Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum Ekologi dan Lingkungan

Program Studi Biologi


Fakultas Biologi
Universitas Kristen Satya Wacana 2019

Pengaruh Kadar Oksigen Terlarut (DO) terhadap


Kualitas Perairan dalam Akuarium

Oleh :

Maria Anggie Cantika Dewani


412019026

I. Pendahuluan

A. Latar Belakang
Air merupakan suatu zat pelarut yang sangat berguna bagi semua makhluk hidup bahkan
hampir 90% tanaman dan mikroba terdiri dari air. Kandungan yang terlarut dalam suatu perairan
tentunya mempengaruhi aktivitas hidup suatu organisme yang ada di dalamnya seperti
kelimpahan kandungan oksigen (O2) dalam perairan yang memudahkan organisme di dalamnya
dapat melakukan proses respirasi. Kandungan oksigen (O2) dalam suatu perairan merupakan
salah satu parameter kimia dalam menentukan kualitas air yang tingkat kebutuhnannya dari tiap-
tiap perairan, berbeda antara perairan satu dengan lainnya. Hal ini karena dipengaruhi oleh faktor
suhu dan cuaca serta jenis organisme yang menempati perairan tersebut. Oksigen terlarut
(Dissolved Oxygen = DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses
metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan
pembiakan. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan
anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu
proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan
tersebut (Salmin, 2000).

Menurut Kordi (2004), Oksigen (O2) merupakan salah satu faktor pembatas sehingga
apabila ketersediaan dalam perairan tidak mencukupi kebutuhan organisme yang ada, maka
segala aktivitas organisme tersebut akan terhambat. Kadar oksigen yang terlarut dalam perairan
alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Semakin
besar suhu dan semakin kecil atmosfer, kadar oksigen terlarut semakin sedikit. Perbedaan
kebutuhan oksigen dalam suatu lingkungan bagi ikan dari spesies tertentu disebabkan oleh
adanya perbedaan struktur molekul sel darah ikan, yang mempengaruhi hubungan antara tekanan
parsial oksigen dalam air derajat kejenuhan oksigen dalam sel darah.
Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini menunjukkan jumlah
oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan air. Semakin besar nilai DO pada air,
mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah,
dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO juga bertujuan melihat sejauh
mana badan air mampu menampung biota iar seperti ikan dan mikroorganisme. Selain itu
kemampuan air untuk membersihkan pencemaran juga ditentukan oleh banyaknya oksigen dalam
air. Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam keadaan diam relatif lebih sedikit apabila dibandingkan
dengan ikan pada saat bergerak atau memijah. Jenis-jenis ikan tertentu yang dapat menggunakan
oksigen dari udara bebas, memiliki daya tahan yang lebih terhadap perairan yang kekurangan
oksigen terlarut (Wardoyo, 1978). Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm
dalam keadaan normal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). Kandungan oksigen
terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme (Swingle, 1968). Agar
kehidupan dapat layak maka oksigen terlarut harus tidak boleh kurang daripada 4 ppm
sedangkan perairan mengandung 5 mg/L oksigen pada suhu 20-30 C yang dipandang sebagai air
yang cukup baik untuk kehidupan ikan (Ismail,1994)

Ikan Guppy (Poecilia reticulata) saat ini sangat populer sebagai ikan hias. Ikan Guppy
berasal dari daerah kepulauan Karibia dan Amerika Selatan, dan dapat digunakan sebagai
pengendali nyamuk, sehingga tersebar dan dibawa oleh para pelaut. Jenis ikan jantan dan ikan
betina dapat dibedakan melalui penampakan morfologi luar, yaitu jantan memiliki ukuran yang
lebih kecil dari betina, warna jantan memiliki variasi warna yang lebih menarik, sedangkan
betina memiliki warna yang hampir selalu sama dan tidak menarik. Pada ikan Guppy liar yang
umum dijumpai, adalah memakan segalanya termasuk jenis alga bentik dan serangga air,
sehingga ikan Guppy sering dijadikan sebagai sampel organisme bidang ekologi dan studi
prilaku (Zipcodezoo 2015).

