Anda di halaman 1dari 50

BAB IV

PEMILIHAN KOMBINASI LOGGING YANG OPTIMUM

Kombinasi logging optimum adalah kombinasi logging sumuran yang


minimal yang mampu menghasilkan data petrofisik yang diinginkan dengan
tingkat keakuratan yang tinggi.
Untuk mendapatkan suatu kombinasi logging sumuran yang optimum,
maka perlu dilakukan pemilihan terhadap berbagai jenis logging sumuran yang
tersedia di lapangan atau ditawarkan oleh berbagai perusahaan jasa logging,
seperti Schlumberger, Western Atlas, Wellex, dan lain-lain. Agar diperoleh data
petrofisik yang akurat dari kombinasi logging sumuran, maka dalam pemilihan
alat haruslah tepat dan disesuaikan dengan faktor-faktor yang dapat
mempengaruhinya.

4.1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Kombinasi Logging


Yang Optimum

Dalam pemilihan kombinasi alat logging yang optimum, haruslah


disesuaikan dengan kondisi lingkungan lubang sumur yang akan dilogging.
Dengan mengidentifikasikan kondisi lubang sumur, akan meminimalkan faktor-
faktor yang mempengaruhi operasi logging nantinya. Beberapa faktor yang
mempengaruhi pemilihan kombinasi logging, antara lain: jenis fluida pemboran,
jenis formasi batuan reservoir, invasi mud filtrat, kondisi lubang bor, ketebalan
lapisan formasi, distribusi porositas dan resistivitas dan kondisi optimum alat log
itu sendiri. Dalam mengkombinasikan peralatan logging juga perlu diperhatikan
data-data apa yang diinginkan sehingga terjamin keakuratan datanya.

4.1.1. Jenis Lumpur Pemboran

Jenis fluida pemboran akan berpengaruh terhadap pemilihan log listrik,


khususnya pemilihan resistivity log. Pemilihan resistivity log berdasarkan atas
kadar garam dari lumpur pemboran. Induction log lebih optimum untuk sumur
dengan lumpur air tawar, sedangkan laterolog optimum untuk lumpur air asin.

167
168

Ada beberapa jenis lumpur pemboran yang umum digunakan sebagai fluida
pemboran, yaitu : lumpur dasar air (water base mud), oil base mud dan oil base
emulsion mud, serta fluida gas/udara (gaseous drilling fluids/empty hole).

4.1.1.1. Water Base Mud

Lumpur jenis ini dibagi menjadi dua macam, yaitu fresh water mud dan salt water
mud.

A. Lumpur Air Tawar (Fresh Water Mud)

Lumpur ini mempunyai kadar garam rendah ( kurang dari 10.000 ppm
atau 1% berat garam dan kadar Ca kurang dar 50 ppm). Dimana fasanya adalah
air tawar. Lumpur ini akan mempengaruhi pengukuran log listrik sehingga
pengukuran resistivity tinggi. Ada beberapa lumpur yang termasuk disini, yaitu :

a. Spud Mud/Natural Mud, lumpur ini merupakan lumpur yang biasa


digunakan pada permulaan pemboran (pemasangan casing conductor),
sehingga tidak akan berpengaruh pada logging.

b. Chemicals Threated Muds, lumpur ini merupakan lumpur yang ditambah


pengobatan kimia (additive), seperti : bentonite treated, phospat treated,
caustic muds, dll.

Bahan-bahan yang ditambahkan akan mempengaruhi sifat kelistrikan.


Pada dasarnya lumpur ini memiliki sifat tidak menghantarkan listrik (resistivitas
tinggi) dan konduktivitas rendah, akan tetapi seperti adanya Galena akan
menambah sifat konduktivitas lumpur tersebut. Sedangkan untuk bahan-bahan
lainnya, sangat sedikit pengaruhnya terhadap sifat kelistrikan batuan tersebut.

B. Lumpur Air Asin (Salt Water Mud)

Lumpur ini mempunyai kadar garam tinggi, lebih dari 10.000 ppm.
Adanya kadar garam ini baik unsaturated salt water mud (lumpur yang dijenuhi
oleh NaCl/garam) dapat menimbulkan sifat fluida/lumpur yang konduktif,
169

sehingga menyebabkan pengukuran resistivity yang rendah. Lumpur ini antara


lain dicirikan dengan adanya filtrat loss yang besar sekali, kecuali ditreated
dengan organic colloid sehingga membentuk mud cake yang tebal. Meskipun
pengaruh terhadap logging sangat buruk, lumpur ini biasanya digunakan pada
kondisi yang khusus seperti pada pemboran formasi garam.

4.1.1.2. Oil Base Mud

Lumpur ini mempunyai kadar minyak sebagai fasa kontinyu dengan kadar
air rendah (3%-5%), maka lumpur ini relatif tidak sensitif terhadap kontaminasi
air. Dan disamping itu akan bersifat tidak konduktif dan mempunyai harga
resistivity yang tinggi sehingga mempengaruhi peralatan logging terutama log
listrik. Karena filtratnya yang kecil, dapat menyulitkan pengukuran yang
menggunakan pengaruh adanya invasi lumpur.

4.1.1.3. Gaseous Drilling Fluids

Biasanya digunakan untuk daerah yang mempunyai formasi keras dan


kering. Gas atau mempunyai sifat tidak konduktif (tidak mengalirkan arus
listrik), sehingga dapat mempengaruhi alat-alat logging (khususnya yang
berhubungan dengan adanya arus listrik).

4.1.2. Jenis Batuan Reservoir

Pemilihan kombinasi logging yang optimum tidak lepas dari pengaruh


jenis batuan formasi. Dengan jenis perlapisan batuan yang bervariasi berdasarkan
fungsi kedalaman sumur bor, kita akan memilih alat logging yang sesuai dengan
jenis batuan formasi pada sumur bor yang akan dilogging, dengan tujuan
menghasilkan pengukuran yang akurat. Terdapat tiga jenis formasi batuan yang
sering terkait dengan evaluasi log ini yaitu :

A. Formasi lunak (soft formation)

Yaitu formasi yang tidak kompak atau mudah runtuh (uncosolidated).


Tahanan batuan kecil sampai dengan menengah. Mempunyai porositas besar
lebih dari 20%. Karena memiliki Φ>20%, diameter invasi lumpur (Di) sekitar
170

2d (d: diameter lubang bor). Batuannya yaitu pasir (sandstone) dan shale
(shaly sand)

B. Formasi sedang (intermediate formation)

Yaitu formasi yang cukup kompak (moderate consolidated). Tahanan


formasi sedang dan mempunyai porositas antara 15% - 20%. Diameter invasi
lumpur Di = 3d. Golongan formasi ini adalah batu pasir.

C. Formasi keras (hard formation)

Formasi ini lebih kompak dari formasi lunak dan sedang. Tahanan batuan
sangat tinggi. Porositasnya kurang dari 15%, diameter invasi lumpur (Di) =
10d. Jenis batuan keras limestone dan dolomite.

4.1.3. Invasi Mud Filtrat

Proses banyaknya air filtrat lumpur yang masuk ke dalam formasi selama
pembentukan mud cake di dalam lubang bor dikenal sebagai invasi mud
filtrat(filtrat loss). Banyaknya filtrat loss yang masuk ini tergantung dari jenis
lumpur pemborannya dan lapisan batuan yang dibor. Jauh dekatnya filtrat loss
yang menginvasi zona porous permeabel tergantung dari porositas dan
permeabilitasnya, dimana bila porositas kecil dan permeabilitas batuannya besar
maka invasi filtrat lumpur akan jauh, tapi jika porositas besar dan walaupun
permeabilitas juga besar maka invasi filtrat lumpur akan dangkal.

