Anda di halaman 1dari 16

JENIS

PENJELASAN CONTOH
RIBA
masing barang yang dipertukarkan.
Ketidakjelasan ini dapat menimbulkan
tindakan lazim terhadap salah satu pihak,
kedua pihak dan pihak-pihak lainnya.
Riba yang timbul akibat hutang piutang yang
tidak memenuhi kriteria yang muncul
bersama resiko (al ghunmu bilghurmi) dan
Riba Pembayaran bunga kredit,
hasil usahanya muncul bersama biaya (al
Nasi’ah deposito, tabungan, giro
kharaj bi dhaman). Transaksi selama ini
mengandung beban, hanya karena berjalannya
waktu.
Hutang yang dibayar melibihi dari pokok
pinjaman, karena si peminjam tidak mampu
mengembalikan dana pinjaman pada waktu
Riba yang telah ditetapkan.Riba jahiliyah dilarang Pengenaan bunga pada
Jahiliyyah karena pelanggaran kaedah “Kullu Qardin transaksi credit card
Jarra Manfa ah Fuhuwa Riba” (setiap
pinjaman yang mengambi manfaat adalah
riba).
Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu Pengenaan bunga pada
Riba Qardh
yang disyaratkan terhadap yang berhutang. penerima pinjaman

C. Jenis Barang Ribawi


1. Emas, perak, baik itu dalam bentuk uang maupun dalam bentuk lainnya;
2. Bahan makanan pokok dan makanan tambahan.

Dalam kaitannya dalam perbankan syariah, implikasi ketentuan tukar-menukar antarbarang


ribawi dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Jual beli antara barang-barang ribawai sejenis hendaklah dalam jumlah dan kadar yang
sama, barang tersebut harus diserahkan saat transaksi jual beli. Misalnya, rupiah dengan
rupiah hendaklah Rp10.000,00 dengan Rp10.000,00 dam diserahkan ketika tukar
menukar.
2. Jual beli antara barang-barang ribawi yang berlainan jenis diperbolehkan dengan jumlah
dan kadar yang berbeda dengan syarat barang diserahkan pada saat akad jual beli.
Misalnya, Rp10.000,00 dengan 1 dollar Amerika.
3. Jual beli barang ribawi dengan bukan ribawi tidak disyaratkan untuk sama dengan jumlah
maupun untuk diserahkan pada saat akad. Misalnta mata uang (emas, perak, atau kertas)
dengan pakaian.

4. Jual beli antara barang-barang yang bukan ribawi diperbolehkan tanpa persamaan dan
diserahkan pada waktu akad. Misalnya pakaian dengan barang elekteronik.

D. Konsep Riba dalam Perspektif Nonmuslim


Riba bukan hanya merupakan persoalan masyarakat Islam, tetapi berbagai kalangan di luar
Islam pun memandang serius soal persoalan ini. Ada beberapa alasan mengapa pandangan
dari kalangan nonmuslim tersebut perlu dikaji:
 Agama Islam mengimani dan menghormati Nabi Ibrahim, Ishak, Musa, dan Isa. Nabi-
nabi tersebut juga diimani oleh orang Yahudi dan Nasrani. Islam juga mengakui kedua
kaum in sebagai ahli kitab karena Yahudi dikaruniai Allah SWT Kitab Taurat dan Nasrani
dikaruniai Kitab Injil.
 Pemikiran kaum Yahudi dan Kristen perlu dikaji karena sangat banyak tulisan mengenai
Bungan yang dibuat para pemuka agama tersebut.

 Pendapat orang-orang Yunani dan Romawi juga perlu diperhatikan karena mereka
memberikan kontribusi yang besar pada peradaban manusia. Pendapat mereka juga
banyak memengaruhi orang Yahudi, Kristen serta Islam dalam memberikan argumen
berkaitan dengan riba.

1. Konsep Bunga di Kalangan Yahudi


Orang-orang Yahudi dilarang mempraktikan pengambilan bunga. Dalam agama Yahudi,
di Perjanjian Lama terdapat ayat yang berbungi: “Jikalau kamu memberi pinjaman uang
kepada ummatku, yaitu baginya sebagai penagih hutang yang keras dan jangan ambil
bunga daripadanya.” (Keluaran 22:25)
2. Konsep Bunga di Kalangan Yunani dan Romawi
Pada masa Yunani, sekitar abad IV Sebelum Masehi hingga I masehi, telah terdapat
beberapa jenis bunga. Besarnya bunga bervariasi bergantung pada kegunaannya.
Sedangkan pada masa Romawi, sekitar abad V SM hingga IV M, terdapat undang-undang
yang membenarkan penduduknya mengambi bunga selama tingkat bunganya sesuai
dengan hukum.

