Anda di halaman 1dari 13

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/335227300

PEMBAHASAN STUDI KASUS SEBAGAI BAGIAN METODOLOGI PENELITIAN

Preprint · August 2019

CITATIONS READS
0 915

1 author:

Taufik Hidayat
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
1 PUBLICATION   0 CITATIONS   

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Taufik Hidayat on 18 August 2019.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


PEMBAHASAN STUDI KASUS SEBAGAI BAGIAN METODOLOGI PENELITIAN
Taufik Hidayat
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Email: hidayattaufik19851115@gmail.com

ABSTRAK
Studi kasus (Case studies) merupakan bagian dari metodologi penelitian yang mana pada pokok
pembahasanya seorang peneliti dituntut untuk lebih cermat, teliti dan mendalam dalam
mengungkap sebuah kasus, peristiwa, baik bersifat individu ataupun kelompok. Pada studi
pustaka ini, peneliti ingin mengupas pembahasan tentang studi kasus sebagai bagian metodologi
penelitian. Adapun cakupan pembahasannya meliputi penyajian tentang pengertian studi kasus,
tujuan dan jenis studi kasus sebagai metode penelitian, sejarah perkembangan studi
kasus,bagaiman cara atau teknik penerapan studi kasus pada proses penelitian, manfaat
penelitian studi kasus dan langkah-langkah dalam menerapkan studi kasus sebagai metodologi
penelitian. Dengan adanya studi pustaka ini diharapkan akan memberikan wawasan lebih
mendalam kepada halayak umum dalam memahami metode studi kasus (Case Studies) dalam
kajian penelitian.

Key word. Pembahasan,Studi kasus (case studies), Metodologi, Penelitian


1. PENDAHULUAN
Manusia adalah mahluk yang diberi keistimewaan oleh sang pencipta dalam bentuk
akal dan pikiran. Akal dan pikiran ini bertejuan untuk menjadikan pembeda dengan makhluk
yang lain di bumi ini. Dengan akal dan pikiran ini juga manusia selalu terdorong untuk selalu
maju, berkembang dan berpikir benar. Dalam kehidupan manusia yang semakin maju dan
berkembang di bidang IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi) sekarang ini, menjadikan
manusia harus mampu berfikir realistis dan benar. Untuk mencapai pemikiran yang realistis
dan benar, manusia pasti membutuhkan proses berfikir. Salah satu jawaban melalui poses
berfikir adalah dengan melakukan penelitian dan penelitian itu merupakan bagian dari
kegiatan keilmuan.
Sebagai bagian keilmuan, penelitian merupakan alat untuk menjadikan temuan dan
jawaban menjadi realistis dan logis sehingga terbukti kebenaranya. Ada dua jenis kebenaran
yang bisa terungkap dalam penelitian, yaitu kebenaran formal dan kebenaran substansial.
Kebenaran formal bisa diperoleh melalui metodologi yang dilandasi oleh paradigm yang tepat
sedangkan kebenaran substansial diperoleh melalui kajian teori yang mendalam.
Salah satu cara untuk mengungkap kebenaran formal ini dengan cara penelitian baik
yang kualitatif atau kuantitatif. Menurut Dr. Suwartono, M. Hum. Dalam bukunya Dasar-
Dasar Metodologi Penelitian (2014:120) Penelitian secara umum menyebutkan bahwa
pengelompokan jenis penelitian sangat beragam, menurut penulisnya masing-masing.
Berdasarkan perspektif pendekatan penelitian diantaranya, penelitian etnografi, studi kasus,
survey, penelitian tindakan kelas dan penelitian eksperimental. Berdasarkan keterangan diatas
bahwa ada beberapa faktor yang mengelompokan jenis penelitian menjadi sangat banyak
diantaranya adalah berdasarkan latar belakang, tujuan, pendekatan bidang keilmuan dan
tempat.
Salah satu jenis penelitian diantaranya adalah studi kasus, Studi Kasus berasal dari
terjemahan dalam bahasa Inggris “A Case Study” atau “Case Studies”. Kata “Kasus” diambil
dari kata “Case” yang menurut Kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current
English (1989; 173), diartikan sebagai 1). “instance or example of the occurrence of sth., 2).
“actual state of affairs; situation”, dan 3). “circumstances or special conditions relating to a
person or thing”. Secara berurutan artinya ialah 1). contoh kejadian sesuatu, 2). kondisi aktual
dari keadaan atau situasi, dan 3). lingkungan atau kondisi tertentu tentang orang atau sesuatu.
Berdasarkan pengertian diatas bisa disimpulkan bahwa Studi kasus merupakan bagian dari
kajian yang mendalam terhadap sesuatu yang berbeda atau unik yang ada dalam suatu
kelompok, lembaga atau individu tertentu.