Faktor-faktor yang mempengaruhi diameter filtrat lumpur atau diameter


zona yang terinvasi antara lain :

1. Jenis lumpur.

2. Perbedaan tekanan antara lumpur dan formasi.

3. Permeabilitas batuan.

4. Porositas batuan.

5. Proses pemboran.
171

Jenis Lumpur

Jumlah air filtrat yang terinvasi ke dalam formasi tergantung kepada


additive dan tipe material yang digunakan untuk membuat lumpur. Setiap jenis
lunpur akan mempengaruhi diameter invasi, terganung kepada sifat water loss dari
lumpur tersebut.

Perbedaan Tekanan antara Lumpur dan Formasi

Perbedaan tekanan yang ada antara kolom lumpur dan formasi, dimana
tekanan kolom lumpur lebih besar dari tekanan formasi dengan maksud untuk
mencegah terjadinya kick dan akan menyebabkan air filtrat lumpur masuk ke
dalam formasi yang permeabel. Gambaran rata-rata beda tekanan yang bagus
adalah kurang lebih 100 psi.

Permeabilitas Batuan

Mud filtrat akan masuk ke dalam formasi yang permeabel, sehingga


permeabilitas batuan yang besar akan mendukung masuknya mud filtrat mencapai
kedalaman invasi yang cukup jauh. Tetapi dengan bertambahnya waktu,
kemudahan masuknya mud filtrat ke dalam formasi semakin menurun seiring
dengan terbentuknya mud cake.

Porositas Batuan

Mud filtrat akan masuk ke formasi yang porous, sehingga porositas batuan
merupakan faktor penentu kedalaman invasi. Porositas batuan besar maka
kedalaman invasi semakin menurun, karena formasi yang mempunyai volume
pori per foot yang besar, kapasitas penyimpanan mud filtrat akan besar pula. Mud
filtrat yang masuk ke dalam formasi yang memilki porositas batuan besar akan
memenuhi pori batuan terlebih dahulu sebelum invasi lebih jauh. Sehingga
kedalaman invasinya lebih dangkal bila dibandingkan dengan formasi yang
memilki porositas batuan kecil.
Diameter invasi mud filtrat merupakan fungsi dari porositas dan secara
umum dapat dikelompokkan menjadi :
172

ϕ > 20 %, Di = 2d
20 % > ϕ > 15 %, Di = 3d
15 % > ϕ > 10 %, Di = 4d
10 % > ϕ > 5 %, Di = 10d

Keterangan :
Di = diameter invasi mud filtrat, ft
d = diameter lubang bor, ft
ϕ = porositas, %

Proses Pemboran
Proses pemboran juga berpengaruh terhadap kedalaman invasi mud filtrat,
karena selama proses pemboran memungkinkan mud cake yang sebelumnya
sudah terbentuk pada dinding sumur mengalami kerusakan (terkikis sebagian atau
total). Kerusakan dari mud cake ini mengakibatkan proses invasi terulang lagi
untuk membentuk mud cake baru, sehingga mud filtrat semakin bertambah dan
invasinya semakin dalam.

4.1.4. Kondisi Lubang Bor

Adanya kondisi lubang bor yang kurang baik dapat mempengaruhi


pembacaan parameter-parameter reservoir. Kombinasi logging dipengaruhi oleh
adanya selubung lubang bor atau casing. Tidak semua alat logging dapat
menembus casing. Data-data pemboran yang didapat untuk mengetahui kondisi
lubang bor antara lain : diameter lubang bor, diameter bit yang mendeteksi
terjadinya guguran pada dinding lubang bor, dan kedalaman lubang bor.

4.1.5. Ketebalan Lapisan Porous

Setiap jenis log akan mengukur karakteristik formasi porous dengan akurat
apabila ketebalan lapisan yang diukur lebih besar dari jarak (spasi) antar
elektrodanya. Maka data ketebalan lapisan akan menjadi acuan dalam pemilihan
setiap jenis log, khususnya jenis log resistivity. Sebagai contoh, jka ketebalan
173

lapisan porous tipis – tipis disarankan menggunakan jenis alat log yang
mempunyai sistem difokuskan ( microspherical focus log, laterolog, induksi log ).

4.1.6. Distribusi Porositas dan Resistivitas

Pada dasarnya semua logging dirancang dengan batasan pengukuran


tertentu. Oleh arena itu, memilih porosity tool maupun resistivity tool yang sesuai
perlu memperhatikan distribusi porositas dan resistivitas batuannya. Dengan
mengetahui variasi harga ini, maka dapat ditentukan porosity tool dan resistivity
tool yang sesuai.

Batuan unconsolidated untuk formasi yang bersih dari clay (clean sands)
porositasnya lebih besar dari 25%, sedangkan untuk shaly sand mempunyai
porositas lebih dari 20%, biasanya mempunyai tahanan batuan antara kecil sampai
menengah (low resistivity-moderate resistivity). Moderately consolidated
memiliki porositas antara 15% - 20% , biasanya mempunyai tahanan formasi
batuan sedang (intermediate resistivity). Batuan yang tight mempunyai porositas
batuan yang kecil atau dibawah 15%, sehingga mempunyai tahanan batuan sangat
tinggi (high resistivity).

Untuk mengetahui distribusi porositas dan resistivitas batuan, dapat


dilakukan pendekatan dengan mengolah data porositas dan resistivitas hasil
pengukuran logging dari sumur eksplorasi dengan metode statistik. Hasil analisa
stastistik ini biasanya disajikan dalam bentuk grafik frekuensi, seperti grafik
histogram dan grafik polygon.
174

Gambar 4.1. Bentuk Histogram dan Polygon yang Menunjukkan Batuan yang
Tight

Gambar 4.2. Bentuk Histogram dan Polygon yang Menunjukkan Batuan yang
Moderately Consolidated
175

Gambar 4.3. Bentuk Histogram dan Polygon yang Menunjukkan Batuan


yang Unconsolidated

Pada gambar 4.1. grafik polygon lebih condong ke arah porositas dibawah
15 %, berarti batuannya merupakan batuan tight. Sedangkan pada gambar 4.2.
grafik polygon cenderung simetris, artinya batuan tersebut moderately
consolidated. Pada gambar 4.3. menunjukkan grafik polygon yang condong ke
arah porositas diatas 25 %, artinya batuan yang unconsolidated.

4.1.7. Kondisi Optimum Masing – Masing Alat Log

Untuk mendapatkan data yang maksimal, diperlukan alat-alat log pada


kondisi optimum. Berikut ini adalah tabulasi jenis-jenis alat logging beserta
kondisi optimumnya
176

Tabel IV-1
Kondisi Optimum Alat Logging 5,6,9,10,11,17,19,21)
ALAT LOGGING FUNGSI ALAT KONDISI OPTIMUM
1. Membedakan lapisan
porous permeabel
(sandstone, limestone, 1. Digunakan pada lumpur jenis
water base mud
dolomite) dari lapisan
2. Rm ≠ Rw
nonpermabel (shale
SP log 3. Pada clean sand formation
dan clay)
4. Open hole
2. Menentukan nilai Rw
5. Invasi lumpur dangkal
3. Menentukan batas dan
LITHOLOGI TOOL

ketebalan lapisan

1. Menentukan lapisan
permeabel
2. Membedakan lapisan-
1. Open hole maupun cased hole
lapisan shale dan non
2. Kedalaman penetrasi 6-12 inch
GR log shale.
3. Resolusi vertikal ±3 ft
3. Mengetahui besarnya
kandungan clay (Vclay)
4. Mendeteksi mineral-
mineral radioaktif
Conventional Resistivity Log

1. Untuk short normal


RESISTIVITY TOOL

adalah menentukan Ri 1. Lumpur pemboran konduktif


Normal log

2. Untuk long normal 2. Lubang bor open hole


adalah menentukan Rt 3. Ketebalan lapisan lebih besar
3. Menentukan batas daripada spacing
lapisan
177

