Anda di halaman 1dari 8

LANDASAN BIMBINGAN KONSELING

ABSTRAK
Landasan bimbingan dan konseling merupakan bagian yang integral dan penting untuk
dibicarakan. Karena hal ini merupakan dasar atau pondasi bagi konselor atau guru Bimbingan
dan Konseling (guru BK) dalam menyelenggara kan layanan bimbingan konseling di Indonesia,.
Landasan tersebut mencakup landasan hukum (yuridis formal), landasan filosofis, landasan
psikologis, landasan sosial budaya dan landasan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kata kunci: Bimbingan dan Konseling.

PENDAHULUAN
Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh
berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan, seperti landasan
dalam pengembangan kurikulum, landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan
secara umum.
Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang
harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam
mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. Ibarat sebuah bangunan, untuk dapat berdiri
tegak dan kokoh tentu membutuhkan fondasi yang kuat dan tahan lama. Apabila bangunan
tersebut tidak memiliki fondasi yang kokoh, maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan
ambruk. Demikian pula, dengan layanan bimbingan dan konseling, apabila tidak didasari oleh
fondasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan
dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien).
Secara teoritik, berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber, secara umum terdapat empat aspek
pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling ada 6 yaitu : landasan
filosofis, landasan religius, landasan psikologis, landasan sosial budaya, landasan ilmiah dan
teknologis, landasan pedagogis.
PEMBAHASAN

Landasan Dalam Bimbingan dan Konseling


Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang
harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam
mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. Ibarat sebuah bangunan, untuk dapat berdiri
tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. Apabila bangunan
tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh, maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan
ambruk. Demikian pula, dengan layanan bimbingan dan konseling, apabila tidak didasari oleh
fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan
dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien).

