Anda di halaman 1dari 29

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

V.1. Hasil

V.1.1. Sebelum Peledakan

Seorang juru ledak membawa bahan peledak dan detonator sesuai dengan

jumlah lubang ledak yang akan diledakan. Bahan peledak (ANFO) terlebih dahulu

dicampur lokasi pencampuran di Gudang Handak Utama, dengan persentase

perbandingan 94 % untuk Amonium Nitrat dengan 6% Fuel oil dengan menggunakan

alat Coxan Mixer Automatis

2
1

3
4

Sumber : Dokumentasi Lapangan, Gudang Handak Utama,2018


Gambar V. 1.
Tempat dan Alat Pencampuran Bahan Ramuan Handak

42
Keterangan :
1. Mesin pencampuran/mixer
2. Tangki pengisian bahan pencampuran fuel oil
3. Timbangan anfo
4. Anfo/bag
V.1.2. Persiapan Peledakan

Persiapan peledakan adalah semua kegiatan baik teknis maupun tindakan

pengamanan, yang ditujukan untuk dapat melaksanakan suatu peledakan dengan

aman, efektif dan efesien. Hal-hal yang perlu disiapkan sebelum peledakan

diantaranya :

V.1.2.1. Bahan Peledak

V.1.2.1.1. Amonium Nitrat dan Fuel oil

Untuk memudahkan pembahasan di site untuk produk yang dibuat dan

diantarkan, site memakai nama ANFO untuk menyingkat Amonium Nitrat

yang dengan Fuel Oil. ANFO sekarang ini dipakai hanya di tambang bawah

tanah Kencana, yang kondisi batuan panasnya dapat berkisar di 55°C – 75°C

yang tak dialami tambang bawah tanah Kencana. ANFO sebelumnya sudah

dikemas dalam bag dengan berat 15 kg/bag.

Sumber : Dokumentasi Lapangan, Magazine UG, KEN, 2018


Gambar V. 2. ANFO Kapasitas 15 kg/bag

43
V.1.2.1.2. Cartridge Emulsion

Bahan peledak emulsion terdiri dari larutan oxidizer salts (misalnya :

Amonium Nitrat) yang berimbang dalam bentuk butiran halus mikroskopis

dan dikelilingi dengan fasa bahan bakar. Bahan pengemulsi (emulsifying

agent) dipakai menstabilkan dua fasa dan mencegah pemisahan. Produk

cartridge emulsion banyak dipakai di lubang ledak basah karena sifatnya yang

sangat tahan air. Kondisi batuan panas tambang bawah tanah kencana dengan

suhu mencapai 55°C – 75°C ini memerlukan desain khusus sehingga

digunakan Cartridge Emulsion jenis Senatel Pyromex yang diproduksi oleh

Orica.

Sumber : Dokumentasi Lapangan, Magazine UG, KEN, 2018


Gambar V. 3. Cartridge Emulsion Jenis Senatel Pyromex

V.1.2.2. Perlengkapan Peledakan

Perlengkapan Peledakan didefenisikan sebagai perangkat pembantu

peledakan yang habis dipakai, diantranya :

44
V.1.2.2.1. Detonator Nonel (Non-Eletrik)

Ada sejenis detonator cara penyalaannya dengan gelombang

detonasi yang dihantarkan melalui suatu pipa plastik kecil (diameter 3 mm)

yang berisi suatu bahan yang sangat mudah bereaksi. Bahan isian pipa plastik

ini dapat mengghantarkan gelombang detonasi sampai 2000m/detik

(6000ft/second). Sumber gelombang detonasi yang dihantarkan dari sumbu

ledak.

Delay Detonator

Nonel Tube

J-Hook
Lebel delay

Sumber : Dokumentasi Lapangan, Magazine UG, KEN, 2018

Gambar V. 4. Detonator Nonel (Non-Eletrik)

V.1.2.2.2. Detonator Cord

Detonator Cord adalah sumbu yang berfungsi merambatkan

gelombang detonasi ke Detonator Nonel yang sebelumnya telah

dikaitkan. Detonator Cord berkomposisi bahan peledak

45
kuat. Kecepatan reaksinya rata-rata 21.000 fps atau

4 mill/detik. Oleh karena itu dalam prakteknya Detonator

Cord harus diperlakukan sama dengan bahan peledak kuat. Detonator Cord

dapat dinyalakan atau diinisiasi dengan menggunakan Electrik detonator.