Lanjutan
ALAT LOGGING FUNGSI ALAT KONDISI OPTIMUM

1. Lumpur jenis water base


Conventional Resistivity Log mud
1. Menentukan Rt 2. Open hole

Lateral log
2. Menentukan batas 3. Susunan sand dan shale
lapisan yang tebal dengan
ketebalan dari 10 ft – 24 ft
4. Range resistivity antara 1-
500 Ohm-meter

1. Lumpur pemboran yang


konduktif
RESISTIVITY TOOL

2. Ketebalan lapisan > 32 in


1. Menentukan Rt
Laterolog 7

3. Rmf / Rw < 5
2. Menentukan batas
4. Diameter lubang bor > 12
lapisan
in
5. Invasi lumpur > 40 in
6. Rxo atau Ri < Rt
Focused Log

7. Rt/Rm > 50
Laterolog

1. Resolusi vertikal 3 – 6 in
2. Lumpur pemboran yang
konduktif
3. Tebal lapisan > 12 in
1. Menentukan Rt
4. Rmf / Rw < 5
2. Menentukan
Laterolog 3

5. Rt/Rm > 50
batas lapisan
6. Rxo < Rt
7. Resisitivtas > 200 ohm-
meter
178

Lanjutan
ALAT LOGGING FUNGSI ALAT KONDISI OPTIMUM

1. Lumpur pempboran yang


konduktif

Laterolog 8
Laterolog
Mengukur harga Ri 2. Open hole
3. Rmf > 2Rw

4. Harga resistivitas < 200


ohm-meter

1. Resistivitas 0,2 – 40000


ohm
2. Resolusi vertikal 2 ft
3. Rmf < 2 Rw
Kecepatan logging 5000 –
Dual Laterolog

4.
Menentukan
RESISTIVITY TOOL

6000 ft/hr
resistivitas zona
Focused Log

5. Kombinasi dengan Rxo log


shallow dan deep
6. Lumpur jenis salt water
base mud
7. Rasio kontras yang tinggi
dari Rt/Rm

1. Lumpur pempboran yang


konduktif
2. Open hole
3. Rmf > 2Rw
SFL Menentukan Rt 4. Harga resistivitas < 200
ohm-meter
5. Resolusi vertikal ±1 ft
6. Kecepatan logging 5000-
6000 ft/jam
179

Lanjutan
ALAT LOGGING FUNGSI ALAT KONDISI OPTIMUM
1. Sebagai inidikator lapisan
porous permeabel di dalam
susunan sand-shale dengan
range resistivity batuan
formasi antara 0,5 sampai
1. Menentukan Rxo
100 ohm-meter.
Microlog 2. Menentukan zona
2. Porositas batuan lebih
permeabel
besar dari 15 %.
3. Rxo/Rmc lebih kecil dari
15.
4. Ketebalan mud cake
kurang dari 0,5 inch.
RESISTIVITY TOOL

Microresistivity Log

5. Kedalaman invasi lumpur


4 inch atau lebih besar.
1. Kondisi lumpur salt mud.
2. Porositas batuan medium
(lebih kecil dari 15 %)
3. Range tahanan formasi
berkisar 0,5-100 ohm
Microresistivity log

Menentukan harga meter.


Rxo dimana apabila 4. Ketebalan mud cake lebih
menggunakan kecil dari 0,25 inch.
microlog hasilnya 5. Rxo/Rmc lebih besar dar
kurang akurat 15.
6. Kedalaman invasi filtrat
lumpur lebih besar atau
minimal sama dengan 4
inch.
180

Lanjutan
ALAT LOGGING FUNGSI ALAT KONDISI OPTIMUM
1. Digunakan pada batuan
karbonat atau sand.
2. Porositas batuan medium.
3. Lumpur water base mud.

Proximity log
4. Range tahanan batuan
Menentukan Rxo berkisar 0.5-100 ohm-
meter.
5. Invasi lumpur cukup
dalam.
Microresistivity Log

6. Ketebalan mud cake lebih


kecil dari 3/4 inch
1. Didalam lapisan invaded
carbonate atau sand
RESISTIVITY TOOL

2. Lumpur jenis fresh water


base mud
3. Porositas batuan medium
(<15%)

Menentukan Rxo 4. Open hole


SFL
5. Kedalaman invasi filtrat
lumpur > 4”
6. Ketebalan mud cake 3/4” –
3/8”
7. Harga resistivitas batuan
formasi 0,5 - 100 ohm-
meter
1. Resistivitas formasi
rendah (Rt < 10)
Dual Induction log
Induction log

2. Ketebalan lapisan antara


Menentukan Rt 5-6 ft
3. Rmf /Rw > 20
4. Rt/Rm < 10
5. D < 10 in
181

Lanjutan
ALAT LOGGING FUNGSI ALAT KONDISI OPTIMUM
1. Kondisi lubang bor yang tidak
kasar
2. Open hole
3. Densitas batuan formasi 2 – 2,9
FDC Menentukan 𝜌𝑏 gr/cc
4. Kedalaman penetrasi 4 in
Density log

5. Vertical bed resolution 3 ft


6. Kecepatan logging 1800 ft/hr
1. Formasi batuan unconsolidated
sand
1. Menentukan Pe 2. Open hole
LDL
2. Menentukan 𝜌𝑏 3. Porositas antara 20% - 40%
4. Densitas batuan formasi yang
rendah
1. Kondisi open hole
POROSITY TOOL

2. Diameter lubang bor 7 7/8 in


Menentukan
SNP 3. Temperatur 75º F
porositas formasi
4. Resolusi vertikal 2 ft
5. Kedalaman investigasi 8 in
Neutron log

1. Kondisi open hole


Menentukan 2. Diameter lubang bor 7 7/8 in
porositas formasi 3. Temperatur 75º F

CNL dengan merasakan 4. Resolusi vertikal 3 ft


jarak fast neutron 5. Porositas antara 11% - 22%
travel pada formasi 6. Kedalaman investigasi 10 in
7. Kecepatan logging 1800 ft/hr
1. Mengukur 1. Vertical resolution 2 ft
compressional 2. Kedalaman penetrasi 1 in
interval transit 3. Kecepatan logging 5000 ft/hr
Sonic log

BHC time formasi 4. Formasi kompak (porositas 15


% - 25 %)
(∆tc)
5. Dapat dilakukan pada semua
2. Identifikasi
jenis lumpur, tetapi tidak baik
lithologi untuk kondisi gas filled hole

Lanjutan
182

ALAT LOGGING FUNGSI ALAT KONDISI OPTIMUM


1. Korelasi yang lebih baik pada
data sesimik
POROSITY TOOL

1. Mengukur shear interval


2. Dapat dilakukan pada semua
Sonic log transit time (∆ts)
jenis lumpur, tetapi tidak baik
LSS 2. Merekam sifat mekanik untuk kondisi gas filled hole
batuan 3. Open hole
3. Identifikasi lithologi 4. Porositas antara 20% - 40%
5. Unconsolidated sand formation
1. Mengetahui arah dan
1. Resistivitas tinggi ( >200 ohm-
besar penyimpangan
m)
Dipmeter log lubang bor
2. Diameter lubang bor ± 8 inch
LOG TAMBAHAN

2. Pemetaan bawah
3. Dip > 10º
permukaan.
1. Mengukur diameter
lubang bor
2. Korelasi lithologi Dapat mengukur lubang bor dengan
Caliper log diameter sampai 36 inch
3. Menyeleksi gauge
section untuk setting
packer

