Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH PPKn

KAA
KONFERENSI ASIA AFRIKA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Pelajaran PPKn

Guru Pembimbing : Sri Utami, S.Pd.

Disusun oleh :

1. Handika Zakia (15)

2. Madhuri Paradilla (18)

3. Nesya Asfenda (22)

4. Reissy Stefhanie (25)

5. Very Aria (31)


SMA NEGERI 1 CAMPURDARAT TULUNGAGUNG
TAHUN PELAJARAN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Bissmillahirrahmanirrahim

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala Rahmat, sehingga saya dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang mungkin
sangat sederhana. Makalah ini berisikan tentang informasi mengenai Konferensi Asia
Afrika.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki
sangat kurang. Oleh karena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini. Saya berharap semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah
satu pedoman dan juga berguna untuk menambah pengetahuan bagi para pembaca.

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii


DAFTAR ISI............................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1


A. Latar Belakang ................................................................................................. 2
B. Tujuan............................................................................................................... 2
C. Manfaat ........................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................... 3


A. Latar Belakang Berdirinya KAA ................................................................... 3
B. Sejarah Berdirinya KAA ................................................................................ 4
C. Tujuan KAA .................................................................................................. 8
D. Alat Kelengkapan Organisasi KAA .............................................................. 9
E. Peran Indonesia pada KAA dan Peran KAA terhadap Indonesia .................. 11

BAB III PENUTUP ............................................................................................ 13


A. Kesimpulan .................................................................................................... 13
B. Saran ............................................................................................................... 13

ii
iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berakhirnya Perang Dunia II pada bulan Agustus 1945, tidak berarti berakhir
pula situasi permusuhan di antara bangsa-bangsa di dunia dan tercipta perdamaiandan
keamanan. Ternyata di beberapa pelosok dunia, terutama dibelahan bumi
AsiaAfrika,masih ada masalah dan muncul masalah baru yang mengakibatkan
masalah baru yang mengakibatkan permusuhan yang terus berlangsung,bahkan
padatingkat perang terbuka, seperti di Jazirah Korea, Indo Cina, Palestina,
AfrikaSelatan, Afrika Utara.Masalah-masalah tersebut sebagian disebabkan oleh
lahirnya dua blok kekuatan yang bertentangan secara ideology maupun
kepentingan,yaitu Blok Barat dan Blok Timur.Blok Barat dipimpin oleh Amerika
Serikat dan Blok Timur dipimpin oleh Uni Soviet. Tiap-tiap Blok berusaha menarik
negara-negara Asiadan afrika agar menjadi pendukung mereka. Hal ini
mengakibatnkan tetaphidupnya dan bahkan tumbuhnya suasana permusuhan yang
terselubung diantaradua Blok itu dan pendukungnya. Suasana permusuhan tersebut
dikenal dengannama Perang Dingin.Timbulnya pergolakan didunia disebabkan pula
masih adanya penjajahan di bumi kita ini, terutama di belahan Asia dan Afrika.
Memang sebelum tahun 1945, pada umumnya dunia Asia dan Afrika merupakan
daerah jajahan bangsa Baratdalam aneka bentuk. Tetapi sejak tahun 1945, banyak di
daerah Asia Afrikamenjadi negara merdeka dan banyak pula yang masih berjuang
bagi kemerdekaannegara dan bangsa mereka seperti Aljazair, Tunisia, dan Maroko di
wilayahAfrika Utara; Vietnam di Indo Cina; dan di ujung selatan Afrika. Beberapa
negaraAsia Afrika yang telah merdeka pun masih banyak yang menghadapi
masalah-masalah sisa penjajahan seperti Indonesia tentang Irian Barat, India dan
Pakistanterpaksa mengungsi, karena tanah air mereka diduduki secara paksa oleh
pasukanIsrael yang di Bantu oleh amerika Serikat.Sementara itu bangsa-bangsa di
dunia, terutama bangsa-bangsa Asia Afrika,sedang dilanda kekhawatiran akibat makin
dikembangkannya senjata nuklir yang bisa memusnahkan umat manusia. Situasi
dalam negeri dibeberapa Asia Afrikayang telah merdeka pun masih terjadi konflik
antar kelompok masyarakat sebagaiakibat masa penjajahan (politik divide et impera)
dan perang dingin antar blok dunia tersebut.Walaupun pada masa itu telah ada badan
internasional yaitu PerserikatanBangsa-Bangsa (PBB) yang berfungsi menangani