Sumber : Dokumentasi Lapangan, Magazine UG, KEN, 2018

Gambar V. 5. Detonator Cord

V.1.2.2.3. Electric Detonator

Electric Detonator merupakan sebuah detonator jenis detonator

listrik yang meledak seketika ketika listrik dihidupkan, Line wire

dihubungkan ke Elektric detonator yang selanjutnya bagian delay detonator-

nya diikat bersamaan dengan dua ujung sumbu ledak dengan menggunakan

Electrical tape.

46
.

Sumber : Dokumentasi Lapangan, Magazine UG, KEN, 2018

Gambar V. 6. Electric Detonator

V.1.2.2.4. Bell Wire

Bell Wire adalah kabel penghubung per roll 500 meter dihubungkan

dari Electric Detonator ke Firring Line yang telah ada sebelumnya untuk

mempermudah dan mecepat penyambungan.

Sumber : Dokumentasi Lapangan, Magazine UG, KEN, 2018


Gambar V. 7. Bell Wire

47
V.1.3. Pembuatan Lubang Ledak

Pembuatan lubang ledak dengan menggunakan jumbo sandvik, yaitu awal

pembuatan lubang ledak dengan membuat lubang ledak pada bagian perimeter

holes setelah itu kemudian di lanjutkan dengan pembuatan lubang ledak pada

bagian cut hole selanjutnya pembuatan ubang ledak pada face holes dan

terakhir pada bagian lifters (Gambar V.8)

Lubang atap

Cut

Lubang perimeter

Lubang lifter

Sumber : Dokumentasi Lapangan, Magazine UG, KEN, 2018

Gambar V. 8. Pembuatan Lubang Ledak

48
V.1.3.1. Pola Pengeboran

Mengingat ruang sempit yang membatasi kemajuan pemboran dan hanya

satu bidan bebas, maka harus di buat suatu pola pengeboran yang di sesuaikan dengan

kondisi tersebut. minimal terdapat dua bidang bebas agar proses pelepasan energi

berlangsung sempurna ,sehingga batuan akan terlepas atau terberai dari induknya

lebih ringan. Yaitu permukaan kerja atau face,untuk itu perlu di buat tambahan

bidang bebas yang di namakan cut.

Cut yang di gunakan pada peledakan heading di tambang bawah tanah

kencanaadalah menggunakan Burn Cut ,burn cut ini terdapat empat lubang

kosong, yang berfungsi sebagai bidang bebas kedua ( Gambar V.9)

Sumber :Drill and Blast UG, Kencana 2018

Gambar V. 9. Design Pola Pengeboran Burn Cut

49
V.1.4. Pembuatan Primer

Untuk lubang ledak liffter atau lubang ledak yang paling bawah diisi dengan

Sanatel Pyromex 32 mm x 700 mm hingga penuh, selanjutnya lubang ledak yang

tersisa terdiri dari lubang ledak pada cut hole dengan parimeter digunaka 1 buah

Sanatel Pyromex 32 mm x 200 mm. Cara pembuatan primer adalah salah satu Sanatel

Pyromex dilubangi kemudian diselipkan pada bagian bawah Sanatel Pyromex hingga

seluruh detonator terbenam, kemudian dimasukan kedalam lubang ledak dan Nonel

Tube di tarik ke permukaan selanjutnya dikaitkan J- Hook pada Detonator Cord.

Sumber : Dokumentasi lapangan, Underground KEN, 2018

Gambar V.10. Pembuatan Primer

50
V.1.5. Pengisian Bahan Peledak

Setelah dimasukkan primer pada dasar lubang selesai kegitan selanjutnya

adalah memasukan ANFO dengan menggunakan tekanan tinggi dari udara yang

dihubungkan dengan tannel charmec dan kemudian menggunakan tube charmec

untuk mengisi bahan peledak kedalam lubang ledak, hal ini dimaksudkan untuk

pemadatan ANFO pada lubang ledak hingga pada batas collar yang ditentukan.