4.2. Pemilihan Kombinasi Logging yang Optimum Untuk Menentukan


Lapisan Produktif
4.2.1. Prosedur Pemilihan Kombinasi Logging yang Optimum
A. Pengumpulan Data – Data Yang Mempengaruhi Pemilihan
Kombinasi Logging yang Optimum
Persiapan/pengumpulan data “borehole environtment” yang akan
disurvey log. Data tersebut dapat dikoleksi/dikumpulkan dari data sumur
sebelumnya (sumur eksplorasi).
Kegiatan/studi pemilihan kombinasi log optimum biasanya dilakukan
setelah proses pemboran eksplorasi berhasil menemukan lapisan-lapisan
porous-permeabel mengandung hidrokarbon, untuk program penilaian
formasi sumur-sumur pengembangan (development well).
Data yang perlu disiapkan :
183

a. Jenis fluida pemboran


b. Jenis batuan reservoir yang akan disurvey
c. Karakteristik invasi filtrat lumpur (diameter zona yang terinvasi
filtrat)
d. Kondisi lubang bor (variasi diameter lubang bor)
e. Ketebalan lapisan-lapisan porous-permeabel produktif
f. Distribusi porositas dan resitivitas lapisan-lapisan porous-produktif
g. Kondisi optimum pengukuran dari peralatan log yang ada
B. Mempelajari dan Memahami Kondisi Optimum Dari Setiap Jenis
Alat Log
Mempelajari/memahami kondisi optimal dari setiap log yang ada
dipasaran atau yang disarankan oleh company sangat penting untuk
mendapatkan data-data yang dibutuhkan secara akurat. Karena tidak
mungkin satu alat log bisa cocok untuk semua kondisi. Sebagai
contohnya, SP log akan optimal penggunaannya apabila digunakan pada
kondisi open hole, clean sand formation, dengan porositas batuan yang
cukup besar, invasi filtrate lumpur yang dangkal,serta menggunakan
lumpur jenis water base mud. Kondisi optimum dari peralatan logging
dapat dilihat pada tabel IV.1.

C. Memilih Jenis Alat Logging Yang Sesuai Dengan Kondisi Lubang


Bor
1. Jenis lumpur pemboran yang digunakan :
a. Fresh water base muds, semua jenis alat logging yang dapat
digunakan, khusus untuk pemilihan resistivity tools, induction
log lebih optimum digunakan.
b. Salt water base muds, semua jenis alat logging dapat digunakan.
Khusus untuk pemilihan resistivity tools, laterolog lebih
optimum digunakan.
c. Oil base muds, pada kondisi ini resistivity tools yang biasa
digunakan adalah induction log, dan untuk pemilihan alat
184

logging lain yang dapat digunakan antara lain : gamma ray,


neutron log, density log dan sonic log.
d. Gaseous Drilling Fluid, dapa kondisi ini resistivity tools yang
bisa digunakan adalah induction log, dan untuk pemilihan alat
logging lain yang dapat digunakan antara lain : gamma ray,
neutron log, density log dan sonic log.
2. Jenis Batuan Formasi
 Sandstone : untuk kondisi clean maupun shaly sand dengan zona
air, SP dapat digunakan dengan optimum.
 Limestone : SP log akan bergerak lamban, pada kondisi ini GR log
dapat digunakan dengan optimum dan juga dapat
memberikan nilai Vclay yang lebih baik.
 Dolomite : GR log lebih optimum digunakan.
 Shale : GR log, dengan mengabaikan komponen uranium
dapat memberikan Vclay yang lebih baik.
 Shalysand : SP log dan GR dapat digunakan dengan mengoreksi
kandungan shale.
 Carbonate : GR log lebih superior untuk membedakan antara
lapisan permeabel dan non-permeabel.
3. Kedalaman Invasi Mud Filtrat :
a. Invasi zona flushed zone (1-6 inch) :
 Microlog
 Proximity log
 Microlaterolog
 Micro Spherically Focused log
b. Invasi dangkal (0,5-1,5 ft)
 16” Normal log
 Spherically Focused log
 Laterolog 8
c. Invasi medium (1,5-3 ft)
 64” Normal log
185

 Medium Induction log


 Laterolog 7
 Laterolog 3
d. Invasi dalam (> 3ft)
 18 ft Lateral log
 Deep induction log
 Deep Laterolog
4. Kondisi Lubang Bor :
 Open hole : semua jenis logging tools dapat digunakan
 Cased hole : Gamma Ray Log dan Neutron Log dapat
digunakan kecuali untuk jenis SNP dan CNL.
 Varisasi diameter lubang bor : Capiler.

5. Ketebalan Lapisan Produktif :


a. Lapisan tipis (≤ 3 ft) :
 Microlaterolog
 MSFL
 Laterolog Shallow
 Laterolog Deep
b. Lapisan tebal (≥ 3 ft) :
 SP log
 Conventional Resistivity Log
 Shallow Induction Log
 Medium Induction Log
 Deep Induction Log
 Shallow Laterolog
 Deep Laterolog
6. Distribusi Porositas dan Resistivitas :
 Distribusi porositas
a. 0 < Φ > 20% : Neutron Log
b. 15% < Φ > 25% : Sonic Log
186

c. 20% < Φ > 40% : Density Log


 Distribusi Resistivitas
a. Resisitivity antara 0 – 50 ohm-m :
- Conventional Resistivity Log
b. Resistivity < 200 ohm-m :
 Penentuan harga Rt :
- Deep Induction Log
- Induction (6FF40)
 Penentuan harga Rxo :
- Medium Induction Log
- Shallow Induction Log
- Spherically Focused Log
- Laterolog-8
 Penentuan harga Rmc :
- Microlog
- Proximity Log
c. Resisitivity > 200 ohm-m :
 Penentuan harga Rt :
- Deep Laterolog
 Penentuan harga Rxo:
- Laterolog-7
- Laterolog-3
- Shallow Laterolog
 Penentuan harga Rmc :
- Microlaterolog
- MSFL
D. Menentukan Kombinasi Peralatan Logging Yang Terpilih.
Menentukan kombinasi peralatan logging yang terpilih terdiri dari
lithology tools, resistivity toolsdan porosity tools, dengan pertimbangan-
pertimbangan pada poin A, B dan C tersebut diatas.
187

E. Uji Keakuratan Data Hasil Pengukuran Komposisi Kombinasi Log


yang Optimum
Setelah ditentukan kombinasi log, maka proses logging dilakukan.
Setelah didapatkan data hasil dari kombinasi logging, maka dilakukan
uji keakuratan data hasil dari pengukuran komposisi kombinasi log
terpilih, menggunakan pendekatan statistik.
 Akurat, jika harga porositas hasil log sama atau mendekati data
porositas hasil analisa core (pada lapisan yang sama).
 Membuat plot Φ log (sumbu x) vs Φ core (sumbu y)
 Analisa korelasi dan regresi
 Jika kurang akurat (terjadi perbedaan yang tajam antara Φlog terhadap
Φcore, dilakukan pemilihan kembali kombinasi log yang lain (point
D)
188

Gambar 4.4. Korelasi porositas hasil analisa core vs hasil logging

F. Memutuskan Kombinasi Logging Yang Optimum Berdasarkan


Hasil Uji Keakuratan
Kombinasi logging yang optimum adalah kombinasi log yang dapat
menghasilkan data porositas yang sama atau mendekati data porositas
hasil dari analisa core.
189

4.3. Interpretasi Logging


Hasil rekaman sifat-sifat batuan dapat diinterpretasikan baik interpretasi
secara kualitatif maupun kuantitatif. Interpretasi kualitatif log didasarkan atas
bentuk (defleksi) kurva dari log yang tergambar dalam slip log, yang umumnya
dipengaruhi oleh jenis lithologi, kandungan fluida dan mineralnya. Dari
interpretasi ini dapat ditentukan lapisan porous permeabel, pada kedalaman berapa
lapisan tersebut berada, batas-batas dan ketebalan lapisan, serta kandungan dalam
batuan formasi. Setelah dilakukan interpretasi kualitatif, langkah selanjutnya
adalah melakukan interpretasi kuantitatif. Dari interpretasi kuantitatf dapat
ditentukan/dihitung parameter-parameter reservoir seperti porositas dan saturasi
air. Dimana data-data tersebut diolah dari rekaman hasil log menggunakan rumus
pendukung dan chart. Data-data yang telah diolah dapat digunakan untuk
memperkirakan cadangan hidrokarbon di tempat secara akurat.

