Anda di halaman 1dari 7

“PUDAR (PUDING BUAH LONTAR) SEBAGAI PRODUK FLORA

IDENTITAS SULAWESI SELATAN DALAM MENURUNKAN


PREVALENSI PENYAKIT TUBERKULOSIS”

Oleh:

M. Chairil Riskyta Akbar


Angkatan 2015

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pertengahan bulan


Mei 2017, penyakit tuberculosis (TB) yang disebabkan oleh jenis bakteri
Mycobacterium tuberculosis merupakan penyakit menular nomor dua paling
(1)
mematikan di dunia. Penyakit TB dapat bersifat mematikan karena
menyebabkan berbagai macam kerusakan jaringan hingga organ, mulai dari
kerusakan tulang dan sendi hingga organ vital berupa jantung dan otak.

Secara umum notifikasi kasus BTA baru yang positif dari tahun ke tahun
di Indonesia mengalami peningkatan. Tetapi pada tahun 2003 hingga 2014 sempat
mengalami penurunan bahkan dikategorikan sebagai neglected diseases. Namun
persentase kasus TB di Indonesia kembali meningkat sebesar 14% berdasarkan
(2)
Pusat Data Informasi Kementerian Kesehatan RI (Infodatin) pada tahun 2016
dari urutan nomor empat ke nomor dua dunia sehingga kembali mendapat
perhatian yang serius oleh berbagai pihak dari segala aspek.

Salah satu pertanyaan mendasar yang terus dikembangkan dalam bentuk


penelitian adalah alasan mengapa penyakit tersebut kembali mewabah sedangkan
program preventif dan kuratif yang dicanangkan ataupun digalakkan oleh
pemerintah maupun non-pemerintah telah diusahakan baik dari tingkat provinsi
hingga skala nasioanal. Salah satu program unggulan pemerintah kesehatan
Nasional adalah dengan penerapan sistem DOTS (Directly Observed Treatment,
Short-course) namun yang menjadi permasalahan adalah kurangnya minat
masyarakat menggerakkkan diri menuju pusat layanan kesehatan untuk padahal

1
obat paten telah tersedia dan kurangnya informasi sebagian masyarakat mengenai
terapi farmakologi yang diberikan tersebut dapat diperoleh secara gratis.

Di tingkat provinsi, Sulawesi Selatan merupakan provinsi dengan


prevalensi penyakit TB yang termasuk tinggi, berdasarkan data Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) jumlah kasus penyakit TB hingga
bulan Maret 2016 adalah sebesar 7.139 dengan range pertambahan meningkat
dibandingkan tahun lalu. Sangat disayangkan angka pengendalian keberhasilan
masih dibawah rata-rata Nasional yaitu 82,5% (di tingkat nasional rata-rata 84%).
(3)

Segala upaya oleh pemerintah provinsi telah dilakukan seperti Rencana


Program Jangka Menengah Negara (RPJMN) tahun 2015-2019 dalam bentuk
penuntasan epidemi TB. Selain itu program “Desa Sehat TB” di wilayah Gowa
sebagai inisiasi awal sebelum menjangkau daerah yang lebih luas. Pada dasarnya
program pemerintah tersebut mendapatkan hasil yang memuaskan, namun tetap
saja angka TB di skala provinsi hingga nasional masih tinggi.

Hal ini disebabkan karena pada dasarnya penyakit TB merupakan penyakit


infeksius dengan potensi karakteristik yang tinggi, dapat menular dengan cepat
melalui batuk dan bersin penderita dengan kasus BTA positif dan lebih
berbahayanya lagi karena agen infeksius tersebut dapat bertahan lama hingga
beberapa jam di udara.

Selain itu, berikut beberapa permasalahan tindakan medis terutama kuratif


yang belum dapat diselesaikan secara optimal oleh tenaga-tenaga medis maupun
peneliti yang berperan penting di bidangnya yaitu waktu pengobatan TB yang relatif
lama dan munculnya permasalahan Multi Drug Resistant (TB-MDR). Tentu saja
tindakan kuratif tersebut tidak sepenuhnya mengambil andil dalam menurunkan
resiko penyakit TB. Oleh karena itu diperlukan tindakan preventif untuk memutus
rantai penularan dengan mengurangi sifat infeksius agen pembawa penyakit tersebut,
karena berdasarkan data WHO sekitar sepertiga populasi

2
manusia di seluruh dunia telah terinfeksi bakteri M. Tuberculosis akan tetapi
hanya lima sampai 10 % yang menjadi suspect TB.