2. PEMBAHASAN
A. Pengertian Penelitian Studi Kasus
Menurut bahasa Inggris “A Case Study” atau “Case Studies”. Kata “Kasus”
diambil dari kata “Case” artinya kasus, kajian , peristiwa Sedangkan arti dari
“case”sangatlah komplek dan luas. Menurut Unika Prihasanti (2018:2) mendefinisikan
studi kasus, tidak ada definisi tunggal termasuk dalam ilmu sosial terdapat definisi yang
luas dan terbagi dalam empat kategori (Hentz, 2017). Teaching case tidak perlu
menggambarkan individu, peristiwa atau proses tertentu secara akurat, karena tujuan
utamanya untuk meningkatkan pembelajaran. Teaching case dapat berupa ilustrasi dan
meskipun berasal dari pengamatan studi kasus tidak selalu sesuai dengan metodologi
penelitian tertentu. Untuk tujuan pendidikan Yin menyatakan “A case study need not
contain a complete or accurate rendition of actual events, rather, its purpose is to
establish a framework for discussion and debate among students”. (Yin, 2002).
Menurut Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si (2017:5) menyimpulkan bahwa
Studi Kasus ialah suatu serangkaian kegiatan ilmiah yang dilakukan secara intensif,
terinci dan mendalam tentang suatu program, peristiwa, dan aktivitas, baik pada tingkat
perorangan, sekelompok orang, lembaga, atau organisasi untuk memperoleh pengetahuan
mendalam tentang peristiwa tersebut. Pada umumnya tarjet penelitian studi kasus adalah
hal yang actual (Real-Life) dan unik. Bukan sesuatu yang sudah terlewati atau masa
lampau
Merriam & Tisdell (2015) mendefinisikan studi kasus sebagai diskripsi dan
analisis mendalam dari bounded system, sebuah system yang tidak bisa terlepas dari satu
kasus dengan kasus yang lain Karena dalam studi kasus memunculkan adanya bagian-
bagian system yang bekerja secara terintergratif dan berpola dengan yang lain.
B. Tujuan dan Jenis Penelitian Studi Kasus
Pada umumnya penelitian mengkaji hanya hal-hal yang bersifat umum, memiiliki
kesamaan yang hampir pola dan hasilnya serupa. Menurut Dr. Suwartono, M.Hum
(2014:125) kesimpulan yang diperoleh dari studi kasus tidak bisa digeneralisasikan atau
diasumsikan berlaku pada subjek lain, kecuali individu atau kelompok subjek yang
memiliki karakteristik serupa. menurut Yin (2002) studi kasus sebagai proses penelitian.
“A case study is an empirical inquiry that investigates a contemporary phenomenon (the
‘case’) within its real-life context, especially when the boundaries between phenomenon
and context may not clearly evident” (p.16). Sebuah studi kasus penelitian yang memiliki
tujuan guna menguji pertanyaan dan masalah penelitian yang mana hal itu terlepas dari
konteksnya.
Stake (1994) menyatakan bahwa penelitian studi kasus bertujuan untuk
mengungkap kekhasan atau keunikan krakteristik yang terdapat didalam kasus yang
diteliti. kasus itu sendiri merupakan penyebab dilakukanya penelitian studi kasus oleh
karena itu tujuan dan fokus utama dari penelitian studi kasus adalah pada kasus yang
menjadi objek penelitian. Kasus itu bisa ada dan ditemukan hampir disemua bidang, oleh
karena itu segala sesuatu yang berkaitan dengan kasus seperti sifat alamiah kasus,
kegiatan, fungsi, kesejarahan, kondisi lingkungan dan berbagai hal lain yang berkaitan
dan mempengaruhi kasus harus diteliti dengan tujuan untuk menjelaskan dan memahami
keberadaan kasus tersebut secara menyeluruh dan komprehensif.
Ada beberapa jenis studi kasus yang sering ditemukan dalam penelitian. Menurut
Yin (2002) membagi studi kasus menjadi, studi kasus eksplanatori, eksploratori,
diskriptif. Pertama studi kasus eksplanatori. Studi kasus explanatori merupakan studi
kasus yang kompleks da multivarian biasanya pada studi kasus explanatory ini digunakan
dalam studi kausal. Karena model yang ad pada studi kausu explanatory tepat
menggunakan system pencocokan pola. Kedua, Studi kasus eksploratori, Proses
pengumpulan data dilapangan dapat dilakukan sebelum adanya pertanyaan peneliti dan
biasanya model penelitian seperti ini di anggap sebagai studi pendahuluan dan penelitian
sosial. walaupun proses data dilakukan sebelum adanya pertanyaan tetap kerangka kerja
penelitiap haruslah sudah dibuat sebelumnya. Ketiga, studi kasus diskriptif, pada jenis
studikasus ini semua kesimpulan akan di jabarkan dengan bentuk diskripsi yang di
kaitkan dengan teori dan temuan.
C. Perkembangan Penelitian Studi Kasus
Menurut Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si (2017:10) Hingga saat ini Studi