1
masalah-masalah dunia, namunnyatanya badan ini belum berhasil menyelesaikan
persoalan tersebut. Sedangakankenyataannya, akibtan yang ditimbulkan oleh
masalah-masalah ini, sebagian besar diderita oleh bangsa-bangsa di Asia Afrika.
Keadaan itulah yang melatarbelakangilahirnya gagasan untuk mengadakan
Konferensi Asia Afrika.

B. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui latar belakang Konferensi Asia Afrika
2. Untuk mengetahui sejarah terbentuknya Konferensi Asia Afrika
3. Untuk mengetahui tujuan Konferensi Asia Afrika
4. Untuk mengetahui alat kelengkapan organisasi KAA
5. Untuk mengetahui peran Indonesia pada KAA dan peran KAA bagi
Indonesia

C. Manfaat
a) Bagi Siswa
Menambah wawasan tentang Konferensi Asia Afrika
b) Bagi Guru
Menambah alat ajar materi tentang Konferensi Asia Afrika dan sebagae
referensi penilaian.
c) Bagi Sekolah
Menambah literatur bacaan untuk semua warga sekolah

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika


Politik luar negeri Indonesia adalah bebas aktif, bebas, artinya bangsa Indonesia
tidak memihak pada salah satu blok yang ada di dunia. Jadi, bangsa Indonesia berhak
bersahabat dengan negara manapun asal tanpa ada unsur iktan tertentu. Bebas juga
berarti bahwa bangsa Indonesia mempunyai cara sendiri dalam ikut mengusahakan
terwujudnya perdamaian dunia. Negara Indonesia memilih sifat politik luar negerinya
bebas aktif sebab setelah Perang Dunia II berakhir di dunia telah muncul dua
kekuatan adidaya baru yang saling berhadapan, yaitu negara Amerika Serikat dan Uni
Soviet. Amerika Serikat memelopori berdirinya Blok atau Blok Kapasitas (Libera),
sedangkan Uni Soviet memelopori kemunculan Blok Tmur atau Blok Sosialis
(Komunis).
Dalam upaya meredakan ketegangan dan untuk mewujudkan perdamaian dunia,
pemerintah Indonesia memprakarsai dan menyelesaikan KAA. Usaha ini mendapat
dukungan dari negara-negara di Asia Afrika. Bangsa-bangsa di Asia dan Afrika pada
umumnya pernah menderita karena penindasan imperalisme Barat. Persamaan nasib
itu menimbulkan rasa setia kawan. Setelah Perang Dunia II berakhir, banyak negara di
Asia dan Afrika yang berhasil mencapai kemerdekaan.
Bangsa-bangsa di Asia dan Afrika yang telah merdeka tidak melupakan masa
lampaunya. Mereka tetap merasa senasib dan sependeritaan. Rasa setia kawan itu
dicetuskan dalam Konferensi Asia Afrika. Sebagai cetusan rasa setia kawan dan
sebagai usaha untuk menjaga perdamaian dunia, pelaksanaan Konferensi Asia Afrika
mempunyai arti penting, baik bagi bangsa-bangsa di Asia dan Afrika pada khususnya,
maupun dunia pada umumnya.

B. Sejarah Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika


Perang Dingin baru saja dimulai tak lama setelah Perang Dunia II selesai.
Kolonialisme lawas boleh jadi hilang perlahan, tetapi diganti dengan
neo-kolonialisme. Negara komunis mulai kuat. Negara liberal-kapitalis pun tak kalah
kuat. Negara-negara bekas koloni, yang baru saja merdeka, pun terancam jadi ajang
pertarungan negara-negara kuat.