Buah Lontar, Flora Identitas Sulawesi Selatan

Salah satu tindakan preventif untuk menurunkan resiko penyakit TB


diutamakan dengan mencari Sumber Daya Alam (SDA) yang reachable
(terjangkau), priceless (murah) dan tersedia banyak di alam. Jenis flora di
Sulawesi Selatan merupakan salah satu yang terkaya, Salah satunya adalah pohon
siwalan atau disebut juga pohon lontar (Borassus flabellifer), atau dalam
masyarakat lokal menyebutnya dengan pohon tala’ merupakan jenis tanaman yang
memiliki banyak manfaat salah satunya adalah sebagai senyawa antioksidan yang
dapat memberi imunitas bagi tubuh yang dibuktikan berdasarkan hasil penelitian
(4)
dengan metode 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH)

Berdasarkan data Badan Litbang (Balitbang) Provinsi Sulawesi Selatan,


dalam (g/100 cc) buah lontar terdapat karbohidrat total sebesar 10,93 %, protein
sebesar 0,35 %, nitrogen sebesar 0,056 %, pH sebesar 6,7 sampai 6,9 %, specific
gravity sebesar 1,07 %, mineral sebagai abu sebesar 0,54 %, sedikit kalsium,
kandungan fosfor sebesar 0,14 %, besi sebesar 0,4 %, vitamin C sebesar 13,25 dan
(5)
vitamin B1 sebesar 3,9.

Jika kita perhatikan secara seksama, buah lontar memiliki korelasi penting
untuk menekan resiko aktifnya kuman TB, yaitu :

1. Karbohidrat

Karbohidrat yang terkandung dalam buah lontar cukup tinggi yaitu sebesar
10,93 % (g/100 cc). Asupan energi yang banyak pada penderita TBC dapat
membantu meningkatkan kekebalan tubuh.

3
(6) (7)

2. Protein

Protein yang terkandung dalam buah lontar dapat membantu meningkatkan


sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh dapat melawan infeksi jauh lebih baik. Selain
itu, protein berfungsi untuk memperbaiki sel-sel yang rusak dalam tubuh.

3. Vitamin C dan B1

Vitamin C dan B1 dapat bersifat sebagai antioksidan yang cukup tinggi pada
buah lontar. Vitamin C sangat banyak mengandung antioksidan yang diperlukan
dalam melawan radikal bebas. Karena fungsinya ini, tentu saja vitamin C banyak
dibutuhkan oleh penderita TB. Bahkan, penelitian juga telah membuktikan bahwa
terdapat hubungan antara kekurangan vitamin C dan penyakit TB.

Dapat Membunuh Bakteri TB Yang Bahkan Kebal Obat


Vitamin C yang tinggi dapat membunuh strain bakteri yang resistan terhadap obat sebagai "reducing agent" (agen pengurang) bahan yang memicu
produksi free radicals (radikal bebas). Namun penelitian ini baru dapat ditunjukkan dalam uji coba di tabung dan hingga saat ini belum diujiobakan pada manusia
dan binatang.

Produk Buah Lontar

Struktur terpenting dari Pohon Lontar adalah nira (air) dan daging buah.
Namun yang perlu diperhatikan adalah nira dari Pohon Lontar yang dapat
mengandung alkohol apabila difermentasikan dalam jangka waktu lama. Oleh
karena itu perlu dibuat suatu produk untuk menekan laju fermentasi tersebut salah
satunya dapat dibuat dalam bentuk puding melalui pemanasan sedang. Namun
yang menjadi permasalahan adalah nutrisi yang dapat berkurang apabila melalui
pemanasan, oleh karena itu dalam produk puding tersebut tidak hanya terdiri dari
nira, namun dikombinasikan dengan daging buah utuh sehingga nutrisi dari buah
lontar tersebut tetap dapat diseimbangkan. Oleh karena itu PUDAR (Puding Buah
Lontar) adalah produk dengan sediakan yang tepat.

4
Dwi-fungsi Sumber Daya Alam (SDA)

Oleh karena itu produk olahan dari buah lontar sebagai “Flora Identitas”
yang berpotensi untuk mengangkat ciri khas flora daerah Sulawesi Selatan. Dapat
pula membantu masyarakat lokal untuk berpikir kreatif dengan memberikan life
skill (keterampilan hidup) khususnya dalam berwirausaha produk puding buah
lontar yang secara langsung dampanya dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar.
Serta yang paling terpenting adalah manfaat kesehatan yang dikandung dari buah
lontar tersebut secara perlahan dapat membantu menurunkan resiko penyakit TB,
karena dimulai dari hal yang kecil untuk berdampak besar.

5
DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2017: WHO; 2017


[cited May 2017]. Available from: www.who.int
2. Anonim. 2016. Tuberkulosis, Temukan Obati Sampai Sembuh. Jakarta:
Infodatin (Pusat Data Informasi Kementerian Kesehatan RI).
3. Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2016. Jakarta: Kemenkes
RI.
4. Idayati, Eny et all. Potency of Mesocarp Bioactive compounds in Lontar
Fruit (Borassus flabeliffer L) as A Source of Natural Antioxidant.
AGRITECH. 2014 Agustus 3;34(3): 227-284
5. Badan Litbang Pertanian. Bahan Baku Lontar: Balitbang; 2015 [cited
November 2015]. Available from: www.litbang.pertanian.go.id
6. Vilchèze, C., Hartman, T., Weinrick, B., and Jacobs, W.R. (2013).
Mycobacterium tuberculosis is extraordinarily sensitive to killing by a
vitamin C-induced Fenton reaction. Nat. Commun 4:1881.
7. http://www.einstein.yu.edu/news/releases/907/study-finds-vitamin-c-can-
kill-drug-resistant-tb/ diakses pada Rabu, 16 November 2017 Pukul 20:10
WITA.