Kasus sudah berusia lebih dari 70 tahun. Sejak kemunculannya, jenis penelitian ini
memperoleh banyak kritik karena dianggap analisisnya lemah, tidak objektif dan penuh
bias, tidak seperti penelitian kuantitatif yang menggunakan statistik sebagai alat analisis.
Studi kasus adalah bagian dari metode penelitian yang sudah cukup lama ada. Pada
awalnya memang dipandang sebelah mata karena dianggap lemah, kurang akurat dan bias
pada hasil penelitian. seiring perkembangan teknologi yang semin maju memberikan
kemuduhan dalam pengambilan data dan mempersempit bias pada hasil penelitian studi
kasus. Studi kasus sering digunakan sebagai metode penelitian pada bidang kajian ilmu
sosial mulai dari psikologi, sosiologi, ilmu politik, antropologi, sejarah, dan ekonomi
hingga ilmu-ilmu terapan seperti perencanaan kota, ilmu manajemen, pekerjaan sosial,
dan pendidikan
Banyak para mahasiswa menggunakan studi kasus sebagai bagian metode
penelitian untuk menyelasaikan tugas akhir dalam bentuk thesis atau disertasi. Hal itu di
lakukan bertujuan untuk menghasilkan hasil kajian yang lebih mendalam dan
komprehensip. untuk menghasilkan hasil yang mendalam dan komprehensip mahasiswa
perlu melakukan pendekatan yang intensif dalam mencari data informasi penelitian.
Menurut Dr. Suwartono, M. Hum. (2014:126) cara untuk melengkapi informasi hasil
penelitian peneliti bisa melalui dokumentasi,untuk menjalin kedekatan, tidak jarang
peneliti melibatkan diri dalam “dunia” subjek yang diteliti.
D. Bagaimana Studi Kasus di Ungkap Dalam Penelitian
Menurut Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si (2017:12) Sama halnya dengan model
penelitian kualitatif yang lain seperti fenomenologi, etnografi, etnometodologi, grounded
research dan studi teks. Studi kasus Juga dilakukan dalam latar belakang yang bersifat
alamiah, holistic dan mendalam. Alamiah berarti proses penelitian dan pengambilan
informasinya dilakukan dalam kehidupan yang nyata (real-life event) seorang peneliti
tidak perlu membuat rekayasa atau uji coba pada subjek penelitian. Dengan informasi apa
adanya ini membuat data lebih akurat dan hasil yang akan di capai jauh dari bias.
Holistic berarti peneliti dituntun untuk dapat menemukan informasi yang akan
dijadikan data secara koprehensif sehingga hasil penemuanyapun tidak akan
menimbulkan pertanyaan dan perdebatan lagi. Untuk mendapatkan informasi yang
koprehensif ini, peneliti tidak hanya penggali informasi dari partisipan dan informan
melalui wawancara tetapi juga bisa di lakukan terhadap orang-orang yang ada disekitar
subjek peneliti.
Mendalam dengan artian seorang peneliti dituntut untuk mampu mengungkap
informasi secara luas dan mendalam. Baik informasi yang bersifat tersurat ataupun
tersirat yang disampaikan oleh saubjek peneliti. Sehingga hasil yang akan di peroleh akan
memiliki perbedaan dibandingkan dengan informasi pada penelitian yang bersifat umum.
Dengan memunculkan paradigma studi kasus mampu memunculkan permasalahan dan
mengungkapkan kebenaran dari permasalhan itu sendiri. Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo,
M.Si (2017:14) Dalam pandangan paradigma fenomenologi, yang tampak atau kasat mata
pada hakikatnya bukan sesuatu yang riel (realitas). Itu hanya pantulan dari yang ada di
dalam mengkaji hal tersebut peneliti tidak cukup hanya melihat dari sesuatu yang tampak
(secara umum) saja, akan tetapi menggalai lebih dalam. Sebagai contoh penelitian
terhadap seorang guru yang memiliki prestasi lebih dibandingkan dengan teman-teman
guru di sekolahnya. Untuk mendapatkan infomasi yang mendalam perlulah peneliti
menggunakan teknik interview baik yang terstruktur ataupun tidak terstruktur. Dari hasil
interview tersebut peneliti harus mampu mengungkap data-data informasi baik yang
bersifat tersirat ataupun tersurat yang disampaikan oleh subjek peneliti. Guna
menambahkan data pendukung penelitian, peneliti juga bisa menginterview beberapa
guru dan kepala sekolah yang ada di skolah tersebut.
E. Manfaat Penelitian Studi Kasus
Menurut Lincoln dan Guba, sebagaimana dikutip Mulyana (2013: 201202), keistimewaan
Studi Kasus meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Studi Kasus merupakan sarana utama bagi penelitian emik, yakni menyajikan
pandangan subjek yang diteliti,
2. Studi Kasus menyajikan uraian menyeluruh yang mirip dengan apa yang dialami
pembaca dalam kehidupan sehari-hari (everyday reallife),
3. Studi Kasus merupakan sarana efektif untuk menunjukkan hubungan antara peneliti