Praktik pengambilan bunga di Yunani dicela oleh para ahli filsafat diantaranya Plato dan
Aristoteles. Sedangkan di Romawi dicela ole Cicero dan Cato.

3. Konsep Bunga di Kalangan Kristen


Dalam agama Kristen pun disebutkan permasalahan tentang riba. Misalnya dalam hal
Injil Lukas dikatakan: “Tetapi hendaklah kamu mengasihi seterumu dan berbuat baik dan
memberi pinjam dengan tiada berharap akan menerima balik, maka berpahala besarlah
kamu…” (Lukas 6:35)

E. Larangan Riba dalam Al-Qur’an, As-Sunnah dan Fatwah Ulama

1. Larangan Riba dalam Al-Qur’an


Larangan riba dalam Al-Qur’an diturunkan dalam empat tahap:
a) Tahap pertama, menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang pada zahirnya seolah-
olah menolong mereka memerlukan sebagai suatu perbuatan mendekati atau taqarrub
kepada Allah SWT. Firman Allah SWT: “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu
berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada
sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk
mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang
melipat gandakan (pahalanya).” (QS.Surah Al-Rum: 39)
b) Tahap kedua, riba digambarkan sebagai suatu buruk. Firman Allah SWT: “Dan
disebabkan mereka (orang-orang Yahudi) memakan riba, padahal sesungguhnya
mereka telah dilarang daripadanya, dank arena mereka memakan harta orang lain
dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di
anatara mereka siksa yang pedih.” (QS.An-Nisa’: 161).
c) Tahap ketiga, riba diharamkan dengan kaitan kepadan suatu tambahan yang berlipat
ganda. Firman Allah SWT: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu memakan
riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu
mendapat keberuntungan.” (QS.Ali Imran: 130).
d) Tahap terakhir, Allah SWT dengan jelas dan tegas mengharamkan apapun jenis
tambahan yang diambil dari pinjaman. Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut)
jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak (meninggalkan sisa riba)
maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu
bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak
menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS.Al Baqarah: 278-279)

2. Larangan Riba dalam Al-Hadits


Hadits yang berhubungan dengan masalah riba diantaranya: Dalam Shahih Al-Bukhari
yang diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub dikisahkan, bahwasanya Rasulullah SAW
bermimpi didatangi dua orang laki-laki yang membawana pergi sampai menjumpai
sebuah sungai penuh darah yang di dalamnya ada seorang laki-laki dan di pinggir sungai
tersebut ada seseorang yang ditangannya banyak bebatuan sambil menghadap ke pada
orang yang berada di dalam sungai hendak keluar, maka mulutnya diisi batu oleh orang
tersebut sehingga menjadikan dia kembali ke tempatnya semula di dalam sungai.
Akhirnya Rasulullah SAW bertanya kepada dua orang yang membawanya pergi, maka
dikatakanlah kepada beliau: “Orang yang engkau saksikan di dalam sungai tadi adalah
orang yang memakan harta riba.” (Fathul Bari, 3/321-322) (HR Bukhari no.6525, kitab
at-Ta’bir).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Abu Ya’la dan Isnadnya Jayyid,
bahwasannya Rasulullah SAW bersabda:

‫بماَ ظبهببر فامي قبمومم اْلرزبنىَ بواْلرربباَ إالل أببحللمواْ باأ بمنففاساهمم اعبقاَ ب‬
‫ب اا‬
“Tidaklah perbuatan zina dan riba itu nampak pada suatu kaum, kecuali telah mereka
halalkan sendiri siksa Allah atas diri mereka.” (Lihat Majma’Az-Zawaid, Imam Al-
Haitsami, 4/131).

Siksa yang Allah berikan kepada orang-orang yang suka makan riba, bahkan dalam
riwayat yang shahih, sahabat Jabir Radhiallahu anhu mengatakan :

‫بع لب مي اه بو بس لل بم آ اك بل اْل رر بباَ بو فم مؤ اك لب هف بو بكاَ تا بب هف بو بشاَ اه بد مي اه بو بقاَ بل هف مم بس بواْ ءء‬

“Rasulullah SAW melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan riba,
penulisnya dan kedua orang yang memberikan persaksian, dan beliau bersabda:
“Mereka iti sama”. (HR. Muslim, no.2995).