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh kepadatan populasi ikan
Poecilia reticulata terhadap kualitas lingkungan perairan tempat hidupnya

II. Bahan Metode


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 27 Januari 2020, pukul 11.00 – 13.00 WIB,
bertempat di Laboratorium Ekologi dan Lingkungan, Fakultas Biologi, Universitas Kristen Satya
Wacana, Salatiga. Adapun peralatan yang digunakan adalah akuarium, aerator, jaring kecil,
buret, statif, pilius, gelas kimia, gelas ukur, pipet ukur, erlenmeyer, dan botol winkler.
Sedangkan bahan yang dibutuhkan antara lain Poecilia reticulata jantan dengan ukuran yang
relatif sama, pakan ikan, alkida iodida, MnSO4, H2SO4 pekat, Na2S2O3 0,025 M, dan indikator
pati.
Metode pertama yang digunakan adalah desain percobaan. Akuarium yang akan
digunakan disiapkan dan dibersihkan, kemudian diisi air sebanyak tiga perempat bagian
akuarium. Ikan Poecilia reticulata jantan yang memiliki ukuran relatif sama dengan variasi
jumah 1 ekor, 5 ekor, 10 ekor, dan 20 ekor dimasukkan ke dalam akuarium yang berbeda. Ikan
Poecilia reticulata diberi pakan dalam jumlah yang sama untuk semua akuarium setiap hari.
Perubahan pada tiap akuarium diamati dan data dikumpulkan berdasarkan indikator pada lembar
kerja mahasiswa. Jika terdapat ikan Poecilia reticulata yang mati, segera dikeluarkan dari
akuarium. Kandungan oksigen terlarut diukur pada setiap akuarium (termasuk ulangan) pada hari
ke-0, hari ke-3, dan hari ke-7.

Selanjutnya dilakukan pengukuran DO dengan cara air dimasukkan ke dalam botol


winkler secara hati-hati dengan tidak sampai terbentuk gelembung dalam botol dan tidak
menyebabkan ikan stres. Lalu ditambahkan 1 ml MnSO4, diikuti dengan 1 ml reagen akali
iodida. Botol ditutup secara hati-hati supaya tidak terbentuk gelembung udara, kemudian
dihomogenkan dengan cara membalik-balikkan botol winkler beberapa kali. H2SO4 sebanyak 1
ml ditambahkan dalam botol dan dikocok perlahan agar flok larut (larutan akan berwarna kuning,
jika tidak terbentuk warna kuning, sampel segera ditambahkan dengan larutan pati. Jika
terbentuk warna biru, dapat dititrasi lebih lanjut. Jika tidak tebentuk warna, maka tidak ada
oksigen terlarut dalam sampel tersebut). Setelah itu, 10 ml larutan sampel dipidahkan ke dalam
erlenmeyer 500 ml dan dititrasi dengan NaS2O3 0,025 M sampai terbentuk warna kuning muda.
Lalu 2 tetes indikator pati ditambahkan dan dilanjutkan titrasi sampai warna biru hilang. Volume
NaS2O3 0,025 M yang terpakai dicatat dan dihitung DO dengan menggunakan rumus.

III. Hasil dan Pembahasan


A. Hasil
Dari praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil dari pengukuran DO dan mortalitas
ikan Poecilia reticulata berupa grafik sebagai berikut :
8
Kadar oksigen terlarut (mg/L)

6
Kontrol
akuarium I
4 akuarium II
akuarium III
2 akuarium IV

0
T0 T3 T7
Hari (T)
Grafik 1. Hasil kadar oksigen terlarut (DO) pada air akuarium ikan Guppy (Poecilia
reticulata) dari T0 sampai T7

Jumlah mortalitas Poecilia


6
5
4 akuarium I

reticulata 3 akuarium II
akuarium III
2
akuarium IV
1
0
T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7
Hari (T)

Grafik 2. Jumlah kematian (mortalitas) pada ikan Guppy (Poecilia reticulata) dari T0
sampai T7

Dari grafik 1, dapat diketahui bahwa rata-rata nilai DO (mg/L) kontrol, akuarium I,
akuarium II, akuarium III, dan akuarium IV pada T0 (hari ke-0) berturut-turut adalah 6,3; 6,28;
5,2; 5; dan 5,25. Pada hari ke-3 (T3) berturut-turut adalah 7,6; 6,5; 5,2; 5; dan 5,25. Sedangkan
pada hari ke-7 (T7) berturut-turut adalah 7,1; 5,9; 4,5; 3,6; dan 3,9.

Pada grafik 2, jumlah kematian (mortalitas) ikan Guppy (Poecilia reticulata) pada
akuarium I selama tujuh hari adalah tidak ada ikan Guppy yang mati. Pada akuarium II, jumlah
ikan Guppy yang mati adalah sebanyak 3 ekor di hari ke-7 (T7). Pada akuarium III, jumlah ikan
Guppy yang mati adalah sebanyak 3 ekor hanya pada hari ke-3 (T3). Sedangkan pada akuarium
IV, jumlah mortalitas ikan Guppy terjadi pada T2 sampai T4 dan T7 berturut-turut adalah 2 ekor,
1 ekor, 1 ekor, dan 5 ekor.