CETEL

HOSE

Sumber : Dokumentasi Lapangan, Underground KEN, 2018

Gambar V.11. Pengisian Bahan Peledak

51
V.1.6. Penyambungan Rangkaian

setelah semua bahan peledak dimasukan dalam lubang ledak, maka

dilakukan penyambungan rangkaian menggunakan rangkaian seri kemudian J-Shoc

Nonel yang dikeluarkan di permukaan dikaitkan dengan sumbu ledak

(Cortex), kemudian dari sumbu ledak diikat satukan dengan Electric Detonator

kemudian disambungkan pada Connecting Wire.

Sumber : Dokumentasi Lapangan, Underground KEN, 2018

Gambar V.12. Penyambungan Rangkaian

V. 1.7. Peledakan (blasting)

Setelah penyambungan rangkaian tahap selanjutnya adalah dilakukan

peledakan tetapi sebelum dilakukan peledakan dilakukan penyambungan guna untuk

52
keselamatan yaitu dilakukan dengan menyambungkan Connecting Wire yang

sebelumnya telah disambung dengan electrik detonator, setelah itu ditarik pada pada

Firring Line terdekat yang sebelumnya telah dipasang disetiap lokasi, ( Firring Line,

Firring Box dan Blasting Mechsine Portal sebelumnya telah sambungkan dan

Sumber : Dokumentasi Lapangan, Underground KEN, 2018

Gambar V.13. Penyambungan Connecting wire dengan firring line

53
dipasang oleh electrik crew) setelah Connecting Wire tersambung dengan Firring

Line selanjutnya juru ledak membuka blasting mesin yang berada diportal dan

mengaktifkan ( kunci hanya dapat digunakan pada juru ledak dan tahap selanjutnya

adalah juru ledak mengaktifkan Blasting Mechcine Portal untuk segera dilakukan

peledakan.

Sumber : Dokumentasi Lapangan, Portal Kencana, 2018

Gambar V.14. Pelaksanaan Peledakan

54
V.2. Pembahasan

Peledakan heading merupakan suatu kegiatan peledakan pada tambang bawah

tanah (underground) dengan arah horizontal, dimana proses peledakan ini dilakukan

untuk membuat akses baik itu akses utama, ore body, bahkan infrastruktur lainnya.

Pada peledakan heading sebelumnya didesain berdasarkan berbagai kriteria

dengan luas permukaan dan kemajuan yang berbeda yang bertujuan mengurangi

dampak kecelakaan dan efisiensi peledakan. Akan tetapi pada aktual lapangan tidak

seperti hasil yang diharapkan, baik itu kebutuhan bahan peledak, volume batuan yang

dihasilkan, perolehan kemajuan tambang serta powder faktor dimana dapat

menentukan faktor ekonomi suatu kegiatan peledakan.

 Statistik Descriptive hasil dari 31 Data Pemakaian Bahan peledak di

Lapangan

Dari 31 data lampiran D Setelah di lakukan pengolahan data dan selanjutnya

menghitung untuk mendapatkan hasil dengan menggunakan metode

kuantitatif . maka dilakukan descriptive statistic yang mempresentasikan

data secara keseluruhan dari total data yang tersedia Pemakain Bahan

Peledak jumlah data sebanyak 31 data ,data Mean atau rata- rata 188 kg, data

minimum 76 kg, data maksimum 327 kg, sum 5821 kg sehingga dengan

mudah untuk hasil akhir dari perhitungan data

55
Tabel V.1

Statistik descriptive hasil dari 31 data pemakian bahan peledak

Bahan peledak
Count 31 kg
Mean 188 kg
Minimum 76 kg
Maximum 327 kg
Sum 5821 kg

 Grafik Histogram Hasil Dari 31 data pemakaian bahan peledak

Grafik histogram sampel pemakaian bahan peledak mempresentasikan Hasil

Dari data pengolahan pemakaian bahan peledak per heading lampiran D utuk

mempermudah membaca data dengan frequency yakni di mana data 76 frequency 1,

data 126 frequency 4, data 176 frequency 11, data 227 frequency 5, data 277

frequency 7 data more frequency 3.frequency sebagai berikut (Gambar V.12)

