Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Akuakultur Indonesia 14 (1), 1–8 (2015)

Artikel Orisinal

Efektivitas sinbiotik dengan dosis berbeda pada pemeliharaan


udang vaname di tambak

Effectiveness of sinbiotic at different doses


in Pacific white shrimp pond culture

Sukenda*, Rizki Praseto, Widanarni

Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor
Kampus IPB Dramaga Bogor, Jawa Barat 16680
*Surel: kenfajri@yahoo.com

ABSTRACT

The increasing demand of white shrimp Litopenaeus vannamei requires the application of intensive culture
system. However, intensive culture system of white shrimp could increase the risk of disease outbreak.
The application of sinbiotic may provide solution to the problem. This study was aimed to evaluate the
effectiveness of the use of technical sinbiotic on the survival and growth of white shrimp in ponds. This
study consisted of four treatments; treatment K (control), treatment A (probiotic 0.5% and prebiotic 1%),
treatment B (probiotic 1% and prebiotic 2%), and treatment C (probiotic 2% and prebiotic 4%). The results
showed that administration of sinbiotic had no significant differences on survival rate, growth rate, feed
conversion ratio, size, and biomass of shrimp (P>0.05). However, based on analysis of business, sinbiotic
A provided higher profits to the farmer (Rp10.230) compared to other symbiotic treatments and control.

Keywords: Litopenaeus vannamei, sinbiotic, technical media

ABSTRAK

Permintaan terhadap udang vaname Litopenaeus vannamei yang semakin meningkat membuat sistem budidaya
udang sebaiknya menggunakan sistem budidaya intensif. Namun demikian sistem intensif pada budidaya udang
vaname dapat meningkatkan risiko timbulnya penyakit. Penggunaan sinbiotik diharapkan dapat memberikan
solusi dalam mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penggunaan sinbiotik
teknis terhadap sintasan, pertumbuhan, dan keuntungan usaha udang vaname yang dipelihara di tambak. Penelitian
ini terdiri atas empat perlakuan, yaitu perlakuan K (kontrol), perlakuan A (probiotik 0,5% dan prebiotik 1%),
perlakuan B (probiotik 1% dan prebiotik 2%), dan perlakuan C (probiotik 2% dan prebiotik 4%). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pemberian sinbiotik tidak berbeda nyata dalam nilai sintasan, laju pertumbuhan, rasio
konversi pakan, size, dan biomassa udang (P>0,05). Namun demikian, berdasarkan analisis usaha perlakuan A
memberikan keuntungan lebih tinggi (Rp10.230) dibandingkan dengan perlakuan sinbiotik lainnya serta kontrol.

Kata kunci: Litopenaeus vannamei, sinbiotik, media teknis

PENDAHULUAN Penyakit yang sering menyerang udang di


tambak umumnya disebabkan oleh virus dan
Udang vaname merupakan komoditas bakteri. Salah satu penyakit viral yang sering
unggulan marikultur Indonesia. Kementerian menjadi masalah utama dalam budidaya udang
Kelautan Perikanan (KKP) menetapkan target vaname di tambak yaitu IMN (infectious
produksi udang vaname meningkat 209% dari myonecrosis) yang disebabkan oleh IMNV
tahun 2009−2014, yaitu dari 244.650 ton menjadi (infectious myonecrosis virus) (Senapin et al.,
511.000 ton. Budidaya udang secara intensif 2007: Costa et al., 2009). Mortalitas udang yang
diperlukan untuk memenuhi target produksi disebabkan oleh IMNV mencapai 40−60% di
tersebut. Namun sistem budidaya intensif dapat tambak (Tang et al., 2005). Penyakit bakterial
meningkatkan risiko timbulnya penyakit yang yang menjadi masalah utama dalam budidaya
menyebabkan produksi udang vaname menurun. udang vaname di tambak yaitu vibriosis atau
2 Sukenda et al. / Jurnal Akuakultur Indonesia 14 (1), 1–8 (2015)

