Anda di halaman 1dari 8

Prosiding Konferensi Nasional Kewarganegaraan III p-ISSN 2598-5973

11 November 2017, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta e-ISSN 2599-008X

Penguatan Ecological Citizenship melalui Penerapan Pendidikan


Pancasila dan Kewarganegaraan Berbasis Masyarakat
Dedy Ari Nugroho
Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta
Pos-el: dedyuns@gmail.com

Abstrak
Karya tulis ini mengkaji ilmu kewarganegaraan berbasis penelitian, tentang upaya penguatan ecological citizenship melalui
penerapan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan berbasis masyarakat. Konten karya ilmiah ini disajikan secara teoretik
berdasarkan data hasil penelitian jenis deskriptif kualitatif dan ditunjang dengan studi kepustakaan, yang dilakukan di Kabupaten
Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah. Adapun program pembangunan bidang ekologi yang digunakan sebagai objek penelitian adalah
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU). Karya ilmiah hasil penelitian ini dibuat sebagai refleksi atas isu kewarganegaraan,
khususnya tentang permasalah apatisme di masyarakat dalam berbagai kegiatan pembangunan lingkungan hidup. Tantangan
abad 21 bukan hanya pada sektor pembangunan ekonomi negara, tetapi juga pembangunan jati diri bangsa. Pendidikan
merupakan salah satu sektor strategis yang diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam mempertahankan jati diri
bangsa Indonesia. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran khas Indonesia yang memuat
konten nilai-nilai Pancasila dengan salah satu outputnya adalah menjadikan generasi bangsa menjadi warga negara yang baik
dengan tetap berpegang teguh pada jati diri bangsa. Penerapan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di abad 21 bukan
hanya diperlukan dalam konteks kelas dan diajarkan sera teoretik saja, tetapi juga diterapkan di masyarakat sebagai
implementasi dari teori yang diperoleh. Salah satu wahana penerapan Pendidikan Pancaila dan Kewarganegaraan yang dapat
diimplementasikan oleh seluruh masyarakat adalah berpartisipasi dalam kegiatan penyelamatan lingkungan hidup, atau dalam
ilmu kewarganegaraan (civics) disebut juga ecological citizenship.
Kata kunci: ecological citizenship, Program Kota Tanpa Kumuh, PPKn, Masyarakat.

Pendahuluan untuk terlibat dalam berbagai kebijakan pembangunan


lingkungan hidup (ekologi). Pasal 2 Ayat 1 Undang-
Indonesia dalam kerangka negara merdeka, me-
Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Pe-
neguhkan diri sebagai negara yang majemuk. Indo-
rencanaan Pembangunan Nasional, menegaskan bah-
nesia terdiri dari pulau, suku, ras, dan agama yang
wa pembangunan nasional diselenggarakan berdasar-
tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Konsekuensi
kan demokrasi dengan prinsip-prinsip kebersamaan,
logis bagi dari kemajemukan negara Indonesia adalah
berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
negara rentan benturan kepentingan karena perbeda-
serta ke-mandirian dengan menjaga keseimbangan
an tersebut. Indonesia harus memiliki kekuatan lebih
kemajuan dan kesatuan nasional. Selain Undang-Un-
untuk menangani permasalahan yang mungkin saja
dang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Peren-
muncul dari adanya perbedaan. Salah satunya dengan
canaan Pembangunan Nasional, Pasal 3 Undang-Un-
membudayakan masyarakat Kesalehan sosial bangsa
dang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa juga mene-
Indonesia, merupakan salah satu unsur yang
gaskan, bahwa terdapat asas pengaturan desa, bebe-
mencirikan manusia Indonesia sesungguhnya. Kepe-
rapa diantaranya adalah kegotongroyongan, partisi-
dulian antar anggota masyarakat berlandaskan jiwa
pasi, dan pemberdayaan. Partisipasi yang tertera da-
gotong royong adalah salah satu bentuk kesalehan
lam pasal tersebut memberi-kan penguatan tentang
sosial di masyarakat. Kepedulian masyarakat dapat
pentingnya partisipasi dalam penyelenggaraan pem-
dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan. Salah
bangunan daerah. Partisipasi masyarakat perlu dikem-
satu bidang kehidupan yang membutuhkan kepeduli-
bangkan sehingga orientasi ke depan, partisipasi men-
an masyarakat adalah bidang penanggulangan lingku-
jadi kunci keberhasilan berbagai program. Terutama
ngan hidup (ekologi). Bidang penyelamatan lingkungan
di bidang penyelamatan lingkungan hidup (ekologi).
hidup merupakan salah satu agenda penting yang
dapat dilakukan oleh setiap masyarakat. Di Indonesia, Penguatan partisipasi atau keterlibatan masya-
banyak dialokasikan program kebijakan yang dilaku- rakat dalam bidang penyelamatan lingkungan hidup
kan untuk menyelamatkan lingkungan hidup melalui (ekologi), dapat dilakukan dengan pendekatan pendi-
kebijakan pembangunan di tingkat daerah maupun di dikan yang tepat. Salah satunya, dapat dilakukan
tingkat nasional. melalui penerapan Pendidikan Pancasila dan Kewar-
ganegaraan di masyarakat. Pendidikan Pancasila dan
Peraturan perundang-undangan di Indonesia telah
Kewarganegaraan bukan hanya terbatas pada konteks
memberikan peluang yang luas bagi setiap masyarakat