Histogram Bahan peledak


15
Frequency

10
5
Frequency
0
76 126 176 227 277 More
Bin

Gambar V.15. Grafik Histogram hasil 31 data pemakaian bahan peledak

56
 Statistik Descriptive hasil dari 31 Data volume batuan (m3/ton) di

Lapangan

Dari 31 data pada lampiran D Setelah di lakukan pengolahan data dan

selanjutnya menghitung untuk mendapatkan hasil dengan menggunakan

metode kuantitatif .maka dilakukan descriptive statistic yang

mempresentasikan data secara keseluruhan dari total data yang tersedia

Volume Material(m3/ton) jumlah data sebanyak 31 data ,data Mean atau

rata- rata 211 ton , data minimum 82 ton, data maksimum 411 ton, sum 6539

ton sehingga dengan mudah untuk hasil akhir dari perhitungan data

Tabel V.2

Statistik descriptive hasil dari 31 data Volume batuan

Volme Batuan
Count 31
Mean 211 ton
Minimum 82 ton
Maksimum 411 ton
Sum 6539 ton

 Grafik Histogram Hasil Dari 31 data Volume batuan

Grafik histogram sampel volume batuan mempresentasikan Hasil

Dari data pengolahan Volume batuan per heading lampiran D utuk mempermudah

membaca data dengan frequency yakni di mana data 76 frequency 1, data 82

57
frequency 1 ton, data 148 ton frequency 2 , data 214 ton frequency 16, data 279 ton

frequency 9, data 354 ton frequency 2. data more frequency . frequency sebagai

berikut (Gambar V.13)

Histogram Volume batuan


(m3/ton)
20
Frequency

10
Frequency
0
82 148 214 279 345 More
Bin

Gambar V.16

Grafik Histogram Hasil 31 data volume batuan

 Statistik Descriptive hasil dari 31 Data Kemajuan Tambang (m) di

Lapangan

Dari 31 data pada lampiran D Setelah di lakukan pengolahan data dan

selanjutnya menghitung untuk mendapatkan hasil dengan menggunakan

metode kuantitatif .maka dilakukan descriptive statistic yang

mempresentasikan data secara keseluruhan dari total data yang tersedia

Kemajuan Tambang (meter), jumlah data sebanyak 31 data ,data Mean atau

rata- rata 2,7 meter, data minimum 1,39 meter , data maksimum 4,18

58
meter,data sum 82,95 meter sehingga dengan mudah untuk hasil akhir dari

perhitungan data

Tabel V.3

Statistik descriptive hasil dari 31 data Kemajuan Tambang

kemajuan tambang
Count 31
Mean 2,7 meter
Minimum 1,39 meter
Maximum 4,18 meter
Sum 82,95 meter

 Grafik Histogram Hasil Dari 31 data kemajuan tambang

Grafik histogram sampel Kemajuan tambang mempresentasikan Hasil

Dari data pengolahan Kemajuan tambang per heading lampiran D utuk

mempermudah membaca data dengan frequency yakni di mana data 1,4 frequency 2,

data 1,9 frequency 2, data 2,5 frequency 8, data 3,1 frequency 10, data 4 frequency

5, data more frequency 4. frequency sebagai berikut (Gambar V.17)

59
Histogram kemajuan
tambang
15

Frequency 10
5
Frequency
0
1,4 1,9 2,5 3,1 4 More
Bin

Gambar V.17

Grafik Histogram Hasil dari 31 data kemajuan tambang

 Statistik Descriptive hasil dari 31 Data Powder factor ( kg/ton) di

Lapangan

Dari 31 data pada lampiran D Setelah di lakukan pengolahan data dan

selanjutnya menghitung untuk mendapatkan hasil dengan menggunakan

metode kuantitatif .maka dilakukan descriptive statistic yang

mempresentasikan data secara keseluruhan dari total data yang tersedia

Powder Factor (kg/ton), jumlah data sebanyak 31 data ,data Mean atau rata-

rata 2,6 kg/ ton, data minimum 0,9 kg / ton , data maksimum 7.9 kg/ ton,data

sum 79,2 kg/ ton sehingga dengan mudah untuk hasil akhir dari perhitungan

data

60
Tabel V.4

Statistik descriptive hasil dari 31 data Powder factor

Powder Factor
Count 31
Mean 2,6 kg/ton
Minimum 0,9 kg/ton
Maximum 7,9 kg/ ton
Sum 79,2 kg/ ton