3
Sebagian dari para pemimpin negara di Asia dan Afrika sadar akan bahaya
Perang Dingin bagi mereka. Termasuk Presiden Indonesia Sukarno dan perdana
menteri kala itu, Ali Sastroamidjojo. Dalam sidang Dewan Perwakilan Rakyat
Sementara pada 23 Agustus 1953, Ali Sastroamidjojo mengusulkan pentingnya kerja
sama antara negara-negara Asia dan Afrika dalam perdamaian dunia.
Pada 25 April hingga 2 Mei 1954, Ali Sastroamidjojo memenuhi undangan
Perdana Menteri Srilangka Sir John Kotelawala. Ali bertemu dengan beberapa
pemimpin negara lainnya dari Asia lainnya seperti Jawaharlal Nehru dari India,
Mohammed Ali dari Pakistan, dan U Nu dari Birma. Indonesia, melalui Ali,
mengusulkan diadakannya sebuah pertemuan. Di akhir tahun, tepatnya pada 28-29
Desember 1954, mereka berkumpul lagi di Bogor. Mereka merumuskan prakarsa
kerja sama yang netral.
Indonesia mempersiapkan kota Bandung untuk menjadi tuan rumah pertemuan
tingkat tinggi. Gubernur Jawa barat ketika itu, Samsi Hardjadinata, membentuk
panitia lokal di Bandung pada 3 Januari 1955. Panitia lokal ini mengurusi akomodasi,
transportasi, logistik, keamanan, penerangan, komunikasi, kesehatan, hiburan, dan
lainnya. Panitia Interdepartemental juga dibentuk pada 11 Januari 1955 oleh
pemerintah pusat.
Gedung Concordia dan Gedung Dana Pensiun disiapkan sebagai tempat
konferensi. Hotel Preanger, Hotel Homman, dan 12 hotel lainnya serta 31 bungalow
di sekitar Lembang, Ciumbuleut, dan jalan Cipaganti disiapkan untuk penginapan.
Jumlah peserta yang hadir dalam konferensi diperkirakan 1.500 orang. Akomodasi
untuk 500 wartawan juga diurus. Demi kelancaran transportasi, sebanyak 143 mobil,
30 taksi, 20 bus, serta 230 sopir pun disiapkan.

Pada 7 April 1955 Presiden Sukarno sudah melakukan pengecekan. Demi


memperkuat identitas dan semangat, nama Gedung Dana Pensiun diubah menjadi
gedung Dwiwarna dan Gedung Concordia diganti menjadi Gedung Merdeka.
Akhirnya, 29 para pemimpin dari negara-negara Asia dan Afrika pun berkumpul
di Bandung. Konferensi dibuka pada 18 April 1955, tepat hari ini 64 tahun lalu, dan
dilaksanakan hingga 24 April 1955. Kota Bandung dipadati rakyat. Di hari
pembukaan KAA, Sukarno membacakan pidatonya, "Mari Kita Lahirkan Asia Baru
dan Afrika Baru".