18
Prosiding Konferensi Nasional Kewarganegaraan III p-ISSN 2598-5973
11 November 2017, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta e-ISSN 2599-008X

kelas dengan ulasan teori, tetapi juga semestinya partisipatif baik oleh Pemerintah Daerah maupun
perlu diteruskan pada tataran praktis melalui pen- oleh masyarakat umum sesuai dengan prinsip
dampingan dan penguatan kapasitas masyarakat untuk KOTAKU yaitu kolaboratif. Prinsip tersebut
mempraktikkan teori yang diperoleh. menegaskan peran pemerintah, masyarakat, dan
swasta untuk berkolaborasi mewujudkan tatanan
Untuk mewujudkan masyarakat yang partisipatif
pemukiman sehat bagi masyarakat. Benton (2013:
dalam bidang ekologi (ecological citizenship) tidak bisa
221), berpendapat bahwa: “…. number of positive
dilepaskan dari peran serta semua pihak. Pemerintah
features that collaboration can produce and are as listed
Daerah adalah salah satu unsur dalam pemerintahan
below: offers the opportunity for bottom-up approach to
yang memiliki otoritas untuk mengembangkan
dealing with regional issues rather than a top-down
kapasitas masyarakat di bidang lingkungan hidup.
approach”. Pendapat tersebut mempertegas bahwa
Kebijakan Pemerintah Daerah untuk mendorong
pendekatan kolaboratif sangatlah penting, karena
berkembangnya kapasitas masyarakat selaras dengan
memungkinkan masyarakat memberikan aspirasi
perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
serta melakukan analisis terhadap program yang
Merujuk pada Pasal 354 Ayat 2 Undang-Undang
sedang dilakukan.
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah, bahwa pemerintah daerah mendorong Realita yang ada di Kabupaten Sukoharjo dapat
kelompok dan organisasi masyarakat untuk berperan digambarkan berdasarkan data penelitian terdahulu
aktif dalam penyelenggaraan pemerintah daerah yang dilakukan oleh penulis tahun 2014 pada program
melalui dukungan pengembangan kapasitas masya- yang sejenis, dapat disimpulkan bahwa keterlibatan
rakat. Untuk mengembangkan kapasitas masyarakat masyarakat pada program pmbangunan kawasan
dalam bidang pembangunan ekologi diperlukan permukiman dan lingkungan masih belum banyak
rumusan serta strategi yang tepat guna. Merujuk pada dilakukan. Sebagian besar masyarakat Kabupaten
pendapat Rahardjo (2011: 69), bahwa strategi Sukoharjo, masih sibuk dengan urusan pribadi di akhir
mencakup langkah atau taktik yang dirancang untuk pekan dan memilih membayar denda ketidakhadiran
mencapai setiap strategi yang dicanangkan, termasuk dari pada ikut berpartisipasi. Keadaan tersebut
didalamnya pemberian tanggungjawab kepada setiap selaras dengan pendapat Malihah (2015:150) yang
sumber daya dalam menentukan prioritas dan menyatakan tentang kondisi masyarakat Indonesia
keberhasilan program. secara umum, bahwa saat ini masyarakat Indonesia
cenderung individualis, sangat memprioritaskan
Salah satu bidang kebijakan pemerintah bidang pe-
kepentingannya, dan seolah kurang peduli dengan
nyelamatan lingkungan hidup yang membutuhkan
kepentingan umum.
strategi pemerintah daerah dan partisipasi
masyarakat adalah Program Kota Tanpa Kumuh Penjelasan di atas menjadi tantangan bersama,
(KOTAKU). Program Kota Tanpa Kumuh antara Pemerintah Daerah Kabupaten Sukoharjo dan
merupakan program yang berada di bawah naungan masyarakat untuk menanggulanginya. Strategi Peme-
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan rintah Daerah dan partisipasi masyarakat merupakan
Rakyat melalui Direktorat Pengembangan Kawasan formulasi yang dapat diterapkan untuk mengatasi ber-
Permukiman, yang dikelola langsung oleh Ditjen Cipta bagai persoalan yang menyangkut masalah
Karya. Tujuan dari Program Kota Tanpa Kumuh keterlibatan masyarakat pada Program KOTAKU.
adalah mewujudkan lingkungan, tata kelola perkotaan Pemerintah Daerah harus lebih responsif dan
dan pedesaan yang sehat bagi masyarakat. Program memberi peluang pada masyarakat untuk terlibat
Kota Tanpa Kumuh mengacu pada Peraturan (bottom-up development). Sejarah pembangunan yang
Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana dikendalikan mutlak oleh pemerintah (top-down
Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun development) terbukti menyisakan pengalaman
2015-2019. buruk bagi bangsa Indonesia. Senada dengan
pernyataan tersebut Rahardjo (2011:3-4),
Program Kota Tanpa Kumuh merupakan program
menyatakan bahwa manajemen pemerintah daerah
nasional yang diterapkan di berbagai wilayah di Indo-
yang dikendalikan, diatur, dan diarahkan dari pusat
nesia, salah satunya adalah di Kabupaten Sukoharjo
(top-down development), menimbulkan kecenderungan
Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan data yang dikutip
pemerintah daerah kurang motivasi, kurang kreatif,
dalam laman website www.solopos.com dijelaskan
bahkan akan menimbulkan sikap apatis masyarakat.
bahwa Kawasan kumuh di Kabupaten Sukoharjo
Masyarakat dari tingkat basis atau daeah perlu
tersebar di 32 desa/kelurahan di enam kecamatan
diberikan peluang untuk ikut serta berkontribusi
seluas 202.654 hektar. Berdasarkan data kekumuhan
dalam kebijakan pembangunan lingkungan hidup.
kawasan tersebut, Kabupaten Sukoharjo menerima
Wahyuningsih (2012: 291) menyatakan bahwa
dana sebesar 3 trilyun rupiah yang dialokasikan untuk
masyarakat perlu diberikan kesempatan untuk
menanggulangi kawasan tersebut.
terlibat dalam berbagai kegiatan dan diberikan
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di bimbingan berupa pendampingan supaya berhasil.
Kabupaten Sukoharjo hendaknya dilakukan secara Konteks kegiatan dalam hal ini adalah keterlibatan