dengan subjek atau informan,
4. Studi Kasus memungkinkan pembaca untuk menemukan konsistensi internal yang
tidak hanya merupakan konsistensi gaya dan konsistensi faktual tetapi juga
keterpercayaan (trustworthiness),
5. Studi Kasus memberikan “uraian tebal” yang diperlukan bagi penilaian atas
transferabilitas,
6. Studi Kasus terbuka bagi penilaian atas konteks yang turut berperan bagi pemaknaan
atas fenomena dalam konteks tersebut.
Berdasarkan manfaat studi kasus diatas, penelitian studi kasus akan mampu
memberikan kejelasan terhadap subuah kasusu yang mendalam dan akurat. Studi kasus
juga terbuka orang lain dalam menafsirkan sebuah konteks atau kasus sehingga hasil yang
dicapai akan lebih akurat dan komprehensif.
F. Langkah-Langkah Penelitian Studi Kasus
Dalam pelaksanaan kajian atau penelitian studi kasus, maka tidak akan lepas dengan
poses yang secara teratur dan berkelanjutan. Beberapa tahapan yang harus dilalui oleh
peneliti diantaranya:
a) Pemilihan Tema atau Topik Penelitian
Tema atau topic dalam penelitian menjadi hal sangat penting dalam kajian
studi kasus. Hal ini disebabkan tema adalah “body of knowledge” begitu penting
pemilihan tema maka alangkah baiknya peneliti haruslah melihat latar belakang
akademisi yang menji bagian dari keilmuanya. Sebagai contok seorang mahasiswa
jurusan pendidikan Bahasa Inggris, maka wajiblah dalam menentukan tema
penelitian yang berkaitan dengan kasusu-kasus yang sering muncul di bidang
pendidikan Bahasa Inggris, sehingga hasil kajian peneliatnya akan mendalam dan
komprehensif karena sesua dengan bidang keilmuanya.
b) Kajian Teori Penelitian
Pada tahapan kedua ini, peneliti harus mau dan siap untuk membaca dan juga
menelaah kajian teori-teori, yang ada pada buku bacaan, jurnal, majalah ilmiah, surat
kabar dan juga laporan penelitian terdahulu. Menurut Yin (1994: 9) pembacaan
literatur sangat penting untuk memperluas wawasan peneliti di bidang yang akan
diteliti dan mempertajam rumusan masalah yang akan diajukan.
Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si (2017:14) memberi penjelas bahwa
dalam upaya pengumpulan bahan bacaan peneliti perlu mempertimbangkan dua
aspek penting, yakni relevansi (relevance) bahan bacaan/literatur tersebut dengan
topik bahasan (kasus) yang diangkat dan kemutakhiran (novelty). Semakin muktahir
kajian bacaan yang dibaca maka semakin baik dan relevan sesuai dengan
perkembangan yang di hadapi oleh peneliti. Sering di temukan kutipan bacaan yang
kurang tepat dan relevan karenatidak sesuai dengan kajian pembahasan pada
bidangnya.
c) Perumusan Masalah
Pada proses perumusan masalah, peneliti di tuntut untuk lebih teliti hal apa
yang akan di jadikan pokok masalah pada penelitian, menurut Dr. Suwartono (2014:
24) perumusan suatu permasalahan perlu dilakukan untuk memperjelas masalah yang
dihadapi. Untuk menghindari kurang mendalamnya hasil penelitian. Maka seorang
peneliti bisa mengfokuskan pada titik yang menjadi pusat perhatian.
d) Pengumpulan Data
Menurut Dr. Suwartono, M. Hum (2014:41) pengumpulan data adalah
berbagai cara yang digunakan untuk mengumpulkan data, menghimpun, mengambil
atau menjaring data penelitian. Pada proses pengumpulan data studi kasus, peneliti
dapat menggunakan beberapa teknik diantarantanya adalah wawancara, observasi
dan dokumentasi. Pada tahapan ini peneliti mempunyai peranan yang sangat penting
hal itu dikarenakan penelitilah yang bisa menyimpulkan kapan waktu untuk
memulai dan mengakhiri penelitian dan juga mampu mengukur data yang dibutuhkan
sudah cukup.
e) Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data menjadi bagian terpenting pada penelitian, setelah proses
mencarian informasi dilakukan dan dianggap cukup tahap selanjutnya adalah
pengumpulan data. Pada proses ini , peneliti harus mengecek setiap data, menyusun
data, melakukan pengkodingan pada data, mengklasifikasi data, dan mengoreksi
jawaban atas hasil wawancara yang dianggap masih kurang jelas.
Setelah data terkumpul baik melalui, hasil wawancara dan observasi,
dukumentasi dalam bentuk gambar atau photo. Data akan di olah oleh peneliti.
Menurut Dr. Suwartono, M. Hum (2014:79) istilah “olah” atau “proses” data inilah
penulis sering mengunakan untuk mengganti kata “Analisis” yang lebih terkesan
rumit. Pada proses analisis data. Menurut Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si
(2017:20) Pada hakikatnya analisis data adalah sebuah kegiatan untuk memberikan
