Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

TRAUMA TUMPUL THORAX

A. Definisi
Trauma toraks adalah luka atau cedera yang mengenai rongga toraks atau
dada yang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding toraks ataupun isi dari
cavum thoraks (rongga dada) yang disebabkan oleh benda tajam atau tumpul
dan dapat menyebabkan keadaan sakit pada dada. Secara garis besar, trauma
toraks diklasifikasikan menjadi dua, yaitu trauma tumpul toraks dan trauma
tembus toraks. Trauma tumpul toraks biasanya disebabkan oleh karena
kecelakaan lalu lintas, sedangkan trauma tembus toraks disebabkan oleh karena
trauma tajam (tusukan benda tajam), trauma tembak (akibat tembakan), dan
trauma tumpul tembus dada (Paci, dkk, 2006 dalam Pitojo, Tangkilisan dan
Monoarfa, 2016)
B. Patofisiologi
1. Etiologi

Trauma tumpul lebih sering didapatkan berbanding trauma


tembus,kira-kira lebih dari 90% trauma thoraks. Dua mekanisme yang
terjadi pada trauma tumpul: (1) transfer energi secara direk pada dinding
dada dan organ thoraks dan (2) deselerasi deferensial, yang dialami oleh
organ thoraks ketika terjadinya impak. Benturan yang secara direk yang
mengenai dinding torak dapat menyebabkan luka robek dan kerusakan dari
jaringan lunak dan tulang seperti tulang iga. Cedera thoraks dengan
tekanan yang kuat dapat menyebabkan peningkatan tekanan intratorakal
sehingga menyebabkan ruptur dari organ – organ yang berisi cairan atau
gas. Contoh penyebab trauma tumpul adalah
a. Kecelakaan kendaraan bermotor
b. Jatuh
c. Pukulan pada dada
2. Gejala dan tanda
Tanda-tanda dan gejala pada trauma thorak :
1. Ada jejas pada thorak
2. Nyeri pada tempat trauma, bertambah saat inspirasi
3. Pembengkakan lokal dan krepitasi pada saat palpasi

1
2

4. Pasien menahan dadanya dan bernafas pendek


5. Dispnea, hemoptisis, batuk dan emfisema subkutan
6. Penurunan tekanan darah
7. Peningkatan tekanan vena sentral yang ditunjukkan oleh distensi vena
leher
8. Bunyi muffle pada jantung
9. Perfusi jaringan tidak adekuat
10. Pulsus paradoksus ( tekanan darah sistolik turun dan berfluktuasi
dengan pernapasan ) dapat terjadi dini pada tamponade jantung.
6

C. Pemeriksaan Penunjang
a. Radiologi : X-foto thoraks 2 arah (PA/AP dan lateral)
b. Gas darah arteri (GDA), mungkin normal atau menurun.
c. Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa.
d. Hemoglobin : mungkin menurun.
e. Pa Co2 kadang-kadang menurun.
f. Pa O2 normal / menurun.
g. Saturasi O2 menurun (biasanya).
h. Torakosintesis : menyatakan darah/cairan.
i. Bila pneumotoraks < 30% atau hematothorax ringan (300cc) terap
simtomatik, observasi.
j. Bila pneumotoraks > 30% atau hematothorax sedang (300cc) drainase
cavum pleura dengan WSD, dainjurkan untuk melakukan drainase dengan
continues suction unit.
k. Pada keadaan pneumothoraks yang residif lebih dari dua kali harus
dipertimbangkan thorakotomi
l. Pada hematotoraks yang massif (terdapat perdarahan melalui drain lebih
dari 800 cc segera thorakotomi.

D. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Keperawatan
 Bullow Drainage / WSD
Pada trauma toraks, WSD dapat berarti :
a. Diagnostik :
Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil,
sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak,
sebelum penderita jatuh dalam shock.
b. Terapi :
Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura.
Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga "mechanis of
breathing" dapat kembali seperti yang seharusnya.
c. Preventive :
Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura
sehingga "mechanis of breathing" tetap baik.
 Perawatan WSD dan pedoman latihanya :
a. Mencegah infeksi di bagian masuknya slang.
Mendeteksi di bagian dimana masuknya slang, dan pengganti
verband 2 hari sekali, dan perlu diperhatikan agar kain kassa
7

yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak boleh


dikotori waktu menyeka tubuh pasien.
b. Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang. Untuk rasa
sakit yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter.
c. Dalam perawatan yang harus diperhatikan :
 Penetapan slang.
Slang diatur se-nyaman mungkin, sehingga slang yang
dimasukkan tidak terganggu dengan bergeraknya pasien,
sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat
dikurangi.
 Pergantian posisi badan.
Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang
bantal kecil dibelakang, atau memberi tahanan pada slang,
melakukan pernapasan perut, merubah posisi tubuh sambil
mengangkat badan, atau menaruh bantal di bawah lengan
atas yang cedera.
d. Mendorong berkembangnya paru-paru.
 Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru
mengembang.
 Latihan napas dalam.
 Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk,
jangan batuk waktu slang diklem.
 Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi.
e. Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction.
Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 - 800
cc. Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam, harus
dilakukan torakotomi. Jika banyaknya hisapan
bertambah/berkurang, perhatikan juga secara bersamaan
keadaan pernapasan.
f. Suction harus berjalan efektif :
Perhatikan setiap 15 - 20 menit selama 1 - 2 jam setelah operasi
dan setiap 1 - 2 jam selama 24 jam setelah operasi.
 Perhatikan banyaknya cairan, keadaan cairan, keluhan
pasien, warna muka, keadaan pernapasan, denyut nadi,
tekanan darah.
 Perlu sering dicek, apakah tekanan negative tetap sesuai
petunjuk jika suction kurang baik, coba merubah posisi
pasien dari terlentang, ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke
8

posisi miring bagian operasi di bawah atau di cari


penyababnya misal : slang tersumbat oleh gangguan darah,
slang bengkok atau alat rusak, atau lubang slang tertutup
oleh karena perlekatanan di dinding paru-paru.
g. Perawatan "slang" dan botol WSD/ Bullow drainage.
o Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari , diukur berapa
cairan yang keluar kalau ada dicatat.
o Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan
dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow
drainage.
o Penggantian botol harus "tertutup" untuk mencegah udara
masuk yaitu meng"klem" slang pada dua tempat dengan
kocher.
o Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan
sterilitas botol dan slang harus tetap steril.
o Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja
diri-sendiri, dengan memakai sarung tangan.
o Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam
rongga dada, misal : slang terlepas, botol terjatuh karena
kesalahan dll.
h. Dinyatakan berhasil, bila :
o Paru sudah mengembang penuh pada pemeriksaan fisik dan
radiologi.
o Darah cairan tidak keluar dari WSD / Bullow drainage.
o Tidak ada pus dari selang WSD.

2. Penatalaksanaan Medis
 Chest tube / drainase udara (pneumothorax)
 WSD (hematotoraks)
 Pungsi
 Torakotomi
 Pemberian oksigen
 Antibiotika
 Analgetika
 Expectorant

E. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
9

b. Pengkajian Airway
Tindakan pertama kali yang harus dilakukan adalah memeriksa
responsivitas pasien dengan mengajak pasien berbicara untuk memastikan
ada atau tidaknya sumbatan jalan nafas. Seorang pasien yang dapat
berbicara dengan jelas maka jalan nafas pasien terbuka (Thygerson, 2011).
Pasien yang tidak sadar mungkin memerlukan bantuan airway dan
ventilasi. Tulang belakang leher harus dilindungi selama intubasi
endotrakeal jika dicurigai terjadi cedera pada kepala, leher atau dada.
Obstruksi jalan nafas paling sering disebabkan oleh obstruksi lidah pada
kondisi pasien tidak sadar (Wilkinson & Skinner, 2000).
Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian airway pada pasien antara lain :
a. Kaji kepatenan jalan nafas pasien. Apakah pasien dapat berbicara atau
bernafas dengan bebas?
b. Tanda-tanda terjadinya obstruksi jalan nafas pada pasien antara lain:
1) Adanya snoring atau gurgling
2) Stridor atau suara napas tidak normal
3) Agitasi (hipoksia)
4) Penggunaan otot bantu pernafasan / paradoxical chest
movements
5) Sianosis
c. Look dan listen bukti adanya masalah pada saluran napas bagian atas
dan potensial penyebab obstruksi :
1) Muntahan
2) Perdarahan
3) Gigi lepas atau hilang
4) Gigi palsu
5) Trauma wajah
d. Jika terjadi obstruksi jalan nafas, maka pastikan jalan nafas pasien
terbuka.
e. Lindungi tulang belakang dari gerakan yang tidak perlu pada pasien
yang berisiko untuk mengalami cedera tulang belakang.
f. Gunakan berbagai alat bantu untuk mempatenkan jalan nafas pasien
sesuai indikasi :
1) Chin lift/jaw thrust
2) Lakukan suction (jika tersedia)
3) Oropharyngeal airway/nasopharyngeal airway, Laryngeal
Mask Airway
4) Lakukan intubasi

c. Pengkajian Breathing (Pernafasan)


10

Pengkajian pada pernafasan dilakukan untuk menilai kepatenan jalan


nafas dan keadekuatan pernafasan pada pasien. Jika pernafasan pada pasien
tidak memadai, maka langkah-langkah yang harus dipertimbangkan adalah:
dekompresi dan drainase tension pneumothorax/haemothorax, closure of
open chest injury dan ventilasi buatan (Wilkinson & Skinner, 2000).
Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian breathing pada pasien antara
lain :
d. Look, listen dan feel; lakukan penilaian terhadap ventilasi dan
oksigenasi pasien.
1) Inspeksi dari tingkat pernapasan sangat penting. Apakah ada
tanda-tanda sebagai berikut : cyanosis, penetrating injury, flail
chest, sucking chest wounds, dan penggunaan otot bantu
pernafasan.
2) Palpasi untuk adanya : pergeseran trakea, fraktur ruling iga,
subcutaneous emphysema, perkusi berguna untuk diagnosis
haemothorax dan pneumotoraks.
3) Auskultasi untuk adanya : suara abnormal pada dada.
e. Buka dada pasien dan observasi pergerakan dinding dada pasien
jika perlu.
f. Tentukan laju dan tingkat kedalaman nafas pasien; kaji lebih lanjut
mengenai karakter dan kualitas pernafasan pasien.
g. Penilaian kembali status mental pasien.
h. Dapatkan bacaan pulse oksimetri jika diperlukan
i. Pemberian intervensi untuk ventilasi yang tidak adekuat dan / atau
oksigenasi:
1) Pemberian terapi oksigen
2) Bag-Valve Masker
3) Intubasi (endotrakeal atau nasal dengan konfirmasi penempatan
yang benar), jika diindikasikan
4) Catatan: defibrilasi tidak boleh ditunda untuk advanced airway
procedures
5) Kaji adanya masalah pernapasan yang mengancam jiwa lainnya
dan berikan terapi sesuai kebutuhan.

c. Pengkajian Circulation
Shock didefinisikan sebagai tidak adekuatnya perfusi organ dan
oksigenasi jaringan. Hipovolemia adalah penyebab syok paling umum pada
11

trauma. Diagnosis shock didasarkan pada temuan klinis: hipotensi,


takikardia, takipnea, hipotermia, pucat, ekstremitas dingin, penurunan
capillary refill, dan penurunan produksi urin. Oleh karena itu, dengan
adanya tanda-tanda hipotensi merupakan salah satu alasan yang cukup
aman untuk mengasumsikan telah terjadi perdarahan dan langsung
mengarahkan tim untuk melakukan upaya menghentikan pendarahan.
Penyebab lain yang mungkin membutuhkan perhatian segera adalah:
tension pneumothorax, cardiac tamponade, cardiac, spinal shock dan
anaphylaxis. Semua perdarahan eksternal yang nyata harus diidentifikasi
melalui paparan pada pasien secara memadai dan dikelola dengan baik
(Wilkinson & Skinner, 2000)..