Aspek Layanan Bimbingan Dan Konseling


Secara teoritik, berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber, secara umum terdapat empat
aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling, ada 6, yaitu
landasan filosofis, landasan religius, landasan psikologis, landasan sosial budaya, landasan
ilmiah dan teknologis, landasan pedagogis.
1. Landasan Filosofis
Kata filosofis atau filsafat berasal dari bahasa Yunani: Philos berarti cinta
dan sophos berarti bijaksana, jadi filosofis berarti kecintaan terhadap kebijaksanaan. Sikun
pribadi mengartikan filsafat sebagai suatu “usaha manusia untuk memperoleh pandangan
atau konsepsi tentang segala yang ada, dan apa makna hidup manusia dialam semesta ini”.
Filsafat mempunyai fungsi dalam kehidupan manusia, yaitu bahwa:
1) Setiap manusia harus mengambil keputusan atau tindakan
2) Keputusan yang diambil adalah keputusan diri sendiri
3) Dengan berfilsafat dapat mengurangi salah paham dan konflik, dan
4) Untuk menghadapi banyak kesimpangsiuran dan dunia yang selalu berubah.
Dengan berfilsafat seseorang akan memperoleh wawasan atau cakrawala pemikiran
yang luas sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat John J. Pietrofesa et. al. (1980)
mengemukakan pendapat James Cribin tentang prinsip-prinsip filosofis dalam bimbingan
sebagai berikut:
a. Bimbingan hendaknya didasarkan kepada pengakuan akan kemuliaan dan harga diri
individu dan hak-haknya untuk mendapat bantuannya.
b. Bimbingan merupakan proses yang berkeseimbangan
c. Bimbingan harus Respek terhadap hak-hak klien
d. Bimbingan bukan prerogatif kelompok khusus profesi kesehatan mental
e. Fokus bimbingan adalah membantu individu dalam merealisasikan potensi dirinya
f. Bimbingan merupakan bagian dari pendidikan yang bersifat individualisasi dan
sosialisasi.
Para penulis Barat (Victor Frankl, Patterson, Alblaster & Lukes, Thompson &
Rudolph, dalam Prayitno, 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai
berikut :
1. Manusia adalah makhluk rasional
2. Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya
sendiri khususnya melalui pendidikan.
3. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk
4. Manusia memiliki dimensi fisik, psikologis dan spiritual
5. Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya
6. Manusia adalah unik
7. Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat
pilihan-pilihan yang menyangkut perilaku kehidupannya sendiri.
Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan
konseling diharpkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. Seorang
konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan
kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya.
2. Landasan Religius
Dalam landasan religius BK diperlukan penekanan pada 3 hal pokok:
1) Keyakinan bahwa mnusia dan seluruh alam adalah mahluk Tuhan
2) Sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan kearah
dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama
3) Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal
suasana dan perangkat budaya serta kemasyarakatan yang sesuai dengan kaidah-
kaidah agama untuk membentuk perkembangan dan pemecahan masalah individu.
Landasan Religius berkenaan dengan :
1) Manusia sebagai Mahluk Tuhan
Manusia adalah mahluk Tuhan yang memiliki sisi-sisi kemanusiaan. Wujud
ketakwaan manusia pada Tuhan hendaklah seimbang dan lengkap, mencakup
hubungan manusia dengan Tuhan maupun hubungan manusia dengan manusia di
dunianya. Tetapi, karna kasih sayang, kemurahan dan keadilan-Nya, Tuhan tidak
mau mutlak-mutlakan. Wujud ketakwaan yang tidak seimbang dan tidak lengkap pun
diberi-Nya ganjaran yang setimpal. Biar sekecil apapun, suatu wujud ketakwaan akan
diberi ganjaran manis yang sepadan.
2) Sikap Keberagamaan
Menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat menjadi isi dari sikap
keberagaman. Sikap keberagaman tersebut pertama difokuskan pada agama itu
sendiri, agama harus dipandang sebagai pedoman penting dalam hidup, nilai-nilainya
harus diresapi dan diamalkan. Kedua, menyikapi peningkatan iptek sebagai upaya
lanjut dari penyeimbang kehidupan dunia dan akhirat.
3) Peranan Agama
Pemanfaatan unsur-unsur agama hendaknya dilakukan secara wajar, tidak
dipaksakan dan tepat menempatkan klien sebagai seorang yang bebas dan berhak
mengambil keputusan sendiri, sehingga agama dapat berperan positif dalam
konseling yang dilakukan agama sebagai pedoman hidup yang memiliki fungsi :
a. Memelihara fitrah
b. Memelihara jiwa
c. Memelihara akal
d. Memelihara keturunan
Landasan religius dalam bimbingan dan konseling pada umumnya ingin
menetapkan klien sebagai makhluk Tuhan dengan segenap kemuliaan
kemanusiaannya menjadi fokus netral upaya bimbingan dan konseling. Tetapi,
karena di dalam masyarakat agama itu banyak macamnya, maka konselor harus
dengan sangat hati-hati dan bijaksana menerapkan landasan religius itu terhadap
klien yang berlatar belakang agama yang berbeda.
3. Landasan Psikologis
Landasan psikologis dalam BK memberikan pemahaman tentang tingkah laku
individu yang menjadi sasaran (klien). Hal ini sangat penting karena bidang garapan
bimbingan dan konseling adalah tingkah laku klien, yaitu tingkah laku yang perlu diubah
atau dikembangkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Untuk keperluan bimbingan
dan konseling sejumlah daerah kajian dalam bidang psikologi perlu dikuasai, yaitu tentang:
1) Motif dan motivasi
2) Pembawaan dasar dan lingkungan
3) Perkembangan individu
4) Belajar, Balikan dan Penguatan
5) Kepribadian
4. Landasan Sosial Budaya
Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman
kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang
mempengaruhi terhadap perilaku individu. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-
budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya.
Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor
dengan klien, yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya
yang berbeda. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber
hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesesuaian diri antar
budaya, yaitu : (a) perbedaan bahasa; (b) komunikasi non-verbal; (c) stereotipe; (d)
kecenderungan menilai; dan (e) kecemasan. Agar komunikasi sosial antara konselor
dengan klien dapat terjalin harmonis, maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu
diantisipasi.
Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, Moh. Surya (2006)
mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural, bahwa bimbingan
dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya
plural seperti Indonesia. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat
bhinneka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman. Layanan bimbingan dan
konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata
mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik.
5. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki
dasar-dasar keilmuan, baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. Pengetahuan
tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan
berbagai metode, seperti: pengamatan, wawancara, analisis dokumen, prosedur tes, yang
dituangkan dalam bentuk laporan penelitian, buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya.
Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. Beberapa
disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek
bimbingan dan konseling, seperti : psikologi, ilmu pendidikan, statistik, evaluasi, biologi,
filsafat, sosiologi, antroplogi, ilmu ekonomi, manajemen, ilmu hukum dan agama.
Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan
pengembangan bimbingan dan konseling, baik dalam pengembangan teori maupun
prakteknya. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain
dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli, juga dihasilkan melalui berbagai bentuk
penelitian.
Sejalan dengan perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi berbasis
komputer, sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam
bimbingan dan konseling. Menurut Gausel (Prayitno, 2003) bidang yang telah banyak
memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling
pendidikan. Moh. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan
teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien)
tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui
hubungan secara virtual (maya) melalui internet, dalam bentuk “cyber counseling”.
Dikemukakan pula, bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut
kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan
bimbingan dan konseling.
Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini, maka peran konselor didalamnya
mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno,
2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. Sebagai ilmuwan, konselor harus mampu
mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling, baik
berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian.
6. Landasan Pedagogis
Bimbingan dan konseling identik dengan pendidikan. Artinya, ketika seseorang
melakukan praktik bimbingan dan konseling berarti ia sedang mendidik, dan begitu pula
sebaliknya. Pendidikan itu merupakan salah satu lembaga sosial yang universal dan
berfungsi sebagai sarana reproduksi sosial ( Budi Santoso, 1992). Landasan pedagogis
dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi, yaitu:
a. Pendidikan sebagai upaya pengembangan individu
Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Tanpa pendidikan, bagi
manusia yang telah lahir itu tidak akan mampu memperkembangkan dimensi ke
individualannya, kesosialisasinya, kesosilaanya dan keberagamaanya.
b. Pendidikan sebagai inti proses bimbingan konseling.
Bimbingan dan konseling mengembangkan proses belajar yang dijalani oleh
klien-kliennya. Kesadaran ini telah tampil sejak pengembangan gerakan Bimbingan dan
Konseling secara meluas di Amerika Serikat . pada tahun 1953, Gistod telah
menegaskan Bahwa Bimbingan dan Konseling adalah proses yang berorientasi pada
belajar. Belajar untuk memahami lebih jauh tentang diri sendiri, belajar untuk
mengembangkan dan merupakan secara efektif berbagai pemahaman.. Lebih jauh,
Nugent (1981) mengemukakan bahwa dalam konseling klien mempelajari ketrampilan
dalam pengambilan keputusan. Pemecahan masalah, tingkah laku, tindakan, serta sikap-
sikap baru . Dengan belajar itulah klien memperoleh berbagai hal yang baru bagi dirinya
dan dengan memperoleh hal-hal baru itu juga seorang klien akan semakin berkembang.