4.3.1. Interpretasi Kualitatif


Dalam menganalisa logging ini, pasti diperlukan pengamatan (interpretasi
kualitatif) pada lapisan formasi yang diperkirakan akan produktif. Adapun
pengamatan ini dapat berupa pengamatan : identifikasi kedalaman lapisan porous
permeabel, batas dan ketebalan lapisan, identifikasi lithologi, identifikasi minyak,
gas dan air.

4.3.1.1. Identifikasi Kedalaman Lapisan Porous Permeabel


Dari identifikasi ini, akan dapat diketahui pada kedalaman berapa saja lapisan
porous permeable berada.
1. Defleksi SP
Dengan menggunakan SP log, akan dapat diketahui lapisan shale dan non-
shale. Bilamana lumpur pemboran mempunyai perbedaan salinitas dengan air
formasi (terutama lumpur air tawar/water base mud), lapisan-lapisan porous
permeabel umumnya ditunjukkan dengan adanya penambahan defleksi negatif
dari shale base line. Sedangkan pada formasi shale yang ketat akan terjadi
defleksi positif, yaitu ke arah kanan dari shale base line.
190

2. Separasi Resistivity
Adanya lapisan porous permeabel sering ditunjukkan dengan adanya separasi
antara kurva resistivity investigasi dalam dengan investigasi rendah. Pada
zona yang mengadung air, jika Rmf lebih besar dari Rw, Rxo menjadi lebih
besar dari Rt, sehingga pembacaan resistivitas daerah dangkal lebih besar
daripada daerah pengukuran dalam. Sedangkan pada lapisan yang
mengandung hidrokarbon, perbedaan antara Rxo dan Rt akan kecil, tergantung
Rmf/Rw dan Sw/Sxo.
3. Separasi Microlog
Proses invasi lumpur pada lapisan permeabel akan mengakibatkan terjadinya
mud cake pada dinding lubang bor. Dua kurva hasil dari pembacaan akibat
adanya mud cake oleh microlog akan menimbulkan separasi, pada lapisan
permeabel dapat dideteksi oleh adanya separasi positif (micro invers < micro
normal).
4. Caliper Log
Dalam kondisi lubang bor yang baik umumnya caliper log dapat digunakan
untuk mendeteksi adanya ketebalan mud cake. Sehingga dapat
memberikan/membantu pendeteksian lapisan permeabel.

4.3.1.2. Batas dan Ketebalan Lapisan Porous Permeabel


Batas lapisan biasanya ditunjukkan dengan adanya perubahan lithologi
atau porositas dan permeabilitas batuan. Kurva yang digunakan diharapkan harus
sensitif terhadap perubahan agar memberikan definisi vertikal yang baik.
Ketebalan lapisan porous permeabel ditentukan dengan mengurangi kedalaman
top struktur dengan kedalaman bottom struktur dari lapisan tersebut. Kedalaman
top struktur yang dimaksud adalah kedalaman dimana ada perubahan lithologi
atau porositas dan permeabilitas batuan yang mengindikasikan bahwa lapisan
tersebut adalah lapisan porous permeable. Sedangkan kedalaman bottom struktur
adalah kedalaman yang menunjukkan terjadinya perubahan dari lapisan porous
permeabel menjadi lapisan bukan porous permeabel.
Log yang umum digunakan adalah :
191

1. Kurva SP
Dengan log ini dapat membedakan lapisan shale dengan lapisan non-shale.
Saat terjadi perubahan dari lapisan shale menjadi lapisan non-shale (lapisan
porous permeable), maka kedalaman tersebut dicatat sebagai kedalaman top
struktur. Pada saat alat terus diturunkan, diindikasikan lapisan berubah dari
lapisan porous permeable menjadi lapisan shale, dicatat sebagai kedalaman
bottom struktur. Selisih dari kedalaman top dan bottom struktur dicatat
sebagai ketebalan dari lapisan porous permeable.
2. Kurva Resistivity
Alat yang terbaik dalam pembacannya adalah laterolog/induction. Karena
pada pengukuran dengan menggunakan laterolog sangat sedikit pengaruh
adanya dua lapisan yang berdekatan (adjacent beds), dapat mengidentifikasi
zona yang tipis, dan dapat optimal pada salt mud dimana alat resistivitas yang
lain tidak dapat bekerja.
3. Kurva Microresistivity Log
Pada kondisi lumpur yang baik (fresh mud) dapat memberikan hasil
penyebaran vertikal yang baik.
4. Log Sinar Gamma
Log ini dapat membedakan adanya shale dan bukan shale, disamping itu
dapat digunakan pada kondisi lubang dicasing, dalam oil base mud dan gas
filled hole. Sama seperti pada SP log, dari gamma ray log akan dapat
menunjukkan batas dan ketebalan lapisan porous permeable.

Perlu diperhatikan pengukuran batas lapisan dan ketebalan lapisan, harus


diperhatikan pula masalah kondisi optimum masing-masing alat log tersebut.

4.3.1.3. Identifikasi Lithologi


Setelah mengetahui kedalaman, batas lapisan dan ketebalan dari lapisan
porous permeabel, selanjutnya kita mengidentifikasi lithologi dari lapisan
tersebut. Dari informasi lithologi yang didapat, bisa diprediksi masalah yang
akan ditemui beserta penanganannya. Contohnya apabila jenis lithologi dari
192

lapisan tersebut adalah sandstone. Maka mungkin saja terjadi problem kepasiran
dan bisa ditentukan bagaimana penanganan dari masalah tersebut.
- Dengan FDC log akan didapatkan nilai ρb. Sebagai contoh, nilai ρb yang
didapat dari log adalah 2,87. Maka jenis batuannya adalah dolomite.
- Dengan LDL akan didapatkan nilai Pe. Nilai Pe yang didapat 1,81 maka jenis
batuannya adalah sandstone.
- Dengan BHC akan didapatkan nilai tma sebesar 54 µsec/ft. maka jenis
batuannya adalah sandstone.
- Dari LDL diketahui nilai shear dan compessional travel time (ts dan tc).
apabila ts/tc = 1,9 maka jenis batuannya adalah limestone.

4.3.1.4. Identifikasi Minyak, Gas dan Air


Identifikasi minyak, gas dan air dapat dilakukan dengan mengamati
resistivity log dengan mendasarkan kepada sifat air, minyak dan gas. Karena
minyak mempunyai sifat resistivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan air,
maka pada kurva log menunjukkan harga yang tinggi dibandingkan dengan air.
Gas dan minyak dibedakan dengan ketajaman kurva, dimana gas akan lebih tajam
kurvanya dikarenakan sifatnya yang lebih resistif daripada minyak. Sedangkan
batas minyak dan air ditentukan oleh perubahan resistivitas dari besar ke kecil.
Hasil pengamatan dari resistivity log dibandingkan terhadap hasil
pengukuran log FDC-CNL. Air dan minyak mempunyai indeks hidrogen yang
tinggi, sehingga pada kurva log akan menunjukkan harga yang rendah. Sedangkan
gas menunjukkan indeks hidrogen tinggi pada kurva neutron, tetapi densitas gas
lebih kecil daripada air dan minyak. Adanya gas, minyak dan air bisa ditandai
dengan adanya separasi antara kurva neutron dan density. Gas teridentifikasikan
dengan separasi yang lebih besar daripada minyak dan air, dimana kurva neutron
berada disebelah kanan kurva density. Dengan pengamatan sifat-sifat tersebut,
maka dapat diperkirakan kandungan fluida formasi.
193

4.3.1.5. Evaluasi Shaliness


Pada shale 100% Gamma-Ray Log dapat mendeteksi adanya tingkatan
radioaktif alam yang tinggi, sehingga pada tingkatan ini dapat memberikan
gambaran adanya shale. Pada reservoar bersih biasanya mempunyai tingkatan
radioaktif yang rendah atau dapat disebut 0% shale. Dalam batuan reservoar shaly
tingkatan radioaktif tergantung dari kandungan shale.
Pada kurva SP adanya shale defleksi SP akan menurun (kekanan) mulai dari
defleksi SP pada formasi bersih pada formasi air (air asin).
Ada beberapa cara untuk menentukan adanya kandungan clay (Vclay) seca-ra
kwantitatif, sebagai berikut :

1. Vclay SP Log.
Harga Vclay dari SP log ini dapat diturunkan dengan rumus sebagai berikut
SP log
Vclay SP  1 ………………………………......................( 4-1 )
SSP
dimana :
SP log = pembacaan kurva SP pada formasi
SSP = harga pembacaan kurva SP maksimum
Vclay SP akan menjadi tinggi pada lapisan yang mengandung hidrokarbon,
karena defleksi SP tidak sebesar pada lapisan air asin. Oleh karena itu rumus
tersebut diturunkan dalam lapisan pasir yang berisi air dan mempunyai
tahanan batuan rendah sampai menengah serta baik untuk laminated shale.