penyakit udang berpendar yang disebabkan oleh sintasan, pertumbuhan, dan keuntungan usaha
bakteri Vibrio harveyi (Austin & Zhang, 2006; udang vaname yang dipelihara menggunakan
Soto-Rodriguez et al., 2012). hapa di tambak.
Penggunaan antibiotik untuk mengatasi
penyakit bakterial di tambak udang merupakan BAHAN DAN METODE
suatu solusi yang kurang efektif karena antibiotik
dapat menyebabkan patogen menjadi resisten, Penyiapan probiotik
selain itu antibiotik dapat menyebabkan Penyiapan probiotik dilakukan dengan
lingkungan sekitar menjadi tercemar. Metode pertama-tama mengkultur bakteri probiotik
lain dalam penanganan penyakit viral dan SKT-b pada media SWC agar miring (5 g
bakterial di tambak yaitu dengan menggunakan bactopeptone, 1 g yeast extract, 3 mL gliserol,
sinbiotik. Menurut Schrezenmeir dan Vrese 15 g agar, 750 mL air laut, dan 250 mL akuades)
(2001), sinbiotik merupakan kombinasi seimbang dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu ruang.
antara probiotik dan prebiotik dalam mendukung Selanjutnya bakteri diinokulasikan ke dalam
kelangsungan hidup dan pertumbuhan bakteri media teknis cair 5% dan diinkubasikan selama
yang menguntungkan dalam saluran pencernaan 24 jam dengan suhu ruang serta dilakukan
makhluk hidup. Probiotik merupakan mikroba pengocokan empat jam sekali secara manual.
yang memberikan pengaruh menguntungkan bagi Setelah itu, bakteri dicampurkan dengan
kesehatan inang (Nayak, 2010). Prebiotik adalah prebiotik dan pakan. Sebelumnya, dilakukan
bahan pangan yang tidak dapat dicerna oleh pengamatan kepadatan bakteri pada media teknis
inang tetapi memberikan efek menguntungkan 5% dan 10%. Pengamatan kepadatan bakteri
bagi inang dengan cara merangsang pertumbuhan dilakukan dengan menumbuhkan bakteri dengan
mikroflora normal di dalam saluran pencernaan pengocokan setiap empat jam pada media teknis
inang (Ringgo et al., 2010). 5% dan 10%, lalu diinkubasi selama 24 jam.
Pada penelitian ini digunakan bakteri probiotik Kemudian media diencerkan secara berseri dan
V. alginolyticus SKT-b. Bakteri ini memiliki disebar ke dalam media thiosulfate citrate bile
kemampuan untuk menghambat pertumbuhan salts sucrose (TCBS). Setelah diinkubasi selama
bakteri patogen V. harveyi dan mampu 24 jam, dilakukan penghitungan TPC (total plate
menstimulasi sistem imunitas udang vaname count) bakteri.
(Widanarni et al., 2003; Widanarni et al., 2008).
Prebiotik yang digunakan pada penelitian ini Penyiapan prebiotik
yaitu oligosakarida yang diperoleh dari ekstraksi Pertama-tama ubi jalar varietas sukuh I.
tepung ubi jalar varietas sukuh Ipomoea batatas. batatas dibuat tepung yang mengacu pada metode
Menurut Merrifield et al. (2010), Li et al. (2009), Lesmanawati et al. (2013). Ubi jalar dicuci dan
Rodriguez-Estrada et al. (2009), dan Zhang et dikupas kulitnya, diiris-iris dengan menggunakan
al. (2010), aplikasi sinbiotik lebih baik daripada slicer sampai ketebalan sekitar 1 mm. Irisan ubi
aplikasi probiotik dan prebiotik secara terpisah. jalar dikeringkan dalam oven pengering pada
Penggunaan sinbiotik di tambak memiliki suhu 55 °C selama lima jam hingga irisan-irisan
kendala yaitu sulitnya pembuatan sinbiotik dan tersebut bisa dipatahkan. Irisan ubi yang sudah
biaya pembuatannya yang mahal. Pengekstraksian kering tersebut digiling menggunakan Willey mill
oligosakarida sebagai prebiotik dibutuhkan biaya dan diayak dengan ukuran ayakan 60 mesh size.
yang mahal karena proses ekstraksi menggunakan Setelah digiling selanjutnya tepung ubi tersebut
etanol. Demikian juga produksi bakteri probiotik dikukus terlebih dahulu dengan perbandingan
SKT-B menggunakan media SWC (sea water air (1:1) selama 30 menit kemudian dikeringkan
complete). Oleh karena itu, dibutuhkan metode menggunakan oven dengan suhu 55 °C sampai
yang lebih murah dan praktis untuk menekan biaya tepung kembali kering.
sinbiotik tersebut. Pada penelitian ini digunakan Pengekstraksian oligosakarida di dalam tepung
media teknis sebagai pengganti media SWC untuk ubi jalar dilakukan dengan mengacu pada metode
mengkultur bakteri probiotik dan digunakan Lesmanawati et al. (2013) yang dimodifikasi.
metode rebus untuk mengekstraksi oligosakarida Pertama-tama 5 g tepung ubi jalar dicampur
pada ubi sukuh sebagai prebiotik. Sinbiotik ini dengan 40 mL air mendidih sambil diaduk.
disebut dengan sinbiotik teknis. Penelitian ini Ekstrak dipertahankan pada suhu 85±2 °C dengan
bertujuan untuk menguji efektivitas penggunaan pengadukan terus-menerus selama sepuluh
sinbiotik teknis pada dosis berbeda terhadap menit. Analisis oligosakarida dilakukan terhadap
Sukenda et al. / Jurnal Akuakultur Indonesia 14 (1), 1–8 (2015) 3

ekstrak dengan metode high performance liquid telur, probiotik, dan prebiotik melekat pada pakan.
chromatography (HPLC). Setelah oligosakarida Setelah campuran bahan-bahan tersebut merata,
terekstraksi, selanjutnya dicampurkan ke dalam kemudian dilakukan pengeringan menggunakan
pakan dan probiotik. suhu ruang dan pakan siap diberikan ke udang.