Allah telah memproklamirkan perang untuk memberantas riba dan orang-orang yang
meribakan harta serta menerangkan betapa bahayanya dalam masyarakat, sebagaimana
yang diterangkan oleh Nabi :

“Apabila riba dan zina sudah merata di suatu daerah, maka mereka telah menghalalkan
dirinya untuk mendapat siksaan Allah.” (Riwayat Hakim; dan yang seperti itu
diriwayatkan juga oleh Abu Ya’la)

3. Fatwa Para Ulama


Imam Qatadah juga berkata : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta riba
akan dibangkitkan pada hari Kiamat dalam keadaan gila sebagai tanda bagi mereka
agar diketahui para penghuni padang mahsyar lainnya kalau orang itu adalah orang
yang makan harta riba.” (Lihat Al-Kaba’ir, Imam Ads-Dzahabi, hal.53).

Dalam menafsirkan ayat ini, sahabat Ibnu “Abbas Radhiallahu anhu berkata:

“Orang yang memakan riba akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila
lagi tercekik”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/40).

Dr. Yusuf Qardhawi menyatakan “Sesungguhnya bunga yang diambil oleh penabung di
bank adalah riba yang diharamkan, karena riba adalah semua tambahan yang
disyaratkan atas pokok harta. Artinya, apa yang diambil seseorang tanpa melalui usaha
perdagangan dan tanpa bersusah payah sebagai tambahan atas pokok hartanya, maka
yang demikian ini termasuk riba.”

Fatwa MUI yang mengatakan bahwa bunga bank adalah riba, setelah Rapat Kerja
Nasional Majelis Ulama Indonesia (Rakornas MUI) di Jakarta, Selasa (19/12/2003).

F. Alasan Pembenaran Pengambilan Riba


Alasan pengambilan riba dibenarkan menurut Muhammad Sfafi’i Antonio, (2001:54),
sekalipin ayat-ayat dan hadist riba sudah sangat helas dan shahih, masih saja ada beberapa
cendikiawan yang mencoba untuk memberikan pembenaran atas pengambilan uang.
Diantaranya alasannya karena:
1. Dalam keadaan darurat, bunga halal hukumnya;
2. Hanya bunga yang berlipat ganda saja dilarnag, sedangkan suku bunga yang “wajar” dan
tidak menzalimi, diperkenankan;
3. Bank, sebagai lembaga, tidak termasuk dalam kategori mukallaf. Dengan demikian, tidak
terkena khitab ayat-ayat hadits riba.

1. Darurat
Untuk memahami pengertian darurat, kita seharusnya melakukan pembahasan yang
komprehensif tentang pengertian darurat separti yang dinyatakan oleh syara’ (Allah dan
Rosul-Nya).
 Imam Suyuti dalam bukunya, al-Asybah wan-Nadzair menegaskan bahwa “darurat
adalah suatu keadaan emergency di mana jika seseorang tidak segera melakukan
sesuatu tindakan dengan cepat, akan membawanya ke jurang kehancuran atau
kematian.”

 Dalam literatur klasik, keadaan emergency ini sering dicontohkan dengan sesorang
yang tersesat di hutan dan tidak ada makanan lagi kecuali daging babi yang
diharamkan.

Firman Allah SWT: “ ... Barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya), sedang dia
tidak menginginkan dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.
Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.:(QS. Al-Baqarah:173).
2. Berlipat Ganda
Ada pendapat bahwa bunga hanya dikategorikan riba bila sudah berlipat ganda dan
memberatkan, sedangkan bila kecil dan wajar-wajar saja dibenarkan. Pendapat ini berasal
dari pemahaman yang keliru atas surah Ali Imran ayat 130, yang artinya: “Hai orang-
orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda dan
bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapat keberuntungan.”