4
"Saya berharap konferensi ini akan menegaskan kenyataan, bahwa kita,
pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, mengerti bahwa Asia dan Afrika hanya dapat
menjadi sejahtera, apabila mereka bersatu, dan bahkan keamanan seluruh dunia tanpa
persatuan Asia Afrika tidak akan terjamin. Saya harap konferensi ini akan
memberikan pedoman kepada umat manusia, akan menunjukkan kepada umat
manusia jalan yang harus ditempuhnya untuk mencapai keselamatan dan
perdamaian," kata Sukarno.
KAA pertama itu lalu menghasilkan Dasasila Bandung. Persamaan derajat, saling
menghormati kedaulatan negara masing-masing negara dan kerja sama antar bangsa
menjadi hal penting dalam Dasasila Bandung tersebut. Dasasila Bandung juga
mengandung semangat kemerdekaan. Negara-negara baru di Asia dan Afrika harus
diakui kedaulatannya.
Setelah KAA 1955, peta percaturan politik internasional mulai berubah.
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bukan lagi menjadi forum eksklusif. Di PBB,
biasanya negara Blok Barat dan Blok Timur adu eksistensi. Setelah KAA, muncul
dunia ketiga, dan belakangan muncul Non-Blok.
Negara-negara yang berusaha netral lalu terus berkonsolidasi. Mereka juga tidak
berjuang sendiri. Josip Broz Tito, pemimpin Yugoslavia, satu suara untuk tidak
bermazab ke Blok Barat maupun Blok Timur. Padahal, Yugoslavia tidaklah terletak di
benua Asia maupun Afrika. Yugoslavia adalah negara kuat di Balkan ketika Perang
Dingin.
Bersama Sukarno (Indonesia), Gamal Abdul Nasser (Mesir), Kwame Nkrumah
(Ghana), Jawaharlal Nehru (India), Tito juga ikut memprakarsai Gerakan Non-Blok.
Awalnya, banyak negara netral ikut gerakan ini. Di Beograd, ibu kota Yugoslavia,
pada 1 hingga 6 September 1961, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non-Blok
pertama kali diadakan. Tito terpilih sebagai Sekretaris Jenderal pertamanya hingga
1964.
Sikap netral banyak negara dalam Gerakan Non-Blok itu tak bertahan lama,
meski Gerakan Non-Blok masih ada. Akhir tahun 1960-an, gerakan ini kehilangan
pamornya. Banyak negara-negara anggotanya merapat ke Blok Barat maupun Blok
Timur. Termasuk Indonesia yang dekat dengan Amerika. Padahal, KAA pernah
membuat Indonesia dianggap salah satu pemimpin dunia karena bisa menyatukan
negara-negara berkembang untuk berbeda dengan Blok Barat maupun Blok Timur.

5
Tokoh Pelopor KAA

1. Sir John Kotelawala


Jadi Sir John ini berasal dari Sri Lanka. Di Sri Lanka, ia merupakan perdana mentri
Sri Lanka yang ketiga. Awalnya dia mengirimkan surat kepada Ali Sastroamidjojo
tahun 1954 dan beberapa tokoh lainnya.

2. Ali Sastroamidjojo
Ali Sastroamidjodjo adalah perwakilan pelopor KAA dari Indonesia. Saat itu, ia
masih menjabat sebagai perdana mentri kedelapan. Ia menjadi undangan dari Sir John
Kotelawala yang mengusulkan pertemuan para perdana mentri di Kolombo, Sri
Lanka.

6
3. Muhammad Ali Bogra
Muhammad Ali Bogra adalah perdana mentri dari Pakistan dari tahun 1953-1955. Ia
turut mempelopori KAA dan turut menyuarakan pendapatnya saat konferensi
berlangsung. Selain itu, ia juga lantang bersuara melawan kolonialisme yang saat itu
masih dialami oleh negara-negara Asia dan Afrika.
4. Jawaharlal Nehru

Nehru merupakan figure sentral didalam sejarah politik India, menjadi bagian dinasti
politik Nehru-Gandhi.
Nehru setuju dengan Indonesia bahwa KAA takhanya
dihadiri oleh perwakilan negara para pelopor saja melainkan juga negara-negara Asia
dan Afrika lain yang masih berjuang melawan penjajahan

5. U Nu
U Nu merupakan perdana mentri pertama Burma (Myanmar). Ia juga menduduki
kembali menjadi perdana mentri ke-3 dan ke-5. Selain dikenal sebagai politisi, ia juga
dikenal sebagai novelis. Karyanya diantaranya adalah The People Win
Through (1951), Burma Under the Japanese (1954), dan An Asian Speaks (1955).