 Grafik Histogram Hasil Dari 31 data Powder factor

Grafik histogram sampel powder factor mempresentasikan Hasil

Dari data pengolahan Powder Factor per heading lampiran D utuk mempermudah

membaca data dengan frequency yakni di mana data 0,9 frequency 1, data 2,3

frequency 15, data 3,7 frequency 12, data 5,1 frequency 2, data 6,5 frequency 0,

data more frequency 1. frequency sebagai berikut (Gambar V.18)

Histogram
20
Frequency

10
Frequency
0
0,9 2,3 3,7 5,1 6,5 More
Bin

Gambar V.18

Grafik Histogram 31 data Powder Factor

61
Untuk memberikan gambaran mengenai data hasil penelitian dengan

berdasarkan standar dan aktual lapangan, maka dapat disajikan hasil pengolahan data

berdasarkan statistik dalam bentuk tabel sebagai berikut :

Tabel V.5. Hasil Statistik

Pemakaian Volume Kemajuan Powder


No Variabel Bahan Peledak Batuan Tambang Faktor
(kg) (ton) (m) (kg/ton)

1 Standar 327 212 3,3 2,8

2 Aktual 188 211 3 2,6

3 Selisih 49 1 0,3 0,2

Sumber : Pengolahan Data, 2018

V.2.1. Pemakaian Bahan Peledak

Pemakaian bahan peledak tergantung pada dimensi suatu terowongan. Berdasarkan

pengolahan statistik deskriptif data aktual lapangan dan standar desain, Dari hasil

penelitian dari 31 data peledakan Heading dengan nilai rata – rata atau mean dapat di

sajikan dalam tabel V.6 sebagai berikut :

Tabel V.6 Pemakaian Bahan Peledak

Variabel Standar (kg) Aktual (kg) Selisih (kg)

Bahan Peledak 237 188 49


Sumber : Pengolahan data, 2018

62
Dari Hasil Penilitian dari 31 data peledakan dapat di ketahui penggunaan

bahan peledak pada setiap kali peledakan yaitu dapat di gambarkan berdasarkan

grafik sebagai berikut: :

350
Pemakaian bahan peledak (kg)

300
250
200
150
100
50
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
Peledakan perhari

Sumber : Pengolahan Data, 20

Gambar V.19. Grafik Pemakaian Bahan Peledak per peledakan

Berdasarkan Grafik diatas dapat dijelaskan bahwa pemakaian bahan

peledakan terhadap setiap kali peledakan berbentuk naik turun pada setiap kali

peledakan dengan tertinggi berada di peledakan pada tanggal 2, 3 ,5, 7, 10,14, 17, 21

Hal ini terjadi di atas di akibatkan karena pada aktual di lapangan lubang ledak tidak

sesuai standar yang telah di tetapkan

Berdasarkan hasil perhitungan nilai rata-rata dari pengolahan data

sebelumnya, dengan selisih bahan peledak berkisar 49 kg dari 188 kg hasil data

aktual dengan 237 kg untuk data standar, (lihat lampiran D). Selesih yang terjadi

diatas tersebut diakibatkan karna pada aktual lapangan pembuatan lubang ledak tidak

63
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dimana , hal tersebut juga berdasarkan

data perolehan kedalaman lubang ledak desain standar 3,3 m melebihi kedalaman

lubang ledak aktual , yaknik 2,3 meter (lihat lampiran A). Hal ini dapat mengurangi

komsumsi bahan peledak dan tidak berpengaruh pada volume batuan yang diledakan.

V.2.2. Kemajuan Tambang

Kemajuan tambang dalam peledakan merupakan salah satu parameter

keberhasilan suatu peledakan bila kemajuan seperti diharapkan atau direncanakan.