19
Prosiding Konferensi Nasional Kewarganegaraan III p-ISSN 2598-5973
11 November 2017, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta e-ISSN 2599-008X

masyarakat dalam bidang pembangunan di tingkat penelitian ini merupakan refleksi dari penelitian yang
daerah. Sejalan dengan pendapat Wahyuningsing, diakukan di tahun 2014 tentang partisipasi
Kukamba (2010:171) dalam International Review of masyarakat pada program yang sejenis. Data baru
Administrative Science menyatakan bahwa Pemerintah yang saat itu ditemukan adalah Pemerintah Daerah
Daerah dan masyarakat harus mengupayakan kurang proaktif dalam menyelenggarakan penguatan
sinergitas dalam berbagai aspek kehidupan. kapasitas masyarakat pada program pembangunan,
Pemerintah daerah harus senantiasa membangun sehingga tahun 2017 penlis tertarik untuk meneliti
kapasitas masyarakat di tingkat daerah dengan cara kebenarannya melalui Program KOTAKU. Kedua,
memberikan kesempatan untuk terlibat aktif dalam Kabupaten Sukoharjo memiliki Kawasan kumuh di
berbagai proses pembangunan Sukoharjo tersebar di 32 desa/kelurahan di enam
kecamatan seluas 202.654 hektar, sehingga peneliti
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, dalam
dapat melihat secara nyata implementasinya.
karya ilmiah hasil penelitian ini penulis merasa perlu
Sedangkan, waktu penelitian dalam karya ilmiah ini
menyampaikan pentingnya keterlibatan masyarakat
dilakukan selama delapan bulan, dari bulan Februari
dalam program penyelamatan lingkungan hidup
2017 sampai pada bulan Agustus 2017.
(ecological citizenship). Keterlibatan masyarakat dalam
program ekologi merupakan isu kewarganegaraan Sumber data dalam penelitian ini dapat bersifat
yang sedang banyak diperbincangkan karena kompleks, artinya dapat diperoleh dari beberapa
menyangkut kontribusi masyarakat terhadap sumber baik manusia ataupun fenomena itu sendiri
lingkungan hidupnya. Karya Ilmiah hasil penelitian ini, yang terjadi di Kabupaten Sukoharjo. Secara umum
memberikan penjelasan yang didasarkan pada dua H.B Sutopo (2002:50-54) menyatakan bahwa
rumusan masalah. Pertama, berkaitan dengan strategi “sumber data dalam penelitian kualitatif dapat berupa
Pemerintah Kabupaten Sukoharjo dalam upaya manusia, peristiwa, atau aktivitas, tempat atau lokasi,
menguatkan ecological citizenship masyarakat benda, beragam gambar, atau rekaman, dokumen
Kabupaten Suoharjo dalam Program KOTAKU. atau arsip”. Secara spesifik sumber data dalam
Kedua, berkaitan dengan partisipasi masyarakat penelitian ini, berasal dari informan yang terdiri dari:
Kabupaten Sukoharjo dalam Program KOTAKU Koordinator Badan Perencanaan Pembangunan
(bidang ekologi). Daerah (Bappeda) Pokja PKP Kabupaten Sukoharjo,
Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman
Karya tulis hasil penelitian ini memiliki dua tujuan
Kabupaten Sukoharjo, Koordinator Kota Program
utama sebagai hasil refleksi dari rumusan masalah di
Kota Tanpa Kumuh Kabupaten Sukoharjo,
atas. Pertama, karya ilmiah ini mengkaji strategi
Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM)
Pemerintah Kabupaten Sukoharjo dalam upaya
dari Kelurahan penerima manfaat di wilayah
menguatkan ecological citizenship masyarakat
Kabupaten Sukoharjo, Kelompok Swadaya
Kabupaten Suoharjo dalam Program KOTAKU.
Masyarakat yang dibentuk di masing-masing
Kedua, mengidentifikasi bentuk partisipasi masyarakat
Kelurahan penerima manfaat, dan juga masyarakat
Kabupaten Sukoharjo dalam Program KOTAKU,
umum. Sumber data selanjutnya berasal dari arsip dan
sebagai bentuk kontribusi di bidang ekologi (ecological
dokumen yang berupa modul, perundang-undangan,
citizenship).
dan angka statistik yang relevan dengan kajian
penelitian. Sumber data terakhir berasal dari
Metode
observasi kegiatan Program KOTAKU dari
Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian perencanaan sampai pelaksanaan.
deskriptif kualitatif, karena memaparkan objek yang
Adapun teknik sampling yang digunakan dalam pe-
diteliti (orang, lembaga atau lainnya) berdasarkan
nelitian ini adalah snowball sampling. Menurut
fakta. Menurut Denzin dan Lincoln (Moleong, 2006:5)
Sugiyono (2010:125) Snowball sampling adalah: Teknik
menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah
penentuan sampel yang mulamula jumlahnya kecil,
penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan
kemudian membesar. Ibarat bola salju yang
maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan
menggelinding yang lama-lama menjadi besar. Sesuai
dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode
dengan bentuk penelitian kualitatif dan juga jenis
yang ada. Metode deskriptif umumnya memiliki 2 ciri
sumber data yang dimanfaatkan maka instrumen
khas utama: (1) memusatkan diri pada masalah-
pengumpulan data yang akan digunakan dalam
masalah yang ada sekarang; (2) data yang dikumpulkan
penelitian ini antara lain: wawancara (interview),
pertama kali disusun, dijelaskan kemudian dianalisa
observasi (pengamatan), dan analisis dokumen.
karena itu, metode deskriptif sering disebut metode
analisa. Keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan de-
ngan menggunakan trianggulasi data. Menurut H.B
Penelitian dalam karya ilmiah ini dilakukan di
Sutopo (2002:78) berpendapat bahwa trianggulasi
Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah.
data, adalah data yang sama atau sejenis akan lebih
Beberapa alasan logis yang menjadi dasar dipilihnya
mantap kebenarannya bisa digali dari beberapa
tempat penelitian tersebut antara lain: Pertama,