Persiapan wadah dan media pemeliharaan Rancangan percobaan


Wadah yang digunakan pada penelitian ini yaitu Penelitian ini terdiri atas empat perlakuan
jaring hapa yang memiliki ukuran 150×100×100 dengan tiga kali ulangan. Rancangan perlakuan
cm3 sebanyak 12 buah dengan ukuran mata jaring penelitian dapat dilihat pada Tabel 1. Pemberian
5×5 mm2. Hapa tersebut diikatkan pada tiang pakan dilakukan sebanyak empat kali dalam
bambu yang memiliki ketinggian 1,5 m dan bagian sehari, yaitu pada pukul 06.00, 10.00, 14.00,
bawah hapa ditancapkan ke dasar tambak. Pada dan 18.00. Jumlah pakan yang diberikan sesuai
bagian atas hapa diberikan penutup berupa jaring dengan feeding rate (FR) yang diterapkan dalam
agar udang tidak lolos dari hapa serta mengurangi manajemen pengelolaan Tambak Pinang Gading,
gangguan predator. Hapa ditempatkan dalam Bakauheni, Lampung yaitu sebesar 5% menurun
petak tambak yang sudah berjalan masa produksi hingga 2,5% sesuai dengan bobot udang vaname
selama 42 hari pascatebar di tambak. masing-masing perlakuan. Selama kegiatan
penelitian dilakukan sampling bobot setiap tujuh
Persiapan hewan uji hari sekali. Pengukuran kualitas air dilakukan
Hewan uji yang digunakan pada penelitian pada awal dan akhir penelitian. Penelitian ini
ini yaitu udang vaname yang berumur 42 hari dilakukan selama 40 hari pada saat umur udang
pascatebar dan berasal dari Tambak Pinang Gading, 42 hari hingga umur udang 82 hari.
Lampung. Udang ditangkap menggunakan jaring
dan diukur bobotnya menggunakan timbangan Parameter uji
kemudian dicari bobot rata-rata udang tersebut. Pada akhir masa penelitian dilakukan evaluasi
Bobot rata-rata udang yang digunakan pada yang meliputi tingkat kelangsungan hidup, laju
penelitian ini yaitu 2,52±0,29 g/ekor. Setelah pertumbuhan harian, rasio konversi pakan, ukuran
ditimbang, udang dimasukkan ke dalam hapa panen, biomassa panen, parameter kualitas air
dengan jumlah udang tiap hapa yaitu 100 ekor. yang meliputi parameter suhu, salinitas, pH,
dan amonia. Analisis usaha dilakukan terhadap
Persiapan pakan uji perlakuan yang digunakan.
Pakan yang digunakan pada penelitian ini yaitu
pakan komersial dengan kadar protein sebesar Analisis data
28−38%. Proses persiapan pakan uji meliputi Penelitian ini menggunakan rancangan acak
pencampuran probiotik, prebiotik, dan kuning lengkap dan data yang diperoleh diolah dengan
telur ke dalam pakan komersial. Jumlah probiotik Microsoft Excel 2010, kemudian dilakukan
dan prebiotik yang dibutuhkan ditentukan terlebih uji ANOVA dengan menggunakan program
dahulu sesuai dengan masing-masing perlakuan. komputer SPSS 17.0 untuk melihat perbedaan
Setelah itu kuning telur dengan dosis 2% dari antarperlakuan.
jumlah pakan dimasukkan ke dalam wadah
menggunakan pipet ukur. Selanjutnya probiotik HASIL DAN PEMBAHASAN
dan prebiotik yang sudah ditentukan dosisnya
dicampurkan dengan kuning telur. Bahan- Hasil
bahan diaduk secara merata kemudian pakan Analisis probiotik dan prebiotik
dimasukkan lalu diaduk kembali hingga kuning Hasil pengamatan kepadatan bakteri pada