Kemajuan peledakan juga tergantung bahan peledak yang digunakan dan density

batuan serta faktor yang dapat mempengaruhi bahan peledak serta faktor teknis yang

dapat mengurangi hasil reaksi dari bahan peledak tersebut. Dari hasil penelitian dari

31 data peledakan dapat diketahui perolehan kemajuan tambang pada setiap kali

peledakan yaitu dapat digambarkan berdasarkan grafik sebagai berikut :

5
Kemajuan Tambang (m)

0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Peledakan perhari

Sumber : Pengolahan Data, 2018

Gambar V.20. Grafik Kemajuan tambang per peledakan

64
Berdasarkan Grafik diatas dapat dijelaskan bahwa pemakaian bahan peledakan

terhadap setiap kali peledakan berbentuk naik turun pada setiap kali peledakan

dengan tertinggi berada di peledakan pada tanggal 1, 3 ,5, 7, 10,14, 25,

Hal ini terjadi di atas di akibatkan karena pada aktual di lapangan lubang ledak tidak

sesuai standar yang telah di tetapkan

Berdasarkan pengolahan statistik deskriptif data aktual lapangan dan standar

desain, Hasil kemajuan tambang yang diperoleh dari 31 data peledakan heading

dengan nilai rata-rata dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut :

Tabel V.7. Kemajuan Tambang

Variabel Standar (m) Aktual (m) Selisih (m)

Kemajuan Tambang 3,3 3 0,3


Sumber : Pengolahan data, 2018

Berdasarkan hasil perhitungan nilai rata-rata dari pengolahan data

sebelumnya, dengan selisih kemajuan tambang berkisar 0,3 meter dari 3, meter hasil

data standar dengan 3 meter untuk data aktual (lihat lampiran A). Selesih yang terjadi

diatas tersebut diakibatkan oleh pengaruh dari teknis pemboran atau pembuatan

lubang ledak yang menggunakan steel yang telah ditetapkan dimana 3,7 meter, akan

tetapi pada aktual lapangan hal tersebut jauh dari yang direncanakan. Berdasarkan

pengamatan lapangan dilakukan pembuatan lubang ledak menggunakan alat jombo

drill steel 3,7 meter setelah selesai, dilakukan pembersihan pada heading dengan cara

65
menjatuhkan batuan batuan pada permukaan heading bertujuan terhadap faktor

keselamatan, hal ini dapat mempengaruhi kemajuan pemboran atau pembuatan

lubang ledak. Dan analisa selanjutnya adalah pada saat kegiatan charging lubang

ledak yang sebelumnya sudah dibor dengan menggunakan steel 3,7 meter yang

diasumsikan pada desan standar kemajuan pemboran hanya 3,3 meter, ini tidak

semua dibersihkan sebelum di lakukan kegiatan charging, kemungkinan lubang yang

telah dibor terjadi pemadatan kembali oleh sisa batuan hasil pemboran.

V.2.3. Volume Batuan

Luas permukaan kerja atau profil terowongan dan kedalaman lubang ledak

rata rata memberikan peranan penting besar kecilnya volume peledakan. Selain itu

bahan peledakan dan density batuan juga berpengaruh penting serta faktor kondisi

areal yang dapat mempengaruhi bahan peledak, bila faktor kondisi mempengaruhi

bahan peledak maka hasil peledakan pun tidak seperti yang diinginkan. Berdasarkan

pengolahan statistik deskriptif data aktual lapangan dan standar desain, Dari hasil

penelitian dari 31 data peledakan dapat diketahui perolehan volume batuan pada

setiap kali peledakan yaitu dapat digambarkan berdasarkan grafik sebagai berikut :

66
500
Volume Bataun (m3)

400

300

200

100

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
Peledakan perhari

Sumber : Pengolahan Data, 2018

Gambar V.21. Grafik Volume Batuan per Peledakan

Berdasarkan Grafik diatas dapat dijelaskan bahwa volume batuan yang

dihasilkan pada setiap kali peledakan berbentuk naik turun pada setiap kali peledakan

dengan nilai terendah atau kategori sangat curam berada pada peledakan ke 8, 9, 10,

15 dan 21 sedangkan volume peledakan dengan nilai tertinggi atau dengan grafik

mengarah ke pucak terdapat pada peledakan 25.