20
Prosiding Konferensi Nasional Kewarganegaraan III p-ISSN 2598-5973
11 November 2017, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta e-ISSN 2599-008X

sumber data yang berbeda. Selain menggunakan karena itu sangat penting untuk meningkatkan
trianggulasi data, dalam menentukan keabsahan data motivasi masyarakat agar mau dan mampu untuk
dalam penelitian ini juga digunakan informan review. berpartisipasi.
Informan review adalah “upaya pengembangan validitas
Strategi Pemerintah Daerah Kabupaten
data yang dilakukan dengan cara mengkomunikasikan
Sukoharjo merupakan kunci utama yang dapat
unit-unit laporan yang telah disusun kepada
dilakukan untuk meningkatkan motivasi masyarakat
informannya, khususnya yang dipandang sebagai
Kabupaten Sukoharjo untuk berkontribusi dalam
informan pokok (Key Informan)”. (HB. Sutopo,
Program KOTAKU. Berdasarkan data hasil
2002:83).
wawancara, data hasil pengamatan, dan studi
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dokumen diperoleh data tentang strategi yang
berkiblat pada pendapat H.B Sutopo (2002:91). H.B dilakukan Pemerintah Daerah Kabupaten Sukoharjo.
Sutopo (2002:91) berpendapat bahwa “dalam proses Strategi yang dimaksud dalam pernyataan tersebut,
analisis data terdapat 4 komponen yang harus secara terperinci dapat diidentifikasi sebagai berikut.
dipahami oleh setiap peneliti kualitaif. Empat
1. Melaksanakan dialog ineraktif dan pelatihan
komponen tersebut antara lain: 1) pengumpulan data,
penyusunan profil kekumuhan kawasan yang
2) reduksi data, 3) sajian data, dan 4) penarikan
dilaksanakan hari Jumat dan Sabtu tanggal 10 dan
kesimpulan atau verifikasi. Analisis data dalam
11 Februari tahun 2017 di Pendopo Kelurahan
penelitian ini secara terperinci dapat diamati dalam
Sonorejo Kabupaten Sukoharjo.
bagan berikut.
2. Melaksanakan dialog interaktif dan pelatihan ten-
tang pengembangan kapasitas masyarakat dalam
Program KOTAKU. Acara tersebut dilaksanakan
pada hari Sabtu tanggal 18 Febriari tahun 2017 di
Pendopo Kelurahan Sonorejo Kabupaten
Sukoharjo.
3. Melaksanakan dialog interaktif dan pelatihan
perencanaan partisipatif Program KOTAKU
tahun 2017. Acara tersebut dilaksanakan pada
hari Jumat tanggal 14 April tahun 2017 di Rumah
Makan Biru Sukoharjo.
4. Melaksanakan dialog interaktif dan pelatihan pe-
Gambar 1. Analsis data model H.B Sutopo ngelolaan keuangan Program KOTAKU. Acara
(Sumber: H.B Sutopo, 2002:91) tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 24
Juli tahun 2017 di Pendopo Kelurahan Kartasura
Hasil dan Pembahasan Kabupaten Sukoharjo.
Strategi Pemerintah Daerah Kabupaten 5. Melaksanakan dialog interaktif dan pelatihan
Sukoharjo dalam upaya Penguatan Ecological Badan Keswadayaan Masyarakat. Acara tersebut
Citizenship melalui Program KOTAKU dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 8 Juli tahun
Pemerintah Daerah Kabupaten Sukoharjo menja- 2017 di Pendopo Kelurahan Bulakrejo
lankan sistem pemerintahan dengan berpedoman Kabupaten Sukoharjo.
pada aturan perundang-undangan yang berlaku dan 6. Melakukan peninjauan dan pendapingan pada
menjunjung tinggi prinsip demokrasi. Pemerintah proses pengambilan keputusan dalam forum
Daerah Kabupaten Sukoharjo melakukan penguatan Rembug Warga Tahunan (RWT).
terhadap masyarakat Kabupaten Sukoharjo untuk
mau dan mampu berpartisipasi dalam program 7. Melaksanakan pendampingan kepada masyarakat
pembangunan lingkungan hidup (ecological citizenship). pada saat proses pembelanjaan bahan material
Program KOTAKU merupakan salah satu program bangunan untuk Program KOTAKU.
pembangunan yang dialokasikan untuk mewujudkan 8. Melaksanakan pendampingan pada tahap pelaksa-
lingkungan sehat bagi masyarakat. Program KOTAKU naan pembangunan infrastruktur Program
pada prinsipnya membuka peluang bagi masyarakt KOTAKU.
untuk terlibat aktif. Prinsip kolaboratif dalam
Program KOTAKU memungkinkan bagi setiap 9. Melaksanakan dialog evaluasi Program
masyarakat untuk terlibat dari tahap persiapan atau KOTAKU, yang meliputi evaluasi tahap
perencanaan sampai pada pemanfaat hasil perencanaan sampai tahap pelaksanaan.
pembangunan. Keberhasilan Program KOTAKU
Berdasarkan beberapa data temuan lapangan di
sangat tergantung pada partisipasi masyarakat, oleh
atas, maka dapat disimpulkan bahwa Pemerintah