7
C. Tujuan Konferensi Asia Afrika
1. Memajukan kerja sama bangsa-bangsa di Asia dan Afrika dalam bidangsosial,
ekonomi, dan kebudayaan
2. Memberantas diskriminasi ras dan kolonialisme
3. Memperbesar peranan bangsa Asia dan Afrika di dunia dan ikut
sertamengusahakan perdamaian dunia dan kerja sama internasional
4. Bekerja sama dalam bidang sosial, ekonomi, dan budaya
5. Membicarakan masalah-masalah khusus yang menyangkut kepentingan
bersama seperti kedaulatan negara, rasionalisme, dan kolonialisme.

Konferensi Asia Afrika membicarakan hal-hal yang menyangkut kepentingan


bersama Negara-negara di Asia dan Afrika, terutama kerjasama ekonomi dan
kebudayaan, serta masalah kolonialisme dan perdamaian dunia. Kerjasama ekonomi
dalam lingkungan bangsa-bangsa Asia dan Afrikadilakukan dengan saling
memberikan bantuan teknik dan tenaga ahli. Konferensi berpendapat bahwa
negara-negara di Asia dan Afrika perlu memperluas perdagangan dan pertukaran
delegasi dagang. Dalam konferensi tersebutditegaskan juga pentingnya masalah
perhubungan antarnegara karena kelancaran perhubungan dapat memajukan ekonomi.
Konferensi juga menyetujui penggunaan beberapa organisasi internasional yang telah
ada untuk memajukan ekonomi.

Konferensi Asia Afrika menyokong sepenuhnya prinsip dasar hak asasi manusia
yang tercantum dalam Piagam PBB. Oleh karena itu, sangat disesalkan masih adanya
rasialisme dan diskriminasi warna kulit di beberapa negara. Konferensi mendukung
usaha untuk melenyapkan rasialisme dan diskriminasiwarna kulit di mana pun di
dunia ini. Konferensi juga menyatakan bahwa kolonialisme dalam segala bentuk
harus diakhiri dan setiap perjuangan kemerdekaan harus dibantu sampai berhasil.

Demi perdamaian dunia, konferensimendukung adanya perlucutan senjata. Juga


diserukan agar percobaan senjatanuklir dihentikan dan masalah perdamaian juga
merupakan masalah yang sangat penting dalam pergaulan internasional. Oleh karena
itu, semua bangsa di dunia hendaknya menjalankan toleransi dan hidup berdampingan
secara damai. Demi perdamaian pula, konferensi menganjurkan agar negara yang
memenuhi syarat segera dapat diterima menjadi anggota PBB.

8
Konferensi setelah membicarakan beberapa masalah yang menyangku
kepentingan negara-negara Asia Afrika khususnya dan negara-negara di dunia pada
umumnya, segera mengambil beberapa keputusan penting, antara lain:

1. Memajukan kerja sama bangsa-bangsa Asia Afrika di bidang sosial, ekonomi,


dan kebudayaan
2. Menuntut kemerdekaan bagi Aljazair, Tunisia, dan Maroko
3. Mendukung tuntutan Indonesia atas Irian Barat dan tuntutan Yaman atasAden
4. Menentang diskriminasi ras dan kolonialisme dalam segala bentuk
5. Aktif mengusahakan perdamaian dunia.

Selain menetapkan keputusan tersebut, konferensi juga mengajak setiap bangsa di


dunia untuk menjalankan beberapa prinsip bersama, seperti:

1. Menghormati hak-hak dasar manusia, tujuan, serta asas yang termuatdalam


Piagam PBB;
2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa;
3. Mengakui persamaan ras dan persamaan semua bangsa, baik bangsa besar
maupun bangsa kecil;
4. Tidak melakukan intervensi atau ikut campur tangan dalam persoalandalam
negeri negara lain;
5. Menghormati hak-hak tiap bangsa untuk mempertahankan diri, baik
secarasendirian maupun secara kolektif sesuai dengan Piagam PBB;
6. Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk
bertindak bagi kepentingan khusus salah satu negara besar, tidak melakukan
tekanan terhadap negara lain;
7. Tidak melakukan tindakan atau ancaman agresi ataupun penggunaankekerasan
terhadap integritas teritorial atas kemerdekaan politik suatunegara;
8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional secara damai sesuaidengan
Piagam PBB;
9. Memajukan kepentingan bersama dan kerja sama internasional;
10. menghormati hukum dan kewajiban internasional lainnya.