Langkah-langkah dalam pengkajian terhadap status sirkulasi pasien, antara


lain :
d. Cek nadi dan mulai lakukan CPR jika diperlukan.
e. CPR harus terus dilakukan sampai defibrilasi siap untuk
digunakan.
f. Kontrol perdarahan yang dapat mengancam kehidupan dengan
pemberian penekanan secara langsung.
g. Palpasi nadi radial jika diperlukan:
1) Menentukan ada atau tidaknya
2) Menilai kualitas secara umum (kuat/lemah)
3) Identifikasi rate (lambat, normal, atau cepat)
4) Regularity
h. Kaji kulit untuk melihat adanya tanda-tanda hipoperfusi atau
hipoksia (capillary refill).
i. Lakukan treatment terhadap hipoperfusi
d. Pengkajian Level of Consciousness dan Disabilities
Pada primary survey, disability dikaji dengan menggunakan skala AVPU :
A - alert, yaitu merespon suara dengan tepat, misalnya mematuhi perintah
yang diberikan
V - vocalises, mungkin tidak sesuai atau mengeluarkan suara yang tidak
bias dimengerti
P - responds to pain only (harus dinilai semua keempat tungkai jika
ekstremitas awal yang digunakan untuk mengkaji gagal untuk
merespon)
12

U - unresponsive to pain, jika pasien tidak merespon baik stimulus nyeri


maupun stimulus verbal.

e. Expose, Examine dan Evaluate


Menanggalkan pakaian pasien dan memeriksa cedera pada pasien. Jika
pasien diduga memiliki cedera leher atau tulang belakang, imobilisasi in-
line penting untuk dilakukan. Lakukan log roll ketika melakukan
pemeriksaan pada punggung pasien. Yang perlu diperhatikan dalam
melakukan pemeriksaan pada pasien adalah mengekspos pasien hanya
selama pemeriksaan eksternal. Setelah semua pemeriksaan telah selesai
dilakukan, tutup pasien dengan selimut hangat dan jaga privasi pasien,
kecuali jika diperlukan pemeriksaan ulang.

Dalam situasi yang diduga telah terjadi mekanisme trauma yang


mengancam jiwa, maka Rapid Trauma Assessment harus segera dilakukan:
a. Lakukan pemeriksaan kepala, leher, dan ekstremitas pada pasien
b. Perlakukan setiap temuan luka baru yang dapat mengancam
nyawa pasien luka dan mulai melakukan transportasi pada
pasien yang berpotensi tidak stabil atau kritis.
b. Diagnosa
1. Pola nafas tidak efektif b.d penurunan ekpirasi paru.
2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d peningkatan sekresi sekret
dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.
3. Nyeri akut b.d trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya nyeri.

c. Intervensi

No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional


Keperawatan

1. Pola nafas tidak Setelah 1). Awasi kecepatan/ 1). Pernafasan


efektif b.d diberikan kedalam mengorok atau
penurunan ekpirasi asuhan pernafasan. pengaruh anestesi
13

paru. keperawatan Ausklutasi bunyi menurunkan


selama 3x24 nafas, selidiki ventilasi.
jam, diharapkan adanya sianosis. Potensial
pola nafas atelektasis dapat
pasien efektif mengakibatkan
dengan kriteria hipoksia.
hasil : 2). Tinggikan kepala 2). Mendorong
1. Pasien tidak tempat tidur 30- pengembangan
sesak 45 derajat diafragma/
ekspansi paru
2.TTV dalam
optimal dan
batas normal
meminimalkan
tekanan isi
abdomen pada
rongga torak.
3). Observasi TTV
3). Mengetahui
perkembangan
klien.