PENUTUP
Sebagai sebuah layanan profesional, bimbingan dan konseling harus dibangun di atas
landasan yang kokoh. Karena landasan bimbingan dan konseling yang kokoh merupakan
tumpuan untuk terciptanya layanan bimbingan dan konseling yang dapat memberikan manfaat
bagi kehidupan.
Landasan bimbingan dan konseling meliputi : (a) landasan filosofis, (b) landasan histori;
(c) landasan religius; (d) landasan psikologis; (e) landasan sosial budaya; (f) ilmu pengetahuan
dan teknologi dan (g) landasan pedagogis.
Landasan filosofis berkenaan dengan upaya memahami hakikat manusia, dikaitkan dengan
proses layanan bimbingan dan konseling.
Landasan religius berkenaan dengan manusia sebagai mahluk Tuhan, sikap keberagamaan,
peranan agama.
Landasan psikologis berhubungan dengan pemahaman tentang perilaku individu yang
menjadi sasaran layanan bimbingan dan konseling, meliputi : (a) motif dan motivasi; (b)
pembawaan dan lingkungan; (c) perkembangan individu; (d) belajar; dan (d) kepribadian.
Landasan sosial budaya berkenaan dengan aspek sosial-budaya sebagai faktor yang
mempengaruhi terhadap perilaku individu, yang perlu dipertimbangakan dalam layanan
bimbingan dan konseling, termasuk di dalamnya mempertimbangkan tentang keragaman budaya.
Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi berkaitan dengan layanan bimbingan dan
konseling sebagai kegiatan ilimiah, yang harus senantiasa mengikuti laju perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat.
Landasan Pedagogis berkaitan dengan pendidikan. Artinya, ketika seseorang melakukan
praktik bimbingan dan konseling berarti ia sedang mendidik.

DAFTAR PUSTAKA
PRAYITNO, Prof. Dr. H, M.Sc.Ed dan AMTI ERMAN , Drs., Dasar-dasar Bimbingan dan
konseling, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2009
ANAS SALAHUDIN,Drs. M.Pd., Bimbingan dan Konseling , CV PUSTAKA SETIA,
Bandung, 2010
ZAINAL AQIB ., Bimbingan dan Konseling di Sekolah, YRAMA WIDYA, Bandung,
2012
Yusuf, Syamsu. 2009. Landasan-landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya
Aqib, Zainal. 2012. Ikhtisar Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung: Yrama
Widya.