Sepintas surat Ali Imran: 30 ini memang hanya melarang riba yang berlipat ganda. Akan
tetapi, memahami kembali ayat tersebut secara cermat, termasuk mengaitkannya dengan
ayat-ayat riba lainnya secara komprehensif, serta pemahaman terhadap fase-fase
pelanggaran riba secara menyeluruh, akan sampai pada kesimpulan bahwa riba dalam
segala bentuk dan jenisnya mutlak diharamkan.
 Kriteria berlipat ganda dalam ayat ini harus dipahami sebagai hal atau sifat dari riba
dan sama sekali bukan merupakan syarat.
 Menanggapi hal ini, Dr. Abdullah Draz, dalam salah satu konferensi fiqih Islam di
Paris tahun 1978, menegaskan kerapuhan asumsi syarat tersebut. Ia menjelaskan
secara liguistik (doaf) arti “kelipatan”. Sesuatu berlipat minimal 2 kali lebih besar dari
semula. Sedangkan (ad’af) adalah bentuk ajmak dari kelipatan tadi. Minimal jamak
adalah 3. Dengan demikian, (ad’af) berarti 3x2=6 kali.
 Menanggapi pembahasan surah Ali Imran ayat 130 ini, syekh Umar bin Abdul Aziz Al
Matruk, penulis buku ar-Riba wal-Muamalat al-Mashrfiyyah fi Nadzri ash-Shariah al-
Islamiah, menegaskan, “Sama seklai tidak bermakna bahwa riba harus sedemikian
banyak.”
 Dr. Sami Hasan Hamoud dalam bukunya, Fatwiir al-Amaali al-Mashrifiyyah bimaa
Yattafiqu wassy-Syarii’ah hlm. 139-138, menjelaskan bahwa bangsa Arab di samping
melakukan pinjam-meminjam ternak berumur 2 tahun (bint makhad) dan meminta
kembalian berumur 3 tahun (bint labun). Kalau meminjamkan bint labun, meminta
kembalian haqqah (berumur 4 tahun). Kalau meminjamkan haqqah, meminta
kembalian jzdaah (berumur 5 tahun).

3. Badan Hukum dan Hukum Taklif


Ada sebagian ulama berpendapat bahwa ketika ayat riba turun dan disampaikan di Jazirah
Arabia, belum ada bank atau lembaga keuangan, yang ada hanyalah individu-individu.
Dengan demikian, BCA, Bank Danamon, atau Bank Lippo tidak terkena hukum taklif
karena pada saat Nabi Hidup belum ada.

Pendapat ini memiliki banayk kelemahan, baik dari sisi historis maupun teknis.
a. Tidaklah benar bahwa pada zaman Pra-Rasululah tidak ada “badan hukum” sama
sekali, sejarah Romawi, Persisa dan Yunani menunjukan ribuan lembaga keuangan
yang mendapat pengesahan dari pihak penguasa. Dengan kata lain, persoalan mereka
telah masuk ke lembaran negara.
b. Dalam tradisi hukum, persoalan atau badan hukum sering disebut sebagai juridical
personality atau syakhsiyah huklmiyah. Juridical personality ini secara hukum adalah
sah dan dapat mewakili individu-individu secara keseluruhan.

G. Perbedaan Antara Investasi Dan Membungakan

Ada perbedaan mendasar antara investasi dengan membungakan uang. Perbedaan tersebut
dapat ditelaah dari definisi hingga makna masing-masing.
1. Investasi adalah kegiatan usaha yang mendukung risiko karena berhadapan dengan unsur-
unsur ketidakpastian. Dengan demikian, perolehan kembaliannya (return) tidak pasti dan
tidak tetap.
2. Membungakan uang adalah kegiatan usaha yang kurang mengandung risiko karena
perolehan kembaliannya berupa bunga yang relatif pasti dan tetap.

Islam mendorong masyarakat untuk melakukan ke arah usaha nyata dan produktif. Islam
mendorong seluruh masyarakat untuk melakukan investasi dan melarang membungakan
uang. Sesuai dengan definisi di atas, menyimpan uang di bank islam termasuk kategori
kegiatan investasi karena perolehan kembaliannya (return) dari waktu ke waktu tidak pasti
dan tidak tetap. Besar kecilnya perolehan kembali itu bergantung pada hasil usaha yang
benar-benar terjadi dan benar dilakukan bank sebagai mudharib atau pengelola dana.

Dengan demikian, bani islam tidak dapat sekedar menyalurkan uang. Bank islam harus
berupaya meningkatkan kembalian atau return of invesment sehingga lebih menarik dan
lebih memberi kepercayaan bagi pemilik dana.

H. Perbedaan Antara Utang Uang Dan Uatang Barang


Ada dua jenis utang yang berbeda satu sama lainnya, yakni utang yang terjadi karena
pinjam-meminjam uang dan utang terjadi karena pengadaan barang. Utang yang terjadi
karena pinjam-meminjam uang tidak boleh ada tambahan, kecuali dengan alasan yang pasti
dan jelas, seperti biaya materai, biaya notaris, dan studi kelayakan.