Tabel 1. Rancangan perlakuan pemberian sinbiotik teknis dengan dosis berbeda pada udang vaname
Perlakuan Keterangan
K Pemberian pakan komersial tanpa penambahan sinbiotik (kontrol)
A Pemberian pakan komersial dengan penambahan sinbiotik 0,5 dosis (probiotik 0,5% + prebiotik 1%)
B Pemberian pakan komersial dengan penambahan sinbiotik 1 dosis (probiotik 1% + prebiotik 2%)
C Pemberian pakan komersial dengan penambahan sinbiotik 2 dosis (probiotik 2% + prebiotik 4%)
4 Sukenda et al. / Jurnal Akuakultur Indonesia 14 (1), 1–8 (2015)

media teknis dengan pengenceran 5% dan 10% Kualitas air


didapatkan bahwa kepadatan bakteri pada media Kualitas air pada penelitian ini diukur pada
5% memiliki nilai yang lebih tinggi yaitu sebesar awal dan akhir perlakuan sinbiotik. Parameter
1,58×107 cfu/mL dibandingkan dengan media kualitas air yang diamati pada penelitian ini
teknis dengan pengenceran air laut 10%. Oleh meliputi suhu, pH, salinitas, dan total ammonia
karena itu, digunakan media 5% sebagai media nitrogen (TAN). Nilai kualitas air media
teknis pengganti SWC. Kandungan oligosakarida pemeliharaan udang vaname (Tabel 3) sesuai
pada ubi sukuh yang diekstraksi dengan metode dengan SNI 01-7246-2006 sehingga diasumsikan
rebus yaitu sukrosa sebanyak 480 ppm dan perubahan kelangsungan hidup dan pertumbuhan
rafinosa sebanyak 106 ppm. pada perlakuan sinbiotik bukan diakibatkan oleh
kualitas air media pemeliharaan.
Sintasan
Sintasan diamati pada akhir penelitian yaitu Ukuran udang
pada saat udang berumur 82 hari. Nilai sintasan Ukuran udang merupakan jumlah udang per
pada semua perlakuan sinbiotik dan kontrol kilogram. Data ukuran akhir udang uji setelah
disajikan pada Gambar 1. Berdasarkan uji masa pemeliharaan disajikan pada Gambar 4.
ANOVA, hasil sintasan pada semua perlakuan Berdasarkan uji ANOVA ukuran udang pada
memiliki nilai yang tidak berbeda nyata. semua perlakuan tidak berbeda nyata.

Laju pertumbuhan harian Biomassa udang


Laju pertumbuhan harian diamati setelah 40 Biomassa udang diamati pada akhir
hari perlakuan sinbiotik pada masing-masing pemeliharaan yaitu pada saat udang berumur
perlakuan. Nilai laju pertumbuhan harian udang 82 hari atau 40 hari setelah perlakuan. Nilai
vaname disajikan pada Gambar 2. Berdasarkan biomassa udang dapat dilihat pada Gambar 5.
uji ANOVA hasil laju pertumbuhan harian pada Berdasarkan ANOVA, hasil biomassa panen
semua perlakuan memiliki nilai yang tidak pada semua perlakuan memiliki nilai yang tidak
berbeda nyata. berbeda nyata.

Rasio konversi pakan Analisis usaha


Pengaruh pemberian sinbiotik dengan dosis Analisis usaha pada penelitian ini diamati
berbeda terhadap nilai rasio konversi pakan pada saat akhir pemeliharaan atau panen. Nilai
disajikan pada Gambar 3. Berdasarkan uji keuntungan didapatkan dengan cara mencari
ANOVA, hasil rasio konversi pakan pada semua selisih antara total biaya produksi dengan
perlakuan memiliki nilai yang tidak berbeda pendapatan. Nilai analisis usaha disajikan pada
nyata. Tabel 4.

100
100 5
100
a a a
a a a a
80 a
80 4
80
(%)

LPH (%/hari)
LPH (%/hari)
Sintasan (%)

60
60 60
3
Sintasan

40
40 2
40

20
20 1
20

00 00
K
K A
A B
B C
C K
K A
A B
B C
Perlakuan Perlakuan
Gambar 1. Sintasan udang vaname pada masa akhir Gambar 2. Laju pertumbuhan harian (LPH) udang
pemeliharaan. Keterangan: Huruf yang berbeda pada vaname. Keterangan: huruf yang berbeda pada
grafik batang menunjukkan hasil yang berbeda nyata grafik batang menunjukkan hasil yang berbeda nyata
(P<0,05). A (probiotik 0,5% dan prebiotik 1%), B (P<0,05). A (probiotik 0,5% dan prebiotik 1%), B
(probiotik 1% dan prebiotik 2%), C (probiotik 2% dan (probiotik 1% dan prebiotik 2%), C (probiotik 2% dan
prebiotik 4%), K (kontrol). prebiotik 4%), K (kontrol).
Muhammad Firdaus et al. / Jurnal Akuakultur Indonesia 12 (1), 1–12 (2013) 5