Hasil perolehan volume batuan dari 31 data peledakan heading dengan nilai

rata-rata atau mean dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut

Tabel V.6. Volume Batuan

Variabel Standar (ton) Aktual (ton) Selisih (ton)

Volume Batuan 212 211 1


Sumber : Pengolahan Data, 2018

67
Berdasarkan hasil perhitungan nilai rata-rata dari pengolahan data sebelumnya

diatas, dengan selisih volume batuan berkisar 1 ton dari 211 ton hasil data aktual

dengan 212 ton hasil data standar, (lihat lampiran D). Selesih yang terjadi diatas

tersebut diakibatkan karna kondisi batuan atau tingkat Rock Quality Destnation

rendah, dan kelebihan bahan peledak sehingga dapat mempengaruhi volume batuan

yang dihasilkan dan berpengaruh pada ruang dan dimensi terowongan yang telah

direncanakan. Bila hasil aktual melebihi dari standar yang telah direncanakan maka

peledakan terowongan tersebut terjadi over break. sedangkan bila hasil volume

batuan aktual lebih kecil dari yang direncanakan maka peledakan terowongan atau

tambang bawah tanah tersebut terjadi under break. Berdasarkan data hasil diatas

bahwa volume hasil peledakan aktual melebihi standar desaian, artinya peledakan

tersebut menghasilkan over break.

V.2.4. Powder Faktor

Powder faktor menunjukan jumlah bahan peledak yang dipakai untuk

memperoleh satu satuan volume frakmentasi peledakan. Pemafaatan powder faktor

cenderung mengarah pada nilai ekonomis suatu proses peledakan karena harga bahan

peledak yang digunakan dan perolehan frakmentasi yang akan dijual. Perhitungan

powder faktor dilakukan untuk mengetahui perbandingan jumlah material hasil

peledakan dengan jumlah bahan peledak yang digunakan. Berdasarkan pengolahan

statistik deskriptif data aktual lapangan dan standar desain, Dari hasil penelitian dari

68
31 data peledakan dapat diketahui perolehan powder faktor pada setiap kali

peledakan yaitu dapat digambarkan berdasarkan grafik sebagai berikut :

8
Powder factor aktual

0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Peledakan perhari

Sumber : Pengolahan Data, 2018

Gambar V.22. Grafik Powder Faktor per Peledakan

Berdasarkan Grafik diatas dapat dijelaskan bahwa Nilai Powder factor

peledakan terhadap setiap kali peledakan berbentuk naik turun pada setiap kali

peledakan dengan tertinggi berada di peledakan pada tanggal,7, 10,16, 21,powder

factor tinggi di akibatkan karena volume materialnya kecil sedangkan pemakaian

bahan peledak banyak dan yang terendah berada pada peledakan ke , 12.27 .

Hasil powder faktor yang diperoleh dari 31 data peledakan heading dengan

nilai rata-rata atau mean dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut

69
Tabel V.7. Powder Faktor

Standar Aktual Selisih


Variabel
(kg/ton) (kg/ton) (kg/ton)
Powder Faktor 2,8 2,6 0,2
Sumber : Pengolahan data, 2018

Berdasarkan hasil perhitungan nilai rata-rata dari pengolahan data

sebelumnya, dengan selisih powder faktor berkisar 0,2 kg/ton dari 2,4 kg/ton hasil

data aktual dengan 2,8 kg/ton untuk data standar. (detail lihat lampiran D). Hal ini

terjadi tergantung pada pemakaian bahan peledak dengan volume yang dihasilkan.

Powder faktor merupakan kebutuhan bahan peledak per satuan volume atau per

tonase. Jadi, jika powder faktor dengan nilai kecil maka peledakan tersebut dinilai

ekonomis dan mengurangi biaya bahan peledak dalam menghasilkan per tonasenya

sedangkan pawder faktor dengan nilai atau angka yang besar maka dianggap

pemborosan atau membutuhkan biaya yang lebih besar. Berdasarkan hasil rata-rata

dari 31 data tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa powder faktor standar lebih

besar dibandingkan dengan powder faktor yang dihasilkan dari hasil aktual yakni

dengan selisih 0,2 kg/ton.dapat di asumsi bahwa powder factor aktual lebih ekonomis

70