4). Kaji penumpukan 4). Mengetahui


sekret. tingkat keparahan
dan tindakan
selanjutnya.
5). Kolaborasi
5). Kerjasama untuk
dengan tim medis
menghilangkan
untuk pembersihan
penumpukan sekret.
sekret.
2. Ketidakefektifan Setelah 1. Jelaskan klien 1. Pengetahuan yang
bersihan jalan napas diberikan tentang kegunaan diharapkan akan
berhubungan dengan asuhan batuk yang efektif membantu
peningkatan sekresi dan mengapa mengembangkan
keperawatan
sekret dan penurunan terdapat kepatuhan klien
selama 3x24
batuk sekunder penumpukan sekret terhadap rencana
jam, diharapkan
14

akibat nyeri dan jalan nafas klien di sal. pernapasan. teraupetik.


2. Ajarkan klien 2. Batuk yang tidak
keletihan. bersih dengan
tentang metode yang terkontrol adalah
kriteria hasil:
• Menunjukkan tepat pengontrolan melelahkan dan tidak
batuk yang batuk. efektif, menyebabkan
efektif. frustasi.
• Tidak ada lagi
penumpukan
sekret di sal.
pernapasan.
• Klien nyaman.
15

3. Nyeri akut Setelah 1). Beri posisi yang 1). Untuk


berhubungan diberikan nyaman dan menurunkan
dengan adanya asuhan menyenangkan ketegangan otot
trauma. keperawatan pasien
2). Membantu
selama 2x24
2). Kaji adanya menentukan
jam, diharapkan
penyebab nyeri, pilihan intervensi
nyeri pasien
seberapa kuatnya dan memberikan
berkurang
nyeri, minta dasar untuk
dengan kriteria
pasien untuk perbandingan
hasil :
menetapkan pada evaluasi terhadap
1. Skala (0-3) skala nyeri therapy.

2. Wajah klien 3). Observasi tanda- 3). Untuk


tampak rileks tanda vital mengidentifikasi
adanya nyeri.
3.TTV dalam
batas normal 4). Untuk
4). Anjurkan
mengurangi
istirahat yang
energi yang
cukup
berlebihan.
5). Kolaborasi
5). Untuk
dengan dokter
meningkatkan
tentang
efektivitas
pemberian
pengobatan
analgesik :
4. Intoleransi aktivitas Setelah 1). Bantu klien 1). Kebutuhan
berhubungan diberikan dalam memenuhi nutrisi terpenuhi
dengan adanya asuhan kebutuhan sehari- seperti pada saat
nyeri. keperawatan hari yang tidak sebelum trauma.
selama 2x24 mampu dilakukan
jam, diharapkan sendiri. Misalnya
intoleransi Mandi,
akvitas dapat berpakaian,
16

teratasi dengan merapikan diri. 2). Membantu


kriteria hasil : menentukan
2). Kaji adanya
pilihan intervensi
1. Klien penyebab nyeri,
dan memberikan
menunjukan seberapa kuatnya
dasar untuk
usaha untuk nyeri, minta
perbandingan dan
melakukan pasien untuk
evaluasi terhadap
perawatan diri menetapkan pada
therapy.
secara bertahap. skala nyeri
3). Mencegah risiko
2. Klien mampu 3). Pasang
cedera
melakukan pagar/pengaman
perawatan diri tempat tidur. 4). Mengurangi
secara bertahap. penggunaan
4). Anjurkan Pasien
energi berlebihan
3. Klien dapat untuk istirahat
dan metabolisme
memenuhi yang cukup.
tubuh, sehingga
kebutuhan
dapat menambah
dasarnya secara
kelemahan.
mandiri.

5). Anjurkan pasien 5). Mengurangi


4. Klien tidak
untuk untuk ketegangan
lemah lagi.
menggunakan otot/kelelahan,

teknik relaksasi. dapat membantu


mengurangi
nyeri, spasme
otot,
spastisitas/kejang
6). Kolaborasi
dengan dokter 6). Untuk
untuk pemberian meningkatkan
vitamin efektivitas
neurobion 1 pengobatan.
amp/hari
17

4 Resiko tinggi Setelah 1). Kaji turgor kulit, 1). Indikator


kekurangan volume diberikan kelembaban langsung
cairan tubuh asuhan membran mukosa keadekuatan
berhubungan keperawatan (bibir, lidah). volume cairan,
dengan tidak selama 3x24 meskipun
adekuatnya jam, diharapkan membran mukosa
masukan makanan kebutuhan mulut mungkin
dan cairan. cairan tubuh kering karena
pasien terpenuhi nafas mulut dan
dengan kriteria oksigen
hasil : tambahan.