makna atau memaknai data dengan mengatur, mengurutkan, mengelompokkan,
memberi kode atau tanda, dan mengkategorikannya menjadi bagian-bagian
berdasarkan pengelompokan tertentu sehingga diperoleh suatu temuan terhadap
rumusan masalah yang diajukan. Untuk dapat menyimpulkan hasil temuan pastilah
tidak semudah yang kita pikirkan karena peneliti akan dituntut harus melalui
tahapan-tahapan proses dan ini memerlukan ketelitian, kecerdasan tersendiri. Tidak
hanya kecerdasan dan ketelitian yang menjamin akan hasil nya tepat wawasan
retorika, pengalaman peneliti dan bimbingan dosen akan sangat berpengaruh
terhadap informasi hasil temuan pada penelitian.
f) Simpulan dan Laporan Hasil Penelitian
Pada akhir proses penelitian, peneliti akan mengkroscek ,mengulang dan
meringkas hasil temuan yang sudah di lakukan kemudian membuat hasil kesimpulan
temuan .
Laporan pertanggung jawaban merupakan bentuk laporan yang dilakukan oleh
peneliti terhadap hasil penemuan secara ilmiah. Menurut Yunus (2010: 417) ada
beberapa versi mengenai laporan penelitian, tetapi secara umum terdapat 3 syarat
agar laporan penelitian dapat dikategorikan sebagai karya ilmiah, yaitu:
1. Objektif,
2. Sistematik
3. Mengikuti metode ilmiah.
Berdasarkan standar diatas, maka hasil karya ilmiah tidaklah semudah yang kita
bayangkan dan tidak asal. Pertama, Objektif , ini bermaksud hasil pemerolehan data
yang didapatkan dalam penelitian adalah benar-benar data hasil dari subjek peneliti,
bukan dari sudut pandang peneliti. Kedua, sistematik dalam artian pada proses
penelitian ada tahapan-tahapanya, mulai dari awal sampai akhir kesimpulan dan
laporan masih berkaitan. Ketiga, mengikuti methode ilmiah, maksudnya pada proses
penelitian kegiatan yang dilakukan haruslah terstandar dengan alur dan tahapan yang
sudah disepakati oleh para ilmuwan .
G. Contoh Penelitian
Contoh studi kasus yang dilakukan oleh Unika Prihatsanti1, Suryanto2, & Wiwin
Hendrianiyang berjudul “Menggunakan Studi Kasus sebagai Metode Ilmiah dalam
Psikologi” tujuan penelitian tersebut adalah menyajikan tentang penjelasan secara
merinci dan detail terkait studi kasus sebagai bagian dari metode penelitian. Dengan studi
kasus ini juga peneliti ingin menegelompokan hasil temuanya pada bidang psikologi
melalui diskriptive qualitative.
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti yaitu, (1),
dokumetasi, dokumen, bisa berupa surat, memorandum, agenda, dokumen administrasi,
artikel surat kabar, atau dokumen apapun yang dikaitan dengan penyelidikan. Triangulasi
bukti melalui dokumen berfungsi untuk menguatkan bukti dari sumber lain. (2)
Wawancara, merupakan sumber paling penting. Bentuk wawancara yang dilakukan oleh
peneliti adalah wawancara terbuka,
Hasil penelitian menuntukan bahwa dalam bidang psikologi masih terdapat
keraguan menggunaan studi kasus sebagai metode untuk meneliti kasus Meskipun
banyak menggunakan studi kasus dalam penelitian, menurut Unika Prihatsanti
(2018:132) banyak psikolog enggan untuk menerima penelitian berbasis studi kasus
sebagai pendekatan yang sah untuk memproduksi pengetahuan dan diseminasi hasil
penelitian. Upaya untuk mempublikasikan studi kasus pada jurnal psikologi, umumnya
bertemu ‘kekhawatiran’ tentang desain penelitian, ketergantungan pada peserta tunggal,
kelompok kecil, ‘tuduhan’ adanya bias peneliti, dan kurangnya dukungan statistik. Kritik
terhadap studi kasus merujuk pada metodologi, yang mengganggap bahwa eksperimen
dan sampel yang besar merupakan bukti dukungan dalam penelitian psikologis. Supaya
pendekatan ini dapat diterima dalam psikologi, penelitian sosial menjelaskan bahwa hal
itu terjadi sebagai bagian hubungan antar manusia.
Dari hasil penelitia diatas menunjukan bahwa studi kasus menjadi bagian dari
metodologi penelitian walaupun ada beberapa bidang tertentu yang masih ragu untuk
menggunaanya. beberap ilmuan memberi kerangka dan prosedur yang harus di ikuti
diantaranya Yin (2002) secara rigid mengharuskan peneliti untuk pengikuti prosedur
penelitian yang ditetapkan bahkan ketika peneliti mengubah desain maka peneliti perlu
kembali pada prosedur awal. Yin memberikan struktur desain yang ketat pada metode
studi kasus, sebaliknya Stake (1995) menyarankan desain yang fleksibel di mana peneliti
dapat membuat perubahan meskipun terjadi pada proses penelitian. Tujuan penelitian
studi kasus untuk memberikan diskripsi telah digunakan di bidang psikologi, baik
psikologi industri dan organisasi, psikologi pendidikan, maupun psikologi sosial