2. Vclay Rt (resistivity)
Tahanan batuan dari campuran antara clay dan mineral tidak konduktif, quartz
serta tidak dijumpainya adanya porositas adalah tergantung dari tahanan clay
dan isi didalam clay itu sendiri. Kondisi ini dapat dinyatakan dalam rumus
Archie, sebagai berikut :
Rt = Rclay / (Vclay)b
Jika formasi yang ada porositas kecil dan berisi air akan menurunkan tahanan
batuan, sehingga :
194

(Vclay)Rt = (Rclay/Rt)1/b Vclay ………………………………......( 4-2 )


dari penelitian diperoleh hasil bahwa :
- jika harga Rclay/Rt = 0,5 – 1, harga b = 1
- jika harga Rclay/Rt < 0,5 harga b = 2

Gambar 4.5
Kurva Vcla y VS Rt (18)

sedangkan untuk lapisan shaly mengandung hidrokarbon, dapat dicari dengan


rumus :
RClay Rlim  Rt1 / b
(Vclay) Rt = . Vclay ………………………………( 4-3 )
R t Rlim  Rclay

dimana :
Rclay = tahanan lapisan clay yang berdekatan dengan lapisan prospek
Rt = tahanan batuan pada pengamatan.
195

Rlim = tahanan tertinggi pada lapisan hidrokarbon

3. Vclay GR (Gamma-Ray)
Bila tingkatan radioaktifitas clay konstan dan tidak ada mineral yang
radioaktif maka pembacaan gamma ray setelah dikoreksi terhadap kondisi
lubang bor dapat dinyatakan sebagai fungsi linear.
GR = A + B . Vclay ……………………………………..........( 4-4 )
Yang mana harga Vclay dapat ditulis :
GR  GR1
Vclay  ……………………………… .............….( 4-5 )
GR2  GR1

dimana :
GR1 = pambacaan gamma ray yang bersih dari clay
GR2 = pembacaan gamma ray pada material clay
GR = pambacaan gamma ray pada material prospek
Bila ada material lain (selain clay) yang mengandung radioaktif, maka harga
Vclay akan menjadi besar.
GR  GR1
Vclay  ≥ Vclay …………………………….....( 4-6 )
GR2  GR1

4. Vclay N (Neutron)
Indeks Ф neutron dapat dinyatakan sebagai :
Ф N = Ф . Ф Nf + Ф Nclay . Vclay …………………………..( 4-7 )

Harga Vclay N dapat dicari dengan menggunakan :


(Vclay) N = Ф N / Ф Nclay ≥ Vclay …………………………..( 4-8 )
dimana :
ФN = harga Ф neutron pada pengamatan
Ф Nclay = harga Ф neutron dari lapisan clay yang berdekatan
196

4.3.2. Analisa Kuantitatif


Analisa logging secara kuantitatif meliputi analisa porositas, tahanan jenis
air formasi, tahanan air formasi, saturasi dan permeabilitas.

4.3.2.1.Penentuan Porositas
Ada beberapa alat yang baik untuk menentukan porositas yaitu sonic log
(dalam batuan keras dan consolidated atau kompak), density log (untuk semua
formasi, tetapi pada prinsipnya dalam batuan yang kurang consolidated dan
batuan shaly) dan neutron log.
4.3.2.1.1. Porositas Dari Single Tool Porosity
Tiga jenis logging yang dapat mengukur Ф yaitu : sonic log, density log
dan neutron log.
a. Sonic log, log ini juga dapa menentukan porositas sama seperti pada log
neutron atau density yang dapat diperoleh dari persamaan dalam pembahasan
sonic log atau dapat dari Gambar 4.6
197

Gambar 4.6.
Evaluasi Porositas dari Sonic Log Schlumberger

b. Density log, dalam menentukan porositas batuan juga dipengaruhi oleh


lithologi dan kandungan fluida batuan seperti ditunjukkan pada Gambar 4.7.
198

Gambar 4.7.
Penentuan Porositas dari Density Log schlumberger

c. Neutron log, pembacaan log neutron baik SNP maupun CNL tidak hanya
tergantung pada Ф tetapi juga lithologinya, seperti terlihat pada Gambar 4.8

4.3.2.1.2. Porositas Dari Dua Buah Tool Porosity


Dalam menentukan porositas yang sebenarnya adalah sulit karena
tergantung dari lithologi dan fluidanya. Sehingga dalam menentukan Ф harus dua
atau lebih mineral batuan. Oleh karena itu, disamping dapat menentukan adanya
minyak, gas dan komponen matriks batuan, maka kombinasi logging seperti :
Neutron-Density Log dan Neutron-Sonic Log dapat menentukan Ф batuan yang
kompleks. Sedangkan untuk Sonic-Density Log kurang memberikan Ф yang baik,
tetapi berguna untuk menentukan beberapa mineral evaporate.
Untuk menentukan Ф pada dua campuran mineral adalah mudah dengan
menggunakan chart, sedang untuk Ф pada tiga mineral (silica, limestone dan
199

dolomite) adalah dengan menggunakan chart dengan anggapan bahwa mineral


terdiri dari mineral silika dan dolomit.
a. Cross plot antara Neutron-Density Log
Cross plot dari dua porositas yang sering digunakan untuk menunjukkan Ф
dan lithologi. Pada gambar cross plot antara Neutron-Density log, dimana garis-
garis (sandstone, limestone, dolomite) merupakan titik-titik lithologi murni yang
jenuh air dan dibagi menjadi bagian-bagian porositas Gambar 4.8.
b. Cross plot antara Neutron-Sonic log
Cross plot antara Neutron-Sonic log akan memberikan hasil yang baik
untuk lithologi sandstone, limestone dan dolomite, kesalahan pemilihan pasangan
lithologi mempunyai efek yang kecil pada harga Ф yang diperoleh Gambar 4.9.
c. Cross plot antara Sonic-Density log
Cross plot antara Sonic-Density log akan memberikan hasil porositas
batuan yang kurang baik karena kesalahan dalam pemilihan pasangan lithologi
akan memberikan hasil Ф yang jauh berbeda. Tetapi cross plot ini berguna untuk
menentukan beberapa mineral evaporate (penentuan lithologi), dapat dilihat pada
Gambar 4.10.
200

Gambar 4.8.
Penentuan Porositas dan Lithologi dari
Neutron-Density Log (FDC-SNP) Schlumberger
201

Gambar 4.9.
Penentuan Porositas dan Lithologi dari
Neutron-Sonic Log (Sonic-CNL) Schlumberger
202

Gambar 4.10.
Penentuan Porositas dan Lithologi dari
Sonic-Density Log Schlumberger
203

Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu faktor yang


mempengaruhi teknik cross plot diantaranya pengaruh kondisi scale, porositas
sekunder dan adanya hidrokarbon.
Adanya kandungan shale dapat menyebabkan penyimpangan titik cross
plot kearah titik shale pada chart. Titik shale didapat dari pengeplotan harga
porositas apperent (Ф Dsh, ФNsh,Δtsh) yang diamati pada lapisan shale. Harga
shale ini hanya boleh mendekati parameter material shale dalam lapisan
permeabel.
Sonic log tidak mengenal porositas vuggy dan rekah tetapi bertanggung
jawab atas porositas intergranular dan porositas sekunder. Sedang alat neutron dan
density hanya mengetahui Ф total batuan, Ф sekunder ini biasanya ditulis sebagai
secondary porosity index (SPI).
SPI = Ф . Ф sonic ………………………………………..(4-9)
Keterangan :
Ф = porositas yang diperoleh dari log neutron dan atau density
Adanya kandungan gas/hidrokarbon ringan akan mempengaruhi pembacaan alat
density dan neutron, sedangkan sonic hanya terjadi pada formasi yang tidak
kompak. Pengaruh terhadap alat neutron akan menurunkan pembacaan Ф, sedang
untuk sonic juga akan menambah Ф yang sebenarnya. Sehingga pada cross plot
diperlukan koreksi gas/hidrokarbon ringan agar Ф dan indikasi lithologi menjadi
besar.

4.3.2.1.3. Porositas Dari Multi Porosity Logs


Multi porosity logs dapat didefinisikan lithologi secara lebih baik,
sehingga dalam menentukan porositas akan menjadi lebih baik pula. Ada dua cara
plot yang umum digunakan yaitu M-N plot dan MID plot.
a. M-N plot
Pengeplotan dari tiga data log porositas (log sonic, log neutron dan log
densi-tas) untuk interpretasi lithologi dapat dilakukan dengan M-N plot. Dan
harga M dan N didefinisikan sebagai :
204

t f  t
M  0,01 ……... ……... .……………………………….(4-10)
b   f

N f  N
N ………………………………………………..(4-11)
b   f
Keterangan :
Δt = beda waktu interval dari log
ρf = densitas fluida (1.0 fresh mud dan 1.1 salt mud)
ρb = bulk density dari log
Фnf = porositas neutron fluida
Фn = porositas neutron dari log, porositas neutron ini dapat ditentukan
dari log CNL atau log Sidewall Neutron Porosity (SNP)
pengalian 0,01 dimaksudkan supaya harga M dapat mempermudah
pemakain skala, Ф N dinyatakan dalam unit porositas limestone. Untuk fresh mud
(lumpur air tawar) diberikan harga Δtf = 189, f – 1,0 dan ФNf = 1,0. Metode M-N
plot didasarkan atas harga parameter matriks (Δtmax, ρma, ФNma) dan parameter
fluida. Untuk lebih jelasnya lihat gambar M-N plot.
205

Tabel IV-2
Menentukan M-N untuk Macam-macam Mineral Asquith

Mineral Fresh Mud Salt Mud


(ρt = 1) (ρt = 1.1)
M N* M N*
Sandstones (1) .810 .628 .835 .669
Vm = 18,000
Sandstones (2) .835 .628 .862 .669
Vm = 19,500
Limestone .827 .585 .854 .621
Dolomite (1) .778 .516 .800 .554
Ф = 5.5 – 30%
Dolomite (2) .778 .524 .800 .554
Ф = 1.5 – 5.5%
Dolomite (3) .778 .532 .800 .561
Ф = 0.1 – 5%
Anhydrite .702 .505 .718 .532
ρmn = 2.98
Gypsum 1.015 .378 1.064 .408
Salt 1.269 1.032
206

Gambar 4.11.
M-N Plot untuk Identifikasi Mineral Schlumberger
b. MID Plot
Metode cross-plot yang kedua untuk mengidentifikasi lithologi dan
porositas sekunder adalah MID (matrix identification) plot. Seperti M-N plot,
207

MID plot memerlukan : log neutron, log densitas dan log sonic. Langkah pertama
yaitu membuat sebuah MID plot untuk menentukan besarnya parameter batuan
nyata (ρma) dan (Δtma)a menggunakan grafik neutron-density dan sonic-density
yang sesuai. Besarnya densitas batuan nyata (ρma) dan beda waktu interval nyata
(Δtma)a kemudian diplot ke dalam grafik MID plot (Gambar 4.12)
Banyaknya kelompok pada segitiga tersebut dijelaskan oleh anggota akhir
kalsit, dolomite dan anhydrite menunjukkan bahwa lithologinya adalah anhydritic
limey dolomite (Gambar 4.12). Data-data menunjukkan bahwa titik-titik yang
terdapat diluar garis antara dolomit dan limestone adalah porositas sekunder.
208

Gambar 4.12.
MID Plot Schlumberger
209

4.3.2.2.Penentuan Resistivitas Air Formasi (Rw)


Ada beberapa metode yang digunakan untuk menghitung resistivitas air
formasi, yaitu :
A. Analisa Air Formasi
Pengukuran harga Rw dilakukan dipermukaan dari contoh air formasi
dengan melakukan pencatatan terhadap temperatur permukaan. Untuk
mendapatkan harga Rw pada temperatur formasi dimana contoh air formasi
tersebut berasal maka digunakan persamaan :

(T pengukuran  6.77)
Rw(Tf )  xRw(Ts )
(T formasi  6.77)

B. Metode SP
Langkah penentuan Rw dari metode SP adalah sebagai berikut :

- Menentukan temperatur formasi (Tf) dalam 0F :


BHT  Ts
Tf  x Depth SSP  Ts
Depth Log

dimana : BHT : temperatur dasar lubang

Ts : temperatur permukaan

SSP : Statik SP

- Menentukan resistivitas filtrat lumpur (Rmf) pada temperatur formasi :


Ts  6.77
Rmf  x Rmf (Ts )
T f  6.77

- Menentukan Rmfc : Rmfc  0.85 xRmf

- Menentukan konstanta SP : C  61  (0.133xTf )

Rmfc
- Menentukan Rwc dari SP : R wc  SSP
10 C
210

4.3.2.3 Penentuan Resistivitas Sebenarnya dan Resistivitas Flushed Zone (Rt


dan Rxo)
Besarnya Rt dapat ditentukan dari hasil pengukuran daerah yang tidak
terinvasi dengan menggunakan Induction Log atau Dual Laterolog, sedangkan
untuk resistivity pada flushed zone (Rxo) menggunakan microresistivity log yaitu
MSFL.

4.3.2.4.Penentuan Lapisan Shale dan Non Shale


Ada beberapa cara untuk menentukan adanya kandungan clay (Vclay) seca-
ra kwantitatif, sebagai berikut :
b. Vclay SP Log.
Harga Vclay dari SP log ini dapat diturunkan dengan rumus sebagai berikut
SP log
Vclay SP  1 ………………………………..(4-12)
SSP
dimana :
SP log = pembacaan kurva SP pada formasi
SSP = harga pembacaan kurva SP maksimum
Vclay SP akan menjadi tinggi pada lapisan yang mengandung hidrokarbon,
karena defleksi SP tidak sebesar pada lapisan air asin. Oleh karena itu rumus
tersebut diturunkan dalam lapisan pasir yang berisi air dan mempunyai tahanan
batuan rendah sampai menengah serta baik untuk laminated shale.

c. Vclay Rt (resistivity)
Tahanan batuan dari campuran antara clay dan mineral tidak konduktif,
quartz serta tidak dijumpainya adanya porositas adalah tergantung dari tahanan
clay dan isi didalam clay itu sendiri. Kondisi ini dapat dinyatakan dalam rumus
Archie, sebagai berikut :
Rt = Rclay / (Vclay)b
Jika formasi yang ada porositas kecil dan berisi air akan menurunkan tahanan
batuan, sehingga :
(Vclay)Rt = (Rclay/Rt)1/b Vclay ………………………………..............(4-13)
dari penelitian diperoleh hasil bahwa :
- jika harga Rclay/Rt = 0,5 – 1, harga b = 1
211