Berdasarkan Tabel 4, biaya pakan tertinggi Berdasarkan pengamatan, didapatkan bahwa


terdapat pada perlakuan B dengan nilai Rp14.909 kepadatan bakteri Vibrio SKT-b pada media teknis
dan terendah pada perlakuan K dengan nilai dengan pengenceran air laut 5% yaitu mencapai
Rp13.316. Total biaya produksi perlakuan 1,58×107 cfu/mL lebih tinggi dibandingkan
sinbiotik lebih besar dibandingkan dengan kontrol dengan media teknis dengan pengenceran air laut
dikarenakan adanya biaya pembuatan sinbiotik. 10%. Penggunaan media ini diharapkan dapat
Perlakuan sinbiotik A memiliki nilai keuntungan menghemat biaya dalam penggunaan media SWC
yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan yang mahal.
sinbiotik lainnya serta kontrol. Perlakuan sinbiotik Pengekstraksian oligosakarida pada ubi sukuh
A mendapatkan keuntungan sebesar Rp10.230. diperlukan untuk mengeluarkan zat oligosakarida
sebagai prebiotik. Berdasarkan analisis yang
Pembahasan dilakukan dengan menggunakan metode air
Efektivitas penggunaan sinbiotik teknis yang mendidih, oligosakarida yang terekstraksi hanya
memiliki metode lebih sederhana dan murah sebesar 5,86% yaitu sukrosa sebanyak 4,8%
perlu diuji pada kondisi lapang di tambak dan rafinosa sebanyak 1,06%. Lesmanawati et
agar penggunaan sinbiotik di tambak dapat al. (2013) melakukan ekstraksi dengan etanol
dengan mudah diaplikasikan. Pada penelitian
ini digunakan media teknis dengan komposisi 120
120
nutrisi yang terdapat dalam media ini meliputi a
asam amino, vitamin, makro mineral, dan trace 100 a
100 a
a
mineral. Dosis yang digunakan pada penelitian
80
80
ini yaitu 5% dengan pengencernya yaitu air laut.
(ekor)
Size(ekor)

60
60
3
3,0
a
Size

40
40
2,5
2,5 a
Rasio konversi pakan

a 20
20
Rasio Konversi Pakan

2,0
2 a
00
1,5
1,5 K
K A
A B
B CC
Perlakuan
1
1,0 Gambar 4. Size udang vaname pada akhir pemeliharaan.
Keterangan: Huruf yang berbeda menunjukkan hasil
0,5
0,5 yang berbeda nyata (P<0,05), A (probiotik 0,5 % dan
prebiotik 1 %), B (probiotik 1 % dan prebiotik 2%), C
00 (probiotik 2 % dan prebiotik 4 %), K (kontrol).
K
K A
A B C
Perlakuan
1.200
1200
Gambar 3. Rasio konversi pakan udang vaname.
Keterangan: Huruf yang berbeda pada grafik batang a a a
1.000
1000 a
menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05). A
(probiotik 0,5% dan prebiotik 1%), B (probiotik 1%
(g)

800
Biomassa (g)

dan prebiotik 2%), C (probiotik 2% dan prebiotik 4%),


K (kontrol).
Biomassa

600
Tabel 3. Hasil pengamatan kualitas air parameter suhu,
pH, salinitas, dan TAN 400

SNI 200
Parameter Kisaran nilai
01-7246-2006 00
K
K A
A B
B C
C
Suhu (°C) 28−30 28,5−31,5
Perlakuan
pH 7,7−8,3 7,5−8,5
Gambar 5. Biomassa panen udang vaname pada
Salinitas (ppt) 28−30 15−35 akhir pemeliharaan. Keterangan: huruf yang berbeda
menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05). A
TAN (mg/L) 0,12−0,13 <1 (probiotik 0,5% dan prebiotik 1%), B (probiotik 1 %
dan prebiotik 2%), C (probiotik 2% dan prebiotik 4%),
Keterangan: TAN: total ammonia nitrogen. K (kontrol).
6 Sukenda et al. / Jurnal Akuakultur Indonesia 14 (1), 1–8 (2015)

Tabel 4. Analisis usaha pada akhir pemeliharaan


Perlakuan Biaya pakan Sinbiotik Lainnya Total biaya Pendapatan Keuntungan
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
K 13.316 0 12.397 25.714 35.421 9.707
A 14.206 14 13.165 27.385 37.615 10.230
B 14.909 29 13.132 28.069 37.519 9.449
C 14.758 57 11.735 26.549 33.528 6.978
Keterangan: A (probiotik 0,5% dan prebiotik 1%), B (probiotik 1% dan prebiotik 2%), C (probiotik 2% dan
prebiotik 4%), K (kontrol).