Utang yang terjadi karena pengadaan pembiayaan barang harus jelas dalam satu kesatuan
yang utuh atau disebut harga jual. Harga jual itu sendiri terdiri atas harga pokok barang plus
keuntungan yang disepakati.

I. Perbedaan Antara Bunga Dan Bagi Hasil

Sekali lagi, islam mendorong praktik bagi hasil serta mengharamkan riba. Keduanya sama-
sama memberi keuntungan pemilik dana, namun keduanya mempunyai perbedaan yang
sangat nyata. Perbedaan itu dapat dijelaskan dalam tabel berikut.

Tabel Perbedaan Antara Bunga Bdan Bagi Hasil

Bunga Bagi Hasil


a. Penentuan bunga dibuat pada waktu a. Penentuan besarnya rasio/ nisbah bagi
akad dengan asumsi harus selalu hasil dibuat pada waktu akad dengan
untung. berpedoman pada waktu kemungkinan
untung rugi.
b. Besarnya persentase berdasarkan pada b. Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan
jumlah uang (modal) yang pada jumlah keuntungan yang diperoleh.
dipinjamkan.
c. Pembayaran bunga tetap seperti yang c. Bagi hasil bergantung pada keuntungan
dijanjikan tanpa pertimbangkan proyek yang dijalnkan. Bila usaha
apakah proyek yang dijalankan oleh merugi, kerugian akan ditanggung
pihak nasabah untung atau rugi. bersama oleh kedua belah pihak.
d. Jumlah pembayaran bunga tidak d. Jumlah pembagian laba meningkat sesuai
meningkat sekalipun jumlah dengan peningkatan jumlah pendapatan.
keuntungan berlipat atau keadaan
ekonomi sedang “booming”.
e. Eksistensi bunga diragukan (kalau e. Tidak ada yang meragukan keabsahan
tidak dikecan) oleh semua agama, bagi hasil.
termasuk agama islam

J. Berbagai Fatwa Tentang Riba

Hampir semua majelis fatwa ormars islam berpengaruh di indonesia, seperti muhammadiyah
dan nahdatul ulama, telah membahas masalah riba. Pembahasan itu sebagai bagian dari
kepedulian ormars-ormars islam tersebut terhadap berbagai masalah yang berkembang di
tengah umatnya. Untuk itu, kedua organisasi tersebut memiliki lembaga ijtihad, yaitu Majlis
Tarjih Muhammadiyah dan Lajnah Bahsul Masa’il Nahdatul Ulama.

Berikut ini adalah cuplikan dari keputusan-keputusan penting kedua lembaga ijtihad tersebut
yang berkaitan dengan riba dan pembungaan uang.

1. Majelis Tarjih Muhammadiyah

Majlis tarjih telah mengambil keputusan mengenai hukum ekonomi/ keuangan di luar
zakat, meliputi masalah perbankan (1968 dan 1972), keuangan secara umum (1976), dan
koperasi simpan-pinjam (1989).

Majlis Tarjih Sidoarjo (1968) memutuskan :


a. Riba hukumnya haram dengan nash sharih Al-Qur’an dan As-Sunnah;
b. Bank dengan sistem riba hukumnya haram dan bank tanpa riba hukumnya halal;
c. Bunga yang diberikan oleh bank-bank milik negara kepada para nasabahnya atau
sebaliknya yang selama ini laku, termasuk perkara mustabihat;

d. Menyarankan kepada PP Muhammadiyah untuk mengusahakan terwujudkan konsepsi


sistem perekonomian, khususnya lembaga prbankan, yang sesuai dengan kaidah islam.

Majelis Tarjih Wiradesa, perkalongan (1972) memutuskan :


a. Mengamatkan kepada PP Muhammadiyah untuk segara dapat memenuhi keputusan
Majelis Tarjih di Sidoarjo tahun 1968 tentang terwujudnya konsepsi sistem
perekonomian, khususnya lembaga perbankan yang sesuai dengan kaidah islam,

b. Mendesak Majelis Tarjih PP Muhammadiyah untuk dapat mengajukan konsepsi


tersebut dalam muktamar yang akan datang.
Masalah keuangan secara umum ditetapkan berdasarkan keputusan Mutamar Majelis
Tarjih Garut (1976). Keputusan tersebut menyangkut bahasan pengertian uang atau harta,
hak milik, dan kewajiban uang menurut islam. Adapun masalah koperasi simpan-pinjam
dibahas dalam Muktamar Majelis Tarjih Malang (1989). Keputusannya : koperasi
simpan-pinjam hukumnya adalah mubah karena tambahan pembayaran pada koperasi
simpan-pinjam bukan termasuk riba.