Kesepuluh prinsip yang dinyatakan dalam Konferensi Asia Afrika itu dikenal dengan
nama Dasasila Bandung atau Bandung Declaration.

9
D. Alat Kelengkapan Organisasi KAA
Dalam memutuskan sesuatu akan ditempuh sistem musyawarah dan mufakat
(sistem konsensus) dan untuk menghemat waktu tidak diadakan pidato sambutan
delegasi. Perdana Menteri Indonesia akan dipilih sebagai ketua konferensi.
Sidang konferensi terdiri atas sidang terbuka untuk umum dan sidang tertutup
hanya bagi peserta konferensi. Dibentuk tiga komite, yaitu Komite Politik,
Komite Ekonomi, dan Komite Kebudayaan. Semua kesepakatan tersebut
selanjutnya disetujui oleh sidang dan susunan pimpinan konferensi adalah sebagai
berikut :

Jabatan Nama Foto


Mr. Ali
Ketua
Sastroadmidjojo (PM
konferensi
Indonesia)

Mr. Ali
Ketua komite
Sastroadmidjojo (PM
politik
Indonesia)

Prof. Ir. Roosseno


Ketua komite
(Mentri Perekonomian
ekonomi
Indonesia)

Mr. Moh. Yamin


(Mentri Pendidikan,
Ketua komite
Pengajaran dan
kebudayaan
Kebudayaan
Indonesia)

10
Dalam sidang-sidang selanjutnya muncul beberapa kesulitan yang bisa
diduga sebelumnya. Kesulitan-kesulitan itu terutama terjadi dalam sidang-sidang
Komite Politik. Perbedaan-perbedaan pandangan politik dan masalah-masalah
yang dihadapi antara negara-negara Asia Afrika muncul ke permukaan, bahkan
sampai pada tahap yang agak panas.
Namun berkat sikap yang bijaksana dari pimpinan sidang serta hidupnya rasa
toleransi dan kekeluargaan di antara peserta konferensi, maka jalan buntu selalu
dapat dihindari dan pertemuan yang berlarut¬larut dapat diakhiri.

E. Peran Indonesia pada KAA dan Peran KAA bagi Indonesia


Peran Indonesia dalam KAA
KAA berpengaruh sangat besar kepada Indonesia dan kepada bangsa-bangsa di
Asia Afrika secara keseluruhan. Indonesia mendapat dukungan dari banyak negara
mengenai masalah Papua. Setelah KAA, ketegangan RRC dengan Amerika Serikat
tentang sengketa Taiwan mulai mencair dengan berbagai perundingan. Selain itu,
jumlah negara yang merdeka di wilayah ini semakin banyak. Yang paling besar
adalah berdirinya peran Indonesia dalam Gerakan Non Blok. Gerakan yang
menjadikan negara-negara tidak berpihak pada blok mana pun yang saat itu sedang
berebut pengaruh terhadap negara-negara berkembang. Peran Indonesia dalam KAA
sangat strategis. Peran tersebut, yaitu :
1. Pemrakarsa
Indonesia menjadi salah satu negara pemrakarsa diselenggarakannya KAA
bersama panca negara. Indonesia ikut serta dalam dua konferensi sebelum
diadakannya KAA.
2. Tempat Konferensi
Tempat KAA pertama kali adalah di Indonesia. Tepatnya di Gedung Merdeka,
Bandung pada tanggal 18 sampai 24 April 1955. Konferensi pendahuluan sebelum
diadakannya KAA juga terjadi di Indonesia, yaitu Konferensi Bogor. Penyelenggraan
KAA yang kedua juga diadakan di Indonesia, yaitu pada tanggal 19 sampai 23 April
2015 di Jakarta dan pada tanggal 24 April di Bandung. Pada KAA yang kedua ini
dihadiri oleh 89 negara Asia Afrika dari 109 negara yang ada.
3. Panitia Konferensi
Penyelenggraan KAA pertama di Indonesia, selanjutnya panitia penyelenggartan
juga dilakukan oleh tokoh Indonesia.