70% menghasilkan lebih banyak oligosakarida Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa
dibandingkan ekstraksi dengan air mendidih pemberian sinbiotik pada semua perlakuan
yaitu mencapai 19,71% dengan kandungan memiliki nilai yang tidak berbeda nyata. Menurut
rafinosa 2,62% dan sukrosa 17,09%. Akan tetapi, Kusumaningrum et al. (2007), insidensi IMNV
penggunaan etanol 70% sebagai pengekstraksi cukup tinggi apabila ada dampak dari perubahan
oligosakarida di lapang memiliki kendala yaitu iklim. Perubahan iklim yang tercermin dari
biaya yang mahal serta metode pengekstraksian pergantian cuaca harian yang ekstrim, membuat
yang rumit. Metode pengekstraksian oligosakarida suhu perairan berfluktuasi. Perubahan cuaca
sebagai prebiotik dengan metode rebus hanya dan suhu perairan tersebut memicu stres pada
diperlukan waktu 15 menit dan mudah prosesnya. udang dan menyebabkan daya tahan tubuh
Menurut Padmaja (2009), Krishnan et al. udang menurun. Penurunan daya tahan tubuh
(2012), Lestari et al. (2013), Yonemoto et al. mengakibatkan udang lebih mudah terjangkit
(2013), ubi jalar varietas sukuh mengandung penyakit. Suhu tambak pada masa pemeliharaan
berbagai jenis oligosakarida. Penelitian Haryati udang tidak berfluktuasi secara ekstrim yaitu
& Supriyati (2010) menemukan bahwa ubi jalar berkisar antara 28,5−31,5 °C (Tabel 3).
mengandung oligosakarida tidak dicerna di Hasil penelitian setelah 40 hari perlakuan
antaranya rafinosa dan sukrosa yang berfungsi pemberian sinbiotik dengan dosis berbeda
sebagai prebiotik. Berdasarkan hasil penelitian memiliki nilai laju pertumbuhan, rasio konversi
Lesmanawati et al. (2013), oligosakarida yang pakan, ukuran panen, dan biomassa yang tidak
diperoleh dari ubi jalar mampu berperan sebagai berbeda nyata pada setiap perlakuan. Hal ini
prebiotik yang menunjang pertumbuhan bakteri mungkin dikarenakan binder yang digunakan
probiotik SKT-b. Prebiotik tidak dapat dipisahkan untuk coating sinbiotik masih kurang baik
dengan probiotik karena target prebiotik sehingga stabilitas pakan dalam air menurun.
adalah memacu pertumbuhan bakteri probiotik Volpe et al. (2012) menjelaskan bahwa jenis
(Schrezenmeir & Vrese, 2001). binder yang berbeda akan berpengaruh
Penelitian Oktaviana (2014) dan Nurhayati kepada stabilitas pakan dalam air dan respons
(2015) menjelaskan bahwa pemberian sinbiotik makan. Rendahnya stabilitas pakan dalam air
1% dan prebiotik 2% yang diberikan setiap hari setelah penambahan sinbiotik mengakibatkan
dapat meningkatkan nilai sintasan udang vaname pemanfaatan pakan sinbiotik oleh udang menjadi
yang ditantang dengan koinfeksi bakteri V. harveyi kurang efektif. Li et al. (2009) juga menyebutkan
dan IMNV. Selain itu berdasarkan penelitian bahwa ada hubungan yang erat antara penentuan
Zhang et al. (2010), pemberian sinbiotik sebesar dosis probiotik dan prebiotik yang diberikan.
108 cfu/g dan 0,2% isomaltooligosakarida dapat Pemberian oligosakarida dalam jumlah tertentu
meningkatkan sintasan udang Penaeus japonicus dapat bersifat sebagai antinutrisi (Francis et al.,
dua kali lebih tinggi daripada kontrol pada uji 2001). Selain itu dijelaskan oleh Cerezuela et
tantang V. alginolyticus. al. (2011) ada berbagai faktor seperti spesies,
Nilai sintasan pada penelitian ini diamati waktu pemberian, dosis serta jenis prebiotik dan
setelah perlakuan pemberian sinbiotik selama probiotik secara signifikan dapat mempengaruhi
40 hari atau pada saat umur udang 82 hari. aktivitas sinbiotik.
Sintasan merupakan salah satu parameter utama Menurut Wang (2007), pemberian probiotik
pada penelitian ini. Sintasan merupakan peluang 1% memiliki pertumbuhan dan aktivitas enzim
hidup suatu individu dalam waktu tertentu. pencernaan yang lebih baik dibandingkan
Sukenda et al. / Jurnal Akuakultur Indonesia 14 (1), 1–8 (2015) 7

