mendukung proses belajar. Semoga modul
ini dapat memberikan pengetahuan yang bermanfaat bagi para pendidik PAUD sehingga nantinya menjadi pendidik
PAUD yang berkualitas demi mencetak generasi penerus bangsa yang cemerlang, baik secara kognitif, afektif, dan
psikomotor.
45
LAMPIRAN
46
LAMPIRAN
A. KUNCI JAWABAN
1. D
2. B
3. B
4. A
5. C
6. B
7. A
8. C
47
DAFTAR PUSTAKA
Diaz, Carlos F. et al. Touch The Future Teach!. USA : Pearson Education, 2006
Gea, Antonius Atosokhi, Antonina Panca Yuni Wulandari, Yohanes Babari. Relasi dengan Diri Sendiri. Jakarta : Elex
Media Komputindo, 2002.
Idris, H. Zahara & H. Lisma Jamal. Pengantar Pendidikan 1. Jakarta : Grasindo, 1992
Ronnie M., Dani. Seni Mengajar dengan Hati. Jakarta : Elex Media Komputindo, 2005
Tim Penyusun Naskah PLPG PGSD FIP UNJ. Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Sekolah Dasar. Jakarta :
Universitas Negeri Jakarta, 2011.
Yunus, Firdaus M. Pendidikan Berbasis Realitas Sosial. Yogyakarta : Logung Pustaka, 2004.