Berdasarkan keputusan malang diatas, Majelis Tarjih PP Muhammadiyah mengelurkan


satu tambahan keterangan yakni bahwa tambahan pembayaran atau jasa yang diberikan
oleh peminjam kepada koperasi simpan-pinjam bukanlah riba.

2. Lajnah Bahsul Massa’il Nahdatul Ulama


Menurut Lajnah, hukum bank dan hukum bunganya sama seperti hukum gadai. Terdapat
tiga pendapat ulama sehubungan dengan masalah ini.
a. Haram, sebab termasuk utang yang dipungut rente.
b. Halal, sebab tidak ada syarat pada waktu akad, sedangkan adat, yang berlaku tidak
dapat begitu saja dijadikan syarat.
c. Syubhat, (tidak tentu halal-haramnya), sebab para ahli hukum berselisih pendapat
tentangnya.

Keputusan Lajnah Bahsul Masa’il yang lebih lengkap tentang masalah bank ditetapkan
pada siding di Bandar Lampung (1982). Kesimpulan siding yang membahas tema
Masalah Bank Islam tersebut antara lain sebagai berikut:
a. Para Musyawirin masih berbeda pendapat tentang hukum bank bunga konvensional.
1) Ada pendapat yang mempersamakan antara bunga bank dengan riba secara mutlak,
sehingga hukumnya haram.
2) Ada pendapat yang tidak mempersamakan antara bunga bank dengan riba, sehingga
hukumnya boleh.
3) Ada pendapat yang menyatakan hukumnya syubhat (tidak identik dengan haram).

Pendapat pertama dengan beberapa variasi keadaan antara lain sebagai berikut.
1) Bunga itu dengan segala jenisnya sama dengan riba sehingga hukumnya haram.
2) Bunga itu sama dengan riba hukumnya haram. Akan tetapi, boleh dipungut
sementara sistem perbankan islami atau tanpa bunga operasi.
3) Bunga itu sama dengan riba, hukumnya haram. Akan tetapi, boleh dipungut sebab
ada kebutuhan yang kuat (hajah rajihah).

Pendapat kedua juga dengan beberapa variasi keadaan antara lain sebagai berikut:
1) Bunga konsumsi sama dengan riba, hukumnyaharam. Bunga produktif tidak sama
dengan riba, hukumnya halal.
2) Bunga yang diperoleh dari tabungan giro yang disimpan di bank, hukumnya boleh.

3) Bunga bank tidak haram kalau bank itu menetapkan tarif bunganya terlebih dahulu
secara umum.

b. Menyadari bahwa warga NU merupakan potensi yang sabat besar dalam pembangunan
nasional dan dalam kehidupan social ekonomi, diperlukan adanya suatu lembaga
keuangan yang memenuhi persyaratan yang sesuai dengan keyakinan warga NU.
Karenanya, memandang perlu mencari jalan keluar menentukan sistem perbankan
yang sesuai dengan hukum islam, yakni bank tanpa bunga dengan langkah-langkah
sebagai berikut.
1) Sebelum tercapai cita-cita di atas, hendaknya sistem perbankan yang dijalankan
sekarang ini segera diperbaiki.
2) Perlu diatur hal-hal sebagai berikut.
a) Penghimpunan dana masyarakat dengan prinsip sebagai berikut.
(1) Al-wadiah (simpanan) bersyarat atau dhaman, yang dipergunakan untuk
menerima giro (current account) serta titipan dari pihak ketiga atau lembaga
keuangan yang menganut sistem yang sama.
(2) Al-mudharabah. Dalam prakteknya konsep ini disebut sebagai investment
account atau lazim disebut sebagai deposito berjangka dengan jangka waktu
yang berlaku, misalnya 3 bulan,6 bulan dan seterusnya, yang ada pada garis
besarnya dapat dinyatakan dalam:
 General Investment Account (GIA).