11
 Ketua Panitia Penyelenggara KAA adalah Sanusi Harjadinata, Gubernur Jawa
Barat saat itu.
 Ketua KAA adalah PM Ali Sastroamidjoyo
 Sekjend KAA adalah Ruslan Abdul Gani, Sekjen Kementerian Luar Negeri
Indonesia
 Ketua Komite Kebudayaan adalah Muhammad Yamin, Menteri Pendidikan,
Pengajaran, dan Kebudayaan Indonesia
 Ketua Komite Ekonomi adalah Prof Ir.Rooseno, Menteri Ekonomi Indonesia
 Pembukaan KAA diberikan sambutan oleh Presiden Soekarno
4. Kerjasama
Setelah diadakannya KAA sampai kini, Indonesia masih melakukan kerjasama
dnegan negara-negara Asia Afrika berdasartkan politik luar negeri bebas aktif.

Peran KAA bagi Indonesia


1. perekat untuk mendasari pembaharuan tekad bangsa dan negaramasing-masing
dalam meningkatkan martabatnya serta tetap berusahamelaksanakan kerjasama
guna menanggulangi beragam kesenjanganekonomi, sosial, budaya dan politik
negara-negara di kedua benuatersebut
2. mendukung kegiatan diplomasi Indonesia utamanya di PBB
3. Membantu menciptakan perdamaian dunia
4. bekerjasama dengan negara Asia & Afrika di berbagai bidang (ekonomi, sosial
dll )
5. Merupakan pendorong kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrikauntuk lepas dari
cengkeraman imperialisme dan kolonialisme Barat
6. Menjadi pendorong lahirnya Gerakan Nonblok;
7. Merupakan pencetus semangat solidaritas dan kebangkitan negaraAsia Afrika
dalam menggalang persatuan;
8. Memberikan harapan baru bagi bangsa-bangsa yang sudah maupun belum
merdeka
9. Mulai diikutinya politik luar negeri bebas dan aktif yang dijalankanoleh
Indonesia, India, Myanmar, dan Sri Lanka;
10. Kembali bangkit dan sadarnya bangsa-bangsa Asia dan Afrika akan potensi yang
dimiliki

12
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan sejarah Konferensi Asia Afrika dapat disimpulkan bahwa sejak


dilaksanakan Konferensi Asia Afrika telah mencetuskan rasa setia kawan dan
sebagai usaha untuk menjaga perdamaian dunia, pelaksanaan Konferensi Asia
Afrika mempunyai arti penting, baik bagi bangsa-bangsa di Asia dan Afrika pada
khususnya maupun dunia pada umumnya.
Konferensi Asia Afrika juga sangat berperan penting dalam hal kerja sama
ekonomi dan kebudayaan, serta masalah kolonialisme dan perdamaian dunia.
Selain itu juga Konferensi Asia Afrika membawa pengaruh yang besar bagi
solidaritas dan perjuangan kemerdekaan bangsa di Asia dan Afrika. Konferensi
Asia Afrika dan pengaruhnya terhadap solidaritas antar bangsa tidak hanya
berdampak pada negara-negara di Asia dan Afrika, tetapi juga bergema ke seluruh
dunia.

B. Saran

Dengan adanya makalah ini penulis hanya bisa menyarankan kepada pembaca,
khususunya bagi siswa SMANCARTA dapat membangun kehidupan bersama, dan
bekerja sama satu sama lain. Karena kita adalah makhluk sosial yang saling
ketergantungan antara sesama . Tidak lupa untuk terus menggali ilmu pengetahuan di
berbagai mata pelajaran, khususunya dalam mata pelajaran PKn dan bisa mengkaji
lebih dalam lagi materi lahirnya KAA.

13