B. Pembahasan
Dari praktikum ini digunakan metode winkler, metode ini secara umum banyak
digunakan menentukan kadar oksigen terlarut. Prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri.
Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan MnSO4 dan alkali iodida,
sehingga akan terjadi endapan MnO2. Dengan menambahkan H2SO4 maka endapan yang
terbentuk akan larut kembali dan juga akan membebaskan molekul Iodium (I2) yang ekuivalen
dengan oksigen terlarut. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar
Na2SO4 dan menggunakan indikator larutan amilum agar perubahan warna menjadi benning
dapat lebih mudah terlihat, warna biru yang terbentuk setelah ditambahkan pati menandakan
larutan tersebut masih mengikat O2.

Fujaya (2002) mengemukakan bahwa oksigen terlarut sangat penting bagi pernapasan
ikan, serta merupakan salah satu komponen utama untuk keperluan metabolisme organisme
perairan. Semakin tinggi kadar oksigen terlarut (DO), mengindikasikan air memiliki kualitas
yang bagus. Sebaliknya, jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar.
Rendahnya kadar oksigen salah satunya terjadi akibat semakin tinggi kepadatan populasi ikan.
Dari hasil praktikum selama T0 sampai T7 terdapat data yang tidak sesuai dengan yang
diharapkan. Di mana seharusnya konsentrasi oksigen terlarut akan semakin berkurang setiap
harinya dan juga konsentrasi oksigen terlarut akan berbanding terbalik dengan kerapatan
populasi. Semakin rapat atau padat populasi ikan Guppy maka konsentrasi oksigen terlarut
semakin sedikit. Hal itu terlihat pada grafik 1, di mana hasil kadar oksigen terlarut (DO) pada
akuarium IV yang berisi 20 ekor ikan Guppy (Poecilia reticulata) lebih besar dibandingkan
akuarium III yang berisi 10 ekor ikan Guppy (Poecilia reticulata).

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil praktikum tidak sesuai dengan yang
diharapkan diantaranya yaitu masih tertinggalnya gelembung udara dalam botol winkler, faktor
suhu, salinitas, dan persenyawaan unsur-unsur yang mudah teroksidasi di dalam air. Suhu
merupakan salah satu parameter kunci model kualitas air di suatu perairan. Aktifitas biologi dan
proses kelarutan gas di dalam air sangat bergantung pada kondisi suhu. Perubahan suhu akan
mempengaruhi kandungan DO dalam suatu perairan. Odum (1971) menyatakan bahwa kadar
oksigen dalam air akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan
semakin tingginya salinitas. Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi karena
adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis. Kedalaman
air juga mengakibatkan terjadinya penurunan kadar oksigen terlarut dalam perairan.

Tingkat mortalitas atau kematian ikan Guppy (Poecilia reticulata) yang terlihat pada
grafik 2 yaitu di mana semakin tinggi tingkat populasi atau kepadatan ikan Guppy pada perairan
akuarium maka tingkat mortalitas semakin tinggi dikarenakan daya dukung lingkungan yang
tidak memadai untuk populasi yang terlalu padat. Kadar oksigen terlarut pada suatu badan air
termasuk pada daya dukung lingkungan. Semakin rapat suatu populasi maka kadar oksigen
terlarut akan semakin sedikit (Effendi, 2003). Hal itu terjadi pada akuarium II sampai akuarium
IV, dimana ikan Guppy yang mengalami kematian. Jumlah kematian ikan Guppy pun bertambah
banyak dari hari ke hari seperti pada akuarium IV, di mana mortalitas ikan Guppy lebih besar
dibandingkan akuarium yang lain.

IV. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa grafik DO yang
dihasilkan tidak sesuai dengan teori karena grafik DO pada akuarium IV naik, sedangkan data
yang diharapkan adalah grafik yang turun. Hal ini terjadi karena beberapa faktor antara lain
masih adanya gelembung udara pada botol winkler, faktor suhu, salinitas, dan faktor lainnya.
Tingkat mortalitas ikan Guppy (Poecilia reticulata) semakin tinggi apabila semakin padat atau
rapat populasi ikan tersebut pada suatu wilayah (akuarium)
V. Daftar Pustaka
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan
Perairan. Cetakan Kelima. Kanisius : Yogyakarta
Fujaya, Y. 2002. Fisiologi lkan. Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. Rineka Cipta : Jakarta.
Kordi, K. 2004. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. PT Rineka Cipta dan PT Bina
Aksara : Jakarta
Salmin. 2000. Kadar Oksigen Terlarut di Perairan Sungai Dadap, Goba, Muara Karang dan
Teluk Banten. Dalam : Foraminifera Sebagai Bioindikator Pencemaran, Hasil Studi di
Perairan Estuarin Sungai Dadap, Tangerang (Djoko P. Praseno, Ricky Rositasari dan S.
Hadi Riyono, eds.) P3O - LIPI hal 42 - 46

Swingle, H.S. 1968. Standardization of Chemical Analysis for Water and Pond Muds. F.A.O.
Fish, Rep. 44, 4 , 379 - 406 pp.