 Special Investment Account (SIA).


b) Penanaman dana dan kegiatan usaha.
(1) Pada dasarnya terbagi atas tiga jenis kegiatan, yaitu pembiayaan,
pembiayaan usaha perdagangan atau pengkongsian, dan pemberian jasa atas
dasar upaya perhitungan, profit and sharing, dan sebagainya.
(2) Untuk membiayai proyek, sistem pembiayaan yang dapat digunakan antara
lain mudharabah, muqaradhah, musyarakah/syirkah, murabahah,
pemberian kredit dengan service charge (bukan bunga), ijarah, bai’uddain,
termasuk didalamnya bai’ as-salam,al-qardul hasan (pinjaman kredit tanpa
bunga, tanpa service charge) dan bai’ bitsaman aajil.
(3) Bank yang membuka LC dan menerbitkan surat pinjaman. Untuk
mengaplikasikannya, bank dapat menetapkan konsep wakalah, musyarakah,
mudharabah, ijarah, sewa beli-beli, bai’ as-salam, bai’ al-aajil, kafalah
(garansi bank), working capital financing (pembiayaan modal kerja)
melalui purchases order dengan menggunakan prinsip murabahah.
(4) Untuk jasa-jasa perbankan (banking service) lainnya seperti pengiriman dan
transfer uang, jual beli mata uang dan valuta, dan penukaran uang, tetap
dapat dilaksanakan dengan prinsip tanpa bunga.
c) Munas mengamanatkan kepada PBNU agar membentuk suatu tim pengawas
dalam bidang syariah, sehingga dapat menjamin keselurhan operasional bank
NU tersebut sesuai dengan kaidah-kaidah muamalah Islam.
d) Para musyawirin mendukung dan menyetujui berdirinya bank Islam NU dengan
sistem tanpa bunga.
3. Sidang Organisasi Konferensi Islam (OKI)
Semua peserta siding OKI kedua yang berlangsung di Karawachi,Pakistan, Desember
1970, telah menyepakati dua hal utama, yaitu sebagai berikut.
a) Praktik bank dengan sistem bunga adalah tidak sesuai dengan syariah Islam.
b) Perlu segera didirkan bank-bank alternatif yang menjalankan operasinya sesuai dengan
prinsip-prinsip syariah.

Hasil kesepakatakan inilah melatarbelakangi didirikannya Bank Pembangunan Islam atau


Islamic Development Bank (IDB).

4. Mutfi Negara Mesir


Keputusan Kantor Mufti Negara Mesir terhadap hukum bunga bank senantiasa tetap dan
konsisten, tercatat sekurang-kurangnya sejak tahun 1900 hinga 1989, Multi Negara
Republik Arab Mesir memutuskan bahwa bunga bank termasuksalah satu bentuk riba
yang diharamkan.
5. Konsul Kajian Islam Dunia
Ulama-ulama besar dunia yang terhimpun dalam Konsul Kajian Islam Dunia (KKID)
telah memutuskan hukum yang tegas terhadap bunga bank. Dalam Konferensi II KKID
yang diselenggarakan di Universitas Al-Azhar, Kairo, pada bulan Muharram 1385H/Mei
1965 M, ditetapkan bahwa tidak ada sedikitpun keraguan atas keharamanpraktik
pembungaan uang seperti yang dilakukan bank-bank konvensional.

Diantara ulama-ulama besar yang hadir pada saat itu adalah Syekh Al-Azhar Prof.
Abdullah Draz, Prof. Dr. Mustafa Ahmad Zarqa, Dr. Yusuf Qaradhawi, dan sekitar tiga
ratus ulama besar dunia lainnya.
6. Fatwa Lembaga-Lembaga Lain
Lembaga-lembaga tersebut antara lain:
a. Akademi Fiqih Liga Muslim Dunia

b. Pimpinan Pusat Dakwah, Penyuluhan, Kajian Islam, dan Fatwa, Kerajaan Saudi
Arabia.

Salah satu hal yang perlu dicermati, keputusan dan fatwa dari lembaga-lembaga dunia di
atas diambil pada saat bank Islam dan lembaga keuangan syariah belum berkembang
seperti sekarang ini.

K. Dampak Negatif Riba


1. Dampak Ekonomi

Di antara dampak ekonomi riba adalah dampak inflasi yang di akibatkan oleh bunga
sebagai biaya uang, Hal terseut di sebabkan karna salah satu element dari penentuan
harga adalah suku bunga, semakin suku bunga, semakin tinggi juga yang akan di tetapkan
pada suatu barang.dampak laiyaadalah bahwa utang dengn rendahnya tingat peneriman
peminjaman dan tingginya biaya bunga akan menjadikan peminjamt idak pernah keluar
dari ketergantungan, terlebih lagi bila bunga atas utang tersebut dibungakan. Contoh
paling nyata adalah utang Negara-negara berkembang kepada Negara-negara maju.