dengan kontrol karena probiotik memiliki DAFTAR PUSTAKA


mekanisme dalam menghasilkan enzim eksogen
untuk pencernaan pakan seperti amilase, Austin B, Zhang XH. 2006. Vibrio harveyi: a
protease, lipase, dan selulase. Enzim tersebut significant pathogen of marine vertebrates and
akan membantu enzim endogen di inang untuk invertebrates. Letters in Applied Microbiology
menghidrolisis nutrien pakan. Meningkatnya 43:119−124.
aktivitas enzim pencernaan dapat membantu Cerezuela R, Guardiola FA, Meseguer J, Esteban
inang dalam mendegadrasi nutrisi, meningkatkan MA. 2012. Increases in immune parameters
kecernaan, dan memperbaiki efisiensi by inulin and Bacillus subtilis dietary
pakan (Cerezuela et al., 2011). Hal ini akan administration to gilth head seabream Sparus
meningkatkan ketersediaan nutrien yang siap aurata L. did not correlate with diseases
diserap dari saluran pencernaan untuk masuk ke resistance to Photobacterium damselae. Fish
pembuluh darah, dan akan diedarkan ke seluruh and Shellfish Immunology 32: 1.032−1.040.
bagian tubuh dan jaringan yang membutuhkan Costa AM, Buglione CC, Bezerra FL, Martins
dalam proses metabolisme selanjutnya. PCC, Barracco MA. 2009. Immune assessment
Salah satu faktor yang berperan menentukan of farm-reared Penaeus vannamei shrimp
keberhasilan produksi udang adalah pengelolaan naturally infected by IMNV in NE Brazil.
kualitas air, karena udang adalah hewan air yang Aquaculture 291: 141−146.
segala kehidupan, kesehatan dan pertumbuhannya Francis G, Harinder P, Makkar S, Becker K. 2001.
tergantung pada kualitas air sebagai media Antinutritional factors present in plant-derived
hidupnya. Pengukuran kualitas air pada penelitian alternate fish feed ingredients and their effects
ini dilakukan pada awal dan akhir pemeliharaan. in fish. Aquaculture 199: 197–227.
Berdasarkan hasil yang didapat nilai kualitas air Haryati T, Supriyati. 2010. Pemanfaatan senyawa
masih termasuk ke dalam rentang kualitas air oligosakarida dari bungkil kedelai dan ubi
yang baik dalam pemeliharaan udang vaname jalar pada ransum ayam pedaging. Jurnal Ilmu
di tambak intensif menurut SNI 01-7246-2006 Ternak dan Veteriner 15: 253−260.
(pustaka) sehingga diasumsikan perubahan [KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan.
sintasan, dan pertumbuhan pada perlakuan 2010. Program peningkatan produksi budidaya
sinbiotik bukan diakibatkan oleh kualitas air tahun 2010−2014. In: Forum Akselerasi
media pemeliharaan. Pembangunan Perikanan Budidaya 2010.
Analisis usaha pada penelitian ini diamati Batam: 25−28 Januari 2010.
pada saat akhir pemeliharaan atau panen. Nilai Krishnan JG, Menon R, Padmaja G, Sajeev MS,
keuntungan didapatkan dengan cara mencari Moorthy SN. 2012. Evaluation of nutritional
selisih antara total biaya produksi dengan and physico-mechanical characteristics of
pendapatan. Pada penelitian ini diperoleh hasil dietary fiber-enriched sweet potato pasta.
bahwa biaya pakan tertinggi yaitu perlakuan European Food Research and Technology 234:
B dengan nilai Rp14.909 dan terendah yaitu 467−476.
perlakuan K dengan nilai Rp13.316. Total Kusumaningrum DK, Wardiyanto, Tusihadi
biaya produksi perlakuan sinbiotik lebih besar T. 2012. Insidensi infectious myonecrosis
dibandingkan dengan kontrol karena adanya virus (IMNV) pada udang putih Litopenaeus
biaya pembuatan sinbiotik. Perlakuan sinbiotik vannamei di Teluk Lampung. Jurnal Rekayasa
A memiliki nilai keuntungan yang lebih tinggi dan Teknologi Budidaya Perairan 1: 65−70.
dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Lesmanawati W, Widanarni, Sukenda, Purbiantoro
W. 2013. Potensi ekstrak oligosakarida ubi
KESIMPULAN jalar sebagai prebiotik bakteri probiotik
akuakultur. Jurnal Sain Terapan 3: 21−25.
Pemberian sinbiotik pada semua perlakuan Lestari LA, Soesatyo MHNE, Iravati S,
memiliki nilai sintasan, laju pertumbuhan, rasio Harmayani E. 2013. Characterization of bestak
konversi pakan, ukuran udang, dan biomassa sweet potato Ipomoea batatas variety from
panen yang tidak berbeda nyata dengan kontrol. Indonesian origin as prebiotic. International
Akan tetapi berdasarkan analisis usaha perlakuan Food Research Journal 20: 2.241−2.245.
sinbiotik dosis A memberikan keuntungan lebih Li J, Beiping T, Kangsen M. 2009. Dietary probiotic
tinggi (Rp10.230) dibandingkan dengan kontrol Bacillus OJ and isomaltooligosaccharides
(Rp9.707). influence the intestine microbial populations,
8 Sukenda et al. / Jurnal Akuakultur Indonesia 14 (1), 1–8 (2015)

immune responses and resistance to white Soto-Rodriguez SA, Gomez-Gil B, Lozano R,