21
Prosiding Konferensi Nasional Kewarganegaraan III p-ISSN 2598-5973
11 November 2017, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta e-ISSN 2599-008X

Daerah Kabupaten Sukoharjo telah melakukan dari C ke B adalah implementasi strategi. Jika
sejumlah dialog interaktif dan mengupayakan disandingkan dengan konteks Program KOTAKU di
keteelibatan masyarakat dalam Program KOTAKU. Kabupaten Sukoharjo, maka Pemerintah Daerah
Dialog dan pelatihan merupakan bentuk strategi yang melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman
dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sukoharjo telah melakukan penyusunan visi, misi, dan tujuan
untuk meningkatkan partisipasi atau kontribusi dalam program, dalam hal ini adalah Program KOTAKU.
program penanggulangan lingkungan hidup (ekologi). Berdasarkan data studi dokumen, profil, visi, misi, dan
Berdasarkan data hasil pengamatan juga dapat tujuan Program KOTAKU telah tercantum dalam
dikatakan bahwa masyarakat Kabupaten Sukoharjo buku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Program
begitu antusias mengikuti dialog dan pelatihan yang KOTAKU yang diterbitkan oleh Kementerian
diselenggarakan. Data dari dokumen materi pelatihan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada tahun
dan modul juga memuat materi tentang pentingnya 2016. Program KOTAKU merupakan salah satu
partisipasi dalam Program KOTAKU, motivasi untuk bagian dari Program Jangka Menengah tahun 2015-
percaya diri mengikuti acara penyelamatan lingkungan 2019 kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Secara
hidup, dan materi teknis pelaksanaan program. empiris, terbentuknya visi, misi, dan tujuan Program
KOTAKU telah menjawab siklus A dalam teori
Data temuan lapangan yang diuraikan di atas,
Bryson (2004) di atas.
sesuai dengan teori siklus perencanaan strategi yang
dirumuskan oleh Bryson (2004). Strategi yang Berdasarkan wawancara dengan Sutanta dari
dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP)
Sukoharjo seharusnya dilakukan dengan Kabupaten Sukoharjo, serta dari hasil studi dokumen
menggunakan perencanaan yang matang, sehingga tentang profil Program KOTAKU, diperoleh
hasilnya sesuai dengan target yang ditetapkan. Bryson informasi bahwa tujuan, struktur, sistem, serta
(2004:7) menjelaskan tentang siklus perencanaan kemampuan sumber daya telah dirumuskan dalam
strategi yang dapat digunakan sebagai kerangka buku panduan dan pelaksana programnya juga telah
sehingga target strategi dapat tercapai. Bryson (2004) ditentukan. Secara empiris informasi tersebut telah
menamakan siklus perencanaan strateginya sebagai menjawab siklus tahap B dalam teori Bryson (2004).
Perencanaan Strategi ABC. Secara terperinci, siklus Sedangkan, untuk tahap C dalam teori Bryson (2004)
perencanaan strategi ABC dapat diamati dalam menghendaki adanya strategic plan atau perencanaan
gambar berikut. strategi. Dari hasil wawancara dengan koordinator
Badan Keswadayaan Masyarakat, Kelompok Swadaya
Masyarakat, Koordinator Kota Program KOTAKU,
dan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman,
serta observasi diperoleh data yang mengarah pada
implementasi siklus C dalam teori Bryson (2004).
Pemerintah Daerah Kabupaten Sukoharjo telah
melaksanakan strategi yang direncanakan dalam
bentuk dialog interaktif, pelatihan, dan pendampingan
pada implementasi Program KOTAKU. Strategi yang
telah diimplemntasikan tersebut secara empiris telah
menjawab siklus C dalam teori Bryson (2004).
Implementasi pada siklus C, dibuktikan dengan hasil
studi observasi dan wawancara di beberapa acara
yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah
Kabupaten Sukoharjo, misalnya pada pelaksanaan
dialog dan pelatihan peningkatan kapasitas
Gambar 2. Siklus Perencanaan Strategi ABC
masyarakat di Pendopo Kelurahan Sonorejo
(Bryson, 2004:7)
Kabupaten Sukoharjo.
Siklus perencanaan strategi menurut Bryson di
Berdasarkan penjelasan di atas, Pemerintah
atas, dapat menjadi acuan, pedoman, sekaligus bahan
Kabupaten Sukoharjo telah melakukan berbagai
analisis terhadap strategi Pemerintah Daerah
kegiatan yang selaras dengan teori Bryson (2004).
Kabupaten dalam menguatkan partisipasi masyarakat
Berbagai kegiatan di atas, dilakukan dengan tujuan
pada Program KOTAKU. Namun, sebelum
meningkatkan kapasitas masyarakat dalam Program
mempergunakan siklus tersebut sebagai bahan
KOTAKU khususnya, dan bagi lingkungan hidup
analisis, perlu dimaknai terlebih dahulu setiap siklus
masyarakat pada umumnya. Berdasarkan data temuan
dalam gambar di atas. Merujuk pada Gambar 2 dapat
lapangan tentang strategi Pemerintah Daerah
diamati bahwa tahap A ke B merupakan penentuan
Kabupaten Sukoharjo pada uraian sebelumnya,
visi, misi, dan tujuan yang ingin dicapai, tahap A ke C
memiliki kecenderungan untuk melakukan
merupakan proses perumusan strategi, sedangkan
pendekatan interaktif secara massal. Berdasarkan