3. KESIMPULAN
Manusia adalah makhluk yang diberi keistimewaan oleh sang kholik Alloh. S.W.T
dalam bentuk akal dan pikiran. Dengan akal dan pekiran manusia mampu berpikir secara
ilmiah untuk menemukan kebenaran dari misteri kehidupan. Penemuan kebenaran melalui
proses berpikir secara ilmiah tentu membutuhkan proses dan metode yang akurat dan tepat.
Beberapa metode penelitian yang sering digunakan untuk mengungkap sebuah kasus di
bidang sosial salah satunya adalah metode studi kasus. Studi kasus menjadi metode penelitian
yang memberikan kontribusi mendalam dalam mengungkap permasalahan atau kasus tertentu
baik lingkup individu, kelompok atau organisasi.
Studi kasus sebagai bagian metode penelitian memberikan kerangka tertentu pada
tahapan-tahapan prosesnya, dianatara nya. menentukan tema dan subjek penelitian,
menentukan tempat, menentukan metode yang akurat, menentukan teknik pengumpulan data
yang relevan, menganalisis hasil data yang di peroleh dari subjek penelitian, membuat
kesimpulan dan laporan penelitian. Hasil temuan dapat di katakana ilmiah jika memenuhi
standar Objektif, sistematik dan mengikuti prosedur ilmiah.