spot syndrome virus in shrimp Litopenaeus Rio-Rodriguez RD, Dieguez AL, Romalde JL.
vannamei. Aquaculture 291: 35–40. 2012. Virulence of Vibrio harveyi responsible
Merrifield DL, Dimitroglou A, Foey A, Davis for the‘‘Bright-red’’Syndrome in the Pacific
SJ, Baker RTM, Bøgwald J, Castex M, Ringø, white shrimp Litopenaeus vannamei. Journal
E. 2010. The current status and future focus of Invertebrate Pathology 109: 307–317.
of probiotic and prebiotics applications for Tang KFJ, Pantoja CR, Poulos BT, Redman
salmonids: Review. Aquaculture 302: 1−8. RM, Lightner DV. 2005. In situ hybridization
Nayak SK. 2010. Probiotics and immunity: a demonstrates that Litopenaeus vannamei,
fish perspective: Review. Fish and Shellfish L. stylirostris, and Penaeus monodon are
Immunology 29: 2−14. susceptible to experimental infection with
Nurhayati D, Widanarni, Yuhana M. 2015. infectious myonecrosis virus (IMNV).
Dietary synbiotic influence on the growth Diseases of Aquatic Organisms 63: 261–265.
performances and immune responses to co- Volpe MG, Varricchio E, Coccia E, Santagata G,
infection with infection myonecrosis virus Stasio MD, Malinconico M, Paolucci M. 2012.
and Vibrio harveyi in Litopenaeus vannamei. Manufacturing pellets with different binders:
Journal of Fisheries and Aquatic Science 10: Effect on water stability and feeding response
13−23. in juvenile Cherax albidus. Aquaculture 324-
Oktaviana A, Widanarni, Yuhana M. 2014. 325: 104–110.
The use of synbiotics to prefent IMNV and Wang B. 2007. Effect of probiotics on growth
Vibrio harveyi co-infecction in Litopenaeus performance and digestive enzyme activity
vannamei. Hayati Journal of Bioscience 21: of the shrimp Litopenaeus vannamei.
127−137. Aquaculture 269: 259−264.
Padmaja G. 2009. Uses and Nutritional Data of Widanarni, Suwanto, A, Sukenda, Lay BW. 2003.
Sweetpotato. In: Loebenstein G, Thottappilly Potency of Vibrio isolates for biocontrol of
G (eds). The Sweetpotato. Netherland: vibriosis in tiger shrimp Penaeus monodon
Springer Netherlands. Hlm. 189−234. larvae. Biotropia 20: 11−23.
Ringo E, Olsen RE, Gifstad TO, Dalmo RA, Widanarni, Sukenda, Setiawati M. 2008. Bakteri
Amlund H, Hemre GI, Bakke AM. 2010. probiotik dalam budidaya udang: seleksi,
Prebiotic in aquaculture: Review. Aquaculture mekanisme aksi, karakterisasi dan aplikasinya
Nutrition 16: 117−136. sebagai agen biokontrol. Jurnal Ilmu Pertanian
Rodriguez-Estrada U, Satoh S, Haga Y, Fushimi Indonesia 13: 80−89.
H, Sweetman J. 2009. Effect of single and Yonemoto T, Nakano T, Kawahara C, Ishi-I K,
combined supplementation of Enterococcus Nakano T, Ando H, Fujii M. 2013. Allergy-
faecalis, mannan oligosaccharide and suppressing activity of oligosaccharides in
polyhydrobutyric acid on growth performance sweetpotato-shochu distillery by-product.
and immune response of rainbow trout Food Science and Technology Research 19:
Oncorhynchus mykiss. Aquaculture Science 287−293.
57: 609−617. Zhang Q, Ma H, Mai K, Zhang W, Liufu Z,
Schrezenmeir J, Vrese M. 2001. Probiotics, Xu W. 2010. Interaction of dietary Bacillus
prebiotics and synbiotic approaching a subtilis and fructooligosaccharide on growth
definition. American Journal of Clinical performance, non-specific immunity of sea
Nutrition 73: 361−364. cucumber Apostichopus japonicas. Fish and
Senapin SK, Phewsaiya M, Briggs TW, Flegel. Shellfish Immunology 29: 204−211.
2007. Outbreaks of infectious myonecrosis Zhang Q, Tan B, Mai K, Zhang W, Ma H,
virus (IMNV) in Indonesia confirmed by Ai Q. 2011. Dietary administration of
genome sequencing 24 and use of an alternative Bacillus (B. licheniformis and B. subtilis)
RT-PCR detection method. Aquaculture 266: and isomaltooligosaccharide influences
32−38. the intestinal microflora, immunological
[SNI] Standar Nasional Indonesia. 2006. Produksi parameters and resistance against Vibrio
udang vaname Litopenaeus vannamei di alginolyticus in shrimp, Penaeus japonicus
tambak dengan teknologi intensif. Badan (Decapoda: Penaeidae). Aquaculture Research
Standardisasi Nasional. 42: 943–952.