22
Prosiding Konferensi Nasional Kewarganegaraan III p-ISSN 2598-5973
11 November 2017, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta e-ISSN 2599-008X

hasil wawancara ada berbagai alasan dipilihnya mengembangkannya agar ramah terhadap masyarakat
strategi dengan pendekatan interaktif massal, antara yang ada di tempat tersebut.
lain:
Program KOTAKU diimplementasikan sebagai
1. Memudahkan masyarakat untuk mengakses bentuk dukungan terhadap pengembangan lingkungan
informasi secara detail melalui forum yang hidup agar jauh dari kekumuhan lingkungan yang akan
dihadiri langsung oleh Pemerintah Daerah mendatangkan banyak penyakit. Kontribusi
Kabupaten Sukoharjo. masyarakat umum merupakan kunci utama
keberhasilan Pogram KOTAKU. Berdasarkan data
2. Efisien waktu, Pemerintah Daerah Kabupaten
yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi
Sukoharjo tidak memerlukan banyak waktu
(pengamatan), dan juga studi dokumen diperoleh data
untuk dialokasikan pada masyarakat saat
tentang bentuk partisipasi masyarakat pada Program
melaksanakan kegiatan dialog secara massal.
KOTAKU. Berikut adalah data tentang bentuk
Berbeda dengan pelaksanaan secara intensif satu
partisipasi masyarakat Kabupaten Sukoharjo pada
demi satu pihak, akan memerlukan banyak
Program KOTAKU.
waktu, dan di sisi lain waktu pelaksanaan semakin
dekat. 1. Berbagai elemen masyarakat terlibat dalam
penyelenggaraan sosialisasi program Kota Tanpa
3. Efektif, kegiatan yang dilakukan secara massal
Kumuh (KOTAKU) di Pendopo Kabupaten
dengan mengundang berbagai lapisan masyarakat
Sukoharjo hari Kamis, tanggal 8 September 2016.
dirasa lebih efektif dalam menjaring keluhan,
hambatan, serta berbagai persoalan yang belum 2. Berbagai elemen masyarakat terlibat dalam
dimengerti oleh masyarakat terkai Program pembuatan profil kekumuhan daerah di
KOTAKU. Terbukti pada saat pelaksanaan dialog masingmasing kelurahan di Kabupaten
banyak masyarakat yang aktif bertanya dan Sukoharjo. Kegiatan ini berlangsung setelah
menguatkan satu sama lain. sosialisasi Program KOTAKU telah selesai
dilakukan. Di setiap kelurahan dibentuk
Beberapa alasan di atas menjadi faktor
pendamping program atau fasilitator yang
diselenggarakannya forum dialog secara interaktif dan
mengawal proses implementasi Program
massal. Pemerintah Daerah Kabupaten Sukoharjo
KOTAKU.
memerlukan manajemen waktu yang tepat, sehingga
jadwal kegiatan yang telah ditentukan, dari tahap 3. Berbagai elemen masyarakat, memberikan saran
perencanaan hingga pelaksanaan dapat terselenggara dan mengusulkan prioritas infrastruktur yang
dengan tepat waktu. Selain itu, Pemerintah Daerah akan dibangun untuk menanggulangi lingkungan
Kabupaten Sukoharjo melalui Dinas Perumahan dan kumuh, dalam forum Rembug Warga Tahunan
Kawasan Permukiman (DPKP) juga melakukan (RWT). Dasar pertimbangan yang digunakan
manajemen materi yang disampaikan dalam acara dalam menentukan prioritas program adalah
dialog, sosialisasi, dan pelatihan, sehingga maksud dan data profil kekumuhan yang sebelumnya disusun.
tujuan dilaksanakannya kegiatan dapat tercapai.
4. Masyarakat terlibat aktif memberikan bantuan
Dalam hal ini, Pemerintah Daerah melakukan
tenaga, pikiran, dan materi dalam pelaksanaan
sosialisasi untuk memberikan penguatan terhadap
Program KOTAKU.
partisipasi masyarakat pada program pembangunan
ekologi, sehingga materi yang disampaikan harus 5. Beberapa masyarakat memberikan makanan dan
dimanajemen sesuai dengan konteks yang ingin minuman secara suka rela pada saat pelaksanaan
dicapai. Program KOTAKU untuk konsumsi masyarakat
yang berpartisipasi.
Bentuk Partisipasi Masyarakat Kabupaten
Sukoharjo dalam Program KOTAKU 6. Berbagai elemen masyarakat membuat jadwal
terstruktur setiap RT sehingga setiap hari ada
Berbagai bentuk partisipasi masyarakat
masyarakat yang ikut serta menyelesaikan pem-
Kabupaten Sukoharjo dalam program KOTAKU
bangunan infrastruktur Program KOTAKU.
merupakan salah satu bentuk kontribusi masyarakat
terhadap lingkungan hidup (ecological citizenship). Berdasarkan beberapa data temuan lapangan di
Setelah mengetahui strategi Pemerintah Daerah atas, dapat disimpulkan bahwa di Kabupaten
dalam upaya menguatkan partisipasi masyarakat pada Sukoharjo masyarakat terlibat dalam kegiatan
Program bidang ekologi, penting juga mengetahui pembangunan lingkungan hidup (ekologi) melalui
bentuk partisipasi masyarakat dalam Program Program KOTAKU dengan berbagai bentuk
KOTAKU yang merupakan program bidang ekologi. partisipasi. Bentuk partisipasi masyarakat Kabupaten
Pada dasarnya setiap masyarakat memiliki Sukoharjo di atas secara terperinci dapat
tanggungjawab terhadap lingkungan hidupnya, bukan diklasifikasikan menjadi bentuk partisipasi secara
hanya menjaga kelestariannya, tetapi juga materi dan non materi.