DATAR PUSTAKA

Dr. Suwartono, M. Hum. 2014. DASAR-DASAR METODOLOGI PENELITIAN. Yogyakarta.


Penerbit Andi Yogyakarta
Horby, A S. 1989. OXFORD ADVANCED LEARNER’S DICTIONARY., Fourth Edition.
Oxford: Oxford University Press.
Yin, Robert K. 1994. CASE STUDY RESEARCH. Thousand Oaks, London, New Delhi: SAGE
Publications
Yin, Robert. K. (2002). CASE STUDY RESEARCH: Design and methods (2rd ed.). Thousand
Oaks, CA: Sage
Hentz, P. (2017). Overview of case study research. Dalam Chesnay, M. (Eds). Qualitative
designs and Methods in Nursing (pp.1-10). New York: www.springerpub.com
Unika Prihatsanti, Suryanto, & Wiwin Hendriani. (2018). MENGGUNAKAN STUDI KASUS
SEBAGAI METODE ILMIAH DALAM PSIKOLOGI. ISSN. Vol. 26, No. 2, 126 – 136
Merriam, S. B., & Tisdel, E. J. (2015). Qualitative research: A guide to design and
implementation. Fourth edition. San Fransisco: Jossey-Bass
Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si. 2017. STUDI KASUS DALAM PENELITIAN
KUALITATIF: KONSEP DAN
PROSEDURNYA.http://repository.UINMalang.ac.id.//1104/1/studi-kasus-dalam-
penelitian-kualitatif
Mulyana, Dedy. 2013. METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF: PARADIGMA BARU
ILMU KOMUNIKASI DAN ILMU SOSIAL LAINNYA. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Yunus, Hadi Sabari. 2010. METODE PENELITIAN WILAYAH KONTEMPORER.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Stake, R. (1995). The art of case research. Thousand Oaks, CA: Sage Publications. doi:
10.2307/329758
View publication stats