2. Sosial Kemasyarakatan
Riba merupakan pendapatan yang di dapat secara tidak adil. Para pengambil riba
menggunakan uangnya untuk memrintahkan orang lain agar berusaha
mengembalikannya, missal 25% lebih tinngi dari jumlah yang di pinjamkan.
L. Bunga dan Egois Moral Spiritual
Bunga Merupakan sumber bahaa dan kejahatan. Bunga akan menyengsarakan dan
menghancurkan masyarakat melalui pengaruhnya terhadap karaktermanusia. Diantaranya
bunga menimbulkan perasaan cinta terhadap uang dan hasrat untuk mengumpulkan harta
bagi kepentingannya sendiri, tanpa mengndahkan peraturan dan peringatan Allah.

Bunga menimbulkan sikap egois,bakkhil, berwawasan sempit, serta berhati batu, seseorang
yang membungakan uangnya akan cenderung bersikap tidak menegenal bela kasihan.
1. Hal ini terbukti bila si peminjam dalam kesulitan, asset apaun yang ada harus di serahan
untuk melunasi akumulasi buna yang sudah berbunga agi.
2. Secara fikologis,praktik pembangunan uang juga dapat menjadikan seseorang malas
untuk menginvestasikan dananya dalam sektor usaha.
3. HIdup dalam dalam system ribawi

M. Bunga dan Kepongahan Sosial Budaya


Secara sosial, institusi bunga merusak semangat berkhidmat kepada masyarakat.orang akan
enggan berbuat apapun kecuali yang memberi keuntungan bagi diri sendiri, keperluan
seseorang di anggappelunagbagi orang lain untuk meraup keuntungan. Kepentingan orang
kaya di anggap bertentangan dengan kepentingan orang-orang miskin.cepat atau lambat
masyarakat demikian akan mengalami perpecahan.

N. Bunga dan Kezaliman Ekonomi


Ada berbagai jenis peminjaman sesuai dengan sifat pinjaman dan keperluan si
peminjam,bunga dibaarkan untuk jenis utang tersebut.

1. Pinjaman Kaum Dhu’afa

Sebagian besar aum dhu’afa mengambil pinjaman unuk memenuhi kebuthan sehari-hari.
Sebagian pendapatan mereka pun di ambil alih oleh para pemilik modal dalam bentuk
bunga .pembayaran angsuran bunga yang berat secara terus menerus terbukti telah
merendahkan standar kehidupan masyarakat serta menghancurkan pendidikan anak anak
mereka, pembayaran bunga juga menurunkan daya beli di kalangan mereka.

2. Monopoli Sumber Dana


Pinjaman modal kerja biasanya di ajukan oleh para pedagan, pengrajin, dan para petani
untuk tujuan-tujuan produktif, namun upaya mereka untuk dapat lebih produktif tersebut
sering terhambat atau malah hancur karena penguasaan modal oleh para kapitalis.
a. Sudah menjadi rahasia umim bahwa para penguasa besar konglomerat yang dekat
dengan sumber kekuasaan memiliki akses yang kuat terhadap sumber dana .
b. Modal tidak d investasikan pada berbagai usaha yang penting dan bermanfaat bagi
masyarakat, melaikan lebih banyak di gunkan untuk usaha usaha spekulatif yang
sering kali membuatkeguncangan pasar modal dan ekonomi.

c. Kehancuran sektor swata di indonesia dalam kerisi ekonomi dalam akhir tahun 1990-
an antara lain di sebaban melonjaknya beban bunga tersebut.

3. Peminjaman Pemerintah
Peminjaman pemerintah di kategorikan dalam dua bentuk pertama pinjaman ynag di
peroleh dari dalm negri, kedua pinjaman yang di peroleh dari kalangan asing atau luar
negri.
a. Pinjaman dalam negri banyak di gunakan dalam hal-hal yang mendesak dan
konsumtif, di antaranya adalah untuk engatasi kelaparan dan bencana alam.
b. Pinjaman pemerintah dari luar negri mempunyai implikasi serupa dengan perorangan
maupun pinjaman nasional, baik pinjaman tersebut di gunakan untuk usaha-usaha
produktif maupun untuk usaha tidak produktif.