Wardoyo, S.T.H. 1978. Kriteria Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian dan Perikanan. Dalam
: Prosiding Seminar Pengendalian Pencemaran Air. (eds Dirjen Pengairan Dep. PU.), hal
293-300.
LAMPIRAN

Tabel 1. Hasil titrasi air akuarium ikan Guppy (Poecilia reticulata).

Volume Titran (ml)


T
Kontrol I II III IV
T0 3,1 3,14 3,25 2,85 2,85
T3 3,8 3,25 2,6 2,5 2,625
T7 3,55 2,95 2,25 1,8 1,95

Tabel 2. Hasil perhitungan kadar oksigen terlarut (DO) pada air akuarium ikan Guppy (Poecilia
reticulata).

DO (ppm)
T
Kontrol I II III IV
T0 6,3 6,28 6,5 5,7 5,7
T3 7,6 6,5 5,2 5 5,25
T7 7,1 5,9 4,5 3,6 3,9

Tabel 3. Perhitungan nilai DO dari T0 sampai T7

T Perhitungan DO
Kontrol DO = Vtitran x Mtitran x 8 x 1000
Vsampel
= 3,1 x 0,025 x 8 x 1000
100
= 6,3 ppm
DO I = Vtitran x Mtitran x 8 x 1000
Vsampel
= 3,14 x 0,025 x 8 x 1000
100
= 6,28 ppm
DO II = Vtitran x Mtitran x 8 x 1000
T0 Vsampel
= 3,15 X 0,025X 8 X 1000
100
= 6,5 ppm
DO III = Vtitran x Mtitran x 8 x 1000
Vsampel
= 2,85 x 0,025 x 8 x 1000
100
= 5,7 ppm
DO IV = Vtitran x Mtitran x 8 x 1000
Vsampel
= 2,85 x 0,025 x 8 x 1000
100
= 5,7 ppm
Kontrol DO = Vtitran x Mtitran x 8 x 1000
Vsampel
= 3,8 x 0,025 x 8 x 1000
100
= 7,6 ppm
DO I = Vtitran x Mtitran x 8 x 1000
Vsampel
= 3,25 x 0,025 x 8 x 1000
100
= 6,5 ppm
DO II = Vtitran x Mtitran x 8 x 1000
Vsampel
T3 = 2,6 x 0,025 x 8 x 1000
100
= 5,2 ppm
DO III = Vtitran x Mtitran x 8 x 1000
Vsampel
= 2,5 x 0,025 x 8 x 1000
100
= 5 ppm
DO IV = Vtitran x Mtitran x 8 x 1000
Vsampel
= 2,625 x 0,025 x 8 x 1000
100
= 5,1 ppm
Kontrol DO = Vtitran x Mtitran x 8 x 1000
Vsampel
= 3,55 x 0,025 x 8 x 1000
100
= 7,1 ppm
DO I = Vtitran x Mtitran x 8 x 1000
Vsampel
= 2,95 x 0,025 x 8 x 1000
100
T7 = 5,9 ppm
DO II = Vtitran x Mtitran x 8 x 1000
Vsampel
= 2,25 x 0,025 x 8 x 1000
100
= 4,5 ppm
DO III = Vtitran x Mtitran x 8 x 1000
Vsampel
= 1,8 x 0,025 x 8 x 1000
100
= 3,6 ppm
DO IV = Vtitran x Mtitran x 8 x 1000
Vsampel
= 1,95 x 0,025 x 8 x 1000
100
= 3,9 ppm

Tabel 3. Hasil angka kematian (mortalitas) ikan Guppy (Poecilia reticulata) selama tujuh hari

Mortalitas (ekor)
T
Kontrol I II III IV
T1 0 0 0 0 0
T2 0 0 0 0 2
T3 0 0 0 1 1
T4 0 0 0 0 1
T5 0 0 0 0 0
T6 0 0 0 0 0
T7 0 3 0 0 5