23
Prosiding Konferensi Nasional Kewarganegaraan III p-ISSN 2598-5973
11 November 2017, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta e-ISSN 2599-008X

Pembahasan yang berkaitan dengan bentuk par- royong tersebut di satu sisi memberi peluang
tisipasi masyarakat Kabupaten Sukoharjo dalam Prog- masyarakat untuk terlibat, dan di sisi yang lain
ram KOTAKU dapat diketahui dengan mendasarkan memberikan peluang masyarakat untuk tetap bekerja
data teuan lapangan pada teori yang digunakan. Teori dan mencukupi kebutuhan hidupnya. Sehingga,
yang digunakan dalam pembahasan ini adalah teori agenda gotong royong Program KOTAKU tidak
dari Mardikanto yang menjelaskan bahwa partisipasi mengorbankan kepentingan lain yang menyangkut
dalam pembangunan dapat dilakukan dalam empat penghidupan keluarga.
tahapan, antara lain: tahap partisipasi dalam
2. Bentuk partisipasi masyarakat Kabupaten
pengambilan keputusan, tahap partisipasi dalam
Sukoharjo pada tahap pelaksanaan
pelaksanaan kegiatan, tahap partisipasi dalam tahap
evaluasi hasil kegiatan, dan tahap partisipasi dalam Pada tahap pelaksanaan Program KOTAKU
pemanfaatan hasil kegiatan. masyarakat Kabupaten Sukoharjo menunjukkan
partisipasi dengan bentuk yang lebih beragam jika
Pembahasan dalam konteks bentuk partisipasi
dibandingkan dengan tahap perencanaan. Pada tahap
masyarakat Kabupaten Sukoharjo dapat diklasifikasi
pelaksanaan Program KOTAKU masyarakat mem-
menggunakan teori Mardikanto (2010). Namun, pada
berikan bentuk partisipasi materi dan non materi.
pembahasan ini akan dilihat bentuk partisipasi pada
Bantuk partisipasi secara materi diberikan melalui
dua tahap awal yaitu tahap perencanaan dan tahap
pemberian makanan pada saat pelaksanaan Program
pelaksanaan. Tahap perencanaan dan pelaksanaan
KOTAKU secara suka rela. Bahkan di Kelurahan
merupakan tahap paling mendasar dalam
Sonorejo, dan Kelurahan Sukoharjo masyarakat
pembangunan lingkungan hidup. Berdasarkan tahapan
secara bergiliran memberikan makanan secara
yang dijelaskan oleh Mardikanto dan data temuan
terjadwal berdasarkan inisiatif masyarakat sendiri.
lapangan yang diperoleh maka pembahasan bentuk
partisipasi dalam tahap perencanaan dan pelaksanaan Bentuk partisipasi non materi dalam tahap
dapat dicermati dalam uraian berikut. pelaksanaan dilakukan dengan terlibat dalam Program
KOTAKU melalui agenda gotong royong. Partisipasi
1. Bentuk partisipasi masyarakat Kabupaten
dalam agenda gotong royong merupakan bentuk
Sukoharjo pada tahap perencanaan
partisipasi tenaga yang dilakukan untuk mempercepat
Pada tahap perencanaan masyarakat Kabupaten proses penyelesaian infrastruktur Program KOTA-
Sukoharjo melakukan partisipasi dalam bentuk non KU. Pada tahap pelaksanaan masyarakat juga tetap
materi. Bentuk partisipasi yang dimaksud dapat dilihat memberikan gagasan di tengah pelaksanaan dengan
dari hasil pengamatan bahwa banyak masyarakat cara mengarahkan partisipan ketika melakukan kesa-
terlibat aktif menyampaikan ide dan gagasan yang lahan. Masyarakat yang terlibat dalam agenda gotong
berkaitan dengan Program KOTAKU. Ide dan royong juga melakukan ploting sesuai dengan
gagasan tersebut banyak disampaikan pada forum kemampuan masing-masing, terdapat masyarakat
pelatihan bagi masyarakat yang diadakan oleh Dinas yang terbiasa dengan aktivitas pembangunan diarah-
Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP). Selain kan untuk menjadi komando dalam pelaksanaannya.
itu, masyarakat juga memberikan kontribusi tenaga Sehingga dalam tahap pelaksa-naan bentuk partisipasi
dan pikiran pada saat menyusun profil kekumuhan ide atau gagasan tetap ada.
kawasan. Profil kekumuhan kawasan disusun
berdasarkan database yang disusun sendiri oleh Kesimpulan
masyarakat melalui isian kolom yang disediakan oleh
Berdasarkan data temuan dan juga pembahasan
fasilitator. Masyarakat memberikan skor ataupun
pada bagian sebelumnya, maka terdapat beberapa
mencentang kolom tentang drainase, keadaan jalan,
kesimpulan selaras dengan rumusan masalah yang
sampah, dan lain sebagainya. Output dari profil itu
dikaji, adapun kesimpulan yang dimaksud sebagai
adalah tersusunnya data kekumuhan berdasarkan
berikut.
prioritas, yang kemudian dapat diketahui sarana apa
saja yang menjadi kebutuhan paling mendesak di 1. Strategi Pemerintah Daerah Kabupaten
kawasan tersebut. Misalnya di Kelurahan Sonorejo Sukoharjo dalam upaya penguatan ecological
Kabupaten Sukoharjo dibangun Tempat Pengelolaan citizenship melalui Program KOTAKU
Akhir (TPA), karena sampah menjadi persoalan di direncanakan secara terpadu dengan
kawasan tersebut. menyelenggarakan dialog, sosialisasi, dan
pelatihan. Dialog interaktif, sosialisasi, dan
Pada tahap perencanaan, partisipasi masyarakat
pelatihan dilakukan dengan misi mengenalkan
juga diwujudkan dalam bentuk ide dalam menyusun
serta melatih kepedulian masyarakat untuk ambil
jadwal gotong royong bagi masyarakat di setiap RT.
bagian dalam program pembangunan lingkungan
Penjadwalan tersebut di buat sebagai refleksi
hidup (ekologi). Program KOTAKU merupakan
kesibukan masyarakat yang beragam di dalam
salah satu program di bidang pengendalian
masyarakat, ada yang sibuk dengan waktu bekerja dan
ekologi yang dilaksanakan di Kabupaten Suko-
lain sebagainya. Dengan pembagian jadwal gotong