- jika harga Rclay/Rt < 0,5 harga b = 2

Gambar 4.13.
Kurva Vclay Rt
(-------------, “Carbonates Sedimentory”)

sedangkan untuk lapisan shaly mengandung hidrokarbon, dapat dicari dengan


rumus :
RClay Rlim  Rt1 / b
(Vclay) Rt = . Vclay ………………………………..(4-14)
R t Rlim  Rclay

Keterangan :
Rclay = tahanan lapisan clay yang berdekatan dengan lapisan prospek
Rt = tahanan batuan pada pengamatan.
Rlim = tahanan tertinggi pada lapisan hidrokarbon
212

d. Vclay GR (Gamma-Ray)
Bila tingkatan radioaktifitas clay konstan dan tidak ada mineral yang
radioaktif maka pembacaan gamma ray setelah dikoreksi terhadap kondisi lubang
bor dapat dinyatakan sebagai fungsi linear.
GR = A + B . Vclay …………………………………………...(4-
15)
Yang mana harga Vclay dapat ditulis :
GR  GR1
Vclay  ………………………………………………..(4-16)
GR2  GR1

Keterangan :
GR1 = pambacaan gamma ray yang bersih dari clay
GR2 = pembacaan gamma ray pada material clay
GR = pambacaan gamma ray pada material prospek
Bila ada material lain (selain clay) yang mengandung radioaktif, maka harga Vclay
akan menjadi besar.
GR  GR1
Vclay  ≥ Vclay …………………………………...(4-
GR2  GR1

17)
e. Vclay N (Neutron)
Indeks Ф neutron dapat dinyatakan sebagai :
Ф N = Ф . Ф Nf + Ф Nclay . Vclay ………………………………………..(4-18)

Harga Vclay N dapat dicari dengan menggunakan :


(Vclay) N = Ф N / Ф Nclay ≥ Vclay ………………………………………..(4-19)
Keterangan :
ФN = harga Ф neutron pada pengamatan
Ф Nclay = harga Ф neutron dari lapisan clay yang berdekatan
213

4.3.2.5.Saturasi
a. Formasi Clean Sand/Carbonates
a x Rw
Sw  ......................................................................................(4-20)
 m x Rt

Keterangan :

Rw : resistivity air, ohm-m

Rt : true resistivity, ohm-m

n : exponential saturation factor ( n = 2 )

Untuk formasi pasir m=2 ; a = 0.81

Untuk formasi limestone dan dolomite m=2 ; a = 1.00

Humble m = 2.15 ; a = 0.62

b. Formasi Shally Sand


 Menentukan harga saturasi air pada zona invasi lumpur (Sxo) :
  Vclay 
 1  
m 
1  V 
clay 2  c 2  x S n2
   xo
Rxo Rclay 0.8 x Rmf
 

 Menentukan saturasi hidrokarbon sisa (Shr) :


S hr  1  S xo

 Menentukan porositas sebenarnya :


tc  c x 1 0.1xShr 

 Menentukan saturasi air formasi :


  Vclay 
 1  
m 
1  V 
clay 2  c 2  n
  x S (Indonesian Equation)
0.8 x Rw 
w 2
Rt Rclay
 
214

4.3.2.6.Permeabilitas
Suatu hubungan empiris yang umum antara permeabilitas dan porositas
dikemukakan oleh Wylie dan Rose, yaitu :

C x
K y
S wi

Kemudian Tixer dan Timur menjabarkan rumus Wylie dan Rose ini
kedalam sesuatu yang dapat diterapkan pada hasil rekaman log sumur, antara lain:

1. Rumus Tixer :
1 3
k 2
 250 ………………………............(4-21)
S wi

2. Rumus Timur :
1  2.25
k 2
 100 ………………………............(4-22)
S wi
4.3. Prosedur Pemilihan Kombinasi Log

Dalam mengevaluasi reservoar secara optimum, maka cara yang paling cocok
digunakan adalah dengan mengkombinasikan alat-alat logging yang sesuai dengan
kodisinya. Baik buruknya dalam mengkombinasikan logging yang cocok dapat
mempengaruhi ketelitian hasil evaluasi reservoar tersebut, seperti dalam
memperkirakan kandugnan hidrokarbon yang terdapat didalam batuan reservoar.
Cara penilaian kombiasni logging yang cocok dapat dilakukan dengan
memperhatikan pemilihan logging seperti :
- formasi batuan reservoar
- jenis lumpur
- kondisi lubang bor
adapun cara pemilihan kombinasi logging tersebut diharapkan semaksimal
mungkin dapat mendapatkan data-data yang lengkap, yang sesuai dengan tujuan
didalam teknik perminyakan.
Prosedur pemilihan :
215

A. cari/perkirakan data-data yang mempengaruhi kombinasi logging (dari hasil


eksplorasi atau sumur didekatnya, atau bahkan dari hasil eksploitasi batuan
reservoar dalam satu cekungan) sebagai berikut :
- batuan reservoar : lithologi batuan (mineral), fluida pengisi batuan, ketebalan
lapisan batuan reservoar, porositas batuan (untuk memperkirakan diameter
invasi Di) dari batuan-batuan (Rxo, Rt, Rw)
- jenis lumpur pemboran atau fluida dalam lubang bor, tahanan lumpur
pemboran (Rm) dan perkirakan tebal mud cake.
- Kondisi lubang bor, ada tidaknya selubung lubang bor (casing), keadaan
diameter lubang bor dan diameter lubang itu sendiri.
B. Tentukan jenis logging yang sesuai dengan jenis lumpur pemboran, dan
kondisi lubang bor.
C. Tentukan kombinasi logging reservoar berdasarkan kondisi batuan reservoar,
lumpur pemboran, kondisi lubang bor serta disesuaikan dengan data-data yang
diinginkan.
- lithologi batuan dan fluida pengisi batuan
 lithologi (porous)
 SP= digunakan pada fresh water mud kecuali pada 11,5 < ph < 13
Pada salt water mud, disarnakan skala antara 4-5 mv/devision
 Gamma-Ray = dapat menyesuaikan
 Identitas permeabilitas dan tebal total lapisan, SP, GR, separasi
reseistivity log dan radioaktif log
 Identitas fluida : khusus pada reservoar gas digunakan Density-Neutron
log
- Porositas batuan
 Pemilihan pengukuran alat porositas :
Neutron log, porositas < 22%, Density Log porositas 20%-40%,
Sonic log porositas 10%-20%, microlog (Rxo log) porositas >15%
dan IES porositas >25%
 Pemilihan alat pengukur porositas pada campuran dua mineral, Neutron
Sonic Log dan Neutron-Density Log. Keduanya khusus untuk mineral
216

sandstone, limestone dan dolomite. Sedangkan untuk mineral evaporit


disarankan Sonic-Density Log
 Pada lithologi yang kompleks disarankan ketiga log (Neutron-Density-
Sonic Log)
 Pertimbangan lain, jika formasi mengandung clay maka alat pengukur
porositas yang cenderung lebih baik digunakan adalah Density Log
 Kesimpulan alat pengukur porositas yang dapat digunakan dengan
memperlihatkan hal-hal khusus seperti SNP tidak digunakan untuk cased
hole, CNL tidak digunakan untuk gas filled holes,dll
- Resistivity batuan
 Conventional Resistivity Log
- tebal lapisan : untuk limestone device > 64” sedangkan normal
resistivity log >30’
- invasi rendah sampai menengah
- harga Rt < 50 untuk fresh water
 Induction Log
- tebal lapisan disarankan lebih dari 3,5 – 5 ft
- radius investigasi dan disesuaikan dengan Di
- harga Rt/Rm < 10 atau pada fresh water mud harga Rt < 200
sedangkan salt water mud harga Rt < 5
- harga Rxo > Rt