1. Klien 2). Kaji perubahan 2). Peningkatan


mengatakan TTV, contoh : suhu/memanjang
sudah mampu peningkatan nya demam,
menghabiskan suhu/demam meningkatkan
air minum 1 memanjang, lajunya
botol VIT besar. takikardi, metabolisme dan
hipotensi kehilangan cairan
2. Berat badan
ortostatik. melalui
pasien delam
evaporasi,
batas normal.
tekanan darah
3.Klien dan ortostatik
mengatakan berubah dan
mulut saya tidak peningkatan
kering lagi. takikardi

4.Turgor kulit menunjukan

pasien elastis, kekurangan

mukasa mulut cairan sistemik.


3). Catat laporan
lembab. 3). Adanya gejala ini
mual/muntah
menurunkan
masukan oral.
18

4). Pantau masukan 4). Memberikan


dan haluaran, informasi tentang
catat warna, keadekuatan
karakter urine, volume cairan
hitung dan kebutuhan
keseimbangan pengganti
cairan waspadai
kehilangan yang
tak tampak, ukur
berat sesuai
indikasi.
5). Untuk
5). Kolaborasi pemenuhan
dengan dokter kebutuhan cairan
tentang tambahan dan
pemberian cairan menurunkan
infus. risiko dehidrasi.
5 Ansietas atau Setelah 1). Libatkan dalam 1). Belajar metode
ketakutan diberikan program peningkatan diri
berhubungan asuhan pengembangan dapat
dengan penyakit keperawatan pribadi, lebih meningkatkan
yang dideritanya. selama 2x24 disukai dalam harga diri.
jam, diharapkan susunan Umpan balik dari
pasien tidak kelompok. orang lain
mengalami Berikan meningkatkan
kecemasan, informasi tentang harga diri.
dengan kriteria penerapan yang
hasil : tepat dalam
berpakaian.
1. Klien tampak
tenang 2). Gunakan 2). Interaksi di antara

pendekatan orang-orang
2. Klien tidak
psikotherapy membantu pasien
cemas lagi
19

interpersonal, untuk
daripada therapy menemukan
penafsiran perasaan dari
dalam diri sendiri

3). Kurang kontrol


3). Kaji perasaan tak
umum/masalah
berdaya/ tidak
dasar pasien ini
ada harapan.
dapat disertai
dengan gangguan

4). Waspadai ide emosi lebih serius

bunuh diri 4). Cemas/panik


terus menerus
tentang
peningkatan berat
badan. Depresi,
perasaan tak
berdaya dapat
menimbulkan
usaha bunuh diri.

5). Dorong pasien 5). Peting untuk


untuk mengetahui
mengekspresikan bahwa marah
marah dan adalah bagian diri
mengakui bila dan padat
dinyatakan. diterima.
20

E. Buku Sumber

Pitojo, K. G., Tangkilisan, A. and Monoarfa, A. (2016) ‘Pola trauma tumpul toraks non
penetrans, penanganan, dan hasil akhir di Instalasi Rawat Darurat Bedah RSUP
Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2014 – Juni 2016’, e-CliniC, 4(2).
doi: 10.35790/ecl.4.2.2016.14564.
Satrianto, A. 2009. https://id.scribd.com/doc/14760743/Laporan-Pendahuluan-Trauma-
Thorax-Di-Ruang-13-Akut-RSU-Dr-Saiful-Anwar-Malang. Di akses tanggal 28 Januari
2020.
Pratiwi, S. 2015.https://id.scribd.com/document/258102882/PATHWAY-TRAUMA-DADA-
doc. Di akses tanggal 28 Januari 2020.
Febrianti, Kurniasari, Netiari, dkk. 2013. https://id.scribd.com/doc/170772513/kegawat-
daruratan-Trauma-Thorak-New. Diakses tanggal 28 Januri 2020.