24
Prosiding Konferensi Nasional Kewarganegaraan III p-ISSN 2598-5973
11 November 2017, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta e-ISSN 2599-008X

harjo, sehingga dalam program ini dapat dilihat membimbing karya-karya penulis. Serta tidak lupa
strategi yang dilakukan pemerintah Kabupaten kawanku dan sahabatku, mahasiswa Pascasarjana
Sukoharjo untuk meningkatkan kapasitas atau UNY Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewar-
partisipasi masyarakat. Pemerintah Daerah Ka- ganegaraan angkatan 2016.
bupaten Sukoharjo melakukan dialog yang ber-
tujuan memberikan pengetahuan kepada masya- Daftar Pustaka
rakat tentang posisi strategis mereka dalam
Benton, J. E. (2013). Local Government Colla-
Program KOTAKU. Sehingga dengan dialog,
boration: Considerations, Issues, and Prospects.
pelatihan, dan sosialisasi masyarakat akan mau,
State and Local Government Review Vol. 45, No.4,
tahu, dan mampu ikut serta dalam Program
pp. 220-223
KOTAKU.
Bryson, J. M. (2004). Strategic planning for public and
2. Masyarakat Kabupaten Sukoharjo berkontribusi
nonprofit organization: A guide to strengthening and
dalam bentuk materi dan non materi pada saat
sustaining organizational achievement. United States
ikut serta Program KOTAKU. Masyarakat
of America: HB Printing
Kabuoaten Sukoharjo berkontribusi pada
beberapa tahapan pembangunan, mulai dari Eko, B. (2017). Kementerian PUPR kucurkan 3 Milyar
perencanaan sampai pada tahap pelaksanaan. untuk penanganan kawasan kumuh di Sukoharjo.
Pada tahap perencanaan masyarakat Kabupaten http://www.solopos.com/2017/08/05/kementerian-
Sukoharjo berkontribusi dalam bentuk non pupr-kucurkan-rp3-miliar-untuk-penanganan-
materi yaitu dalam wujud ide dan gagasan. kawasan-kumuh-sukoharjo-840369. Diakses pada
Masyarakat memberikan ide dan gagasan pada tanggal 8 Agustus 2017, Pukul 11.20 WIB
forum dialog, sosialisasi, dan pelatihan yang
diselenggarakan Pemerintah Daerah Kabupaten Kukamba, U. (2010). Local government citizen parti-
Sukoharjo. Selain itu dalam tahap perencanaan cipation and rural development: reflection on
masyarakat terlibat dalam memberi ide dan uganda’s decentralization system. International
gagasan dalam menyusun profil kekumuhan Review of Administrative Science, Vol. 76, Number
kawasan yang kemudian datanya akan dijadikan 1, pp. 171-186
acuan menentukan prioritas infrastruktur yang Malihah, E. (2015). An ideal Indonesian in an increa-
dibangun. Pada tahap pelaksanaan masyarakat singly competitive world: Personal character and
banyak terlibat dalam memberikan bentuk values required to realise a projected 2045
partisipasi baik materi maupun non materi. ‘Golden Indonesia’. Citizenship, Social & Economics
Partisipasi dalam bentuk materi diberikan dalam Education, Vol. vol. 14, 2: pp. 148-156
wujud makanan dan minuman yang diberikan
secara sukarela untuk kepentingan gotong Mardikanto, T. (2010). Konsep-konsep Pemberdayaan
royong, sedangkan bantuan non materi adalah masyarakat (acuan bagi aparat birokrasi, akademisi,
tenaga, ide, dan gagasan pada saat proses gotong praktisi, dan peminat/pemerhati pemberdayaan
royong berlangsung. masyarakat). Surakarta: UNS Press

Berdasarkan beberapa kesimpulan di atas, maka Moleong, L. J. (2006). Metodologi penelitian kualitatif.
penting dijadikan perhatian bersama bahwa setiap Bandung: PT Rosdakarya
lapisan bangsa mulai dari pemerintah sampai pada Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang
masyarakat umum dapat bersinergi untuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah
mewujudkan keberhasilan program. Dalam penelitian Nasional Tahun 2015-2019
ini program KOTAKU dapat dilakukan dengan baik
selaras tujuan yang akan dicapai. Pencapaian tersebut Sugiyono. 2010. Metode penelitian kuantitatif kualitatif
tidak bisa dilepaskan dari stinergitas antara & RND. Bandung: Alfabeta
Pemerintah Daerah Kabupaten Sukoharjo dengan Sutopo, HB. (2002). Metodologi penelitian. Surakarta:
masyarakat umum. UNS Press

Ucapan terima kasih Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang


Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
Ucapan terimakasih penulis sampaikan untuk yang
pertama dan yang paling utama kepada Allah SWT Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang
Yang Maha Pengasih, sampai hari ini selalu diberikan Desa.
kesempatan berkarya. Selanjutnya, ucapan terima Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang
kasih juga saya sampaikan kepada Ayah tercinta, yang Pemerintahan Daerah
memberikan untaian kata-kata pengobar semangat.
Terima kasih juga saya ucapkan kepada Dr. Suharno, Wahyuningsih, R. D, dkk. (2012). Publik governance.
M.Si yang bersedia meluangkan waktunya untuk Surakarta: UNS press

25